Monday, March 09, 2026

2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

 

HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG (Ef. 5:8-14)

Bacaan lainnya: 1Sam. 16:1-13; Mzm. 23; Yoh. 9:1-41

 

 

Pendahuluan

Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang diam di Efesus dahulunya hidup di dalam kegelapan. Mereka melakukan berbagai perbuatan yang membuat murka Allah dan selayaknya mereka mendapatkan penghukuman. Semua hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak mengenal Kristus Yesus yang membawa terang ke dalam hidup mereka. Sebagai orang yang sudah menerima terang dan hidup di dalam-Nya, maka kita dan mereka dipanggil untuk memiliki pola hidup yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya dan terus dalam kegelapan. Melalui nas minggu ini kita diberi pelajaran bagaimana kita hidup sebagai anak-anak terang dan apa tanggung jawab kita setelah menerima terang itu.

 

Pertama: Kamu dahulu adalah kegelapan (ayat 8-9)

Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya, hidup di dalam kegelapan berarti terlibat percabulan dan rupa-rupa kecemaran, perkataan yang kotor, kosong atau yang sembrono tidak pantas, menjadi orang sundal, cemar atau serakah, penyembah berhala, atau tersesat dengan kata-kata yang hampa. Dalam ayat 15 disebutkan juga hidup seperti orang bebal dan dalam pengaruh anggur yang memabukkan (ayat 18). Seseorang yang berada dalam kegelapan tidak hanya terjebak dalam situasi yang menjerat keadaannya saat ini, sebab dalam kegelapan ia tidak hanya kehilangan orientasi situasi keberadaannya, tetapi juga arah pengharapan yang benar akan langkah selanjutnya dalam tujuan hidupnya. Ia hanya bisa meraba-raba tanpa penglihatan, dengan kemungkinan jatuh ke situasi yang lebih buruk. Jalan keluar seolah suram kelam dan oleh karena itu seseorang yang berada dalam kegelapan sangat membutuhkan terang cahaya agar bisa keluar dan melangkah ke tempat yang lebih aman. Seseorang yang hidup dalam kegelapan (kejahatan) sangat membutuhkan terang cahaya kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Kristus.

 

Hidup di dalam kegelapan dan terang memberi kontras dan perubahan dari beberapa kondisi sebagai berikut:

 

Saat di kegelapan                                         Saat di terang

•          Mati dalam penghukuman             Hidup oleh kasih Kristus

•          Sasaran murka Allah                                   Memperoleh kasih Allah dan 

keselamatan

•          Mengikuti jalan dunia                                 Berdiri teguh dalam Kristus dan

kebenaran

•          Musuh Allah                                                 Anak-anak Allah

•          Menjadi budak setan                                   Bebas dalam Kristus mengasihi, 

melayani dan diam bersama-Nya

•          Jatuh dalam keinginan jahat                      Bangkit bersama Kristus dalam

kemegahan

 

Sebagai orang yang sudah menerima dan beriman pada Kristus dan menerima terang-Nya, maka kini seluruh kegiatan hidup kita harus mencerminkan iman tersebut. Dengan menjadi percaya dan berada dalam terang, kita harus hidup di atas standar moral orang lain yang hidup dalam kegelapan, sehingga dapat memancarkan kebaikan Allah bagi orang lain (band. Khotbah Yesus di bukit Mat. 5:15-16). Hidup sebagai anak-anak terang berarti kita menempatkan diri sebagai orang bertobat, dengan tingkah laku kepribadian yang diperbaharui sesuai dengan kedudukan kita sebagai anak-anak Allah. Kita yang sudah menerima pengampunan perlu menjaga kekudusan dan kebesaran Allah melalui cerminan diri kita, dengan memperlihatkan hadirnya Roh Kudus dalam hati dan menghasilkan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23; Mat. 7:16-20). Demikian kerasnya peringatan dalam nas ini hingga mengatakan bahwa kita pun tidak boleh berkawan dengan mereka, dalam arti bergaul secara aktif dalam kehidupan sehari-hari tanpa tujuan untuk mengubah mereka.

 

Kedua: Ujilah yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10)

Dalam ayat 1-7 diberikan perbandingan kontras antara hidup dalam kegelapan dan terang untuk memudahkan kita melihat perbedaan nyata antara keduanya. Hidup sebagai anak-anak terang artinya berperilaku di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kita, jauh dari kecemaran sepatutnya orang-orang kudus, dan terus-menerus mengucap syukur. Hidup di dalam terang berarti berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, hidup seperti orang arif dengan mempergunakan waktu yang ada karena menyadari hari-hari sekarang ini adalah jahat, terus berusaha mengerti kehendak Tuhan, serta penuh dengan Roh. Hidup di dalam terang diungkapkan melalui mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani, serta segenap hatinya bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan. Dengan demikian, sungguh sangat jelas bagaimana kita hidup di dalam terang tersebut.  

 

Namun kadang batas gelap-terang ini dibuat samar atau abu-abu seolah tidak bisa membedakan antara hitam dengan putih (perumpamaan kegelapan sebagai hitam dan kebaikan sebagai putih). Mungkin kita berdalih atau mencari alasan-alasan khusus yang mencoba membela diri dengan mencari pembenaran atau pemaafan bahwa kita “harus” atau “terpaksa” melakukan tindakan kegelapan, dengan alasan hanya sementara. Untuk itu firman Tuhan ini mengingatkan bahwa melakukan itu perlu diuji, apakah memang itu tujuan utama kita. Dalam beberapa situasi, kisah Robin Hood perampok untuk membagikannya kepada kaum miskin dapat “dibenarkan”. Namun kalau kemudian kita ikut hidup menikmati hasil kejahatan itu maka tujuan mulia itu sudah tercemar. Demikian pula motivasi dalam melakukan perbuatan terang itu, untuk mendapatkan pujian dan kemegahan diri sendiri, atau semua itu kita serahkan bagi kemuliaan nama-Nya, dengan prinsip “biarlah Ia menjadi besar dan aku menjadi kecil” (Yoh. 3:30). 

 

Demikian pula penonjolan diri sebagai individu atau kelompok. Kita sebagai orang percaya harus memperlihatkan suatu persekutuan orang percaya yang saling mendukung, yakni dalam kesatuan sebagai berikut:

•          Satu dalam Allah, Allah Bapa yang memelihara kita hingga kekekalan

•          Satu dalam Tuhan, Kristus dan kita adalah milik-Nya

•          Satu dalam Roh, Roh Kudus yang menghidupkan dan berbuah

•          Satu dalam iman, komitmen tunggal kita pada Kristus

•          Satu dalam tubuh, persekutuan orang percaya yakni gereja

•          Satu dalam baptisan, tanda dipersatukan dengan Allah melalui gereja-Nya

•          Satu dalam pengharapan, kemegahan dalam masa mendatang 

 

Apabila kita menamakan diri sebagai orang percaya dalam kasih Yesus, tetapi masih saling menjelekkan atau meninggikan denominasi gereja tempat kita bersekutu, maka sebenarnya kita melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Terang yang kita bawa harus mampu membedakan dengan jelas tentang yang baik dan apa yang buruk.  Ukuran dan pengujian sebenarnya adalah: apakah semuanya untuk menyenangkan hati-Nya dan kemuliaan-Nya? 

 

Ketiga: Telanjangilah perbuatan kegelapan itu (ayat 11-13)

Kitab Efesus secara umum dari awal menekankan setiap anak-anak Allah bukan saja dipanggil sebagai anak-anak kekasih Allah dan penurut, tapi juga harus menjadi prajurit Allah (Ef. 6:11-13; band. 2Tim. 2:3). Dengan demikian kita dipanggil tidak hanya untuk menikmati hidup di dalam terang dan bersekutu untuk mendapatkan sukacita semata, akan tetapi kita dipanggil untuk berjuang bagi terang yang lebih besar. Standar norma hidup kristiani yang tinggi harus diperlihatkan pada semua orang. Firman Tuhan mengajarkan, “Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” (Luk. 11:33). Pada bagian lain dikatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:5). Standar kebaikan, keadilan dan kebenaran merupakan kaidah yang dapat dipegang. Sama seperti yang dikatakan melalui tiga filter penguji dari Socrates sebelum kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, perlu kita ketahui terlebih dahulu apakah hal itu: benar, baik, dan membawa manfaat. Bahkan dalam ayat minggu ini dikatakan, menyebutkan atau sekadar membicarakan perbuatan-perbuatan jahat itu di tempat-tempat tersembunyi, dalam arti gosip atau bisik-bisik itu dilarang.

 

Rasul Paulus menginstruksikan kita untuk membuka atau menelanjangi perbuatan-perbuatan ini, seperti seorang peniup pluit (whistle blower), sebab diamnya kita bisa dianggap setuju dengan perbuatan itu. Allah menginginkan setiap orang berdiri di atas kebenaran dan setiap orang percaya harus berbicara keras tentang hal yang benar dan baik. Kita harus menentang dan mengungkapkan kejahatan sehingga kejahatan itu tidak berkembang seperti virus yang menjalar kepada orang lain bahkan ke seluruh tubuh masyarakat (Mzm. 94:16). Sikap memihak kepada Allah harus terlihat benar-benar membenci dosa dan bukan abstain atau netral. Sikap menjauhi mereka juga bukan dalam arti kita tidak peduli terhadap perbuatan mereka, melainkan membenci perbuatannya dan bukan orangnya. Semoga dengan sikap kasih dan siap mengampuni itu mereka dapat melihat terang yang sangat indah sehingga mereka bertobat dan menikmati terang itu. Sikap kita harus optimis seperti kata firman, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5; 3:19-21; 1Yoh. 1:5-7).

 

Sikap kita harus tegas dan tidak boleh mendua atau munafik, dalam arti kata tidak samanya kata dengan perbuatan, tidak samanya hakekat dengan tampilan. Adalah terlihat aneh ketika kita hidup sebagai seorang prajurit/perwira, tapi tingkah laku kita bagaikan seorang artis selebritis “murahan”. Kepatuhan menjadi hal yang utama untuk terus menjadi sempurna. Kesalahan dan ketidak sempurnaan sesaat karena kekhilafan harus diperlihatkan dengan sikap penyesalan dalam. Memberi contoh buruk menjadi dosa yang buruk. Kita tidak bisa mengekspresikan diri sebagai seorang dokter atau atlit tapi pola hidup kita tidak terjaga sehat. Bila kita melakukan hal itu maka bukan saja kita mempermalukan Kristus yang telah menolong kita, tetapi kita juga menjadi bahan olok-olok dan tertawaan. Kehadiran kita sebagai terang haruslah merupakan model dan teladan yang merupakan teguran bagi sekitar kita yang hidup dalam kegelapan, meski tampak luar kita dibenci oleh mereka (Yoh. 7:7; 15:18). 

 

Keempat: Bangunlah, hai kamu yang tidur (ayat 14)

Mereka yang hidup terus di dalam kegelapan akan mendapatkan hukuman dari Allah (1Kor. 6:9-10), sementara mereka yang setia dan terus berupaya hidup di dalam terang Kristus akan mendapat kasih Allah hingga kekekalan. Mereka yang tadinya terlelap dalam waktu yang sia-sia diminta menggunakan waktu secara efektif untuk melakukan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka yang terlelap dan tertidur diminta bangun melihat terang dan melayani Tuhan. Jadi dalam hal ini mereka tidak tertidur dan memahami bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan tidak berbuahkan apa-apa, sehingga harus menghindarinya, dan meninggalkan perbuatan kesenangan yang menghasilkan dosa (1Tes. 5:5).

 

Kalimat “Bangunlah….” ini tampak bukan kutipan langsung dari Perjanjian Lama, tetapi mungkin dari sajak atau lagu-lagu yang cukup dikenal oleh orang Efesus saat itu. Kalimat itu mungkin dilatarbelakangi oleh kitab Yesaya (26:19; 51:17; 52:1; 60:1) dan Mal. 4:2, yang dipakai saat pembaptisan keluar dari air. Baptisan saat itu dipakai juga bagi mereka yang bertobat dari penyambahan berhala, dan keberadaan mereka dalam kegelapan berhala itu dianggap tertidur dan saat dibaptis menjadi terbangun. Oleh karena itu Rasul Paulus mendorong orang Efesus untuk bangun dan bangkit dan menyadari kondisi yang berbahaya bagi mereka, khususnya yang sudah terjatuh tergelincir (band. Rm. 13:11). Terang yang dibawa Kristus memiliki daya untuk membangkitkan, membersihkan dan memulihkan dan siap menjadi berkat bagi semua orang.

 

Dalam ayat berikutnya disebutkan agar kita yang menerima terang itu bersikap seksama hati-hati di tengah-tengah zaman yang jahat, dengan mempergunakan waktu sisa yang ada dan sangat berharga bertindak sebagai prajurit Kristus, membangunkan orang-orang untuk melihat terang dari Kristus (Yes. 60:1). Ada tiga hal katanya di dunia ini yang sekali kejadian tidak pernah kembali, yakni waktu, kesempatan dan ucapan (khususnya yang salah menyakitkan). Waktu dan kesempatan adalah anugerah yang kita miliki namun berlalu sangat cepat dan tidak bisa kembalikan. Oleh karena itu di tengah waktu yang terus berjalan dan kesempatan menabur dan menuai selalu terbuka, kita membiasakan ucapan yang menyenangkan, dan merapat ke dalam barisan prajurit Kristus sehingga melalui terang dan pelayanan kita nama Tuhan dimuliakan. 

 

Penutup

Sebagai anak-anak terang kita harus hidup jauh dari kegelapan yang membuat hati Allah bersedih. Kita sebagai umat-Nya hendaklah meneladani Yesus Kristus dengan hidup sesuai dengan panggilan kita. Semua yang kita lakukan pun sebagai perbuatan terang perlu diuji apakah sesuai dengan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya, berdasarkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi teladan dan model sebagai orang yang sudah menerima kasih dan pengampunan, tetapi kita juga dipanggil untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan orang lain agar itu tidak menjadi virus menular bagi yang lain. Tindakan itu sekaligus untuk membuktikan bahwa kita sebagai prajurit Allah yang siap untuk membangunkan orang lain agar tidak terjerat dalam kegelapan, dan mereka dapat menikmati terang yang membebaskan dan menikmati kasih Allah yang berkelimpahan sebagai anak-anak terang. Naikkanlah doa kepada Tuhan agar kita dibimbing-Nya ke arah hidup terang sehingga dapat mengerti rencana indah-Nya. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah (2) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 2

 

GADA DAN TONGKAT (Mzm. 23)

 

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

 (Mzm. 23:4)

 

 

Firman Tuhan di Minggu IV Paskah hari ini diambil dari Mzm. 23. Nas ini sangat populer bagi orang Kristen, selain Yoh. 3:16 dari PB. “TUHAN, gembalaku yang baik,” itulah judul perikopnya.

 

Mazmur ini mengungkapkan keteguhan iman dalam menjalani kehidupan. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” sebutnya (ayat 1). Bahasa yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan iman seperti itu tidak ada lagi keraguan, tanda-tanya, atau kebingungan yang menguasai hati pikiran. Benar kata firman, iman membuat Tuhan berkenan (Ibr. 11:6; Hab. 2:4). Keteguhan iman selalu berbuahkan perasaan damai sejahtera, sukacita, puas dan kepenuhan. Bayangan ketenangan pun menguasai pikiran, 

 

“Tuhan membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (ayat 2-3a). Bagi seorang yang menggembalakan domba di padang-padang tandus di Israel, gambaran ini sangat indah dan sungguh menyejukkan.

 

Tuhan tentu tidak menjanjikan perjalanan hidup semuanya indah, tanpa gelombang. Kadang ada badai, melewati lembah kekelaman dalam istilah nas ini atau dalam tafsiran lain disebut sebagai lembah bayang-bayang maut termasuk menghadapi kematian. Tetapi ada keyakinan pemazmur bahwa Tuhan menuntun, berjalan bersama kita di jalan yang benar sehingga kita pun tidak takut bahaya (ayat 4a).

 

Gelombang kehidupan adalah kasih sayang Tuhan untuk mendisiplinkan kita sebagai kepunyaan-Nya dengan memakai gada dan tongkat, yang dilihat pemazmur sebagai alat pertolongan dan menghibur (ayat 4b). Gada adalah pemukul pendek yang dipakai gembala sebagai alat pertahanan dan pendisiplinan domba. Tongkat adalah simbol pertolongan yang melengkung di ujungnya, untuk menarik leher domba ke jalan yang benar. Gada dan tongkat sekaligus simbol kuasa dan kekuasaan Tuhan (Kej. 49:10; Ayub 9:34). Hal yang menarik, gada terlebih dahulu disebut, baru tongkat. Oleh karena itu untuk memperoleh pertolongan Tuhan, kita perlu disiplin dan taat dalam kuasa serta penggembalaan-Nya. 

 

Alkitab menjelaskan bahwa kekelaman atau bayang-bayang maut terjadi ketika kita jatuh, dalam pergumulan berupa sakit yang berat, kondisi ekonomi yang sulit, anak/keluarga yang bermasalah serius, cekcok dengan orang lain, dan bentuk lainnya. Situasi ini sering mendorong iblis untuk membujuk kita agar kecewa terhadap Tuhan. Tetapi pemazmur mengatakan, ia tidak pernah ditinggalkan dan berkekurangan. ”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (ayat 5). Sebuah penegasan kembali, sebab Tuhan berkenan dan memenuhi semua kebutuhan (bukan keinginan), ketika kita dalam lembah kelam termasuk menghadapi musuh. Piala dalam nas ini menggambarkan batu besar yang berlubang, tempat minum domba-domba. Gembala yang baik memang menyediakan segala keperluan dombanya.

 

Puncak kerinduan setiap orang percaya adalah hidupnya selamat, di dunia ini dengan penuh berkat hikmat dan keperluan tubuh dan jiwa; selamat juga kelak di akhirat bertemu Tuhan dan orang-orang yang dikasihi. Membayangkan hal itulah pemazmur mengungkapkan di ayat terakhir, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

 

Adakah sukacita hidup yang melebihi semua itu? Saya kira, tidak ada. Ya, ayo jalani hidup kita ini tidak hanya mengandalkan pikiran, tetapi mengikuti Penuntun yang hidup, Gembala yang Baik. Itulah Yesus Tuhan yang berkata: “Akulah Gembala yang baik....” (Yoh. 10:14).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Kabar dari Bukit, Minggu, 8 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 

 MELEMBUTKAN KEKERASAN HATI (2 Yohanes 1:1-13)

 

 "Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ”Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku” 

 (Mzm. 95:11)

 

Tentu kita sering ikut beribadah, baik di hari Minggu atau persekutuan lainnya. Ini merupakan ekspresi menguduskannya, memberi waktu kita kepada Tuhan, memuliakan-Nya, dan tentu membawa juga setiap pengharapan dan pergumulan kita dalam kehidupan ini.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 95; 11 ayat, judul perikopnya: Hormatilah Tuhan dan taatilah Dia. Mazmur yang ditulis Raja Daud ini (Ibr. 4:7) merupakan ajakan dan pelajaran yang mengingatkan agar ibadah kita tidaklah ritual formal lahiriah semata. Kita mendengar firman Tuhan, tetapi tidak ada respons yang muncul di hati kita. Khotbah hanya menjadi informasi dan pengetahuan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah hati (2Tim. 3:5). Sepulang dari ibadah, tidak ada komitmen untuk membuat perubahan atas sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman-Nya.

 

Beribadah memang memperlihatkan rasa syukur dan sukacita (ay. 1-2). Kita kagum atas perbuatan Tuhan, Raja yang besar dan berkuasa atas seluruh ciptaan (ay. 3-5). Di dalam ibadah kita juga diminta untuk bersujud menyembah dan berlutut sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sikap sukacita kita jangan sampai menghilangkan rasa 

hormat kepada-Nya. Kita sadar bahwa Dia yang menjadikan kita, sebagai umat gembalaan-Nya

dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya (ay. 6-7a).

 

Dalam ibadah kita mendengar suara-Nya, melalui firman yang disampaikan (ay. 7b). Ketika firman kebenaran itu disampaikan, perlu merefleksikan ke dalam diri kita. Periksa sikap dan perbuatan kita yang belum sesuai dengan suara Tuhan. Nas ini mengingatkan, janganlah keraskan hatimu (ay. 8b).

 

Kekerasan hati yang dicontohkan adalah peristiwa di Masa dan Meriba, ketika umat Israel meragukan Tuhan, bersungut-sungut, bahkan mencobai Tuhan (ay. 8-10; Kel. 17:1–7; Bil. 20:1–13). Mungkin kita juga saat ini sedang mengeraskan hati kita, bersikap tidak mau berubah, merasa biasa dan aman saja, sementara kita masih mudah menyakiti hati orang lain, tidak peka, masih membenci seseorang dan tidak memperlihatkan kasih. Padahal, kasih adalah perintah utama bagi pengikut Kristus.

 

Bisa saja kita beralasan sesuatu. Namun perlu kita tahu penyebab hati menjadi keras dan dampaknya. Peristiwa di Masa dan Meriba jelas merupakan kekerasan hati yang bersikap memberontak, tidak tunduk kepada Allah. Kekerasan hati merupakan penolakan dan tidak mau taat. Keras hati menunjukkan hati yang jahat dan tidak percaya, sama dengan sesat hati dan murtad (ay. 10; Ibr. 3:12–13). Terakhir, kekerasan hati memperlihatkan sikap mengandalkan kekuatan sendiri dan membuatnya ilah yang lain.

 

Sikap keras hati bisa tersembunyi, tenggelam dalam hati yang tersamar. Tetapi nas minggu ini mengingatkan dampaknya kena murka Allah, yakni “mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Ku", tanah Kanaan (ay. 11); yang dalam PB dituliskan sebagai kehilangan berkat, keselamatan dan hidup kekal (Ibr. 4:6-11). Dan ditekankan juga perubahan itu harus HARI INI. Jangan menunda, menyimpan dosa terselubung, defensip, hati yang tertutup.

 

Mari kita lembutkan hati kita melalui sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, pertobatan yang jujur, mendengarkan firman Tuhan dengan hati terbuka, mau ditegur untuk memperbarui kehidupan. Mari kita ingat kebaikan Tuhan dan hidup dalam persekutuan yang saling mengasihi sehingga Tuhan memberi hati yang murni diperbarui kepada kita (Yeh. 36:26).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (3) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 3

 

PERGUMULAN DAN KESAKSIAN (Yoh. 9:1-41)

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu IV Pra Paskah dari Yoh. 9:1-41. Ini kisah yang panjang tentang Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir, hingga berkembang ke masalah melakukan pekerjaan di hari Sabat. Tentang orang yang lahir buta, murid-murid bertanya kepada Yesus: "Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (ayat 2). Hal seperti ini tentu juga kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, ketika sebuah pergumulan penderitaan datang, dapat berupa sakit, kecelakaan membuat cacat fisik, atau penderitaan berat lainnya ke dalam kehidupan kita pribadi, keluarga atau sahabat. 

 

Apa dosaku? Apa dosa orang tuaku, sehingga aku/dia mengalami hal seperti ini? Itu pertanyaan lumrah yang manusiawi. Dan Tuhan Yesus menjawab dengan sangat tegas dan mencerahkan melalui nas ini: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ayat 3). Artinya, dalam setiap situasi, Allah dapat bekerja untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya, meski dalam penglihatan manusia itu berupa penderitaan fisik atau jiwa.

 

Betul, Alkitab berkata dosa membawa konsekuensi ke anak cucu, sebagaimana isi hukum Taurat kedua (Kel. 20:7) dan pengakuan Raja Daud, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku" (Mzm. 51:5). Tetapi ketika kita di dalam Tuhan Yesus, rantai dosa ini telah putus oleh penebusan-Nya atas segala dosa-dosa kita termasuk dosa turunan, melalui baptisan dan pengakuan percaya, serta kita pun terus berusaha taat kepada-Nya. Dan, kita juga setia menyatakan pekerjaan Allah di sekitar kita.

 

Tantangan dan godaan selalu ada. Dalam nas ini, kaum Farisi ingin menjebak Tuhan Yesus dengan alasan melakukan pekerjaan di hari Sabat (penolakan yang sama pada penyembuhan di kolam Betesda, Yoh. 5:1-18). Orang yang dicelikkan matanya itu pun terus didesak untuk menyudutkan Yesus, tetapi justru pengakuannya menjadi kesaksian bagi yang mendengar (ayat 11, 17). Bahkan ia mengatakan: "Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.... Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 31, 33). Ia bersaksi tentang Yesus meski ia harus dibuang dari kelompoknya (ayat 34).

 

Di tengah masalah pandemic Virus Corona 2019 yang menakutkan dunia, kita perlu bersaksi mengikuti perkataan Tuhan Yesus di ayat 3-4: "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” 

 

Banyak hal yang orang percaya dapat perbuat sebagai kesaksian pekerjaan Allah, menjadi terang bagi sesama. Berkarya nyata, dan bukan dengan sombong rohani seolah-olah menguji Tuhan mengabaikan bahaya. Bagi yang tidak melakukan dan hanya takut semata atau mementingkan diri sendiri, kita juga diingatkan-Nya dalam ayat 41 terakhir: “Sekiranya kamu buta (tidak tahu - penulis), kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (band. Yak. 4:17). Nah, apapun pergumulan kita, jadikanlah itu kesaksian untuk kemuliaan-Nya. Itulah jalan menyenangkan hati Tuhan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026

Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026

 KETEKUNAN, TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Rm. 5:1-11)

Bacaan lainnya: Kel. 17:1-7; Mzm. 95; Yoh. 4:5-42

 

Pendahuluan

Minggu ini kita kembali diberikan peneguhan bahwa melalui iman kepada Tuhan Yesus kita banyak menerima berkat. Berkat anugerah itu tidak hanya kita dibenarkan, tetapi juga berbagai berkat yang disediakan Allah bagi kita yang setia dan mengasihi-Nya. Selain kita diberi keselamatan, kita juga dibebaskan dari murka Allah masa kini maupun masa mendatang, dan terutama Roh Kudus dicurahkan untuk menolong kita dalam mengarungi kehidupan ini. Melalui nas yang kita baca minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.

Pertama: Perdamaian sebagai buah pembenaran (ayat 1-2)

Nas ini kembali menegaskan bahwa melalui iman kita dibenarkan dan karena kita dibenarkan ternyata berkat-berkat anugerah tidak berhenti di situ saja; dengan dibenarkan kita juga diperdamaikan dengan Allah dan itu merupakan jalan masuk dan jaminan keselamatan yang diberikan. Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita akan masuk ke dalam kasih karunia Allah yang semakin sempurna dengan menikmati damai sejahtera dengan Dia. Kalau selama ini tidak ada yang dapat menghampiri Allah, melalui pendamaian manusia tidak lagi memerlukan perantara imam untuk datang kepada Allah, sehingga terjalin persekutuan langsung manusia dengan-Nya (band. Ef. 3:12). Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita juga memiliki penyertaan Roh Kudus, bebas dari hukuman murka Allah, dan pengharapan akan kemuliaan-Nya. Kita berdamai dengan Allah bukan dalam pengertian rasa damai biasa di hati seperti keteduhan dan ketenangan. Damai dengan Allah berarti terjadi rekonsiliasi dengan Pencipta kita, Tuan dan sekaligus Tuhan kita. Tidak ada lagi permusuhan antara kita dengan Dia, tidak ada lagi dosa yang membentengi hubungan kita dengan-Nya. Damai dengan Allah itu terjadi hanya karena Yesus telah membayar lunas dan menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib.

Pembenaran dan perdamaian dengan Allah ini memuat konsep yang penting dan mengantarkan kita pada dua jenis kehidupan orang Kristen. Di satu sisi kita sepenuhnya berada di dalam Kristus, yang berarti penerimaan kita pada-Nya dijamin, dan di sisi lain kita juga bertumbuh di dalam Kristus dengan pengertian yang semakin hari harus semakin sama dengan Dia. Kita juga diberikan dua status sekaligus, yakni menjadi anak-anak Raja tetapi juga sebagai hamba kerajaan. Dalam hal ini kita merasakan dua hal yang bersamaan setiap saat: kehadiran Kristus yang memberi rasa damai dan tekanan kedagingan dari iblis untuk keinginan berbuat dosa. Kita bisa merasakan damai sejahtera dari Allah karena kita sudah diterima-Nya, tetapi kita juga masih hidup di dunia ini dengan permasalahan dan pergumulan sehari-hari. Padahal, semestinya permasalahan dan pergumulan itu menjadi cara dan jalan bagi kita untuk bertumbuh menjadi sama dengan Dia, namun ada juga di antara kita yang jatuh menuruti kehendak iblis dan daging sehingga membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Apabila kita memahami dua sisi kehidupan orang Kristen ini dalam keseharian kita, maka sebenarnya kita tidak mudah berputus asa dalam setiap pergumulan dan permasalahan yang datang, melainkan kita belajar untuk berserah dan bergantung pada kekuatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Roh Kudus yang diam dalam hati kita.

 

Nas firman Tuhan ini juga menyatakan bahwa sebagai orang percaya, kita berdiri di tempat yang tinggi dan diistemewakan. Kita diperdamaikan dan sekaligus mengambil bagian dalam kemuliaan Allah. Ini terjadi bukan hanya karena kita sudah dinyatakan tidak bersalah, tetapi juga karena Tuhan menarik dan merangkul kita lebih dekat kepada-Nya. Kita tidak lagi menjadi seteru-Nya tetapi menjadi sahabat-Nya dan bahkan menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 15:15; Gal. 4:5). Hubungan yang sudah terputus dan tertutup karena dosa kini dipulihkan melalui jalan yang dibuka Yesus Kristus dengan kematian-Nya. Dia yang betakhta Raja kini membuka diri-Nya, dan kita tadinya sebagai seteru kini sebagai sekutu. Inilah jalan masuk ke dalam kasih karunia yang begitu besar sebagai buah kita dibenarkan karena iman dan kebenaran itu menuntun kita kepada iman yang berbuah untuk menjadi berkat bagi orang lain.

 

Kedua: Kesengsaraan membawa ketekunan dan tahan uji (ayat 3-4)

Bagian terakhir dari berkat-berkat anugerah yang disediakan dari hasil pembenaran itu memampukan kita bermegah dalam kesengsaraan. Ini mungkin sesuatu yang aneh, sesuatu yang dianggap salah; bagaimana kita bisa bermegah dalam kesengsaraan? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita bermegah dan bersukacita di dalam penderitaan, bukan karena kita menyukai penderitaan itu atau menolak pandangan bahwa bagaimanapun penderitaan adalah sebuah tragedi. Akan tetapi, kita berani bermegah karena tahu bahwa Allah yang baik itu menggunakan penderitaan yang kita alami (dan/atau setan yang menyerang) bertujuan membangun karakter kita. Permasalahan dan pergumulan yang kita harus hadapi dan menangkan akan membangun ketekunan dan tahan uji, yang sekaligus menguatkan karakter kita, mempertebal iman percaya kepada Allah dan memberi kita keyakinan akan pengharapan masa depan. Kita pasti dihadapkan dengan persoalan ini setiap hari dalam tingkatan yang kecil sampai besar, maka berterimakasihlah kepada Allah untuk kesempatan bertumbuh, dan bekerjasama dengan-Nya dalam mengatasi persoalan itu sampai menang (band. 1Pet. 1:6-7).

Dalam abad-abad awal masehi kehidupan kekristenan penuh dengan penderitaan. Semua rasul dibunuh atau mati dengan cara-cara yang kejam dan menyedihkan. Orang-orang percaya harus melarikan diri dari kejaran pembenci pengikut Yesus. Kisah-kisah menyedihkan orang Kristen seperti tubuhnya dibakar untuk dijadikan obor penerang sudah pernah kita dengar. Oleh karena itu, penderitaan bagaikan sebuah hal yang umum dan bukan sebuah pengecualian. Tapi melalui firman Tuhan ini kita diajar bahwa untuk kita "menjadi" berhasil di masa mendatang itu kita harus "jadi" (to become we must overcome). Artinya, kita harus menjalani pengalaman-pengalaman yang sulit untuk lebih bertumbuh, pengalaman penderitaan dan ujian dalam bentuk kesusahan, seperti penyakit tubuh, keuangan, penindasan dan ketidakadilan bahkan kesepian dan kesendirian. Semua ini menantang kita untuk bertekun, bukan berputus asa atau mengeluh, apalagi menghujat pihak lain (Yak. 1:2-4, 12). Yang penting dari semua itu adalah kita mengimani kalau kesengsaraan yang datang adalah sepengetahuan Allah.

Paulus menyatakan dalam 1Kor. 13:13 bahwa iman, pengharapan dan kasih adalah inti dari kehidupan Kristiani. Hubungan kita dengan Allah didasari oleh iman, yang menolong dan menyadarkan kita bahwa hidup kita harus siap dengan segala rencana Tuhan, baik dipakai melalui sukacita dan ujian. Ketekunan di sini melebihi kesabaran, sama dengan semangat tidak mau menyerah dan daya juang yang tinggi, dan melalui ketekunan itulah kita mendapatkan tahan uji, dalam arti kita mampu melewati ujian yang diberikan dengan kemenangan. Tahan uji berarti bebas dari kotoran yang mengganggu dan handal terpercaya dalam setiap situasi, tidak berputus asa, dan hal seperti inilah yang kemudian menimbulkan pengharapan akan hari esok yang lebih baik dan cemerlang. Jadi, dalam hal ini ada hubungan segaris antara penderitaan – ketekunan – tahan uji – dan pengharapan. Pengharapan itu hadir dan bertumbuh sebab melalui penderitaan kita mempelajari semua yang telah direncanakan oleh Tuhan bagi kita; itu memberi kita janji yang penuh keyakinan akan masa depan. Kasih yang Allah berikan untuk mengisi hidup kita akan memberi kita kemampuan untuk membaginya dengan orang lain.

 

Ketiga: Kasih Allah tercurah di hati kita (ayat 5-8)

Firman Tuhan mengatakan "ketika kita masih orang berdosa" Yesus mati bagi kita, ini jelas sebuah kalimat yang indah dan bukti konkret tentang kasih yang besar. Kalau seseorang berkorban bahkan mati untuk membela orang benar, itu sesuatu yang biasa dan lumrah. Tetapi Yesus mati bagi kita yang durhaka dan orang tidak benar, jelas itu perbuatan yang tidak terkira, karena kita tidak layak menerimanya. Bahkan semua kematian dan penebusan Yesus itu terjadi bukan karena kehebatan perbuatan kita, tetapi hanya karena Allah mengasihi kita. Atau, apakah mungkin kita ragu? Maka apabila kita merasa goyang atau tidak yakin bahwa Allah mengasihi kita sedemikian besar, ingatlah bahwa Allah sebenarnya mengasihi kita sebelum kita bertobat. Jika Allah mengasihi kita pada saat kita masih durhaka, maka kita kini diyakinkan akan kasih-Nya, dan kita cukup membalasnya dengan kasih kepada-Nya.

Kita mungkin merasa lemah dan putus asa karena kita tidak melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan dan apa yang kita terima untuk menolong diri kita sendiri. Kita mungkin hanya mengeluh, menyesali, menyalahkan atau bahkan kemudian tidak percaya ada Allah melalui Roh Kudus yang sedia membantu. "Sesuatu" perlu datang untuk menolong dan menyelamatkan kita yang lemah. Pengertian lemah di sini mengacu pada moral dan rohani, meski kadang dalam pengertian tubuh dan jiwa. Kristus terbukti datang memberi pertolongan pada saat yang tepat sesuai sejarah 2000 tahun yang lalu, tetapi Ia juga datang tepat pada saatnya sesuai dengan waktu terbaik dari Tuhan. Memang kadang kita tidak sabar atau ingin lari mencari pertolongan lain, tetapi tetaplah sabar dan bertekunlah hingga waktu terbaik dari Tuhan itu dinyatakan. Allah mengendalikan waktu dan sejarah, mengontrol setiap cara, gerak dan metode yang pas bagi kita untuk keluar dari persoalan yang ada.

Allah Tritunggal terlibat dalam peristiwa keselamatan. Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjembatani hubungan kita yang berdosa dengan Dia (Yoh. 3:16). Kasih Allah memang sungguh luar biasa, bahkan kasih itu tidak berhenti sampai di situ. Untuk memperlihatkan kasih-Nya tidak sesaat melainkan selamanya, Allah Bapa dan Allah Anak mengirimkan dan mencurahkan Roh Kudus mengisi hati kita dengan penuh kuasa dan memampukan kita hidup dengan kuasa-Nya (Kis. 1:8). Kata dicurahkan dalam nas ini berarti keadaan yang berlangsung terus menerus tanpa henti. Dengan demikian, Roh Kudus yang tercurah hadir untuk menghibur kita dalam setiap pencobaan dan mendukung dalam setiap keadaan, sehingga segala persoalan dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (Flp. 4:13). Dengan semua kasih yang besar tercurah dari Allah, bagaimana kita tidak mau melayani Dia dengan sepenuh hati sebagai balasan kasih-Nya?

 

Keempat: Kasih Allah menyelamatkan kita dari murka-Nya (ayat 9-11)

Kasih yang menyebabkan kematian Yesus sama dengan kasih yang Allah berikan melalui Roh Kudus yang hidup di dalam hati kita dan siap memimpin dan menyertai kita dalam hidup ini. Kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian adalah sama dengan kuasa yang menyelamatkan hidup kita dari dosa-dosa, dan sama dengan kuasa yang memimpin keseharian kita. Dengan memulai hidup dengan Kristus, kita akan memiliki kuasa dan kasih besar yang siaga saat menghadapi pergumulan hidup setiap hari. Melalui iman kepada penebusan Kristus, kita menjadi dekat dan berkonsiliasi dengan Allah, bukan lagi menjadi musuh atau menjadi orang yang terbuang.

 

Allah itu kudus dan tidak berinteraksi dengan dosa. Semua manusia telah berdosa dan terpisah dari Allah dan ini membuat kita melanggar kekudusan Allah. Dosa juga membawa penghukuman berupa murka Allah, bukan saja saat ini, tapi juga pada masa penghakiman kelak. Dan sebagai orang berdosa, sudah sepatutnya kita dihukum melalui kematian dan penderitaan selama-lamanya dengan ditempatkan di neraka. Namun Kristus telah mengambil semua ini dengan mengalami kematian dan penderitaan di atas kayu salib. Dengan penebusan itu kita diluputkan dari murka-Nya dan bahkan terbebas dari belenggu dosa yang selalu menjerat. Kita dimampukan melalui kekuatan Roh Kudus untuk melawan iblis sehingga kita terbebas dari kuk dosa yang jahat. Roh Kudus dicurahkan dalam hati kita agar hidup kita bebas dari kuasa dosa, belenggu hukum Taurat, murka, dan dari kuasa maut. Kita juga akan bebas dari “hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan kemuliaan kekuatan-Nya” (2Tes. 1:9). Oleh karena itulah kita bersukacita d idalam Kristus.

Bagian terakhir dalam nas ini menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Yesus yang telah mati dan bangkit kembali hidup, itu adalah bukti kekuasaan Allah ada pada-Nya dan kemenangan atas kematian (1Kor. 15:55). Dengan Yesus hidup bangkit dari kematian, maka kita menjadi selamat dan hidup selamanya. Dengan dasar itulah kita layak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus. Kita bermegah diselamatkan bukan karena kehebatan kita, bukan karena kekuatan atau prestasi dan perbuatan kita, melainkan hanya karena kasih-Nya. Kita juga bermegah karena kita memperoleh pengharapan kemuliaan bersama-Nya kelak, ketika Yesus Tuhan kita akan datang kembali untuk menyatakan kuasa-Nya (Kol. 3:4). Pengharapan ini tidak mengecewakan sebab dasarnya adalah kasih Allah. Ini hal yang paling prinsip dalam memahami keselamatan, bahwa penyelamatan itu menyeluruh. Dengan demikian, sungguh Allah itu kasih, dan kita dipanggil untuk terus beriman dan berdoa agar kuasa dan kasih itu tetap hidup dan merajai hidup kita setiap saat.

 

Penutup

Melalui nas minggu ini kita diteguhkan bahwa dengan iman kepada Yesus Kristus, manusia ditempatkan secara istimewa di pintu masuk gerbang anugerah, mulai dari pembenaran, perdamaian dan berkat-berkat lainnya. Berkat ini jangan dilihat hanya dalam bentuk sukacita dan berkat jasmani, tetapi juga dalam wujud beban kesengsaraan dan kesusahan. Semua yang terjadi setelah kita menerima dan mengakui Yesus sebagai penebus kita harus dilihat sebagai rencana Allah dalam mendewasakan karakter kita untuk dapat melewati dengan ketekunan, membuat kita tahan uji dan berpengharapan untuk ikut serta dalam kemuliaan Allah ketika nanti Yesus kembali. Kita sudah terbebas dari segala murka akibat dosa dan kuk perhambaan. Kita bermegah karena kasih Allah dan bukan karena kehebatan dan prestasi kita. Selayaknyalah kita membalas kebaikan Allah itu dengan membagikannya kepada orang lain yang belum mengenal dan merasakannya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 39 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13526783
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
251
4289
9033
13483986
42797
127844
13526783

IP Anda: 216.73.216.55
2026-03-10 01:09

Login Form