2026
2026
Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026
Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026
BARANGSIAPA BERSERU KEPADA TUHAN, AKAN DISELAMATKAN (Rm. 10:5-15)
Bacaan lainnya: Mat. 14:22-33; Kej. 37:1-4, 12-28; atau 1Raj. 19:9-18; Mzm. 105:1-6, 16-22, 45b atau Mzm. 85:8-13
Apabila ada yang bertanya: bagaimana kita menjadi seorang Kristen? Jawaban yang indah: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu" (Ul. 30:14; Rm. 10:8).
Firman Tuhan hari Minggu ini Rm. 10:5-15 berbicara tentang pentingnya iman dan upaya pewartaan Yesus bagi semua orang. Kesalahan tafsir terhadap pesan terjadi pada umat Israel seiring perubahan zaman. Pesan Allah melalui Nabi Musa menjadi aturan legalistik, hakekat kasih hilang. Pembaruan dari Tuhan tidak berhenti, seiring kasihNya, namun seringkali manusia sendiri yang "bandel" atau jugul menutup diri. Yesus sebagai pembaruan janji, tetapi umat Israel menolaknya.
Memang pertanyaannya: mengapa Allah memberikan hukum Taurat jika manusia (umat Israel) tidak dapat mengikutinya? Apakah Allah salah atau tidak adil? Rasul Paulus mengatakan alasannya, yakni Allah ingin memperlihatkan betapa berdosanya manusia (Gal 3:19) dan betapa degilnya bangsa itu (Kel. 32:9; 33:5; Yes. 48:4; Yer. 7:26). Maka dalam hal ini wajar bila perlu dilakukan penyelamatan umum dan universal, pendamaian manusia dengan Allah. Ia bertindak sesuai dengan rencana awal, mengutus Anak-Nya.
Melalui pertanyaan logis filosofis, Rasul Paulus membuktikan bahwa kedatangan Yesus dari sorga sebagai manusia dan kembali terangkat ke sorga adalah atas kehendak Allah Bapa. Tidak ada usaha manusia. Tetapi umat Yahudi menolaknya, meski mestinya mereka dapat memahami pekerjaan Allah itu (Ibr. 10:1-4).
Rasul Paulus mengatakan perlu ada kesaksian umum untuk semua orang - tidak umat Yahudi saja, agar banyak yang diselamatkan. Manusia juga tidak hanya mengandalkan tanda lahiriah, seperti sunat sebagai janji atau seremoni baptis atau sidi. Ini diminta, agar kekristenan kita tidak sebatas dalam hati, tetapi sebuah kesaksian kasih nyata kepada orang lain.
Kehidupan Yesus menjadi teladan, melepas keinginan dunia, melepas kepentingan diri dengan melayani, berserah dan taat pada Bapa. Ia datang menjadi Kasih yang nyata dan dekat dengan manusia, Firman yang hidup, firman iman.
Memang, manusia sering berpikir bahwa keselamatan adalah proses yang sulit dan rumit, padahal semestinya tidak demikian. Tidak usah bergumul tentang siapa yang menjadikan inkarnasi dan sebagainya. Itu tidak penting! Kebenaran bagi kita sudah diperoleh! Siapapun yang berseru kepada-Nya, akan diselamatkan. Ia adalah Tuhan yang satu bagi semua orang, Allah yang satu dengan Allah (Yoh. 10:30; Kis. 2:36-40; Flp. 2:10-11). Kita tidak memerlukan sebuah debat yang berkepanjangan: penginjilan mana yang lebih efektif, apakah penginjilan melalui keteladanan dan perbuatan dalam hidup atau penginjilan melalui pemberitaan kabar baik. Kedua cara itu harus dilakukan agar pesan Injil menjadi efektif sampainya. Jangan terjebak dalam teori dan perdebatan, sebab semua itu sering membingungkan dan menjauhkan kita dari tindakan.
Penutup nas ini (ayat 14-15) mengutip kembali Yes 52:7: "Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!" (band. Nah 1:15). Mari kita bekerja dan berkarya sehingga semua mengaku: Barangsiapa Berseru Kepada Tuhan, Akan Diselamatkan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026
Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 – Opsi 2
TUHAN, TOLONGLAH SAYA! (Mat. 14:22-33)
“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31)
Ketika rasa senang membunga di dalam hati, banyak di antara kita yang melihat hidup ini adalah mukjizat. Kita dapat menikmati warna-warni keindahan alam, merasakan makanan yang enak lezat, berolah raga untuk meningkatkan kesehatan dan stamina tubuh, berkumpul senang bersama keluarga, bahkan menghirup udara segar tanpa ada batasan.
Tetapi kehidupan tidak selalu seperti itu. Kadang ada muncul persoalan yang membuat hati terganggu. Pikiran teralihkan, fokus tidak lagi kepada kebaikan dan berkat-berkat Tuhan yang sudah diterima. Kebimbangan dan kekhawatiran yang membersit, membuat ketakutan lebih menguasai hidup.
Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 14:22-33, menceritakan Tuhan Yesus berjalan di atas air. Sekilas para murid seolah melihat hantu, terkecoh oleh mitos danau penuh dengan hal jahat. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ayat 27).
Tetapi Petrus ingin memastikan dan ikut merasakan kuasa tersebut, dan meminta: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus (ayat 28-29). Tetapi ketika Petrus merasa ada tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam, lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” (ayat 30).
Ada beberapa pesan nas minggu ini bagi kita: pertama, Tuhan Yesus penuh kuasa dan kuasa-Nya melintasi segala hukum alam. Ia menguasai dan bahkan yang membuatnya. Kedua, bersama Yesus kita akan merasa tenang. Ada kedamaian, sebab Tuhan itu baik dan selalu baik. Ketiga, ketika datang pergumulan akibat terpaan gelombang masalah, Tuhan ingin kita terus fokus dan bergantung kepada-Nya.
Memberi perhatian kepada masalah tetap baik, dalam arti mengurai dan menggambar masalah dalam sebuah peta atau mosaik, serta mencari titik lunak atau bagian solusi termudahnya. Biasanya bila masalah ditulis atau digambarkan, tidak seberat yang ada di pikiran kita. Dan, setiap masalah pasti ada titik lunaknya, titik di mana kita dapat masuk untuk memulai menyelesaikannya.
Optimisme perlu ada. Tetaplah percaya, bersama Yesus segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Bila hukum alam atau hukum-hukum di dunia ini sudah mengatakan tidak, tetap percaya ada kuasa mukjizat dari Tuhan. Untuk itu kita perlu semakin mengenal Dia melalui firman-Nya. Billy Graham berkata, "Belajarlah membawa persoalanmu ke dalam Alkitab, di dalamnya kamu akan menemukan jawaban yang tepat."
Teruslah dalam doa dan berkata: Tuhan, tolonglah saya! Kita tahu iman itu kadang bisa mengecil atau menyurut, membuat kurang percaya. Tapi ingatlah kisah seorang ayah yang membawa anaknya yang bisu kepada Tuhan Yesus dan berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk. 9:24). "Tidak ada yang percaya besarnya kuasa doa, dan apa dampak kemampuannya, kecuali mereka yang sudah belajar melalui pengalaman," ucap Martin Luther. Oleh karena itu, latih dan bertekunlah, maka kita akan mengalaminya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 2 Agustus 2026
Kabar dari Bukit
MENANG MENGATASI KETAKUTAN (Mzm. 17:1-7, 15)
”Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyah" (Mzm. 17:5, TB2)
Selamat pagi....
Pernahkah kita mengalami rasa takut yang besar? Bagaimana kita menyikapinya? Mungkin kita tidak lagi memiliki kekuatan sendiri atau jalan pertolongan orang lain untuk mengatasinya. Sungguh menyakitkan. Tetapi tidak perlu dibelenggu rasa takut dan putus asa.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 17:1-7, 15; sebuah mazmur doa Daud ketika dalam pelarian karena dikejar musuh - mungkin Raja Saul atau pemberontak, yang ingin membunuhnya. Daud tidak ingin melawan membalasnya, tetapi ia datang kepada Allah dengan keyakinan Ia adalah Hakim yang adil dan Pelindung yang setia. “Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari hadapan-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar” (ay. 1-2).
Dengan kerendahan hati Daud meminta agar Tuhan melihat hatinya, sebab ia hidup seturut kehendak-Nya: menjaga bibir, mencintai firman-Nya, dan tidak berjalan dengan kekerasan (ay. 3-5). Oleh karena itu ia memohon agar Tuhan memberi perlindungan, keluar dari masalah yang dihadapinya. Ia tahu Tuhan akan menjawab dengan mengarahkan telinga-Nya dan menunjukkan kasih setia-Nya yang ajaib, Penyelamat orang yang mencari perlindungan (ay. 6-7).
Mungkin kita juga pernah merasakan ketakutan yang besar, seperti difitnah atau diperlakukan tidak adil; sakit parah atau mengalami tekanan dalam pekerjaan, keluarga atau pelayanan; atau merasa sendirian tidak ada yang memahami keadaan kita. Mari belajar dari Daud. Dengan iman yang kuat dan kedekatannya dengan Allah, ia membawa ketakutannya kepada-Nya. Ia tidak bertindak sendiri seperti membalas dan dendam. Ia percaya Allah akan bekerja, bertindak adil pada waktunya.
Dan kita tahu Daud mendapat pertolongan melalui tangan-tangan yang dipakai Allah, seperti Nabi Samuel memberi perlindungan, Yonatan memperingatkan, Imam Ahimelekh memberi pedang, Mikhal membantunya meloloskan diri. Daud mendapat pertolongan melalui kedekatannya dengan Allah. Akhirnya Saul bunuh diri, menjadikan Daud sebagai raja Israel yang baru.
Meski Daud melarikan diri, ini bukan pertanda iman yang lemah. Menjauhi masalah yang dihadapi dan bila diperlukan menghindari bahaya nyata, akan memberi kesempatan Allah bekerja dengan tangan-tangan yang dipakai-Nya (Rm. 8:28).
Pertanyaannya, tentunya, bagaimana dengan kita yang merasa tidak dekat dengan Allah atau tidak memiliki iman sebesar Daud? Kita tetap dapat datang kehadirat-Nya dengan mengaku, "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk. 9:24). Menang melawan ketakutan, kita hanya perlu berdoa sungguh-sungguh dan mencari rencana-Nya.
Bila merasa buntu dan kehilangan hikmat atau percaya diri, ikutilah firman-Nya: "Apabila di antara kamu ada yang kurang berhikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah" (Yak. 1:5). Hikmat dapat diperoleh melalui doa dan membaca Alkitab, atau melalui diskusi dengan pendeta, penatua, sahabat atau keluarga seiman yang dewasa dan bijaksana. Allah akan bekerja melalui mereka. Carilah kehendak-Nya sebelum mengambil keputusan penting, dan yang utama jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tuhan akan memberi pertolongan melalui sesama.
Iman bukanlah sikap pasif, melainkan kepercayaan kepada Allah yang diwujudkan melalui langkah yang sesuai dengan hikmat-Nya. Dan setelah itu, janganlah putus persekutan dengan-Nya, sebagaimana Daud memiliki pengharapan dan kepuasan besar, "Dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu” (ay. 15). Itulah puncak kebahagiaan kita.
Selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026
Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 – Opsi 3
IRIHATI DAN KENAL DIRI (Kej. 37:1–4, 12–28)
”Setelah dilihat oleh saudara–saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya....” (Kej. 37:4a)
Salah satu kunci keberhasilan dalam hidup adalah mengenal diri sendiri dengan baik melalui penilaian jujur dan metode yang benar. Dengan mengenal diri, seseorang akan lebih siap mengembangkan diri. Lebih positif lagi, tidak akan muncul rasa iri hati, cemburu, dan dengki.
Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 37:1–4, 12–28. Ini kisah hidup Yusuf, anak Yakub, bersama saudara-saudaranya; kisah yang mungkin masih lekat di ingatan kita saat ikut Sekolah Minggu dulu. Yusuf adalah anak kesayangan Yakub, yang sering diberi jubah indah (ay. 3). Selain itu, Yusuf suka menceritakan kejahatan saudara-saudaranya (ay. 2). Puncaknya, Yusuf menceritakan dua mimpinya bahwa kelak saudara-saudaranya akan menyembah dia (ay. 5–10). Hal ini menimbulkan iri hati di hati saudara-saudaranya (ay. 11). Mereka pun bermufakat mencari cara untuk membunuh Yusuf (ay. 18).
Menurut R. Adinda dalam buku Penyebab Orang Merasa Iri, ada sebelas penyebab orang iri hati, yakni:
1. Melihat seseorang dari tampak luarnya saja
2. Merasa tersaingi
3. Ingin menjadi sama, tetapi tidak bisa
4. Merasa orang lain lebih tinggi
5. Tidak suka saat melihat orang lain bahagia
6. Menganggap orang yang diiri adalah musuhnya
7. Tidak suka melihat keberhasilan yang orang lain dapatkan
8. Suka menganggap remeh
9. Tidak mau merasa kalah
10. Orang lain memiliki kelebihan yang tak dimiliki olehnya
11. Memiliki hati yang tidak bersih
Menurut R. B. Sheridan, “tidak ada nafsu yang begitu kuat berakar di hati manusia seperti iri hati.” Alkitab mengingatkan, “Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?” (Ams. 27:4); “Iri hati membusukkan tulang” (Ams. 14:30b); dan “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yak. 3:16). Agustinus Hippo bahkan menyebut iri hati sebagai dosa yang kejam.
Oleh karena itu, iri hati, cemburu, dan dengki perlu dikendalikan. Langkah pertama adalah pengenalan diri sendiri: siapa kita di hadapan Tuhan, apa maksud Tuhan dengan keberadaan kita, dan bagaimana kita seharusnya memandang orang lain. Kedua, melakukan evaluasi diri untuk mengenal dan mengetahui talenta serta karunia rohani yang Tuhan berikan. Ada banyak metode, salah satunya analisis SWOT, untuk menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam diri sendiri.
Metode lain yang populer adalah Jendela Johari. Metode ini membantu mengenal diri sendiri dengan menilik hubungan antara diri dan orang lain. Melalui empat kotak jendela, kita menuliskan hal-hal yang sudah kita ketahui dan belum diketahui tentang diri sendiri, termasuk wilayah titik buta (blind spot) yang masih harus dikenali.
Langkah ketiga adalah selalu mengucap syukur atas anugerah dan berkat yang Tuhan berikan. Jika ingin berubah, mintalah dalam doa dan terus berusaha. Kembangkan potensi yang sudah ada. Tidak ada manfaatnya mengurusi orang lain karena hal itu tidak membawa pengaruh bagi dirinya. Justru iri hati tidak membawa hal positif dalam diri kita, malah menjadi sumber ketidakbahagiaan.
Terakhir, jangan terlalu membandingkan diri dengan orang lain. Ojo dibandingke, kata penyanyi cilik Farel Prayoga. Sebagaimana Yusuf, tangan Tuhan terus bekerja sesuai rencana-Nya. Dari Ruben yang menyarankan Yusuf dijual saja, teman sepenjaranya yang menceritakan kemampuan Yusuf menafsir mimpi, hingga Potifar majikannya, semua itu bagian dari rencana Tuhan. Apa pun penilaian orang lain dan masalah yang terjadi, tangan Tuhan akan selalu bekerja memberi jalan keluar.
Sebagai pengikut Kristus, buanglah iri hati, cemburu, apalagi dengki. Tetaplah bersyukur (1Tes. 5:18) dan lakukan hal baik bagi Tuhan dan sesama (Mat. 22:37–39).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu X Setelah Pentakosta - 2 Agustus 2026
ALLAH YANG HARUS DIPUJI SELAMA-LAMANYA (Rm. 9:1-5)
Bacaan lainnya: Mat. 14:13-21; Kej. 32:22-31 atau Yes. 55:1-5; Mzm. 17:1-7, 15 atau Mzm. 145:8-9, 14-21
Pendahuluan
Menurut banyak penafsir, Rasul Paulus dalam kitab Roma menyelesaikan pokok bahasan pertama dan diuraikan pasal 1 - 8. Sementara pasal 9-11 menguraikan suatu pokok baru, yang tidak berkaitan dengan pasal 1-8. Mereka berkata, Paulus melanjutkan surat ini bukan untuk memperkembangkan pokok sebelumnya, tetapi untuk menyatakan beban hatinya mengenai keadaan rohani bangsa Israel, bangsanya sendiri. Menurut pengertian mereka, pasal 9-11 hanya merupakan sisipan saja, sehingga bisa dianggap Surat Roma tidak memiliki kesatuan. Tetapi kalau kita percaya bahwa Surat Roma merupakan ilham dari Allah dengan bentuk yang sempurna, maka kita menolak pendapat tersebut, dan kita mengamati Surat Roma untuk mengerti susunannya.
Pertama: Kebenaran Kristus dan suara hati (ayat 1)
Seringkali orang mengatakan bahwa hal yang dia putuskan berdasarkan hati nuraninya, dengan pengertian sudah menjadi jaminan kebenaran dan ketulusan. Dalam Alkitab bahasa Yunani hati nurani disebut dengan suneidesis (dalam bahasa Inggris conscience), yang Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan dengan berbagai istilah, seperti nas ini memakai istilah “suara hati” yang maksudnya sama dengan hati nurani atau hati yang tulus (band. Kej 20:5-6). Maka pertanyaannya adalah: apa itu hati nurani atau suara hati? Hati nurani dapat diartikan sebagai “alat” yang membedakan antara hal yang secara moral baik dan buruk, mendorong untuk melakukan yang baik dan menghindari yang buruk; memuji yang pertama dan mengutuk yang lain. Dalam pengertian sederhananya “kesadaran akan sesuatu yang diyakininya benar.” Jadi ini merupakan buah proses justifikasi atau penghakiman oleh diri sendiri terhadap kebenaran atau kebaikan sesuatu, berupa standar atau sensitivitas moral atau resistensi (keberatan-keberatan) terhadap sesuatu. Hati nurani sendiri tidak secara otomatis sama dengan keinginan atau kehendak Allah, sebab manusia dengan standar moral yang dimilikinya akan memutuskan hal yang baik atau jahat sesuai dengan pemahaman dan kedekatannya dengan Allah. Jadi, kalau standar moralnya salah, maka keputusan yang diambilnya pasti juga salah, meski kadang keputusannya bisa dipengaruhi oleh faktor atau pengaruh lingkungan sesaat. Ini sama dengan yang dikatakan oleh Amsal Salomo: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Ams. 14:12; 16:25). Dalam hal ini dapat dikatakan hati nurani merupakan hasil sebuah proses antara kehendak hati mencari yang baik dan benar dengan kemampuan akal pikiran tentang hal yang benar.
Kata nurani sendiri berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah nur= cahaya, sehingga hati nurani seolah-olah selalu diterangi cahaya. Kesalahan manusia dalam mengerti dan berpikiran kehendak nuraninya sama dengan "kehendak Allah" juga pernah dilakukan oleh Rasul Paulus, ketika ia masih bernama Saulus dengan berpikir bahwa mengejar dan menganiaya orang-orang Kristen adalah sama dengan melayani Allah (Kis. 22:5; 26:9; band. 10:28). Demikian juga bapa-bapa gereja ketika menghukum mati para pemikir-pemikir atau teolog yang saat itu dianggap berbeda dengan aliran pemikiran gereja, jelas merupakan tindakan yang salah, meski mereka mengatakan bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Jadi bisa saja seseorang mengatakan bahwa keputusan hati nuraninya sudah hasil doa atau penerangan Roh Kudus, namun sebetulnya yang terjadi adalah keinginan hati atau ambisi-ambisi pribadi yang terselubung yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Untuk mengukur hati nurani yang di dalam penerangan Roh Kudus, bisa dilihat dari beberapa ukuran kebenaran, seperti adanya kasih, adanya semangat pengampunan, adanya pemberian kesempatan bertobat, bebas dari niat penghukuman khususnya hukuman fisik dengan kekerasan. Tanpa itu maka dapat dikatakan yang terjadi sebenarnya adalah hasil pikiran dan kehendak manusia melalui "hati nurani" yang tidak lagi suci dan murni. Oleh karena itu hati nurani membutuhkan penerangan Ilahi dalam pengujian tersebut. Bagaimanapun juga, proses penilaian seseorang sangat tergantung pada pemahaman dan kesadaran akan fakta, pengetahuan dan akal sehat. Proses hati nurani yang bersih dan baik yang sesuai dengan kehendak Roh Kudus akan terwujud lebih efektif dengan rajin membaca firman Tuhan, rendah hati, dan selalu disertai doa serta pergumulan yang panjang. Dengan proses tersebut hati nurani akan lebih terasah dan lebih sesuai dengan kehendak Allah. Dalam nas ini, Rasul Paulus yang sudah bertobat memahami semua itu dan berani mengatakan bahwa hal yang dikatakannya adalah kebenaran dalam Kristus dan ia tidak berdusta (band. Gal. 1:20; 1Tim. 2:7).
Allah dapat bekerja di dalam suara hati manusia tanpa harus lewat firman yang tertulis, meski kita akui firman yang tertulis dapat mengajar, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Sebagaimana dijelaskan dalam Rm. 2:13-15 yang mengatakan, "Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.” Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka meski mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela." Jadi jelas dari nas itu bahwa Allah tetap bisa bekerja langsung melalui hati nurani seseorang meski yang bersangkutan tidak memahami atau mengenal firman tertulis. Hal ini terjadi sebab Allah mengendalikan seluruh kehidupan manusia tanpa terkecuali dan tidak terbatas. Situasi ini akan berbeda dan khusus, ketika seseorang yang telah mengenal Yesus dan mengetahui firman Allah yang tertulis, maka ia perlu terus mengembangkan, memahami, bertumbuh, sehingga hati nuraninya semakin murni bebas dari kepentingan pribadi (band. 1Pet. 3:16). Apabila tidak melakukannya, dan ia mengikuti lebih keinginan hatinya, maka Tuhan pasti akan menghukumnya.
Kedua: Tanggung jawab bagi sesama saudara (ayat 2-3)
Perasaan duka dapat dialami oleh hati seorang anak yang masuk Kristen tetapi kemudian keluarga menolaknya. Pilihan yang menjadi sukacita baginya sebab ia menerima berkat dan anugerah keselamatan, menyisakan hal yang menyedihkan, mengingat keluarganya belum diselamatkan. Perasaan inilah yang dialami Paulus, yang tetap merasa ia adalah keturunan Israel secara daging; hatinya bergolak memperlihatkan keprihatinan atas kerohanian saudara-saudaranya orang Israel sebagai teman sebangsa secara jasmani. Kesedihan hatinya diungkapkan dengan mengatakan ia bersedia dikutuk dan terpisah dari Kristus demi orang Yahudi, agar mereka dapat diselamatkan (band. Rm. 10:1; 11:14; 1Kor. 9:22; lihat juga ratapan Yesus dalam Rm. 3:24-25). Paulus telah mengimani bahwa Yesus Kristus-lah satu-satunya jalan keselamatan. Ia juga mengetahui bahwa Yesus telah memberikan nyawa-Nya untuk berkorban bagi keselamatan orang lain, sehingga ia pun rela berkorban bagi saudara-saudaranya orang Israel. Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Nabi Musa ketika orang Israel membuat anak lembu tuangan melawan Allah: "kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis" (Kel. 32:32).
Rasul Paulus mengungkapkan pada pasal sebelumnya bahwa tidak ada yang dapat memisahkan anak-anak-Nya dari kasih Allah. Pertanyaan di dalam hati Paulus adalah: umat Israel adalah umat yang mendapat tempat khusus di hati Allah dan dipilih sejak awal untuk menjadi anak sulung dan anak kesayangan-Nya, namun ketika Yesus Kristus Anak Allah datang, yang juga keturunan Israel melalui kedagingan Yusuf dan Maria (band. Mat. 1), mengapa mereka harus menolaknya dan bahkan membunuhnya? Bukankah ini menjadi suatu pertanyaan dan dapat menimbulkan keraguan terhadap kasih Allah yang selalu setia? Bahkan dalam ayat berikutnya ia pun bertanya: Apakah Allah tidak adil (ayat 14)? Yang kemudian dijawabnya: Mustahil! Firman Allah tidak mungkin gagal (ayat 6a). Hatinya dihiburkan bahwa bagaimana pun, tidak semua orang Israel menolaknya, bahkan ada yang menjadi murid-murid setia-Nya. Dalam hal ini Paulus mulai memahami bagaimana pilihan atas umat Israel sebagai bangsa sedikit berbeda dengan pilihan sebagai individu-individu. Kepedulian ini yang membuat Paulus mengabdikan hidupnya dalam pekabaran Injil ke seluruh dunia, meski ia tahu bahwa tugasnya lebih kepada orang-orang bukan Israel, namun untuk tetap bisa memanggil bangsa Yahudi berdasarkan kecemburuan (Rm. 11:13-14).
Pertanyaannya: sejauh mana kita peduli dengan keselamatan orang lain? Sejauh mana kita terbeban ketika kita tahu masih banyak yang belum mengenal kasih Kristus? Sejauh mana kita peduli akan keselamatan saudara-saudara kita dalam satu lingkungan, satu daerah, satu suku, satu bangsa, sampai mereka mengenal Kristus dan menerimanya sebagai Juruselamat hidup mereka? Sejauh mana kita juga bersedia berkorban dari sisi waktu, tenaga, pikiran, energi, kesenangan, pundi-pundi, bahkan keamanan diri demi untuk keselamatan saudara-saudara kita tersebut? Apakah kita ikut mendukung penyebaran berita Injil dan keselamatan bagi mereka? Kita tahu banyak warga yang harus meninggalkan Yesus untuk bisa sekolah seperti mereka di Mentawai, atau untuk bisa bekerja di Malaysia seperti yang dialami penduduk NTT. Pemilihan Presiden Indonesia baru saja selesai dan kita melihat hasil yang cukup menggembirakan, namun kita prihatin bahwa isu-isu agama di beberapa wilayah masih “efektif” untuk menjatuhkan seseorang dalam pemilihan tersebut. Ini menjadi tanggungjawab gereja-gereja untuk dapat membuat pembaharuan di wilayah tersebut sehingga masyarakat semakin dewasa dan bersikap lebih inklusif.
Ketiga: Bangsa Israel mendapat keistimewaan (ayat 4)
Allah menciptakan dunia ini dengan isinya serta alam semesta dengan maksud baik dan memberikan kepercayaan kepada manusia dengan mandat budaya (Kej. 1:28, 31). Manusia ditempatkan di Firdaus meski akhirnya jatuh ke dalam dosa dan kejahatan manusia semakin besar (Kej. 2; 3: 6). Allah kemudian menghukum manusia dan menyisakan keluarga Nuh dan sebuah kehidupan baru, dan Allah membuat perjanjian dengan Nuh (Kej. 7; 9). Tetapi penyebaran dan perkembangan manusia akhirnya membuat kecongkakan dan ingin menyamai Allah dengan membuat menara Babel dan Allah menghukum dengan membuat saling tidak mengerti sebab tidak satu bahasa (Kej. 10-11), sampai akhirnya Allah memanggil Abraham (Kej. 13). Dari garis keturunan Abraham lahirlah Isak dan Ismael dan dari Isak kemudian lahir Esau dan Yakub. Dari pemilihan Abraham hingga kemudian Allah memilih Isak (dibanding Ismael) dan memilih Yakub (dibanding Esau) sebagai anak kesayangan-Nya. Sangat jelas bahwa pemilihan adalah konsep yang sudah ada sejak awal, bahkan jauh sebelumnyanya sudah terjadi saat Allah lebih menerima persembahan Habel dibanding Kain.
Nama Yakub kemudian berganti menjadi Israel setelah melalui pergumulan dengan Allah dan keturunan Yakub kemudian dinyatakan sebagai bani Israel (Kej. 32:28; 33:20). Pola hidup keagamaan bagi Israel ini sebagian besar adalah menurut hukum Yahudi, sehingga istilah Yahudi lebih tepat dikatakan sebagai agama atau suku bangsa, meski awalnya Yahudi sendiri berasal dari nama bani Yehuda anak Yakub. Namun kemudian istilah Yehuda atau Yahudi menjadi umum bagi seluruh keturunan Yakub, dan kita ketahui keturunan Yakub kemudian ada juga yang beragama Kristen, Islam dan lainnya sesuai dengan berpencarnya umat Israel saat pembuangan dan diaspora pasca keruntuhan penyerbuan Nero. Israel sebagai nama Negara sendiri baru ada setelah zaman modern saat dideklarasikan pada tahun 1848, setelah kerinduan umat diaspora untuk kembali ke tanah asal mereka di “Kanaan”. Memang dalam pemakaian sehari-hari, kadang kala beberapa istilah ini bercampur meski kita tahu intinya adalah berbeda, sebab saat ini yang beragama Yahudi juga sudah ada yang tidak memiliki keturunan darah Yakub, melainkan hanya mengikut hukum-hukum Yahudi berdasar baptisan proselit.
Memang menjadi misteri dan sangat susah dipahami mengapa Allah memilih keturunan Yakub menjadi bangsa/umat pilihan. Kalau melihat Kel. 19:6, Allah memilih Israel untuk menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi-Nya, meski dengan syarat pada ayat 5 dikatakan mereka harus sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian yang telah dilakukan dengan Abraham, Isak dan Yakub. Dengan demikian rencana Allah bagi bangsa Israel tetap berdasarkan kasih-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan bangsa itu sebagai imam (Yes. 61; Mzm. 98:3), dalam arti sebagai pemimpin, teladan dan panutan bagi bangsa-bangsa lain dengan melayan bangsa-bangsa lain dengan tetap menjaga kekudusan mereka (Ul. 7:6). Tetapi ini telah gagal karena kedegilan hati mereka.
Keempat: Allah harus dipuja selama-lamanya (ayat 5)
Keistimewaan bangsa Israel yang dinyatakan dalam pasal 9:4-5 dapat menimbulkan empat kesan bagi kita. Pertama, jemaat Kristen berhutang budi kepada mereka. Kedua, ketidakpercayaan mereka kepada TuhanYesus sangat menyedihkan. Ketiga, status mereka sebagai umat pilihan Allah masih tetap berlangsung sepanjang ada pertobatan dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dunia. Keempat, keadaan mereka di luar persekutuan dengan Tuhan Allah sangat sulit dipahami. Kita dipilih dan dibenarkan, bukan karena sesuatu yang baik dalam hati kita. Demikian juga Israel dipilih, dan akan dibenarkan, bukan karena sesuatu yang baik dalam mereka, tetapi karena kemurahan Tuhan Allah semata.
Pada ayat 4 dikatakan, “Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan ....” Menurut Cranfield, pemakaian kata “adalah” bersifat Present Tense dan ini menegaskan ayat ini masih berlak, mereka masih tetap umat pilihan Allah. Dalam ayat 5 dikatakan, mereka keturunan bapa-bapa leluhur (Rm. 11:28), menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia (Mat. 1:1-16; Rm. 1:3), tentu ini merupakan kedudukan istimewa. Sayangnya, segala keistimewaan itu tak membuat Israel percaya dan menyambut Mesias. Sebab itu, mereka harus menanggung hukuman. Mengapa demikian? Bukankah mereka juga percaya kepada Allah, meskipun tidak percaya Yesus sebagai Mesias?
Tuhan Yesus adalah penyataan yang lengkap tentang Allah. Kita tidak dapat sepenuhnya mengenal Allah bila dipisahkan dari Tuhan Yesus. Allah juga telah menunjuk Yesus untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Maka tidak ada jalan lain bagi manusia untuk datang kepada Allah, kecuali melalui Yesus. Seperti orang lain, orang Yahudi juga hanya dapat menemukan keselamatan melalui Yesus. Bila mereka menolak Kristus maka mereka akan menemui kebinasaan. Tidak adilkah Allah? Tidak, sebab Ia mengeraskan hati mereka yang memang sudah lebih dulu mengeraskan hati. Dari segi hak, semua manusia hanya berhak untuk menerima hukuman sebab semua telah berdosa. Jadi pemilihan adalah hak dan anugerah Allah yang patut disyukuri dengan takut dan gentar. Oleh karena itu Allah di dalam Yesus Kristus yang harus dipuji sampai selama-lamanya (Rm. 1:25; 2Kor. 11:31).
Penutup
Hati nurani adalah sebuah “alat” untuk mengetahui kemurnian dan ketulusan seseorang dalam menetapkan keinginan pribadi atau keinginan Allah. Hati nurani merupakan hasil sebuah proses antara kehendak hati mencari yang baik dan benar dengan kemampuan akal pikiran tentang hal yang benar. Dalam menetapkan sesuatu, pilihan kita adalah kasih dan itu diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama. Ada perasaan terbeban melihat orang lain belum selamat sebagaimana Paulus melihat umat Yahudi. Memang menjadi misteri dan sangat susah dipahami mengapa Allah memilih keturunan Yakub menjadi bangsa/umat pilihan. Tetapi itu adalah rencana Allah berdasarkan kasih-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan bangsa itu sebagai imam, tetapi gagal karena kedegilan hati mereka. Semua manusia berhak menerima hukuman sebab semua telah berdosa. Jadi pemilihan adalah hak dan anugerah Allah yang patut disyukuri dengan takut dan gentar. Oleh karena itu Allah di dalam Yesus Kristus yang harus dipuji sampai selama-lamanya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 BARANGSIAPA...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 – Opsi 2 TUHAN,...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 – Opsi 3 IRIHATI...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 14 guests and no members online
