Monday, May 18, 2026

Khotbah (3) Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026

Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026 - Opsi 3

 

 PEMIMPIN PENUH KARYA (Bil. 11:24–30)

 

 "Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua–tua itu” (Bil. 11:25a)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Hari ini kita merayakan ulang tahun gereja. Selamat untuk kita semua, warga gereja: anak–anak Tuhan di dalam Yesus Kristus. Pada hari yang penuh sukacita ini, kita juga memperingati pencurahan Roh Kudus.

 

Firman Tuhan bagi kita hari ini diambil dari Bil. 11:24–30. Ini adalah kisah perjalanan umat Israel keluar dari Mesir. Pada ayat–ayat sebelumnya (1–23), diceritakan bagaimana umat bersungut-sungut, dan akibatnya Tuhan menghukum mereka dengan membakar kemah-kemah mereka. Musa sebagai pemimpin memohon pengampunan, dan api itu pun padam.

 

Sungut–sungut kedua muncul ketika umat menuntut daging sebagai lauk karena bosan dengan manna (ay. 13). Setelah Musa berbicara kepada Tuhan, permintaan itu dikabulkan. Tuhan memberikan daging burung puyuh selama sebulan penuh, sampai mereka jenuh dan muak (ay. 18–20). Ini menjadi contoh kerakusan yang tidak patut ditiru.

 

Nas ini juga menunjukkan sisi kepemimpinan Musa. Ia merasa lelah, kewalahan, dan putus asa. Ia mengeluh, “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu?” (ay. 11).

 

Tuhan memberikan solusi dengan memerintahkan Musa memilih 70 tua–tua. Ini adalah bentuk pendelegasian tanggung jawab. Roh dari Tuhan yang ada pada Musa akan dicurahkan juga kepada para tua–tua itu, sehingga mereka dipenuhi Roh: memiliki semangat yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Kepenuhan Roh di sini bukan kesurupan, bukan pula berbahasa roh.

 

Menariknya, di luar 70 tua–tua pilihan itu, ada dua orang yang juga mengalami kepenuhan Roh, meski tidak termasuk dalam kelompok terpilih. Yosua, mewakili para tua–tua, meminta Musa menghentikan mereka. Namun Musa menjawab, “Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” (ay. 29). Artinya, Musa bersukacita karena ia menyadari kuasa Tuhan tidak bisa dibatasi oleh manusia.

 

Dalam kepemimpinan, dikenal istilah kepemimpinan rohani (spiritual leadership) dan kepemimpinan hamba (servant leadership). J. Oswald Sanders dalam bukunya Spiritual Leadership menekankan bahwa kepemimpinan adalah bentuk pelayanan yang memuliakan Tuhan, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Kepemimpinan hamba adalah tujuan dari kepemimpinan rohani, yang berakar pada kasih kepada Tuhan dan sesama.

 

Sanders juga menyatakan bahwa kepemimpinan akan efektif dan tujuan organisasi tercapai jika pendelegasian wewenang dan tanggung jawab berjalan seiring. Sementara Dr. Kenneth Blanchard dan Phil Hodges menekankan bahwa teladan sejati kepemimpinan hamba ditunjukkan oleh Yesus Kristus. “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia” (Kol. 2:9–10).

 

Organisasi gereja maupun organisasi sosial perlu sungguh-sungguh memahami hal ini. Kepemimpinan yang melayani memiliki ciri khas, yaitu:

 

  1. Melayani dengan 3H, yakni hati (heart), pikiran (head) dan tangan (hands);
  2. Mementingkan kebersamaan, penuh kasih. Tidak menghukum atau membiarkan sesuatu yang tidak baik terjadi dalam organisasi.
  3. Tidak ada kompetisi, tujuan utamanya adalah pelayanan bagi kemuliaan Tuhan;
  4. Bila merasa lelah dan putus asa, mintalah kekuatan dari Tuhan.  Pemimpin wajib berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia, bertambah teguh dalam iman, dan hati yang melimpah dengan syukur (Kol. 2:7).

 

 

 

Pemimpin yang tidak mampu melakukan delegasi pasti sulit berkarya dengan maksimal. Janganlah pemimpin terlalu ingin berkuasa, melakukan kehendak sendiri, tidak mengayomi, tidak mau berkorban. Semua orang diberi karunia oleh Tuhan, maka haruslah membangun sinergi yang akan berbuah menjadi suatu karya yang nyata.

 

 

 

Jangan juga membatasi campur tangan Tuhan, seperti Musa yang sempat meragukan cara Tuhan memenuhi kebutuhan daging untuk umat 600.000 orang. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil (ay. 21–23; Luk. 1:37).

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 10 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13887361
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1132
4470
5602
13853687
82848
154006
13887361

IP Anda: 216.73.216.54
2026-05-18 11:49

Login Form