Monday, August 17, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026

Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026 – Opsi 2

 

 ANJING DAN PEMBURU (Mat. 15:21-28)

 

 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh (Mat. 15:31).

 

Saya baru selesai membaca buku Why I am a Christian (Mengapa Saya Seorang Kristen) dari John Stott, penulis teologi terkenal dengan buku-bukunya, dan salah satu figur di belakang layar Kongres Penginjilan Sedunia di Lausanne dengan tokoh utama Billy Graham. Bab pertama buku ini berjudul: Anjing Pemburu dari Surga. Dan siapa Anjing Pemburu itu: Tuhan Yesus!!!

 

Hal ini menarik perhatian ketika membaca nas minggu ini, Mat. 15:21-28, yang menceritakan seorang perempuan Kanaan yang terus berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan Yesus. “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus tidak menjawabnya dan sedikit cuek, hingga murid-murid-Nya meminta: “Suruhlah ia pergi...” Yesus malah berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ayat 22-24). Sementara perempuan itu orang Kanaan, tidak disukai orang Israel.

 

Perempuan itu pun mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Jawaban Yesus ini sungguh di luar dugaan, dan bahkan bagi kita cukup terasa menyinggung hati, dengan menyamakan orang Kanaan dengan anjing. Perempuan itu berkeras dan menjawab dengan rendah hati: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga, anaknya sembuh (ayat 25-28). Drama pun selesai dengan sukacita.

 

John Stott dalam buku di atas sebaliknya mengumpamakan Tuhan Yesus bagaikan Anjing Pemburu dari Surga. Jika kepada perempuan itu Yesus seolah-olah tidak melihat dengan sebelah mata, menyebut bangsanya sebagai “anjing”, sebaliknya Tuhan Yesus terus memburu orang-orang yang dipilih-Nya untuk diselamatkan. John Stott mengambil empat tokoh selain dirinya yang merasa diburu Tuhan Yesus: Saulus, Agustinus dari Hippo, Malcolm Muggeridge sastrawan dan tokoh televisi yang terkenal, serta C. S. Lewis penyair dan penulis yang karya-karyanya masih dibaca orang hingga saat ini.

Keempat orang ini bersama John Stott merasakan bahwa Tuhan memburu mereka dari surga dengan berbagai cara, agar mereka kembali dari kejahatannya. Kita tahu Saulus pembunuh pengikut Kristus, Agustinus budak nafsu di masa remajanya, Malcolm yang terus lari dari Tuhan, dan C. S. Lewis yang jauh dari Tuhan. Tetapi mereka merasa Tuhan terus memburu, memojokkan pada sudut yang tidak bisa bergerak dan skakmat; bahkan tidak ada lagi jalan keluar bagi mereka dari makhluk buas ilahi pencari mangsa untuk terkaman terakhir. Kita juga tentu bisa tambahkan nama-nama: Musa, Samuel, Yeremia dan lainnya yang Tuhan panggil untuk melayani-Nya.

 

Kini seolah ada pola. Perempuan Kanaan yang dicuekin dan ada orang yang diburu. Tentu itu semua hak Tuhan dan merupakan hikmat dan misteri surgawi. Ia Mahatahu dan kebenaran. Bagi kita yang sudah merasakan dalam dekapan tangan kasih Tuhan, mari bersyukur dan teruslah berbuat kebaikan. Iman kita telah menyelamatkan kita, dan Tuhan akan menjaga kita dari pandemi ini hingga ke akhir zaman.

 

Tetapi bagi yang masih dalam kejahatan dan jauh dari Tuhan, belum merasa Tuhan memburu atau bahkan melihat dengan sebelah mata-Nya, teruslah meminta dan meminta. Mungkin ada dosa dan kesalahan yang belum kita ungkapkan, atau dosa dari orang tua dan leluhur yang belum kita lepaskan, atau kita belum sepenuh hati berserah dan masih mengandalkan kekuatan diri. Mintalah seperti perempuan Kanaan itu dengan kerendahan hati. Mungkin iman kita diuji seperti dia. Mintalah, carilah, ketuklah hingga pintu dibukan (Mat. 7:7). Atau, Anda mau coba protes dan berpaling? Kasihan aja, sebab itu tidak akan ada manfaatnya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Khotbah (3) Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026

Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026 - Opsi 3

  KASIH DAN PENGAMPUNAN (Kej. 45:1–15)

  ”Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (Kej. 45:5)

 

Paus Fransiskus dalam audiensi umum kepada 12.000 jemaat di Lapangan Santo Petrus pada Agustus 2014 mengatakan bahwa rasa iri, dengki, dan perilaku buruk lainnya adalah manusiawi, tetapi sifat-sifat itu bukanlah ciri Kristen (pgi.or.id). Alkitab sendiri menuliskan adanya puluhan sifat dan perilaku buruk manusia, yang dapat dikaitkan dengan iman, pengharapan, dan kasih.

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita adalah Kej. 45:1–15. Ini kisah Yusuf saat memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya ketika mereka datang ke Mesir untuk mencari makanan karena terjadi kelaparan di Israel. Dalam kisah sebelumnya, kita tahu saudara-saudaranya telah menjual Yusuf sehingga menjadi budak (Kej. 37).

 

Sifat buruk manusia terkait iman adalah tidak mengakui keberadaan Allah atau menganggap hidup sehari-hari tidak berkaitan dengan-Nya. Mereka berdalih tidak perlu memuliakan Allah, mengucap syukur, atau mengakui kekuatan dan keilahian-Nya (Rm. 1:20–21). Mereka lebih mentuhankan ilmu pengetahuan, logika, atau rasa takut akan konsekuensi. Puncak sifat buruk ini adalah keangkuhan, kesombongan, dan congkak terhadap Allah maupun sesama manusia.

 

Sifat buruk kedua terkait pengharapan, yakni terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Jika berhasil, mereka mengabaikan Tuhan; jika gagal, muncul amarah, putus asa, gerutu, bahkan upaya bunuh diri. Mereka tidak menyadari bahwa pengharapan menuntut sikap rendah hati dan menjadikan Tuhan sebagai sauh yang kuat bagi jiwa (Ibr. 6:19).

 

Sifat buruk ketiga adalah hilangnya kasih, berupa fokus pada diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Alkitab menubuatkan hal ini: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang..., tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik” (2Tim. 3:2).

 

Melalui Firman minggu ini, kita diajak belajar dari Yusuf. Meski menghadapi rintangan akibat perbuatan jahat saudara-saudaranya, ia justru menjadi pembesar di Mesir (ay. 8). Rencana Tuhan terhadap Yusuf tidak pernah gagal, meski ada usaha manusia yang menghalangi. Penyertaan dan hikmat Allah termasuk menafsir mimpi Firaun agar Mesir menyimpan makanan menjelang musim kelaparan (Kej. 41).

 

Yusuf memilih mengutamakan kasih dalam hidupnya. Ia membuang sifat buruk berupa dendam, benci, dan permusuhan, yang justru dapat merusak dirinya sendiri. Menurut Mayo Clinic, mengampuni membantu menyembuhkan luka batin dan fisik serta membangun hubungan yang sehat secara rohani dan psikologis.

 

Hati yang penuh kasih memungkinkan pengampunan dan melupakan kesalahan orang lain. Alkitab menuliskan, “Kasih menutupi banyak dosa” (1Pet. 4:8). Yusuf mampu menjadikan masalah besar sebagai hal kecil, melihat keterbatasan manusia, dan memahami bahwa kadang orang lupa atau khilaf.

 

Sebagai pengikut Tuhan Yesus, mari kita meneladani Yusuf: melupakan kesalahan orang lain dan mengasihi. Pesan Tuhan Yesus sangat jelas, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga” (Mat. 6:14). Kini, semua kembali kepada kita.

 Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026

Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026

 

 BARANGSIAPA BERSERU KEPADA TUHAN, AKAN DISELAMATKAN (Rm. 10:5-15)

 

Bacaan lainnya: Mat. 14:22-33; Kej. 37:1-4, 12-28; atau 1Raj. 19:9-18; Mzm. 105:1-6, 16-22, 45b atau Mzm. 85:8-13

 

 

Apabila ada yang bertanya: bagaimana kita menjadi seorang Kristen? Jawaban yang indah: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu" (Ul. 30:14; Rm. 10:8).

 

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm. 10:5-15 berbicara tentang pentingnya iman dan upaya pewartaan Yesus bagi semua orang. Kesalahan tafsir terhadap pesan terjadi pada umat Israel seiring perubahan zaman. Pesan Allah melalui Nabi Musa menjadi aturan legalistik, hakekat kasih hilang. Pembaruan dari Tuhan tidak berhenti, seiring kasihNya, namun seringkali manusia sendiri yang "bandel" atau jugul menutup diri. Yesus sebagai pembaruan janji, tetapi umat Israel menolaknya.

 

Memang pertanyaannya: mengapa Allah memberikan hukum Taurat jika manusia (umat Israel) tidak dapat mengikutinya? Apakah Allah salah atau tidak adil? Rasul Paulus mengatakan alasannya, yakni Allah ingin memperlihatkan betapa berdosanya manusia (Gal 3:19) dan betapa degilnya bangsa itu (Kel. 32:9; 33:5; Yes. 48:4; Yer. 7:26). Maka dalam hal ini wajar bila perlu dilakukan penyelamatan umum dan universal, pendamaian manusia dengan Allah. Ia bertindak sesuai dengan rencana awal, mengutus Anak-Nya.

  

Melalui pertanyaan logis filosofis, Rasul Paulus membuktikan bahwa kedatangan Yesus dari sorga sebagai manusia dan kembali terangkat ke sorga adalah atas kehendak Allah Bapa. Tidak ada usaha manusia. Tetapi umat Yahudi menolaknya, meski mestinya mereka dapat memahami pekerjaan Allah itu (Ibr. 10:1-4).

 

Rasul Paulus mengatakan perlu ada kesaksian umum untuk semua orang - tidak umat Yahudi saja, agar banyak yang diselamatkan. Manusia juga tidak hanya mengandalkan tanda lahiriah, seperti sunat sebagai janji atau seremoni baptis atau sidi. Ini diminta, agar kekristenan kita tidak sebatas dalam hati, tetapi sebuah kesaksian kasih nyata kepada orang lain.

 

Kehidupan Yesus menjadi teladan, melepas keinginan dunia, melepas kepentingan diri dengan melayani, berserah dan taat pada Bapa. Ia datang menjadi Kasih yang nyata dan dekat dengan manusia, Firman yang hidup, firman iman.

 

Memang, manusia sering berpikir bahwa keselamatan adalah proses yang sulit dan rumit, padahal semestinya tidak demikian. Tidak usah bergumul tentang siapa yang menjadikan inkarnasi dan sebagainya. Itu tidak penting! Kebenaran bagi kita sudah diperoleh! Siapapun yang berseru kepada-Nya, akan diselamatkan. Ia adalah Tuhan yang satu bagi semua orang, Allah yang satu dengan Allah (Yoh. 10:30; Kis. 2:36-40; Flp. 2:10-11). Kita tidak memerlukan sebuah debat yang berkepanjangan: penginjilan mana yang lebih efektif, apakah penginjilan melalui keteladanan dan perbuatan dalam hidup atau penginjilan melalui pemberitaan kabar baik. Kedua cara itu harus dilakukan agar pesan Injil menjadi efektif sampainya. Jangan terjebak dalam teori dan perdebatan, sebab semua itu sering membingungkan dan menjauhkan kita dari tindakan.

 

Penutup nas ini (ayat 14-15) mengutip kembali Yes 52:7: "Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!" (band. Nah 1:15). Mari kita bekerja dan berkarya sehingga semua mengaku: Barangsiapa Berseru Kepada Tuhan, Akan Diselamatkan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 9 Agustus 2026

Kabar dari Bukit

 

 INGAT TUHAN DI GUNUNG DAN DI LEMBAH (Mzm. 105: 1-6, 16-22, 45b)

 

 ”Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya senantiasa!” (Mzm. 105:4, TB2)

 

Selamat pagi, salam sejahtera....

 

Postingan renungan setiap pagi mengingatkan bahwa kita telah diberi berkat hidup di hari yang baru, sesuatu yang layak disyukuri dan ditutup doa pribadi. Adanya lagu pujian untuk disenandungkan melengkapi setiap hari adalah ibadah. Hari Rabu biasanya saya beri tambahan subjudul renungan: Bersekutu bersama Tuhan di pagi hari, Dia akan menuntun kita sepanjang hari. Amin.

 

Ada banyak faktor yang membuat tidak setiap orang mungkin mengikuti hal tersebut; salah satunya merasa sibuk dan tidak penting. Ini bisa dari kacamata pribadi yang dilatarbelakangi filsafat beragam, mulai dari pandangan tidak percaya Tuhan ikut campur tangan dalam kehidupan setiap hari dan fokuslah kepada yang bisa dikendalikan (Stoik); pandangan yang menekankan bahwa hidup itu kita yang memberi makna (Eksistensialis); atau pandangan yang mengatakan "Tuhan sudah mati" dan agama tidak lagi menjadi sumber nilai-nilai moral absolut (Nihilis - Nietzsche).

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 105: 1-6, 16-22, 45b. Ayat 1-6 merupakan ajakan untuk bersyukur dan memuji Allah, sebagai respons atas perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan-Nya di masa lalu. Ayat 16-22 ekspresi pernyataan kedaulatan dan rencana-Nya. Allah mengendalikan sejarah dan hidup seseorang termasuk di masa-masa sulit, kadang dibuat jatuh ke lembah seperti Yusuf yang dijual menjadi budak. Tetapi Tuhan mengendalikan hidup Yusuf, dibuat naik ke puncak menjadi tuan atas istana, sebuah berkat yang luar biasa.

 

Tentu kita tidak semua mengalami perjalanan hidup seperti Yusuf. Ada kita terlahir dari keluarga kaya, tapi tidak sedikit dari keluarga miskin; ironisnya tetap miskin sampai tua. Ada yang hidupnya (sering) dilanda penyakit yang menimbulkan tangisan derita. Bagaimana pandangan kita melihat hal tersebut?

 

Bagi kita pengikut Kristus, tentunya mesti berbeda. Allah adalah Pencipta dan Pengendali. "Di dalam Dialah diciptakan segala sesuatu dan bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Kol. 1:16; Rm. 11:36). Kita hidup di dunia ini pun dalam tujuan Allah, sementara saja, seperti peziarahan. Nafas kita berasal dari Roh Allah di sorga dan akan kembali ke sorga, sebab “kewargaan kita terdapat di dalam sorga" (Flp. 3:20).

 

Dalam menjalani peziarahan di dunia, kita dapat sukses dan hidup di istana. Tetapi dapat juga berupa padang gurun yang dijalani terus berputar-putar, tidak tercapai pengharapan bahkan tidak berani berharap.

 

Dalam hal ini kita perlu melihat dan merenungkan kembali pertanyaan dasar: siapakah aku? Apa tantangan dan masalah dalam hidupku? Apa sebaiknya yang harus kulakukan? Melalui nas ini kita diingatkan akan perintah bersyukur dan mengingat perbuatan-Nya (ay. 1-6), dan bukti campur tangan Allah dalam hidup seseorang (ay. 16-22).

 

Pesan utamanya, ketika kita di gunung hidup penuh berkat materi dan kuasa, atau berada di lembah saat merasa terpuruk, tetap ingat dan jumpailah Tuhan. "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN...." (Hab. 3:17-18; Mzm. 23:4, dan Rm. 5:3-5 tentang bermegah dalam kesengsaraan yang menimbulkan ketekunan dan pengharapan). Hidup orang percaya adalah kemampuan mengalihkan masalah dan keluhan menjadi rasa syukur, dengan fokus tetap memegang segala pengajaran-Nya (ay. 45b). Maka, tetaplah setia, carilah Tuhan, bukan hanya berkat-Nya. 

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026

Khotbah Minggu XI Setelah Pentakosta - 9 Agustus 2026 – Opsi 2

 

 TUHAN, TOLONGLAH SAYA! (Mat. 14:22-33)

 

 “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31)

 

Ketika rasa senang membunga di dalam hati, banyak di antara kita yang melihat hidup ini adalah mukjizat. Kita dapat menikmati warna-warni keindahan alam, merasakan makanan yang enak lezat, berolah raga untuk meningkatkan kesehatan dan stamina tubuh, berkumpul senang bersama keluarga, bahkan menghirup udara segar tanpa ada batasan.

 

Tetapi kehidupan tidak selalu seperti itu. Kadang ada muncul persoalan yang membuat hati terganggu. Pikiran teralihkan, fokus tidak lagi kepada kebaikan dan berkat-berkat Tuhan yang sudah diterima. Kebimbangan dan kekhawatiran yang membersit, membuat ketakutan lebih menguasai hidup.

 

Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 14:22-33, menceritakan Tuhan Yesus berjalan di atas air. Sekilas para murid seolah melihat hantu, terkecoh oleh mitos danau penuh dengan hal jahat. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ayat 27).

 

Tetapi Petrus ingin memastikan dan ikut merasakan kuasa tersebut, dan meminta: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus (ayat 28-29). Tetapi ketika Petrus merasa ada tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam, lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” (ayat 30).

 

Ada beberapa pesan nas minggu ini bagi kita: pertama, Tuhan Yesus penuh kuasa dan kuasa-Nya melintasi segala hukum alam. Ia menguasai dan bahkan yang membuatnya. Kedua, bersama Yesus kita akan merasa tenang. Ada kedamaian, sebab Tuhan itu baik dan selalu baik. Ketiga, ketika datang pergumulan akibat terpaan gelombang masalah, Tuhan ingin kita terus fokus dan bergantung kepada-Nya.

 

Memberi perhatian kepada masalah tetap baik, dalam arti mengurai dan menggambar masalah dalam sebuah peta atau mosaik, serta mencari titik lunak atau bagian solusi termudahnya. Biasanya bila masalah ditulis atau digambarkan, tidak seberat yang ada di pikiran kita. Dan, setiap masalah pasti ada titik lunaknya, titik di mana kita dapat masuk untuk memulai menyelesaikannya.

 

Optimisme perlu ada. Tetaplah percaya, bersama Yesus segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Bila hukum alam atau hukum-hukum di dunia ini sudah mengatakan tidak, tetap percaya ada kuasa mukjizat dari Tuhan. Untuk itu kita perlu semakin mengenal Dia melalui firman-Nya. Billy Graham berkata, "Belajarlah membawa persoalanmu ke dalam Alkitab, di dalamnya kamu akan menemukan jawaban yang tepat."

 

Teruslah dalam doa dan berkata: Tuhan, tolonglah saya! Kita tahu iman itu kadang bisa mengecil atau menyurut, membuat kurang percaya. Tapi ingatlah kisah seorang ayah yang membawa anaknya yang bisu kepada Tuhan Yesus dan berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk. 9:24). "Tidak ada yang percaya besarnya kuasa doa, dan apa dampak kemampuannya, kecuali mereka yang sudah belajar melalui pengalaman," ucap Martin Luther. Oleh karena itu, latih dan bertekunlah, maka kita akan mengalaminya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 39 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14300781
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
6270
10157
16427
14243166
99656
136921
14300781

IP Anda: 216.73.217.146
2026-08-17 15:48

Login Form