Monday, October 05, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XIX Setelah Pentakosta – 4 Oktober 2026

KERAJAAN YANG DIAMBIL (Mat. 21:33-46)

 

"Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat. 21:43)

 

Firman Tuhan bagi kita Mat. 21:33-46, menceritakan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Seorang pemilik tanah mempersiapkan semua agar tanahnya digarap sebagai kebun anggur, diberi fasilitas lengkap termasuk menara penjaga. Tuan tanah itu ingin bepergian. Kemudian saat musim petik tiba, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Bukannya jujur berbagi, penggarap-penggarap malah menangkap utusan itu, memukuli, melempari dengan batu, dan bahkan membunuhnya. Utusan lain dikirim lebih banyak oleh tuan tanah, tetapi para penggarap tetap membunuh mereka. Terakhir, tuan tanah mengutus anaknya, dan mereka juga membunuhnya.

 

Jelas ini sebuah alegori, cerita kiasan yang maknanya tersembunyi. Tetapi karena yang mendengar bagian dari kisah, maka sangat mudah ditafsirkan dan dimengerti. Tuan tanah adalah Allah sendiri, kebun anggur adalah bangsa Israel (Yes. 5:1-7; Mzm. 9-17), penggarap adalah para pemimpin agama Yahudi, dan utusan adalah nabi-nabi. Anaknya jelas adalah Yesus sendiri. Utusan dan Anak-Nya mereka siksa dan bunuh.

 

Kita sering mendengar tentang kebaikan berbuahkan kebaikan. Seolah ada rantai yang menyambungkannya. Tuhan bekerja dan memang sering secara misteri. Tetapi dosa juga demikian dan iblis pelakunya. Dosa melahirkan dosa lain hingga nurani menjadi tumpul dikuasai iblis si jahat. Contoh, seorang yang korupsi (dosa 1), berbohong mengaku kepada istrinya itu hasil kerja sampingan (dosa 2), dan kemudian uang hasil curian dipakai untuk hal yang tidak benar (dosa 3), dampak sosial buruk terjadi (dosa 4), dan seterusnya.

 

Demikianlah para penggarap atau pemimpin Yahudi dalam nas ini. Mereka diberi kesempatan untuk memimpin umat, agar menghasilkan buah-buah kebaikan bagi kemuliaan Tuhan. Tetapi kaum Farisi, para imam, dan tua-tua sebaliknya menikmati jabatan mereka, dan melakukan banyak hal yang tidak sesuai dengan tugas panggilannya.

 

Nubuatan dalam ayat 43 pun terjadi, yakni Kerajaan Allah "diambil" dari bangsa Israel. Mereka "ditinggalkan" dan kita tahu kemudian Allah membentuk gereja, sehingga ada yang menyebut gereja sebagai Israel baru. Tetapi peluang Allah menarik Israel tetap diberikan dan berkat-berkat akan diturunkan kembali kepada bangsa itu (Rm. 11:25).

 

Kini kesempatan telah diberikan kepada gereja-gereja dan orang percaya untuk menghasilkan buah Kerajaan bagi Allah. Gereja dibentuk Allah untuk menjalankan tiga tugas utama, yakni bersekutu untuk memuji dan menyembah Allah (koinonia), melakukan pelayanan sosial (diakonia), dan pelayanan penginjilan untuk membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus (marturia). Ini sesuai dengan pernyataan-Nya pada Luk. 4:18-19 dan Kis. 2:41-47.

 

Nas minggu ini membawa kita berefleksi. Tentu kita sering bersekutu di gereja. Tetapi sudahkah gereja-gereja sebagai bangsa yang baru telah berbuah (lebat) bagi Kerajaan Allah? Seberapa besar gereja berdampak bagi perubahan sosial khususnya mereka yang miskin? Adakah gereja-gereja membawa jiwa-jiwa baru yang banyak? Sudahkan orang percaya yang diberi berkat dan karunia telah berbuah bagi sesama? Ah, semoga Kerajaan Allah itu tidak diambil dari gereja dan dari kita semua.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah (3) Minggu XIX Setelah Pentakosta – 4 Oktober 2026

 HIKMAT TAURAT DAN KASIH (Kel. 20: 1–4, 7–9, 12–20)

 

”Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa” (Kel. 20:20)

Doktrin Kekristenan mengenal dua hukum utama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat. 22:36–40).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah "Kel. 20:1–4, 7–9, 12–20". Nas ini memuat Sepuluh Perintah Allah, Dasa Titah, yang diturunkan kepada bangsa Israel saat dalam perjalanan pulang ke Tanah Kanaan. Sepuluh Perintah ini juga tercantum pada Ul. 5:6–21 dan diberikan melalui Musa di Gunung Sinai pada dua loh batu yang ditulis dengan jari Allah (Kel. 31:18).

Sepuluh Perintah Allah mengatur umat Israel agar beribadah kepada Allah saja, tidak menyebut nama-Nya dengan sembarangan, menguduskan hari Tuhan (ayat 2–4; 7–9), menghormati orang tua, serta melarang membunuh, berzina, mencuri, bersaksi dusta, bersikap tidak adil, dan berhasrat mengingini milik orang lain (ayat 12–17). Bagian pertama mengatur hubungan manusia dengan Allah (kesatu hingga keempat), sedangkan bagian kedua mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (kelima sampai kesepuluh). Dengan demikian, perintah ini paralel dengan dua hukum utama tadi.

Tuhan Yesus, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama (Luk. 24:44–53), mengatakan, "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang untuk menggenapinya. Sesungguhnya, selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat" (Mat. 5:17–18).

Berdasarkan nas ini, ada pandangan yang mengatakan semua isi Perjanjian Lama harus ditaati secara harfiah. Namun, pandangan lain menekankan bahwa sepanjang sudah ada pemahaman baru yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru dan berbeda cara serta maknanya pada Perjanjian Lama, beberapa ayat dapat ditafsirkan atau disesuaikan. Contohnya, sunat lahiriah tidak wajib (Rm. 2:29), memakan ikan yang tidak bersirip dan bersisik diperbolehkan (Im. 11:10; Mat. 15:11; 1Tim. 4:4), dan penafsiran tentang hari Sabat dapat berbeda (Kol. 2:16).

Menjadi pengikut Kristus memang memerlukan hikmat. Perbedaan tidak boleh menimbulkan pertentangan atau perpecahan. Jangan menafsirkan ayat sesuai selera dan kepentingan sendiri. Kita perlu merendah, membuka hati, mencari masukan dari hamba Tuhan yang ahli, membaca ulang Firman-Nya, dan berdoa. Alkitab menegaskan, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu apakah ajaran-Ku berasal dari Allah atau Aku berkata dari diri-Ku sendiri" (Yoh. 7:17).

Melalui nas minggu ini, kita diingatkan untuk takut akan Tuhan (ayat 18–20). Dalam keseharian, kita diajak untuk terus menjadi serupa dengan-Nya dan berperilaku sesuai makna Sepuluh Perintah serta dua hukum utama: kasihilah Allah dan kasihilah sesama. Tuhan Yesus menegaskan hukum ini secara singkat dan padat, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat. 7:12).

Hukum kedua, yang sama pentingnya, dapat lebih mudah diuji melalui Firman-Nya: "Jikalau seorang berkata, 'Aku mengasihi Allah,' tetapi ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta. Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1Yoh. 4:20).

Nah, sudah periksa diri: “Sudahkah kita mengasihi sesama seperti Allah mengasihi kita?”

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026

Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026

  MENGANGGAP YANG LAIN LEBIH UTAMA (Flp. 2:1-13)

 Bacaan lainnya: Mat. 21:23-32; Kel. 17:1-7; atau Yeh. 18:1-4, 25-32; Mzm. 78:1-4, 12-16 atau Mzm. 25:1-9;

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari prinsip umum yang mudah diterima ialah: berkawan lebih baik daripada bermusuhan, dan bersama-sama lebih baik daripada sendiri. Keakraban dan kesatuan yang didasarkan latar belakang dan tujuan yang sama, minat yang sama, seharusnya membuat hidup lebih indah dan setiap rintangan dan tantangan menjadi lebih mudah dilampaui. Akan tetapi hal yang seharusnya mudah itu sering menjadi sulit, ternyata banyak orang (termasuk orang percaya) lebih memilih bermusuhan atau memilih terasing dari persekutuan atau kelompok. Tidak dapat disangkal bahwa kecenderungan manusia untuk menonjolkan diri dan mengharapkan pujian, merupakan dorongan kodrati yang melekat dengan ego masing-masing. Pendorong semua itu adalah egoisme dan tidak adanya keinginan merendahkan diri dengan menerima orang atau pandangan lain yang berbeda. Melalui nas bacaan kita minggu ini, firman Tuhan melalui Rasul Paulus menekankan lahirnya sukacita karena melihat saudara seiman hidup dalam kesatuan, kesehatian, sepikir dan satu kasih. Inilah yang dicoba disampaikan Rasul Paulus sebagai pengajaran sebagai berikut.

Pertama: Sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (ayat 1-4)

Pada awal suratnya di pasal 1, Rasul Paulus menjelaskan dengan lengkap perihal pentingnya ungkapan dan sikap rasa syukur, doa, pengorbanan dan perjuangan di dalam menjalani kehidupan. Tujuan semua itu dikatakannya, "sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus" (Flp. 1:10). Filipi adalah kota kosmopolitan. Komposisi anggota jemaat menunjukkan keragaman yang tinggi dengan latar belakang yang berbeda dan juga bidang pekerjaannya. Kisah Para Rasul pasal 16 menggambarkan wajah keragaman yang membuat jemaat unik di masa itu, yakni di antara jemaat ada Lydia orang Yahudi pengusaha kaya dari Asia (Kis. 16:14); seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung, mungkin orang pribumi Yunani (Kis. 16:16-17); seorang sipir penjara yang melayani kekaisaran Romawi dan mungkin orang Roma (Kis. 16:25-36). Dengan begitu ragamnya latar belakang anggota jemaat maka ada potensi perbedaan yang tinggi dan mempertahankan kesatuan kadang lebih sulit. Egoisme dan mementingkan diri sendiri kerap menjadi sumber pertikaian, dan sulitnya mengabaikan jahatnya si Iblis membuat perpecahan gampang terjadi.

Hal itu mudah sekali tampak. Banyak orang – termasuk orang Kristen, berusaha membuat hidupnya berkesan baik bahkan hebat di mata orang lain, yang tujuannya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Hal itu dapat kita lihat dari hal sederhana yang saat ini sedang berkembang yakni kesukaan selfie (foto diri sendiri), bahkan sudah tersedia alat khusus seperti tongkat untuk “menyenangkan dan memuji diri sendiri” tersebut. Foto-foto ini kemudian diunduh di Facebook atau sebagai profile picture di HP. Semua itu wajar sepanjang tidak berlebihan dan malah menjadi “kerjaan” rutin yang sia-sia. Sikap seperti ini disebut narsis, meminta perhatian orang lain. Sebaliknya Rasul Paulus menekankan pentingnya kekuatan rohani, meminta jemaat Filipi tidak fokus pada diri sendiri melainkan memberi perhatian dan mengasihi satu sama lain dan menjadi satu dalam Roh. Ia juga meminta agar jemaat sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Ambisi yang egoistis atau kesombongan yang sia-sia tidak akan membuahkan apa-apa. Padahal, ketika kita bekerjasama, sebenarnya kita peduli terhadap persoalan orang lain dan membuat persoalan orang lain menjadi persoalan kita bersama. Oleh karenanya, janganlah terlalu pusing mengurusi soal kesan baik dan dipuji melulu untuk kemegahan sendiri dan mengabaikan kasih di antara keluarga jemaat Allah (Rm. 12:10).

Ambisi yang egoistis tidak dikenal dalam kehidupan Kristiani. Egoisme dapat merusak, tetapi kerendahan hati yang tulus akan membangun jemaat. Memberi waktu dan perhatian kepada orang lain jelas panggilan utama bagi pengikut Kristus. Setiap orang harus siap berkorban dalam satu Roh untuk bersekutu dan saling mendukung. Alkitab berkata sifat rendah hati mengekresikan prespektif yang benar akan diri kita (Rm. 12:3). Rendah hati bukan berarti menempatkan diri kita di bawah dan bukan pula memberi hormat berlebihan kepada orang lain. Kita menempatkan kepentingan diri sendiri ke belakang dan memperlakukan orang lain penuh hormat dengan sopan santun yang lazim. Menganggap kepentingan orang lain lebih utama dari pada diri kita menghubungkan kita dengan Kristus yang telah memberi keteladanan dalam kerendahan hati (Flp. 2:3). Di hadapan Tuhan, kita adalah orang-orang berdosa, diselamatkan oleh anugerah-Nya, yang berarti kita diselamatkan karena kita semua berharga di dalam Kerajaan Allah. Rasul Paulus mendorong kita agar melawan egoisme, prasangka, cemburu yang membawa perselisihan dan perpecahan (Rm. 15:5). Memperlihatkan kepentingan orang lain yang tulus adalah langkah positif dalam menjaga kesatuan di antara jemaat. Sikap menganggap yang lain lebih utama menyatukan dan bukan kepentingan sendiri atau puji-pujian bagi diri sendiri yang sia-sia (Gal. 5:26). Roh Allah mampu bekerja bagi siapa saja yang bersedia memberikan dirinya sebagai agen pembawa damai sejahtera (Mat. 5:9; 2Kor. 13:13-dab; Kol. 3:12).

Kedua: Mengosongkan diri untuk merendahkan diri (ayat 5-8)

Yesus Kristus adalah Pribadi yang rendah hati, bersedia mengorbankan diri-Nya demi mematuhi keinginan Allah Bapa dan melayani manusia (Yoh. 17:4). Ia miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9). Inkarnasi adalah tindakan pre-eksistensi Anak Allah yakni Yesus yang rela menjadi manusia dan memiliki sifat-sifat manusia. Ia sudah ada sejak awal (Yoh. 1:1; 8:58; Kol. 1:15-17). Dia tidak meninggalkan ke-Allahan-Nya dengan menjadi manusia tetapi menyampingkan hak-Nya yang penuh kuasa dan dimuliakan (Ibr. 5:8). Untuk menggenapkan tujuan sesuai rencana-Nya, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggap sebagai harga yang harus dipertahankan (dalam ayat 6 dan 7 nas ini dipakai kata morphe untuk menjelaskan rupa yang menunjukkan suatu ungkapan permanen tentang sifat-sifat hakiki, sedangkan dalam ayat 8 dipakai kata schema yang lebih mengacu pada penampilan lahiriah yang bisa berubah-ubah). Hal yang membuat kemanusiaan-Nya unik adalah Ia bebas dari dosa. Di dalam kesejatian-Nya sebagai manusia, Yesus memperlihatkan kepada kita tentang karakter Allah yang dapat dimengerti dan dimaknai oleh manusia (untuk memahami inkarnasi lebih lanjut dapat membaca Yoh. 1:1-14; Rm. 1:2-5; 2Kor. 8:9; 1Tim. 3:16; Ibr 2:14; 1Yoh. 1:1-3). Yesus sebagai Anak Allah mengosongkan diri-Nya. Mengosongkan diri berarti membuat diri sendiri tidak sama sebagaimana adanya, seperti kita berbicara kepada anak kecil maka untuk lebih efektifnya komunikasi, kita juga harus bersikap seperti anak kecil, meski hal itu tidak menghilangkan diri kita sebagai orang dewasa. Dengan pengosongan diri-Nya itulah pengorbanan diberikan dan itu yang membuat terwujudnya keselamatan bagi kita semua orang percaya. Sikap pengosongan diri itu pula yang diminta dari kita untuk lebih mampu mewujudkan kasih kepada orang lain.

Pengosongan diri Yesus menghilangkan hak dan keistimewaan juga kerelaan menerima penderitaan, penganiayaan dan kematian yang terkutuk di salib. Mati di kayu salib adalah bentuk hukuman yang dilakukan oleh pemerintahan Romawi bagi penjahat berat. Penyaliban itu sungguh luar biasa menyakitkan dan merendahkan martabat. Seorang tahanan yang dipaku dan diikat di kayu salib biasanya dibiarkan sampai mati. Kadang kala kematian tidak datang cepat, perlu beberapa hari, dan kematian datang ketika berat tubuh yang melemah membuat semakin sulit untuk bernapas. Yesus menerima mati seperti itu sebagai lambang kutukan (Gal. 3:13). Sungguh mengherankan, manusia yang sempurna harus mati dengan cara yang memalukan agar kita tidak menghadapi penghukuman yang kekal. Yesus dari Nazaret telah menempatkan diri-Nya sesuai dengan tempat, waktu, dan keterbatasan manusiawi lainnya. Sikap kerendahan hati Yesus ini berarti mengabaikan diri sendiri dan membuatnya tidak berarti, dan di luar dirinya lebih penting dan rela untuk berkorban. Kepentingan diri sendiri merupakan hal terakhir. Keteladanan dari kerendahan hati Yesus ini memberi pelajaran penting bagi kita, sekaligus memberi peringatan bahwa kita adalah manusia berdosa, memiliki kelemahan diri, tidak layak untuk berbangga (Mat. 11:29; Luk. 18:9-14; Yak. 4:6).

Memang, acapkali manusia berusaha membenarkan atau memberi maaf atas sikap buruk yang dimilikinya, seperti egoisme, kebanggaan, atau kejahatan lainnya; bahkan mengklaim hal itu adalah haknya. Mereka berpikir, "Saya boleh berbuat curang dalam ujian ini, setelah ini kan saya tidak di kelas ini lagi"; atau, "Saya boleh dong membelanjakan semua uang saya sebab saya sudah bekerja keras untuk itu"; atau, "Saya boleh melakukan aborsi, saya kan berhak mengatur tubuh saya sendiri." Akan tetapi sebagai orang percaya kita harus memiliki perilaku yang berbeda, yang mampu mengenyampingkan kepentingan kita sendiri untuk melayani dan memberi contoh bagi yang lain. Jika kita mengatakan mengikut Kristus, kita juga harus mengatakan kita hidup sama seperti Dia. Pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus harus ada dalam diri kita. Kita perlu ingat, kitalah yang memilih perilaku kita sendiri. Semua dapat dilihat, dicermati, dievaluasi dan bahkan diubah. Pilihannya, kita dapat menjalani kehidupan ini dengan berharap terus dilayani, atau kita mencari kesempatan untuk melayani orang lain. Inilah yang ditegaskan-Nya dengan berkata: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28; Mrk. 10:45). Apakah kita bersikap egois dengan terus melekatkan hak-hak kita, atau kita ingin melayani orang lain? Apakah kita hanya mencari puji-pujian yang sia-sia, terus mengurusi kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan orang lain?

Ketiga: Segala yang ada bertekuk lutut dalam nama Yesus (ayat  9-11)

Ayat nas ini kemungkinan berasal dari lagu-lagu pujian di masa awal gereja. Pesannya paralel dengan nubuat dan penderitaan hamba dalam Yes. 53. Sebagai lagu pujian, maka pernyataan itu tidak berarti harus lengkap penggambaran tentang sifat dan pekerjaan Kristus. Beberapa karakteristik utama Yesus Kristus dipuja dalam pujian ini, yakni Yesus Kristus selalu ada bersama Allah sebab Kristus adalah sama dengan Allah dan Dia adalah Allah (band. Yoh. 1:1-dab; Kol. 1:15-19). Ia menjadi manusia mengorbankan hak keilahian dan keistimewaan-Nya untuk menggenapi rencana keselamatan dari Allah bagi seluruh manusia; dan Kristus tidak hanya menampakkan diri sebagai manusia, tetapi Ia menjadi manusia sejati untuk mengidentifikasi tanpa dosa. Semua itu dilakukan-Nya oleh kasih untuk Bapa-Nya dan untuk kita manusia yang mau bertobat dari segala dosa-dosa kita. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus mengalami penderitaan yang demikian hebat dan bahkan sampai meminta agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya dengan memohon, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat. 26:39, 42). Oleh karena ketaatan-Nya, Allah memuliakan-Nya dengan membangkitkan Yesus dari kubur dan mengembalikan kedudukan-Nya di sebelah kanan Allah Bapa, dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama dan digelar sebagai TUHAN, Kurios, nama Allah dalam Perjanjian Lama yang menurut pengertian Ibrani menunjuk kepada kedudukan dan kemuliaan (Kis. 2:36; Rm. 14:11; band. Yes. 45:23). Allah yang mengangkat-Nya ke sorga kemudian menunjuk Yesus berkuasa selamanya dengan menjadi Hakim bagi manusia (Ef. 1:21; Ibr. 1:4; Kis. 10:42; 17:31).

Perjanjian Lama menggambarkan Musa dan Salomo sebagai hakim-hakim yang penuh hikmat, di samping beberapa hakim-hakim pada masa sebelum raja-raja. Ini sama seperti hakim Artidjo Alkostar di Mahkamah Agung RI yang dianggap hakim "adil", memahami rasa keadilan rakyat dengan menghukum berat para koruptor bila mereka kasasi. Namun mereka semua adalah hakim di dunia. Sebagian bukti atau fakta mungkin tersembunyi dan tidak terungkap, sehingga bisa muncul rasa tidak adil. Ini berbeda dengan pengadilan akhir, sebab semua fakta terbuka. Yesus adalah Allah Mahatahu sehingga pertimbangan-Nya pasti adil. Oleh karena itu pada pengadilan akhir zaman, semua orang termasuk yang dihukum akan mengaku kekuasaan Yesus dan hak-Nya untuk memutuskan. Bukan hanya orang Kristen yang percaya, melainkan juga mereka yang tidak percaya atau menyangkal-Nya. Dengan kedudukan yang demikian diberikan Allah kepada Yesus, maka semua makhluk yang ada di bumi, di langit di atas, dan yang ada di bawah bumi akan bertekuk lutut untuk menyembah Dia (pengertian alam semesta raya pada saat itu terbagi atas tiga wilayah: bumi, langit sebagai atas bumi dan bawah bumi tempat yang gelap - band Kis. 5:3, 13). Dengan kedudukan yang demikian, Alkitab mengatakan bahwa ibadah agung universal akan dipersembahkan kelak kepada Yesus sebagai Tuhan (Why. 5:13; 15:3-4).

Bagi kita orang percaya, Yesus Kristus adalah Tuhan yang merupakan pokok pengakuan iman (Yoh. 13:13; Rm. 10:9; 1Kor. 12:3). Pembangkitan adalah karya unggul dari kuasa Allah (Rm. 1:4-dab). Manusia dapat memilih untuk mengaku Yesus sebagai Tuhan saat ini sebagai langkah komitmen kasih kepada-Nya, atau kita ”dipaksa” untuk mengakui Dia adalah Tuhan saat kembali-Nya kelak? Kristus dapat kembali setiap saat. Apakah kita sudah siap untuk bertemu dengan-Nya? Apakah kita bisa mempertanggungjawabkan tugas misi yang diberikan kepada kita sebagai utusan-Nya di lingkungan kita terdekat? Pengakuan lidah kita yang “mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah” merupakan sikap yang bersedia menjadi milik Tuhan untuk menjadi hamba yang berguna dan berbuah. Kita berbuah agar segala lidah mengaku Yesus adalah Tuhan. Kalau kita merasa belum berbuah selama ini atau belum maksimal, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan kepada sesama orang percaya (Mzm. 8:5-6; Yoh. 15:1-16). Semua yang kita lakukan adalah pekerjaan hamba dan tidak layak kita banggakan, sebab seperti dikatakan, “bagi kemuliaan Allah”. Kalau kita bermegah harus bermegah di dalam Allah (Rm. 7:18; Gal. 6:3; 2Kor. 10:17). Inilah dasarnya kita perlu memuji Kristus dan mengaku Ia adalah Tuhan dan menyerahkan hidup kita untuk melayaninya (Kol. 2:6).

Keempat: Allah yang mengerjakan kemauan maupun pekerjaan (ayat 12-13)

Alkitab mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan karena hasil usaha kita sendiri (Ef. 2:8). Artinya, anugerah keselamatan yang kita terima bukan karena prestasi dan amal usaha kebaikan yang kita lakukan, melainkan karena iman kepada Tuhan Yesus (Rm. 10:9-10). Dengan adanya iman tersebut maka kita menjadi milik-Nya. Jadi sederhananya, keselamatan bukan karena perbuatan baik, tapi karena iman, dan iman itu yang mengharuskan adanya perbuatan baik. Perbuatan baik saja tidak cukup, sebab dua hal yang penting: pertama, manusia selalu berdosa (dan dosa hanya dapat dihilangkan dengan iman dan pengampunan). Kedua, perbuatan baik mendorong manusia untuk bermegah (sementara iman mendorong terus untuk ketergantungan). Kita menerima keselamatan juga bukan hanya di akhir zaman atau di masa pengadilan, melainkan telah menerima keselamatan itu pada masa lalu ketika kita menerima baptisan kudus dan pengakuan percaya. Kita juga menerima keselamatan itu di masa kini dengan bersikap penuh percaya kepada Tuhan tentang perjalanan hidup kita, dan kita tetap mengerjakan keselamatan dengan bergantung kepada-Nya. Dan terakhir, kita akan menerima kegenapan keselamatan itu nanti pada akhir zaman bersama-sama dengan orang percaya lainnya.

Mengerjakan keselamatan itu perlu dilakukan dengan merasa takut dan gentar (Yes. 66:2; Ams. 3:7; 8:13). Takut dan gentar dalam hal ini maksudnya adalah bersungguh-sungguh. Takut dan gentar membuat kita malah tidak bersungguh-sungguh dan optimal. Rasa takut bersumber dari dua sisi yakni sisi di luar diri sendiri dan sisi dari dalam diri sendiri. Dari luar diri sendiri, ada yang melihat dunia dan kehidupan ini begitu menakutkan, bukan saja oleh sulitnya hidup karena persaingan dan kelangkaan, tetapi juga oleh meningkatnya kekerasan, penyakit, risiko dan perusakan lingkungan (band. Luk. 12:4-5). Dari dalam diri sendiri sering muncul pemikiran bahwa kita adalah orang yang tidak mampu, lemah dan tidak bisa meningkatkan diri. Seolah ada bisikan menerima saja apa adanya dan tidak perlu berusaha keras meningkatkan diri. Sikap ini jelas dari iblis yang merongrong diri kita dan mengabaikan peran dan kuasa Allah dalam hidup orang percaya. Kemampuan manusia memang terbatas, meski manusia sendiri tidak tahu batasnya. Bidang kehidupan manusia demikian luasnya untuk tempat bersekutu dan mengabdi. Kelemahan dalam satu sisi (misalnya, kecerdasan) dapat ditutupi dengan kekuatan emosi dan spiritual, demikian juga sebaliknya. Kelemahan fisik dapat ditutupi dengan kemauan dan latihan seperti dunia melihat “kehebatan” Stephen Hawking, terlepas dari karya-karyanya yang kontroversial yang menihilkan peran Allah.

Semua itu dapat terjadi bila kita melakukannya dengan penuh ketaatan dan sikap hormat kepada Allah (2Kor. 7:15; Kol. 3:22). Betul, kita selamat bukan oleh ketaatan. Ketaatan dan keselamatan dalam hal ini berhubungan dengan sikap tunduk dan patuh pada panggilan Tuhan untuk menunaikan tugas dan memelihara hidup kudus. Kita harus memiliki karakter melayani, dengan penuh kasih kepada Allah dan sesama, mengembangkan perilaku rendah hati saat melayani, dan bukan mencari puji-pujian atas usaha yang kita lakukan. Semua itu dapat terjadi, sebab Allah yang mengerjakan kemauan maupun kerelaan kehendak-Nya pada setiap orang (Ef. 1:5). Jadi, terwujudnya ketaatan yang kita berikan pun bukan hasil perjuangan kekuatan diri kita, melainkan oleh kuasa Roh Allah yang tinggal di dalam hati orang percaya yang memampukan hal itu (Rm. 8:14-17; Ibr. 13:21). Tindakan ketaatan adalah hasil mengikuti karya Roh di dalam diri kita yang bekerja mendorong roh kita sebagai manusia. Dalam hal ini bila semua berjalan dengan kesadaran penuh dari hikmat dan perenungan pribadi, maka untuk melakukannya kita tidak memerlukan pengawasan orang lain. Ini yang diminta oleh firman Tuhan, ketika Paulus tidak bersama dengan mereka, jemaat tersebut terus berusaha mengekpresikan kesatuan. Semua orang diminta menjadi "kawan sekerja Allah" (1Kor. 3:9) untuk menyempurnakan keselamatan yang kita miliki saat ini dan kelak di sorga.

Penutup

Kehidupan persekutuan Kristen semestinya berjalan bagaikan lingkaran spiral yang terus naik ke atas, bergerak menapak jalan yang lebih tinggi dan bukan kemunduran mengecil atau pengulangan yang sia-sia. Dalam jemaat yang beraneka ragam keanggotaannya, dengan berbagai latar belakang dan motivasi, memang tidak mudah untuk menciptakan kesatuan. Demikianlah yang terjadi pada jemaat Filipi pada masa awal-awal gereja. Mereka cenderung untuk menonjolkan egoisme masing-masing dan keinginan mencari puji-pujian yang sia-sia dan ini yang menjadi benih pemecah kesatuan mereka. Padahal sebagai jemaat yang dipanggil dalam pelayanan, kesatuan dalam sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan merupakan hal yang pokok sebagai pondasi pelayanan. Kita diberi pelajaran dan teladan oleh Tuhan Yesus dengan mengosongkan diri sebagai kunci untuk bersatu, dan kesatuan itu membuat nama Tuhan Yesus menjulang tinggi di atas segala nama. Dengan meninggikan Yesus, maka segala yang ada di alam semesta ini akan bertekuk lutut dalam nama-Nya, sebab Dialah yang menjadi Hakim segala bangsa. Tugas panggilan untuk meninggikan itu juga ada pada kita orang percaya. Melalui iman dan respon setiap orang, Allah mengerjakan kemauan maupun pekerjaan di dalam hidup kita bagi kemuliaan nama-Nya. Semangat Kristus adalah melayani dan kita telah dilayani-Nya. Apakah semangat melayani Dia sudah ada dalam hidup kita? Mari kita berdoa agar Roh Kudus bekerja dalam hidup kita dan memampukan kita melakukannya menjadi berkat bagi segala bangsa. 

Selamat beribadah dan selamat melayani. 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 27 September 2026

Kabar dari Bukit

  BELAJAR DARI SEJARAH KEHIDUPAN

  ””Aku mau membuka mulut menyampaikan amsal, aku mau mengisahkan teka-teki dari zaman purbakala” (Mzm. 78:2)

 

Selamat pagi dan salam kasih.

 

Dalam buku biografi saya yang masih dalam tahap penyuntingan dan berjudul "Legasi dalam Kehidupan", saya jelaskan pentingnya kita mewariskan hal-hal baik kepada generasi penerus khususnya anak cucu. Warisan atau Legasi tidak hanya berupa harta yang malah mudah hilang lenyap, tetapi ada banyak hal lainnya, seperti iman, pemikiran dan buku, nilai-nilai, karir dan jabatan, prestasi, sejarah, karya monumen bahkan keturunan.

 

Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Mzm. 78:1-4, 12-16; nas yang berpesan pentingnya meneruskan kebaikan yang diterima oleh bangsa Israel dari Tuhan kepada anak-anak mereka turun temurun. Diingatkan bukan saja memasang dan menyendengkan telinga terhadap pengajaran-Nya, tetapi juga bersaksi dan puji-pujian kepada Tuhan atas karya perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya (ay. 1-4).

 

Nas minggu ini penting bagi kita khususnya bagi anak cucu. Jalan menuju iman memang sudah diletakkan Tuhan ketika anak-anak kita lahir. Kita pun berjanji untuk membimbing mereka agar ikut percaya kepada Tuhan Yesus. Pada usia kisaran 3-9 tahun, seorang anak biasanya belajar melalui cerita, pengalaman konkret, teladan orang dewasa dan pengulangan. Setelah itu anak bertumbuh dan pada kisaran usia 10-17 tahun, ia mulai mengenal, mengerti dan mempertanyakan tentang Tuhan. Semua itu perlu dijawab dan salah satunya adalah dengan katekisasi Sidi hingga akhirnya dengan sadar menyatakan Pengakuan Iman Rasuli. 

 

Pengakuan dan iman perlu terus ditumbuhkan. Mewariskan iman yang kokoh kuat kepada anak memang banyak metodenya, seperti:

•⁠  ⁠mengajar berdoa

•⁠  ⁠mengikutkan ke sekolah minggu

•⁠  ⁠mengajarkan ayat dan kisah dari Alkitab

•⁠  ⁠menyekolahkan anak di sekolah Kristen, dan lainnya.

 

Namun hal yang paling penting adalah keteladanan orangtua di hadapan anak-anak. Bisa saja kita orang tua memiliki kisah hidup yang hebat, seperti ikut dalam perjuangan, bersekolah tingi, berhasil dalam kehidupan dengan jabatan dan harta, bekerja keras siang malam dan pintar memilih pergaulan. Semua itu baik. Tetapi bagi pengajaran iman, perlu dijelaskan juga di mana Tuhan dalam kisah sukses tersebut? Oleh karenanya akan lebih bagus jika kita berkata: saya bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik, tetapi Tuhanlah yang memberikan kekuatan dan bimbingan.

 

Sama seperti bangsa Israel, Tuhan campur tangan dalam perjalanan hidup mereka. Ketika dikejar Firaun, dibelah-Nya laut, dituntun-Nya mereka dengan awan pada waktu siang dan malam dengan terang api; ketika mereka kehausan dibuat-Nya aliran air keluar dari bukit batu, dan mengalir turun seperti sungai (ay. 13-16). Ini memperlihatkan bagi mereka dan kita yang mengasihi Tuhan, Ia bukan hanya Tuhan yang membuka jalan, Ia juga Tuhan yang menyertai perjalanan hidup.

 

Hidup tentunya tidak selamanya kisah keberhasilan. Bangsa Israel juga jatuh bangun. Mereka pernah durhaka dan memberontak, tidak setia, dan tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya (ay. 8-10). Manusia memang bisa lupa sekalipun sudah mengalami pertolongan. Tetapi Tuhan telah membuktikan kesetiaan-Nya melalui sejarah umat Israel. 

 

Tuhan itu penuh kasih dan kuasa. Dalam ketidakberhasilan pun, atau ketika kehidupan tidak selalu penuh berkat, iman kepada-Nya tetap diwariskan. Jangan kita biarkan anak cucu dan generasi muda hanya mengetahui bahwa kita percaya kepada Tuhan. Mari kita berikan kepada mereka apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita. Dan kita pun percaya, kesetiaan dan kasih-Nya akan tetap hidup pada anak-anak dan cucu kita.

 

Selamat beribadah dan bersekutu.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin. 

 

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

 

 

 

Khotbah (2) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026

Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 – Opsi 2

  JEBAKAN BETMEN (Mat. 21:23-32)

  “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya" (Mat. 21:32)

Firman Tuhan bagi kita Mat. 21:23-32, berbicara tentang dua hal, yakni: pertanyaan para imam tentang sumber kuasa Yesus, dan perumpamaan tentang dua orang anak yang disuruh bekerja di kebun. Pada situasi pertama, Tuhan Yesus disudutkan dalam jebakan betmen. Mungkin kita tahu kenapa disebut jebakan betmen, karena si pahlawan Batman dengan ketulusan hatinya sering dijebak, dan berkata: “Shoot..., it’s a trap” (Sial..., ini adalah jebakan).

Akan tetapi Yesus tidak mau terjebak. Ini disebabkan sejak awal suasana hati-Nya telah galau dengan melihat banyaknya pedagang yang nakal di Bait Allah, dan Ia membalikkan meja-meja pedagang yang ada disitu (ayat 12-13). Demikian juga Ia mengutuk pohon ara karena tidak berbuah (ayat 18-19).

Para imam dan tua-tua bangsa Yahudi lantas bertanya, dengan kuasa manakah Yesus melakukan semua itu, dan siapa yang memberi kuasa kepada-Nya? Yesus tidak menjawab langsung, karena tahu itu adalah jebakan betmen. Tuhan Yesus malah bertanya balik kepada mereka tentang baptisan Yohanes, apakah dari sorga atau manusia? Jebakan dikembalikan, dan jawaban konyol pun keluar: “Kami tidak tahu”. Nah, kena deh.... Yesus pun akhirnya menolak menjawab pertanyaan mereka.

Terkait kuasa dan otoritas Tuhan Yesus, kita lihat kembali renungan beberapa minggu yang lalu. John Stott dalam bukunya Why I am a Christian menyebutkan, otoritas Yesus terjadi karena Ia memisahkan diri-Nya dari semua orang, menempatkan diri-Nya dalam katagori moral dimana hanya ada diri-Nya sendiri. Semua orang ada dalam kegelapan, dan Ia adalah terang dunia. Ada orang banyak yang kelaparan, dan Ia adalah Roti Hidup. Orang-orang kehausan, dan Ia adalah Air hidup. Semua orang berdosa, dan Ia mampu mengampuni dosa-dosa mereka.

Yesus Kristus adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Karya-Nya adalah karya Allah seperti meredakan angin ribut, membangkitkan orang mati, memberi makan 5.000 orang, dan puluhan mukjizat lainnya. Paul Enns dalam bukunya The Moody Handbook of Theology menyebutkan hal ini sebagai kesatuan hipostatik, Yesus datang dan mengambil natur manusia tanpa kehilangan natur Ilahi-Nya. Meski memiliki dua natur, tetapi Ia tetap SATU Pribadi. “Ia adalah Nabi, Imam dan Raja. Ketiga jabatan Kristus ini merupakan kunci pada tujuan inkarnasi,” tulis Paul Enns.

Yesus Tuhan menjadi manusia menjadi khusus, spesial, dan utama. Ia adalah Gembala yang baik, yang pergi ke padang gurun mencari domba-domba yang hilang. Ia menyebut diri-Nya sebagai Juruselamat dan sekaligus Hakim, menjadikan diri-Nya sebagai tokoh utama pada hari penghakiman. Mungkin sedikit "sombong" tetapi tetap rendah hati, sebagaimana Ia menjawab jebakan betmen para imam di atas.

Bagian kedua nas minggu ini tentang seseorang yang mempunyai dua orang anak laki-laki yang disuruh bekerja di kebun ayahnya. Anak sulung disuruh dan menjawab: Ya, tetapi ia tidak melakukannya. Anak kedua disuruh menjawab: “Tidak Mau”, tetapi kemudian menyesal dan pergi bekerja di kebun ayahnya (ayat 28-30). Jelas saat Yesus bertanya, yang melakukan kehendak ayahnya adalah anak yang kedua. Yesus kemudian mengatakan kepada para imam dan tua-tua, begitulah para penjahat yang menyesal, “pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ayat 31b).

Kita semua manusia berdosa, tidak saja karena melanggar perintah-Nya, tetapi juga tidak melakukan kehendak-Nya berbuah seperti pohon ara dan berbuah lebat seperti pohon anggur. Tetapi Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya melalui nas ini membuka pintu bagi penyesalan dan pertobatan. Mari kita tanggap mengakui itu semua, dengan bertobat ingin terus dibarui dan semakin berbuah. Jangan menunggu besok untuk kembali ke jalan-Nya dan berbuah lebat bagi sesama. Kita tidak tahu saat penghakiman, atau berharap bisa “berjudi” seperti penjahat di sebelah Tuhan Yesus yang di saat terakhir dibawa masuk ke Firdaus. Percaya dan taat adalah dua syarat utama (Mat. 7:21; Yoh. 3:36). Jalan kebenaran telah ditunjukkan kepada kita hari ini (ayat 31-32). Tetapi bila tetap bebal, jangan kaget dan kelak dengan konyol mengatakan di hari akhir: Ini adalah jebakan betmen! Kena deh....

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 36 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14611973
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1676
4831
13433
14554997
32266
149364
14611973

IP Anda: 216.73.217.20
2026-10-06 06:36

Login Form