Monday, July 20, 2026

2026

Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026

Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026

  TAK TERPISAHKAN KITA DARI KASIH ALLAH (Rm. 8: 26-39)

 Bacaan lainnya: Mat. 13:31-33, 44-52; Kej. 29:15-28; atau 1Raj. 3:5-12; Mzm. 105:1-11, 45b;

atau Mzm. 119:129-136 atau Mzm. 128

 

Pendahuluan

 

Allah ingin bersekutu dengan kita; kita juga ingin semakin dekat dengan Allah. Alkitab memerintahkan kita untuk berdoa sebab melalui doa, kita memelihara hubungan dengan Allah. Namun kadang doa tidak terekspresikan. Meski doa tidak terucapkan, Allah tetap tahu dan bekerja dalam segala sesuatu di hidup kita. Betul, kadang kita lalai dan jatuh ke dalam perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah, sehingga kita takut akan dakwaan yang datang. Kita berpikir bahwa sebagai orang yang salah, kita wajar mendapatkan penghukuman kelak dalam pengadilan Allah. Namun melalui nas minggu ini, kita diyakinkan bahwa kasih Allah begitu besar dan bagaimana itu bekerja, dijelaskan melalui pengajaran sebagai berikut.

 

Pertama: Roh berdoa untuk kita (ayat 26-27)

 

Doa adalah kesempatan manusia untuk menjangkau Allah, sebagai sikap berbakti roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Hidup adalah sebuah rahmat dan karunia, maka untuk itu kita layak mengucap syukur. Dalam perjalanan hidup juga selalu ada berkat dan sukacita yang kita dapatkan, dan untuk itu seringkali kita berdoa mengucap syukur dan berterima kasih atas pemberian-Nya itu. Memang dalam kenyataannya, hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Kadang datang situasi yang membuat kita bergumul, bersedih, dan merasa sakit dan susah.  Keadaan yang menekan ini dapat terjadi pada diri kita dalam lingkup pribadi dan keluarga (penyakit, ekonomi, hubungan keluarga, dsb), atau gereja dan persekutuan lainnya, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai orang percaya, kita percaya Allah tidak akan membiarkan kita sendirian dengan kekuatan yang terbatas untuk menghadapi persoalan hidup yang kadang komplek. Ketika kita tidak memahami persoalan yang ada, kita ingin memanjatkan doa, namun kadang kita tidak memahami situasi atau tidak tahu bagaimana meminta penyelesaian sebab masalahnya sendiri masih kabur atau tidak terjangkau akal pikiran. Kita hanya ingin berdoa, tidak tahu hal yang terjadi dan kita tidak tahu yang terbaik kita lakukan. Kadang kita juga kebingungan, apakah kita mau meminta kekuatan dalam menghadapinya atau meminta Tuhan melepaskan kita dari masalah itu, akibatnya yang timbul bisa hanya napas panjang atau sesunggukan.

 

Melalui firman minggu ini kita dikuatkan bahwa menghadapi hal itu tidak perlu risau dan galau, sebab Roh Kudus akan menolong kita dalam menjelaskan kepada Allah Bapa sepanjang kita tetap dalam suasana doa.  Kita tidak perlu khawatir dan takut sebab keluh-kesah kita yang tanpa ucapan, akan diterjemahkan Roh Kudus kepada Allah sebagai doa kita. Sebab itu selalulah datang kepada Allah untuk menyampaikan yang menjadi pergumulan hidup, pengharapan, dan permohonan, meski dengan kata-kata yang terbatas. Roh Kudus berdoa bagi kita sebagaimana Yesus juga selalu berdoa bagi kita anak-anak-Nya dan Allah akan menjawab (Rm. 8:34; 1Yoh. 2:1; Ibr. 7:2). Mintalah Roh Kudus untuk menyampaikan permasalahan kita dan memohon pertolongan dan jawaban agar sesuai dengan jalan dan kehendak-Nya dan bukan kehendak kita. Ketika kita membawa permasalahan tersebut, meski dengan kata-kata yang terbatas, percayalah bahwa Allah akan melakukan yang terbaik bagi kita untuk memberi pertolongan. Dengan iman kita terus bertekun dalam doa dan beribadah kepada Tuhan, agar keadaan yang menekan dapat kita lewati dengan kemenangan. Prinsip kita sebagai anak-anakNya ada tiga hal, yakni: (1) keadaan yang menekan itu tidak lebih besar dari kemampuan kita (1Kor. 10: 13); (2) segala perkara (apapun) dapat kita tanggung di dalam Dia (Fil. 4: 13); serta doa dan Ibadah memiliki kuasa (2Tim. 3; Yak. 5: 15-16).

 

Sikap iman yang menyerahkan sepenuhnya dalam kendali Allah itu tidak harus dengan kata-kata, sebab sikap berdiam diri dalam ketenangan dan memusatkan pikiran pada Allah adalah sikap berdoa. Yang penting bukan menyerah, mengeluh atau malah menggerutu. Sikap diam dan tenang dalam suasana doa tetap ekspresi penyembahan dan hal itu tidak menyalahi iman kita, dan tidak perlu khawatir dituduh seolah-olah semacam semedi menurut agama lain. Sepanjang dalam pikiran kita bahwa hidup kita ini dipimpin oleh Roh Kudus dan kita telah diselamatkan oleh iman melalui Yesus Kristus, maka sikap diam tenang dengan hati yang terarah kepada-Nya adalah sikap yang dibenarkan. Dalam proses doa ini Allah juga menyelidiki hati nurani dan keseriusan setiap orang yang berdoa (Why. 2:23). Dalam hal ini diperlukan fokus hati dan fikiran yang tertuju pada Yesus sebagai Imam Agung. Salah satu alasan gereja memberikan persetujuan gambar Tuhan Yesus dan lambang salib dalam kehidupan Kekristenan adalah dengan maksud tujuan itu, agar hati kita lebih mudah fokus terhadap jalan yang diberikan melalui Yesus. Kita tahu bahwa gambar Tuhan Yesus yang kita kenal selama ini pada dasarnya adalah imajinasi seorang pelukis, dan bukan berdasarkan "snapshot" atau lukisan/pahatan wajah Yesus pada saat itu. Poin penting dalam iman: ada keyakinan jaminan Roh Kudus akan menolong kita berdoa (Rm. 8: 26); Akan dikabulkan sepanjang dalam nama Yesus (Yoh. 14: 13-14; 16: 23); Memintanya sesuai dengan rencana dan kehendak Allah; Yang diberikan dapat lebih banyak dari yang kita doakan (Ef. 3: 20-21); Alkitab juga mengajarkan, berpuasa akan memperlihatkan ”keseriusan” doa kita dalam meminta (Mat. 17: 21). Di samping kita berdoa bagi diri sendiri, kita juga diminta melalui syafaat berdoa bagi orang percaya lainnya, sebagaimana dinyatakan dalam nas minggu ini orang Roma berdoa bagi orang-orang kudus yakni mereka yang ada di Yerusalem saat itu (band. Ef. 6:18).

 

Kedua: Allah bekerja dalam segala sesuatu (ayat 28-30)

 

Melalui nas minggu ini kita juga masuk dalam pemahaman teologis tentang konsep “dipilih” atau yang lazim dikenal dengan predestinasi (pre=sebelum dan destiny=takdir, atau ditentukan/ditetapkan sebelumnya). Ada yang menafsirkan Alkitab bahwa sebelum dunia diciptakan, telah ada dan disiapkan orang-orang yang akan dipilih untuk menerima kasih anugerah keselamatan. Pandangan predestinasi ini mengacu kepada ayat dalam Ef. 1:11 yang mengatakan, "... kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya." Dengan demikian, rencana Allah bagi orang pilihan-Nya bukanlah hasil renungan atau dipikirkan sesaat sebelumnya; melainkan sudah ditetapkan sebelum dasar-dasar dunia dan manusia diciptakan. Namun ada pandangan predestinasi lainnya yakni Allah cukup mengetahui sebelumnya (foreknew) mereka-mereka yang menerima-Nya dan bagi mereka ini diberikan tanda dan terpilih. Yang jelas , manusia diciptakan dan/atau dipilih adalah untuk melayani dan memuliakan Allah; itu intinya. Jika kita percaya dalam Kristus, kita bersukacita dengan kenyataan bahwa Allah telah mengenal kita secara pribadi dan menjadikan kita anak-anak pilihan-Nya.

 

Kasih Allah adalah kekal abadi. Hikmat dan kuasa-Nya adalah tertinggi. Ia akan membimbing dan melindungi kita hingga suatu saat nanti mampu berdiri di hadirat-Nya pada masa penghakiman. Bagi kita yang mengasihi Allah dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, Allah bekerja dalam segala sesuatu dan dalam nas ini berarti Allah hadir dalam setiap aktivitas kehidupan kita; Dia tidak hadir hanya kadang-kadang atau saat khusus saja. Kitab Roma memberikan gambaran beberapa proses yang dilakukan Allah terhadap mereka yang dipilih menjadi orang percaya. Kalau melihat urutan sesuai dengan rangkaian proses, maka urutannya sebagai berikut.

 

  1. Pemilihan (Rm. 9:10-13): Allah memilih seseorang atau sebuah suku bangsa untuk maksud tujuan tertentu;
  2. Pembenaran/Justifikasi (Rm. 4:25; 5:18): Allah menyatakan seseorang atau bagian dari suku bangsa yang dipilih itu "Tidak Bersalah", dan menyatakan kita "Benar" di dalam Dia;
  3. Pendamaian (Rm. 3:25): Peniadaan hukuman dari Allah atas dosa yang dilakukan melalui korban yang sempurna yakni Tuhan Yesus;
  4. Penebusan (Rm. 3:24; 8:23): Yesus Kristus telah membayar lunas tebusan kita atas dosa sehingga kita menjadi bebas,
  5. Pengudusan (Rm. 5:2; 15:16): Kita diperbaharui terus menerus menjadi serupa dengan  Yesus dengan pertolongan Roh Kudus;
  6. Pemuliaan (Rm. 8:18-19, 30): Keadaan akhir orang percaya setelah kematian tubuh dan dibangkitkan menjadi serupa dengan Yesus (1Yoh. 3:2).

 

Tetapi pilihan dan proses ini tidak terjadi bagi semua orang, melainkan hanya terwujud bagi mereka yang mengasihi Allah dan dipanggil sesuai dengan rencana-Nya. Mereka yang "dipanggil" adalah mereka yang merespon Roh Kudus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidupnya.

 

Kita perlu sadari juga, meski Allah hadir di dalam kehidupan kita, itu bukan berarti bahwa jalan hidup kita akan penuh dengan hal-hal yang menyenangkan saja. Iblis itu sangat “populer” di dunia yang sudah penuh dosa ini, menjerat manusia; akan tetapi Allah sanggup untuk mengatasi dan memulihkan segala situasi untuk kebaikan kita dalam jangka panjang. Allah tidak hadir dalam hidup kita untuk membuat kita bersenang-senang, melainkan Allah hadir untuk memastikan hal yang kita lakukan sesuai dengan maksud dan rencana-Nya. Perlu juga kita sadari tentang adanya kehendak bebas yang dapat menolak peranan Roh Kudus dalam hidupnya, meski kita perlu ingat sebagaimana dikatakan Martin Luther bahwa kehendak bebas itu tidak ada, sebab Allah memiliki kuasa hak prerogatif untuk memanggil dan menetapkan jalan hidup seseorang. Mereka yang dipanggil jelas akan menerima perspektif baru, sebuah pola pikir yang baru dalam hidupnya. Mereka percaya sepenuhnya pada Allah, bukan pada dunia ini, ilmu pengetahuan atau harta benda; mereka akan mencari dan mengutamakan jaminan harta sorgawi; mereka belajar untuk menerima rasa sakit dan penderitaan, bukan merespon dengan marah atau kecewa, sebab Allah ada bersama mereka. Semua proses dalam rencana Allah memiliki tujuan akhir dalam hidup kita yakni menjadi serupa dengan Kristus (1Yoh. 3:2). Sepanjang kita terus berada dalam pembaharuan untuk menjadi serupa dengan Dia, kita akan menemukan hakekat diri sendiri, mengenal diri pribadi yang diciptakan Allah dengan tujuan khusus. Untuk bisa menjadi serupa dengan Dia, kita perlu rajin membaca dan mengindahkan firman Tuhan, mempelajari hidup Tuhan Yesus di dunia ini melalui kitab-kitab Injil, meneladani, dipenuhi oleh Roh Kudus, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Ketiga: Siapa yang mampu menggugat kita? (ayat 31-34)

 

Bagian ketiga dan keempat nas ini mencoba menguak kebenaran posisi kita dengan lima pertanyaan dari Rasul Paulus, yakni:

 

  1. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
  2. Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
  3. Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?
  4. Siapakah yang akan menghukum mereka?
  5. Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?

 

 

 

Apabila kita telah ada di dalam Kristus dan seluruh hidup kita telah diserahkan kepada-Nya, dan dalam setiap pergumulan hidup kita ditolong oleh Roh Kudus untuk menyampaikan pengharapan dan langkah yang kita perlukan, maka pertanyaannya: apakah kita masih perlu takut dalam menghadapi hidup sehari-hari dan bahkan hidup setelah kematian dalam pengadilan Allah nanti? Allah jelas telah membebaskan dan menghapus dosa dan kesalahan kita, maka tidak seorang pun dapat mempersalahkan kita. Segala kekuatan dunia ini tidak mampu melawan kita ketika kita berdiri bersama dengan Kristus.

 

Kitab Roma merupakan penjelasan teologis tentang kasih karunia Allah yang sangat indah untuk meneguhkan dan meyakinkan bagi pembacanya. Kita tidak boleh berpikir bahwa karena kita telah begitu berdosa maka kita tidak layak diselamatkan. Kita juga jangan berpikir bahwa keselamatan itu hanya bagi orang yang tertentu saja, bukan bagi kita dan semua orang. Nas minggu ini diberikan bagi kita untuk meneguhkan bahwa pikiran seperti itu salah! Jika Allah telah menyerahkan Anak-Nya bagi kita, menebus dan membebaskan kita, maka Ia tidak akan menahan kasih anugerah-Nya bagi kita. Jika Kristus telah memberikan nyawa-Nya bagi kita, Ia pasti tidak akan berbalik dan kemudian menghukum kita. Ia tidak akan menahan atau "berpelit" terhadap apa yang kita butuhkan untuk dapat hidup dengan Dia dan membesarkan nama-Nya. Allah terus bekerja dalam setiap orang yang mengasihi-Nya untuk membuat kita jauh dari penghukuman. Kalau kita perhatikan, nas minggu ini jelas merupakan kalimat penting dalam Pengakuan Iman Rasuli kita yang menyatakan: "Ia disalibkan, mati dan dikuburkan; bangkit pada hari yang ketiga, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa."

 

Pengakuan Iman Rasuli kita mengatakan, "Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati." Jadi, jika Kristus yang kita imani mati untuk menebus kita, dan kelak Ia menjadi hakim, apakah masih ada yang menuntut kita? Dengan Dia yang di dunia ini sebagai Penolong kita melalui Roh Kusus, apakah juga akan ada yang menghukum kita? Tak lain tak bukan, seperti dikatakan Rasul Paulus, Yesus adalah Pembela kita. Ia menjadi Penengah (intercede) kita di sorga nanti. Bisa saja ada setan yang akan mendakwa kita, tapi setan tidak memiliki kekuasaan untuk menghukum kita. Bahkan ketika Iblis mendakwa, Yesus yang diberi kuasa dengan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, akan bertindak sebagai Pembela dan pertahanan kita, menjelaskan status dan posisi kita. Bisa saja ada yang mendakwa kita karena perbuatan kita yang berdosa di dunia ini, akan tetapi Yesus akan membela bahwa kita sudah menyesal dan bertobat, dan dosa kita telah ditebus. Mereka yang masih merasa "dirugikan" di dunia, ketika melihat kita ada di sorga, tentu juga akan bersukacita, sebab kita sama-sama telah ditebus dan dimerdekakan dari dosa-dosa masa lampau. Sungguh, Yesus, Anak Allah itu, yang telah mati, bahkan lebih lagi yang telah bangkit, yang duduk di sebelah kanan Allah siap menjadi Pembela kita.

 

Keempat: Tidak ada yang dapat memisahkan kita (ayat 35-39)

 

Bagian terakhir nas ini berisi salah satu hal janji yang menguatkan di dalam Alkitab. Orang percaya harus siap menghadapi segala kesusahan dan penderitaan: keterasingan, penjara, penyiksaan, rasa sakit dan bahkan kematian. Ini bukan membuat kita pesimis dan takut bahwa Allah meninggalkan kita pada saat penderitaan. Pesan Tuhan dalam nas ini kepada gereja yakni mereka akan menghadapi penyiksaan dan penderitaan sebelum Panglima Nero menghancurkan kota Roma. Ternyata nubuatan ini menjadi kenyataan beberapa tahun kemudian, saat Nero menghancurkan kota itu. Penderitaan orang Roma pada saat itu digambarkan dalam ayat 36 mengutip kitab Mazmur “sebagai domba-domba sembelihan” (Mzm. 44:23). Maka pesan nas ini meneguhkan kembali tetang kasih Allah yang besar bagi umat-Nya. Manusia tetap diingatkan. Bahaya bisa mengancam, pedang bisa terhunus menjadi penganiayaan, penderitaan bisa datang, namun semua itu harus kita lihat sebagai proses yang menghasilkan kebaikan yakni kita menjadi semakin dekat dengan Dia dan semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya.

 

Ini yang kita pahami. Penderitaan tidak membuat kita jauh dari Allah, melainkan menjadikan kita lebih dikasihinya dan membuat kasih-Nya bekerja di dalam diri kita untuk memulihkan segala sesuatu. Rasul Paulus meneguhkan bahwa kita tidak mungkin dipisahkan dari Kristus. Ia telah mati bagi kita dengan kasih yang tidak terkalahkan. Tidak ada satupun yang menghentikan kehadiran Kristus di dalam diri kita. Allah telah menyatakan betapa besar kasih-Nya sehingga kita merasa aman penuh bersama Dia. Jika kita percaya terhadap jaminan yang luar biasa ini, maka kita tidak perlu merasa takut. Kuasa jahat adalah sesuatu yang tidak terlihat di dunia ini, seperti kuasa yang dimiliki setan dan malaikat pengikutnya (Ef. 6:12). Namun di dalam Kristus kita lebih dari pemenang dan kasih-Nya melindungi kita dari setiap kuasa jahat yang ada. Seseorang lebih bisa menghargai nilai sebuah kemenangan apabila ia merasakan pergumulan yang telah dialaminya menuju kemenangan itu. Kita, sekalipun harus menderita, semua itu adalah tuntunan menuju kemangan atas dosa dan kematian. Mereka yang berhasil melewati segala pergumulan dan penderitaan dengan tetap tegak dan setia di dalam Kristus, akan memperoleh kemuliaan sehingga dikatakan dalam lagu yang pouler “Kita Lebih daripada Pemenang.”

 

Tidak masalah sesuatu terjadi pada kita, baik penderitaan atau maut sekalipun, itu tidak akan memisahkan kita dari kasih Allah. Penderitaan adalah jalan untuk kemenangan yang berharga dan maut adalah jalan untuk menuju pemuliaan. "Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan" (Rm. 14:8b). Kuasa jahat atau kuasa apapun termasuk pemerintahan di dunia ini, bahkan malaikat-malaikat sekalipun, tidak akan membuat kita jauh dari Allah.  Tidak masalah kapan dan dimana pun berada, kita tidak akan pernah kehilangan kasih Allah. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dengan-Nya. Inilah keyakinan iman kita yang membuat kita semakin teguh dalam berjalan mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini.

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini kita diyakinkan bahwa doa sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Melalui doa kita menyatakan ketergantungan kepada-Nya. Perjalanan dan pergumulan hidup membuat kita perlu memohon pertolongan kekuatan dan petunjuk jalan yang kita tempuh dan sesuai dengan rencana Allah. Doa tidak harus penuh kata-kata diucapkan. Roh Kudus akan menolong kita berdoa menyampaikan keluh kesah yang kita alami. Kita yakin bahwa sepanjang kita menyerahkan hidup kepada-Nya dan mengasihi-Nya, maka Allah bekerja dalam segala sesuatu di hidup kita. Kita adalah orang yang “dipilih dan dipanggil”. Pemilihan dan panggilan selalu terjadi dalam hubungan Bapa dengan anak-anak-Nya. Predestinasi memberitahu kita tentang tujuan dan persiapan bagi yang dipilih-Nya. Dengan status itu maka tidak akan ada yang mampu menggugat kita dan menghukum kita. Kuasa iblis dan kuasa apapun tidak akan melebihi kasih Allah kepada kita, yang telah merelakan Anak-Nya untuk mati bagi kebebasan kita. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Oleh karena itu, karena kasih-Nya itu, kita perlu bersyukur dan berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya dan khususnya bagi kemuliaan nama-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026

Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 2

 YANG PALING BERHARGA (Mat. 13:31-33, 44-52)

 ”Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat. 13:46).

Kalau ada yang bertanya bagaimana prioritas saya dalam menjadi kehidupan, maka jawabannya adalah: Pertama, Tuhan. Kedua, keluarga. Ketiga, pelayanan. Keempat, pekerjaan. Kelima, lihat situasi faktual lainnya. Saya memilih Tuhan yang terutama, karena tujuan hidup saya adalah ingin masuk sorga. Saya tidak mau masuk neraka, ngeri, dan akan terus berusaha menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk dan kehendak Tuhan. Amin.

 

Bagaimana menjabarkan hal tersebut, maka pengalaman adalah guru yang terbaik. Learning by doing. Pahami, pegang prinsipnya, doakan, dan praktekkan dalam keseharian. Jatuh bangun, turun naik, itu biasa. Misalnya, coba setiap bangun pagi mulailah dengan berdoa, ekspresikan rasa sayang sama istri dan anak, membagikan firman Tuhan (bagi hamba Tuhan), lantas urusan pekerjaan (bila ada), dan seterusnya. Sebelum tidur menutup hari, lakukan yang sama. Sederhana, dan tidak susah.

 

Firman Tuhan hari Minggu ini untuk kita adalah Mat. 13:31-33, 44-52. Seperti minggu lalu, nas ini masih tentang Kerajaan Sorga, dan ada lima perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus. Pertama, Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji sesawi yang paling kecil, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (ayat 31-32). Kedua, Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat (sekitar 36 liter), sampai khamir atau berfermentasi seluruhnya (ayat 33).

 

Perumpamaan ketiga, Kerajaan Sorga itu seperti harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu (ayat 44). Keempat, Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu (ayat 45-46). Terakhir, yang kelima, Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu (jambangan besar) dan ikan yang tidak baik mereka buang (ayat 47-48).

 

Ada tiga pesan inti dari kelima perumpamaan tersebut. Yang pertama, dari perumpamaan ketiga dan keempat, yakni setiap orang harus tahu apa yang terbaik diinginkan dan dicarinya dalam kehidupan ini. Firman Tuhan berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat. 6:33). Jadi jelas, Tuhan dan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga adalah yang utama. Jangan menempatkan harta ingin kaya, jabatan tinggi, pekerjaan, dan bahkan membuat keluarga nomor satu.

 

Jika hanya sesekali dalam situasi tertentu keluarga lebih penting, ya tidak apa-apa. Fleksibel sesekali boleh, tapi kalau keseringan ya sudah tidak berprinsip. Beranilah memilih yang terbaik. Tetap teguh pegang prinsip seperti saya sebutkan di atas, urutannya: Tuhan, keluarga, pelayanan, pekerjaan dan yang lainnya lihat situasi faktualnya. Jika tidak dalam pelayanan, pekerjaan mendahului pelayanan, ya tidak apa-apa. Wajar, ada masa dan panggilannya.

 

Pesan kedua dari perumpamaan pertama dan kelima, yakni hidup perlu keseimbangan dan melihat berjangka panjang. Jangan menilai terlalu cepat, melihat terlalu pendek. Hidup seperti berinvestasi, pintar-pintar memilih dan mengisi pada keranjang yang benar. Lihat yang terpendam juga, jangan mau dikelabui oleh kenikmatan mata saja. Terlalu banyak menghabiskan waktu yang sia-sia, seperti terlalu banyak main WA atau ngobrol ngadol-ngidul tanpa hasil, sampai melupakan waktu untuk Tuhan dan pekerjaan dan pelayanan. Tentu itu tidak baik. Aturlah waktu dan atur hidup kita sehingga tahu prioritas dan terbaik yang diinginkan oleh Tuhan.

 

Terakhir, dari pesan perumpamaan kedua, menjalani kehidupan ini perlu mengubah sesuatu, menjadi berkat, dan dijalankan totalitas. Ragi hanya sedikit, tetapi mengubah terigu seluruhnya dan bekerjanya tidak kelihatan. Sedikit tetapi efektip. Kerja keras baik, tetapi kerja cerdas perlu mendampinginya. Jadi janganlah, misalnya, merasa lelah setiap malam, tetapi jika dipikirkan ulang, sebenarnya tidak ada yang kita hasilkan hari itu bagi Tuhan, keluarga dan orang lain. Itu sebuah ironi. Maka buanglah yang tidak perlu, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik (ayat 52).

 

Mereka yang memilih Kerajaan Sorga sebagai pilihan utama hidup, pasti sudah merasakan dan menikmatinya saat ini. “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:7). Mereka yang memilihnya, tidak semata menjadikan hidupnya berharga dan sukacita, tetapi juga mebawa berkat dan sukacita bagi orang lain. Dalam nas paralel menurut leksionari minggu ini Rm. 8: 26-39 dikatakan, “tak terpisahkan kita dari kasih Allah, dan Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28).

 

Pada akhir perumpamaan-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa di akhir kehidupan ini, “malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (ayat 49-50). Ngerise kali, dan itu pasti terjadi. Kita diminta untuk mengerti dan memilih. Seperti Tuhan Yesus bertanya: “Mengertikah kamu semuanya itu?” Para murid menjawab: “Ya, kami mengerti” (ayat 50-51). Semoga kita juga mengerti. Dan melakukannya untuk menyenangkan hati-Nya. Do it, today.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 19 Juli 2026

Kabar dari Bukit

 JANGANLAH GENTAR DAN JANGANLAH TAKUT (Yes. 44:6-8)

 ”Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam, "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada ilah selain Aku” (Yes. 44:6, TB2)

Selamat pagi....

Pernahkah Anda terpuruk? Merasa tidak berdaya, berada di titik terendah dalam perjalanan hidup? Saya pernah mengalaminya, saat krisis moneter terjadi di tahun 1978. Sebagai pengusaha, ternyata hutang perusahaan kita lebih besar dari asset, timbul ancaman hukuman badan masuk penjara, ditambah dengan datangnya penyakit yang parah menyakitkan. Mimpi sebelumnya pelangi indah lenyap, dan gelap. Tetapi Tuhan baik, menuntun saya mengikuti rencana-Nya dan menjadi hamba-Nya. Badai pun berlalu.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini dari Yes. 44:6-8. Nas ini dilatar belakangi situasi umat Israel akibat pembuangan: kehilangan tanah air, Bait Allah hancur, hidup di tengah bangsa yang menyembah banyak dewa; merasa Allah telah meninggalkan mereka. Tetapi Allah menegaskan melalui Nabi Yesaya bahwa Ia adalah Allah “yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian, tidak ada Ilah selain Aku” (ay. 6).

 

Keadaan terpuruk (puruk=terbenam) kadang bisa melanda hidup kita. Tanpa diundang, datang mendadak, baik karena situasi sakit, ekonomi, kehilangan orang terkasih, pekerjaan dan lainnya. Ini mencuatkan rasa takut yang besar. Ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama, kita merasa kehilangan kendali dan pegangan. Kedua, kita melihat masa depan menjadi suram atau gelap, timbul berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Ketiga, kita merasa sendirian. Ini bisa berdampak mulai mencari kuasa dan kekuatan lain dengan cara-cara dunia, melalui kekuasaan, uang, mistik dan ramalan yang semuanya berhala dan tidak berkenan kepada Allah.

 

Namun Nabi Yesaya mengingatkan bahwa Allah tetap hadir dan berkuasa dalam setiap momen kehidupan. Allah umat Israel yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang setia, dahulu, sekarang serta di masa mendatang. Kuasa-Nya kekal tidak terbatas dan tidak ada yang dapat menandingi-Nya (ay. 7). Ya, bisa saja situasi terpuruk tersebut terjadi karena kesalahan kita, atau di luar kendali kita. Tetapi percayalah, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28).

 

Allah di dalam Kristus Mahabaik penuh kasih. Ingatlah sebelumnya yang diberikan-Nya kepada kita berupa kehidupan, keluarga, berkat-berkat jasmani dan rohani. Janganlah melupakannya. Memang bagi mereka yang tidak pernah merasakan adanya pertolongan dan berkat-berkat Allah sepanjang hidupnya, situasi ini lebih rumit, dapat membawanya terpuruk lebih dalam. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengenal Allah lebih dekat setiap hari, baik melalui firman-Nya atau renungan harian dan doa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok atau lusa.

 

Rasa aman lahir dari pengenalan diri kita, bukan dari penglihatan atas situasi apalagi bila masalah yang datang tampak besar. Allah kita jauh lebih besar. Pengenalan diri dan Allah yang benar di dalam Yesus Kristus, akan melahirkan iman. Ini yang membuat merasa tenang karena tahu hidup kita dalam kendali Allah. Iman memegang prinsip, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13). Jika badai datang membuat kita terpuruk, tangan Tuhan yang kuat tidak kurang panjang memberi pertolongan bagi kita (Yes. 59:1).

 

Namun sesuai pengalaman saya, saat kita meminta pertolongan, mesti siap menjadi saksi-Nya, memberi yang terbaik. Dengan demikian kita berlindung pada Gunung Batu dengan kekuatan-Nya yang berkata: Janganlah gentar dan janganlah takut! (ay. 8).

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026

Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 3

  KARMA DAN TABUR TUAI (Kej. 29:15–28)

 

”Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?" (Kej. 29:25b)

 

Alam semesta memperlihatkan hukum kausalitas sebab akibat, aksi reaksi, dan dampak interaksi serta tindakan; bukan hanya pada kebendaan, tetapi juga dalam interaksi sosial dan psikis manusia. Ada mekanisme yang menjaga keseimbangan, keadilan, dan keharmonisan.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kej. 29:15–28. Ini kisah Yakub yang melarikan diri ke rumah pamannya, Laban, terkait tipuannya terhadap abang dan ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan. Sebagai paman, Laban memberi kesempatan Yakub tinggal bersamanya.

 

Laban memiliki dua anak perempuan, Lea dan Rahel. Yakub ternyata tertarik kepada Rahel yang cantik parasnya (ay. 17) dan ingin menikahinya. Sebagai mahar, Yakub sepakat bekerja selama tujuh tahun bagi Laban. Ternyata di malam pernikahan, Laban menipu Yakub dengan menyerahkan Lea (ay. 23). Yakub pun protes. Setelah perundingan, akhirnya Yakub setuju bekerja tujuh tahun lagi. Ini merupakan usaha panjang untuk mendapatkan Rahel, pujaannya (ay. 27).

 

Apakah Yakub tertipu merupakan hukuman dari Allah? Apakah itu karma? Istilah karma cukup populer. Kata ini berasal dari ajaran agama Hindu dan Buddha yang dalam KBBI disebutkan sebagai (1) perbuatan manusia ketika hidup di dunia; dan (2) hukum sebab-akibat.

 

Alkitab tidak mengatakan bahwa Yakub yang menipu, kemudian tertipu sebagai hukuman. Namun Perjanjian Lama menjelaskan keadilan Allah untuk menghukum orang yang salah sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya (Ul. 19:15–21). "Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki" (ay. 21; bdk. Kel. 21:23–25; Im. 24:19–21).

 

Jika didalami, nas ini dapat diartikan sebagai hukum balas dendam (retributive justice). Kitab Perjanjian Lama memang memberi peluang sebagaimana dituliskan, "Hak-Kulah dendam dan pembalasan" (Ul. 32:35a). Hukuman dan pembalasan dapat diberikan di dunia dengan melibatkan subjektivitas manusia dalam penerapannya.

 

Dalam Perjanjian Baru ada perintah serupa, tetapi tidak sama. "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Rm. 12:19b; Ibr. 10:30). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menentang tafsiran lama tentang pembalasan oleh manusia (Mat. 5:38–42). Yesus malah meminta pengikut-Nya mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka (Mat. 5:44). Jadi pembalasan tidak boleh dilakukan manusia. Soal penerapan hukum positif negara dan kemasyarakatan, itu adalah hal lain.

 

Melalui Perjanjian Baru kita juga bisa melihat konsep karma dari hukum tabur-tuai yang Tuhan Yesus ajarkan. "Jangan sesat! .... Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Gal. 6:7). Meski demikian, baik yang ditabur hal baik maupun buruk, tidak spesifik dijelaskan apakah tuaiannya diterima di dunia atau kelak dalam penghakiman saat pembagian upah dan mahkota. Semua kemutlakan hak Allah, dengan dua pertimbangan: keadilan dan anugerah.

 

Ada perbedaan lainnya. Karma terkait dengan kehidupan berulang yang mungkin dalam bentuk spesies yang lebih tinggi atau rendah, disebut samsara atau reinkarnasi. Ajaran Alkitab tidak mengenal hal itu, dengan menekankan, "manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibr. 9:27). Tidak ada kehidupan yang berulang. Justru ada pintu pengampunan melalui pertobatan untuk hidup kekal selamanya melalui anugerah.

 

Namun ada kesamaannya. Sebuah hukuman pada dasarnya tidak hanya demi keadilan, tetapi juga memiliki aspek pengajaran. Perjanjian Lama menjelaskan, "Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu" (Ul. 19:20–21).

 

Melalui nas ini kita belajar beberapa hal. Pertama, perbuatan dosa akan menjadi pintu masuk dosa lainnya. Perbuatan tipu dan kecurangan membuahkan hal jahat lainnya. Kedua, Yakub telah bertobat, tetapi ia siap menerima konsekuensi dengan bersedia bekerja tambahan tujuh tahun, meski Rahel diberikan kepadanya tujuh hari setelah pernikahannya dengan Lea (ay. 20). Tidak ada lagi tipu-menipu. Patuh dan taat adalah jalan lurus menuju kehidupan damai sejahtera dan diberkati, sebagaimana Yakub kemudian menjadi bapak bangsa Israel. Semoga kita belajar dan siap untuk hal tersebut.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

 MENJADI ANAK-ANAK ALLAH (Rm. 8:12-25)

Bacaan lainnya: Mat. 13:24-30, 36-43; Kej. 28:10-19a; atau Yes. 44:6-8; Mzm. 139:1-12, 23-24 atau Mzm. 86:11-17

 

Pendahuluan

Kita tahu bahwa banyak orang Kristen yang belum memahami arti sebagai pengikut Kristus. Pola kehidupannya sering kali belum mencerminkan maksud dan kehendak Tuhan Yesus dalam hidupnya sebagai anak-anak Allah, dan masih banyak yang hidup dengan pola manusia lama. Hal itu bisa tampak dari hal sederhana, misalnya, masih hidup dalam ketakutan: takut pada kegelapan, takut akan hari esok dan lainnya, sampai yang paling “berat” yakni wajib peduli dan berbuat baik terhadap orang lain. Firman-Nya berkata: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17). Hal itu mungkin didasari belum dipahaminya rencana Allah dalam hidupnya dan juga janji pasti yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran tentang hidup sebagai anak-anak Allah dan sekaligus pewaris kerajaan-Nya saat ini hingga di kekekalan nanti.

 

Pertama: Kita adalah orang berhutang (ayat 12-13)

Kita tahu banyak orang yang merokok. Adanya keharusan pemerintah mencantumkan gambar-gambar yang menyeramkan di bungkus rokok dan tulisan "Merokok Membunuhmu" dengan tujuan untuk memberi kesadaran dan rasa takut kepada pembeli, tampaknya tidak efektif. Kenaikan pita cukai juga tidak terlalu menolong, meski dianggap terlalu kecil sehingga harga jual rokok masih murah dibanding di luar negeri. Oleh karena itu jumlah perokok di Indonesia terus bertambah dan bahkan sudah merembet ke dunia remaja muda. Industri rokok pun semakin jaya dengan keuntungan semakin besar. Para pemilik pabrik rokok menjadi orang-orang terkaya di Indonesia. Alasan orang tetap menjadi perokok jelas, yakni susah menghentikan sebab telah adanya racun di dalam tubuh (darahnya) berupa zat adiktif nikotin yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah yang menyebabkan kecanduan. Setiap saat racun ini meminta kembali nikotin yang memaksa perokok untuk kembali ingin mengepulkan asap rokok demi untuk memenuhi kebutuhan racun tadi. Dengan demikian dapat dikatakan, seolah-olah seorang perokok merasa berhutang bagi tubuhnya, bagi dagingnya, sehingga perlu "membayar" pada saat yang dibutuhkan. Kecanduan memenuhi keinginan tubuh dan daging bukan hanya merokok, hal lainnya bisa kita lihat pada kecanduan narkoba, alkoholisme, kecanduan seksual, makan berlebih yang berakibat menjadi mudah lapar, termasuk kecanduan yang bukan tubuh seperti judi, menonton film porno, dan lainnya.

 

Anehnya, semua orang tahu bahwa merokok tidak baik, banyak minum alkohol (berlebih) tidak baik, narkoba itu tidak baik. Namun tetap saja orang memulai dan akhirnya terjerat dalam hutang ketergantungan kepada daging. Mereka mungkin melupakan awalnya, bahwa memulai itu berarti membuat hutang pada tubuh. Betul ada jalan pemulihan, seorang perokok dapat menghentikan kebiasaannya dengan komitmen penuh. Kalau ada yang mengatakan tidak bisa, maka sebenarnya hanya belum memiliki komitmen kuat. Lain lagi, memulihkan seseorang yang terjerat alkoholisme, ini memerlukan biaya yang besar. Sama dengan narkoba, biasanya harus masuk panti khusus pemulihan yang membutuhkan biaya besar dan menjalani proses "siksaan" pada tubuh untuk menetralisir tubuh yang sudah terkontaminasi racun-racun yang ada di dalam darah. Untuk masuk dalam proses pemulihan itu pun memang perlu ada "kesadaran" sehingga proses pemulihan menjadi lebih mudah dan tidak merasa terlalu berat. Seseorang harus proaktif dalam memenangkan peperangan yang dipakai iblis melalui kedagingan kita. Dalam hal ini "kerjasama" dibutuhkan antara tubuh dengan roh (kesadaran) untuk proses pemulihan.

 

Namun banyak yang membuktikan, kesadaran dan kekuatan dari roh (kecil) kita saja tidak cukup untuk dapat melawan mematikan racun-racun tubuh itu. Seorang perokok atau pecandu narkoba biasanya bisa berhenti sebentar namun kumat lagi. Orang yang merokok kalau tidak sadar tujuan hidupnya, akan mudah kembali kecanduan. Demikian juga dengan kecanduan lainnya, sehingga yang dilakukan dalam pemulihan sering tidak efektif. Oleh karena itu, panti pemulihan alkohol dan narkoba yang dilengkapi dukungan kerohanian dengan memperkenalkan Tuhan Yesus biasanya lebih efektif. Seseorang yang mengenal Tuhan Yesus tentunya memahami bahwa mengikuti keinginan dengan membayar hutang kepada tubuh dan daging adalah sesuatu yang sia-sia dan membawa kita pada kematian. Juga perlu dibayangkan, berapa nilai rokok yang kita bayar, harga narkoba dan alkohol yang kita harus beli, semua hanya membentuk hutang kepada tubuh, yang kita harus membayarnya setiap saat sebelum dipulihkan. Ini masih ditambah dengan kerusakan tubuh. Apalagi, untuk membeli semua kebutuhan yang merusak itu harus mengorbankan keperluan yang lebih penting, untuk anak, keluarga, berobat dan lainnya. Dalam hal ini bukan saja kematian fisik yang terjadi, tetapi juga kematian secara rohani, sebab kita melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan (Gal. 5:16-18; Ef. 6:12; 1Pet. 2:11). Oleh karena itu, hanya Roh Allah yang bekerja dalam kesadaran dan komitmen (roh kita) yang dapat menghentikan semua kecanduan itu. Nas minggu ini menuliskan, "jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Roh itulah yang menghidupkan seseorang pecandu dari penyakit yang merusak dan sekaligus memahami arti kehidupan ini untuk tidak dijalani dengan sia-sia, hanya memuaskan diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

 

Kedua: Kita tidak dipimpin roh perbudakan (ayat 14-17a)

Rasul Paulus menggunakan kata adopsi sebagai ilustrasi hubungan baru orang percaya dengan Tuhan. Ia menggunakan kata Yunani hiuos yang berarti "anak yang sudah diangkat secara sah." Di dalam budaya Romawi, seseorang yang diadopsi oleh keluarga lain, maka hak-haknya pada keluarga lama akan hilang, namun akan mendapatkan hak-hak dari keluarga yang baru. Dengan demikian ayat yang dipakai dalam nas ini menggambarkan posisi orang percaya, ketika menjadi orang Kristen dan lahir baru kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12; 3:4-5), maka kita pun memiliki hak penuh dan istimewa sebagai anak (Gal. 3:26; 4:5; Ef. 1:5). Salah satu keistimewaan menjadi anak-anak Allah adalah hubungan kita dengan Allah Bapa menjadi begitu dekat. Kita dapat memanggil dengan panggilan akrab, yakni: Abba, yang berarti Bapa. Kata Abba berasal dari bahasa Aram yang sering digunakan pada saat kehidupan sehari-hari Tuhan Yesus. Perkataan "ya Abba, ya Bapa" juga merupakan seruan Tuhan Yesus tatkala Ia berdoa di bukit di Getsemani (Mar. 14:36; Gal. 4:3-9).

 

Dengan hubungan yang dekat dan mesra antara kita anak-anak-Nya dengan Allah, kita tidak lagi menjadi budak-budak yang was-was dan takut (2Tim. 1:7); melainkan kita adalah anak-anak "Tuan Besar". Sungguh alangkah menyenangkan, roh perbudakan itu telah lenyap. Roh perbudakan pada dasarnya adalah akibat pemahaman hukum Taurat yang membangkitkan rasa takut dan mencoba menyenangkan Allah dengan cara-cara yang sia-sia. Allah telah memberikan kita hadiah kasih karunia terbesar dalam hidup kita, yakni: Yesus Kristus, pengampunan, dan kemerdekaan. Dengan menerima Yesus, kita masuk ke jalan kemenangan dan kehidupan kita dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 4:5-6), serta kita dimampukan mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan menganggap kecenderungan dan kuasa dosa di dalam tubuh sudah mati (band. Rm. 6:11; Gal. 5:24). Kita menjadi tahu tentang makna dan hakekat kehidupan yang sebenarnya, yakni kasih karunia. Kita memiliki tujuan hidup yang sekaligus menjalankan misi Allah sambil mengucap syukur, sambil terus mematikan keinginan daging sebagai bagian ketaatan kita pada-Nya (Rm. 1:5). Nilai sebuah kemenangan sangat tinggi sesuai dengan perjuangan yang kita korbankan. Konsekuensi positif lainnya, secara sadar kita dapat mengabaikan pencobaan kedagingan yang sering dimanfaatkan iblis (Gal. 6:8).

 

Keistimewaan lainnya sebagai anak yang sah, kita menjadi pewaris dari keluarga kerajaan Allah. Kita mendapat hak penuh sebagai pewaris dari keluarga sorgawi (Gal. 4:7; Ef. 3:6). Kita memperoleh bagian dari kekayaan sorga bersama orang percaya lainnya, berhak menerima janji-janji Allah. Kasih Bapa kepada kita sebagai anak-anak-Nya sama dengan kasih bagi Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus (Yoh. 14:21, 23; 17:23). Mungkin kadang kala kita tidak merasa bahwa kita adalah anak-anak Allah. Iblis akan mengganggu dan menggoyang iman kita, namun Roh Kudus adalah saksi atas sikap dan keberadaan kita. Kehadiran-Nya di dalam hati mengingatkan (kembali) siapa kita dan menguatkan diri kita dengan kasih Allah Bapa (Rm. 5:5; Tit. 2:11-12). Ia menjamin kehidupan yang kekal, dan meneguhkan kita atas setiap permintaan kebutuhan sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

 

Ketiga: Kita masih mengeluh dan menderita (ayat 17b-23)

Sebagai ahli waris kerajaan Allah, cobaan dan penderitaan tidak otomatis lepas dari kehidupan kita. Orang percaya harus menghadapi berbagai jenis penderitaan yang mungkin terjadi. Kadang pencobaan datang tidak terduga dan terselami seperti yang dialami Ayub. Pada awal abad pertama, orang Kristen menghadapi pencobaan berupa pengucilan dan penyiksaan yang berdampak dalam kehidupan sosial ekonomi, bahkan termasuk risiko kematian. Demikian juga kita saat ini harus siap menghadapi risiko yang akan datang, dan siap membayar harga untuk itu. Di beberapa belahan dunia ini, ada tekanan-tekanan yang harus diterima oleh orang Kristen, dalam kegiatan dan karier di pemerintahan atau perusahaan, termasuk dalam pekabaran Injil. Kita di Indonesia yang mengaku sebagai negara yang memiliki toleransi tinggi, juga mengalaminya di beberapa daerah. Kekristenan tidak otomatis menjadi mulus dan langsung memuaskan. Namun itu tidak boleh menghentikan pola hidup sebagai orang Kristen yang harus melayani sesama, membela ketidakadilan, membela nilai-nilai hakiki yang universal, yang selalu mempunyai harga. Namun betapa pun beratnya, perlu kita ingat beban itu tidak akan melebihi yang ditanggung oleh Yesus pada masa pelayanan-Nya untuk dapat membela dan menebus kita dari dosa dan penderitaan kekal.

 

Betul, Allah telah menciptakan dunia dan alam semesta ini dalam keadaan amat baik (Kej. 1:31). Kejatuhan Adam ke dalam dosa merusakkan semua konsep dan ciptaan. Dosa menyebabkan seluruh ciptaan menjadi jauh dari nilai-nilai hakiki saat awal Tuhan menciptakan. Manusia hanya makan dari buah-buahan pohon dan dedaunan di Taman Eden (Kej. 2:9, 16), kemudian boleh makan daging hewan setelah peristiwa penyelamatan Nuh dengan air bah (Kej. 9:3-4). Ini mungkin konsekuensi keserakahan. Akibatnya, semua mengalami kerusakan nilai-nilai hakikinya akibat dosa Adam hingga peristiwa Nuh. Alam semesta juga semakin menanggung berbagai kerusakan akibat bencana alam, seperti gempa, tsunami, ledakan gunung, kekeringan, banjir, dan kerusakan lingkungan hidup lainnya. Memang semua ini masih dalam kendali kehendak-Nya akibat ketidaktaatan manusia. Semua makhluk mengeluh dalam pengertian ketidak puasan, namun harus menyadari keluhan sebagaimana orang bersalin pasti menghasilkan hidup baru dan kelegaan. Alam dan manusia mengharapkan pelangi baru sebagai tanda kasih Allah. Dunia mengalami kefrustasian dan terbelenggu dalam kelemahannya, sehingga tidak dapat memulihkan hakekat nilai asli sesuai dengan tujuan Tuhan.

 

Orang Kristen perlu melihat dunia ini sebagaimana adanya, dunia yang semakin melorot dan secara rohani dosa telah merasuk. Alkitab yang kita imani mengatakan suatu saat Tuhan pasti memulihkan semua ciptaan-Nya, terbebas dan ditransformasikan. Bersamaan dengan masa yang datang itu, semua berharap adanya pemulihan anak-anak Allah dibangkitkan. Namun kita orang percaya tidak perlu pesimis, sebab ada pengharapan kemenangan di masa depan. Sementara itu, orang Kristen di dunia ini terus bersaksi dan berbuah dengan menyembuhkan penyakit masyarakat, baik fisik, ekonomi, sosial maupun jiwa-jiwa yang masih haus akan kedamaian dan sukacita yang telah dirusak oleh iblis. Kita juga akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan sebagaimana tubuh Yesus setelah kebangkitan-Nya yang saat tinggal di sorga (1Kor. 15:25-58). Pembebasan tubuh kedagingan berarti bebas dari rasa sakit dan penderitaan akan berlalu bagi setiap orang percaya. Perubahan lengkap tubuh dan kepribadian kita kelak akan dinyatakan setelah kehidupan saat ini, ketika kita menjadi serupa dengan Kristus (1Yoh. 3:2). Kita telah mendapatkan "karunia sulung" berupa pemberian pertama atau uang muka yakni Roh Kudus sebagai jaminan semua pembebasan itu (2Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14).

 

Keempat: Mengharapkan yang tidak dilihat (ayat 24-25)

Rasul Paulus dalam bab-bab sebelumnya telah menyodorkan ide yang berdasarkan pandangan hidup di dunia Romawi saat itu, bahwa keselamatan ada di masa lampau, di masa kini, dan di masa mendatang. Di masa lampau kita diselamatkan pada saat kita pertama kali mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kehidupan kita yang baru yakni jaminan hingga kekekalan dimulai pada saat pengakuan itu (Rm. 3:24-25; 5:8-11; 8:1). Pada saat ini kita tetap diselamatkan dalam sebuah proses berkelanjutan dan pengudusan. Kekalahan sesaat kita terhadap iblis tidak menghapus janji dan jaminan keselamatan, sepanjang kita memperlihatkan sikap penyesalan dalam dan pertobatan. Di saat yang sama kita akan menerima penggenapan seluruh upah dan berkat dari keselamatan yang menjadi milik kita, ketika nanti kerajaan Kristus dinyatakan utuh sempurna sepenuhnya. Ini merupakan keselamatan kita di masa mendatang. Kita berkeyakinan penuh atas seluruh keselamatan itu, teguh memandang dengan penuh pengharapan dan iman. Pengharapan adalah sauh yang kuat untuk menjaga agar kita tidak terombang-ambing dalam menghadapi pergumulan hidup sehari-hari (Ibr. 6:19), dengan demikian kita diberi jalan yang menyelamatkan melalui pengharapan.

 

Namun, tetap kita perlu memahami pertanyaan dasarnya: Apa yang kita nantikan dalam menyongsong pasca hidup kita di dunia ini? Sesuatu yang kita lihat saat ini bukanlah pengharapan melainkan realitas yang dihadapi tanpa perlu keluhan. Sejatinya, sesuai dengan gambaran yang diberikan Alkitab, kita mengharapkan tubuh yang baru, keluarga dan rumah yang abadi, sebuah bumi baru dan langit baru, kedamaian dan kelimpahan berkat, ketiadaan dosa dan penderitaan, dan yang terutama kita dapat bertatap muka dengan Tuhan Yesus sebagai sumber pengharapan kita! Seperti gambaran kitab Wahyu, kita/mereka "tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka" (Why. 7:16-17). Kita melihat ke depan menunggu pada bumi baru dan langit baru sebagaimana yang Allah janjikan, bebas dari perbuatan dan konsekuensi dosa. Gambaran itu tidak bisa kita uraikan sebagaimana dikatakan firman-Nya: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor. 2:9). Semua ditaklukkan melalui pengharapan.

 

Adalah sesuatu yang alamiah untuk seorang anak mempercayai penuh orangtuanya, meskipun kadang kala orangtuanya tidak bisa memenuhi janjinya karena keterbatasan tertentu. Tetapi, Bapa sorgawi kita, bagaimanapun, tidak akan pernah mengabaikan janji yang diberikan-Nya (Ibr. 6:13; 2Pet. 3:9). Namun daripada berlaku seperti anak yang tidak sabar menunggu semua dinyatakan di dunia ini, lebih baik kita tetap meletakkan iman di dalam hikmat dan kebaikan Allah. Betul, kadangkala, waktu yang diberikan-Nya jauh dari pengharapan kita. Rencana-Nya tidak terselami dan bisa jauh dari perkiraan kita. Namun kita percaya rencana-Nya adalah yang terindah. Kita diberi berbagai peristiwa untuk menguji kesabaran kita, ketaatan kita, dan terutama ketekunan kita dalam penantian itu (2Tim. 2:12; 1Pet. 4:13). Ketidaksabaran seorang anak harus diisi dengan menjalankan tugas panggilan, bukan dengan keluhan atau gerutuan. Itulah yang membuktikan bahwa kita adalah anak-anak sejati yang berhak atas tubuh kemuliaan menggantikan tubuh fana ini. 

 

Penutup

Melalui nas minggu ini kita diingatkan kembali tentang hak-hak kita sebagai anak-anak Allah, yakni kita tidak perlu berhutang (lagi) kepada tubuh dan kedagingan, melainkan kita berhutang kepada Yesus yang telah menyelamatkan hidup kita. Kita tidak perlu lagi berhutang wajib memenuhi keinginan tubuh sehingga ada ketergantungan, keterikatan, kecanduan yang membuat kita sebagai budak dari tubuh. Sebagai anak-anak Allah yang sudah dimerdekakan dan diberi kuasa Roh Kudus, kita tidak lagi memiliki roh perbudakan, bahkan kita adalah ahli waris yang sah dari Allah Bapa. Namun, dalam menanti penggenapan warisan kerajaan sorga itu, kita masih perlu berkorban dan bahkan menderita di dunia ini, yang hal itu sebagai ujian ketaatan dan kasih kita kepada Bapa. Ujian juga dimaksudkan agar hal yang kita akan terima nanti memang merupakan sesuatu yang istimewa, yang kita sendiri tidak bisa bayangkan dan gambarkan keistimewaannya. Yang jelas, warisan kerajaan sorga itu pasti melebihi gambaran dan penglihatan yang kita miliki, sebab kalau kita sudah melihatnya di dunia ini, maka itu bukan lagi pengharapan. Namun untuk semua itu, kita perlu bertekun dalam segala ujian dan pengharapan itu, disertai rasa syukur sehingga kita terbukti adalah anak-anak Allah yang sejati.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 58 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14138597
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
4227
3937
8164
14102041
74393
128572
14138597

IP Anda: 216.73.216.208
2026-07-20 18:54

Login Form