Tuesday, March 24, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026

Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 2

 

 NEGARA YANG GAGAL (Yeh. 37:1–14)

 

 ”Tulang–tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap” (Yeh. 37:11b)

 

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

 

Banyak negara masuk kategori ‘gagal’ menurut Fragile States Index (Indeks Ketahanan Negara) dari Fund for Peace. Suriah, Myanmar, Afghanistan, dan beberapa negara lainya berada di kategori rawan. Indonesia patut bersyukur karena skor kerentanan menurun pada tahun 2022 dari tahun 2021, menunjukkan arah ketahanan negara yang membaik. Pada tahun 2022, Indonesia menempati urutan 100 dari 179 (urutan 1 berarti negara paling rawan, sementara urutan terakhir, 179, berarti negara paling stabil) Beberapa negara lain bahkan jauh lebih baik: Finlandia (179), Norwegia (178), Swiss (174), Singapore (165), Malaysia (122), Israel (146), dan Tiongkok (98)

 

 

 

Terlepas dari 12 indikator penilaian yang digunakan FSI yang mencakup empat kategori: sosial, ekonomi, politik dan militer, serta krisis dan konflik, survei ini mengingatkan pentingnya negara untuk tetap eksis, berkarya, dan berdaulat. Penurunan skor kerentanan Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan arah perbaikan dalam ketahanan bangsa. Kita tentunya berharap tren positif ini terus berlanjut. Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk turut berperan, menjaga, dan mendoakan bangsa agar terus maju.

 

 

 

Firman Tuhan pada hari Minggu ini, dari Yeh. 37:1–14, berbicara tentang janji kebangkitan Israel. Sebelumnya, pasal 33 dan 35 menggambarkan kejatuhan, keputusasaan, dan kehancuran setelah kejayaan Daud dan Salomo runtuh dan bangsa terbuang ke Babel. Namun melalui Yehezkiel, Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak membinasakan mereka. Kebangkitan akan datang setelah pertobatan, pemulihan, penyucian, dan penyatuan kembali (pasal 34 dan 36).

 

 

 

Dalam visi itu, Yehezkiel ditempatkan di lembah penuh tulang-tulang yang “sangat kering” (ay. 1–2); simbol kehancuran total (ay. 11). Tuhan bertanya, “Dapatkah tulang-tulang ini hidup kembali?” Yehezkiel menjawab, “Engkaulah yang mengetahui, ya Tuhan ALLAH!” Saat ia bernubuat menurut perintah Tuhan, terdengar suara berderak; tulang-tulang itu saling menyatu, kemudian urat dan daging tumbuh, kulit menutupinya, dan akhirnya mereka menerima nafas kehidupan (ay. 4–10). Sebuah gambaran kebangkitan bangsa.

 

 

 

Kelesuan dan kehancuran sebuah negara, juga pribadi, keluarga, atau komunitas, biasanya disebabkan banyak faktor. Namun, peran pemimpin sangat menentukan. Bangsa Israel jatuh karena ketidaksetiaan kepada Allah dan ketidakadilan terhadap sesama, sebagaimana diperingatkan berulang kali oleh para nabi.

 

 

 

Indonesia sebagai bangsa perlu belajar dari itu: melihat dengan jernih semua faktor penyebab kemunduran, menghindari kesalahan yang sama, dan memastikan sistem tetap berjalan adil dan sehat. Banyak buku yang membahas dinamika ini, misalnya Why Nations Fail (Daron Acemoglu & James A. Robinson) dan Guns, Germs, and Steel (Jared Diamond).

 

 

 

Pertanyaan besarnya: jika kehancuran itu terjadi pada kita secara pribadi, keluarga, atau komunitas, bagaimana bangkit kembali? Bagaimana respons saat kesusahan berat datang?

 

 

 

Nas hari ini memberikan jawabannya: pemulihan dimulai dari pertobatan, pengakuan, penyucian, dan kembali melekat kepada Tuhan. Jangan meninggalkan Dia, sebab Dialah pemegang kendali. Tidak semua hal dapat dijelaskan dengan logika; karena itu kita membutuhkan iman, hati, dan kesetiaan. Dari situlah muncul pengharapan, kekuatan, dan kemampuan untuk melewati penderitaan. Kasih Tuhan tidak pernah hilang, dan Ia ingin kita menjadi pemenang.

 

 

 

Firman Tuhan menutup bagian ini dengan janji: “... pada saat Aku membuka kubur-kuburmu ... Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali ... dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya” (ay. 12–14). Terpujilah Tuhan.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026

 Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 3

 

 

PENGENDALI HIDUP (Yoh. 11:1-44)

 

 

 

Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (Yoh. 11:4).

 

 

 

Firman Tuhan di Minggu V Pra Paskah, Yoh. 11:1-44, kembali nas yang panjang tentang kebangkitan Lazarus dari kematian. Lazarus adalah adik Maria dan Marta, perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya (ayat 2, Luk. 10:38-42). Semula mereka berdua mengirim pesan kepada Tuhan Yesus tentang saudaranya Lazarus yang sakit, memohon agar Dia datang menyembuhkannya. Tetapi Yesus menunda kedatangan-Nya, bahkan sempat menyatakan Lazarus sudah mati, yang ditafsirkan murid-murid-Nya sebagai tertidur (dalam bahasa Yunani, kata tidur dan mati kadang sama dipakainya).

 

 

 

Yesus kemudian datang setelah Lazarus mati empat hari (ayat 17). Maria yang menyambut Yesus di luar rumah, menyatakan saudaranya itu telah mati dan sudah dikuburkan dan berbau. Marta pun berkata kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati" (ayat 21). Tetapi Yesus berkata kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.... Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (ayat 23, 25).

 

 

 

Sebagai orang Yahudi (terkecuali orang Saduki), Marta percaya akan kebangkitan orang mati di akhir zaman. Tetapi yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah kebangkitan Lazarus pada saat itu. Menakjubkan. Ia pun menyuruh orang mengangkat batu penutup kuburan Lazarus, menengadah ke atas, meminta kepada Bapa-Nya. Mukiizat pun terjadi, Lazarus bangkit dari kematiannya dengan kaki tangannya masih terikat kain kafan. Dan Yesus berkata kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (ayat 44).

 

 

 

Nas minggu ini mengajarkan kepada kita banyak hal, terutama di tengah badai wabah virus Corona-19 yang melanda kita dan dunia saat ini. Pertama, Tuhan Yesus adalah pengendali hidup manusia. Ia berkuasa atas hidup dan matinya manusia. Ia berkuasa atas maut dan kematian. Untuk ini berserah adalah kata kunci menyikapinya. Kedua, semua hal yang dialami orang-orang percaya ada dalam kendali-Nya. Untuk itu kita perlu lebih mengenal Dia dengan segala rencana dan karya-Nya. Kunci menyikapinya adalah: "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu" (Yak. 4:8a). Tuhan akan senang bila kita dekat kepada-Nya.

 

 

 

Ketiga, kita diajar untuk lebih berhikmat, sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya: "Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, ... Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya” (ayat 9-10).

 

 

 

Melawan badai virus Corona tidak mudah, harus disiplin bersama, dan bagus memilih menghindar; juga tidak diperhadapkan dengan iman yang seolah menguji Tuhan. Kita juga tidak perlu terlalu paranoid, atau berlebihan menanggapinya. Tuhan Yesus tidak membangkitkan tubuh orang mati saja, tetapi juga rohani kita untuk bangkit (ayat 26).

 

 

 

Terakhir, di dalam setiap kejadian dan peristiwa termasuk melalui badai virus Corona, kita diminta untuk melihat, mencari, dan menggumuli rencana Tuhan bagi kita untuk berkarya demi kemuliaan nama-Nya. Semoga Tuhan mengasihi kita dan badai ini cepat berlalu.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

 

HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG (Ef. 5:8-14)

Bacaan lainnya: 1Sam. 16:1-13; Mzm. 23; Yoh. 9:1-41

 

 

Pendahuluan

Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang diam di Efesus dahulunya hidup di dalam kegelapan. Mereka melakukan berbagai perbuatan yang membuat murka Allah dan selayaknya mereka mendapatkan penghukuman. Semua hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak mengenal Kristus Yesus yang membawa terang ke dalam hidup mereka. Sebagai orang yang sudah menerima terang dan hidup di dalam-Nya, maka kita dan mereka dipanggil untuk memiliki pola hidup yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya dan terus dalam kegelapan. Melalui nas minggu ini kita diberi pelajaran bagaimana kita hidup sebagai anak-anak terang dan apa tanggung jawab kita setelah menerima terang itu.

 

Pertama: Kamu dahulu adalah kegelapan (ayat 8-9)

Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya, hidup di dalam kegelapan berarti terlibat percabulan dan rupa-rupa kecemaran, perkataan yang kotor, kosong atau yang sembrono tidak pantas, menjadi orang sundal, cemar atau serakah, penyembah berhala, atau tersesat dengan kata-kata yang hampa. Dalam ayat 15 disebutkan juga hidup seperti orang bebal dan dalam pengaruh anggur yang memabukkan (ayat 18). Seseorang yang berada dalam kegelapan tidak hanya terjebak dalam situasi yang menjerat keadaannya saat ini, sebab dalam kegelapan ia tidak hanya kehilangan orientasi situasi keberadaannya, tetapi juga arah pengharapan yang benar akan langkah selanjutnya dalam tujuan hidupnya. Ia hanya bisa meraba-raba tanpa penglihatan, dengan kemungkinan jatuh ke situasi yang lebih buruk. Jalan keluar seolah suram kelam dan oleh karena itu seseorang yang berada dalam kegelapan sangat membutuhkan terang cahaya agar bisa keluar dan melangkah ke tempat yang lebih aman. Seseorang yang hidup dalam kegelapan (kejahatan) sangat membutuhkan terang cahaya kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Kristus.

 

Hidup di dalam kegelapan dan terang memberi kontras dan perubahan dari beberapa kondisi sebagai berikut:

 

Saat di kegelapan                                         Saat di terang

•          Mati dalam penghukuman             Hidup oleh kasih Kristus

•          Sasaran murka Allah                                   Memperoleh kasih Allah dan 

keselamatan

•          Mengikuti jalan dunia                                 Berdiri teguh dalam Kristus dan

kebenaran

•          Musuh Allah                                                 Anak-anak Allah

•          Menjadi budak setan                                   Bebas dalam Kristus mengasihi, 

melayani dan diam bersama-Nya

•          Jatuh dalam keinginan jahat                      Bangkit bersama Kristus dalam

kemegahan

 

Sebagai orang yang sudah menerima dan beriman pada Kristus dan menerima terang-Nya, maka kini seluruh kegiatan hidup kita harus mencerminkan iman tersebut. Dengan menjadi percaya dan berada dalam terang, kita harus hidup di atas standar moral orang lain yang hidup dalam kegelapan, sehingga dapat memancarkan kebaikan Allah bagi orang lain (band. Khotbah Yesus di bukit Mat. 5:15-16). Hidup sebagai anak-anak terang berarti kita menempatkan diri sebagai orang bertobat, dengan tingkah laku kepribadian yang diperbaharui sesuai dengan kedudukan kita sebagai anak-anak Allah. Kita yang sudah menerima pengampunan perlu menjaga kekudusan dan kebesaran Allah melalui cerminan diri kita, dengan memperlihatkan hadirnya Roh Kudus dalam hati dan menghasilkan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23; Mat. 7:16-20). Demikian kerasnya peringatan dalam nas ini hingga mengatakan bahwa kita pun tidak boleh berkawan dengan mereka, dalam arti bergaul secara aktif dalam kehidupan sehari-hari tanpa tujuan untuk mengubah mereka.

 

Kedua: Ujilah yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10)

Dalam ayat 1-7 diberikan perbandingan kontras antara hidup dalam kegelapan dan terang untuk memudahkan kita melihat perbedaan nyata antara keduanya. Hidup sebagai anak-anak terang artinya berperilaku di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kita, jauh dari kecemaran sepatutnya orang-orang kudus, dan terus-menerus mengucap syukur. Hidup di dalam terang berarti berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, hidup seperti orang arif dengan mempergunakan waktu yang ada karena menyadari hari-hari sekarang ini adalah jahat, terus berusaha mengerti kehendak Tuhan, serta penuh dengan Roh. Hidup di dalam terang diungkapkan melalui mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani, serta segenap hatinya bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan. Dengan demikian, sungguh sangat jelas bagaimana kita hidup di dalam terang tersebut.  

 

Namun kadang batas gelap-terang ini dibuat samar atau abu-abu seolah tidak bisa membedakan antara hitam dengan putih (perumpamaan kegelapan sebagai hitam dan kebaikan sebagai putih). Mungkin kita berdalih atau mencari alasan-alasan khusus yang mencoba membela diri dengan mencari pembenaran atau pemaafan bahwa kita “harus” atau “terpaksa” melakukan tindakan kegelapan, dengan alasan hanya sementara. Untuk itu firman Tuhan ini mengingatkan bahwa melakukan itu perlu diuji, apakah memang itu tujuan utama kita. Dalam beberapa situasi, kisah Robin Hood perampok untuk membagikannya kepada kaum miskin dapat “dibenarkan”. Namun kalau kemudian kita ikut hidup menikmati hasil kejahatan itu maka tujuan mulia itu sudah tercemar. Demikian pula motivasi dalam melakukan perbuatan terang itu, untuk mendapatkan pujian dan kemegahan diri sendiri, atau semua itu kita serahkan bagi kemuliaan nama-Nya, dengan prinsip “biarlah Ia menjadi besar dan aku menjadi kecil” (Yoh. 3:30). 

 

Demikian pula penonjolan diri sebagai individu atau kelompok. Kita sebagai orang percaya harus memperlihatkan suatu persekutuan orang percaya yang saling mendukung, yakni dalam kesatuan sebagai berikut:

•          Satu dalam Allah, Allah Bapa yang memelihara kita hingga kekekalan

•          Satu dalam Tuhan, Kristus dan kita adalah milik-Nya

•          Satu dalam Roh, Roh Kudus yang menghidupkan dan berbuah

•          Satu dalam iman, komitmen tunggal kita pada Kristus

•          Satu dalam tubuh, persekutuan orang percaya yakni gereja

•          Satu dalam baptisan, tanda dipersatukan dengan Allah melalui gereja-Nya

•          Satu dalam pengharapan, kemegahan dalam masa mendatang 

 

Apabila kita menamakan diri sebagai orang percaya dalam kasih Yesus, tetapi masih saling menjelekkan atau meninggikan denominasi gereja tempat kita bersekutu, maka sebenarnya kita melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Terang yang kita bawa harus mampu membedakan dengan jelas tentang yang baik dan apa yang buruk.  Ukuran dan pengujian sebenarnya adalah: apakah semuanya untuk menyenangkan hati-Nya dan kemuliaan-Nya? 

 

Ketiga: Telanjangilah perbuatan kegelapan itu (ayat 11-13)

Kitab Efesus secara umum dari awal menekankan setiap anak-anak Allah bukan saja dipanggil sebagai anak-anak kekasih Allah dan penurut, tapi juga harus menjadi prajurit Allah (Ef. 6:11-13; band. 2Tim. 2:3). Dengan demikian kita dipanggil tidak hanya untuk menikmati hidup di dalam terang dan bersekutu untuk mendapatkan sukacita semata, akan tetapi kita dipanggil untuk berjuang bagi terang yang lebih besar. Standar norma hidup kristiani yang tinggi harus diperlihatkan pada semua orang. Firman Tuhan mengajarkan, “Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” (Luk. 11:33). Pada bagian lain dikatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:5). Standar kebaikan, keadilan dan kebenaran merupakan kaidah yang dapat dipegang. Sama seperti yang dikatakan melalui tiga filter penguji dari Socrates sebelum kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, perlu kita ketahui terlebih dahulu apakah hal itu: benar, baik, dan membawa manfaat. Bahkan dalam ayat minggu ini dikatakan, menyebutkan atau sekadar membicarakan perbuatan-perbuatan jahat itu di tempat-tempat tersembunyi, dalam arti gosip atau bisik-bisik itu dilarang.

 

Rasul Paulus menginstruksikan kita untuk membuka atau menelanjangi perbuatan-perbuatan ini, seperti seorang peniup pluit (whistle blower), sebab diamnya kita bisa dianggap setuju dengan perbuatan itu. Allah menginginkan setiap orang berdiri di atas kebenaran dan setiap orang percaya harus berbicara keras tentang hal yang benar dan baik. Kita harus menentang dan mengungkapkan kejahatan sehingga kejahatan itu tidak berkembang seperti virus yang menjalar kepada orang lain bahkan ke seluruh tubuh masyarakat (Mzm. 94:16). Sikap memihak kepada Allah harus terlihat benar-benar membenci dosa dan bukan abstain atau netral. Sikap menjauhi mereka juga bukan dalam arti kita tidak peduli terhadap perbuatan mereka, melainkan membenci perbuatannya dan bukan orangnya. Semoga dengan sikap kasih dan siap mengampuni itu mereka dapat melihat terang yang sangat indah sehingga mereka bertobat dan menikmati terang itu. Sikap kita harus optimis seperti kata firman, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5; 3:19-21; 1Yoh. 1:5-7).

 

Sikap kita harus tegas dan tidak boleh mendua atau munafik, dalam arti kata tidak samanya kata dengan perbuatan, tidak samanya hakekat dengan tampilan. Adalah terlihat aneh ketika kita hidup sebagai seorang prajurit/perwira, tapi tingkah laku kita bagaikan seorang artis selebritis “murahan”. Kepatuhan menjadi hal yang utama untuk terus menjadi sempurna. Kesalahan dan ketidak sempurnaan sesaat karena kekhilafan harus diperlihatkan dengan sikap penyesalan dalam. Memberi contoh buruk menjadi dosa yang buruk. Kita tidak bisa mengekspresikan diri sebagai seorang dokter atau atlit tapi pola hidup kita tidak terjaga sehat. Bila kita melakukan hal itu maka bukan saja kita mempermalukan Kristus yang telah menolong kita, tetapi kita juga menjadi bahan olok-olok dan tertawaan. Kehadiran kita sebagai terang haruslah merupakan model dan teladan yang merupakan teguran bagi sekitar kita yang hidup dalam kegelapan, meski tampak luar kita dibenci oleh mereka (Yoh. 7:7; 15:18). 

 

Keempat: Bangunlah, hai kamu yang tidur (ayat 14)

Mereka yang hidup terus di dalam kegelapan akan mendapatkan hukuman dari Allah (1Kor. 6:9-10), sementara mereka yang setia dan terus berupaya hidup di dalam terang Kristus akan mendapat kasih Allah hingga kekekalan. Mereka yang tadinya terlelap dalam waktu yang sia-sia diminta menggunakan waktu secara efektif untuk melakukan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka yang terlelap dan tertidur diminta bangun melihat terang dan melayani Tuhan. Jadi dalam hal ini mereka tidak tertidur dan memahami bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan tidak berbuahkan apa-apa, sehingga harus menghindarinya, dan meninggalkan perbuatan kesenangan yang menghasilkan dosa (1Tes. 5:5).

 

Kalimat “Bangunlah….” ini tampak bukan kutipan langsung dari Perjanjian Lama, tetapi mungkin dari sajak atau lagu-lagu yang cukup dikenal oleh orang Efesus saat itu. Kalimat itu mungkin dilatarbelakangi oleh kitab Yesaya (26:19; 51:17; 52:1; 60:1) dan Mal. 4:2, yang dipakai saat pembaptisan keluar dari air. Baptisan saat itu dipakai juga bagi mereka yang bertobat dari penyambahan berhala, dan keberadaan mereka dalam kegelapan berhala itu dianggap tertidur dan saat dibaptis menjadi terbangun. Oleh karena itu Rasul Paulus mendorong orang Efesus untuk bangun dan bangkit dan menyadari kondisi yang berbahaya bagi mereka, khususnya yang sudah terjatuh tergelincir (band. Rm. 13:11). Terang yang dibawa Kristus memiliki daya untuk membangkitkan, membersihkan dan memulihkan dan siap menjadi berkat bagi semua orang.

 

Dalam ayat berikutnya disebutkan agar kita yang menerima terang itu bersikap seksama hati-hati di tengah-tengah zaman yang jahat, dengan mempergunakan waktu sisa yang ada dan sangat berharga bertindak sebagai prajurit Kristus, membangunkan orang-orang untuk melihat terang dari Kristus (Yes. 60:1). Ada tiga hal katanya di dunia ini yang sekali kejadian tidak pernah kembali, yakni waktu, kesempatan dan ucapan (khususnya yang salah menyakitkan). Waktu dan kesempatan adalah anugerah yang kita miliki namun berlalu sangat cepat dan tidak bisa kembalikan. Oleh karena itu di tengah waktu yang terus berjalan dan kesempatan menabur dan menuai selalu terbuka, kita membiasakan ucapan yang menyenangkan, dan merapat ke dalam barisan prajurit Kristus sehingga melalui terang dan pelayanan kita nama Tuhan dimuliakan. 

 

Penutup

Sebagai anak-anak terang kita harus hidup jauh dari kegelapan yang membuat hati Allah bersedih. Kita sebagai umat-Nya hendaklah meneladani Yesus Kristus dengan hidup sesuai dengan panggilan kita. Semua yang kita lakukan pun sebagai perbuatan terang perlu diuji apakah sesuai dengan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya, berdasarkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi teladan dan model sebagai orang yang sudah menerima kasih dan pengampunan, tetapi kita juga dipanggil untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan orang lain agar itu tidak menjadi virus menular bagi yang lain. Tindakan itu sekaligus untuk membuktikan bahwa kita sebagai prajurit Allah yang siap untuk membangunkan orang lain agar tidak terjerat dalam kegelapan, dan mereka dapat menikmati terang yang membebaskan dan menikmati kasih Allah yang berkelimpahan sebagai anak-anak terang. Naikkanlah doa kepada Tuhan agar kita dibimbing-Nya ke arah hidup terang sehingga dapat mengerti rencana indah-Nya. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Kabar dari Bukit, Minggu, 15 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 

 KEPUASAN HIDUP DAN BERSYUKUR (Bil. 21:4-9)

 

 

 

"Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab, di sini tidak ada roti dan tidak ada air. Kami muak dengan makanan hambar ini” (Bil. 21:5)

 

 

 

Barangkali kita juga pernah mengeluh atau bersungut-sungut dalam hidup saat datang runtutan hal yang tidak menyenangkan hati. Bisa saja dari suami yang tidak pandai mencari uang, istri yang cerewet atau boros, kehidupan yang datar, atau penyakit yang berulang dan berkepanjangan. Gerutuan bisa juga dialamatkan kepada pengurus gereja, organisasi, perkumpulan, bahkan kepada pemerintah. Tapi, apa hasil gerutuan?

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Bil. 21:4-9, judul perikopnya: Ular tembaga. Ini kisah bangsa Israel yang bersungut-sungut saat perjalanan mereka kembali ke Kanaan dari Mesir, terasa panjang, berputar dan berat: mereka pun protes seperti ayat pembuka di atas.

 

 

 

Kisah bangsa Israel mengeluh di Alkitab ada 10 kali, diantaranya ketakutan saat dikejar tentara Mesir (Kel. 14:10-12), air yang pahit di Mara (Kel. 15:23-24), kelaparan dan ingin makan daging (Kel. 16:2-3), kekurangan air di Rafidim (Kel. 17:1-7), bahkan saat terakhir masuk ke Kanaan mereka ketakutan atas laporan 12 pengintai (Bil. 13:31-33).

 

 

 

Pada nas minggu ini diceritakan Tuhan marah, mengirimkan ular-ular tedung yang pagutannya mematikan. Umat lantas sadar akan dosanya dan memohon kepada Musa agar berdoa untuk mereka. Tuhan yang baik memerintahkan Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya di tiang. Bagi mereka yang memandang ular tembaga tersebut, meski dipagut ular tedung, mereka tetap hidup.

 

 

 

Hidup memang harus memilih: mengeluh bersungut-sungut atau selalu mengucap syukur atas setiap keadaan yang terjadi? Yang jelas, sikap menggerutu malah merusak diri sendiri! Memang ada kalanya mengeluh bermanfaat kecil, yakni melampiaskan sesuatu dari hati yang sesak. Nah untuk ini perlu belajar bagaimana mengekspresikannya dengan positif dan benar. Pengalaman memperlihatkan, keluhan, sungut-sungut atau mengkritik, seringnya tidak membawa hasil baik. Dan, yang kita lakukan sia-sia bahkan sering menjadi pertengkaran. Oleh karenanya lebih baik memilih mensyukuri segala yang ada. Alkitab pun mengajarkan agar selalu mengucap syukur dan menaikkan doa permohonan (Flp. 4:6-7).

 

 

 

Untuk itu kita perlu belajar bagaimana hidup bersyukur. Pertama, lihatlah apa yang sudah dimiliki: hidup, tubuh, istri/suami, keluarga, teman, pekerjaan dan lainnya. Syukurilah. Kedua, lihatlah dengan mata iman bahwa semuanya adalah yang terbaik diberikan Tuhan kepada kita. Jangan membandingkan, atau berpikir sebaliknya: Tuhan tidak adil, tidak baik. Berpikirlah positif. Tahap ketiga - ini yang penting, berjuanglah agar membuat segalanya lebih baik. Artinya perlu berpikir, berencana, berkreasi, dan bekerja keras. Janganlah meremehkan kebaikan Tuhan, sebab Kristus telah membayar mahal untuk keselamatan kita. Mintalah kepada-Nya agar upaya dan pengharapan kita dituntun dan diberkati-Nya.

 

 

 

Sadarilah bahwa bersungut-sungut dan menggerutu itu dosa. Jangan sampai Tuhan menghukum kita karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, mengirimkan "ular-ular tedung". Pandanglah Yesus  sebagaimana umat Israel memandang ular tembaga sebagai simbol kehadiran Tuhan dan pemulihan. Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun, kita pun meninggikan Yesus agar selamat (Yoh. 3:14-16). Bagi yang terus berusaha, percayalah Tuhan akan memberi yang lebih baik (Mat. 7:7-8). Mungkin saja jalannya berkelok, jatuh bangun, tetapi disitulah nikmat dan indahnya menjalani kehidupan. Dan itulah kepuasan hidup yang dimulai dengan sikap selalu bersyukur.

 

 

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (2) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026

Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 2

 

GADA DAN TONGKAT (Mzm. 23)

 

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

 (Mzm. 23:4)

 

 

Firman Tuhan di Minggu IV Paskah hari ini diambil dari Mzm. 23. Nas ini sangat populer bagi orang Kristen, selain Yoh. 3:16 dari PB. “TUHAN, gembalaku yang baik,” itulah judul perikopnya.

 

Mazmur ini mengungkapkan keteguhan iman dalam menjalani kehidupan. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” sebutnya (ayat 1). Bahasa yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan iman seperti itu tidak ada lagi keraguan, tanda-tanya, atau kebingungan yang menguasai hati pikiran. Benar kata firman, iman membuat Tuhan berkenan (Ibr. 11:6; Hab. 2:4). Keteguhan iman selalu berbuahkan perasaan damai sejahtera, sukacita, puas dan kepenuhan. Bayangan ketenangan pun menguasai pikiran, 

 

“Tuhan membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (ayat 2-3a). Bagi seorang yang menggembalakan domba di padang-padang tandus di Israel, gambaran ini sangat indah dan sungguh menyejukkan.

 

Tuhan tentu tidak menjanjikan perjalanan hidup semuanya indah, tanpa gelombang. Kadang ada badai, melewati lembah kekelaman dalam istilah nas ini atau dalam tafsiran lain disebut sebagai lembah bayang-bayang maut termasuk menghadapi kematian. Tetapi ada keyakinan pemazmur bahwa Tuhan menuntun, berjalan bersama kita di jalan yang benar sehingga kita pun tidak takut bahaya (ayat 4a).

 

Gelombang kehidupan adalah kasih sayang Tuhan untuk mendisiplinkan kita sebagai kepunyaan-Nya dengan memakai gada dan tongkat, yang dilihat pemazmur sebagai alat pertolongan dan menghibur (ayat 4b). Gada adalah pemukul pendek yang dipakai gembala sebagai alat pertahanan dan pendisiplinan domba. Tongkat adalah simbol pertolongan yang melengkung di ujungnya, untuk menarik leher domba ke jalan yang benar. Gada dan tongkat sekaligus simbol kuasa dan kekuasaan Tuhan (Kej. 49:10; Ayub 9:34). Hal yang menarik, gada terlebih dahulu disebut, baru tongkat. Oleh karena itu untuk memperoleh pertolongan Tuhan, kita perlu disiplin dan taat dalam kuasa serta penggembalaan-Nya. 

 

Alkitab menjelaskan bahwa kekelaman atau bayang-bayang maut terjadi ketika kita jatuh, dalam pergumulan berupa sakit yang berat, kondisi ekonomi yang sulit, anak/keluarga yang bermasalah serius, cekcok dengan orang lain, dan bentuk lainnya. Situasi ini sering mendorong iblis untuk membujuk kita agar kecewa terhadap Tuhan. Tetapi pemazmur mengatakan, ia tidak pernah ditinggalkan dan berkekurangan. ”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (ayat 5). Sebuah penegasan kembali, sebab Tuhan berkenan dan memenuhi semua kebutuhan (bukan keinginan), ketika kita dalam lembah kelam termasuk menghadapi musuh. Piala dalam nas ini menggambarkan batu besar yang berlubang, tempat minum domba-domba. Gembala yang baik memang menyediakan segala keperluan dombanya.

 

Puncak kerinduan setiap orang percaya adalah hidupnya selamat, di dunia ini dengan penuh berkat hikmat dan keperluan tubuh dan jiwa; selamat juga kelak di akhirat bertemu Tuhan dan orang-orang yang dikasihi. Membayangkan hal itulah pemazmur mengungkapkan di ayat terakhir, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

 

Adakah sukacita hidup yang melebihi semua itu? Saya kira, tidak ada. Ya, ayo jalani hidup kita ini tidak hanya mengandalkan pikiran, tetapi mengikuti Penuntun yang hidup, Gembala yang Baik. Itulah Yesus Tuhan yang berkata: “Akulah Gembala yang baik....” (Yoh. 10:14).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 17 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13606121
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
5314
8012
17172
13550470
122135
127844
13606121

IP Anda: 216.73.216.222
2026-03-24 21:30

Login Form