Tuesday, January 13, 2026

2025

Khotbah (3) Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025

Khotbah Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025 – Opsi 3

 KESEDIHAN NATAL (Mat. 2:13-23)

 

Firman Tuhan sesuai leksionari pada Minggu pertama setelah Natal, Mat. 2:13-23, menceritakan kabar sedih. Bayi Kudus Yesus harus mengungsi atas pesan Allah melalui mimpi kepada Yusuf (ayat 13). Herodes yang berkuasa ingin membunuh Yesus, oleh karena mendengar nubuatan bahwa Raja yang akan datang itu lahir di Betlehem (ayat 6; Mi. 5:1). Orang Majus yang diminta Herodes untuk memberi informasi tentang keberadaan Bayi Yesus, tidak melakukannya, bahkan bersukacita memberi persembahan emas, kemenyan dan mur. Mereka juga bersiasat pulang mengambil jalan lain agar tidak ditangkap (ayat 12).

 

Herodes pun murka setelah tahu ia diperdaya. Untuk mencari jalan aman terhadap kuasanya, Herodes membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu (ayat 16). Natal pun menjadi sebuah kisah sedih. Yusuf dan Maria dengan Bayi Kudus Yesus menyingkir dengan bersusah hati. Orang-orang tua kehilangan anak-anak mereka karena kekejaman Herodes. Tangisan memilukan terdengar di seluruh wilayah itu.

 

Ya saat ini kita pun mungkin ada yang tidak bisa sepenuhnya bersuka cita atas datangnya Penebus ke dunia. Ada pergumulan penyakit; ada kesedihan karena baru ditinggal oleh orang kekasih. Atau, ada yang mengganjal karena doa-doa khusus belum terkabulkan. Warna cerah merah hijau serasa hitam buram; Terang Natal redup tidak bersinar. Natal yang sedih dan pilu.

 

Tetapi mari kita melihat Yusuf. Ia menunjukkan ketaatannya, mengikuti pesan Allah sepenuhnya. Ketaatannya mengambil Maria yang tidak dibuahinya sebagai istri, kini dia lengkapi dengan mau bersusah payah menyelamatkan Bayi Kudus Natal kita. Ia kooperatif, tidak mengeluh. Ia mengambil peran dan tanggungjawab sepenuhnya tanpa ragu, meski itu berat dengan rasa sakit. Ini sebuah teladan yang harus kita ikuti. Ketaatan Yusuf menggenapi rencana Allah tentang Mesias, dan ketaatan kita juga pasti berbuah baik bagi rencana Allah.

 

Derita pasti berakhir. Rasa sakit ada titik puncaknya. Rencana Allah pasti tergenapi. Herodes pun mati. Sesuai pesan Allah, Yusuf kembali ke Nazaret dengan sukacita dan kemenangan. Maka ketika Natal kali ini kita tidak bisa sepenuhnya bersukacita, tetaplah taat dan setia. Allah akan turun tangan dan tetap bekerja (Rm. 8:28). Kejahatan pasti kalah. Kegelapan hanya sementara saja. Sebagaimana Yusuf dan Maria, kita akan melihat terang dan kemenangan. Rencana Allah selalu yang terbaik untuk kita yang mengasihi-Nya; Dia adalah pemilik hidup kita dan tugas kita membuat hati-Nya senang.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 21 Desember 2025

Kabar dari Bukit

 PERTOBATAN DALAM TAHUN RAHMAT (Yes. 61:1-4, 8-11)

 ”Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran” (Yes. 61:10a)

Kita sering mendengar kata pertobatan. Menurut Henry C. Thiessen dalam bukunya Teologi Sistimatika yang banyak dipakai sebagai rujukan, pertobatan merupakan tindakan berbalik kepada Allah, dan tindakan tersebut merupakan tanggapan manusia terhadap panggilan Allah. Tindakan itu sendiri terdiri atas dua unsuur: pertobatan dan iman, yang menghasilkan pembenaran, dan pembenaran membawa kepada hidup, dan bukan sebaliknya (Rm. 5:17-18).

 

Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di Minggu IV Adven ini adalah Yes. 61:1-4, 8-11. Judul perikopnya: Kabar baik kepada Sion. Pada ayat 1-2 dituliskan, “Roh TUHAN Allah ada padaku, karena TUHAN telah mengurapi aku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara kepada orang-orang terkurung, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang yang berkabung.”

 

Tuhan Yesus juga membacakannya saat memulai pelayanan-Nya (Luk. 4:17-18), setelah sebelumnya Ia mengatakan, “Bertobatlah sebab kerajaan surga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Ketika Tuhan Yesus selesai membacakan ayat ini, Ia menegaskan dengan kalimat penutup, “Pada hari ini genaplah nas ini ketika kamu mendengarkamnya” (Luk. 4:21). Artinya, nas itu telah digenapi dalam diri-Nya.

 

Dengan demikian kita tahu bahwa kedatangan Tuhan Yesus selain untuk memberitakan tahun rahmat yakni menyelamatkan manusia agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16), Tuhan Yesus juga membawa misi membebaskan “orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara kepada orang-orang yang terkurung, ... menghibur semua orang berkabung” (ay. 1-3).

 

Mungkin saat ini kita tidak mengalami situasi tersebut, dalam arti hidup (lumayan) berkecukupan, penuh sukacita tanpa kesusahan dan beban di hati, tidak sakit (parah), tidak sedang dipenjara. Terpujilah Tuhan. Bahkan kita sudah siap-siap menyambut Natal dengan menghias rumah, membeli baju dan makanan yang lezat atau berlibur. Namun kita perlu menyadari bahwa masih ada saudara-saudara kita yang memiliki permasalahan tersebut, baik sebagian atau bahkan seluruhnya dalam tingkatan serius.

 

Maka mari kita ikut berbagi kasih dan berkat bagi mereka. Mari ikut memberikan kabar dan tindakan baik sebagai wujud tahun rahmat bagi mereka yang melihat Natal tahun ini masih gelap. Minggu Adven terakhir ini memberi kesempatan kepada kita agar mereka ikut bersukaria di dalam TUHAN, jiwa mereka bersorak-sorai di dalam Allah, dan mereka tahu Tuhan Yesus datang untuk mengenakan pakaian keselamatan dan menyelubungi mereka dengan jubah kebenaran, dan mengikat perjanjian abadi dengan mereka (ay. 10).

 

Kita adalah pembawa berita agar mereka berkesempatan  memiliki keturunan yang diberkati TUHAN, melihat seperti bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa (ay. 8, 9,11). Nas minggu ini juga mengingatkan bahwa TUHAN kita mencintai hukum, membenci perampasan dan kecurangan. Tahun rahmat juga memberitakan hari pembalasan Allah. Sudahkah kita dalam iman melakukan sesuatu bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan termasuk korban banjir badang di Sumatera bagian utara? Itulah bukti kita milik Kristus (Rm. 1:1-7) dan menolak pertanda (Yes. 7:10–16).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu IV Adven - 21 Desember 2025

Khotbah Minggu IV Adven – 21 Desember 2025 (Opsi 2)

 

NAMANYA IMANUEL (Mat. 1:18-25)

 

Minggu Adven keempat membawa kita lebih bersukacita, sebab beberapa hari lagi Natal tiba. Firman Tuhan bagi kita sesuai leksionari dari kitab Matius 1:18-25, menceritakan kabar kelahiran Yesus oleh malaikat kepada Yusuf, tunangan Maria. Kitab Lukas menceritakan kabar itu kepada Maria dan kitab Markus dibuka dengan kabar kelahiran Yohanes Pembaptis. Ketiga kitab ini saling melengkapi dan disebut Injil Sinoptik, yang berarti melihat bersama. Kitab Injil Yohanes melengkapinya dengan cara yang berbeda. 

 

Pesan malaikat kepada Yusuf tentu mengagetkannya, sebab mereka baru bertunangan. Oleh karena tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, maka Yusuf bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi pesan Tuhan kemudian datang kembali melalui mimpi kepada Yusuf, berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (ayat 20). Menyadari hal itu, ia pun taat. Imannya yang kokoh dan hatinya yang tulus, memberi teladan bagi kita tentang ketaatan terhadap suara Tuhan.

 

Dalam tradisi Yahudi, pemberian nama kepada anak adalah hak pihak laki-laki, yakni saat disunat usia delapan hari. Oleh karena itu pesan Allah tentang nama bayi itu diberikan kepada Yusuf. "... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (ayat 21). Haleluya. Yesus dalam kata Ibrani yeshua dengan variasi Yoshua berarti (Allah) menyelamatkan. Yusuf pun mengambil Maria sebagai isterinya. Benarlah, hubungan yang baik dengan Tuhan tidak akan membiarkan kita bimbang bila dalam pergumulan. Yusuf yang selalu mendahulukan kehendak Allah, maka selalu diberikan jalan keluar.

 

Yusuf juga tahu tentang nubuatan dalam Yes 7:14 bahwa "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita. Imanuel sendiri merupakan "gambaran" tentang keberadaan Yesus sebagai inkarnasi Allah menjadi manusia. Kelahiran Yesus tanpa benih laki-laki pun merupakan salah satu penggenapan nubuatan kelahiran Yesus dalam PL, dari puluhan nubuatan lainnya, mulai dari Kej. 3:15 tentang keturunan perempuan yang akan menginjak kepala ular si iblis hingga Mi. 5:2 menubuatkan akan lahir di Betlehem dan Zak 9:9 tentang kedatangan Mesias.

 

Yesus Juruselamat yang hidup. Imanuel, Allah menyertai kita, berarti Kristus yang lahir di Betlehem adalah Allah sendiri yang datang ke dunia untuk memanggil kita, membebaskan kita dari beban dosa, dan hidup di antara kita umat-Nya. Janji itu telah digenapi. Allah Roh Kudus yang hidup terus bersama kita. Tetapi penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya jika kita ikut dalam tugas misi-Nya (Mat 28:20). Sudahkah kita merespon dan mengambil bagian ikut mengabarkan kelahiran bayi Yesus itu? Mari kita ikut ambil bagian untuk menyenangkan hati Tuhan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin. 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu IV Adven - 21 Desember 2025

Khotbah Minggu IV Adven – 21 Desember 2025 

 

DIPANGGIL MENJADI MILIK KRISTUS (Rm. 1:1-7)

 

Bacaan lainnya: Yes. 7:10-16; Mzm. 80:1-7, 17-19; Mat. 1:18-25

 

Pendahuluan

Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Roma yang belum pernah dikunjunginya (mungkin juga oleh para rasul dan pemimpin lainnya), namun hatinya tetap rindu ingin melihat jemaat tersebut. Ia menulisnya saat masih di Korintus pada perjalanan penginjilannya yang ketiga dan terakhir (Kis. 20:3; Rm. 15:25). Jemaat di Roma ini terbentuk mungkin setelah beberapa orang berkunjung ke Yerusalem di hari pentakosta Yahudi mendengar kabar baik tentang Tuhan Yesus (Kis. 2:10), dan beberapa peziarah atau pelancong (sebagian bukan orang Yahudi) yang mendengar di lain tempat, seperti Priskila dan Akwila di Korintus (Kis 18:2; Rm 16:3-5) dan mengembangkan iman mereka setelah kembali ke kota Roma. Kitab Roma juga merupakan kitab yang ditulis dengan sangat sistematis tentang iman orang percaya, dan pasal 1 yang merupakan bacaan kita minggu ini merupakan pengantar dan berisi pelajaran sebagai berikut.

 

Pertama: Hati seorang hamba (ayat 1)

Surat Paulus diketahui selalu dengan salam dan memperlihatkan kepedulian kepada pihak yang ditulisnya. Bagi yang belum pernah ditemuinya, adalah wajar apabila ia memperkenalkan dirinya. Itu adalah sikap rendah hati. Terlebih saat itu ada beberapa pihak yang mempertanyakan kerasulannya, sebab ia bukan murid Tuhan Yesus secara langsung, sebagaimana Matius, Petrus, dan lainnya. Sikap menyapa dengan rendah hati ini perlu kita teladani sebab seringkali kita berkomunikasi dengan pihak lain (seperti surat, email, sms, wa, bbm dan lainnya), isinya jangan langsung “nyaplak”, tanpa “basa-basi” salam atau pengharapan, seperti menyebut Syalom, Selamat Pagi/Siang/Malam, Horas, semoga sehat-sehat dan lainnya. Paulus dan kita belajar dari sikap Tuhan Yesus yang merendahkan diri-Nya dengan turun dari sorga menjadi manusia dan hamba (Flp. 2:6-8).

 

Sikap rendah hati Rasul Paulus juga diperlihatkan ketika ia menyebut dirinya sebagai hamba. Dalam arti sebenarnya hamba adalah budak, seseorang yang tidak memiliki hak asasi pribadi yang seluruhnya sudah menjadi hak si pemilik. Kalaupun ia menyebut dirinya sebagai rasul, maka itu hanya merupakan kata umum yang berarti utusan (apostle/apostolos=utusan), bukan dalam pengertian kedudukan dengan hak-hak khusus. Ia perlu menyebut dirinya sebagai utusan atau rasul hanya dengan tujuan agar pembaca suratnya (di Roma) memahami posisi dan tugas dirinya dalam komunikasi tersebut, yakni mewakili Tuhan Yesus. Ia juga menegaskan bahwa sebenarnya ia adalah rasul yang paling hina dari segala rasul (1Kor. 15:9). Namun kita mengakui, meskipun ia tidak “langsung” murid Tuhan Yesus semasa hidup-Nya, ia memperoleh karunia yang luar biasa dan karya yang dijalaninya mulai mempersiapkan dirinya dan perjalanan penginjilannya, membuat kita tidak ragu bahwa kerasulannya adalah sah dan semua yang diterimanya sebagaimana dituliskannya dalam surat-suratnya adalah langsung dari Tuhan Yesus. 

 

Ia menyadari para murid langsung Tuhan Yesus (seperti Matius, Yohanes, Petrus, dan lainnya) semuanya berlatar-belakang Yahudi dan meneruskan misi Tuhan Yesus bagi umat Yahudi saja. Oleh karena itu melalui ilham, suara dari Tuhan Yesus, Paulus menerima langsung tugas panggilan merintis menginjili orang-orang yang bukan Yahudi (Kis. 26:17; Rm. 11:13; Gal. 2:8) dan inilah yang ditegaskannya kepada ke jemaat Roma, yang pada saat itu merupakan campuran antara orang Yahudi, Yunani dan lainnya. Pada ayat 5 ia juga mengatakan bahwa panggilan Tuhan Yesus itu merupakan kasih karunia, terlebih latar belakangnya adalah penganiaya orang-orang percaya. Ia juga merasa telah dikuduskan melalui karya Tuhan Yesus di Golgota. Penyebutan dirinya sebagai hamba Kristus juga jelas memperlihatkan sikapnya bahwa ia sesungguhnya sudah menjadi milik Kristus. Itulah sikap seorang pemberita Injil yang sejati yang layak kita teladani. 

 

Kedua: Janji dan keturunan Daud (ayat 2-3)

Rasul Paulus melakukan semua itu sebab mengakui kekuatan Injil, dalam bentuk kitab Perjanjian Lama yang sudah meluas dikenal saat itu (kitab Septuaginta), dan juga kitab-kitab para murid Tuhan Yesus yang sudah mulai dituliskan dan beredar, serta khususnya yang diterimanya dari Tuhan Yesus secara langsung. Ia memahami akan janji yang diberikan Allah kepada umat Yahudi dan kepada umat manusia, bahwa keselamatan akan diberikan bagi semua orang, bukan hanya orang Yahudi tetapi bagi siapa saja yang bersedia menerima kehadiran Allah di hatinya. Allah mempunyai jawaban atas penderitaan rohani bangsa Yahudi setelah sekian lama dijajah oleh bangsa-bangsa lain. 

 

Sebagai orang Yahudi, Paulus tahu persis tentang kisah kebesaran Raja Daud dan kejayaannya dalam memerintah bangsa Israel dan juga menguasai bangsa-bangsa lainnya. Berangkat dari keturunan Isai dan menjadi pelayan Saul, hingga kemudian menjadi panglima perangnya, Raja Daud kemudian naik takhta dengan pertolongan Tuhan, tanpa harus melakukan kudeta dan kekerasan terhadap Saul. Raja Daud pada masa keemasannya mempersatukan keduabelas suku-suku Israel, bahkan memperluas kerajaan Israel dengan menguasai wilayah-wilayah sekitarnya. Semua wilayah yang dikuasainya tunduk pada perintahnya dan bahkan memberi persembahan yang layak bagi seorang Raja yang berkuasa. 

 

Rasul Paulus tahu bahwa ada janji kebesaran yang akan datang kembali dari tahta dan Putra Daud, yang akan berkuasa dan memberikan keselamatan bagi banyak orang. Rasul Paulus telah melihat janji itu menjadi nyata ketika Yesus lahir di kandang domba berupa seorang bayi mungil manusia. Sesuai dengan silsilah yang kita lihat di Mat 1, maka garis keturunan itu jelas sehingga Yesus adalah Putra Daud menurut kedagingan dari "ayahnya" Yusuf, meski ia lahir dari kuasa Roh Kudus. Janji itu juga meneguhkan hal yang dituliskan dalam kitab Kejadian 15, bahwa keturunan wanitalah (sebab Yesus tidak lahir dari benih pria atau Yusuf) yang akan meremukkan kepada ular si penghasut yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Dengan silsilah dan sejarah demikian, maka Yesus, Tuhan kita, adalah manusia sejati. 

 

Ketiga: Injil bagi semua bangsa (ayat 4-5)

Firman Tuhan yang kita baca menyebut Roh Kekudusan, yang sebenarnya menunjuk kepada Roh Kudus, Allah kita dalam wujud Roh yang kembali mengambil peran dalam kelahiran Yesus. Roh Kudus juga yang memelihara pertumbuhan kedagingan Yesus termasuk dalam hubungan dengan ibu dan keluarga-Nya. Roh Kudus memberi hikmat kepada Yesus sehingga Ia bertumbuh semakin bijak dan pandai dalam kitab-kitab suci, yang membuat para imam dan orang Farisi kagum. Yesus juga memperlihatkan kuasa dari sorga dengan membuat banyak mukjizat kesembuhan bahkan menghidupkan orang mati. Namun keberanian Tuhan Yesus untuk menegur para imam dan orang Farisi dalam menafsirkan kitab suci dan penerapannya, serta kecemburuan yang timbul dengan kuasa Yesus yang begitu besar, membuat Ia dibenci dan akhirnya dibunuh dengan cara dihina dan disalibkan hingga mati di Golgota.

 

Kembali Roh Kekudusan atau Roh Kudus menunjukkan karya-Nya dengan membangkitkan Yesus dari kematian-Nya. Kebangkitan inilah yang meneguhkan kedudukan Yesus sebagai Anak Allah dan Allah dalam wujud Manusia, meneguhkan Ia adalah Mesias, dengan tugas menyelamatkan manusia dari kematian selama-lamanya. Allah menyatakan kuasa Yesus melalui kebangkitan-Nya (2Kor. 13:4; Kol. 2:12). Banyak orang lain atau nabi yang membuat mukjizat, ada juga nabi yang naik ke sorga, tetapi hanya Yesus yang bangkit dari kematian, berinteraksi dengan manusia selama 40 hari dan akhirnya naik ke sorga disaksikan oleh banyak orang. Kuasa dan anugerah ini tidak pernah ada pada manusia lain, tidak juga pada nabi-nabi lain.

 

Dengan kuasa yang dimiliki-Nya, Yesus manusia sejati itu sah menjadi Tuhan, dan diteguhkan sebagai Allah sejati. Pelayanan-Nya yang demikian singkat membuat Yesus harus menyerahkan tugas misi tersebut kepada para murid, khususnya Amanat Agung yang disampaikan sebelum naik ke sorga. Yesus memberi karunia khusus kepada para murid untuk melaksanakan misi tersebut, dan ketika para murid memperdebatkan soal keselamatan itu hanya untuk orang Yahudi, Allah melalui cara-Nya yang unik, Yesus “seolah-olah hidup kembali” dan memanggil Saulus yang kemudian bertobat dengan nama Paulus, memberitakan keselamatan itu bagi semua bangsa, bukan hanya untuk orang Yahudi. Allah memiliki hak prerogatif dengan daulat penuh untuk memilih rasul-Nya. Kasih Allah untuk semua dan tidak membeda-bedakan suku, ras, bangsa-bangsa dan golongan. Semua bangsa dipanggil melalui para rasul (termasuk Paulus) dan utusan-utusan misionaris hingga abad ini agar semua berbalik dan menerima Injil berita keselamatan, menjadi taat kepada-Nya, bukan dalam ketaatan legalistik peraturan, akan tetapi berupa kasih karunia keselamatan yang bukan hanya di dunia ini tetapi juga hingga kelak pada kekekalan.

 

Keempat: Dipanggil menjadi milik Kristus (ayat 6-7)

Melalui para rasul, semua bangsa dipanggil menjadi pengikut Kristus. Rasul Paulus menekankan kata dipanggil dua kali dalam nas ini. Kunci kalimat dipanggil dalam pengertian inisiatif keselamatan dan menyelamatkan ada pada Tuhan dan kita manusia merespon atas panggilan itu. Dipanggil dan menjadi orang percaya dan beriman kepada Kristus adalah kasih karunia, bukan karena kehebatan kita, akan tetapi kasih Tuhan yang memilih kita dan hati kita terbuka oleh pimpinan Roh Kudus. Kita dipanggil untuk menjadi milik-Nya (band. Yud. 1:1; Why. 17:14) untuk taat dan setia kepada-Nya, melalui iman, Firman, ketekunan dan karya. Kita menjadi milik-Nya saat kita hidup, tetapi kita juga menjadi milik-Nya saat kita mati, dan kita hidup dan mati adalah seluruhnya untuk Tuhan (Rm. 14:8).

 

Orang percaya dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus. Kekudusan hidup itu sangat penting sebab Allah kita adalah Allah yang kudus sehingga yang berinteraksi dengan Dia haruslah kudus, sebagaimana kisah Musa ketika memasuki hadirat-Nya (Kel. 3:1-6; Im 11:44). Tujuan pengudusan ini bukan untuk membuat kita eksklusif terpisah dari sekeliling, melainkan menjadi orang yang dikhususkan untuk menjadi milik-Nya, melayani, dan mengemban misi-Nya. Melalui pengudusan kita juga dibentuk seturut dengan kehendak-Nya sepanjang kita taat dan setia (Ef. 4:22-24). Proses pengudusan ini berlangsung terus menerus yang diawali dengan pengakuan bahwa dosa-dosa kita telah dihapus dan ditebus dengan korban tubuh Yesus di Golgota. 

 

Ayat terakhir dalam nas ini meminta kita untuk menjadi saluran berkat bagi semua orang. Menjadi berkat tidak hanya dalam bentuk pemberian uang, materi atau tenaga, bantuan informasi, tetapi juga melalui doa yang dipanjatkan pada Tuhan agar pihak lain yang berkomunikasi dengan kita memperoleh berkat melalui doa kita. Itulah makna doa syafaat, doa perantara. Kalimat-kalimat lengkap seperti kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu sekalian, adalah yang terbaik, akan tetapi singkatan GBU, TYM atau YBU merupakan bentuk doa kita kepada pihak yang berkomunikasi dengan kita.

 

Kesimpulan

Firman Tuhan yang kita baca minggu ini menjadi bekal yang baik dalam menyongsong peringatan lahirnya Tuhan Yesus Kristus. Kita diminta untuk terus merendahkan diri kita dan bersikap sebagai hamba dan sekaligus melihat diri kita menerima mandat sebagai utusan Kristus di dunia ini. Kita bersikap demikian karena janji yang diberikan-Nya melalui nabi-nabi telah menjadi nyata dengan peristiwa di Betlehem, Putra Daud telah menjadi manusia, sehingga kita menjadi pasti menerima janji-janji yang diberikan-Nya. Untuk menggapai itu, melalui ketaatan dan kesetiaan, kita dikuduskan-Nya secara terus menerus untuk bisa tetap menjadi milik-Nya. Kita dipanggil sebagai bagian dari bangsa-bangsa yang mengikut Dia. Mengikut dan menjadi saksi bagi-Nya, membuat Kristus hadir bagi semua dan kita benar-benar milik-Nya dan hidup (mati) kita adalah bagi Dia. Dengan demikian panggilan dan pemilihan Allah kepada diri kita tidak menjadi sia-sia. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin. 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah (3) Minggu IV Adven - 21 Desember 2025

Khotbah Minggu IV Adven – 21 Desember 2025 (Opsi 3) 

 

MENOLAK PERTANDA (Yes. 7:10–16)

 

Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki–laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yes. 7:14b) 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, jawaban atas doa dan pengharapan tidaklah selamanya langsung diberikan oleh Tuhan. Nasihat yang lazim: tunggu! Semua akan indah pada waktunya (Pkh. 3:11). Namun, ada juga hamba Tuhan yang berkata: sebetulnya doa sudah dijawab dan diberi dalam iman, tapi wujudnya nanti; Bisa aja, … hehehe. Memang kadang ada yang tidak sabar, meminta jawaban atau pertanda segera, bahkan mengancam akan murtad. Whoaaaa.... Ini yang salah!

 

Meminta tanda itu sebenarnya Alkitabiah. Saya pun pernah mengalaminya. Namun bukan tuntutan, melainkan meminta tanda petunjuk dari Tuhan. Ceritanya, selepas kerja dari grup perusahaan Bukaka, saya dipinang oleh dua perusahaan. Saya bingung: mana yang akan saya pilih? Saya juga memberikan syarat dan kondisi yang sama. Namun, melalui doa, Tuhan memberikan hikmat, yakni agar saya meminta kepada mereka untuk mengirimkan email atau surat sebagai konfirmasi. Perusahaan yang duluan mengirimkan ialah pilihan Tuhan.

 

Puji Tuhan, petunjuk-Nya benar. Perusahaan yang terlambat mengirim, kemudian ditutup; dan pimpinannya masuk penjara! Ini kisah perusahaan jalan tol Ciawi–Sukabumi, dimana sebelumnya saya menjabat sebagai direktur utama.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu IV Adven yang berbahagia ini adalah Yes. 7:10–16. Judul perikopnya adalah “Pemberitaan mengenai Imanuel.” Perikop ini mengisahkan bangsa Yehuda yang sedang berada dalam tekanan, dan akan ada serangan dari bangsa Aram dan Efraim (Israel). Raja Ahas yang ketakutan ingin meminta bantuan raja Asyur, tetapi Nabi Yesaya memberi nasihat kepada Ahas agar tidak meminta bantuan dari luar, tetap percaya saja kepada Allah sebab itu hanyalah gertakan (ay. 6–7).

 

Raja Ahas tidak sabaran dan menolak pertanda, kemudian Nabi Yesaya dengan sedikit kesal mengatakan, “belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (ay. 13b–14).

 

Ayat ini kemudian digenapi ketika malaikat berkata kepada Yusuf dalam mimpinya, bayi yang lahir itu akan diberi nama Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita (Mat. 1:23). Dialah Yesus yang kita rayakan di sukacita Natal ini.

 

Nas minggu ini mengajarkan: janganlah kita mengandalkan pikiran, menolak suara (hamba) Tuhan,. dan pertanda. Allah telah memberi petunjuk kepada Ahas: “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut....” (ay. 4). Ahas hanya perlu menanti dalam iman, Tuhan pasti akan bertindak (ay. 9). Namun, terkadang manusia berpikir situasinya sudah genting, harus diselesaikan, sehingga mencari jalan keluar sendiri! Ahas mengandalkan pikirannya yang terbatas dan tetap meminta bantuan Asyur (2Raj. 16:5–18; 2Taw. 28:16–21). Akibatnya memang buruk.

 

Waktu dan cara pandang Tuhan tidaklah sama dengan manusia (Yes. 55:8–9; Mzm. 94:11) Seringnya kita merasakan genting dan kritis, padahal itu berakar dari ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Mungkin terlalu menjaga gengsi, harga diri, nama, padahal semuanya sia-sia, hanya sementara. Bersama Tuhan, bersabarlah dan bertekunlah. Tetaplah percaya dan berdoa, didasari iman yang kuat. Sebab doa tanpa iman, apalagi tidak sungguh-sungguh, memang hilang kuasanya (Yak. 5:15–17).

 

Meminta pertanda itu bagus, tetapi memaksakan tanda terjadi, atau tidak percaya sama sekali, sama saja tidak percaya Tuhan. Sebagaimana Ahas yang menolak tanda dan tidak percaya, akibatnya dihukum. Asyur malah kemudian menyerang Yehuda; bantuan yang menjadi bencana!

 

Mari belajar berhikmat serta percaya kepada suara Tuhan, baik melalui doa atau melalui hamba-Nya. Imanuel, Allah menyertai kita!

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin. 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 55 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13294043
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1605
4969
10359
13259239
52842
141921
13294043

IP Anda: 216.73.216.103
2026-01-13 09:10

Login Form