2026
2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
KETEKUNAN, TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Rm. 5:1-11)
Bacaan lainnya: Kel. 17:1-7; Mzm. 95; Yoh. 4:5-42
Pendahuluan
Minggu ini kita kembali diberikan peneguhan bahwa melalui iman kepada Tuhan Yesus kita banyak menerima berkat. Berkat anugerah itu tidak hanya kita dibenarkan, tetapi juga berbagai berkat yang disediakan Allah bagi kita yang setia dan mengasihi-Nya. Selain kita diberi keselamatan, kita juga dibebaskan dari murka Allah masa kini maupun masa mendatang, dan terutama Roh Kudus dicurahkan untuk menolong kita dalam mengarungi kehidupan ini. Melalui nas yang kita baca minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Perdamaian sebagai buah pembenaran (ayat 1-2)
Nas ini kembali menegaskan bahwa melalui iman kita dibenarkan dan karena kita dibenarkan ternyata berkat-berkat anugerah tidak berhenti di situ saja; dengan dibenarkan kita juga diperdamaikan dengan Allah dan itu merupakan jalan masuk dan jaminan keselamatan yang diberikan. Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita akan masuk ke dalam kasih karunia Allah yang semakin sempurna dengan menikmati damai sejahtera dengan Dia. Kalau selama ini tidak ada yang dapat menghampiri Allah, melalui pendamaian manusia tidak lagi memerlukan perantara imam untuk datang kepada Allah, sehingga terjalin persekutuan langsung manusia dengan-Nya (band. Ef. 3:12). Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita juga memiliki penyertaan Roh Kudus, bebas dari hukuman murka Allah, dan pengharapan akan kemuliaan-Nya. Kita berdamai dengan Allah bukan dalam pengertian rasa damai biasa di hati seperti keteduhan dan ketenangan. Damai dengan Allah berarti terjadi rekonsiliasi dengan Pencipta kita, Tuan dan sekaligus Tuhan kita. Tidak ada lagi permusuhan antara kita dengan Dia, tidak ada lagi dosa yang membentengi hubungan kita dengan-Nya. Damai dengan Allah itu terjadi hanya karena Yesus telah membayar lunas dan menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib.
Pembenaran dan perdamaian dengan Allah ini memuat konsep yang penting dan mengantarkan kita pada dua jenis kehidupan orang Kristen. Di satu sisi kita sepenuhnya berada di dalam Kristus, yang berarti penerimaan kita pada-Nya dijamin, dan di sisi lain kita juga bertumbuh di dalam Kristus dengan pengertian yang semakin hari harus semakin sama dengan Dia. Kita juga diberikan dua status sekaligus, yakni menjadi anak-anak Raja tetapi juga sebagai hamba kerajaan. Dalam hal ini kita merasakan dua hal yang bersamaan setiap saat: kehadiran Kristus yang memberi rasa damai dan tekanan kedagingan dari iblis untuk keinginan berbuat dosa. Kita bisa merasakan damai sejahtera dari Allah karena kita sudah diterima-Nya, tetapi kita juga masih hidup di dunia ini dengan permasalahan dan pergumulan sehari-hari. Padahal, semestinya permasalahan dan pergumulan itu menjadi cara dan jalan bagi kita untuk bertumbuh menjadi sama dengan Dia, namun ada juga di antara kita yang jatuh menuruti kehendak iblis dan daging sehingga membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Apabila kita memahami dua sisi kehidupan orang Kristen ini dalam keseharian kita, maka sebenarnya kita tidak mudah berputus asa dalam setiap pergumulan dan permasalahan yang datang, melainkan kita belajar untuk berserah dan bergantung pada kekuatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Roh Kudus yang diam dalam hati kita.
Nas firman Tuhan ini juga menyatakan bahwa sebagai orang percaya, kita berdiri di tempat yang tinggi dan diistemewakan. Kita diperdamaikan dan sekaligus mengambil bagian dalam kemuliaan Allah. Ini terjadi bukan hanya karena kita sudah dinyatakan tidak bersalah, tetapi juga karena Tuhan menarik dan merangkul kita lebih dekat kepada-Nya. Kita tidak lagi menjadi seteru-Nya tetapi menjadi sahabat-Nya dan bahkan menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 15:15; Gal. 4:5). Hubungan yang sudah terputus dan tertutup karena dosa kini dipulihkan melalui jalan yang dibuka Yesus Kristus dengan kematian-Nya. Dia yang betakhta Raja kini membuka diri-Nya, dan kita tadinya sebagai seteru kini sebagai sekutu. Inilah jalan masuk ke dalam kasih karunia yang begitu besar sebagai buah kita dibenarkan karena iman dan kebenaran itu menuntun kita kepada iman yang berbuah untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kedua: Kesengsaraan membawa ketekunan dan tahan uji (ayat 3-4)
Bagian terakhir dari berkat-berkat anugerah yang disediakan dari hasil pembenaran itu memampukan kita bermegah dalam kesengsaraan. Ini mungkin sesuatu yang aneh, sesuatu yang dianggap salah; bagaimana kita bisa bermegah dalam kesengsaraan? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita bermegah dan bersukacita di dalam penderitaan, bukan karena kita menyukai penderitaan itu atau menolak pandangan bahwa bagaimanapun penderitaan adalah sebuah tragedi. Akan tetapi, kita berani bermegah karena tahu bahwa Allah yang baik itu menggunakan penderitaan yang kita alami (dan/atau setan yang menyerang) bertujuan membangun karakter kita. Permasalahan dan pergumulan yang kita harus hadapi dan menangkan akan membangun ketekunan dan tahan uji, yang sekaligus menguatkan karakter kita, mempertebal iman percaya kepada Allah dan memberi kita keyakinan akan pengharapan masa depan. Kita pasti dihadapkan dengan persoalan ini setiap hari dalam tingkatan yang kecil sampai besar, maka berterimakasihlah kepada Allah untuk kesempatan bertumbuh, dan bekerjasama dengan-Nya dalam mengatasi persoalan itu sampai menang (band. 1Pet. 1:6-7).
Dalam abad-abad awal masehi kehidupan kekristenan penuh dengan penderitaan. Semua rasul dibunuh atau mati dengan cara-cara yang kejam dan menyedihkan. Orang-orang percaya harus melarikan diri dari kejaran pembenci pengikut Yesus. Kisah-kisah menyedihkan orang Kristen seperti tubuhnya dibakar untuk dijadikan obor penerang sudah pernah kita dengar. Oleh karena itu, penderitaan bagaikan sebuah hal yang umum dan bukan sebuah pengecualian. Tapi melalui firman Tuhan ini kita diajar bahwa untuk kita "menjadi" berhasil di masa mendatang itu kita harus "jadi" (to become we must overcome). Artinya, kita harus menjalani pengalaman-pengalaman yang sulit untuk lebih bertumbuh, pengalaman penderitaan dan ujian dalam bentuk kesusahan, seperti penyakit tubuh, keuangan, penindasan dan ketidakadilan bahkan kesepian dan kesendirian. Semua ini menantang kita untuk bertekun, bukan berputus asa atau mengeluh, apalagi menghujat pihak lain (Yak. 1:2-4, 12). Yang penting dari semua itu adalah kita mengimani kalau kesengsaraan yang datang adalah sepengetahuan Allah.
Paulus menyatakan dalam 1Kor. 13:13 bahwa iman, pengharapan dan kasih adalah inti dari kehidupan Kristiani. Hubungan kita dengan Allah didasari oleh iman, yang menolong dan menyadarkan kita bahwa hidup kita harus siap dengan segala rencana Tuhan, baik dipakai melalui sukacita dan ujian. Ketekunan di sini melebihi kesabaran, sama dengan semangat tidak mau menyerah dan daya juang yang tinggi, dan melalui ketekunan itulah kita mendapatkan tahan uji, dalam arti kita mampu melewati ujian yang diberikan dengan kemenangan. Tahan uji berarti bebas dari kotoran yang mengganggu dan handal terpercaya dalam setiap situasi, tidak berputus asa, dan hal seperti inilah yang kemudian menimbulkan pengharapan akan hari esok yang lebih baik dan cemerlang. Jadi, dalam hal ini ada hubungan segaris antara penderitaan – ketekunan – tahan uji – dan pengharapan. Pengharapan itu hadir dan bertumbuh sebab melalui penderitaan kita mempelajari semua yang telah direncanakan oleh Tuhan bagi kita; itu memberi kita janji yang penuh keyakinan akan masa depan. Kasih yang Allah berikan untuk mengisi hidup kita akan memberi kita kemampuan untuk membaginya dengan orang lain.
Ketiga: Kasih Allah tercurah di hati kita (ayat 5-8)
Firman Tuhan mengatakan "ketika kita masih orang berdosa" Yesus mati bagi kita, ini jelas sebuah kalimat yang indah dan bukti konkret tentang kasih yang besar. Kalau seseorang berkorban bahkan mati untuk membela orang benar, itu sesuatu yang biasa dan lumrah. Tetapi Yesus mati bagi kita yang durhaka dan orang tidak benar, jelas itu perbuatan yang tidak terkira, karena kita tidak layak menerimanya. Bahkan semua kematian dan penebusan Yesus itu terjadi bukan karena kehebatan perbuatan kita, tetapi hanya karena Allah mengasihi kita. Atau, apakah mungkin kita ragu? Maka apabila kita merasa goyang atau tidak yakin bahwa Allah mengasihi kita sedemikian besar, ingatlah bahwa Allah sebenarnya mengasihi kita sebelum kita bertobat. Jika Allah mengasihi kita pada saat kita masih durhaka, maka kita kini diyakinkan akan kasih-Nya, dan kita cukup membalasnya dengan kasih kepada-Nya.
Kita mungkin merasa lemah dan putus asa karena kita tidak melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan dan apa yang kita terima untuk menolong diri kita sendiri. Kita mungkin hanya mengeluh, menyesali, menyalahkan atau bahkan kemudian tidak percaya ada Allah melalui Roh Kudus yang sedia membantu. "Sesuatu" perlu datang untuk menolong dan menyelamatkan kita yang lemah. Pengertian lemah di sini mengacu pada moral dan rohani, meski kadang dalam pengertian tubuh dan jiwa. Kristus terbukti datang memberi pertolongan pada saat yang tepat sesuai sejarah 2000 tahun yang lalu, tetapi Ia juga datang tepat pada saatnya sesuai dengan waktu terbaik dari Tuhan. Memang kadang kita tidak sabar atau ingin lari mencari pertolongan lain, tetapi tetaplah sabar dan bertekunlah hingga waktu terbaik dari Tuhan itu dinyatakan. Allah mengendalikan waktu dan sejarah, mengontrol setiap cara, gerak dan metode yang pas bagi kita untuk keluar dari persoalan yang ada.
Allah Tritunggal terlibat dalam peristiwa keselamatan. Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjembatani hubungan kita yang berdosa dengan Dia (Yoh. 3:16). Kasih Allah memang sungguh luar biasa, bahkan kasih itu tidak berhenti sampai di situ. Untuk memperlihatkan kasih-Nya tidak sesaat melainkan selamanya, Allah Bapa dan Allah Anak mengirimkan dan mencurahkan Roh Kudus mengisi hati kita dengan penuh kuasa dan memampukan kita hidup dengan kuasa-Nya (Kis. 1:8). Kata dicurahkan dalam nas ini berarti keadaan yang berlangsung terus menerus tanpa henti. Dengan demikian, Roh Kudus yang tercurah hadir untuk menghibur kita dalam setiap pencobaan dan mendukung dalam setiap keadaan, sehingga segala persoalan dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (Flp. 4:13). Dengan semua kasih yang besar tercurah dari Allah, bagaimana kita tidak mau melayani Dia dengan sepenuh hati sebagai balasan kasih-Nya?
Keempat: Kasih Allah menyelamatkan kita dari murka-Nya (ayat 9-11)
Kasih yang menyebabkan kematian Yesus sama dengan kasih yang Allah berikan melalui Roh Kudus yang hidup di dalam hati kita dan siap memimpin dan menyertai kita dalam hidup ini. Kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian adalah sama dengan kuasa yang menyelamatkan hidup kita dari dosa-dosa, dan sama dengan kuasa yang memimpin keseharian kita. Dengan memulai hidup dengan Kristus, kita akan memiliki kuasa dan kasih besar yang siaga saat menghadapi pergumulan hidup setiap hari. Melalui iman kepada penebusan Kristus, kita menjadi dekat dan berkonsiliasi dengan Allah, bukan lagi menjadi musuh atau menjadi orang yang terbuang.
Allah itu kudus dan tidak berinteraksi dengan dosa. Semua manusia telah berdosa dan terpisah dari Allah dan ini membuat kita melanggar kekudusan Allah. Dosa juga membawa penghukuman berupa murka Allah, bukan saja saat ini, tapi juga pada masa penghakiman kelak. Dan sebagai orang berdosa, sudah sepatutnya kita dihukum melalui kematian dan penderitaan selama-lamanya dengan ditempatkan di neraka. Namun Kristus telah mengambil semua ini dengan mengalami kematian dan penderitaan di atas kayu salib. Dengan penebusan itu kita diluputkan dari murka-Nya dan bahkan terbebas dari belenggu dosa yang selalu menjerat. Kita dimampukan melalui kekuatan Roh Kudus untuk melawan iblis sehingga kita terbebas dari kuk dosa yang jahat. Roh Kudus dicurahkan dalam hati kita agar hidup kita bebas dari kuasa dosa, belenggu hukum Taurat, murka, dan dari kuasa maut. Kita juga akan bebas dari “hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan kemuliaan kekuatan-Nya” (2Tes. 1:9). Oleh karena itulah kita bersukacita d idalam Kristus.
Bagian terakhir dalam nas ini menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Yesus yang telah mati dan bangkit kembali hidup, itu adalah bukti kekuasaan Allah ada pada-Nya dan kemenangan atas kematian (1Kor. 15:55). Dengan Yesus hidup bangkit dari kematian, maka kita menjadi selamat dan hidup selamanya. Dengan dasar itulah kita layak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus. Kita bermegah diselamatkan bukan karena kehebatan kita, bukan karena kekuatan atau prestasi dan perbuatan kita, melainkan hanya karena kasih-Nya. Kita juga bermegah karena kita memperoleh pengharapan kemuliaan bersama-Nya kelak, ketika Yesus Tuhan kita akan datang kembali untuk menyatakan kuasa-Nya (Kol. 3:4). Pengharapan ini tidak mengecewakan sebab dasarnya adalah kasih Allah. Ini hal yang paling prinsip dalam memahami keselamatan, bahwa penyelamatan itu menyeluruh. Dengan demikian, sungguh Allah itu kasih, dan kita dipanggil untuk terus beriman dan berdoa agar kuasa dan kasih itu tetap hidup dan merajai hidup kita setiap saat.
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diteguhkan bahwa dengan iman kepada Yesus Kristus, manusia ditempatkan secara istimewa di pintu masuk gerbang anugerah, mulai dari pembenaran, perdamaian dan berkat-berkat lainnya. Berkat ini jangan dilihat hanya dalam bentuk sukacita dan berkat jasmani, tetapi juga dalam wujud beban kesengsaraan dan kesusahan. Semua yang terjadi setelah kita menerima dan mengakui Yesus sebagai penebus kita harus dilihat sebagai rencana Allah dalam mendewasakan karakter kita untuk dapat melewati dengan ketekunan, membuat kita tahan uji dan berpengharapan untuk ikut serta dalam kemuliaan Allah ketika nanti Yesus kembali. Kita sudah terbebas dari segala murka akibat dosa dan kuk perhambaan. Kita bermegah karena kasih Allah dan bukan karena kehebatan dan prestasi kita. Selayaknyalah kita membalas kebaikan Allah itu dengan membagikannya kepada orang lain yang belum mengenal dan merasakannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 – Opsi 2
LADANG YANG MENGUNING (Yoh. 4:5-42)
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu III Pra Paskah sebuah nas yang panjang, Yoh. 4:5-42. Ini kisah perempuan Samarai yang bertemu Tuhan Yesus saat beristirahat dalam perjalanan-Nya dari Yudea ke Galilea (ayat 4-5). Jelas sebuah terobosan kasih, mengingat orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ayat 9); ada permusuhan lama. Teladan Tuhan Yesus ini kita perlu ikuti, perbedaan tidak harus membekukan hubungan dan percakapan.
Tuhan Yesus kelelahan dan duduk di tepi sumur. Seorang perempuan Samaria datang di siang bolong. Tidak lazim, pasti ada yang disembunyikan. Benar, ia perempuan tidak baik, bersuami lebih dari lima, sehingga selalu datang ke sumur tatkala sepi. Terjadilah percakapan. Tuhan Yesus meminta air untuk diminum kepada perempuan itu. Perempuan itu menolak, karena Yesus orang Yahudi. Lalu Tuhan Yesus berkata: "Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (ayat 10).
Tuhan Yesus melanjutkan, “Barangsiapa minum air (dari sumur) ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 13-14). Maksud Yesus adalah diri-Nya dan Roh Kudus sebagai sumber air hidup. Bila orang menerima-Nya, niscaya akan menjadi mata air "yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Perempuan itupun penasaran, dan mulai mengetahui Yesus bukan sembarang orang, dan menyebut Yesus sebagai Nabi (ayat 19).
Tuhan Yesus kemudian menjelaskan tentang diri-Nya: "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (ayat 24). Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami" (ayat 25). Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (ayat 26).
Ketika para murid kembali datang menemui-Nya dan menawarkan makan, Yesus pun berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.... Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (ayat 34-35). Perempuan itu pun berlari pulang, melupakan timbanya, menceritakan kepada penduduk Samaria tentang Yesus sebagai air hidup. Mereka pun merespon, meminta Ia tinggal, sehingga lebih banyak lagi orang Samaria yang menjadi percaya kepada-Nya.
Tuhan Yesus telah mengutus kita, menuai dari pekerjaan menabur orang lain (ayat 38). Orang percaya perlu saling mendukung dalam membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus. Mari kita meneladani-Nya dengan perbuatan baik dan percakapan kecil, memberitakan-Nya, sehingga semakin banyak orang melihat kasih Yesus, percaya dan mengaku bahwa Dia-lah benar-benar Juruselamat dunia, Mesias, dan Sumber Air Hidup. Semua berperan, yang seorang menabur dan yang lain menuai, dan kita menjadi mata air yang terus memancar. Penabur dan penuai pun sama-sama bersukacita, terutama Tuhan kita. Terpujilah Dia.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 1 Maret 2026
Kabar dari Bukit
PERJANJIAN DAN PENGHARAPAN (Kej. 9:8-17)
"Sesungguhnya Aku membuat perjanjian-Ku dengan kamu dan keturunanmu”
(Kej. 9:9)
Perjanjian adalah persetujuan tertulis atau lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati yang ditulis dalam persetujuan tersebut (kbbi.wwb.id). Perjanjian umumnya menyangkut hak dan kewajiban, syarat-syarat dan sanksi apabila salah satu pihak tidak patuh.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kej. 9:8-17. Nas ini berbicara tentang Allah memberikan perjanjian kepada Nuh yang diselamatkan dari Air Bah bersama keluarganya, yakni Nuh akan memiliki keturunan yang banyak (ay. 1, 7), berkuasa atas segala makhluk (ay. 2), manusia boleh memakan hewan - sebelumnya hanya makan biji-bijian (ay. 3; Kej. 1:29). Puncaknya Allah berjanji tidak akan memusnahkan bumi lagi dengan Air Bah dan memberi tanda, “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi,” sebagai ingatan akan perjanjian tesebut (ay. 13). Dalam teolologi ini sering disebut Perjanjian Nuh.
Selain itu dalam Alkitab ada perjanjian lainnya antara Allah dengan manusia, yakni Perjanjian Abraham, yang berisi janji Abraham akan diberkati dengan memiliki keturunan sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 12:1-3; 15:5). Bahkan disebutkan Allah bersumpah atas perjanjian tersebut (Ibr. 6:17). Syarat yang diminta, Abraham taat dan sunat sebagai tanda (Kej. 17:11).
Ketiga adalah Perjanjian Musa di Gunung Sinai, yakni Allah akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel dan mengangkat mereka sebagai umat-Nya (Kel. 6:3-7; 19:5; Kel 34:27; Ul. 5:2). Syarat yang diminta adalah taat dan umat Israel memuliakan Allah.
Kemudian ada Perjanjian Daud, berisi kerajaan Daud akan kokoh dan keturunannya akan memerintah selamanya (2Sam. 7) . Dan terakhir melalui Nabi Yeremia, Allah akan membuat Perjanjian Baru dengan manusia (Yer. 31:31-34; Ibr. 8:7-9).
Kelima perjanjian tersebut bersifat unilateral, Allah yang berinisiatif dan bersedia mengikatkan diri-Nya. Pertanyaannya, dapatkah kini kita membuat perjanjian dengan Allah? Manusia memang hamba dan pelayan di hadapan-Nya. Tetapi kita juga adalah anak-anak-Nya berdasarkan prinsip adopsi. Dengan memahami hubungan tersebut, maka kita dapat mengadakan perjanjian dengan Allah, sepanjang sesuai dengan rencana-Nya.
Memang "perjanjian" ini ada yang menyebutnya sebagai nazar, mengacu pada kisah Yakub bernazar di Betel (Kej. 28:20–22) dan Hana bernazar sebelum Samuel lahir (1Sam. 1). Pengertiannya, perjanjian yang kita lakukan tidak setara, sebab Allah Maha Kuasa. Tetapi Allah adalah Pribadi. Ia memiliki rencana dan tujuan berdasarkan akal (Yes. 55:8-9; Luk. 2:52), pikiran (Mzm. 139:17), kehendak (1Kor. 1:1; 1Pet. 2:15), dan emosi (Mzm. 78:40-41; Yoh. 11:35). Allah juga penuh kasih. Dia maha bijak dan mendengar, tahu maksud dan tujuan kita. Oleh karenanya tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari-Nya. Jangan memaksakan berkat, apalagi demi keuntungan sendiri, tidak menuntut, apalagi menyangkut keselamatan kekal.
Buatlah dan peganglah janji kita. Anggaplah sebagai pembaruan perjanjian anugerah Allah yang telah dimeteraikan kepada kita melalui baptisan. Pegang teguh "perjanjian" atau nazar tersebut dalam pengharapan. Allah adalah Roh yang hidup dan menghidupkan. Ia setia dan janji-Nya melebihi segala sesuatu (Mzm. 138:2; 2Kor. 3:4-6). Sebab, aku yakin.... tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm. 8:38-39). Dengan berpegang janji tersebut, dan kekuatan doa, masukilah kehidupan baru bersama keturunanmu dalam dunia yang baru sebagaimana Nuh. Dan, pandanglah pelangi sebagai tanda dan pengharapan.
Selamat hari Minggu, selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 - Opsi 3
MENCOBAI TUHAN (Kel. 17:1–7)
"Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Kel. 17:2b)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu berbahagia ini bagi kita adalah Kel. 17:1–7. Nas ini menceritakan masalah tidak adanya air untuk diminum di Masa dan Meriba, saat umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir yang dipimpin Musa. Kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di Mara ketika air menjadi pahit (Kel. 15:22–24). “Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: ‘Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?’ Musa menjawab: ‘Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai Tuhan?’” (ay. 2).
Menghadapi umat yang menuntut keras, Musa berseru-seru kepada Tuhan. Atas belas kasih-Nya, mereka diberi air ketika Musa memukulkan tongkatnya ke gunung batu dan air keluar dari dalamnya (ay. 6). Tongkat ini juga dipakai oleh Musa sebelum mereka keluar dari Mesir saat bertarung mukjizat dengan para ahli sihir Firaun (Kel. 7–11). Perjalanan panjang di padang gurun yang panas tentu melelahkan. Umat Israel meminta air, sesuatu yang sebenarnya manusiawi karena air minum adalah kebutuhan dasar. Namun ada yang perlu diperhatikan, yaitu sikap mereka yang bersungut-sungut menghadapi ujian dan tantangan.
Umat Israel seharusnya tahu betul akan kasih dan penyertaan Tuhan atas mereka selama perjalanan: dibebaskan dari perbudakan, menyeberangi Laut Teberau yang dikeringkan Tuhan, diberi manna, dituntun tiang api dan tiang awan, dan berbagai penyertaan lainnya. Namun mereka masih bebal dan menuntut tanpa rasa hormat dan syukur.
Alkitab mengajarkan orang percaya untuk bersikap kasih, takut, dan hormat kepada Tuhan (Mat. 22:37; 1Pet. 2:17; 1Tim. 1:17). Ini sikap yang terpuji. Jadi janganlah seperti umat Israel yang menuntut dan meragukan: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (ay. 7). Ini bagaikan air susu dibalas air tuba.
Tuhan Yesus lebih tegas dalam PB ketika berkata kepada iblis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (Mat. 4:7). Demikian pula ketika kaum Farisi dan ahli Taurat mencobai Yesus, Dia menghardik mereka (Mat. 16:1; 19:3; 22:18). Hal ini ditegaskan kembali dalam Yak. 1:13: “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”
Alkitab menjelaskan bahwa mereka yang meragukan dan mencobai Allah akan dihukum. Ada yang mati dipagut ular (1Kor. 10:9; Bil. 21:5–6). Bahkan umat Israel yang bersungut-sungut dalam nas ini tidak seorang pun akhirnya memasuki tanah perjanjian Kanaan (Ibr. 3:9; Bil. 16:41–49). Musa dan Harun pun tidak diberi kesempatan masuk karena dianggap meragukan kuasa Tuhan saat mengeluarkan air dari batu (Bil. 20:1–13).
Hubungan kita dengan Tuhan memiliki aspek pribadi, kedekatan, dan kedalaman spiritual. Tingkatan tertinggi dalam hubungan ini adalah ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya bukan lagi miliknya (Gal. 5:24–25). Jangan sampai kebaikan Tuhan yang telah berkorban di salib demi menebus dosa kita dikalahkan oleh kedagingan dan keinginan sesaat yang merusak hubungan dengan-Nya.
Melalui nas minggu ini, mari kita tetap bersandar penuh kepada Dia. Apa pun yang kita alami, tetaplah bersikap takut dan hormat. Dalam iman kita tahu Tuhan tidak akan meninggalkan kita dan segala perkara dapat kita tanggung bersama Dia (Mzm. 37:24; Flp. 4:13). Sabar dan bertekunlah. Jangan mencobai atau meragukan kuasa dan kasih-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 (Alternatif)
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 (Alternatif)
DILAHIRKAN KEMBALI (Yoh. 3:1-17)
Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh. 3:3).
Firman Tuhan di hari Minggu ini Yoh. 3:1-17 bercerita tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang menemui-Nya di malam hari. Pesan penting nas ini - selain ayat Yoh 3:16 yang semua orang percaya wajib hafal dan menghayati - adalah tentang dilahirkan kembali. Poin ini juga ditemukan dalam nas lain PB, seperti 2Kor. 5:17; 1Pet. 1:3, 23; 1Yoh. 3:9; Tit. 3:5; Ef. 2:15. Dilahirkan kembali tentu dalam pengertian rohani, percaya kesaksian hal sorgawi, bukan semata yang duniawi (ayat 12).
Ada tiga hal yang kita dapat dalami dari istilah ini. Pertama, dilahirkan kembali dalam kaitan baptisan, baik percik yang berlanjut dengan sidi, atau selam. Ini terkait ayat 5, ...jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Air baptisan tanda hidup yang tahir dan roh yang baru agar hidupnya dipimpin Yesus (lih. Yeh. 36:25-27; Yoh. 3:22 dab; Gal. 2:20). Pengenalan Yesus secara mendalam dan kedudukan pengakuan iman dalam hal itu sangat sentral. Proses itu merupakan tanda dan meterai akan kehidupan kekal. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2Kor. 5:17a).
Kedua, dilahirkan kembali dalam pengertian bagi orang yang tahu akan Yesus, tapi tidak/belum mengakuinya sebagai Juruselamat. Dalam hal ini Nikodemus adalah contoh yang konkrit, seorang pemimpin agama yang penuh pengetahuan dan juga sarat kebaikan. Tindakannya menjumpai Yesus dengan resiko, sangatlah terpuji. Bagi Nikodemus dan mereka yang belum percaya Yesus dan menerimanya sebagai Juruselamat, pengakuan itu sangat penting.
Ketiga, dilahirkan kembali dalam pengertian pertobatan. Ini berlaku bagi mereka yang sudah belajar dan dibaptis, tetapi kehidupannya jauh dari menyenangkan hati Tuhan. Tidak sedikit mereka ini tampak rutin beribadah minggu, ikut pelayanan dan lainnya, tetapi hakekat hidupnya rusak oleh dosa. Pertobatan dan pembaruan total diperlukan dengan dilahirkan kembali menjadi manusia baru. Ada banyak alasan dan cara yang dipakai Tuhan untuk melakukan transformasi rohani. "Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (ayat 8).
Kadang orang percaya berpegang pada Ef. 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Tetapi itu tidak dapat membuat kita hidup sembarangan dan menyia-nyiakan waktu. Tetap percaya, taat dan berkarya. Nikodemus menunjukkan karyanya setelah mengakui Yesus. Ia membela saat imam-imam kepala menyerang Yesus (Yoh. 7:51). Dan, ketika Yesus mati, ia membawa "campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya" saat upacara pemakaman-Nya (Yoh. 19:39). Ya, kasih mesti berwujud.
Percakapan Nikodemus ini membuat kita perlu berefleksi. Sudah berapa lama kita telah mengenal dan mengakui Dia? Lahir baru, pembaruan hati dan menjadi manusia baru mungkin kita perlukan. Sisihkan selumbar untuk dimampukan melihat kebenaran Ilahi ini. Nyatakan kerinduan seperti Nikodemus sehingga Allah bertindak dan kita layak menerima hidup kekal dari-Nya. Kerajaan Allah hanyalah bagi orang-orang yang telah diperbarui. Haleluya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 KETEKUNAN, TAHAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 – Opsi 2 LADANG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 - Opsi 3 MENCOBAI...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 80 guests and no members online
