2026
2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026
HIKMAT YANG BENAR (1Kor. 2:1-12, 13-16)
Bacaan lainnya: Mat 5:13-20; Yes 58:1-9a, 9b-12; Mzm 112:1-9,10
Pendahuluan
Nas minggu ini kembali menekankan hikmat Allah yang sangat berharga dibanding dengan hikmat manusia. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang hal yang berharga, seperti jangan berikan mutiara kepada babi (Mat. 7:6). Seekor babi jantan tidak akan semakin tertarik kepada babi betina apabila ia berkalungkan mutiara. Babi jantan tidak akan pernah bisa menghargai mutiara itu yang bagi manusia sangat berharga. Perumpamaan ini yang terjadi pada jemaat Korintus yang tidak menghargai hikmat Allah. Namun Paulus mengasihi mereka agar iman mereka semakin bertumbuh dan berhasil sebagai orang-orang yang dipanggil dan dikuduskan. Melalui nas minggu ini, kita diberi pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Iman yang tergantung pada kekuatan Allah (ayat 1-5)
Allah mengaruniakan akal pikiran dan intelektualitas di dalam diri manusia untuk dipakai memahami dunia ini beserta isinya, serta dipergunakan untuk mengelola sebagaimana mandat budaya yang telah diberikan oleh Allah kepada kita (Kej. 1:28). Akan tetapi kita juga harus menyadari bahwa kemampuan kita dalam memahami dan mengelola ciptaan Allah itu tetap terbatas, seperti misalnya pertanyaan sederhana: mengapa beberapa jenis binatang yang sama-sama hanya makan rumput, tetapi menghasilkan bentuk kotoran yang berbeda? Kekeliruan dalam penggunaan akal pikiran dan keterbatasan manusia dalam memahami makna "dunia" membuat akal pikiran bisa menjadi melenceng dari kehendak Allah, seturut dengan tipu daya dan godaan iblis yang memang berkuasa atas dunia ini.
Akal pikiran dan intelektualitas manusia juga sangat terbatas dalam memahami Pribadi Allah dengan segala hikmat dan keberadaan-Nya. Keberadaan Allah dalam penciptaan manusia beserta semua warna dan nuansa mozaik kehidupannya, tidaklah mudah dipahami dengan akal pikiran saja. Teori-teori psikologi dan psikologi analisis hanya dapat membantu untuk mencoba memahaminya, dan itupun banyak dengan generalisasi dan pengecualian. Kesaksian Allah atau penyataan Allah inilah yang menjadi titik utama yang Rasul Paulus tekankan, tentang pemahaman jemaat Korintus yang salah, yakni dengan akal pikiran mereka saja. Rasul Paulus tidak ingin berdebat dan diskusi intelektual dengan para jemaat yang dikasihinya itu. Ia sadar bila menggunakan filsafat dan perdebatan, akan gagal (Band. Kis. 17:32-34). Ia juga tidak mau menonjolkan keintelektualannya atau kepintarannya dalam menulis atau berpidato, tetapi ia lebih menekankan pesan Injil dari Kristus yang disampaikan dan mengatakan: biarlah Roh Kudus yang bekerja dengan pesan firman itu.
Hal ini merupakan teladan yang kita ambil dalam melakukan penginjilan atau memberi kesaksian, yakni sampaikan saja firman dari Kristus secara sederhana, dan biarlah Roh Kudus yang bekerja di dalam hati setiap pendengar. Rasul Paulus lebih menekankan pengalamannya dan pengenalannya bahwa Roh Kudus yang menolong dan membantunya dalam penyampaian firman itu. Ia juga tidak mau memperpanjang perbedaan di antara mereka, tapi fokus pada pesan Kristus. Kesaksian Allah adalah pewartaan Kristus. Ia sangat sadar akan keterbatasan dan kelemahan manusia dan juga pribadinya, serta adanya rasa takut dan hormat pada Kristus (Ef. 6:5; Flp. 2:12). Ia tidak bersandar pada dirinya, melainkan pada pimpinan Roh, sebagaimana firman Tuhan berkata, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Penting juga dilihat, Paulus bukan berarti menihilkan pentingnya belajar atau studi pendalaman sebagaimana ia juga pernah belajar tentang Injil setelah pertobatannya. Karunia pikiran manusia ada baiknya sepanjang dipakai dengan benar. Semua persiapan dan keindahan pesan penyampaian firman adalah baik dan efektif. Akan tetapi Roh Kudus yang akan memberi pimpinan dan kuasa pada firman itu sehingga bekerja dan bisa mengubah diri seseorang dan akhirnya nama Tuhan dimuliakan.
Kedua: Hikmat yang benar (ayat 6-9)
Mereka yang merendahkan hatinya dan merasa tidak mampu menghadapi kehidupan ini hanya dengan kekuatan akal pikiran, mereka inilah yang dewasa rohani. Mereka inilah yang dikatakan Rasul Paulus orang-orang yang berpikir matang. Mereka tidak mengambil hikmat dunia sebagai pijakan utama, yang cenderung mendewakan materi, kenikmatan badani dan kekuasaan. Mereka juga tidak seperti penguasa-penguasa dunia, pemerintah yang sudah dikuasai iblis yang melihat kepentingan jangka pendek, merasa bahwa semua hal dan persoalan diselesaikan demi kepentingan dan kelanggengan pribadi, yang oleh Rasul Paulus dikatakan akan binasa dan berakhir. Cara berpikir itulah yang juga membuat Yesus tidak dapat dimengerti oleh mereka yang dianggap orang-orang berhikmat di dunia, seperti ahli Taurat, para Imam, Pilatus, Raja Herod dan lainnya, sehingga mereka menghukum Yesus mati dengan cara disalibkan. Bagi mereka, dengan Yesus mati, maka semua persoalan mereka selesai.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rahasia hikmat yang tersembunyi itu seperti misteri, yang sudah sejak lama menjadi ketakutan bagi manusia yang belum matang tadi. Misteri itu adalah bahwa manusia tidak dapat mengalahkan kematian. Manusia seolah-olah takut dan menyerah pada kematian, dan tidak tahu hal di balik kematian, yang bagi mereka bagaikan tembok maut gelap yang menakutkan. Akan tetapi, melalui hikmat Allah, rahasia kematian itu dibuka dan dibuktikan bahwa kematian dapat dikalahkan melalui iman percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari kematian-Nya dan kemudian naik ke sorga. Yesus terbukti bangkit mengalahkan kematian dan Ia dapat melakukan itu sebab Ia tidak berdosa, maka kita juga harus tidak berdosa agar memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengalahkan kematian. Oleh karena sementara ini kita berdosa, maka dosa kita harus ditebus, dibayar lunas, dan Yesus bersedia menerima penebusan itu dengan mati di kayu salib. Itulah rahasia yang sudah diungkapkan kepada orang percaya (band. Rm. 16:25-27; 1Pet. 1:10-12).
Kita tidak bisa membayangkan bahwa Yesus yang bangkit itu telah menyediakan sebuah tempat sorga bagi kita, di dunia ini dan di akhirat nanti. Ia akan menciptakan bumi yang baru dan langit baru dan kita akan hidup bersama-Nya selamanya (Yes. 65:17; Why. 21:1). Inilah yang dikatakan ayat 9 sebagai "hal yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Selama dalam proses itu Roh Kudus akan terus menyertai dan menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini. Pengharapan yang indah itu memberi kita keberanian dalam menjalani hidup, meski tidak harus diartikan kita dengan sengaja masuk ke dalam pencobaan. Dunia ini bukanlah yang sebenarnya kita harapkan. Yang terbaik akan tiba saatnya bagi kita. Rahasia ini tetap tersembunyi bagi mereka yang menutup hatinya atau bagi mereka yang belum pernah mendengar kabar baik itu.
Ketiga: Mengenal Roh Allah dan roh manusia (ayat 10-12)
Hikmat Allah beserta sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dan diukur oleh manusia. Demikian juga rencana Allah dalam setiap orang percaya kadang tidak terjangkau akal pikiran kita, meski kita tahu itu adalah rencana yang indah dari-Nya. Semua rencana itu sebenarnya dikerjakan oleh Roh Allah yang bekerja sama dengan roh orang percaya, sehingga tercipta suatu sinergi dalam melaksanakan tujuan Allah, dan nama Allah lebih ditinggikan. Terjadinya sinergi itu hanyalah mungkin apabila manusia memahami hikmat Allah yang disebutkan di atas, proses pencerahan oleh Roh yang diberikan terus menerus yang berpusat pada penebusan dan keselamatan bagi setiap orang. Kesatuan Roh Allah dan roh manusia itu sekaligus dapat mengalahkan roh iblis yang berusaha membelokkan rencana Allah dengan memanfaatkan kelemahan manusia.
Kematian Yesus, kebangkitan dan kenaikan ke sorga diberikan sebagai jalan keselamatan bagi yang percaya pada penebusan-Nya. Mereka yang percaya akan menerimanya. Mereka yang tidak percaya akan terus berjuang dengan akal pikiran dan perbuatan baiknya, dengan hikmat manusia, akan tetapi keselamatan kekal itu sulit diperolehnya. Kadang-kadang kita mungkin berpikir biarlah mereka terus berjuang dengan cara itu, dan kita yang sudah diselamatkan melalui percaya kepada Yesus menikmati secara penuh sukacita yang diberikan. Akan tetapi harus tetap ingat bahwa kita diselamatkan karena kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya. Kita dipanggil untuk bersaksi dan memberitakan kabar baik melalui Injil, yang semua itu berasal dari Allah bagi penyelamatan dan perdamaian dengan manusia.
Semua orang pada dasarnya harus bijak dan berhikmat. Akan tetapi berhikmat menurut akal pikiran manusia itu tidak akan sebaik dengan berhikmat dengan pimpinan Roh Kudus. Iblis dengan kuasanya yang jahat sangat mudah untuk menggoda dan menipu, sehingga kita mengikut hikmat manusia dan bukan memakai hikmat Allah. Kearifan rohani melalui pimpinan Roh Kudus akan membimbing kita dalam mengambil kesimpulan dan jalan yang benar pada pilihan atau situasi yang sulit. Hikmat itu didapatkan dengan memakai firman dan menyerahkan pada pencerahan Roh Kudus, sehingga kita bisa tahu jalan yang terbaik dan kekal. Semakin besar keinginan kita untuk mengetahui hikmat Allah, maka Roh Kudus semakin membukakan rahasia hikmat itu (Yoh. 16:13; Ef. 1:17). Setiap orang percaya teruslah meminta hikmat ini agar dalam setiap langkah yang akan diambil, hikmat-Nya yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat: Memiliki pikiran Kristus (ayat 13-16)
Pertanyaan yang paling utama, sejauh mana manusia mengenal Allahnya? Sejauh mana kita bisa memahami pikiran Allah? Kesaksian tentang Allah dan penyataan-Nya tetap memiliki keterbatasan. Injil Yohanes mengatakan kalau pikiran Allah yang dikerjakan oleh Yesus semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis (Yoh. 21:25). Alkitab mengatakan, tidak seorang pun (orang Yahudi dan yang tidak percaya) mengenal Allah dengan benar (Rm. 11:34). Namun mereka yang percaya dan menerima Yesus akan mengenal Allah dengan benar dan menangkap bagaimana Roh Allah sebenarnya diam dan bekerja di dalam hati seseorang. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal Yesus tidak akan mengenal Allah yang utuh dan benar, Allah yang penuh kasih dan bersedia berkorban bagi anak-anak-Nya. Oleh karena itu, sering kita orang percaya tidak dimengerti oleh orang lain dengan kita membuat Yesus sebagai Tuhan. Itu merupakan hal yang bodoh bagi mereka. Tapi pikiran hikmat dunia itu sama seperti seorang yang tuli nada: tidak akan mengerti dan menghayati musik. Seseorang yang menolak Yesus tidak akan memahami keindahan pesan-pesan-Nya. Dengan komunikasi yang sudah terputus, seseorang tidak mungkin mampu mendengar apa kata Tuhan kepada mereka.
Dengan pimpinan Roh Kudus, melalui firman yang sudah dinyatakan dalam Alkitab, orang percaya dapat melihat pikiran, rencana dan tindakan Allah, yang semuanya ini adalah pikiran Kristus. Melalui Roh Kudus, kita dapat mulai mengenal pikiran Allah, berbicara dengan Allah, dan berharap mendapatkan jawaban atas doa yang kita panjatkan. Memang untuk itu kita perlu menghabiskan cukup waktu untuk mengenal pikiran Kristus yakni di dalam Injil, sebagaimana Rasul Paulus alami dalam hidupnya. Hubungan yang intim dengan Kristus hanya terjalin bila kita cukup menghabiskan waktu dengan-Nya dan dengan firman-Nya. Mereka yang bersedia memberi waktunya inilah disebut sebagai manusia rohani. Manusia rohani tidak mengejar kepuasan duniawi dan tidak membuat ukuran dan nilai keberhasilan berdasarkan ukuran-ukuran duniawi. Akan tetapi ukurannya adalah agar kita dapat menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5).
Kita juga tidak baik berdiam diri membiarkan kelemahan orang lain sebagai alasan untuk pasif. Kita tetap merupakan saluran komunikasi yang dipilih Allah bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Memang kita perlu cerdas dalam menggunakan setiap kesempatan untuk dapat menceritakan dan memberi kesaksian atas rahasia itu, rahasia hikmat yang merupakan pikiran Kristus sebagaimana tertulis dalam Alkitab. Seseorang yang ragu atau bertanya-tanya mungkin adalah tahapan Roh Kudus bekerja di dalam hatinya, untuk mengenal Allah yang benar dan mengambil keputusan untuk mengikut Kristus. Sejatinya, kuncinya terlebih dahulu adalah: bagaimana kita merespon ketika seseorang bertanya tentang imanmu, apakah kira-kira kita dapat menjelaskan dengan benar dan baik?
Penutup
Nas minggu ini menginginkan kita orang percaya menjadi manusia rohani yang penuh. Manusia rohani adalah mereka yang memahami rahasia hikmat Allah yakni kematian dan kebangkitan Yesus untuk penebusan dan bersedia mengikuti-Nya. Manusia rohani juga menerapkan hikmat Allah itu dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam perkataan maupun perbuatan yang dasarnya adalah kasih dan pengorbanan. Ia bekerja sama dengan Roh Allah dalam menjalankan hikmat Allah itu. Imannya tergantung pada hal itu dan bukan pada akal pikirannya. Ia tidak mengikuti manusia duniawi, melainkan memakai ukuran-ukuran rohani yang terdapat dalam pikiran Kristus. Itulah rahasia yang diungkapkan dalam nas minggu ini, sehingga melalui kehidupan kita, kita semakin baik menjalani kehidupan ini dan semakin banyak orang yang mengenal dan mengetahui hilmat itu, dan tidak lagi menjadi misteri bagi mereka.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 2)
IBADAH PALSU DAN SEJATI (Yes. 58:1–9)
Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (Yes. 58:8)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yes. 58:1–9. Judul perikopnya: "Kesalehan yang palsu dan yang sejati". Nas ini bercerita tentang umat Israel yang rindu mencari Tuhan dan ingin mengenal segala jalan-Nya (ay. 2). Mereka menjalankan ibadah dan ritualnya, salah satunya berpuasa, tetapi ternyata kesalehannya palsu (ay. 3–4).
Umat Yahudi yang berpuasa, selain tidak makan dan tidak minum selama 24 jam mulai senja, akan memakai pakaian yang robek-robek, kain kabung murah, menangis, menyendiri, atau duduk dan berbaring di tanah atau debu, berjalan lambat, serta menaruh debu di atas kepala (Im. 16:29–34; 23:26–29; Bil. 29:7; band. ay. 5). Tujuan semua ini adalah memperlihatkan keprihatinan, sikap berkabung, dan menaikkan doa permintaan serta keinginan, pergumulan, atau pengampunan.
Umat Israel diceritakan bingung. Mereka telah berpuasa, tetapi merasa Tuhan tidak memperhatikan. “Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (ay. 3a).
Allah menjawab melalui Nabi Yesaya: “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini, suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (ay. 3b–4).
Dalam PB hal ini juga terjadi. Tuhan Yesus menegur orang yang berpuasa dengan mengubah air mukanya, dibuat muram supaya orang lain melihat mereka berpuasa (Mat. 6:16–18), atau orang Farisi yang membanggakan puasanya (Luk. 18:10–14). Mereka adalah orang munafik. Orang yang beribadah seharusnya bertujuan membuat dirinya lebih berkenan bagi Allah dan siap menjadi berkat bagi orang lain (band. ay. 6–7, 10).
Oleh karena itu, jika kita beribadah kepada Tuhan, hal pertama yang kita periksa adalah rasa takut dan hormat akan Tuhan. Jangan berpikiran menggampangkan, seolah kita sudah melakukan hal benar seperti orang Israel, tetapi sebenarnya perilaku kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Allah mengharapkan ibadah puasa umat Israel dan ibadah kita orang percaya disertai dengan hilangnya perbuatan jahat terhadap orang lain. Jangan, misalnya, kita mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi masih memusuhi dan membenci orang lain, suka berbantah, berkelahi, dan bertengkar.
Firman Tuhan menegaskan, “... jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu” (Mat. 5:23–24). “Oleh karena itu aku ingin supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan” (1Tim. 2:8).
Janganlah kita menjadi “manusia yang mencintai dirinya sendiri..., tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya” (2Tim. 3:2–5).
Kita beribadah untuk berjumpa dan menyembah Tuhan agar Dia berkenan menerima. “... engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!” (ay. 8–9). Itulah ibadah yang sejati.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 1 Februari 2026
Kabar dari Bukit
PERGUMULAN HIDUP DAN KONSELING KRISTIANI (Ul. 18:15-20)
”Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” (Ul. 18:18b)
Pernah kejadian, seorang anggota gereja memiliki masalah pernikahan anak di keluarga. Setelah berunding baik-baik dan belum ada titik temu, akhirnya ia membawa pengacara. Buntutnya, percakapan berubah menjadi ancaman ke pengadilan. Kemudian saya nasihati, pernikahan diteguhkan oleh gereja. Adalah lebih baik masalah yang ada dibawa dahulu ke hamba-hamba-Nya, agar penyelesaian lebih damai sejahtera.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ul. 18:15-20. Banyak teolog menafsirkan nas ini sebagai nubuatan datangnya Yesus Kristus dan nabi-nabi lain yang mendahului. "Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, seperti aku ini, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu. Dialah yang harus kamu dengarkan" (ay. 15)
Namun bila melihat konteks nas sebelumnya, kita melihat pentingnya peran para nabi dan hamba Tuhan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tengah-tengah umat. Kedudukan orang Lewi dan larangan menggunakan petunjuk para petenung, peramal, pemantera, arwah atau roh orang mati (ay. 1-14).
PL menuliskan umat Israel tidak ingin lagi bertemu dengan Allah secara langsung. "Sama seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan....: Kiranya aku tidak mendengar lagi suara Tuhan, Allahku (ay. 16a; bdk. Kel. 20). Peran nabi pun menjadi dominan. Namun dalam PB Allah turun menjadi manusia dalam Pribadi Yesus. Dalam hidup-Nya yang singkat, Ia memberikan keteladanan hidup, pesan kepada para murid, dan setelah naik ke surga memberi ilham kepada para penulis yang kemudian menjadi Alkitab; penuntun hidup orang percaya.
Oleh karena itu jika terjadi permasalahan dan pergumulan hidup, alangkah baiknya jika firman Tuhanlah dijadikan pedoman. Tentu tidak semua orang sama tingkatannya memahami isi Alkitab; yang lebih memahaminya adalah hamba-hamba Tuhan apalagi berlatar pendidikan teologi. Maka merekalah yang pertama diajak berdiskusi dalam masalah hubungan sesama atau keluarga. Datanglah konseling kepada hamba Tuhan, buka percakapan (Mat. 11:28). Akan lebih efektip konseling di tempat kita bergereja, meski tidak keharusan.
Bila doa pribadi tidak lagi cukup kuat, konseling Kristiani adalah jalan terbaik dalam menghadapi permasalahan (bahkan untuk meningkatkan kemampuan diri). Melalui konseling, kita akan lebih memahami diri, menuntun mengatasi permasalahan, termasuk menggali potensi yang dimiliki untuk jalan keluar dan pengembangan. Melakukan konseling bukan berarti kurang beriman. Berdoa bersama dan doa orang benar, besar kuasanya (Yak. 5:16).
Sejak era Alkitab dan gereja, kita tidak lagi mengenal nabi dan juga rasul. Tetapi fungsi nabi dan rasul kini dipegang para hamba Tuhan khususnya pendeta/gembala. Hakekat Nabi (Ibr. Navi) adalah pembawa pesan Tuhan, dan rasul (Yun. apostolos) adalah utusan. Pendeta dalam pengertian gerejawi lebih memilikinya. “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya,...” (ay. 18b). Itu sebabnya menurut Yohanes Calvin, khotbah berlandaskan firman yang benar adalah nubuatan.
Nas minggu ini memang mengingatkan tentang nabi palsu, sama seperti para petenung dan peramal (ay. 19-20). Untuk itu kita perlu berhikmat dalam memilih pendeta sebagai konselor, agar jangan disesatkan. Tentu kita juga dapat membedakan suara Tuhan dan suara manusia yang tidak ada kasih di dalamnya.
Tetapi jelas, seorang pendeta sebelum ditahbis, wajib mengikat janji menjaga rahasia. Belum tentu sahabat/keluarga dapat menjaga rahasia, bahkan bisa meluber kemana-mana. Orang bijak memperhatikan langkahnya (Ams. 14:15).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 3)
GARAM DAN TERANG (Mat. 5:13-20)
Firman Tuhan bagi kita Mat. 5:13-20. Ini masih bagian dari Khotbah di Bukit, terdiri dari dua topik: pertama, identifikasi atau pengenalan diri para pengikut Kristus sebagai garam dan terang dunia (ayat 13-16). Kenal diri ini penting dan harus menjadi syarat dan ciri utama orang percaya. Kedua, tentang status Hukum Taurat dalam Perjanjian Baru (ayat 17-20) yang tidak hilang lenyap dengan datangnya Hukum Kristus.
Menjadi garam bagi orang percaya berarti hidupnya bermanfaat, menjadi berkat bagi orang lain. Garam memiliki fungsi sebagai pemberi rasa. Tanpa garam, semua makanan akan hambar. Seorang penulis berkata jika tidak ada garam, kehidupan tidak bisa bertahan lama. Garam juga memiliki fungsi sebagai pengawet, membuat bahan makanan bisa bertahan lama tidak cepat busuk. Garam juga merupakan pengikat, yang bagi jenis-jenis makanan tertentu keberadaan garam menyatukan adonan. Dan yang paling penting, garam yang berbentuk putih bersih, kecil, tidak tampak ketika fungsinya dipakai. Lumer menyatu. Artinya, kehidupan orang Kristen menjadi berkat harus tersembunyi, bukan penonjolan diri. Pengikut Kristus yang tidak berfungsi sebagai berkat, tidak berguna dan layak dibuang dan diinjak orang saja (ayat 13).
Menjadi terang bagi orang Kristen berarti berfungsi sebagai penghalau kegelapan. Dunia ini penuh kegelapan, baik oleh kuasa iblis maupun oleh keinginan daging dan ego manusia. Tawaran nikmat dunia serta ego dengan pengaruh iblis, membuat pikiran manusia menjadi gelap, cenderung merusak, dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kegelapan yang timbul karena kebodohan dan kemiskinan, mendorong manusia tidak bertumbuh secara rohani dan jasmani, sehingga membuat orang-orang semakin terpuruk. Terang bisa mengubah semua itu, membuka hati dan pikiran, bahwa Tuhan berkehendak yang terbaik pada manusia ciptaan-Nya. Tuhan menyediakannya, sepanjang kita mau terus berupaya meminta, mencari, dan mengetok (Mat. 7:7).
Sebagai garam, orang percaya tidak perlu tampak wujudnya tetapi berfungsi. Sebaliknya sebagai terang, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (ayat 16). Kita menampakkan terang agar sumber terangnya tampak, yakni bukan diri kita, tetapi sumber terang abadi Kristus Yesus (Yoh. 8:12). Kita adalah anak-anak terang di dalam Tuhan dan terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran (Ef. 5:8-9). Sebagai pembawa terang, maka melalui diri kita orang lain akan melihat perbuatan yang baik, dan diyakinkan tentang kebenaran dan keutamaan Kristus Yesus.
Sesuatu yang baru tidak selalu menghapus yang lama. Ikatan janji Tuhan dengan umat-Nya melalui Abraham dan petunjuk hidup yakni Hukum Taurat yang diberikan lewat nabi Musa, tidak terhapus dengan ajaran Kristus. Para ahli Taurat dan kaum Farisi saja yang sudah terlalu jauh menafsirkan, sehingga makna hukum Taurat yakni mengasihi Allah dan sesama itu telah bergeser. Ahli-ahli Taurat lebih menekankan legalisme, aturan-aturan berdasarkan tafsir untuk kepentingan mereka sendiri. Tuhan Yesus menekankan agar kembali kepada hakekatnya, kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu (Ul. 6:5; Mat. 22:37-40). Dan, yang penting buahnya. "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (ayat 20). Tidak rumit, dan tidak terlalu sulit. Hanya saja perlu komitmen untuk setia menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026
Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026
HIKMAT ALLAH DAN HIKMAT MANUSIA (1Kor. 1: 18-31)
Bacaan lainnya: Mat. 5:1-12; Mi. 6:1-8; Mzm. 15
Pendahuluan
Cara berpikir Allah tidak sama dengan cara berpikir manusia dengan segala kemampuan dan kebijaksanaannya. Kita bisa belajar sepanjang hidup dan mengumpulkan segala hikmat manusia, tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan pembelajaran bagaimana menjalin dan membentuk hubungan pribadi dengan Allah yang hidup. Melalui nas minggu ini, firman Tuhan menekankan bahwa melalui Yesus yang tersalib dan kebangkitan-Nya, kita mendapatkan hubungan pribadi itu melalui Juruselamat yaitu Tuhan Yesus. Apa yang dibanggakan dan berharga bagi manusia sangat berbeda dengan hikmat Allah. Manusia mencari kemegahan, akan tetapi Allah menawarkan kehidupan abadi yang tidak bisa ditawarkan dunia. Pemikiran bahwa melihat baru percaya bukanlah hikmat Allah. Melalui pembacaan minggu ini, kita diberikan pelajaran berharga sebagai berikut.
Pertama: Di mana hikmat dunia? (ayat 18-20)
Sebagaimana dinyatakan pada minggu lalu berkaitan dengan ayat 18, mereka yang mengutamakan penggunaan akal pikiran untuk mencerna penebusan dosa oleh Yesus di salib tentu akan berpikiran kalau itu hal yang tidak masuk akal. Kesombongan intelektual orang Yunani membuat mereka menolak berita penyelamatan itu. Demikian pula bagi umat Yahudi, yang terus berpikir bahwa mereka keturunan (badani) Abraham masih berpikir sombong bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan akan terus diselamatkan tanpa syarat. Kabar baik bahwa Yesus yang mati di kayu salib sebagai jalan keselamatan (yang baru) jelas merupakan kebodohan bagi mereka. Terlebih, bagi umat Yahudi, seseorang yang mati tergantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk bagi Allah (Ul. 21:23), sehingga Yesus yang mati di kayu salib itu tidak mungkin dapat menyelamatkan manusia.
Firman Tuhan melalui Rasul Paulus yang mengutip Yes. 29:14 merupakan penggambaran kembali bagaimana bangsa Israel adalah bangsa yang buta, yang tidak memahami maksud Allah meski mereka memiliki banyak nabi-nabi dan berjalan menuruti kemauan sendiri. Dalam kitab Yesaya itu dinyatakan ibadah mereka palsu dan hanya di bibir saja, pujiannya hampa dan hafalan, kehidupan keagamaan hanya dipenuhi oleh peraturan-peraturan buatan manusia dan bukan untuk menyenangkan Allah. Ancaman yang ada dari bangsa Asyur tidak direspon menurut hikmat dari Allah, melainkan hanya berdasarkan hikmat manusia. Peringatan dari Allah mereka abaikan dan akhirnya bangsa Israel meminta pertolongan dari bangsa Mesir; ini jelas merupakan kesalahan fatal dan akibatnya mereka kalah dan kembali tertindas. Kengerian akibat kekalahan itu digambarkan pada Yes. 29: 1-12.
Hikmat manusia lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dan berjangka pendek. Manusia tidak mudah melihat masa depannya dengan baik dan cenderung melihat jangka pendek saja, dan itulah yang sering menjadi sumber kesalahan utama. Ini berlainan dengan hikmat Allah, sebab yang mendasarinya adalah kasih. Ayat 20 menjadi peneguh dari kutipan Ayb. 12:17 dan Yes. 33:18 yang menekankan hikmat Allah itu demikian kuasanya melampaui segala akal pikiran manusia. Dengan sendirinya, hikmat manusia cenderung mengesampingkan hikmat Allah dan akibatnya sebagaimana dinyatakan dalam Yes 27:14, mereka akan dibinasakan dan dilenyapkan, yakni Allah menyatakan murka-Nya kepada mereka yang mengutamakan hikmat manusia, seperti kepada ahli Taurat mewakili umat Yahudi dan para pembantah mewakili orang Yunani. Hikmat dari Allah yang merupakan karunia seharusnya dipakai, sehingga bisa lebih mengenal Allah dalam rencana-Nya untuk kita semua, yang melepaskan kepentingan diri sendiri dan kesombongan.
Kedua: Orang-orang Yahudi menghendaki tanda (ayat 21-24)
Banyak pihak menganggap sebuah kebiasaan atau tradisi sudah menjadi sebuah kebenaran mutlak. Hal yang sudah berjalan selama bertahun-tahun dapat dianggap sebagai sebuah pakem mati, dan tak seorang pun dapat mengubahnya. Bahkan dalam mempertahankan kebiasaan, tradisi atau kebenaran manusia, seringkali kita mengorbankan hubungan dengan sesama dan bahkan hubungan dengan Allah. Kita lebih “ngotot” demi hikmat manusia dibandingkan dengan menarik hikmat Allah ke dalam kebenaran itu sehingga tercipta sesuatu yang baru. Melalui ayat-ayat inilah kita diminta untuk merelatifkan kebenaran kita yang bersumber dari akal pikiran dan kebiasaan, dan menghadapkan kebenaran dari Allah sebagai sumber sukacita dan kemaslahatan bersama.
Acapkali kalau ada keinginan untuk terbuka bagi kebenaran yang baru, orang-orang yang bertahan dalam prinsip lama ini selalu meminta tanda-tanda. Orang Yahudi berpikir bahwa Mesias yang mereka nanti-nantikan adalah seorang raja yang datang dari keturunan Raja Daud dan dengan kemegahan duniawi untuk membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Sementara yang mereka lihat, Yesus adalah seorang anak tukang kayu yang dalam kesehariannya tidak berkuasa bagaikan seorang raja yang penuh dengan tanda-tanda dan mukjizat. Mereka meminta tanda-tanda bahwa ajaran dan konsep itu merupakan kebenaran (band. Mat 12:38; Yoh 4:48). Ia juga tidak memulihkan kerajaan Daud dan bahkan mati di gantungan salib pula. Ini jelas berbeda dengan pengharapan mereka. Demikian pula bagi orang Yunani, Yesus bukanlah seorang pemikir besar yang menuliskan pikiran-pikirannya seperti Socrates atau Aristoteles yang dapat memuaskan akal pikiran mereka dalam perbantahan. Mereka juga tidak percaya pada kebangkitan tubuh dan tidak melihat tanda-tanda karakter Allah yang sesuai dengan mitologi mereka. Hal yang mereka dengarkan sebagai pikiran-pikiran Yesus seperti khotbah di bukit dan perumpamaan-perumpamaan, banyak yang tidak masuk akal mereka. Bagaimana mungkin, misalnya, pernyataan "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3, dab Khotbah di Bukit). Semua pernyataan itu jelas tidak masuk akal, sehingga bagi umat Yahudi dan orang Yunani, hal yang diberikan Yesus sebagai berita keselamatan adalah jelas tidak masuk akal. Akan tetapi, hikmat manusia yang sebenarnya mereka miliki belum dapat menjangkau dan memahami hikmat Allah yang dasarnya adalah kasih.
Sebuah wahyu atau pernyataan dari Allah melalui nabi-nabi atau hal yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, tidak memerlukan pembuktian fisik atau penerimaan sesuai hikmat/kebijaksanaan manusia. Wahyu adalah sebuah kebenaran yang diterima dengan iman, kemudian dihayati dan dengan penerangan Roh Allah kita mengakui bahwa wahyu itu adalah benar. Tidak mungkin menerima wahyu dengan hikmat manusia dan kemudian mencernanya, melainkan hanya menerima dengan iman bahwa itu adalah kebenaran wahyu atau hikmat Allah. Manusia tidak dapat membatasi cara dan langkah Allah dan sering kali manusia gagal untuk memahaminya (band. Rm. 1:19-21). Konsep jalan keselamatan dan perdamaian dengan Allah yang selama ini dianut oleh umat Yahudi jelas berbeda total dengan penyelamatan yang diberikan Allah melalui Yesus. Inilah yang dimaksudkan ayat tersebut sebagai batu sandungan bagi umat Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani. Namun bagi mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.
Ketiga: Yang bodoh bagi dunia dipilih Allah (ayat 25-27)
Bagi mereka yang mengandalkan akal pikiran semata, kematian Kristus membuat mereka tidak percaya. Bagi mereka, kematian sebagaimana dialami Yesus adalah akhir dari perjalanan; kematian adalah kekalahan, puncak kekalahan, bukan kemenangan. Akan tetapi mereka lupa, Yesus tidak mati selamanya, Ia bangkit di hari ketiga. Kebangkitannya membuktikan kuasa-Nya atas kematian. Ini sekaligus membuktikan bahwa Ia mampu dan berkuasa menyelamatkan kita dari kematian dan akan memberi kita hidup yang kekal, sepanjang kita percaya Ia adalah Juruselamat dan Tuhan. Memang ini seolah-olah tampak begitu sederhana dan mudahnya bagi yang tidak percaya. Mereka lebih berpikir berusaha mencari keselamatan dan perdamaian dengan Allah melalui banyaknya perbuatan baik, berusaha menjadi bijak, mematuhi peraturan legalistik agama, dan lainnya. Tetapi sebenarnya usaha mereka sia-sia dan tidak akan berhasil.
Memang dapat menjadi pertanyaan: apakah kekristenan bertentangan dengan akal sehat? Mengapa demikian sederhana soal keselamatan itu? Justru itu yang ditekankan dalam nas ini melalui Rasul Paulus, agar orang-orang yang mendengarnya harus dengan jernih menggunakan hati nuraninya beserta pikirannya untuk menimbang pilihan jalan itu dan membuat keputusan yang bijak. Rasul Paulus merasa itu perlu dijelaskan dengan tegas bahwa tidak cukup akal pikiran dan hikmat manusia untuk dapat menggantikan atau melampaui apa yang dilakukan oleh Yesus di atas kayu salib. Sebab kalau memakai akal pikiran, maka hanya orang-orang pintar dan berpendidikan saja yang memahami, bukan orang-orang biasa atau anak-anak. Dan inilah yang dikatakan dalam nas ini, “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” Serupa dengan jemaat di Korintus, kita harus mengingat bagaimana keadaan kita saat dipanggil: “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang” (ayat 26).
Ini juga yang dikatakan dalam ayat 27: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Allah memilih orang-orang bodoh di Korintus yang menerima tawaran keselamatan dari Yesus, mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil, tetapi justru mereka adalah orang-orang yang paling berhikmat dari semua orang, dan mereka akan menerima hidup yang kekal itu. Kebangunan kembali kerajaan Daud atau pengetahuan Socrates tidak akan dapat memberikan hidup yang kekal. Dunia ini memang menyembah kekuasaan, pengaruh dan kekayaan. Tetapi Yesus datang dengan kerendahan hati, pelayan yang miskin, dan menawarkan kerajaan-Nya bagi mereka yang percaya kepada-Nya, bukan kepada orang yang melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan imbalan dan kehormatan. Ini tampak sebagai suatu kebodohan bagi dunia. Akan tetapi Kristus adalah kuasa bagi kita, satu-satunya jalan untuk kita bisa diselamatkan. Mengenal Yesus secara pribadi adalah hikmat terbesar yang pernah diberikan dan kita miliki (Kol. 2:1-3, Rm. 1:16).
Keempat: Jangan ada seorang pun yang memegahkan diri (ayat 28-31)
Rasul Paulus melihat orang Yahudi dan Yunani di Korintus sangat sukar untuk mengenali kelemahan dan dosa mereka. Ketrampilan dan hikmat manusia tidak membawa mereka ke dalam kerajaan Allah; akan tetapi sebagaimana dijelaskan di atas, melalui iman yang sederhana kita dapat melakukannya. Orang yang percaya pada Kristus yang disalibkan, akan lebih mudah mengenali dosa mereka, kelemahan dan kekurangannya sebagai manusia, dan itu adalah jalan untuk masuk dan berada di dalam kerajaan-Nya. Kerendahan hati dan penyerahan diri seperti ini membenarkan yang dikatakan pada ayat 28, “dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” Jadi di sini hikmat yang diberikan Allah bukanlah menyangkut perbuatan, melainkan lebih kepada status dan keadaan, yakni rencana Allah untuk keselamatan kita.
Kasih Allah adalah sumber dan dasar hubungan pribadi kita yang hidup dengan Yesus. Segala pengetahuan, pengertian dan kebijaksanaan, berkat dan karunia-karunia rohani, dan anugerah keselamatan itu adalah pemberian Allah melalui Tuhan Yesus. Kita dipilih dari ketidakberdayaan untuk menjadi alasan bagi dunia bahwa hal yang berharga di dunia ini adalah berbeda dengan di mata Allah. Kesatuan kita dengan-Nya dan identifikasi kita di dalam Kristus berbuah dalam hikmat dan pengetahuan tentang Allah di dalam diri kita (Kol. 2:3; Rm. 4:1-dab), memiliki posisi berdiri kita yang benar di hadapan Allah (2Kor. 5:21), dikuduskan (1Tes. 4:3-7; 2Tes. 2:13-15), dan kita mendapatkan penebusan dosa dari-Nya (Mrk. 10:45; Rm. 3:24; Ef. 4:30). Semua yang lama menjadi tidak berarti dan dilepaskan karena yang mulia telah diberikan kepada kita (Flp. 3:8-9).
Akankah kita bermegah dan sombong? Bagaimana kita bisa bermegah dan sombong? Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperoleh keselamatan, kecuali hanya menerima hikmat Allah dan percaya pada hal Yesus lakukan bagi kita. Kita diminta tidak lupa diri, bahwa keberadaan dan keselamatan kita di dalam Kristus adalah anugerah pemberian Allah semata melalui kematian Kristus, sehingga tidak seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Jadi jangan seorang pun yang bermegah dan menyombongkan diri bahwa itu atas usahanya atau prestasinya ia memperoleh kehidupan kekal. Kita dapat bermegah karena keberadaan kita yang baru, sebagai manusia baru yang diselamatkan dan bagian dari kerajaan sorga yang kekal. Kita bermegah bukan di hadapan Dia, tetapi di dalam Dia dengan berbuah melalui pemberitaan Injil bagi kemuliaan nama-Nya. Segala puji dan hormat bagi-Nya.
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diingatkan bahwa pengetahuan, pengertian dan hikmat manusia tidak ada artinya dibandingkan dengan hikmat dari Allah. Keduanya berbeda total, sebab hal yang dipandang berharga oleh manusia, seperti pikiran dan keyakinan akan umat pilihan Allah pada orang Yahudi, atau keunggulan akal pikiran dan diskusi perbantahan bagi orang Yunani, bukanlah hikmat Allah. Hikmat Allah ada dalam penyelamatan manusia melalui kematian Yesus di kayu salib sebagai penebusan dosa dan maut bagi manusia. Hal ini memang kelihatan begitu sederhana, seolah-olah sebuah kebodohan, yang melihat kematian adalah kekalahan bagi mereka, end of the story. Sebaliknya nas minggu ini menekankan bahwa jalan untuk keselamatan begitu sederhana bagi mereka yang ingin memahaminya, mudah bagi yang bodoh, namun menjadi sulit bagi yang memiliki dan memelihara kebenaran yang lama, bagi mereka yang mengandalkan akal pikiran dan kehebatan ilmu dan filsafat. Semua itu diberikan bagi kita yang diberi anugerah dan karunia, yang dipanggil dan merespon untuk menjalankan pemberitaan Injil, dengan pertolongan kuasa Roh Kudus agar kerajaan-Nya kekal semakin luas dan semakin banyak yang diselamatkan serta nama-Nya semakin ditinggikan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 HIKMAT...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 2) IBADAH...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 3) GARAM...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 21 guests and no members online
