Thursday, May 14, 2026

2026

Khotbah (3) Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026

Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026 (Opsi 3)

  HADIR DAN BERMAKNA (Mzm. 47:1-10)

  Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala (Mzm. 47:6)

 Firman Tuhan bagi kita di hari perayaan kenaikan Tuhan Yesus, diambil dari Mzm. 47:1-9. Judul perikopnya: Allah, Raja seluruh bumi. Pengertian raja di zaman dahulu sangat berbeda dengan raja di masa kini. Kita tahu masih banyak negara-negara di dunia memiliki raja, namun secara umum fungsi dan kekuasaannya lebih kepada seremoni, simbol dari masa lalu. Memang masih ada yang memiliki hak-hak khusus di beberapa negara seperti Thailand, Monaco dan lainnya, termasuk di wilayah Afrika yang masih sama dengan raja zaman dahulu.

 

Pengertian raja di masa Mazmur ini ditulis sangat berbeda. Kewenangannya penuh dan mutlak, sepanjang dalam wilayah yang dikuasainya. Ia bebas menarik pajak, mengangkat para panglima dan pejabat, memilih istri dan selir hingga ribuan, bahkan hidup mati seseorang meski tanpa alasan yang jelas. Raja terbesar di masa PL adalah Daud, kemudian diikuti oleh Salomo, dan beberapa lainnya yang takut kepada Tuhan, seperti Uzia atau Azaeya, Omri, Yerobeam II, Hizkia, Yosia, Yosafat dan lainnya.

  

Raja umumnya diperoleh dari warisan keturunan. Tetapi banyak kisah di Alkitab raja dinobatkan karena kepahlawanannya, dan juga perlawanannya bagi kekuasaan yang zolim dan jahat terhadap rakyat. Rakyat pun menerima dan mengakuinya. Tindakan penobatan biasanya dilakukan dengan pengurapan oleh para ahli agama, sebagai simbol restu dari Allah, meski pada akhirnya semua kembali kepada manusianya. Kita tahu kisah Daud yang telah diurapi nabi Samuel, tetap menunggu hingga Saul meninggal bunuh diri.

 

Nas minggu ini menyebutkan tentang model raja yang dipuja oleh rakyat Israel. Ia mampu menaklukkan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa, memilih tanah pusaka sebagai tanah kebanggaan leluhur dan rakyatnya (ayat 4-5). Bagi umat Israel, mereka dapat melihat Allah Abraham, Isak dan Yakub memang TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Oleh karena itu layak untuk mengajak dan berkata: Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! (ayat 2-3).

 

Allah di dalam Yesus adalah Allah yang sama dengan Allah Israel. Allah Anak dan Bapa adalah Satu bersama Roh Kudus. Alkitab bercerita tentang Yesus yang lahir bukan dari benih laki-laki. Ia diurapi dan diteguhkan oleh Allah Bapa saat dibaptis Yohanes, dan saat dimuliakan di atas gunung (Mat. 3:17; 17:5). Kuasa-Nya dahsyat dengan berbagai mukjizat termasuk membangkitkan orang mati, dalam arti pemberi kehidupan. Ia diteguhkan menjadi Raja langsung oleh Allah Bapa, bukan oleh nabi-nabi.

 

Pelayanan Tuhan Yesus hanya 3,5 tahun di dunia. Tetapi hal yang dilakukan-Nya sungguh luar biasa. Tidak bisa kita mengatakan itu terjadi karena Dia Tuhan dan Anak Allah. Yesus juga manusia yang sama seperti kita. Banyak hal yang dapat kita teladani dari hidupnya, bukan dari kuasa-Nya. Ia selalu taat pada Bapa/perintah. Ia selalu rendah hati. Ia rajin berdoa. Hatinya penuh belas kasihan. Selalu mengutamakan orang lain dan bukan diri-Nya. Semua hal itu tidak ada hubungannya dengan kuasa Allah. Tetapi semua masih merupakan natur manusia yang kita juga mestinya mampu melakukannya, meski kadang tidak sempurna.

Hal lainnya yang kita lihat dari Tuhan Yesus, kerajaan yang dibangun-Nya adalah kerajaan rohani, bukan kerajaan dunia. Sebesar dan sekuat apapun Raja Daud di masanya, tetap terbatas wilayah dan masanya. Tetapi Yesus membangun Kerajaan Allah bagi seluruh dunia dan abadi. Nama Yesus tidak akan pernah hilang dari muka bumi. Untuk itu kita layak berseru bagi DIA: “Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! (ayat 7-8).

 

Melalui Mazmur minggu ini, nubuat dan peneguhan tentang Yesus terlaksana. “Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala” (ayat 6). Alkitab mengatakan Yesus telah naik kembali ke sorga dan hari ini kita peringati dan rayakan. Ia kini memerintah sebagai Raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus (ayat 9). Mari kita teladani hidup-Nya dengan hadir di tengah-tengah komunitas, keluarga, masyarakat dengan selalu memberi makna. Kehadiran kita memberi warna dalam arti menjadi berkat bagi sesama. Dengan begitu Tuhan Yesus akan senang dan nama-Nya semakin dimuliakan (ayat 10).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 10 Mei 2026

Kabar dari Bukit

  KASIH YANG TERBESAR (Yoh. 15:9-17)

  "Inilah perintah-Ku kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi." (Yoh. 15:17)

 Saya menyukai kata “Kasih” dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, kasih (nomina/kata benda) memiliki arti perasaan sayang, cinta, atau suka kepada seseorang. Selain itu, "kasih" juga dapat berarti memberi (dalam konteks percakapan/verba). Dalam Webster Dictionary juga dijelaskan Loved (kasih) diartikan sebagai peduli. Jadi kasih hakekatnya adalah memberi. Kasih berarti memberi pengorbanan untuk kepentingan dan kebahagiaan orang lain.

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu VI Paskah yang berbahagia ini adalah Yoh. 15:9-17. Ini lanjutan dari nas populer yakni Yesus adalah pokok anggur yang benar (ay. 1-8), dan kita adalah carang-carangnya. Jika tidak menyatu dengan pokoknya, maka carang akan kering dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Nas minggu ini adalah lanjutannya, mengutarakan selain berbuah juga supaya kita saling mengasihi.

 

Apa dasar kita supaya saling mengasihi? Menurut nas minggu ini, yang pertama "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu” (ay. 9). Secara paralel Yesus membuktikan, tinggal di dalam kasih-Nya berarti, “seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (ay. 10). Kasih yang mengalir dan menurun.

 

Hubungan Bapa dengan Yesus inilah yang dijadikan model teladan bagi kita. Pengertian tinggal berarti hidup menetap, melekat seperti carang kepada batang, hidup dalam hubungan yang berkelanjutan. Kita perlu memahami bahwa ketaatan bukan syarat supaya Tuhan mulai mengasihi kita, melainkan bukti bahwa kita sungguh hidup dalam kasih-Nya. Kasih yang sejati menghasilkan ketaatan, dan ketaatan yang benar lahir dari kasih.

 

Kedua, kasih yang mengalir ini akan membawa dampak dalam hidup kita, yakni kita akan hidup dalam sukacita penuh (ay. 11). Sukacita ini berasal dari hubungan erat dengan Kristus, hidup dalam kehendak-Nya dan memiliki hati yang selaras dengan rencana-Nya. Ini tidak tergantung situasi atau keadaan, melainkan hubungan yang menyatu yakni tinggal dan bertumbuh dalam Dia.

 

Ketiga, kita diminta mengasihi dengan standar yang tinggi. Tadi dijelaskan bahwa kasih itu adalah memberi. Oleh karenanya Yesus menyebutkan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (ay. 13). Ini pengorbanan tertinggi. Namun tidak semua situasi menghendaki seperti itu, kadang bisa dengan standar yang lebih rendah, seperti mengutamakan orang lain (Flp. 2:3-4), mengampuni (Mat. 18:21-22; Kol. 3:13), melayani (Gal. 5:13; 1Pet. 4:10-11) dan tetap setia sampai mati meski kita diancam dan disakiti (Why. 2:10; 2Tim. 4:7-8).

 

Hidup berkorban bagi orang lain adalah bukti kita mengasihi yang menjadikan kita sahabat Tuhan Yesus (ay. 14-15). Kita tidak lagi hamba yang melakukan karena “keharusan” tetapi karena “kesadaran” bahwa mengasihi itu lebih baik dan produktif. Kita ingat firman Tuhan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kis 20:35).

 

Bagian terakhir nas minggu ini menyebutkan bahwa Yesus mengasihi kita karena Ia telah memilih kita, dengan bertujuan supaya pergi dan menghasilkan buah dan buahnya itu tetap (ay. 16a). Kita diminta menjadi duta-duta Kristus dengan menebar kasih. Melalui kasih kepada sesama, maka kita akan diberi keistimewaan, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (ay. 16b).

 

Inilah dasar dari perintah-Nya yakni agar kita saling mengasihi (ay. 17). Sebagaimana dinyatakan pada 1Kor. 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Teruslah berkarya dalam kasih.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah (2) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026

Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 2)

 

 PENOLONG DAN PENGHIBUR (Yoh. 14:15-21)

 

 Firman Tuhan bagi kita di Minggu VI Paskah ini, Yoh. 14:15-21, menceritakan janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke sorga. Para murid masih dalam situasi khawatir pasca kematian dan kebangkitan-Nya, serta ucapan-Nya bahwa Ia akan pergi kembali kepada Bapa di sorga (ayat 19, 7:33; 8:21). Tetapi para murid dan kita orang percaya, tidak dibiarkan sebagai anak yatim piatu. Tuhan Yesus menjanjikan adanya seorang Penolong bagi kita semua (ayat 16). Dalam ayat 26 ditegaskan, bahwa Ia juga Penghibur yakni Roh Kudus, yang diutus Bapa dalam nama Yesus. Kasih Tuhan, sungguh tidak pernah hilang dan terputus bagi kita.

 

 

 

Pengertian Penolong dalam nas ini berasal dari kata Yunani parakletos yang berarti: Pembela. Istilah ini sering dipakai dalam pengadilan Romawi saat itu. Parakletos adalah pihak yang dapat mewakili seseorang di hadapan hakim. Alkitab KJV/NIV menerjemahkan parakletos sebagai Advocate dan versi RSV menerjemahkannya sebagai Counselor. Istilah Penolong dan Penghibur memang hanya ada pada kitab Yohannes (juga 1 ayat di 1Yoh.), tidak terdapat pada Injil lainnya dan surat-surat rasuli.

 

 

 

Ayat 16 nas ini menegaskan Roh itu “Pribadi” dalam wujud lain. Nah, urusan Tuhan Yesus dan Bapa adalah SATU belum selesai saat itu, terus muncul Pribadi lain. Tetapi bagi kita, kehadiran Tuhan Yesus dan Roh Kudus sebagai Tritunggal bersama Allah Bapa, SATU hakekat dalam tiga Pribadi, tiga peran, semakin meneguhkan dan melengkapi kasih Allah kepada kita umat-Nya. Oleh karenanya dituliskan, dunia tidak melihat dan mengenal-Nya, tetapi kita yang mengasihi-Nya, akan mengenal Dia. "Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (ayat 17a, 20). Ini menjelaskan ayat yang mengatakan, mengapa dunia tidak (semua) mengenal dan menerima-Nya.

 

 

 

Sukacita kita, Roh Kebenaran itu tinggal menyertai dan diam di dalam (hati) kita (ayat 17b). Para murid memang tidak lagi melihat Yesus dengan mata duniawi. Tetapi Roh mengajar mereka melihat dengan mata rohani, Allah tetap hadir dan hidup di dalam diri mereka. Ini yang membuat mereka terus berkarya, melanjutkan pekerjaan Tuhan Yesus bersama Penolong yang menyertai. "Aku hidup dan kamupun akan hidup" (ayat 19b). Janji penyertaan-Nya itu terus berlangsung hingga kini. Ia Penolong, Pelindung, Penghibur, dan Pemberi kebenaran bagi kita semua.

 

 

 

Firman minggu ini semakin menegaskan, Roh Penolong dan Penghibur hanya akan diberikan kepada kita yang mengasihi Dia. Ini tentu sangat wajar. Ketika kita mengasihi seseorang, maka biasanya yang datang menghibur kita adalah yang kita kasihi. "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.... Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (ayat 15, 21). Ada ketaatan. Ada kesetiaan untuk mengasihi Dia, dan pelaku Firman-Nya. Ia pun akan semakin menyatakan diri-Nya kepada kita (ayat 21).

 

 

 

Kasih-Nya tidak berubah, tetapi mewujudkan kasih kepada-Nya, bisa berubah sesuai konteks situasinya. Saat pandemi Covid ini kita tidak dapat berkunjung ke gereja, bersekutu bersama di Bait-Nya. Tetapi mari kita tetap setia, ikut beribadah dari rumah, mengirim atau menyalurkan persembahan. Itulah yang diminta, dan Ia juga berkata dengan hati senang: "Aku akan datang kembali kepadamu" (ayat 18b).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026

Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026

 

 SIAP SEDIALAH MEMBERI PERTANGGUNGJAWABAN (1Pet. 3:13-22)

 

Bacaan lainnya: Kis. 17:22-31; Mzm. 66:8-20; Yoh. 14:15-21

 

 Pendahuluan

 

Rasul Petrus melalui nas minggu ini menekankan kembali kerelaan Kristus untuk menderita bagi kita yang berdosa, dan kemenangan-Nya menjadi dasar dan kekuatan bagi orang Kristen yang menderita bagi-Nya. Kita diselamatkan untuk menerima panggilan tugas dengan meninggalkan semua keinginan nafsu jahat dan melakukan perbuatan baik. Ada banyak dasar yang membuat manusia berdosa, akan tetapi penderitaan karena Kristus dan kebenaran-Nya sangat menyenangkan bagi Allah, terlebih melalui hati nurani yang murni. Melalui nas minggu ini kita juga diberikan pengajaran tentang kesiapan dalam memberi pertanggungjawaban baik kepada Allah maupun sesama manusia. Pokok pemikiran dan teladannya sebagai berikut.

 

 

 

Pertama:  Menderita karena kebenaran (ayat 12-15a)

 

Ada peribahasa Indonesia yang cukup dikenal mengatakan, “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.” Makna dari peribahasa ini adalah: nasib buruk tidak dapat dihindari, akan tetapi nasib baik juga tak dapat dicari-cari. Kehidupan yang ada di depan kita semua adalah rahasia Tuhan; kemalangan atau keuntungan bisa datang secara tidak terduga tanpa disangka-sangka. Istilah kemalangan dan penderitaan bisa sama, tetapi juga bisa berbeda, yakni kemalangan sering diasosiasikan dengan penderitaan yang tidak seharusnya dia tanggung. Kita tahu bahwa penderitaan dalam hal ini bisa berasal dari tiga sumber: Pertama, memang itu sudah menjadi bagian dari kemanusiaan kita (human nature), bahwa kita bisa lelah, ngantuk, lapar dan haus, sakit bahkan renta karena faktor usia. Kedua, penderitaan oleh karena perbuatan atau ulah kita sendiri. Seseorang yang boros, pengaturan keuangan lebih besar pasak dari tiang, maka suatu saat ia pasti menderita karena hutang. Seseorang yang tidak banyak beraktivitas fisik atau berolah-raga tetapi makan banyak dengan cara tidak sehat, maka janganlah heran suatu saat ia akan sakit jantung atau stroke. Semua itu ada sebab akibat, ada kausalitasnya, bahkan kadang muncul casus belli atau pemicu sehingga proses penderitaan itu terjadi lebih cepat.

 

 

 

Orang percaya diminta berbuat kebaikan dan hal itu jangan dianggap sebagai beban. Nas minggu ini mengatakan kalau kita berbuat baik maka sangat jauh kemungkinan ada yang mau berbuat jahat kepada kita. Kebaikan biasanya berbuah kebaikan. Pohon yang baik akan berbuah yang baik. Tetapi faktor ketiga yang menjadi kemungkinan lain dari dua hal di atas, bisa saja penderitaan itu datang karena niat baik yang dijalankan secara salah, sehingga timbul salah pengertian, akibatnya muncul pertentangan dan bahkan kekerasan yang berakhir dengan penderitaan. Dari tiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa penyebab semua itu adalah manusia sendiri, bukan karena kehendak Allah. Adapun faktor keempat yang dinyatakan dalam nas ini adalah ketika kita menjalankan perintah Kristus dalam kehidupan kekristenan kita, dan ternyata datang penderitaan, maka itu adalah kehendak Allah (1Pet. 2:19, 20; 4:16). Hal demikian bisa datang ketika kita memberitakan Injil dengan cara yang bijak, mempertahankan iman dan prinsip kebenaran kita sehingga mendapat pengucilan karena tidak mau berkomplot berbuat kejahatan, atau adanya kejadian yang tidak terduga tanpa sebab-musabab yang jelas timbul penderitaan. Itu semua adalah misteri dan hikmat Allah. Allah berkehendak. Firman dalam nas ini mengatakan, yang penting janganlah kita menjadi takut dan gentar, sebab semua dalam kendali Allah dan Ia tidak akan membiarkan kita menjalaninya sendirian dan berputus asa. Kita ingat saja perkataan Kristus, "Janganlah kamu khawatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh Kudus" (Mrk. 13:11). Oleh karena itu, dalam menghadapi penderitaan itu, tetaplah bersandar pada-Nya.

 

 

 

Hal yang utama ditekankan adalah kita harus tetap menguduskan diri dalam pengertian berusaha hidup dalam kebenaran dan jauh dari niat dan perbuatan jahat. Pengudusan itu dimulai dari hati sebab dari hatilah semua bermula. Dengan hidup kudus maka kita memberi apresiasi dan sikap hormat pada Kristus Yesus sebagai Tuhan, “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Kita memelihara kehadiran Roh Kudus dalam hati, menjaga hati tidak tercemar. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa iman adalah hal personal dan merupakan urusan pribadi masing-masing. Kenyataannya tidak seperti itu. Kita dipanggil untuk memberitakan iman dan pengharapan kita dalam hidup ini. Pertanyaannya: apakah orang lain dapat melihat pengharapan kita dalam Kristus? Bagaimana kita memperlihatkan iman, kasih dan pengharapan itu? Apakah kita siap dalam menceritakan yang dilakukan oleh Kristus dalam kehidupan kita? Kita adalah saksi nyata bagi Kristus dan yang menuntun orang lain kepada-Nya. Orang lain menaruh pengharapan pada kita, melihat diri kita sebagai cermin atau Alkitab yang terbuka bagi mereka.

 

 

 

Kedua: Karya dan teladan Kristus (ayat 15b-18a)

 

Sebagai duta Kristus dan buku yang terbuka, kita harus siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kita tentang pengharapan pada Kristus. Semua itu dalam sikap atas anugerah yang telah diberikan dan panggilan yang dipercayakan pada kita untuk memberitakan Injil dan memuliakan nama-Nya (2Ti. 4:17). Memang benar bahwa dalam membagikan iman dan kasih, kita tidak perlu secara heboh bombastis pencitraan atau ingin dipuji, atau bahkan dengan cara menjengkelkan, atau bersikap sombong. Akan tetapi, kita harus selalu siap dalam memberi jawaban dengan lembut dan penuh kasih, ketika orang lain melihat dan bertanya tentang iman kita, pengharapan dan kehidupan kita, atau visi kehidupan kristiani kita. Jadi, pertanggungjawaban dalam hal ini bukan hanya kepada Allah saja, tetapi juga kepada sesama kita di dunia, sehingga jangan sampai hal yang kita imani dan katakan ternyata tidak sama dengan sikap dan perbuatan kita (band. Kol. 4:6). Artinya, kita NATO (No Action Talk Only), tidak memiliki integritas, yakni satunya perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu yang harus kita perlihatkan adalah sikap hormat dengan hati yang tulus murni. Sikap itu membuat orang lebih mudah percaya pada Kristus. Jangan sampai orang mencemoh apalagi membenci kita yang seharusnya menjadi teladan bagi mereka.

 

 

 

Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak dapat menghindari ketika orang lain memfitnah diri kita. Akan tetapi setidaknya kita dapat menghentikan memberi orang lain kesempatan dan amunisi-amunisi peluru untuk menyerang diri kita, melalui tindakan kita yang konyol dan tidak layak. Kita harus memegang prinsip, sepanjang kita melakukan hal dan cara yang benar, tuduhan-tuduhan mereka akan kosong tidak berguna. Kita ingat ketika Tuhan Yesus melalui hidupnya yang saleh, tetap mendapatkan penderitaan. Akan tetapi semua itu akhirnya mempermalukan diri mereka sendiri sebagaimana nas minggu ini menjelaskan. Oleh karena itulah, jauhkan diri kita dari sikap yang mengundang kritik atau cela. Kalau pun kita menderita karena Kristus dan kebenaran, penderitaan itu pasti atas seizin Allah untuk maksud dan rencana yang baik, dan itu lebih baik, sebab bukan karena buah perbuatan jahat atau tindakan yang memalukan Kristus dalam hidup kita.

 

 

 

Dengan mengikut teladan Kristus dan menjadikan Dia sebagai idola (role model), maka kita memberi jalan masuk bagi orang lain menuju Allah Bapa. Kita nyatakan dengan perbuatan bahwa Ia telah menebus kita dengan tersalib di Golgota dan itu menjadi pengganti diri kita yang layak mati karena dosa dan kejahatan kita. Kita juga dapat memperlihatkan Kristus yang memperoleh anugerah Allah Bapa dengan dibangkitkan. Allah Bapa menjanjikan kemenangan pada Kristus sama seperti janji-Nya kepada kita yang ikut menang kalau setia mengikut Dia. Kita lihat teladan Stafanus yang mati dilempari batu oleh orang-orang yang membenci Kristus, tetapi ketika ia hendak mati, rohnya melihat Yesus Kristus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa, menyambutnya. Sungguh merupakan kebanggan bagi kita orang percaya agar bisa sama dengan Stefanus (Kis. 7:54-60). Stefanus membuat Tuhan Yesus sebagai teladan dan sumber kekuatannya. Ia sadar dan ingat Yesus telah menderita baginya. Dalam kerangka itulah, penderitaan yang demikian bukanlah hukuman dari Allah, melainkan sebuah kesempatan pengorbanan yang diperkenankan oleh Allah untuk memurnikan iman umat yang dikasihi-Nya (band. 1Pet. 1:7-9; Kis. 23:1).

 

 

 

Ketiga: Pemberitaan Injil ke dunia orang mati (ayat 18b-20)

 

Kita tahu bahwa Yesus mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Akan tetapi ayat 19 pada nas ini menyebutkan kalau Yesus "di dalam Roh Ia  memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara." Ini kalimat yang susah dipahami. Ahli-ahli teologi sendiri memiliki pendapat yang beragam tentang hal ini. Penafsiran tradisional mengatakan bahwa pemberitaan Injil dilakukan Yesus setelah mati disalibkan, yakni pada masa antara tiga hari sebelum kebangkitan-Nya, Ia turun ke dunia orang mati dan memberitakan kasih karunia kepada roh-roh yang dipenjara di dunia orang mati. Hal ini dimungkinkan sebab meski tubuh-Nya mati, Roh Kristus itu tetap hidup dan berkuasa dalam melakukan pemberitaan penebusan bagi mereka yang terlebih dahulu mati (band. Mat. 27:52, Ibr. 11:39 dst.; Ib.r 12:23). Ini sejalan juga dengan 1Pet. 4:6 yang menyatakan Injil diberitakan kepada orang-orang mati. Memang dalam hal ini ada beberapa pertanyaan: kepada siapa Kristus memberitakan keselamatan di dunia orang mati itu? Apakah mereka yang belum selamat dan mendapatkan kasih anugerah Allah? Atau kepada mereka yang setia pada Allah yang mati pada zaman Perjanjian Lama, yakni orang-orang benar yang menanti-nantikan keselamatan melalui Mesias yaitu Yesus sendiri.

 

 

 

Penafsiran lain khususnya ayat 20 mengatakan bahwa Roh Yesus khusus pergi memberitakan kepada mereka yang tertawan dalam dosa (atau ada di neraka) pada zaman Nuh. Pada saat itu yang diselamatkan hanya delapan orang saja (Kej. 8:1-dab), untuk itu Allah tetap menanti dengan sabar. Tafsiran lainnya ialah bahwa Kristus oleh Roh Kudus memberitakan suatu peringatan melalui mulut Nuh (band. 2Pet. 2:5) kepada angkatan Nuh yang tidak taat, dan kini berada di Hades menantikan penghakiman terakhir. Penafsiran ini lebih sesuai dengan pernyataan Rasul Petrus bahwa Roh Kristus berbicara di masa lalu melalui para nabi termasuk Nuh (2Pet. 1:20-21). Sementara yang lain mengatakan bahwa Kristus pergi ke dunia alam maut (Hades) untuk menyatakan kemenangan-Nya sebagai sebuah proklamasi secara umum, pemberitaan dan pengumuman, dan menyatakan penghukuman final kepada para malaikat-malaikat yang jatuh dihukum sejak masa Nuh (2Pet. 2:4). Jadi bisa dikatakan bahwa semua pemberitaan itu merupakan kesempatan kedua yang belum sempat mendengar penebusan Kristus sebagai anugerah khusus Allah, di mana Yesus memberitakan kepada mereka kemenangan-Nya atas kematian dan Iblis (ayat 1Pet. 3:22). Namun, beberapa penafsir mengatakan bahwa nas ini lebih baik ditafsirkan sesuai dengan konteks kebenaran yang ada pada seluruh Alkitab saja.

 

 

 

Mengingat rumitnya penafsiran itu dan sesuai anjuran terakhir, ada baiknya nas ini ditafsirkan sebagai bukti yang memperlihatkan bahwa Kabar Baik keselamatan dan kemenangan Kristus itu tidak terbatas. Kabar baik itu melampaui dunia orang hidup dan dunia orang mati. Melalui nas ini kita menemukan poin penting, yakni:

 

(1) Allah berbicara. Kita tidak perlu berteka-teki atas apa, di mana, dan bagaimana, namun kita dapat melihat bahwa Allah berbicara kepada dunia orang hidup dan dunia orang mati (band. 1Pet. 4:6).

 

(2) Allah menang. Kemenangan Kristus diwartakan, memperlihatkan kuasa-Nya, pengendalian-Nya, dan penguasaan-Nya atas seluruh ciptaan.

 

(3) Allah menyelamatkan. Allah berusaha untuk menyelamatkan mereka yang berharap kepada-Nya.

 

 

 

Misteri firman ini menceritakan kepada kita, dan itu lebih dari cukup sebagai bagian dari keyakinan (syahadat) iman, yang menjadi isi pengakuan iman Rasuli dengan kalimat, "yang turun ke dalam kerajaan maut", dan saat ini duduk di sebelah kanan Allah Bapa (1Pet. 3:22) untuk menantikan penghakiman bagi orang yang hidup dan yang mati ( 1Pet. 4:5; Ibr. 9:27).

 

 

 

Keempat: Diselamatkan oleh hati nurani yang baik (ayat 21-22)

 

Rasul Petrus menuliskan bahwa penyelamatan Nuh oleh air (bah) adalah simbol dari pembaptisan. Maka bagi kita orang percaya, pengertiannya adalah bahwa melalui baptisan air kita ungkapan pertobatan dan komitmen hidup baru, sekaligus iman kita bersandar kepada Kristus yang kita jadikan sebagai Juruselamat dan gembala hidup kita. Baptisan sebagai kiasan atau simbol, di dalamnya kita mengidentifikasi Yesus Kristus yang menarik kita dari kondisi sesat dan terhilang dan memberi kita hidup dan hubungan baru. Kesaksian iman pada saat kita dibaptis itulah yang mendatangkan keselamatan dari Kristus, jadi bukan ritualnya atau airnya yang menyelamatkan. Kehadiran air sesungguhnya hanya simbol dari iman kita bahwa Kristus telah mati dan bangkit dan ritualnya sama: dicelupkan dan diangkat. Dengan demikian, baptisan adalah sebagai simbol pembersihan hati orang-orang percaya dan jelas bukan pembersihan tubuh jasmani (Rm. 6:3-5; Gal. 3:27; Kol. 2:12).

 

 

 

Melalui pengakuan dan baptisan, kita juga memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah, yang secara pribadi kita sudah ditahirkan oleh kebangkitan Yesus Kristus (zaman dahulu baptisan sering dilayankan pada masa Paskah), untuk menyerahkan hidup kita seluruhnya dalam kendali-Nya. Penyerahan diri dalam hal ini adalah kerjasama ikhlas sukarela satu sama lain: pertama, kasih dan rasa hormat bagi Allah; dan kedua, kasih dan rasa hormat kepada sesama. Penyerahan diri atau rasa takluk dalam hal ini memiliki empat dimensi: (1) Bersifat fungsional, yakni membedakan peran dan panggilan tugas. (2) Bersifat hubungan, yakni pengakuan kasih terhadap yang lain sebagai pribadi (3) Bersifat timbal balik, yakni memperlihatkan saling menguntungkan dan kerjasama dengan kerendahan hati satu sama lain. (4) Bersifat universal, yakni pengakuan oleh gereja atas ketuhanan dari Yesus Kristus. Inilah hal utama yang membawa orang percaya kepada Kristus, dan karena itu pula penyerahan diri bagi orang yang tidak percaya menjadi hal yang sulit.

 

 

 

Dalam hal penyerahan diri, kita tidak dipanggil untuk mengkompromikan hubungan dengan orang yang tidak percaya, yang membuat kita berkompromi atas hubungan kita dengan Kristus. Melalui kebangkitan-Nya yang saat ini duduk bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa, setelah Tuhan Yesus naik ke sorga dan segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan-Nya (Mat. 28:18; Mrk. 16:19). Ia melewati kemenangan atas penderitaan dan kematian, dan itu merupakan sumber kekuatan bagi keselamatan kita, sekaligus menjadi teladan yang harus kita ikuti.  Oleh karena itu, kita perlu membuka segala kesempatan untuk melayani-Nya dengan rendah hati atas pertolongan kuasa Roh Kudus. Kerelaan berkorban bagi orang-orang yang tidak benar, meski harus menerima penderitaan, itu adalah sikap yang menyenangkan Allah. Kesediaan berkorban dan menderita adalah ciri dan karakteristik orang percaya. Kita tidak perlu takut sebab tidak ada yang bisa mengubah kemenangan dan memisahkan kita dari Kristus (Rm. 8:38-39). Dengan mengidentifikasikan diri kita dengan Kristus (termasuk melalui baptisan), ini menjaga diri kita dari pencobaan untuk meninggalkan iman, dan kita yang menerima firman Allah melalui surat Rasul Petrus, semakin dikuatkan dan tidak murtad meski dalam tekanan penderitaan. Inilah tujuan yang semuanya berdasar pada hati nurani yang baik.

 

 

 

Penutup

 

Melalui bacaan minggu ini kembali kita sebagai orang percaya ditegaskan bahwa ada kalanya kita menderita karena kebenaran Kristus, meski kita juga harus waspada atas penderitaan yang disebabkan oleh kebodohan kita sendiri. Prinsip utamanya, berkelakuan baik akan berbuah baik dan jangan menganggap itu sebagai beban. Untuk itu kita harus melihat dan bersandar pada karya dan teladan Kristus yang bersedia mati untuk membela orang-orang yang tidak benar. Penderitaan demi kebenaran Kristus adalah jalan kemenangan. Yesus dengan segala kuasa-Nya terbukti mengasihi semua orang, baik yang hidup dan yang mati. Pada saat kematian-Nya, Ia turun ke dalam kerajaan maut untuk memberitaan Injil ke dunia orang mati agar tidak seorang pun yang binasa. Inilah gunanya kita memandang kepada Kristus. Dengan baptisan sebagai peneguhan dan komitmen, kita diselamatkan oleh hati nurani yang baik dari Yesus Kristus melalui Roh Kudus, untuk siap setiap saat mempertanggungjawabkan iman kita kepada-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026

Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 3)

 

 UJIAN MEMURNIKAN (Mzm. 66:8–20)

 

 "Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku" (Mzm. 66:16)

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Setiap orang menjalani kehidupan dengan lika–likunya masing–masing. Ada yang merasa semuanya datar saja. Kalau kata orang Batak, madosdos. Ada pula yang merasakannya seperti pasang surut, naik turun seperti roller coaster; sampai jantung serasa mau copot. Namun hidup tetap melaju, yang telah berlalu menjadi bayangan serta kenangan.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Mzm. 66:8–20. Nas ini terbagi dalam dua bagian: pertama, pergumulan hidup yang dialami (ay. 8–12); kedua, ucapan syukur kepada Tuhan atas pergumulan yang telah dilewati, dengan membawa korban persembahan dan bersaksi memuji Tuhan atas kasih setia-Nya, baik pada masa kini maupun masa lalu (ay. 13–20).

 

Pergumulan umat digambarkan seperti masuk ke dalam jaring, kemudian diberi beban di pinggang hingga serasa mau tenggelam. Tidak kalah menyakitkan, mereka juga dihina dan dilecehkan, digambarkan seolah orang–orang “melintasi kepala mereka” (ay. 11–12). Masuk ke dalam jaring adalah gambaran kejutan, seperti ikan yang tiba–tiba terseret jerat; penderitaan yang tidak disangka. Hidup memang kadang membawa kejutan yang tidak menyenangkan. Karena itu Richard W. Bowie dalam bukunya Light for the Nations mengatakan, alasan orang memerlukan Tuhan (Yesus) sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang mereka sadari.

 

Cara pandang pemazmur yang melihat Tuhan sebagai Pribadi yang “mempertahankan jiwa mereka dalam hidup” patut kita teladani. Tuhan “tidak membiarkan kaki mereka goyah.” Mereka memandang dengan iman bahwa Tuhan sedang menguji untuk memurnikan, seperti memurnikan perak (ay. 9–10). Matthew Henry menafsirkan hal ini sebagai sikap syukur kepada Tuhan yang memberikan kesempatan untuk diuji, lalu berhasil menang dan bersukacita. “Bukan keberadaan, melainkan kebahagiaanlah yang patut disebut sebagai hidup,” tulisnya.

 

Oleh karena itu, ketika sebuah cobaan atau ujian datang, baik karena ulah sendiri (walau tak disengaja), maupun ulah orang lain yang tak terduga, jangan terburu–buru mengeluh. Tuhan memberi semua itu karena Ia ingin kita naik tingkat, lebih mengenal dan bergantung kepada-Nya. Allah tidak hanya baik ketika jalan hidup berjalan mulus dan sesuai keinginan; kadang Ia mengizinkan kesulitan agar kita naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik. Respons terbaik kita adalah sesuai firman-Nya: bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28; Flp. 4:13), dan, “mengucap syukurlah dalam segala hal” (1Tes. 5:18).

 

Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa hidup penuh syukur membawa kebahagiaan dari aspek psikologis, hubungan dengan sesama, dan kesehatan fisik. Ada pula yang menambahkan bahwa sikap bersyukur membuat kita semakin dekat kepada Tuhan, jauh dari kecemasan dan tekanan, lebih tangguh, meningkatkan harga diri, lebih diberkati, serta bertumbuh dalam kerendahan hati dan kerelaan berbagi.

 

Menariknya, mengapa ada orang yang sulit bersyukur? Studi lain dari Berkeley menunjukkan tiga faktor penyebab: genetik (bawaan orangtua), struktur dan aktivitas otak, yakni bagaimana otak memberikan respons selama ini, dan terakhir, adanya “pencuri rasa syukur” seperti iri hati, materialisme, narsisme, dan sinisme. Hal ini hanya dapat dibereskan melalui latihan dan pertolongan Roh Kudus.

 

Sebagaimana pemazmur, mari kita jalani hidup dengan bersyukur dan bersaksi: “Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian” (ay. 17). Kiranya kita menjadi umat yang imamat rajani, dan kelak tempat kita tersedia di surga, seperti nas paralel minggu ini.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 51 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13873128
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1078
4351
19441
13812856
68615
154006
13873128

IP Anda: 216.73.217.17
2026-05-14 07:56

Login Form