Monday, August 17, 2026

Khotbah (3) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi 3

 DALAM PEMELIHARAAN ALLAH (Kel. 1:8–2:10)

”Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air" (Kel. 2:10)

Melalui Kitab Kejadian, setidaknya ada empat kisah kehidupan yang menarik dan telah dijadikan renungan sebelumnya. Pertama, Abraham, yang dipanggil Tuhan untuk berangkat menuju Tanah Kanaan. Kemudian lahirnya Ishak dan pencarian jodohnya. Selanjutnya, Yakub yang “penipu” hingga menjadi bapak 12 suku Israel. Terakhir, Yusuf yang dijual menjadi budak namun akhirnya menjadi pembesar di Mesir. Dari semua kisah itu, satu kesimpulan dapat ditarik, yaitu adanya pemeliharaan Allah dalam kehidupan mereka.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Keluaran 1:8–2:10. Ini kisah kelahiran Musa, nabi besar di tengah masa sulit bangsa Israel yang hidup di Mesir pasca kematian Yusuf. Firaun tidak menginginkan jumlah mereka semakin banyak, sehingga dibuat aturan agar bayi laki-laki Israel yang lahir dibunuh, dan orang dewasa dipaksa kerja rodi serta ditindas (ay. 1:10–14).

Di tengah penderitaan itu, Musa lahir. Musa sebenarnya memiliki seorang abang dan kakak, yaitu Harun dan Miryam, dengan jarak usia yang cukup jauh. Namun, orang tuanya memilih menyelamatkan Musa dengan menyembunyikannya selama tiga bulan. Ketika khawatir akan ketahuan, ibu Musa membuat peti dari pandan yang dilapisi gala-gala dan ter (sejenis aspal), kemudian diletakkan Musa di dalamnya dan dihanyutkan di tepi Sungai Nil. Ibunya pun meminta Miryam untuk mengamati dari jauh jika ada yang mengambilnya (ay. 3–6).

Singkat cerita, putri Raja Firaun yang sedang mandi kemudian mengambil Musa. Atas saran Miryam, Musa kembali ke ibunya untuk disusui hingga besar (ay. 2:7–9). Musa, yang dipilih Allah untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, bertumbuh di tengah dua lingkungan, yaitu keluarga Israel dan istana.

Kita melihat adanya pemeliharaan Allah terhadap Musa. Kini pertanyaannya, apakah kita merasakan pemeliharaan Allah dalam hidup kita? Apa yang dimaksud dengan pemeliharaan Allah dan bagaimana cara kerjanya?

Menurut Dr. Hector Llanes dari Grand Canyon University, pemeliharaan Allah adalah pemeliharaan terhadap umat-Nya ketika Ia membimbing mereka dalam perjalanan iman. Secara umum, pemeliharaan Allah mengandung tiga unsur penting, yaitu pelestarian, penyediaan kebutuhan, dan pimpinan. Pemeliharaan Allah meliputi alam semesta maupun kehidupan pribadi manusia.

Tujuan pemeliharaan Allah adalah menyelamatkan dan membentuk umat-Nya agar serupa dengan Yesus. Allah berdaulat untuk terus menopang, membimbing, dan merawat umat-Nya agar sesuai dengan rencana-Nya yang tidak mungkin gagal. Oleh karena itu, Allah dapat memilih dan menentukan siapa yang dipakai bagi kemuliaan-Nya (Rm. 8:28–29).

Untuk dapat ikut dalam pemeliharaan Allah, Dr. Hector Llanes menyarankan tiga respons. Pertama, mengucap syukur kepada Allah atas kehidupan yang diberikan, karena apapun situasinya, Allah akan memulihkan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam hidup anak-anak-Nya (Mzm. 104:27–31; Flp. 1:6).

Kedua, percaya dan meletakkan iman kepada Allah, sebagaimana orang tua Musa meletakkan iman mereka (Ibr. 11:23). Melalui iman ini, Allah membimbing setiap langkah orang yang dikasihi-Nya, meski kadang melewati rintangan berat dan penderitaan (1Pet. 1:5–7; 1Kor. 10:13).

Ketiga, tetap bersukacita. Allah telah bersama kita dan diam dalam hati kita melalui Roh Kudus (1Kor. 3:16). Kita telah diberi kuasa menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12–13). Allah meminta kita tidak perlu khawatir dan berserah kepada-Nya (Mat. 6:26–29; 1Pet. 5:7). Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk takut dan khawatir, bahkan sampai merampas sukacita dari diri kita (Yoh. 16:22).

Kini, persiapkanlah diri dan terimalah melalui iman rencana-Nya. Sama seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan Musa, Allah siap memelihara hidup kita dan membuatnya bermakna, sehingga kita “senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2Kor. 9:8).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 49 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14297868
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
3357
10157
13514
14243166
96743
136921
14297868

IP Anda: 216.73.217.146
2026-08-17 09:38

Login Form