Monday, November 02, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026

 Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026 (Opsi 2)

 

 

BERJALAN BERSAMA TUHAN (Yos. 3:7–17)

 

 ”Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau" (Yos. 3:7)

 

Menurut Derek Prince dalam bukunya Faith to Live By, ada tiga kata dalam bahasa Inggris yang dimulai dengan huruf "f" yang perlu dipahami bedanya: fact, faith, dan feeling (fakta, iman, dan perasaan). Firman Allah adalah fakta dan tidak berubah. Iman adalah sikap terhadap firman Allah sebagai fakta dan mengakuinya. Sementara perasaan, sesuatu yang dapat berubah. Namun jika iman berdiri teguh, perasaan akan seirama dengan fakta. Sebaliknya, jika dimulai dari perasaan tanpa fakta dan iman, seringkali akan berakhir dengan masalah.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah "Yos. 3:7–17". Nas ini menceritakan persiapan Yosua memasuki Tanah Kanaan. Janji Tuhan yang diberikan kepada Musa juga diberikan kepada Yosua sebagaimana ayat pembuka di atas.

 

Tuhan selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selain Yosua sebelumnya berpengalaman sebagai pembantu Musa, ia juga diuji. Ada informasi bahwa orang Kanaan, Het, suku Hewi, Feris, Girgasi, Amori, dan Yebus akan menghadang. Mereka adalah bangsa yang kuat dan berkubu (ay. 10; Bil. 13:28–33). Namun melalui hikmat dan kecerdikan Yosua, dengan mengirim pengintai yang dibantu perempuan sundal Rahab, akhirnya mereka mengetahui situasi tanah yang akan dimasuki (Yos. 2:1–24).

 

Setelah lolos ujian, Allah memberikan dukungan penuh melalui kuasa mukjizat-Nya untuk membuat musuh gentar. Informasi bahwa mereka melewati Laut Teberau yang terbelah sudah sampai ke telinga musuh (Yos. 2:10). Kini, Sungai Yordan menghadang di depan mereka dan airnya sedang meluap (ay. 1, 15).

 

Yosua kemudian menempatkan Tabut Perjanjian di depan sebagai simbol pimpinan Allah. “Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu – sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai – maka berhentilah air itu mengalir. Lalu menyeberanglah bangsa itu” (ay. 15–16). Terbukti, mukjizat yang sama diberikan kepada Yosua bersama umat saat menyeberangi Sungai Yordan.

 

Menjalani kehidupan di dunia tentu ada hambatan atau pergumulan, kadang menakutkan. Semua ini perlu disikapi seolah menghadapi misteri dan tantangan iman. Akal manusia sangat terbatas untuk memahaminya. Oleh karena itu, jangan mudah takut apalagi menyerah. Iman perlu teguh untuk mengalahkan perasaan sehingga fakta kuasa Allah menjadi nyata, sebagaimana dijelaskan Derek Prince.

 

Tabut Perjanjian berisi firman Allah (Kel. 25:16). Oleh karena itu, kita diajak untuk rajin memahami firman-Nya dengan setia. Kekudusan pun harus selalu dijaga dengan menjauhi perbuatan dosa, sebagaimana Allah memerintahkan Yosua untuk menyampaikan kepada umat Israel, “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan ajaib di antara kamu” (ay. 5).

 

Langkah iman diperlukan ketika menghadapi tantangan. Firman Tuhan adalah petunjuk. Mungkin tidak masuk akal atau terlalu berat, tetapi tetaplah percaya. Allah kita tetap sama: kepada Musa, Yosua, dan kepada kita yang percaya, kuasa Allah akan bekerja. Meski tidak selalu dalam bentuk mukjizat, berjalan bersama Tuhan membuat penyertaan-Nya selalu nyata sesuai janji-Nya: “Aku tidak akan meninggalkan engkau. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” (Yos. 1:6–8). Puji Tuhan atas kuasa dan kebesaran-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Khotbah (3) Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026

 Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026 (Opsi 3)

 

 AJARAN DAN PENGAJAR (Mat. 23:1-12)

 

 "Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat. 23:12)

 

 

Firman Tuhan bagi kita Mat. 23:1-12, berbicara tentang Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam pasal sebelumnya kita telah diberi tahu, Yesus beberapa kali mereka cobai dengan pertanyaan menjebak. Maka Ia pun berkata kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “... turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ayat 3). Kemudian dalam pasal ini, tujuh kali Tuhan Yesus mengecam mereka dengan mengatakan: “Celakahlah kamu....”

 

 

Tuhan Yesus mencela karena sifat kesombongan dan kepalsuan mereka. Ada tiga celaan sesuai ayat 4-10: Pertama, suka membuat beban-beban berat, tapi meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Contohnya adalah aturan-aturan rinci termasuk persembahan persepuluhan dari halaman rumah (ayat 23); kedua, mereka melakukan hanya dimaksudkan supaya dilihat orang, ingin dipuji, pamer dengan memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; ketiga, suka duduk di tempat terhormat dan dipanggil Rabi, pemimpin atau bapa.

 

 

Nas ini memiliki dua sasaran, yakni kepada para hamba Tuhan dan juga bagi orang percaya. Hamba Tuhan atau pribadi yang sering melayankan firman/renungan di mimbar termasuk memposting di WA Group atau Facebook, diminta untuk selalu menjaga wibawa dan kuasa yang diberikan Tuhan kepada kita. Perlu ada integritas, keutuhan, yakni satunya kata dan perbuatan. Alkitab mengingatkan: “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat” (Yak. 3:1). Boleh berbangga, tapi tahu resikonya.

 

 

Untuk para pendeta yang diberi kuasa melakukan tumpang tangan dan mengatakan: “Atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus...,” perlu menyadari doa tumpang tangan memiliki makna yang dalam secara teologis (Kis. 8:15-17; 1Tim. 5:22). Hamba Tuhan dalam hal ini bertindak atas nama Tuhan kita. Janganlah memakai kuasa yang diberikan, tidak sejalan dengan panggilan dan tujuan pelayanan yakni untuk kemuliaan Tuhan. Dunia pelayanan bukanlah panggung untuk menonjolkan diri dan mendapatkan pujian, melainkan dengan rendah hati terus menjaga nilai-nilai luhur Ilahi, agar dihayati semua orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Sasaran kedua bagi setiap orang percaya, yakni melihat ajaran yang diberikan dengan tidak terlalu melihat pribadi yang menyampaikannya. Tuhan Yesus sendiri tetap mengakui kedudukan kaum Farisi dan ahli Taurat. Berharap pada keteladanan mutlak dan kesempurnaan hamba Tuhan, jelas tidak mungkin. Jadi jangan sampai subjektifitas pribadi membuat kita berprasangka, dan akhirnya menghakimi yang tidak diinginkan oleh Tuhan.

 

 

Jangan juga terjebak dengan perasaan unggul denominasinya, gerejanya yang terbaik. Kita bisa masuk ke dalam dua dosa: memandang rendah nasihat/firman yang bagus, dan menghakimi yang menyampaikannya. Jemaat juga perlu menjaga doa tumpang tangan yang diterima sepanjang hidupnya, mulai dari saat dibaptis, sidi, menikah, masuk dalam pelayanan, doa berkat tiap hari minggu, atau liturgi peneguhan lainnya.

 

Nas Minggu ini mengajarkan kita hal yang paling pokok dalam kehidupan, tidak hanya berlaku dalam masa penghakiman nanti tetapi juga di masa kini: jika ingin lebih besar dan lebih hebat di antara orang lain, hendaklah siap berkorban dan siap menjadi pelayan. “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (ayat 12).

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

  BERBICARA BUKAN UNTUK MENYUKAKAN MANUSIA (1Tes. 2:1-8)

 Bacaan lainnya: Mat 22:34-46; Ul. 34:1-12; atau Im. 19:1-2, 15-18  atau Mzm. 90:1-6, 13-17 atau Mzm. 1

Pendahuluan

Bagaimana kita seharusnya melayani Tuhan? Rasul Paulus telah memberikan gambaran dan keteladanan melalui perjalanan hidupnya. Melayani membutuhkan persiapan terutama kesadaran paling pokok yakni kita wajib melayani sebab Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita dan melayakkan kita untuk melayani-Nya. Pelayanan tidak hanya membutuhkan keahlian (teknis praktis), tetapi juga keteguhan, keberanian dan motivasi yang baik dan benar sehingga yang kita lakukan bukan untuk menyenangkan manusia (diri sendiri, keluarga atau pihak tertentu). Kesalahan dalam motivasi dapat membuat semua pelayanan hampa tidak berarti dan bahkan gereja dapat dirugikan. Melalui bacaan nas minggu ini kita diberikan pengajaran tentang keteladanan pelayanan Rasul Paulus dengan pokok-pokok sebagai berikut:

Pertama: Nasihat yang murni dan bukan tipu daya (ayat 1-2)

Perjalanan penginjilan Rasul Paulus merupakan mukjizat jalan yang Tuhan berikan sehingga Kekristenan dapat meluas hingga ke seluruh pelosok bumi saat ini. Tidak ada yang membantah bahwa penginjilan oleh Rasul Paulus (dan juga para rasul dan penginjil lainnya sebelum dan sesudahnya) kepada umat yang bukan Yahudi, merupakan berkat anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita semua. Kita bisa belajar bagaimana Rasul Paulus memulai penginjilannya ke benua Eropa pada perjalanan penginjilan keduanya (Kis. 16:36-18:22), setelah Allah menuntun-Nya melalui suara panggilan untuk menuju ke Makadonia. Dalam semua perjalanan penginjilannya hingga terakhir sebagai tawanan ke Roma, banyak rintangan dan halangan yang diterima Rasul Paulus. Jemaat mengetahui pengalamannya dihina dan dianiaya di Filipi sebelum ia berkunjung ke Tesalonika (Kis. 16:11-17:1). Namun dengan semangat siap berkorban dan tidak mengenal menyerah, disertai pertolongan dan kekuatan Roh Kudus, seluruh penderitaan yang dialaminya tidak menyurutkan hati Paulus untuk terus mengabarkan Injil. Upaya itulah yang membuat kekristenan semakin meluas di seluruh Eropa dan kemudian melebar ke seluruh dunia.

Demikian juga dengan kita. Apabila Tuhan menginginkan kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia akan memberi kita kekuatan dan keperluan, termasuk keberanian dalam mengabarkan kabar baik dengan keteguhan, meski kita tahu akan ada tantangan dan rintangan yang muncul (band. Yer. 1:6-9; Flp. 1:30). Keteguhan tidak diartikan sebagai respon impulsif yang sembrono; Keteguhan memerlukan keberanian untuk menekan ketakutan dan melakukan yang baik dan benar. Kini pertanyaannya: Bagaimana caranya agar kita lebih teguh dan berani? Sebagaimana Rasul Paulus, kita harus lebih banyak menerima kuasa Roh Kudus, lebih banyak memberi kesempatan mengenal Tuhan Yesus, dan terjun langsung memulai tindakan dalam kesempatan yang lebih kecil dan mudah dahulu. Tiada perjalanan yang jauh dan panjang yang tidak dimulai langkah pertama. Semua memiliki tahapan dan latihan, seperti bersekolah harus lewat SD sebelum sampai ke puncak S3. Melangkah pertama masuk dalam pelayanan yang nyata akan mendorong kita untuk terus memberikan yang terbaik, sepanjang kita menyerahkan semua pelayanan itu bagi kemuliaan Tuhan semata.

Dengan kita melakukan semua di dalam Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya, khususnya dalam memberitakan Tuhan Yesus baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui pemberitaan firman atau perbuatan kasih dalam nama Tuhan Yesus, maka yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia. Kuncinya agar setiap tindakan harus dilakukan dengan keyakinan yang teguh, keberanian yang didasarkan pada semangat untuk belajar dan melayani lebih baik, dan motivasi yang benar tentang tujuan pelayanan. Pelayanan kita bukan melihat kebesaran dan hebatnya hal yang kita lakukan, melainkan didasari kesadaran bahwa Tuhan telah memberikan yang lebih banyak dan lebih baik kepada kita sebelumnya. Dengan kesadaran itu, maka niscaya pelayanan kita amat berharga di hadapan Tuhan.

Kedua: Berbicara bukan untuk menyukakan manusia (ayat 3-4a)

Rasul Paulus perlu menegaskan ulang tentang pengajaran dan nasihat yang pernah diberikannya, sebab waktunya di Tesalonika sangat singkat. Hal yang diajarkannya bukanlah tentang kesesatan, sebagai respon atas tuduhan para pemimpin Yahudi yang menghasut banyak orang, menyebut motifnya tidak benar sehingga ajaran yang disampaikan juga tidak benar (Kis. 17:5; 1Kor. 9:1-2). Tujuan pemimpin Yahudi adalah agar mereka meragukan Paulus dan menjadi goyah. Memang pada masa itu ada filsuf yang bertualang dari satu kota ke kota lain dengan mengajar, seolah-olah guru yang hebat tapi motivasinya untuk mendapatkan penghasilan dan keuntungan. Mereka hidup dari pemberian orang setelah mengajar. Tapi tujuan Rasul Paulus jelas tidak untuk mencari uang dan kekayaan, atau ketenaran dengan membagikan Injil. Dia memperlihatkan ketulusan motif dengan menunjukkan dia bersama Silas telah cukup menderita untuk mengabarkan Injil di Filipi. Mereka juga bekerja keras mencari nafkah karena tidak ingin menggantungkan hidup pada orang lain (hal ini akan dibahas di nas lain minggu depan). Ini merupakan bukti bahwa mereka juga siap berkorban demi berbagi keselamatan melalui kabar baik di dalam Injil.

Banyak orang terlibat dalam pelayanan dengan alasan yang berbeda dan bermacam-macam, meski kita akui tidak semua alasan yang tulus dan murni. Ketika motif buruk mereka terlihat, maka pekerjaan Kristus menjadi tercoreng dan gereja menjadi korban. Memang kalau dilihat, tidak seorang pun layak untuk memberitakan firman, sebab kita adalah orang berdosa. Akan tetapi melalui kasih karunianya, kita kemudian dilayakkan untuk menjadi hamba pelayan-Nya. Dalam suratnya ke jemaat Filipi, disebutkan tentang motivasi orang yang berbagai ragam dalam memberitakan Injil termasuk karena dengki dan perselisihan, atau memberitakan untuk maksud kepentingan sendiri yang tidak ikhlas. Tetapi banyak juga maksud baik seperti membagikan kasih. Rasul Paulus menutup dengan mengatakan, “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita” (Flp. 1:15-18). Inilah yang menjadi alasan mengapa semua harus bersukacita sepanjang firman diberitakan.

Memang ketika kita dilayakkan, kita perlu menjaga agar kelayakan tersebut jangan dipergunakan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan Tuhan yang menugaskan dan melayakkan. Kelayakan kita membutuhkan ujian sebagaimana Rasul Paulus mengalaminya. Ini juga mungkin yang akan kita hadapi. Ujian bisa datang dari diri sendiri atau godaan iblis. Namun Allah tidak pernah mencobai manusia (Yak. 1:13). Ia mengetahui kesetiaan seseorang meski orang tersebut pernah jatuh seperti yang terjadi pada Petrus. Kini pertanyaannya kembali kepada kita: ketika kita terlibat dalam pelayanan, apa motivasi kita dalam melayani? Seberapa besar tingkat keberanian kita dalam menghadapi risiko penderitaan yang mungkin timbul karena pelayanan itu? Keteguhan dan keberanian tidak hanya dalam sisi materi, tetapi juga dalam kesiapan untuk menderita baik dalam segi jasmani maupun kejiwaan, dalam arti dihina dan dicela. Iblis tidak akan membiarkan kita untuk melakukan pelayanan yang terbaik dan ia akan gencar menggoda dan menjerat kita, meski semua itu ada dalam sepengetahuan dan kendali Allah. Apakah kita akan tunduk pada iblis atau taat pada Allah?

Ketiga: Tidak mencari loba dan pujian (ayat 4b-6)

Di dalam upaya kita untuk mempengaruhi orang lain, kita mungkin diuji atau digoda untuk mengganti posisi kita atau mengubah pesan yang ingin disampaikan; atau menggunakan sanjungan atau pujian yang berlebihan. Rasul Paulus tidak pernah mengubah pesan yang disampaikan agar hal itu lebih dapat diterima, tetapi ia menyesuaikan metodenya kepada para pendengar atau pembacanya. Jadi dalam hal ini pesannya sama, hanya kadang cara penyampaiannya bisa berbeda. Meskipun penyampaian kita harus diubah supaya sesuai dengan situasi tertentu, kebenaran Injil tidak dapat dikompromikan. Apalagi, akan sangat menjijikkan mendengar seseorang menyanjung berlebihan bahkan "menjilat" orang lainnya demi mencapai tujuannya. Sanjungan itu bisa palsu, dan kepalsuan seseorang itu pasti menutupi maksud sebenarnya. Orang Kristen tidak boleh menjadi penjilat. Kita yang memproklamasikan kebenaran Allah memiliki tanggungjawab khusus untuk selalu jujur. Pertanyaannya: apakah kita jujur dan bersikap terbuka terus terang dalam kata-kata atau perbuatan? Atau, apakah kita menceritakan pada orang lain tentang apa yang mereka hanya ingin dengarkan agar kita mendapatkan sesuatu atau pujian?

Ketika Rasul Paulus masih bersama mereka di Tesalonika, ia tidak mau memuji-muji mereka, tidak berharap akan penghargaan, bahkan tidak menjadi beban (ekonomi) bagi mereka (Kis. 20:33; 2Tes. 3:8; 2Kor. 11:9). Meski sebagai penginjil mereka berhak atas hal itu, tetapi mereka tidak memanfaatkannya (band. Gal. 6:6). Rasul Paulus dan Silas benar-benar dengan dorongan yang murni untuk pelayanan dan tidak ada maksud tersembunyi, seperti para filsuf yang sering berkelana mencari penghasilan. Mereka memusatkan perhatiannya pada usaha memperluas pekabaran Injil dan keselamatan kepada jemaat di Tesalonika (Gal. 2:7; 1Tim. 1:11). Ini yang sangat penting. Mereka tidak memilih yang enak didengar saja dan di balik itu ada maksud tersembunyi, udang di balik batu (2Kor. 2:17; 4:2). Memang kadang sulit bagi manusia untuk mengetahui semuanya, sebab manusia juga memiliki kemampuan untuk bermuka ganda bahkan topeng yang berlainan. Namun, Allah mengetahui dan mengujinya sehingga semua dibukakan pada saatnya nanti (1Kor. 4:4).

Orang percaya di Tesalonika hidupnya berubah oleh kuasa Allah, bukan oleh kuasa Rasul Paulus; semua itu dari pesan Kristus yang mereka percayai dan bukan pesan Paulus. Ketika kita menjadi saksi bagi Kristus, fokus kita bukan pada pesan dari diri kita, melainkan pada Pribadi Kristus dan pesan atas hal yang sudah dilakukan-Nya bagi kita orang berdosa. Sebagai orang Kristen dalam pelayanan sejati, kita harus mengarahkan semua kepada Tuhan Yesus dan bukan pada diri sendiri untuk mendapatkan hormat dan pujian atau menyombongkan diri (Yoh. 5:41, 44). Untuk itu pertanyaannya: Apakah kita melakukannya sekedar untuk menyukakan manusia sehingga mengorbankan kebenaran yang hakiki? Rasul Paulus telah memberikan teladan bagi kita sebagai hamba yang dipakai Tuhan, yakni menyadari kasih anugerah yang diterimanya. Ia juga tidak membanggakan diri atas hal yang dilakukannya, melainkan meletakkannya semua bagi kemuliaan Tuhan. Inilah panggilan dan sekaligus tantangan bagi kita, dan mari kita lakukan semua itu bukan untuk menyukakan manusia, tetapi menyukakan Allah sebab kita mengasihi Kristus dan jemaat-Nya (Gal. 1:10).

Keempat: Berkorban dengan membagi hidup (ayat 7-8)

Bagaimana Injil disebarluaskan? Apakah dengan kekerasan dan paksaan? Perjalanan Kekristenan memperlihatkan bagaimana semua dilakukan dengan kasih dan pengampunan. Hal yang dialami para rasul dan penginjil berupa penghinaan dan penganiayaan di awal abad gereja mula-mula dan termasuk orang percaya, tidak dibalaskan dengan kekerasan. Kita tidak pernah mendengar atau membaca perluasan Kerajaan Kristus dilakukan dengan peperangan. Justru yang terjadi adalah banyaknya martir-martir iman sehingga Kekristenan semakin terbukti sebagai agama kasih. Memang dunia lebih banyak memberi apresiasi terhadap kuasa dan ketegasan, meski tidak seorang pun mau untuk dilecehkan. Kelemahlembutan sering kali dipandang sebagai ciri atau sifat pribadi di dalam masyarakat dan bukan sebagai sikap. Kelemahlembutan sebenarnya adalah kasih dalam tindakan – dengan kepedulian, memenuhi kebutuhan orang lain, menyediakan waktu bagi orang lain untuk berbicara, memenuhi kebutuhan rohani, dan kesediaan untuk belajar. Itu sangat penting menjadi ciri dan sikap bagi setiap orang, laki-laki maupun perempuan.

Seorang yang mengasihi orang lain dan mengharapkan keselamatan kekal hanya dapat dilakukan dengan berbagi Tuhan Yesus dan Injil dengannya. Kasih yang mementingkan kebaikan dan penyelamatan sementara dari peristiwa khusus itu bagus, tetapi tidak sebanding artinya bila kita dapat memberikan keselamatan kekal pada orang lain melalui iman kepada Tuhan Yesus. Seorang yang berbagi kasih dan Injil pada dasarnya adalah seorang penginjil. Bagian akhir nas ini mengatakan bahwa Rasul Paulus mengasihi mereka dengan cara yang nyata, yakni berbagi hidupnya dengan jemaat. Rasul Paulus memberikan gambaran pelayanan seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Seorang ibu jelas merawat dan mengasuh dengan kelemahlembutan. Kelemahlembutan adalah bagian dari buah-buah Roh dan penyangkalan diri. Sebagaimana dijelaskan di atas dalam memberi kasih dan kelemahlembutan, tidak ada cara lain yang lebih efektif selain memberi hidup kita kepada orang yang kita kasihi. Seorang ibu yang merawat bayinya pastilah dengan sepenuh hati dan bila perlu rela untuk meninggalkan pekerjaan atau kariernya. Untuk itu, peliharalah sikap lemah lembut dalam berhubungan dengan orang lain.

Penutup

Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran tentang pelayanan Rasul Paulus di jemaat Tesalonika yang sangat singkat. Ia tidak lama tinggal sebab ada perlawanan dari pemimpin Yahudi. Namun ia memelihara hubungan yang baik dengan jemaat dan hatinya terus terpaut pada mereka. Ia menegaskan posisinya sebagai Rasul dan juga sebagai seorang ibu yang merawat bayinya. Hal yang dituduhkan pemimpin Yahudi hanyalah tipuan agar iman mereka goyah. Nasihat yang diberikan Rasul Paulus sungguh murni dari Tuhan dan tidak ada maksud untuk tipu daya, apalagi untuk kepentingan keuntungan. Ia perlu berbicara dengan tegas sebab ia tidak bersedia mengkompromikan kebenaran Tuhan, dan ia tahu tugasnya bukan untuk menyukakan manusia tetapi menyukakan hati Allah. Hinaan dan penganiayaan yang diterimanya di Filipi adalah bukti keteguhan dan keberanian yang diperlihatkannya dan tidak menyurutkan motivasinya untuk berbagi keselamatan melalui Yesus dan Injil. Tuhan telah melayakkan dirinya untuk menjadi penginjil karena kasih karunia pengampunan yang diberikan atas semua dosa-dosa yang dilakukannya. Untuk itu, setiap orang perlu berkorban membagi hidup dengan orang lain, memberi perhatian, berbagi waktu dan kepedulian, sambil terus belajar. Hal terakhir yang ditekankannya adalah perlunya kelemahlembutan dalam penginjilan sebab Allah memberi kasih, dan kasih itu kita juga berikan dengan kelemahlembutan.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 25 Oktober 2026

Kabar dari Bukit

 TIDAK MELIHAT SELURUH HASIL (Ul. 34:1-12)

 ”Berfirmanlah Tuhan kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana" (Ul. 34:4, TB2)

Selamat pagi dan salam kasih.

Sebagai manusia kita ingin melihat hasil pekerjaan hingga berhasil. Mungkin ingin merayakannya mengikuti kepuasan hati. Apalagi jika upaya dan perjalanan yang kita lalui menuju keberhasilan tersebut sangatlah panjang dan menyita energi. Misalnya, kita orang tua telah bekerja keras membesarkan anak, tetapi tidak sempat melihatnya mencapai keberhasilan. Apakah kita akan mengeluh dan kecewa?

Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Ul. 34:1-12. Ini kisah kematian Nabi Musa pada usia 120 tahun. Selama 40 tahun ia memimpin perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia tidak hanya berhasil memenangkan peperangan melawan musuh yang menghadang, tetapi juga menghadapi bebalnya umat yang sering mengeluh dan menduakan Tuhan.

Ketika mendekati Tanah Perjanjian Kanaan, usia Musa sudah 120 tahun, matanya belum kabur, kekuatannya belum hilang, Tuhan membawanya ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga. Lalu Tuhan memperlihatkan kepadanya seluruh negeri Tanah Perjanjian yang begitu luas. Ia berfirman: “Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana” (ay. 1-4).

Waduh....hanya melihat? Sebagai manusia Musa pasti kecewa. Mungkin ia menyesali kesalahan yang diperbuatnya sehingga ia tidak diperkenankan ikut masuk. Alkitab mencatat Musa melakukan kesalahan, yakni di Meriba ketika ia tidak percaya akan perintah Tuhan (Bil. 20:1–13; Ul. 32:48–52). Demikian juga ketika ia melupakan peran Tuhan dalam peristiwa mukjizat dengan menonjolkan perannya dan Harun (Bil. 20:10).

Ada beberapa hal yang kita pelajari dari nas ini. Pertama, rencana Tuhan tidak bergantung pada seorang manusia; tidak terselami jalan-Nya (Rm. 11:33; Yes. 55:8-9). Kedua, sadarilah kita adalah alat dan saluran berkat Tuhan; berarti tidak selalu kita menikmati berkat itu sesuai penghapan kita. Ketiga, akhir hidup tidak berarti menghapus usaha dan nilai pelayanan serta persembahan yang kita berikan. Kita tahu, Musa naik ke sorga dan diperlihatkan kepada para murid Tuhan Yesus (Mat. 17:1-3; Luk. 9:30-31). Keempat, tempat pemakaman tidak memilki arti sorgawi. Alkitab menjelaskan tidak jelas kubur Musa (ay. 6). Namun statusnya sebagai hamba Tuhan merupakan legasi yang berharga di hadapan-Nya. Ada juga pandangan para ahli, jika saja tempat kubur Musa diketahui, maka itu akan menjadi potensi berhala bagi umat Israel yang memandang Musa sebagai nabi terbesar.

Dari nas ini ada teladan yang patut kita ikutin. Pertama, ketaatan itu sangat penting. Mungkin kita meragukan petunjuk Tuhan yang telah ditunjukkan melalui Alkitab dan/atau doa, maka tetaplah ikuti jalan-Nya meski itu tidak masuk akal pikiran manusia. Kedua, perkabungan merupakan hal manusiawi. Kehilangan berarti ada sesuatu yang kita butuhkan (baik langsung atau simbol), dan jika diambil maka wajar kita sedih. Tetapi ada batasnya, umat Yahudi sampai saat ini masih memegang masa 30 hari perkabungan. Ketiga, kita perlu mempersiapkan penerus yang baik. Musa mempersiapkan Yosua dan Caleb meski akhirnya Tuhan memilih Yosua dengan pertimbangan tantangan yang akan dihadapi ke depan (Ul. 3:28; Bil. 27:18-20). Terakhir, kita tidak harus melihat seluruh hasil akhir untuk tetap setia kepada Tuhan yang memegang seluruh perjalanan hidup. Itulah panggilan iman kita.

Selamat beribadah dan bersekutu.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Khotbah (2) Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta – 25 Oktober 2026 (Opsi 2)

  HUKUM KASIH (Mat. 22: 34-46)

  "Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya” (Mat. 22:45)

Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22: 34-46 berbicara dua bagian. Bagian pertama, tentang hukum yang terutama dalam Alkitab, baik PL maupun PB. Barangkali kita pun semua tahu, yakni mengasihi Allah dan manusia. Selengkapnya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 37-39). Dan kemudian ditambahkan, “pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (ayat 40).

Keduanya adalah hukum kasih. Hukum adalah aturan yang tujuannya untuk ketertiban dan keadilan. Yang menyimpang akan kena sanksi supaya kembali tertib. Keadilan berlaku bagi semua, tidak pandang bulu. Semua sama di depan hukum dan di hadapan Tuhan.

Alkitab membuat hubungan ini lebih jelas. "Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya” (2Yoh. 1: 6a). Artinya, jika mengasihi Allah maka turutilah perintah-Nya. Sederhana. Kasih untuk sesama, menurut Alkitab adalah tindakan, “bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3: 18).

Bagian kedua nas minggu ini berbicara tentang hubungan antara Yesus dan Daud. Tentu ada alasan, mengapa para ahli teologi menjadikan dua nas ini dalam satu bagian di leksionari. Mengasihi Tuhan akan terjadi, jika kita mengenal Dia dengan benar. Ada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang diutus Bapa sebagai jalan keselamatan umat manusia, dan harus menjalani sengsara dan penderitaan. Jika ini kita akui dan hayati, maka tidak sulit untuk mengasihi-Nya.

Kasih terhadap sesama dijabarkan Alkitab dengan enam belas ciri, mulai dari kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan lainnya (selengkapnya di 1Kor. 13). Dalam Matius pasal 22, Tuhan Yesus diperlihatkan sabar menghadapi orang Farisi, Saduki maupun Herodian. Itu teladan yang perlu kita ikuti.

Mari kita terus mengasihi Tuhan dengan lebih mengenal Dia, melalui doa dan pembacaan serta mendengar firman-Nya. Mari kita kejar untuk mendapatkannya (1Kor. 14:1). Dan dengan mengenal Dia, maka tidak sulit untuk kita lebih mengasihi sesama, yang bukan omongan kosong, seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1Kor. 13:1-3). Kasih yang nyata dan berdampak. Itulah kehendak-Nya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 149 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14798343
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1304
12710
22380
14739022
22380
196256
14798343

IP Anda: 216.73.216.220
2026-11-03 05:52

Login Form