Monday, May 18, 2026

2026

Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026

Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026

 

 ADA RUPA-RUPA KARUNIA, TETAPI SATU ROH (1Kor. 12:3b-13)

 

Bacaan lainnya: Kis. 2:1-21 atau Bil. 11:24-30; Mzm. 104:24-34,35b; Yoh. 20:19-23 atau 7:37-39.

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Karunia rohani yang diberikan kepada setiap orang percaya oleh Roh Kudus adalah kemampuan khusus yang dipergunakan untuk pelayanan sesuai dengan kebutuhan jemaat. Daftar dalam nas minggu ini tentang karunia rohani, perlu digabung lebih lengkap dengan ayat-ayat lainnya (lihat Rm. 12; Ef. 4; 1Pet. 4:10-11 dan ayat lainnya). Ada banyak karunia rohani namun setiap orang memiliki yang berbeda. Beberapa orang memiliki lebih dari satu, bahkan seseorang bisa memiliki karunia rohani yang "lebih baik". Yang jelas, setiap karunia rohani tidak perlu dianggap lebih hebat dari karunia rohani yang lain. Hal ini disebabkan semuanya bersumber dari Roh Kudus dan tujuannya adalah untuk membangun tubuh Kristus yakni gereja. Seluruh bentuk karunia yang ada pada manusia, pada hakekatnya bersumber dari Allah Bapa melalui Tuhan Yesus dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang, pemahaman tentang karunia rohani seringkali tidak sama: ada yang suka dan ada yang tidak suka, ada yang bingung. Tetapi paling tidak, berdasarkan nas bacaan kita minggu ini dan ayat-ayat lain kita diberi gambaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Pengakuan "Yesus adalah Tuhan", karunia dan pelayanan oleh Satu Roh (ayat 3b-5)

 

Yesus memiliki banyak sebutan "gelar" sesuai dengan pemahaman masing-masing, meski panggilan yang sering oleh murid-murid-Nya adalah dengan sebutan Guru. Perempuan Samaria dalam percakapan dengan Yesus menyebutnya sebagai seorang nabi. Ada juga yang menyebutnya sebagai Rasul. Serdadu-serdadu menyebutnya dengan Raja Israel meski dengan sikap awal hanya olok-olok namun kemudian diakui sebagai Raja segala Raja. Saudara kita umat lain menyebut Yesus sebagai Nabi yang memiliki sejumlah kekhususan, seperti lahir dengan tidak dari benih laki-laki, memiliki kemampuan penyembuh dan lainnya, meski dengan nama Isa. Petrus menyebut Yesus sebagai Mesias yang kemudian ditegaskan Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga (Mat. 16:17). Akan tetapi yang penting dari semua itu adalah pengakuan dan panggilan Yesus sebagai Tuhan, yang menurut ayat kita baca: "tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus" (band. 1Yoh. 4:2-3).

 

 

 

Pengakuan Yesus sebagai Tuhan bukanlah dari hasil olahan pikiran manusia. Manusia dengan segala kehebatannya hanya mampu mengakui Yesus sebagai Nabi, sebagai Guru, Rasul, Raja, Mesias (Yang Diurapi), namun untuk mengaku sebagai Tuhan dan Anak Allah, maka itu adalah iman dan anugerah Allah semata. Alkitab berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Yesus, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus-Nya” (Yoh. 6:44). Jadi, sangat jelas, bahwa yang datang dan percaya kepada Yesus (dan mengaku sebagai Tuhan) adalah mereka yang ditarik dan dipilih Allah Bapa. Hal ini juga diteguhkan dengan prinsip Kristiani bahwa dari berbagai bentuk karunia yang diberikan kepada manusia, iman (kepada Yesus) adalah karunia rohani khusus orang percaya kepada-Nya. "Kasih karunia atau karunia-karunia" (bahasa Yunani charismata berasal dari kata charis) dan Roh atau Pneuma menunjuk kepada karunia Roh Kudus, yakni penyataan Ilahi berupa kemampuan khusus yang diberikan kepada orang percaya untuk pelayanan dan kepentingan bersama. Pengertian penyataan Ilahi (bahasa Yunani phanerosis berasal dari kata phaneros yang berarti "berwujud") menekankan bahwa karunia rohani itu menjadi penyataan langsung dan dianugerahkan sebagai tanda bukti kelihatan kehadiran Roh Kudus di dalam persekutuan jemaat.

 

 

 

Berdasarkan telaah Alkitab, ada 18 karunia rohani yang diidentifikasi dan dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian utama, yakni:

 

 

 

  • karunia rohani melalui perkataan atau berbicara, terdiri dari 7 karunia
  • karunia rohani melayani dan memberi, terdiri dari 6 karunia
  • karunia rohani untuk membuat mukjizat, terdiri dari 5 karunia.

 

 

 

Masing-masing karunia rohani tersebut dijelaskan pada bagian berikut.

 

 

 

Kedua: Karunia berbicara oleh satu Roh (ayat 8)

 

Sebuah kata atau rangkaian kata dapat menjadi pedang bermata dua, yakni membedah untuk tujuan baik, atau memotong/menyayat dengan tujuan buruk. Rangkaian kata-kata buruk dapat merusak suasana, menghancurkan mental dan motivasi, dan bahkan membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga dan terhina. Sebaliknya rangkaian kata-kata indah dapat membuat seseorang menjadi senang dan bersukacita, membangun semangat dan motivasi, dan bahkan menimbulkan keberanian sehingga jauh dari rasa khawatir dan takut. Kemampuan dalam olah "berbicara" itu tentu juga didasari oleh hikmat kemampuan batin dan rohani yang dalam, termasuk dalam memahami pengetahuan dan keilmuan. Dalam hal ini pengertian berbicara juga dimaksudkan dengan menulis sebagaimana para rasul Tuhan, dipakai dalam menulis surat-surat rasuli atau kitab-kitab sebagaimana dalam Alkitab. Oleh karena itu, Allah menggunakan kemampuan mengeluarkan kata-kata sebagai karunia khusus bagi orang yang Tuhan pakai untuk menyampaikan pesan dan membangun jemaat-Nya (band. 1Ptr. 4:10).

 

 

 

Dalam Alkitab paling tidak ada tujuh karunia yang berhubungan dengan berbicara, yakni:

 

 

 

1. Karunia rasuli (Ef. 4:11; 1Kor. 12:28)

 

2. Karunia bernubuat/kenabian (Ef. 4:11; 1Kor. 11:14-15; 12:2)

 

3. Karunia penginjilan (Ef. 4:11; 2Tim. 4:5; Kis. 21:8)

 

4. Karunia penggembalaan (Ef. 4:11)

 

5. Karunia mengajar (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28-29)

 

6. Karunia menasihati berkata-kata dengan hikmat (Rm. 12:8; 1Kor. 12:8)

 

7. Karunia berkata-kata dengan pengetahuan (1Kor. 12:8; 2Kor. 8:7)

 

 

 

Lima karunia yang pertama diambil dari Ef. 4:11 yang dianggap sebagai karunia jabatan yang ada dalam tubuh gereja, seperti rasul, penginjil, gembala dan pengajar (guru), terkecuali jabatan kenabian/nubuatan yang lazim dalam masa Perjanjian Lama. Namun dalam hal ini bernubuat tidak semata-mata berhubungan dengan ramalan-ramalan masa depan. Yohanes Calvin mengatakan bahwa menyampaikan firman dan pesan Allah kepada kumpulan orang percaya adalah kemampuan bernubuat yang dilaksanakan dalam berbagai khotbah sepanjang sejarah gereja. Nubuatan dalam khotbah disampaikan di tengah-tengah jemaat dalam rangka meneguhkan dan menguatkan jemaat tersebut. Memang, sebagian lain berkata bernubuat bukankah berkhotbah, tetapi sesuatu yang spontan, pesan yang diinspirasi Roh Kudus. Namun Alkitab mengatakan, Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur (1Kor. 14:3; band. Rm. 12:6; Yoel. 2:28). Sementara kemampuan dalam menyampaian kata-kata nasihat dengan penuh hikmat seperti isi kitab amsal, ini termasuk bagi mereka yang belajar psikologi konseling. Yang terakhir pada bagian ini adalah mereka yang memiliki ilmu pengetahuan yang bisa menjelaskan tentang gejala-gejala dan proses alam (scientist), maupun bidang sosial yang meliputi peristiwa-peristiwa sosial termasuk interaksinya, seperti antrhropolog, sosiolog, ahli sejarah, dan ilmu sosial lainnya.

 

 

 

Semua ini penting kita ketahui bahwa Allah benar-benar terlibat di dalam memberi, menggunakan, dan memberdayakan karunia rohani. Penggunaan karunia rohani, tempat pelayanan, jenis pelayanan, semua akan menjadi lebih efektif ketika karunia itu dipakai untuk membangun jemaat. Allah menciptakan tempat dan waktu yang tepat bagi setiap orang percaya di dalam tubuh Kristus. Karunia rohani dan pelayanan mungkin kadang tampak tumpang tindih, tetapi setiap orang percaya memiliki kekhususan, sebab Allah mendisain peran bagi kita semua. Salah satu yang menarik dan menantang dalam mengikut Kristus adalah menemukan karunia rohani dalam diri kita dan juga pada diri orang lain, dan menggunakannya dengan baik untuk kepentingan bersama dalam pembangunan jemaat (1Kor. 14:12; Ef. 4:12).

 

 

 

Ketiga: Karunia melayani oleh Roh yang sama (ayat 9a)

 

Kita orang percaya dipanggil untuk melayani. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri tetapi untuk Kristus dengan melayani orang lain. Allah memanggil anak-anak-Nya untuk melayani, dan tidak semua pelayanan dalam bentuk atau wujud yang tampak "hebat". Sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan, setiap karunia rohani tidak lebih hebat dari karunia rohani yang lain. Ketika para rasul sibuk dengan pemberitaan Injil, harus ada yang mengurus meja dan agar mereka bisa lebih memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Untuk itu mereka menunjuk tujuh orang untuk melayani meja, dalam pengertian pelayanan sosial kepada janjda-janda miskin (Kis 6:1-4). Mereka yang dipilih melayani ini juga bukan sembarangan, sebab mereka adalah orang-orang yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat untuk melaksanakan tugas itu. Jadi sebenarnya tugas mereka melayani didasari oleh iman dan kemurahan hati.

 

 

 

Maka berdasarkan pengelompokan pelayanan khususnya yang berhubungan dengan waktu dan tenaga, kemurahan hati dan pelayanan, ada lima karunia, yakni:

 

 

 

1. Karunia iman (1Kor. 12:9)

 

2. Karunia melayani (1Kor. 12:7)

 

3. Karunia menolong (1Ko.r 12:28; Kis. 6:2)

 

4. Karunia memberi dengan murah hati (Rm. 12:8)

 

5. Karunia memberi tumpangan (1Pet. 4:9; 1Tim. 5:10)

 

6. Karunia memimpin atau mengelola (Rm. 12:8; 1Kor. 12:28)

 

 

 

Dalam hal ini karunia iman dikelompokkan ke dalam pelayanan sebab iman dilihat sebagai keteguhan hati dan kesungguhan dalam penyerahan diri, yang bermanfaat dalam pelayanan ke luar dirinya. Setiap orang percaya memiliki iman. Tetapi bagaimana pun, memiliki karunia iman merupakan ukuran yang tidak biasa atas kepercayaan dalam kekuasaan Roh Kudus (band. Mat. 17:19,20; 1Kor. 13:2). Penting kita ingat firman Tuhan yang mengatakan, karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:13). Memang dalam hal ini pengelompokan yang diberikan dapat disebut sebagai pelayanan diakonia, yang mengutamakan kerendahan hati dan kesedian memberi yang bukan terbatas pada materi semata, dan juga bersikap benar-benar sebagai hamba pelayan (band. 1Kor. 12:27-31). Hal yang terpenting dalam kelompok ini adalah kemampuan dalam mengelola dan memimpin, baik dalam pengertian kepemimpinan tradisional dan kegembalaan, maupun dalam pengertian modern berbentuk organisasi yang komplek dan layanan multi dimensi. Ini jelas sebuah karunia yang khusus yang sangat diperlukan dalam dunia modern saat ini.

 

 

 

Keempat: Karunia membuat mukjizat (ayat 9b-10)

 

Dunia ini penuh dengan guru-guru palsu. Setiap orang dapat mengatakan telah berbicara dengan Allah. Di lain pihak ada yang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada namanya mukjizat. Bagi mereka semua proses atau kejadian yang terjadi harus mengikuti hukum alam, baik itu sains, psikologi, ataupun ilmu sosial. Kalau ada sesuatu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh akal pikiran, maka sebenarnya itu hanya misteri yang belum dan menjadi tantangan bagi pikiran manusia untuk membukanya. Bagi mereka, adanya pelangi adalah gejala alamiah dan bukan tanda busur dari Allah sebagai ikatan janji. Kesembuhan seseorang dari penyakit tanpa melalui pengobatan medis, bagi mereka itu terjadi karena kembalinya kekuatan tubuh, adanya asupan makanan, dan lingkungan yang mendukung. Jadi kesembuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuasa doa, urapan kudus atau campur tangan Ilahi. Memang pengakuan tidak adanya mukjizat bukan selalu berarti atheis dan tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Mereka hanya tidak mau mengakui campur tangan Tuhan dalam hidupnya dan berusaha melakukan sebaik mungkin berdasarkan usahanya sendiri. Bagi kita orang percaya, itu adalah hikmat dunia dan tidak menggunakan hikmat Allah.

 

 

 

Dalam Alkitab peristiwa mukjizat bukanlah monopoli Perjanjian Baru. Dalam peristiwa Musa mengeluarkan umat-Nya dari Mesir, mukjizat dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyatakan kuasa dan kehadiran-Nya. Setelah Tuhan Yesus naik ke sorga, para murid juga melakukan banyak pekerjaan mukjizat, sesuai pesan Yesus kepada murid-murid-Nya (Mat. 10:1; Mrk. 16:18). Berdasarkan telaah dalam Perjanjian Baru, ada lima jenis karunia rohani yang berhubungan dengan pekerjaan mukjizat atau tanda-tanda, yakni:

 

 

 

1. Karunia menyembuhkan (Mat. 10:1; 1Kor. 12:9, 28, 30)

 

2. Karunia mengadakan mukjizat (1Kor. 12:10, 28-29; Ibr. 2:4)

 

3. Karunia berbahasa lidah dan berbahasa roh (Kis 1; 1Kor. 12:10)

 

4. Karunia membedakan roh (1Kor. 12:10; 14:28)

 

5. Karunia menafsirkan bahasa roh (1Kor. 12:10)

 

 

 

Kisah-kisah mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus membuktikan bahwa mukjizat itu nyata. Penyertaan kuasa Ilahi dalam proses alam yang khusus bukanlah hal aneh, meski unik, sepanjang seseorang itu bersedia melihat dan Allah berkenan memberikan untuk maksud dan tujuan-Nya. Allah dapat bekerja sendiri tanpa manusia, akan tetapi sebagaimana dalam Kisah Para Rasul para murid membuktikan karunia itu ada dan bekerja efektif pada murid dalam pekerjaan pekabaran Injil. Memang saat ini belum ada yang bisa membuktikan bahwa karunia itu ada pada orang-orang tertentu. Kita perlu berhati-hati dalam karunia berbahasa roh, dengan klaim memiliki kemampuan dalam berbahasa roh dan bahkan belajar berbahasa roh. Kita tidak mengingkari adanya bahasa roh (1Kor. 12:10, 30). Yang penting Alkitab mengatakan bahwa ketika seseorang berbahasa roh, harus ada yang mampu untuk menerjemahkannya, Kalau tidak, ini hanya seperti omongan yang tidak berarti dan lebih baik diam (1Kor. 14:26-28; band ay. 13). Dalam hal ini Rasul Paulus memberikan kita sebuah metode pengujian untuk membedakan apakah pesan yang diterima seseorang itu datang dari Allah atau tidak; apakah orang itu mengaku Kristus sebagai Tuhan. Kita tidak boleh bersikap naif dengan menerima kata-kata yang diakui dari Tuhan, tetapi ujilah apakah pengajarannya sesuai dengan Alkitab dan perkataan Kristus.

 

 

 

Kelima: Satu tubuh satu baptisan (ayat 11-13)

 

Meskipun kerunia roh itu dibeda-bedakan dan dikelompokkan sebagaimana di atas, namun sebenarnya itu saling melengkapi dan bahkan tidak mudah memberi batas yang tegas tentang kemampuan khusus yang diberikan kepada masing-masing orang. Semua kemampuan ibarat paduan tubuh yang terdiri dari anggota-anggota tubuh dan dibangun menjadi kesatuan utuh dalam jemaat. Namun alih-alih membangun dan menyatukan gereja sebagaimana di Korintus, karunia rohani bisa mencerai-beraikan. Karunia rohani dibuat menjadi kuasa rohani, menyebabkan persaingan, sebab beberapa orang berpikir mereka merasa "lebih rohani" dari yang lain karena adanya karunia tersebut. Ini menjadi hal yang buruk dan salah dalam penggunaan karunia rohani, sebab tujuan yang sebenarnya adalah membantu gereja agar lebih efektif, bukan untuk memecahnya. Kita dapat menjadi pemecah belah jika kita mengotot menggunakan karunia rohani dengan cara kita sendiri tanpa memerdulikan pihak lain. Kita tidak boleh menggunakan karunia rohani untuk memanipulasi orang lain, apalagi untuk kepentingan diri sendiri.

 

 

 

Seluruh karunia itu hakekatnya adalah rupa-rupa pelayanan, dan bersumber dari satu Tuhan. Meski ada berbagai-bagai perbuatan ajaib tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya pada semua orang percaya, sesuai dengan tugas dan misi Allah yang diberikan padanya. Kita perlu memperhatikan kesatuan dari semua karunia, kesatuan sumber dan tujuan penggunaan karunia itu. Sebagian orang akan diberi kemampuan dalam berbicara, sebagaian diberikan dalam kemampuan melayani, meski memang tidak mudah mendeteksi apakah kemampuan membuat mukjizat ini ada dalam jemaat. Alkitab berkata, “berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus” (Ef. 4:3-7). Baptisan "dalam satu Roh" bukanlah menunjuk kepada baptisan air tetapi mengacu kepada tindakan Roh membaptis orang percaya ke dalam tubuh Kristus (Mat. 3:11; Mrk. 1:8; Luk. 3:16) dan menjadikan orang percaya satu secara rohani dengan yang lainnya.

 

 

 

Kita tidak boleh seperti jemaat di Korintus yang mengutamakan karunia-karunia yang paling dirasakan hebat dan penuh tanda-tanda. Mereka lebih menonjolkan kehebatan karunia yang mereka punyai tanpa ingin mengetahui rencana Allah memberi karunia-karunia itu. Mereka meniru upacara-upacara kafir yang penuh dengan ritual “keanehan” demi untuk mendapatkan perhatian dan keistimewaan. Ini tidak terlepas dari jemaat Korintus yang dianggap masih bayi dengan sifat kanak-kanak dan belum dewasa, sebagaimana dijelaskan pada pasal-pasal sebelumnya. Rasul Paulus menekankan dengan perumpamaan tubuh manusia dengan anggota-anggota yang banyak menjadi satu, demikian pula pelayanan karunia rohani sebagai alat pemersatu dan penguatan gereja-Nya (Rm. 12:5; band. Gal. 3:28; Kol 3:11). Tujuan semua itu adalah memuliakan Yesus sebagai Tuhan atas gereja, dengan Roh sebagai pemberi karunia yang berdaulat dan kita hanyalah alat dan hamba-Nya. Hal yang penting justru ketika karunia itu diberikan kepada kita, maka kita memakainya dengan baik dan terus bertumbuh, dengan berprinsip menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh sehingga Tuhan Yesus semakin dipermuliakan.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini kita diberikan sebagian pelajaran tentang karunia rohani dan berdasarkan tambahan ayat-ayat lainnya kita mencoba memadukannya, sehingga ditemukan delapan belas karunia rohani yang disediakan bagi orang percaya. Sebagian orang diberi kemampuan dalam berbicara, sebagian diberikan kemampuan melayani, dan sebagian (memang tidak mudah mendeteksi) kemampuan membuat mukjizat. Semua itu bersumber dari satu Roh dan kita juga melihatnya bahwa karunia-karunia yang kita miliki semata-mata dari Allah dan diperuntukkan bagi kemulian-Nya. Dengan karunia yang kita miliki maka tujuan dan motivasi kita haruslah membangun jemaat, sehingga penggunakan karunia rohani itu lebih efektif. Kita harus menjauhkan diri dari tindakan memanipulasi karunia yang diberikan, termasuk menggunakan untuk kepentingan diri sendiri, atau menonjolkan karunia-karunia yang dianggap hebat dan mempertunjukkan tindakan-tindakan yang dianggap spektakuler. Hal semacam itu adalah egoisme yang menonjolkan diri dan tidak ada faedahnya, sebab semua karunia itu suatu saat akan lenyap. Sikap kita haruslah menyatakan bahwa Dia satu-satu-Nya Tuhan bagi jemaat-Nya yang mendahulukan kasih dan kasih adalah hal yang terbesar. Sebagaimana ayat lanjutan dari pasal ini dinyatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1Kor 13:1).

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati dan melindungi kita sekalian, amin.

Khotbah (2) Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026

Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026 – Opsi 2

 

 SELAMAT ULANG TAHUN GEREJA KITA (Kis. 2:1-21)

 

 Hari ini dalam kalender gereja adalah hari Pentakosta, sekaligus hari pencurahan Roh Kudus, mengingat peristiwa saat para murid berkumpul di Yerusalem, tradisi sukacita festival (Kel. 23:14–17; Im. 23:1–44; Ul. 12:5–6). "Dan tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus...." Peristiwa itu dituliskan dalam Kis. 2:1-21 yang menjadi bacaan kita minggu ini. Oleh karena pencurahan Roh Kudus tersebut, maka hari itu juga dianggap sebagai hari lahirnya gereja, dalam pengertian adanya jemaat mula-mula.

 

 

 

Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta merupakan hari perayaan umat Israel purba, yakni perayaan hari ke lima puluh setelah Paskah, saat keluarnya umat Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Peristiwa itu sekaligus perayaan umat atas pemberian hukum Taurat kepada Musa, dan doa serta ucapan syukur kepada Allah atas kebaikan panen gandum yang berhasil.

 

 

 

Hari raya pentakosta hakekatnya sejak dahulu adalah hari sukacita, setelah melewati masa-masa sulit. Semua ada waktunya, dan yang indah pasti akan datang. Saat ini kita semua sedang dilanda duka, dan prihatin. Pandemi Covid-19 sampai kemarin telah menewaskan 360,679 jiwa dari 5,8 juta yang terpapar di seluruh dunia. Untuk Indonesia per Agustus 2021, ada 120.000 yang meninggal, dari 3,9 juta jiwa positip terpapar. Sungguh memilukan hati.

 

 

 

Gedung gereja tempat kita berkumpul dan bersekutu, kini dikunci rapat. Kita beribadah lewat TV atau komputer atau Hp, sebuah pola persekutuan baru. Semuanya untuk tujuan yang baik, menghindari sebaran pandemi semakin meluas. Semoga dengan ibadah di rumah, kita semua menjadi keluarga imamat rajani. Kita tahu, Tuhan punya rencana, semua atas izin-Nya. Kini kembali kepada kita manusia, kesempatan untuk berefleksi, mengambil hikmah, serta berubah menjadi lebih baik dan semakin berkenan di hadapan-Nya.

 

 

 

Hampir dua tahun kita lebih banyak di rumah; ekonomi lumpuh, pengangguran ikut menggila. Kemiskinan dan hidup yang lebih berat membuncah; bukan saja tetangga kita, keluarga kita, sekeliling kita, tetapi juga para hamba Tuhan yang gerejanya di desa-desa, gereja kecil yang mengandalkan persembahan setiap minggu. Hidup yang cukup sulit untuk dapat bersukacita di ulang tahun gereja hari ini. Kita terus berdoa agar semua berlalu dan dipulihkan. "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu, berjaga-jagalah sambil mengucap syukur" (Kol. 4:2). Bagaimana pun, janji Tuhan telah digenapi, Ia telah memberi kita Penolong dan Penghibur (Kis. 1:4-8, Yoh. 14:16; Yl. 2:28-32).

 

 

 

Ayat terakhir nas minggu ini mengingatkan, "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan" (ayat 21). Mari kita berseru: Selamat datang Roh Kudus! Tiada pilihan lain, mari kembalikan fokus perhatian tetap kepada Allah, hanya Dia yang terus disembah dan ditinggikan. Kita diingatkan kembali saat ini, orang percaya telah diperlengkapi dengan kuasa, ada rupa-rupa karunia untuk bersaksi dan berkarya, untuk hidup yang terus dibarui, semakin membawa terang Ilahi, mengutus ke luar gereja, membawa jiwa-jiwa baru kepada-Nya. Selamat ulang tahun gereja kita semua. Semoga kita bisa semakin menyenangkan hati-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

Tuhan Yesus melindungi dan memberkati, amin.

Kabar dari Bukit, Minggu 17 Mei 2026

Kabar dari Bukit

 

 IMAN, SPEKULASI DAN UNDI (Kis. 1:15-17; 21-26)

 

 Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu" (Kis. 1:26)

 

 

 

Kita baru saja memperingati dan merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Selama 40 hari Tuhan Yesus bangkit dari kubur, Ia melakukan banyak interaksi dengan para murid-Nya. Ada kisah perjalanan dua murid ke Emaus tapi kemudian mereka tidak dapat melihatnya lagi (Luk. 24:13-31). Ada kisah Si Peragu Tomas yang hanya percaya Yesus bangkit jika ia memasukkan jari tangannya ke bekas paku di kayu salib (Yoh. 20:25-28). Ada juga kisah Yesus kembali memperlihatkan mukjizat-Nya dengan meminta murid-murid-Nya menebar jala di sebelah kanan perahu dan banyaklah ikan ditangkap (Yoh. 21:6-13).

 

 

 

Menjelang hari raya Pentakosta, muncul permasalahan pada para rasul. Yudas Iskariot telah mati bunuh diri. Para rasul ingin mengganti posisi Yudas untuk menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya. Dan itulah firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini yakni Kis. 1:15-17; 21-26. Perikop ini berjudul: Matias dipilih menggantikan Yudas. Hal menarik dalam pemilihan dilakukan secara undi. Dari seleksi pendahuluan diperoleh dua nama, yakni Yusuf Barsabas dan Matias. Keputusan dari hasil undi terpilih Matias.

 

 

 

Rasul Petrus memimpin pertemuannya. Ini membuktikan bahwa Tuhan mampu memulihkan orang yang pernah gagal. Pemimpin rohani bukanlah orang yang sempurna, tetapi orang yang mau dipulihkan Tuhan. Metoda undi yang dimaksudkan disini bukanlah menggunakan dadu. Memang tradisi dan ajaran dalam Perjanjian Lama, ada beberapa cara Allah dan media yang dipakai untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia. Allah kerap menyampaikan pesannya melalui mimpi, teofani seperti nyala api di semak duri, urim dan tumim, undi, nabi-nabi, malaikat, dan peristiwa mukjizat.

 

 

 

Sebagai orang percaya tentu ada kerinduan bagi kita untuk mendapat kesempatan "bertemu" Tuhan saat Ia ingin menampakkan diri-Nya untuk tujuan tertentu. Ya itu tidak ada salahnya, apakah dalam bentuk mimpi, bertemu malaikat, teofani kasat mata, dan bentuk lainya. Memang firman Tuhan dalam kitab Ibrani, dituliskan “berulang kali dan dalam pelbagai cara” (ay. 1:1) dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada akhir zaman ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya yaitu Yesus Kristus.

 

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, jawaban atas doa dan pengharapan tidaklah selamanya langsung diberikan oleh Tuhan. Nasihat yang lazim: tunggu! Semua akan indah pada waktunya (Pkh. 3:11). Tetapi meminta tanda atau petunjuk tidaklah salah, masih Alkitabiah. Kemampuan kita manusia sangatlah terbatas.

 

 

 

Saya pernah mengalaminya. Namun bukan tuntutan, melainkan meminta tanda petunjuk dari Tuhan. Ceritanya, selepas kerja dari grup perusahaan Bukaka, saya dipinang oleh dua perusahaan. Saya bingung: mana yang akan saya pilih? Saya kemudian memberikan syarat dan kondisi yang sama. Namun, melalui doa, Tuhan memberikan hikmat, yakni agar saya meminta kepada mereka untuk mengirimkan email sebagai konfirmasi. Perusahaan yang duluan mengirimkan email konfirmasi itulah pilihan Tuhan.

 

 

 

Puji Tuhan, petunjuk-Nya benar. Perusahaan yang terlambat mengirim, kemudian ditutup; pimpinannya masuk penjara!

 

 

 

Kita dapat mencari keputusan Tuhan memilih yang terbaik. Namun, ini bukan berarti dorongan malas berpikir, menggantikan doa dan hikmat, apalagi menghindari tanggung jawab keputusan. Itu adalah spekulasi. Metoda undi boleh dipakai ketika: beberapa pilihan sama-sama layak, manusia tidak punya dasar kuat untuk menentukan sendiri. Dan semua didasari iman, doa, dan berserah kepada Tuhan.

 

 

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (3) Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026

Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026 - Opsi 3

 

 PEMIMPIN PENUH KARYA (Bil. 11:24–30)

 

 "Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua–tua itu” (Bil. 11:25a)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Hari ini kita merayakan ulang tahun gereja. Selamat untuk kita semua, warga gereja: anak–anak Tuhan di dalam Yesus Kristus. Pada hari yang penuh sukacita ini, kita juga memperingati pencurahan Roh Kudus.

 

Firman Tuhan bagi kita hari ini diambil dari Bil. 11:24–30. Ini adalah kisah perjalanan umat Israel keluar dari Mesir. Pada ayat–ayat sebelumnya (1–23), diceritakan bagaimana umat bersungut-sungut, dan akibatnya Tuhan menghukum mereka dengan membakar kemah-kemah mereka. Musa sebagai pemimpin memohon pengampunan, dan api itu pun padam.

 

Sungut–sungut kedua muncul ketika umat menuntut daging sebagai lauk karena bosan dengan manna (ay. 13). Setelah Musa berbicara kepada Tuhan, permintaan itu dikabulkan. Tuhan memberikan daging burung puyuh selama sebulan penuh, sampai mereka jenuh dan muak (ay. 18–20). Ini menjadi contoh kerakusan yang tidak patut ditiru.

 

Nas ini juga menunjukkan sisi kepemimpinan Musa. Ia merasa lelah, kewalahan, dan putus asa. Ia mengeluh, “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu?” (ay. 11).

 

Tuhan memberikan solusi dengan memerintahkan Musa memilih 70 tua–tua. Ini adalah bentuk pendelegasian tanggung jawab. Roh dari Tuhan yang ada pada Musa akan dicurahkan juga kepada para tua–tua itu, sehingga mereka dipenuhi Roh: memiliki semangat yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Kepenuhan Roh di sini bukan kesurupan, bukan pula berbahasa roh.

 

Menariknya, di luar 70 tua–tua pilihan itu, ada dua orang yang juga mengalami kepenuhan Roh, meski tidak termasuk dalam kelompok terpilih. Yosua, mewakili para tua–tua, meminta Musa menghentikan mereka. Namun Musa menjawab, “Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” (ay. 29). Artinya, Musa bersukacita karena ia menyadari kuasa Tuhan tidak bisa dibatasi oleh manusia.

 

Dalam kepemimpinan, dikenal istilah kepemimpinan rohani (spiritual leadership) dan kepemimpinan hamba (servant leadership). J. Oswald Sanders dalam bukunya Spiritual Leadership menekankan bahwa kepemimpinan adalah bentuk pelayanan yang memuliakan Tuhan, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Kepemimpinan hamba adalah tujuan dari kepemimpinan rohani, yang berakar pada kasih kepada Tuhan dan sesama.

 

Sanders juga menyatakan bahwa kepemimpinan akan efektif dan tujuan organisasi tercapai jika pendelegasian wewenang dan tanggung jawab berjalan seiring. Sementara Dr. Kenneth Blanchard dan Phil Hodges menekankan bahwa teladan sejati kepemimpinan hamba ditunjukkan oleh Yesus Kristus. “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia” (Kol. 2:9–10).

 

Organisasi gereja maupun organisasi sosial perlu sungguh-sungguh memahami hal ini. Kepemimpinan yang melayani memiliki ciri khas, yaitu:

 

  1. Melayani dengan 3H, yakni hati (heart), pikiran (head) dan tangan (hands);
  2. Mementingkan kebersamaan, penuh kasih. Tidak menghukum atau membiarkan sesuatu yang tidak baik terjadi dalam organisasi.
  3. Tidak ada kompetisi, tujuan utamanya adalah pelayanan bagi kemuliaan Tuhan;
  4. Bila merasa lelah dan putus asa, mintalah kekuatan dari Tuhan.  Pemimpin wajib berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia, bertambah teguh dalam iman, dan hati yang melimpah dengan syukur (Kol. 2:7).

 

 

 

Pemimpin yang tidak mampu melakukan delegasi pasti sulit berkarya dengan maksimal. Janganlah pemimpin terlalu ingin berkuasa, melakukan kehendak sendiri, tidak mengayomi, tidak mau berkorban. Semua orang diberi karunia oleh Tuhan, maka haruslah membangun sinergi yang akan berbuah menjadi suatu karya yang nyata.

 

 

 

Jangan juga membatasi campur tangan Tuhan, seperti Musa yang sempat meragukan cara Tuhan memenuhi kebutuhan daging untuk umat 600.000 orang. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil (ay. 21–23; Luk. 1:37).

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026

Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026

SERAHKANLAH SEGALA KEKHAWATIRANMU KEPADA-NYA (1Pet. 4:12-14, 5:6-11)

Bacaan lainnya: Yoh. 17:1-11; Kis. 1:6-14; Mzm. 68:1-10, 32-35

 Pendahuluan

Nas minggu ini dilatarbelakangi oleh tantangan berat yang dihadapi oleh jemaat di wilayah Asia Kecil oleh pihak kekaisaran Roma, khususnya bagi pemimpin-pemimpin baru seperti penatua dan diaken. Rasul Petrus mengingatkan agar dalam situasi tersebut mereka jangan terkejut apabila ada pelbagai penganiayaan dan penderitaan yang datang, mengingat sikap keras yang diperlihatkan panglimanya Nero dalam menganiaya orang-orang percaya. Penderitaan yang datang bukan merupakan ilusi, tetapi sudah merupakan rencana Allah untuk mereka ikut serta dalam penderitaan dan kesusahan itu. Ini sikap yang perlu dihadapi sebagai jalan untuk mengikut jejak Yesus yang mati demi kebenaran, sehingga mereka tidak perlu malu atau berputus asa dalam menghadapinya. Maka melalui bacaan peristiwa di masa awal gereja ini kita memperoleh pengajaran sebagai berikut.

 

Pertama: Berbahagialah dalam penderitaan untuk Kristus (1Pet. 4:12-14)

Tidak dapat disangkal bahwa kelahiran agama umumnya berangkat dari penderitaan umat di tengah-tengah ketidakadilan. Ada kerinduan manusia agar perubahan dapat terjadi dan wajar saja memiliki pengharapan melalui Mesias atau tokoh nabi-nabi baru. Allah sendiri mungkin menempatkan skenarionya sedemikian rupa sehingga memudahkan pesan Allah sebagai Pencipta dan Yang Mahakuasa bagi mereka untuk berubah. Penderitaan manusia itu sendiri tentu berawal dari kebodohannya di samping akibat ketidaktaatannya. Oleh karena itu, pesan Allah yang pertama adalah: bertobatlah, atau berubahlah (band. Pesan Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus pada Mat. 3:2; 4:17). Dalam melakukan pertobatan atau perubahan itulah biasanya kita diminta untuk berkorban, menderita bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Mereka yang percaya terhadap perubahan tentu perlu berjuang untuk itu. Dan itulah yang terjadi pada para murid Tuhan Yesus. Riwayat awal pelayanan-Nya dan sejarah gereja mencatatnya dengan baik. Murid-murid dipilih-Nya untuk mengambil bagian dalam perjuangan perubahan itu dengan ikut menderita. Dengan perjuangan mereka dan penderitaan yang dialami, nama Tuhan Yesus ditinggikan dan semakin banyak yang percaya dan menjadi pengikut Yesus.

 

Namun dalam hal ini Yesus bukan sekedar nabi atau rasul. Ia juga Allah yang menjadi manusia, sehingga apa yang dikatakan-Nya pasti merupakan kebenaran dan sekaligus menjadi janji pasti-Nya kepada mereka yang percaya dan setia mengikuti firman-Nya. Rasul Petrus mengutip ucapan awal Tuhan Yesus pada Mat. 5:11 yang senada mengatakan, "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." Jadi ketika ada penderitaan, kita jangan terkaget-kaget. Apabila itu dalam rencana Allah, Roh Kudus diberikan untuk menguatkan mereka yang diuji imannya. Kita juga tidak perlu takut dan gentar. Lihat saja bagaimana Petrus dan Yohanes dianiaya ketika memberitakan Injil, mereka bersukacita sebab merasakan bahwa penganiayaan itu adalah tanda pembuktian dari Allah akan buah kerja mereka (Kis. 5:41; Kol. 1:24; Ibr. 10:34). Tentu tidak berarti bahwa kita mencari kesusahan, tapi jangan menghindarinya juga. Be ready. Fight for the best, be ready for the worst. Yang penting, tetap lakukan yang terbaik bagi Tuhan, tanpa terlalu mempedulikan risiko penderitaan yang mungkin datang sebagai konsekuensinya.

 

Dalam situasi sekeliling kita saat ini pun, masih banyak penderitaan dan ketidakadilan, sehingga setiap orang percaya pada hakikatnya dipanggil untuk menghilangkan penderitaan dan ketidakadilan itu. Kita orang percaya tidak bisa berpangku tangan apalagi memanfaatkan situasi untuk kepentingan diri sendiri. Kemauan kita mengambil bagian dalam penderitaan orang lain adalah bukti kesungguhan untuk melayani dan mengabdi pada Kristus (band. Kis. 14:22; Rm. 8:17-18; 1Pet. 1:6-9). Pengalaman mengambil bagian dalam perjuangan yang menimbulkan penderitaan akan memperkaya diri kita secara rohani. Perjuangan membuat kita hidup, dan bukan sekedar hidup adalah perjuangan. Kita harus melihat tugas itu sebagai peperangan melawan kebodohan, kemalasan dan bahkan melawan iblis sebagai sumber segala kejahatan dan keburukan (band. Ef 6:12). Allah memanggil dan membiarkan kita masuk dalam perjuangan itu. Meski tampaknya itu berupa siksaan, dinista, atau kita mungkin kalah secara fisik atau jasmani, tidak perlu takut dan gentar, sebab itu hanya ujian iman dan bukan akhir segalanya. Semua itu bukan sesuatu yang luar biasa. Roh Allah yaitu Roh kemuliaan bekerja dan diam di hati orang percaya dengan cara istimewa menguatkan kita dalam ujian itu. Dan pada akhirnya, kita tetap sebagai pemenang secara rohani, kita bergembira dan bersukacita, sebab ada jaminan yang tersedia bagi kita ketika Ia datang kembali menyatakan kemuliaan-Nya (Rm. 8:17; 2Kor. 4:17; 1Pet. 5:1). Maka, berbahagialah kita untuk itu.

 

Kedua: Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya (1Pet. 5:6-7)

Ketakutan dan kekhawatiran adalah manusiawi. Ketakutan merupakan bagian dari ketidaktahuan kita tentang apa yang akan terjadi di depan. Puncak ketakutan manusia mungkin kematian dan proses kematian yang menyakitkan. Tetapi sepanjang kita memahami bahwa kematian adalah pintu untuk kemuliaan dan proses kematian yang menyakitkan adalah jalan untuk menuju pintu kemuliaan itu, maka semua tidak perlu dikhawatirkan lagi. Ketakutan manusia terhadap penderitaan daging juga memperlihatkan bahwa ia belum lepas dari keinginan daging. Nas minggu ini juga ditujukan kepada mereka yang dipanggil di dalam pelayanan gereja, sebagai pendeta, penatua, diaken, guru sekolah minggu, dan lainnya. Semua panggilan itu merupakan kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan melalui orang-orang percaya. Jadi tidak ada alasan untuk takut dan khawatir. Tujuan panggilan itu bukan untuk mendapatkan kehormatan, memperoleh pujian, apalagi keuntungan diri sendiri. Jabatan diberikan sebagai jalan yang lebih mudah dalam pengabdian dan sekaligus menjadi tantangan penggunaan wewenang sebagai pemimpin, teladan dan gembala. Domba yang diserahkan bukan untuk disesatkan melainkan diasuh dan ditumbuh-kembangkan kerohaniannya sehingga semakin berkenan kepada Tuhan.

 

Mengambil bagian dalam penderitaan Kristus akan membentuk diri kita sesuai dengan karakter yang diinginkan-Nya (Rm. 5:3-5; 2Kor. 1:3-7; Yak. 1:2-4). Tapi perlu kita sadari bahwa panggilan itu adalah otoritas Allah, namun respon, intensitas dan kualitas pelayanan kita adalah semata-mata dari kesediaan dan kerelaan kita dan bukan karena paksaan. Kita tidak perlu merasa jengkel atas pengalaman penderitaan yang datang, dan juga tidak perlu merasa cemburu atau rendah diri apabila orang lain tidak mengalami hal yang sama atau lebih ringan, apalagi bersikap memberontak atas apa yang kita alami. Memang terkadang kita khawatir akan status dan kedudukan kita, atau berharap akan pengakuan manusia atas apa yang kita lakukan. Akan tetapi Rasul Paulus dalam hal ini menasihati bahwa pengakuan dari Tuhan jauh melebihi hal yang diberikan oleh manusia. Allah sanggup dan mau untuk memberkati kita seturut dengan waktu-Nya. Taatlah dengan sungguh-sungguh, berserah dalam kerendahan hati terhadap Allah. Tunduklah atas rencana-Nya yang penuh misteri tanpa memperhitungkan situasi saat ini, dan pada saatnya nanti – entah di masa hidup kita kini atau di masa kekekalan nanti, Dia pasti mengangkat dan meninggikan kita pada waktunya.

 

Maka bila kita terus menerus membawa-bawa segala kekhawatiran, tekanan, dan pergumulan hidup setiap hari, maka sebenarnya kita tidak percaya penuh pada Allah dalam hidup kita. Memang diperlukan kerendahan hati, sebab bagaimana pun, dengan mengakui bahwa Allah peduli dan mengakui kita mempunyai kebutuhan, kita membiarkan keluarga Allah lainnya terbuka untuk menolong. Kadang kita berpikir bahwa kesusahan terjadi, yang mungkin disebabkan oleh dosa dan kebodohan kita sendiri, membuat Allah tidak peduli. Itu jalan pikiran yang salah. Ketika kita datang kepada-Nya untuk bertobat, Dia akan mengangkat semua beban yang kita pikul. Ia tidak berencana menghancurkan kita, namun membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Biarkanlah Allah dengan tangan-Nya yang kuat menyelesaikan kekhawatirandan kecemasan kita, bukan bersikap pasif. Jangan menyerah kepada keadaan, tetapi membiarkan Allah mengendalikan situasi yang ada. Segala ketakutan, kekhawatiran, dan keprihatinan harus diserahkan sepenuhnya kepada-Nya (bd. Mzm. 37:5; 55:23; Mat. 6:25-34). Ia menjaga dan memelihara anak-anak-Nya, berharga di mata Tuhan mereka yang dikasihi-Nya (Mzm. 116:15; 1Kor. 7:32). Mereka yang rendah hati akan lebih tenang dan bijak sehingga lebih mudah dalam menyelesaikan masalah. Orang-orang yang demikian inilah yang sepenuhnya dipelihara Allah dalam hidupnya (Ayb. 5:11; Yak. 4:6, 10).

 

Ketiga: Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis (1Pet. 5:8-9)

Kewaspadaan adalah sikap hidup. Itu berangkat dari kesadaran terhadap hakekat diri sendiri dan adanya ancaman yang menanti. Orang yang tidak peduli dengan dirinya sangat mudah jatuh, baik secara fisik maupun secara rohani. Tubuh yang tidak sehat dan sigap akan mudah terjatuh dalam setiap gerakan, demikian pula jiwa dan roh yang tidak kuat akan mudah tergoda oleh si jahat. Seekor singa biasanya mengincar dan siap memangsa hewan yang lemah, masih muda, atau suka lepas keluyuran. Mereka memilih menerkam korban yang posisinya lemah, tidak waspada dan dianggap sebagai makanan empuk. Rasul Petrus melalui nas ini mengingatkan kita akan tipu muslihat setan ketika kita lemah dalam penderitaan atau dianiaya. Jika kita merasa sendiri, lemah, tanpa pertolongan, dan terputus dari orang percaya lainnya, atau kita terlalu fokus pada kesulitan diri kita sendiri dengan melupakan bahaya yang mengancam, maka pada saat itulah sebenarnya kita sangat rentan bagi serangan setan.

 

Ketika kita dalam penderitaan atau pergumulan sehari-hari, kewaspadaan akan melemah. Akibat kita merasa sendiri, terasing, dan tidak mungkin lagi mendapatkan pertolongan Allah maka kita kehilangan persekutuan dengan-Nya. Ini jelas sangat berbahaya. Terlebih lagi, bila kita juga semakin menjauhkan diri dari persekutuan-persekutuan dengan sesama, yang seharusnya berfungsi untuk saling menasihati dan menguatkan (Ef. 4:2; 1Tes. 5:11). Oleh karena itu pada saat terjadi penderitaan, berusahalah mencari teman orang percaya untuk mendapatkan dukungan. Iblis sebagai penguasa dunia dengan pasukan roh jahatnya selalu berjalan berkeliling bagaikan singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (band. Mzm. 22:14; Yeh. 22:25). Siapa yang lemah maka akan diterkam dan dijerat dalam belenggunya. Melalui persekutuan dengan orang percaya, kita akan dikuatkan dan Roh Allah akan bekerja memulihkan.

 

Iblis ingin kita meragukan janji Tuhan, menyangkal dan menjauh dari-Nya. Iblis sebagai pendakwa dan pembohong menyembunyikan kebenaran yang asli bahwa Allah sebenarnya tetap mengasihi kita. Tetapi mustahil untuk kita bisa melawan dengan kekuatan diri sendiri. Roh dan jiwa manusia tidak akan mampu melawan tipu daya iblis sebagai penguasa dunia (Yoh. 14:30; 1Yoh. 5:19), sehingga perlu kekuatan dan kuasa lain untuk melawannya. Untuk itulah kita tetap perlu memandang Kristus dalam menolak iblis. Di sini perlunya iman yang teguh, yang tidak mudah goyah oleh godaan dan cobaan seketika. Sebab dengan Roh Kudus "yang ada di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia" (1Yoh. 4:4), maka Iblis akan dikalahkan. Sesuai dengan firman Tuhan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:11-12). Rasul Petrus sendiri membuktikan itu, meski pernah menyangkal Yesus tiga kali saat Yesus hendak diadili, namun akhirnya Petrus menjadi martir yang teguh dengan mati disalibkan posisi terbalik sesuai dengan keyakinan tradisi gereja. Dengan iman seperti itu, maka seperti kata Rasul Petrus, iblis akan lari darimu dan kita akan menjadi pemenang. Tunduk kepada Allah, sadar dan berjaga-jaga, karena iman teguh yang dilengkapi senjata Allah adalah kunci kepada kemenangan (band. Yak. 4:7).

 

Keempat: Ia melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan (ayat 10-11)

Tidak dapat disangkal bahwa keberadaan Allah itu nyata. Ia adalah Allah yang hidup dan bukan Allah yang diam berpangku tangan apalagi Allah yang sudah mati sesuai pandangan Nietzsche. Allah sebagai Roh Hidup merupakan sumber segala sesuatu. Dalam kitab Roma dikatakan bahwa Allah adalah sumber ketekunan dan penghiburan (Rm. 15:5), sumber pengharapan (Rm. 15:33), dan terutama Allah sebagai "sumber damai sejahtera, dan berkuasa menghancurkan Iblis di bawah kakimu” (Rm. 16:20). Maka, dalam nas ini dinyatakan bahwa Allah adalah sumber kasih karunia sebagai penguatan dari penyataan Rasul Paulus dalam kitab Roma tadi. Kita “yang dipanggil dalam kemuliaan-Nya yang kekal akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Artinya, ketika kita menderita sesaat, maka Allah akan memberikan dukungan kuat dari awal hingga kita menerima kemuliaan itu kelak dari-Nya.

 

William Barclay menjelaskan dalam bukunya tentang semua istilah itu, sebagai berikut:

  • Melengkapi, dalam hal ini dimaksudkan sebagai memperbaiki, dalam arti ketika kita melewati penderitaan, ada perubahan sikap hidup dan paradigma terhadap penderitaan itu sendiri. Ketika penderitaan diterima dengan rendah hati, kepercayaan dan kasih, maka itu dapat memperbaiki kelemahan sifat seseorang dan menambahkan kepadanya suatu kebesaran hati yang tidak ditemui sebelumnya.
  • Meneguhkan, yang artinya menjadikan keras seperti granit. Penderitaan tubuh dan kesedihan hati yang diterima terus menerus dengan dasar kepercayaan kepada Kristus, tidak membuatnya putus asa, melainkan seperti baja keras yang ditempa di dalam api.
  • Menguatkan, artinya memenuhi dengan kekuatan. Arti iman yang sebenarnya sungguh-sungguh diketahui setelah seseorang mengalami ujian dalam berbagai penderitaan. Angin yang besar dapat memadamkan api yang kecil, tetapi itu akan membesarkan nyala api di dalam kobaran api yang lebih besar.
  • Mengokohkan, artinya meletakkan pondasi-pondasi. Setelah kita melalui penderitaan hingga iman yang paling bawah, dari situ kita menemukan hal-hal yang tidak dapat digoyahkan. Ada perubahan drastis menjadi kestabilan dan kematangan jiwa dan rohani.

 

Memang ketika kita dalam penderitaan, mungkin merasa bahwa penderitaan itu tidak berakhir. Waktu sesaat seolah panjang, lama tidak berujung. Tetapi Rasul Petrus dalam hal ini memberikan kepada orang Kristen yang beriman teguh dalam perspektif yang lebih luas. Dalam perbandingan dengan kekekalan, penderitaan kita di dunia ini hanya sesaat, sebentar saja dibandingkan dengan kekekalan sepanjang masa. Beberapa pembaca surat Petrus akan dikuatkan dan hidup mereka dipakai Tuhan. Sebagian akan dibebaskan dari penderitaan melalui kematian. Tuhan mengetahui dan mengizinkan semuanya dalam perjalanan hidup anak-anak-Nya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Yang pasti, semua pengikut Tuhan Yesus yang setia dijamin memperoleh hidup yang kekal bersama Kristus dengan tidak ada lagi penderitaan (Why. 21:4). Semua itu terjadi sebab Ia yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

 

Penutup

Penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh umat percaya tidak seharusnya membuat iman orang Kristen jatuh sampai ke titik nadir dan terperosok ke penyangkalan pertolongan Tuhan. Penderitaan justru dilihat sebagai jalan untuk semakin dekat dan bergantung kepada-Nya, menguatkan komitmen, seperti dikatakan firman minggu ini: berbahagialah dalam penderitaan untuk Kristus. Kita tidak perlu takut dan khawatir perihal yang terjadi dalam kehidupan termasuk dalam pelayanan, justru serahkanlah segala kekhawatiranyang ada kepada-Nya, sebab Ia adalah Allah yang peduli dan setia memelihara anak-anak-Nya. Yang penting, kita tetap melayani dengan penuh kasih dan pengabdian, dan dalam menghadapi tantangan iman kita diminta selalu sadar, waspada dan berjaga-jaga. Iblis si jahat akan selalu berkeliling menggoda, mengaum, dan menipu untuk kita beralih dari Tuhan, yang membuat kita menjadi orang yang kalah dan mudah ditelan. Karena itu, lawanlah si Iblis dengan senjata-senjata rohani yang berdasarkan iman kepada Dia, sebab Ia akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita dalam setiap langkah kehidupan yang berkenan kepada-Nya

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan memberkati dan melindungi kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 14 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13887310
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1081
4470
5551
13853687
82797
154006
13887310

IP Anda: 216.73.216.54
2026-05-18 10:59

Login Form