Tuesday, June 02, 2026

2026

Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - Minggu 7 Juni 2026

Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026

  ALLAH BERKUASA MELAKSANAKAN JANJI-NYA (Rm. 4:13-25)

 

Bacaan lainnya: Kej. 12:1-9 atau Hos. 5:15-6:6; Mzm. 33:1-12 atau Mzm. 50:7-15; Mat. 9:9-13, 18-26

 

Pendahuluan

 

Pada nas minggu lalu kita membaca dan merenungkan tentang Abraham dibenarkan oleh karena iman dan orang percaya hidup oleh karena iman. Orang Yahudi berkata hukum Taurat yang menjadi pegangan dan ketaatan kepada aturan dan hukum. Akan tetapi minggu lalu kita buktikan bahwa ketika Abraham menerima janji tanah Kanaan bagi dia dan keturunannya, hukum Taurat belum ada dan tidak seorangpun yang dapat melakukan hukum Taurat. Sementara bagi mereka yang berdosa maka murka Allah layak turun atas dirinya. Nas minggu ini menekankan kembali kebenaran Allah yakni adanya kasih karunia yang diberikan melalui jalan perdamaian yakni keselamatan melalui Yesus Kristus. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Janji diberikan karena kebenaran (ayat 13-15)

 

Kita semua tahu bahwa setiap tindakan pasti membawa konsekuensi. Hal yang kita lakukan dalam mengisi rangkaian kehidupan ini juga terbawa pada saat pasca kematian. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari dampak dari setiap keputusan yang diambil, hanya berpikir pendek saat mau mengambil keputusan, yang seringkali salah arah dengan tidak menyadari hidup kita sebenarnya pendek, sehingga perlu diisi dengan benar. Oleh karena itu tetaplah berusaha mencari tahu hasil jangka panjang setiap keputusan, dan berpikir cermat dengan mencari petunjuk Tuhan tentang keputusan yang kita ambil saat ini. Abraham memiliki pilihan tatkala Allah memanggilnya. Dia dapat memilih tetap tinggal dan hidup senang serta aman tanpa risiko dengan keluarga besarnya, atau dia bersedia berjalan dengan ketidakpastian ke arah yang dia sendiri tidak tahu, kecuali dengan keyakinan Allah akan memimpinnya. Ia hanya memiliki pegangan janji bahwa Allah akan menuntunnya dan memberkatinya. Ia mungkin semula berpikir keras tentang rencana Allah baginya, namun tidak bisa membayangkan bahwa keputusannya itu sangat penting dan ketaatannya akan mengubah jalannya sejarah manusia. Keputusannya untuk mengikuti jalan Allah membuat perkembangan sebuah bangsa dijadikan bangsa pilihan dan tempat Allah turun ke dunia menjadi manusia.

 

 

 

Allah berkenan dan memberkati manusia bukan karena kepatuhannya pada hukum Taurat, sebab hukum Taurat diturunkan pada masa Musa ratusan tahun setelah Abraham diberkati. Hukum Taurat ada hanya untuk mengetahui keberdosaan dan membangkitkan murka saja, sebab di mana ada hukum Taurat, di situ ada juga pelanggaran (Rm. 7:7; 1Kor. 15:56). Rasul Paulus menjelaskan bahwa Abraham menyenangkan hati Allah sebelum dia mendengar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ritual dan aturan hukum Taurat, yang menjadi sangat penting bagi umat Yahudi. Abraham hanya diberi perintah: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Perintah ini kemudian diikuti dengan sebuah janji, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat" (Kej. 12:2). Memiliki dunia dalam nas ini sama dengan memiliki keturunan yang besar, sebab dunia mengenalnya yakni sekitar 4,5 milyar manusia atau dua pertiga dari penduduk bumi mengaku diberkati karena Abraham. Itu adalah penggenapan janji Allah yakni keturunannya bagaikan bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut (Kej. 22:17). Abraham menerima perintah itu dengan percaya pada janji dengan iman. Dalam hal ini sesungguhnya Abraham hanya mengandalkan iman dalam melaksanakan perintah itu, dan oleh karena itulah berkenan kepada Allah, kemudian menerima bagian yang dijanjikan-Nya.

 

 

 

Kita juga diselamatkan oleh iman dan tidak ada hal lainnya; bukan karena sekedar mengasihi Allah atau melakukan perbuatan baik kita diselamatkan; bukan juga karena iman ditambah kasih atau iman ditambah perbuatan baik. Kita diselamatkan hanya karena iman kepada Yesus Kristus, percaya kepada-Nya yang mengampuni semua dosa-dosa kita. Sumber janji adalah iman dan penggenapan janji adalah kasih karunia. Ketika Yesus datang ke dunia, janji Allah tergenapi dan melalui keturunan Abraham seluruh dunia pun diberkati. Oleh karena itu, dikatakan iman akan sia-sia apabila Allah memperhitungkan seseorang melakukan hukum Taurat untuk dapat diselamatkan. Dan ternyata iman Abraham tidak sia-sia serta janji yang diberikan Allah itu tidak menjadi batal. Abraham hanya mengandalkan iman percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Gal. 3:6). Jadi janji diberikan karena kebenaran. Pembenaran ada hanya karena adanya kasih karunia, dan itu berlaku sepanjang hidup selama kita dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu (Gal. 3:9, 18).

 

 

 

Kedua: Janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham (ayat 16-17)

 

Iman dan ketaatan Abraham menyenangkan hati Allah dan itu menjadi kebenaran. Maka tatkala bangsa Israel keturunan Yakub menderita di bawah perbudakan bangsa Mesir, Alkitab menuliskan, “Allah mendengar tangisan dan penderitaan umat Israel karena janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub” (Kel. 2:24). Allah membebaskan bangsa Israel dan terus memimpin keluar dari tanah Mesir dan mereka menjadi bangsa yang besar di Kanaan. Keturunannya menerima janji dan Abraham menjadi bapak bangsa Yahudi.  Dalam kehidupan kesehariannya pun, Abraham berani melindungi keluarganya dari setiap ancaman. Ia peduli terhadap orang lain dan menjadi seorang yang kaya dalam bidang usaha peternakan. Kepribadiannya teguh dan selalu berusaha menghindari konflik, namun ketika sudah tak terhindarkan ia akan meminta pihak lawan untuk menentukan penyelesaiannya (ingat pertentangan dengan Lot). Inilah yang membuat Abraham selalu dihormati setiap orang. Kelemahannya memang ada, yakni ia suka memelintir kebenaran kalau dalam keadaan terdesak, dalam kasus memperkenalkan Sarah, namun itu tidak mengurangi kasih Allah kepadanya.

 

 

 

Orang Yahudi memahami sebagai keturunan Abraham hanya dari sisi lahiriah saja. Dalam hal ini Rasul Paulus menyatakan bahwa keturunan Abraham yang menerima berkat bukan hanya mereka dari keturunan daging melalui Ishak dan Yakub, akan tetapi juga keturunan Abraham secara rohani, yakni mereka-mereka yang mengandalkan iman dalam kehidupannya dengan percaya berjalan bersama Allah. Keturunan Abraham, “bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar” (Rm. 9:7-8). Rasul Paulus mengatakan bahwa Abraham adalah bapa dari semua orang percaya bukan Yahudi - "semua orang percaya yang tidak bersunat" (Rm. 4:11). Keturunan rohani Abraham melalui iman digenapkan dan mencapai puncaknya di dalam Tuhan Yesus, sebab Yesus dari garis keturunan Abraham dan sesungguhnya seluruh dunia telah diberkati melalui Dia. Dengan demikian Allah membenarkan mereka yang percaya oleh karena Yesus Kristus.

 

 

 

Allah yang memberi janji kepada Abraham menjadi bapa banyak bangsa adalah Allah yang menghidupkan orang mati, dalam pengertian kehidupan Abraham dan Sara yang sudah tidak berpengharapan, menjadi hidup penuh sukacita ketika Ishak lahir, sebuah kehidupan baru. Demikian juga tatkala Ishak siap dikorbankan yang dalam iman Abraham anak tersebut telah "mati", menjadi hidup berkat kasih Allah melebihi pikiran manusia (band. Ibr, 11:12, 19; Yoh, 5:21). Jalan yang dipakai Allah dalam pikiran manusia sebagai hukuman, sebenarnya hanyalah cara Allah untuk menguji iman dan ketaatan seseorang kepada-Nya. Ini juga yang dialami oleh Ayub dengan segala ujian yang dialaminya. Dalam pemahaman itu pula Allah yang memberkati hidup Abraham adalah Allah yang menjadikan dengan firman-Nya hal yang tidak ada menjadi ada. Allah yang hanya bersabda dari tidak ada menjadi ada, yang hanya ada pada Allah sebagai pencipta, yang semuanya dikukuhkan kembali di dalam Yesus Kristus, yang dibangkitkan Allah Bapa dari kematian-Nya. Demikianlah berkat yang diterima oleh Abraham juga tersedia juga bagi kita keturunannya sepanjang memiliki iman seperti Abraham.

 

 

 

Ketiga: Abraham tidak bimbang terhadap janji Allah (ayat 18-20)

 

Setiap orang punya pengharapan. Pengharapan itu bisa disandarkan pada kekuatan sendiri saja atau pertolongan dari Allah. Biasanya, bila berpengharapan pada Allah, kita mempunyai tiga respon. Pertama, kita hanya menunggu, tidak berusaha sedikit pun kecuali berdoa; Kedua, kita ikut mengambil bagian dalam persiapan menyongsong rencana Allah tersebut dalam porsi kita. Seseorang yang belum memiliki anak mungkin lebih bertekun berdoa, di samping berusaha secara alamiah atau berobat ala kadarnya untuk mendukung upaya memperoleh anak. Tetapi ada juga yang melakukan dengan berdoa sepenuh hati dan bercucur air mata, dan terus berupaya keras berupa latihan fisik, minum herbal, konsultasi dokter, bahkan hingga upaya bayi tabung. Betul, Allah melihat semua itu dan berhasil tidaknya hanya dari Allah saja. Tetapi hal yang paling Allah tidak inginkan adalah cara ketiga, yakni manusia mengambil jalan pintas dengan pikirannya sendiri, dan itulah Sarah yang lakukan yakni menawarkan hambanya wanita lain untuk diperistri Abraham agar memperoleh anak. Memang dalam hal ini Abraham dengan kelemahannya, memelintir keinginan Sarah tersebut dengan ia menyetujuinya yang mungkin pertimbangan kedagingan (kelemahan lain Abraham juga terlihat ketika ia berbohong pada Raja Firaun tentang Sarah istrinya). Sikap ketiga ini sama buruknya dengan sudut pandang Sarah yang tidak percaya lagi pada pengharapan dari Allah, dengan alasan merasa sudah terlalu tua dan bahkan menertawakan janji Allah tersebut. Meski ketika ditanya, apakah ia menertawakan rencana Allah tersebut, Sarah berbohong tidak mengakuinya (Kej. 18:11-15).

 

 

 

Namun sangat jelas bahwa Abraham telah memperlihatkan imannya, yakni iman kepada Tuhan yang membuatnya benar di hadapan Tuhan. Pelajaran hidup yang dapat diambil dari Abraham adalah bahwa Allah menginginkan ketergantungan, kepercayaan, dan iman kepada-Nya, bukan iman kepada kemampuan kita untuk dapat menyenangkan hati-Nya. Kita juga memiliki hubungan yang benar Allah dengan percaya kepada-Nya. Segala yang kita lakukan yang kasat mata, seperti berdoa, pergi ke gereja, memberi persembahan, melakukan perbuatan baik, tidak membuat kita dibenarkan oleh Allah. Dibenarkan karena iman dan bukti iman itu adalah perbuatan. Hubungan yang benar dan baik itu didasarkan pada iman, pada kepercayaan, pada keyakinan hati yang tulus bahwa hal yang dikatakan tentang diri-Nya adalah benar, dan hal yang dikatakan-Nya akan digenapi. Jadi tindakan kita yang benar sebenarnya merupakan buah dari iman, sebab "iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak. 2:22).

 

 

 

Allah tidak terikat dengan cara dan peristiwa yang biasa terjadi. Ia dapat melakukan berbagai jalan-Nya dan merentangkan semua hambatan yang ada agar segalanya menjadi indah. Rencana Allah sejak awal bagi yang dikasihi-Nya adalah hal yang indah. Allah juga merespon iman ketika kita mungkin di tengah-tengah kegagalan. Iman Abraham tidak menjadi lemah meski tubuhnya sudah tua dan lemah, meski ia menyetujui cara-cara Sarah, cara-cara manusia karena ketidaksabarannya. Rahim Sarah yang tua pun sudah tertutup untuk bisa mengandung. Akan tetapi terhadap janji Allah, Abraham sama sekali tidak bimbang atau goyah meragukan, malah sebaliknya melalui peristiwa itu ia diperkuat dalam imannya dan ia terus memuliakan Allah dalam hidupnya. Memuliakan Allah dalam hal ini berarti tetap mengakui bahwa Allah mengendalikan hidupnya dan bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Sikap demikianlah yang diharapkan ketika kita dalam pergumulan dan pengharapan, jangan kendur atau lemah tetapi terus berpegang pada iman sambil melakukan kegiatan dan hati yang memuliakan Allah. Inilah yang membuat kita terus diberkati, sama seperti Abraham yang membuat hidupnya dikenal sebagai bapak bangsa-bangsa.

 

 

 

Keempat: Allah berkuasa melaksanakan yang Dia janjikan (ayat 21-25)

 

Abraham tidak pernah ragu terhadap pemenuhan janji Tuhan. Hidup Abraham juga diisi dengan kesalahan, kegagalan, dan dosa, sama halnya hidupnya juga penuh dengan hikmat dan perbuatan baik. Namun yang utama adalah bahwa secara konsisten ia percaya kepada Allah. Iman yang dimilikinya diperkuat melalui hambatan dan kesukaran yang dialaminya, dan hidupnya merupakan contoh dari tindakan iman (faith in action). Sebab kalau hanya melihat dirinya yang tua dan yang dimilikinya untuk menduduki tanah Kanaan dan membangun sebuah bangsa yang besar, ia akan sampai kepada keputusasaan. Tetapi ia melihat Allah, mematuhi Dia, dan menunggu janji Allah yang pernah diterimanya. Abraham percaya bahwa Allah yang mengikat perjanjian dengannya adalah Allah yang berkuasa untuk memenuhi janji-Nya. Dalam arti lain, Abraham percaya pada janji itu dan percaya juga pada Allah yang berkuasa memenuhi janji itu.

 

 

 

Maka ketika kita mengimani bahwa Allah akan dan pasti memenuhi semua janji-janji-Nya sebagaimana apa yang tertulis di dalam Alkitab, yang melekat dan terpahat kuat di dalam hati kita, maka Allah akan memperhitungkan itu sebagai kebenaran. Allah melihat hati kita yang berserah dan percaya kepada-Nya dan Allah membuat itu sebagai kebenaran. Ketika kita percaya, sebuah perubahan pasti terjadi. Dalam hal ini kebenaran Allah diberikan kepada orang yang percaya melalui Yesus Kristus. Kita memberikan dosa-dosa kita ditebus Kristus, dan Dia memberi kita kebenaran dan pengampunan (2Kor. 5:21). Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hal ini kecuali iman yang berserah. Hanya melalui Kristus kita dapatkan kebenaran Allah. Semua yang luar biasa dan cuma-cuma ini disediakan bagi kita. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri, kita tidak mampu untuk layak masuk ke hadirat Allah. Tetapi sedihnya, masih banyak orang yang melewatkan kesempatan anugerah ini dan memilih "menikmati" perbuatan dosa-dosa mereka.

 

 

 

Pertanyaannya, apa yang menjadi pengharapan kita saat ini pada Allah? Atau, adakah sebuah proses yang "terhenti" atau terganjal dalam kehidupan kita yang membuat pengharapan tentang janji Allah kepada kita belum terwujud? Percayalah, bahwa itu merupakan bagian dari rencana Allah dalam kehidupan kita. Ada banyak cara dan jalan yang berkenan kepada Tuhan untuk kita terus sibuk berkarya sambil menanti janji dan pengharapan itu menjadi nyata dalam hidup kita. Jangan memandang diri kita dengan segala kelemahannya, yang mungkin menjadi penghalang bagi kita untuk berkarya kepada-Nya. Jangan juga berpikir bahwa kita masih terus ditutupi dosa-dosa, sebab kita sudah diampuni melalui darah-Nya yang tercurah. Jangan kita berpikir masih dalam kefanaan duniawi, bahwa kita akan dihukum, semua itu adalah fatamorgana yang bisa mengecilkan iman kita akan kasih karunia dari Allah yang Mahabaik. Iman berarti memegang teguh adanya janji Allah dan keyakinan segala sesuatu tiada yang mustahil bagi Allah. Meneguhkan janji dan kebenaran-Nya dalam iman kita, merupakan suatu sikap rasa hormat dan memuliakan Allah.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas bacaan kita minggu ini semakin jelas dinyatakan bahwa pembenaran Abraham adalah melalui iman dan bukan karena kesempurnaannya melakukan hukum Taurat. Allah memberikan janji kepada Abraham karena kebenaran, bukan karena adanya kemampuan manusia melakukan Taurat. Abraham diberkati dan digenapi janji-Nya dengan segala kelemahannya, digenapi melalui Ishak, akan tetapi janji itu juga berlaku bagi keturunan Abraham secara rohani, yakni mereka yang beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus. Sama halnya terhadap janji Allah yang Abraham tidak bimbang, demikian jugalah kiranya kita dalam meletakkan iman percaya kita kepada Kristus untuk tidak goyah atau meragukan. Memang pergumulan dan tantangan kadang hadir namun semua itu adalah ujian, sebagaimana Abraham diuji melalui penyerahan Ishak sebagai persembahan. Namun, Allah yang berkuasa menghidupkan orang mati, berkuasa menggenapi janji-Nya kepada Abraham; Ia juga adalah Allah yang berkuasa menggenapi yang Ia janjikan kepada kita. Tetaplah berdoa agar kita setia memegang janji-Nya, dan bertekun dalam menunaikan panggilan-Nya dalam menjalani kehidupan ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026

Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 2)

 TOPENG BURUK MANUSIA (Hos. 5:15–6:6)

 ”Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh–sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi” (Hos. 6:3)

 

Salam dalam kasih Kristus.

Masalah berpura-pura banyak dibahas dalam Alkitab. Karena itu, topik ini beberapa kali muncul dalam sistem khotbah leksionari. KBBI menyebutkan berpura-pura berarti berlagak, tidak sesungguhnya, dan merupakan kemunafikan; pada hakikatnya merupakan kebohongan dan sandiwara. Merriam-Webster mendefinisikan kemunafikan sebagai seseorang yang mengenakan penampilan palsu dan bertindak bertentangan dengan keyakinan atau perasaan yang dinyatakan.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Hos. 5:15–6:6. Judul perikopnya: "Pertobatan yang pura–pura dari pihak orang Israel". Dituliskan, “Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi–pagi benar” (ay. 4). Jelas, Allah membenci kepura–puraan yang dipertunjukkan oleh umat Israel.

Dalam nas ini dan berikutnya diberikan contoh perbuatan umat yang tidak disukai Tuhan: ibadah aspek lahiriah saja, membawa persembahan yang bagus–enak, tetapi hatinya tidak tulus (ay. 4–6). Lebih mengerikan lagi, para imam merampok dan melakukan perbuatan bersundal yang menjijikkan (ay. 7–10; 7:1–7).

Kita pasti pernah jatuh ke dalam dosa. Itu wajar. Namun bila perbuatan itu diulang–ulang, apalagi dengan sadar dan tanpa penyesalan, apa artinya pertobatan? Allah sangat tegas dalam hal itu. Dikatakan-Nya, bila matamu yang sering menyesatkan, cungkillah; bila tanganmu menyesatkan, potonglah (Mat. 5:29–30). Artinya, dosa sangat serius di hadapan Allah.

Jangan kita hanya menekankan besarnya kasih Allah. Betul, Allah kita setia, kasih-Nya tidak berkesudahan (Rat. 3:23; Mzm. 89:2; 100:5, dan sebagainya). Namun jangan menyepelekan perbuatan dosa yang dilakukan, apalagi bila tidak disertai penyesalan yang dalam, rasa bersalah, tanggung jawab, kesediaan dihukum, serta janji dan komitmen untuk berhenti melakukan hal yang sama. Pengampunan hanya diberikan bagi mereka yang benar–benar menyadari dampak dosa bagi Allah dan orang lain, serta menunjukkan bukti pertobatan sejati.

Alkitab berkata, “Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh. 4:20); “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5); “Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk. 12:2).

Allah membuka hati-Nya bagi mereka yang datang untuk pemulihan. Nas minggu ini menggambarkannya. “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari; pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya” (ay. 6:1–2).

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa berpura–pura lebih banyak buruknya daripada baiknya. Baiknya, mungkin berbuah sesaat; orang melihat topeng kita yang tampak cantik berseri. Namun kenyataannya, wajah kita penuh goresan dosa berupa rasa benci, tipu daya, suka menghakimi, dan perbedaan antara yang di bibir serta di hati. Maka, buanglah topeng kita. Tidak ada gunanya lagi kita berpura–pura di hadapan Allah dan manusia.

Allah rindu kita kembali, sama seperti Dia yang akan kembali. “Aku akan pergi pulang ke tempat–Ku sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah–Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku ... Sebab Aku menyukai kasih setia dan menyukai pengenalan akan Allah” (ay. 5:15; 6:6).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 31 Mei 2026

Kabar dari Bukit

  BERCERMIN SEBELUM MENILAI ORANG LAIN (Mat. 7:1-6)

  ”Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5)

 

Saat ini kita banyak membaca atau mendengar perdebatan tentang jalannya kehidupan bernegara. Di tengah ketatnya anggaran penerimaan, ada beberapa program pemerintah yang dirasakan belum tepat, seperti belanja peralatan pertahanan, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendanaan Koperasi Merah Putih (KMP) yang langsung besar super cepat. Di lain pihak tidak terlihat adanya upaya penghematan, seperti kabinet yang masih super gemuk, perjalanan dinas berlebihan Presiden ke luar negeri, dan lainnya. Ada pro kontra; masing-masing pihak membenarkan sudut pandang sendiri. Padahal, perbedaan bukanlah sesuatu yang buruk; menjadi buruk jika para pihak justru mengabaikan dan merendahkan.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini diambil dari Mat. 7:1-6. Nas ini terdiri dari tiga hal. Pertama, agar kita tidak menghakimi, dalam arti mudah menilai, dengan gegabah menyimpulkan sikap atau perbuatan salah orang lain. Konsekuensinya, seperti kata nas minggu ini, kita pun akan dihakimi. Dan cara kita menilai dalam penghakiman, itu yang akan dipakai untuk menghakimi kita, dan ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Artinya, Tuhan saat jadi Hakim akan melihat sikap sombong kita, merasa lebih pintar dan suci, motif yang kurang baik dan mencari-cari kesalahan orang lain (bdk. Yak. 4:11-12). Bila kita, misalnya, menghakimi dengan keras tanpa pertimbangan kasih, kita juga akan dihakimi dengan ukuran yang sama.

 

 

 

Bagian kedua, sebelum melihat dan menilai, nas minggu ini mengajarkan nilai dululah diri kita. Periksa, bercermin dirilah sebelum menilai orang lain (1Kor. 11:31). Ada kemungkinan kelemahan, kesalahan dan dosa kita jauh lebih besar. Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata, "Mengapakah engkau melihat selumbar (serpihan kecil kayu) di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (ay. 3; 2Sam. 12, Daud dengan Natan). Kita jangan sibuk mengkritik orang, menjatuhkan, padahal kita mungkin lebih rendah dan buruk dari mereka yang kita kritisi.

 

 

 

Kita orang percaya sebenarnya tidak dilarang menilai pihak lain. Tetapi lakukanlah itu dengan bijak, adil dan berdasar hikmat. Alkitab memberi petunjuk tentang hal baik dan buruk. Oleh karenanya Tuhan Yesus berkata, "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (ay. 5; Rm. 2:1). Bila masih belum ketemu faktor positifnya pihak lain, teruslah mencari. Bila memang tidak dapat melihatnya, akui saja kita tidak mengerti dan biarlah Tuhan yang memberi penghakiman (Rm. 12:19; 14:10-12).

 

 

 

Bagian terakhir nas ini nasihat bagus sangat unik. Ayatnya mengatakan, "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu” (ay. 6). Artinya, perlu bijak dan hati-hati memberi masukan, petunjuk, saran kepada orang lain. Lihat dulu dan amati diri mereka. Barang yang kudus dan mutiara dapat berupa nasihat firman Tuhan, kebenaran Ilahi, petuah atau wejangan rohani yang sebenarnya berharga, tetapi karena diri mereka bebal dan picik, sia-sia usaha kita; terbuang percuma (Ams. 23:9).

 

 

 

Memang hidup perlu dijalani dengan selalu rendah hati, selalu memeriksa dan bereskan diri sebelum ke orang lain, dan bijak dalam bersikap dan berintraksi, tahu kapan berbicara dan diam, seperti Yesus yang diam di hadapan Herodes (Luk. 23:8-9;Kol. 4:5-6). Itulah tanda kita murid Kristus.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Khotbah (3) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026

Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 3)

IBADAH YANG SEJATI (Mzm. 50:1-23)

”Perhatikanlah ini, hai Kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan” (Mzm. 50:22)

 

 Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan; Bila tiada rela sujud dan sungkur?

Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan; Bila tiada hati tulus dan syukur?

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan; Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!

Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan; Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan (PKJ 264)

 

Lirik PKJ 264 “Apalah Arti Ibadahmu” merupakan padanan firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini, dari Mazmur 50:1-23; Judul perikopnya: Ibadah yang sejati. Mazmur 50 (dan 49) merupakan khotbah pengajaran tentang perilaku dan sikap umat Israel dan kita orang percaya dalam beribadah dan memperlihatkan kasih kepada-Nya.

 

Sebelumnya, Mazmur 49 mengajarkan agar kita tidak tergiur oleh harta dan dunia ini. Kita ingin disadarkan dari ilusi rasa aman kekayaan, dan peduli masa depan di kekekalan. Selanjutnya Mzm. 50 ini menggambarkan Mesias Tuhan Yesus yang akan datang kembali untuk menghakimi. Kedatangan-Nya dari Sion, puncak keindahan, tampil bersinar. Ia tidak akan berdiam diri, "di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat. Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya" (ay. 2-4). Tuhan akan bertindak sebagai Hakim dan menegakkan keadilan-Nya (ay. 6).

 

Tuhan Yesus akan mengumpulkan orang-orang yang mengasihi-Nya, yang dipanggil melalui Perjanjian Baptisan (dan Sidi), yang setia dan berusaha menjaga kekudusan hidup (ay. 5). Ia tidak mempedulikan persembahan kita, melainkan melihat cara kita  beribadah yang sejati kepada-Nya.

 

Hal pertama yang ditekankan adalah sikap bersyukur; membawa persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas kasih karunia dan pemeliharaan-Nya. Persembahan bukan atas rumus aturan yang dibuat manusia agar semakin besar kita memberi untuk memperoleh keselamatan, apalagi untuk menuai lebih banyak. Tuhan adalah pemilik alam semesta sehingga tidak memerlukan korban hewan atau materi (ay. 9-13). Tetapi rasa syukur dari hati yang penuh berterima kasih adalah ibadah yang sejati. Itulah yang berkenan kepada-Nya (ay. 14, 23a).

 

Hal kedua diingatkan tentang nazar, pengakuan iman percaya kita, pernyataan Allah adalah pemilik kehidupan; Pengakuan bahwa Dia adalah andalan kekuatan kita dalam mengatasi segala pergumulan dan juga mewujudkan pengharapan yang kita naikkan. “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku" (ay. 15). Hal ketiga, diingatkan kita harus menjauhi orang fasik yang mengandalkan dan menyombongkan diri. Mereka akan mengajarkan hal buruk, mengucapkan yang jahat dan lidah yang melekat tipu daya. Janganlah berkawan dengan mereka (ay. 16-20).

 

Hal keempat, nazar pengakuan iman bahwa kita tidak khawatir akan hari esok. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Mat. 6:11). "Kekhawatiran sehari cukuplah untuk sehari" (Mat. 6:34). Oleh karena itu, ketika ada saudara kita yang membutuhkan baik makanan dan minuman atau orang yang berkeluh, marilah ikut melayani agar iman mereka tetap kuat serta teguh (PKJ 264). Wujudkan keadilan-Nya dengan kasih terhadap sesama.

 

Hal terakhir, kita diperingatkan tentang penghukuman bila tidak taat dan setia menjaga ibadah yang sejati. “Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan” (ay. 22). "Orang yang benar jalannya, akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari Allah” (ay. 23). Haleluya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu Trinitas – 31 Mei 2026

 Khotbah Minggu Trinitas – 31 Mei 2026

 

 PRIBADI SEMPURNA DAN HIDUP DAMAI SEJAHTERA (2Kor. 13:11-13)

 

Bacaan lainnya: Kej. 1:1-2:4a; Mat. 28:16-20; Mzm. 8

 

 Pendahuluan

 

Nas minggu ini merupakan akhir dari surat Paulus kepada jemaat di Korintus berisi perintah, salam dan berkat. Ada 5 perintah Allah disampaikan dalam nas ini, yakni: (1) bersukacitalah; (2) usahakan dirimu sempurna; (3) terimalah nasihat; (4) sehati sepikirlah; (5) hiduplah dalam damai sejahtera. Maksud dari semua ini adalah agar jemaat selalu menjaga kesatuan di antara mereka sambil terus menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sebagaimana diuraikan pada pasal-pasal sebelumnya. Dalam surat ini juga Rasul Paulus mengatakan rencana kunjungannya untuk mengetahui perkembangan jemaat. Dari bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Bersukacita dan usahakanlah dirimu supaya sempurna (ayat 11a)

 

Bagaikan seorang ayah yang ingin anaknya bertumbuh menjadi dewasa, demikian pesan Allah melalui Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dan kita semua agar menjadi orang percaya yang dewasa. Di tengah-tengah pergumulan yang dialami oleh jemaat Korintus sebagaimana diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya, firman Tuhan mengatakan tetaplah bersukacita. Demikian pula dalam menghadapi persoalan dan pergumulan hidup sehari-hari, kita juga harus tetap dalam sikap bersyukur dan bersukacita, dalam arti bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan dan bertekun dalam doa (Rm. 12:12). Bersukacita dalam pengharapan berarti kita mengimani Allah akan memberikan pertolongan dalam melewati pergumulan itu dengan kemenangan. Kita juga diminta agar dalam situasi kesesakan yang kita alami, kita tetap sabar terhadap diri sendiri dan juga sabar pada pertolongan Allah. Sikap itu akan saling mendukung ketika kita tambahkan bertekun dalam doa, sebab doa kepada Allah yang hidup membuat kita terus terhubung dan kuasa-Nya akan mengalir dalam kehidupan kita dan memampukan kita melewati semuanya dengan baik.

 

 

 

Perintah kedua adalah agar jemaat Korintus mengusahakan diri mereka menjadi sempurna (katartizo yang lebih berarti memulihkan kepada keadaan semula). Untuk melihat apakah sempurna, sebagaimana ayat-ayat sebelum nas ini, tiap orang perlu menguji diri sendiri, menyelidiki, apakah kita tetap teguh di dalam iman, apakah kita benar-benar tetap sebagai orang Kristen sejati. Sebagaimana melakukan pemeriksaan umum tubuh fisik (general check up) di rumah sakit/klinik, Rasul Paulus meminta untuk memeriksa kerohanian kita. Kita harus mencari pertumbuhan kehadiran Kristus dan kuasa-Nya di dalam kehidupan kita, sehingga dengan begitu kita tahu bahwa kita adalah seorang Kristen sejati dan bukan penipu. Ada prinsip, jika kita tidak mengambil langkah bertumbuh lebih dekat kepada-Nya, berarti kita menarik diri lebih jauh dari-Nya, sebab iblis dan si jahat terus bekerja. Kalau tidak maju, itu sama dengan mundur, meski kadang perlu kontemplasi. Pergumulan dan permasalahan jangan membuat kita kalah atau menurun. Rasul Paulus menyebut pesan Allah sesuai pengalaman hidupnya, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Kor. 12:9). Sebelum nas bacaan kita minggu ini, firman Tuhan juga mengatakan, “Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna” (2Kor. 13:9).

 

 

 

Menjadi sempurna adalah tantangan orang percaya. Jangan menaruh target terlalu rendah. Menjadi sempurna berarti menjadi serupa dengan Kristus. Sebagaimana kerinduan Rasul Paulus dinyatakan dengan kalimat, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Kita tidak mungkin tidak berdosa sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia harus sekuat tenaga dan upaya untuk menjauhkan diri dari dosa dan berusaha hidup seturut dengan firman-Nya. Tujuan semua itu adalah agar serupa dengan Kristus dan menjadi sempurna seperti firman-Nya, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2). Lagu NKB 138 mengumandangkan, “Makin serupa Yesus, Tuhanku, inilah sungguh kerinduanku; Makin bersabar, lembut dan merendah, makin setia dan rajin bekerja.” Keadaan sempurna hanya terjadi ketika kita di dalam Kristus dan pengampunan-Nya, sehingga tatkala kita dalam ujian dan pergumulan tidak taat dan jatuh serta mengabaikan firman-Nya, maka pengudusan kembali berlangsung melalui pengampunan dalam kasih anugerah-Nya. Tujuan semua ini adalah agar ketika kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya, kita tidak bercatat dalam kuasa Roh Kudus, yang membawa sukacita besar bagi kita (band. 2Ptr. 2:1-13). Namun oleh kasih karunia kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Rm. 3:24).

 

 

 

Kedua: Terimalah nasihat dan sehati sepikir (ayat 11b)

 

Perintah ketiga dalam nas ini adalah agar jemaat Korintus dan juga kita menerima nasihat (parakaleo), khususnya yang bersumber dari firman dan Roh Kudus. Para rasul dipakai oleh Allah untuk menguatkan orang percaya dan bukan untuk menjatuhkan. Firman Tuhan memberi kita nasihat yang perlu setiap hari. Persekutuan dan teman-teman seiman adalah tempat Roh Kudus bekerja. Tidak ada ruang dalam persekutuan untuk melemahkan sesama rekan seiman. Kita perlu memperhatikan dan menguatkan teman-teman yang membutuhkan. Kita juga perlu membuka diri atas pikiran orang lain. Mendengar berarti membuat kita diam dan berkontemplasi. Seseorang pemberi nasihat tidak harus lebih “pintar” dari yang diberi nasihat. Ada hal-hal tertentu dan sudut pandang yang dimiliki seseorang yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Seorang juara dunia dalam bidang apapun perlu nasihat dari pelatihnya, sehingga dalam hal ini nasihat penting dalam membuka wawasan dan metode berpikir. Apalagi nasihatnya bersumber dari firman Tuhan, jelas sangat efektif, sehingga paling tidak seperti dikatakan firman agar “kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh” (1Tes. 4:1). Maka jangan ragu memberi nasihat sebagaimana Rasul Paulus. Lihat siapa teman kita yang membutuhkan. Itu adalah tugas panggilan dan jangan malah membicarakannya dengan orang lain kemudian menjadi gossip. Karena itu kita perlu melayani sesama untuk saling menguatkan dan terus berbagi tentang Injil. Tujuan kita tidak semata-mata hanya membuat orang lain menjadi percaya, tetapi melihat bagaimana iman mereka bertumbuh menjadi dewasa.

 

 

 

Perintah keempat adalah agar jemaat Korintus sehati sepikir dalam menghadapi permasalahan yang ada (band. Rm. 12:16; 15:5; Flp. 2:2; 4:2). Rasul Paulus mengingatkan bahwa orang-orang di Korintus harus menghadapi permasalahan mereka sendiri, dalam tindakan, perilaku dan situasi mereka, serta kecocokan dengan pesan Injil. Memang perlu kita sadari, ketika standar dan kualitas jemaat yang diminta tidak ada, maka suatu saat permasalahan pasti muncul kembali. Itu bagaikan api dalam sekam. Ancaman akan datang kembali kepada gereja kalau hanya dengan memoles-moles masalah, konflik dan kesulitan yang mereka hadapi tidak diselesaikan tuntas. Gereja tidak boleh dibentuk dan hadir dari proses kegagalan, kelalaian, penolakan, tersembunyi atau kepahitan. Gereja yang sehati sepikir adalah produk ikutan dari kerja keras dalam kebersamaan memecahkan masalah. Pesan Allah kepada jemaat Kristus memang seperti godam yang memukul keras kesulitan mereka, demikian pula kita harus menerapkan prinsip-prinsip firman Allah dalam persekutuan jemaat dan bukan sekedar pendengarnya.

 

 

 

Rasul Paulus memberi teladan dengan berusaha ikut dalam persoalan yang dihadapi jemaat Korintus, meski ia dapat menolak terlibat sampai mereka dapat menyelesaikan masalah perpecahan tersebut. Akan tetapi kasihnya yang besar berdasar pada kasih Kristus, tidak dapat membiarkan jemaat itu bergumul sendirian. Kasih wujudnya adalah kepedulian yang berarti kita harus menghadapi situasi sekitar yang nyata. Kemampuan dan pendekatan pribadi dibutuhkan dalam membebaskan orang-orang yang terbeban, apalagi sudah terjerat di dalam dosa. Memang kadang ada pendekatan yang salah yang membuat hubungan malah tambah buruk dan bukannya memulihkan. Rasul Paulus mengutarakan hal itu dengan tidak mengutamakan jabatan kerasulannya. Kita dapat menggunakan otoritas, perintah, atau ketentuan aturan hukum, organisasi, adat-istiadat atau lainnya untuk menegur atau menghukum mereka yang terlibat masalah, atau pilihan buruk menghindar dengan alasan itu adalah urusan mereka. Atau, lebih buruk lagi, kita menjauh dengan membuat gossip dan mengarahkan pembicaraan agar pendengar membenci mereka. Tetapi Rasul Paulus melakukan upaya membangun hubungan dengan pendekatan yang baik dan benar: berbagi, dialog dan peduli. Ini memang pendekatan yang sulit yang menguras energi secara emosional, tetapi itu adalah pendekatan yang terbaik terhadap orang lain, dan hanya dengan demikian cara Kristiani yang efektif untuk berhubungan dengan dosa-dosa dan kelemahan orang lain.

 

 

 

Ketiga: Hiduplah dalam damai sejahtera dengan salam dan cium kudus (ayat 11b-12)

 

Perintah kelima adalah agar mereka hidup dalam damai sejahtera (Yun: eireneuo yang lebih berarti memelihara damai sejahtera - band. Mrk. 9:50; Rm. 12:18; 1Tes. 5:13). Pertentangan di antara jemaat membuat mereka tidak lagi bersukacita, penuh dengan iri hati, egoisme, kesombongan dan permusuhan. Tidak ada lagi damai sejahtera di dalam hati jemaat dan persekutuan mereka. Namun mereka tidak dapat lari dari persoalan itu. Memang, dibandingkan dengan lari dari persoalan dan membuat masalah tidak selesai dan menunda terus menghantui, lebih baik kita menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Kunci dari pemecahan masalah itu hanya satu, yakni dengan iman bahwa masalah bisa diselesaikan dengan pertolongan Tuhan (Flp. 4:13). Kita bisa mengambil contoh hal yang dilakukan oleh Musa saat ia dipanggil memimpin umat Allah keluar dari Mesir. Di dalam Ibr. 11:24-27 dijelaskan bahwa dengan iman Musa menolak disebut anak puteri Firaun, artinya Musa mengenali dirinya sendiri dan kedudukannya (ayat 24). Kemudian ia bersedia menerima tanggungjawab yang dibebankan kepadanya, meski harus sengsara dan meninggalkan kesenangan (ayat 25); dalam hal itu ia melihat prioritas Kristus sebagai kekayaan yang lebih utama (ayat 26); dan akhirnya ia memutuskan mengambil tugas panggilan Tuhan: meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Semua itu hanya oleh karena iman dan ia menjadi pemenang yang menghasilkan damai sejahtera. Oleh karena itu dikatakan dalam nas ini bahwa sumber kasih dan damai sejahtera itu adalah Allah. Allah memberikan kepada kita sebuah situasi dan kondisi yang memungkinkan kita masuk ke dalam damai sejahtera itu dengan caranya yang unik.

 

 

 

Hidup dalam damai sejahtera hanya ada di dalam Yesus, sebagaimana dikatakan-Nya: Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku (Yoh. 16:33a). Kalau hanya dengan usaha atau buatan manusia, damai sejahtera hanya dapat diperoleh bersifat sementara. Damai sejahtera dari Allah kita bisa peroleh saat sudah menerima dan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dari Tuhan Yesus (Markus, Lukas dan Yohanes memakai istilah Kerajaan Allah), sebab damai sejahtera itu hanya ada di dalam kerajaan itu. Kerajaan sorga yang penuh damai sejahtera itu juga sudah ada saat ini, bukan berarti kita harus menunggu Kerajaan Sorga itu itu digenapi penuh di kemudian hari, melainkan menjadikan kerajaan sorga itu hadir saat ini di dalam diri setiap orang percaya. Tuhan Yesus berkata, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu" (Luk. 17:20b-21). Siapa yang sudah menempatkan Yesus sebagai Raja dan bersemayam di dalam hidupnya, dan menempatkan Kerajaan Kristus itu sudah hadir dalam kesehariannya, maka sesungguhnya ia akan memiliki damai sejahtera. Alkitab menegaskan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17).

 

 

 

Hidup dalam damai sejahtera perlu diperlihatkan dalam hubungan sehari-hari, oleh karena itu Rasul Paulus menyatakan perlunya jemaat Korintus untuk saling mendukung dengan memberi salam dengan cium kudus. Dalam Perjanjian Baru frasa cium kudus muncul sebanyak 5 kali (Rm. 16:16; 1 Kor. 16:20; 2Kor. 13:12; 1 Tes. 5:26; dan 1 Ptr. 5:14). Menurut Deky Nggadas (lihat http://dekynggadas.wordpress.com), pemberian salam dengan ciuman kudus sampai pada masa Perjanjian Baru sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Ada beberapa jenis ciuman yang dijelaskan: Pertama, ciuman antar kerabat atau famili (Kej. 29:11; 33:4; band. Kel. 4:27; 18:7); Kedua, ciuman sebagai tanda penghormatan terhadap status seseorang yang dianggap lebih tinggi (1Sam. 10:1; band. Luk. 7:38, 45; 22:47; Kis. 20:37), dan biasanya pemberian salam penghormatan ini dilakukan pada leher, tangan, mata, dan atau bagian-bagian tubuh yang lain. Ketiga, ciuman dalam konteks keagamaan.  Dalam konteks agama-agama misteri, pemberian ciuman memiliki signifikansi kultis, yakni sebagai simbol penghormatan terhadap para dewa (Ayb. 31:27; 1Raj. 19:18; Hos. 13:2). Keempat, ciuman sebagai ekspresi cinta dan birahi (Kid. 1:2; Ams. 7:13). Meski begitu, ciuman dalam lingkungan kekristenan mula-mula lebih bernuansa teologis ketimbang sosial dan tidak pernah dimaksudkan sebagai tindakan erotis. Dalam cium kudus, ada makna kesatuan, penerimaan, pengampunan, kesetaraan, dan kasih persaudaraan di antara sesama anggota jemaat di dalam Kristus. Memang ada hal penting yang perlu disampaikan bahwa di kemudian hari praktik ini menimbulkan penyimpangan dalam jemaat. Hal ini terindikasi dari kecaman Bapak-bapak Gereja terhadap penyalahgunaan cium kudus dalam ibadah sebagai kesempatan untuk meluapkan birahi. Praktik menyimpang ini juga terlihat dilakukan sekitar akhir tahun 1970-an oleh para penganut Children of God yang sempat masuk ke Indonesia.

 

 

 

Keempat: Kasih dari Allah Tritunggal (ayat 13)

 

Sebelum menutup suratnya Rasul Paulus memberi salam dari seluruh orang kudus pada jemaat Korintus. Kemudian ia memberi berkat dari Tiga Wujud Allah Tritunggal: Allah Bapa, Allah Anak (Tuhan Yesus), dan Allah Roh Kudus. Berkat ini kemudian terkenal dan lazim diucapkan oleh pendeta pada akhir ibadah. Meski kata Tritunggal tidak eksplisit dipakai di Alkitab, nas yang kita baca minggu ini memperlihatkan bukti yang dapat dipercaya dan dialami melalui penerimaan anugerah Allah, kasih-Nya dan persekutuan dengan-Nya. Dalam buku Pedoman Persekutuan GKSI (Penulis sebagai penyunting) disebutkan bahwa istilah teknis dalam Alkitab untuk gagasan Tritunggal, mengungkapkan dengan jelas ajaran Alkitab. IA ada sebagai Tritunggal yang suci: sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Ul. 6: 4; Yes. 43: 10-11; Mrk. 12: 29; Mat. 28: 19; 2Kor. 13: 14). Jawaban umum terhadap rupa Allah adalah, “Allah itu Roh, berpribadi yang hidup”. Allah yang dinyatakan dalam Alkitab sungguh-sungguh hidup dan bertindak (Mzm. 15: 3; 97: 7). Ia bukan sekedar kuasa atau kekuatan tak berpribadi, tetapi Allah yang berpribadi dan berwatak kodrat khusus. Dia adalah Roh yang melebihi seluruh tatanan dunia dan tatanan itu seluruhnya bergantung kepada-Nya. Dalam Luk. 1:26-35 digambarkan malaikat Gabriel mengumandangkan pesan Allah akan kelahiran Yesus kepada Maria. Mat. 3:17 menyebutkan suara Allah Bapa terdengar pada saat Yesus dibaptis; dan dalam Mat. 28:19 Tuhan Yesus mengamanatkan misi Agung kepada murid-murid dan kita semua.

 

 

 

Dalam Perjanjian Lama, acapkali Allah memakai istilah jamak untuk diri-Nya sendiri (Kej. 1: 26; 3: 22; 11: 7; Yes. 6: 8). Injil Yohanes memperlakukan perikop Yesaya sebagai penglihatan Yesus (Yoh. 12: 41). Ada sebutan mengenai Malaikat Tuhan yang disamakan dengan Allah tetapi berbeda dengan-Nya (Kel. 3: 2-4; Hak. 13: 2-22). Perjanjian Lama juga menyebutkan Roh Allah sebagai wakil pribadi Allah (Kej. 1: 2; Neh. 9: 20; Mzm. 139: 7; Yes. 63: 10-14). Ada juga disebutkan tentang hikmat Allah, khususnya Amsal 8, sebagai perwujudan Allah di dunia, dan juga firman Allah sebagai ungkapan yang kreatif (Mzm. 33: 1, 9; band. Kej. 1: 26). Ada juga nubuat yang menyamakan Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu itu dengan Allah (Mzm. 2; Yes. 9: 5-6). Dalam Perjanjian Baru, acuan yang Tuhan Yesus berikan kepada para murid (Mat. 28: 19) menentukan pemahaman mereka. Allah adalah ESA, namun dapat dibedakan dalam tiga Oknum: Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Berbagai perikop mengandaikan atau menyatakan ketritunggalan Allah secara langsung atau tidak langsung (Mat. 3: 13-17; 28: 19; Yoh. 14: 15-23; Kis. 2: 23; 2Kor. 13: 14; Ef. 1: 1-14; 3: 16-19). Masing-masing Oknum ditegaskan bersifat Ilahi:

 

 

 

  1. Sang Bapa adalah Allah (Mat. 6: 8; Gal. 1: 1)
  2. Sang Anak adalah Allah (Yoh. 1: 1-18; Rm. 9: : 5; Kol. 2: 9; Tit 2: 13; Ibr. 1: 8-10);
  3. Roh Kudus adalah Allah (Mrk. 3: 29; Yoh. 15: 26; 1Kor. 6: 19-20; 2Kor. 3: 17-20)

 

 

 

Dengan demikian, Allah menyajikan realitas yang misterius dan unik, Satu Allah: Sang Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

 

 

 

Satu cara untuk memahami perbedaan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dengan menghubungkan fungsi yang berbeda masing-masing Oknum. Bentuk paling populer menghubungkan penciptaan dengan Bapa, penyelamatan dengan Anak, dan pengudusan dengan Roh Kudus. Paulus memberikan bentuk lain dalam Efesus 1, di mana pemilihan dihubungkan dengan Sang Bapa (ay. 4, 5, 11), penyelamatan dengan Anak (ay. 3, 7, 8) dan pemeteraian dengan Roh Kudus (ay. 13-14). Tetapi adanya perbedaan ini jangan sampai memudarkan kebenaran mendasar mengenai keesaan Ilahi yakni ketiga-tiganya terlibat dalam kegiatan siapa pun di antara ketiga Oknum itu. Misalnya, walaupun dalam penciptaan khususnya dikaitkan dengan Sang Bapa, namun juga dihubungkan dengan Anak (Yoh 1: 3) dan Roh Kudus (Yes 40: 13). Dengan demikian, seluruh pengertian tentang keselamatan Kristen dan penerapannya pada pengalaman manusia tergantung pada ketritunggalan Allah. Begitu penting maknanya. Ketritunggalan Allah juga merupakan dasar pokok penegasan bahwa Allah itu kasih adanya. Rasul Paulus mengakhiri suratnya dengan berkat dari ketiga Pribadi itu mengingatkan jemaat Korintus akan kesatuan mereka dalam Tritunggal. Kesatuan itu mengalirkan berkat anugerah (keselamatan), kasih dan persekutuan. Oleh karena itu, dalam berkat yang disampaikan oleh Rasul Paulus di dalam Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, menguatkan bahwa Allah sangat mengasihi kita semua, baik di dalam pergumulan, maupun di dalam sukacita dan kehidupan sehari-hari. Kasih Allah dan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal itu (Flp. 4:7) dipersatukan dan dikukuhkan dalam sebuah janji keberhasilan yang indah.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang pentingnya kesatuan jemaat. Dalam kehidupan berjemaat mungkin kita mengalami berbagai persoalan dan permasalahan, akan tetapi nas minggu ini mengingatkan kita untuk bersukacita dalam menghadapi hal itu. Persoalan yang datang dapat kita jadikan sebagai jalan untuk membuat kita menjadi (lebih) sempurna. Allah bekerja dalam setiap persoalan (Rm. 8:28) dan menjamin setiap beban dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Untuk itu perlu keterbukaan, evaluasi diri , dan bersedia menerima nasihat khususnya yang bersumber dari firman Allah dan kuasa Roh Kudus. Badai permasalahan yang mereka hadapi hanya dapat diselesaikan dengan cara mereka sehati sepikir. Segala iri hati, kesombongan, dan egoisme harus dihilangkan. Dengan sehati sepikir maka mereka akan memperoleh berkat dan hidup dalam damai sejahtera. Semua damai sejahtera itu perlu diekpresikan dengan salam dan cium kudus di setiap kesempatan, sehingga Allah Tritunggal, sumber kasih dan damai sejahtera akan terus memberkati mereka melalui anugerah, kasih dan penyertaan-Nya hingga akhir zaman.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 36 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13940363
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
375
2331
7709
13910885
4731
131119
13940363

IP Anda: 216.73.216.124
2026-06-03 04:03

Login Form