2026
2026
Khotbah (2) Minggu Trinitas – 31 Mei 2026
Khotbah Minggu Trinitas – 31 Mei 2026 – Opsi 2
AMANAT KEHIDUPAN (Mat. 28:16–20)
“Kamu harus lulus dari ITB! Meski harus kuliah puluhan tahun, saya siap membiayai, sebab itulah tujuanmu ke Bandung” (Ayahku, Abel Kaswol Sihaloho)
Itulah amanat ayah saya ketika berkunjung ke penjara saat saya ditahan karena melawan pemerintahan Soeharto pada awal tahun 1978. Saat itu saya baru tingkat dua, perjalanan kuliah masih panjang, bahkan belum jelas berapa lama saya akan dipenjara. Namun puji Tuhan, setelah dua tahun hilang waktu kuliah (setahun dipenjara dan setahun mengikuti pengadilan), saya fokus dan lebih serius belajar, lalu lulus dengan baik dari ITB. Amanat itu tuntas. Ayah dan ibu hadir saat wisuda, dan saya melihat betapa bahagianya mereka.
Firman Tuhan di Minggu Trinitas hari ini, Mat. 28:16–20, kita kenal sebagai perintah untuk memberitakan Injil atau Amanat Agung Tuhan Yesus. Kita pasti pernah mendapat amanat: dari orang tua, atasan di kantor, keluarga, bahkan teman. Orang yang berpikir positif dan punya daya juang biasanya senang menerima amanat karena itu tanda kepercayaan, dan ia dianggap mampu melaksanakannya. Orang yang bertanggung jawab akan menyelesaikan amanat sampai tuntas dan merasakan kepuasan. Sebaliknya, mereka yang tidak bertanggung jawab cenderung mengerjakannya setengah hati. Bila tidak selesai, tidak merasa bersalah. Mereka mudah menyusun alasan atau mencari kambing hitam. Tidak becus, itulah istilahnya.
Ketika kita menjadi pengikut dan murid Kristus serta mengakui-Nya sebagai Juruselamat pribadi, Penebus dosa-dosa kita, dan Pemimpin serta Junjungan kita, maka sesungguhnya kita telah menjadi bagian dari diri-Nya: menyatu. "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku..." (Gal. 2:20a).
Karena itu, untuk Amanat Agung Tuhan Yesus, marilah kita berusaha menyelesaikannya sesuai talenta dan kemampuan yang ada. Amanat-Nya jelas: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku..." (ay. 19a). Menjadikan segala bangsa murid berarti memberitakan Injil kepada mereka yang belum menerima Yesus Kristus.
Kongres Penginjilan Sedunia di Lausanne tahun 1974 menetapkan bahwa penginjilan berarti menyebarkan Kabar Baik. Penginjilan bukan khotbah di mimbar gereja pada hari Minggu, melainkan memberitakan ke luar gereja. Bentuknya dapat berupa diakonia yang hadir memberi bantuan kasih kepada mereka yang sedang dalam kesusahan. Ada juga marturia, yaitu proklamasi dan persuasi melalui penginjil atau evangelis yang diutus.
Apakah kita sudah mengambil bagian? Melalui doa, pikiran, tenaga, waktu, atau uang, apakah kita telah turut terlibat dalam penginjilan ke luar gereja? Perintah-Nya jelas: setiap orang harus mengambil bagian dalam amanat dan misi itu. Kita tidak bisa lari atau berkelit. Tidak boleh pula ragu-ragu, seperti sebagian murid saat itu (ay. 17), sehingga Tuhan Yesus perlu menegaskan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi" (ay. 18b).
Alangkah sedih bila kelak Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku..." (Mat. 7:23; 25:41). Kesempatan masih ada. Ikutlah, agar Tuhan Yesus bersukacita, seperti ayah saya yang berbahagia melihat saya diwisuda. Finish well. Mission completed.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu Trinitas – 31 Mei 2026
Khotbah Minggu Trinitas – 31 Mei 2026 – Opsi 3
TERANG GELAP DI BUMI (Kej. 1:1-5)
”Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3)
Salah satu keistimewaan dan keunggulan kitab suci Alkitab - selain terbaik dalam menjelaskan keberadaan, Pribadi dan kekuasaan Allah, isinya sangat sistematis. Alkitab di bagian pembukanya mendeklarasikan penciptaan langit, bumi dan alam semesta dengan singkat padat oleh Allah, hingga diciptakan-Nya manusia sebagai makhluk utuh sempurna.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 1:1-5, penciptaan hari pertama saja. Kita tahu Allah mencipta dalam enam hari, berhenti pada hari ketujuh, memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya (Kej. 2:2-3). Tentu ada alasan para pemimpin gereja menyusun leksionari nas Minggu ini dengan penggalan lima ayat, yang ditutup kalimat, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama” (ay. 5). Rahasia itulah yang ingin kita pelajari mengapa Allah pertama sekali menciptakan bumi dan terang, serta memaknai pentingnya terang dalam kehidupan. Dan, Tuhan tidak pernah menciptakan kegelapan.
Tuhan menciptakan bumi yang pertama karena dimaksudkan sebagai tempat berdiam manusia dan segala makhluk; bukan untuk tempat ujian apalagi tempat pengasingan. Oleh karena itu, bumi diperlengkapi dengan ekosistem yang mendukung agar manusia dan segala makhluk hidup nyaman: berupa darat dan air, tumbuhan dan binatang, serta langit cakrawala dengan segala isi dan bentuknya. Bumi atau dunia ini juga dimaksudkan tempat kita berkarya sebagai garam dan terang (Mat. 5:13-14). Memang tantangan besar diberikan kepada manusia ketika diberi perintah, “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu (Kej. 1:28), dengan mengembangkan semua potensi kecerdasan sekaligus menghadapi iblis, godaan kenikmatan dunia dan daging, serta ego - itulah ujian iman, hikmat dan moralitasnya.
Menurut Yohanes Calvin, surga bukanlah "tempat", melainkan sebuah "keadaan pikiran" (states of mind), dan ini seturut pemikiran bahwa kerajaan surga itu sudah ada di bumi. Allah jelas menempatkan Adam dan Hawa di Taman Eden dan masih bisa ditelusuri lokasinya di bumi, diperkirakan di wilayah Irak. Yesus juga berkata pertama kali, bahwa “Kerajaan surga sudah dekat” (Mat. 4:17). Kemudian dilanjutkan-Nya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Mat. 21:31). Alkitab juga menegaskan, “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17).
Terang diciptakan karena terang itu penting untuk melihat segala sesuatu dengan lebih baik dan jelas. Allah hadir melalui Terang, melambangkan kebaikan dan keindahan kehidupan, sekaligus memisahkannya dengan kegelapan. Dengan terang, kita tahu akan kehadiran dan kekuasaan-Nya, melihat pengharapan dan kehendak Allah.
Adanya kegelapan berupa malam, sebagaimana di tengah kebaikan selalu saja ada kejahatan. Bagai orang menanam padi, selalu ada ilalang, namun mereka yang menanam ilalang tidak akan pernah mendapatkan padi; mereka yang menanam kejahatan tidak akan pernah mendapatkan kebaikan.
Dalam menjalani kehidupan di bumi, manusia diperlengkapi dengan Terang yakni Yesus, yang dalam hidup-Nya terang itu bersinar, memberi kita teladan, hikmat dan kuasa-Nya. Hanya dengan Terang Tuhan Yesus kita dapat menjauhkan diri dari segala kejahatan dan kegelapan. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan” (1Tes. 5:21-22). Berjalan dengan Terang Yesus, sungguh akan menyenangkan kita dan juga hati-Nya. Sudahkan Terang itu berkuasa dalam hati kita?
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026
Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026
ADA RUPA-RUPA KARUNIA, TETAPI SATU ROH (1Kor. 12:3b-13)
Bacaan lainnya: Kis. 2:1-21 atau Bil. 11:24-30; Mzm. 104:24-34,35b; Yoh. 20:19-23 atau 7:37-39.
Pendahuluan
Karunia rohani yang diberikan kepada setiap orang percaya oleh Roh Kudus adalah kemampuan khusus yang dipergunakan untuk pelayanan sesuai dengan kebutuhan jemaat. Daftar dalam nas minggu ini tentang karunia rohani, perlu digabung lebih lengkap dengan ayat-ayat lainnya (lihat Rm. 12; Ef. 4; 1Pet. 4:10-11 dan ayat lainnya). Ada banyak karunia rohani namun setiap orang memiliki yang berbeda. Beberapa orang memiliki lebih dari satu, bahkan seseorang bisa memiliki karunia rohani yang "lebih baik". Yang jelas, setiap karunia rohani tidak perlu dianggap lebih hebat dari karunia rohani yang lain. Hal ini disebabkan semuanya bersumber dari Roh Kudus dan tujuannya adalah untuk membangun tubuh Kristus yakni gereja. Seluruh bentuk karunia yang ada pada manusia, pada hakekatnya bersumber dari Allah Bapa melalui Tuhan Yesus dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang, pemahaman tentang karunia rohani seringkali tidak sama: ada yang suka dan ada yang tidak suka, ada yang bingung. Tetapi paling tidak, berdasarkan nas bacaan kita minggu ini dan ayat-ayat lain kita diberi gambaran sebagai berikut.
Pertama: Pengakuan "Yesus adalah Tuhan", karunia dan pelayanan oleh Satu Roh (ayat 3b-5)
Yesus memiliki banyak sebutan "gelar" sesuai dengan pemahaman masing-masing, meski panggilan yang sering oleh murid-murid-Nya adalah dengan sebutan Guru. Perempuan Samaria dalam percakapan dengan Yesus menyebutnya sebagai seorang nabi. Ada juga yang menyebutnya sebagai Rasul. Serdadu-serdadu menyebutnya dengan Raja Israel meski dengan sikap awal hanya olok-olok namun kemudian diakui sebagai Raja segala Raja. Saudara kita umat lain menyebut Yesus sebagai Nabi yang memiliki sejumlah kekhususan, seperti lahir dengan tidak dari benih laki-laki, memiliki kemampuan penyembuh dan lainnya, meski dengan nama Isa. Petrus menyebut Yesus sebagai Mesias yang kemudian ditegaskan Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga (Mat. 16:17). Akan tetapi yang penting dari semua itu adalah pengakuan dan panggilan Yesus sebagai Tuhan, yang menurut ayat kita baca: "tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus" (band. 1Yoh. 4:2-3).
Pengakuan Yesus sebagai Tuhan bukanlah dari hasil olahan pikiran manusia. Manusia dengan segala kehebatannya hanya mampu mengakui Yesus sebagai Nabi, sebagai Guru, Rasul, Raja, Mesias (Yang Diurapi), namun untuk mengaku sebagai Tuhan dan Anak Allah, maka itu adalah iman dan anugerah Allah semata. Alkitab berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Yesus, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus-Nya” (Yoh. 6:44). Jadi, sangat jelas, bahwa yang datang dan percaya kepada Yesus (dan mengaku sebagai Tuhan) adalah mereka yang ditarik dan dipilih Allah Bapa. Hal ini juga diteguhkan dengan prinsip Kristiani bahwa dari berbagai bentuk karunia yang diberikan kepada manusia, iman (kepada Yesus) adalah karunia rohani khusus orang percaya kepada-Nya. "Kasih karunia atau karunia-karunia" (bahasa Yunani charismata berasal dari kata charis) dan Roh atau Pneuma menunjuk kepada karunia Roh Kudus, yakni penyataan Ilahi berupa kemampuan khusus yang diberikan kepada orang percaya untuk pelayanan dan kepentingan bersama. Pengertian penyataan Ilahi (bahasa Yunani phanerosis berasal dari kata phaneros yang berarti "berwujud") menekankan bahwa karunia rohani itu menjadi penyataan langsung dan dianugerahkan sebagai tanda bukti kelihatan kehadiran Roh Kudus di dalam persekutuan jemaat.
Berdasarkan telaah Alkitab, ada 18 karunia rohani yang diidentifikasi dan dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian utama, yakni:
- karunia rohani melalui perkataan atau berbicara, terdiri dari 7 karunia
- karunia rohani melayani dan memberi, terdiri dari 6 karunia
- karunia rohani untuk membuat mukjizat, terdiri dari 5 karunia.
Masing-masing karunia rohani tersebut dijelaskan pada bagian berikut.
Kedua: Karunia berbicara oleh satu Roh (ayat 8)
Sebuah kata atau rangkaian kata dapat menjadi pedang bermata dua, yakni membedah untuk tujuan baik, atau memotong/menyayat dengan tujuan buruk. Rangkaian kata-kata buruk dapat merusak suasana, menghancurkan mental dan motivasi, dan bahkan membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga dan terhina. Sebaliknya rangkaian kata-kata indah dapat membuat seseorang menjadi senang dan bersukacita, membangun semangat dan motivasi, dan bahkan menimbulkan keberanian sehingga jauh dari rasa khawatir dan takut. Kemampuan dalam olah "berbicara" itu tentu juga didasari oleh hikmat kemampuan batin dan rohani yang dalam, termasuk dalam memahami pengetahuan dan keilmuan. Dalam hal ini pengertian berbicara juga dimaksudkan dengan menulis sebagaimana para rasul Tuhan, dipakai dalam menulis surat-surat rasuli atau kitab-kitab sebagaimana dalam Alkitab. Oleh karena itu, Allah menggunakan kemampuan mengeluarkan kata-kata sebagai karunia khusus bagi orang yang Tuhan pakai untuk menyampaikan pesan dan membangun jemaat-Nya (band. 1Ptr. 4:10).
Dalam Alkitab paling tidak ada tujuh karunia yang berhubungan dengan berbicara, yakni:
1. Karunia rasuli (Ef. 4:11; 1Kor. 12:28)
2. Karunia bernubuat/kenabian (Ef. 4:11; 1Kor. 11:14-15; 12:2)
3. Karunia penginjilan (Ef. 4:11; 2Tim. 4:5; Kis. 21:8)
4. Karunia penggembalaan (Ef. 4:11)
5. Karunia mengajar (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28-29)
6. Karunia menasihati berkata-kata dengan hikmat (Rm. 12:8; 1Kor. 12:8)
7. Karunia berkata-kata dengan pengetahuan (1Kor. 12:8; 2Kor. 8:7)
Lima karunia yang pertama diambil dari Ef. 4:11 yang dianggap sebagai karunia jabatan yang ada dalam tubuh gereja, seperti rasul, penginjil, gembala dan pengajar (guru), terkecuali jabatan kenabian/nubuatan yang lazim dalam masa Perjanjian Lama. Namun dalam hal ini bernubuat tidak semata-mata berhubungan dengan ramalan-ramalan masa depan. Yohanes Calvin mengatakan bahwa menyampaikan firman dan pesan Allah kepada kumpulan orang percaya adalah kemampuan bernubuat yang dilaksanakan dalam berbagai khotbah sepanjang sejarah gereja. Nubuatan dalam khotbah disampaikan di tengah-tengah jemaat dalam rangka meneguhkan dan menguatkan jemaat tersebut. Memang, sebagian lain berkata bernubuat bukankah berkhotbah, tetapi sesuatu yang spontan, pesan yang diinspirasi Roh Kudus. Namun Alkitab mengatakan, Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur (1Kor. 14:3; band. Rm. 12:6; Yoel. 2:28). Sementara kemampuan dalam menyampaian kata-kata nasihat dengan penuh hikmat seperti isi kitab amsal, ini termasuk bagi mereka yang belajar psikologi konseling. Yang terakhir pada bagian ini adalah mereka yang memiliki ilmu pengetahuan yang bisa menjelaskan tentang gejala-gejala dan proses alam (scientist), maupun bidang sosial yang meliputi peristiwa-peristiwa sosial termasuk interaksinya, seperti antrhropolog, sosiolog, ahli sejarah, dan ilmu sosial lainnya.
Semua ini penting kita ketahui bahwa Allah benar-benar terlibat di dalam memberi, menggunakan, dan memberdayakan karunia rohani. Penggunaan karunia rohani, tempat pelayanan, jenis pelayanan, semua akan menjadi lebih efektif ketika karunia itu dipakai untuk membangun jemaat. Allah menciptakan tempat dan waktu yang tepat bagi setiap orang percaya di dalam tubuh Kristus. Karunia rohani dan pelayanan mungkin kadang tampak tumpang tindih, tetapi setiap orang percaya memiliki kekhususan, sebab Allah mendisain peran bagi kita semua. Salah satu yang menarik dan menantang dalam mengikut Kristus adalah menemukan karunia rohani dalam diri kita dan juga pada diri orang lain, dan menggunakannya dengan baik untuk kepentingan bersama dalam pembangunan jemaat (1Kor. 14:12; Ef. 4:12).
Ketiga: Karunia melayani oleh Roh yang sama (ayat 9a)
Kita orang percaya dipanggil untuk melayani. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri tetapi untuk Kristus dengan melayani orang lain. Allah memanggil anak-anak-Nya untuk melayani, dan tidak semua pelayanan dalam bentuk atau wujud yang tampak "hebat". Sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan, setiap karunia rohani tidak lebih hebat dari karunia rohani yang lain. Ketika para rasul sibuk dengan pemberitaan Injil, harus ada yang mengurus meja dan agar mereka bisa lebih memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Untuk itu mereka menunjuk tujuh orang untuk melayani meja, dalam pengertian pelayanan sosial kepada janjda-janda miskin (Kis 6:1-4). Mereka yang dipilih melayani ini juga bukan sembarangan, sebab mereka adalah orang-orang yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat untuk melaksanakan tugas itu. Jadi sebenarnya tugas mereka melayani didasari oleh iman dan kemurahan hati.
Maka berdasarkan pengelompokan pelayanan khususnya yang berhubungan dengan waktu dan tenaga, kemurahan hati dan pelayanan, ada lima karunia, yakni:
1. Karunia iman (1Kor. 12:9)
2. Karunia melayani (1Kor. 12:7)
3. Karunia menolong (1Ko.r 12:28; Kis. 6:2)
4. Karunia memberi dengan murah hati (Rm. 12:8)
5. Karunia memberi tumpangan (1Pet. 4:9; 1Tim. 5:10)
6. Karunia memimpin atau mengelola (Rm. 12:8; 1Kor. 12:28)
Dalam hal ini karunia iman dikelompokkan ke dalam pelayanan sebab iman dilihat sebagai keteguhan hati dan kesungguhan dalam penyerahan diri, yang bermanfaat dalam pelayanan ke luar dirinya. Setiap orang percaya memiliki iman. Tetapi bagaimana pun, memiliki karunia iman merupakan ukuran yang tidak biasa atas kepercayaan dalam kekuasaan Roh Kudus (band. Mat. 17:19,20; 1Kor. 13:2). Penting kita ingat firman Tuhan yang mengatakan, karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:13). Memang dalam hal ini pengelompokan yang diberikan dapat disebut sebagai pelayanan diakonia, yang mengutamakan kerendahan hati dan kesedian memberi yang bukan terbatas pada materi semata, dan juga bersikap benar-benar sebagai hamba pelayan (band. 1Kor. 12:27-31). Hal yang terpenting dalam kelompok ini adalah kemampuan dalam mengelola dan memimpin, baik dalam pengertian kepemimpinan tradisional dan kegembalaan, maupun dalam pengertian modern berbentuk organisasi yang komplek dan layanan multi dimensi. Ini jelas sebuah karunia yang khusus yang sangat diperlukan dalam dunia modern saat ini.
Keempat: Karunia membuat mukjizat (ayat 9b-10)
Dunia ini penuh dengan guru-guru palsu. Setiap orang dapat mengatakan telah berbicara dengan Allah. Di lain pihak ada yang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada namanya mukjizat. Bagi mereka semua proses atau kejadian yang terjadi harus mengikuti hukum alam, baik itu sains, psikologi, ataupun ilmu sosial. Kalau ada sesuatu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh akal pikiran, maka sebenarnya itu hanya misteri yang belum dan menjadi tantangan bagi pikiran manusia untuk membukanya. Bagi mereka, adanya pelangi adalah gejala alamiah dan bukan tanda busur dari Allah sebagai ikatan janji. Kesembuhan seseorang dari penyakit tanpa melalui pengobatan medis, bagi mereka itu terjadi karena kembalinya kekuatan tubuh, adanya asupan makanan, dan lingkungan yang mendukung. Jadi kesembuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuasa doa, urapan kudus atau campur tangan Ilahi. Memang pengakuan tidak adanya mukjizat bukan selalu berarti atheis dan tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Mereka hanya tidak mau mengakui campur tangan Tuhan dalam hidupnya dan berusaha melakukan sebaik mungkin berdasarkan usahanya sendiri. Bagi kita orang percaya, itu adalah hikmat dunia dan tidak menggunakan hikmat Allah.
Dalam Alkitab peristiwa mukjizat bukanlah monopoli Perjanjian Baru. Dalam peristiwa Musa mengeluarkan umat-Nya dari Mesir, mukjizat dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyatakan kuasa dan kehadiran-Nya. Setelah Tuhan Yesus naik ke sorga, para murid juga melakukan banyak pekerjaan mukjizat, sesuai pesan Yesus kepada murid-murid-Nya (Mat. 10:1; Mrk. 16:18). Berdasarkan telaah dalam Perjanjian Baru, ada lima jenis karunia rohani yang berhubungan dengan pekerjaan mukjizat atau tanda-tanda, yakni:
1. Karunia menyembuhkan (Mat. 10:1; 1Kor. 12:9, 28, 30)
2. Karunia mengadakan mukjizat (1Kor. 12:10, 28-29; Ibr. 2:4)
3. Karunia berbahasa lidah dan berbahasa roh (Kis 1; 1Kor. 12:10)
4. Karunia membedakan roh (1Kor. 12:10; 14:28)
5. Karunia menafsirkan bahasa roh (1Kor. 12:10)
Kisah-kisah mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus membuktikan bahwa mukjizat itu nyata. Penyertaan kuasa Ilahi dalam proses alam yang khusus bukanlah hal aneh, meski unik, sepanjang seseorang itu bersedia melihat dan Allah berkenan memberikan untuk maksud dan tujuan-Nya. Allah dapat bekerja sendiri tanpa manusia, akan tetapi sebagaimana dalam Kisah Para Rasul para murid membuktikan karunia itu ada dan bekerja efektif pada murid dalam pekerjaan pekabaran Injil. Memang saat ini belum ada yang bisa membuktikan bahwa karunia itu ada pada orang-orang tertentu. Kita perlu berhati-hati dalam karunia berbahasa roh, dengan klaim memiliki kemampuan dalam berbahasa roh dan bahkan belajar berbahasa roh. Kita tidak mengingkari adanya bahasa roh (1Kor. 12:10, 30). Yang penting Alkitab mengatakan bahwa ketika seseorang berbahasa roh, harus ada yang mampu untuk menerjemahkannya, Kalau tidak, ini hanya seperti omongan yang tidak berarti dan lebih baik diam (1Kor. 14:26-28; band ay. 13). Dalam hal ini Rasul Paulus memberikan kita sebuah metode pengujian untuk membedakan apakah pesan yang diterima seseorang itu datang dari Allah atau tidak; apakah orang itu mengaku Kristus sebagai Tuhan. Kita tidak boleh bersikap naif dengan menerima kata-kata yang diakui dari Tuhan, tetapi ujilah apakah pengajarannya sesuai dengan Alkitab dan perkataan Kristus.
Kelima: Satu tubuh satu baptisan (ayat 11-13)
Meskipun kerunia roh itu dibeda-bedakan dan dikelompokkan sebagaimana di atas, namun sebenarnya itu saling melengkapi dan bahkan tidak mudah memberi batas yang tegas tentang kemampuan khusus yang diberikan kepada masing-masing orang. Semua kemampuan ibarat paduan tubuh yang terdiri dari anggota-anggota tubuh dan dibangun menjadi kesatuan utuh dalam jemaat. Namun alih-alih membangun dan menyatukan gereja sebagaimana di Korintus, karunia rohani bisa mencerai-beraikan. Karunia rohani dibuat menjadi kuasa rohani, menyebabkan persaingan, sebab beberapa orang berpikir mereka merasa "lebih rohani" dari yang lain karena adanya karunia tersebut. Ini menjadi hal yang buruk dan salah dalam penggunaan karunia rohani, sebab tujuan yang sebenarnya adalah membantu gereja agar lebih efektif, bukan untuk memecahnya. Kita dapat menjadi pemecah belah jika kita mengotot menggunakan karunia rohani dengan cara kita sendiri tanpa memerdulikan pihak lain. Kita tidak boleh menggunakan karunia rohani untuk memanipulasi orang lain, apalagi untuk kepentingan diri sendiri.
Seluruh karunia itu hakekatnya adalah rupa-rupa pelayanan, dan bersumber dari satu Tuhan. Meski ada berbagai-bagai perbuatan ajaib tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya pada semua orang percaya, sesuai dengan tugas dan misi Allah yang diberikan padanya. Kita perlu memperhatikan kesatuan dari semua karunia, kesatuan sumber dan tujuan penggunaan karunia itu. Sebagian orang akan diberi kemampuan dalam berbicara, sebagaian diberikan dalam kemampuan melayani, meski memang tidak mudah mendeteksi apakah kemampuan membuat mukjizat ini ada dalam jemaat. Alkitab berkata, “berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus” (Ef. 4:3-7). Baptisan "dalam satu Roh" bukanlah menunjuk kepada baptisan air tetapi mengacu kepada tindakan Roh membaptis orang percaya ke dalam tubuh Kristus (Mat. 3:11; Mrk. 1:8; Luk. 3:16) dan menjadikan orang percaya satu secara rohani dengan yang lainnya.
Kita tidak boleh seperti jemaat di Korintus yang mengutamakan karunia-karunia yang paling dirasakan hebat dan penuh tanda-tanda. Mereka lebih menonjolkan kehebatan karunia yang mereka punyai tanpa ingin mengetahui rencana Allah memberi karunia-karunia itu. Mereka meniru upacara-upacara kafir yang penuh dengan ritual “keanehan” demi untuk mendapatkan perhatian dan keistimewaan. Ini tidak terlepas dari jemaat Korintus yang dianggap masih bayi dengan sifat kanak-kanak dan belum dewasa, sebagaimana dijelaskan pada pasal-pasal sebelumnya. Rasul Paulus menekankan dengan perumpamaan tubuh manusia dengan anggota-anggota yang banyak menjadi satu, demikian pula pelayanan karunia rohani sebagai alat pemersatu dan penguatan gereja-Nya (Rm. 12:5; band. Gal. 3:28; Kol 3:11). Tujuan semua itu adalah memuliakan Yesus sebagai Tuhan atas gereja, dengan Roh sebagai pemberi karunia yang berdaulat dan kita hanyalah alat dan hamba-Nya. Hal yang penting justru ketika karunia itu diberikan kepada kita, maka kita memakainya dengan baik dan terus bertumbuh, dengan berprinsip menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh sehingga Tuhan Yesus semakin dipermuliakan.
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diberikan sebagian pelajaran tentang karunia rohani dan berdasarkan tambahan ayat-ayat lainnya kita mencoba memadukannya, sehingga ditemukan delapan belas karunia rohani yang disediakan bagi orang percaya. Sebagian orang diberi kemampuan dalam berbicara, sebagian diberikan kemampuan melayani, dan sebagian (memang tidak mudah mendeteksi) kemampuan membuat mukjizat. Semua itu bersumber dari satu Roh dan kita juga melihatnya bahwa karunia-karunia yang kita miliki semata-mata dari Allah dan diperuntukkan bagi kemulian-Nya. Dengan karunia yang kita miliki maka tujuan dan motivasi kita haruslah membangun jemaat, sehingga penggunakan karunia rohani itu lebih efektif. Kita harus menjauhkan diri dari tindakan memanipulasi karunia yang diberikan, termasuk menggunakan untuk kepentingan diri sendiri, atau menonjolkan karunia-karunia yang dianggap hebat dan mempertunjukkan tindakan-tindakan yang dianggap spektakuler. Hal semacam itu adalah egoisme yang menonjolkan diri dan tidak ada faedahnya, sebab semua karunia itu suatu saat akan lenyap. Sikap kita haruslah menyatakan bahwa Dia satu-satu-Nya Tuhan bagi jemaat-Nya yang mendahulukan kasih dan kasih adalah hal yang terbesar. Sebagaimana ayat lanjutan dari pasal ini dinyatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1Kor 13:1).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati dan melindungi kita sekalian, amin.
Kabar dari Bukit, Minggu 24 Mei 2026
Kabar dari Bukit
ROH KUDUS DAN AIR HIDUP (Yoh. 7:37-39)
”Siapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir sungai-sungai air hidup" Yoh. 7:38, TB2)
Ada banyak simbol dalam Alkitab yang menggambarkan Roh Kudus. Setiap simbol ini memberikan gambaran peran yang berbeda. Misalnya Roh Kudus sebagai Angin (Pneuma/Ruach), ini menggambarkan kuasa, kedaulatan, dan kehadiran yang tidak terlihat tetapi terasa dampaknya (Yoh. 3:8, Kis. 2:2). Kemudian Roh Kudus sebagai Api, menggambarkan pemurnian, kekudusan, dan semangat yang berkobar (Mat. 3:11, Kis. 2:3). Lantas Roh Kudus sebagai minyak, ini menggambarkan pengurapan, penyembuhan, dan pengudusan untuk tugas khusus (Luk. 4:18). Yang sering, Roh Kudus sebagai burung Merpati, ini menggambarkan kedamaian, kelembutan, dan kemurnian (Mat. 3:16). Tentu ada lagi Roh Kudus sebagai meterai jaminan (Ef. 1:13-14), pemimpin (Yoh. 16:13) dan hujan (Yoel 2:28).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Pentakosta yang berbahagia ini diambil dari Yoh. 7:37-39. Hari ini dikenal juga sebagai hari pencurahan Roh Kudus, sekaligus dianggap hari lahirnya gereja. Nas minggu ini menggambarkan Tuhan Yesus sebagai sumber Sungai Air Hidup yang memberikan kelegaan jiwa, pembersihan, dan kelimpahan hidup (ay. 38; Yoh. 4:14). Namun dijelaskan bahwa air hidup tersebut adalah Roh Kudus.
Yesus berbicara tentang air, tidak terlepas dari konteks saat itu yakni pada peringatan hari raya pondok daun selama 7 hari. Ini salah satu perayaan besar dalam tradisi Yahudi untuk memperingati pemeliharaan Allah selama 40 tahun mengembara di padang belantara, dan sekaligus pesta panen dan umat Israel memohon kepada Tuhan agar diberikan hujan yang cukup pada musim tanam berikutnya. Pada puncak acara yakni hari ketujuh, ada prosesi arak-arakan air dari kolam Siloam, dibawa mengelilingi mezbah tujuh kali dengan iringan nyanyian dan terompet. Momen yang indah dramatis; bahkan malam sebelumnya, mereka berpesta hingga sering kehausan. Ini dasarnya Yesus berkata, "Siapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!" (ay. 37). Yesus memanfaatkan momen perayaan ini untuk mengalihkan fokus yang hadir dari air fisik ke air rohani, dan Diri-Nya adalah penggenapan yang mereka rayakan.
Namun Yesus juga mengatakan bahwa air hidup yang dimaksudkan-Nya adalah Roh Kudus. Nas ini lebih menegaskan lagi bahwa kita tetap meminta dan datang kepada Yesus dan apabila kita percaya kepada-Nya sebagai Anak Allah, maka kita akan menjadi aliran-aliran sungai air hidup (ay. 38; bdk. Yes. 44:3; Yeh. 36:25-27). Memang yang dimaksudkannya adalah bukan dahaga fisik, melainkan kehausan jiwa dan rohani. Demikian juga dijelaskan, bahwa Roh Kudus tersebut akan mengalir setelah Yesus dimuliakan dalam arti kata dibangkitkan dari mati dan naik ke surga (ay. 39).
Tuhan Yesus sebagai roti kehidupan memberi kita arti dan makna hidup yang kita jalani; tidak ada lagi kelaparan terhadap kepuasan prestasi, karir, uang, perasaan hampa, sebab Yesus telah memenuhi rasa lapar yang terdalam yang membuat kita kenyang secara rohani. Ia memenuhi keselamatan kita, sebab Dia-lah "roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya" (Yoh. 6:35, 51).
Sementara, dengan datang kepada Yesus dan percaya, maka Sungai air hidup akan mengalir dari diri kita yakni Roh Kudus, yang menghasilkan buah-buah Roh dan menjadi kesaksian keluar orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus sebagai sungai air hidup menjadi kekuatan kita berkarya untuk meninggikan Nama dan Gereja-Nya.
Selamat hari Minggu Pentakosta dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026
Khotbah Hari Raya Minggu Pentakosta 2026 – 24 Mei 2026 – Opsi 2
SELAMAT ULANG TAHUN GEREJA KITA (Kis. 2:1-21)
Hari ini dalam kalender gereja adalah hari Pentakosta, sekaligus hari pencurahan Roh Kudus, mengingat peristiwa saat para murid berkumpul di Yerusalem, tradisi sukacita festival (Kel. 23:14–17; Im. 23:1–44; Ul. 12:5–6). "Dan tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus...." Peristiwa itu dituliskan dalam Kis. 2:1-21 yang menjadi bacaan kita minggu ini. Oleh karena pencurahan Roh Kudus tersebut, maka hari itu juga dianggap sebagai hari lahirnya gereja, dalam pengertian adanya jemaat mula-mula.
Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta merupakan hari perayaan umat Israel purba, yakni perayaan hari ke lima puluh setelah Paskah, saat keluarnya umat Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Peristiwa itu sekaligus perayaan umat atas pemberian hukum Taurat kepada Musa, dan doa serta ucapan syukur kepada Allah atas kebaikan panen gandum yang berhasil.
Hari raya pentakosta hakekatnya sejak dahulu adalah hari sukacita, setelah melewati masa-masa sulit. Semua ada waktunya, dan yang indah pasti akan datang. Saat ini kita semua sedang dilanda duka, dan prihatin. Pandemi Covid-19 sampai kemarin telah menewaskan 360,679 jiwa dari 5,8 juta yang terpapar di seluruh dunia. Untuk Indonesia per Agustus 2021, ada 120.000 yang meninggal, dari 3,9 juta jiwa positip terpapar. Sungguh memilukan hati.
Gedung gereja tempat kita berkumpul dan bersekutu, kini dikunci rapat. Kita beribadah lewat TV atau komputer atau Hp, sebuah pola persekutuan baru. Semuanya untuk tujuan yang baik, menghindari sebaran pandemi semakin meluas. Semoga dengan ibadah di rumah, kita semua menjadi keluarga imamat rajani. Kita tahu, Tuhan punya rencana, semua atas izin-Nya. Kini kembali kepada kita manusia, kesempatan untuk berefleksi, mengambil hikmah, serta berubah menjadi lebih baik dan semakin berkenan di hadapan-Nya.
Hampir dua tahun kita lebih banyak di rumah; ekonomi lumpuh, pengangguran ikut menggila. Kemiskinan dan hidup yang lebih berat membuncah; bukan saja tetangga kita, keluarga kita, sekeliling kita, tetapi juga para hamba Tuhan yang gerejanya di desa-desa, gereja kecil yang mengandalkan persembahan setiap minggu. Hidup yang cukup sulit untuk dapat bersukacita di ulang tahun gereja hari ini. Kita terus berdoa agar semua berlalu dan dipulihkan. "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu, berjaga-jagalah sambil mengucap syukur" (Kol. 4:2). Bagaimana pun, janji Tuhan telah digenapi, Ia telah memberi kita Penolong dan Penghibur (Kis. 1:4-8, Yoh. 14:16; Yl. 2:28-32).
Ayat terakhir nas minggu ini mengingatkan, "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan" (ayat 21). Mari kita berseru: Selamat datang Roh Kudus! Tiada pilihan lain, mari kembalikan fokus perhatian tetap kepada Allah, hanya Dia yang terus disembah dan ditinggikan. Kita diingatkan kembali saat ini, orang percaya telah diperlengkapi dengan kuasa, ada rupa-rupa karunia untuk bersaksi dan berkarya, untuk hidup yang terus dibarui, semakin membawa terang Ilahi, mengutus ke luar gereja, membawa jiwa-jiwa baru kepada-Nya. Selamat ulang tahun gereja kita semua. Semoga kita bisa semakin menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus melindungi dan memberkati, amin.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - Minggu 7 Juni 2026Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 ALLAH BERKUASA...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 2) TOPENG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 3) IBADAH...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 16 guests and no members online
