2025
2025
Khotbah (2) Tahun Baru 1 Januari 2026 - Perayaan Tahun Baru
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2026 – Opsi 2
SEMANGAT BARU (Pkh. 3:1-13)
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh. 3:1)
Firman Tuhan hari di Tahun Baru ini, Pkh. 3:1-13, berbicara tentang kekuasaan Allah atas hidup manusia dan alam semesta. Untuk segala sesuatu ada waktunya; manusia bisa berencana, berikhtiar, tetapi Tuhan penentu segalanya (band. Yak. 4:13–17).
Pergantian tahun mendorong kita untuk merenung sejenak melihat ke belakang. Seperti patung Janus yakni dewa Yunani dengan dua wajah, menatap ke belakang sebagai refleksi, dan ke depan sebagai aplikasi. Bulan Januari berasal dari kata ini. Kontemplasi Mzm. 90:12 sangat relevan: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Akhir tahun memang seperti tutup buku dalam perusahaan, pendataan persediaan, penghitungan arus kas, dan lainnya. Tentu, yang kita evaluasi tidak melulu pencapaian, untung rugi, tetapi juga tentang upaya memberi yang terbaik sebagai wujud bukti kita mengasihi Allah dan sesama.
Sebagai anak-anak-Nya, Tuhan ingin kita berhasil. Hidup berserah bukan berarti que sera-sera, whatever will be will be, kumaha engke wae. Jangan juga terlena pada hal yang berlalu. Kaca spion untuk melihat ke belakang selalu dibuat kecil. Kaca di depan jauh lebih besar agar fokus kita lebih ke depan, melihat dan membuat hal-hal baru di tahun yang baru dengan perencanaan dan pengharapan. Buatlah dan tuliskan daftar petisi atau permohonan dan pengharapan. Rencana ke depan disusun untuk meraih hidup yang lebih nyaman dan sejahtera, dengan optimisme yang membubung tanpa kepongahan.
Saat menyusun petisi perlu pegangan: Pertama, kita hanya dapat berencana, namun tidak dapat memastikan hari esok. Kedua, hidup kita singkat dan harus diisi dengan yang bermakna. Waktu terbatas. Ketiga, kita bergantung kepada Tuhan sepenuhnya dalam perencanaan.
Kitab Yakobus di atas telah menasihatkan agar senantiasa memikirkan kehendak Tuhan dalam setiap rencana yang disusun. Tuhan berdaulat membuat rencana kita berhasil. Tentu kita perlu melakukan bagian kita dengan baik, sambil menundukkan diri di hadapan-Nya dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya. Do Your Best and Let God Do the Rest! (Kol. 3:23-24). Dengan demikian, apa yang kita rencanakan dan lakukan, menjadi berarti. Tuhan akan meninggikannya. "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka" (ayat 11).
Di atas semua itu, tentu kita wajib bersyukur memasuki tahun yang baru ini. Mzm. 8:5 sebagai padanan leksionari nas minggu ini mengingatkan: "apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"
Kita bersyukur melewati tahun yang lalu dengan segala mosaiknya, indah dan buruknya. Tetaplah bersyukur karena kita sudah dalam keselamatan kekal. Maka, ayo bulatkan tekad, susun petisi pengharapan, lakukan yang terbaik di tahun yang baru. Kita buat lebih baik dari tahun yang lalu. Soli Deo Gloria. Kemuliaan hanya bagi-Nya.
Selamat TAHUN BARU dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Tahun Baru 1 Januari 2026
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2026 – Opsi 3
LANGIT DAN BUMI YANG BARU (Why. 21:1-6a)
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi (Why. 21:1)
Kitab Pengkhotbah mengatakan, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9). Maksudnya, dunia ini bukanlah semua monoton. Banyak hal baru yang ditemukan dalam gagasan dan kehidupan. Tetapi umat manusia tetaplah sama, tidak ada yang baru, yakni memiliki keinginan, hasrat, nafsu, ambisi, mencari jati diri dan eksistensi, biarpun dengan sasaran-sasaran pribadi yang baru.
Tahun baru merupakan kesepakatan umat manusia tentang tanggal dimulainya penanggalan atau kalender. Tujuannya tentu untuk mempermudah komunikasi. Ada berbagai versi kalender. Versi internasional yang umum dipakai adalah kalender Gregorian yang dikenalkan pertama kali tahun 1582. Di Indonesia sendiri ada beberapa versi kalender yang umum dikenal, yakni tahun Hijriah, kalender Cina, Jawa, Sunda dan Bali. Masing-masing berbeda tergantung pengambilan acuannya, yakni dari perputaran matahari, bulan atau gabungannya. Dengan demikian, tanggal yang penting tiap versi kalender juga berbeda.
1 Januari kita memulai tanggalan yang baru. Mulai hari ini ke hari-hari seterusnya, penulisan tanggal dan bulan sama dengan tahun sebelumnya, tapi tahunnya berubah dengan bertambah satu. Ada perubahan. Seperti itulah kira-kira cara kita memahami bumi baru dan langit baru dalam nas ini. Bukan berarti kita harus pindah ke planet lain. Bumi baru dan langit baru merupakan transformasi dari bumi saat ini dengan tatanan yang baru. Tentu kita tidak diajak untuk menghayal dan memikirkan terlalu detail wujud dan prosesnya.
Langit baru juga demikian halnya. Pandangan dan cakrawala penglihatan manusia baru kelak akan berbeda. Pola pikir atau mindset berubah dan lebih kepada yang sesuai dengan kehendak Kristus. Gambaran dunia baru lebih kepada kepenuhan sukacita dan damai sejahtera. “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (ayat 4).
Kota Yerusalem baru dalam nas ini hanyalah kiasan, sebuah simbol akan pusat Kerajaan Allah. Ini tidak ada hubungannya dengan suatu lokasi di Israel. Demikian juga dengan gambaran nas ini tentang, “... dan laut pun tidak ada lagi”. Dalam pasal sebelumnya dijelaskan bahwa laut menyerahkan orang-orang mati, yang berarti laut sebagai tempat buangan orang-orang mati, orang-orang yang tidak termasuk dalam buku kehidupan (Why. 20:12-13). Ada disebut pula laut maut dan kerajaan maut yang merupakan simbol dan gambaran kejahatan (band. Why. 12:18). Jadi, pasti ada kebangkitan dan penghakiman.
Tahun baru selalu membawa harapan. Memang harapan kadang-kadang bisa menjadi sumber kekecewaan, jika tidak terwujud atau terlambat. Francis Bacon berkata, “harapan sangat bagus sebagai sarapan, tetapi tidak bagus untuk makan tengah malam.” Tetapi harapan lebih memiliki nilai plus yang besar, yakni menjadi pendorong dalam kehidupan. Harapan adalah sauh kuat (Ibr. 6:19) sehingga tetap bersukacitalah dalam pengharapan (Rm. 12:11). Harapan yang besar membuat orang menjadi besar, kata Thomas Fuller. Alkitab menegaskan, jangan terjebak realitas. “... karena hal-hal yang dilihat bersifat sementara; tetapi hal-hal yang tidak terlihat adalah abadi (2Kor. 4:18).
Saya percaya segala sesuatu memiliki awal dan akhir. Seperti dalam ayat 6 nas firman Tuhan ini: “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Saya juga percaya pada proses. Dalam proses ada yang berjalan sesuai hukum alam, dan kadang-kadang ada campur tangan Tuhan secara langsung. Orang beriman layak menyadari hal itu.
Dalam proses tersebut, firman Tuhan menekankan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12). Kita harus tetap berpegang bahwa Tuhan itu baik, sangat baik. Untuk itu “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 107:1). Dengan bersyukur maka kita tahu Tuhan bekerja dan memberi yang terbaik dalam hidup kita dalam memasuki hari-hari baru di tahun yang baru ini.
Mari kita berpegang pada narasi lagu Lagu PKJ. 241, Tak Kutahu Hari Esok:
Tak 'ku tahu 'kan hari esok, Namun langkahku tegap.
Bukan surya 'ku harapkan, Kar'na surya 'kan lenyap.
O tiada 'ku gelisah akan masa menjelang; 'Ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Selamat TAHUN BARU dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025
Khotbah Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025
IA MEMBEBASKAN KITA DARI PERHAMBAAN (Ibr. 2:10-18)
Bacaan lainnya: Yes. 63:7-9; Mzm. 148; Mat. 2:13-23
Pendahuluan
Di penghujung minggu tahun ini bacaan kita masih tentang Allah menjadi manusia dan melalui penderitaan dan persembahan tubuh-Nya sebagai korban tebusan bagi kita, Ia menjadi pemimpin sekaligus Imam Besar kita. Natal selain memberi sukacita juga membawa damai sejahtera, sehingga melalui karya Tuhan Yesus kita dibebaskan dari segala ketakutan dan perhambaan. Allah menjadi manusia dengan tujuan melakukan penyelamatan dengan cara-cara yang bisa dialami oleh manusia. Melalui nas bacaan minggu ini, kita diberi pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Kerendahan hati dan penderitaan membawa kemuliaan (ayat 10)
Nas ini merupakan lanjutan dari ayat 1-9 yang menceritakan bagaimana Allah menjadi manusia, yakni Yesus datang ke dunia guna menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Dari ayat sebelumnya sangat jelas bahwa kedudukan manusia itu di bawah malaikat, sehingga dapat dikatakan, Allah Bapa adalah Roh yang Mahatinggi sebagai penguasa alam semesta, kemudian ada malaikat-malaikat sebagai roh tanpa tubuh, setelah itu manusia yakni roh dengan tubuh. Oleh karena itu dikatakan bahwa ketika Yesus menjadi manusia, maka kedudukan-Nya lebih rendah dari malaikat (ayat 7). Jadi, ada dua hal yang penting dari inkarnasi tersebut: pertama, menjadi manusia jelas bahwa sasaran yang dikasihi-Nya adalah manusia; kedua, yang dicari oleh Yesus ketika menjadi manusia bukanlah kedudukan, kehormatan atau status, sebab manusia adalah roh yang paling rendah (perlu kita pahami bahwa hewan tidak memiliki roh).
Dengan merendahkan diri itu pula Kristus diberikan jalan untuk kemuliaan. Flp. 2:6-8 mengatakan bahwa "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan", mengosongkan dirinya, merendahkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Perjalanan hidup yang dialami-Nya juga bukan mudah. Hidup di keluarga miskin, lahir di kandang domba, dan dalam pelayanan-Nya hidup tanpa tempat tinggal, serta tidak mampu membayar pajak. Kematian yang harus dijalani-Nya juga penuh dengan siksaan dan penderitaan, yang berakhir dengan dipaku dan disalibkan di atas bukit gersang Golgota. Penyaliban, adalah cara manusia dihukum dengan terkutuk, sehingga dapat kita katakan, penderitaan Yesus sebagai manusia sudah lengkap dan sempurna.
Oleh karena itu, nas ini mengatakan bahwa Allah menyempurnakan Yesus dengan menjalani semua rencana Allah tersebut dengan taat, setia dan menyerahkan semua pada kehendak Allah. Yesus disempurnakan untuk menjadi tebusan yang lengkap dan utuh, darah-Nya pengganti korban bakaran dan korban ukupan, dan itu menjadi cara yang pertama (pionir atau perintis) bagi keselamatan kita (Ibr. 2:18). Melalui jalan itu pula akhirnya Allah meninggikan Dia, memuliakan Dia dan kini Dia menjadi pemimpin bagi kita (Flp. 2:9). Itulah kasih karunia Allah yang demikian besar, sehingga kita tidak perlu lagi direpotkan dan terutama ditakutkan dengan kematian. Jalan itu pula menjadi teladan bagi kita untuk memperoleh kemuliaan, seperti Yesus yang telah menjadi Pemimpin kita, perlu merendahkan hati dan kesediaan berkorban; bukan dengan mencari kedudukan atau status dan menyombongkan diri.
Kedua: Semua dari yang Satu dan menjadi saudara (ayat 11-14)
Yesus menjadi manusia dan sama dengan kita, berasal dari sorga, dari Allah. Ketika kita pun menerima Dia, maka kita pun diangkat menjadi anak-anak-Nya, yang berhak mendapat bagian atas segala kemuliaan dan kehormatan yang dimiliki-Nya, sepanjang kita taat setia dan berbakti kepada-Nya. Ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka kita menjadi saudara, dan kita juga menjadi saudara dari Yesus (Mrk. 3:35). Kita dipisahkan atau dikuduskan untuk melayani Allah, diadopsi sebagai orang percaya menjadi sama yakni sebagai anak-anak Allah, sehingga dengan demikian kita menjadi saudara-saudara, dan Yesus juga memanggil kita sebagai saudara-Nya. Bagian dari ayat ini juga merupakan merupakan kutipan Mazmur yang mesianik dan juga dari kitab Yesaya.
Yesus menjadi manusia, menjadi darah dan daging, dan harus melewati kematian dan kemudian dibangkitkan. Ini sebagai simbol untuk mengalahkan kekuatan iblis atas kematian (Rm. 6:5-11). Yesus merasakan hidup sebagai manusia selama 33 tahun dan mengalami hal yang dengan pengalaman kita: berbagai perjuangan hidup, kesedihan dan penderitaan. Ia menjalani keseluruhan hidup manusia secara wajar, mengalami masa kecil, remaja dan bahkan menjadi dewasa ketika Ia harus hidup tanpa Yusuf ayah-Nya. Semua itu membuat-Nya dapat merasakan segala kesulitan dan pergumulan kita. Ia penuh dengan hikmat, sehingga mampu melihat kelemahan serta pergumulan yang kita alami. Hanya orang yang pernah mengalami penderitaan bisa dengan mudah berbelas kasihan kepada orang-orang yang menderita. Maka apabila kita dalam situasi penderitaan, bertanyalah pada Tuhan, bagaimana dengan penderitaan itu kita justru bisa melayani atau menolong orang lain?
Ketika kita menjadi anak-anak Allah dan menjadi saudara Yesus, maka kita juga secara otomatis dikuduskan. Proses pengudusan itu terjadi ketika kita sudah menerima Yesus dan mengaku Dia menjadi tebusan atas dosa-dosa kita. Dengan semua dosa-dosa kita sudah ditebus, kita pun menjadi kudus. Hal itu makna dari firman Tuhan bahwa "karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibr. 10:10; 13:12). Yesus layak menjadi pemimpin keselamatan kita, layak menjadi Imam Besar kita, karena Ia menyatukan umat-Nya yang kudus, saudara-saudara-Nya, membawa banyak orang kepada kemuliaan yang menjadi bagian-Nya. Kita juga dipanggil untuk melayani Dia, tapi bukan dengan kuk perhambaan, melainkan kemerdekaan penuh untuk melakukan perbuatan baik seiring dengan kasih-Nya yang sudah kita terima. Semua itu terjadi karena kita berasal dari yang Satu yaitu Allah Bapa, dan kita semua telah menjadi warga sorgawi (Yoh. 17:21; Ef. 2:19; Flp. 3:20).
Ketiga: Jangan takut kepada maut (ayat 15-16)
Mengapa orang takut mati? Tentu ada banyak alasan untuk orang takut terhadap maut atau kematian. Sebuah buku menceritakan bahwa ada tiga alasan kuat mengapa orang takut mati. Pertama, ia takut akan orang-orang yang ditinggalkannya, khususnya mereka yang dikasihinya. Terlebih, mereka yang dikasihinya itu masih tergantung padanya. Maka wajar pertanyaannya, kalau ia mati, bagaimana mereka nantinya? Kedua, ia takut bagaimana jalan kematian yang akan dilaluinya. Tidak sedikit mereka yang mati didahului oleh sakit yang berat dan berkepanjangan. Tentu itu sangat menakutkannya, apabila ia harus mati dengan cara yang demikian. Ketiga, takut, apakah setelah mati ia akan masuk neraka karena dosa-dosanya. Dosa-dosanya tentu dapat menghantuinya, dengan pemikiran pasti dibawa saat mati.
Dosa dan kematian merupakan pasangan setangkup dari buah pekerjaan iblis. Memang kematian fisik tidak bisa dihindari, ditiadakan atau ditunda-tunda. Semua itu kehendak Allah. Bagi manusia semua ada awal dan semua ada akhir, seperti alam semesta ini. Namun ketika kita di dalam Kristus, kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal yang kita tinggalkan, biarlah kita serahkan pada Allah Mahabaik yang memelihara mereka. Penyesalan pun tidak ada gunanya mengapa kita (mungkin) tidak mempersiapkan kemungkinan itu terjadi lebih cepat. Demikian juga dengan jalan menuju kematian, apakah melalui sakit berkepanjangan atau hanya melalui proses sekejap saja. Biarlah bagian kita saja yang kita jalankan dengan penuh tanggung jawab, dengan berusaha hidup sehat, berolah raga, menjaga makanan, dan hidup bersyukur yang jauh dari stress. Sementara untuk kehidupan setelah kematian, kita yakin bahwa kita yang sudah di dalam Kristus maka tempat kita adalah di Firdaus bersama Dia (Luk. 23:43; Rm. 8:1).
Dengan demikian, mereka yang hidup dalam ketakutan dan perhambaan takut mati, biarlah kita dibebaskan melalui hidup bersama Kristus. Terimalah Dia sepenuhnya. Ketika kita menjadi milik-Nya, menjadi anak-anak rohani Abraham, dan diadopsi menjadi anak-anak-Nya, maka kita tidak perlu takut, sebab kita mengetahui bahwa kematian itu hanyalah jalan untuk menuju ke kekekalan (1Kor. 15). Kematian Kristus dan kebangkitan-Nya membuat kita bebas dari rasa takut, sebab Tuhan Yesus telah mengalahkannya (Rm. 8:11). Setiap orang pasti mati, tapi mati bukanlah akhir segalanya, melainkan sebuah pintu menuju kehidupan baru (Why. 21-22). Oleh karena itu, siapapun yang takut mati, haruslah memiliki kesempatan untuk mengetahui pengharapan kemenangan Kristus yang dibawakan-Nya. Demikian juga kita, yang sudah menang akan rasa takut, bagaimana kita bisa berbagi dengan orang lain akan kemenangan itu?
Keempat: Ia menjadi Imam Besar (ayat 17-18)
Dengan turunnya Yesus menjadi manusia dan sama dengan kita, dan kebangkitan-Nya dari kematian serta naik ke sorga, maka lengkap sudah pemahaman kita bahwa Ia adalah Pemimpin kita. Ia menjadi Penasihat Ajaib bagi kita, sebab nasihat-nasihat-Nya memang paling super ajaib dari seluruh nabi-nabi yang ada. Ia juga menjadi Allah yang Perkasa sebab demikian besar kuasanya atas penyakit, roh-roh jahat dan bahkan kematian dikalahkan-Nya melalui mukjizat yang dilakukan-Nya. Dia adalah Allah yang kekal sebab Ia akan kembali menjemput kita anak-anak yang dikasihi-Nya. Semua itu menjadikan “Yesus adalah Raja Damai” di sepanjang hidup kita (band. Yes. 9:5 - Tema Natal PGI dan KWI tahun 2013).
Di dalam PL, Imam Besar adalah perantara antara Allah dengan jemaat-Nya. Tugasnya adalah secara rutin mempersembahkan korban hewan sesuai dengan aturan dalam PL dan memohonkan pengampunan dosa-dosa umat. Namun melalui peristiwa di Golgota, Tuhan Yesus telah menggantikan korban persembahan itu. Ia pernah menjadi manusia sehingga mengerti serta memahami kelemahan kita dan memperlihatkan belas kasihan kepada kita. Sebagai Imam Besar dan saat ini bersemayam di sorga dan di hati kita, itu menjadi jaminan pengampunan yang diberikan. Kuasanya jauh melampaui kuasa Imam Besar orang Yahudi. Ia hanya satu kali dan membayar lunas seluruh dosa-dosa kita dengan tubuh dan kematian-Nya, dan itu adalah jalan pemulihan hubungan kita dengan Allah. Kita dibebaskan dari jerat dan kuasa dosa ketika kita berkomitmen penyerahan diri pada Tuhan Yesus, percaya sepenuhnya terhadap semua hal yang terjadi dalam hidup kita.
Mengetahui Yesus telah menderita dan menghadapi pencobaan yang berat, menolong kita untuk menghadapi masa yang akan datang, menyongsong tahun baru ini. Tuhan Yesus mengetahui pergumulan kita. Ia bersimpati terhadap kita yang lemah dan kesalahan yang kita lakukan. Kita harus percaya Yesus akan menolong kita melewati setiap penderitaan dan mengalahkan pencobaan. Ketika kita menghadapi ujian, datanglah kepada Yesus untuk kekuatan dan ketabahan. Dia selalu memberikan pertolongan. Doa adalah jalan untuk datang kepada Yesus. Kita dapat datang dengan penuh keyakinan, tanpa perlu mempersoalkan sikap tubuh kita dalam menghampiri-Nya, sepanjang itu di dalam nama Yesus. Sebagian orang berdoa dengan tunduk kepala, sebagian menghadap ke atas dengan tangan terangkat, sebagian orang datang dengan berlutut, dan semua itu sah untuk kita lakukan sebagai jalan menghadap. Yang utama adalah sikap hormat di atas segalanya, sebab Dia adalah Raja, dengan keyakinan penuh sebab Dia adalah Sahabat dan Penasihat kita.
Penutup
Nas di minggu terakhir tahun ini kembali meneguhkan hati kita bahwa Yesus yang telah merendahkan diri-Nya melalui penderitaan yang berat adalah jaminan bahwa Ia adalah Allah yang menjadi manusia. Ia berhasil disempurnakan oleh Allah menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa kita, serta menjadikan kita yang percaya kepada-Nya menjadi sama dengan Dia yakni anak-anak Allah. Dengan demikian kita disebut oleh Yesus sebagai Saudara karena kita berasal dari yang Satu yakni Allah Bapa. Semua itu membuat kita tidak takut lagi terhadap maut, sebab Yesus telah mengalahkan maut dengan bangkit dari kubur dan naik ke sorga. Dengan demikian juga Yesus menjadi Imam Besar kita, menguduskan kita, dan mempersiapkan untuk melakukan kehendak-Nya demi kemuliaan Allah Bapa. Kita tidak hanya menjadi sahabat dan saudara Yesus di ucapan kita saja, tetapi juga dalam perbuatan di lingkungan kita sehari-hari, di rumah, di kantor, tempat pelayanan dan dimana pun kita dipanggil untuk ditempatkan-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 28 Desember 2025
Kabar dari Bukit
FIRMAN TERANG YANG MENJADI MANUSIA (Yoh. 1:1-14)
”Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya" yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran” (Yoh. 1: 14)
Setelah Nabi Maleakhi, menurut Alkitab tidak ada lagi nabi (besar) yang diutus Allah menyampaikan pesan-Nya kepada manusia. Ada sekitar 400 tahun hingga kelahiran Yesus Kristus. Masa ini dikenal sebagai masa diam (intertestamental period); bagaikan masa sepi menanti sebuah tindakan besar. Tentunya meski tidak ada utusan nabi baru, Allah tetap bekerja dengan cara yang berbeda.
Firman Tuhan di Minggu I setelah Natal di hari yang berbahagia ini, diambil dari Yoh. 1:1-14. Judul perikopnya: Firman yang telah menjadi manusia. Kita tahu ketiga Injil sebelum Yohanes, banyak menceritakan tentang kelahiran Tuhan Yesus. Tetapi Yohanes langsung mengenalkan siapa Yesus sebenarnya: Ia manusia sejati sekaligus Allah sejati yang hadir datang ke dunia. Dituliskannya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (ay. 1).
Yohanes menegaskan bahwa Firman (Logos) yang dimaksudkan adalah Tuhan Yesus yang sudah ada sejak awal mula (ay. 2-3). Allah Tritunggal bersama-sama saat langit dan bumi diciptakan. Hal ini dijelaskan juga, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2) dan penyebutan "Kita" dalam penciptaan (Kej. 1:26).
Bagian berikutnya dijelaskan bahwa "Segala sesuatu dijadikan melalui Dia.... Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" (ay. 3-5). Allah sejak pertama kali memang menciptakan terang (Kej. 1:3), dan tidak pernah meciptakan kegelapan, sebab kegelapan itu tidak ada; kegelapan hanya terjadi jika tidak ada terang. Dengan terang, manusia dapat melihat, merasa lebih aman dan nyaman. Terang dan Firman, dapat membimbing seseorang terhindar dari kejatuhan, terperosok jauh, bahkan menyelamatkan dari kematian.
Pada bagian ketiga dijelaskan bahwa dunia dijadikan oleh-Nya, kepunyaan-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya dan tidak menerima-Nya (ay. 10-11). Tentu ada yang dunia tidak pahami. Pengalaman dengan bangsa Israel, nabi hanya bisa menyampaikan pesan dan menegur. Nabi tidak dapat menyelamatkan, tidak mampu menghapus dosa, membebaskan dari perhambaan. Akibatnya kerajaan Israel hancur tercerai-berai karena dosa-dosa mereka.
Nabi hanya memberi pengharapan akan datangnya Mesias. Tetapi Allah berkehendak datang sendiri langsung, bertindak drastis dengan menyelamatkan umat-Nya yang tetap mau setia dan taat kepada-Nya. Allah ingin menyelamatkan manusia maka Allah menjadi manusia. Oleh karenanya, melalui natal, Mesias datang sebagai penggenapan janji. Allah Bapa mengaruniakan Anak-Nya, Yesus Sang Mesias, sebagai jalan agar manusia tidak binasa (Yoh. 3:16). Jika sebelumnya Allah hanya berfirman, kini Allah hadir sebagai manusia (Ibr. 1:1-2). Sebuah tindakan kasih yang luar biasa (Flp. 2:6-8).
Pada bagian akhir nas ini dijelaskan tindakan istimewa lainnya dari Allah. “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (ay. 12). Jadi melalui Yesus, kita tidak hanya terpilih tetapi diangkat menjadi anak-anak-Nya; sebuah hubungan bapak - anak yang erat intim dalam keluarga kerajaan surgawi.
Untuk meneguhkan anugerah keselamatan umat-Nya, Firman itu tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya. Betul, sejak Yesus lahir di Betlehem hingga dewasa serta tiga tahun pelayanan-Nya, kita telah melihat kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran (ay. 14). Dialah Firman Terang yang menjadi sukacita besar kita dalam setiap merayakan Natal.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025
Khotbah Minggu Setelah Natal - 28 Desember 2025 – Opsi 2
PUJILAH TUHAN YANG SEJATI (Mzm.148:1-14)
Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta (Mzm. 148:5)
Firman Tuhan di Minggu I setelah Natal diambil dari Mzm. 148, dengan judul: Langit dan bumi, pujilah TUHAN! Lho, kenapa “benda mati” langit dan bumi ikut memuji Tuhan? Pemazmur tampaknya ingin melawan pendapat bangsa-bangsa lain di saat itu, yang masih menjadikan benda-benda langit atau makhluk sebagai allah yang mereka sembah. Mazmur ini lantas memerintahkan, selain makhluk hidup menyembah Tuhan, semua “benda mati” lainnya ikut menyembah, seperti bulan, bintang terang, air yang di atas langit, ular-ular naga dan segenap samudera raya, api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai, dan lainnya.
Jika kita membaca buku History of Religion dari Prof. Allan Menzies, maka kita mengetahui mengapa sejak awal peradaban, manusia mulai menyembah benda-benda mati dan menjadikan mereka sebagai allahnya. Mereka membutuhkan kekuatan yang lebih tinggi, yang tidak dipahaminya dan melampaui kemampuan mereka. Menurut Menzies, motif ibadahnya adalah “ketakjuban, tidak diragukan lagi, selalu hadir di dalamnya....”
Memang dalam hal ini ada unsur kepercayaan dan proses intelektual, yang membawa mereka sampai pada titik kesimpulan, perlu menyembah benda mati tersebut. “Ketidakmampuannya untuk membantu dirinya sendiri atau untuk memenuhi kebutuhannya sendiri-lah yang mengantarkan penyembah kepada tuhannya (catatan: berupa benda-benda), yang memiliki daya yang ia sendiri tidak punya." Benda-benda seperti tanah atau bumi dan langit atau matahari, misalnya, memberikan kesuburan tanah dan hasil panen yang baik membuat mereka menyembah benda langit dan bumi.
Padahal, kepercayaan PL dan kita semua, langit dan bumi adalah ciptaan Allah, sehingga langit dan bumi tidak layak untuk disembah. Bumi dengan pohon yang besar atau gunung yang tinggi, dapat musnah hilang seketika oleh kuasa Allah dengan mematikan pohon itu atau meletuskan gunung sehingga hilang dari muka bumi. Demikianlah kuasa Allah, sehingga segala ciptaan-Nya tidak layak disembah, termasuk manusia dan nabi-nabi.
Pemazmur mengajak kita dengan iman percayanya, bahwa Allah berkuasa atas seluruh bumi dan carkawala dengan segala isinya, dan mengajak seluruh malaikat dan bala tentara surgawi untuk memuji dan menyembah-Nya. Semua raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; para taruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda (ayat 2, 11-12). Maka, lengkap sudah, penghuni surga, cakrawala dan isi bumi semua diajak, serta kita pun orang percaya, “baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta” (ayat 5). "Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri (Ul. 10:21).
Nas mazmur kita menekankan bahwa ibadah dan pujian terhadap Allah yang benar dan sejati, merupakan sentral kehidupan kita ke depan. Pujian tidak harus dengan mulut atau nyanyian, tetapi juga melalui perbuatan. Semua yang kita lakukan ke depan hendaklah merupakan ibadah kepada Tuhan (Kol. 3:23). Jangan lagi ada kegiatan kita yang sia-sia, apalagi hal yang tidak disukai-Nya (2Kor. 6:1; Ef. 4:17). Allah kita di dalam Tuhan Yesus adalah Roh dan kita pun menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Dia telah menjadi daging dan turun ke dunia, tetapi kembali naik ke surga menjadi Roh.
Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit (ayat 13). Allah yang benar dan sejati, telah berkarya bagi umat Israel dengan meninggikan tanduk umat-Nya, serta membawa mereka kembali dari pembuangan (ayat 14). Kita pun telah ditinggikan dengan kasih Allah yang begitu besar, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Itulah dasar kita memuji-Nya. Haleluya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 18 guests and no members online
