Monday, March 30, 2026

2026

Khotbah Minggu (2) VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026 – Opsi 2

 

SENGSARA DAN KEMENANGAN (Mat. 26:14-75)

 

 

Hari ini minggu terakhir Pra Paskah, disebut Minggu Palma sekaligus Minggu Sengsara. Nas bacaan bila dari Injil Sinoptik biasanya tentang pra pengadilan Tuhan Yesus oleh Mahkamah Agama dan Pilatus. Minggu ini pun kita membaca dari Mat. 26:14-75, yang terdiri dari rangkaian kisah berikut:

 

-          Yudas mengkhianati Yesus (ayat 14-16);

-          Yesus makan Paskah dengan murid-muridNya (ayat 17-25);

-          penetapan perjamuan malam (ayat 26-29);

-          Petrus menyangkal Yesus (ayat 30-35);

-          di taman Getsemani (ayat 36-46);

-          Yesus ditangkap (ayat 47-56);

-          Yesus di hadapan Mahkamah Agama (ayat 57-68); dan 

-          Petrus menyangkal Yesus (ayat 69-75).

 

Dari kisah-kisah di atas kita melihat tiga hal besar. Pertama tentang kelemahan manusia. Yudas dengan tega hati "menjual" Tuhan Yesus demi uang, meski ia akhirnya menyesalinya, tetapi sayangnya bunuh diri dengan tragis. Petrus salah satu murid yang dikasihi Yesus, juga akhirnya kalah. Oleh karena rasa takutnya dan ingin menyelamatkan dirinya dari hukuman dan siksaan, Petrus menyangkal dirinya sebagai murid Yesus. Hal baiknya, Petrus menyesalinya, bertobat, dan kembali menjadi murid kesayangan Tuhan Yesus. Ia dipakai sebagai salah satu rasul yang menuliskan wahyu-Nya kepada kita.

 

Petrus sebenarnya kuat imannya, teguh dalam prinsip, seorang pemberani yang memotong kuping serdadu (ayat 51). Ia semula berkata kepada Yesus: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (ayat 33). “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (ayat 35). Kedengaran hebat untuk membuat hati Tuhan senang. 

 

Tetapi sikap sesumbar dan mengandalkan kemampuan diri (terlebih bila disertai sikap emosional dan untuk mencari muka), maka iblis akan mudah mengincarnya. Tuhan kadang membiarkan hal itu terjadi. Tetapi yang penting, bila terjadi, kita sadar dan menyesalinya, lantas berubah total menjadi manusia baru. Mereka yang terantuk dua kali oleh batu yang sama, serupa kebodohannya dengan keledai. Itu kata pepatah. Pesan-Nya pun bagi kita: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (ayat 41).

 

Hal kedua dari kisah tersebut adalah menampakkan kasih Tuhan Yesus, yang begitu besar kepada murid-murid-Nya dan kepada kita semua orang percaya. Sebagai manusia sejati, Ia berdoa dalam rasa takut, memohon cawan penderitaan yang akan terjadi itu berlalu dari-Nya. Akan tetapi Yesus teguh menyelesaikan misi-Nya dengan tuntas. Ia kemudian mempersiapkan bagi kita ritual abadi, yakni perjamuan kudus, untuk mengingat dan merayakan kebaikan Tuhan Yesus bagi kita. Inilah sukacita abadi kita, karena tubuh dan darah-Nya tetap menyatu dalam tubuh dan roh kita, sehingga hidup kita terus dimampukan melalui segala pergumulan hidup dan selalu dalam pimpinan Roh Tuhan. 

 

Hal ketiga, Tuhan Yesus mempersiapkan diri-Nya menjadi pemenang. Meski Ia dihina dan dilecehkan, bahkan diludahi muka-Nya, ditinju dan dipukul, Ia tetap mengalah (ayat 67). Para pemimpin agama pun mencari kesaksian palsu, agar Ia dapat dihukum mati. Tetapi Tuhan Yesus mengalah. Kita jadi ingat Abraham mengalah terhadap Lot, dan Daud mengalah terhadap Saul (Kej. 13:7-11; 1Sam. 24). 

 

Mereka yang mengalah akan menjadi pemenang di akhirnya. Inilah pelajaran hidup bagi kita. Yesus taat sampai mati. Ia menang dan sebagai penebus bagi kita orang berdosa, agar kita yang taat akan diselamatkan, tidak saja melalui badai Covid ini, tetapi hingga kelak ke dalam kehidupan kekal. Terpujilah Dia yang disalibkan. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu (3) VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026 – Opsi 3

 

LIDAH MURID (Yes. 50:2-9a)

 

“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” 

(Yes. 50:4a)

 

 

Ada dua tujuan hukuman termasuk penjara. Pertama, manusia yang telah terbukti menyusahkan dan merugikan orang lain, layak dihukum demi keadilan dan ketertiban. Kedua, dalam masa dihukum tersebut, manusia yang bersalah diharapkan dapat merenungkan kembali perbuatannya, berefleksi, menyadari dan berpaling dari kesalahannya.

 

Itulah pesan nas firman untuk kita di hari minggu ini Yes. 50:2-9a. Bangsa Israel pada kondisi lemah lesu setelah mereka dibuang ke Babel; itu hukuman Allah karena mereka tidak taat. Namun Allah menegaskan kembali kasih-Nya, kuasa-Nya dan pertolongan yang telah Allah berikan sebelumnya kepada mereka, saat Allah “mengeringkan laut, membuat sungai-sungai menjadi padang gurun; ikan-ikannya berbau amis karena tidak ada air dan mati kehausan” (ayat 2-3; lihat Kel. 7:20-21; 14:21-22; 10:21-22).

 

Saat bangsa Israel kehilangan motivasi, dan lari mempersalahkan Tuhan atas penderitaan yang mereka alami, Allah kemudian meminta mereka taat menjalankan tugas panggilan untuk dipakai Tuhan. Allah berkehendak mereka bangkit. Nabi Yesaya menjadi contoh yang dipakai Tuhan, model kebangkitan baru. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu,” ungkap Yesaya pada ayat 4a.

 

Ketaatan murid diperlihatkan dengan cara memanfaatkan lidah dalam nas ini. Pada era digital saat ini, lidah juga berarti sesuatu yang dituliskan. Postingan pesan misalnya di WA/FB merupakan ekspresi yang keluar dari hati, meski bentuknya dalam tulisan. Menjaga ekspresi hati terlebih di wilayah publik, itu sangat penting. Masih ada kita lihat postingan yang tidak berhikmat, dengan merasa paling tahu, tidak adil dan berimbang, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. Semua ini merupakan bentuk belum bersihnya hati nurani kita. “Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Luk. 6:45b).

 

Jangan biarkan "lidah atau tulisan" kita menjadi "lidah yang tak bertulang", yang tidak bisa dikendalikan. Kitab Yakobus telah mengingatkan hal ini dengan menuliskan: “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api ....” (Yak. 3:5-6).

 

Untuk menjaga lidah, menurut nas ini, perlu selalu menyendengkan telinga kepada firman Tuhan. “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku” (ay. 4b-5a). Panggilan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat melalui perkataan, diingatkan juga oleh penulis Ibrani, “marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:25b). Pakai karunia menasihati dalam hidup, terutama dalam kerendahan hati (Rm. 12:8).

 

Namun meski kita melakukannya dengan baik sesuai firman Tuhan, kadang hasilnya dapat juga hal yang buruk. Nas minggu ini mengingatkan, agar kita tidak mudah menyerah dan tetap menghadapinya dengan kesabaran (ay. 6). Nabi Yesaya memiliki iman bahwa Tuhan menolongnya, tidak akan memberi malu, dan selalu menang (ay. 7-8). Inilah juga gambaran yang dialami Tuhan Yesus dalam kita memasuki minggu sengsara yang berpuncak di Jumat Agung. Ia hanya berkata-kata yang baik, tapi dihukum. “Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” (ay. 9a). Haleluya.... Yesaya, Yesus, dan kita adalah pemenang.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026

Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026

 

 HIDUP OLEH ROH (Rm. 8:6-11)

 

Bacaan lainnya: Yeh. 37:1-14; Mzm. 130; Yoh. 11:1-45

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Dalam bacaan nas minggu ini Rasul Paulus mengungkapkan rencana Allah terhadap krisis yang dialami oleh orang percaya. Manusia telah terjerat dalam keinginan daging dan hidup menurut keinginan daging. Di lain pihak nas ini juga menyampaikan adanya hubungan antara roh orang percaya dengan Roh Kudus dan Bapa. Kita perlu disadarkan bahwa hidup di dalam keinginan daging itu menjadi sesuatu yang sia-sia. Akibat dosa, kita ditempatkan ke dalam perjalanan menuju kematian. Namun kasih Allah tidak terbatas, Roh Kudus akan menuntun orang percaya untuk dapat mencapai kemenangan atas dosa. Maka melalui nas minggu ini kita diberi pelajaran penting tentang hidup menurut keinginan daging dan hidup oleh Roh.

 

 

 

Pertama: Keinginan daging (ayat 6a, 7-8)

 

Kata sarx yang dipakai dalam nas ini memang secara harafiah berarti daging. Namun Rasul Paulus memakai kata daging dalam pengertian yang lebih luas, tidak hanya berarti tubuh atau dunia tetapi juga dalam pengertian nafsu dan ambisi manusia dengan segala kelemahannya. Keinginan daging dalam hal ini juga tidak terbatas pada keinginan tubuh atau seksual, tetapi juga merupakan sifat buruk yang membuat manusia masuk ke dalam jerat iblis dan jatuh dalam dosa. Semua sumber keinginan daging ini berasal dari diri sendiri, bukan kepentingan orang lain apalagi untuk kepentingan Allah. Keinginan daging manusia dengan roh yang lemah, dimanfaatkan oleh iblis dengan segala tipu daya dan kebohongannya, agar manusia terus didorong kuat untuk melakukan perbuatan dosa, melupakan Allah dan membuat keadaan menjadi putus asa dan frustasi. Adanya kecenderungan berbuat dosa (dosa asal) dari Adam membuat situasi semakin buruk dan menjauh dari Allah.

 

 

 

Keinginan daging merupakan pemberontakan dalam diri manusia yang berwujud nyata, yaitu berupa percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,  kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal. 5:19-21a). Dengan semakin kompleksnya dunia dan hidup manusia, keinginan daging itu telah bertambah dengan penyakit kejiwaan lainnya yang berhubungan dengan sifat sadisme dan kekerasan, narkoba dan kecanduan zat aditif lainnya, penyakit yang dibawa pornografi, judi, dan lain sebagainya (band. Kol. 3:5-9). Dan firman Tuhan mengatakan sikap tentang hal ini, “terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Gal. 5:21b). Dalam hal ini juga, hukum Taurat tidak dapat menolong dan membebaskan sebab tidak memiliki gigi untuk membendung.

 

 

 

Dalam keadaan ini, ironisnya, sifat dosa itulah yang berkuasa mengendalikan hidup manusia. Hidup dalam dosa berarti dikuasai oleh suara-suara yang memanggil kembali untuk mengulang dosa yang sama. Dosa melahirkan dosa baru, beranak pinak. Seperti beberapa kasus yang marak saat ini pejabat/pengusaha korupsi atau mencuri, akibat mencuri melahirkan perselingkungan, perselingkuhan melahirkan kebohongan, berbohong membuat tekanan jiwa dan seterusnya. Perbuatan dosa memang membentuk pola pikir tertentu bagaikan rangkaian sebuah kecanduan dengan racun (toxit) mengalir dalam darah seseorang, sehingga untuk menghilangkannya harus dilakukan pemurnian dengan detoksifikasi. Dalam ayat-ayat sebelumnya dikatakan: tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka!” (Rm. 7:23-24). Menuruti keinginan daging layaknya menuju kekekalan maut. Ini seperti melakukan tindakan bunuh diri secara perlahan karena secara rohani memang sudah mati. “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” begitu pertanyaannya kemudian dalam Alkitab.

 

 

 

Kedua: Keinginan Roh (ayat 6b, 9)

 

Berlawanan dengan keinginan daging maka roh manusia pada dasarnya memiliki keinginan baik untuk menyenangkan hati Allah. Manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa (dosa awal), akan tetapi manusia juga memiliki bawaan warisan napas dan Roh Allah dalam hidupnya. Manusia diciptakan dan lahir pasti untuk keinginan luhur yakni memiliki misi Allah. Firman Tuhan mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). Seburuk apapun kondisi dan latar belakang seseorang lahir di dunia ini, Allah pasti memiliki rencana yang baik untuk dia. Warisan "hukuman" yang ada karena perbuatan orangtua, sebagaimana dinyatakan hukum Taurat keempat, Allah telah menyediakan jalan untuk menebus dan memberkati.

 

 

 

Roh Allah yang diam merupakan warisan awal dan “dinyalakan kembali” melalui lahir baru untuk menguasai hidup orang percaya dan berbuah dalam tindakan kehidupan sehari-hari. Buah-buah roh ini dinyatakan dalam firman Tuhan, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23a). Semua ini terjadi ketika orang percaya bekerjasama dengan Roh Allah dalam menuntun hidup mereka, sehingga kuasa dosa dapat dikalahkan dan hidup mereka menjadi pemenang. Hidup bersama Roh Allah berarti pola pikir kita dikendalikan Roh Allah dan bukan oleh kuasa dosa, bersikap tunduk dan kasih kepada Allah dan bukan menjadi seteru Allah, serta hidup menjadi berkat bagi orang lain dan bukan lagi menjadi budak-budak iblis dan beban bagi orang lain. Oleh karena itu dikatakan dalam nas minggu ini, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”. Karena Kristus ada di dalam diri kita, kini kita mengalami hidup dalam Roh. Dalam kelanjutan firman Tuhan di atas dikatakan, “Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23b).

 

 

 

Kalau demikian, pernahkah kita merasa bahwa kita belum sungguh-sungguh menjadi orang Kristen? Sejatinya, seorang Kristen adalah yang mengaku dan bekerjasama dengan Roh Kudus di dalam hatinya. Apabila kita mengaku bahwa hidup kita sudah diselamatkan melalui penebusan Yesus di kayu salib dan mengaku Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita, maka Roh Kudus akan diam bersemayam di dalam hati kita dan siap bekerjasama dalam menjalani kehidupan ini, baik untuk melawan keinginan daging maupun sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Kita tidak akan tahu bahwa Roh Kudus telah "datang dan masuk" ke dalam hati kita melalui suatu perasaan khusus; tapi kita tahu bahwa Roh Kudus hadir, sebab itu janji Tuhan Yesus. Uniknya, ketika Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, maka secara otomatis kita juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan kehidupan kekal datang dari pada-Nya (1Yoh. 5:5); kita juga akan bertindak sesuai kehendak Kristus dan menemukan bahwa Dia menolong kita dalam pergumulan hidup sehari-hari. Kita lebih dimampukan untuk melayani sesuai dengan kehendak-Nya (Kis. 1:8) serta kita akan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membangun gereja dan kerajaan-Nya (Ef. 4:12-13). Demikianlah orang yang hidup menurut keinginan Roh.

 

 

 

Ketiga: Roh adalah Kehidupan (ayat 10)

 

Rasul Paulus dengan baik membagi manusia dalam dua kategori utama, yakni mereka yang memiliki sifat-sifat yang dikuasai dosa dan mereka yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Ia menyampaikan pesan Allah betapa pentingnya Roh dalam kehidupan manusia. Dari penjelasan di atas, semua kita pasti menjadi bagian dari kelompok pertama apabila Tuhan Yesus tidak memberikan jalan penyelamatan keluar. Apabila kita sudah mengatakan "Ya" pada Yesus, kita perlu terus mengikuti-Nya, sebab jalan yang diberikan-Nya adalah jalan yang penuh damai sejahtera. Setiap hari kita secara sadar memilih jalan hidup berpusat pada-Nya. Kita memakai Alkitab sebagai petunjuk dalam mengikuti kehendak-Nya. Di dalam situasi yang lebih kompleks dan membingungkan, jangan ragu untuk bertanya kepada diri sendiri: "Apa yang Yesus kehendaki saya perbuat?"

 

 

 

Hal yang perlu diketahui semua orang adalah: Menerima dan didiami Roh adalah hak dan pilihan semua orang. Mereka dapat mengatakan tidak dan bergelut dengan segala kemampuan dirinya untuk melawan keinginan daging tadi, yang sudah kuat sejak manusia lahir (dosa asal) dan kemudian dipicu dan dihela oleh kemampuan jahat si iblis. Roh manusia memang memiliki kemampuan dan itulah yang terus dicari orang lain melalui semedi, tapa, yoga atau meditasi lainnya, akan tetapi pengalaman manusia dan sejarah mengungkapkan bahwa roh manusia itu tetap lemah dan mudah jatuh, baik melalui keinginan daging tadi, maupun melalui godaan setan. Orang yang sekarat, bahkan sudah mati, tidak mungkin bisa menolong dirinya sendiri. Seperti dalam ritual umum, orang mati harus dimandikan orang lain karena memang sudah tidak bisa mandi sendiri membersihkan dirinya sendiri. Manusia memerlukan pihak lain untuk bisa bersih dan selamat.

 

 

 

Allah mengetahui hal itu. Manusia tidak lagi dibiarkan sendirian berjuang dengan hukum-hukum Taurat untuk dapat melakukan sesuai dengan kehendak Allah. Roh Allah yang tadinya tidak diam secara permanen di dalam hati manusia, kini ditawarkan bagi mereka yang percaya penebusan melalui Tuhan Yesus. Bagi mereka yang percaya maka Roh Allah diam secara permanen di dalam hatinya, sehingga roh manusia tidak lagi sendirian berjuang melawan keinginan daging dan kehendak iblis (band. 1Kor. 3:16; Ef. 2:22; 3:17). Roh Allah yang diam bersatu melawan roh iblis jahat dan yang pasti dimenangkan oleh Roh Allah sebab Ia adalah Mahakuasa dan Mahabenar. Oleh karena itu dikatakan dalam ayat 10, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”

 

 

 

Keempat: Kebangkitan tubuh oleh Roh (ayat 11)

 

Memang muncul pertanyaan: Kalau memang Roh Kudus (yakni Allah) itu diam di dalam hati manusia, mengapa manusia harus mati? Bukankah interaksi Roh Allah dan roh manusia itu dapat berlangsung selamanya, sehingga manusia tidak perlu melalui kematian? Atau apabila manusia harus mati secara fisik, mengapa perlu ada "masa antara", yakni masa pasca kematian sampai kemudian tubuhnya dibangkitkan kembali? Ini semua pertanyaan yang kritis. Semua pertanyaan kritis dalam teologi dan etika kristiani adalah sah-sah saja sepanjang dengan maksud untuk mencari kebenaran sejati. Firman Tuhan dalam bentuk narasi sangat terbatas, namun Allah melalui iluminasi Roh Kudus memberikan pengertian bagi mereka yang ingin mencari kebenaran seperti ini. Namun apabila tujuan bertanya itu melecehkan, Allah akan menghukumnya sebab manusia sudah menyombongkan diri di hadapan-Nya.

 

 

 

Manusia harus mati secara fisik sebab tubuh sudah tercemar dengan dosa. Manusia datang ke dunia ini melalui Adam dan Hawa, dan dosa pun datang serta membawa konsekuensi kematian sehingga tubuh manusia itu harus melalui kematian. Roh Kudus yang diam di dalam hati orang percaya bukan saja mampu untuk menuntun perilaku sesuai dengan kehendak Allah, tetapi juga mematikan sisa-sisa keinginan daging serta mengubah tabiat manusia, sehingga menjadi jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya sesuai dengan janji Allah. Roh Allah yang diam di dalam hati kita bukan saja mampu menghidupkan roh yang mati rohani, akan tetapi melalui iman dan dengan iman, kematian tubuh dikalahkan dan membuat kepastian kita hidup dalam kekekalan bersama Kristus selamanya (band. 2Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14).

 

 

 

Maka kebangkitan tubuh memang menjadi ajaran pokok dalam iman Kristiani. Kebangkitan Kristus adalah kunci utama dari semua itu dan tidak terbantahkan sampai dengan saat ini. Dia yang sudah mati di kayu salib dengan dibuktikan dari tusukan di lambung, pematahan kaki, penguburan dan menutup lubang kuburan dan itu semua disaksikan oleh banyak orang. Namun kenyataannya Ia bangkit pada hari ketiga. Semua ini terjadi karena kuasa Allah melalui Roh Kudus membangkitkan Yesus dari kematian-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat 10 dikatakan, bahwa tubuh kita yang mati karena dosa, maka Allah yang telah membangkitkan Yesus akan menghidupkan “tubuh dosa” kita menjadi tubuh dan kehidupan yang baru. Karya hidup baru itu diteguhkan dengan kita menjadi anak dan serupa dengan Anak (Rm. 8:14, 29). Perjalanan dari kefanaan menuju kekekalan merupakan hasil karya Roh Kudus.

 

 

 

Penutup

 

Allah yang Mahabaik tidak hanya membenarkan orang-orang yang percaya kepada- Nya. Ia juga melepaskan anak-anak-Nya dari perbudakan dosa keinginan daging yang menjerat dan membawa kepada maut. Kuasa dosa melalui keinginan daging dapat dipatahkan melalui kuasa Allah dalam Roh Kudus yang diam dalam hidup orang percaya. Manusia yang telah didiami oleh Roh Allah tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukakan Allah, melainkan berbuah sesuai dengan kehendak Allah. Manusia harus menyadari betapa pentingnya Roh Allah dalam kehidupan sehari-hari. Roh manusia sendiri tidak akan sanggup untuk melawan keinginan daging, apalagi dengan godaan iblis. Allah Mahakasih memberi kemenangan bersama Roh Kudus melalui iman percaya kepada Yesus Kristus. Kemenangan tidak hanya dalam kehidupan saat ini tetapi hingga kehidupan kekal nanti. Teruslah bertekun dalam doa sehingga kita terus hidup oleh Roh-Nya, bukan oleh keinginan daging.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 22 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 

DALAM PERLINDUNGAN ALLAH YANG HIDUP 

 

 

"Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab, di sini tidak ada roti dan tidak ada air. Kami muak dengan makanan hambar ini” (Bil. 21:5)

 

 

 

Barangkali kita juga pernah mengeluh atau bersungut-sungut dalam hidup saat datang runtutan hal yang tidak menyenangkan hati. Bisa saja dari suami yang tidak pandai mencari uang, istri yang cerewet atau boros, kehidupan yang datar, atau penyakit yang berulang dan berkepanjangan. Gerutuan bisa juga dialamatkan kepada pengurus gereja, organisasi, perkumpulan, bahkan kepada pemerintah. Tapi, apa hasil gerutuan?

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Bil. 21:4-9, judul perikopnya: Ular tembaga. Ini kisah bangsa Israel yang bersungut-sungut saat perjalanan mereka kembali ke Kanaan dari Mesir, terasa panjang, berputar dan berat: mereka pun protes seperti ayat pembuka di atas. 

 

 

 

Kisah bangsa Israel mengeluh di Alkitab ada 10 kali, diantaranya ketakutan saat dikejar tentara Mesir (Kel. 14:10-12), air yang pahit di Mara (Kel. 15:23-24), kelaparan dan ingin makan daging (Kel. 16:2-3), kekurangan air di Rafidim (Kel. 17:1-7), bahkan saat terakhir masuk ke Kanaan mereka ketakutan atas laporan 12 pengintai (Bil. 13:31-33).

 

 

 

Pada nas minggu ini diceritakan Tuhan marah, mengirimkan ular-ular tedung yang pagutannya mematikan. Umat lantas sadar akan dosanya dan memohon kepada Musa agar berdoa untuk mereka. Tuhan yang baik memerintahkan Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya di tiang. Bagi mereka yang memandang ular tembaga tersebut, meski dipagut ular tedung, mereka tetap hidup.

 

 

 

Hidup memang harus memilih: mengeluh bersungut-sungut atau selalu mengucap syukur atas setiap keadaan yang terjadi? Yang jelas, sikap menggerutu malah merusak diri sendiri! Memang ada kalanya mengeluh bermanfaat kecil, yakni melampiaskan sesuatu dari hati yang sesak. Nah untuk ini perlu belajar bagaimana mengekspresikannya dengan positif dan benar. Pengalaman memperlihatkan, keluhan, sungut-sungut atau mengkritik, seringnya tidak membawa hasil baik. Dan, yang kita lakukan sia-sia bahkan sering menjadi pertengkaran. Oleh karenanya lebih baik memilih mensyukuri segala yang ada. Alkitab pun mengajarkan agar selalu mengucap syukur dan menaikkan doa permohonan (Flp. 4:6-7).

 

 

 

Untuk itu kita perlu belajar bagaimana hidup bersyukur. Pertama, lihatlah apa yang sudah dimiliki: hidup, tubuh, istri/suami, keluarga, teman, pekerjaan dan lainnya. Syukurilah. Kedua, lihatlah dengan mata iman bahwa semuanya adalah yang terbaik diberikan Tuhan kepada kita. Jangan membandingkan, atau berpikir sebaliknya: Tuhan tidak adil, tidak baik. Berpikirlah positif. Tahap ketiga - ini yang penting, berjuanglah agar membuat segalanya lebih baik. Artinya perlu berpikir, berencana, berkreasi, dan bekerja keras. Janganlah meremehkan kebaikan Tuhan, sebab Kristus telah membayar mahal untuk keselamatan kita. Mintalah kepada-Nya agar upaya dan pengharapan kita dituntun dan diberkati-Nya. 

 

 

 

Sadarilah bahwa bersungut-sungut dan menggerutu itu dosa. Jangan sampai Tuhan menghukum kita karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, mengirimkan "ular-ular tedung". Pandanglah Yesus  sebagaimana umat Israel memandang ular tembaga sebagai simbol kehadiran Tuhan dan pemulihan. Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun, kita pun meninggikan Yesus agar selamat (Yoh. 3:14-16). Bagi yang terus berusaha, percayalah Tuhan akan memberi yang lebih baik (Mat. 7:7-8). Mungkin saja jalannya berkelok, jatuh bangun, tetapi disitulah nikmat dan indahnya menjalani kehidupan. Dan itulah kepuasan hidup yang dimulai dengan sikap selalu bersyukur.

 

 

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (2) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026

Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 2

 

 NEGARA YANG GAGAL (Yeh. 37:1–14)

 

 ”Tulang–tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap” (Yeh. 37:11b)

 

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

 

Banyak negara masuk kategori ‘gagal’ menurut Fragile States Index (Indeks Ketahanan Negara) dari Fund for Peace. Suriah, Myanmar, Afghanistan, dan beberapa negara lainya berada di kategori rawan. Indonesia patut bersyukur karena skor kerentanan menurun pada tahun 2022 dari tahun 2021, menunjukkan arah ketahanan negara yang membaik. Pada tahun 2022, Indonesia menempati urutan 100 dari 179 (urutan 1 berarti negara paling rawan, sementara urutan terakhir, 179, berarti negara paling stabil) Beberapa negara lain bahkan jauh lebih baik: Finlandia (179), Norwegia (178), Swiss (174), Singapore (165), Malaysia (122), Israel (146), dan Tiongkok (98)

 

 

 

Terlepas dari 12 indikator penilaian yang digunakan FSI yang mencakup empat kategori: sosial, ekonomi, politik dan militer, serta krisis dan konflik, survei ini mengingatkan pentingnya negara untuk tetap eksis, berkarya, dan berdaulat. Penurunan skor kerentanan Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan arah perbaikan dalam ketahanan bangsa. Kita tentunya berharap tren positif ini terus berlanjut. Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk turut berperan, menjaga, dan mendoakan bangsa agar terus maju.

 

 

 

Firman Tuhan pada hari Minggu ini, dari Yeh. 37:1–14, berbicara tentang janji kebangkitan Israel. Sebelumnya, pasal 33 dan 35 menggambarkan kejatuhan, keputusasaan, dan kehancuran setelah kejayaan Daud dan Salomo runtuh dan bangsa terbuang ke Babel. Namun melalui Yehezkiel, Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak membinasakan mereka. Kebangkitan akan datang setelah pertobatan, pemulihan, penyucian, dan penyatuan kembali (pasal 34 dan 36).

 

 

 

Dalam visi itu, Yehezkiel ditempatkan di lembah penuh tulang-tulang yang “sangat kering” (ay. 1–2); simbol kehancuran total (ay. 11). Tuhan bertanya, “Dapatkah tulang-tulang ini hidup kembali?” Yehezkiel menjawab, “Engkaulah yang mengetahui, ya Tuhan ALLAH!” Saat ia bernubuat menurut perintah Tuhan, terdengar suara berderak; tulang-tulang itu saling menyatu, kemudian urat dan daging tumbuh, kulit menutupinya, dan akhirnya mereka menerima nafas kehidupan (ay. 4–10). Sebuah gambaran kebangkitan bangsa.

 

 

 

Kelesuan dan kehancuran sebuah negara, juga pribadi, keluarga, atau komunitas, biasanya disebabkan banyak faktor. Namun, peran pemimpin sangat menentukan. Bangsa Israel jatuh karena ketidaksetiaan kepada Allah dan ketidakadilan terhadap sesama, sebagaimana diperingatkan berulang kali oleh para nabi.

 

 

 

Indonesia sebagai bangsa perlu belajar dari itu: melihat dengan jernih semua faktor penyebab kemunduran, menghindari kesalahan yang sama, dan memastikan sistem tetap berjalan adil dan sehat. Banyak buku yang membahas dinamika ini, misalnya Why Nations Fail (Daron Acemoglu & James A. Robinson) dan Guns, Germs, and Steel (Jared Diamond).

 

 

 

Pertanyaan besarnya: jika kehancuran itu terjadi pada kita secara pribadi, keluarga, atau komunitas, bagaimana bangkit kembali? Bagaimana respons saat kesusahan berat datang?

 

 

 

Nas hari ini memberikan jawabannya: pemulihan dimulai dari pertobatan, pengakuan, penyucian, dan kembali melekat kepada Tuhan. Jangan meninggalkan Dia, sebab Dialah pemegang kendali. Tidak semua hal dapat dijelaskan dengan logika; karena itu kita membutuhkan iman, hati, dan kesetiaan. Dari situlah muncul pengharapan, kekuatan, dan kemampuan untuk melewati penderitaan. Kasih Tuhan tidak pernah hilang, dan Ia ingin kita menjadi pemenang.

 

 

 

Firman Tuhan menutup bagian ini dengan janji: “... pada saat Aku membuka kubur-kuburmu ... Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali ... dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya” (ay. 12–14). Terpujilah Tuhan.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 143 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13647398
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1351
6773
14624
13588949
163412
127844
13647398

IP Anda: 216.73.216.219
2026-03-31 05:36

Login Form