2026
2026
Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026
Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026
TETAP TEGUH DAN BERSAKSI (Mat. 10:24-39)
"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Mat. 10:32)
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini dari Mat. 10:24-39. Ini merupakan lanjutan nas minggu lalu tentang kita diutus ke tengah-tengah serigala, dan untuk itu perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16). Minggu ini diingatkan kembali bahwa tantangannya bisa menjadi berat. Untuk itu tetaplah berhikmat; tidak mesti sok berani dan konyol. Itu bukan cara Kristiani. Kita tidak harus mati berkorban untuk Tuhan Yesus, sebaliknya Yesus yang telah mati bagi kita. Tetapi bila itu menjadi tantangan terhadap kesetiaan iman, Tuhan Yesus sangat bahagia dan menghargainya (ayat 32, 38).
Firman minggu ini mengatakan, kita tidak perlu melebihi Sang Guru. Tuhan meminta kita memberi sesuai talenta yang diberikan. Dalam menghadapi masa sulit dan berat, tetaplah tegar dan berani. Tuhan Yesus berkata: "Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka ...." (ayat 26). Kerajaan sorga pasti dinyatakan. Setan Beelzebul tetap akan membencinya (ayat 25).
Kita berharga di mata Tuhan (Mzm. 116:15). Oleh karena itu Tuhan akan terus menyertai, sepanjang kita hidup di dalam Dia dan menjalankan misi-Nya. "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.... Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit" (ayat 29, 31). Sebuah argumen yang sangat kuat.
Sakit di tubuh rasanya tidak enak, tapi sakit di jiwa pasti lebih menyakitkan. Firman-Nya meneguhkan itu: "Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka" (ayat 28). Maka, saatnya untuk memilih dan bersikap. Takutlah akan Tuhan, yang berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (ayat 34-36). Memang tidak semua bersukacita atas ajakan-Nya.
Oleh karena itu di tengah situasi berat pandemi saat ini, bagi kita yang terdampak, atau berbeban lain, tetaplah tegar dan kuat. Tuhan Yesus meminta agar kita terus menjadi saksi. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (ayat 37). Tetap bangun ikatan yang kuat bersama Tuhan Yesus. Tuhan Yesus pasti senang. Badai pasti berlalu. "Mengikut Yesus keputusanku. Ku tak ingkar, ku tak ingkar. Walau ku sendiri, salib di depan, dunia di belakang... ku tak ingkar" (lirik Kidung KPRI No. 103, merupakan kisah kesaksian di India, tentang kesetiaan meski harus mati bersama keluarganya).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah (2) Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026
Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 – Opsi 2
ISHAK, ISMAEL DAN KITA (Kej. 21:8–21)
”Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; ..., sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak" (Kej. 21:12)
Selamat hari Minggu.
Agama “Samawi” dikenal sebagai tiga agama yang berlatar belakang Abraham, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Samawi berarti sumbernya dari “wahyu” surga, dan ketiga agama ini kadang disebut juga Abrahamik. Agama Samawi dibedakan dengan agama “Ardhi” yang dianggap lebih bersumber dari hikmat manusia, budaya, dan tradisi, seperti Hindu, Buddha, dan lainnya, serta tidak mengenal nabi atau rasul.
Dua agama Samawi, yakni Kristen dan Islam, menjadi besar karena penyebarannya sesuai doktrin yang dianut, sementara agama Yahudi lebih “tertutup” karena terkait etnis. Hubungan ketiga agama ini tidak selalu mulus; kadang terjadi gesekan bahkan bentrokan keras. Kita tahu Perang Salib, saat Paus Urbanus II dan Kaisar Bizantium Alexius Komnenus memerintahkan pasukan mereka untuk merebut kembali Yerusalem yang saat itu dikuasai umat Islam (Bani Saljuk) yang membatasi umat Kristen beribadah di sana. Tentu faktor politik dan ekonomi juga menjadi penyebab lainnya.
Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini dari Kej. 21:8–21. Ini kisah tentang Abraham yang diminta Sarah, istrinya, untuk mengusir Hagar, budak yang menjadi istrinya ketika Sarah belum mempunyai anak. Setelah Ishak, anak Sarah, lahir, timbul kecemburuan dan ketakutan Sarah bahwa Ismael, anak Hagar, akan menjadi ahli waris (ay. 10).
Abraham, meski awalnya berat hati, akhirnya menuruti permintaan Sarah setelah mendengar janji Tuhan bahwa keturunan Ismael akan menjadi suatu bangsa besar, karena Ismael juga anak Abraham (ay. 13). Abraham pun melepas mereka dengan bekal roti dan air yang cukup (ay. 14). Tuhan sebelumnya juga telah berjanji kepada Hagar saat Ismael masih dalam kandungan (Kej. 16:10).
Tantangan perjalanan padang gurun Bersyeba sangat berat. Namun Allah tetap menjaga mereka, setia pada janji-Nya sampai tiba di padang gurun Paran. Hagar kemudian mengambil seorang istri bagi Ismael dari tanah Mesir (ay. 19–21). Ismael memiliki keturunan besar dari dua belas anak (Kej. 25:12–18).
Hubungan Ishak dan Ismael menjadi misteri dalam kehidupan manusia. Ada perbedaan versi antara Alkitab dan Alquran, dan kita tidak perlu membahasnya karena keduanya mengaku berasal dari wahyu Tuhan sehingga sulit dipertemukan. Namun dalam iman, Tuhan pasti menyingkapkannya ketika kehidupan di dunia berakhir.
Pesan pertama dari nas minggu ini, yakni Allah dapat memberi janji dan berkuasa menggenapinya. Keturunan Abraham terbukti seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej. 13:6; 22:17; lihat renungan minggu lalu), baik melalui hubungan darah dengan bangsa Israel (Rm. 11:1) maupun melalui iman (Rm. 4:16–17; Gal. 3:7–9). Penganut Abrahamik saat ini lebih dari setengah penduduk bumi.
Kedua, dalam menghadapi perbedaan kisah dan tafsir, kita tetap berpegang pada iman, sejarah, dan pikiran sehat. Kita memegang janji sesuai firman-Nya: “dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu’” (ay. 12; Rm. 9:7). Kita tahu keturunan besar hanya salah satu aspek berkat, sementara yang utama adalah keselamatan kekal.
Ketiga, menyikapi perbedaan dengan keturunan Ismael, kita berjalan dalam hikmat dan kasih Tuhan. Cara pandang dan penyelesaian perbedaan tetaplah dalam kasih dan damai. Kita tidak perlu mengikuti sikap Sarah yang mungkin didorong kebencian. Sebaliknya, kita meneladani Abraham yang tetap penuh kasih, melepas Hagar dan Ismael dengan damai serta bekal kehidupan. Imannya teguh bahwa Allah akan setia menjaga mereka. Terlebih doktrin Kristiani mengajarkan kita hidup dalam kasih, berdoa, dan berbuat baik, termasuk kepada musuh (Mat. 5:44; Luk. 6:27).
Seperti pesan paralel dari nas minggu ini, yakni Mat. 10:24–39, mari tetap teguh dalam iman dan terus bersaksi, berbuah bagi Kristus. Jangan goyah oleh informasi sesat yang membawa kita ke dalam kebencian dan permusuhan. Doktrin Kristiani tidak mengajarkan hal itu. Hidup dalam damai sejahtera, saling menolong, dan mengutamakan kepentingan orang lain (Rm. 12:18; Gal. 6:2; Flp. 2:4). Itu perintah Tuhan, dan kita wajib menjaganya.
Selamat beribadah dan bersekutu.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026
Khotbah Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026
KETEKUNAN, TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Rm. 5:1-11)
Bacaan lainnya: Kel. 18:1-15; Mat. 9:35-10:8, (9-23);
Mzm. 116:1-2, 12-19; atau Mzm. 100 (semua ada pada website ini, silahkan browsing)
Pendahuluan
Minggu ini kita kembali diberikan peneguhan bahwa melalui iman kepada Tuhan Yesus kita banyak menerima berkat. Berkat anugerah itu tidak hanya kita dibenarkan, tetapi juga berbagai berkat yang disediakan Allah bagi kita yang setia dan mengasihi-Nya. Selain kita diberi keselamatan, kita juga dibebaskan dari murka Allah masa kini maupun masa mendatang, dan terutama Roh Kudus dicurahkan untuk menolong kita dalam mengarungi kehidupan ini. Melalui nas yang kita baca minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Perdamaian sebagai buah pembenaran (ayat 1-2)
Nas ini kembali menegaskan bahwa melalui iman kita dibenarkan dan karena kita dibenarkan ternyata berkat-berkat anugerah tidak berhenti di situ saja; dengan dibenarkan kita juga diperdamaikan dengan Allah dan itu merupakan jalan masuk dan jaminan keselamatan yang diberikan. Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita akan masuk ke dalam kasih karunia Allah yang semakin sempurna dengan menikmati damai sejahtera dengan Dia. Kalau selama ini tidak ada yang dapat menghampiri Allah, melalui pendamaian manusia tidak lagi memerlukan perantara imam untuk datang kepada Allah, sehingga terjalin persekutuan langsung manusia dengan-Nya (band. Ef. 3:12). Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita juga memiliki penyertaan Roh Kudus, bebas dari hukuman murka Allah, dan pengharapan akan kemuliaan-Nya. Kita berdamai dengan Allah bukan dalam pengertian rasa damai biasa di hati seperti keteduhan dan ketenangan. Damai dengan Allah berarti terjadi rekonsiliasi dengan Pencipta kita, Tuan dan sekaligus Tuhan kita. Tidak ada lagi permusuhan antara kita dengan Dia, tidak ada lagi dosa yang membentengi hubungan kita dengan-Nya. Damai dengan Allah itu terjadi hanya karena Yesus telah membayar lunas dan menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib.
Pembenaran dan perdamaian dengan Allah ini memuat konsep yang penting dan mengantarkan kita pada dua jenis kehidupan orang Kristen. Di satu sisi kita sepenuhnya berada di dalam Kristus, yang berarti penerimaan kita pada-Nya dijamin, dan di sisi lain kita juga bertumbuh di dalam Kristus dengan pengertian yang semakin hari harus semakin sama dengan Dia. Kita juga diberikan dua status sekaligus, yakni menjadi anak-anak Raja tetapi juga sebagai hamba kerajaan. Dalam hal ini kita merasakan dua hal yang bersamaan setiap saat: kehadiran Kristus yang memberi rasa damai dan tekanan kedagingan dari iblis untuk keinginan berbuat dosa. Kita bisa merasakan damai sejahtera dari Allah karena kita sudah diterima-Nya, tetapi kita juga masih hidup di dunia ini dengan permasalahan dan pergumulan sehari-hari. Padahal, semestinya permasalahan dan pergumulan itu menjadi cara dan jalan bagi kita untuk bertumbuh menjadi sama dengan Dia, namun ada juga di antara kita yang jatuh menuruti kehendak iblis dan daging sehingga membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Apabila kita memahami dua sisi kehidupan orang Kristen ini dalam keseharian kita, maka sebenarnya kita tidak mudah berputus asa dalam setiap pergumulan dan permasalahan yang datang, melainkan kita belajar untuk berserah dan bergantung pada kekuatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Roh Kudus yang diam dalam hati kita.
Nas firman Tuhan ini juga menyatakan bahwa sebagai orang percaya, kita berdiri di tempat yang tinggi dan diistemewakan. Kita diperdamaikan dan sekaligus mengambil bagian dalam kemuliaan Allah. Ini terjadi bukan hanya karena kita sudah dinyatakan tidak bersalah, tetapi juga karena Tuhan menarik dan merangkul kita lebih dekat kepada-Nya. Kita tidak lagi menjadi seteru-Nya tetapi menjadi sahabat-Nya dan bahkan menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 15:15; Gal. 4:5). Hubungan yang sudah terputus dan tertutup karena dosa kini dipulihkan melalui jalan yang dibuka Yesus Kristus dengan kematian-Nya. Dia yang betakhta Raja kini membuka diri-Nya, dan kita tadinya sebagai seteru kini sebagai sekutu. Inilah jalan masuk ke dalam kasih karunia yang begitu besar sebagai buah kita dibenarkan karena iman dan kebenaran itu menuntun kita kepada iman yang berbuah untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kedua: Kesengsaraan membawa ketekunan dan tahan uji (ayat 3-4)
Bagian terakhir dari berkat-berkat anugerah yang disediakan dari hasil pembenaran itu memampukan kita bermegah dalam kesengsaraan. Ini mungkin sesuatu yang aneh, sesuatu yang dianggap salah; bagaimana kita bisa bermegah dalam kesengsaraan? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita bermegah dan bersukacita di dalam penderitaan, bukan karena kita menyukai penderitaan itu atau menolak pandangan bahwa bagaimanapun penderitaan adalah sebuah tragedi. Akan tetapi, kita berani bermegah karena tahu bahwa Allah yang baik itu menggunakan penderitaan yang kita alami (dan/atau setan yang menyerang) bertujuan membangun karakter kita. Permasalahan dan pergumulan yang kita harus hadapi dan menangkan akan membangun ketekunan dan tahan uji, yang sekaligus menguatkan karakter kita, mempertebal iman percaya kepada Allah dan memberi kita keyakinan akan pengharapan masa depan. Kita pasti dihadapkan dengan persoalan ini setiap hari dalam tingkatan yang kecil sampai besar, maka berterimakasihlah kepada Allah untuk kesempatan bertumbuh, dan bekerjasama dengan-Nya dalam mengatasi persoalan itu sampai menang (band. 1Pet. 1:6-7).
Dalam abad-abad awal masehi kehidupan kekristenan penuh dengan penderitaan. Semua rasul dibunuh atau mati dengan cara-cara yang kejam dan menyedihkan. Orang-orang percaya harus melarikan diri dari kejaran pembenci pengikut Yesus. Kisah-kisah menyedihkan orang Kristen seperti tubuhnya dibakar untuk dijadikan obor penerang sudah pernah kita dengar. Oleh karena itu, penderitaan bagaikan sebuah hal yang umum dan bukan sebuah pengecualian. Tapi melalui firman Tuhan ini kita diajar bahwa untuk kita "menjadi" berhasil di masa mendatang itu kita harus "jadi" (to become we must overcome). Artinya, kita harus menjalani pengalaman-pengalaman yang sulit untuk lebih bertumbuh, pengalaman penderitaan dan ujian dalam bentuk kesusahan, seperti penyakit tubuh, keuangan, penindasan dan ketidakadilan bahkan kesepian dan kesendirian. Semua ini menantang kita untuk bertekun, bukan berputus asa atau mengeluh, apalagi menghujat pihak lain (Yak. 1:2-4, 12). Yang penting dari semua itu adalah kita mengimani kalau kesengsaraan yang datang adalah sepengetahuan Allah.
Paulus menyatakan dalam 1Kor. 13:13 bahwa iman, pengharapan dan kasih adalah inti dari kehidupan Kristiani. Hubungan kita dengan Allah didasari oleh iman, yang menolong dan menyadarkan kita bahwa hidup kita harus siap dengan segala rencana Tuhan, baik dipakai melalui sukacita dan ujian. Ketekunan di sini melebihi kesabaran, sama dengan semangat tidak mau menyerah dan daya juang yang tinggi, dan melalui ketekunan itulah kita mendapatkan tahan uji, dalam arti kita mampu melewati ujian yang diberikan dengan kemenangan. Tahan uji berarti bebas dari kotoran yang mengganggu dan handal terpercaya dalam setiap situasi, tidak berputus asa, dan hal seperti inilah yang kemudian menimbulkan pengharapan akan hari esok yang lebih baik dan cemerlang. Jadi, dalam hal ini ada hubungan segaris antara penderitaan – ketekunan – tahan uji – dan pengharapan. Pengharapan itu hadir dan bertumbuh sebab melalui penderitaan kita mempelajari semua yang telah direncanakan oleh Tuhan bagi kita; itu memberi kita janji yang penuh keyakinan akan masa depan. Kasih yang Allah berikan untuk mengisi hidup kita akan memberi kita kemampuan untuk membaginya dengan orang lain.
Ketiga: Kasih Allah tercurah di hati kita (ayat 5-8)
Firman Tuhan mengatakan "ketika kita masih orang berdosa" Yesus mati bagi kita, ini jelas sebuah kalimat yang indah dan bukti konkret tentang kasih yang besar. Kalau seseorang berkorban bahkan mati untuk membela orang benar, itu sesuatu yang biasa dan lumrah. Tetapi Yesus mati bagi kita yang durhaka dan orang tidak benar, jelas itu perbuatan yang tidak terkira, karena kita tidak layak menerimanya. Bahkan semua kematian dan penebusan Yesus itu terjadi bukan karena kehebatan perbuatan kita, tetapi hanya karena Allah mengasihi kita. Atau, apakah mungkin kita ragu? Maka apabila kita merasa goyang atau tidak yakin bahwa Allah mengasihi kita sedemikian besar, ingatlah bahwa Allah sebenarnya mengasihi kita sebelum kita bertobat. Jika Allah mengasihi kita pada saat kita masih durhaka, maka kita kini diyakinkan akan kasih-Nya, dan kita cukup membalasnya dengan kasih kepada-Nya.
Kita mungkin merasa lemah dan putus asa karena kita tidak melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan dan apa yang kita terima untuk menolong diri kita sendiri. Kita mungkin hanya mengeluh, menyesali, menyalahkan atau bahkan kemudian tidak percaya ada Allah melalui Roh Kudus yang sedia membantu. "Sesuatu" perlu datang untuk menolong dan menyelamatkan kita yang lemah. Pengertian lemah di sini mengacu pada moral dan rohani, meski kadang dalam pengertian tubuh dan jiwa. Kristus terbukti datang memberi pertolongan pada saat yang tepat sesuai sejarah 2000 tahun yang lalu, tetapi Ia juga datang tepat pada saatnya sesuai dengan waktu terbaik dari Tuhan. Memang kadang kita tidak sabar atau ingin lari mencari pertolongan lain, tetapi tetaplah sabar dan bertekunlah hingga waktu terbaik dari Tuhan itu dinyatakan. Allah mengendalikan waktu dan sejarah, mengontrol setiap cara, gerak dan metode yang pas bagi kita untuk keluar dari persoalan yang ada.
Allah Tritunggal terlibat dalam peristiwa keselamatan. Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjembatani hubungan kita yang berdosa dengan Dia (Yoh. 3:16). Kasih Allah memang sungguh luar biasa, bahkan kasih itu tidak berhenti sampai di situ. Untuk memperlihatkan kasih-Nya tidak sesaat melainkan selamanya, Allah Bapa dan Allah Anak mengirimkan dan mencurahkan Roh Kudus mengisi hati kita dengan penuh kuasa dan memampukan kita hidup dengan kuasa-Nya (Kis. 1:8). Kata dicurahkan dalam nas ini berarti keadaan yang berlangsung terus menerus tanpa henti. Dengan demikian, Roh Kudus yang tercurah hadir untuk menghibur kita dalam setiap pencobaan dan mendukung dalam setiap keadaan, sehingga segala persoalan dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (Flp. 4:13). Dengan semua kasih yang besar tercurah dari Allah, bagaimana kita tidak mau melayani Dia dengan sepenuh hati sebagai balasan kasih-Nya?
Keempat: Kasih Allah menyelamatkan kita dari murka-Nya (ayat 9-11)
Kasih yang menyebabkan kematian Yesus sama dengan kasih yang Allah berikan melalui Roh Kudus yang hidup di dalam hati kita dan siap memimpin dan menyertai kita dalam hidup ini. Kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian adalah sama dengan kuasa yang menyelamatkan hidup kita dari dosa-dosa, dan sama dengan kuasa yang memimpin keseharian kita. Dengan memulai hidup dengan Kristus, kita akan memiliki kuasa dan kasih besar yang siaga saat menghadapi pergumulan hidup setiap hari. Melalui iman kepada penebusan Kristus, kita menjadi dekat dan berkonsiliasi dengan Allah, bukan lagi menjadi musuh atau menjadi orang yang terbuang.
Allah itu kudus dan tidak berinteraksi dengan dosa. Semua manusia telah berdosa dan terpisah dari Allah dan ini membuat kita melanggar kekudusan Allah. Dosa juga membawa penghukuman berupa murka Allah, bukan saja saat ini, tapi juga pada masa penghakiman kelak. Dan sebagai orang berdosa, sudah sepatutnya kita dihukum melalui kematian dan penderitaan selama-lamanya dengan ditempatkan di neraka. Namun Kristus telah mengambil semua ini dengan mengalami kematian dan penderitaan di atas kayu salib. Dengan penebusan itu kita diluputkan dari murka-Nya dan bahkan terbebas dari belenggu dosa yang selalu menjerat. Kita dimampukan melalui kekuatan Roh Kudus untuk melawan iblis sehingga kita terbebas dari kuk dosa yang jahat. Roh Kudus dicurahkan dalam hati kita agar hidup kita bebas dari kuasa dosa, belenggu hukum Taurat, murka, dan dari kuasa maut. Kita juga akan bebas dari “hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan kemuliaan kekuatan-Nya” (2Tes. 1:9). Oleh karena itulah kita bersukacita d idalam Kristus.
Bagian terakhir dalam nas ini menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Yesus yang telah mati dan bangkit kembali hidup, itu adalah bukti kekuasaan Allah ada pada-Nya dan kemenangan atas kematian (1Kor. 15:55). Dengan Yesus hidup bangkit dari kematian, maka kita menjadi selamat dan hidup selamanya. Dengan dasar itulah kita layak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus. Kita bermegah diselamatkan bukan karena kehebatan kita, bukan karena kekuatan atau prestasi dan perbuatan kita, melainkan hanya karena kasih-Nya. Kita juga bermegah karena kita memperoleh pengharapan kemuliaan bersama-Nya kelak, ketika Yesus Tuhan kita akan datang kembali untuk menyatakan kuasa-Nya (Kol. 3:4). Pengharapan ini tidak mengecewakan sebab dasarnya adalah kasih Allah. Ini hal yang paling prinsip dalam memahami keselamatan, bahwa penyelamatan itu menyeluruh. Dengan demikian, sungguh Allah itu kasih, dan kita dipanggil untuk terus beriman dan berdoa agar kuasa dan kasih itu tetap hidup dan merajai hidup kita setiap saat.
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diteguhkan bahwa dengan iman kepada Yesus Kristus, manusia ditempatkan secara istimewa di pintu masuk gerbang anugerah, mulai dari pembenaran, perdamaian dan berkat-berkat lainnya. Berkat ini jangan dilihat hanya dalam bentuk sukacita dan berkat jasmani, tetapi juga dalam wujud beban kesengsaraan dan kesusahan. Semua yang terjadi setelah kita menerima dan mengakui Yesus sebagai penebus kita harus dilihat sebagai rencana Allah dalam mendewasakan karakter kita untuk dapat melewati dengan ketekunan, membuat kita tahan uji dan berpengharapan untuk ikut serta dalam kemuliaan Allah ketika nanti Yesus kembali. Kita sudah terbebas dari segala murka akibat dosa dan kuk perhambaan. Kita bermegah karena kasih Allah dan bukan karena kehebatan dan prestasi kita. Selayaknyalah kita membalas kebaikan Allah itu dengan membagikannya kepada orang lain yang belum mengenal dan merasakannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 14 Juni 2026
Kabar dari Bukit
MENJADI HARTA KESAYANGAN TUHAN (Kel. 19:2-8a)
”Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi" (Kel. 19:5)
Selamat hari Minggu.
Banyak di antara kita melihat perbuatan teman atau saudara yang tidak sesuai firman Tuhan. Bahkan kita sendiri pun, mungkin terkadang masih melakukan hal yang serupa. Tidak perlu terlalu kecewa. Sangat bagus jika kita menyesali dan menyelesaikannya dengan permohonan maaf. Alkitab juga mengatakan melalui pergumulan Rasul Paulus, "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Rm. 7:15).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Keluaran 19:2-8a. Ini kisah Musa yang naik ke Gunung Sinai, menghadap dan menerima firman Allah serta janji: ".... jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa.... Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (ay. 5-6). Bangsa Israel pun menerimanya dan berkata: “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan” (ay. 8a).
Kita tahu kemudian bahwa dalam perjalanan menuju Tanah Kanaan, bangsa Israel tidak taat. Bahkan hanya dua orang yang berhasil masuk. Demikian juga saat pemerintahan hakim-hakim dan raja-raja, melalui nabi-nabi terus diingatkan, Yesus Kristus diutus, tetapi bangsa Israel tetap tegar tengkuk; konsekuensinya mereka menjadi bangsa diaspora selama 2000 tahun.
Kita tentu tidak menginginkan hukuman Tuhan. Tetapi mengapa kita (masih) melakukan hal yang tidak disukai-Nya, seperti membenci, menyakiti, membuat susah orang lain, bahkan ingin menyingkirkan? Belum lagi kita suka enggan berbuat baik menolong orang lain, yang kita mampu tetapi tidak mau; dan itu adalah dosa (Yak. 4:17). Mengapa? Apakah kita tidak takut akan (hukuman) Tuhan? Apakah kita berpikir Tuhan akan mudah mengampuni?
Menjadi anak Tuhan yang taat memang tidak mudah. Ada proses panjang satunya iman dan kata dengan perbuatan. Tentu dimulai dengan tahu firman Tuhan, kemudian menjadikan firman sebagai nilai-nilai, prinsip hidup. Kekristenan adalah kasih. Kegagalan menjadikan kasih sebagai nilai-nilai dasar dan prinsip, artinya kita gagal menjadi orang Kristen.
Untuk bisa berhasil, jadikanlah KASIH sebagai nilai-nilai hidup. Inilah dasar yang menggerakkan kita dalam bersikap dan bertindak. Melalui tindakan yang berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan (habit) dalam diri kita. Dengan membiasakan, kita seolah membentuk sistem syaraf baru dan pengendali yang terjalin dalam hati dan pikiran kita. Lama kelamaan, kebiasaan inilah mengkristal menjadi karakter dan menjadikan kita pribadi yang baru.
Kita ambil contoh. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati (1Kor. 13:4). Maka untuk bisa sabar dan murah hati, kita perlu menjadikan itu sebagai nilai-nilai hidup. Membentuk karakter yang sabar, perlu dilatih respons otak dan emosi agar tidak impulsif saat menghadapi tekanan. Demikian juga karakter yang murah hati, kita perlu berlatih berulang-ulang, menjadikannya sebagai kebiasaan, dan selanjutnya membentuk karakter diri.
Proses ini tidak bisa singkat. Diperlukan kesadaran dan tekad, latihan, jatuh bangun, dan evaluasi berulang. Hanya dengan begitu kita berhasil menjadikan diri kita harta kesayangan Tuhan. Pertanyaannya, apakah mau? Soal mampu, dengan pertolongan Roh Kudus, tiada yang mustahil.
Selamat beribadah dan bersekutu.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah (2) Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026
Khotbah Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026 – Opsi 2
SEPERTI DOMBA DAN MERPATI (Mat. 9:35-10:23)
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16)
Firman Tuhan di hari Minggu ini Mat. 9:35-10:23, bercerita tentang Tuhan Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat. 9:37).
Lalu Tuhan Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka dan berpesan, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Mat. 10:6-8).
Minggu lalu kita diingatkan tentang Amanat Agung Tuhan Yesus untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid-Nya. Dalam pesan minggu ini kita langsung diberi contoh, Tuhan Yesus memanggil duabelas murid. Memang memberitakan kabar baik bagi mereka yang belum mendengar dan menerima Yesus, harus dilakukan oleh para penginjil yang khusus diutus ke luar gereja. Mimbar gereja di hari Minggu, lebih kepada meneguhkan dan menguatkan orang percaya, sekalian mengajak jemaat untuk mengutus.
Nas minggu ini menegaskan kembali, maksud Tuhan Yesus datang ke dunia tidak semata-mata menebus dosa manusia dan memberi kehidupan yang kekal. Sebagai yang utama, itu betul. Tetapi kalau dilihat pesan-Nya kepada para murid, Ia juga datang untuk membebaskan orang-orang miskin dan terbeban (ayat 8). Kita lihat juga pesan Tuhan Yesus yang pertama ke dunia adalah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 4:17). Pernyataan kedua-Nya: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:18-19).
Oleh karena itu selain tahun rahmat pemberitaan kabar baik melalui bentuk marturia, ada tugas pembebasan yakni panggilan sosial diakonia sebagai tanggungjawab kita orang percaya. Seperti minggu lalu, penginjilan dengan pendekatan diakonia (presensi) maupun pendekatan marturia (proklamasi dan persuasi) mutlak dilakukan bersamaan.
Melalui nas minggu ini, Tuhan Yesus juga memberi metode yang bagus untuk melakukan hal tersebut, agar pelayanan menjadi efektip. Pertama, janganlah memberitakan kabar baik kepada mereka yang sudah ketahuan keras dan bandal, yang sudah menutup dirinya, seperti orang Samaria (ayat 5). Memberitakan kepada kelompok yang sulit menerima Injil, hanya buang-buang waktu dan energi. Hati kita miris ketika kita baru-baru ini membaca, adanya penolakan Alkitab berbahasa Minang. Maka pilihlah strategi dan sasaran yang tepat, yakni kepada mereka yang mau hatinya lebih terbuka, inklusif.
Nasihat kedua nas ini, agar kita memahami peta sasaran. Carilah simpul setempat yang bisa membuat sinergi, koperatif dan tidak menjadi beban. Berilah salam, dan apabila disambut kita bersyukur. “Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu” (ayat 13, band. Kis. 13:51). Nasihatnya, buatlah sederhana, meski perlu semangat juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah. Apalagi, Tuhan Yesus akan menolong (ayat 20, 23).
Pesan ketiga, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa mengutus para penginjil sama seperti mengutus domba ke tengah-tengah serigala (ayat 16a). Ancaman penolakan mengintai, dan penganiayaan dapat terjadi. Tetap waspada terhadap majelis agama (ayat 17), penguasa dan raja-raja setempat (ayat 18), dan para pembenci (ayat 22). Untuk itu perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (ayat 16b).
Kita pun marilah cerdik dan tulus dalam memenuhi panggilan itu. Mari kita dukung pekabaran Injil dan pelayanan sosial terhadap saudara-saudara kita yang di Indonesia Timur dan juga di wilayah Kristiani lainnya. Dukunglah dengan doa dan dana, dukunglah dengan berupaya agar gereja-gereja kita ikut melakukannya. "Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit." Janganlah berdiam saja. Itu bukan keinginan Tuhan sebagaimana dikatakan Alkitab.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 TETAP...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 – Opsi...Read More...
-
Kabar dari Bukit, Minggu 14 Juni 2026Kabar dari Bukit MENJADI HARTA KESAYANGAN TUHAN (Kel. 19:2-8a) ”Jadi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 55 guests and no members online
