Monday, July 06, 2026

2026

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 

 

HIDUP MENURUT DAGING DAN MENURUT ROH (Rm. 8:1-11)

Bacaan lainnya: Kej. 25:19-34; atau Yes. 55:10-13; Mzm. 119:105-112 atau Mzm. 65:1-8, 9-13; Mat. 13:1-9, 18-23

 

Pendahuluan

Pokok yang diuraikan dalam bagian Surat Roma ini adalah jalan keselamatan yang diberikan Allah untuk melepas perbudakan dosa atas manusia. Manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari hal tersebut, termasuk untuk hidup dalam kebenaran. Hanya pertolongan Roh Kudus yang diam dan berkuasa dalam hati orang percaya yang mampu membebaskannya. Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan orang Kristen, dalam kasih dan karunia Allah.

 

Pertama: Roh yang memerdekakan (ayat 1-2)

Setiap orang yang “merasa bersalah” namun membenci dan menyesali perbuatannya dalam suatu pengadilan pasti mengharapkan putusan hakim: "Tidak Bersalah, bebas". Keputusan bebas itu tentu bisa keluar sebab ada dasar pertimbangan-pertimbangan hakim yang meringankan. Demikian juga pengharapan kita semua tatkala nanti di akhir zaman saat pengadilan Allah dilaksanakan. Kita juga berharap kata-kata tersebut yang diberikan, sehingga kita benar-benar bebas selamat dan masuk ke dalam kehidupan kekal, bukan dalam penghukuman yang menyakitkan. Meski kenyataannya bahwa semua umat manusia seharusnya memperoleh penghukuman karena dosa-dosa yang dilakukannya, ada dasar pertimbangan Hakim Agung yaitu Yesus Kristus, iman dan penyerahan diri kita kepada-Nya, sehingga kebebasan dan keselamatan diberikan berdasarkan kasih anugerah. Itulah sebabnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan jalan penebusan dan pembebasan melalui anak-Nya Yesus Kristus.

 

Dasar pertimbangannya sangat jelas. Roh dalam kehidupan ini ada tiga wujud: roh manusia sendiri dengan segala kebutuhan jiwa dan rohani termasuk keinginan daging dan ekspresi eksistensinya. Kedua, roh jahat atau ibils dengan segala wujud dan tipu liciknya, dan ketiga, Roh Allah yang penuh kuasa dengan kasih yang besar. Roh Allah ini juga merupakan Pribadi yang ada dalam penciptaan alam semesta (Kej. 1:2) dan juga kuasa yang membuat orang percaya menjadi lahir baru, baik melalui sidi maupun pertobatan. Kuasa ini diberikan kepada kita orang percaya untuk mampu hidup seturut dengan kehendak-Nya (band. Yoh. 3:6; Kis. 1:3-5). Sementara daging yang dalam pengertian Rasul Paulus dalam nas ini lebih kepada pengertian manusia, tubuh, dengan segala keinginan dan hasratnya, pandangan dunia, yang semuanya dikendalikan oleh roh manusia tadi, namun dengan kuasa yang lemah. Bilamana keinginan daging dominan dan mengalahkan roh, maka manusia itu hidup menurut daging, yang hakekatnya dikuasai oleh tabiat dan kecenderungan dosa yang ada pada diri manusia. Kalau kita melihat daftar yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Gal. 5:19-21, maka daftar ini sungguh panjang, meliputi dosa seksual, dosa hati yang jahat, dosa kesombongan dan kepentingan diri sendiri, bahkan termasuk dosa mengkhianati Allah dengan penyembahan berhala. Semua perbuatan kedagingan akan lebih menonjol saat bersatu dengan roh iblis yang jahat dengan tujuan melawan Allah dan membawa manusia dalam kebinasaan bersama mereka yang sudah menjadi seteru Allah.

 

Oleh karena itu, kekuatan roh iblis dan sinergi jahatnya dengan keinginan daging, hanya dapat dikalahkan oleh Roh Allah yang Mahakuasa. Roh manusia dengan segala usaha dan jerih payahnya mungkin bisa berusaha dalam batas tertentu untuk menyenangkan Allah melalui hukum Taurat, akan tetapi godaan iblis dan keinginan daging dengan mudah mengalahkan itu semua. Akhirnya harus ada hukum lain yang bisa menyelesaikan segalanya, yakni hukum anugerah atau hukum kasih karunia. Hukum ini (disebut hukum karena pengaruh yang terus-menerus dalam tindakan) berdasar pada kebenaran dan kekudusan Allah (band. Rm. 3:31; 6:15; 7:21-22). Hukum kasih karunia dikendalikan oleh Roh Allah, yang diberikan kepada setiap orang yang mengaku Yesus adalah Anak Allah yang telah menebusnya. Tuhan Yesus telah menolongnya dan membiarkan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hatinya untuk jauh dari kedagingan tadi serta melakukan hal yang sesuai dengan keinginan roh tadi (Gal. 5:16, 24). Di sini pentingnya iman dalam memperoleh Roh yang memerdekakan itu untuk mendapatkan kemenangan dan keselamatan. Oleh karena itu, ketika seseorang jatuh dikuasai oleh iblis dan bertobat, maka dasar pertimbangan Allah adalah pemberian anugerah kasih karunia itu yang membuat kita dinyatakan: “Bebas, tidak bersalah.”

 

Kedua: Allah yang menjadi manusia (ayat 3-4)

Allah mengutus anak-Nya sendiri menjadi daging dan manusia tentu dilatarbelakangi oleh hikmat dan rencana yang sangat dalam. Kalau dalam penjelasan terdahulu disebutkan bahwa inkarnasi Allah menjadi manusia sebagai konsep penebusan, maka pertimbangan lain Allah menjadi manusia adalah karena Allah ingin berbicara kepada manusia. Dengan Allah menjadi manusia maka komunikasi dan penggambaran maksud Allah terhadap manusia menjadi lebih mudah. Kita akan kesulitan berkomunikasi dengan makhluk lain, misalnya ikan, sebab keinginan baik kita berupa pemberian makanan ikan kadang ditafsirkan salah dan ikan akan melengos menjauh. Kita juga tidak tahu bagaimana mengatakan kepada ikan agar mendekat meski kita ingin memberinya makan. Akhirnya komunikasi menjadi buntu dan melelahkan. Oleh karena itu, ketika Allah ingin menyatakan kehendak-Nya kepada manusia, maka wujud inkarnasi Allah yang paling efektif adalah manusia. Allah bisa saja berwujud yang tampak lebih "hebat" atau “serba wah” seperti naga, elang rajawali, gajah, atau wujud lainnya, namun sasarannya bukanlah mereka, melainkan manusia yang berakal budi, namun berdosa dan perlu diselamatkan.

 

Hal lainnya membuat Allah berinkarnasi menjadi manusia dalam wujud Yesus, untuk membuktikan manusia Yesus juga bisa tidak berdosa. Kehidupan Yesus yang tidak berdosa sebagai manusia dalam perbuatan dan sikap digambarkan sedemikian jelas, yang diawali dari ketaatan orangtuanya pada tradisi-tradisi Yahudi, seperti melaksanakan sunat, berkunjung ke Yerusalem, bekerja, dan hal lainnya. Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan tradisi adalah sesuatu yang buruk, terkecuali dalam wujud sinkritisme, maka itu jelas tidak sesuai dengan kehidupan Yesus. Demikian juga kehidupan Yesus dalam mengembangkan intelektualitas-Nya yakni dengan rajin belajar tentang Taurat dan tradisi Yahudi. Hal yang paling ingin diperlihatkan melalui kehidupan Yesus adalah kerendahan hati-Nya (Flp. 2:7), sikap taat dan berserah dalam melewati pencobaan, dan puncaknya adalah pelayanan dengan kesediaan berkorban dan mengutamakan tugas misi Allah Bapa. Yesus yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus menggunakan seluruh hidupnya untuk pelayanan bagi kerajaan dan kemuliaan Allah Bapa yang mengutusnya.

 

Oleh karena itu dikatakan dalam bagian nas ini, apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah melalui Anak-Nya dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Jadi intinya, tidak ada perbedaan kedagingan Yesus yang tidak berdosa dengan kedagingan kita, dalam arti sama-sama memiliki keinginan dan kebutuhan. Di lain pihak, Allah juga ingin memperlihatkan bahwa kedagingan Yesus tetap takluk pada hukum alam kedagingan, yakni harus melewati kematian daging. Namun kita ketahui bahwa kematian daging akhirnya dikalahkan oleh Roh dengan kebangkitan Tuhan Yesus di hari yang ketiga. Semua ini jelas maksudnya, yakni supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang hidup tidak menurut daging, tetapi menurut Roh, semua akan memperoleh kemenangan di dalam kebangkitan kelak dan memperoleh upah dan mahkota yang disediakan bagi kita yang setia. Inilah maksud dan tujuan Allah menjadi manusia melalui Yesus, menjadi teladan yang sempurna bagi kita, bukan dengan maksud meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17).

 

Ketiga: Memikirkan hal-hal yang dari Roh (ayat 5-8)

Firman Tuhan dalam nas ini menggolongkan secara sederhana dua tipe manusia: manusia yang didominasi oleh sifat-sifat berbuat dosa dan manusia yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Setiap kita cenderung menjadi manusia tipe pertama sebagaimana dijelaskan dalam nas minggu lalu, yakni adanya kecenderungan untuk berbuat dosa dan kesenangan terhadap dosa, di samping adanya pandangan kesombongan yang meremehkan dosa. Manusia daging berpusat pada diri sendiri dan hanya memikirkan kepentingan kedagingan yang hakekatnya kepuasan diri sendiri. Mereka tidak merasa ada pengaruh perbuatannya kelak dan yang paling utama adalah hidupnya penuh ambisi dengan puncaknya kesenangan yang sesuka hati. Mereka menjadi seteru dengan menyepelekan penghakiman Allah sehingga sebenarnya itu merupakah langkah menuju maut dan kematian kekal. Sayangnya hukum Taurat tidak bisa melakukan apa-apa terhadap situasi ini. Hukum Taurat bukan dimaksudkan sebagai penyelamat dan hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri (Ibr. 10:1a).

 

Akan tetapi hal yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus merupakan jalan keluar sehingga kita dapat menjadi manusia tipe kedua yakni yang dikuasai dan dipimpin Roh. Perlu ada sebuah jembatan untuk mendekatkan teladan yang sempurna dalam kedagingan Yesus dengan kedagingan kita. Pemulihan harus dilakukan dengan tatanan kuasa yang baru dan bukan lagi berdasarkan hukum Taurat melainkan dengan prinsip kasih karunia. Status baru perlu mengalami perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan menurut daging yang tadinya memikirkan hal-hal tubuh dan keduniawian kini harus diganti dengan kehidupan menurut Roh yang berpikir tentang hal-hal yang rohani dan sorgawi. Sebagaimana dikatakan juga dalam firman-Nya, bahwa “kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22-24; band. Kol. 3:5-10).

 

Pada saat kita mengatakan "Ya" kepada Yesus, maka kita diberi kasih karunia dan dipenuhi dengan keinginan untuk terus mengikuti Dia, sebab kita tahu jalan-Nya adalah jalan penuh damai sejahtera dan membawa kita kepada kehidupan yang benar dan abadi. Hidup di dalam Roh berarti memahami tidak hidup menurut daging sebab keduanya tidak mungkin menjadi satu. Apabila seseorang menggemari dan bahkan mengulang-ulang dengan sadar keinginan daging yang dibenci Allah, sebenarnya ia belum hidup menurut Roh atau yang lahir baru. Ia sebenarnya masih manusia lama dan menjadi seteru Allah (Yak. 4:4). Setiap hari kita harus dengan "sadar" memilih untuk memusatkan perhatian dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan Allah melalui Yesus. Hal itu akan menjadi efektif bila kita menyukai firman Allah dengan rajin membaca Alkitab atau renungan harian, mendapatkan petunjuk dan mengikuti dengan taat. Di dalam situasi yang kadang membingungkan dan komplek, bertanyalah pada diri sendiri: "Apa yang Yesus ingin saya lakukan?" Apakah yang saya lakukan hari ini menyenangkan hati Allah? Dengan bertanya, maka Roh Kudus akan memberi inspirasi dan petunjuk yang benar dan langkah itu yang seharusnya langsung dilakukan (Yoh. 16:13-15; 2 Tim. 3:16-17). Dengan demikian kita hidup akan lebih memikirkan hal-hal yang rohani saja dalam menjalani tujuan akhir hidup yakni masuk sorga (band. Flp. 3:10; Kol. 3:1-2).

 

Keempat: Roh yang menghidupkan (ayat 9-11)

Pernahkan kita merasa atau bertanya, apakah kita ini sudah menjadi Kristen sejati? Sesungguhnya seorang kristen sejati adalah mereka yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus dengan menempatkannya sebagai Raja di hatinya. Apabila kita memang percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa kita, dan menjadikan Dia sebagai Tuan dan Tuhan, maka secara otomatis Roh Kudus akan diam di hati setiap orang yang mengaku demikian. Kita tidak akan tahu apakah Roh Kudus sudah hadir apabila kita menanti-nanti tanda-tanda atau perasaan khusus, tetapi yakinilah bahwa Roh Kudus telah hadir dan diam sebab Tuhan Yesus menjanjikan-nya. Jadi janjinya yang dipegang, bukan suasana hati atau tanda-tanda. Apabila kita menjalani kehidupan ini dengan pimpinan Roh Kudus tadi, maka kita akan memahami beberapa hal, yakni:

 

a.     bahwa Yesus adalah Anak Allah dan kehidupan kekal datang daripada-Nya (1Yoh. 5:5);

b.    kita akan berperilaku seperti Kristus (Rm. 8:5; Gal. 5:22-23);

c.     kita akan mendapatkan pertolongan dalam pergumulan hidup setiap hari (Rm. 8:26-27);

d.    kita akan dimampukan untuk melayani Allah dan melaksanakan kehendak-Nya (Kis. 1:8; Rm. 12:6 dab);

e.     kita akan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membangun gereja dan kerajaan-Nya (Ef. 4:12-13)

 

Sebagaimana manusia yang sama dengan Adam telah berdosa, maka demikian jugalah kehendak Allah melalui Rasul Paulus menyatakan manusia harus sama dengan (manusia) Yesus yang mempersembahkan kehidupan yang sempurna  yakni dengan penyerahan diri dan pengutamaan keinginan Allah Bapa. Manusia yang telah tercemar melalui dosa Adam kini hanya bisa diselamatkan melalui kuasa Tuhan Yesus. Roh Kudus adalah janji dan jaminan Allah untuk kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Roh Kudus diam di hati hanya dengan dasar iman dan dengan iman ini kita hidup bersama Kristus selamanya (band. Rm. 8:23; 1Kor. 6:14; 2Kor. 4:14; 1Tes. 4:14). 

 

Penutup

Sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, janganlah hidup menurut daging. Itu jalan menuju ke neraka, karena buahnya menghasilkan dosa dan membelenggu kita. Roh Kudus telah diberikan kepada kita dan memerdekakan kita dari belenggu tersebut dan bekerja pada orang percaya untuk menghasilkan buah-buah Roh. Semua itu terjadi karena Allah mengasihi manusia dan tidak menginginkan kebinasaan, sehingga memberikan Anak-Nya menjadi manusia sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita. Dengan hidup menurut Roh, maka kita juga memikirkan hal-hal yang dari Roh dan semuanya itu dalam sukacita, berbeda dengan kuasa iblis dan kuasa dosa yang membawa kita kepada keadaan yang menyedihkan dan sengsara serta berujung pada maut. Hidup dalam Roh juga akan menghidupkan sebab mendapat kekuatan baru untuk mendorong kita ke arah kerajaan kekal dan bersama Tuhan dan para malaikat selama-lamanya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah (2) Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 - Opsi 2

 

AKAL BUDI, MORAL DAN ETIKA (Kej. 25:19–34)

 

”Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" (Kej. 25:31–32)

 

Di masa kecil di Sumatera Utara, sering terdengar ucapan, “Ah, Yahudinya kau!” Kalimat ini biasanya dilontarkan kepada seseorang yang pelit, pandai mengelak, dan penuh tipu muslihat. Mungkin ungkapan ini bersumber dari kisah Yakub yang menipu abangnya, Esau.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 25:19–34. Ini kisah keturunan Ishak, yaitu Esau dan Yakub, yang lahir kembar. Esau disayang oleh bapaknya, dan Yakub disayang ibunya (ay. 28). Yakub sangat cerdik dan memanfaatkan kelemahan Esau. Ia menukar hak kesulungan dengan sup kacang merah. Yakub sampai meminta Esau bersumpah (ay. 33). Agar lebih yakin, Yakub dibantu ibunya mengelabui Ishak dengan memakai kulit berbulu, mendekat seolah sebagai Esau. Ishak yang sudah tua dan rabun, meski ragu, akhirnya memberkati Yakub sebagai anak sulung (Kej. 27:18–29).

 

Dari perilaku Yakub ini, kita dapat mengambil pelajaran. Saya teringat buku yang ditulis Ibu Pdt. Dr. Dorothy I. Marx, dosen agama di ITB dan mentor saya, berjudul Itu kan, boleh? Buku ini mengulas bagaimana manusia melonggarkan standar etika dan kebenaran Alkitab demi memenuhi keinginan daging dan nafsu, serta berkompromi dalam hal aborsi, perceraian, korupsi, perzinahan, dan lainnya. Dari nas ini, terlihat Yakub melakukan tipu muslihat agar dirinya diuntungkan, memperoleh hak kesulungan yang bagi umat Israel sangat penting, meski hal itu telah dinubuatkan sebelumnya (Kej. 25:23).

 

Pertanyaan penting muncul tentang batasan penggunaan akal budi dan cara manusia mencapai keinginannya. Kita perlu melihatnya dari sudut etika dan moralitas. Etika menurut buku Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy adalah sistem nilai dan kebiasaan dalam suatu kelompok manusia. Etika berhubungan dengan moralitas yang mengacu pada prinsip-prinsip dasar. Bagi kita orang percaya, Alkitab adalah acuan dan pegangan utama.

 

Lewis Smedes dalam tulisannya "Sifat–sifat Moral Dasar" dalam buku Pola Hidup Kristen mengatakan, yang utama dilihat adalah sifat dan watak baik seseorang. Tuhan Yesus menegaskan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:20; 12:33). Sifat dan watak baik dapat diukur dari beberapa hal. Pertama, kemampuan membedakan, termasuk memahami perasaan orang lain dan mengedepankan hal yang mendasar dan penting.

 

Kedua, keberanian mengambil langkah baik dan berisiko dalam situasi kacau dan sulit. Ketiga, penguasaan diri, yaitu tidak hanya mengikuti kepentingan sendiri, tetapi menyerahkan penguasaan kepada Allah. Keempat, bersikap adil, yakni tidak memperlakukan seseorang berbeda dari orang lain (Mi. 6:8). Terakhir, kejujuran dan keteguhan dalam berserah. Semua ini senada dengan buah-buah Roh (Gal. 5:22–23).

 

Alkitab tidak mempertentangkan akal budi (mind) dan iman (faith). Keduanya adalah anugerah Tuhan. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Iman dan akal budi bagaikan dua sayap yang dengannya roh manusia naik kepada perenungan tentang kebenaran.” Jadi, ada keseimbangan dan kontrol. Bila nilai-nilai moral yang kita pegang bertentangan dengan mereka yang belum bertobat dan lahir baru, jangan cepat menghakimi. Doakan mereka dan carilah kesempatan untuk menemukan dan menyatukan kebenaran sejati.

 

Itulah yang diminta Tuhan dari kita: memiliki sifat dan watak baik, serta tidak memandang remeh apa yang tertulis dalam Alkitab (ay. 37). Semoga kita dimampukan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Kabar dari Bukit, Minggu 5 Juli 2026

Kabar dari Bukit

 

TAHANAN YANG PENUH HARAPAN (Za. 9:9-12)

 

Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat!” (Za. 9:12)

 

Selamat hari Minggu.

Setiap kita pasti memiliki pergumulan hidup. Ada tentang kesehatan, pekerjaan, usaha, kesulitan ekonomi, dan bahkan dari hubungan keluarga - dekat dan jauh; ada yang berat dan ada yang ringan. Selain pergumulan, kita juga mungkin ada pengharapan, sebuah mimpi lama yang masih menggantung di awan, kadang sudah terasa dekat tapi seringnya menjauh. Semua ini mesti kita hadapi dengan bijak. Sebisanya, janganlah sampai mengganggu hidup dan keseharian kita, apalagi putus asa melihat semua pintu sudah tertutup. Jangan juga sampai bertanya: Di manakah Tuhan?

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Za. 9:9-12. Nas ini dituliskan saat bangsa Israel baru pulang dari pembuangan ke Babel. Kondisi psikologis mereka trauma, juga ekonomi dan rasa kebangsaan hancur. Mereka adalah umat pilihan dan bangsa besar yang pernah dipimpin Raja Daud - dengan wilayah luas, kini hanya diperlakukan sebagai hamba bahkan sebagai tahanan yang terbelenggu.

 

Tetapi Allah tidak pernah melupakan umat-Nya. Oleh karena itu Allah mengutus Nabi Zakharia menyampaikan pesan bahwa pengharapan tidak boleh pudar. Janji-Nya teguh dan setia. Akan datang seorang Raja yang "adil dan jaya. Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (ay. 9; Mat. 21:5). Ia akan melenyapkan kereta, kuda dan busur perang (ay. 10a), dan bukan untuk menumpahkan darah musuh, melainkan darah-Nya sendiri di kayu salib, sebagai darah perjanjian (ay. 11a).

 

Raja yang datang itu yakni Mesias, Tuhan Yesus, akan membawa damai, "wilayah kekuasaan-Nya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi" (ay. 10b). Sayangnya, umat Israel tidak dapat menangkap pesan tersebut, mereka terus menerus dijajah berbagai imperium, dan berpikir yang datang adalah raja pemimpin perang; sedangkan pesan nubuatan Allah yang dibangun adalah kerajaan rohani. Melalui nabi Zakharia, Tuhan meminta cara pandang mereka berubah, tapi tidak ditangkap dengan baik dan semestinya.

 

Maka kita pun, mungkin saat ini terbeban pergumulan yang membuat kita kesusahan dan penderitaan, atau memiliki pengharapan yang belum terwujud seolah jadi "tahanan". Tetapi tetaplah setia, tetap mengandalkan Tuhan Yesus. Lihat juga pergumulan dan pengharapan yang tidak terwujud mungkin karena ada faktor penghambat, dari pribadi kita yang belum berkenan kepada Tuhan. Segera bereskan, dan kembali berlindung dan bersandar kepada Tuhan Yesus. Ia akan memulihkan-Nya, membebaskan kita "dari lobang yang tidak berair. Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan!" (ay. 11b-12a).

 

Melalui nas minggu ini Tuhan berjanji, bila kita sabar dan setia, maka kita yang tadinya menjadi "tahanan" dalam kesusahan, akan menjadi "tahanan yang penuh harapan!.... Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat! (ay. 12). Lihatlah, Tuhan juga memberikan yang sama kepada Ayub yang tetap percaya dan setia (Ay. 42:10).

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin. 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min. 

 

Khotbah (3) Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 - Opsi 3

 

DITABUR DAN BERBUAH (Mat. 13:1-9, 18-23)

 

”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:9)

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini Mat. 13:1-9, 18-23, berkisah perumpamaan dari Tuhan Yesus tentang seorang penabur. Pada waktu seseorang menabur, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (ayat 4-8). 

 

Orang Yahudi yang berkerumun di pantai mendengar Yesus yang berbicara di perahu, mungkin tidak semua tahu artinya, apalagi maksud perumpamaan itu. Maklum, sebagian mereka adalah nelayan, bukan petani. Lalu Tuhan Yesus pun menjelaskan maksud-Nya, bahwa penabur adalah Dia sendiri atau hamba Tuhan pemberita firman, dan yang ditabur adalah firman Tuhan. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 

 

Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira sesaat. Tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Benih yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman, lalu kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat" (ayat 19-23). Jadi kita lihat empat respons terhadap benih firman di tempat empat tanah yang berbeda.

 

Situasi ini mungkin cocok dengan kita setiap hari. Saya (dan teman-teman) memposting renungan firman setiap pagi, berharap agar setiap kita yang di grup WA/FB, memulai harinya dengan membaca firman Tuhan. Sebagai orang percaya, mestinya tiada hari yang lebih indah dari hal itu, memulai hari baru setiap pagi dengan berinteraksi dan mengerti maksud dan petunjuk Tuhan. Kalau memungkinkan, bernyanyi atau mendengar satu lagu pujian yang disiapkan dan berdoa, maka lengkaplah ritual untuk menyenangkan hati Tuhan. Bagi yang percaya dengan Tuhan dan campur tangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari, itu sangat layak dilakukan. Tokh, aktifitas itu totalnya paling 10 menit, tergantung panjangnya doa pribadi. 

 

Tetapi bisa banyak alasan seseorang mencari untuk mengabaikan sesi saat teduh pagi tersebut: kesibukan tugas, tumpukan kerjaan pagi, merasa tidak penting dan lebih baik nonton TV dan bermalasan, atau ada beban pikiran dan berpikir itu tidak perlu, atau alasan mengabaikan lainnya. Ada juga kesalahan universal, yakni ketika seseorang menyampaikan renungan firman Tuhan, termasuk di mimbar gereja, yang dilihat adalah pengkotbah atau yang memposting. Kesalahan itu sama seperti seseorang menunjuk memperlihatkan bulan yang indah, tetapi yang dilihat jari telunjuknya, bukan bulannya. Namun, bila kita memiliki pilihan renungan pagi atau firman dari sumber lain, ya tidak masalah. Bagus. Yang penting, ada persekutuan dengan Tuhan setiap pagi. Janganlah bebal dengan mengeraskan hati dan pikiran tertutup.

 

Memberi respon setelah membaca renungan pagi, itu baik, paling tidak tanda bersyukur dan sukacita kepada Tuhan. Tetapi itu tidak mutlak, yang utama adalah firman renungan pagi dilihat bagaikan benih yang ditabur. Kitalah yang membuat dan menempatkan hati dan pikiran kita, apakah sebagai (emperan) pinggir jalan, atau tanah (gersang) yang berbatu-batu, atau malah bagaikan ladang semak duri. Semua kembali ke kita. Mengandalkan firman Tuhan di kebaktian Minggu saja, jelas tidak cukup memadai di tengah dunia keseharian saat ini yang semakin penuh tantangan, kekhawatiran dunia, dan tipu daya iblis yang mendera.

 

Melalui nas minggu ini, Tuhan Yesus meminta hati dan pikiran kita di setiap pagi hari menjadi tanah yang baik, tanah yang gembur dan subur, dengan membaca dan mendengar firman pagi dan berusaha mengerti, dan firman itu berbuah berlipat ganda (ayat 8, 23). Berbuah artinya, terjadi perubahan oleh pembaruan budi. Tentu semua tergantung suasana hati dan pikiran kita saat itu: bisa timbul rasa penyesalan karena perbuatan dosa yang kita lakukan terhadap Tuhan dan sesama, atau mendapat pelajaran hidup baru dan hikmat sorgawi yang disampaikan, atau kita lebih bersyukur karena melihat kebaikan dan kebesaran Tuhan, atau refleksi lainnya. Semua itu akan menyenangkan hati Tuhan.

 

Inti pembaruan budi melalui benih firman yang disampaikan setiap pagi, kita bertemu dan menyapa Tuhan dan dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:1). Dan jelas, Roh Kudus Allah kita yang hidup, akan ikut campur tangan dalam hidup kita. ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

 PERJUANGAN MELAWAN DOSA (Rm. 7:15-25a)

Bacaan lainnya: Kej. 24:34-38, 42-29, 58-67 atau Za. 9:9-12; Mzm. 45:10-17 atau Mzm. 145:8-14 atau Kis. 2:8-13; Rm. 7:15-25a; Mat. 11:16-19, 25-30

Pendahuluan

Nas minggu ini kembali mengulas kedudukan hukum Taurat sebagai bagian dari salah satu cara Allah membawa manusia untuk dapat menyenangkan hati-Nya, yang diturunkan saat bangsa Israel dalam perjalanan kembali ke tanah Kanaan melalui pimpinan nabi Musa. Dalam perjalanannya, manusia berusaha berjuang untuk mematuhi hukum tersebut dan dalam kenyataannya sejarah mencatat melalui berbagai pergumulan dalam sejarah Israel; manusia gagal mematuhi hukum Taurat. Allah tidak menginginkan manusia ciptaan-Nya menjadi binasa karena tidak seorang pun bisa selamat. Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran penting sebagai berikut.

 

Pertama: Kuasa dosa di dalam tubuh (ayat 15-17)

Ayat-ayat ini merupakan jeritan hati seseorang yang putus asa - menggambarkan pengalaman setiap orang percaya yang berjuang melawan dosa atau mencoba berusaha menyenangkan hati Allah dengan memelihara hukum-hukum dan aturan, tanpa bantuan pertolongan Roh Kudus. Hukum Taurat sendiri itu baik dan bersifat kudus, memperlihatkan sifat dan keinginan Allah terhadap manusia untuk menjadi kudus, yang menggambarkan rupa Allah. Tetapi dosa dan kuasanya telah mengelabui manusia dengan memutar balikkan aturan yang ada. Di dalam Taman Eden, ular menipu Hawa dengan menantang kebebasannya dan menyudutkannya di satu pembatasan yang Allah telah buat. Hawa digoda penipu licik dan berhasil. Bahkan setelah kejadian itupun, manusia terus memberontak terhadap Allah. Dosa memang bisa menjadi sesuatu yang menarik dan menantang, sebab Allah mengatakan hal itu adalah salah. Itu bisa kita lihat sederhananya dengan berpikir mangga curian lebih enak rasanya dibanding mangga yang dibeli di pasar. Namun perlu waspada, ketika kita digoda untuk berbuat dosa, kita perlu melihat hukum Taurat dan aturannya yang tertulis dengan sudut pandang yang lebih luas, yakni dari cahaya kebaikan dan anugerah Allah. Jika kita melihat kasih Allah Bapa yang demikian besar, kita akan mengerti bahwa Allah sebenarnya membatasi tindakan dan sikap kita yang tujuannya membuat kita jauh dari bahaya dan penderitaan.

 

Rasul Paulus berbagi tiga hal yang dipelajarinya dalam usahanya untuk mengendalikan keinginan berbuat dosa. Pertama, pengetahuan tentang hukum dan aturan bukanlah sebuah jawaban atau jaminan akan ketaatan. Kita tahu, banyak hakim, polisi, jaksa, pengacara, dan bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi RI pun akhirnya menjadi tersangka dan dihukum. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengatakan ia merasa lebih nyaman apabila ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh hukum. Ia tahu hukum Taurat itu baik tapi ia sendiri tidak mampu melaksanakannya. Ketika kita mengetahui bahwa yang kita lakukan itu sebetulnya bukan yang kita kehendaki, maka seolah-olah kita membenarkan kuasa hukum Taurat itu. Justru sebaliknya, ketika ia belajar tentang kebenaran, ia tahu bahwa dirinya sudah diselamatkan. Kedua, keyakinan diri, berupa perjuangan sesuai kekuatan diri sendiri pasti tidak berhasil. Rasul Paulus menemukan dirinya berdosa dengan jalan yang sebenarnya tidak menarik hatinya, cara-cara yang bahkan tidak menarik baginya, bahkan membenci tindakan-tindakannya yang bertentangan dengan hukum itu (Rm. 7:15-20).

 

Tetapi dosa tetap dosa kalau sudah terjadi. Ketika dosa sudah terjadi maka sebenarnya dosa telah menjadi Penguasa atau Bos dalam kehidupan, meski kita tidak suka. Dalam hal inilah terjadi kebingungan dalam diri kita, sama seperti yang dirasakan Rasul Paulus. Ia merasa memiliki pribadi ganda: satu yang asli dengan keinginan baik dan batin yang ingin ketenangan, tetapi di lain pihak ada pribadi lain yakni pribadi palsu yang mengendalikan hidupnya. Ada sebuah kekuatan yang mengendalikan sisi hidupnya yang lain, yang sulit dikalahkan dan selalu membawa dia ke bagian yang tidak menyenangkan batinnya dan secara otomatis juga hati Allah. Dengan demikian ia berkata, bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Dalam suratnya yang lain, Rasul Paulus mengkategorikan hal yang baik dan batin itu sebagai kekuatan roh, dan hal yang jahat itu adalah kekuatan daging. "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (Gal. 5:17).

 

Kedua: Kehendak bebas untuk berbuat jahat (ayat 18-20)

Rasul Paulus merendah dengan mengatakan tidak ada sesuatu yang baik di dalam dirinya. Ia mengulangi kalimat-kalimat dalam ayat sebelumnya (15-17) sebagai penegasan bahwa hal itu benar dan merupakan pergumulan yang hebat baginya. Mungkin ia merasa bahwa hal baik yang dilakukannya pun tidak memuaskan dirinya; Ia merasa dirinya tidak berhasil melakukan yang terbaik bagi Tuhan yang telah memberinya begitu banyak. Ia merasa terlalu sedikit melakukan hal baik yang membuat batinnya bergejolak dalam ketidakpuasan. Ia juga merasa bahwa segala hal baik yang ia lakukan itu hanyalah sikap rasa syukur atas apa yang diperolehnya dari Tuhan, sehingga tidak layak untuk dibanggakan. Sementara itu ia merasa terlalu banyak melakukan hal yang jahat dan itu semua disadarinya, ada kuasa didalam dirinya beban yang terbawa-bawa sehingga membuat demikian.

 

Kita perlu melihat perihal yang disampaikannya pada pasal sebelumnya yakni tentang beban dosa yang diembannya. Beban dosa ini menurutnya merupakan "warisan" dari Adam yang sering disebut sebagai dosa asal atau dosa warisan. Tentang dosa asal ini kaum Palagianisme berpendapat bahwa dosa Adam tidak mempunyai pengaruh terhadap keturunannya. Jadi dosa Adam terputus hanya pada Adam saja. Kaum Arminianisme mengatakan bahwa dosa Adam telah mengakibatkan seluruh manusia mewarisi kecenderungan untuk berdosa, yang membuat kita memiliki “natur dosa.” Natur dosa ini terjadi secara alamiah yang menyebabkan kita berdosa sebagaimana halnya natur seekor kucing yang menyebabkannya mengeong. Sama seperti Palagianisme, menurut pandangan ini, kita tidak bertanggung jawab atas dosa Adam, tapi hanya dosa kita sendiri. Memang manusia tidak dapat menghilangkan kecenderungan dan berhenti berdosa dengan kemampuannya sendiri, oleh sebab itu Allah memberi suatu anugerah umum kepada semua orang yang memampukan kita untuk berhenti berdosa atau MENJADI orang yang tidak berdosa. Dalam Arminianisme, anugerah ini disebut anugerah asal. Namun sayangnya, pandangan anugerah asal sebenarnya tidak memiliki dasar alkitabiah. Sementara Yohanes Calvin berpendapat lain, bahwa dosa Adam bukan hanya mengakibatkan kita memiliki natur dosa, tetapi juga atas kesalahan kita di hadapan Allah, maka untuk itu kita patut dihukum. Oleh karena Adam telah ditemukan bersalah dan dia berdosa, maka dosa dan hukumannya (termasuk maut dan kematian) itu menjadi bagian kita juga (Rm. 5:12-19). Ada dua alasan menurut Calvin mengapa kesalahan Adam harus dilihat sebagai dosa kita juga. Alasan pertama menyatakan bahwa suku-suku bangsa adalah di dalam Adam dalam bentuk bibit; dengan demikian ketika Adam berdosa, kita berdosa di dalam dia. Alasan lainnya adalah bahwa Adam sebagai wakil kita dan karena itu ketika dia berdosa, kita juga dinyatakan bersalah.

 

Akan tetapi, bagaimana Allah dapat meminta kita bertanggung jawab untuk dosa yang kita tidak lakukan secara pribadi? Untuk ini ada sebuah penjelasan yang dapat diterima yaitu bahwa kita bertanggung jawab untuk dosa asal ketika kita memilih untuk menerima, dan bertindak menuruti natur kita yang berdosa. Ada satu titik dalam hidup ketika kita menjadi sadar terhadap keinginan berdosa diri kita sendiri. Pada saat itu kita harus menolak natur dosa yang ada dan bertobat. Sebaliknya, apabila kita “menyetujui” natur berdosa, mengikuti dan menikmati keberdosaan tersebut, maka kita sebenarnya menyatakan persetujuan dengan perbuatan Adam dan Hawa di Taman Eden; oleh karena itu kita bersalah atas dosa mereka tanpa ikut melakukannya. Bagian atau porsi kita dalam hal ini terjadi ketika kita menerima dosa sebagai bagian hidup kita, yakni saat pertama kali kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan firman dan kehendak Allah. Inilah yang menjadi "beban" di dalam diri setiap orang, sehingga menurut Paulus, "bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku" (ayat 19-20).

 

Ketiga: Menjadi tawanan hukum dosa (ayat 21-23)

Menjadi manusia baru bukan sekedar mengambil momen iman sesaat, melainkan menjadi serupa dengan Yesus yang membutuhkan proses panjang dan seumur hidup. Untuk itu Rasul Paulus mencoba membandingkan pertumbuhan kerohanian Kristen seperti latihan pertandingan badani (1Kor. 9:24-27; 2Tim 4:7). Sebab itu dalam awal suratnya, Rasul Paulus menyatakan tidak satupun di dunia ini yang bebas dari dosa; tidak seorangpun yang layak diselamatkan, baik mereka yang hidup dalam aliran sinkritisme yang tidak mengenal Allah, maupun mereka yang mengetahui hukum dan mencoba memelihara hukum-hukum itu. Memang dalam hal ini Rasul Paulus memberi nilai pada hukum Taurat dengan menegaskan bahwa sesungguhnya ia suka dan merindukan apa yang baik dari hukum itu, meski mengakui bahwa tetap saja ia melakukan hal yang buruk dan jahat. Dengan kata lain, ia mengakui bahwa dosalah yang membuat seseorang menjadi jahat.

 

Memang ada tekanan yang besar pada pengalaman kehidupan kekristenan setiap hari. Sering terjadi konflik bathin antara kita setuju dengan perintah Allah, akan tetapi kita tidak dapat mengikutinya. Sebagai hasilnya, kita merasakan penderitaan yang besar karena pertentangan itu. Manusia lahiriah kita diperadukan dengan manusia batiniah yang dilengkapi oleh akal budi, sebagai wujud hukum Allah dalam pemahaman Paulus. Ini menjadi sebuah pertentangan batin yang setiap orang alami. Dalam hal ini Rasul Paulus memberi pelajaran menyikapi hal tersebut. Apabila kita merasa takluk dalam pertentangan batin itu, maka kembalilah pada dasar kehidupan kerohanian kita, yakni bagaimana dosa-dosa kita telah dibebaskan oleh hukum kasih karunia (band. 2Kor. 4:16). Ini bisa membebaskan dari rasa bersalah. Dalam hal ini kita yang sudah lahir baru, yang sudah menerima kasih karunia pembebasan dosa, perlu mengingat firman-Nya: "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Gal. 5:24).

 

Oleh karena itu jangan pernah menyepelekan kekuatan dosa. Jangan juga mencoba melawannya dengan kekuatan diri sendiri. Setan itu penggoda yang licik, dan sebaliknya kita manusia mempunyai kemampuan yang hebat dalam mencari pembenaran diri sendiri. Kita sangat ahli dalam memberi dalih dan alasan mengapa kita jatuh ke dalam dosa. Padahal, itu sebenarnya tanda-tanda kita telah menjadi tawanan dosa. Menjadi tawanan (hukum) dosa atau hamba dosa berarti ada benih-benih atau racun di dalam anggota-anggota tubuh kita. Ini menjadi sesuatu yang mudah berbiak menjadi dosa, yang memperlihatkan hakekat kesetiaan pada jalan lama yakni menyenangkan dan melayani kesenangan diri sendiri dibanding dengan menyenangkan hati Allah. Manusia lama kita yang masih suka dengan dan takluk dengan hukum dosa, itulah yang perlu berubah menjadi manusia baru yang menuruti akal budi yakni hukum Allah melalui kuasa Roh Kudus (band. Kol. 3:9-10; Gal. 5:17; 1Pet. 2:11).

 

Keempat: Yesus yang melepas kita dari dosa (ayat 24-25)

Inilah yang ingin dijelaskan firman Allah minggu ini melalui Rasul Paulus, yakni menjadi seorang Kristen tidak membuat kita terbebas dari dosa dan juga terlepas dari godaan serta ujian di dalam kehidupan pribadi kita. Perjuangan melawan dosa berlangsung terus menerus. Yang utama, daripada mencoba melawan dosa dengan kemampuan diri sendiri, lebih baik kita berpegang pada kuasa yang luar biasa dari Kristus yang disediakan bagi kita. Kuasa ini adalah penyediaan pemeliharaan Allah untuk menjamin kemenangan kita atas dosa, yakni dengan Ia memberi Roh Kudus untuk hidup di dalam diri kita dan memberi kita kekuatan. Dan ketika kita jatuh, kasih-Nya menggapai untuk menolong kita bangkit kembali.

 

Maka ketika kita merasakan kebingungan atau ditaklukkan oleh dosa, mari kita mengklaim pembebasan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Kuasa-Nya dapat mengangkat kita pada kemenangan. Kita perlu sadar bahwa tubuh dan kedagingan kita memang menjadi ajang pertempuran oleh hukum dosa dan hukum Allah. Kita menjadi orang celaka dan terbelenggu dan bersalah ketika kita takluk, menjadi tidak berdaya dan melihat kesia-siaan. Akan tetapi, kita akan menjadi pemenang ketika kita berhasil melewati pergumulan itu, saat kita bersama Yesus Kristus. Kalaupun kita sesekali kalah, datanglah mengakui kelemahan diri kita dan akan diperdamaikan kembali. Kesadaran akan adanya dua "pribadi" dalam diri setiap orang, jangan membuat kita menjadi apatis. Kita tidak perlu berputus asa dengan situasi itu. Kita hanya perlu datang dengan penyesalan berat dan memohon pengampunan, memohon kekuatan baru untuk dapat tegak kembali (Rm. 8:11,13).

 

Bagi kita yang utama adalah memahami bahwa pengetahuan tentang hukum dosa tidak memiliki makna untuk mengubah menjadi pribadi yang baik dan berakal budi. Pengharapan selalu ada yakni di dalam Kristus, yang melepaskan kita dari tubuh maut ini, yakni tubuh yang tidak abadi, dan akan digantikan dengan tubuh kemuliaan di akhir zaman. Itulah ucapan syukur kita kepada-Nya. Semua kita pada akhirnya tergantung kepada karya Kristus untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan maut. Kita tidak mendapatkan itu dari sikap kita yang baik saja, tetapi dari penyerahan diri sepenuhnya dalam hidup baru (Yoh. 3:3; 2Kor. 5:17). Sepanjang ada dorongan melaksanakan kehendak Allah, maka Allah terus berkuasa membawa hidup kita di jalan kebenaran, dan sejatinya itu pasti berbuah hal yang sangat disukakan oleh Allah.

 

Penutup

Nas minggu ini sungguh memberikan gambaran pergumulan hati seseorang tentang bagaimana kuasa dosa bekerja di dalam tubuh setiap orang. Ini merupakan pengalaman pribadi Rasul Paulus yang menjadi firman Tuhan. Kuasa itu dapat datang dari dosa asal atau dosa turunan yang merupakan kecenderungan berdosa atau bahkan merupakan bagian kita dari dosa kakek-nenek atau orang tua kita. Kecenderungan dosa yang mengikuti keinginan daging dan dunia juga mendorong setiap orang untuk melakukan hal yang jahat, meski itu bukan kehendaknya. Inilah situasi sebenarnya dan kita menjadi tawanan dosa, hamba dosa yang tidak bisa lagi melakukan hal yang (lebih) baik. Kita bersyukur, dengan kasih Allah yang demikian besar dan melalui anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, kita mampu lepas dari perhambaan dan menjadi pemenang dalam perjuangan melawan dosa. Oleh sebab itu kita bersyukur dan berkata, terpujilah Tuhan yang Mahabaik.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 17 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14084346
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2
2731
8497
14049929
20142
128572
14084346

IP Anda: 216.73.217.50
2026-07-07 00:02

Login Form