Monday, October 19, 2026

2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

  BERBICARA BUKAN UNTUK MENYUKAKAN MANUSIA (1Tes. 2:1-8)

 Bacaan lainnya: Mat 22:34-46; Ul. 34:1-12; atau Im. 19:1-2, 15-18  atau Mzm. 90:1-6, 13-17 atau Mzm. 1

Pendahuluan

Bagaimana kita seharusnya melayani Tuhan? Rasul Paulus telah memberikan gambaran dan keteladanan melalui perjalanan hidupnya. Melayani membutuhkan persiapan terutama kesadaran paling pokok yakni kita wajib melayani sebab Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita dan melayakkan kita untuk melayani-Nya. Pelayanan tidak hanya membutuhkan keahlian (teknis praktis), tetapi juga keteguhan, keberanian dan motivasi yang baik dan benar sehingga yang kita lakukan bukan untuk menyenangkan manusia (diri sendiri, keluarga atau pihak tertentu). Kesalahan dalam motivasi dapat membuat semua pelayanan hampa tidak berarti dan bahkan gereja dapat dirugikan. Melalui bacaan nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang keteladanan pelayanan Rasul Paulus dengan pokok-pokok sebagai berikut:

Pertama: Nasihat yang murni dan bukan tipu daya (ayat 1-2)

Perjalanan penginjilan Rasul Paulus merupakan mukjizat jalan yang Tuhan berikan sehingga Kekristenan dapat meluas hingga ke seluruh pelosok bumi saat ini. Tidak ada yang membantah bahwa penginjilan oleh Rasul Paulus (dan juga para rasul dan penginjil lainnya sebelum dan sesudahnya) kepada umat yang bukan Yahudi, merupakan berkat anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita semua. Kita bisa belajar bagaimana Rasul Paulus memulai penginjilannya ke benua Eropa pada perjalanan penginjilan keduanya (Kis. 16:36-18:22), setelah Allah menuntun-Nya melalui suara panggilan untuk menuju ke Makadonia. Dalam semua perjalanan penginjilannya hingga terakhir sebagai tawanan ke Roma, banyak rintangan dan halangan yang diterima Rasul Paulus. Jemaat mengetahui pengalamannya dihina dan dianiaya di Filipi sebelum ia berkunjung ke Tesalonika (Kis. 16:11-17:1). Namun dengan semangat siap berkorban dan tidak mengenal menyerah, disertai pertolongan dan kekuatan Roh Kudus, seluruh penderitaan yang dialaminya tidak menyurutkan hati Paulus untuk terus mengabarkan Injil. Upaya itulah yang membuat kekristenan semakin meluas di seluruh Eropa dan kemudian melebar ke seluruh dunia.

Demikian juga dengan kita. Apabila Tuhan menginginkan kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia akan memberi kita kekuatan dan keperluan, termasuk keberanian dalam mengabarkan kabar baik dengan keteguhan, meski kita tahu akan ada tantangan dan rintangan yang muncul (band. Yer. 1:6-9; Flp. 1:30). Keteguhan tidak diartikan sebagai respon impulsif yang sembrono; Keteguhan memerlukan keberanian untuk menekan ketakutan dan melakukan yang baik dan benar. Kini pertanyaannya: Bagaimana caranya agar kita lebih teguh dan berani? Sebagaimana Rasul Paulus, kita harus lebih banyak menerima kuasa Roh Kudus, lebih banyak memberi kesempatan mengenal Tuhan Yesus, dan terjun langsung memulai tindakan dalam kesempatan yang lebih kecil dan mudah dahulu. Tiada perjalanan yang jauh dan panjang yang tidak dimulai langkah pertama. Semua memiliki tahapan dan latihan, seperti bersekolah harus lewat SD sebelum sampai ke puncak S3. Melangkah pertama masuk dalam pelayanan yang nyata akan mendorong kita untuk terus memberikan yang terbaik, sepanjang kita menyerahkan semua pelayanan itu bagi kemuliaan Tuhan semata.

Dengan kita melakukan semua di dalam Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya, khususnya dalam memberitakan Tuhan Yesus baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui pemberitaan firman atau perbuatan kasih dalam nama Tuhan Yesus, maka yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia. Kuncinya agar setiap tindakan harus dilakukan dengan keyakinan yang teguh, keberanian yang didasarkan pada semangat untuk belajar dan melayani lebih baik, dan motivasi yang benar tentang tujuan pelayanan. Pelayanan kita bukan melihat kebesaran dan hebatnya hal yang kita lakukan, melainkan didasari kesadaran bahwa Tuhan telah memberikan yang lebih banyak dan lebih baik kepada kita sebelumnya. Dengan kesadaran itu, maka niscaya pelayanan kita amat berharga di hadapan Tuhan.

Kedua: Berbicara bukan untuk menyukakan manusia (ayat 3-4a)

Rasul Paulus perlu menegaskan ulang tentang pengajaran dan nasihat yang pernah diberikannya, sebab waktunya di Tesalonika sangat singkat. Hal yang diajarkannya bukanlah tentang kesesatan, sebagai respon atas tuduhan para pemimpin Yahudi yang menghasut banyak orang, menyebut motifnya tidak benar sehingga ajaran yang disampaikan juga tidak benar (Kis. 17:5; 1Kor. 9:1-2). Tujuan pemimpin Yahudi adalah agar mereka meragukan Paulus dan menjadi goyah. Memang pada masa itu ada filsuf yang bertualang dari satu kota ke kota lain dengan mengajar, seolah-olah guru yang hebat tapi motivasinya untuk mendapatkan penghasilan dan keuntungan. Mereka hidup dari pemberian orang setelah mengajar. Tapi tujuan Rasul Paulus jelas tidak untuk mencari uang dan kekayaan, atau ketenaran dengan membagikan Injil. Dia memperlihatkan ketulusan motif dengan menunjukkan dia bersama Silas telah cukup menderita untuk mengabarkan Injil di Filipi. Mereka juga bekerja keras mencari nafkah karena tidak ingin menggantungkan hidup pada orang lain (hal ini akan dibahas di nas lain minggu depan). Ini merupakan bukti bahwa mereka juga siap berkorban demi berbagi keselamatan melalui kabar baik di dalam Injil.

Banyak orang terlibat dalam pelayanan dengan alasan yang berbeda dan bermacam-macam, meski kita akui tidak semua alasan yang tulus dan murni. Ketika motif buruk mereka terlihat, maka pekerjaan Kristus menjadi tercoreng dan gereja menjadi korban. Memang kalau dilihat, tidak seorang pun layak untuk memberitakan firman, sebab kita adalah orang berdosa. Akan tetapi melalui kasih karunianya, kita kemudian dilayakkan untuk menjadi hamba pelayan-Nya. Dalam suratnya ke jemaat Filipi, disebutkan tentang motivasi orang yang berbagai ragam dalam memberitakan Injil termasuk karena dengki dan perselisihan, atau memberitakan untuk maksud kepentingan sendiri yang tidak ikhlas. Tetapi banyak juga maksud baik seperti membagikan kasih. Rasul Paulus menutup dengan mengatakan, “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita” (Flp. 1:15-18). Inilah yang menjadi alasan mengapa semua harus bersukacita sepanjang firman diberitakan.

Memang ketika kita dilayakkan, kita perlu menjaga agar kelayakan tersebut jangan dipergunakan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan Tuhan yang menugaskan dan melayakkan. Kelayakan kita membutuhkan ujian sebagaimana Rasul Paulus mengalaminya. Ini juga mungkin yang akan kita hadapi. Ujian bisa datang dari diri sendiri atau godaan iblis. Namun Allah tidak pernah mencobai manusia (Yak. 1:13). Ia mengetahui kesetiaan seseorang meski orang tersebut pernah jatuh seperti yang terjadi pada Petrus. Kini pertanyaannya kembali kepada kita: ketika kita terlibat dalam pelayanan, apa motivasi kita dalam melayani? Seberapa besar tingkat keberanian kita dalam menghadapi risiko penderitaan yang mungkin timbul karena pelayanan itu? Keteguhan dan keberanian tidak hanya dalam sisi materi, tetapi juga dalam kesiapan untuk menderita baik dalam segi jasmani maupun kejiwaan, dalam arti dihina dan dicela. Iblis tidak akan membiarkan kita untuk melakukan pelayanan yang terbaik dan ia akan gencar menggoda dan menjerat kita, meski semua itu ada dalam sepengetahuan dan kendali Allah. Apakah kita akan tunduk pada iblis atau taat pada Allah?

Ketiga: Tidak mencari loba dan pujian (ayat 4b-6)

Di dalam upaya kita untuk mempengaruhi orang lain, kita mungkin diuji atau digoda untuk mengganti posisi kita atau mengubah pesan yang ingin disampaikan; atau menggunakan sanjungan atau pujian yang berlebihan. Rasul Paulus tidak pernah mengubah pesan yang disampaikan agar hal itu lebih dapat diterima, tetapi ia menyesuaikan metodenya kepada para pendengar atau pembacanya. Jadi dalam hal ini pesannya sama, hanya kadang cara penyampaiannya bisa berbeda. Meskipun penyampaian kita harus diubah supaya sesuai dengan situasi tertentu, kebenaran Injil tidak dapat dikompromikan. Apalagi, akan sangat menjijikkan mendengar seseorang menyanjung berlebihan bahkan "menjilat" orang lainnya demi mencapai tujuannya. Sanjungan itu bisa palsu, dan kepalsuan seseorang itu pasti menutupi maksud sebenarnya. Orang Kristen tidak boleh menjadi penjilat. Kita yang memproklamasikan kebenaran Allah memiliki tanggungjawab khusus untuk selalu jujur. Pertanyaannya: apakah kita jujur dan bersikap terbuka terus terang dalam kata-kata atau perbuatan? Atau, apakah kita menceritakan pada orang lain tentang apa yang mereka hanya ingin dengarkan agar kita mendapatkan sesuatu atau pujian?

Ketika Rasul Paulus masih bersama mereka di Tesalonika, ia tidak mau memuji-muji mereka, tidak berharap akan penghargaan, bahkan tidak menjadi beban (ekonomi) bagi mereka (Kis. 20:33; 2Tes. 3:8; 2Kor. 11:9). Meski sebagai penginjil mereka berhak atas hal itu, tetapi mereka tidak memanfaatkannya (band. Gal. 6:6). Rasul Paulus dan Silas benar-benar dengan dorongan yang murni untuk pelayanan dan tidak ada maksud tersembunyi, seperti para filsuf yang sering berkelana mencari penghasilan. Mereka memusatkan perhatiannya pada usaha memperluas pekabaran Injil dan keselamatan kepada jemaat di Tesalonika (Gal. 2:7; 1Tim. 1:11). Ini yang sangat penting. Mereka tidak memilih yang enak didengar saja dan di balik itu ada maksud tersembunyi, udang di balik batu (2Kor. 2:17; 4:2). Memang kadang sulit bagi manusia untuk mengetahui semuanya, sebab manusia juga memiliki kemampuan untuk bermuka ganda bahkan topeng yang berlainan. Namun, Allah mengetahui dan mengujinya sehingga semua dibukakan pada saatnya nanti (1Kor. 4:4).

Orang percaya di Tesalonika hidupnya berubah oleh kuasa Allah, bukan oleh kuasa Rasul Paulus; semua itu dari pesan Kristus yang mereka percayai dan bukan pesan Paulus. Ketika kita menjadi saksi bagi Kristus, fokus kita bukan pada pesan dari diri kita, melainkan pada Pribadi Kristus dan pesan atas hal yang sudah dilakukan-Nya bagi kita orang berdosa. Sebagai orang Kristen dalam pelayanan sejati, kita harus mengarahkan semua kepada Tuhan Yesus dan bukan pada diri sendiri untuk mendapatkan hormat dan pujian atau menyombongkan diri (Yoh. 5:41, 44). Untuk itu pertanyaannya: Apakah kita melakukannya sekedar untuk menyukakan manusia sehingga mengorbankan kebenaran yang hakiki? Rasul Paulus telah memberikan teladan bagi kita sebagai hamba yang dipakai Tuhan, yakni menyadari kasih anugerah yang diterimanya. Ia juga tidak membanggakan diri atas hal yang dilakukannya, melainkan meletakkannya semua bagi kemuliaan Tuhan. Inilah panggilan dan sekaligus tantangan bagi kita, dan mari kita lakukan semua itu bukan untuk menyukakan manusia, tetapi menyukakan Allah sebab kita mengasihi Kristus dan jemaat-Nya (Gal. 1:10).

Keempat: Berkorban dengan membagi hidup (ayat 7-8)

Bagaimana Injil disebarluaskan? Apakah dengan kekerasan dan paksaan? Perjalanan Kekristenan memperlihatkan bagaimana semua dilakukan dengan kasih dan pengampunan. Hal yang dialami para rasul dan penginjil berupa penghinaan dan penganiayaan di awal abad gereja mula-mula dan termasuk orang percaya, tidak dibalaskan dengan kekerasan. Kita tidak pernah mendengar atau membaca perluasan Kerajaan Kristus dilakukan dengan peperangan. Justru yang terjadi adalah banyaknya martir-martir iman sehingga Kekristenan semakin terbukti sebagai agama kasih. Memang dunia lebih banyak memberi apresiasi terhadap kuasa dan ketegasan, meski tidak seorang pun mau untuk dilecehkan. Kelemahlembutan sering kali dipandang sebagai ciri atau sifat pribadi di dalam masyarakat dan bukan sebagai sikap. Kelemahlembutan sebenarnya adalah kasih dalam tindakan – dengan kepedulian, memenuhi kebutuhan orang lain, menyediakan waktu bagi orang lain untuk berbicara, memenuhi kebutuhan rohani, dan kesediaan untuk belajar. Itu sangat penting menjadi ciri dan sikap bagi setiap orang, laki-laki maupun perempuan.

Seorang yang mengasihi orang lain dan mengharapkan keselamatan kekal hanya dapat dilakukan dengan berbagi Tuhan Yesus dan Injil dengannya. Kasih yang mementingkan kebaikan dan penyelamatan sementara dari peristiwa khusus itu bagus, tetapi tidak sebanding artinya bila kita dapat memberikan keselamatan kekal pada orang lain melalui iman kepada Tuhan Yesus. Seorang yang berbagi kasih dan Injil pada dasarnya adalah seorang penginjil. Bagian akhir nas ini mengatakan bahwa Rasul Paulus mengasihi mereka dengan cara yang nyata, yakni berbagi hidupnya dengan jemaat. Rasul Paulus memberikan gambaran pelayanan seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Seorang ibu jelas merawat dan mengasuh dengan kelemahlembutan. Kelemahlembutan adalah bagian dari buah-buah Roh dan penyangkalan diri. Sebagaimana dijelaskan di atas dalam memberi kasih dan kelemahlembutan, tidak ada cara lain yang lebih efektif selain memberi hidup kita kepada orang yang kita kasihi. Seorang ibu yang merawat bayinya pastilah dengan sepenuh hati dan bila perlu rela untuk meninggalkan pekerjaan atau kariernya. Untuk itu, peliharalah sikap lemah lembut dalam berhubungan dengan orang lain.

Penutup

Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran tentang pelayanan Rasul Paulus di jemaat Tesalonika yang sangat singkat. Ia tidak lama tinggal sebab ada perlawanan dari pemimpin Yahudi. Namun ia memelihara hubungan yang baik dengan jemaat dan hatinya terus terpaut pada mereka. Ia menegaskan posisinya sebagai Rasul dan juga sebagai seorang ibu yang merawat bayinya. Hal yang dituduhkan pemimpin Yahudi hanyalah tipuan agar iman mereka goyah. Nasihat yang diberikan Rasul Paulus sungguh murni dari Tuhan dan tidak ada maksud untuk tipu daya, apalagi untuk kepentingan keuntungan. Ia perlu berbicara dengan tegas sebab ia tidak bersedia mengkompromikan kebenaran Tuhan, dan ia tahu tugasnya bukan untuk menyukakan manusia tetapi menyukakan hati Allah. Hinaan dan penganiayaan yang diterimanya di Filipi adalah bukti keteguhan dan keberanian yang diperlihatkannya dan tidak menyurutkan motivasinya untuk berbagi keselamatan melalui Yesus dan Injil. Tuhan telah melayakkan dirinya untuk menjadi penginjil karena kasih karunia pengampunan yang diberikan atas semua dosa-dosa yang dilakukannya. Untuk itu, setiap orang perlu berkorban membagi hidup dengan orang lain, memberi perhatian, berbagi waktu dan kepedulian, sambil terus belajar. Hal terakhir yang ditekankannya adalah perlunya kelemahlembutan dalam penginjilan sebab Allah memberi kasih, dan kasih itu kita juga berikan dengan kelemahlembutan.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026 (Opsi 2)

  HUKUM KASIH (Mat. 22: 34-46)

  "Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya” (Mat. 22:45)

Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22: 34-46 berbicara dua bagian. Bagian pertama, tentang hukum yang terutama dalam Alkitab, baik PL maupun PB. Barangkali kita pun semua tahu, yakni mengasihi Allah dan manusia. Selengkapnya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 37-39). Dan kemudian ditambahkan, “pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (ayat 40).

Keduanya adalah hukum kasih. Hukum adalah aturan yang tujuannya untuk ketertiban dan keadilan. Yang menyimpang akan kena sanksi supaya kembali tertib. Keadilan berlaku bagi semua, tidak pandang bulu. Semua sama di depan hukum dan di hadapan Tuhan.

Alkitab membuat hubungan ini lebih jelas. "Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya” (2Yoh. 1: 6a). Artinya, jika mengasihi Allah maka turutilah perintah-Nya. Sederhana. Kasih untuk sesama, menurut Alkitab adalah tindakan, “bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3: 18).

Bagian kedua nas minggu ini berbicara tentang hubungan antara Yesus dan Daud. Tentu ada alasan, mengapa para ahli teologi menjadikan dua nas ini dalam satu bagian di leksionari. Mengasihi Tuhan akan terjadi, jika kita mengenal Dia dengan benar. Ada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang diutus Bapa sebagai jalan keselamatan umat manusia, dan harus menjalani sengsara dan penderitaan. Jika ini kita akui dan hayati, maka tidak sulit untuk mengasihi-Nya.

Kasih terhadap sesama dijabarkan Alkitab dengan enam belas ciri, mulai dari kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan lainnya (selengkapnya di 1Kor. 13). Dalam Matius pasal 22, Tuhan Yesus diperlihatkan sabar menghadapi orang Farisi, Saduki maupun Herodian. Itu teladan yang perlu kita ikuti.

Mari kita terus mengasihi Tuhan dengan lebih mengenal Dia, melalui doa dan pembacaan serta mendengar firman-Nya. Mari kita kejar untuk mendapatkannya (1Kor. 14:1). Dan dengan mengenal Dia, maka tidak sulit untuk kita lebih mengasihi sesama, yang bukan omongan kosong, seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1Kor. 13:1-3). Kasih yang nyata dan berdampak. Itulah kehendak-Nya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 18 Oktober 2026

Kabar dari Bukit

 NASIB MUJUR DAN NASIB MALANG (Yes. 45:1-7)

 ”Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yes. 45:6b-7)

 

Selamat pagi dan salam kasih.

Cerita sulitnya membangun gereja di Indonesia sudah sering kita dengar, kecuali kepala daerahnya pengikut Kristus. Bahkan gereja dibakar juga sudah pernah terjadi. Tetapi kita tidak boleh patah semangat. Ada saja penguasa yang bukan beragama Kristen mau memberikan perhatian dan pertolongan sehingga gereja keluar dari kesulitan yang dihadapi. Mengapa ini bisa terjadi?

Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Yes. 45:1-7. Ini kisah Raja Koresh (Cyrus) dari Persia yang menaklukkan kekaisaran Nebukadnesar termasuk wilayah Israel. Umat yang saat itu dibuang ke Babel, oleh Raja Koresh diperbolehkan kembali - dan bukan itu saja, diperbolehkan membangun Bait Allah yang telah dihancurkan. Koresh juga memberi bantuan peralatan dan dana yang dibutuhkan untuk membangunnya kembali (Ez. 6:3-5). Nas ini menyebut Koresh adalah raja yang telah dinubuatkan dan diurapi Tuhan yang memberi berkat besar bagi bangsa Israel (ay. 1; 44:28).

Alkitab menjelaskan bahwa pembuangan umat Israel ke Babel adalah penghukuman atas dosa-dosa mereka; dibuang 70 tahun, masa yang cukup lama. Tetapi Allah penuh kasih dan memakai Raja Koresh untuk membebaskan mereka kembali. Dari sini kita mendapat kesimpulan bahwa Tuhan memiliki kedaulatan penuh atas nasib bangsa-bangsa.

Demikian pula hidup kita. Kadang kita merasa bernasib mujur dan kadang merasa bernasib malang. Bahkan mungkin muncul pertanyaan: mengapa ada orang selalu hidupnya kelihatan begitu mujur dan ada orang yang merasa seolah-olah tidak pernah keluar dari kemalangan? Apakah Tuhan sedang menghukum atau melupakan? Tentu jawabannya tidak sesederhana itu. Ada berbagai faktor, seperti rencana indah Tuhan yang tersembunyi dan ada juga karena kesalahan diri kita sendiri tidak berhikmat. Mungkin kita merasa pintar, pendidikan dan IQ tinggi. Tetapi orang pintar tidak sama dengan orang berhikmat. Orang yang “bodoh” lambat berpikir belum tentu menjadi bebal. Kita juga perlu periksa latar belakang hidup temasuk para orangtua terkait dosa asal.

Pesan nas ini yang pertama, Tuhan berdaulat atas kehidupan manusia dan bangsa-bangsa. "Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini" (ay. 6b-7). Tentunya kemalangan tidak diartikan Tuhan yang membuatnya, sebab Dia penuh kasih dan tidak mencobai manusia (Yak. 1:13); itu adalah pekerjaan setan dan kurangnya hikmat pada manusia. Nasib seseorang janganlah menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah Allah hadir dan bekerja atau tidak. Demikian juga kemujuran seseorang tidak selalu berarti dia lebih baik daripada orang lain.

Oleh karena itu, pesan kedua agar manusia jangan bersikap bebal. Ketika keadaan berubah, tetaplah hidup dalam iman dan tanggung jawab. Jika hal baik datang maka bersyukurlah. Jika hal buruk terjadi, jangan langsung berpikir Tuhan sedang menghukum. Hal yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, melihat kembali penyebabnya. Belajarlah dari pengalaman sendiri dan orang lain serta mendengar nasihat orang bijak.

Pesan ketiga, jangan kehilangan pengharapan. Kisah Ayub dan Yusuf yang menderita, tetapi bersama Allah mereka dapat melaluinya. Tetaplah dekat dengan Tuhan melalui rutin berdoa, membaca firman-Nya dan terus melakukan yang terbaik sehingga melalui hidup kita kemuliaan dan kebesaran Tuhan semakin tampak. Ia selalu membuka jalan dan tiada yang mustahil bagi-Nya.

Selamat beribadah dan bersekutu.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026 (Opsi 3)

 ADIL DAN DOSA KEPADA DIRI (Im. 19:1–2, 15–18)

”Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia" (Im. 19:17)

Kadang kita dihadapkan pada situasi keberpihakan: membela yang lemah atau membela yang benar. Kecenderungan psikologis menuntun kita membela yang lemah. Hal ini wajar karena muncul empati dan rasa iba, dan itu bukan sesuatu yang buruk. Seorang tokoh perfilman mengatakan, “Suatu karunia besar bagi manusia memiliki kekuatan empati.” Teolog Carl Jung bahkan menyebutkan, “Bila empati hilang, maka dunia akan menderita.”

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah "Im. 19:1–2, 15–18". Ini merupakan bagian dari kitab Imamat pasal 17–25 yang berbicara tentang kekudusan, dengan perintah tegas dan berulang: “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (ay. 2). Kitab Imamat berisi peraturan rinci bagi para imam dan umat Israel dalam menjalani ibadah dan upacara keagamaan, agar mereka memiliki hubungan yang baik dengan Allah.

Mengacu pada kitab Yahudi Mitzvot sebagai rincian Sepuluh Perintah Allah (Kel. 20:3–20), terdapat 613 perintah yang dituliskan dalam Taurat. Perintah-perintah tersebut terdiri dari 248 perintah positif yang harus dilakukan dan 365 perintah negatif yang dilarang dilakukan. Dengan banyaknya perintah ini, semua manusia berbuat dosa (Rm. 3:23), menjadi hal yang tidak dapat disangkal.

Nas hari Minggu ini merupakan bagian Imamat yang terdiri dari tujuh perintah “jangan” dan dua perintah “lakukan”. Sembilan perintah tersebut bertujuan menjaga kekudusan, dengan cara menghormati hidup dan hak orang lain. Kekudusan dikaitkan dengan hidup sesama. Hal ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kehidupan rohani berhubungan erat dengan kehidupan sosial. Ibadah dan ritual tidak terpisahkan dari keseharian kehidupan.

Pesan pertama yang disampaikan adalah perlunya berlaku adil terhadap semua orang, tidak berbuat curang termasuk dalam peradilan (ay. 15a). Untuk itu, kita diwanti-wanti agar jangan membela orang kecil secara tidak sewajarnya (ay. 15b). Artinya, kita perlu menjaga empati agar tidak bertentangan dengan kebenaran (ay. 15). Ini memang tidak mudah karena harus menyelaraskan peran otak kiri dan otak kanan, kesepadanan hati dan akal pikiran.

Pesan kedua adalah agar kita jangan membuat orang lain susah dengan memfitnah (ay. 16a) atau mengancam hidupnya (ay. 16b). Fitnah dapat lebih kejam daripada pembunuhan, apalagi jika muncul dari rasa benci di dalam hati (ay. 17a).

Pesan ketiga adalah jangan menaruh hal jahat di hati. Dikatakan, “Janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena orang lain, janganlah engkau menuntut balas (ay. 18a), dan janganlah menaruh dendam terhadap sesamamu” (ay. 18b). Semua itu justru merusak diri sendiri. Namun, sebagai anak-anak Tuhan, kita tetap diminta berterus terang dan menegur mereka (ay. 17b), meski di bagian lain dinyatakan dengan lemah lembut dan kasih (Luk. 17:3; 2Tes. 3:15).

Pesan keempat adalah pentingnya melihat motivasi sebagai akar tindakan kita. Jika motivasi baik, maka hasilnya akan baik dan berkenan kepada Allah. Pasal 19 ini ditutup dengan kesimpulan umum yakni hukum kasih yang kedua, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (ay. 18c, bdk. Mat. 22:39).

Tuntutan hidup kudus memang tidak mudah. Namun dengan pertolongan Roh Kudus, tidak ada yang mustahil. Kita mungkin tidak akan pernah sempurna, tetapi harus terus berubah dan bertumbuh, berusaha serupa seperti Tuhan Yesus yang memberikan teladan hidup. Meski kadang kita jatuh, kecewa, atau timbul omongan orang lain, jangan terlalu pusing. Yang utama adalah semangat untuk terus berupaya menjadi lebih baik dari hari kemarin. Itulah hakikat dan sejatinya Kekristenan.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026

  INJIL DENGAN KEKUATAN ROH DAN KEPASTIAN YANG KOKOH (1Tes. 1:1-10)

 Bacaan lainnya: Mat. 22:15-22; Kel. 33:12-23 atau Yes. 45:1-7; Mzm. 99 atau Mzm. 96:1-9, 10-13;

Pendahuluan

 

Tesalonika merupakan ibukota Provinsi Makadonia dan sekaligus kota terbesar dengan penduduk 200.000 di bawah pemerintahan Romawi. Kota ini salah satu pintu awal Injil masuk ke wilayah Eropa, setelah Rasul Paulus mendengar tentang pilihan ke Makadonia dibandingkan dengan pilihan ke arah Arabia di selatan (Kis. 16:9). Pada saat surat ini ditulis - perkiraannya sekitar tahun 50 M, jemaat Tesalonika merupakan jemaat baru yang belum terlalu dewasa. Rasul Paulus beserta pelayan Tuhan lainnya tidak dapat tinggal lama di sana karena adanya penolakan yang hebat, sehingga pengajaran tentang Tuhan Yesus belum banyak yang disampaikannya. Oleh karena hatinya terus terpaut di kota itu, ia kemudian mengutus Timotius untuk kembali melihat perkembangan jemaat. Dalam perjalanannya ke Korintus, Rasul Paulus menuliskan surat ini sebagai bagian dari pengajaran Kristiani kepada jemaat dan juga bagi kita semua.  

 

Pertama: Pentingnya keakraban para hamba Tuhan (ayat 1-3)

 

Setelah minggu lalu kita membaca firman Tuhan tentang perselisihan yang terjadi di antara dua pelayan Tuhan di jemaat Filipi, sebaliknya yang terjadi di jemaat Tesalonika. Hubungan para pelayan Tuhan sangat dekat dan akrab dan ini bisa dilihat dari cara mereka menyapa dalam surat ini. Rasul Paulus juga tidak perlu menonjolkan kerasulannya sendiri. Ia menyadari bahwa hubungan di antara para pelayan Tuhan sangat penting, sangat menentukan dalam membangun iman jemaat. Prinsip kasih yang sering diajarkan dan dikhotbahkan para pelayan seyogianya itu juga tampak dalam kehidupan sehari-hari, sebab kalau tidak, jemaat akan mengatakan OMDO atau NATO (omong doang dan No Action Talk Only). Sebaliknya apabila jemaat melihat itu nyata, maka itu akan menjadi kesaksian hidup dan rasa syukur bagi sesama orang percaya dan dapat menarik perhatian bagi yang belum mengenal Tuhan Yesus untuk menjadi pengikut-Nya. Hal kedua yang diperlihatkan oleh Rasul Paulus (dan rekan-rekan sekerjanya – lihat Kis. 15:22, 39-40, 16:1-3; 17:1-10) adalah perhatian yang penuh bagi jemaat yang dipimpinnya. Mereka menyapa dengan dengan berkat dari Allah yaitu kasih karunia dan damai sejahtera (band. Rm. 1:7-10; Ef. 5:20). Keselamatan yang dianugerahkan membuat sesama jemaat dan hamba Tuhan masuk ke dalam persekutuan bersama, dan ini membangun keakraban. Buah keakraban adalah penyertaan dan anugerah kasih Tuhan dialami dengan damai sejahtera.

Sikap yang menempatkan jemaat sebagai yang utama dan menyebutnya mahkota sangat kental dalam ungkapan ini (band. 1Tes. 2:19; 3:9). Setelah memberi berkat, Rasul Paulus kemudian mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan mereka yang menjadi bagian orang percaya di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Rasa syukur atas kebersamaan mereka juga ditambahkan dengan selalu membawa jemaatnya ke dalam doa-doa mereka. Doa syafaat bagi mereka yang kita kasihi, tentu akan memberikan dampak perhatian Allah pada mereka yang disebut, terlebih lagi dinaikkan oleh hamba-Nya yang kerap dianggap lebih memiliki kuasa sebab para pelayan adalah mereka-mereka yang seharusnya orang benar (Yak. 5:16b). Adalah tanggungjawab hamba Tuhan untuk terus membawa jemaat dan orang-orang yang di sekitarnya untuk didoakan (Yak. 5:16a). Dalam hal ini Rasul Paulus memperlihatkan teladan seorang hamba Tuhan yang mengasihi jemaat Tuhan. Apabila ini lalai dilakukan para hamba Tuhan, maka ia perlu merenungkan panggilannya untuk melayani Tuhan dengan melayani sesama. Di lain pihak, jemaat juga perlu mendoakan para pelayannya, agar segala yang menjadi tanggungjawab pelayan dapat dijalankan dengan baik oleh pertolongan Allah (2Kor. 1:11; 2Tes. 3:1).

 

Hal lain yang dilihat oleh Paulus pada jemaat adalah tentang iman, kasih dan pengharapan mereka. Sebagaimana dikatakan dalam 1Kor. 13:13, di atas segala berkat dan karunia yang diberikan kepada jemaat untuk bertumbuh, yang tinggal adalah ketiga hal, yaitu: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Oleh karena itu Rasul Paulus mengamati ketiga hal itu yang terjadi pada jemaat, melalui Timotius. Rasul Paulus menemukan bahwa jemaat tersebut melakukan pekerjaan imannya dengan baik sesuai dengan keadaan sulit yang mereka hadapi (band. 2Tes. 1:11; Yak. 2:14), demikian juga dengan usaha kasih mereka, dan terakhir adalah ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan Yesus Kristus (band. . 5:2-5). Sungguh jemaat yang layak diteladani. Pujian Rasul Paulus sangat penting untuk meningkatkan rasa hormat dan kebanggaan mereka yang sekaligus merupakan kemuliaan bagi Allah Bapa yang mengasuh mereka. Hamba Tuhan yang lebih menonjolkan kelemahan atau kekurangan jemaat pasti tidak membangun.  Bahkan, mengutarakan kelemahan dan kekurangan dengan cara yang salah, malah akan menurunkan semangat jemaat. Pujian juga secara otomatis akan mendorong jemaat mengerahkan potensi yang lebih besar untuk memberikan yang terbaik, sementara kritik malah membunuh potensi yang ada. Bagaimanapun, pasti tidak ada jemaat yang sempurna dan ada kekurangan, sebab kesempurnaan hanya terjadi setelah semua digenapi pada kedatangan-Nya, ketika semua umat-Nya dikuduskan secara total.

 

Kedua: Injil dengan kekuatan Roh dan kepastian yang kokoh (ayat 4-5)

 

Rasul Paulus juga mengingatkan status jemaat Tesalonika sebagai umat pilihan Allah. Dipilih berarti dikasihi Allah (Ef. 1:4). Hal-hal lain yang membuat kebimbangan dan bahkan perdebatan (nanti dalam pasal berikutnya diuraikan tentang kematian dan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya), semua menjadi tidak penting dan berada jauh dari keutamaan sebagai pilihan Allah. Memang sedikit sulit memahami hubungan kedaulatan Allah dalam memilih diri kita, dan tanggungjawab kemanusiaan kita untuk mengikuti Dia. Tetapi meskipun kita tidak memahami sepenuhnya kedua kebenaran itu berjalan bersamaan, kita dapat mengatakannya sebagai hubungan kausal, yakni: Menjadi umat terpilih datang dari hati Allah (bukan dari pikiran kita) yang merupakan anugerah untuk menjalankan misi-Nya dan menyenangkan hati-Nya (bukan mengabaikan-Nya). Itu melahirkan rasa syukur (bukan keluhan). Sementara tanggungjawab kemanusiaan kita secara aktif terus mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Pelindung, fokus dalam kehidupan untuk menyenangkan hati-Nya, dan berbagi kasih dan Injil kepada orang lain. Pilihan Allah kepada kita juga sekaligus memberi tantangan untuk menjalani kehidupan ini untuk dibuat berharga bagi kita sendiri dan bagi-Nya. 

Ketika Allah memilih kita, Ia memberi kekuatan untuk mengikuti dan mendukung-Nya. Kuasa itu datang dari Roh Kudus dan Injil; kita tidak perlu tahu proses yang mana yang terjadi lebih dahulu. Yang jelas, Injil datang dengan kuasa dan membawa kekuatan pengaruh bagi setiap pribadi, keluarga, termasuk jemaat Tesalonika. Roh Kudus juga membuat seseorang mengerti Injil. Pengurapan Roh Kudus membuat Injil diterima dengan kepastian yang kokoh sebagai firman Allah. Ketika firman disampaikan dan direnungkan, hidup pasti menjadi berubah (Luk. 4:32-37; Kis. 1:8; Rm. 1:16; Gal. 3:22). Pengalaman selama 2000 tahun lebih, Injil dan kekristenan bukan sekedar kumpulan kejadian atau cerita yang menarik; tetapi merupakan kuasa Roh Allah bagi siapa saja yang mempercayainya (band. Yoh. 14:23-26; 15:26-27; 1Kor. 2:4). Kita tidak perlu mengkaji teoritis perbedaan logos dan rhema, yang tertulis dengan tidak tertulis, kata-kata atau makna, sebab bagaimanapun, Allah bekerja dengan cara yang tidak bisa dipahami manusia yang kemampuannya terbatas. Kita juga tidak dapat memahami keajaiban cara, jalan dan maksud pikiran Allah. Iman datang dari pendengaran, itu betul, tetapi jelas bukan “kebenaran” esklusif dalam arti menutup kebenaran lain bahwa iman dapat datang dari membaca firman dan melihat, atau orang tuli juga bisa beriman. Sebuah ayat jelas tidak bisa mengungkapkan seluruh kebenaran Allah, oleh karena itu selalu diminta melihat keseluruhan Injil.

Rasul Paulus menekankan hal yang dia alami dan lakukan di Tesalonika dengan menuliskan, "Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu". Jemaat telah melihat hal yang dikhotbahkan Rasul Paulus, Silas dan Timotius selama mereka di Tesalonika, dan menjadi bukti bagi mereka dengan melihat ketiga hamba-hamba Tuhan ini hidup di dalam kuasa-Nya dan dapat menjadi teladan. Ketiga hamba Tuhan ini melakukannya karena memiliki keyakinan yang kokoh tentang iman yang dipilih Allah dan Injil yang diberikan. Jadi, ketika kita mengaku bahwa iman adalah anugerah dan bukan merupakan buah dari pikiran, maka secara otomatis kita sebenarnya mengaku kalau kita adalah orang yang dipilih. Ketika kemudian firman atau Injil itu semakin kita dengarkan, renungkan dan lakukan, maka iman kita semakin bertumbuh dan kemudian berbuah dalam pelayanan. Inilah yang diperlihatkan para Rasul dalam keseharian mereka. Keyakinan bertiga ini yang membuat mereka berbuah dalam mengabarkan Injil. Kini, bagaimana dengan kita? Apakah perbuatan kita meneguhkan yang kita imani atau malah kontradiksi? Setelah kita mengakui Allah telah memilih kita, bagaimana respon kita tentang hal tersebut? Mari kita renungkan, semua yang sudah Allah lakukan dengan kuasanya setelah kita pertama beriman kepada Tuhan Yesus? Apakah kita cukup berbuah? Apakah kita berbuah lebat? (Yoh. 15:5).

 

Ketiga: Menjadi teladan dalam menghadapi penindasan (ayat 6-8)

 

Meski pesan keselamatan dibawa dalam sukacita kepada setiap orang percaya di Tesalonika (dan orang percaya umumnya), tetapi juga membawa jemaat itu pada penderitaan yang hebat karena penolakan dan penganiayaan dari orang Yahudi dan juga orang Romawi (Kis. 17:5; 1Tes. 3:1-4). Mereka membenci pengikut Yesus. Memang, hal yang dilaporkan oleh Timotius sangat menyenangkan hati Tuhan melalui Rasul Paulus. Sebagai jemaat yang baru bertumbuh, Rasul Paulus mendengar jemaat menerima dengan keteguhan meski penindasan datang. Paulus memujinya dan meminta agar yang mereka lakukan itu semua didasari oleh iman terhadap Allah yang benar di dalam Tuhan Yesus. Mereka juga tetap diminta bekerja dan berkarya oleh dasar kasih, ketabahan dan keteguhan yang didasarkan pada pengharapan akan datangnya Tuhan Yesus kembali. Semua ini merupakan tanda-tanda karakter efektif orang Kristen di segala abad. Untuk itu, Rasul Paulus meminta jemaat agar teguh pada perintah Tuhan dan mengikuti teladan para hamba-Nya menjadi pelaku yang setia (1Kor. 4:16). Semuanya dikerjakan dengan sukacita sejati dari Roh Kudus sebagai respon terhadap firman kebenaran dan keselamatan yang telah mereka terima (Yoh. 16:33; 2Kor. 6:10; Gal. 5:22; Ibr. 12:2; 1Ptr. 2:19-21).

Banyak orang percaya saat ini berpikir bahwa penderitaan bukanlah bagian dari kehidupan orang Kristen. Mereka berpikir kehidupan kekristenan hanya penuh dengan berkat-berkat dalam arti yang sempit, yakni kesenangan dan sukacita. Ketika datang penderitaan, mereka bertanya: Mengapa aku? Mereka merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka; bahkan menuduh-Nya tidak lagi menjadi pelindung bagi anak-anak-Nya. Tetapi semua orang percaya harus menyadari kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan dosa, karena itu orang percaya menderita. Allah mengetahui sebagian orang percaya perlu sebagai martir iman dan mengalami penderitaan. Maka daripada kita bertanya "Mengapa aku?", lebih baik bertanya "Mengapa bukan aku?" Iman kita dan nilai-nilai dalam dunia ini memang cenderung bertabrakan. Oleh karena itu perlu ada pengorbanan, teladan, perlu ada martir yang dapat memperlihatkan iman, kasih dan pengharapan dan tentunya dari kita orang percaya. Kisah martir dan keteguhan seseorang pasti menyebar meluas, dan keteladanan itu memberikan motivasi bagi orang lain untuk ikut berkorban bagi kemuliaan Kristus Yesus. Kekristenan tidak dapat menjadi seluas sekarang ini tanpa adanya penderitaan panjang yang dialami umat percaya selama ratusan tahun. Demikian halnya kabar jemaat Tesalonika sebagai teladan, bergema keluar Makedonia dan Akhaya hingga ke seluruh wilayah Mediterania.

 

Salah satu cara menjadi lebih siap dalam menghadapi segala kemungkinan dalam melayani Tuhan adalah menyadari bahwa penderitaan itu akan datang. Seorang PNS yang setia pada Tuhan dan berperilaku jujur pasti akan dicemoh orang sekelilingnya. Olok-olok sok suci pasti diterimanya. Seseorang yang menginjil bisa saja kemudian menjadi target kekerasan atau bulan-bulanan oleh mereka dari kelompok keras. Jika kita sudah mengetahui adanya kemungkinan penderitaan datang, maka kita tidak menjadi terkejut atau shock ketika hal itu terjadi. Yang kedua, kita lebih siap sebab kita tahu Yesus juga menderita dan menderita bagi kita. Apa yang dialami oleh Tuhan Yesus dan juga para rasul menjadi inspirasi dan sumber kekuatan bagi kita dalam melayani. Yesus memahami ketakutan kita, kelemahan dan bahkan jika timbul kekecewaan kita (Ibr. 2:17-18; 4:14-16). Yang ketiga, kita seharusnya tetap merasa aman sebab Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita (Mat. 28:18-20), dan Dia berdoa bagi kita sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara (Ibr. 7:24-25). Di dalam rasa sakit, penganiayaan, atau penderitaan, tetaplah teguh percaya kepada-Nya. Mari kita terus bersaksi dan memberikan teladan, meski kita harus berkorban untuk itu, agar kerajaan Allah semakin diperluas di sekeliling kita.

 

Keempat: Berbalik dan melayani Allah (ayat 9-10)

 

Seharusnya semua orang percaya memberi respon yang sama terhadap Injil dan keselamatan yang disampaikan, sebagaimana jemaat Tesalonika perlihatkan: berpaling pada Allah dan melayani Allah. Kehidupan masa lalu jemaat Tesalonika penuh dengan berhala-berhala dengan segala kuasanya, dan terbelenggu pada dosa-dosa kehidupan terbuka di wilayah yang sudah maju saat itu. Kini, itu semua harus ditinggalkan. Mereka telah bertobat dan hal inilah yang dipuji Rasul Paulus. Injil dan kuasa Roh telah membuat mereka menjadi manusia baru. Demikian juga dengan kita saat ini, kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah sebaiknya kita tinggalkan. Kehidupan berupa dosa-dosa mengandalkan hidup pada berhala-berhala modern, seperti uang dan kekayaan, jabatan, prestise dan kehormatan, perlu dijauhkan apalagi sampai kita melanggar firman Tuhan untuk mendapatkan atau mempertahankannya. Perubahan hidup baru dengan berbalik kepada Allah harus diisi dengan melayani-Nya yang didasari iman, kasih dan pengharapan, sebagai buah nyata dari pilihan Allah terhadap kita yang dikasihi-Nya. Kita dikasihi Allah maka kita wajib mengasihi Allah (1Yoh. 4:10).

Yesus berjanji akan datang kembali untuk menjemput orang-orang percaya yang dikasihi-Nya. Apapun yang kita alami saat ini sebagai konsekuensi penerimaan kita terhadap Tuhan Yesus, termasuk apabila kita menderita, pertahankanlah itu. Ia adalah Allah yang hidup dan yang benar. Semua yang terjadi dalam hidup kita berada dalam pengendalian-Nya dan kuasa-Nya. Tetaplah setia menunggu kedatangan-Nya turun kembali dari sorga. Dalam penantian itu kita lebih sungguh-sungguh dalam mengenal Dia dan berusaha lebih melayani-Nya, sebab kita hanya memiliki waktu yang sedikit sebelum Yesus kembali. Kita harus siaga dan siap-siap sebab kita tidak tahu kapan Yesus akan kembali. Yesus telah dibangkitkan dan kuasa itu ada pada-Nya untuk membangkitkan semua orang percaya kelak untuk bersama-sama menerima kemuliaan dari Bapa. Melayani Allah hanya dapat dilakukan dengan sepenuhnya berserah dan tunduk kepada-Nya. Penantian yang tekun dengan hidup melayani bagi Allah merupakan awal yang diperlukan sebelum kemuliaan dari sorga itu dinyatakan.

Siap sedia untuk waktu juga berarti kesungguhan dalam pertobatan, berbalik arah dan orientasi (1Kor. 12:2; Gal. 4:8-9). Berbalik arah juga bukan berarti mereka diam menanti kedatangan tanpa bekerja melakukan sesuatu. Adanya perselisihan-perselisihan (selanjutnya hal ini diulas dalam pasal 4:9 dan 5:13) agar dapat dibereskan sebelum Tuhan Yesus kembali. Yesus datang bukan saja untuk menjemput dan mengangkat orang percaya yang dikasihi-Nya, tetapi juga menghakimi semua umat manusia. Bagi mereka yang hidupnya bertentangan dengan firman Tuhan dan mengutamakan dirinya sendiri, murka Tuhan akan datang padanya. Rasul Paulus menekankan murka Allah dalam masa kesengsaraan besar yang kelak akan datang (band. Kis. 17:31; 1Tes. 2:16; Rm. 3:5), namun murka Allah hanya bagi orang-orang yang tidak taat dan bangsa-bangsa yang tidak percaya (Yoh. 3:18; Mat. 25:30). Namun bagi orang percaya, kita tidak perlu takut sebab iman telah menyelamatkan kita yang menjadi milik-Nya dan bebas dari segala bentuk murka yang ada, termasuk melalui masa kesengsaraan besar yang mungkin terjadi (Rm. 5:9; Why. 3:10). Tuhan Yesus telah membebaskan kita dari semua beban dosa dan ketika Ia datang, kita telah sempurna dikuduskan-Nya dan siap untuk dimuliakan-Nya.

 

Penutup

Kita diajar tentang banyak hal dari nas yang kita baca dan renungkan minggu ini. Hal pertama adalah pentingnya kesatuan hati di antara pelayan Tuhan dan hubungan yang akrab dengan jemaatnya. Ketiga hamba Tuhan dalam nas ini memberikan contoh keteladanan. Mereka melihat jemaat sebagai mahkota yang harus dikasihi dan dipedulikan. Meski ada penolakan dan penganiayaan yang dialami jemaat, hati mereka tetap terpaut pada  keyakinan akan Injil dengan kekuatan Roh dan kepastian yang kokoh akan keselamatan yang diberikan melalui Tuhan Yesus. Mereka diingatkan sebagai pilihan Allah dan memuji yang telah dilakukan jemaat Tesalonika tentang perbuatan iman, kasih dan pengharapan, meski di tengah-tengah penderitaan. Ini menjadi teladan dan kesaksian yang hidup bukan saja di wilayah dekat, tetapi sampai ke luar hingga ke Mediterania. Untuk itu mereka tetap melakukan sesuai dengan kehendak-Nya, berbalik dari hal-hal berhala dan perselisihan dan fokus melayani. Allah telah mengasihi mereka sehingga mereka seyogianya terus mengasihi Allah dengan terus berharap pada kedatangan Yesus kedua kalinya. Dengan demikian mereka dan kita juga akan jauh dari penghukuman dan murka Allah.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 26 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14702298
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
3071
12272
15343
14639651
122591
149364
14702298

IP Anda: 216.73.216.222
2026-10-19 12:19

Login Form