Thursday, April 02, 2026

2026

Khotbah (3) Jumat Agung 3 April 2026

Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 3

 

 HAMBA TUHAN YANG MENDERITA (Yes. 52:13-53:12)

 

             Firman Tuhan bagi kita pada Jumat Agung, hari besar umat Kristiani ini, diambil dari Yes. 52:13-53:12. Judul perikop ini: Hamba TUHAN yang menderita.

 

 

 

            Nabi Yesaya sangat jelas dan tepat menuliskan nubuatan tentang turunnya Juruselamat untuk manusia. Namun gambaran hamba Tuhan yang diberikan, bukanlah seperti hal yang dipikirkan oleh umat Israel. Allah ingin membalik cari pikir mereka, yang beranggapan bahwa Raja dan Mesias yang datang tipikal Raja Daud atau pahlawan dalam mitos. Allah memiliki maksud tentang hal itu, menegaskan bahwa kadang-kadang yang dipikirkan manusia tidak selalu sama dengan pikiran Allah. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9).

 

 

 

            Hamba Tuhan yang datang tidak tampan dan tidak ada semaraknya. Mungkin ini gambaran tentang kesederhanaan-Nya. Tetapi penderitaan-Nya dituliskan rinci dan begitu buruk: seperti bukan manusia lagi, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia (52:14; 53:2b, 3). Itu terjadi karena Ia tertikam, dihina, dianiaya, penuh kesengsaraan, tetapi Ia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (53:7). Sebuah sikap hidup berserah tanpa banyak keluhan yang layak kita teladani.

 

 

 

            Ironisnya semua itu terjadi bukan karena kesalahan-Nya. “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. “Dia ditikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (53:5-6).

 

 

 

            Sangat jelas bahwa hamba Tuhan yang digambarkan nabi Yesaya adalah Yesus Kristus. Proses peradilan yang panjang dan tidak adil dihadapi Tuhan Yesus, termasuk cuci tangan dan saling lempar tanggungjawab, yang membuat penderitaan Yesus semakin berat. Tetapi ini mengukuhkan tidak ada nabi lain bahkan pemimpin agama lain yang mati bagi pengikutnya dan bahkan mati disalib. Itulah hamba Tuhan Yesus yang kita peringati penyaliban-Nya pada Jumat Agung ini.

 

 

 

            Alkitab dengan jelas menuliskan alasan Yesus harus mati, yakni agar kita hidup dan bahkan hidup kekal (Yoh. 3:16). Manusia terus berbuat dosa dan upah dosa adalah maut dan kematian. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsip penebusan, harus ada pengganti korban agar yang percaya konsep penebusan menjadi selamat (Rm. 6:23; Ef. 1:7). Allah mau turun dari sorga dan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7).

 

 

 

            Seperti dalam Perjanjian Lama, penghapusan dosa dan kesalahan hanya dapat dilakukan bila ada korban pengganti, berupa korban bakaran (Ola) atau korban penghabis dosa/salah (Khatta’t atau Asyam), ada darah yang tercurah, dan tentu terutama didasari oleh penyesalan dan pertobatan (Im. 1-7; 2Taw. 29:23; 1Yoh. 2:2). Dengan penyesalan dan pertobatan, maka kita layak mendapat pengampunan atas dosa-dosa yang terjadi (Kol. 1:14).

 

 

 

            Hal lainnya Yesus mati agar menjadi teladan bagi kita dengan kesetiaan-Nya (Flp. 2:8). Tuhan Yesus menyadari akan melewati penderitaan yang tidak tertahankan, sehingga Dia sampai mengatakan, “biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”, dan kemudian ditambahkan-Nya, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39).

 

 

 

            Itulah yang kita peringati di Jumat Agung tentang kasih dan kebesaran Tuhan Yesus, yang menderita dan mati bagi kita agar kita selamat. Respons terbaik kita adalah, ikut melayani Dia melalui kesaksian tentang kasih dan kuasa-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. Dan Ia berpesan, agar kita memperingati, merayakan, dan menerima tugas tanggungjawab kita dengan mengikuti perjamuan kudus (1Kor. 11:23-26). 

 

Selamat beribadah mengikuti perjamuan kudus dan memperingati pengorbanan-Nya.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 29 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 ROTI DAN HANDUK MENJELANG JUMAT AGUNG (Yoh. 13:1-17, 31b-35)

 "Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15)

 

Hari Jumat ini kita akan memperingati kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Biasanya tiap gereja akan mengadakan sakramen perjamuan kudus; jemaat pun akan lebih bersemangat untuk ikut beribadah. Kita menikmati dan menghayati pemecahan roti sebagai lambang tubuh Yesus dipecahkan, dan penuangan anggur sebagai lambang darah-Nya dicurahkan. Semua ini mengingatkan pengorbanan-Nya sekaligus tanda kita menjadi satu dengan Kristus, peneguhan penebusan dosa dan anugerah keselamatan yang kita terima di dalam iman.

 

Peristiwa ini diambil dari Injil Matius, Markus dan Lukas yang menjelaskannya dengan rinci; juga di 1 Korintus 11. Tetapi Injil Yohanes menulis dengan sisi lain, yang menjadi nas firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini, yakni Yoh. 13:1-17, 31b-35. Nas ini menceritakan tentang tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Dijelaskan di saat makan, Yesus bangun berdiri, menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan sehelai kain (handuk) lenan di pinggang-Nya, mengambil baskom, dan mulai membasuh kaki para murid (ay. 4-5), termasuk Yudas yang berkhianat.

 

Pembasuhan kaki ini hanya dituliskan pada Injil Yohanes. Ada beberapa gereja yang masih melakukan ritual ini, dan biasanya pada malam Kamis Putih sebelum Jumat Agung. Tetapi ada juga gereja yang tidak melakukannya dengan alasan tertentu. Tetapi kita perlu melihatnya bahwa pembasuhan kaki oleh Yesus merupakan keteladanan yang luar biasa. Peristiwa ini bersamaan dalam perjamuan terakhir, sebab Yesus telah mengetahui saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa (ay. 1); ... dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh (Mrk. 10:34).

 

Pembasuhan kaki memiliki makna yang dalam, sejajar dengan pemeriksaan diri (censura morum) tentang kelayakan kita menerima roti dan anggur, tubuh dan darah-Nya. Perjamuan Kudus memberi kesempatan kepada kita untuk menerima kasih Kristus, sementara pembasuhan kaki menuntut kesiapan kita untuk membagikan kasih itu kepada sesama.

 

Tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki memberi kita beberapa teladan konkrit. Pertama, keutamaan dalam melayani sesama adalah kerendahan hati. Lap handuk membersihkan yang kotor dalam arti kita melayani siap turun ke bawah, bahkan ke bagian tidak nyaman. Yesus sebagai Guru menjadi hamba, yang posisi tinggi siap menjadi yang terendah (ay. 14). Kedua, dalam mengasihi kita tidak boleh pandang muka, seperti Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan Petrus yang kemudian menyangkalnya. Ketiga, dalam mengasihi kita perlu tuntas, tidak sepotong-sepotong, terhenti, sebagaimana Yesus mengasihi hingga kesudahannya (ay. 1).

 

Nas ini juga mengingatkan melalui percakapan Yesus dengan Petrus yang meminta bukan hanya kakinya yang dibasuh, tetapi juga tangan dan kepalanya. Tetapi Yesus berkata kepada Petrus: “Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.” Artinya, keselamatan dengan iman berlaku untuk selamanya (ay. 10; Ibr. 10:10), tetapi membasuh kaki yakni pembersihan dosa sehari-hari tetaplah perlu dilakukan.

 

Nas minggu ini ditutup dengan ayat 31b-35. Ini penekanan kembali ayat 15 yang menegaskan, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.... Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.” (bdk. 1Kor. 11:26). Janganlah kita menyukai roti tapi melupakan lap handuk untuk melayani. Jangan kita suka ikut Perjamuan Kudus tetapi tidak mau melayani dan mengasihi sesama dengan kerendahan hati.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Khotbah Minggu (2) VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026 – Opsi 2

 

SENGSARA DAN KEMENANGAN (Mat. 26:14-75)

 

 

Hari ini minggu terakhir Pra Paskah, disebut Minggu Palma sekaligus Minggu Sengsara. Nas bacaan bila dari Injil Sinoptik biasanya tentang pra pengadilan Tuhan Yesus oleh Mahkamah Agama dan Pilatus. Minggu ini pun kita membaca dari Mat. 26:14-75, yang terdiri dari rangkaian kisah berikut:

 

-          Yudas mengkhianati Yesus (ayat 14-16);

-          Yesus makan Paskah dengan murid-muridNya (ayat 17-25);

-          penetapan perjamuan malam (ayat 26-29);

-          Petrus menyangkal Yesus (ayat 30-35);

-          di taman Getsemani (ayat 36-46);

-          Yesus ditangkap (ayat 47-56);

-          Yesus di hadapan Mahkamah Agama (ayat 57-68); dan 

-          Petrus menyangkal Yesus (ayat 69-75).

 

Dari kisah-kisah di atas kita melihat tiga hal besar. Pertama tentang kelemahan manusia. Yudas dengan tega hati "menjual" Tuhan Yesus demi uang, meski ia akhirnya menyesalinya, tetapi sayangnya bunuh diri dengan tragis. Petrus salah satu murid yang dikasihi Yesus, juga akhirnya kalah. Oleh karena rasa takutnya dan ingin menyelamatkan dirinya dari hukuman dan siksaan, Petrus menyangkal dirinya sebagai murid Yesus. Hal baiknya, Petrus menyesalinya, bertobat, dan kembali menjadi murid kesayangan Tuhan Yesus. Ia dipakai sebagai salah satu rasul yang menuliskan wahyu-Nya kepada kita.

 

Petrus sebenarnya kuat imannya, teguh dalam prinsip, seorang pemberani yang memotong kuping serdadu (ayat 51). Ia semula berkata kepada Yesus: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (ayat 33). “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (ayat 35). Kedengaran hebat untuk membuat hati Tuhan senang. 

 

Tetapi sikap sesumbar dan mengandalkan kemampuan diri (terlebih bila disertai sikap emosional dan untuk mencari muka), maka iblis akan mudah mengincarnya. Tuhan kadang membiarkan hal itu terjadi. Tetapi yang penting, bila terjadi, kita sadar dan menyesalinya, lantas berubah total menjadi manusia baru. Mereka yang terantuk dua kali oleh batu yang sama, serupa kebodohannya dengan keledai. Itu kata pepatah. Pesan-Nya pun bagi kita: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (ayat 41).

 

Hal kedua dari kisah tersebut adalah menampakkan kasih Tuhan Yesus, yang begitu besar kepada murid-murid-Nya dan kepada kita semua orang percaya. Sebagai manusia sejati, Ia berdoa dalam rasa takut, memohon cawan penderitaan yang akan terjadi itu berlalu dari-Nya. Akan tetapi Yesus teguh menyelesaikan misi-Nya dengan tuntas. Ia kemudian mempersiapkan bagi kita ritual abadi, yakni perjamuan kudus, untuk mengingat dan merayakan kebaikan Tuhan Yesus bagi kita. Inilah sukacita abadi kita, karena tubuh dan darah-Nya tetap menyatu dalam tubuh dan roh kita, sehingga hidup kita terus dimampukan melalui segala pergumulan hidup dan selalu dalam pimpinan Roh Tuhan. 

 

Hal ketiga, Tuhan Yesus mempersiapkan diri-Nya menjadi pemenang. Meski Ia dihina dan dilecehkan, bahkan diludahi muka-Nya, ditinju dan dipukul, Ia tetap mengalah (ayat 67). Para pemimpin agama pun mencari kesaksian palsu, agar Ia dapat dihukum mati. Tetapi Tuhan Yesus mengalah. Kita jadi ingat Abraham mengalah terhadap Lot, dan Daud mengalah terhadap Saul (Kej. 13:7-11; 1Sam. 24). 

 

Mereka yang mengalah akan menjadi pemenang di akhirnya. Inilah pelajaran hidup bagi kita. Yesus taat sampai mati. Ia menang dan sebagai penebus bagi kita orang berdosa, agar kita yang taat akan diselamatkan, tidak saja melalui badai Covid ini, tetapi hingga kelak ke dalam kehidupan kekal. Terpujilah Dia yang disalibkan. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026

 

SEGALA LIDAH MENGAKU: YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN (Flp. 2:5-11)

Bacaan lainnya: Yes. 50:4-9a; Mzmr. 31:9-16; Mat. 26:14-27:66 atau Mat. 27:11-54

 

 

Pendahuluan

Dari beberapa referensi yang ada nas bacaan ini dianggap sebagai kutipan kidung populer di masa awal gereja. Tetapi mungkin juga merupakan kutipan tentang nubuatan seorang hamba yang menderita pada Yes 53, meski penggambarannya tidak lengkap tentang Tuhan Yesus. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengingatkan orang percaya di Filipi bahwa mereka harus berbeda dengan orang lain yang belum percaya. Beberapa hal telah disampaikan pada ayat 1-4 tentang perlunya mereka sehati sepikir dan mengutamakan kepentingan orang lain. Melalui nas minggu ini kita diberikan beberapa pemikiran pokok lainnya sebagai berikut. 

 

Pertama: Pikiran dan perasaan sesuai Kristus Yesus (ayat 5)

Inkarnasi adalah tindakan pra-keberadaan Anak Allah dengan kerelaan hati menjadi manusia dengan tubuh dan perilaku manusia (band. Yoh. 1:1-14; Rm. 1:2-5; 2Kor. 8:9; 1Tim. 3:16; Ibr 2:14; 1Yoh. 1:1-3 tentang penjelasan inkarnasi). Tanpa ”berhenti” sebagai Allah, Anak Allah itu menjadi manusia biasa, yang dinamai dan dipanggil sebagai Yesus. Sebagai manusia biasa, Dia tidak menonjolkan keilahian-Nya, tetapi justru menyampingkan hak untuk dimuliakan dan dihormati sebagai Allah. Di dalam total penyerahan-Nya kepada Allah Bapa, Yesus Kristus membuat semua kehidupan-Nya sederhana yakni perihal kuasa dan pelayanan-Nya. Dia hidup sebagai orang Nazaret, kedudukan-Nya disesuaikan menurut tempat, waktu dan berbagai keterbatasan manusiawi lainnya. Justru di dalam kemanusiaan-Nya yang sejati itu, Yesus memperlihatkan kepada kita segala sesuatu tentang sifat-sifat Allah yang dapat dipahami dengan istilah dan ungkapan manusia. Yang membuat kemanusiaan-Nya menjadi unik adalah bahwa Ia tidak berdosa dan bebas dari dosa. 

 

Melalui nas yang kita baca beberapa karakter Kristus dinyatakan, seperti:

 

  • ·  Kristus adalah sama dengan Allah (Yoh. 1:1- dab; Kol. 1:15-19)
  • ·  Kristus telah ada sejak awal bersama-sama Allah 
  • ·  Meski Kristus adalah Allah, Ia menjadi manusia untuk memenuhi kehendak Bapa demi penyelamatan manusia 
  • ·  Kristus tidak hanya “nampak” sebagai manusia, tetapi Ia menjadi manusia sejati untuk mengenal dosa-dosa manusia
  • ·  Kristus dengan sukarela menyampingkan hak dan keistimewaan-Nya yang Ilahi demi untuk kasih kepada Allah Bapa 
  • ·  Kristus mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita agar kita tidak dihadapkan dengan kematian kekal
  • ·  Allah Bapa memuliakan Kristus sebab Ia setia dan taat sampai mati
  • ·  Allah Bapa membangkitkan Kristus dan mengembalikan-Nya ke kedudukan semula di sebelah kanan Allah Bapa, dan Dia akan berkuasa selama-lamanya sebagai Tuhan dan Hakim

 

Oleh karena itu, bagaimana mungkin kita tidak memuji dan memuliakan Dia sebagai Tuhan? Namun kenyataannya, manusia lebih sering mementingkan diri sendiri, merasa bangga dan terus berbuat jahat dengan justifikasi merasa diri benar dan itu adalah haknya. Mereka bisa bebas menyontek demi kelulusan, mereka bisa bebas menggunakan uangnya karena merasa telah berjerih payah untuk itu, bahkan manusia ada yang merasa bisa melakukan aborsi sebab merasa mereka sendiri yang memiliki tubuhnya. Namun perlu diingat, sebagai orang percaya, kita harus bersikap berbeda, menyampingkan segala hak dan keistimewaan terlebih untuk kepentingan orang lain. Betul, kita berhak atas penghasilan kita dan sudah bekerja keras untuk itu, akan tetapi kita juga perlu memahami bahwa kita memiliki tanggungjawab terhadap mereka yang berkekurangan, tanggungjawab untuk mengabarkan Injil, dan tanggungjawab untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan harta kita (Ams. 3:9). Kalau kita mengatakan mengikut Yesus, maka kita juga harus berusaha hidup seperti Dia dan menyerahkan diri dalam pelayanan bagi-Nya. Inilah yang dimaksud dengan berperasaan dan berpikiran seperti Kristus yang harus dimiliki oleh orang percaya.

 

Kedua: Kesetaraan dan pengosongan diri (ayat 6-7)

Dalam nas kalimat disebutkan, Kristus "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan", maksudnya adalah kedudukan itu tidak dianggap-Nya sebagai harga yang harus dipertahankan untuk kepentingan diri-Nya sendiri. Ia melepaskan keistimewaan dan kemuliaan-Nya di sorga agar manusia yang sudah tersesat jauh dapat diselamatkan. Ia juga tidak merasa perlu bahwa Ia terus berusaha menjadi “selalu sama” dengan Allah dalam misi-Nya ke dunia ini. Kesetaraan hal yang nonsense,dan yang utama bagi Yesus adalah manusia dapat diselamatkan. Yesus meninggalkan takhta kedudukan yang mulia di sorga dan mengambil tempat hina sebagai hamba yang menderita, serta taat sampai mati untuk kepentingan orang lain.

 

Ia juga disebut mengosongkan diri sebab selama tiga setengah tahun masa pelayanan-Nya di dunia, Yesus rela berkorban menjadi manusia dengan segala kelemahannya, dalam pengertian memiliki rasa sakit, lapar, haus, sedih dan lainnya. Pengosongan diri adalah melepas kehebatan dan keistimewaan dengan segala atribut dan predikat yang sebenarnya dimiliki. Pengosongan diri sama seperti kalau kita orang dewasa berbicara kepada anak kecil, maka pola pikir dan cara berbicara kita haruslah seperti anak kecil, agar kita mudah dimengerti dan diikuti. Kalau kita mempertahankan status dan predikat kita sebagai orang dewasa dan menempatkan diri lebih pintar, maka komunikasi tidak berjalan baik. Inilah yang dimaksud dengan pengosongan diri. Bahkan pengosongan diri Yesus tidak sekadar secara sukarela melepas hak istimewa ilahi-Nya, tetapi juga kesediaan menderita, menerima perlakuan buruk, kebencian, siksaan, bahkan kematian terkutuk di kayu salib.

 

Tuhan Yesus dengan rendah hati bersedia sebagai hamba dengan melepas keistimewaan-Nya demi untuk menuruti kehendak Bapa dan penyelamatan manusia. Sebagaimana Kristus, kita juga harus memiliki sikap dan sifat seorang hamba, seorang pelayan, melayani penuh kasih kepada Bapa dan juga kepada sesama, bukan karena rasa bersalah atau perasaan bersalah. Perlu kita ingat, yang menentukan sikap dan sifat kita adalah diri kita sendiri. Kita dapat menjalani kehidupan ini dengan berkeras meminta dilayani dan dipuja-puji dihormati; atau kita mencari kesempatan untuk bisa melayani orang lain (band. Mrk. 10:45 tentang sifat-sifat melayani). Inilah yang dimaksudknas minggu ini melalui pesan bagi orang percaya di Filipi, agar mereka jangan terus menyombongkan diri sebagai orang Romawi dan tidak mau melayani. Pertanyaannya, apakah perasaan mementingkan diri sendiri kita hendak lekatkan terus pada hak-hak pribadi, atau semestinya kita perlu melayani orang lain? Kita diminta mengembangkan sikap dan kerendahan hati untuk melayani, meski kadang upaya dan kerja kita itu tidak mendapat pengakuan dari orang lain. Tapi Allah mengetahui semua itu.

 

Ketiga: Merendahkan diri untuk ditinggikan (ayat 8-9)

Dengan Allah menjadi manusia, itu bukan penyangkalan atau mengurangi Keilahian-Nya. Demikian juga Yesus, Ia tidak berhenti menjadi Tuhan ketika menjadi manusia. Penjelmaan lebih dimaksudkan kepada sisi kemanusiaannya yang ditampilkan. Alkitab juga mengungkapkan bahwa Yesus selama di dunia tidak pernah menyangkal keilahian-Nya. Dalam berbagai kesempatan, Ia berulang kali menyatakan dirinya sebagai Tuhan (Mat. 16:16-17; Yoh. 6:68-69; 8:58; 10:30). Ia sadar memiliki dua hakikat ilahi dan manusiawi yang menyatu dalam satu pribadi: Allah sejati dan manusia sejati. Yesus sebagai Adam terakhir yang berasal dari sorga (1Kor. 15:47). Sebagai manusia, Yesus dapat berinkarnasi dalam wujud “Raja” atau hal yang kemilau dan kegemilangan yang memancarkan kedahsyatan dan perasaan kekaguman. Akan tetapi Ia tetap taat sebagaimana Allah Bapa menempatkan perjalanan hidup-Nya: sebagai orang miskin yang menderita dan pesan itu yang disampaikan agar kita juga taat kepada tuan kita di dunia ini (Kol. 3:22; band. Yes. 52:13 dab).

 

Dalam sistem hukum Romawi, hukuman mati dengan penyaliban adalah hukuman berat yang diberikan kepada penjahat besar. Hukuman ini sangat menyakitkan secara fisik dan juga direndahkan secara manusia, sebab mereka harus dipaku di tangan dan kakinya di kayu salib dan dibiarkan mati perlahan-lahan. Apabila proses kematiannya dianggap terlalu lama, akan dilakukan penusukan dan dicek sambil mematahkan kakinya, untuk melihat apakah masih ada reaksi atau tidak. Bagi mereka yang masih sehat tatkala disalibkan, kematian dapat berlangsung beberapa hari menunggu mati lemas, terlebih memikul berat badan dan kesulitan bernapas. Yesus sendiri karena melalui penyiksaan sebelum disalib, kematian-Nya menjadi lebih cepat terlebih dengan tusukan di lambung. Sungguh penderitaan yang berat. Yesus disiksa dan mati di kayu salib sebagai orang yang terkutuk (Gal. 3:13). Sungguh mengherankan bagaimana Anak Allah yang tidak berdosa harus mati dengan cara seperti itu?

 

Inilah yang menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari. Adanya kecenderungan manusia untuk lebih senang dipuji dan menyombongkan diri haruslah dibuang dan dihindari. Alkitab menceritakan bagaimana manusia ingin membangun menara Babel. Membangun menara adalah hal yang baik dan memiliki kemampuan adalah hal yang positif, tapi yang salah adalah motivasi dan tujuan membangun menara tinggi, yakni kesombongan, apalagi untuk dapat bersaing dengan Tuhan. Mereka yang menyukai kesombongan seperti akan tiba saatnya mereka direndahkan dan dihukum. Mereka yang meninggikan diri akan direndahkan dan mereka yang merendahkan dirinya akan ditinggikan (Mat. 23:12; Luk. 14:11). Yesus telah merendahkan diri-Nya dalam pelayanan-Nya di bumi, dan Allah kemudian meninggikan Yesus dengan mendudukan-Nya di sebelah kanan-Nya. Semangat Kristus melayani dan bukan dilayani, maka demikianlah juga kita, menggelorakan semangat melayani dan bukan dilayani, sehingga kita tidak direndahkan melainkan ditinggikan oleh Bapa di sorga. 

 

Keempat: Yesus Kristus adalah Tuhan (ayat 10-11)

Ada beberapa cara membuktikan ke-Allah-an Tuhan Yesus, dalam arti Ia berasal dari Allah dan memiliki kuasa yang sama dengan Allah. Hal ini dimulai dari banyaknya nubuatan pada kitab Perjanjian Lama yang "match" dengan Pribadi-Nya, sampai kepada peristiwa pra kelahiran melalui kandungan Maria dan kuasa Roh Kudus, kemudian peristiwa kelahiran yang mengagumkan, perkembangan pribadi, hingga pelayanan yang dilakukan selama tiga setengah tahun yang penuh dengan kuasa dan mukjizat. Demikian pula cara mati Yesus, peristiwa pasca kematian, pelayanan setelah kebangkitan dan bahkan kenaikan ke sorga yang disaksikan banyak orang, membuat semua itu tanpa keaguan Yesus adalah dari Allah, Anak Allah dan memiliki kuasa yang sama dengan Allah. Pasca kenaikan yang begitu dahsyat dalam sejarah gereja, mulai dari kebangkitan semangat para rasul, ketekunan dan kegigihan bapak-bapak gereja dan kaum missionaris, sehingga pengikut Yesus umat terbesar di dunia. 

                                 

Perjalanan dan bukti yang demikian kuat itulah yang membuat Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, dalam arti memiliki pengikut terbesar umat beragama yang hampir mencapai 3 milyar (agama kedua terbesar adalah Islam dan ketiga Hindu). Tidak ada nama lain yang lebih dikenal oleh banyak orang dari pada nama Yesus di muka bumi ini. Pada akhir zaman nanti, sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab (Kis 10:42), Yesus juga akan dilihat dan diakui semua orang sebagai Hakim dan berkuasa atas semua manusia, termasuk mereka yang dihukum dan tidak diselamatkan, dan kitab suci agama lain juga mengakui akan peran Yesus dalam masa penghakiman. Oleh karena itu, benarlah dalam nas ini dikatakan,“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Pengertian di bawah bumi sendiri merupakan penafsiran dunia orang mati pada saat itu (band Kis. 5:3, 13).

 

Semua orang yang telah mendengar kisah dan firman-Nya, dapat memilih untuk tidak mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia. Pengakuan itu sendiri merupakan hal pokok dalam iman Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan Ia adalah Juruselamat setiap orang percaya (Rm. 10:9; 1Kor. 12:3; Kol. 2:6). Jadi Ia bukan sekedar Rasul, Nabi atau Guru sebagaimana panggilan lainnya dalam Alkitab.  Akan tetapi semua yang sudah mengaku percaya perlu bertindak dengan komitmen untuk mengasihi-Nya. Semua orang percaya memiliki prinsip hidup yang nyata dengan penuh tanggungjawab, sebagai bagian dari gereja untuk memberdayakan setiap orang dan memakai setiap kesempatan untuk meninggikan nama-Nya, sehingga semakin banyak di bumi ini yang diselamatkan dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

Penutup

Melalui bacaan minggu ini kembali kita diingatkan pentingnya orang percaya untuk memiliki perasaan dan pikiran yang sama dengan Kristus, dalam arti kata menjadi serupa dengan Dia (Flp. 3:10). Dalam sikap pergaulan keseharian, kita harus bisa mengabaikan kesetaraan dan berusaha mengosongkan diri sebagai wujud kerendahan hati untuk tercapainya maksud tujuan pemberi tugas. Mereka yang merendahkan diri pada akhirnya pasti akan ditinggikan, bukan saja di dunia ini melainkan juga di sorga. Sebaliknya, mereka yang merasa selalu ingin ditinggikan akan direndahkan dan dipermalukan bahkan mendapat penghukuman. Bagi kita orang percaya, tujuan dari semua itu adalah melalui kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, semua orang dapat melihat hidup Yesus di dalam diri kita, sehingga mereka ikut dan memuji dan memuliakan Yesus, dan semua lidah akan mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu (3) VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026 – Opsi 3

 

LIDAH MURID (Yes. 50:2-9a)

 

“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” 

(Yes. 50:4a)

 

 

Ada dua tujuan hukuman termasuk penjara. Pertama, manusia yang telah terbukti menyusahkan dan merugikan orang lain, layak dihukum demi keadilan dan ketertiban. Kedua, dalam masa dihukum tersebut, manusia yang bersalah diharapkan dapat merenungkan kembali perbuatannya, berefleksi, menyadari dan berpaling dari kesalahannya.

 

Itulah pesan nas firman untuk kita di hari minggu ini Yes. 50:2-9a. Bangsa Israel pada kondisi lemah lesu setelah mereka dibuang ke Babel; itu hukuman Allah karena mereka tidak taat. Namun Allah menegaskan kembali kasih-Nya, kuasa-Nya dan pertolongan yang telah Allah berikan sebelumnya kepada mereka, saat Allah “mengeringkan laut, membuat sungai-sungai menjadi padang gurun; ikan-ikannya berbau amis karena tidak ada air dan mati kehausan” (ayat 2-3; lihat Kel. 7:20-21; 14:21-22; 10:21-22).

 

Saat bangsa Israel kehilangan motivasi, dan lari mempersalahkan Tuhan atas penderitaan yang mereka alami, Allah kemudian meminta mereka taat menjalankan tugas panggilan untuk dipakai Tuhan. Allah berkehendak mereka bangkit. Nabi Yesaya menjadi contoh yang dipakai Tuhan, model kebangkitan baru. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu,” ungkap Yesaya pada ayat 4a.

 

Ketaatan murid diperlihatkan dengan cara memanfaatkan lidah dalam nas ini. Pada era digital saat ini, lidah juga berarti sesuatu yang dituliskan. Postingan pesan misalnya di WA/FB merupakan ekspresi yang keluar dari hati, meski bentuknya dalam tulisan. Menjaga ekspresi hati terlebih di wilayah publik, itu sangat penting. Masih ada kita lihat postingan yang tidak berhikmat, dengan merasa paling tahu, tidak adil dan berimbang, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. Semua ini merupakan bentuk belum bersihnya hati nurani kita. “Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Luk. 6:45b).

 

Jangan biarkan "lidah atau tulisan" kita menjadi "lidah yang tak bertulang", yang tidak bisa dikendalikan. Kitab Yakobus telah mengingatkan hal ini dengan menuliskan: “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api ....” (Yak. 3:5-6).

 

Untuk menjaga lidah, menurut nas ini, perlu selalu menyendengkan telinga kepada firman Tuhan. “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku” (ay. 4b-5a). Panggilan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat melalui perkataan, diingatkan juga oleh penulis Ibrani, “marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:25b). Pakai karunia menasihati dalam hidup, terutama dalam kerendahan hati (Rm. 12:8).

 

Namun meski kita melakukannya dengan baik sesuai firman Tuhan, kadang hasilnya dapat juga hal yang buruk. Nas minggu ini mengingatkan, agar kita tidak mudah menyerah dan tetap menghadapinya dengan kesabaran (ay. 6). Nabi Yesaya memiliki iman bahwa Tuhan menolongnya, tidak akan memberi malu, dan selalu menang (ay. 7-8). Inilah juga gambaran yang dialami Tuhan Yesus dalam kita memasuki minggu sengsara yang berpuncak di Jumat Agung. Ia hanya berkata-kata yang baik, tapi dihukum. “Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” (ay. 9a). Haleluya.... Yesaya, Yesus, dan kita adalah pemenang.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 41 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13662584
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1449
7000
29810
13588949
12077
166521
13662584

IP Anda: 216.73.216.221
2026-04-03 06:47

Login Form