2026
2026
Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026
Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026
PERSEMBAHAN YANG HIDUP DAN YANG BENAR (Rm. 12:1-8)
Bacaan lainnya: Kel. 1:8-2:10 atau Yes. 51:1-6; Mzm. 124 atau Mzm. 138; Mat. 16:13-20
Pendahuluan
Banyak orang memahami ibadah dalam arti yang terbatas, seperti berdoa, menghadiri kebaktian di gereja, bersaksi dan menyanyikan pujian, atau memberikan uang persembahan. Umat Yahudi juga demikian halnya, mereka lebih menekankan penyerahan korban persembahan sebagai ritual yang rutin saja dan melupakan makna dari ibadah itu, yakni adanya penyesalan dan perubahan melalui pertobatan hati. Oleh karena itu melalui nas minggu ini, firman Tuhan menekankan arti sebenarnya dari persembahan. Pesan Ilahi ini memberi kita perspektif yang lebih luas tentang makna ibadah yang benar dan sejati serta berkenan kepada Allah. Hal ini didasari bahwa semua hidup kita adalah kemurahan Allah semata dan meski kita diberi karunia rohani, semua itu adalah untuk kemuliaan-Nya. Nas minggu ini memberi kita pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Ibadah sejati dan persembahan tubuh (ayat 1)
Ketika di hari Minggu berjalan ke gereja, kalau ada yang bertanya kepada kita: "Mau kemana?" Biasanya kita akan menjawab: “Mau ke gereja” atau “Mau beribadah.” Maka jawaban itu dianggap benar dan logis. Tapi ketika di hari kerja pagi-pagi kita berjalan mau ke kantor, ada yang bertanya: mau kemana? Kemudian kita menjawab: “Mau beribadah”, maka orang yang bertanya itu akan mengira kita sedang teler, miring. Atau seorang istri ditanya suaminya: “Ke pasar mau ngapain?” Lalu istrinya menjawab: “Mau beribadah”, maka pasti istrinya dikira salah makan obat atau kemasukan roh jahat. Demikianlah kiranya pengertian umum ibadah dibuat sedemikian sempit hanya ketika mengikuti prosesi keagaamaan saja. Memang kata ibadah atau ibadat yang berasal dari bahasa Arab menurut KBBI adalah upacara keagamaan atau segala usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta. Sementara di dalam bahasa asli Alkitab (Yunani), kata latreia (kata benda) yang diterjemahkan ibadah atau latreuein, memiliki arti bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji. Pengertian latreuein ini kemudian berkembang, dan bisa juga berarti sikap tunduk dan hormat seorang hamba kepada tuannya. Ini didasari kasih dan diungkapkan dengan sikap membungkukkan badan atau ciuman tangan (bahasa Ibrani mengunakan kata abodah yang berarti sama yakni sikap tanda hormat dengan membungkukan badan seorang hamba). Hal inilah yang dijelaskan Rasul Paulus bahwa ibadah sejati sebenarnya adalah lebih luas, tidak hanya kehadiran dan sikap hormat dalam prosesi saja, melainkan penyerahan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Sikap ini dikaitkan dengan pelayanan sepenuh hati dan mengabdikan hidupnya kepada pekerjaan itu, dengan pengertian pekerjaan itu disadari sebagai penugasan dari Allah, dan disyukuri kepada Allah, maka pekerjaan itu berarti beribadah.
Bagi umat Israel, memberi persembahan sangat penting dan menjadi kewajiban mutlak pada saat upacara korban syukur, korban nazar atau penebusan karena berbuat dosa dan kesalahan. Umat Israel ketika mempersembahkan korban persembahan berupa hewan sesuai dengan ketentuan hukum Taurat, maka imam akan menyembelih dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian dan menempatkan daging korban itu di atas mezbah. Namun umat Israel menganggap persembahan korban itu sebagai sesuatu yang ritual saja, seolah-olah menaati hukum legalistik semata. Padahal Perjanjian Lama menuliskan dengan jelas bahwa ketaatan hati adalah lebih penting (1Sam. 15:22; Mzm. 40:7; Hos. 6:6; Amos. 5:22-24). Melalui ketaatan dan ketekunan hati sebenarnya Allah menginginkan persembahan hidup kita, bukan korban hewan semata sebagai persembahan ritual. Ketaatan hati ini dilakukan dengan menjauhkan diri dari keinginan daging, setia mengikut Dia, dan mempersembahkan seluruh sumber daya dan energi kita bagi kemuliaan-Nya (1Kor. 6:20; 1Pet. 2:5, 11), serta percaya kepada-Nya yang memimpin hidup setiap hari.
Oleh karenanya umat Kristen tidak perlu lagi mempersembahkan korban hewan sebagai penebus atau penghapus dosa dan kesalahan, sebab Yesus Kristus telah menjadi korban persembahan penebus segala dosa dan kesalahan kita. Kita diminta mempersembahkan seluruh kehidupan sehari-hari kita kepada Allah, itulah yang sebenarnya ibadah sejati. Pengertian ini sejalan dengan firman Tuhan yang disampaikan dalam Kol. 3:23, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Maka apabila kita bekerja di kantor, melayani di gereja, bekerja di rumah, bahkan menyapu rumah, memasak, memandikan anak, dan lainnya, semua merupakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Yang penting, dalam melakukan semua itu kita tetap dalam rasa syukur, menjaga kekudusan hidup dengan menjauh dari perbuatan jahat, mengikuti nafsu dan kedagingan. Hidup orang Kristen harus diisi dengan tindakan tulus ikhlas yang berkenan kepada Allah sebagai pelayanan, seperti membantu mereka yang dalam kesusahan, sebagaimana dituliskan: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia" (Yak. 1:27).
Kedua: Jangan serupa dengan dunia (ayat 2-3)
Allah itu baik, menyenangkan hati dan mempunyai rencana yang indah bagi anak-anak-Nya. Firman Tuhan mengatakan untuk bisa seperti itu maka kita harus berubah melalui pembaharuan budi, tidak serupa dengan dunia ini. Firman Tuhan mengatakan kita harus berubah (yang berasal dari kata morfe) dalam proses yang terus-menerus, menekankan kepada bentuk, hakekat, dan kedalaman. Allah menginginkan kita sebagai pribadi yang berubah dengan roh dan pikiran yang baru, hidup dengan penuh hikmat dan mematuhi-Nya. Semuanya diperlukan karena Dia ingin memberikan yang terbaik kepada kita, sebagaimana Dia telah menyerahkan Anak-Nya untuk membuat hidup kita penuh terbuka bagi berkat, dan menyerahkan dengan penuh sukacita hidup kita sebagai persembahan yang hidup untuk dipakai melayani-Nya. Dalam perubahan itu kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini. Kata "serupa" diambil dari schema yang berarti tidak konsisten, atau mengikuti arus dunia, lingkungan, seperti bunglon, tidak teguh. Orang Kristen jelas dipanggil agar teguh konsisten dan tidak menjadi serupa dengan pola kehidupan dunia ini, yang umumnya perilaku dan kebiasaannya mementingkan diri sendiri dan sering mengambil keuntungan dari orang lain meski itu tidak haknya.
Melalui perubahan yang terus menerus, kita semakin baik dalam membedakan hal yang sesuai dengan kehendak Allah dan berkenan kepada Allah. Tanpa pembaharuan budi, maka kehendak Allah tidak mudah kita kenali. Kita perlu mendalami dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip utama Kekristenan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Banyak orang Kristen dengan bijaksana memutuskan perilaku duniawi kebanyakan yang jelas bertentangan dengan firman Allah. Penolakan mereka terhadap ikut arus nilai-nilai dunia ini, dengan menjauh keluar dari perilaku dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan pembaharuan budi. Contoh, kalau kita di lingkungan yang banyak suka minum-minum sampai mabuk, atau orang-orang yang suka memakai narkoba, lingkungan penjahat, tanpa keinginan dan tujuan yang pasti dan kuat, maka nilai-nilai kita pun akan terpengaruh dan tergerus yang akibatnya kita akan terikut dan menjadi jauh dari Tuhan. Oleh karena itu pengertian kudus dalam ayat 1 di atas adalah sesuatu yang tepat, yakni "diasingkan", khusus, berbeda, tidak sama, atau spesifik; Meski kudus juga dapat diartikan sebagai tidak bercela, tidak penuh dosa, dan menjaga tahir. Oleh karenanya, sangat mungkin bagi kita untuk menghindar dari kebiasaan umum dunia ini, seperti mementingkan diri sendiri, keras kepala, membanggakan diri sendiri, tamak, bahkan sombong. Kita hanya perlu meminta Roh Kudus membaharui, mendidik kembali, dan mengarahkan kembali akal dan berpikir kita dengan sunguh-sungguh sehingga dapat membedakan hal baik dan sempurna (Ef. 4:23; Ef. 5:17).
Harga diri yang sehat memang sangat penting, sebab banyak di antara kita berpikir kerdil tentang diri sendiri, meski di lain pihak kita juga jangan melebih-lebihkan (overestimate) terhadap kemampuan kita. Di sini yang ditekankan adalah jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kita pikirkan. Kita harus menguasai diri menurut iman. Kuncinya kita perlu bersifat jujur dan melakukan evaluasi yang tepat akurat tentang kemampuan dan kelebihan dasar kita, sekaligus melihat kelemahan dan kekurangan, dengan mengacu tetap di dalam Kristus. Sebab apabila terpisah dari Kristus, kita tidak mampu dan bisa terjebak dengan banyaknya standar dunia yang dapat diikuti, dan standar dunia ini adalah jahat (Kis. 2:40; Gal. 1:4; 1Yoh. 5:19). Mengevaluasi diri sendiri dengan cara standar dunia atau kesuksesan dan pencapaian dapat menyebabkan kita berpikir terlalu besar dan terlalu berharga di mata orang lain, akan tetapi justru mengabaikan nilai yang sebenarnya di mata Tuhan. Padahal, di dalam Kristus kita tetap mempunyai nilai dan kemampuan yang berharga dalam melayani Dia. Hal lainnya adalah menerima diri sendiri dengan rasa syukur serta berpendirian, semua berasal dari Allah. Ini yang dimaksudkan dengan ukuran iman sesuai pengenalan diri sendiri. Flp. 2:13 berkata, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya". Jangan iri terhadap orang lain, sebab bertukar posisi itu belum tentu lebih baik dan membahagiakan. Mungkin kita pernah mendengar tentang kisah suami istri yang naik mobil mewah saling berdiam diri, dibanding sepasang suami istri berjalan kaki dan bergandengan tangan di tengah derasnya hujan.
Ketiga: Banyak anggota dengan tugas berbeda (ayat 4-6a)
Rasul Paulus menggunakan konsep tubuh manusia untuk mengajar orang Kristen untuk hidup dan bekerja bersama-sama. Sama seperti seluruh bagian tubuh berfungsi karena diperintah otak, demikian juga orang Kristen harus bekerja bersama di bawah kendali dan perintah Yesus Kristus (1Kor. 12:12-31: Ef. 4:1-16). Allah membekali kita karunia rohani untuk membangun gereja-Nya. Untuk menggunakan dengan efektif, maka kita memerlukan hal sebagai berikut:
- Menyadari bahwa semua karunia rohani berasal dari Allah;
- Memahami bahwa tidak semua orang memiliki karunia rohani yang sama;
- Mengenal siapa diri kita dan apa yang terbaik untuk diberikan;
- Mempersembahkan karunia itu bagi Tuhan dan bukan untuk kepentingan dan keberhasilan diri sendiri;
- Bersedia memakai karunia rohani itu dengan sepenuh hati untuk pelayanan kepada Tuhan, bukan menahan atau menyia-nyiakannya.
Karunia rohani berbeda di dalam sifat, kekuatan, dan efektifitasnya sesuai dengan hikmat dan keluwesan, dan itu bukan semuanya berdasarkan iman. Peran kita adalah tetap setia dan mencari cara dan jalan melayani-Nya melalui apa yang telah diberikan-Nya. Karunia rohani yang ada semua dalam satu tubuh gereja dan rinciannya merupakan anggota-anggota saja. Dalam Roma 12 ini disebutkan tujuh karunia rohani dan yang lebih lengkap ada di beberapa surat Rasul Paulus lainnya (Kis 21; 1Kor 11-14; Ef 4; dan lainnya). Dalam khotbah Minggu Pentakosta tentang Ada Rupa-Rupa Karunia, Tetapi Satu Roh (1Kor. 12:3b-13) disebutkan adanya 18 karunia rohani yang dibagi dalam tiga katagori, yakni:
- Karunia rohani melalui perkataan atau berbicara, terdiri dari 7 karunia;
- Karunia rohani melayani dan memberi, terdiri dari 6 karunia;
- Karunia rohani untuk membuat mukjizat, terdiri dari 5 karunia.
Semua karunia dilengkapi oleh Roh Kudus dalam jemaat untuk membangun keluarga Allah dan menyatakan kasih Allah kepada orang lain (1Kor; 12:4-7; 1Kor; 14:12; 1Pet; 4:10).
Allah memberi karunia dan talenta kepada kita bukan untuk disalahgunakan. Ingatlah firman Tuhan yang berkata tentang talenta (Mat. 25:14 dab) yang kemudian pada ayat 30 ditutup Tuhan Yesus dengan berkata, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Karunia rohani dipakai sebagai berkat dan terang sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya, "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu” (Mat. 5:15). Hal yang penting dalam memakai karunia rohani yang diberikan, kita jangan sombong. Kita tidak boleh seperti jemaat di Korintus yang mengutamakan karunia-karunia yang paling dirasakan hebat dan penuh tanda-tanda. Mereka lebih menonjolkan kehebatan karunia yang mereka punyai, tanpa ingin mengetahui rencana Allah memberi karunia-karunia itu. Mereka meniru upacara-upacara kafir yang penuh dengan ritual “keanehan” demi untuk mendapatkan perhatian dan keistimewaan. Oleh karena itu, perlu pengendalian diri yang berdasar pada pengenalan diri dan pengenalan tujuan pemakaian karunia rohani tersebut. Mari kita kenali diri kita dan karunia yang Tuhan berikan, kemudian kita pakai, dan lihat yang belum dikembangkan dan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Keempat: Prinsip penerapan karunia-karunia rohani (ayat 6b-8)
Apabila kita memeriksa daftar karunia rohani yang diberikan dalam nas ini yakni tujuh karunia rohani, dan kita dapat membayangkan beragam manusia yang memilikinya dengan sifat yang berbeda-beda, misalnya:
- Seorang nabi yang bernubuat seringkali berbicara dengan berani dan mengalir bersambung;
· - Hamba Tuhan yang terlibat dalam pelayanan lebih memperlihatkan keteguhan dan kesetiaannya;
· - Guru lebih memperlihatkan kemampuan berpikir dengan jernih dan netral;
· - Konselor memperlihatkan kemampuan dalam memotivasi orang lain;
· - Pemberi yang suka membagi-bagikan melakukannya dengan murah hati dan penuh kepercayaan;
· - Pemimpin mempertunjukkan cara mengorganisasi kelompok dan mengelola dengan baik;
· Mereka yang memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian kepada orang lain adalah mereka yang bisa memberi waktunya dengan sukacita.
Jadi jelas, dari tujuh daftar karunia rohani itu, sangat sulit membayangkan semua itu ada pada satu orang! Nabi atau pengkhotbah (1Kor. 14:1-3) yang tegas dan retorik umumnya bukanlah konselor atau gembala yang baik; orang yang bermurah hati biasanya mudah gagal menjadi pemimpin yang baik.
Ketika kita mengenal dan mengidentifikasi karunia rohani yang ada di dalam diri kita dari delapan belas yang ada dalam daftar khotbah Minggu Pentakosta tersebut, maka bertanyalah kepada Tuhan dan diri sendiri: bagaimana agar kita dapat menggunakannya dengan baik bagi kemaslahatan gereja dan keluarga Allah? Pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa karunia rohani yang kita miliki tidak dapat bekerja sendiri, melainkan memerlukan dukungan karunia rohani yang lain. Untuk itu kita pantas berterima kasih kepada mereka yang memiliki karunia rohani yang berbeda, sebab dapat melengkapi pelayanan yang kita miliki. Biarkanlah kekuatan kita menutupi kelemahan orang lain, dan kekuatan orang lain menutupi kelemahan dan kekurangan kita, dan sekaligus kita bersyukur atas hal itu. Karunia rohani jangan dibuat menjadi kuasa rohani, menyebabkan persaingan, berpikir mereka merasa "lebih rohani" atau bahkan memiliki hak otoritas tertentu yang lebih tinggi. Sikap kita tetap sebagai orang yang tidak layak memperoleh karunia itu, namun Allah membuat kita demikian berharga.
Prinsip dalam mempersembahkan hidup melalui karunia rohani adalah selalu dalam kebersamaan dengan orang lain yang membuat melayani Tuhan lebih baik. Semua dilakukan dengan sepenuh hati dalam semangat pelayanan pengabdian. Bernubuat melalui berkhotbah atau menceritakan tentang Tuhan Yesus semua dilakukan dengan iman yang teguh, bukan mengutarakan ramalan-ramalan apalagi tentang waktu pasti kedatangan Yesus kedua kali. Itu sangat spekulatif dan tidak didasari iman yang benar. Jika kita hendak membagi-bagikan sesuatu, maka lakukan dengan ikhlas; Jika memimpin kelompok atau organisasi, maka lakukan dengan rajin; dan apabila memberi kemurahan dan berkat, maka dijalankan dengan sukacita. Pelayanan karunia rohani orang percaya tidak dibatasi lagi oleh tempat seperti pelayanan atau ibadah umat Yahudi yang dijalankan hanya di Bait Allah, tetapi kita orang percaya menjalankan ibadah kita di setiap tempat dan di setiap waktu. Dalam ibadah umat Israel, binatang hidup yang dimatikan namun dalam ibadah orang percaya, tubuh yang sudah mati karena dosa justru dihidupkan sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Tubuh orang percaya kini adalah bait Allah (1Kor. 3:16-17; 2Kor. 6:16; Ef. 2:22).
Penutup
Melalui nas minggu ini kita disegarkan kembali tentang pemahaman ibadah sejati melalui persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Kita tidak disempitkan lagi dengan pengertian bahwa persembahan hanyalah di tempat-tempat prosesi saja, tetapi justru seluruh kegiatan kehidupan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan mempertahankan tubuh kita sebagai tubuh yang kudus sebagai Bait Allah, dengan cara tidak serupa dengan dunia ini. Hal itu hanya dapat dicapai dengan berubah oleh pembaharuan budi, sehingga kita terus dimampukan untuk membedakan yang baik dan sempurna. Dunia ini dan iblis sering menggoda untuk menawarkan seolah-olah lebih tinggi dari kemampuan dan batasan karunia yang diberikan Allah, sehingga perlu untuk mengenal diri sendiri dan menguasai diri menurut ukuran iman. Setiap orang diberi sejumlah karunia rohani sebagai dasar persembahan, namun itu memerlukan karunia lain bagi gereja dan keluarga Allah, sehingga perlu kesadaran akan pentingnya orang lain dengan karunia berbeda untuk mensinergikan kemampuan dalam mencapai tujuan Kerajaan Allah. Kita masing-masing anggota tubuh Kristus diberi tugas yang berbeda dan saling melengkapi. Semua karunia itu dipakai dan bukan disembunyikan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, melainkan dipakai dan dikembangkan dengan prinsip ikhlas, rajin, sungguh-sungguh, dan penuh sukacita. Dengan demikian tubuh dan hidup kita menjadi persembahan yang sempurna dan ibadah kita menjadi ibadah sejati yang kudus dan berkenan kepada Allah. Mari kita renungkan, apakah hidup kita telah kita persembahkan seluruhnya kepada-Nya?
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026
Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi 2
PENGAKUAN BAHWA YESUS ADALAH MESIAS (Mat. 16:13-20)
Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:19b)
Firman Tuhan di hari Minggu ini sesuai leksionari dari Mat. 16:13-20, bercerita tentang pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup”. Ini menjawab pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Murid yang lain menjawab berbeda, ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi. Jawaban Petrus dianggap memuaskan hati Yesus dan Yesus pun berkata kepadanya: “... bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” (ayat 17b-19a).
Kembali saya mengutip pendapat John Stott, dalam bukunya tentang mengapa ia menjadi seorang Kristen, Why I am a Christian. Bila alasan pertama karena ia diburu oleh Anjing Pemburu dari Surga yakni Tuhan Yesus (lihat minggu lalu), maka alasan kedua adalah: ia tidak hanya melihat hal itu baik, tetapi juga “diyakinkan bahwa Kekristenan adalah benar, atau lebih tepat lagi, pernyataan Yesus adalah benar.”
John Stott berpendapat bahwa pengajaran Yesus luar biasa, dan pantas dicatat karena berpusat pada diri-Nya. Yesus adalah pusat dan inti Kekristenan. Ia menyatakan diri-Nya sebagai “roti hidup”, “terang dunia”, “jalan, kebenaran dan hidup”, tetapi Yesus juga menempatkan diri-Nya sebagai tujuan dari iman orang percaya. “Datanglah pada-Ku”, “Ikutlah Aku”, pernyataan yang berulang kali disampaikan-Nya. Ia berjanji mengangkat beban kita, memuaskan rasa haus (Mat. 11:28; Yoh. 7:37), dan menegaskan rujukannya tentang kasih sebagai hal yang utama.
Ada tiga alasan menurutnya yang membuat hal itu. Pertama, Yesus adalah penggenapan Perjanjian Lama (PL). Yesus mengokohkan diri-Nya saat membaca kitab Yesaya 61:1-2 yang kemudian ditulis dalam Luk. 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku....” Selanjutnya Rasul Lukas menuliskan, “Pada hari itu genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya (Luk. 4:21). Yesus juga melihat diri-Nya dalam dua gambaran dalam PL sebagai Anak Manusia, yakni pribadi berwujud manusia dalam penglihatan Nabi Daniel yang diberi kekuasaan dan kemuliaan (Dan. 7:14). Tetapi dalam diri-Nya juga ada gambaran Yesaya, hamba yang penuh kesengsaraan, dihina, ditolak dan menanggung dosa banyak orang (Yes. 53:3, 12). Anak Manusia Yesus sebagaimana nas minggu ini, menggambarkan sebutan kehormatan dalam kitab Daniel, sekaligus hamba yang menderita dan sebutan yang memalukan dalam kitab Yesaya.
Faktor kedua, menurut John Stot, adanya kedekatan, hubungan yang unik dan spesial dengan Allah yakni sebagai “Anak”. Sebutan anak-anak Allah berlaku bagi malaikat, Adam, Salomo, raja-raja Yudea yang diurapi, dan Israel. Kedekatan-Nya sejak berusia 12 tahun membuat Ia berkata: “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak” (Mat. 11:27).
Faktor ketiga, adanya otoritas. Ia menyebut diri-Nya sebagai Juruselamat dan sekaligus Hakim bagi manusia. “Pernyataan yang sangat sombong, namun rendah hati.” Tampak ada paradoks dalam diri-Nya; Ia menyatakan diri sebagai Tuhan, Guru dan Hakim, tetapi Ia juga mengambil handuk, berlutut dan membasuh kaki murid-murid-Nya seperti budak biasa.
Anak Manusia yakni Yesus, telah menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai Kristus atau Mesias yang terdapat dalam Kitab Suci, Sang Anak Allah, dan juga Juruselamat serta Hakim atas seluruh dunia. Sudahkan kita mengenal dan mengakui sepenuhnya seperti Petrus, serta menempatkannya sesuai pengakuan kita? “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (ayat 20). Jika belum sepenuhnya, mari kita melakukannya untuk menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 16 Agustus 2026
Kabar dari Bukit
RUMAH DOA BAGI SEMUA (Yes. 56: 1-8)
”Sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa" (Yes. 56:7b, TB2)
Selamat pagi, salam kasih.
Beberapa waktu lalu saat perang berkecamuk antara Israel dan Hamas yang mengundang keterlibatan Amerika dan Iran serta para proksi (sekutu), banyak pandangan umat Kristen yang membela Israel. Itu mungkin didasari ikatan latar belakang iman yang mempertahankan pandangan Israel adalah umat pilihan Allah dan ayat keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yoh. 4:22). Tetapi tidak sedikit pula termasuk ahli-ahli teologi yang mengecam sikap agresif Israel termasuk melihat (negara) Israel saat ini tidak sama dengan bangsa Yahudi dalam PL.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yesaya 56:1-8. Nas yang ditulis nabi Yesaya pada masa atau setelah pembuangan bangsa Israel ini, berbicara tentang keselamatan bagi semua orang, yang dijadikan judul perikopnya. Jika kita melihat lebih rinci yang dimaksud dengan semua orang adalah orang-orang asing yang bukan berasal dari keturunan langsung Abraham, mereka yang tidak mempunyai anak seperti kaum kebiri (ay. 3-4), atau yang berkecil hati melihat nasib buruk dalam hidup mereka.
Pesan pertama nas ini yakni Tuhan tidak melepaskan mereka dari pengamatan dan kasih-Nya. Keselamatan (kekal) tersedia bagi semua orang sepanjang mereka taat kepada hukum perintah-Nya dan menegakkan keadilan sebab "keselamatan yang dari-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan" (ay. 1).
Nas minggu ini menekankan mereka yang mendapat janji Tuhan, "Kuberikan dalam rumah-Ku.... dan Kubawa ke gunung-Ku" adalah orang-orang yang "yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan
dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semua yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku" (ay. 6).
Tuhan tidak ingin orang-orang yang merasa terasing dan tersingkirkan, melihat diri mereka sebagai "pohon yang kering", tidak berharga di hadapan-Nya (ay. 3). Tuhan Mahakasih, tidak menetapkan keselamatan berdasarkan syarat-syarat spesifik atas bangsa, ras, status sosial, masa lalu dan latar belakang, denominasi; yang batasannya adalah buatan manusia. Hal yang dilihat Tuhan berdasar nas ini adalah mereka yang takut dan hormat kepada-Nya, memelihara Sabat dalam pengertian ada hari khusus lebih banyak bersekutu bersama Tuhan yang kudus, menempatkan diri sebagai manusia hamba yang melayani, menjaga hidupnya agar selalu berkenan kepada-Nya (ay. 6).
Pesan lain yang disampaikan melalui nas ini adalah rasa takut dan hormat kepada-Nya (ay. 7). Itu diwujudkan dengan memberi persembahan yang dalam pengertian utuh saat ini berupa tubuh yang kudus, persembahan hati dan mulut, waktu dan materi, serta persembahan jiwa dengan setia sampai mati (2Tim. 4:7; 1Yoh. 3:16).
Pesan terakhir nas ini agar kita membuat rumah Tuhan sebagai rumah doa. Pengertian rumah Tuhan tidak lagi sebatas bait Allah di Yerusalem, tetapi juga tubuh pribadi sebagai bait Allah, keluarga sebagai lembaga (pertama) ciptaan Allah, dan gereja sebagai tempat kita bersekutu dan berhimpun sementara di dunia dan gereja Am kelak di surga.
Kini pertanyaannya: apakah kita sudah menjadi alat kemuliaan-Nya dengan bersikap semua orang adalah bagian dari kita atas kasih terhadap sesama, tidak cepat menghakimi, ikut menemukan mereka yang rindu mengenal Tuhan di dalam Yesus Kristus? Jika kita tidak mampu memberi yang terbaik dalam waktu dan materi, setidaknya kita ikut membangun rumah doa di dalam diri kita, keluarga, perkumpulan dan gereja kita. Marilah kita menghimpun yang jauh menjadi dekat dan bukan membuat yang dekat semakin jauh (Ef. 2:13).
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026
Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi 3
DALAM PEMELIHARAAN ALLAH (Kel. 1:8–2:10)
”Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air" (Kel. 2:10)
Melalui Kitab Kejadian, setidaknya ada empat kisah kehidupan yang menarik dan telah dijadikan renungan sebelumnya. Pertama, Abraham, yang dipanggil Tuhan untuk berangkat menuju Tanah Kanaan. Kemudian lahirnya Ishak dan pencarian jodohnya. Selanjutnya, Yakub yang “penipu” hingga menjadi bapak 12 suku Israel. Terakhir, Yusuf yang dijual menjadi budak namun akhirnya menjadi pembesar di Mesir. Dari semua kisah itu, satu kesimpulan dapat ditarik, yaitu adanya pemeliharaan Allah dalam kehidupan mereka.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Keluaran 1:8–2:10. Ini kisah kelahiran Musa, nabi besar di tengah masa sulit bangsa Israel yang hidup di Mesir pasca kematian Yusuf. Firaun tidak menginginkan jumlah mereka semakin banyak, sehingga dibuat aturan agar bayi laki-laki Israel yang lahir dibunuh, dan orang dewasa dipaksa kerja rodi serta ditindas (ay. 1:10–14).
Di tengah penderitaan itu, Musa lahir. Musa sebenarnya memiliki seorang abang dan kakak, yaitu Harun dan Miryam, dengan jarak usia yang cukup jauh. Namun, orang tuanya memilih menyelamatkan Musa dengan menyembunyikannya selama tiga bulan. Ketika khawatir akan ketahuan, ibu Musa membuat peti dari pandan yang dilapisi gala-gala dan ter (sejenis aspal), kemudian diletakkan Musa di dalamnya dan dihanyutkan di tepi Sungai Nil. Ibunya pun meminta Miryam untuk mengamati dari jauh jika ada yang mengambilnya (ay. 3–6).
Singkat cerita, putri Raja Firaun yang sedang mandi kemudian mengambil Musa. Atas saran Miryam, Musa kembali ke ibunya untuk disusui hingga besar (ay. 2:7–9). Musa, yang dipilih Allah untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, bertumbuh di tengah dua lingkungan, yaitu keluarga Israel dan istana.
Kita melihat adanya pemeliharaan Allah terhadap Musa. Kini pertanyaannya, apakah kita merasakan pemeliharaan Allah dalam hidup kita? Apa yang dimaksud dengan pemeliharaan Allah dan bagaimana cara kerjanya?
Menurut Dr. Hector Llanes dari Grand Canyon University, pemeliharaan Allah adalah pemeliharaan terhadap umat-Nya ketika Ia membimbing mereka dalam perjalanan iman. Secara umum, pemeliharaan Allah mengandung tiga unsur penting, yaitu pelestarian, penyediaan kebutuhan, dan pimpinan. Pemeliharaan Allah meliputi alam semesta maupun kehidupan pribadi manusia.
Tujuan pemeliharaan Allah adalah menyelamatkan dan membentuk umat-Nya agar serupa dengan Yesus. Allah berdaulat untuk terus menopang, membimbing, dan merawat umat-Nya agar sesuai dengan rencana-Nya yang tidak mungkin gagal. Oleh karena itu, Allah dapat memilih dan menentukan siapa yang dipakai bagi kemuliaan-Nya (Rm. 8:28–29).
Untuk dapat ikut dalam pemeliharaan Allah, Dr. Hector Llanes menyarankan tiga respons. Pertama, mengucap syukur kepada Allah atas kehidupan yang diberikan, karena apapun situasinya, Allah akan memulihkan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam hidup anak-anak-Nya (Mzm. 104:27–31; Flp. 1:6).
Kedua, percaya dan meletakkan iman kepada Allah, sebagaimana orang tua Musa meletakkan iman mereka (Ibr. 11:23). Melalui iman ini, Allah membimbing setiap langkah orang yang dikasihi-Nya, meski kadang melewati rintangan berat dan penderitaan (1Pet. 1:5–7; 1Kor. 10:13).
Ketiga, tetap bersukacita. Allah telah bersama kita dan diam dalam hati kita melalui Roh Kudus (1Kor. 3:16). Kita telah diberi kuasa menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12–13). Allah meminta kita tidak perlu khawatir dan berserah kepada-Nya (Mat. 6:26–29; 1Pet. 5:7). Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk takut dan khawatir, bahkan sampai merampas sukacita dari diri kita (Yoh. 16:22).
Kini, persiapkanlah diri dan terimalah melalui iman rencana-Nya. Sama seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan Musa, Allah siap memelihara hidup kita dan membuatnya bermakna, sehingga kita “senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2Kor. 9:8).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026
Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026
SISA DAN PENYELAMATAN ISRAEL (Rm. 11:1-2a, 29-32)
Bacaan lainnya: Mat. 15:10-20, 21-28; Kej. 45:1-15 atau Yes. 56:1, 6-8; Mzm. 133 atau Mzm. 67
Pendahuluan
Dalam pasal 9 dan 10 kitab Roma, Rasul Paulus mengungkapkan keprihatinannya akan penolakan umat Yahudi terhadap Yesus Kristus. Meski bangsa itu telah diberikan keistimewaan sebagai bangsa pilihan dengan berkat-berkat yang besar, namun kembali kedegilan bangsa itu mencuat dengan menolak jalan baru yang diberikan bagi keselamatan mereka. Mereka tetap berusaha menyenangkan Allah dengan perbuatan meski akhirnya perbuatan itu seringkali gagal. Dalam hal ini Rasul Paulus melihat dilema yang terjadi, antara Israel sebagai bangsa pilihan berikut janji penggenapan dengan penolakan terhadap rencana Allah melalui Yesus Kristus. Jelas ini menjadi pergumulan yang hebat bagi Paulus, sebab dia adalah bagian dari umat pilihan itu. Pertanyaannya adalah: apakah tindakan Allah menjadi sia-sia? Bagaimana kelak rencana Allah terhadap mereka? Apakah Allah akan mengingkari janji-Nya bagi umat tersebut? Di lain pihak, Rasul Paulus percaya bahwa kasih Allah adalah kekal, khususnya kepada mereka yang dipilih-Nya. Melalui nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang hal itu sebagai berikut.
Pertama: Allah tidak menolak umat-Nya (ayat 1-2a dan 29)
Rasul Paulus menekankan bahwa tidak semua orang Yahudi menolak Yesus sebagai Mesias yang dinantikan yang membawa pesan keselamatan bagi mereka. Rasul Paulus mengutip peristiwa senada di Perjanjian Lama saat Elia mengadu kepada Allah tentang ketidaksetiaan umat Israel dengan menyembah Baal, "Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, dan mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang diri yang masih hidup dan mereka mencari jiwaku." Namun Tuhan menjawab: “….masih ada tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal (Rm 11:3-4). Kita tahu Elia adalah nabi Allah yang dihormati bangsa Israel, yang menentang raja Ahab dan istrinya Izebel yang kejam. Pada peristiwa itu peran Izebel yang seorang pagan lebih menentukan dengan memaksa semua umat Israel harus menyembah Baal. Raja Ahab sendiri berada pada posisi sulit dan cenderung tidak mau mendengarkan Elia, bahkan melihat Elia sebagai musuh daripada nabi pembawa pesan Allah. Karena Izebel ingin membunuh Elia, akhirnya ia harus lari untuk menyelamatkan dirinya (1Raj. 18).
Peristiwa itu merupakan salah satu bukti dari ketidaksetiaan bangsa Israel. Memang dari sejarah di dalam Alkitab juga kita ketahui bahwa tidak semua orang Israel setia dan layak diselamatkan, yang merupakan syarat untuk menjadi umat pilihan terpenuhi (Ul. 4:1; 6:24; Neh. 9:29; Ams. 19:16; Yes. 55:3; Yeh. 20:11). Sejak peristiwa keluarnya mereka dari negeri Mesir, telah muncul pihak-pihak yang tidak setia, seperti Harun dengan membuat lembu emas, dan bahkan sebagaimana disebutkan dalam peristiwa penyembahan Baal tadi, hanya 7.000 orang yang setia kepada Allah. Demikian juga ketika masa pemerintahan hakim-hakim dan raja-raja, banyak hakim dan raja yang tidak melakukan tugasnya dengan setia melainkan mengikuti keinginan hati sendiri dan menentang Allah. Allah memilih bangsa Israel sebagai umat pilihan dengan tujuan agar mereka menjadi imam, pemimpin dan teladan, dan melalui kehidupan mereka bangsa-bangsa lain akan diberkati dan masuk ke jalan keselamatan. Oleh karenanya berdasar beberapa peristiwa itu, Rasul Paulus berani mengatakan bahwa tidak semua orang Israel akan diselamatkan, dan dalam ayat 5 dikatakannya: “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia” (Rm. 11:5; band. Yes. 4:3). Rasul Paulus mengidentifikasi bahwa masih ada yang menerima Dia yang definisikannya sebagai sisa, termasuk seperti dirinya yang datang dari suku Benyamin (band. Flp. 3:5). Demikian juga kita tahu bahwa para Rasul dan pemberita Injil pada masa mula-mula adalah orang Israel pengikut Yesus yang setia, dan mereka inilah yang disebut Rasul Paulus sebagai orang-orang Israel pilihan dan sejati (band. Kej. 12:1-3; 17:19).
Kini timbul pertanyaan: apakah Allah menyesali pilihan-Nya atas umat Israel? Perlu kita pahami bahwa kata "menyesal" dalam konteks ini bukan diartikan menyesali keputusan atau pilihan-Nya terhadap bangsa itu, melainkan menyesal dalam kerangka bangsa Israel tidak menerima jalan keselamatan baru yang diberikan melalui Yesus. Perkataan menyesal juga sama dengan ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, dan Allah menyesal, mengapa Adam dan Hawa harus terbujuk oleh ular/iblis itu (Kej. 6:6)? Memang dalam hal ini Allah adalah Mahatahu sehingga jatuhnya Adam dan bangsa Israel sudah diperhitungkan sejak awal. Allah sebenarnya tetap mengasihi bangsa Israel sebagai umat pilihan dan telah mengikat janji dengan nenek moyang mereka, dan untuk itu Allah terus mengulurkan tangan-Nya memberi kesempatan bertobat dan tidak langsung menghukum memusnahkan bangsa Israel (Rm. 10:19-21; band. Yak. 1:13; Yer. 31:37). Allah jelas tidak akan membuang mereka (Mzm. 94:14; band. 1Sam. 12:22). Namun dalam nas ini Paulus menyampaikan pesan Allah bahwa penolakan bangsa Israel saat itu tidaklah bersifat tetap, melainkan ia percaya bahwa suatu saat mereka akan menerima Kristus dan karena itu mereka tetap akan dibenarkan melalui iman masing-masing (Rm. 3:28; Gal. 2:16).
Kedua: Allah menunjukkan kemurahan-Nya (ayat 30-32)
Seperti disebutkan di atas bahwa dalam ketidaktaatan dan kesombongan bangsa Israel, pintu kasih kemurahan Allah tetap tersedia bagi mereka. Dalam bagian nas ini Paulus menunjukkan bagaimana umat Yahudi dan bukan Yahudi dimaksudkan saling menguntungkan satu sama lain. Setiap saat Tuhan menunjukan belas kasihan terhadap salah satunya, maka yang lainnya akan memperoleh berkat juga. Dalam rencana awal Tuhan, sebagaimana dijelaskan di atas, orang Yahudi akan menjadi saluran berkat bagi orang yang bukan Yahudi (Kej. 12:3). Ketika orang Yahudi meninggalkan rencana dan misi tersebut, Tuhan memberkati orang yang bukan Yahudi melalui Mesias Yahudi. Ia tetap mempertahankan cinta-Nya kepada orang Yahudi karena janji-Nya pada Abraham, Ishak dan Yakub, serta keistimewaan dan pilihan Tuhan kepada bangsa Israel ini tidak akan pernah ditarik kembali. Namun rencana saling menerima berkat ini kelak akan terwujud pada suatu hari, ketika orang Yahudi beriman menerima kasih Allah melalui Yesus. Rencana indah Tuhan ini tidak bisa diganggu seperti dikatakan nas minggu ini, Ia akan “menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua”. Untuk melihat gambaran indah orang Yahudi dan bukan Yahudi menerima berkat bersama, ungkapan yang sangat meyakinkan dalam kitab Yesaya menggambarkannya: “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu (Yes. 60:2b-3).
Maka dalam hal ini, apakah kita masih berpikir bahwa lebih mudah bagi Allah mengasihi apabila kita menjadi “orang baik”? Apakah kita berpikir bahwa kita dipilih dan diselamatkan karena kita berhak atas hal itu? Atau, apakah kita berpikir bahwa seseorang terlalu jahat maka tidak mungkin bagi Allah untuk menyelamatkannya? Bila kita masih berpikir demikian, maka kita sebenarnya belum memahami dengan baik dan benar makna dari keselamatan melalui anugerah. Keselamatan melalui anugerah adalah sesuatu pemberian, bukan didapatkan, dan terutama tidak berbentuk sebagian atau sepotong-sepotong. Anugerah diterima dengan utuh bulat sebab dosa kita sudah dibayar lunas melalui pengorbanan Yesus, dan itu hanya bisa diterima dengan rasa berterima kasih dan bersyukur. Sekecil apapun dosa kita tetap menjauhkan kita dari anugerah itu, dan sebesar apapun dosa kita, maka kasih Allah akan sanggup untuk menghapus semua dosa-dosa yang kita lakukan, sepanjang ada sikap penyesalan atas semua perbuatan dosa-dosa itu dan berkomitmen untuk berbalik kepada-Nya. Firman-Nya mengatakan, “... di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Rm. 5:20b). Dalam ayat yang lain juga dikatakan, “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yes. 59:1).
Allah tidak pernah menahan dan mengurung kasih-Nya bagi orang-orang atau bangsa tertentu. Allah membuka tangan kasih-Nya lebar-lebar untuk menerima siapa saja dan bangsa apa saja untuk kembali kepada kehidupan yang berkenan kepada-Nya melalui iman kepada Kristus. Kedegilan bangsa Israel membuat pintu lebar-lebar terbuka bagi bangsa-bangsa lain untuk menerima berkat secara langsung. Namun kemurahan Allah yang diberikan bagi kita juga bukan karena ketaatan dan kehebatan kita, melainkan karena pilihan-Nya. Pilihan itu juga merupakan jalan untuk membuka kemurahan yang akan diberikan kembali kelak kepada umat Israel. Hati, telinga dan mata bangsa Israel kelak akan terbuka melihat bangsa-bangsa lain hidup dalam damai sejahtera dan memiliki hubungan yang mesra dengan Allah, yang sebenarnya adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Ini yang dimaksudkan dengan, "kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan." Ada kesejajaran dan ada hubungan sebab akibat dalam proses itu. Namun kemurahan keselamatan bagi "Israel baru" ini bukan lagi karena mereka sebagai “bangsa”, tetapi karena iman orang-orang Israel sejati yang menerima dan mengikut Yesus Kristus dalam kehidupan mereka. Hal ini juga berlaku sama, kita diselamatkan bukan karena kita bagian dari sebuah bangsa, suku, atau keluarga, melainkan kita diselamatkan melalui iman pribadi kepada Yesus Kristus. Maka kini pertanyaannya: kepada siapa dan pada apa kita menggantungkan keselamatan hingga kekekalan nanti?
Ketiga: Sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya (ayat 33-34)
Bagian ini merupakan simpul dari pernyataan Rasul Paulus di ayat sebelumnya, yakni: "Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk" (Rm. 11:25). Memang jika kita kembali melihat apa yang dilakukan Allah terhadap manusia berdosa, maka kita ketahui bahwa secara mendasar Allah mengasihi manusia, namun membenci perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman-Nya. Benar, adakalanya Allah "mengurung" ketidaktaatan seseorang atau sebuah bangsa karena kedegilannya. Tapi ini pun harus dilihat bahwa Allah mengurung orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya pada mereka. Hal ini dapat dilihat sejak pilihan Hawa mendampingi Adam, hingga keberdosaan masyarakat di sekitar Nuh dan kemudian kedegilan bangsa Israel. Kita dapat melihat sebenarnya Allah terus berupaya memberi dan membuka jalan, agar mereka yang menyimpang melihat yang telah dilakukan Allah untuk mereka yang jahat, agar semua orang kembali kepada jalan-Nya. Namun, ternyata manusia sering “dungu rohani", sombong, tidak sabar, degil, sehingga tetap memilih jalan yang jahat lagi, hingga akhirnya Allah kembali harus menghukum. Allah dalam hal ini tidak memilih menghukum Israel dalam bentuk fisik, melainkan mencerai-beraikan bangsa itu sampai akhirnya mereka kehilangan "tanah Kanaan" dan hidup dalam diaspora. Meski kita ketahui kemudian, penderitaan umat Yahudi kembali berada pada puncaknya saat masa Hitler, ketika ia hampir memusnahkan bangsa itu dan diperkirakan jutaan umat Yahudi dibunuh dalam peristiwa itu.
Kembali kepada bangsa Israel. Memang beberapa berpendapat bahwa kalimat pada ayat sebelumnya, "maka seluruh Israel akan diselamatkan” (ayat 26) memiliki arti yang sulit dipahami dalam kondisi saat itu bahkan hingga saat ini. Ada yang berpendapat bahwa mayoritas dari orang Yahudi generasi terakhir sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya, nantinya akan berpaling dan menerima Kristus sebagai jalan keselamatan mereka. Sebagian lagi percaya bahwa Paulus menggunakan istilah Israel untuk "umat rohani Israel" yang terdiri dari semua orang (Yahudi dan bukan Yahudi) yang telah menerima keselamatan melalui iman kepada Kristus. Dalam hal ini, pengertian Israel menjadi semua orang percaya dalam arti gereja yang akan menerima berkat keselamatan yang dijanjikan melalui Tuhan Yesus. Sebagian lain mengatakan bahwa seluruh Israel, berarti Israel secara keseluruhan, yang memiliki peran di dalam kerajaan Kristus. Memang dalam hal ini identitas Israel sebagai sebuah bangsa tidak akan dihilangkan. Tuhan memilih bangsa Israel, dan ia tidak pernah menolaknya; Tuhan memilih gereja melalui Yesus Kristus, dan Ia juga tidak akan pernah menolaknya. Tentunya dalam hal ini tidak berarti bahwa seluruh orang Yahudi atau seluruh umat gereja akan diselamatkan. Apabila sebagian orang menolak Kristus, tidak berarti Tuhan akan berhenti bekerja terhadap Israel atau gereja. Ia terus menawarkan keselamatan kepada semua orang. Adalah tetap sebuah kemungkinan bagian dari suatu bangsa atau "kelompok pilihan" tidak terselamatkan, sebab mereka tidak merespon kepada iman dan ketaatan. Seperti dikatakan firman-Nya, “sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (Mat. 22:14).
Implikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam nas minggu ini adalah: tidak seorang pun dapat memahami secara penuh pemikiran Tuhan (Mzm. 92:6; Yes. 55:8-9; Kol. 2:3). Kedaulatan Allah dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia adalah mutlak dan tidak mudah untuk dipahami, sebab begitu banyak hal sulit yang dapat dilihat secara integratif dan kasat mata. Melalui semua peristiwa-peristiwa itu kita menyadari betapa dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya (Ayb. 5:9; 11:7; Mzm. 139:6; Pkh. 8:17). Segala hal yang dapat kita pikirkan sebenarnya hanyalah dugaan yang dangkal tentang maksud dan rencana Tuhan. Hal yang pasti bahwa kedaulatan Allah mutlak dan menunjukkan betapa Allah tidak bergantung pada manusia (Yes. 40:13; Ayb. 41:11), sementara di lain pihak, kita juga melihat ada bagian peran manusia yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu, tepat dikatakan, tidak ada satupun yang pernah menjadi penasihat-Nya. Yesaya dan Yeremia menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang serupa untuk menunjukkan bahwa manusia tidak dapat memberikan saran kepada Tuhan atau memberikan kritik kepada jalan-Nya (Yes. 40:13: Yer. 23:18; 1Kor. 2:16). Seringkali keputusan Allah melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya, bahkan proses keputusan itu menjadi misteri yang tidak terpecahkan, sehebat apapun orangnya. Yang penting, kita hanya mengaku dan mengimani bahwa kasih dan pemeliharaan (providensia) Allah tidak pernah salah dalam perjalanan hidup kita yang dikasihi-Nya; bahkan Ia dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:20).
Keempat: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (ayat 35-36)
Dari semua kasih dan kebaikan Allah yang kita terima, manusia memberikan hal yang tidak sebanding kepada pemberian-Nya. Kita sudah menerima segala sesuatu dari Dia dan kita juga menikmati semua berkat dalam hidup sehari-hari. Kalaupun kita melakukan sesuatu, maka sungguh tidak layak kita berpikir bahwa yang kita berikan atau lakukan sudah melebihi kewajiban kita, apalagi berpikir Tuhan telah berhutang kepada kita. Ia adalah pemilik segala sesuatu yang ada, sebab Ia adalah penciptanya dan sekaligus pemelihara dan pengendali prosesnya (Ayb. 41:2). Ini seperti nasihat Elihu kepada Ayub, sahabatnya, menyebutkan: “Jikalau engkau benar, apakah yang kauberikan kepada Dia? Atau apakah yang diterima-Nya dari tanganmu?” (Ayb. 35:7). Memang ada ayat Alkitab yang mengatakan demikian, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu” (Ams. 19:17). Akan tetapi ayat Amsal ini tidak selalu dibaca sebagai harafiah (letterlijk) kebenaran, melainkan merupakan sebuah kiasan, bahwa Allah akan memberkati mereka yang peduli dengan mereka yang miskin dan lemah. Kepedulian terhadap mereka yang lemah dan miskin pun sudah menjadi perintah Allah sejak awal yang harus diikuti (Kel. 22-23; Im. 19, 23, 25; Ul. 24, dll; band. Luk. 4:18), sehingga tidak ada alasan Allah menjadi berhutang apalagi harus menggantikannya.
Untuk merayakan cara misterius Allah bekerja di dunia ini Rasul Paulus menyimpulkan nas ini dengan cara yang puitis. Tuhan adalah pemegang kekuasaan dan kebijaksanaan mutlak, dan kita semua secara mutlak bergantung kepada-Nya. Ia adalah sumber dari segalanya, termasuk diri dan kehidupan kita. Ia adalah kekuatan yang mempertahankan dan mengatur dunia yang kita hidupi. Tuhan mengatur segala hal dan semua itu untuk kemuliaan-Nya. Ia merancang, mencipta, memelihara, memberi jalan keluar, meski kita tidak dapat melihat langsung tangan Tuhan bekerja di dalam setiap proses itu. Ia membuat alam semesta begitu indah dan penuh dengan misteri yang sampai ribuan tahun ke depan pun manusia tidak dapat mengeksplorasinya. Allah mencipta tubuh manusia yang demikian komplek dan terintegrasi, termasuk mekanisme seluruh asupan makanan minuman dan hirupan dengan sistem pengeluaran yang terkendali. Ia memberi kita napas hidup dengan gratis dari udara (sementara mungkin banyak orang harus bernapas dngan membayar di rumah sakit), dan darah yang mengalir dengan volume 5,5 liter darah per menit dari jantung dengan kecepatan rata-rata dalam tubuh 28 cm per detik atau 24,192 km dalam sehari! Ia menciptakan berbagai keindahan bunga yang bahkan Raja Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak dapat berpakaian seindah salah satu dari bunga itu (Mat. 6:29). Segala sesuatu itu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia saja semuanya. Oleh karenanya kebesaran Tuhan layak dipuji (Ef. 3:21; 1Tim. 1:17; Why. 7:12).
Oleh karena itu ayat penutup dalam nas minggu ini merupakan doksologi, yakni doa pujian kepada Tuhan atas kebijaksanaan dari rencananya. Sejarah mengajarkan banyak hal kepada manusia melalui hal-hal baik dan indah maupun hal tidak baik dan penderitaan. Ketidakpercayaan pada sejarah dan kuasa Allah akan membuat manusia seperti perahu yang terombang-ambing tanpa pulau tujuan. Allah menyatakan diri sebagai Allah yang memegang kuasa atas seluruh sejarah (1Kor. 8:6; 11:12; Kol. 1:16). Walaupun metode dan maksud Tuhan melampaui akal komprehensif kita, Tuhan sendiri tidaklah menjadi penguasa yang selalu sepihak memutuskan. Ia memerintah alam semesta dan kehidupan kita semua dengan penuh kebijaksanaan, keadilan dan cinta. Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah (Rm. 9:15-16). Pada saat tulisan ini dibuat, Israel sedang dalam keadaan berperang dengan Hamas di Gaza yang merupakan keprihatinan umat manusia khususnya orang percaya, sebab sejak perang 6 hari di tahun 1967 dapat dikatakan Israel terus terlibat dalam peperangan yang belum memperlihatkan tanda-tanda adanya perdamaian kekal. Hal ini menjadi pelajaran bagi orang yang bukan Yahudi atau orang percaya pengikut Yesus, untuk melihat apakah Allah menyerah pada orang-orang Yahudi, dan mengabaikan janji-janji yang dibuat-Nya pada masa Perjanjian Lama? Apakah pengalaman-pengalaman tragis mereka selama 2.000 tahun dalam diaspora dan saat ini menjadi sebuah Negara, akan menjadi manfaat bagi bangsa-bangsa lain? Apakah yang dimaksud sebagai sisa dan penyelamatan Israel itu terjadi di dalam waktu yang dekat, dan bagaimana wujudnya?
Penutup
Sejak awal kita ketahui bahwa manusia dipilih baik perorangan atau kelompok (bangsa) bukanlah berdasarkan kehendak manusia sendiri melainkan berdasarkan pilihan Allah semata. Pilihan Allah kepada keturunan Yakub atau Israel juga bukan didasari oleh sesuatu yang “baik dan benar” di dalam diri mereka, tetapi oleh karena kasih dan kemurahan Allah bagi seluruh ciptaan-Nya. Kita tahu kemudian bahwa keturunan Yakub ini seringkali tidak setia dan melawan rencana Allah, namun Allah tidak pernah menolak umat-Nya. Allah tetap menunjukkan kemurahan-Nya dan selalu mengulurkan tangan kasih-Nya agar umat-Nya kembali ke jalan yang ditunjukkan-Nya. Rancangan Allah bagi umat-Nya jelas bukanlah supaya manusia menderita, tetapi supaya mereka dapat merasakan kemurahan-Nya yang lebih besar. Memang kita masih susah mengerti akan keseluruhan rencana itu, sebab sungguh tak terselami ketetapan dan jalan-jalan-Nya. Yang bisa kita pastikan adalah firman dan rancangan-Nya tidak mungkin gagal. Hal yang harus kita lakukan adalah tetap bergantung sepenuhnya kepada-Nya dan memberi yang terbaik, meski kita perlu sadari betul bahwa hal itu tidak membuat Tuhan berhutang bagi kita, termasuk kewajiban kita berdoa bagi pertobatan dan keselamatan bangsa Israel. Kita tahu Allah kita itu layak dipuji dengan hati takjub dan sikap bersyukur meyembah, sebab begitu besar kuasa dan kemuliaan-Nya. Puncaknya kita juga mengerti bahwa segala sesuatunya adalah dari Dia, oleh Dia dan bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 PERSEMBAHAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 237 guests and no members online
