2026
2026
Khotbah (2) Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026
Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026 – Opsi 2
LALANG DAN GANDUM (Mat. 13:24-30, 36-40)
”Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku" (Mat. 13:30)
Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 13:24-30, 36-40. Bagian pertama menceritakan perumpamaan Tuhan Yesus tentang lalang yang tumbuh di antara gandum, dan bagian kedua berisi penjelasannya. Ternyata di antara benih gandum yang ditabur, sering tumbuh lalang. Dan itu adalah kerja Iblis si jahat, musuh yang menaburkan benih lalang yang sengaja mengganggu benih yang ditaburkan Tuhan.
Kita hidup di dunia yang tidak steril, tidak terisolasi. Taburan yang beragam nilai datang dari segala penjuru, melalui berbagai cara dalam dinamika kehidupan: di rumah, gereja, lingkungan, media, buku, film dan lainnya; semua akan ikut mempengaruhi dan tidak mudah untuk membendungnya. Sejarah juga penuh dengan tindakan perbuatan baik, tetapi selalu disertai adanya perbuatan jahat dari pihak lain. Ya, kadang ada juga perbuatan baik yang berbungkus niat jahat. Tentu yang dilihat adalah akhirnya, tetaplah itu jahat.
Oleh karena itu kunci dari semuanya kembali ke manusianya, diri kita sendiri. Kitalah yang membuat diri kita seperti apa gambar dan rupa kita. Kita ingin bertumbuh bagaimana, dan menjadi apa? Kita yang mengelola informasi dan pengaruh yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Dan, kita juga yang memilih mengambil setiap tindakan dan keputusan, yang semua berdampak bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Untuk itu jadilah seperti murid yang terus bertanya tentang maksud Tuhan (ayat 36).
Saya jadi ingat pesan bos saya dulu di Bukaka. Dia bilang, “kalau kamu berteman dengan orang pintar, maka kamu akan bertambah pintar. Berteman dengan orang kaya, kamu ikut menjadi kaya. Bila berteman dengan orang bebal dan bodoh, ya pasti tahulah hasilnya akan serupa dengan dia.” Saya juga selalu ingat pesan ayah saya sewaktu mau bersekolah ke Bandung: “Kamu akan bertumbuh dan menuju untuk ditempa menjadi emas. Jadilah emas, sehingga kalau pun kamu nanti jatuh ke lumpur atau ke selokan, kamu akan tetap emas. Tinggal siapa yang menemukan saja, sehingga melihat dirimu memang sangat berharga.” Kita belajar dari kehidupan, semua ada hikmah dan tujuannya.
Hidup yang berharga adalah hidup yang tumbuh dari benih yang baik, dirawat dan dipupuk dengan baik, dan terus berbuah terutama bagi orang lain. Untuk terus berbuah, kita memilih hal yang baik untuk diri kita. Iblis selalu bekerja sangat agresif mempengaruhi, melalui orang lain, atau cara lainnya. Tanpa berprasangka dan menghakimi, tidak semua orang juga ingin melihat kita bertumbuh dan berkembang. Maka pintar-pintarlah memilih hal yang masuk ke hati dan pikiran. Pintar memilih teman, pergaulan dan lingkungan, semua hal yang kita lihat, kita dengar, baca, sentuh. Itu semua pilihan kita. Sebuah tantangan dan perjuangan untuk dapat menyenangkan hati Tuhan.
Kita yang dipanggil dan percaya Tuhan Yesus, dasarnya adalah benih yang baik. Kita ini di ladang dunia, dan Tuhan membiarkan orang jahat kerja si iblis tetap ada bersama kita (ayat 30). Semua pasti untuk kebaikan, agar kita menjadi kuat. Tetaplah waspada dan berjaga, bila lalang yang tumbuh di sekitar kita justru semakin banyak dan mengganggu, tidak mustahil kita yang akan mati dan lalang si jahat semakin meluas.
Mari kita anak-anak Allah, orang percaya dari benih yang baik, teruslah berbuah lebat, menabur benih, dan mengalahkan lalang. Kita yang menang kelak akan dipisahkan, bersorak-sorai menikmati, dan bercahaya dalam kerajaan sorga (ayat 42, Mzm. 126:5-6). Sementara mereka yakni lalang yang jahat, nanti akan dikumpulkan dan dibakar. Ah, mengerikan, apalagi bila mereka itu keluarga kita, sahabat kita, atau bahkan orang lain yang tidak kenal. Maka lakukanlah sesuatu untuk menolongnya.
Selamat beribadah dan selamat melayani
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026
Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - Minggu 19 Juli 2026 – Opsi 3
MITOS, MIMPI DAN TANTANGAN (Kej. 28:10–19a)
”Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya"
(Kej. 28:16b)
Setiap bangsa atau suku bangsa biasanya mempunyai mitos. Mitos ini sering dipakai untuk memberi motivasi kepada anak cucu tentang kehebatan leluhur mereka. Tentu hal itu baik dan sah-sah saja. Yang menjadi masalah adalah ketika mitos dijadikan tameng kebanggaan untuk mendapatkan keistimewaan, padahal tidak ada usaha maupun prestasi nyata.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 28:10–19a. Judul perikopnya: "Mimpi Yakub di Betel." Latar belakangnya, Yakub setelah menipu Esau, abangnya, tentang hak kesulungan, akhirnya melarikan diri karena ketakutan. Dalam pelarian itulah ia bermimpi, melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, ..., olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (ay. 12–14). Ini janji Tuhan yang merupakan pengulangan janji berkat kepada kakeknya, Abraham (Kej. 12:1–3; 15:5; 17:1–8).
Kita percaya umat Yahudi sangat diberkati. Mereka terbukti banyak penerima hadiah Nobel, seperti Einstein, Niels Bohr, Freud, serta menjadi orang-orang pintar dan terkaya di dunia saat ini. Lihat saja Mark Zuckerberg, Larry Ellison, Albert Bourla, Roman Abramovich, Len Blavatnik, Rochelle Walensky, dan lainnya. Inilah yang kemudian menimbulkan mitos bahwa orang Yahudi pintar-pintar. Hal ini sama seperti mitos orang Batak pintar menyanyi dan main catur, orang Padang pintar berdagang, orang Makassar pandai melaut, dan sebagainya.
Dalam Kamus KBBI, mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa itu sendiri, yang diungkapkan dengan cara gaib. Ada aspek kebenarannya, tetapi kadang dilebihkan. Contohnya, mitos Si Raja Batak adalah manusia pertama di bumi yang keturunan dewa-dewi. Hal itu jelas tidak benar, karena sejarah umat manusia sudah ribuan tahun sebelum Raja Batak mendiami kawasan Danau Toba.
Melalui nas ini, kita melihat Yakub bermimpi, salah satu cara penyataan Allah memperlihatkan diri-Nya. Ada janji berkat kepadanya serta penyertaan dan tuntunan Allah (ay. 15). Mimpi itu kini terwujud dalam dua aspek, yaitu umat Yahudi masih diberkati dan keturunan Abraham melalui imannya diikuti oleh miliaran penduduk bumi.
Namun, kita juga perlu melihat dari sisi tantangan dan perjuangan yang mereka hadapi, bukan sekadar mitos. Perjalanan hidup Abraham dan Yakub serta tantangan imannya sangat berat. Abraham berjalan jauh dari Tanah Ur–Kasdim menuju Kanaan. Yakub harus menghadapi tantangan alam, tidur berbantalkan batu, serta perjuangan menghadapi Laban untuk memperoleh istrinya (Kej. 31:40).
Oleh karena itu, melalui nas ini kita memperoleh beberapa pelajaran hidup. Pertama, Allah ingin umat-Nya diberkati. Hal ini sesuai janji Tuhan Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup ... dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Kedua, Tuhan memberi ujian dan tantangan, baik jasmani maupun rohani, dan hanya mereka yang tangguh mampu melewatinya yang dipakai Tuhan. Bangsa Yahudi telah melewati masa penderitaan lebih panjang daripada seluruh sejarah manusia. Dari berbagai buku diketahui bahwa orang Yahudi sejak kecil dididik dengan keras dalam pelajaran dan ketaatan, yang membuat mereka unggul dalam berbagai prestasi.
Ketiga, dalam mengarungi kehidupan, kadang kita tersandung. Yakub menyadari kesalahannya dan berkorban berpisah dari saudara, ibu, dan ayahnya. Namun Allah setia pada janji-Nya, hadir, dan memberi tanda (ay. 16). Kini tergantung kepada kita bagaimana meresponsnya. Jangan lari, melainkan seperti Yakub yang berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga.” Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala, mendirikannya menjadi tugu, dan menuangkan minyak di atasnya. Hal ini menunjukkan rasa hormat dan kesiapan diri.
Apakah kita bermimpi sesuatu dan berharap lebih diberkati saat ini? Apakah kita mendapat janji dari membaca firman-Nya? Jangan hanya percaya pada mitos, tetapi persiapkan diri dalam ketiga hal berikut: mau diberkati, tangguh, dan merespons positif atas rencana Allah. Inilah yang diminta-Nya dan semoga kita siap melakukannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026
Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026
HIDUP MENURUT DAGING DAN MENURUT ROH (Rm. 8:1-11)
Bacaan lainnya: Kej. 25:19-34; atau Yes. 55:10-13; Mzm. 119:105-112 atau Mzm. 65:1-8, 9-13; Mat. 13:1-9, 18-23
Pendahuluan
Pokok yang diuraikan dalam bagian Surat Roma ini adalah jalan keselamatan yang diberikan Allah untuk melepas perbudakan dosa atas manusia. Manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari hal tersebut, termasuk untuk hidup dalam kebenaran. Hanya pertolongan Roh Kudus yang diam dan berkuasa dalam hati orang percaya yang mampu membebaskannya. Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan orang Kristen, dalam kasih dan karunia Allah.
Pertama: Roh yang memerdekakan (ayat 1-2)
Setiap orang yang “merasa bersalah” namun membenci dan menyesali perbuatannya dalam suatu pengadilan pasti mengharapkan putusan hakim: "Tidak Bersalah, bebas". Keputusan bebas itu tentu bisa keluar sebab ada dasar pertimbangan-pertimbangan hakim yang meringankan. Demikian juga pengharapan kita semua tatkala nanti di akhir zaman saat pengadilan Allah dilaksanakan. Kita juga berharap kata-kata tersebut yang diberikan, sehingga kita benar-benar bebas selamat dan masuk ke dalam kehidupan kekal, bukan dalam penghukuman yang menyakitkan. Meski kenyataannya bahwa semua umat manusia seharusnya memperoleh penghukuman karena dosa-dosa yang dilakukannya, ada dasar pertimbangan Hakim Agung yaitu Yesus Kristus, iman dan penyerahan diri kita kepada-Nya, sehingga kebebasan dan keselamatan diberikan berdasarkan kasih anugerah. Itulah sebabnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan jalan penebusan dan pembebasan melalui anak-Nya Yesus Kristus.
Dasar pertimbangannya sangat jelas. Roh dalam kehidupan ini ada tiga wujud: roh manusia sendiri dengan segala kebutuhan jiwa dan rohani termasuk keinginan daging dan ekspresi eksistensinya. Kedua, roh jahat atau ibils dengan segala wujud dan tipu liciknya, dan ketiga, Roh Allah yang penuh kuasa dengan kasih yang besar. Roh Allah ini juga merupakan Pribadi yang ada dalam penciptaan alam semesta (Kej. 1:2) dan juga kuasa yang membuat orang percaya menjadi lahir baru, baik melalui sidi maupun pertobatan. Kuasa ini diberikan kepada kita orang percaya untuk mampu hidup seturut dengan kehendak-Nya (band. Yoh. 3:6; Kis. 1:3-5). Sementara daging yang dalam pengertian Rasul Paulus dalam nas ini lebih kepada pengertian manusia, tubuh, dengan segala keinginan dan hasratnya, pandangan dunia, yang semuanya dikendalikan oleh roh manusia tadi, namun dengan kuasa yang lemah. Bilamana keinginan daging dominan dan mengalahkan roh, maka manusia itu hidup menurut daging, yang hakekatnya dikuasai oleh tabiat dan kecenderungan dosa yang ada pada diri manusia. Kalau kita melihat daftar yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Gal. 5:19-21, maka daftar ini sungguh panjang, meliputi dosa seksual, dosa hati yang jahat, dosa kesombongan dan kepentingan diri sendiri, bahkan termasuk dosa mengkhianati Allah dengan penyembahan berhala. Semua perbuatan kedagingan akan lebih menonjol saat bersatu dengan roh iblis yang jahat dengan tujuan melawan Allah dan membawa manusia dalam kebinasaan bersama mereka yang sudah menjadi seteru Allah.
Oleh karena itu, kekuatan roh iblis dan sinergi jahatnya dengan keinginan daging, hanya dapat dikalahkan oleh Roh Allah yang Mahakuasa. Roh manusia dengan segala usaha dan jerih payahnya mungkin bisa berusaha dalam batas tertentu untuk menyenangkan Allah melalui hukum Taurat, akan tetapi godaan iblis dan keinginan daging dengan mudah mengalahkan itu semua. Akhirnya harus ada hukum lain yang bisa menyelesaikan segalanya, yakni hukum anugerah atau hukum kasih karunia. Hukum ini (disebut hukum karena pengaruh yang terus-menerus dalam tindakan) berdasar pada kebenaran dan kekudusan Allah (band. Rm. 3:31; 6:15; 7:21-22). Hukum kasih karunia dikendalikan oleh Roh Allah, yang diberikan kepada setiap orang yang mengaku Yesus adalah Anak Allah yang telah menebusnya. Tuhan Yesus telah menolongnya dan membiarkan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hatinya untuk jauh dari kedagingan tadi serta melakukan hal yang sesuai dengan keinginan roh tadi (Gal. 5:16, 24). Di sini pentingnya iman dalam memperoleh Roh yang memerdekakan itu untuk mendapatkan kemenangan dan keselamatan. Oleh karena itu, ketika seseorang jatuh dikuasai oleh iblis dan bertobat, maka dasar pertimbangan Allah adalah pemberian anugerah kasih karunia itu yang membuat kita dinyatakan: “Bebas, tidak bersalah.”
Kedua: Allah yang menjadi manusia (ayat 3-4)
Allah mengutus anak-Nya sendiri menjadi daging dan manusia tentu dilatarbelakangi oleh hikmat dan rencana yang sangat dalam. Kalau dalam penjelasan terdahulu disebutkan bahwa inkarnasi Allah menjadi manusia sebagai konsep penebusan, maka pertimbangan lain Allah menjadi manusia adalah karena Allah ingin berbicara kepada manusia. Dengan Allah menjadi manusia maka komunikasi dan penggambaran maksud Allah terhadap manusia menjadi lebih mudah. Kita akan kesulitan berkomunikasi dengan makhluk lain, misalnya ikan, sebab keinginan baik kita berupa pemberian makanan ikan kadang ditafsirkan salah dan ikan akan melengos menjauh. Kita juga tidak tahu bagaimana mengatakan kepada ikan agar mendekat meski kita ingin memberinya makan. Akhirnya komunikasi menjadi buntu dan melelahkan. Oleh karena itu, ketika Allah ingin menyatakan kehendak-Nya kepada manusia, maka wujud inkarnasi Allah yang paling efektif adalah manusia. Allah bisa saja berwujud yang tampak lebih "hebat" atau “serba wah” seperti naga, elang rajawali, gajah, atau wujud lainnya, namun sasarannya bukanlah mereka, melainkan manusia yang berakal budi, namun berdosa dan perlu diselamatkan.
Hal lainnya membuat Allah berinkarnasi menjadi manusia dalam wujud Yesus, untuk membuktikan manusia Yesus juga bisa tidak berdosa. Kehidupan Yesus yang tidak berdosa sebagai manusia dalam perbuatan dan sikap digambarkan sedemikian jelas, yang diawali dari ketaatan orangtuanya pada tradisi-tradisi Yahudi, seperti melaksanakan sunat, berkunjung ke Yerusalem, bekerja, dan hal lainnya. Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan tradisi adalah sesuatu yang buruk, terkecuali dalam wujud sinkritisme, maka itu jelas tidak sesuai dengan kehidupan Yesus. Demikian juga kehidupan Yesus dalam mengembangkan intelektualitas-Nya yakni dengan rajin belajar tentang Taurat dan tradisi Yahudi. Hal yang paling ingin diperlihatkan melalui kehidupan Yesus adalah kerendahan hati-Nya (Flp. 2:7), sikap taat dan berserah dalam melewati pencobaan, dan puncaknya adalah pelayanan dengan kesediaan berkorban dan mengutamakan tugas misi Allah Bapa. Yesus yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus menggunakan seluruh hidupnya untuk pelayanan bagi kerajaan dan kemuliaan Allah Bapa yang mengutusnya.
Oleh karena itu dikatakan dalam bagian nas ini, apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah melalui Anak-Nya dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Jadi intinya, tidak ada perbedaan kedagingan Yesus yang tidak berdosa dengan kedagingan kita, dalam arti sama-sama memiliki keinginan dan kebutuhan. Di lain pihak, Allah juga ingin memperlihatkan bahwa kedagingan Yesus tetap takluk pada hukum alam kedagingan, yakni harus melewati kematian daging. Namun kita ketahui bahwa kematian daging akhirnya dikalahkan oleh Roh dengan kebangkitan Tuhan Yesus di hari yang ketiga. Semua ini jelas maksudnya, yakni supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang hidup tidak menurut daging, tetapi menurut Roh, semua akan memperoleh kemenangan di dalam kebangkitan kelak dan memperoleh upah dan mahkota yang disediakan bagi kita yang setia. Inilah maksud dan tujuan Allah menjadi manusia melalui Yesus, menjadi teladan yang sempurna bagi kita, bukan dengan maksud meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17).
Ketiga: Memikirkan hal-hal yang dari Roh (ayat 5-8)
Firman Tuhan dalam nas ini menggolongkan secara sederhana dua tipe manusia: manusia yang didominasi oleh sifat-sifat berbuat dosa dan manusia yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Setiap kita cenderung menjadi manusia tipe pertama sebagaimana dijelaskan dalam nas minggu lalu, yakni adanya kecenderungan untuk berbuat dosa dan kesenangan terhadap dosa, di samping adanya pandangan kesombongan yang meremehkan dosa. Manusia daging berpusat pada diri sendiri dan hanya memikirkan kepentingan kedagingan yang hakekatnya kepuasan diri sendiri. Mereka tidak merasa ada pengaruh perbuatannya kelak dan yang paling utama adalah hidupnya penuh ambisi dengan puncaknya kesenangan yang sesuka hati. Mereka menjadi seteru dengan menyepelekan penghakiman Allah sehingga sebenarnya itu merupakah langkah menuju maut dan kematian kekal. Sayangnya hukum Taurat tidak bisa melakukan apa-apa terhadap situasi ini. Hukum Taurat bukan dimaksudkan sebagai penyelamat dan hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri (Ibr. 10:1a).
Akan tetapi hal yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus merupakan jalan keluar sehingga kita dapat menjadi manusia tipe kedua yakni yang dikuasai dan dipimpin Roh. Perlu ada sebuah jembatan untuk mendekatkan teladan yang sempurna dalam kedagingan Yesus dengan kedagingan kita. Pemulihan harus dilakukan dengan tatanan kuasa yang baru dan bukan lagi berdasarkan hukum Taurat melainkan dengan prinsip kasih karunia. Status baru perlu mengalami perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan menurut daging yang tadinya memikirkan hal-hal tubuh dan keduniawian kini harus diganti dengan kehidupan menurut Roh yang berpikir tentang hal-hal yang rohani dan sorgawi. Sebagaimana dikatakan juga dalam firman-Nya, bahwa “kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22-24; band. Kol. 3:5-10).
Pada saat kita mengatakan "Ya" kepada Yesus, maka kita diberi kasih karunia dan dipenuhi dengan keinginan untuk terus mengikuti Dia, sebab kita tahu jalan-Nya adalah jalan penuh damai sejahtera dan membawa kita kepada kehidupan yang benar dan abadi. Hidup di dalam Roh berarti memahami tidak hidup menurut daging sebab keduanya tidak mungkin menjadi satu. Apabila seseorang menggemari dan bahkan mengulang-ulang dengan sadar keinginan daging yang dibenci Allah, sebenarnya ia belum hidup menurut Roh atau yang lahir baru. Ia sebenarnya masih manusia lama dan menjadi seteru Allah (Yak. 4:4). Setiap hari kita harus dengan "sadar" memilih untuk memusatkan perhatian dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan Allah melalui Yesus. Hal itu akan menjadi efektif bila kita menyukai firman Allah dengan rajin membaca Alkitab atau renungan harian, mendapatkan petunjuk dan mengikuti dengan taat. Di dalam situasi yang kadang membingungkan dan komplek, bertanyalah pada diri sendiri: "Apa yang Yesus ingin saya lakukan?" Apakah yang saya lakukan hari ini menyenangkan hati Allah? Dengan bertanya, maka Roh Kudus akan memberi inspirasi dan petunjuk yang benar dan langkah itu yang seharusnya langsung dilakukan (Yoh. 16:13-15; 2 Tim. 3:16-17). Dengan demikian kita hidup akan lebih memikirkan hal-hal yang rohani saja dalam menjalani tujuan akhir hidup yakni masuk sorga (band. Flp. 3:10; Kol. 3:1-2).
Keempat: Roh yang menghidupkan (ayat 9-11)
Pernahkan kita merasa atau bertanya, apakah kita ini sudah menjadi Kristen sejati? Sesungguhnya seorang kristen sejati adalah mereka yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus dengan menempatkannya sebagai Raja di hatinya. Apabila kita memang percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa kita, dan menjadikan Dia sebagai Tuan dan Tuhan, maka secara otomatis Roh Kudus akan diam di hati setiap orang yang mengaku demikian. Kita tidak akan tahu apakah Roh Kudus sudah hadir apabila kita menanti-nanti tanda-tanda atau perasaan khusus, tetapi yakinilah bahwa Roh Kudus telah hadir dan diam sebab Tuhan Yesus menjanjikan-nya. Jadi janjinya yang dipegang, bukan suasana hati atau tanda-tanda. Apabila kita menjalani kehidupan ini dengan pimpinan Roh Kudus tadi, maka kita akan memahami beberapa hal, yakni:
a. bahwa Yesus adalah Anak Allah dan kehidupan kekal datang daripada-Nya (1Yoh. 5:5);
b. kita akan berperilaku seperti Kristus (Rm. 8:5; Gal. 5:22-23);
c. kita akan mendapatkan pertolongan dalam pergumulan hidup setiap hari (Rm. 8:26-27);
d. kita akan dimampukan untuk melayani Allah dan melaksanakan kehendak-Nya (Kis. 1:8; Rm. 12:6 dab);
e. kita akan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membangun gereja dan kerajaan-Nya (Ef. 4:12-13)
Sebagaimana manusia yang sama dengan Adam telah berdosa, maka demikian jugalah kehendak Allah melalui Rasul Paulus menyatakan manusia harus sama dengan (manusia) Yesus yang mempersembahkan kehidupan yang sempurna yakni dengan penyerahan diri dan pengutamaan keinginan Allah Bapa. Manusia yang telah tercemar melalui dosa Adam kini hanya bisa diselamatkan melalui kuasa Tuhan Yesus. Roh Kudus adalah janji dan jaminan Allah untuk kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Roh Kudus diam di hati hanya dengan dasar iman dan dengan iman ini kita hidup bersama Kristus selamanya (band. Rm. 8:23; 1Kor. 6:14; 2Kor. 4:14; 1Tes. 4:14).
Penutup
Sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, janganlah hidup menurut daging. Itu jalan menuju ke neraka, karena buahnya menghasilkan dosa dan membelenggu kita. Roh Kudus telah diberikan kepada kita dan memerdekakan kita dari belenggu tersebut dan bekerja pada orang percaya untuk menghasilkan buah-buah Roh. Semua itu terjadi karena Allah mengasihi manusia dan tidak menginginkan kebinasaan, sehingga memberikan Anak-Nya menjadi manusia sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita. Dengan hidup menurut Roh, maka kita juga memikirkan hal-hal yang dari Roh dan semuanya itu dalam sukacita, berbeda dengan kuasa iblis dan kuasa dosa yang membawa kita kepada keadaan yang menyedihkan dan sengsara serta berujung pada maut. Hidup dalam Roh juga akan menghidupkan sebab mendapat kekuatan baru untuk mendorong kita ke arah kerajaan kekal dan bersama Tuhan dan para malaikat selama-lamanya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 12 Juli 2026
Kabar dari Bukit
FIRMAN TUHAN YANG TIDAK SIA-SIA (Yes. 55:10-13)
”Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia" (Yes. 55:11a)
Selamat pagi.
Hati saya kadang masygul bila setelah berkhotbah, melihat perilaku jemaat setelah ibadah selesai. Ada yang berdesakan keluar, padahal baru saja dikhotbahkan tentang orang yang sabar dan mengalah lebih diberkati Tuhan. Demikian juga membuang sampah sembarangan, padahal tadi khotbahnya tentang perilaku yang berkenan kepada Tuhan: Jangan bikin susah orang lain (Mat. 7:12), harus dibersihkan. Mengapa firman yang baru saja disampaikan tidak berdampak?
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yes. 55:10-13. Nas ini merupakan bagian dari perikop "Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan." Pada nas sebelumnya Nabi Yesaya meminta agar umat Israel ingat panggilan dan pilihan Tuhan atas mereka sebagai saksi bagi bangsa-bangsa. Tetapi umat Israel telah melenceng jalannya dan akibatnya mereka menderita. Maka Nabi Yesaya memerintahkan, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!... Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan menyayanginya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya" (ay. 1-9).
Nas berlanjut dengan janji Tuhan akan kepastian dan manfaat firman: "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, tetapi mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tanaman, memberikan benih kepada penabur dan makanan kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia" (ay. 10-11a). Pada bagian lain Alkitab dijelaskan bahwa firman dan ibadah memiliki kuasa (Ibr. 4:12; Mzm. 33:9; 2Tim. 3:5).
Pertanyaannya, sesuai cerita pembuka di atas, mengapa orang yang baru saja mendengar khotbah, tidak langsung berdampak dalam sikap kesehariannya? Nah, ini ada beberapa faktor yang diperlukan agar firman tersebut memiliki kuasa dan tidak kembali dengan sia-sia. Pertama, yang mendengar mesti memiliki rasa haus dan mau datang kepada Yesus (ay. 1-2). Jika perasaan ini tidak ada, maka firman yang disampaikan hanya berupa informasi semata, tidak menjadi hikmat yang berbuahkan transformasi. Kedua, mesti ada keinginan hati berubah dan menyadari jalan yang ditempuh selama ini tidak berkenan kepada Tuhan; keinginan bertobat dan melakukan perbaikan diri (ay. 7-8).
Ketiga, iman yang belum bulat dan kuat. Hatinya masih mengandalkan diri sendiri dan belum sepenuhnya percaya Tuhan ikut menentukan dalam perjalanan hidupnya. Keempat, faktor pemberita firman memang ikut menentukan, seberapa baik hidupnya selama ini dikenal oleh pendengarnya. Keteladanan sangat penting, namun hal ini semestinya tidak mempengaruhi firman yang disampaikan.
Pesan nas minggu ini sama dengan perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, tentang firman adalah benih dan ditabur pada berbagai jenis tanah: jatuh di pinggir jalan maka burung akan memakannya; ditabur di tanah yang berbatu-batu, maka ketika matahari datang langsung layu dan menjadi kering; benih ditabur di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Tetapi benih firman yang ditabur di tanah yang baik akan berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Mat. 13:3-8; Luk. 8:4-15). Kini, semua tergantung kita, bagaimana mempersiapkan diri dan kemauan untuk berubah. Doa memohon Roh Kudus dan membuka hati, sangat menentukan dampaknya terhadap hidup kita.
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026
Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 - Opsi 2
AKAL BUDI, MORAL DAN ETIKA (Kej. 25:19–34)
”Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" (Kej. 25:31–32)
Di masa kecil di Sumatera Utara, sering terdengar ucapan, “Ah, Yahudinya kau!” Kalimat ini biasanya dilontarkan kepada seseorang yang pelit, pandai mengelak, dan penuh tipu muslihat. Mungkin ungkapan ini bersumber dari kisah Yakub yang menipu abangnya, Esau.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 25:19–34. Ini kisah keturunan Ishak, yaitu Esau dan Yakub, yang lahir kembar. Esau disayang oleh bapaknya, dan Yakub disayang ibunya (ay. 28). Yakub sangat cerdik dan memanfaatkan kelemahan Esau. Ia menukar hak kesulungan dengan sup kacang merah. Yakub sampai meminta Esau bersumpah (ay. 33). Agar lebih yakin, Yakub dibantu ibunya mengelabui Ishak dengan memakai kulit berbulu, mendekat seolah sebagai Esau. Ishak yang sudah tua dan rabun, meski ragu, akhirnya memberkati Yakub sebagai anak sulung (Kej. 27:18–29).
Dari perilaku Yakub ini, kita dapat mengambil pelajaran. Saya teringat buku yang ditulis Ibu Pdt. Dr. Dorothy I. Marx, dosen agama di ITB dan mentor saya, berjudul Itu kan, boleh? Buku ini mengulas bagaimana manusia melonggarkan standar etika dan kebenaran Alkitab demi memenuhi keinginan daging dan nafsu, serta berkompromi dalam hal aborsi, perceraian, korupsi, perzinahan, dan lainnya. Dari nas ini, terlihat Yakub melakukan tipu muslihat agar dirinya diuntungkan, memperoleh hak kesulungan yang bagi umat Israel sangat penting, meski hal itu telah dinubuatkan sebelumnya (Kej. 25:23).
Pertanyaan penting muncul tentang batasan penggunaan akal budi dan cara manusia mencapai keinginannya. Kita perlu melihatnya dari sudut etika dan moralitas. Etika menurut buku Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy adalah sistem nilai dan kebiasaan dalam suatu kelompok manusia. Etika berhubungan dengan moralitas yang mengacu pada prinsip-prinsip dasar. Bagi kita orang percaya, Alkitab adalah acuan dan pegangan utama.
Lewis Smedes dalam tulisannya "Sifat–sifat Moral Dasar" dalam buku Pola Hidup Kristen mengatakan, yang utama dilihat adalah sifat dan watak baik seseorang. Tuhan Yesus menegaskan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:20; 12:33). Sifat dan watak baik dapat diukur dari beberapa hal. Pertama, kemampuan membedakan, termasuk memahami perasaan orang lain dan mengedepankan hal yang mendasar dan penting.
Kedua, keberanian mengambil langkah baik dan berisiko dalam situasi kacau dan sulit. Ketiga, penguasaan diri, yaitu tidak hanya mengikuti kepentingan sendiri, tetapi menyerahkan penguasaan kepada Allah. Keempat, bersikap adil, yakni tidak memperlakukan seseorang berbeda dari orang lain (Mi. 6:8). Terakhir, kejujuran dan keteguhan dalam berserah. Semua ini senada dengan buah-buah Roh (Gal. 5:22–23).
Alkitab tidak mempertentangkan akal budi (mind) dan iman (faith). Keduanya adalah anugerah Tuhan. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Iman dan akal budi bagaikan dua sayap yang dengannya roh manusia naik kepada perenungan tentang kebenaran.” Jadi, ada keseimbangan dan kontrol. Bila nilai-nilai moral yang kita pegang bertentangan dengan mereka yang belum bertobat dan lahir baru, jangan cepat menghakimi. Doakan mereka dan carilah kesempatan untuk menemukan dan menyatukan kebenaran sejati.
Itulah yang diminta Tuhan dari kita: memiliki sifat dan watak baik, serta tidak memandang remeh apa yang tertulis dalam Alkitab (ay. 37). Semoga kita dimampukan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 TAK TERPISAHKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 2 YANG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 3 KARMA...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 74 guests and no members online
