Monday, June 22, 2026

2026

Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 

 KEBAIKAN DAN UPAH (Mat. 10:40-42)

 

”Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat. 10:42)

 

Firman Tuhan hari Minggu ini bagi kita sangat singkat, yakni Mat. 10:40-42, yang menjelaskan tentang buah perbuatan baik bagi para hamba Tuhan dalam kaitannya dengan upah. Latar belakang nas ini adalah pengutusan para murid oleh Tuhan Yesus, sebagaimana nas minggu lalu. Mereka diberitahu akan mendapat kesulitan dan penganiayaan, sebab hakekatnya mereka diutus ke tengah-tengah serigala; untuk itu mereka perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:1-16).

 

Tetapi mereka tidak perlu takut dan gentar. Pengharapan akan sesuatu yang menggembirakan tetap tersedia. Hal baik selalu datang, meski di tengah kesulitan dan kesusahan. Untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya, dan juga kepada kita semua, agar siapa pun siap menyambut sukacita para utusan dan hamba Tuhan, memberi kasih dan perhatian, khususnya bagi mereka yang diutus melayani di bidang penginjilan.

 

Penginjilan berarti mereka yang pergi diutus gereja atau lembaga pelayanan, menjelajah ke tempat-tempat yang belum menerima kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus. Dalam melayani, mereka dikatakan tidak boleh membawa pakaian dan bekal yang banyak (Mat. 10:10). Mereka harus berjalan di dalam iman, bahwa Tuhan Yesus menyertai dan kebaikan pasti ada di semua tempat. Hidup diyakini selalu penuh warna dan mosaik, kumpulan pengharapan dan pergumulan.

 

Hamba Tuhan yang diutus, telah memberikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Mereka layak menerima kebaikan. Mereka tidak hidup hanya dari sekadar belas kasihan, melainkan atas tanggung jawab sesama orang percaya.  Alkitab juga mengajarkan bahwa setiap pekerja harus mendapatkan upahnya (Gal. 6:6).

 

Nas minggu ini mengajarkan, setiap kebaikan yang kita berikan kepada hamba-Nya, sama seperti memberi kepada Tuhan Yesus (ayat 40). Tentu ini dengan motivasi yang benar pula. "... Menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar" (ayat 41). Ini dikuatkan dengan upah yang tidak hilang pada ayat 42 di atas.

 

Berbicara tentang upah perbuatan baik, sangat menarik. Gereja-gereja arus utama tidak menekankan upah. Ini berangkat dari pengajaran Katekismus Heidelberg, yang menyatakan: “barangsiapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, oleh iman yang sungguh-sungguh, tidak dapat tidak menghasilkan buah berupa perbuatan baik, yang timbul dari rasa syukur kepada Allah” (Mat. 7:18).

 

Di lain sisi gereja-gereja Injili dan terutama aliran kharismatik, agak menekankan upah dari perbuatan baik. Ini berangkat dari berbagai ayat Alkitab, seperti “Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga” (2Kor. 9:6). Firman Tuhan lainnya menuliskan, segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya untuk menyenangkan hati Tuhan, pasti diperhitungkan oleh-Nya (1Kor. 3:14; Kol. 3:14). Ada juga perintah untuk menyimpan harta di sorga (Mat. 6:19-21; Luk. 12:33). Amsal dari Raja Salomo juga menyatakan, bahwa “mereka yang memberi kepada yang lemah akan memiutangi Tuhan” (Ams. 19:17), dan Tuhan akan mengganti dan ada saatnya menuai (Gal. 6:9-10; 2Tim. 4:2; Ef. 6:8; Mat. 16:27; Luk. 6:35).

 

Semua kembali kepada iman dan motivasi kita. Orang percaya layak memberi yang terbaik bagi Tuhan kita, melalui hamba-hamba-Nya yang telah memberi yang terbaik dalam hidup pelayanannya. Hanya dengan demikianlah kerajaan sorga dapat diperluas, Tuhan Yesus senag dan dan nama-Nya semakin ditinggikan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi 2

 PEMIMPIN PENYESAT (Yer. 28:5–17)

 ”Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar–benar diutus oleh TUHAN" (Yer. 28:9)

Bagaimana membedakan gereja atau hamba Tuhan yang benar? Kadang kita dikejutkan oleh berita tentang satu dua gereja yang dianggap sesat, seperti gereja Pdt. Jones di Amerika Selatan, Pdt. Sibuea di Bandung, Pdt. Jung Myung Seok di Korea, dan lainnya. Bagaimana pula membedakan seorang pemimpin yang baik dan benar agar umat atau anggota tidak ikut tersesat?

Tentu saja itu tidak mudah. Apalagi sering kali kita memakai ukuran dunia, seperti popularitas dan kepandaian berkhotbah, banyak pengikut atau penggemar, kekayaan dan kelimpahan materi, dan lainnya. Hal ini membuat pengujiannya menjadi sulit.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yer. 28:5–17. Ini kisah pertentangan nabi Yeremia dengan nabi Hananya yang bernubuat bahwa umat Israel hanya dua tahun saja dibuang ke Babel. Oleh karena itu ia berkata, perkakas perkakas rumah TUHAN akan dikembalikannya (ay. 11–12). Yeremia sebaliknya mengatakan bahwa pembuangan ke Babel akan berlangsung lama, dan terbukti berlangsung 70 tahun.

Melalui nas ini kita dapat belajar menguji gereja atau hamba Tuhan dengan beberapa cara. Pertama, nabi yang baik dan benar mestilah membawa damai, seperti dituliskan, “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN” (ay. 9). Oleh karena itu hamba Tuhan atau pemimpin yang membawa permusuhan dan perpecahan, penuh kebencian, serta memiliki sikap dan tindakan yang tidak berdasar kasih, jelas bukanlah hamba Tuhan atau pemimpin yang baik dan benar.

Kedua, hamba Tuhan atau pemimpin harus berani bersikap berbeda, menjaga kata-katanya tetap sejalan dengan perbuatannya, memiliki integritas. Janganlah sikapnya hanya untuk menyenangkan hati manusia. Bila pun langkahnya tampak menyenangkan manusia, tujuan akhirnya haruslah agar orang itu diselamatkan, seperti tertulis: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1Kor. 10:33).

Ketiga, tidak ada dusta dan tidak ada yang disembunyikan, sebagaimana nabi Yeremia mengatakan, “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta” (ay. 15). Menguji dusta itu tidak sulit, cukup melihat cara seseorang memberi informasi yang benar dan terbuka. Gereja atau organisasi yang tertutup, misalnya tidak memiliki laporan keuangan yang transparan, memiliki doktrin yang aneh dan tidak Alkitabiah, jelas berisi dusta. Pemimpin yang terlibat konflik dan tidak mau berdamai atau bertatap muka pastilah penuh dusta. Kadang alasan dibuat-buat, tetapi fakta dan data tidak dapat dikecoh. Kata-kata dapat diplintir, tetapi kenyataan tidaklah demikian.

Keempat, cara yang tidak mudah tetapi dilakukan nabi Yeremia adalah bernubuat tentang nabi Hananya. Ia berkata, “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN” (ay. 16). Kadang situasi seperti ini mungkin diperlukan bila menyangkut kepentingan umat atau anggota, agar kebenaran terbuka dan tidak ada yang tersesat. Hananya kemudian benar-benar mati (ay. 17).

Nabi Yeremia dan juga Rasul Paulus menuliskan sesuatu yang keras dalam menghadapi para penyesat. “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya” (Gal. 5:12). Tuhan Yesus juga marah besar menghadapi para penukar uang dan pedagang merpati di Bait Allah, dengan mengusir dan membalikkan meja mereka (Mat. 21:12). Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Luk. 17:1).

Gereja, organisasi, dan kita semua perlu memeriksa diri atas sikap dan langkah yang dijalankan. Kita semua mesti lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Lebih baik dijauhi manusia yang tidak baik dan tidak benar daripada dijauhi Tuhan dan akhirnya binasa. Semoga kita tidak demikian.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 21 Juni 2026

Kabar dari Bukit

 MENJADI SATU DENGAN KEMATIAN KRISTUS (Rm. 6:1b-11)

 ”Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm. 6:7)

Selamat hari Minggu.

 

Saya (dan tentu banyak orang) menyukai lagu "Seperti yang Kau Ingini”, khususnya lirik refrainnya:

 

‘Ku telah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama; Semuanya sia-sia dan tak berarti lagi.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 6:1b-11. Judul perikopnya: Mati dan bangkit dengan Kristus. Pesannya nyambung dengan renungan Minggu lalu tentang perjuangan melawan sifat-sifat buruk kita yang masih muncul (bahkan favorit) yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

 

Kita orang Kristen jelas tidak boleh berpikiran, bebas saja dulu berbuat dosa, sebab Tuhan akan mengampuni. Nas pembuka minggu ini  (ay. 1b) menegaskan dengan pertanyaan: “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah anugerah itu?” Jawabannya: Sekali-kali tidak! Pengikut Kristus harus mejauhi dosa; Tuhan membencinya.

 

Tetapi kita masih hidup di dunia. Ya, Tuhan tahu. Alkitab juga mengatakan, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23). Hanya kita perlu sadar, sumber dosa selalu bermula dari diri kita. “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri" (Yak. 1:14a; bdk. Mrk. 7:21-23, datang dari hati). Itu bisa oleh keinginan daging/tubuh, atau tertarik gemerlap dunia memiliki harta dan kuasa dengan cara tidak benar. Kita tahu juga iblis adalah penggoda dan penyesat yang ingin agar kita terus dalam kubangan dosa.

 

Ketika kita mengaku percaya melalui baptisan atau sidi, sebenarnya kita telah dipersatukan dengan Tuhan Yesus sehingga tidak hidup lagi di dalam dosa. Ditegaskan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama Dia melalui baptisan kematian-Nya” (ay. 3-4). Tujuan akhir semua ini adalah, “kita telah menjadi satu dengan apa yang serupa dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang serupa dengan kebangkitan-Nya” (ay. 5).

 

Maka langkah tugas kita orang percaya adalah mencari dan menemukan perbuatan-perbuatan dosa yang masih terus ada dalam diri kita. Jangan menyepelekan apalagi mengabaikannya. Mungkin kita masih mudah berbohong, menipu, sombong, egois, memiliki hawa nafsu yang tidak terkendali, iri dan sakit hati, dan berpikir aman menjalani hidup tanpa Allah. Ini semua perlu diperiksa.

 

Kita perlu sadari sifat dosa dari keinginan tersebut terbentuk melalui proses yang panjang, dari faktor keluarga, lingkungan atau kurang menyukai firman, ditambah bawaan lahir natur kita yang disebut dosa asal. Tanpa kita sadari itu bisa menjadi kebiasaan, membentuk karakter, dan akhirnya kita dipebudak.

 

Hidup dalam kebiasaan dosa tertentu dapat diibaratkan bagaikan sebuah perahu bocor yang mengarungi kehidupan. Perahu bocor karena adanya natur berdosa. Dihantam lagi dengan gelombang ombak keinginan daging dan dunia, dan ini dimanfaatkan oleh iblis penyesat yang terus memperbesar kebocoran, akhirnya perahu tenggelam. Ini harus dihentikan, diperjuangkan dengan tekad, iman, latihan, jatuh bangun, cek/recek dan berani berkata: Tidak!

 

Tuhan Yesus mati membayar dosa kita dengan darah-Nya yang mahal, tiada noda dan cela. Bila kita mengaku dan percaya, maka manusia lama kita seharusnya telah turut disalibkan (ay. 6). Kita telah berubah status dan identitas. Maka janganlah mau diperhamba lagi, dan kuasa dosa menjadi tuannya. Sebagaimana ayat 10-11 mengingatkan, seperti lanjutan lagu di atas:

 

Hidup ini 'ku letakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan; Jadilah padaku seperti yang Kau ingini.

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi 3

 

 PERJANJIAN DENGAN ALLAH (Mzm. 89:1-4, 19-26)

 

Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit (Mzm. 89:1-2)

 

Mengapa datang kemalangan dan derita pada seseorang? Ini pertanyaan yang lazim. Secara garis besar, Alkitab khususnya kitab Amsal, menjelaskan ada beberapa faktor penyebabnya: pertama, mereka kurang berhikmat sorgawi, bodoh atau bebal, misalnya, makan banyak-banyak dan tidak berolah raga, maka kemudian kena stroke; atau berkendara ugal-ugalan, kemudian bertabrakan hingga menderita luka parah.

 

Kedua, cobaan dari iblis dengan persetujuan Tuhan atau Tuhan sendiri yang ingin menguji seseorang, khususnya tentang kemurnian iman (1Pet. 1:5). Kisah Ayub sangat jelas; juga Tuhan Yesus dicobai di padang gurun (band. 1Pet. 2:19; 4:13-14). Dalam menghadapi ini, sering kali akal kita tidak mampu memahami ihwal yang terjadi, dan sangatlah bagus jika menganggapnya sebuah misteri Ilahi, bukan menghujat. Dan bagi yang beriman kuat, melaluinya dengan tetap berpegang: “... Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13).

 

Tetapi ada juga orang yang hidupnya mendapatkan berkat melimpah, dan terus bertambah-tambah setiap hari. Tentu tidak semua dalam ukuran harta materi. Alkitab mengajarkan hal ini bukan saja karena ia hidup berhikmat dari Allah dan selalu bersyukur, tetapi Alkitab juga menegaskan bisa saja karena ada janji Allah terhadap kakek moyangnya, sehingga hidupnya terus diberkati. Berkat dan kutuk memang dua hal yang jelas dipaparkan dalam Alkitab, sebagaimana dituliskan dalam Ulangan 28, termasuk kepada keturunan ketiga dan keempat dalam Hukum Taurat ketiga (Kel. 20:5).

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini diambil dari Mzm. 89:1-4, 19-26. Ini sebuah nyanyian pengajaran tentang janji Allah. Pada ayat 1-4, seolah ada keluhan terhadap janji Allah atas umat Israel yang menderita saat itu. Pemazmur mewakili umat berkata: “Engkau telah berkata: Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun!" (ayat 3-4).

 

Umat Israel sesuai 2Sam. 7:1-17, percaya ada janji Allah kepada Daud melalui nabi Natan mengenai keluarga dan kerajaan Daud. “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya" (2Sam. 7:15-16). Inilah yang dituntut umat. Dan kita pun dalam situasi susah, kadang menuntut Allah: di mana kasih setia-Mu?

 

 

 

Sebagai orang percaya, kita melihat Allah adalah Pribadi, dan Dia Allah yang hidup; maka perjanjian antara kita dengan Allah menjadi sesuatu yang wajar. Alkitab dan sejarah membuktikan, janji Allah teguh dan pasti, bahkan Allah kadang bersumpah meneguhkan janji-Nya (Kej. 15:13, 18; Kis. 2:20; Ibr. 6:17). Ia adalah Allah yang penuh kasih setia dan tidak pernah gagal dalam janji-Nya. Jadi, meski kadang jalan kehidupan yang kita lewati menanjak dan penuh liku serta ada rasa sakit, semua itu dalam kendali-Nya, dan percayalah itu untuk kebaikan kita. “Penderitaan adalah gada, bukan kapak, atau pedang,” tulis Matthew Henry dalam buku kedua tafsiran Mazmur yang lumayan tebal.

 

Minggu ini adalah masa penuh pengharapan, sebelum semua digenapi kelak oleh Tuhan kita. Bagi kita yang belum membuat janji dengan Allah dalam menjalani kehidupan ini, saatnya untuk melakukan. Perjanjian dengan Allah kadang inisiatif Allah, kadang atas inisiatif manusia. Sebagaimana pemazmur yang kembali imannya terhadap janji Allah di ayat 19-26, memang sungguh dahsyat dan penuh pengharapan, yakni seperti mahkota di atas kepala, urapan minyak kudus; musuh tidak akan menyergap dan menindas, tetapi justru sebaliknya lawan serta orang-orang yang membenci akan dihancurkan, membuat tangan menguasai laut, dan tangan kanan menguasai sungai-sungai, serta tanduk kita akan meninggi (ayat 19-23, 25).

 

Kini saatnya kita membangun atau membarui janji dengan Allah. Tuliskan atau katakan secara gamblang, hal nyata yang akan dilakukan untuk menyenangkan hati Tuhan di hadirat-Nya, dan meteraikan semuanya dengan kuasa Roh Kudus. Agungkan dan utamakan hal itu dalam hidup kita. Itu bukan saja untuk hidup kita, tetapi juga bagi keturunan kita. Kesetiaan dan kasih-Nya selalu menyertai (ayat 2, 24) sehingga ada saatnya kelak, kita pun layak berseru sebagaimana ungkapan pemazmur di ayat 26: “Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.”

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026

 

 TETAP TEGUH DAN BERSAKSI (Mat. 10:24-39)

 

 "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Mat. 10:32)

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini dari Mat. 10:24-39. Ini merupakan lanjutan nas minggu lalu tentang kita diutus ke tengah-tengah serigala, dan untuk itu perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16). Minggu ini diingatkan kembali bahwa tantangannya bisa menjadi berat. Untuk itu tetaplah berhikmat; tidak mesti sok berani dan konyol. Itu bukan cara Kristiani. Kita tidak harus mati berkorban untuk Tuhan Yesus, sebaliknya Yesus yang telah mati bagi kita. Tetapi bila itu menjadi tantangan terhadap kesetiaan iman, Tuhan Yesus sangat bahagia dan menghargainya (ayat 32, 38).

 

 

 

Firman minggu ini mengatakan, kita tidak perlu melebihi Sang Guru. Tuhan meminta kita memberi sesuai talenta yang diberikan. Dalam menghadapi masa sulit dan berat, tetaplah tegar dan berani. Tuhan Yesus berkata: "Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka ...." (ayat 26). Kerajaan sorga pasti dinyatakan. Setan Beelzebul tetap akan membencinya (ayat 25).

 

 

 

Kita berharga di mata Tuhan (Mzm. 116:15). Oleh karena itu Tuhan akan terus menyertai, sepanjang kita hidup di dalam Dia dan menjalankan misi-Nya. "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.... Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit" (ayat 29, 31). Sebuah argumen yang sangat kuat.

 

 

 

Sakit di tubuh rasanya tidak enak, tapi sakit di jiwa pasti lebih menyakitkan. Firman-Nya meneguhkan itu: "Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka" (ayat 28). Maka, saatnya untuk memilih dan bersikap. Takutlah akan Tuhan, yang berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (ayat 34-36). Memang tidak semua bersukacita atas ajakan-Nya.

 

 

 

Oleh karena itu di tengah situasi berat pandemi saat ini, bagi kita yang terdampak, atau berbeban lain, tetaplah tegar dan kuat. Tuhan Yesus meminta agar kita terus menjadi saksi. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (ayat 37). Tetap bangun ikatan yang kuat bersama Tuhan Yesus. Tuhan Yesus pasti senang. Badai pasti berlalu. "Mengikut Yesus keputusanku. Ku tak ingkar, ku tak ingkar. Walau ku sendiri, salib di depan, dunia di belakang... ku tak ingkar" (lirik Kidung KPRI No. 103, merupakan kisah kesaksian di India, tentang kesetiaan meski harus mati bersama keluarganya).

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 43 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14015604
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
107
3483
7112
13977941
79972
131119
14015604

IP Anda: 216.73.217.176
2026-06-23 00:46

Login Form