2026
2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
TUHAN MEMPERHITUNGKAN SEBAGAI KEBENARAN (Rm. 4:1-5, 13-17)
Bacaan lainnya: Kej. 12:1-4a; Mzm. 121; Yoh. 3:1-17 atau Mat. 17:1-9
Pendahuluan
Bacaan minggu ini masih menjelaskan tentang iman, namun kali ini kaitannya dengan hukum Taurat dalam bentuk perbuatan-perbuatan. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus membuat garis pemisah antara pembenaran berdasarkan perbuatan dan pembenaran berdasarkan iman. Dalam memperkuat pembenaran iman yang dasarnya kasih karunia, Rasul Paulus mengambil Abraham dan Daud sebagai model dan teladan tentang hal yang mereka perbuat dan yang diberikan Allah berupa kasih karunia karena iman mereka. Pengambilan Abraham dan Daud bagi umat Yahudi sangat tepat, sebab kedua tokoh ini sangat dikagumi dan dijadikan bagian dari sejarah utama bangsa Israel. Melalui nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang iman dan pembenarannya sebagai berikut.
Pertama: Abraham dibenarkan karena Iman (ayat 1-5)
Orang Yahudi sangat bangga disebut sebagai anak-anak Abraham, bapa leluhur jasmani mereka. Kisah hidup Abraham di mata mereka memperlihatkan berbagai tindakan yang dilakukannya sebagai respon terhadap janji, karya, maupun perintah Allah. Bagi orang-orang Yahudi, Abraham adalah tokoh teladan yang dibenarkan karena perbuatannya. Tradisi Yahudi menempatkan Abraham sebagai lambang pembenaran oleh karena kesetiaannya dan keteguhannya dan perbuatan-perbuatannya yang menyenangkan hati Allah (band. Rm. 2:14 dab; Yak. 2:22). Dengan dasar itu, bagi orang Yahudi, hanya dengan ketaatan dan perbuatan yang membuat seseorang berkenan kepada Allah, dan diselamatkan. Dalam pandangan mereka, Allah tidak mungkin membebaskan orang yang bersalah, sebagaimana kitab PL mengatakan, "...Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah...." (Kel. 23:7). Dengan demikian bagi orang Yahudi, mengatakan bahwa Allah berkenan hanya karena iman, itu adalah hal yang mustahil dan tidak dapat mereka terima dengan akal, dan bahkan dianggap menghina Allah.
Namun Paulus mengutip Kej. 15:6 yang mengatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Dalam hal ini Paulus menekankan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena perbuatan-perbuatannya, melainkan hanya karena imannya. Meski Abraham sebagai tokoh yang luar biasa, akan tetapi dia menerima pilihan dan janji Allah (Kej. 12:1-2; 13:14-15; 22:17) ketika ia belum disunat, belum menjadi Yahudi, sehingga janji berkat itu diberikan karena imannya semata, bukan karena perbuatannya. Bagi Paulus, apabila Abraham menerima janji berkat karena perbuatannya, maka Abraham akan bermegah dan ia memiliki dasar untuk itu. Hal yang dilakukan oleh Abraham adalah percaya dan meyakini akan janji-janji Allah, mengandalkan Allah dan menyerahkan diri pada-Nya, dan dengan dasar itu juga ia menjaga hubungan yang baik dengan setia dan taat, serta itu menyenangkan hati Allah (band. Ibr. 11:8-9). Jadi semua dasarnya adalah iman, sehingga Abraham disebut sebagai bapak orang beriman.
Memang, menerima pandangan itu seolah-olah sulit. Ketika seseorang dikatakan diselamatkan oleh iman, maka biasanya dia akan bertanya ragu: "Apakah saya memiliki iman yang cukup untuk diselamatkan? Apakah iman saya cukup kuat untuk diselamatkan?" Sebenarnya, orang-orang seperti ini kehilangan poin utama keselamatan, yakni bahwa Yesuslah yang menyelamatkan, bukan perasaan kita atau tindakan kita. Yesus berkuasa dan mampu untuk menyelamatkan kita betapapun kecil dan lemahnya iman kita. Yesus menawarkan keselamatan sebagai anugerah karena Ia mengasihi kita, bukan karena kita memiliki kuasa iman. Jadi, kalau begitu, apa fungsi iman? Iman adalah mempercayai dan meyakini Allah melalui Tuhan Yesus dan bersedia menerima anugerah keselamatan yang tersedia dari-Nya. Sebagaimana Abraham, kita diminta memiliki iman dan dengan itu kita dibenarkan.
Kedua: Janji Allah bukan berdasarkan Taurat (ayat 13-14)
Allah memberikan janji yang dahsyat kepada Abraham yakni menjadi berkat bagi banyak bangsa-bangsa. Janji itu adalah warisan yang harus dipertahankan. Umat Yahudi memiliki pandangan, bahwa Abraham atau seseorang dapat menerima dan mempertahankan janji Allah hanya karena menaati hukum Taurat dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan hukum Taurat, dan Allah menganggapnya sebagai ketaatan. Dalam hal ini yang terjadi kemudian adalah perbuatan dan ketaatan itu ada karena kemampuan dan usaha diri sendiri dalam menjalankan hukum Taurat. Ini lebih mengandalkan kemampuan sendiri dan konsekuensinya berpikir akan upah dan penghargaan, serta sekaligus menimbulkan kesombongan dan kemegahan diri. Akan tetapi Abraham tetap taat dan setia serta ia tidak bermegah atas janji dan berkat itu, dengan tetap merendahkan dirinya di hadapan Allah dan manusia (band. Kej. 13:1-17).
Nas ini juga menekankan bahwa seseorang yang bekerja pasti mendapatkan upah dan itu adalah haknya. Upah yang didapat sama sekali tidak ada hubungannya dengan suatu anugerah yang sebenarnya tidak layak diterima. Seseorang yang berbuat baik dan benar di hadapan Tuhan dan mendapatkan penghargaan bukanlah anugerah. Akan tetapi Abraham juga melakukan dosa dengan mendistorsi kebenaran (berbohong) dan seseorang yang berbuat dosa pasti dianggap durhaka dan menerima hukuman. Oleh karena itu kalau dasarnya adalah ketaatan sempurna kepada hukum Taurat, maka tidak mungkin ada keselamatan. Maka nas ini kemudian menekankan bahwa Allah membenarkan orang durhaka. Allah tidak membenarkan seseorang yang giat dan saleh, tetapi Dia membenarkan orang berdosa yang durhaka. Maka, pembenaran itu adalah anugerah, dan sebetulnya kepercayaan diri manusia itu hanya kesia-siaan. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah membenamkan diri kita ke dalam pengasihan dan anugerah Allah melalui iman.
Kita tahu setiap tindakan yang kita ambil pasti memiliki konsekuensi. Hal yang kita lakukan menjadi sebuah seri tindakan yang berlanjut bahkan setelah kita mati. Kita memang cenderung berpikir pendek saja tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjangnya, yang kemudian menipu kita karena berpikir kalau hidup ini singkat saja. Abraham berpikir panjang dan Paulus mengambil Abraham sebagai tokoh yang diselamatkan karena iman, bukan berarti bahwa hukum Taurat tidak lagi penting. Iman tidak berarti meniadakan hukum Taurat. Kita tahu bahwa hukum Taurat diberikan pada masa Musa dan jauh setelah Abraham. Paulus dalam hal ini tidak mengambil Musa sebagai teladan, melainkan Abraham. Begitu juga Daud yang hidup jauh sesudah Taurat diturunkan, dengan imannya yang teguh pada Tuhan dibenarkan meski ia banyak melakukan dosa. Demikianlah, janji dan warisan itu tetap diberikan kepada Abraham, dan kepada Daud melalui Yesus Kristus yang menjadikan kerajaan-Nya yang jaya dan maha luas. Janji itu tidak batal dan iman mereka tidak sia-sia.
Ketiga: Hukum yang menimbulkan murka (ayat 15)
Dalam kitab Roma pasal 2 dituliskan bahwa hukum Taurat membangkitkan murka, baik kepada diri sendiri maupun dari Allah, "Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan" (Rm. 2:5). Tuhan Yesus mengatakan kepada para ahli Taurat, bahwa meski mereka mengetahui dan bahkan mengajarkan hukum Taurat yang diberikan Allah melalui Musa, mereka juga melanggarnya. Hal yang mereka ajarkan berlawanan dengan perbuatan-perbuatan mereka bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain oleh karena perbuatan mereka (ayat 24).
Hukum Taurat diberikan Allah kepada bangsa Yahudi sebagai kaidah mereka dalam berperilaku dan untuk menjaga kemurnian bangsa Yahudi, serta membuat mereka sebagai contoh atau model sebuah bangsa teladan pilihan Allah sehingga bangsa-bangsa lain mengikuti dan memuliakan Allah. Dalam hal ini Allah menetapkan hukum-hukum standar berikut dengan konsekuensi hukuman yang terjadi apabila ada tindakan pelanggaran. Atau dengan kata lain, melalui hukum Taurat Allah menjelaskan hal yang dituntut dari manusia, dan Allah tidak berkenan dan menjadi murka atas pelanggaran yang terjadi. Akibatnya, seperti dinyatakan oleh Hagelberg, ada rantai yang berkaitan dan tidak terputuskan dari hubungan itu, yakni hukum Taurat, pelanggaran, dan hukuman akibat memurkakan Allah (band. 1Kor. 15:56). Apabila satu dari rantai itu terjadi, maka rantai itu akan berulang muncul kembali. Dan kenyataannya, manusia gagal mengikuti hukum Taurat sebagaimana ahli-ahli Taurat juga melakukan hal yang sama seperti dinyatakan Tuhan Yesus tadi, sehingga rantai itu terus sambung menyambung.
Maka tidak ada alasan untuk bermegah karena hukum Taurat. Hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan. Sebagaimana dituliskan dalam Gal. 3:10, "Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Oleh karena tidak ada satupun yang bisa setia melaksanakannya, maka hukum Taurat hanya menimbulkan murka dan kutukan, sebab manusia memang tidak mampu untuk mengikutinya. Dengan demikian pula, dinyatakan "bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman" (Gal. 3:11). Maka yang sebenarnya, Allah yang penuh kasih menghendaki penyerahan diri dan ketergantungan, didasari iman yang penuh kepada-Nya, bukan iman dengan kemampuan diri sendiri untuk dapat menyenangkan hati-Nya. Dalam hal ini, iman kepercayaan dan kebenaran menjadi satu dalam rangkaian, bukan hukum Taurat yang menimbulkan murka.
Keempat: Janji terhadap keturunan Abraham (ayat 16-17)
Firman Tuhan menjelaskan kepada kita bahwa Abraham berkenan kepada Tuhan hanya karena imannya, sebelum dia mendengar tentang ritual atau prosesi ibadah yang bagi umat Yahudi kemudian menjadi harus dijalani dengan ketaatan dan penuh dengan penafsiran manusia. Kegagalan para pemimpin Farisi dan ahli Taurat dalam menjaga nilai-nilai hakiki Taurat itu yakni kasih, tetapi yang terjadi kecenderungan mereka memanfaatkan aturan-aturan menjadi lebih lebar dan luas dengan tujuan kepentingan ekonomi dan jabatan mereka sendiri, membuat Taurat kehilangan kasih. Ritual Yahudi yang penuh struktur aturan persembahan termasuk persepuluhan menjadi kehilangan hakekat dalam membawa umat Yahudi sebagai bangsa teladan yang berkenan kepada Allah.
Firman Tuhan dalam Habakuk yang memang sudah menekankan pentingnya iman namun mereka tidak mereka pahami dengan benar. Mereka terus saja berkutat kepada aturan-aturan legalistik. Oleh karena itu firman Tuhan melalui Rasul Paulus kembali meenkankan dan mengingatkan bahwa manusia diselamatkan dengan iman, Abraham diselamatkan karena iman, tanpa ada usaha apapun. Orang yang dipilih-Nya diselamatkan bukan karena perbuatan baik, bukan karena adanya sesuatu plus iman, atau perbuatan baik plus iman; melainkan hanya iman, iman kepada Allah melalui Yesus Kristus yang adalah anak Allah dan mati tersalib untuk menebus dosa-dosa kita dan seluruh manusia. Mengutip kembali pandangan Hagelberg, kalau Taurat membentuk rantai dengan pelanggaran dan hukuman, maka iman membangun rantai dengan kasih karunia dan janji. Peneguhan janji sebagaimana yang diberikan kepada Abraham demikian pula diberikan kepada kita yang teguh imannya.
Namun perlu sekali lagi ditekankan bahwa iman itu terputus dan tidak berdiri sendiri. Dalam firman Tuhan lainnya dikatakan, bahwa “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:17); "Iman yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6; Ef. 2:10). Betul, iman itu dasar dan fondasi, tetapi iman perlu dibuktikan melalui pertobatan dengan lepas dari kehidupan lama yang tidak berkenan kepada Tuhan, melakukan perbuatan-perbuatan kasih seturut firman-Nya, baik kepada Allah maupun kepada manusia. Hal yang juga penting, objek iman dalam hal ini adalah Kristus Anak Allah, yang menjadi Mesias dan Hakim bagi semua orang sesuai dengan penggenapan janji yang diberikan Allah kepada manusia dan para nabi di dalam Perjanjian Lama. Melalui Yesus, Allah tetap adalah Allah Israel yang perkasa, Allah yang berkuasa, bukan hanya menghidupkan mereka yang mati, melainkan juga membuat ada dari yang tidak ada. Itulah Yesus Anak Allah yang kepada-Nya iman kita dibenarkan dan janji-Nya digenapkan.
Penutup
Kembali minggu ini kita diingatkan betapa pentingnya iman dalam berhubungan dengan Allah. Melalui nas yang kita baca, hukum Taurat ternyata tidak menyelamatkan bahkan memberi konsekuensi pelanggaran dan hukuman murka Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mampu sempurna melaksanakan hukum Taurat sehingga murka Allah akan tetap ada. Namun sebagaimana Abraham dan Daud, ternyata kasih Allah melebihi hukum Taurat dan terbukti semua dasarnya itu adalah iman, iman yang berkenan kepada Yesus yang telah menebus dosa-dosa manusia. Memang masih banyak orang mengutamakan dan menempatkan perbuatan baik sebagai dasar untuk berkenan kepada Tuhan, dengan melakukan ketaatan pada ritual-ritual ibadah namun ketika menghadapi masalah, iman tidak ditempatkan sebagai hal yang utama. Maka tanpa iman maka semua itu tidak berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham dan Daud, juga berlaku bagi kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, untuk ikut mewarisi berkat-berkat yang disediakan bagi yang berkenan kepada-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 2
KETIDAKPASTIAN DAN BERKAT (Kej. 12:1–4a)
”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu berbahagia ini adalah Kej. 12:1–4a. Judul perikopnya: "Abram dipanggil Allah". Abram yang kemudian oleh Tuhan diganti namanya menjadi Abraham akan dijadikan bapa sejumlah besar bangsa (ay. 2; Kej. 17:5). Abram berarti “bapa yang terpuji”, sedangkan Abraham berarti “bapa banyak orang”.
Allah memilih Abraham tentu dengan pertimbangan setelah melihat hubungan pribadi dan karakternya. Ia diminta pergi dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan dan berhenti beberapa waktu di Haran (Kis. 7:2; Kej. 11:31). Meski dalam iman kita tahu Abraham adalah pilihan mutlak Allah, sifat dan karakternya memang layak dipilih dan perlu kita teladani, yakni:
1. Memiliki hubungan dekat dengan Allah sehingga Allah berbicara langsung dengannya (ay. 1). Ia juga membangun mezbah (ay. 7);
2. Memiliki iman yang kuat, tampak ketika Allah memintanya pergi meski tujuannya belum jelas dan pasti (ay. 1; Gal. 3:6,9);
3. Taat dan setia (ay. 4), tatkala ia diminta mempersembahkan Ishak, anaknya sendiri (Kej. 22:2);
4. Rendah hati, ketika ia mengalah kepada keponakannya Lot dalam memilih lokasi penggembalaan (Kej. 13:8–9).
Pesan pertama nas ini bagi kita adalah agar selalu bersiap untuk dipakai, dipanggil, dan diberkati-Nya. Meski dalam Alkitab ada pribadi yang sebelumnya membenci Allah kemudian dipanggil, seperti Rasul Paulus, secara mental, rohani, dan fisik kita harus bersiap diri sebab hanya orang yang tangguh dan siap yang dipakai Tuhan.
Pesan kedua, percaya dan menggantungkan sepenuhnya hidup kita kepada Allah. Jalan yang ditempuh kadang tidak mudah, tersembunyi, tidak jelas, bahkan melewati rasa sakit dan penderitaan. Namun percayalah, semua itu terjadi dalam pengetahuan Allah. Tetaplah teguh seperti pujian KJ 416: “Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh, ‘ku dibimbing tangan Tuhan, ke neg'ri yang tak 'ku tahu.”
Pesan ketiga agar kita berani mengambil risiko menjalani kehidupan, tetapi risiko yang diperhitungkan, bukan yang membabi buta. Ketidakpastian adalah peluang. Hanya orang yang berani keluar dari situasi yang dianggap nyaman yang akan memperoleh kehidupan lebih baik. Hidup mendaki penuh tantangan dan peluang, tetapi perlu dijalani bila ingin sesuatu yang baru dan lebih indah dengan tetap mengandalkan Tuhan. Abraham mengambil risiko tersebut dengan meninggalkan sahabat dan lingkungannya meski ia memiliki banyak ternak.
Pesan keempat, percayalah kepada janji Allah (ay. 2; Gal. 3:29; Rm. 4:13). Ia pasti menjaga anak-anak-Nya, termasuk dari perbuatan jahat orang lain, bahkan menghukum mereka yang mengutuk dan berbuat jahat kepada anak-anak pilihan-Nya (ay. 3). Allah akan memberkati orang yang siap menjadi berkat (ay. 2).
Pesan terakhir, agar kita tidak melupakan keluarga dan saling mendukung. Sara, istri Abraham, meski mandul dan sudah tua, tetap dibawa dalam perjalanan bersama Lot, keponakannya. Ini cermin keluarga yang saling mengasihi dan mendukung. Memang dalam keluarga kadang ada saat harus memilih, seperti ketika Abraham berpisah dengan Lot yang kemudian kurang diberkati (Kej. 19:1–38; Luk. 17:28–32).
Berjalan dalam iman bersama Tuhan kadang berada dalam ketidakpastian, tetapi semuanya akan menjadi pasti dan membawa sukacita sebab Tuhan menjadikannya jalan berkat. Iman yang kuat memberi keberanian untuk patuh dan setia meski jalannya sulit. Yang diperlukan dari kita hanyalah keberanian, ketekunan, daya tahan, dan kesabaran.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 22 Februari 2026
Kabar dari Bukit
DI DALAM ADAM ATAU DI DALAM KRISTUS (Rm. 5:12-19)
”Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm. 5:19)
Kekristenan dianggap paling rasional dibandingkan dengan agama-agama lain. Selain tidak banyak doktrin yang dianggap irrasional, pendekatan apologetika (pembelaan iman), kekristenan banyak menggunakan logika, filsafat, dan bukti sejarah; bukan kepercayaan buta. Kekristenan juga menekankan bahwa iman dan akal budi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan alat yang diberikan Tuhan untuk memahami kebenaran Alkitab.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 5:12-19. Judul perikopnya: Adam dan Kristus. Adam (dan Hawa) jatuh ke dalam dosa yang membuat mereka diusir dari Taman Eden, jauh dari Allah. Dosa membuat manusia tidak kudus, sementara Allah adalah kudus sehingga tidak dapat dipersatukan. Dosa masuk ke dunia melalui Adam, tetapi anugerah Allah masuk ke dunia melalui Kristus. Dan, nas minggu ini menekankan bahwa karya keselamatan Kristus, jauh lebih besar dari dampak dosa yang dijalarkan Adam kepada kita.
Ketidaktaatan Adam (dan Hawa) pada Kej. 3 memberi dampak, manusia memiliki dosa asal, baik dalam pengertian dosa yang diturunkan dari orangtua dan leluhur (Kel. 20:5), maupun dosa asal dalam pengertian kecendrungan (natur) manusia untuk berbuat dosa yang dipicu hasrat daging, dunia dan iblis yang jahat.
Oleh karena “dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (ay. 12; Rm. 3:23), maka melalui Adam manusia menghadapi kematian. Hukuman ini bahkan sudah ada sebelum Taurat diturunkan yang memperlihatkan bahwa natur atau kecendrungan berbuat dosa sudah ada dan berkuasa dalam diri manusia setelah Adam berdosa (ay. 13-14).
Terpujilah Allah, melalui Kristus kematian telah dikalahkan oleh kasih-Nya (Yoh. 3:16; 1Kor. 15:54-57). “Tetapi, karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (ay. 15). Ini berarti kasih karunia yang ditawarkan Yesus Kristus jauh lebih berlimpah, sebab kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang (ay. 16).
Adam membawa kita kepada penghukuman, "tetapi pemberian karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran" (ay. 16). Ini yang mebawa kita kepada penebusan dan dikuduskan sehingga layak hidup dalam hadirat Allah. Paulus menuliskan nas ini dengan pendekatan paralel, sebuah tipologi. “Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (ay. 18). "Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam persekutuan dengan Kristus (1Kor. 15:22). Di dalam Adam ada dosa dan maut, di dalam Kristus ada pembenaran dan hidup.
Namun semua itu tentu memerlukan respons dan disiplin, agar kita dapat menikmati kehidupan yang diberikan Kristus, yaitu ketaatan seperti ayat pembuka di atas (ay. 19). Anugerah memerlukan iman, tekad, komitmen dan latihan perubahan. Orang percaya tidak lagi hidup “di dalam Adam”, tetapi “di dalam Kristus”. Dan itu harus dimulai dari hari ini, bukan besok atau nanti. "Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" (Flp. 2:12). Yohanes Calvin menyebutnya "ketekunan orang percaya". Di situlah Tuhan melihat hati.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 3
NYANYIAN ZIARAH (Mzm. 121)
Firman Tuhan bagi kita di Minggu II Prapaskah merupakan nyanyian ziarah, Mzm. 121, satu dari seri 15 mazmur ziarah 120-134. Penamaan nyanyian ziarah karena dari tradisi, mazmur-mazmur ini dinyanyikan saat umat Israel datang dari berbagai tempat, berziarah dan beribadah mendaki ke Bukit Sion Yerusalem, tiga kali dalam setahun (Ul. 16:16). Mereka mendaki membawa persembahan hasil panen dan ternak. Berat dan tidak mudah. Bagaikan barisan tentara, nyanyian akan menambah semangat pendakian.
Ayat 1 bertanya tentang sumber pertolongan. Bukit atau gunung-gunung sering dianggap sebagai tempat bersemayam para roh-roh atau dewa dan berhala. Ada manusia yang mencoba menatap dan datang, tetapi itu semua adalah tipu daya (Yer. 3:23). Jawabannya tetap dan pasti, pertolongan kita hanya datang dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (ayat 2).
Umat datang ke bait-Nya dengan pergumulan dan pengharapan, taat dan membawa persembahan, sebuah keyakinan untuk membuat hati Tuhan senang. Pergumulan hidup dan beratnya jalan berbatu ke bukit, semua dikalahkan oleh pengharapan pada Pencipta langit dan bumi. Tentu, tiada lagi yang lebih berkuasa tempat menaikkan pengharapan selain Dia yang menciptakan bumi dan alam semesta ini.
Mazmur 121 ini juga menegaskan Allah kita adalah ROH yang hidup, Allah yang setia penuh kasih, terus terjaga yang tidak terlelap dan tertidur, menjadi pelindung bagi kita, naungan di sebelah kanan dalam perjalanan hidup (ayat 3-5). Oleh karena itu, dalam tradisi Yahudi, Mzm. 121 ini sering disalin dan ditempel di kamar bersalin, kereta dan kamar bayi, untuk pengajaran dan meminta berkat serta perlindungan Tuhan dalam kehidupannya kelak.
Beratnya perjalanan ke Bukit Sion dan juga hidup keseharian membuat kadang kita terjatuh, tetapi tidak akan tergeletak (Mzm. 37:24). Ia takkan membiarkan kaki kita goyah (ayat 3), atau membuat terik matahari menyakiti kita, bahkan jauh dari segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawa kita, menjaga keluar masuk, dari sekarang sampai selama-lamanya (ayat 7-8). Sungguh, terpujilah Tuhan Yesus yang layak ditinggikan dan diagungkan, tempat kita menaikkan pujian dan segala pengharapan. Hanya, tetaplah taat dan percaya dan membuat hati-Nya berduka.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026
Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026
YESUS DAN KEMENANGAN (Mat. 4:1-9)
Pada Minggu I Pra Paskah, umat Katholik telah mulai berpuasa dan sebagian umat Protestan mengikutinya. Firman Tuhan hari Minggu ini juga menceritakan tentang puasa Tuhan Yesus selama 40 hari, sesuai nas bacaan kita, Mat. 4:1-9. Iblis ingin mencobai Yesus setelah Ia dibaptis oleh Yohanes, yang ketika itu ada suara dari langit berkata: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."
Ada tiga pencobaan yang dilakukan iblis. Pencobaan pertama tentang rasa lapar. Tuhan Yesus setelah berpuasa 40 hari, diminta oleh iblis mengubah batu menjadi roti. Tentu Tuhan Yesus mampu, tetapi Ia menjawab iblis: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (ayat 4; Ul. 8:3). Maka kita diingatkan, jangan setiap hari hanya memberi makanan untuk tubuh fisik kita semata, tetapi juga makanan rohani, penguatan jiwa, agar tetap sehat tubuh, roh dan jiwa kita.
Pencobaan kedua dengan sensasi iblis memanipulasi firman Allah, sebagaimana iblis memanipulasi Hawa di Taman Eden. Iblis menantang Tuhan Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan atap tinggi. Menurut iblis, Allah Bapa akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk menatang Yesus, supaya kaki-Nya jangan terantuk kepada batu (ayat 6; Mzm. 91:11-12). Tetapi Tuhan Yesus menjawab: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ayat 7; Ul. 6:16). Iblis pun keok.
Cobaan ketiga iblis kepada Yesus yakni tawaran menyerahkan kerajaan dunia berikut segala kuasa serta kemuliaannya. Woow..., tetapi dengan satu syarat: Dia harus menyembah iblis. Alasan iblis sangat masuk akal, sebab “kerajaan dunia” telah diserahkan kepadanya, dan iblis berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Jelas itu tawaran yang sangat menggoda, dan tidak “susah” mewujudkannya yakni cukup dengan menyembah iblis. Tetapi sekali lagi Yesus menjawab dengan firman Tuhan dari Ul. 6:13: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ayat 8). Dan, iblis pun mati kutu.
Iblis dengan kepintarannya, menawarkan kepada kita dengan berbagai cara, bahkan dengan tipu sensasi, khususnya saat kita merasa membutuhkan, terdesak tanpa pilihan, sehingga kita mudah jatuh dan terikat. Tetapi kita perlu belajar dari Tuhan Yesus. Pertama, Ia menyadari mengikuti permintaan iblis akan masuk dalam jebakannya. Kedua, Yesus tidak mementingkan dirinya sendiri, sebab hal yang perlu dan terbaik bagi diri-Nya adalah sesuai dengan kehendak Bapa.
Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam melawan godaan dan tawaran iblis. Firman-Nya dapat kita pakai sebagai benteng perisai dalam melawan serangan tersebut, sebagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis di padang gurun. Firman Tuhan bukan sekedar kata-kata, melainkan firman yang memiliki kuasa dengan urapan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Jadi tatkala kita lemah, tatkala kita rentan mudah jatuh, maka ingatlah firman Tuhan yang menjadi kekuatan kita. Tetaplah terhubung dengan-Nya, dan tetaplah penuh Roh, dan kita pun akan menang seperti Tuhan Yesus yang akan senang.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 TUHAN MEMPERHITUNGKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 2 KETIDAKPASTIAN...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 3 NYANYIAN...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 16 guests and no members online
