Monday, September 14, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026

Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026 – Opsi 2

  MENGAMPUNI 70X7 (Mat. 18:21-35)

  "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat. 18:35).

 Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 18:21-35, berbicara tentang pengampunan. Kisahnya tentang pertanyaan Rasul Petrus, “berapa kali harus mengampuni saudara” (yang berbuat dosa)? Yesus menjawab dengan perumpamaan tentang raja yang membuat perhitungan kepada hamba-hambanya. Ternyata ada hamba yang berhutang 10.000 talenta. Atas permohonannya, raja berbelas kasihan dan mengampuninya, tidak tega sampai hamba itu harus menjual anak istrinya untuk pelunasan.

Tetapi ketika hamba itu mendapati ada orang lain yang berhutang 100 dinar kepadanya dan belum bisa membayar, ia justru mencekik orang itu dan memasukkannya ke penjara. Maka marahlah raja tadi yang sudah mengampuni. Ia memanggil hamba tersebut untuk diserahkan kepada algojo-algojo dipukuli sampai ia melunasinya.

Ada tiga pesan dalam nas ini bagi kita. Pertama, para Rabi Yahudi sesuai kitab Perjanjian Lama mengajarkan pengampunan hanya diberikan tiga kali. “Karena tiga perbuatan jahat Damsyik, bahkan empat... (Amos 1:3, 6, 9 dst; Ayb. 33:29-30). Artinya jika orang lain berdosa, sampai tiga kali boleh diampuni, tetapi keempatnya jangan dibiarkan saja. Tetapi Yesus Kristus berkata kepada kita, orang Kristen mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali. Itu identik dengan tidak terbatas! Kesabaran yang panjang, tidak ada ujungnya. Dan, itulah (istimewanya) Kekristenan!!!

Hal kedua, to forgive (mengampuni) itu bisalah, tetapi bagaimana dengan to forget (melupakan)? Ya, memang, susah melupakan. Tim Lahaye dalam bukunya Anger is a Choice jelas-jelas mengatakan, “adalah kebohongan bila seseorang mudah melupakan rasa sakit yang dialaminya atas perbuatan orang lain.” Tetapi ia kemudian menjelaskan berdasarkan Yer. 31:34, mengampuni dan melupakan bukan berarti hilang dari ingatan Tuhan. Pesan pentingnya, agar kita tidak melakukan pembalasan atas perbuatan jahat orang lain. Jika kita melakukannya, maka kita sebenarnya jauh lebih jahat! “Pembalasan itu adalah hak-Ku,” kata firman Tuhan (Rm. 12:19).

Tim Lahaye kemudian mengatakan, itulah pengorbanan Kristiani, harga yang harus ditebus oleh orang percaya. Kita harus mampu mengendalikan pikiran (sisi otak), kemauan (sisi tindakan) dan emosi (sisi perasaaan). Jelas, sebuah perjuangan yang tidak mudah. Perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus sangat kontras, yakni pengampunan hutang 1.000 talenta kepada raja berbanding 100 dinar, atau 1:500.000 menurut William Barclay. Ini sama dengan pengampunan yang diberikan kepada kita atas bebas dari hukuman di neraka dan memperoleh keselamatan kekal, dibanding dengan rasa puas membalaskan kejahatan orang lain kepada kita. Tidak seimbang.

Hal ketiga, kita perlu memahami perbedaan antara hukum gereja dan hukum negara. Masalah pencurian berat, penganiayaan, perceraian, dan lainnya memiliki sisi dan wilayah masing-masing. Ini perlu berhikmat membedakannya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hak kaisar dan hak Tuhan jelas berbeda (Kis. 25:8; band. Mat. 22:21). Pembelajaran untuk keadilan dan ketertiban kadang diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Sama seperti adanya disiplin gereja, yang penting tujuannya adalah pertobatan dan menjaga "kekudusan jemaat", dengan tetap semangat megampuni; bukan untuk menjatuhkan, atau senang melihat orang lain susah.

Tentu kisah ini juga mengajarkan sisi lain, agar kita jangan ceroboh berulang kali memberi peluang orang lain berbuat kesalahan dan berdosa. “Berbahagialah orang yang murah hatinya”, kata Yesus (Mat. 5:7). Itu betul. Tetapi pepatah juga mengatakan, “hanya keledai yang jatuh dua kali dalam lubang yang sama.” Jadi jangan lalai. Tetapi jika itu terjadi, tetaplah mengampuni. Seperti kata William Arthur Ward, kita akan sama seperti binatang ketika menyakiti atau membunuh, kita sama seperti manusia lainnya ketika menghakimi, tetapi kita akan sama seperti Tuhan ketika mengampuni. Semoga Roh Kudus terus menguasai hati dan pikiran kita untuk mudah mengampuni dalam kasih.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026

Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026 – Opsi 3

  PERTOLONGAN TUHAN (Kel. 14:15–31)

 ”Mengapakah engkau berseru–seru demikian kepada–Ku?” (Kel. 14:15)

Pertolongan Tuhan adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan orang percaya. Sebagai umat-Nya, manusia pasti tidak lepas dari masalah, yang kadang berada di luar batas kemampuannya. Ketidakpastian datangnya pertolongan sering menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan. Namun, Tuhan memahami hal itu. Untuk itu, kedekatan hubungan dengan-Nya dan doa adalah akar serta pondasi dari semua pengharapan kita.

Nabi Musa dipanggil untuk membawa keluar dan menyelamatkan umat Israel yang teraniaya di Mesir. Ia dibekali berbagai mukjizat untuk meyakinkan Firaun bahwa semua perintahnya atas kuasa Tuhan. Setelah menyaksikan kebesaran kuasa Musa, Firaun setuju, namun tak lama kemudian ia menyesali keputusan itu dan memerintahkan agar umat Israel ditangkap kembali (ay. 6).

Kisah pengejaran dan pelepasan itulah nas bagi kita di hari Minggu ini, berdasarkan firman Tuhan dalam Keluaran 14:15–31. Kita tahu, Tuhan pasti menepati janji-Nya yang diberikan melalui Musa (3:8). Dalam upaya keluar, umat Israel dilindungi dengan tiang api dan tiang awan (ay. 20). Tuhan menolong dengan membuat roda kereta para serdadu berjalan miring dan berat (ay. 25).

Meski demikian, umat Israel tetap ketakutan karena Laut Teberau ada di depan mereka. Mereka bahkan mencerca Musa (ay. 11–12). Namun kuasa Tuhan nyata: air laut terbelah, membuka jalan. Serdadu Firaun masih mengejar, lalu TUHAN berfirman kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya, dan menjelang pagi air laut kembali ke tempatnya. Orang Mesir pun terseret ke tengah laut; tidak seorang pun yang tersisa (ay. 26–28).

Pelajaran yang dapat kita ambil dari nas minggu ini adalah bahwa pertolongan Tuhan itu nyata dan terbukti. Oleh karena itu, jangan pernah ragu atau mempertanyakan kuasa dan penyertaan-Nya. “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita...” (Zef. 3:17).

Kini, renungkan: apa pergumulan kita? Apa pengharapan kita dalam hidup ini? Apakah kita merasa ditinggalkan atau putus asa karena doa belum dikabulkan? Tuhan pasti memiliki rencana dan waktu-Nya sendiri. Bagian kita adalah tetap beriman dan mengandalkan Dia dalam segala sisi kehidupan. Janji-Nya bisa kita pegang: “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu... Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau” (Yes. 41:13).

Bagi kita yang berpengharapan akan pertolongan Tuhan, jangan hanya berdoa dan berhenti. Segera bertindak sesuai perintah-Nya kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru–seru demikian kepada-Ku?” (ay. 15). Tuliskan masalah yang ada, identifikasi bagian yang bisa kita lakukan, dan buka pintu bagi kuasa serta kebesaran Tuhan untuk bekerja.

Ya, perjalanan hidup memang kadang sulit dan terasa lambat, seperti Firaun yang mengeraskan hatinya. Namun sebagaimana firman Tuhan kepada umat Israel yang melarikan diri, demikian juga kepada kita: “Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku” (ay. 17–18). Tuhan selalu hadir dan menyertai setiap langkah kita. Tetaplah setia, menanti, berbuat, dan percaya bahwa Tuhan akan bertindak. Meskipun terkadang diuji, semua pasti indah pada waktunya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026

Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026

  kasih adalah kegenapan hukum Taurat (Rm. 13:8-14)

 Bacaan lainnya: Mat. 18:15-20; Kel. 12:1-14 atau Yeh. 33:7-11; Mzm. 149 atau Mzm. 119:33-40;

 Pendahuluan

Nas minggu ini merupakan kelanjutan Roma pasal 13:1-7 tentang perintah tunduk pada pemerintah yang resmi berkuasa dari Allah. Salah satu sikap tunduk itu adalah kepatuhan dalam membayar pajak dan cukai sehingga tidak menjadi hutang berkepanjangan. Sikap ini didasari atas kebenaran dan kasih kepada pilihan Allah yang memerintah untuk dipergunakan bagi kepentingan masyarakat banyak, yang kemudian kita menerima manfaatnya sebagai warga. Selanjutnya nas minggu ini menekankan kasih yang lebih menyeluruh di dalam hidup umat-Nya, sebab sesuai yang dituliskan, kasih sejatinya adalah kegenapan hukum Taurat. Sikap kasih itu dijabarkan dari larangan berpura-pura hingga wajib diwujudkan segera dalam kehidupan saat ini sebab waktu yang sempit sebelum kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran tetang pelaksanaan kasih sebagai berikut.

 

Pertama: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! (ayat 8-9)

Pertanyaan untuk nas ini adalah: Mengapa hutang dikaitkan dengan kasih. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita diingatkan untuk menyelesaikan seluruh kewajiban kita di dalam kehiduan sehari-hari dengan tepat dan benar, termasuk kepada pemerintah untuk pembayaran pajak, cukai, rasa takut dan hormat. Alasannya jelas. Kalau dalam hubungan dunia, kita mendapatkan dari pemerintah, seperti perlindungan keamanan, fasilitas publik, dan lain-lain, maka untuk itu kita perlu membayar pajak dan bea (band. Mat. 22:21). Dalam hal ini firman Tuhan mengatakan jangan kita berhutang apalagi “ngemplang” kepada pemerintah sebab kita sudah memerima kebaikannya. Hukum timbal balik dalam pengertian positif adalah sesuatu yang baik dan wajar. Maka kita juga yang sudah percaya pada Tuhan Yesus dan menerima anugerah-Nya, kasih Allah yang melimpah dicurahkan secara permanen, maka kita juga jangan sampai berhutang kepada-Nya. Jalan terbaik untuk membayar hutang kasih kepada Allah adalah dengan memenuhi kewajiban kasih kepada sesama di samping terus mengikuti perintah-Nya serta memuliakan-Nya (1Yoh. 5:2). Kasih Yesus akan selalu jauh lebih besar dari yang bisa kita berikan, Ia juga lebih dahulu mengasihi kita (1Yoh. 4:19) sehingga tidak mungkin terbayarkan meski dengan nyawa kita. Oleh karena itu kasih kepada sesama disebut sebagai hutang, bahkan hutang yang tidak dapat dibayar habis dan untuk membayarnya hanya dengan jalan kasih saja.

Demikian juga dikatakan bahwa kasih terhadap sesama dimulai seperti kasih kepada diri sendiri. Kita tidak boleh berpikir bahwa mengasihi diri sendiri adalah salah. Mengasihi diri sendiri dalam arti memberi respek terhadap diri sendiri dan mengakui karunia rohani Allah di dalam diri kita. Mengasihi diri sendiri dalam arti memelihara dan mengembangkan pikiran, tubuh, dan potensi diri kita, menggunakan seluruh karunia rohani tujuan yang baik bagi Tuhan, jelas sangat menyenangkan hati Tuhan. Hal yang dilarang dan ditolak Tuhan adalah mencintai diri sendiri secara berlebihan, narsis memuja berlebihan, dan itu akan menjadi tanpa ujung dan bisa tak habis-habisnya. Mengendalikan diri demi untuk mewujudkan kasih kepada sesama adalah pilihan orang Kristen. Hakekat Kristiani adalah pengorbanan. Tidak ada arti dan makna yang lebih dalam dari KASIH di dalam bahasa Indonesia yang berarti BERI. Kasih artinya memberi. Memberi artinya berkorban dan tidak menuntut bagian dan kepentingan kita. Apabila kita belum mampu memberi, maka bisa dengan meminjamkan yang kita punyai (Kel. 22:25; Mzm. 37:26; Mat. 5:42). Kalau kita meminjam maka segeralah lunasi atau mengembalikannya tanpa membuat orang lain susah dan menderita (band. Mat. 7:12). Firman Tuhan mengatakan, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3:18).

Mungkin kita memiliki penilaian diri yang tidak tinggi, tetapi tidak mungkin membiarkan diri kita kelaparan. Baju yang kita pakai pun mungkin bisa sederhana saja. Kita juga pasti marah apabila seseorang mencoba menghancurkan rumah tangga kita, sebab kita mengasihi anak-anak kita. Semua ini adalah kasih yang kita butuhkan untuk sesama. Oleh karena itu pastikanlah bahwa ada ukuran plafon atau atap di atas kepala kita, agar kita tidak narsis dan besar kepala mencintai diri sendiri dengan berlebihan. Kita perlu melihat apakah tetangga kita cukup makan bergizi, mereka memiliki pakaian yang layak, atau tempat tinggal yang layak huni? Apakah kita peduli dengan masalah ketidakadilan sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat? Atau, apakah kita tergerak bilamana ada sebuah bencana sosial terjadi di wilayah tertentu dan tergerak memberikan sumbangan? Mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri berarti kita secara aktif terlibat dan terbeban terhadap kebutuhan mereka agar tercukupi secara minimal. Hal yang menarik dari kehidupan, justru mereka yang memberi perhatian lebih banyak pada orang lain dibanding kepada dirinya sendiri, sangat jarang menderita rasa harga diri yang rendah. Ada kebanggaan, optimisme dan percaya diri. Maka, wujudkanlah kasih itu sepanjang kita bisa (Yoh. 13:34; Kol. 3:14). Dengan mewujudkan kasih seperti itu, maka kita telah menjalankan hukum Taurat.

Kedua: Kasih adalah kegenapan hukum Taurat (ayat 10)

Allah mengasihi umat-Nya dengan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Dalam perjalanan keluar itu, Allah memberikan pedoman hidup berupa hukum Taurat bagi bangsa Israel, agar mereka tetap selamat dan bebas merdeka, dan seluruh umat manusia juga ikut diselamatkan melalui keteladanan bangsa itu. Hukum itu diturunkan melalui Musa dan itulah yang mereka pakai selama ribuan tahun. Inti hukum Taurat adalah “Sepuluh Perintah Allah” yang pada bagian pertama mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (perintah kesatu hingga keempat) dan hubungan manusia dengan sesamanya (perintah kelima sampai kesepuluh). Uraian rinci atas sepuluh perintah itu tersebar dalam kitab Keluaran, Bilangan, Imamat dan Ulangan, serta beberapa penegasan dan tambahan dalam kitab-kitab para nabi dan kitab puisi dan Mazmur. Namun kemudian oleh para ahli Taurat dan pemimpin Yahudi, mereka mengembangkan hukum-hukum sedemikian rupa yang lebih kepada kepentingan mereka sendiri, bukan mengutamakan kepentingan Allah; hukum Taurat lebih dilihat sebagai kewajiban mutlak tanpa ada hakekat hikmat dan kasih. Hal ini dapat kita lihat pada aturan persembahan harus tidak bercacat yang mengakibatkan hewan dijual di depan Bait Allah (Mat. 21:12), pembayaran persepuluhan hingga dari hasil tanaman di halaman (Mat. 23:23), beribadah harus ke Yerusalem, dan sebagainya yang menghilangkan makna kasih sejati Allah.

Padahal, sangat jelas hukum Taurat diberikan bukan bermaksud membatasi kebebasan manusia, melainkan sebagai kaidah moral dan rohani untuk menjaga agar mereka tidak masuk dalam bahaya jeratan Iblis. Kita juga tahu betapa mudahnya untuk memaafkan kelalaian kita terhadap orang lain demi semata-mata karena kita merasa tidak memiliki kewajiban untuk menolong mereka; bahkan membenarkan tindakan kita untuk menyusahkan orang lain apabila secara legal hal itu memungkinkan. Sebagai orang berdosa kita akan lebih mudah memaafkan dan membenarkan diri sendiri. Padahal, kalau dilihat Im. 19:18 sebagai sumber awal nas ini, inti dan hakekat hukum Taurat adalah kasih, kasih kepada Allah dan kepada sesama, sebagaimana diungkapkan, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Perintah kasih kepada sesama ini merupakan lanjutan dari hakekat pertama hukum Taurat, yakni: "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul. 6:5). Kedua hakekat hukum inilah inti dari semua kaidah-kaidah itu dan kemudian ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus di dalam Perjanjian Baru (Mat. 22:37-40; Mrk. 12:30-31; Luk. 10:27).

Perjanjian Baru mengatakan Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8). Hukum Taurat adalah ekspresi sifat Allah dalam bentuk perintah positif dan perintah larangan/negatif (band. Kej. 2:17; 1Kor. 13:4-6; dan lainnya). Dengan demikian, prinsip hukum dalam kehidupan orang Kristen harus mengikuti hukum kasih yang melampaui hukum moralitas dunia, hukum adat dan hukum negara. Tuhan Yesus menetapkan kasih dan tidak meninggalkan celah kelemahan di dalam hukum kasih itu. Setiap saat kasih dibutuhkan, kita harus berusaha melewati persyaratan hukum-hukum legal dunia dan meniru kasih Allah (band. Yak. 2:8,9; 4:11 dan 1Pet. 2:16,17). Hal ini wajar, sebab tujuan hukum hanya dua, yakni ketertiban dan keadilan. Oleh karena hukum Allah pada hakekatnya adalah kasih, maka apa yang ditulis dalam hukum Taurat pada dasarnya untuk tujuan ketertiban/keberaturan dan keadilan yang berdasarkan kasih. Jadi, meski ada hukuman dalam sistem hukum Taurat, pada dasarnya itu untuk jalan menuju kebaikan dengan tujuan pertobatan. Memang untuk mencegah dampak yang lebih luas, seseorang yang melakukan tindakan yang tidak sesuai hukum Taurat dapat dihukum mati. Dalam hal ini kita melihat kasih diutamakan bagi mereka yang masih setia agar mereka tidak terjerat dalam perbuatan jahat serupa.

Ketiga: Menanggalkan perbuatan kegelapan (ayat 11-12a)

Rasul Paulus menekankan pentingnya kasih kepada Allah dan sesama diwujudkan segera dan saat ini. Perbuatan kasih tidak boleh ditunda-tunda, sebagaimana hutang harus dibayar dengan segera. Konsepnya bukan "time is money" tetapi "time is love". Setiap kesempatan dimanfaatkan untuk menyatakan kasih, sekecil apa pun wujudnya, seperti pemberian senyum bagi semua orang yang kita temui. Segala keengganan dan kelesuan harus dibuang, apalagi kesombongan. Demikian juga dengan aturan-aturan yang membuat kita harus terhalang mengungkapkan kasih. Kisah orang Samaria yang murah hati dapat kita ambil sebagai contoh, bagaimana seorang imam berjalan turun dari Yerusalem ke Yerikho dan di tengah jalan ia melihat seseorang tergeletak terluka korban perampokan. Imam tersebut melewatinya begitu saja karena berpikir ia akan najis bila tubuhnya kena darah; orang Lewi juga melewatinya begitu saja karena berpikir orang tersebut mungkin berpura-pura terluka dan punya rencana jahat. Keduanya sama sekali tidak terpikir dan tergerak untuk menolong korban itu. Namun yang dilakukan oleh orang Samaria sungguh penuh kasih; ia berhenti dan menolong, membawa korban itu ke penginapan, dan bahkan mengobatinya (Luk. 10:25-35). Itulah kasih yang tidak boleh ditunda.

Rasul Paulus mengatakan bahwa waktu sudah sangat sempit sehingga jangan lalai dan terlelap, melainkan harus bangun dan sigap. Waktu sisa yang sempit diekspresikannya dengan mengaitkan pada kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Kalau kita melihat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus sekitar tahun 33M dan surat ke jemaat di Roma ini ditulis sekitar tahun 55 – 57 M, maka sebenarnya waktunya baru sekitar dua puluhan tahun saja. Namun ia sudah berkata, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang.” Istilah siang di sini jelas berarti kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Ini juga yang dimaksudkan dalam kalimat "Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya." Meski kenyataannya bahwa Yesus tidak datang pada masa itu dan bahkan saat ini, hal itu tidak berarti bahwa hal yang disampaikan Paulus tidak benar atau bohong. Kita melihatnya dari dua sisi: pertama, Paulus merindukan secara pribadi kedatangan Yesus kembali dan ingin melihat Tuhannya itu kembali saat ia masih hidup, dan itu harus menjadi sikap kita sebagai orang Kristen. Setiap orang Kristen harus mengatakan sebagaimana Doa Bapa Kami: “datanglah kerajaan-Mu” dan “jadilah kehendak-Mu”. Faktor kedua, Rasul Paulus mengambil istilah malam dalam nas ini berarti masa saat itu adalah masa yang sangat jahat ketika semakin banyak orang melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, dan hal itu sangat mengganggu hatinya untuk secepatnya berlalu.

Hal yang cukup menarik dari firman minggu ini adalah kasih dihubungkan dengan perbuatan kegelapan. Kita juga heran dengan daftar yang dibuat oleh Rasul Paulus yakni perselisihan dan kecemburuan disejajarkan dengan dosa-dosa yang nyata-nyata berat, seperti pesta pora, mabuk, dan kemerosotan moral seksual. Hal ini tidak mengherankan sebagaimana Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya di bukit, Rasul Paulus juga menekankan sikap dan perbuatan sama pentingnya, dan kecenderungan yang membuat seseorang jatuh lebih dalam lagi, lebih baik dicegah meski harus dikorbankan sumbernya. Mata yang membuat dosa maka mata bila perlu dicungkil atau tangan yang menyesatkan lebih baik dipotong (Mat. 5:29-30). Ini sama seperti kebencian bisa mengarah pada pembunuhan, kecemburuan menuju keributan, dan nafsu menuju perzinahan, sehingga dosa sikap disejajarkan dengan perbuatan. Pokok penting yang bisa kita tangkap dari firman ini adalah, ketika Tuhan Yesus kembali, Dia ingin agar murid-murid hidup di dalam kasih dan menanggalkan kegelapan. Mereka yang hidup terlepas dari kasih dan masuk ke dalam kegelapan membuat jauh dari kekudusan. Kasih, sebaliknya, membuat seseorang tetap dalam terang dan berjalan di dalam kekudusan serta kekudusannya di bagian luar sama dengan di dalam (hatinya).

Keempat: Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang (ayat 12b-14)

Rasul Paulus memahami bahwa hidup di dunia untuk melawan kegelapan bukanlah hal yang mudah. Kelemahan tubuh dan daging dan kemampuan iblis menggoda membuat setiap manusia lemah, mudah terjerat dan tidak lepas dari kegelapan. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa tidak cukup untuk melawannya dengan kemampuan roh manusia dengan keterbatasan emosional dan pikiran, tapi perlu kekuatan dari luar dirinya. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus dituliskan, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng" (2Kor. 10:3-4). Dalam surat kepada jemaat di Efesus, ia kemudian menuliskan, "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.... Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri.... (Ef. 6:11, 13). Senjata Allah yang disebutkan adalah: berdiri tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; mempergunakan perisai iman untuk memadamkan semua panah api dari si jahat; menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dan bertekun dalam segala doa dan permohonan (Ef. 6:14-17).

Bagaimana kita mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang? Pertama, hendaklah kita dipersatukan dengan Kristus melalui baptisan, seperti dikatakan firman, "Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal. 3:27). Ini memperlihatkan tanda kebersamaan kita seperti umat Kristen lainnya dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kedua, kita bertekun di dalam pengetahuan dan pemahaman firman. Firman bukanlah semata-mata kata-kata, melainkan memiliki kuasa untuk mengubah hidup seseorang. Ketiga, kuasa Roh Kudus yang kita miliki melalui pengakuan iman dan baptisan serta di dalam firman yang hidup, akan terus menerus berusaha meneladani Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita di dunia ini, yakni di dalam kasih, kerendahan hati, kebenaran dan pelayanan. Artinya, kita berusaha melakukan peran (role-play) yang sama seperti yang dilakukan Kristus dahulu pada situasi kita saat ini (Ef. 4:24-32; Kol. 3:10-17). Orang Kristen sekarang diminta menjadi "anak-anak siang" yakni sifat dan perbuatan yang sesuai dengan dekatnya Kerajaan Allah (Ef. 5:14; 1Tes. 5:6, 10; Yak. 5:8; 1Yoh. 2:18)

Dengan perlengkapan senjata terang di dalam Kristus, maka tidak mudah lagi bagi kita mengikuti keinginan nafsu dalam setiap kesempatan untuk membawa kita ke dalam dosa. Namun ada hal yang perlu kita perhatikan dalam nas ini, yakni pemakaian senjata terang hanya efektif bekerja terus menerus apabila kita terlebih dahulu meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Artinya, ada roh pertobatan dan kerinduan dalam hati seseorang untuk datang kembali kepada Tuhan. Senjata terang hanya akan bekerja efektif apabila senjata itu berada di tangan yang percaya dan terang di dalam Kristus, sebab apabila tidak setia, maka senjata itu tidak akan efektif pemakaiannya. Ketaatan dan komitmen orang percaya adalah bukti kasih kepada Allah. Bilamana masih kuat hasrat yakni emosi dan motivasi untuk menyenangkan tubuh dan daging dan merawatnya, maka pembaharuan dan penyucian tidak akan berhasil. Keinginan ke dalam kegelapan akan membuka pintu memuaskan keinginan dosa. Oleh karena itu, tetaplah dalam sikap waspada (band. Luk. 12:35; Mat. 24:42-44).

 Penutup

Kehendak Allah yang disampaikan Rasul Paulus bagi orang percaya adalah pikiran kita harus terus menerus dibaharui dan ini perlu dilakukan dengan benar. Kasih Allah yang sudah diberikan kepada kita berupa keselamatan harus dikembalikan dengan mengasihi Allah dan khususnya diwujudkan kepada sesama manusia. Untuk itu pelaksanaan kasih tidak boleh berpura-pura dan menarik keuntungan dari kasih yang diberikan. Pemahaman kasih ini sangat penting, sebab kasih adalah kegenapan hukum Taurat dan menjadi hukum utama di dalam kehidupan orang percaya. Untuk dapat mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu meninggalkan dunia lama yakni menanggalkan segala kegelapan, sehingga kasih yang kita lakukan tersebut benar-benar adalah tulus dan bagian dari kasih kita kepada Allah. Kita harus memberi garis pemisah antara kebenaran dan kejahatan, antara hidup lama dengan hidup baru. Hal ini perlu dilakukan segera dan saat ini, sebab waktunya sudah sempit yakni datangnya Tuhan Yesus kembali. Melalui komitmen, kita memerlukan senjata-senjata agar tidak terperosok lagi di dunia kegelapan itu. Oleh karenanya, senjata-senjata terang yang paling ampuh dan efektif adalah bersumber dari Kristus. Mari kita renungkan: Bagaimana kasih nyata di dalam hidupku? Apakah kasihku berpura-pura, tertunda dan kudus? Apakah aku memakai senjata terang dari Kristus?

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 6 Agustus 2026

Kabar dari Bukit

  MENJALANI HIDUP MENURUT KEHENDAK TUHAN (Mazmur 119:33-40)

  ”Ajarilah aku arahan ketetapan-ketetapan-Mu, ya TUHAN, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir” (Mzm. 119:33, TB2)

Selamat pagi dan salam kasih.

Dalam kehidupan yang biasa dan nyaman, jarang kita bertanya: Mengapa saya ada dan hidup? Atau pertanyaan lain: ke mana arah hidup saya? Atau, apa yang utama dalam perjalanan hidup ini? Tetapi ketika datang kesusahan dan penderitaan yang seringnya tidak diundang, hal itu memaksa kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 Sebagaimana Alkitab tunjukkan, situasi berat yang dihadapi seseorang dapat berdampak dua arah. Pertama, timbul kekecewaan terhadap Tuhan, akibatnya menjauh. Ini biasanya terjadi karena tidak (pernah) melihat kebaikan Tuhan dan/atau tidak mengenal-Nya. Pertanyaan justru muncul: Kalau Tuhan baik, mengapa ini terjadi pada saya? Tetapi kesusahan juga dapat membawa manusia untuk mencari dan mengenal Tuhan lebih dekat, dan berpegang: "Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya tetap mencari-Mu."

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mazmur 119:33-40; ini sebuah doa permohonan yang indah, doa yang sungguh-sungguh ingin hidup menurut kehendak Tuhan, tetapi menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan-Nya untuk mampu melakukannya.

Nas bagian awal dibuka dengan permohonan: Ajarilah aku arahan... (ay. 33), dilanjutkan dengan beruntun:

"Buatlah aku mengerti..." (ay. 34);

 "Bimbinglah aku..." (ay. 35);

 "Condongkanlah hatiku..." (ay. 36);

 "Palingkanlah mataku..." (ay. 37);

 "Penuhilah janji-Mu..." (ay. 38);

 "Singkirkanlah cela..." (ay. 39);

 "Buatlah aku hidup..." (ay. 40).

Nas ini mengajarkan hal penting, yakni kita tidak hanya sekedar membaca atau mendengar firman-Nya, tapi juga mendengarkan dengan hati terbuka dan mencari kehendak-Nya dalam hidup kita; tidak hanya mengetahui jalan-Nya, tetapi juga mengerti dasar mengapa jalan itu harus ditempuh. Dari situlah timbul pengertian dan penerimaan yang menghasilkan janji, komitmen dan ketaatan.

Ada perbedaan antara "saya harus taat" dengan "saya ingin taat". Persoalan manusia bukan tidak tahu yang benar, melainkan hatinya sering menyukai yang berbeda. Mata sering menjadi titik masuk masalah, yang turun ke hati dan akhirnya mempengaruhi kehidupan. Itu sebabnya pemazmur meminta menjauhkan dirinya dari kesia-siaan (ay. 37).

Mengetahui kehendak Tuhan tidak otomatis akan membuat seseorang mampu menjalankannya. Kita tahu kejujuran itu baik, tetapi ketika ada peluang keuntungan, itu dapat menggoda kita tidak jujur. Padahal, jujur di hadapan Tuhan sesuatu yang mutlak. Kita membutuhkan Tuhan untuk mengarahkan hati, menjaga mata, dan membuat hidup kita lebih hidup.

Nas firman Tuhan minggu ini menyadarkan kita, selain perlunya jawaban atas masalah berat yang muncul, penting sekali memahami arah dan tujuan kehidupan. Oleh karena itu pemazmur ini menuliskan, "Memang baik bagiku, bahwa aku direndahkan, supaya aku mempelajari ketetapan-ketetapan-Mu" (ay. 71). Tentu maksudnya bukan mengatakan penderitaan itu menyenangkan, tetapi dengan melaluinya, kita belajar lebih mengenal Tuhan.

Lewat pergumulan dan penderitaan, manusia dengan mata rohaninya mendapatkan makna sejati arti sebuah hidup. Itu dasarnya pemazmur menekankan agar Tuhan mengubah hatinya sehingga mau dan mampu menjalaninya dengan teguh. Kita tidak hanya membutuhkan firman Tuhan untuk menunjukkan jalan yang benar, kita juga membutuhkan Tuhan sendiri untuk memberikan hati yang mau setia di jalan tersebut. Maka naikkanlah doa, mintalah kepada Tuhan agar kita mengerti dan mampu memegangnya sampai saat terakhir hidup kita.

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026

Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 (Opsi 2)

  MENASIHATI SESAMA (Mat. 18:15-20)

  ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat. 18:18)

 Beberapa waktu lalu seseorang mempertanyakan dan sekaligus menegur temannya di grup WA. Tentu sudah dapat diduga, keriuhan pun terjadi. Ada yang memprovokasi, dan ada yang dengan tenang membela dan menyarakan agar ditanyakan dahulu seluk beluknya. Bersyukur, masalah dianggap selesai di WA. Tetapi sisa dalam hati dan ingatan sulit diduga, dan lazimnya waktulah yang dapat menghapusnya. Pertolongan Roh Kudus tentu dapat mempercepat pemulihannya.

Firman Tuhan hari Minggu ini dari Mat. 18:15-20, diberikan kepada kita sebagai bekal kehidupan tentang menasihati sesama saudara. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan atau kekhilafan, kita cenderung menilai dan merasa orang itu perlu dinasihati dan bahkan dihukum. Tetapi perlu diingatkan bahwa mungkin saja orang tersebut bertindak dengan alasan tertentu, kondisional. Atau, cara kita melihatnya yang salah dan tidak sama, baik sumber informasinya atau analisisnya. Lagian, kita bukanlah dia. Siapa sih yang suka dinilai buruk dan dihakimi? Dampaknya bagi semua, merusak dan melelahkan pikiran. Dan perlu berefleksi, mungkin kita juga tidak lebih baik.

Melakukan kesalahan itu manusiawi. Kisah di Alkitab tatkala orang-orang ingin menguji Tuhan Yesus tentang perempuan yang berzina, dan menurut hukum Musa harus dilempari dengan batu. Tetapi Tuhan Yesus membungkuk dan menuliskan dengan jari-Nya di tanah, dan kemudian berkata: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh. 8:7). Ternyata semua orang pergi, karena merasa mereka juga melakukan dosa dan kesalahan. Tuhan Yesus kemudian berkata kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:10-11).

Nas minggu ini pesannya jelas. Bila ada orang lain berbuat kesalahan atau berdosa, tetaplah peduli, jangan cuek. Tapi bicaralah empat mata dalam kasih. Minta dan cari informasi selengkapnya. Jika kita merasa memang ada yang salah, nasihati; dan bersyukurlah bila ia menerimanya. Tetapi bila orang itu mengeyel, tidak bersedia dinasihati, Alkitab mengajarkan, bawalah saksi lainnya, bisa dua atau tiga orang. Jika orang itu masih mengotot dan terus merasa benar, maka bawalah masalah tersebut kepada jemaat (ayat 15-17a). Tentu ini konteks masalah gerejawi. Jika beda konteksnya, bawalah kepada organisasi. Alangkah lebih bagus, berdiskusilah dahulu dengan ahli dalam bidangnya, terutama pada hamba Tuhan yang terpercaya.

Bila masalah hanya di antara dua orang, janganlah mengotot membawa ke luar. Lebih baik mengalah. Alkitab mengatakan, orang yang mengalah akan lebih diberkati. Abraham mengalah kepada keponakannya Lot dengan memberi pihan pertama (Kej. 13:7-9). Daud mengalah kepada Saul dan tidak mau menghukumnya (1Sam. 24:1-10). Yesus mengalah kepada orang-orang yang menyakiti-Nya. Ternyata yang mengalah lebih diberkati. Jadi tidak perlu merasa rendah diri, tetapi yang benar kita merendahkan hati. Penulis terkenal Kenneth Blanchard dan Norman Vincent Peale dalam bukunya The Power of Ethical Management mengatakan: “People with humility don’t think less of themselves. They just think about themselves less” (Orang dengan kerendahan hati tidak menganggap rendah dirinya. Mereka hanya kurang memikirkan diri mereka sendiri). Dan tidak seorang pun dapat merendahkan diri kita tanpa izin kita.

Mereka yang tidak mau dinasihati, maka jauhkan diri darinya. Anggaplah mereka tidak mengenal Allah atau pemungut cukai (ayat 17b). Bila itu merupakan tempat atau perkumpulan, tinggalkan saja dan kebaskanlah debu dari kakimu (Mat. 10:14-15). Lepaskan, jangan menjadi beban dan ganjalan dalam hati dan pikiran, apalagi sampai terbawa mati. Nasihat minggu ini jelas: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (ayat 18).

Hidup dibuat sederhana saja. Tuhan menginginkan damai sejahtera bagi setiap orang yang mengikuti-Nya. Capailah kesepakatan meski tidak harus sepakat. Bila sepakat, maka haleluya, sebab firman minggu ini berkata, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (ayat 19-20). Duh, enaknya dan senangnya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 44 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14501211
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
3144
6308
9452
14453001
70868
229218
14501211

IP Anda: 216.73.217.116
2026-09-14 15:35

Login Form