2026
2026
Khotbah (2) Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026
Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026 (Opsi 2)
HUKUM KASIH (Mat. 22: 34-46)
"Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya” (Mat. 22:45)
Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22: 34-46 berbicara dua bagian. Bagian pertama, tentang hukum yang terutama dalam Alkitab, baik PL maupun PB. Barangkali kita pun semua tahu, yakni mengasihi Allah dan manusia. Selengkapnya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 37-39). Dan kemudian ditambahkan, “pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (ayat 40).
Keduanya adalah hukum kasih. Hukum adalah aturan yang tujuannya untuk ketertiban dan keadilan. Yang menyimpang akan kena sanksi supaya kembali tertib. Keadilan berlaku bagi semua, tidak pandang bulu. Semua sama di depan hukum dan di hadapan Tuhan.
Alkitab membuat hubungan ini lebih jelas. "Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya” (2Yoh. 1: 6a). Artinya, jika mengasihi Allah maka turutilah perintah-Nya. Sederhana. Kasih untuk sesama, menurut Alkitab adalah tindakan, “bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3: 18).
Bagian kedua nas minggu ini berbicara tentang hubungan antara Yesus dan Daud. Tentu ada alasan, mengapa para ahli teologi menjadikan dua nas ini dalam satu bagian di leksionari. Mengasihi Tuhan akan terjadi, jika kita mengenal Dia dengan benar. Ada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang diutus Bapa sebagai jalan keselamatan umat manusia, dan harus menjalani sengsara dan penderitaan. Jika ini kita akui dan hayati, maka tidak sulit untuk mengasihi-Nya.
Kasih terhadap sesama dijabarkan Alkitab dengan enam belas ciri, mulai dari kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan lainnya (selengkapnya di 1Kor. 13). Dalam Matius pasal 22, Tuhan Yesus diperlihatkan sabar menghadapi orang Farisi, Saduki maupun Herodian. Itu teladan yang perlu kita ikuti.
Mari kita terus mengasihi Tuhan dengan lebih mengenal Dia, melalui doa dan pembacaan serta mendengar firman-Nya. Mari kita kejar untuk mendapatkannya (1Kor. 14:1). Dan dengan mengenal Dia, maka tidak sulit untuk kita lebih mengasihi sesama, yang bukan omongan kosong, seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1Kor. 13:1-3). Kasih yang nyata dan berdampak. Itulah kehendak-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026
Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026 (Opsi 3)
ADIL DAN DOSA KEPADA DIRI (Im. 19:1–2, 15–18)
”Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia" (Im. 19:17)
Kadang kita dihadapkan pada situasi keberpihakan: membela yang lemah atau membela yang benar. Kecenderungan psikologis menuntun kita membela yang lemah. Hal ini wajar karena muncul empati dan rasa iba, dan itu bukan sesuatu yang buruk. Seorang tokoh perfilman mengatakan, “Suatu karunia besar bagi manusia memiliki kekuatan empati.” Teolog Carl Jung bahkan menyebutkan, “Bila empati hilang, maka dunia akan menderita.”
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah "Im. 19:1–2, 15–18". Ini merupakan bagian dari kitab Imamat pasal 17–25 yang berbicara tentang kekudusan, dengan perintah tegas dan berulang: “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (ay. 2). Kitab Imamat berisi peraturan rinci bagi para imam dan umat Israel dalam menjalani ibadah dan upacara keagamaan, agar mereka memiliki hubungan yang baik dengan Allah.
Mengacu pada kitab Yahudi Mitzvot sebagai rincian Sepuluh Perintah Allah (Kel. 20:3–20), terdapat 613 perintah yang dituliskan dalam Taurat. Perintah-perintah tersebut terdiri dari 248 perintah positif yang harus dilakukan dan 365 perintah negatif yang dilarang dilakukan. Dengan banyaknya perintah ini, semua manusia berbuat dosa (Rm. 3:23), menjadi hal yang tidak dapat disangkal.
Nas hari Minggu ini merupakan bagian Imamat yang terdiri dari tujuh perintah “jangan” dan dua perintah “lakukan”. Sembilan perintah tersebut bertujuan menjaga kekudusan, dengan cara menghormati hidup dan hak orang lain. Kekudusan dikaitkan dengan hidup sesama. Hal ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kehidupan rohani berhubungan erat dengan kehidupan sosial. Ibadah dan ritual tidak terpisahkan dari keseharian kehidupan.
Pesan pertama yang disampaikan adalah perlunya berlaku adil terhadap semua orang, tidak berbuat curang termasuk dalam peradilan (ay. 15a). Untuk itu, kita diwanti-wanti agar jangan membela orang kecil secara tidak sewajarnya (ay. 15b). Artinya, kita perlu menjaga empati agar tidak bertentangan dengan kebenaran (ay. 15). Ini memang tidak mudah karena harus menyelaraskan peran otak kiri dan otak kanan, kesepadanan hati dan akal pikiran.
Pesan kedua adalah agar kita jangan membuat orang lain susah dengan memfitnah (ay. 16a) atau mengancam hidupnya (ay. 16b). Fitnah dapat lebih kejam daripada pembunuhan, apalagi jika muncul dari rasa benci di dalam hati (ay. 17a).
Pesan ketiga adalah jangan menaruh hal jahat di hati. Dikatakan, “Janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena orang lain, janganlah engkau menuntut balas (ay. 18a), dan janganlah menaruh dendam terhadap sesamamu” (ay. 18b). Semua itu justru merusak diri sendiri. Namun, sebagai anak-anak Tuhan, kita tetap diminta berterus terang dan menegur mereka (ay. 17b), meski di bagian lain dinyatakan dengan lemah lembut dan kasih (Luk. 17:3; 2Tes. 3:15).
Pesan keempat adalah pentingnya melihat motivasi sebagai akar tindakan kita. Jika motivasi baik, maka hasilnya akan baik dan berkenan kepada Allah. Pasal 19 ini ditutup dengan kesimpulan umum yakni hukum kasih yang kedua, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (ay. 18c, bdk. Mat. 22:39).
Tuntutan hidup kudus memang tidak mudah. Namun dengan pertolongan Roh Kudus, tidak ada yang mustahil. Kita mungkin tidak akan pernah sempurna, tetapi harus terus berubah dan bertumbuh, berusaha serupa seperti Tuhan Yesus yang memberikan teladan hidup. Meski kadang kita jatuh, kecewa, atau timbul omongan orang lain, jangan terlalu pusing. Yang utama adalah semangat untuk terus berupaya menjadi lebih baik dari hari kemarin. Itulah hakikat dan sejatinya Kekristenan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026
Khotbah Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026
INJIL DENGAN KEKUATAN ROH DAN KEPASTIAN YANG KOKOH (1Tes. 1:1-10)
Bacaan lainnya: Mat. 22:15-22; Kel. 33:12-23 atau Yes. 45:1-7; Mzm. 99 atau Mzm. 96:1-9, 10-13;
Pendahuluan
Tesalonika merupakan ibukota Provinsi Makadonia dan sekaligus kota terbesar dengan penduduk 200.000 di bawah pemerintahan Romawi. Kota ini salah satu pintu awal Injil masuk ke wilayah Eropa, setelah Rasul Paulus mendengar tentang pilihan ke Makadonia dibandingkan dengan pilihan ke arah Arabia di selatan (Kis. 16:9). Pada saat surat ini ditulis - perkiraannya sekitar tahun 50 M, jemaat Tesalonika merupakan jemaat baru yang belum terlalu dewasa. Rasul Paulus beserta pelayan Tuhan lainnya tidak dapat tinggal lama di sana karena adanya penolakan yang hebat, sehingga pengajaran tentang Tuhan Yesus belum banyak yang disampaikannya. Oleh karena hatinya terus terpaut di kota itu, ia kemudian mengutus Timotius untuk kembali melihat perkembangan jemaat. Dalam perjalanannya ke Korintus, Rasul Paulus menuliskan surat ini sebagai bagian dari pengajaran Kristiani kepada jemaat dan juga bagi kita semua.
Pertama: Pentingnya keakraban para hamba Tuhan (ayat 1-3)
Setelah minggu lalu kita membaca firman Tuhan tentang perselisihan yang terjadi di antara dua pelayan Tuhan di jemaat Filipi, sebaliknya yang terjadi di jemaat Tesalonika. Hubungan para pelayan Tuhan sangat dekat dan akrab dan ini bisa dilihat dari cara mereka menyapa dalam surat ini. Rasul Paulus juga tidak perlu menonjolkan kerasulannya sendiri. Ia menyadari bahwa hubungan di antara para pelayan Tuhan sangat penting, sangat menentukan dalam membangun iman jemaat. Prinsip kasih yang sering diajarkan dan dikhotbahkan para pelayan seyogianya itu juga tampak dalam kehidupan sehari-hari, sebab kalau tidak, jemaat akan mengatakan OMDO atau NATO (omong doang dan No Action Talk Only). Sebaliknya apabila jemaat melihat itu nyata, maka itu akan menjadi kesaksian hidup dan rasa syukur bagi sesama orang percaya dan dapat menarik perhatian bagi yang belum mengenal Tuhan Yesus untuk menjadi pengikut-Nya. Hal kedua yang diperlihatkan oleh Rasul Paulus (dan rekan-rekan sekerjanya – lihat Kis. 15:22, 39-40, 16:1-3; 17:1-10) adalah perhatian yang penuh bagi jemaat yang dipimpinnya. Mereka menyapa dengan dengan berkat dari Allah yaitu kasih karunia dan damai sejahtera (band. Rm. 1:7-10; Ef. 5:20). Keselamatan yang dianugerahkan membuat sesama jemaat dan hamba Tuhan masuk ke dalam persekutuan bersama, dan ini membangun keakraban. Buah keakraban adalah penyertaan dan anugerah kasih Tuhan dialami dengan damai sejahtera.
Sikap yang menempatkan jemaat sebagai yang utama dan menyebutnya mahkota sangat kental dalam ungkapan ini (band. 1Tes. 2:19; 3:9). Setelah memberi berkat, Rasul Paulus kemudian mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan mereka yang menjadi bagian orang percaya di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Rasa syukur atas kebersamaan mereka juga ditambahkan dengan selalu membawa jemaatnya ke dalam doa-doa mereka. Doa syafaat bagi mereka yang kita kasihi, tentu akan memberikan dampak perhatian Allah pada mereka yang disebut, terlebih lagi dinaikkan oleh hamba-Nya yang kerap dianggap lebih memiliki kuasa sebab para pelayan adalah mereka-mereka yang seharusnya orang benar (Yak. 5:16b). Adalah tanggungjawab hamba Tuhan untuk terus membawa jemaat dan orang-orang yang di sekitarnya untuk didoakan (Yak. 5:16a). Dalam hal ini Rasul Paulus memperlihatkan teladan seorang hamba Tuhan yang mengasihi jemaat Tuhan. Apabila ini lalai dilakukan para hamba Tuhan, maka ia perlu merenungkan panggilannya untuk melayani Tuhan dengan melayani sesama. Di lain pihak, jemaat juga perlu mendoakan para pelayannya, agar segala yang menjadi tanggungjawab pelayan dapat dijalankan dengan baik oleh pertolongan Allah (2Kor. 1:11; 2Tes. 3:1).
Hal lain yang dilihat oleh Paulus pada jemaat adalah tentang iman, kasih dan pengharapan mereka. Sebagaimana dikatakan dalam 1Kor. 13:13, di atas segala berkat dan karunia yang diberikan kepada jemaat untuk bertumbuh, yang tinggal adalah ketiga hal, yaitu: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Oleh karena itu Rasul Paulus mengamati ketiga hal itu yang terjadi pada jemaat, melalui Timotius. Rasul Paulus menemukan bahwa jemaat tersebut melakukan pekerjaan imannya dengan baik sesuai dengan keadaan sulit yang mereka hadapi (band. 2Tes. 1:11; Yak. 2:14), demikian juga dengan usaha kasih mereka, dan terakhir adalah ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan Yesus Kristus (band. . 5:2-5). Sungguh jemaat yang layak diteladani. Pujian Rasul Paulus sangat penting untuk meningkatkan rasa hormat dan kebanggaan mereka yang sekaligus merupakan kemuliaan bagi Allah Bapa yang mengasuh mereka. Hamba Tuhan yang lebih menonjolkan kelemahan atau kekurangan jemaat pasti tidak membangun. Bahkan, mengutarakan kelemahan dan kekurangan dengan cara yang salah, malah akan menurunkan semangat jemaat. Pujian juga secara otomatis akan mendorong jemaat mengerahkan potensi yang lebih besar untuk memberikan yang terbaik, sementara kritik malah membunuh potensi yang ada. Bagaimanapun, pasti tidak ada jemaat yang sempurna dan ada kekurangan, sebab kesempurnaan hanya terjadi setelah semua digenapi pada kedatangan-Nya, ketika semua umat-Nya dikuduskan secara total.
Kedua: Injil dengan kekuatan Roh dan kepastian yang kokoh (ayat 4-5)
Rasul Paulus juga mengingatkan status jemaat Tesalonika sebagai umat pilihan Allah. Dipilih berarti dikasihi Allah (Ef. 1:4). Hal-hal lain yang membuat kebimbangan dan bahkan perdebatan (nanti dalam pasal berikutnya diuraikan tentang kematian dan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya), semua menjadi tidak penting dan berada jauh dari keutamaan sebagai pilihan Allah. Memang sedikit sulit memahami hubungan kedaulatan Allah dalam memilih diri kita, dan tanggungjawab kemanusiaan kita untuk mengikuti Dia. Tetapi meskipun kita tidak memahami sepenuhnya kedua kebenaran itu berjalan bersamaan, kita dapat mengatakannya sebagai hubungan kausal, yakni: Menjadi umat terpilih datang dari hati Allah (bukan dari pikiran kita) yang merupakan anugerah untuk menjalankan misi-Nya dan menyenangkan hati-Nya (bukan mengabaikan-Nya). Itu melahirkan rasa syukur (bukan keluhan). Sementara tanggungjawab kemanusiaan kita secara aktif terus mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Pelindung, fokus dalam kehidupan untuk menyenangkan hati-Nya, dan berbagi kasih dan Injil kepada orang lain. Pilihan Allah kepada kita juga sekaligus memberi tantangan untuk menjalani kehidupan ini untuk dibuat berharga bagi kita sendiri dan bagi-Nya.
Ketika Allah memilih kita, Ia memberi kekuatan untuk mengikuti dan mendukung-Nya. Kuasa itu datang dari Roh Kudus dan Injil; kita tidak perlu tahu proses yang mana yang terjadi lebih dahulu. Yang jelas, Injil datang dengan kuasa dan membawa kekuatan pengaruh bagi setiap pribadi, keluarga, termasuk jemaat Tesalonika. Roh Kudus juga membuat seseorang mengerti Injil. Pengurapan Roh Kudus membuat Injil diterima dengan kepastian yang kokoh sebagai firman Allah. Ketika firman disampaikan dan direnungkan, hidup pasti menjadi berubah (Luk. 4:32-37; Kis. 1:8; Rm. 1:16; Gal. 3:22). Pengalaman selama 2000 tahun lebih, Injil dan kekristenan bukan sekedar kumpulan kejadian atau cerita yang menarik; tetapi merupakan kuasa Roh Allah bagi siapa saja yang mempercayainya (band. Yoh. 14:23-26; 15:26-27; 1Kor. 2:4). Kita tidak perlu mengkaji teoritis perbedaan logos dan rhema, yang tertulis dengan tidak tertulis, kata-kata atau makna, sebab bagaimanapun, Allah bekerja dengan cara yang tidak bisa dipahami manusia yang kemampuannya terbatas. Kita juga tidak dapat memahami keajaiban cara, jalan dan maksud pikiran Allah. Iman datang dari pendengaran, itu betul, tetapi jelas bukan “kebenaran” esklusif dalam arti menutup kebenaran lain bahwa iman dapat datang dari membaca firman dan melihat, atau orang tuli juga bisa beriman. Sebuah ayat jelas tidak bisa mengungkapkan seluruh kebenaran Allah, oleh karena itu selalu diminta melihat keseluruhan Injil.
Rasul Paulus menekankan hal yang dia alami dan lakukan di Tesalonika dengan menuliskan, "Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu". Jemaat telah melihat hal yang dikhotbahkan Rasul Paulus, Silas dan Timotius selama mereka di Tesalonika, dan menjadi bukti bagi mereka dengan melihat ketiga hamba-hamba Tuhan ini hidup di dalam kuasa-Nya dan dapat menjadi teladan. Ketiga hamba Tuhan ini melakukannya karena memiliki keyakinan yang kokoh tentang iman yang dipilih Allah dan Injil yang diberikan. Jadi, ketika kita mengaku bahwa iman adalah anugerah dan bukan merupakan buah dari pikiran, maka secara otomatis kita sebenarnya mengaku kalau kita adalah orang yang dipilih. Ketika kemudian firman atau Injil itu semakin kita dengarkan, renungkan dan lakukan, maka iman kita semakin bertumbuh dan kemudian berbuah dalam pelayanan. Inilah yang diperlihatkan para Rasul dalam keseharian mereka. Keyakinan bertiga ini yang membuat mereka berbuah dalam mengabarkan Injil. Kini, bagaimana dengan kita? Apakah perbuatan kita meneguhkan yang kita imani atau malah kontradiksi? Setelah kita mengakui Allah telah memilih kita, bagaimana respon kita tentang hal tersebut? Mari kita renungkan, semua yang sudah Allah lakukan dengan kuasanya setelah kita pertama beriman kepada Tuhan Yesus? Apakah kita cukup berbuah? Apakah kita berbuah lebat? (Yoh. 15:5).
Ketiga: Menjadi teladan dalam menghadapi penindasan (ayat 6-8)
Meski pesan keselamatan dibawa dalam sukacita kepada setiap orang percaya di Tesalonika (dan orang percaya umumnya), tetapi juga membawa jemaat itu pada penderitaan yang hebat karena penolakan dan penganiayaan dari orang Yahudi dan juga orang Romawi (Kis. 17:5; 1Tes. 3:1-4). Mereka membenci pengikut Yesus. Memang, hal yang dilaporkan oleh Timotius sangat menyenangkan hati Tuhan melalui Rasul Paulus. Sebagai jemaat yang baru bertumbuh, Rasul Paulus mendengar jemaat menerima dengan keteguhan meski penindasan datang. Paulus memujinya dan meminta agar yang mereka lakukan itu semua didasari oleh iman terhadap Allah yang benar di dalam Tuhan Yesus. Mereka juga tetap diminta bekerja dan berkarya oleh dasar kasih, ketabahan dan keteguhan yang didasarkan pada pengharapan akan datangnya Tuhan Yesus kembali. Semua ini merupakan tanda-tanda karakter efektif orang Kristen di segala abad. Untuk itu, Rasul Paulus meminta jemaat agar teguh pada perintah Tuhan dan mengikuti teladan para hamba-Nya menjadi pelaku yang setia (1Kor. 4:16). Semuanya dikerjakan dengan sukacita sejati dari Roh Kudus sebagai respon terhadap firman kebenaran dan keselamatan yang telah mereka terima (Yoh. 16:33; 2Kor. 6:10; Gal. 5:22; Ibr. 12:2; 1Ptr. 2:19-21).
Banyak orang percaya saat ini berpikir bahwa penderitaan bukanlah bagian dari kehidupan orang Kristen. Mereka berpikir kehidupan kekristenan hanya penuh dengan berkat-berkat dalam arti yang sempit, yakni kesenangan dan sukacita. Ketika datang penderitaan, mereka bertanya: Mengapa aku? Mereka merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka; bahkan menuduh-Nya tidak lagi menjadi pelindung bagi anak-anak-Nya. Tetapi semua orang percaya harus menyadari kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan dosa, karena itu orang percaya menderita. Allah mengetahui sebagian orang percaya perlu sebagai martir iman dan mengalami penderitaan. Maka daripada kita bertanya "Mengapa aku?", lebih baik bertanya "Mengapa bukan aku?" Iman kita dan nilai-nilai dalam dunia ini memang cenderung bertabrakan. Oleh karena itu perlu ada pengorbanan, teladan, perlu ada martir yang dapat memperlihatkan iman, kasih dan pengharapan dan tentunya dari kita orang percaya. Kisah martir dan keteguhan seseorang pasti menyebar meluas, dan keteladanan itu memberikan motivasi bagi orang lain untuk ikut berkorban bagi kemuliaan Kristus Yesus. Kekristenan tidak dapat menjadi seluas sekarang ini tanpa adanya penderitaan panjang yang dialami umat percaya selama ratusan tahun. Demikian halnya kabar jemaat Tesalonika sebagai teladan, bergema keluar Makedonia dan Akhaya hingga ke seluruh wilayah Mediterania.
Salah satu cara menjadi lebih siap dalam menghadapi segala kemungkinan dalam melayani Tuhan adalah menyadari bahwa penderitaan itu akan datang. Seorang PNS yang setia pada Tuhan dan berperilaku jujur pasti akan dicemoh orang sekelilingnya. Olok-olok sok suci pasti diterimanya. Seseorang yang menginjil bisa saja kemudian menjadi target kekerasan atau bulan-bulanan oleh mereka dari kelompok keras. Jika kita sudah mengetahui adanya kemungkinan penderitaan datang, maka kita tidak menjadi terkejut atau shock ketika hal itu terjadi. Yang kedua, kita lebih siap sebab kita tahu Yesus juga menderita dan menderita bagi kita. Apa yang dialami oleh Tuhan Yesus dan juga para rasul menjadi inspirasi dan sumber kekuatan bagi kita dalam melayani. Yesus memahami ketakutan kita, kelemahan dan bahkan jika timbul kekecewaan kita (Ibr. 2:17-18; 4:14-16). Yang ketiga, kita seharusnya tetap merasa aman sebab Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita (Mat. 28:18-20), dan Dia berdoa bagi kita sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara (Ibr. 7:24-25). Di dalam rasa sakit, penganiayaan, atau penderitaan, tetaplah teguh percaya kepada-Nya. Mari kita terus bersaksi dan memberikan teladan, meski kita harus berkorban untuk itu, agar kerajaan Allah semakin diperluas di sekeliling kita.
Keempat: Berbalik dan melayani Allah (ayat 9-10)
Seharusnya semua orang percaya memberi respon yang sama terhadap Injil dan keselamatan yang disampaikan, sebagaimana jemaat Tesalonika perlihatkan: berpaling pada Allah dan melayani Allah. Kehidupan masa lalu jemaat Tesalonika penuh dengan berhala-berhala dengan segala kuasanya, dan terbelenggu pada dosa-dosa kehidupan terbuka di wilayah yang sudah maju saat itu. Kini, itu semua harus ditinggalkan. Mereka telah bertobat dan hal inilah yang dipuji Rasul Paulus. Injil dan kuasa Roh telah membuat mereka menjadi manusia baru. Demikian juga dengan kita saat ini, kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah sebaiknya kita tinggalkan. Kehidupan berupa dosa-dosa mengandalkan hidup pada berhala-berhala modern, seperti uang dan kekayaan, jabatan, prestise dan kehormatan, perlu dijauhkan apalagi sampai kita melanggar firman Tuhan untuk mendapatkan atau mempertahankannya. Perubahan hidup baru dengan berbalik kepada Allah harus diisi dengan melayani-Nya yang didasari iman, kasih dan pengharapan, sebagai buah nyata dari pilihan Allah terhadap kita yang dikasihi-Nya. Kita dikasihi Allah maka kita wajib mengasihi Allah (1Yoh. 4:10).
Yesus berjanji akan datang kembali untuk menjemput orang-orang percaya yang dikasihi-Nya. Apapun yang kita alami saat ini sebagai konsekuensi penerimaan kita terhadap Tuhan Yesus, termasuk apabila kita menderita, pertahankanlah itu. Ia adalah Allah yang hidup dan yang benar. Semua yang terjadi dalam hidup kita berada dalam pengendalian-Nya dan kuasa-Nya. Tetaplah setia menunggu kedatangan-Nya turun kembali dari sorga. Dalam penantian itu kita lebih sungguh-sungguh dalam mengenal Dia dan berusaha lebih melayani-Nya, sebab kita hanya memiliki waktu yang sedikit sebelum Yesus kembali. Kita harus siaga dan siap-siap sebab kita tidak tahu kapan Yesus akan kembali. Yesus telah dibangkitkan dan kuasa itu ada pada-Nya untuk membangkitkan semua orang percaya kelak untuk bersama-sama menerima kemuliaan dari Bapa. Melayani Allah hanya dapat dilakukan dengan sepenuhnya berserah dan tunduk kepada-Nya. Penantian yang tekun dengan hidup melayani bagi Allah merupakan awal yang diperlukan sebelum kemuliaan dari sorga itu dinyatakan.
Siap sedia untuk waktu juga berarti kesungguhan dalam pertobatan, berbalik arah dan orientasi (1Kor. 12:2; Gal. 4:8-9). Berbalik arah juga bukan berarti mereka diam menanti kedatangan tanpa bekerja melakukan sesuatu. Adanya perselisihan-perselisihan (selanjutnya hal ini diulas dalam pasal 4:9 dan 5:13) agar dapat dibereskan sebelum Tuhan Yesus kembali. Yesus datang bukan saja untuk menjemput dan mengangkat orang percaya yang dikasihi-Nya, tetapi juga menghakimi semua umat manusia. Bagi mereka yang hidupnya bertentangan dengan firman Tuhan dan mengutamakan dirinya sendiri, murka Tuhan akan datang padanya. Rasul Paulus menekankan murka Allah dalam masa kesengsaraan besar yang kelak akan datang (band. Kis. 17:31; 1Tes. 2:16; Rm. 3:5), namun murka Allah hanya bagi orang-orang yang tidak taat dan bangsa-bangsa yang tidak percaya (Yoh. 3:18; Mat. 25:30). Namun bagi orang percaya, kita tidak perlu takut sebab iman telah menyelamatkan kita yang menjadi milik-Nya dan bebas dari segala bentuk murka yang ada, termasuk melalui masa kesengsaraan besar yang mungkin terjadi (Rm. 5:9; Why. 3:10). Tuhan Yesus telah membebaskan kita dari semua beban dosa dan ketika Ia datang, kita telah sempurna dikuduskan-Nya dan siap untuk dimuliakan-Nya.
Penutup
Kita diajar tentang banyak hal dari nas yang kita baca dan renungkan minggu ini. Hal pertama adalah pentingnya kesatuan hati di antara pelayan Tuhan dan hubungan yang akrab dengan jemaatnya. Ketiga hamba Tuhan dalam nas ini memberikan contoh keteladanan. Mereka melihat jemaat sebagai mahkota yang harus dikasihi dan dipedulikan. Meski ada penolakan dan penganiayaan yang dialami jemaat, hati mereka tetap terpaut pada keyakinan akan Injil dengan kekuatan Roh dan kepastian yang kokoh akan keselamatan yang diberikan melalui Tuhan Yesus. Mereka diingatkan sebagai pilihan Allah dan memuji yang telah dilakukan jemaat Tesalonika tentang perbuatan iman, kasih dan pengharapan, meski di tengah-tengah penderitaan. Ini menjadi teladan dan kesaksian yang hidup bukan saja di wilayah dekat, tetapi sampai ke luar hingga ke Mediterania. Untuk itu mereka tetap melakukan sesuai dengan kehendak-Nya, berbalik dari hal-hal berhala dan perselisihan dan fokus melayani. Allah telah mengasihi mereka sehingga mereka seyogianya terus mengasihi Allah dengan terus berharap pada kedatangan Yesus kedua kalinya. Dengan demikian mereka dan kita juga akan jauh dari penghukuman dan murka Allah.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 18 Oktober 2026
Kabar dari Bukit
NASIB MUJUR DAN NASIB MALANG (Yes. 45:1-7)
”Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yes. 45:6b-7)
Selamat pagi dan salam kasih.
Cerita sulitnya membangun gereja di Indonesia sudah sering kita dengar, kecuali kepala daerahnya pengikut Kristus. Bahkan gereja dibakar juga sudah pernah terjadi. Tetapi kita tidak boleh patah semangat. Ada saja penguasa yang bukan beragama Kristen mau memberikan perhatian dan pertolongan sehingga gereja keluar dari kesulitan yang dihadapi. Mengapa ini bisa terjadi?
Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Yes. 45:1-7. Ini kisah Raja Koresh (Cyrus) dari Persia yang menaklukkan kekaisaran Nebukadnesar termasuk wilayah Israel. Umat yang saat itu dibuang ke Babel, oleh Raja Koresh diperbolehkan kembali - dan bukan itu saja, diperbolehkan membangun Bait Allah yang telah dihancurkan. Koresh juga memberi bantuan peralatan dan dana yang dibutuhkan untuk membangunnya kembali (Ez. 6:3-5). Nas ini menyebut Koresh adalah raja yang telah dinubuatkan dan diurapi Tuhan yang memberi berkat besar bagi bangsa Israel (ay. 1; 44:28).
Alkitab menjelaskan bahwa pembuangan umat Israel ke Babel adalah penghukuman atas dosa-dosa mereka; dibuang 70 tahun, masa yang cukup lama. Tetapi Allah penuh kasih dan memakai Raja Koresh untuk membebaskan mereka kembali. Dari sini kita mendapat kesimpulan bahwa Tuhan memiliki kedaulatan penuh atas nasib bangsa-bangsa.
Demikian pula hidup kita. Kadang kita merasa bernasib mujur dan kadang merasa bernasib malang. Bahkan mungkin muncul pertanyaan: mengapa ada orang selalu hidupnya kelihatan begitu mujur dan ada orang yang merasa seolah-olah tidak pernah keluar dari kemalangan? Apakah Tuhan sedang menghukum atau melupakan? Tentu jawabannya tidak sesederhana itu. Ada berbagai faktor, seperti rencana indah Tuhan yang tersembunyi dan ada juga karena kesalahan diri kita sendiri tidak berhikmat. Mungkin kita merasa pintar, pendidikan dan IQ tinggi. Tetapi orang pintar tidak sama dengan orang berhikmat. Orang yang “bodoh” lambat berpikir belum tentu menjadi bebal. Kita juga perlu periksa latar belakang hidup temasuk para orangtua terkait dosa asal.
Pesan nas ini yang pertama, Tuhan berdaulat atas kehidupan manusia dan bangsa-bangsa. "Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini" (ay. 6b-7). Tentunya kemalangan tidak diartikan Tuhan yang membuatnya, sebab Dia penuh kasih dan tidak mencobai manusia (Yak. 1:13); itu adalah pekerjaan setan dan kurangnya hikmat pada manusia. Nasib seseorang janganlah menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah Allah hadir dan bekerja atau tidak. Demikian juga kemujuran seseorang tidak selalu berarti dia lebih baik daripada orang lain.
Oleh karena itu, pesan kedua agar manusia jangan bersikap bebal. Ketika keadaan berubah, tetaplah hidup dalam iman dan tanggung jawab. Jika hal baik datang maka bersyukurlah. Jika hal buruk terjadi, jangan langsung berpikir Tuhan sedang menghukum. Hal yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, melihat kembali penyebabnya. Belajarlah dari pengalaman sendiri dan orang lain serta mendengar nasihat orang bijak.
Pesan ketiga, jangan kehilangan pengharapan. Kisah Ayub dan Yusuf yang menderita, tetapi bersama Allah mereka dapat melaluinya. Tetaplah dekat dengan Tuhan melalui rutin berdoa, membaca firman-Nya dan terus melakukan yang terbaik sehingga melalui hidup kita kemuliaan dan kebesaran Tuhan semakin tampak. Ia selalu membuka jalan dan tiada yang mustahil bagi-Nya.
Selamat beribadah dan bersekutu.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026
Khotbah (2) Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026 – Opsi 2
DUA KEWARGAAN (Mat. 22:15-22)
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21b)
Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22:15-22, berbicara tentang membayar pajak kepada Kaisar. Umat Yahudi berpikiran bahwa mereka hanya mempunyai kewajiban memberi kepada Allah saja. Bila kepada Kaisar apalagi pihak asing yang menjajah mereka, itu dianggap tidak benar.
Menurut William Barclay dalam bukunya Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Matius, umat Yahudi saat itu mempunyai tiga kewajiban pajak kepada pemerintah Romawi: pajak bumi (10-20% dari hasil bumi), pajak penghasilan lain (1%), dan pajak kepala (pribadi) yakni sebesar satu dinar bagi pria/wanita dewasa. Ini di luar persepuluhan dan persembahan lain yang dibawa jemaat ke Bait Allah.
Dalam nas ini dituliskan, kaum Farisi bersama orang Herodian pendukung Herodes berkomplot, ingin mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan jebakan di ayat 17b: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Ini buah simalakama. Bila jawaban membela umat Yahudi akan menyudutkan Yesus di hadapan kekaisaran; dan jawaban membela Kaisar akan dianggap rendah oleh umat Yahudi.
Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan hikmat dan meminta seseorang menyerahkan mata uang satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (ayat 20-21).
Bagi kita orang percaya dan dunia modern, setelah pengalaman panjang yang kurang baik dengan teokrasi, telah disepakati pemisahan urusan kenegaraan dan gereja. Kita mengakui dwi-kewargaan kita, yakni sebagai WNI dan warga Kerajaan Sorgawi (Flp. 3:20). Maka kita pun memiliki dua kewajiban.
Sebagai warga negara yang layak membayar pajak (baik PBB, PPh dan lainnya), mungkin kita telah patuh, sebagai bagian pengabdian kita bagi bangsa dan negara. Perhitungannya diatur oleh pemerintah. Berbeda dalam kehidupan bergereja, semua diatur berlandaskan Alkitab dan disebut persembahan. Beberapa gereja menerjemahkan persembahan dengan berbagai jenis, termasuk persepuluhan dan membuatnya sebagai hal wajib. Sepanjang itu diterima oleh imannya, tidak masalah. Tetapi ketika persembahan dipakai oleh gembala untuk kepentingan pribadi atau keluarganya, ini yang menjadi masalah. Oleh karena itu orang percaya perlu berhikmat dalam memberi, agar gerejanya dan hamba Tuhan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, dan melupakan pelayanan keluar gereja sesuai hakikatnya.
Pendapat Bill Bright dalam bukunya How You can Experience the Adventure of Giving dapat sebagai pegangan kita warga gereja dalam memberi persembahan, yakni:
- - Pertama, mengakui semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Tuhan, dan kita hanya mengelolanya (stewardship);
- Kedua, menyadari bahwa memberi lebih diberkati daripada menerima (Kis. 20:35);
- Ketiga, memberi dengan iman;
- Keempat, menyadari bahwa apa yang kita tabur, maka itu juga yang akan kita tuai;
- Kelima, memberi kepada Tuhan adalah untuk memuliakan Dia;
- Keenam, memberi dari hati, sikap sukacita, mengasihi dan untuk menyenangkan Allah.
Ketaatan pada peraturan itu bagus, tetapi perlu berhikmat meresponnya, seperti Tuhan Yesus memberi jawaban dalam nas ini. Ukuran manusia berbeda dengan ukuran Tuhan. Manusia lebih sering memandang muka dan berharap penghargaan, tetapi Tuhan memandang hati. Ukuran persembahan yang benar kalau kita merasakan sakitnya dalam memberi. Dan memberi persembahan tanpa parameter dan "suka-suka", jelas bukan warga sorga yang bertanggung jawab. Prinsip dasar adalah berilah yang terbaik: dengan menjaga kekudusan tubuh kita, tenaga dan pikiran, hati dan mulut, juga dengan harta kita.
Sudahkan yang terbaik kuberikan kepada Allahku?
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026 HIDUP...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026 (Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026 (Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 27 guests and no members online
