2026
2026
Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026
Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026
DI DALAM TUHAN KITA SENANTIASA BERSUKACITA (Flp. 4:1-9)
Bacaan lainnya: Mat. 22:1-14; Kel. 32:1-14 atau Yes. 25:1-9; Mzm. 106:1-6, 19-23 atau Mzm. 23
Pendahuluan
Bagian terakhir kitab Filipi ini memberikan nasihat kepada jemaat Filipi tentang cara mereka hidup di dalam perdamaian dan kasih. Adanya perbedaan di antara para pelayan Tuhan diminta diselesaikan. Memang identitas yang disebut teman setia dalam nas ini masih belum terlalu jelas. Mungkin saja orangnya adalah Epafroditus yang membawa surat surat, atau seorang rekan Paulus yang lain di penjara. Orang itu bisa juga yang bernama Sunsugos (yang berarti penerima kuk bersama). Keprihatinan pada jemaat Filipi membuat Rasul Paulus sampai mengulang enam kali sebutan kasih kepada mereka. Ia menekankan sebagai pemimpin di dalam jemaat seyogianyalah memberikan teladan sebagaimana Kristus. Banyak hal positif yang dapat dilakukan dan terutama menjadikan jemaat sebagai mahkota. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut:
Pertama: Berdiri teguh dan sehati sepikir (ayat 1-3)
Bagaimana caranya kita dapat berdiri teguh di hadapan Allah? Ini mengacu kepada ayat sebelumnya (Flp. 3:20-21), yakni dengan mengarahkan mata kita terus tertuju kepada Kristus, terus menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat kita yang abadi, dan fokus pada kenyataan bahwa Kristus yang mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita dan juga alam semesta. Dengan demikian, kita tahu segala hal yang terjadi dalam hidup kita ada dalam sepengatahuan Allah. Berdiri teguh juga berarti sabar dan tabah dalam menahan pengaruh negatif dari segala ujian dan pencobaan, pengajaran sesat, atau penderitaan. Ya betul, itu memerlukan ketekunan ketika kita diuji atau dihadapkan pada situasi perlawanan dan dimusuhi. Oleh karenanya, jangan kehilangan kekuatan hati dan mudah menyerah. Allah berjanji memberi kita kekuatan karakter. Dengan pertolongan Roh Kudus dan rekan-rekan orang percaya lainnya, kita akan dapat bertahan dan benar di hadapan Allah. Nasihat itulah yang diberikan kepada jemaat (band. 1Kor. 16:13).
Rasul Paulus tidak memaksudkan suratnya ini untuk menasihati jemaat Filipi tentang doktrin atau pengajaran yang salah, melainkan lebih kepada hubungan antar manusia. Hubungan buruk yang terjadi di antara para pelayan bukanlah masalah kecil. Ia mengambil contoh dengan nasihat kepada dua wanita (Euodia dan Sintikhe, mungkin tokoh-tokoh penting dalam jemaat) yang disebutnya telah bekerja di jemaat bagi Kristus. Melalui usaha dan kerja keras mereka berdua telah banyak orang percaya dibawa kepada Kristus. Adalah tidak mungkin seseorang yang percaya kepada Kristus –terlebih seorang pelayan – bekerja keras bagi kerajaan-Nya tapi memiliki hubungan yang buruk dengan sesama orang percaya lainnya, apalagi juga memiliki tujuan dan komitmen yang sama. Sehati sepikir perlu diutamakan agar bisa bekerjasama dan bersinergi (band. Flp. 2:2). Sungguh menyedihkan dan bahkan memalukan apabila di antara pelayan Tuhan atau pekerja Injil sendiri terjadi pertentangan. Firman Tuhan memberikan nasihat agar masing-masing pihak harus bersedia merendahkan hati dan memberi pengorbanan, tidak memaksakan keinginan sendiri. Egoisme yang memicu perbedaan harus disingkirkan, sebab Allah menciptakan manusia yang berbeda sudut pandang dan keperluan. Nas ini secara otomatis juga mengingatkan bahwa tidak ada ruang pemaafan dan pembenaran jika yang terjadi adalah perpecahan dan tidak terjadi rekonsiliasi. Bila ada perpecahan, pasti ada yang salah dan itu perlu diperbaiki di dalam pribadi mereka dan untuk itulah perlu introspeksi dan membuka diri.
Pertanyaan bagi kita: apakah kita saat ini sedang bermasalah dengan orang lain dalam persekutuan atau organisasi? Apakah kita sampai pada perpecahan dalam langkah dan bahkan mendendam sakit hati? Apakah kita memerlukan rekonsiliasi dengan seseorang saat ini? Jika kita menghadapi konflik yang kita tidak bisa selesaikan, jangan membiarkan ketegangan kecil yang dapat menjadi ledakan yang besar. Jangan kita mundur atau berhenti bahkan mengarahkan pada perkelahian dengan kekerasan. Jangan juga berpangku tangan dan menunggu bahwa masalah itu hilang dengan sendirinya. Prinsip waktu menghilangkannya tidak selalu benar. Waktu dapat menghilangkannya bila kita mengubah cara pandang dan kepentingan. Waktu memang dapat menurunkan amarah. Tetapi tanpa mengubah cara pandang, maka waktu tidak akan mengubah apapun yang menghilangkan perbedaan. Yang penting bagi kita, ketika masalah perbedaan dan pertentangan melanda, maka dengan iman dan kasih mintalah pertolongan Tuhan dan carilah orang yang bisa mendamaikan sehingga masalah dapat diselesaikan. Jangan sampai masalah berlarut-larut dan akhirnya menjadi dosa dan keselamatan kita dikorbankan. Ini yang ditekankan Rasul Paulus sehingga dikatakannya, keselamatan yang sudah kita terima dengan nama kita sudah tercatat dalam buku kehidupan, jangan sampai terhapus. Buku kehidupan adalah daftar semua nama-nama yang yang diselamatkan dalam hidup kekekalan melalui iman kepada Yesus Kristus dan ketaatan dalam melakukan firman-Nya (Luk. 10:17-20; Why. 20:11-15).
Kedua: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan (ayat 4-5)
Adalah aneh untuk seorang narapidana mengatakan kepada jemaat: “Bersukacitalah!” Akan tetapi pernyataan Rasul Paulus itu memberikan kita pelajaran penting: sikap di dalam hati seharusnya bukanlah merupakan refleksi dari keadaan di luar tubuh. Respon kita terhadap yang terjadi di sekeliling, tidak harus membawa dampak buruk terhadap hati kita. Kebahagiaan bukan datang dari luar diri yang ada di sekeliling, atau hal peristiwa tertentu, tetapi sikap dari dalam hati yakni hati yang telah dipenuhi Roh Yesus. Rasul Paulus tetap hatinya penuh sukacita karena tahu bahwa tidak masalah yang terjadi padanya, sebab Tuhan Yesus ada selalu bersamanya. Firman Tuhan menekankan kata “senantiasa” jelas menunjukkan sumber sukacita bukan tergantung situasi, tetapi sumber yang abadi yakni dari Tuhan Yesus. Beberapa kali dalam suratnya, Paulus mendesak jemaat Filipi agar bersukacita, mungkin hal itu yang dibutuhkan jemaat saat itu akibat masalah perbedaan yang ada. Bukanlah hal yang terlalu sulit untuk menghilangkan kejengkelan hati atau kehilangan semangat dari situasi yang tidak menyenangkan; atau membuang hal-hal yang tidak penting untuk dipikirkan terlalu serius. Mereka hanya perlu fokus menyelesaikan dalam kasih. Kita harus bisa menilai hal yang penting dan utama dalam hidup ini. Jika kita saat ini tidak bersukacita, maka pasti ada yang salah dalam perspektif melihat kehidupan ini, terutama yang Tuhan telah berikan.
Demikian juga tentang permasalahan yang dihadapi jemaat Filipi dalam kesatuan hati untuk bisa sehati sepikir. Mereka tidak mungkin dapat bersukacita apabila mereka tidak bersatu dan ada kesehatian. Mereka tidak bisa merasakan sukacita apabila terjadi pertentangan yang bisa membawa perpecahan. Kita harus bersikap lembut, logis, pikiran terbuka, dan menyambut positif atas hal-hal yang terjadi di sekitar jemaat, dan bukan hanya sebagai orang percaya yang pasif tidak peduli. Dengan demikian, kita juga diminta agar tidak mudah menaruh sakit hati dan dendam pada mereka yang berbeda pendapat atau menyakiti hati kita, serta tidak berbangga dan omong besar atas kelebihan yang kita miliki dan menuntut hak-hak yang sepertinya menjadi milik kita. Sebaliknya, kita harus mengambil peran juru damai yang aktif apabila ada perselisihan yang terjadi di lingkungan kita. Sebagaimana dinyatakan Paulus, nas ini meminta warga jemaat lainnya (Sunsugos berarti sesama pekerja atau pemikul kuk) untuk ikut mendamaikan hamba-hamba Tuhan yang belum sehati itu. Tanpa kesejatian para hamba pelayan-Nya, jemaat pun akan kehilangan sukacita.
Hamba Tuhan dan dan para pelayan perlu melihat jemaat sebagai mahkota, dalam arti yang paling utama dan dimenangkan dan bukan ego masing-masing pribadi. Bilamana ini dilihat sebagai sumber sukacita yakni jemaat bersatu padu, bertumbuh dan berbuah, maka sukacita akan datang pada semua. Sukacita mestinya mudah datang dari Yesus yang diam di dalam hati setiap hati orang percaya. Pelayan seharusnya menjadi panutan bagi jemaat. Untuk itu perlu ditonjolkan kebaikan-kebaikan hati (epieikes) berupa kesabaran, kesediaan mengalah apalagi keinginan menyenangkan orang lain dengan kasih. Dasar semuanya adalah kesiapan orang percaya dalam menyongsong kedatangan Kristus yang sudah dekat. Tuhan sudah dekat adalah prinsip Kristiani sehingga setiap masalah yang membawa dosa, harus diselesaikan dengan kasih (Mat. 24:36; Rm. 13:12-14; Ibr. 10:37; Yak. 5:8, 9). Hati yang bersuka cita dan bersyukur adalah prinsip Kekristenan. Tuhan sudah dekat juga berarti Ia tetap dekat yakni sedekat doa kita (band. Flp. 1:4). Maka pada kedatangan-Nya kedua kali, sukacita dan syukur serta janji-janji-Nya akan digenapi penuh (Mzm. 85:7; Hab. 3: 18). Yesus yang hidup di dalam diri kita akan memenuhi rencana-Nya yang indah dan kita pun akan menerima mahkota kemenangan.
Ketiga: Janganlah khawatir dan nyatakan keinginanmu dalam doa (ayat 6-7)
Salah satu sumber kehilangan sukacita adalah adanya kekhawatiran. Ini juga yang dilihat Rasul Paulus sehingga ia mengatakan janganlah khawatir tentang apapun juga. Meski tidak dijelaskan kekhawatiran yang terjadi pada jemaat Filipi, tapi ini diduga bukan dari faktor-faktor materi, tetapi lebih kepada gengsi, status, kesombongan, dan harga diri yang menyebabkan pertentangan. Banyak pihak yang bersengketa atau bertengkar tidak mau memulai perdamaian sebab ada pandangan bahwa mereka yang menawarkan perdamaian terlebih dahulu adalah yang bersalah. Mereka yang mengalah dianggap sebagai pihak yang salah. Padahal, jelas berbeda: mengalah dan salah. Orang yang mengalah memang sedikit harus kalah dalam arti tidak mau menang melulu. Akan tetapi mereka yang mengalah justru sering menjadi pemenang, sebab langkahnya adalah mundur selangkah untuk maju dua langkah. Alkitab juga memberikan contoh bagi mereka yang mengalah justru yang diberkati, sebagaimana Abraham mengalah terhadap Lot dan Daud mengalah pada Saul. Kekhawatiran itu yang harus diganti menjadi mendapatkan damai sejahtera. Alkitab mengatakan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (Mat. 6:27; Luk. 12:25). Artinya, kekhawatiran tidak menambah apapun juga.
Jelas kita tidak bisa membayangkan situasi hidup kita untuk tidak khawatir tentang apapun. Itu tidak mungkin. Kita bisa khawatir tentang pekerjaan di kantor, tentang keadaan di rumah, di sekolah atau di lain persoalan. Akan tetapi Rasul Paulus menasihati agar mengubah kekhawatiran kita menjadi doa. Apakah kita ingin kekhawatirankita berkurang? Maka menurut firman minggu ini: tambahlah waktu kita untuk berdoa. Ketika kita mulai khawatir, hentikanlah kekhawatiran itu dengan mulai berdoa kepada Tuhan Yesus. Doa merupakan jalan keluar dengan dasar sebagai berikut:
1. Persekutuan kita dengan Tuhan Yesus akan mengisi hati dan pikiran kita dengan damai sejahtera. Doa mendorong agar kita memiliki suasana berpikir damai sejahtera. Kita akan menerima kasih karunia dan berkat dari-Nya (Kol. 3:15; Yes. 26:3; Ibr. 4:16).
2. Melalui doa kita secara otomatis menyerahkan segala kecemasan dan persoalan kita kepada Dia. Kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (Rm. 8:28).
3. Melalui doa kita memperlihatkan kesetiaan sekaligus memperbaharui kepercayaan pada Tuhan yang memelihara kita (Mat. 6:25-34; 1Pet. 5:7).
4. Melalui doa kita meminta kekuatan dan pertolongan Allah untuk membekali dan menguatkan dalam persoalan yang kita hadapi (ayat Flp. 4:13; Ef. 3:16 Flp. 3:20).
5. Alkitab memerintahkan, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu" (Ef. 6:18).
Dalam bagian lain dinyatakan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Damai sejahtera Allah di dalam Tuhan Yesus, yang dinyatakan dalam nas minggu ini melampaui segala akal, itu berarti melampaui ketidakmampuan segala pikiran, gagasan dan perencanaan manusia untuk memahami kedalaman dan kebesaran damai dari Allah. Istilah damai sejahtera akan memelihara, itu berarti menjaga atau membentengi kita dari segala kekhawatiran. Istilah phoureo yang berarti memelihara diambil dari istilah militer yakni benteng, yang menjaga damai sejahtera yang kita miliki. Damai sejahtera yang sebenarnya tidak kita peroleh dari berpikir positif, atau tiadanya konflik, atau dalam keadaan hati yang tenang. Damai sejahtera datang ketika kita berprinsip semua ada dalam kendali Yesus yang pasti memelihara jiwa kita. Kewargaan sorgawi kita adalah pasti, perjalanan hidup kita sudah ditentukan pada jalan yang dipimpin-Nya, dan kita pasti akan menang atas segala rintangan dan pencobaan. Biarkanlah damai sejahtera dari Allah yang memimpin hati kita terhadap kekhawatirandan kecemasan.
Keempat: Pikirkan dan lakukanlah semua hal itu (ayat 8-9)
Apa yang kita taruh di dalam pikiran akan menentukan hasil di dalam perkataan dan perbuatan. Rasul Paulus juga menyadari bahwa pikiran para pengikut Kristus perlu diberi “makanan” dengan mengatakan agar kita memprogram pikiran dengan hal-hal yang benar dan berguna. Makanan yang dimaksudnya adalah hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Kumpulan makanan pikiran ini sering disebut sebagai pemikiran positif Kristiani. Para pengikut Kristus perlu mendisiplinkan diri memikirkan hal itu, maka Allah akan memelihara perasaan mereka dengan damai-Nya. Tak hanya itu, mereka juga sekaligus semakin dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Itu berarti, kuncinya adalah ketaatan untuk memikirkan hal-hal yang Tuhan kehendaki. Selanjutnya Tuhan sendirilah yang akan turun tangan untuk menolongnya. Apakah kita ada kesulitan mendapatkan pikiran yang bersih? Atau pikiran kita hanya sering melamun? Periksalah yang ada di dalam pikiran kita yang "rusak", mungkin itu berasal dari televisi, internet, buku, film, atau majalah. Buang dan gantikanlah hal-hal yang mengganggu dan buruk itu dengan hal-hal yang membuat sukacita.
Isilah pikiran kita setiap hari dengan Firman Tuhan terlebih dahulu sebelum kita mengisinya dengan berbagai berita dan rencana harian kita. Bacalah firman Tuhan di pagi hari dan tekunlah berdoa. Betapa indahnya hidup jika kita dapat memberi makan pikiran dan perasaan kita dengan pikiran dan perasaan Kristus. Isi pikiran kita dengan meneleksi informasi yang berguna dan menambah hikmat dan sukacita. Mintalah kepada Tuhan agar pikiran kita tetap fokus pada hal-hal yang baik dan murni saja. Dengan demikian, kemenangan akan berada di pihak kita, yaitu damai Kristus dan hati yang bersyukur. Tidak cukup hanya mendengar firman Tuhan sekali seminggu di gereja. Atau hanya menghafalnya; justru yang terpenting adalah mempraktekkannya. Jadilah pelaku firman dan bukan pendengar (Yak. 1:22). Memang enak dan mudah mendengarkan khotbah, akan tetapi itu juga mudah hilang ditelan waktu. Memang tidak sulit untuk membaca Alkitab jika tidak harus berpikir keras, tetapi berpikir untuk bisa menjadi pelaku firman. Semua itu harus dipraktekkan dan untuk itu semua perlu dilatih. Jangan terjebak dalam dikusi-diskusi yang membuang energi tapi tidak berdampak pada perubahan cara pandang dan sikap hidup. Carilah makna firman, dan berusahalah untuk dapat memahami dan membuatnya menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu terjadi hanya dengan disiplin dan ketaatan.
Disliplin dan ketaatan memerlukan latihan. Itu yang membuatnya jadi berhasil. Dalam 2Tim. 2:5 dikatakan, "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." Artinya, ada aturan dan latihan. Ada beberapa metafora yang dipakai di dalam Alkitab tentang latihan bagi kehidupan rohani orang percaya. Metafora pertama adalah berlari, sebagaimana dalam nas minggu lalu (Flp. 3:13-14) yakni mengerahkan dan memfokuskan seluruh tenaga untuk memenangkan pertandingan, dengan melupakan masa lalu dan memandang ke depan ke arah kekekalan. Berlari dipakai juga dalam 1Kor. 9:24-27 dengan latihan yang ketat agar memperoleh hadiah, dengan mengarahkan pandangan kita kepada Kristus sebagai tujuan akhir kita. Dalam hal ini kita jangan sampai keluar dari jalur atau patah semangat. Dalam 1Tim. 4:7-10 dituliskan perlunya latihan rohani untuk membantu pertumbuhan iman dan karakter. Sama seperti latihan fisik yang perlu berulang-ulang, maka latihan rohani juga demikian agar kita semakin baik di hadapan Allah. Kita akan mendapatkan buahnya tidak hanya pada saat ini, tetapi juga kelak di akhir zaman. Metafora terakhir adalah petinju dalam 2Tim. 4:7-8, sebab kita melawan kekuatan-kekuatan iblis dan si jahat. Jika kita melakukan dengan taat dan benar kepada Allah serta tabah hingga akhir, maka dikatakan, "Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu" (band. Rm. 15:33).
Penutup
Jemaat Filipi menghadapi persoalan hubungan para pelayannya yang tidak sehati sepikir sehingga mengganggu pelayanan yang diberikan. Gangguan ini tidak terbatas di situ saja, tetapi juga dalam keyakinan dan keteguhan mereka di dalam Kristus. Firman Tuhan menasihatkan agar mereka berdiri teguh dan mengarahkan pikiran pada Tuhan Yesus yang kedatangan-Nya sudah dekat. Dunia ini bukanlah tujuan akhir melainkan mempertahankan keselamatan yang sudah dijamin dalam buku kehidupan. Untuk itu mereka harus sehati sepikir dan senantiasa bersukacita. Apapun yang membuat sukacita terganggu, lebih baik disingkirkan. Kekhawatiran yang lebih kepada faktor gengsi, harga diri, kehormatan dan lainnya, harus dibuang jauh-jauh untuk terciptanya damai sejahtera. Segala kekhawatiran yang non fisik maupun hal fisik lebih baik dibawa dalam doa, menyerahkan semuanya pada Allah yang mengendalikan hidup kita dan alam semesta ini. Pikiran kekhawatiran yang dibuang sebaliknya diisi dengan pikiran postif Kristiani yakni semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar. Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji itulah yang diisi dan dilakukan. Bertekadlah belajar melatihnya sehingga “Allah sumber damai sejahtera akan menyertai,” sehingga kita menjadi pemenang yang berhak akan janji Allah yang sudah disediakan bagi kita.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026
Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 2)
TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Kel. 32:1–14)
”Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (Kel. 32:14)
Seseorang kadang dapat kehilangan pengharapan, dan hal itu wajar. Pengharapan memiliki dua bentuk: yang direncanakan dan sengaja, serta yang muncul dari watak, yang mudah rapuh dan berubah. Karena itu, pengharapan memerlukan motivasi yang kuat. Menurut Moltmann dalam bukunya Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian Eschatology, pengharapan perlu diletakkan pada perspektif eskatologis, yaitu hal-hal yang bersifat surgawi.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Kel. 32:1–14. Ini kisah umat Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan. Mereka tidak sabar menanti Musa yang naik ke gunung bertemu dengan Allah dan tidak mengetahui kabar dari beliau. Karena itu, mereka mendesak Harun agar membuat allah dari anak lembu emas yang akan memimpin perjalanan selanjutnya. Harun terpengaruh, setuju, dan meminta umat mengumpulkan anting-anting emas untuk dijadikan tuangan anak lembu emas (ay. 1–4).
Umat Israel kemudian menyembah patung emas itu, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, makan, dan minum bersukaria. Allah mengetahui hal ini, lalu meminta Musa segera turun dan berpesan akan menghukum serta membinasakan mereka, menyatakan murka-Nya (ay. 6, 10).
Namun Musa mencoba melunakkan hati Tuhan, beralasan bahwa Tuhan telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, mengapa kini menimpakan malapetaka dengan membunuh mereka? Musa juga mengingatkan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, serta janji kepada dirinya sendiri. Lalu Tuhan menyesal atas malapetaka yang direncanakan bagi umat-Nya (ay. 11–14).
Dari nas ini, kita memperoleh beberapa pengajaran penting. Pertama, manusia memiliki daya tahan terbatas dalam menghadapi permasalahan dan pergumulannya. Namun solusi tetap harus dihadapi dan tidak lari. Ketika menurut akal pikiran tidak mampu, kembali kepada iman. Hidup kita tidak berjalan sendiri, sebab ada Allah yang Mahabaik menyertai. Kepada-Nya kita berserah dengan berlandaskan iman dan pengharapan. Jangan berpaling kepada allah lain, karena hal itu sia-sia.
Ahli psikologi menyatakan bahwa seseorang dapat mengatasi kesulitan jika mengubah pola pikir, misalnya dengan memecah persoalan menjadi bagian kecil atau belajar dari pengalaman orang lain. Kesabaran dunia ada batasnya dan bisa hilang. Kesabaran dalam pengharapan tidak terbatas, sebab seperti kata Moltmann, “segala sesuatu bukanlah akhir.” Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa (Ibr. 6:19).
Kedua, Allah tidak memandang sepele jika diduakan. Ini poin penting dalam Sepuluh Perintah Allah yang menghukum keras orang yang menyembah illah lain hingga keturunan ketiga dan keempat. Allah kita cemburu; tidak boleh ada Allah lain, termasuk mengagungkan pikiran, uang, kuasa, harga diri, keinginan daging, atau bentuk lainnya.
Ketiga, melalui hamba-Nya Musa, Allah bersikap kasih dan Mahaadil; ada ruang dialog dan penjelasan, intinya memohon pengampunan. Tuhan bisa marah dan berniat menghukum, tetapi ketika ada permohonan ampun dan penjelasan yang kuat, seperti menunjukkan pertobatan, siap menjadi manusia baru, dan melayani, Allah dapat mengubah keputusan-Nya (ay. 14). Kita juga mengingat Raja Hizkia yang meminta umurnya diperpanjang, dan Tuhan mengabulkannya (2Raj. 20:1–7).
Terakhir, ada janji Allah bagi mereka yang setia. Janji pemeliharaan dan berkat-Nya berlaku juga bagi anak cucu kita. Musa menyampaikan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, bahkan kepada dirinya sendiri. Janji inilah yang menjadi pertimbangan Allah untuk tidak menghukum, sepanjang ada pertobatan dan hidup sebagai manusia baru.
Nah, bagaimana dengan kita? Mari belajar dari keempat pengajaran tersebut. Tetaplah setia, sebab pengharapan surgawi tersedia bagi kita dan anak cucu kita. Inilah indahnya buah ketekunan dalam pergumulan, tahan uji, dan pengharapan yang tidak mengecewakan (Rm. 5:3–5). Haleluya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 11 Oktober 2026
Kabar dari Bukit
KEBUN ANGGUR YANG BERBUAH (Mzm. 80:8-15)
”Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Mzm. 80:8)
Selamat pagi dan salam kasih.
Kerinduan kita akan kejayaan bangsa Indonesia tampaknya masih jauh, bahkan kadang terlihat bayang-bayang kesuraman jika terjadi lagi kekacauan seperti tahun 1965 dan 1998. Demikian pula kita sebagai organisasi, keluarga atau pribadi yang pernah mengalami masa kejayaan dan kesejahteraan, namun tiba-tiba ada hal tak terduga meruntuhkan semuanya. Kita jatuh terpuruk. Meratapi situasi yang ada boleh saja, tapi kuncinya kita perlu pertolongan.
Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Mzm. 80:8-15. Ini mazmur doa bangsa Israel akan pemulihan. Mereka telah merasakan kebaikan Tuhan dengan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, menghalau bangsa-bangsa yang merintangi jalan mereka pulang ke tanah Kanaan (ay. 9-10). Pemazmur mengibaratkan bangsa Israel tadinya sebagai pohon anggur berbuah lebat, berakar dalam-dalam dan memenuhi negeri; gunung-gunung terlindung oleh naungannya; dijulurkan ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke Sungai Efrat (ay. 11-12). Kerinduan kejayaan seperti di masa Raja Daud dan Salomo.
Tetapi semua itu hancur menjadi mimpi buruk ketika Kekaisaran Asyur menaklukkan Israel, kekejamannya mencerai-beraikan penduduknya, dan menghancurkan bangsa itu sampai ke akar-akarnya. Tembok perlindungan dari Allah telah runtuh, dan setiap orang dapat mengolok-olok mereka. Mazmur ini mengibaratkan pohon anggur yang ditanam Tuhan, kini mudah dijarah oleh setiap orang yang lewat, babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya (ay. 13-14).
Kita sebagai bangsa, gereja, perkumpulan, keluarga atau pribadi tentunya ingin kejayaan, ingin diberkati. Atau, bila pun kita tidak pernah jaya bahkan tidak pernah sejahtera, maka belajarlah dari mazmur ini, kembali kepada Tuhan dan memohon pemulihan. Satu hal yang diingat, semua berkat dan kejayaan berasal dari Tuhan. Doa (syafaat) pemulihan perlu dinaikkan: “Ya Allah semesta alam, kembalilah, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Perhatikan pohon anggur ini” (ay. 15).
Dosa dan perbuatan yang tidak menyenangkan Tuhan pasti menggerogoti tembok perlindungan. Jangan sampai itu terjadi. Mengeluh dan menggerutu pun bukanlah jalan keluar. Mari kita sadari bahwa kita ada di dunia atas kehendak-Nya. Tuhan yang menanam untuk kita berbuah. Tidak ada rencana Tuhan yang buruk atas ciptaan-Nya. Jika kita berbuat kesalahan sehingga Tuhan menjauh, maka saatnya untuk berubah. Jika kita selama ini tidak berjalan dengan iman, maka saatnya untuk mengandalkan Tuhan. Jika dahulu kita jaya maka kita berdoa untuk pemulihan dan restorasi, tetapi jika kita tidak pernah bangkit berjaya maka saatnya untuk melakukan terobosan atau transformasi.
Hidup dan keberadaan bukanlah milik kita semata. Ingat petunjuk mazmur ini, Tuhanlah yang menanam kita sebagai pokok anggur. Oleh karena itu perlu sudut pandang diubah agar berbuah bagus. Pertama, mengubah pioritas hidup dari mengejar sukses materi menjadi penguatan benteng rohani. Kedua, mengubah pola berpikir dari menyalahkan pihak lain menjadi mengaku kekurangan diri dan bertobat. Ketiga, mengubah kebiasaan menuntut hak menjadi menghasilkan buah lebat yang berdampak. Keempat, mengubah melihat masalah dan putus asa menjadi pengharapan kepada Sang Pemilik Kebun pokok anggur. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan orang percaya (Mat. 19:26; Mrk. 9:23). Cukup katakan dan bertekad: aku mau dan aku mampu. Mulailah melangkah, dan Tuhan akan menuntun.
Selamat beribadah dan bersekutu.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026
Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 3)
KERAJAAN YANG HILANG (Mat. 22:1-14)
"Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (Mat. 22:14)
Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22:1-14, kembali berbicara tentang Kerajaan Sorga. Bila nas minggu lalu menceritakan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur, yang tidak mau membayar kewajiban berbaginya (Mat. 21:33-46), minggu ini Kerajaan Sorga seumpama raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Tradisi di Israel saat itu, para tamu yang diundang dipanggil untuk makan saat hidangan telah tersedia. Umumnya undangan hanyalah kerabat dekat setempat saja. Tanggal dan jam telah ditetapkan, tetapi biasanya tidak seformal saat ini yang tercetak pada kertas/media. Dan ternyata saat hidangan raja telah tersedia, banyak yang tidak mau datang: ada yang pergi ke ladang, ada yang pergi mengurus usahanya; semua sibuk tidak mengindahkannya. Mereka berpikir itu jamuan biasa. Maka sang raja pun murka, membinasakan mereka yang ternyata pembunuh dan juga membakar kota mereka (ayat 4-5).
Seperti minggu lalu nas ini jelas ditujukan kepada orang Yahudi. Pesta perjamuan adalah ungkapan sukacita dari Bapa di Sorga atas pendamaian dan penebusan yang telah dilakukan melalui Anak-Nya Yesus Kristus, yang datang ke dunia bagaikan mempelai pria bagi umat sebagai mempelai wanita (Mat. 25:1-10; Luk. 5:34). Ternyata orang Israel tidak menyambut-Nya, dan hal itulah menjadi sumber amarah Allah Bapa kepada mereka.
Injil Matius lebih sering menggunakan kata Kerajaan Sorga, sementara Injil Lukas menuliskan Kerajaan Allah. Keduanya sama. Menurut Prof. G.E. Ladd dari Pasadena University dalam bukunya Injil Kerajaan, “Kerajaan Allah pada dasarnya adalah pemerintahan Allah; kekuasaan Allah, kedaulatan Ilahi yang sedang bekerja.” Ia merupakan kenyataan rohani yang dapat kita nikmati sekarang ini, bukan hanya nanti! Firman-Nya: “Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman tetapi damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17). “Ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab, sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20).
Tetapi Alkitab juga menjelaskan bahwa Kerajaan Allah akan digenapi di masa mendatang, puncak ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya (K4). Ini menjadi sebuah warisan bagi kita orang percaya, tulis Prof. Ladd dalam buku tersebut. “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat. 25:34).
Mereka yang sudah masuk ke dalam Kerajaan Allah dan terus hidup dalam pengharapan kegenapan janji Tuhan, hidupnya ditandai dengan kepenuhan sukacita dan damai sejahtera. Mereka juga telah lepas dari kuasa kegelapan (Kol. 1:13). Oleh karena itu, bila saat ini hidup kita belum penuh dengan sukacita dan damai sejahtera, masih tinggal dalam kegelapan dengan menyukai perbuatan dosa, kita perlu merenungkan nas minggu ini. Kehidupan yang menyukai amarah, penuh takut dan kekhawatiran, kehilangan sukacita, suka mendendam, bersikap kasar, tidak berbuah, dan tidak terus dibarui, itu merupakan tanda-tanda Kerajaan Allah belum berkuasa pada dirinya. Kita mengaku orang percaya, tetapi sebenarnya hidup di luar Kerajaan itu.
Hidup kita hanya bisa dibarui oleh Roh Kudus, dan sangat efektip jika kita menyukai membaca firman Tuhan dan renungan (2Tim. 3:15-16). Renungan pagi atau doa/mazmur malam ibarat hidangan yang disediakan, undangan menikmati perjamuan dengan Tuhan. Jika kita mengabaikan renungan tersebut, atau tidak membaca firman Tuhan sendiri, bagaimana hidup kita dapat diubahkan? Janganlah hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri dan sombong. “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (ayat 24), dapat menjadi kenyataan.
Mereka yang tidak rindu atau mengabaikan firman Tuhan setiap hari dalam hidupnya, maka sebetulnya Kerajaan Allah belum ada dalam dirinya. Bila kita belum merasakan Kerajaan Allah saat ini, maka tidak mungkin kita dapat menikmati Kerajaan Allah kelak bersama Tuhan Yesus. Janganlah sampai ayat ini terjadi pada diri kita, “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi" (ayat 23). Waduh, ngeri bah!
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XIX Setelah Pentakosta – 4 Oktober 2026
MENGENAL DIA DAN MENJADI SERUPA DENGAN DIA (Flp. 3:4b-14)
Bacaan lainnya: Kel. 20:1-4, 7-9, 12-20 atau Yes. 5:1-7; Mzm. 19 atau Mzm. 80:7-15; Mat. 21:33-46
Pendahuluan
Apakah kita sudah utuh mengenal Kristus? Apakah kita sudah puas dengan pengenalan tentang Pribadi-Nya dan kuasa-Nya? Salah satu bahaya orang percaya adalah merasa telah mengenal dengan baik dan berhenti untuk mencari kebenaran yang lebih dalam akan Pribadi-Nya. Adalah benar bahwa kita telah dibenarkan karena iman dan itu hanya merupakan awal dari kebenaran penuh mengenai hubungan kita dengan-Nya. Apabila kita telah merasa puas mengenal-Nya, maka itu menjadi sebuah kemandekan dan menjadi sebuah bahaya, sebab gangguan yang lebih besar dapat terjadi dan pengetahuan kita menjadi terbatas khususnya dalam pengalaman bersama Dia. Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran tentang bagaimana mengenal Dia dan menjadi serupa dengan Dia.
Pertama: Percaya bukan pada hal-hal lahiriah (ayat 4b-6)
Sekilas, Rasul Paulus seolah-olah ingin menyombongkan diri dengan semua latar belakang dan prestasinya. Ia menjelaskan khususnya kepada umat non-Yahudi bahwa dirinya adalah orang yang istimewa dan sempurna secara lahiriah sebagai orang Yahudi tulen. Ia dari bangsa Israel (2Kor. 11:22), orang Ibrani asli yang artinya tidak tercampur dengan suku lain, disunat pada hari kedelapan (Luk. 1:59), dan orang Farisi yang berpendirian orthodok terhadap hukum Taurat. Ia dari keturunan suku Benyamin (Rm. 11:1), garis silsilah yang dianggap istimewa bagi orang Yahudi, sebab dari suku ini lahirnya Raja Israel pertama yakni Saul (1Sam. 10:20-24). Suku Benyamin dan Yehuda adalah suku yang kembali dari pembuangan dan merasa tetap murni (Ezr. 4:1). Rasul Paulus termasuk golongan kaum Farisi (Kis. 23:6), suku Yahudi yang dianggap paling religius dan saleh serta paling teliti dalam aturan-aturan hukum Musa yang begitu banyaknya. Mereka sangat ketat dalam pengamalan hukum taurat, adat-istiadat, ritual legalistik dan mengutamakan moralitas. Ia juga memiliki beberapa keistimewaan lainnya, seperti pendidikan yang bagus dan kewarganegaraan (untuk keunggulan lainnya lihat di 2Kor. 11; Gal. 1:13-24).
Begitu pula sebagai pemimpin Yahudi yang ortodok, Paulus sangat bersemangat menganiaya jemaat Kristen (Kis. 8:3). Ia bahkan mengejar umat Kristen hingga keluar Yerusalem untuk dapat dibunuh. Sepikiran dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang telah mapan, mereka melihat Kekristenan sebagai kegiatan sesat. Mereka melihat Yesus tidak seperti gambaran Mesias yang diharapkan, sehingga ucapan-Nya menyamakan diri-Nya dengan Allah dinilai sebagai tindakan menghina Allah. Ini dianggap sebagai kejahatan. Kesaksian Yesus bagi mereka dianggap palsu. Kemampuan-Nya membuat mukjizat dianggap bersumber dari kuasa jahat dan bukan karena Ia adalah Allah yang menjadi manusia. Di lain pihak, mereka juga melihat Kekristenan sebagai ancaman politik, yang dapat mengganggu hubungan yang baik antara pemimpin Yahudi dengan pemerintah Romawi. Banyak hal yang selama ini telah mereka nikmati dengan saling memanfaatkan dan menguntungkan bagi kedua belah pihak, itu dapat terganggu dan merugikan pemimpin Yahudi. Namun kemudian, Rasul Paulus menyadari kalau semua yang dia lakukan sebelumnya adalah salah, pengabdian kepada Allah berdasar Taurat yang ditafsirkan secara salah.
Tetapi kalau dilihat lebih dalam isi suratnya, ia sebenarnya ingin menekankan bahwa pencapaian manusia - betapa pun hebatnya, tidak memiliki arti dalam memperoleh keselamatan dari Allah dan kehidupan kekal. Ia menekankan perubahan statusnya menjadi orang percaya pada Kristus bukanlah atas apa yang dia capai (Kis. 9), melainkan anugerah Allah semata. Ia tidak menonjolkan keistimewaan yang dimilikinya sebagai hal khusus yang menyenangkan hati Tuhan, sebab dalam pandangannya itu ternyata sia-sia. Hal yang paling hebatpun dari seluruh keistimewaan dan prestasinya, sangat jauh dari standar kekudusan Allah. Rasul Paulus juga mengingatkan kesombongan Yahudi sebagai keturunan Abraham dan membuat mereka puas diri. Ia tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah tersebut, sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus, “…Allah dapat menjadikan anak-anak Abraham dari batu-batu ini” (Mat. 3:9). Pertanyaan bagi kita: apakah kekristenan kita tergantung kepada kedudukan ayah/kakek kita, denominasi dan jabatan gerejawi, dan merasa sudah menjadi orang baik dan benar di hadapan Allah? Apakah kita menjadi manusia palsu dengan bermegah dalam persekutuan dan ibadah dengan menonjokan hal-hal lahiriah, seperti kekayaan, jabatan, atau hal lainnya? Semua tidak berguna. Kelebihan dan keistimewaan melalui pencapaian, reputasi, tidak dapat menghasilkan keselamatan, sebab keselamatan hanya datang dari iman kepada Yesus Kristus.
Kedua: Masa lalu milik masa lalu (ayat 7-9)
Sama seperti kecenderungan banyak orang, Rasul Paulus mengungkapkan hal yang sudah dia capai dalam hidupnya. Sejumlah kehebatan dan keistimewaan yang dicapainya dapat dianggap sebuah nilai dan memiliki harga. Itulah sebabnya Rasul Paulus berbicara tentang keuntungan dalam nas ini. Ia merasakan pencapaian, martabat dan kesuksesannya memiliki nilai dan harga. Namun ketika ia merasakan dirinya telah diselamatkan oleh Yesus, maka ia menganggap semua kelebihan dan pencapaiannya itu sebagai "sampah", dibanding dengan nilai yang dia dapatkan ketika menerima Kristus. Dia menganggap semua yang lalu itu tidak hanya sebagai kerugian, melainkan juga “keuntungan” yang dirampas dari yang seharusnya ia dapat peroleh sejak dahulu (band. Mat. 13:44-46). Namun ia tidak menyesalinya, karena baginya masa lalu adalah masa lalu, the past belongs to the past. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam menilai prestasi masa lalu yang dianggap penting yang dapat mempengaruhi hubungan kita dengan Kristus. Menunda mengenal Kristus jelas salah, apalagi demi memprioritaskan yang lain sia-sia. Tidak satupun dari perbuatan baik, ketaatan pada hukum-hukum legalistik, pengembangan diri, disiplin, atau upaya badani lainnya yang dapat membuat kita benar di hadapan Allah. Kita tetap manusia berdosa yang tidak layak masuk dalam kerajaan-Nya yang kudus. Pembenaran hanya datang dari Allah dan kelayakan untuk masuk ke hadirat-Nya hanya melalui percaya kepada Kristus, sebab Kristus Yesus telah menggantikan dosa-dosa dan kelemahan kita dengan kebenaran yang utuh (2Kor. 5:21).
Melalui nas ini juga diperbandingkan kebenaran manusia melalui ketaatan pada hukum Taurat dan perbuatan baik, dengan kebenaran melalui iman karena kepercayaan kepada Kristus yang merupakan anugerah Allah (Ef. 2:8). Hal yang diyakini Paulus adalah semua itu bukan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan (Gal. 2:16; Rm. 3:21). Dengan kata lain, Rasul Paulus mengatakan kepercayaan itu sebenarnya adalah karunia iman yang diberikan Allah (1Kor. 12:9), bukan karena latar belakang atau prestasi. Tak seorang pun benar karena usahanya sendiri. Untuk bisa memahami hal itu, kita perlu melakukan perubahan radikal dalam cara berpikir dan pola hidup keseharian. Seperti Rasul Paulus yang meninggalkan semua masa lalunya, yakni keluarga, teman-teman, dan kebebasannya untuk dapat berada dalam Dia. Dengan cara itu ia berusaha mengalahkan pandangan umat Yahudi yakni dasar yang salah tentang kebanggaan mereka sebelumnya tentang keturunan Abraham dan hal yang mereka telah capai. Hal yang penting supaya memperoleh Kristus ialah bersedia dan terbuka menerima panggilan-Nya. Dengan menerima panggilan-Nya, mengenal-Nya, kemudian berada di dalam Dia melalui persekutuan yang menghasilkan kebenaran sejati sebagai karunia Allah (Flp. 1:10-11; 1Kor. 1:30). Semua hal yang dapat mengganggu proses pengenalan itu harus dibuang.
Kita bisa mendapatkan jalan untuk pengetahuan ini dan kuasa-Nya, namun kita harus rela berkorban untuk dapat menikmatinya dengan penuh. Apa yang bisa kita berikan dari hidup kita saat ini untuk dapat menerima dan lebih mengenal Kristus? Tapi apapun itu, mengenal Kristus lebih berharga dari semua pengorbanan itu (Yoh 17:3; Ef 4:13). Menyisihkan waktu dari semua kesibukan beberapa menit untuk dapat berdoa dan belajar firman? Atau beberapa dari semua rencana dan kesenangan pribadi? Pertanyaannya: Apakah kita siap mengubah drastis nilai-nilai yang kita miliki saat ini untuk bisa mengenal-Nya dengan lebih baik? Apakah kita bersedia menetapkan atau mengatur kembali jadwal tertentu di tengah-tengah kesibukan yang ada agar dapat menyisihkan beberapa menit setiap hari untuk bersekutu dengan-Nya dan belajar firman? Apakah kita mengubah rencana, sasaran, dan keinginan agar sesuai dengan hidup Kristus yang kita pelajari? Atau, perlu persetujuan teman atau keluarga? Apapun yang kita rubah dan serahkan, memiliki Kristus dan berada menjadi satu dengan Dia merupakan hal yang lebih berharga dibanding persembahan yang kita berikan.
Ketiga: Mengenal Dia dan menjadi serupa dengan Dia (ayat 10-11)
Apakah kita mengenal Kristus dengan baik dan mengenal kuasa-Nya? Mengenal Kristus secara pribadi dan juga mengetahui Pribadi-Nya seperti yang dinyatakan dalam Alkitab, seyogianya menjadi tujuan akhir hidup kita. Berikut beberapa pedoman untuk kita bisa mengenal-Nya dengan baik:
- Dengarkan Firman-Nya melalui khotbah di gereja, radio, TV lainnya;
- Pelajarilah kehidupan Kristus dalam Injil. Lihat bagaimana Yesus menjalani kehidupan dan memberi respon terhadap yang lain (Mat. 11:29);
- Pelajarilah seluruh referensi bacaan yang berhubungan dengan pelayanan Kristus di dalam perjanjian baru (Kol. 1:15-2:15);
- Berusahalah membaca Alkitab dari kitab Kejadian hingga Wahyu. Alkitab bahasa Indonesia sehari-hari lebih baik mencernanya;
- Bertekunlah dalam doa dan menyembah-Nya, biarkan dan ikuti Roh Kudus mengulang kembali perkataan-perkataan Kristus (Yoh. 14:26);
- Beri respon atas segala pemberian-Nya dengan iman dan ketaatan penuh;
- Ambillah bagian dalam misi Kristus seperti pelayanan kasih atau memberitakan Injil, dan teladanilah pengorbanan dan penderitaan-Nya (Mat. 28:19; Flp. 3:10).
Rasul Paulus mengatakan bahwa tujuannya adalah mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Dengan mengenal kedua hal ini, ia berkeinginan menjadi serupa dengan Dia. Ada orang yang mengenal Yesus dalam pengertian hafal dan tahu riwayat hidup Yesus dan bahkan mengetahui segala mukjizat-Nya. Namun kalau sebatas menghafal seperti itu, pengenalan Pribadi dan khususnya kuasa kebangkitan-Nya belum terlaksana. Segala pengetahuan dan teori hanya menjadi efektif ketika kita mengalaminya secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita sudah mengalami mukjizat Yesus? Apakah kita sudah melihat hidup kita saat ini adalah sebuah mukjizat? Mengalami kuasa kebangkitan-Nya berarti memahami diri sendiri yang sudah lepas dari kuasa dosa, terus dalam proses pembaharuan budi, dan bersaksi atas karya Allah dalam hidup kita (Rm. 6:4; Ef. 2:5-6). Kuasa yang perkasa ini akan menolong kita untuk membaharui kehidupan rohani dan hidup yang baru, dan menjadi serupa dengan Yesus serta pikiran Kristus ada di dalam diri kita. Menjadi serupa berarti tetap taat, menyangkal diri dan menyalibkan manusia lama, menyebarkan kasih, mengambil bagian dalam penderitaan Kristus yakni kerelaan berkorban (Kis. 9:16; Rm. 6:5-6; 2Kor. 4:10; Kol. 1:24; 1Pet. 4:13).
Ketika kita bersatu dengan Kristus dan percaya kepada-Nya, hal yang lebih utama adalah kita mengalami kuasa kebangkitan-Nya dari kematian. Sebagaimana Yesus telah bangkit dari kematian, maka kita pun kelak dibangkitkan dari kematian sebab kuasa itu tetap ada pada Yesus. Sama seperti Kristus ditinggikan setelah kebangkitkan-Nya, kita juga menerima kemuliaan Kristus di suatu hari kelak (Why. 20:5 ,6; 22:1-7). Untuk kita dapat masuk ke dalam kehidupan kekekalan, kita harus terlebih dahulu mati dalam perbuatan dosa. Kita tidak dapat mengetahui kemenangan kebangkitan tanpa menerapkan penyaliban dosa-dosa pribadi. Sama seperti kebangkitan memberi kita kuasa Kristus untuk hidup di dalam Dia, penyaliban-Nya juga merupakan tanda kematian dari sifat-sifat keberdosaan kita. Ketika Rasul Paulus menuliskan, "supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati", sama sekali tidak memperlihatkan ketidakpastian atau keraguan. Sebagai orang yang di penjara, Rasul Paulus tahu bahwa ia akan mati segera, namun tidak merasa pasti bagaimana dan kapan saatnya ia akan bertemu dengan Tuhan: apakah dengan jalan hukuman mati atau kematian yang alami. Tetapi ia memiliki iman yang akan dibangkitkan dari antara orang mati dan kembali hidup (Ef. 1:18-20). Dia tidak ragu tentang dibangkitkan, tetapi pencapaiannya merupakan kuasa Allah dan bukan oleh dirinya.
Keempat: Mengejar kesempurnaan keselamatan (ayat 12-14)
Paulus memiliki alasan untuk melupakan yang di belakangnya saat ia masih bernama Saulus - ia yang memegang jubah Stefanus martir pertama Kristen (Kis. 7:57, 58). Dirinya menerima anugerah ketika "ditangkap" oleh Kristus dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9). Ia ditangkap bukan karena kehebatannya, tapi dipilih seperti hewan yang ditangkap pemburu. Mungkin kita melakukan sesuatu di masa lalu yang membuat kita malu, dan saat ini hidup di dalam tarikan sebelumnya, dan tidak berkuasa hendak kemana kita pergi untuk berubah. Oleh karena pengharapan kita adalah Kristus, bagaimanapun, kita boleh melupakan semua kesalahan yang lalu dan melihat ke depan yang menjadi kehendak Allah. Jangan terjebak dalam masa lalu. Tetapi, tetaplah bertumbuh dalam pengenalan Kristus dan berkonsentrasi pada hubungan pribadi dengan-Nya. Yakin dan sadarlah bahwa kita sudah diampuni dan mulailah hidup dengan iman dan ketaatan. Lihat ke depan pada kehidupan yang penuh, sebab pengharapan kita ada dalam Kristus. Sebagaimana Rasul Paulus ingin berlari dalam perlombaan dengan memusatkan pikiran dan mengerahkan segala daya untuk dapat mengejar kesempurnaan dalam pengenalan itu (band. 1Kor. 9:24; Ibr. 12:1) maka demikianlah juga kita diminta fokus sungguh-sungguh mencapai sasaran.
Dalam persekutuan dengan Tuhan, ada tiga tahapan kesempurnaan yang terjadi:
1. Kesempurnaan dalam hubungan: kita menjadi sempurna sebab kesatuan kekal kita dengan Kristus yang kekal sempurna. Ketika kita menjadi anak-anak-Nya, kita dinyatakan “Tidak Bersalah” dan dibenarkan, sebab Kristus Anak Allah telah menebus kita dengan lunas. Kesempurnaan yang dimiliki adalah mutlak dan tidak terubahkan, dan dengan hubungan yang sempurna memberikan jaminan bahwa suatu saat kelak kita akan sempurna penuh (band. Kol. 2:8-10; Ibr. 10:8-14)
2. Kesempurnaan dalam pertumbuhan: Kita bertumbuh dan dewasa secara rohani jika kita sepenuhnya percaya kepada-Nya, terus berupaya mengenal Dia, menjadi dekat dengan-Nya, dan taat kepada-Nya. Ini berbeda dengan kesempurnaan dalam hubungan yang bersifat permanen. Pertumbuhan kita sesuatu yang dinamis dan berubah sesuai dengan perjalanan hidup, dan setiap hari kita semakin dewasa karena pertumbuhan itu. Kita semakin cepat dewasa apabila kita masuk ke dalam penderitaan-Nya. Perbuatan baik tidak membuat kita lebih sempurna, melainkan Allah-lah yang menyempurnakan sebab kita menderita oleh karena Dia.
3. Kesempurnaan penuh. Ketika Kristus datang kembali (K4) membawa kita ke dalam kerajaan-Nya yang penuh, kita dimuliakan dan dijadikan sempurna seutuhnya (band. 1Kor. 13:10; Flp. 3:20, 21).
Setiap tahapan kesempurnaan ini diikat dengan dasar iman kepada Kristus dan semua yang telah Ia lakukan bagi kita, bukan karena hal yang kita lakukan. Kita tidak dapat menyempurnakan diri sendiri, sebab hanya Tuhan yang dapat melakukan-Nya di dalam diri kita sampai kelak Ia datang kembali.
Dalam kehidupan selalu banyak tantangan yang dapat menghalangi hubungan dan arah kita berjalan dengan Kristus (band. Mrk. 4:19; Luk. 8:14; 9:62; 17:32). Namun sebesar apapun itu, yang terbaik adalah mengarahkan hidup kita ke depan yakni panggilan sorgawi dan ini yang menyerap semua tenaga Paulus. Ini merupakan contoh bagi kita. Kita tidak boleh membiarkan mata kita jauh dari tujuan itu yakni kemuliaan sorga. Dengan tetap fokus sebagaimana seorang atlit dalam latihan, kita juga harus mengenyampingkan setiap hal yang dapat merusak atau mengganggu kita untuk menjadi serupa dengan Dia (1Tim. 6:12). Bersikaplah seperti Paulus, yang menyatakan dirinya belum sempurna dan pengenalan tuntas akan Kristus. Ia sadar telah ditangkap. Tapi ia terus mengejar kesempurnaan. Telitilah hal yang membuat kita tidak maju. Kita pun seharusnya menilai hubungan kita dengan Kristus lebih penting dibanding dengan yang lain, dan kedekatan dengan Kristus dijadikan tujuan tertinggi hidup kita. Mari jadikan kerinduan kita terbesar mengenal Kristus dan mengalami persekutuan pribadi yang akrab dengan Dia. Itulah wujud anak-anak Tuhan sejati yang rindu mahkota sorgawi (2Tim. 4:8; Why. 2:10).
Penutup
Setiap orang memiliki latar belakang dan perjalanan hidup yang berbeda. Banyak orang berasal dari keturunan atau keluarga yang dianggap hebat dan memiliki tempat khusus di dalam pergaulan masyarakat. Demikian pula banyak orang yang merasa telah banyak melakukan perbuatan baik sehingga menganggap dirinya layak mendapatkan upah di kekekalan nantinya. Namun melalui nas minggu ini firman Allah mengajarkan agar kita tidak percaya pada hal-hal lahiriah dan keturunan yang menjadikan kita istimewa di hadapan Allah. Demikian juga dengan segala perbuatan dan prestasi tanpa dasar iman kepada Kristus, itu semua adalah sia-sia. Rasul Paulus menekankan bahwa semua masa lalunya yang dianggap penuh dengan keistimewaan dan prestasi itu dianggapnya sebagai sampah. Ia melupakan masa lalunya yang dianggap kelam dan juga tidak berharga. Tujuan hidupnya berubah menjadi lebih mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, sebab dengan pengenalan yang lebih itu akan membawanya menjadi serupa dengan Dia. Itu tidak berlebihan sebab pengenalan Kristus tidak dapat berhenti dan terus berlangsung. Itulah yang kita kejar dalam hidup yakni: kesempurnaan dalam keselamatan melalui kesempurnaan dalam hubungan, kesempurnaan dalam pertumbuhan dan kesempurnaan penuh saat kita bertemu muka dengan muka dengan-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 DI...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 2) TAHAN...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 3) KERAJAAN...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 32 guests and no members online
