2026
2026
Khotbah (2) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026
Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 2
GADA DAN TONGKAT (Mzm. 23)
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku
(Mzm. 23:4)
Firman Tuhan di Minggu IV Paskah hari ini diambil dari Mzm. 23. Nas ini sangat populer bagi orang Kristen, selain Yoh. 3:16 dari PB. “TUHAN, gembalaku yang baik,” itulah judul perikopnya.
Mazmur ini mengungkapkan keteguhan iman dalam menjalani kehidupan. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” sebutnya (ayat 1). Bahasa yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan iman seperti itu tidak ada lagi keraguan, tanda-tanya, atau kebingungan yang menguasai hati pikiran. Benar kata firman, iman membuat Tuhan berkenan (Ibr. 11:6; Hab. 2:4). Keteguhan iman selalu berbuahkan perasaan damai sejahtera, sukacita, puas dan kepenuhan. Bayangan ketenangan pun menguasai pikiran,
“Tuhan membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (ayat 2-3a). Bagi seorang yang menggembalakan domba di padang-padang tandus di Israel, gambaran ini sangat indah dan sungguh menyejukkan.
Tuhan tentu tidak menjanjikan perjalanan hidup semuanya indah, tanpa gelombang. Kadang ada badai, melewati lembah kekelaman dalam istilah nas ini atau dalam tafsiran lain disebut sebagai lembah bayang-bayang maut termasuk menghadapi kematian. Tetapi ada keyakinan pemazmur bahwa Tuhan menuntun, berjalan bersama kita di jalan yang benar sehingga kita pun tidak takut bahaya (ayat 4a).
Gelombang kehidupan adalah kasih sayang Tuhan untuk mendisiplinkan kita sebagai kepunyaan-Nya dengan memakai gada dan tongkat, yang dilihat pemazmur sebagai alat pertolongan dan menghibur (ayat 4b). Gada adalah pemukul pendek yang dipakai gembala sebagai alat pertahanan dan pendisiplinan domba. Tongkat adalah simbol pertolongan yang melengkung di ujungnya, untuk menarik leher domba ke jalan yang benar. Gada dan tongkat sekaligus simbol kuasa dan kekuasaan Tuhan (Kej. 49:10; Ayub 9:34). Hal yang menarik, gada terlebih dahulu disebut, baru tongkat. Oleh karena itu untuk memperoleh pertolongan Tuhan, kita perlu disiplin dan taat dalam kuasa serta penggembalaan-Nya.
Alkitab menjelaskan bahwa kekelaman atau bayang-bayang maut terjadi ketika kita jatuh, dalam pergumulan berupa sakit yang berat, kondisi ekonomi yang sulit, anak/keluarga yang bermasalah serius, cekcok dengan orang lain, dan bentuk lainnya. Situasi ini sering mendorong iblis untuk membujuk kita agar kecewa terhadap Tuhan. Tetapi pemazmur mengatakan, ia tidak pernah ditinggalkan dan berkekurangan. ”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (ayat 5). Sebuah penegasan kembali, sebab Tuhan berkenan dan memenuhi semua kebutuhan (bukan keinginan), ketika kita dalam lembah kelam termasuk menghadapi musuh. Piala dalam nas ini menggambarkan batu besar yang berlubang, tempat minum domba-domba. Gembala yang baik memang menyediakan segala keperluan dombanya.
Puncak kerinduan setiap orang percaya adalah hidupnya selamat, di dunia ini dengan penuh berkat hikmat dan keperluan tubuh dan jiwa; selamat juga kelak di akhirat bertemu Tuhan dan orang-orang yang dikasihi. Membayangkan hal itulah pemazmur mengungkapkan di ayat terakhir, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”
Adakah sukacita hidup yang melebihi semua itu? Saya kira, tidak ada. Ya, ayo jalani hidup kita ini tidak hanya mengandalkan pikiran, tetapi mengikuti Penuntun yang hidup, Gembala yang Baik. Itulah Yesus Tuhan yang berkata: “Akulah Gembala yang baik....” (Yoh. 10:14).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026
Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 3
PERGUMULAN DAN KESAKSIAN (Yoh. 9:1-41)
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu IV Pra Paskah dari Yoh. 9:1-41. Ini kisah yang panjang tentang Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir, hingga berkembang ke masalah melakukan pekerjaan di hari Sabat. Tentang orang yang lahir buta, murid-murid bertanya kepada Yesus: "Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (ayat 2). Hal seperti ini tentu juga kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, ketika sebuah pergumulan penderitaan datang, dapat berupa sakit, kecelakaan membuat cacat fisik, atau penderitaan berat lainnya ke dalam kehidupan kita pribadi, keluarga atau sahabat.
Apa dosaku? Apa dosa orang tuaku, sehingga aku/dia mengalami hal seperti ini? Itu pertanyaan lumrah yang manusiawi. Dan Tuhan Yesus menjawab dengan sangat tegas dan mencerahkan melalui nas ini: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ayat 3). Artinya, dalam setiap situasi, Allah dapat bekerja untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya, meski dalam penglihatan manusia itu berupa penderitaan fisik atau jiwa.
Betul, Alkitab berkata dosa membawa konsekuensi ke anak cucu, sebagaimana isi hukum Taurat kedua (Kel. 20:7) dan pengakuan Raja Daud, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku" (Mzm. 51:5). Tetapi ketika kita di dalam Tuhan Yesus, rantai dosa ini telah putus oleh penebusan-Nya atas segala dosa-dosa kita termasuk dosa turunan, melalui baptisan dan pengakuan percaya, serta kita pun terus berusaha taat kepada-Nya. Dan, kita juga setia menyatakan pekerjaan Allah di sekitar kita.
Tantangan dan godaan selalu ada. Dalam nas ini, kaum Farisi ingin menjebak Tuhan Yesus dengan alasan melakukan pekerjaan di hari Sabat (penolakan yang sama pada penyembuhan di kolam Betesda, Yoh. 5:1-18). Orang yang dicelikkan matanya itu pun terus didesak untuk menyudutkan Yesus, tetapi justru pengakuannya menjadi kesaksian bagi yang mendengar (ayat 11, 17). Bahkan ia mengatakan: "Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.... Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 31, 33). Ia bersaksi tentang Yesus meski ia harus dibuang dari kelompoknya (ayat 34).
Di tengah masalah pandemic Virus Corona 2019 yang menakutkan dunia, kita perlu bersaksi mengikuti perkataan Tuhan Yesus di ayat 3-4: "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”
Banyak hal yang orang percaya dapat perbuat sebagai kesaksian pekerjaan Allah, menjadi terang bagi sesama. Berkarya nyata, dan bukan dengan sombong rohani seolah-olah menguji Tuhan mengabaikan bahaya. Bagi yang tidak melakukan dan hanya takut semata atau mementingkan diri sendiri, kita juga diingatkan-Nya dalam ayat 41 terakhir: “Sekiranya kamu buta (tidak tahu - penulis), kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (band. Yak. 4:17). Nah, apapun pergumulan kita, jadikanlah itu kesaksian untuk kemuliaan-Nya. Itulah jalan menyenangkan hati Tuhan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
KETEKUNAN, TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Rm. 5:1-11)
Bacaan lainnya: Kel. 17:1-7; Mzm. 95; Yoh. 4:5-42
Pendahuluan
Minggu ini kita kembali diberikan peneguhan bahwa melalui iman kepada Tuhan Yesus kita banyak menerima berkat. Berkat anugerah itu tidak hanya kita dibenarkan, tetapi juga berbagai berkat yang disediakan Allah bagi kita yang setia dan mengasihi-Nya. Selain kita diberi keselamatan, kita juga dibebaskan dari murka Allah masa kini maupun masa mendatang, dan terutama Roh Kudus dicurahkan untuk menolong kita dalam mengarungi kehidupan ini. Melalui nas yang kita baca minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Perdamaian sebagai buah pembenaran (ayat 1-2)
Nas ini kembali menegaskan bahwa melalui iman kita dibenarkan dan karena kita dibenarkan ternyata berkat-berkat anugerah tidak berhenti di situ saja; dengan dibenarkan kita juga diperdamaikan dengan Allah dan itu merupakan jalan masuk dan jaminan keselamatan yang diberikan. Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita akan masuk ke dalam kasih karunia Allah yang semakin sempurna dengan menikmati damai sejahtera dengan Dia. Kalau selama ini tidak ada yang dapat menghampiri Allah, melalui pendamaian manusia tidak lagi memerlukan perantara imam untuk datang kepada Allah, sehingga terjalin persekutuan langsung manusia dengan-Nya (band. Ef. 3:12). Dengan dibenarkan dan diperdamaikan, kita juga memiliki penyertaan Roh Kudus, bebas dari hukuman murka Allah, dan pengharapan akan kemuliaan-Nya. Kita berdamai dengan Allah bukan dalam pengertian rasa damai biasa di hati seperti keteduhan dan ketenangan. Damai dengan Allah berarti terjadi rekonsiliasi dengan Pencipta kita, Tuan dan sekaligus Tuhan kita. Tidak ada lagi permusuhan antara kita dengan Dia, tidak ada lagi dosa yang membentengi hubungan kita dengan-Nya. Damai dengan Allah itu terjadi hanya karena Yesus telah membayar lunas dan menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib.
Pembenaran dan perdamaian dengan Allah ini memuat konsep yang penting dan mengantarkan kita pada dua jenis kehidupan orang Kristen. Di satu sisi kita sepenuhnya berada di dalam Kristus, yang berarti penerimaan kita pada-Nya dijamin, dan di sisi lain kita juga bertumbuh di dalam Kristus dengan pengertian yang semakin hari harus semakin sama dengan Dia. Kita juga diberikan dua status sekaligus, yakni menjadi anak-anak Raja tetapi juga sebagai hamba kerajaan. Dalam hal ini kita merasakan dua hal yang bersamaan setiap saat: kehadiran Kristus yang memberi rasa damai dan tekanan kedagingan dari iblis untuk keinginan berbuat dosa. Kita bisa merasakan damai sejahtera dari Allah karena kita sudah diterima-Nya, tetapi kita juga masih hidup di dunia ini dengan permasalahan dan pergumulan sehari-hari. Padahal, semestinya permasalahan dan pergumulan itu menjadi cara dan jalan bagi kita untuk bertumbuh menjadi sama dengan Dia, namun ada juga di antara kita yang jatuh menuruti kehendak iblis dan daging sehingga membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Apabila kita memahami dua sisi kehidupan orang Kristen ini dalam keseharian kita, maka sebenarnya kita tidak mudah berputus asa dalam setiap pergumulan dan permasalahan yang datang, melainkan kita belajar untuk berserah dan bergantung pada kekuatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Roh Kudus yang diam dalam hati kita.
Nas firman Tuhan ini juga menyatakan bahwa sebagai orang percaya, kita berdiri di tempat yang tinggi dan diistemewakan. Kita diperdamaikan dan sekaligus mengambil bagian dalam kemuliaan Allah. Ini terjadi bukan hanya karena kita sudah dinyatakan tidak bersalah, tetapi juga karena Tuhan menarik dan merangkul kita lebih dekat kepada-Nya. Kita tidak lagi menjadi seteru-Nya tetapi menjadi sahabat-Nya dan bahkan menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 15:15; Gal. 4:5). Hubungan yang sudah terputus dan tertutup karena dosa kini dipulihkan melalui jalan yang dibuka Yesus Kristus dengan kematian-Nya. Dia yang betakhta Raja kini membuka diri-Nya, dan kita tadinya sebagai seteru kini sebagai sekutu. Inilah jalan masuk ke dalam kasih karunia yang begitu besar sebagai buah kita dibenarkan karena iman dan kebenaran itu menuntun kita kepada iman yang berbuah untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kedua: Kesengsaraan membawa ketekunan dan tahan uji (ayat 3-4)
Bagian terakhir dari berkat-berkat anugerah yang disediakan dari hasil pembenaran itu memampukan kita bermegah dalam kesengsaraan. Ini mungkin sesuatu yang aneh, sesuatu yang dianggap salah; bagaimana kita bisa bermegah dalam kesengsaraan? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita bermegah dan bersukacita di dalam penderitaan, bukan karena kita menyukai penderitaan itu atau menolak pandangan bahwa bagaimanapun penderitaan adalah sebuah tragedi. Akan tetapi, kita berani bermegah karena tahu bahwa Allah yang baik itu menggunakan penderitaan yang kita alami (dan/atau setan yang menyerang) bertujuan membangun karakter kita. Permasalahan dan pergumulan yang kita harus hadapi dan menangkan akan membangun ketekunan dan tahan uji, yang sekaligus menguatkan karakter kita, mempertebal iman percaya kepada Allah dan memberi kita keyakinan akan pengharapan masa depan. Kita pasti dihadapkan dengan persoalan ini setiap hari dalam tingkatan yang kecil sampai besar, maka berterimakasihlah kepada Allah untuk kesempatan bertumbuh, dan bekerjasama dengan-Nya dalam mengatasi persoalan itu sampai menang (band. 1Pet. 1:6-7).
Dalam abad-abad awal masehi kehidupan kekristenan penuh dengan penderitaan. Semua rasul dibunuh atau mati dengan cara-cara yang kejam dan menyedihkan. Orang-orang percaya harus melarikan diri dari kejaran pembenci pengikut Yesus. Kisah-kisah menyedihkan orang Kristen seperti tubuhnya dibakar untuk dijadikan obor penerang sudah pernah kita dengar. Oleh karena itu, penderitaan bagaikan sebuah hal yang umum dan bukan sebuah pengecualian. Tapi melalui firman Tuhan ini kita diajar bahwa untuk kita "menjadi" berhasil di masa mendatang itu kita harus "jadi" (to become we must overcome). Artinya, kita harus menjalani pengalaman-pengalaman yang sulit untuk lebih bertumbuh, pengalaman penderitaan dan ujian dalam bentuk kesusahan, seperti penyakit tubuh, keuangan, penindasan dan ketidakadilan bahkan kesepian dan kesendirian. Semua ini menantang kita untuk bertekun, bukan berputus asa atau mengeluh, apalagi menghujat pihak lain (Yak. 1:2-4, 12). Yang penting dari semua itu adalah kita mengimani kalau kesengsaraan yang datang adalah sepengetahuan Allah.
Paulus menyatakan dalam 1Kor. 13:13 bahwa iman, pengharapan dan kasih adalah inti dari kehidupan Kristiani. Hubungan kita dengan Allah didasari oleh iman, yang menolong dan menyadarkan kita bahwa hidup kita harus siap dengan segala rencana Tuhan, baik dipakai melalui sukacita dan ujian. Ketekunan di sini melebihi kesabaran, sama dengan semangat tidak mau menyerah dan daya juang yang tinggi, dan melalui ketekunan itulah kita mendapatkan tahan uji, dalam arti kita mampu melewati ujian yang diberikan dengan kemenangan. Tahan uji berarti bebas dari kotoran yang mengganggu dan handal terpercaya dalam setiap situasi, tidak berputus asa, dan hal seperti inilah yang kemudian menimbulkan pengharapan akan hari esok yang lebih baik dan cemerlang. Jadi, dalam hal ini ada hubungan segaris antara penderitaan – ketekunan – tahan uji – dan pengharapan. Pengharapan itu hadir dan bertumbuh sebab melalui penderitaan kita mempelajari semua yang telah direncanakan oleh Tuhan bagi kita; itu memberi kita janji yang penuh keyakinan akan masa depan. Kasih yang Allah berikan untuk mengisi hidup kita akan memberi kita kemampuan untuk membaginya dengan orang lain.
Ketiga: Kasih Allah tercurah di hati kita (ayat 5-8)
Firman Tuhan mengatakan "ketika kita masih orang berdosa" Yesus mati bagi kita, ini jelas sebuah kalimat yang indah dan bukti konkret tentang kasih yang besar. Kalau seseorang berkorban bahkan mati untuk membela orang benar, itu sesuatu yang biasa dan lumrah. Tetapi Yesus mati bagi kita yang durhaka dan orang tidak benar, jelas itu perbuatan yang tidak terkira, karena kita tidak layak menerimanya. Bahkan semua kematian dan penebusan Yesus itu terjadi bukan karena kehebatan perbuatan kita, tetapi hanya karena Allah mengasihi kita. Atau, apakah mungkin kita ragu? Maka apabila kita merasa goyang atau tidak yakin bahwa Allah mengasihi kita sedemikian besar, ingatlah bahwa Allah sebenarnya mengasihi kita sebelum kita bertobat. Jika Allah mengasihi kita pada saat kita masih durhaka, maka kita kini diyakinkan akan kasih-Nya, dan kita cukup membalasnya dengan kasih kepada-Nya.
Kita mungkin merasa lemah dan putus asa karena kita tidak melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan dan apa yang kita terima untuk menolong diri kita sendiri. Kita mungkin hanya mengeluh, menyesali, menyalahkan atau bahkan kemudian tidak percaya ada Allah melalui Roh Kudus yang sedia membantu. "Sesuatu" perlu datang untuk menolong dan menyelamatkan kita yang lemah. Pengertian lemah di sini mengacu pada moral dan rohani, meski kadang dalam pengertian tubuh dan jiwa. Kristus terbukti datang memberi pertolongan pada saat yang tepat sesuai sejarah 2000 tahun yang lalu, tetapi Ia juga datang tepat pada saatnya sesuai dengan waktu terbaik dari Tuhan. Memang kadang kita tidak sabar atau ingin lari mencari pertolongan lain, tetapi tetaplah sabar dan bertekunlah hingga waktu terbaik dari Tuhan itu dinyatakan. Allah mengendalikan waktu dan sejarah, mengontrol setiap cara, gerak dan metode yang pas bagi kita untuk keluar dari persoalan yang ada.
Allah Tritunggal terlibat dalam peristiwa keselamatan. Allah Bapa begitu mengasihi kita sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjembatani hubungan kita yang berdosa dengan Dia (Yoh. 3:16). Kasih Allah memang sungguh luar biasa, bahkan kasih itu tidak berhenti sampai di situ. Untuk memperlihatkan kasih-Nya tidak sesaat melainkan selamanya, Allah Bapa dan Allah Anak mengirimkan dan mencurahkan Roh Kudus mengisi hati kita dengan penuh kuasa dan memampukan kita hidup dengan kuasa-Nya (Kis. 1:8). Kata dicurahkan dalam nas ini berarti keadaan yang berlangsung terus menerus tanpa henti. Dengan demikian, Roh Kudus yang tercurah hadir untuk menghibur kita dalam setiap pencobaan dan mendukung dalam setiap keadaan, sehingga segala persoalan dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (Flp. 4:13). Dengan semua kasih yang besar tercurah dari Allah, bagaimana kita tidak mau melayani Dia dengan sepenuh hati sebagai balasan kasih-Nya?
Keempat: Kasih Allah menyelamatkan kita dari murka-Nya (ayat 9-11)
Kasih yang menyebabkan kematian Yesus sama dengan kasih yang Allah berikan melalui Roh Kudus yang hidup di dalam hati kita dan siap memimpin dan menyertai kita dalam hidup ini. Kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian adalah sama dengan kuasa yang menyelamatkan hidup kita dari dosa-dosa, dan sama dengan kuasa yang memimpin keseharian kita. Dengan memulai hidup dengan Kristus, kita akan memiliki kuasa dan kasih besar yang siaga saat menghadapi pergumulan hidup setiap hari. Melalui iman kepada penebusan Kristus, kita menjadi dekat dan berkonsiliasi dengan Allah, bukan lagi menjadi musuh atau menjadi orang yang terbuang.
Allah itu kudus dan tidak berinteraksi dengan dosa. Semua manusia telah berdosa dan terpisah dari Allah dan ini membuat kita melanggar kekudusan Allah. Dosa juga membawa penghukuman berupa murka Allah, bukan saja saat ini, tapi juga pada masa penghakiman kelak. Dan sebagai orang berdosa, sudah sepatutnya kita dihukum melalui kematian dan penderitaan selama-lamanya dengan ditempatkan di neraka. Namun Kristus telah mengambil semua ini dengan mengalami kematian dan penderitaan di atas kayu salib. Dengan penebusan itu kita diluputkan dari murka-Nya dan bahkan terbebas dari belenggu dosa yang selalu menjerat. Kita dimampukan melalui kekuatan Roh Kudus untuk melawan iblis sehingga kita terbebas dari kuk dosa yang jahat. Roh Kudus dicurahkan dalam hati kita agar hidup kita bebas dari kuasa dosa, belenggu hukum Taurat, murka, dan dari kuasa maut. Kita juga akan bebas dari “hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan kemuliaan kekuatan-Nya” (2Tes. 1:9). Oleh karena itulah kita bersukacita d idalam Kristus.
Bagian terakhir dalam nas ini menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Yesus yang telah mati dan bangkit kembali hidup, itu adalah bukti kekuasaan Allah ada pada-Nya dan kemenangan atas kematian (1Kor. 15:55). Dengan Yesus hidup bangkit dari kematian, maka kita menjadi selamat dan hidup selamanya. Dengan dasar itulah kita layak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus. Kita bermegah diselamatkan bukan karena kehebatan kita, bukan karena kekuatan atau prestasi dan perbuatan kita, melainkan hanya karena kasih-Nya. Kita juga bermegah karena kita memperoleh pengharapan kemuliaan bersama-Nya kelak, ketika Yesus Tuhan kita akan datang kembali untuk menyatakan kuasa-Nya (Kol. 3:4). Pengharapan ini tidak mengecewakan sebab dasarnya adalah kasih Allah. Ini hal yang paling prinsip dalam memahami keselamatan, bahwa penyelamatan itu menyeluruh. Dengan demikian, sungguh Allah itu kasih, dan kita dipanggil untuk terus beriman dan berdoa agar kuasa dan kasih itu tetap hidup dan merajai hidup kita setiap saat.
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diteguhkan bahwa dengan iman kepada Yesus Kristus, manusia ditempatkan secara istimewa di pintu masuk gerbang anugerah, mulai dari pembenaran, perdamaian dan berkat-berkat lainnya. Berkat ini jangan dilihat hanya dalam bentuk sukacita dan berkat jasmani, tetapi juga dalam wujud beban kesengsaraan dan kesusahan. Semua yang terjadi setelah kita menerima dan mengakui Yesus sebagai penebus kita harus dilihat sebagai rencana Allah dalam mendewasakan karakter kita untuk dapat melewati dengan ketekunan, membuat kita tahan uji dan berpengharapan untuk ikut serta dalam kemuliaan Allah ketika nanti Yesus kembali. Kita sudah terbebas dari segala murka akibat dosa dan kuk perhambaan. Kita bermegah karena kasih Allah dan bukan karena kehebatan dan prestasi kita. Selayaknyalah kita membalas kebaikan Allah itu dengan membagikannya kepada orang lain yang belum mengenal dan merasakannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 8 Maret 2026
Kabar dari Bukit
MELEMBUTKAN KEKERASAN HATI (2 Yohanes 1:1-13)
"Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ”Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku”
(Mzm. 95:11)
Tentu kita sering ikut beribadah, baik di hari Minggu atau persekutuan lainnya. Ini merupakan ekspresi menguduskannya, memberi waktu kita kepada Tuhan, memuliakan-Nya, dan tentu membawa juga setiap pengharapan dan pergumulan kita dalam kehidupan ini.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 95; 11 ayat, judul perikopnya: Hormatilah Tuhan dan taatilah Dia. Mazmur yang ditulis Raja Daud ini (Ibr. 4:7) merupakan ajakan dan pelajaran yang mengingatkan agar ibadah kita tidaklah ritual formal lahiriah semata. Kita mendengar firman Tuhan, tetapi tidak ada respons yang muncul di hati kita. Khotbah hanya menjadi informasi dan pengetahuan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah hati (2Tim. 3:5). Sepulang dari ibadah, tidak ada komitmen untuk membuat perubahan atas sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman-Nya.
Beribadah memang memperlihatkan rasa syukur dan sukacita (ay. 1-2). Kita kagum atas perbuatan Tuhan, Raja yang besar dan berkuasa atas seluruh ciptaan (ay. 3-5). Di dalam ibadah kita juga diminta untuk bersujud menyembah dan berlutut sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sikap sukacita kita jangan sampai menghilangkan rasa
hormat kepada-Nya. Kita sadar bahwa Dia yang menjadikan kita, sebagai umat gembalaan-Nya
dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya (ay. 6-7a).
Dalam ibadah kita mendengar suara-Nya, melalui firman yang disampaikan (ay. 7b). Ketika firman kebenaran itu disampaikan, perlu merefleksikan ke dalam diri kita. Periksa sikap dan perbuatan kita yang belum sesuai dengan suara Tuhan. Nas ini mengingatkan, janganlah keraskan hatimu (ay. 8b).
Kekerasan hati yang dicontohkan adalah peristiwa di Masa dan Meriba, ketika umat Israel meragukan Tuhan, bersungut-sungut, bahkan mencobai Tuhan (ay. 8-10; Kel. 17:1–7; Bil. 20:1–13). Mungkin kita juga saat ini sedang mengeraskan hati kita, bersikap tidak mau berubah, merasa biasa dan aman saja, sementara kita masih mudah menyakiti hati orang lain, tidak peka, masih membenci seseorang dan tidak memperlihatkan kasih. Padahal, kasih adalah perintah utama bagi pengikut Kristus.
Bisa saja kita beralasan sesuatu. Namun perlu kita tahu penyebab hati menjadi keras dan dampaknya. Peristiwa di Masa dan Meriba jelas merupakan kekerasan hati yang bersikap memberontak, tidak tunduk kepada Allah. Kekerasan hati merupakan penolakan dan tidak mau taat. Keras hati menunjukkan hati yang jahat dan tidak percaya, sama dengan sesat hati dan murtad (ay. 10; Ibr. 3:12–13). Terakhir, kekerasan hati memperlihatkan sikap mengandalkan kekuatan sendiri dan membuatnya ilah yang lain.
Sikap keras hati bisa tersembunyi, tenggelam dalam hati yang tersamar. Tetapi nas minggu ini mengingatkan dampaknya kena murka Allah, yakni “mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Ku", tanah Kanaan (ay. 11); yang dalam PB dituliskan sebagai kehilangan berkat, keselamatan dan hidup kekal (Ibr. 4:6-11). Dan ditekankan juga perubahan itu harus HARI INI. Jangan menunda, menyimpan dosa terselubung, defensip, hati yang tertutup.
Mari kita lembutkan hati kita melalui sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, pertobatan yang jujur, mendengarkan firman Tuhan dengan hati terbuka, mau ditegur untuk memperbarui kehidupan. Mari kita ingat kebaikan Tuhan dan hidup dalam persekutuan yang saling mengasihi sehingga Tuhan memberi hati yang murni diperbarui kepada kita (Yeh. 36:26).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah (2) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 – Opsi 2
LADANG YANG MENGUNING (Yoh. 4:5-42)
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu III Pra Paskah sebuah nas yang panjang, Yoh. 4:5-42. Ini kisah perempuan Samarai yang bertemu Tuhan Yesus saat beristirahat dalam perjalanan-Nya dari Yudea ke Galilea (ayat 4-5). Jelas sebuah terobosan kasih, mengingat orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ayat 9); ada permusuhan lama. Teladan Tuhan Yesus ini kita perlu ikuti, perbedaan tidak harus membekukan hubungan dan percakapan.
Tuhan Yesus kelelahan dan duduk di tepi sumur. Seorang perempuan Samaria datang di siang bolong. Tidak lazim, pasti ada yang disembunyikan. Benar, ia perempuan tidak baik, bersuami lebih dari lima, sehingga selalu datang ke sumur tatkala sepi. Terjadilah percakapan. Tuhan Yesus meminta air untuk diminum kepada perempuan itu. Perempuan itu menolak, karena Yesus orang Yahudi. Lalu Tuhan Yesus berkata: "Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (ayat 10).
Tuhan Yesus melanjutkan, “Barangsiapa minum air (dari sumur) ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 13-14). Maksud Yesus adalah diri-Nya dan Roh Kudus sebagai sumber air hidup. Bila orang menerima-Nya, niscaya akan menjadi mata air "yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Perempuan itupun penasaran, dan mulai mengetahui Yesus bukan sembarang orang, dan menyebut Yesus sebagai Nabi (ayat 19).
Tuhan Yesus kemudian menjelaskan tentang diri-Nya: "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (ayat 24). Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami" (ayat 25). Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (ayat 26).
Ketika para murid kembali datang menemui-Nya dan menawarkan makan, Yesus pun berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.... Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (ayat 34-35). Perempuan itu pun berlari pulang, melupakan timbanya, menceritakan kepada penduduk Samaria tentang Yesus sebagai air hidup. Mereka pun merespon, meminta Ia tinggal, sehingga lebih banyak lagi orang Samaria yang menjadi percaya kepada-Nya.
Tuhan Yesus telah mengutus kita, menuai dari pekerjaan menabur orang lain (ayat 38). Orang percaya perlu saling mendukung dalam membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus. Mari kita meneladani-Nya dengan perbuatan baik dan percakapan kecil, memberitakan-Nya, sehingga semakin banyak orang melihat kasih Yesus, percaya dan mengaku bahwa Dia-lah benar-benar Juruselamat dunia, Mesias, dan Sumber Air Hidup. Semua berperan, yang seorang menabur dan yang lain menuai, dan kita menjadi mata air yang terus memancar. Penabur dan penuai pun sama-sama bersukacita, terutama Tuhan kita. Terpujilah Dia.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 HIDUP OLEH ROH (Rm....Read More...
-
Khotbah (2) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 2 NEGARA...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 3 PENGENDALI...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 68 guests and no members online
