Monday, September 21, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XVII Setelah Pentakosta – 20 September 2026

Khotbah Minggu XVII Setelah Pentakosta - Minggu 20 September 2026 - Opsi 2

 

 KEADILAN SORGAWI (Mat. 20:1-16)

 

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir (Mat. 20:16)

 

Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 20:1-16, temanya tentang upah di sorga bagi orang percaya. Tuhan Yesus memberi perumpamaan Kerajaan Sorga seperti tuan rumah yang mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Ia sepakat dengan orang-orang dan mulai bekerja di pagi hari dengan upah sedinar sehari. Tuan rumah terus mencari pekerja lain hingga siang dan sore hari, dan mereka yang mulai kerja sore juga dibayar sama, yakni sedinar (ayat 1-9).

 

Tentu yang bekerja dari pagi hari bersungut-sungut, protes kepada tuannya (ayat 10-12). Tetapi tuannya menjawab lugas di ayat 14-15: “Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”

 

Ini sebuah paradoks, menjungkalkan logika manusia yang umum, mempertanyakan keadilan upah. Bagaimana mungkin pekerja yang lelah seharian menanggung beban berat dan panas terik matahari, dibayar sama dengan yang bekerja hanya beberapa jam? Sebuah paradoks bisa tampak "aneh", tidak logis; tapi paradoks bukanlah sesuatu yang salah. Paradoks adalah dua pernyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi sebenarnya memiliki kebenaran sendiri-sendiri.

 

Tuhan yang diumpamakan sebagai tuan rumah dalam nas minggu ini, jelas tidak salah, sebab kesepakatan dengan semua pihak adalah: upah sedinar sehari, dan dalam nas tidak ada ketentuan jumlah jam kerjanya. Analogi yang muncul, seseorang yang dipanggil melayani Tuhan seumur hidupnya, dapat menerima upah yang sama dengan mereka yang baru bertobat seperti seorang penjahat di sebelah Tuhan Yesus saat disalibkan (Luk. 23:40-43). Ini sama juga dengan tafsiran lain nas ini, yang menyebutkan bahwa orang Yahudi akan percaya belakangan kepada Kristus, sehingga ayat 16 merupakan pengulangan Mat. 19:30: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

 

Tetapi kita tahu ada firman Tuhan lainnya, yakni: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menabur banyak juga” (2Kor. 9:6). Demikian juga dengan perintah Tuhan untuk menyimpan harta di sorga (Mat. 6:19-21; Luk. 12:33). Ada upah yang besar dan penuh (berarti ada upah yang tidak penuh) di sorga (2Yoh. 1:8; Luk. 6:35), dan juga ada lima mahkota yang disediakan oleh Allah.

 

Pesan nas minggu ini menegaskan keselamatan adalah anugerah. Orang masuk dan memiliki Kerajaan Sorga bukanlah atas hasil usaha kita, jerih payah kehebatan atau prestasi khusus (Ef. 2:8-9). Sebagai anugerah maka itu adalah kasih karunia, pemberian, sama halnya iman adalah pemberian (Flp. 1:29a; 2Pet. 1:1) Kita dipilih dan dipanggil dan diberi iman percaya kepada Kristus dan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, kita bersyukur. Dan itu adalah upah. Suka cita puji Tuhan yang pertama.

 

Kedua, orang percaya diberi tugas untuk berbuah. Buah dapat dari hasil kita sendiri atau (bersama) orang lain. Maka jika ada buah yang kecil atau matangnya belakangan, kita tetap bersyukur. Jika ada yang ikut diselamatkan dan masuk bersama ke dalam Kerajaan Sorga, kita layak bersyukur. Ini sama seperti Tuhan Yesus mencari satu domba yang hilang dan ketemu. Inilah puji Tuhan kita yang kedua.

 

Hal ketiga, pengikut Kristus mesti beriman, “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal. 2:20). Dengan demikian kita orang percaya tidak boleh satu pun bermegah, apalagi menuntut, sebab semua adalah karya Kristus yang hidup di dalam diri kita. Syukur haleluya yang ketiga.

 

Orang Kristen hidup dalam iman, kasih dan pengharapan. Iman mengatakan kita telah diselamatkan melalui penebusan Kristus, dan kegenapannya ada dalam pengharapan yang akan tampak kelak. Saat ini memang semua tampak samar-samar, oleh karena itu kita hanya mengaku dengan rendah hati akan keterbatasan pikiran kita. Bagian kita adalah tetap taat dan menjalani hidup dalam ketekunan yang kudus.

 

Amsal dari Raja Salomo menyatakan, “mereka yang memberi kepada yang lemah akan memiutangi Tuhan” (Ams. 19:17), dan Tuhan akan mengganti serta ada saatnya menuai (Gal. 6:9-10; 2Tim 4:2; Ef. 6:8; Mat. 16:27; Luk. 6:35). Semua itu adalah pengharapan yang tidak salah, semua dalam iman dan kasih. Tuhan akan membukakan semua kelak bagi kita dan puncak rayanya adalah sukacita besar. Itulah keadilan sorgawi dari Tuhan sebab Ia adalah Allah kita yang Mahaadil dan murah hati.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

Khotbah (3) Minggu XVII Setelah Pentakosta – 20 September 2026

Khotbah Minggu XVII Setelah Pentakosta - Minggu 20 September 2026 - Opsi 3

 RESIKO BERSUNGUT–SUNGUT (Kel. 16:2–15)

 ”Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut–sungutmu kepada-Nya” (Kel. 16:7a)

Setiap orang pasti pernah bersungut–sungut, meski hanya dalam hati dan kadang tidak disadari. Sungut–sungut bisa timbul saat menghadapi kemacetan, antrean panjang, pelayanan yang buruk, kekecewaan karena kenyataan berbeda dengan harapan, merasa diperlakukan tidak adil (bdk. Mat. 20:10–12), atau saat masalah tak terduga muncul. Buruknya, sikap ini dapat berkembang menjadi kesal, geram, dan amarah yang tidak terkendali.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu kemenangan ini adalah Keluaran 16:2–15. Nas ini menceritakan bangsa Israel yang bersungut–sungut saat perjalanan keluar dari Mesir, karena bekal makanan mereka mulai habis. Mencari makan di padang gurun tentu tidak mudah. Mereka pun mengeluh kepada Musa dan Harun, pemimpin perjalanan: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN, ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (ay. 3).

Salah satu ironi manusia adalah ingin hidup enak tapi tidak mau menghadapi kesulitan; berharap perubahan, tetapi ketika ada masalah, yang muncul justru bersungut–sungut. Untuk sungutan pertama bangsa Israel, Tuhan memaklumi, mungkin karena ini yang pertama kali. Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu.... Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu” (ay. 4, 12).

Dari Alkitab kita tahu, bangsa Israel bersungut–sungut tujuh kali selama perjalanan keluar dari Mesir. Tuhan pun menghukum mereka dengan berbagai cara, termasuk membakar kemah mereka, memaksa mereka berkeliling padang gurun selama 40 tahun, dan tidak ada yang masuk ke tanah Kanaan kecuali Yosua dan Kaleb (Bil. 11:1–30; 14:30; 15:30).

Pelajaran penting dari nas ini adalah: Tuhan selalu memegang janji-Nya—peduli, penuh kasih, dan menolong umat-Nya untuk terus bertumbuh. Namun, untuk mengalami perubahan, ada harga yang harus dibayar. Ada toleransi dan aturan yang harus diikuti, sebagaimana bangsa Israel diuji. “Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Mereka hanya boleh memungut tiap–tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari.” Hanya untuk Sabat boleh dibawa pulang dua kali lipat banyaknya (ay. 4–5).

Meninggalkan zona nyaman memang sulit. Namun, jika kita ingin bertumbuh, Tuhan pasti membuka jalan dan ingin melihat kita berhasil. Bila kesuksesan mulai tampak, tetapi masalah muncul, jangan langsung bersungut–sungut atau menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. “Saudara–saudara, janganlah kamu bersungut–sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum....” (Yak. 5:9).

Bersungut–sungut tidak menyelesaikan masalah. Terima keadaan, dan bila ada yang bisa diperbaiki, lakukanlah. Senjata melawan sikap bersungut–sungut hanyalah kesabaran dan pengendalian diri (Gal. 5:22–23). Lihat juga cara bersyukur di balik masalah yang ada (1Tes. 5:18). Latihan dan kontemplasi membangun kematangan rohani, sehingga hal yang tidak mengenakkan dapat ditanggapi secara positif. Tuhan tahu persoalan kita dan tidak akan membiarkan hal itu berlalu tanpa campur tangan-Nya.

Ketahuilah, sungutan adalah dosa, sebagaimana Tuhan menghukum bangsa Israel. Firman-Nya berkata: “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut–sungut dan berbantah–bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak–anak Allah yang tidak bercela …, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang–bintang di dunia” (Flp. 2:14–15). Siap? Laksanakan!

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026

Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026

  JANGAN MENGHAKIMI SEBAB KAMU AKAN DIHAKIMI (Rm. 14:1-12)

 Bacaan lainnya: Mat. 18:21-35; Kel. 14:19-31 atau Kel. 15:1b-11, 20-21 atau Kej. 50:15-21; Mzm. 114 atau Mzm. 103:1-7, 8-13;

 

Pendahuluan

Pada masa surat ini ditulis pengkut-pengikut Kristus di Roma, masih banyak yang baru percaya dan mereka belum dapat membedakan kehidupan orang percaya dengan kehidupan dalam agama Yahudi. Bagi mereka, hal yang dipercayai dan dijalani menurut Taurat seolah-olah masih berlaku dan ini jelas menjadi sumber perdebatan. Tetapi itu tidak mencerminkan mereka kurang percaya dan dapat dituduh beriman lemah. Mereka yang sudah hidup di dalam kebebasan Kristus atau yang beriman kuat langsung kadang menghakimi dan merendahkan yang lainnya. Ini sangat mengganggu kesatuan jemaat dan suasana damai sejahtera yang menjadi inti kehidupan orang Kristen. Setiap orang tidak dipanggil untuk menjadi hakim bagi orang lain, apalagi yang diperdebatkan seringkali tidak hal mendasar dan bukan pokok keimanan kita. Untuk semua itu ada Hakim yang lebih benar dan adil bagi semua orang. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajarannya sebagai berikut:

 

Pertama: Terimalah kelemahan dan perbedaan orang lain (ayat 1-3)

Ayat ini memberikan gambaran terjadinya perbedaan pendapat dalam jemaat di Roma tentang hal-hal yang dianggap belum terlalu jelas. Mereka senang berdebat dan berbeda dalam pandangan tentang sikap yang benar di tengah-tengah masyarakat dan pemerintahan saat itu, yang dianggap menyimpang dari kehidupan orang Kristen. Mereka berdebat soal makanan yakni sayuran, daging dan darah, tentang memakan daging bekas persembahan pagan, atau soal merayakan hari-hari kebesaran pagan yang dijadikan hari kebesaran umat Kristiani. Mereka melihat cara memotong hewan yang dianggap masih menyisakan darah, dianggap tidak halal. Perbedaan soal makanan berangkat dari permasalahan keinginan bebas serta batasan-batasannya, pemahaman dan makna kebebasan dalam Kekristenan yang terbatas. Akhirnya mereka yang tidak mau makan daging atau sisa penyembahan berhala, dianggap imannya lemah.

Akan tetapi bagaimana bisa terjadi orang Kristen sampai ikut memakan bekas makanan berhala saat itu? Seperti diketahui, sistem ritual zaman dahulu termasuk ibadah Yahudi, peranan korban persembahan sangat penting dan menjadi pusat ibadah, sosial dan kehidupan keseharian orang-orang di Roma. Prosesinya, setelah korban dipersembahkan kepada allah di kuil pagan, hanya sebagian daging korban yang dibakar. Sebagian lagi dagingnya umumnya sering dijual di pasar, dan harganya jauh lebih murah. Maka ada orang Kristen yang tidak peduli atau tidak tahu asal usulnya, membeli daging tersebut dan memakannya di rumah atau dengan teman-temannya. Sebagian lagi berpendapat orang percaya perlu bertanya asal usul daging tersebut sebelum membelinya; ini perlu untuk menghindari rasa bersalah (1Kor. 10:14-33). Persoalan moril rasa bersalah ini menjadi berat bagi mereka yang pernah menyembah allah pagan dan ikut dalam ritual seperti itu. Bagi mereka, hal yang mengingatkan mereka akan allah pagan sebelumnya, akan membuat iman mereka yang baru menjadi lemah. Tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa daging yang sudah dipersembahkan tidak masalah untuk dimakan, sebab mereka mempersembahkan kepada allah pagan yang tidak punya arti alias palsu. Rasul Paulus juga menjelaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1Kor. 8).

Firman Tuhan dalam nas ini mengingatkan secara tidak langsung agar mereka jangan terjebak kaku pada pendapat masing-masing. Perbedaan pendapat juga tidak perlu ditakuti dan dihindari, tetapi diterima dan ditanggapi dengan kasih. Mereka jangan berharap juga setiap orang di dalam suatu jemaat selalu memiliki pendapat yang sama tentang segala hal. Justru melalui kekayaan perbedaan pendapat yang berkembang, mereka akan lebih memahami tentang hal yang diajarkan oleh Kitab Suci. Terima, dengarkan, dan hormati pendapat orang lain, itu yang penting. Kedewasaan iman membutuhkan proses yang panjang dan pembinaan. Perbedaan adalah wajar tetapi tidak perlu menjadi perdebatan panjang yang tidak akan membangun kesatuan jemaat, apalagi sampai membuat perpecahan dan pengelompokan. Perbedaan justru sebagai sumber pembelajaran dan kekayaan dalam hubungan di antara jemaat. Misalnya, apabila seseorang menganggap orang lain berdosa atas perilakunya; akan tetapi orang yang "dihakimi" mengatakan bahwa yang menghakimi adalah mereka berpikiran sempit dan tidak punya pengharapan. Dalam situasi tersebut, siapa yang benar? Tentu kita sadari, beberapa pokok permasalahan dapat berubah dan dilihat berbeda sesuai latar belakang budaya, pendidikan, dan kepercayaan masing-masing. Rasul Paulus menyampaikan tetap ada suatu kebenaran yang dapat diterapkan bagi siapa saja. Ia tidak berusaha hidup di dalam kehidupan intelektual yang terasing di dalam menara gading. Ia menerapkan teologi ke dalam kehidupan sehari-hari yang nyata, melakukan sesuai dengan yang dikhotbahkannya. Satu kata dengan perbuatan.

 

Kedua: Semua yang dilakukan adalah untuk Tuhan (ayat 4-6)

Apa yang menjadi perdebatan umat Kristen saat ini sehingga orang percaya saling menghakimi? Apakah soal makanan? Soal cara beribadah dan bernyanyi? Soal perayaan natal yang megah atau paskah? Makan daging yang dicampur dengan darah? Soal tradisi budaya leluhur atau kain/barang tradisional yang dianggap sinkritisme? Minum anggur atau minuman beralkohol? Pertanyaannya: bagaimana sikap kita dengan mereka yang berbeda pendapat dengan kita? Menurut Rasul Paulus, mereka yang lemah adalah orang yang baru di dalam iman dan sebagai orang percaya baru membutuhkan banyak aturan dan ketentuan. Rasul Paulus menasihatkan kepada mereka yang lemah dan juga yang kuat tentang perbedaan budaya dan kebiasaan, melihat soal makan atau tidak memakan makanan tertentu itu lebih kepada pilihan, bukan persoalan moral. Namun, pandangan dan sikap soal makanan bisa menjadi masalah moral ketika mereka menghakimi orang lain dengan tidak bijak dan benar. Demikian juga soal peringatan hari-hari penting, agar mereka tetap mendasarkan kepada penyembahan kepada Yesus Kristus, Tuhan kita semua.

Apa yang disebut dengan iman yang lemah? Rasul Paulus berbicara tentang iman yang belum dewasa bagaikan tubuh yang otot-ototnya belum dikembangkan dan siap menerima tekanan-tekanan dari luar. Misalnya, jika seseorang yang tadinya penyembah pagan dan menjadi Kristen, dia sangat mengerti dengan jelas bahwa Kristus telah menebus dan menyelamatkannya melalui iman dan allah pagan tidak memiliki kuasa itu. Begitu juga dengan latar belakang kehidupan pagan, dia mungkin akan merasa tergoncang berat jika dia tahu memakan makanan bekas atau sisa penyembahan berhala adalah sesuatu yang salah (band. 1Kor. 8:9-12; 9:22). Jika seseorang Yahudi yang terbiasa mengikuti aturan-aturan hari besar dan suci bagi agama Yahudi, seperti Sabat beristirahat harus di hari Sabtu (Kej. 2:2-3; Kel. 20:11; Yes. 58:13-14; band. Kis. 20:7; 1Kor. 16:2; Gal. 4:10), hari berpuasa, dan kemudian menjadi seorang Kristen, dia sangat tahu bahwa ia diselamatkan karena iman dan bukan karena ketaatannya pada aturan-aturan ritual hari raya tersebut. Demikian juga ketika hari raya lainnya tiba, dia dapat merasa hampa tidak berarti jika dia tidak melakukan sesuatu pada hari raya itu kepada Tuhan.

Hal yang perlu kita lihat, Rasul Paulus merespon kepada mereka yang imannya yang lemah dan kuat dengan penuh kasih. Kedua kelompok itu sebenarnya bertindak sesuai dengan kesadaran dan hati nuraninya, akan tetapi keberatan atau keragu-raguan mereka yang jujur tidak perlu dijadikan sebagai aturan baru di dalam jemaat. Kalau mereka yang ingin makan sesuatu yang menurut orang lain najis, maka tetap saja makan dengan cara yang tidak perlu "bangga" atau pamer apalagi harus berdebat dan berselisih. Lakukanlah semuanya dalam ucapan syukur (1Kor. 10:30, 31; 1Tim. 4:3, 4). Bagi mereka yang mengutamakan aturan, Rasul Paulus berkata: orang percaya yang imannya kuat sebaiknya menekankan untuk tidak membuat banyak aturan dan ketentuan (Kol. 2:16-23). Mungkin beberapa hal pokok penting bagi iman mereka perlu didiskusikan, akan tetapi akhirnya kebanyakan lebih kepada perbedaan pendapat pribadi dan hal itu tidak perlu dikukuhkan menjadi aturan baku jemaat. Prinsip orang percaya dalam bersekutu dan berjemaat haruslah: dalam hal penting, kesatuan; dalam hal tidak penting, kebebasan; dalam segala hal, kasih. Yang penting, mereka melakukan semuanya dengan keyakinan yang penuh, dan berpegang pada prinsip mereka berdiri karena Allah berkuasa atas diri mereka.

 

Ketiga: Hidup bukan untuk diri sendiri (ayat 7-9)

Siapa yang lemah dan siapa yang kuat? Kita umumnya lemah di satu bidang dan kuat di bidang lainnya. Iman kita dapat disebut kuat ketika kita hidup bersama-sama di sebuah kumpulan orang-orang berdosa dan kita tidak terpengaruh ikut ke dalamnya. Kita adalah orang yang lemah ketika kita menghindar dari sebuah kegiatan, tempat, atau pergaulan dengan orang lain demi untuk menjaga kehidupan rohani kita. Memang sangat penting mengenali setiap kelemahan dan kekuatan kita dalam karunia rohani. Bagi iman yang lemah, kita perlu hati-hati dan waspada dan jangan mencobai Allah. Apabila kita ragu, kita boleh bertanya: apakah saya cukup kuat melakukan hal itu tanpa nanti berdosa? Apakah saya mampu untuk mempengaruhi orang lain untuk lebih baik, atau malah saya yang akan terpengaruh oleh mereka? Tapi apabila iman kita lemah dan kita "ingin menonjolkan diri", maka sebenarnya kita adalah orang yang benar-benar bodoh. Sebaliknya, bagi imannya yang kuat, kita tidak perlu takut akan rusak oleh dunia; dan kita lebih baik ikut bergabung melayani Tuhan. Justru apabila kita sebenarnya kuat namun kita menyembunyikan dan mengabaikannya, maka kita sebenarnya tidak melakukan yang diperintahkan Kristus dilakukan di dunia ini.

Kita hidup di dunia ini bukan sebagai kebetulan, apalagi mengganggap sebuah "kecelakaan". Allah melalui Yesus memiliki rencana bagi setiap individu di tengah-tengah seluruh ciptaan-Nya. Memang seringkali manusia mengabaikan hal itu sehingga melihat hidup itu hanya kebetulan, sambil lewat, "dijalani saja", tanpa berusaha untuk mencari dan memahami rencana terbaik Tuhan dalam dirinya. Setiap orang dalam dirinya ada potensi berkat yang bukan hanya untuk dia sendiri, tetapi juga untuk orang lain meski kadang dengan keterbatasan (band. Yoh. 9:3 dab tentang anak yang lahir buta). Apalagi bagi mereka yang sehat fisik dan jasmani terutama yang diberi karunia rohani khusus termasuk kecerdasan, maka hidupnya pasti penuh dengan potensi berkat yang siap dibagikan kepada orang lain, sesuai dengan rencana Tuhan. Kita sangat mudah memahami bahwa kita hidup bukan untuk diri sendiri saja. Segala "kelebihan" yang kita miliki pasti dipersiapkan dan diperuntukkan untuk menutup "kekurangan" orang lain (2Kor. 8:13-15). Sama halnya, kekurangan diri kita pasti bisa ditutup oleh kelebihan orang lain, sepanjang kita mengakui dan bersedia untuk kerjasama bersinergi.

Dengan demikian, kita dapat sebutkan bahwa penebusan dan penyelamatan ke dalam kerajaan-Nya adalah dalam rencana untuk kemuliaan Tuhan semata. Dengan ditebus dan diselamatkan maka sebenarnya kita sudah menjadi milik Tuhan sebagai Penebus. Kita ditebus dan dibebaskan dari budak dosa dan tuan kita yang lama yakni iblis dan kita masuk dalam kerajaan baru yang damai sejahtera dan penuh kemuliaan. Dengan ditebus maka kita juga diangkat menjadi anak-anak-Nya yang akan ikut mewarisi bagian dari Kerajaan Allah (Yoh. 1:12). Memang dalam hal ini, kita diuji, apakah kasih penyelamatan itu kita sia-siakan dan hidup kita kembali kepada kehidupan yang lama, atau siap dipakai memenuhi panggilan dan rencana Tuhan masuk ke dalam pelayanan? Ini bisa terbagi tiga denga gradasinya, sebagian orang mungkin akan kembali terjerat godaan Iblis, sebagian lagi tetap berusaha setia tetapi tidak terpanggil untuk masuk dalam pelayanan, dan sebagian tetap setia dan masuk dalam pelayanan. Semua itu kelak kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan setelah kita mati, sebab diri kita telah menjadi milik-Nya, maka hidup dan mati kita adalah menjadi milik-Nya.

Keempat: Janganlah menghakimi dan menghina saudaramu (ayat 10-12)

Firman Tuhan bertanya ke dalam lubuk hati kita terdalam: mengapa kita (perlu) menghakimi? Mengapa kita sampai menghina mereka yang imannya kita anggap lemah? Apa tujuan semua itu? Memang firman Tuhan memberi peluang "penghakiman" dalam gereja, akan tetapi mesti sesuai dengan prinsip Alkitab (Mat. 18:15-20). Tuhan Yesus mengatakan apabila seorang jemaat kita anggap melakukan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, maka ada tahapan-tahapan "penghakiman" yang dilakukan, yakni tahapan:

 

  1. Berbicara empat mata;
  2. Berbicara dengan membawa orang lain sebagai saksi;
  3. Membawa kepada sidang jemaat;
  4. Mengeluarkan dari keanggotaan dan dianggap tidak mengenal Allah di dalam Tuhan Yesus (sebaiknya melalui proses panjang didahului dengan mendoakan dan mengingatkan dampak bila tetap berbeda pendapat).

Dengan demikian motivasi dan tujuan kita melakukan penilaian dan memberi nasihat (istilah yang lunak dari penghakiman) adalah bertujuan baik untuk kebaikan orang tersebut, bukan untuk memperlihatkan kehebatan dan kelebihan kerohanian kita. Dalam hal ini tidak ada peluang sedikitpun dari Alkitab untuk kita boleh menghina dan merendahkan (Luk. 18:9).

Kita tidak perlu takut dan menghindar dari proses yang dinyatakan dalam Alkitab, apabila ada "tindakan" seseorang yang menjadi pergunjingan dan perdebatan. Kita juga tidak perlu tenggang rasa sebab itu adalah kasih yang berpura-pura dan malah menjerumuskan. Meski kita masuk dalam penilaian dan "penghakiman" gerejawi, kita bisa lolos dan beradu argumen dan keahlian, namun kita tetap akan menghadapi pengadilan Allah. Tak seorang pun akan bisa menghindar dari proses itu dan semua orang bertekuk lutut. Allah mencatat, mengingat, menimbang, memperhatikan, menetapkan dan memutuskan segalanya dengan adil dan benar. Tidak perlu ada saksi-saksi sebab Allah adalah Maha Kuasa. Allah tidak membutuhkan pandangan dan penilaian manusia yang subjektif serta sering terkotori oleh dosa. Setiap orang bertanggungjawab pada Kristus secara langsung, bukan kepada orang lain atau kepada gereja. Ketika kita berdiri di hadapan Yesus dalam pengadilan akhir zaman, kita juga tidak diperlukan mengurusi atau memberitahukan hal yang dilakukan oleh orang lain, semuanya hanya tentang diri kita sendiri (2Kor. 5:10).

Akan tetapi gereja tetap perlu bersikap tidak kompromistis terhadap kelakuan yang jelas-jelas dituliskan dalam Alkitab, seperti perzinahan, homoseksual, pembunuhan, pencurian dan lainnya; terhadap hal-hal yang tidak prinsip gereja tidak perlu membuat aturan atau ketentuan baru di dalam jemaat. Hal yang perlu dihindari dan diajarkan terus menerus yakni agar orang Kristen jangan melakukan penghakiman moral berdasarkan pendapat pribadi, suka atau tidak suka, standar budaya yang bias dan bukan berdasarkan firman Tuhan (Mat. 7:1). Mereka tidak perlu mencari kemenangan atas pendapat dan keunggulan rohani untuk dipuji dan bercongkak, sebab mengutamakan menang dan kalah dalam kehidupan jemaat tidak sesuai dengan sifat kasih. Ketika mereka melakukan hal tersebut, mereka justru memperlihatkan iman yang lemah sebab tidak menyadari bahwa Allah berkuasa dan siap sedia membimbing semua anak-anak-Nya. Kita saling menerima apa adanya. Setiap orang perlu menjaga hubungan yang baik dan penuh kasih dengan tetap berprinsip hanya ada satu Hakim yang adil dan benar dan memberikan ganjaran yakni Tuhan Yesus Kristus. Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak dan kewenangan menghakimi manusia.

 

Penutup

Dari bacaan dan uraian di atas kita mengetahui bahwa Allah memberikan dan membiarkan perbedaan dalam kehidupan orang percaya sebagai sumber kekayaan hikmat dari Allah. Kita yang merasa kuat dan berdiri teguh, harus dapat menerima perbedaan terhadap yang kita anggap lemah. Semua hal yang kita terima dan berikan dalam kehidupan ini, bagaimanapun juga, berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan semata untuk kemuliaan-Nya. Kita ditebus dan diselamatkan dari kematian kekal oleh Tuhan Yesus, berarti kita telah menjadi milik-Nya. Kita hidup bagi Tuhan dan kita mati pun bagi Tuhan. Hidup dan mati kita dipersembahkan kepada Tuhan. Kita tidak dapat hidup untuk diri sendiri, sebab pemberian berkat dan karunia rohani dari Allah itu harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Oleh karenanya, jangan menghakimi apalagi menghina sesama saudara sebab kita juga akan dihakimi. Perintah nas ini adalah agar kita menerima perbedaan dengan prinsip dasar Kekristenan, yaitu dalam hal penting, kesatuan; dalam hal tidak penting, kebebasan; dan dalam segala hal, kasih.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 13 September 2026

Kabar dari Bukit

 MENANG MESKI TERSAKITI (Kej. 50:15-21)

 ”Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan’ (Kej. 50:20a)

Selamat pagi dan salam kasih....

Tentu berat rasanya diperlakukan tidak adil oleh orang lain, seperti dihina, direndahkan, ditipu atau perlakuan buruk lainnya. Hati rasanya hancur, terlebih jika tidak ada kemampuan dan kekuatan untuk menyatakan hal yang benar atau meluruskannya. Situasi terjepit atau dilematis. Kita pengikut Kristus diajar tidak boleh mendendam atau membalaskan agar hati seolah bisa terhibur. Juga tidak menjadi kepahitan.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 50:15-21; nas tentang sikap Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya setelah mereka membuang dan menjual dirinya sebagai budak; tetapi Tuhan memperlihatkan kebaikan kepada Yusuf dan menjadi pembesar di negeri Mesir.

 

Ketika kekeringan terjadi di Israel, sepuluh bersaudara anak-anak Yakub sedang berada di Mesir untuk membeli gandum. Yusuf terlebih dahulu mengenali mereka, lantas mengujinya. Mereka ketakutan. Ternyata mereka telah berubah/bertobat. Hal ini membuat hati Yusuf cair, apalagi adiknya Benyamin yang satu ibu dan Yakub ayahnya ternyata sehat-sehat.

 

Pesan pertama nas ini adalah rasa bersalahlah yang menimbulkan ketakutan. Jika kita bersikap benar dan baik dalam penyampaian, maka tidak berdasar timbul rasa takut. Oleh karena itu penting dalam menjalani hidup, hindarilah berbuat salah dan berusahalah bersikap baik. Bila khilaf atau tidak sengaja, tidak ada salahnya meminta maaf.

 

Pesan kedua, bila kita berada pada posisi benar dan kita tahu orang lain yang bersalah, tidak perlu bersikap unggul dan menunjukan mau membalas. Sikap Yusuf pantas diteladani dengan mengatakan kepada saudara-saudaranya: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?” (ay. 19). Yusuf tahu, pembalasan dan penghakiman adalah milik Allah (Rm. 12:19). Bila pun itu menyangkut keadilan publik, biarlah hukum negara yang mengatur dan menetapkannya (Rm. 13:1, 5-7; 1Pet. 2:13-14).

 

Manusia kadang merencanakan hal jahat, tapi Allah memiliki kedaulatan dan bekerja melampaui niat jahat. Bila ada yang melakukannya, merekalah yang bertanggung jawab atas kesalahannya dengan segala dampaknya. Namun kasih Allah melampaui segala niat dan perbuatan jahat manusia.

 

Pesan ketiga, menghadapi rencana atau perbuatan jahat, kita dapat bersikap bijak dengan memberi nasihat, seperti Yusuf melakukannya dengan berkata: "Memang kamu telah merencanakannya yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencakan demi kebaikan" (ay. 20). Manusia perlu belajar dari pengalaman, agar tidak tersandung dua kali.

 

Pesan keempat, balaslah kejahatan dengan kebaikan. Yusuf memberi yang terbaik dengan berkata: Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka. Ini sama dengan pesan Tuhan Yesus kepada kita: “Janganlah dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Rm. 12:21).

 

Memang mungkin terjadi situasi berbeda dengan Yusuf pada diri kita. Yusuf akhirnya sukses dan berhasil. Bagaimana jika kita tetap terpuruk akibat perbuatan orang lain? Penting mengakui kita terdampak. Tidak perlu memaksakan diri mengatakan semua baik-baik saja. Kadang, berbeda antara mengampuni dan merasa tidak tersakiti. Jangan menunggu pihak lain mohon maaf. Sadari, perbuatannya sejatinya tidak menentukan siapa diri kita. Yang terbaik kita lakukan adalah berdoa: Tuhan, saya tidak tahu bagaimana Engkau akan menyelesaikan ini. Saya berserah dan biarlah Engkau menolong membebaskanku dari semua ini.

 

Apakah kita siap? Orang percaya pasti menjawab SIAP....

 

Selamat beribadah dan bersekutu.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah (2) Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026

Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta – 13 September 2026 – Opsi 2

  MENGAMPUNI 70X7 (Mat. 18:21-35)

  "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat. 18:35).

 Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 18:21-35, berbicara tentang pengampunan. Kisahnya tentang pertanyaan Rasul Petrus, “berapa kali harus mengampuni saudara” (yang berbuat dosa)? Yesus menjawab dengan perumpamaan tentang raja yang membuat perhitungan kepada hamba-hambanya. Ternyata ada hamba yang berhutang 10.000 talenta. Atas permohonannya, raja berbelas kasihan dan mengampuninya, tidak tega sampai hamba itu harus menjual anak istrinya untuk pelunasan.

Tetapi ketika hamba itu mendapati ada orang lain yang berhutang 100 dinar kepadanya dan belum bisa membayar, ia justru mencekik orang itu dan memasukkannya ke penjara. Maka marahlah raja tadi yang sudah mengampuni. Ia memanggil hamba tersebut untuk diserahkan kepada algojo-algojo dipukuli sampai ia melunasinya.

Ada tiga pesan dalam nas ini bagi kita. Pertama, para Rabi Yahudi sesuai kitab Perjanjian Lama mengajarkan pengampunan hanya diberikan tiga kali. “Karena tiga perbuatan jahat Damsyik, bahkan empat... (Amos 1:3, 6, 9 dst; Ayb. 33:29-30). Artinya jika orang lain berdosa, sampai tiga kali boleh diampuni, tetapi keempatnya jangan dibiarkan saja. Tetapi Yesus Kristus berkata kepada kita, orang Kristen mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali. Itu identik dengan tidak terbatas! Kesabaran yang panjang, tidak ada ujungnya. Dan, itulah (istimewanya) Kekristenan!!!

Hal kedua, to forgive (mengampuni) itu bisalah, tetapi bagaimana dengan to forget (melupakan)? Ya, memang, susah melupakan. Tim Lahaye dalam bukunya Anger is a Choice jelas-jelas mengatakan, “adalah kebohongan bila seseorang mudah melupakan rasa sakit yang dialaminya atas perbuatan orang lain.” Tetapi ia kemudian menjelaskan berdasarkan Yer. 31:34, mengampuni dan melupakan bukan berarti hilang dari ingatan Tuhan. Pesan pentingnya, agar kita tidak melakukan pembalasan atas perbuatan jahat orang lain. Jika kita melakukannya, maka kita sebenarnya jauh lebih jahat! “Pembalasan itu adalah hak-Ku,” kata firman Tuhan (Rm. 12:19).

Tim Lahaye kemudian mengatakan, itulah pengorbanan Kristiani, harga yang harus ditebus oleh orang percaya. Kita harus mampu mengendalikan pikiran (sisi otak), kemauan (sisi tindakan) dan emosi (sisi perasaaan). Jelas, sebuah perjuangan yang tidak mudah. Perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus sangat kontras, yakni pengampunan hutang 1.000 talenta kepada raja berbanding 100 dinar, atau 1:500.000 menurut William Barclay. Ini sama dengan pengampunan yang diberikan kepada kita atas bebas dari hukuman di neraka dan memperoleh keselamatan kekal, dibanding dengan rasa puas membalaskan kejahatan orang lain kepada kita. Tidak seimbang.

Hal ketiga, kita perlu memahami perbedaan antara hukum gereja dan hukum negara. Masalah pencurian berat, penganiayaan, perceraian, dan lainnya memiliki sisi dan wilayah masing-masing. Ini perlu berhikmat membedakannya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hak kaisar dan hak Tuhan jelas berbeda (Kis. 25:8; band. Mat. 22:21). Pembelajaran untuk keadilan dan ketertiban kadang diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Sama seperti adanya disiplin gereja, yang penting tujuannya adalah pertobatan dan menjaga "kekudusan jemaat", dengan tetap semangat megampuni; bukan untuk menjatuhkan, atau senang melihat orang lain susah.

Tentu kisah ini juga mengajarkan sisi lain, agar kita jangan ceroboh berulang kali memberi peluang orang lain berbuat kesalahan dan berdosa. “Berbahagialah orang yang murah hatinya”, kata Yesus (Mat. 5:7). Itu betul. Tetapi pepatah juga mengatakan, “hanya keledai yang jatuh dua kali dalam lubang yang sama.” Jadi jangan lalai. Tetapi jika itu terjadi, tetaplah mengampuni. Seperti kata William Arthur Ward, kita akan sama seperti binatang ketika menyakiti atau membunuh, kita sama seperti manusia lainnya ketika menghakimi, tetapi kita akan sama seperti Tuhan ketika mengampuni. Semoga Roh Kudus terus menguasai hati dan pikiran kita untuk mudah mengampuni dalam kasih.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 36 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14530859
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
193
3588
6848
14491759
100516
229218
14530859

IP Anda: 216.73.216.54
2026-09-22 00:59

Login Form