Monday, February 16, 2026

2026

Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026

Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026

 

 YESUS DAN KEMENANGAN (Mat. 4:1-9)

 

Pada Minggu I Pra Paskah, umat Katholik telah mulai berpuasa dan sebagian umat Protestan mengikutinya. Firman Tuhan hari Minggu ini juga menceritakan tentang puasa Tuhan Yesus selama 40 hari, sesuai nas bacaan kita, Mat. 4:1-9. Iblis ingin mencobai Yesus setelah Ia dibaptis oleh Yohanes, yang ketika itu ada suara dari langit berkata: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

 

 

 

Ada tiga pencobaan yang dilakukan iblis. Pencobaan pertama tentang rasa lapar. Tuhan Yesus setelah berpuasa 40 hari, diminta oleh iblis mengubah batu menjadi roti. Tentu Tuhan Yesus mampu, tetapi Ia menjawab iblis: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (ayat 4; Ul. 8:3). Maka kita diingatkan, jangan setiap hari hanya memberi makanan untuk tubuh fisik kita semata, tetapi juga makanan rohani, penguatan jiwa, agar tetap sehat tubuh, roh dan jiwa kita.

 

 

 

Pencobaan kedua dengan sensasi iblis memanipulasi firman Allah, sebagaimana iblis memanipulasi Hawa di Taman Eden. Iblis menantang Tuhan Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan atap tinggi. Menurut iblis, Allah Bapa akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk menatang Yesus, supaya kaki-Nya jangan terantuk kepada batu (ayat 6; Mzm. 91:11-12). Tetapi Tuhan Yesus menjawab: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ayat 7; Ul. 6:16). Iblis pun keok.

 

 

 

Cobaan ketiga iblis kepada Yesus yakni tawaran menyerahkan kerajaan dunia berikut segala kuasa serta kemuliaannya. Woow..., tetapi dengan satu syarat: Dia harus menyembah iblis. Alasan iblis sangat masuk akal, sebab “kerajaan dunia” telah diserahkan kepadanya, dan iblis berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Jelas itu tawaran yang sangat menggoda, dan tidak “susah” mewujudkannya yakni cukup dengan menyembah iblis. Tetapi sekali lagi Yesus menjawab dengan firman Tuhan dari Ul. 6:13: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ayat 8). Dan, iblis pun mati kutu.

 

 

 

Iblis dengan kepintarannya, menawarkan kepada kita dengan berbagai cara, bahkan dengan tipu sensasi, khususnya saat kita merasa membutuhkan, terdesak tanpa pilihan, sehingga kita mudah jatuh dan terikat. Tetapi kita perlu belajar dari Tuhan Yesus. Pertama, Ia menyadari mengikuti permintaan iblis akan masuk dalam jebakannya. Kedua, Yesus tidak mementingkan dirinya sendiri, sebab hal yang perlu dan terbaik bagi diri-Nya adalah sesuai dengan kehendak Bapa.

 

 

 

Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam melawan godaan dan tawaran iblis. Firman-Nya dapat kita pakai sebagai benteng perisai dalam melawan serangan tersebut, sebagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis di padang gurun. Firman Tuhan bukan sekedar kata-kata, melainkan firman yang memiliki kuasa dengan urapan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Jadi tatkala kita lemah, tatkala kita rentan mudah jatuh, maka ingatlah firman Tuhan yang menjadi kekuatan kita. Tetaplah terhubung dengan-Nya, dan tetaplah penuh Roh, dan kita pun akan menang seperti Tuhan Yesus yang akan senang.

  

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026

Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026 – Opsi 2

 

 RAHASIA DOSA DIAMPUNI (Mzm. 32)

 

 ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan” (Mzm. 32:1-2a)

 

 

Pernah melakukan kesalahan kepada orang lain dan kemudian dimaafkan? Lega bangat, tentunya. Begitu jugalah perasaan kita bila Tuhan mengampuni semua kesalahan yang kita lakukan. Semua kita pastilah pernah berbuat salah - baik sengaja atau tidak sengaja, direncanakan atau respon spontan, yang menyakiti hati sesama dan Tuhan; dan itu adalah dosa, melanggar perintah Allah. Oleh karena itu Alkitab berkata, semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 32, ada 11 ayat. Ini merupakan nyanyian pengajaran Daud setelah ia mengakui dosanya kepada Tuhan (ay. 5-6). Tadinya ia menyembunyikannya, dan dampaknya ia merasakan beban yang berat: “tulang-tulangku menjadi lesu / karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas” (ay. 3-4, 10a).

 

 

 

Memang kadang orang mau menyembunyikan dosanya kepada Tuhan dan sesama, dengan alasan rasa malu, takut dihukum, merasa jatuh harga diri yang dilandasi rasa sombong. Padahal, menyimpan semua itu ibarat menggendong beban sampah atau kotoran dalam menjalani hidup, yang mestinya bisa dilepas dan dibuang. Apalagi sampai merasa bangga melakukan dosa, misalnya berhasil mencuri uang kantor yang besar, atau memukuli seseorang yang sebenarnya tidak bersalah padahal bisa diselesaikan dengan baik atau jalur hukum. Itu bukanlah sifat kristiani yang menonjolkan ego dan kehebatan diri, penggunaan kekuasaan yang menyimpang, bahkan penyaluran sakit hati dan dendam yang salah. Ini sebenarnya memperlihatkan kelemahan moral, dampak kurangnya hubungan erat dengan Tuhan yang penuh kasih. Kadang ada juga alasan lain, seseorang tidak mau mengaku dosanya karena pengaruh orang lain, oleh karenanya hati-hatilah dalam bergaul dan berteman.

 

 

 

Mengaku dosa adalah sesuatu yang baik dan positif; kita berarti melepaskan beban yang tidak perlu. Untuk itu kita hanya perlu mengakui secara jujur dan tidak menyangkal (1Yoh. 1:8-10). Kedua, kita juga mengungkapkan penyesalan dalam dan mengakui kelemahan diri. Ketiga, berusahalah menyelesaikannya dengan orang yang kita sakiti atau rugikan (Mat. 6:14-15). Bila tidak direspon, maka tugas kita adalah berdoa dan bersabar, pasti akhirnya indah pada waktunya.

 

 

 

Semua ini tentunya dibungkus dengan iman dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang telah menebus dosa-dosa kita dengan darah-Nya (Rm. 10:9-10, Ef. 2:8-9). Selanjutnya, kita perlu berjanji akan berubah dan terkendali mengikuti firman-Nya sebagaimana nas miimggu ini mengingatkan, “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang (ay. 9; Kis. 3:19; Luk. 24:47).

 

 

 

Ketika mengaku dosa dan berjanji, maka kita akan merasakan aman dan damai sukacita (ay. 7; Rm. 5:1), ada kelegaan di hati (ay. 1-2, 10; 1Pet. 5:7), dosa kita telah ditebus di dalam iman (1Yoh. 1:9, Rm. 4:6-8), serta Roh Kudus semakin menguasai hidup kita yang tampak pada perubahan sikap dan cara pandang (ay. 8; 2Kor. 5:17, Ef. 4:22-24).

 

 

 

Kita lihat Raja Daud setelah mengaku dosanya, mengatakan: “Bersukacitalah dalam Tuhan / dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” (ay. 11). Itulah rahasia indahnya hidup yang diampuni dosanya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 15 Februari 2026

Kabar dari Bukit

 

 TRANSFIGURASI PEMIMPIN YANG DIURAPI (Mzm. 2:1-12)

 

 ”Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!” (Mzm. 2:10)

 

 

Hari ini Minggu Epifani terakhir dan disebut Minggu Transfigurasi, sebelum masuk masa Pra-Paskah. Transfigurasi berarti perubahan rupa atau metamorfosis; diambil dari kejadian saat wajah Tuhan Yesus berubah, bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar terang penuh kemuliaan. Terjadinya tatkala Tuhan Yesus bersama tiga murid-Nya (Yohanes, Petrus dan Yakobus) bertemu Musa dan Elia di atas gunung Hermon (Mat. 17:1-9; Mrk 9:1-9).

 

 

 

Minggu Transfigurasi adalah mengenang penggenapan ke-Ilahian Yesus, dan hari Rabu Abu minggu ini adalah awal mengenang penyelamatan Allah bagi manusia yang dari abu, tetapi melalui penderitaan Tuhan Yesus yang disiksa, dicerca dan mati disalibkan, kita hidup dan diselamatkan.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mazmur 2, terdiri 12 ayat. Bagi umat Yahudi ini nubuatan tentang Raja Daud, tetapi bagi kita orang percaya yang membaca PL dengan kacamata Kristus, ini merupakan nubuatan datangnya Kerajaan Kristus dan gambaran perlawanan yang diterima-Nya (ay. 1-3). Tetapi Allah berkuasa dan berdaulat, lawan-lawan-Nya kalah dan takluk. Kerajaan Kristus di bumi diteguhkan (ay. 4-6) dan janji perluasan Kerajaan-Nya telah berhasil (ay. 8-9).

 

 

 

Keberhasilan Kerajaan Kristus ke depan, tentunya sangat tergantung kepada kita semua orang percaya. Kunci utamanya sesuai nas ini yakni para pemimpin diajak bertindak bijaksana dan takut akan Tuhan (ay. 10-12).

 

 

 

Dalam konteks lokal maupun nasional, tentu kita tahu mayoritas pemimpin kita bukanlah pengikut Kristus. Kadang ini mengajak kita mawas diri. Hasil Persidangan MPL PGI 2026 di Marauke yang baru berakhir, misalnya, telah menelurkan keprihatinan dengan pernyataan sikap, yakni mendukung masyarakat adat yang menolak Proyek Strategis Nasional di Tanah Papua; kedua, menolak militerisme dan otoritarianisme; dan ke tiga, mendorong penghargaaan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia. Ini pantas ikut kita perjuangkan sebagai bukti kepedulian akan hadirnya Kerajaan Kristus di Indonesia.

 

 

 

Daud dan Yesus diurapi Allah dan berkarya seturut kehendak-Nya. Alkitab memberikan contoh bagaimana mengubah para pemimpin agar diurapi sehingga tujuan kita berbangsa dan kehendak Allah, yakni membawa rakyat sejahtera seturut rupa dan gambar-Nya dapat terwujud.

 

 

 

Kita dapat melihat Yusuf yang hidup dengan integritas, tidak mencari keuntungan pribadi. Yusuf berhasil membuat rakyat tidak kelaparan dan

 

mendapatkan kepercayaan Firaun. Daniel yang selalu setia - meski dengan tekanan dan ancaman, akhirnya raja Babel hormat kepada Allah dan Daniel mendapatkan posisi tinggi.

 

 

 

Ester berpuasa dan berdoa, berani mengambil resiko dengan penuh hikmat, bukan emosi, akhirnya berhasil mengambil hati raja dan umat-Nya terselamatkan. Nabi Natan menegur raja dengan sikap rohani, tidak menyerang langsung melainkan dengan perumpamaan yang menyentuh hati dan menyampaikan kebenaran Tuhan. Hasilnya, hati raja dilembutkan dan bertobat. Demikian pula Nehemia memperlihatkan sikap jujur, bekerja dengan baik dan profesional, berdoa sebelum berbicara, akhirnya diberi izin dan dukungan membangun kembali Yerusalem.

 

 

 

Maka jika ingin melihat transfigurasi para pemimpin, kita perlu meneladani mereka: tidak menggunakan kekerasan, unjuk rasa brutal, menghasut dan memanipulasi. Marilah kita umat-Nya dan gereja tetap berdoa, sehati sepikir, memberi teladan hidup benar, berbicara dengan hikmat, memperlihatkan keberanian dengan kasih, maka tidak mustahil para pemimpin kita akan diurapi dan Kerajaan Kristus di Indonesia semakin kokoh. Tiada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk. 9:23).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026

Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026 – Opsi 3

 

 JATUH DAN BANGKIT (Kej. 2:15–17; 3:1–7)

 

 “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kej.3:7)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

"Aku percaya tidak semua hal jahat dilakukan oleh orang jahat; dan ada juga orang baik melakukan hal yang sangat buruk." Begitu kata Richard Gere saat memerankan seorang pengacara dalam film Primal Fear. Dan, jujur saja, ada benarnya.

 

 

 

Firman Tuhan Minggu ini diambil dari Kej. 2:15–17; 3:1–7. Bagian pertama menceritakan bagaimana Allah menempatkan manusia di Taman Eden, sambil memberi satu larangan: jangan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lalu pasal 3 menuturkan kejatuhan manusia, yang dimulai dari tipu daya ular—binatang yang paling cerdik (ay. 1).

 

 

 

Kisahnya kita udah familiar: ular menggoda Hawa, Hawa menggoda Adam, dan manusia jatuh ke dalam dosa. Sesuai 1Yoh. 2:16, ada tiga dorongan yang membuat manusia mudah terseret: keinginan daging, keinginan mata/dunia, dan godaan iblis. Kitab Suci menggambarkan iblis sebagai malaikat yang jatuh (Yeh. 28; Yes. 14; Why. 12:4), yang punya kuasa terbatas namun cukup untuk menipu manusia.

 

 

 

Akibat pelanggaran itu, manusia diusir dari Taman Eden. Bukan cuma itu—sejak saat itu dimulailah perseteruan panjang antara manusia dan iblis: "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini... keturunannya akan meremukkan kepalamu..." (Kej. 3:15). Ini bukan sekadar kisah awal dunia, tapi gambaran pertarungan antara roh manusia yang lemah dan roh iblis yang licik.

 

 

 

Itu sebabnya, meski kita punya iman dan tekad, kita tetap bisa jatuh. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan yang sama: "Sebab apa yang aku kehendaki, tidak aku perbuat... tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Rm. 7:15, 19). Ada tabiat dosa yang diwariskan sejak Eden: sesuatu yang membuat kita lemah.

 

 

 

Karena itu, seperti kata Richard Gere, sering kali seseorang melakukan hal buruk bukan karena ia “orang jahat”, tetapi karena ia kalah dalam pertarungan batin. Maka jangan cepat menghakimi. Jangan buru-buru mencela, menghukum, atau mempermalukan. Cari tahu akar masalahnya, dan kalau perlu: tuntun, nasihati, dan kuatkan (Ibr. 3:13; 1Pet. 2:11; 1Tes. 5:11).

 

 

 

Dan untuk kita sendiri, saat merasa jatuh lagi dan lagi, jangan menyerah. Perkuat pertahanan. Rajinlah bersekutu dengan Tuhan. Latih kepekaan melawan godaan. Allah kita Mahapengampun. Datanglah kepada Yesus, akui dosamu, dan minta kekuatan baru. Ia datang bukan untuk orang benar, tetapi untuk orang berdosa (Luk. 5:27–32).

 

Tetap bangkit, tetap berjaga, tetap berharap. Allah yang Mahabaik tak pernah menolak hati yang datang bersungguh-sungguh.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026

Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026 - Tuhan Yesus Dimuliakan

 

 TRANSFIGURASI UMAT (Mat. 17:1-9)

 

Minggu Transfigurasi adalah minggu terakhir sebelum Pra-Paskah. Transfigurasi berarti perubahan rupa atau metamorfosis; diambil dari Alkitab yakni saat wajah Tuhan Yesus berubah, bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, penuh dengan kemuliaan. Peristiwa itu dikisahkan dalam Mat. 17:1-9 yang menjadi bacaan kita Minggu ini, tatkala Tuhan Yesus bersama tiga murid-Nya (Yohanes, Petrus dan Yakobus) bertemu dengan Musa dan Elia di atas gunung yang tinggi, kemungkinan Gunung Hermon atau Tabor, tempat berada Gereja Transfigurasi saat ini.

 

 

Hari Rabu pasca Minggu Transformasi adalah Rabu Abu, sebuah peringatan dan penghayatan bahwa kita berasal dari debu dan kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Umat Katholik diolesi keningnya sebagai simbol. Selama enam minggu ke depan, kita akan melewati masa pra-paskah (lent) dan akan tiba di Jumat Agung, peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus di sepanjang hari, via dolorosa dan berakhir Ia mati tergantung di kayu salib, sebagai pengganti tebusan bagi kita orang berdosa.

 

 

Peristiwa transfigurasi di atas gunung meneguhkan beberapa hal, yakni: pertama, kebenaran Tuhan Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah ... mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7). Hal ini ditegasan Yohanes yang ikut naik ke gunung, dengan menuliskan: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa...." (Yoh. 1:14). Rasul Petrus juga menuliskan kesaksiannya, "Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus" (2Pet. 1:18, band. ayat 5 nas).

 

 

 

Pesan kedua nas minggu ini untuk menyegarkan ingatan kita, bahwa bersama di dalam hadirat Tuhan sungguh menyenangkan. Tuhan Yesus naik ke gunung tinggi itu untuk berdoa (ayat 1; Luk. 9:28). Respon Petrus melihat situasi itu berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia" (ayat 4). Ada sukacita penuh. Ada semangat melayani. Maka, jika hidup kita saat ini lebih fokus pada diri sendiri, kurang berbahagia, berusahalah lebih banyak waktu bersama Tuhan. Doa, pujian, dan bacalah buku-buku tentang Yesus. Kebahagiaan pun akan berlimpah.

 

 

 

Hal terakhir pesan nas minggu ini adalah penegasan Tuhan Yesus adalah Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sekaligus Allah orang mati dan yang hidup. Nabi Musa dan Elia mewakili figur utama dalam PL, bertemu dengan Tuhan Yesus. Melalui nas ini juga ada pemberitahuan awal, Ia akan bangkit dari kematian (ayat 9), dan nubuatan itu digenapi. Ini sekaligus pengajaran kepada kita, di balik kejadian yang membuat kita sedih atau menderita, bersama Tuhan Yesus semua akan berakhir dengan sukacita dan kemenangan. Mari terus memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan dan ikut mentrasfigurasikan wajah umat sebagai kesaksian bagi sesama.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

  

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 53 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13429199
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
678
4474
9806
13383814
73057
114941
13429199

IP Anda: 216.73.216.44
2026-02-17 04:05

Login Form