2026
2026
Kabar dari Bukit, Minggu 28 Juni 2026
Kabar dari Bukit
HIDUP DALAM KEBENARAN DAN KASIH (Rm. 6:12-23)
”Buah apakah yang kamu petik waktu itu, yang menyebabkan kamu merasa malu sekarang? Kesudahan semua itu ialah kematian” (Rm. 6:21, TB2)
Selamat hari Minggu.
Dalam dua renungan minggu-minggu lalu telah diterangkan tentang “Menjadi Harta Kesayangan Tuhan” (Kel. 19:2-8a) dan “Menjadi Satu Dengan Kematian Kristus” (Rm. 6:1b-11). Kedua pesan nas tersebut berkaitan dari Allah bagi umat Israel (dan kita) melalui Nabi Musa, agar sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian dengan-Nya sehingga kita menjadi harta kesayangan-Nya dari antara segala bangsa. "Kamu akan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi-Ku" (Kel. 19:5-6).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 6:12-23; ini merupakan kelanjutan nas minggu lalu, yang menjelaskan konsekuensi praktis kemerdekaan kita. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (ay. 18). "Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup" (ay. 13).
Untuk itu kita perlu memeriksa anggota tubuh mana yang selama ini menjadi alat sumber dosa? Apakah mulut (berkata kotor atau dusta), tangan dan kaki (suka kekerasan), mata (suka melirik yang tidak perlu), atau lainnya? Maka beri perhatian dan kendalikan. Jadikan "tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Rm. 12:1). Tentu semua dari hati dan pikiran dan itu adalah pilihan dan keputusan.
Kedua, tegas dan teguh dalam memilih antara menjadi hamba dosa yang memimpin kepada kedurhakaan dan kematian, atau kita hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan (ay. 16, 19). Ini pilihan yang didasari kesadaran, pemahaman, latihan dan pengendalian. Ketika kuasa dosa sudah dipatahkan, kita tidak otomatis bebas dari godaan yang kembali menjerat. Untuk itu tetap harus sadar, waspada dan memilih setiap hari untuk tidak menuruti keinginan daging, dunia dan persuasi iblis, seolah dampak dosa itu tidak bahaya. Ingat ketika iblis/ular menggoda Hawa (Kej. 3:1-6).
Dosa dengan segala bentuk dan daya tariknya, tidak lagi memiliki hak dan kuasa atas diri kita, karena kita telah berada di bawah kasih karunia. Jadikan Tuhan sebagai Pemilik dan Pemimpin, hidup dalam kebenaran mengikuti firman-Nya dengan selalu memohon tuntunan Roh Kudus dalam perjalanan hidup kita.
Ketiga, jadikan kasih sebagai prinsip dan nilai dasar hidup. Sadari dan renungkan bahwa Allah melalui Tuhan Yesus telah mati tersalib bagi kita oleh karena kasih-Nya. Perintahnya juga jelas agar kita hidup dalam kasih (Yoh. 13:34; 1Pet. 4:8). Ini salah satu cara mengubah kita yang terbiasa dengan (perbuatan) dosa, dapat memampukan fokus dalam hidup, yang secara otomatis mengalihkan energi dan kendali kita untuk menyenangkan Allah, bukan memuaskan diri kita sendiri.
Terakhir, renungkan ayat pembuka: buah apakah yang kamu petik dari berbuat dosa? "Kesudahan semuanya itu ialah kematian” (ay. 21). Tetapi, pegang dan pahami betul kesimpulan nas minggu ini, "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (ay. 23). Hidup kekal bukanlah upah dari usaha kita, melainkan karunia gratis dari Allah melalui Yesus Kristus yang mengasihi kita.
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026
KEBAIKAN DAN UPAH (Mat. 10:40-42)
”Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat. 10:42)
Firman Tuhan hari Minggu ini bagi kita sangat singkat, yakni Mat. 10:40-42, yang menjelaskan tentang buah perbuatan baik bagi para hamba Tuhan dalam kaitannya dengan upah. Latar belakang nas ini adalah pengutusan para murid oleh Tuhan Yesus, sebagaimana nas minggu lalu. Mereka diberitahu akan mendapat kesulitan dan penganiayaan, sebab hakekatnya mereka diutus ke tengah-tengah serigala; untuk itu mereka perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:1-16).
Tetapi mereka tidak perlu takut dan gentar. Pengharapan akan sesuatu yang menggembirakan tetap tersedia. Hal baik selalu datang, meski di tengah kesulitan dan kesusahan. Untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya, dan juga kepada kita semua, agar siapa pun siap menyambut sukacita para utusan dan hamba Tuhan, memberi kasih dan perhatian, khususnya bagi mereka yang diutus melayani di bidang penginjilan.
Penginjilan berarti mereka yang pergi diutus gereja atau lembaga pelayanan, menjelajah ke tempat-tempat yang belum menerima kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus. Dalam melayani, mereka dikatakan tidak boleh membawa pakaian dan bekal yang banyak (Mat. 10:10). Mereka harus berjalan di dalam iman, bahwa Tuhan Yesus menyertai dan kebaikan pasti ada di semua tempat. Hidup diyakini selalu penuh warna dan mosaik, kumpulan pengharapan dan pergumulan.
Hamba Tuhan yang diutus, telah memberikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Mereka layak menerima kebaikan. Mereka tidak hidup hanya dari sekadar belas kasihan, melainkan atas tanggung jawab sesama orang percaya. Alkitab juga mengajarkan bahwa setiap pekerja harus mendapatkan upahnya (Gal. 6:6).
Nas minggu ini mengajarkan, setiap kebaikan yang kita berikan kepada hamba-Nya, sama seperti memberi kepada Tuhan Yesus (ayat 40). Tentu ini dengan motivasi yang benar pula. "... Menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar" (ayat 41). Ini dikuatkan dengan upah yang tidak hilang pada ayat 42 di atas.
Berbicara tentang upah perbuatan baik, sangat menarik. Gereja-gereja arus utama tidak menekankan upah. Ini berangkat dari pengajaran Katekismus Heidelberg, yang menyatakan: “barangsiapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, oleh iman yang sungguh-sungguh, tidak dapat tidak menghasilkan buah berupa perbuatan baik, yang timbul dari rasa syukur kepada Allah” (Mat. 7:18).
Di lain sisi gereja-gereja Injili dan terutama aliran kharismatik, agak menekankan upah dari perbuatan baik. Ini berangkat dari berbagai ayat Alkitab, seperti “Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga” (2Kor. 9:6). Firman Tuhan lainnya menuliskan, segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya untuk menyenangkan hati Tuhan, pasti diperhitungkan oleh-Nya (1Kor. 3:14; Kol. 3:14). Ada juga perintah untuk menyimpan harta di sorga (Mat. 6:19-21; Luk. 12:33). Amsal dari Raja Salomo juga menyatakan, bahwa “mereka yang memberi kepada yang lemah akan memiutangi Tuhan” (Ams. 19:17), dan Tuhan akan mengganti dan ada saatnya menuai (Gal. 6:9-10; 2Tim. 4:2; Ef. 6:8; Mat. 16:27; Luk. 6:35).
Semua kembali kepada iman dan motivasi kita. Orang percaya layak memberi yang terbaik bagi Tuhan kita, melalui hamba-hamba-Nya yang telah memberi yang terbaik dalam hidup pelayanannya. Hanya dengan demikianlah kerajaan sorga dapat diperluas, Tuhan Yesus senag dan dan nama-Nya semakin ditinggikan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi 3
PERJANJIAN DENGAN ALLAH (Mzm. 89:1-4, 19-26)
Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit (Mzm. 89:1-2)
Mengapa datang kemalangan dan derita pada seseorang? Ini pertanyaan yang lazim. Secara garis besar, Alkitab khususnya kitab Amsal, menjelaskan ada beberapa faktor penyebabnya: pertama, mereka kurang berhikmat sorgawi, bodoh atau bebal, misalnya, makan banyak-banyak dan tidak berolah raga, maka kemudian kena stroke; atau berkendara ugal-ugalan, kemudian bertabrakan hingga menderita luka parah.
Kedua, cobaan dari iblis dengan persetujuan Tuhan atau Tuhan sendiri yang ingin menguji seseorang, khususnya tentang kemurnian iman (1Pet. 1:5). Kisah Ayub sangat jelas; juga Tuhan Yesus dicobai di padang gurun (band. 1Pet. 2:19; 4:13-14). Dalam menghadapi ini, sering kali akal kita tidak mampu memahami ihwal yang terjadi, dan sangatlah bagus jika menganggapnya sebuah misteri Ilahi, bukan menghujat. Dan bagi yang beriman kuat, melaluinya dengan tetap berpegang: “... Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13).
Tetapi ada juga orang yang hidupnya mendapatkan berkat melimpah, dan terus bertambah-tambah setiap hari. Tentu tidak semua dalam ukuran harta materi. Alkitab mengajarkan hal ini bukan saja karena ia hidup berhikmat dari Allah dan selalu bersyukur, tetapi Alkitab juga menegaskan bisa saja karena ada janji Allah terhadap kakek moyangnya, sehingga hidupnya terus diberkati. Berkat dan kutuk memang dua hal yang jelas dipaparkan dalam Alkitab, sebagaimana dituliskan dalam Ulangan 28, termasuk kepada keturunan ketiga dan keempat dalam Hukum Taurat ketiga (Kel. 20:5).
Firman Tuhan di hari Minggu ini diambil dari Mzm. 89:1-4, 19-26. Ini sebuah nyanyian pengajaran tentang janji Allah. Pada ayat 1-4, seolah ada keluhan terhadap janji Allah atas umat Israel yang menderita saat itu. Pemazmur mewakili umat berkata: “Engkau telah berkata: Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun!" (ayat 3-4).
Umat Israel sesuai 2Sam. 7:1-17, percaya ada janji Allah kepada Daud melalui nabi Natan mengenai keluarga dan kerajaan Daud. “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya" (2Sam. 7:15-16). Inilah yang dituntut umat. Dan kita pun dalam situasi susah, kadang menuntut Allah: di mana kasih setia-Mu?
Sebagai orang percaya, kita melihat Allah adalah Pribadi, dan Dia Allah yang hidup; maka perjanjian antara kita dengan Allah menjadi sesuatu yang wajar. Alkitab dan sejarah membuktikan, janji Allah teguh dan pasti, bahkan Allah kadang bersumpah meneguhkan janji-Nya (Kej. 15:13, 18; Kis. 2:20; Ibr. 6:17). Ia adalah Allah yang penuh kasih setia dan tidak pernah gagal dalam janji-Nya. Jadi, meski kadang jalan kehidupan yang kita lewati menanjak dan penuh liku serta ada rasa sakit, semua itu dalam kendali-Nya, dan percayalah itu untuk kebaikan kita. “Penderitaan adalah gada, bukan kapak, atau pedang,” tulis Matthew Henry dalam buku kedua tafsiran Mazmur yang lumayan tebal.
Minggu ini adalah masa penuh pengharapan, sebelum semua digenapi kelak oleh Tuhan kita. Bagi kita yang belum membuat janji dengan Allah dalam menjalani kehidupan ini, saatnya untuk melakukan. Perjanjian dengan Allah kadang inisiatif Allah, kadang atas inisiatif manusia. Sebagaimana pemazmur yang kembali imannya terhadap janji Allah di ayat 19-26, memang sungguh dahsyat dan penuh pengharapan, yakni seperti mahkota di atas kepala, urapan minyak kudus; musuh tidak akan menyergap dan menindas, tetapi justru sebaliknya lawan serta orang-orang yang membenci akan dihancurkan, membuat tangan menguasai laut, dan tangan kanan menguasai sungai-sungai, serta tanduk kita akan meninggi (ayat 19-23, 25).
Kini saatnya kita membangun atau membarui janji dengan Allah. Tuliskan atau katakan secara gamblang, hal nyata yang akan dilakukan untuk menyenangkan hati Tuhan di hadirat-Nya, dan meteraikan semuanya dengan kuasa Roh Kudus. Agungkan dan utamakan hal itu dalam hidup kita. Itu bukan saja untuk hidup kita, tetapi juga bagi keturunan kita. Kesetiaan dan kasih-Nya selalu menyertai (ayat 2, 24) sehingga ada saatnya kelak, kita pun layak berseru sebagaimana ungkapan pemazmur di ayat 26: “Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.”
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi 2
PEMIMPIN PENYESAT (Yer. 28:5–17)
”Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar–benar diutus oleh TUHAN" (Yer. 28:9)
Bagaimana membedakan gereja atau hamba Tuhan yang benar? Kadang kita dikejutkan oleh berita tentang satu dua gereja yang dianggap sesat, seperti gereja Pdt. Jones di Amerika Selatan, Pdt. Sibuea di Bandung, Pdt. Jung Myung Seok di Korea, dan lainnya. Bagaimana pula membedakan seorang pemimpin yang baik dan benar agar umat atau anggota tidak ikut tersesat?
Tentu saja itu tidak mudah. Apalagi sering kali kita memakai ukuran dunia, seperti popularitas dan kepandaian berkhotbah, banyak pengikut atau penggemar, kekayaan dan kelimpahan materi, dan lainnya. Hal ini membuat pengujiannya menjadi sulit.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yer. 28:5–17. Ini kisah pertentangan nabi Yeremia dengan nabi Hananya yang bernubuat bahwa umat Israel hanya dua tahun saja dibuang ke Babel. Oleh karena itu ia berkata, perkakas perkakas rumah TUHAN akan dikembalikannya (ay. 11–12). Yeremia sebaliknya mengatakan bahwa pembuangan ke Babel akan berlangsung lama, dan terbukti berlangsung 70 tahun.
Melalui nas ini kita dapat belajar menguji gereja atau hamba Tuhan dengan beberapa cara. Pertama, nabi yang baik dan benar mestilah membawa damai, seperti dituliskan, “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN” (ay. 9). Oleh karena itu hamba Tuhan atau pemimpin yang membawa permusuhan dan perpecahan, penuh kebencian, serta memiliki sikap dan tindakan yang tidak berdasar kasih, jelas bukanlah hamba Tuhan atau pemimpin yang baik dan benar.
Kedua, hamba Tuhan atau pemimpin harus berani bersikap berbeda, menjaga kata-katanya tetap sejalan dengan perbuatannya, memiliki integritas. Janganlah sikapnya hanya untuk menyenangkan hati manusia. Bila pun langkahnya tampak menyenangkan manusia, tujuan akhirnya haruslah agar orang itu diselamatkan, seperti tertulis: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1Kor. 10:33).
Ketiga, tidak ada dusta dan tidak ada yang disembunyikan, sebagaimana nabi Yeremia mengatakan, “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta” (ay. 15). Menguji dusta itu tidak sulit, cukup melihat cara seseorang memberi informasi yang benar dan terbuka. Gereja atau organisasi yang tertutup, misalnya tidak memiliki laporan keuangan yang transparan, memiliki doktrin yang aneh dan tidak Alkitabiah, jelas berisi dusta. Pemimpin yang terlibat konflik dan tidak mau berdamai atau bertatap muka pastilah penuh dusta. Kadang alasan dibuat-buat, tetapi fakta dan data tidak dapat dikecoh. Kata-kata dapat diplintir, tetapi kenyataan tidaklah demikian.
Keempat, cara yang tidak mudah tetapi dilakukan nabi Yeremia adalah bernubuat tentang nabi Hananya. Ia berkata, “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN” (ay. 16). Kadang situasi seperti ini mungkin diperlukan bila menyangkut kepentingan umat atau anggota, agar kebenaran terbuka dan tidak ada yang tersesat. Hananya kemudian benar-benar mati (ay. 17).
Nabi Yeremia dan juga Rasul Paulus menuliskan sesuatu yang keras dalam menghadapi para penyesat. “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya” (Gal. 5:12). Tuhan Yesus juga marah besar menghadapi para penukar uang dan pedagang merpati di Bait Allah, dengan mengusir dan membalikkan meja mereka (Mat. 21:12). Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Luk. 17:1).
Gereja, organisasi, dan kita semua perlu memeriksa diri atas sikap dan langkah yang dijalankan. Kita semua mesti lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Lebih baik dijauhi manusia yang tidak baik dan tidak benar daripada dijauhi Tuhan dan akhirnya binasa. Semoga kita tidak demikian.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 21 Juni 2026
Kabar dari Bukit
MENJADI SATU DENGAN KEMATIAN KRISTUS (Rm. 6:1b-11)
”Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm. 6:7)
Selamat hari Minggu.
Saya (dan tentu banyak orang) menyukai lagu "Seperti yang Kau Ingini”, khususnya lirik refrainnya:
‘Ku telah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama; Semuanya sia-sia dan tak berarti lagi.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 6:1b-11. Judul perikopnya: Mati dan bangkit dengan Kristus. Pesannya nyambung dengan renungan Minggu lalu tentang perjuangan melawan sifat-sifat buruk kita yang masih muncul (bahkan favorit) yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.
Kita orang Kristen jelas tidak boleh berpikiran, bebas saja dulu berbuat dosa, sebab Tuhan akan mengampuni. Nas pembuka minggu ini (ay. 1b) menegaskan dengan pertanyaan: “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah anugerah itu?” Jawabannya: Sekali-kali tidak! Pengikut Kristus harus mejauhi dosa; Tuhan membencinya.
Tetapi kita masih hidup di dunia. Ya, Tuhan tahu. Alkitab juga mengatakan, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23). Hanya kita perlu sadar, sumber dosa selalu bermula dari diri kita. “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri" (Yak. 1:14a; bdk. Mrk. 7:21-23, datang dari hati). Itu bisa oleh keinginan daging/tubuh, atau tertarik gemerlap dunia memiliki harta dan kuasa dengan cara tidak benar. Kita tahu juga iblis adalah penggoda dan penyesat yang ingin agar kita terus dalam kubangan dosa.
Ketika kita mengaku percaya melalui baptisan atau sidi, sebenarnya kita telah dipersatukan dengan Tuhan Yesus sehingga tidak hidup lagi di dalam dosa. Ditegaskan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama Dia melalui baptisan kematian-Nya” (ay. 3-4). Tujuan akhir semua ini adalah, “kita telah menjadi satu dengan apa yang serupa dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang serupa dengan kebangkitan-Nya” (ay. 5).
Maka langkah tugas kita orang percaya adalah mencari dan menemukan perbuatan-perbuatan dosa yang masih terus ada dalam diri kita. Jangan menyepelekan apalagi mengabaikannya. Mungkin kita masih mudah berbohong, menipu, sombong, egois, memiliki hawa nafsu yang tidak terkendali, iri dan sakit hati, dan berpikir aman menjalani hidup tanpa Allah. Ini semua perlu diperiksa.
Kita perlu sadari sifat dosa dari keinginan tersebut terbentuk melalui proses yang panjang, dari faktor keluarga, lingkungan atau kurang menyukai firman, ditambah bawaan lahir natur kita yang disebut dosa asal. Tanpa kita sadari itu bisa menjadi kebiasaan, membentuk karakter, dan akhirnya kita dipebudak.
Hidup dalam kebiasaan dosa tertentu dapat diibaratkan bagaikan sebuah perahu bocor yang mengarungi kehidupan. Perahu bocor karena adanya natur berdosa. Dihantam lagi dengan gelombang ombak keinginan daging dan dunia, dan ini dimanfaatkan oleh iblis penyesat yang terus memperbesar kebocoran, akhirnya perahu tenggelam. Ini harus dihentikan, diperjuangkan dengan tekad, iman, latihan, jatuh bangun, cek/recek dan berani berkata: Tidak!
Tuhan Yesus mati membayar dosa kita dengan darah-Nya yang mahal, tiada noda dan cela. Bila kita mengaku dan percaya, maka manusia lama kita seharusnya telah turut disalibkan (ay. 6). Kita telah berubah status dan identitas. Maka janganlah mau diperhamba lagi, dan kuasa dosa menjadi tuannya. Sebagaimana ayat 10-11 mengingatkan, seperti lanjutan lagu di atas:
Hidup ini 'ku letakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan; Jadilah padaku seperti yang Kau ingini.
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 TAK TERPISAHKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 2 YANG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 3 KARMA...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 46 guests and no members online
