Monday, March 09, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026

Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 – Opsi 2

 

 LADANG YANG MENGUNING (Yoh. 4:5-42)

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu III Pra Paskah sebuah nas yang panjang, Yoh. 4:5-42. Ini kisah perempuan Samarai yang bertemu Tuhan Yesus saat beristirahat dalam perjalanan-Nya dari Yudea ke Galilea (ayat 4-5). Jelas sebuah terobosan kasih, mengingat orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ayat 9); ada permusuhan lama. Teladan Tuhan Yesus ini kita perlu ikuti, perbedaan tidak harus membekukan hubungan dan percakapan.

 

 

 

Tuhan Yesus kelelahan dan duduk di tepi sumur. Seorang perempuan Samaria datang di siang bolong. Tidak lazim, pasti ada yang disembunyikan. Benar, ia perempuan tidak baik, bersuami lebih dari lima, sehingga selalu datang ke sumur tatkala sepi. Terjadilah percakapan. Tuhan Yesus meminta air untuk diminum kepada perempuan itu. Perempuan itu menolak, karena Yesus orang Yahudi. Lalu Tuhan Yesus berkata: "Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (ayat 10).

 

 

 

Tuhan Yesus melanjutkan, “Barangsiapa minum air (dari sumur) ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 13-14). Maksud Yesus adalah diri-Nya dan Roh Kudus sebagai sumber air hidup. Bila orang menerima-Nya, niscaya akan menjadi mata air "yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Perempuan itupun penasaran, dan mulai mengetahui Yesus bukan sembarang orang, dan menyebut Yesus sebagai Nabi (ayat 19).

 

 

 

Tuhan Yesus kemudian menjelaskan tentang diri-Nya: "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (ayat 24). Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami" (ayat 25). Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (ayat 26).

 

 

 

Ketika para murid kembali datang menemui-Nya dan menawarkan makan, Yesus pun berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.... Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (ayat 34-35). Perempuan itu pun berlari pulang, melupakan timbanya, menceritakan kepada penduduk Samaria tentang Yesus sebagai air hidup. Mereka pun merespon, meminta Ia tinggal, sehingga lebih banyak lagi orang Samaria yang menjadi percaya kepada-Nya.

 

 

 

Tuhan Yesus telah mengutus kita, menuai dari pekerjaan menabur orang lain (ayat 38). Orang percaya perlu saling mendukung dalam membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus. Mari kita meneladani-Nya dengan perbuatan baik dan percakapan kecil, memberitakan-Nya, sehingga semakin banyak orang melihat kasih Yesus, percaya dan mengaku bahwa Dia-lah benar-benar Juruselamat dunia, Mesias, dan Sumber Air Hidup. Semua berperan, yang seorang menabur dan yang lain menuai, dan kita menjadi mata air yang terus memancar. Penabur dan penuai pun sama-sama bersukacita, terutama Tuhan kita. Terpujilah Dia.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026

Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 - Opsi 3

 

 MENCOBAI TUHAN (Kel. 17:1–7)

 

 "Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Kel. 17:2b)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

 

Firman Tuhan di hari Minggu berbahagia ini bagi kita adalah Kel. 17:1–7. Nas ini menceritakan masalah tidak adanya air untuk diminum di Masa dan Meriba, saat umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir yang dipimpin Musa. Kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di Mara ketika air menjadi pahit (Kel. 15:22–24). “Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: ‘Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?’ Musa menjawab: ‘Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai Tuhan?’” (ay. 2).

 

 

 

Menghadapi umat yang menuntut keras, Musa berseru-seru kepada Tuhan. Atas belas kasih-Nya, mereka diberi air ketika Musa memukulkan tongkatnya ke gunung batu dan air keluar dari dalamnya (ay. 6). Tongkat ini juga dipakai oleh Musa sebelum mereka keluar dari Mesir saat bertarung mukjizat dengan para ahli sihir Firaun (Kel. 7–11). Perjalanan panjang di padang gurun yang panas tentu melelahkan. Umat Israel meminta air, sesuatu yang sebenarnya manusiawi karena air minum adalah kebutuhan dasar. Namun ada yang perlu diperhatikan, yaitu sikap mereka yang bersungut-sungut menghadapi ujian dan tantangan.

 

 

 

Umat Israel seharusnya tahu betul akan kasih dan penyertaan Tuhan atas mereka selama perjalanan: dibebaskan dari perbudakan, menyeberangi Laut Teberau yang dikeringkan Tuhan, diberi manna, dituntun tiang api dan tiang awan, dan berbagai penyertaan lainnya. Namun mereka masih bebal dan menuntut tanpa rasa hormat dan syukur.

 

 

 

Alkitab mengajarkan orang percaya untuk bersikap kasih, takut, dan hormat kepada Tuhan (Mat. 22:37; 1Pet. 2:17; 1Tim. 1:17). Ini sikap yang terpuji. Jadi janganlah seperti umat Israel yang menuntut dan meragukan: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (ay. 7). Ini bagaikan air susu dibalas air tuba.

 

 

 

Tuhan Yesus lebih tegas dalam PB ketika berkata kepada iblis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (Mat. 4:7). Demikian pula ketika kaum Farisi dan ahli Taurat mencobai Yesus, Dia menghardik mereka (Mat. 16:1; 19:3; 22:18). Hal ini ditegaskan kembali dalam Yak. 1:13: “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”

 

 

 

Alkitab menjelaskan bahwa mereka yang meragukan dan mencobai Allah akan dihukum. Ada yang mati dipagut ular (1Kor. 10:9; Bil. 21:5–6). Bahkan umat Israel yang bersungut-sungut dalam nas ini tidak seorang pun akhirnya memasuki tanah perjanjian Kanaan (Ibr. 3:9; Bil. 16:41–49). Musa dan Harun pun tidak diberi kesempatan masuk karena dianggap meragukan kuasa Tuhan saat mengeluarkan air dari batu (Bil. 20:1–13).

 

 

 

Hubungan kita dengan Tuhan memiliki aspek pribadi, kedekatan, dan kedalaman spiritual. Tingkatan tertinggi dalam hubungan ini adalah ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya bukan lagi miliknya (Gal. 5:24–25). Jangan sampai kebaikan Tuhan yang telah berkorban di salib demi menebus dosa kita dikalahkan oleh kedagingan dan keinginan sesaat yang merusak hubungan dengan-Nya.

 

 

 

Melalui nas minggu ini, mari kita tetap bersandar penuh kepada Dia. Apa pun yang kita alami, tetaplah bersikap takut dan hormat. Dalam iman kita tahu Tuhan tidak akan meninggalkan kita dan segala perkara dapat kita tanggung bersama Dia (Mzm. 37:24; Flp. 4:13). Sabar dan bertekunlah. Jangan mencobai atau meragukan kuasa dan kasih-Nya.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 (Alternatif)

Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 (Alternatif)

 DILAHIRKAN KEMBALI (Yoh. 3:1-17)

  Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh. 3:3).

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini Yoh. 3:1-17 bercerita tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang menemui-Nya di malam hari. Pesan penting nas ini - selain ayat Yoh 3:16 yang semua orang percaya wajib hafal dan menghayati - adalah tentang dilahirkan kembali. Poin ini juga ditemukan dalam nas lain PB, seperti 2Kor. 5:17; 1Pet. 1:3, 23; 1Yoh. 3:9; Tit. 3:5; Ef. 2:15. Dilahirkan kembali tentu dalam pengertian rohani, percaya kesaksian hal sorgawi, bukan semata yang duniawi (ayat 12).

 

 

 

Ada tiga hal yang kita dapat dalami dari istilah ini. Pertama, dilahirkan kembali dalam kaitan baptisan, baik percik yang berlanjut dengan sidi, atau selam. Ini terkait ayat 5, ...jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Air baptisan tanda hidup yang tahir dan roh yang baru agar hidupnya dipimpin Yesus (lih. Yeh. 36:25-27; Yoh. 3:22 dab; Gal. 2:20). Pengenalan Yesus secara mendalam dan kedudukan pengakuan iman dalam hal itu sangat sentral. Proses itu merupakan tanda dan meterai akan kehidupan kekal. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2Kor. 5:17a).

 

 

 

Kedua, dilahirkan kembali dalam pengertian bagi orang yang tahu akan Yesus, tapi tidak/belum mengakuinya sebagai Juruselamat. Dalam hal ini Nikodemus adalah contoh yang konkrit, seorang pemimpin agama yang penuh pengetahuan dan juga sarat kebaikan. Tindakannya menjumpai Yesus dengan resiko, sangatlah terpuji. Bagi Nikodemus dan mereka yang belum percaya Yesus dan menerimanya sebagai Juruselamat, pengakuan itu sangat penting.

 

 

 

Ketiga, dilahirkan kembali dalam pengertian pertobatan. Ini berlaku bagi mereka yang sudah belajar dan dibaptis, tetapi kehidupannya jauh dari menyenangkan hati Tuhan. Tidak sedikit mereka ini tampak rutin beribadah minggu, ikut pelayanan dan lainnya, tetapi hakekat hidupnya rusak oleh dosa. Pertobatan dan pembaruan total diperlukan dengan dilahirkan kembali menjadi manusia baru. Ada banyak alasan dan cara yang dipakai Tuhan untuk melakukan transformasi rohani. "Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (ayat 8).

 

 

 

Kadang orang percaya berpegang pada Ef. 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Tetapi itu tidak dapat membuat kita hidup sembarangan dan menyia-nyiakan waktu. Tetap percaya, taat dan berkarya. Nikodemus menunjukkan karyanya setelah mengakui Yesus. Ia membela saat imam-imam kepala menyerang Yesus (Yoh. 7:51). Dan, ketika Yesus mati, ia membawa "campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya" saat upacara pemakaman-Nya (Yoh. 19:39). Ya, kasih mesti berwujud.

 

 

 

Percakapan Nikodemus ini membuat kita perlu berefleksi. Sudah berapa lama kita telah mengenal dan mengakui Dia? Lahir baru, pembaruan hati dan menjadi manusia baru mungkin kita perlukan. Sisihkan selumbar untuk dimampukan melihat kebenaran Ilahi ini. Nyatakan kerinduan seperti Nikodemus sehingga Allah bertindak dan kita layak menerima hidup kekal dari-Nya. Kerajaan Allah hanyalah bagi orang-orang yang telah diperbarui. Haleluya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati, amin.

 

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 1 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 

 PERJANJIAN DAN PENGHARAPAN (Kej. 9:8-17)

 

 "Sesungguhnya Aku membuat perjanjian-Ku dengan kamu dan keturunanmu”

 (Kej. 9:9)

 

 Perjanjian adalah persetujuan tertulis atau lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati yang ditulis dalam persetujuan tersebut (kbbi.wwb.id). Perjanjian umumnya menyangkut hak dan kewajiban, syarat-syarat dan sanksi apabila salah satu pihak tidak patuh.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kej. 9:8-17. Nas ini berbicara  tentang Allah memberikan perjanjian kepada Nuh yang diselamatkan dari Air Bah bersama keluarganya, yakni Nuh akan memiliki keturunan yang banyak (ay. 1, 7), berkuasa atas segala makhluk (ay. 2), manusia boleh memakan hewan - sebelumnya hanya makan biji-bijian (ay. 3; Kej. 1:29). Puncaknya Allah berjanji tidak akan memusnahkan bumi lagi dengan Air Bah dan memberi tanda, “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi,” sebagai ingatan akan perjanjian tesebut (ay. 13). Dalam teolologi ini sering disebut Perjanjian Nuh.

 

 

 

Selain itu dalam Alkitab ada perjanjian lainnya antara Allah dengan manusia, yakni Perjanjian Abraham, yang berisi janji Abraham akan diberkati dengan memiliki keturunan sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 12:1-3; 15:5). Bahkan disebutkan Allah bersumpah atas perjanjian tersebut (Ibr. 6:17). Syarat yang diminta, Abraham taat dan sunat sebagai tanda (Kej. 17:11).

 

 

 

Ketiga adalah Perjanjian Musa di Gunung Sinai, yakni Allah akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel dan mengangkat mereka sebagai umat-Nya (Kel. 6:3-7; 19:5; Kel 34:27; Ul. 5:2). Syarat yang diminta adalah taat dan umat Israel memuliakan Allah.

 

 

 

Kemudian ada Perjanjian Daud, berisi kerajaan Daud akan kokoh dan keturunannya akan memerintah selamanya (2Sam. 7) . Dan terakhir melalui Nabi Yeremia, Allah akan membuat Perjanjian Baru dengan manusia (Yer. 31:31-34; Ibr. 8:7-9).

 

 

 

Kelima perjanjian tersebut bersifat unilateral, Allah yang berinisiatif dan bersedia mengikatkan diri-Nya. Pertanyaannya, dapatkah kini kita membuat perjanjian dengan Allah? Manusia memang hamba dan pelayan di hadapan-Nya. Tetapi kita juga adalah anak-anak-Nya berdasarkan prinsip adopsi. Dengan memahami hubungan tersebut, maka kita dapat mengadakan perjanjian dengan Allah, sepanjang sesuai dengan rencana-Nya.

 

 

 

Memang "perjanjian" ini ada yang menyebutnya sebagai nazar, mengacu pada kisah Yakub bernazar di Betel (Kej. 28:20–22) dan Hana bernazar sebelum Samuel lahir (1Sam. 1). Pengertiannya, perjanjian yang kita lakukan tidak setara, sebab Allah Maha Kuasa. Tetapi Allah adalah Pribadi. Ia memiliki rencana dan tujuan berdasarkan akal (Yes. 55:8-9; Luk. 2:52), pikiran (Mzm. 139:17), kehendak (1Kor. 1:1; 1Pet. 2:15), dan emosi (Mzm. 78:40-41; Yoh. 11:35). Allah juga penuh kasih. Dia maha bijak dan mendengar, tahu maksud dan tujuan kita. Oleh karenanya tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari-Nya. Jangan memaksakan berkat, apalagi demi keuntungan sendiri, tidak menuntut, apalagi menyangkut keselamatan kekal.

 

 

 

Buatlah dan peganglah janji kita. Anggaplah sebagai pembaruan perjanjian anugerah Allah yang telah dimeteraikan kepada kita melalui baptisan. Pegang teguh "perjanjian" atau nazar tersebut dalam pengharapan. Allah adalah Roh yang hidup dan menghidupkan. Ia setia dan janji-Nya melebihi segala sesuatu (Mzm. 138:2; 2Kor. 3:4-6). Sebab, aku yakin.... tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm. 8:38-39). Dengan berpegang janji tersebut, dan kekuatan doa, masukilah kehidupan baru bersama keturunanmu dalam dunia yang baru sebagaimana Nuh. Dan, pandanglah pelangi sebagai tanda dan pengharapan.

 

Selamat hari Minggu, selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026

Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026

 

 TUHAN MEMPERHITUNGKAN SEBAGAI KEBENARAN (Rm. 4:1-5, 13-17)

 

Bacaan lainnya: Kej. 12:1-4a; Mzm. 121; Yoh. 3:1-17 atau Mat. 17:1-9

 

Pendahuluan

 

Bacaan minggu ini masih menjelaskan tentang iman, namun kali ini kaitannya dengan hukum Taurat dalam bentuk perbuatan-perbuatan. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus membuat garis pemisah antara pembenaran berdasarkan perbuatan dan pembenaran berdasarkan iman. Dalam memperkuat pembenaran iman yang dasarnya kasih karunia, Rasul Paulus mengambil Abraham dan Daud sebagai model dan teladan tentang hal yang mereka perbuat dan yang diberikan Allah berupa kasih karunia karena iman mereka. Pengambilan Abraham dan Daud bagi umat Yahudi sangat tepat, sebab kedua tokoh ini sangat dikagumi dan dijadikan bagian dari sejarah utama bangsa Israel. Melalui nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang iman dan pembenarannya sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Abraham dibenarkan karena Iman (ayat 1-5)

 

Orang Yahudi sangat bangga disebut sebagai anak-anak Abraham, bapa leluhur jasmani mereka. Kisah hidup Abraham di mata mereka memperlihatkan berbagai tindakan yang dilakukannya sebagai respon terhadap janji, karya, maupun perintah Allah. Bagi orang-orang Yahudi, Abraham adalah tokoh teladan yang dibenarkan karena perbuatannya. Tradisi Yahudi menempatkan Abraham sebagai lambang pembenaran oleh karena kesetiaannya dan keteguhannya dan perbuatan-perbuatannya yang menyenangkan hati Allah (band. Rm. 2:14 dab; Yak. 2:22). Dengan dasar itu, bagi orang Yahudi, hanya dengan ketaatan dan perbuatan yang membuat seseorang berkenan kepada Allah, dan diselamatkan. Dalam pandangan mereka, Allah tidak mungkin membebaskan orang yang bersalah, sebagaimana kitab PL mengatakan, "...Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah...." (Kel. 23:7). Dengan demikian bagi orang Yahudi, mengatakan bahwa Allah berkenan hanya karena iman, itu adalah hal yang mustahil dan tidak dapat mereka terima dengan akal, dan bahkan dianggap menghina Allah.

 

 

 

Namun Paulus mengutip Kej. 15:6 yang mengatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Dalam hal ini Paulus menekankan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena perbuatan-perbuatannya, melainkan hanya karena imannya. Meski Abraham sebagai tokoh yang luar biasa, akan tetapi dia menerima pilihan dan janji Allah (Kej. 12:1-2; 13:14-15; 22:17) ketika ia belum disunat, belum menjadi Yahudi, sehingga janji berkat itu diberikan karena imannya semata, bukan karena perbuatannya. Bagi Paulus, apabila Abraham menerima janji berkat karena perbuatannya, maka Abraham akan bermegah dan ia memiliki dasar untuk itu. Hal yang dilakukan oleh Abraham adalah percaya dan meyakini akan janji-janji Allah, mengandalkan Allah dan menyerahkan diri pada-Nya, dan dengan dasar itu juga ia menjaga hubungan yang baik dengan setia dan taat, serta itu menyenangkan hati Allah (band. Ibr. 11:8-9). Jadi semua dasarnya adalah iman, sehingga Abraham disebut sebagai bapak orang beriman.

 

 

 

Memang, menerima pandangan itu seolah-olah sulit. Ketika seseorang dikatakan diselamatkan oleh iman, maka biasanya dia akan bertanya ragu: "Apakah saya memiliki iman yang cukup untuk diselamatkan? Apakah iman saya cukup kuat untuk diselamatkan?" Sebenarnya, orang-orang seperti ini kehilangan poin utama keselamatan, yakni bahwa Yesuslah yang menyelamatkan, bukan perasaan kita atau tindakan kita. Yesus berkuasa dan mampu untuk menyelamatkan kita betapapun kecil dan lemahnya iman kita. Yesus menawarkan keselamatan sebagai anugerah karena Ia mengasihi kita, bukan karena kita memiliki kuasa iman. Jadi, kalau begitu, apa fungsi iman? Iman adalah mempercayai dan meyakini Allah melalui Tuhan Yesus dan bersedia menerima anugerah keselamatan yang tersedia dari-Nya. Sebagaimana Abraham, kita diminta memiliki iman dan dengan itu kita dibenarkan.

 

 

 

Kedua: Janji Allah bukan berdasarkan Taurat (ayat 13-14)

 

Allah memberikan janji yang dahsyat kepada Abraham yakni menjadi berkat bagi banyak bangsa-bangsa. Janji itu adalah warisan yang harus dipertahankan. Umat Yahudi memiliki pandangan, bahwa Abraham atau seseorang dapat menerima dan mempertahankan janji Allah hanya karena menaati hukum Taurat dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan hukum Taurat, dan Allah menganggapnya sebagai ketaatan. Dalam hal ini yang terjadi kemudian adalah perbuatan dan ketaatan itu ada karena kemampuan dan usaha diri sendiri dalam menjalankan hukum Taurat. Ini lebih mengandalkan kemampuan sendiri dan konsekuensinya berpikir akan upah dan penghargaan, serta sekaligus menimbulkan kesombongan dan kemegahan diri. Akan tetapi Abraham tetap taat dan setia serta ia tidak bermegah atas janji dan berkat itu, dengan tetap merendahkan dirinya di hadapan Allah dan manusia (band. Kej. 13:1-17).

 

 

 

Nas ini juga menekankan bahwa seseorang yang bekerja pasti mendapatkan upah dan itu adalah haknya. Upah yang didapat sama sekali tidak ada hubungannya dengan suatu anugerah yang sebenarnya tidak layak diterima. Seseorang yang berbuat baik dan benar di hadapan Tuhan dan mendapatkan penghargaan bukanlah anugerah. Akan tetapi Abraham juga melakukan dosa dengan mendistorsi kebenaran (berbohong) dan seseorang yang berbuat dosa pasti dianggap durhaka dan menerima hukuman. Oleh karena itu kalau dasarnya adalah ketaatan sempurna kepada hukum Taurat, maka tidak mungkin ada keselamatan. Maka nas ini kemudian menekankan bahwa Allah membenarkan orang durhaka. Allah tidak membenarkan seseorang yang giat dan saleh, tetapi Dia membenarkan orang berdosa yang durhaka. Maka, pembenaran itu adalah anugerah, dan sebetulnya kepercayaan diri manusia itu hanya kesia-siaan. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah membenamkan diri kita ke dalam pengasihan dan anugerah Allah melalui iman.

 

 

 

Kita tahu setiap tindakan yang kita ambil pasti memiliki konsekuensi. Hal yang kita lakukan menjadi sebuah seri tindakan yang berlanjut bahkan setelah kita mati. Kita memang cenderung berpikir pendek saja tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjangnya, yang kemudian menipu kita karena berpikir kalau hidup ini singkat saja. Abraham berpikir panjang dan Paulus mengambil Abraham sebagai tokoh yang diselamatkan karena iman, bukan berarti bahwa hukum Taurat tidak lagi penting. Iman tidak berarti meniadakan hukum Taurat. Kita tahu bahwa hukum Taurat diberikan pada masa Musa dan jauh setelah Abraham. Paulus dalam hal ini tidak mengambil Musa sebagai teladan, melainkan Abraham. Begitu juga Daud yang hidup jauh sesudah Taurat diturunkan, dengan imannya yang teguh pada Tuhan dibenarkan meski ia banyak melakukan dosa. Demikianlah, janji dan warisan itu tetap diberikan kepada Abraham, dan kepada Daud melalui Yesus Kristus yang menjadikan kerajaan-Nya yang jaya dan maha luas. Janji itu tidak batal dan iman mereka tidak sia-sia.

 

 

 

Ketiga: Hukum yang menimbulkan murka (ayat 15)

 

Dalam kitab Roma pasal 2 dituliskan bahwa hukum Taurat membangkitkan murka, baik kepada diri sendiri maupun dari Allah, "Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan" (Rm. 2:5). Tuhan Yesus mengatakan kepada para ahli Taurat, bahwa meski mereka mengetahui dan bahkan mengajarkan hukum Taurat yang diberikan Allah melalui Musa, mereka juga melanggarnya. Hal yang mereka ajarkan berlawanan dengan perbuatan-perbuatan mereka bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain oleh karena perbuatan mereka (ayat 24).

 

 

 

Hukum Taurat diberikan Allah kepada bangsa Yahudi sebagai kaidah mereka dalam berperilaku dan untuk menjaga kemurnian bangsa Yahudi, serta membuat mereka sebagai contoh atau model sebuah bangsa teladan pilihan Allah sehingga bangsa-bangsa lain mengikuti dan memuliakan Allah. Dalam hal ini Allah menetapkan hukum-hukum standar berikut dengan konsekuensi hukuman yang terjadi apabila ada tindakan pelanggaran. Atau dengan kata lain, melalui hukum Taurat Allah menjelaskan hal yang dituntut dari manusia, dan Allah tidak berkenan dan menjadi murka atas pelanggaran yang terjadi. Akibatnya, seperti dinyatakan oleh Hagelberg, ada rantai yang berkaitan dan tidak terputuskan dari hubungan itu, yakni hukum Taurat, pelanggaran, dan hukuman akibat memurkakan Allah (band. 1Kor. 15:56). Apabila satu dari rantai itu terjadi, maka rantai itu akan berulang muncul kembali. Dan kenyataannya, manusia gagal mengikuti hukum Taurat sebagaimana ahli-ahli Taurat juga melakukan hal yang sama seperti dinyatakan Tuhan Yesus tadi, sehingga rantai itu terus sambung menyambung.

 

 

 

Maka tidak ada alasan untuk bermegah karena hukum Taurat. Hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan. Sebagaimana dituliskan dalam Gal. 3:10, "Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Oleh karena tidak ada satupun yang bisa setia melaksanakannya, maka hukum Taurat hanya menimbulkan murka dan kutukan, sebab manusia memang tidak mampu untuk mengikutinya. Dengan demikian pula, dinyatakan "bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman" (Gal. 3:11). Maka yang sebenarnya, Allah yang penuh kasih menghendaki penyerahan diri dan ketergantungan, didasari iman yang penuh kepada-Nya, bukan iman dengan kemampuan diri sendiri untuk dapat menyenangkan hati-Nya. Dalam hal ini, iman kepercayaan dan kebenaran menjadi satu dalam rangkaian, bukan hukum Taurat yang menimbulkan murka.

 

 

 

Keempat: Janji terhadap keturunan Abraham (ayat 16-17)

 

Firman Tuhan menjelaskan kepada kita bahwa Abraham berkenan kepada Tuhan hanya karena imannya, sebelum dia mendengar tentang ritual atau prosesi ibadah yang bagi umat Yahudi kemudian menjadi harus dijalani dengan ketaatan dan penuh dengan penafsiran manusia. Kegagalan para pemimpin Farisi dan ahli Taurat dalam menjaga nilai-nilai hakiki Taurat itu yakni kasih, tetapi yang terjadi kecenderungan mereka memanfaatkan aturan-aturan menjadi lebih lebar dan luas dengan tujuan kepentingan ekonomi dan jabatan mereka sendiri, membuat Taurat kehilangan kasih. Ritual Yahudi yang penuh struktur aturan persembahan termasuk persepuluhan menjadi kehilangan hakekat dalam membawa umat Yahudi sebagai bangsa teladan yang berkenan kepada Allah.

 

 

 

Firman Tuhan dalam Habakuk yang memang sudah menekankan pentingnya iman namun mereka tidak mereka pahami dengan benar. Mereka terus saja berkutat kepada aturan-aturan legalistik. Oleh karena itu firman Tuhan melalui Rasul Paulus kembali meenkankan dan mengingatkan bahwa manusia diselamatkan dengan iman, Abraham diselamatkan karena iman, tanpa ada usaha apapun. Orang yang dipilih-Nya diselamatkan bukan karena perbuatan baik, bukan karena adanya sesuatu plus iman, atau perbuatan baik plus iman; melainkan hanya iman, iman kepada Allah melalui Yesus Kristus yang adalah anak Allah dan mati tersalib untuk menebus dosa-dosa kita dan seluruh manusia. Mengutip kembali pandangan Hagelberg, kalau Taurat membentuk rantai dengan pelanggaran dan hukuman, maka iman membangun rantai dengan kasih karunia dan janji. Peneguhan janji sebagaimana yang diberikan kepada Abraham demikian pula diberikan kepada kita yang teguh imannya.

 

 

 

Namun perlu sekali lagi ditekankan bahwa iman itu terputus dan tidak berdiri sendiri. Dalam firman Tuhan lainnya dikatakan, bahwa “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:17); "Iman yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6; Ef. 2:10). Betul, iman itu dasar dan fondasi, tetapi iman perlu dibuktikan melalui pertobatan dengan lepas dari kehidupan lama yang tidak berkenan kepada Tuhan, melakukan perbuatan-perbuatan kasih seturut firman-Nya, baik kepada Allah maupun kepada manusia. Hal yang juga penting, objek iman dalam hal ini adalah Kristus Anak Allah, yang menjadi Mesias dan Hakim bagi semua orang sesuai dengan penggenapan janji yang diberikan Allah kepada manusia dan para nabi di dalam Perjanjian Lama. Melalui Yesus, Allah tetap adalah Allah Israel yang perkasa, Allah yang berkuasa, bukan hanya menghidupkan mereka yang mati, melainkan juga membuat ada dari yang tidak ada. Itulah Yesus Anak Allah yang kepada-Nya iman kita dibenarkan dan janji-Nya digenapkan.

 

 

 

Penutup

 

Kembali minggu ini kita diingatkan betapa pentingnya iman dalam berhubungan dengan Allah. Melalui nas yang kita baca, hukum Taurat ternyata tidak menyelamatkan bahkan memberi konsekuensi pelanggaran dan hukuman murka Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mampu sempurna melaksanakan hukum Taurat sehingga murka Allah akan tetap ada. Namun sebagaimana Abraham dan Daud, ternyata kasih Allah melebihi hukum Taurat dan terbukti semua dasarnya itu adalah iman, iman yang berkenan kepada Yesus yang telah menebus dosa-dosa manusia. Memang masih banyak orang mengutamakan dan menempatkan perbuatan baik sebagai dasar untuk berkenan kepada Tuhan, dengan melakukan ketaatan pada ritual-ritual ibadah namun ketika menghadapi masalah, iman tidak ditempatkan sebagai hal yang utama. Maka tanpa iman maka semua itu tidak berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham dan Daud, juga berlaku bagi kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, untuk ikut mewarisi berkat-berkat yang disediakan bagi yang berkenan kepada-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 95 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13527546
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1014
4289
9796
13483986
43560
127844
13527546

IP Anda: 216.73.216.55
2026-03-10 04:58

Login Form