2026
2026
Khotbah (2) Minggu II Paskah 2026 - 12 April 2026
Khotbah Minggu II Paskah, 12 April 2026 (Opsi 2)
YA TUHANKU ALLAHKU (Yoh. 20:19-31)
"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ayat 29).
Firman Tuhan di Minggu II Paskah ini adalah Yoh. 20:19-31, berbicara tentang kehadiran Yesus di tengah murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Mereka yang masih ketakutan terhadap pengejaran orang Yahudi, tiba-tiba didatangi Yesus dengan sapaan menenangkan: "Damai sejahtera bagi kamu.... Terimalah Roh Kudus."
Kehadiran Tuhan selalu menyenangkan dan menenangkan. Ketakutan hilang, sukacita merebak. Persoalan dengan sesama berupa kekecewaan dan kepahitan yang sering disimpan, Yesus lembut berpesan: ampunilah (ayat 23). Damai sejahteralah.
Tetapi sering manusia tidak taat atau tidak percaya. Atau ingin hasil atau bukti dulu. Seperti Tomas dalam nas ini, menuntut ingin melihat lobang paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Mungkin dia terlalu kecewa, mengapa Yesus mati? Ia pun menyendiri sehingga ketika Yesus mendatangi murid-murid, ia tidak ada.
Yesus sabar dan setia. Menerima semua apa adanya. Dia menyapa, memberi kesempatan dan bukti. Ketika bertemu, Ia berkata kepada Tomas: ".. jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Respon Tomas sigap, sujud dengan pengakuan iman: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kekecewaan ataupun keangkuhan Tomas sirna. Ketakutan para murid juga lenyap, berganti sukacita.
Dalam kehidupan, kadang harapan dan keinginan belum semua terpenuhi. Doa seolah mengawang belum terkabul. Egoisme kita pun menyeruak. Kekecewaan muncul. Ingin bukti cepat bahwa Allah mendengar dan penolong. Kita lupa, Allah Mahatahu dan memberi yang terbaik bagi kita. Maka jangan menyendiri menjauhi Tuhan. Jangan juga sok pintar mau ngatur. Berefleksi dan berdoa, sampai bisa berkata: Ya, Tuhanku dan Allahku!
Itulah sikap terbaik kita anak-anak-Nya. Dia telah bangkit dan Roh Kudus diberikan sebagai jaminan kasih dan kuasaNya bagi kita (ayat 22). Semua itu lebih dari cukup. Yang terbaik pasti kan tiba. "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Haleluya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu II Paskah 2026 - 12 April 2026
Khotbah Minggu II Paskah, 12 April 2026 (Opsi 3)
KEBANGKITAN DAN JALAN BARU (Kis. 2:14a, 22–32)
"Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan–Mu" (Kis. 2:28)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kis. 2:14a, 22–32, yaitu khotbah Petrus setelah Tuhan Yesus bangkit dari kubur. Kebangkitan-Nya memberi semangat baru bagi para murid untuk memberitakan-Nya. Murid yang sebelumnya lemah kini seolah menerima kuasa baru, dan semua itu dimulai melalui Petrus di kota Yerusalem.
Dalam khotbahnya, Petrus menjelaskan bahwa Yesus, yang telah dinyatakan Allah kepada orang Israel melalui kekuatan, mukjizat, dan tanda–tanda yang dilakukan-Nya, justru disalibkan dan dibunuh oleh mereka (ay. 22–23). Namun Petrus mengutip Mazmur Daud (Mzm. 16:8–11) untuk menegaskan bahwa salib bukan kutuk, melainkan jalan yang memang harus ditempuh. Allah Bapa “tidak membiarkan Orang Kudus–Mu melihat kebinasaan” (ay. 27). Ini menjadi bukti bahwa orang percaya pun akan dibangkitkan. Haleluya.
Pendeta William Barclay, penulis seri Pemahaman Alkitab Setiap Hari, menjelaskan lima hal yang terkandung dalam nas minggu ini:
- Salib bukan tindakan darurat, melainkan rencana Allah.
- Melalui penyaliban dan kebangkitan-Nya, kita diteguhkan tentang pengorbanan dan kasih Allah;
- Penyaliban adalah tindakan kejahatan yang menjijikan dan menakutkan, buah dari dosa (Kis. 2:23; 3:13; 4:10; 5:30);
- Penyaliban dan kebangkitan merupakan penggenapan nubuatan PL;
- Kebangkitan menegaskan bahwa Yesus adalah pilihan dan Anak Allah (ay. 32).
Petrus menyatakan bahwa umat Yahudi telah melakukan kesalahan besar. Dari sini kita belajar menghindari kesalahan yang dapat menyeret kita melakukan kejahatan serupa. Kita perlu belajar memahami orang lain terlebih dahulu, sebelum menghakimi, apalagi menghukum. Perbedaan selalu ada dalam hubungan manusia, tetapi menemukan solusi yang membuahkan kebaikan adalah sebuah seni yang harus digali.
Menunda sehari sebelum merespons dan menghindari reaksi frontal bisa menjadi cara untuk tidak terperosok ke dalam kesalahan besar. Seperti perbedaan antara Rasul Paulus dan Petrus: Paulus memilih jalan baru dengan membiarkan Petrus melanjutkan pelayanannya di kalangan Yahudi, sementara ia sendiri pergi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi dan melakukan tiga perjalanan besar ke seluruh kekaisaran Romawi—yang justru menghasilkan buah yang sangat lebat.
Kita menyadari bahwa selalu ada penyebab timbulnya perbedaan: salah pengertian, tidak sesuai harapan, perbedaan nilai, iri hati, kesombongan, krisis, kritik berlebihan, dan prasangka (Yak. 4:1–3). Semua ini biasanya muncul dari sisi negatif persaingan, keangkuhan, amarah, kebencian, harta, bahkan dari pribadi yang memang suka menimbulkan keributan (Ams. 6:14; 10:12; 13:10; 15:18; Kel. 22:9; 2Tim. 2:23).
Nas minggu ini mengajak kita lebih bersemangat bercerita tentang Yesus dan berbuat kebaikan. Bila terjadi perbedaan pendapat atau cara yang memunculkan perselisihan, pilihlah langkah yang bijaksana: memisahkan diri seperti Paulus, mengabaikannya, menemukan titik temu, atau menjadikan perbedaan sebagai peluang kolaborasi.
Kebangkitan menghasilkan kelahiran baru, bukan sekadar pertobatan yang hanya berbalik dari dosa. Melalui kelahiran baru, orang percaya menerima karakter rohani yang diperbarui, yang tercermin dalam perhatian, cara berpikir, minat, orientasi, dan kesiapan untuk melayani Tuhan.
Kitab 2 Korintus mengajar kita untuk teguh dalam niat baik, berani dan konsisten, jujur dan berdasar fakta serta firman Tuhan, tidak lari dari masalah, lembut namun tegas, dan tetap disiplin. Dengan demikian, kita akan menemukan jalan yang indah. Sebagaimana firman-Nya, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan–Mu” (ay. 28).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
Khotbah Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus
YESUSKU BANGKIT (Yoh. 20:1-18)
Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (ayat 8-9)
Firman Tuhan hari Minggu ini Yoh. 20:1-18 bercerita tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Adalah kebiasaan orang Yahudi untuk pergi ke makam tiga hari setelah kematian seseorang. Hal ini didasari pemahaman bahwa roh orang mati masih melayang-layang di sekitar makam tubuh kaku itu, baru setelah tubuh itu rusak dan tidak dikenali lagi, rohnya pergi.
Maria ingin meminyaki Yesus (Mrk. 16:1). Hati Maria terus tertuju pada Yesus. Ia telah memperoleh kebaikan Yesus yakni roh jahat diusir dari dirinya. Kini ia menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Demikian pula Yesus, hati-Nya lebih besar bagi yang selalu merindukan-Nya. Yohanes yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus, juga mendapat karunia pertama percaya akan kebangkitanNya. Adakah kita merasa dekat dan selalu merindukan Yesus? Ini pesan pertama nas minggu ini bagi kita.
Pesan kedua, para murid menyadari bahwa janji Tuhan telah digenapi dan Yesus benar-benar bangkit. Alkitab dengan jelas memperlihatkan bukti-bukti bahwa Ia bangkit: kubur yang kosong, tubuh-Nya sebagai manusia biasa, bercakap-cakap dengan orang lain, merasa lapar dan haus, dan bahkan dapat disentuh ketika Thomas tidak mempercayai kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, jangan meragukan janji Tuhan. Dan jangan pula kita lupa berjanji untuk tetap setia dan taat kepada-Nya.
Pesan ketiga yakni kuasa kebangkitan Yesus memberi kita bukti sebagai berikut:
1. Ia terbukti Anak Allah (Rm. 1:4).
2. Alkitab adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 24:44-47).
3. Yesus mampu mengalahkan kematian yang berarti mampu membawa kita dalam kehidupan yang kekal (Rm. 5:10; 1Kor. 15:45; 1Pet. 1:3-4).
4. Kristus hadir dengan kuasa-Nya dalam pengalaman hidup kita sehari-hari (Gal. 2:20; Ef. 1:18-20).
5. Akan ada penghakiman di masa depan bagi orang yang tidak percaya dan berbuat fasik (Kis. 17:30-31).
Pesan terakhir nas minggu ini, jangan selalu berpedoman pada mata dan penglihatan kita. Jangan ragu untuk memberitakan kebangkitan-Nya. Tuhan Yesus berkata, “pergilah kepada saudara-saudara-Ku, katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku.” Maria juga akhirnya bersukacita dan meneriakkan: “aku telah melihat Tuhan”.
Kebangkitan Yesus salah satu kebenaran yang paling utama dalam Alkitab (1Kor. 15:1-8) dan merupakan landasan iman yang sangat penting bagi keselamatan kita kelak. Kuasa kebangkitan itu kini menjadi andalan kita untuk terus meyakini penyertaan dan tugas panggilan kita sehari-hari. Dunia sekeliling kita masih banyak belum menerima-Nya; juga yang berurai air mata membutuhkan pertolongan untuk lebih mengenal-Nya. Karya-Nya nyata. Oleh karena itu tetaplah mengabarkan-Nya melalui kesaksian-kesaksian nyata. Teruslah berbuah. Selamat Paskah dan selamat beribadah. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 5 April 2026
Kabar dari Bukit
SATU MATI, SEMUA MATI DAN SATU HIDUP, SEMUA HIDUP
(1Kor. 15:19-26)
"Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor. 15:22)
Kebangkitan orang mati salah satu doktrin penting Kekristenan. Manusia tidak bebas berbuat apa saja di dunia ini untuk menyenangkan hatinya; sesukanya saja. Semua kelak harus dipertanggungjawabkan di takhta pengadilan Kristus. Ya, manusia bisa saja menyembunyikan hal-hal yang jahat dilakukannya, atau dengan beberapa orang berkomplot. Tetapi ada juga orang yang berbuat kebaikan dengan diam-diam. Tidak pamer, hidupnya menyelamatkan banyak nyawa, membangun jiwa, menolong yang susah. Semua itu tentu tidak sama di akhir hidup seseorang. Dan, adil adalah sifat Tuhan.
Firman Tuhan bagi kita di hari raya Paskah yang berbahagia ini adalah 1 Korintus 15:19-26. Ini adalah penggambaran kepastian kebangkitan orang mati. Kristus yang sulung/pertama bangkit, kemudian kita milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya (ay. 23).
Mungkin kita terbiasa melihat kematian manusia. Tetapi perlu kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah merencanakan kematian. Adam (dan Hawa) diciptakan untuk keabadian. Sayangnya pilihan Adam, meski diingatkan bila mereka memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, maka "pastilah engkau mati" (Kej. 1:27). Iblis menipu melalui ular dan mereka memakannya, lantas mereka diusir dari taman abadi, dan kematian menanti.
Perspektif manusia yang melihat kematian adalah alamiah dan pasti, tidak terelakkan, berbeda dengan perspektif Alkitab yang melihat kematian atau maut adalah musuh, dampak dosa, maka harus dikalahkan. Nas minggu ini menuliskan, "Sebab, sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia" (ay. 21).
Pendekatannya tampak paralel. Allah bekerja melalui representasi (perwakilan), yakni kita berdosa karena “diwakili” Adam yang jatuh ke dalam dosa, maka seluruh umat manusia terdampak; dosa dan kematian menjalar. Demikian halnya Yesus sebagai "perwakilan" umat manusia baru, kebangkitan-Nya berdampak pada kita yang percaya kepada-Nya. Adam membawa kita masuk ke dalam dosa dan kematian, tetapi Kristus membawa kita keluar menuju hidup dan kekekalan. Hidup itu memang berharga di mata Allah (Mzm. 116:15).
Dan kasih Allah besar. Firman Tuhan menuliskan, "Tetapi, karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (Rm. 5:15). Oleh karenanya jika Kristus bangkit dari kematian dan hidup, maka kita pun orang percaya akan hidup karena dibangkitkan sebagaimana Kristus telah bangkit. Bukan itu saja, Kristus bangkit agar kita tidak tinggal dan hidup di dalam dosa (ay. 17). Tidak salah jika kemudian Rasul Paulus mengatakan, sia-sialah hidup jika kita hanya berorientasi masa kini (ay. 19), dan jika orang mati tidak dibangkitkan, "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati" (1Kor. 15:32b).
Melalui perayaan Paskah hari ini, mari kita perlihatkan kemenangan Kristus dan menjadikan-Nya Raja (ay. 25), dengan bangkit membarui diri kita. Jika tadinya beridentitas "dalam Adam" dengan ciri lama beraroma maut, menjadi beridentitas "dalam Kristus" dengan ciri baru beraroma hidup. Itu hanya terjadi, jika kita memberikan hidup kita dipimpin Roh Kudus, agar semakin hari semakin taat dan berkenan kepada-Nya.
Selamat hari Paskah dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
Khotbah (2) Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus – opsi 2
PIKIRKANLAH PERKARA DI ATAS, BUKAN DI BUMI (Kol. 3:1-4)
Bacaan lainnya: Kis. 10:34-43 atau Yer. 31:1-6; Mzm. 118:1-2, 14-24; atau Kis. 10:34-43; Yoh. 20:1-18 atau Mat. 28:1-10
Pendahuluan
Dalam kitab Kolose, firman Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus pada bab 1 dan 2 bercerita tentang hal yang sudah dilakukan oleh Kristus bagi kita, khususnya dalam menebus dosa-dosa kita dan keselamatan, termasuk penjelasan alasan yang salah tentang penyangkalan diri. Maka dalam bab 3 dan 4 Rasul Paulus menjelaskan bahwa setelah Kristus melakukan sesuatu yang begitu istimewa bagi kita, maka kita pun perlu melakukan sesuatu bagi Dia, termasuk untuk keberadaan gereja yang Dia adalah Kepala. Pada bagian awal bab 3 ini dijelaskan tentang pentingnya kita memikirkan hal-hal di atas dan bukan lagi soal-soal di bumi. Maka melalui nas minggu ini, kita diberikan pokok-pokok pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Dibangkitkan bersama Kristus (ayat 1a)
Setiap orang percaya yang menerima Kristus pada hakekatnya telah mati dengan dosa-dosa lamanya (Rm. 6:11), sebab dosa upahnya maut (Rm. 6:23). Hidup lamanya telah dikubur dan dipisahkan dari dosa-dosa itu. Namun oleh karena kebaikan dan anugerah Tuhan Yesus, kita dibangkitkan dari kematian. Simbol baptisan dengan diselam pada zaman dahulu dapat diartikan demikian: ketika seseorang dibenamkan, itu lambang dikuburkan, dan ketika diangkat dari air, itu lambang dibangkitkan. Tetapi baptisan tetaplah sebuah simbol, sama seperti tanda sunat lahiriah di zaman Musa. Oleh karenanya dalam Kol. 2:12 dikatakan, "karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati."
Bangkit bersama Kristus berarti hidup kerohanian kita dibangkitkan oleh Allah untuk memasuki hidup baru bersama dengan Kristus. Melalui kebangkitan itu, Allah memperbarui roh dan jiwa kita dengan jalan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hati kita, meski fisik kita belum berubah setelah kebangkitan itu, yakni masih memiliki tubuh yang sama sebelum masa hidup baru. Kita masih tetap hidup dan tinggal di dunia ini, dengan pengertian kita tidak bisa lepas dari kebutuhan pangan, sandang, biologis, rasa aman, dan lainnya, dan demikian juga kita tidak bisa menghindar dari penyakit dan kematian tubuh duniawi yang ada. Dalam hal itu memang "dunia lama" kita masih tetap ada, yang kadang-kadang membuat kita terjatuh ke dalam dosa akibat kedagingan dan rayuan si jahat. Oleh karenanya, tanpa memiliki hidup baru dengan kuasa Roh Kudus, maka segala upaya kita untuk hidup yang berkenan kepada Allah akan sia-sia.
Bangkit bersama Kristus berarti memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk membaharui hidup kita secara terus menerus, sebagaimana dijelaskan pada pasal 2 sebelumnya, mengakui bahwa hidup kita sudah menjadi milik-Nya, sehingga kita memiliki sifat dan perilaku serupa seperti Kristus. Ayat Rm 6:5 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Kita jangan masuk dalam pengajaran-pengajaran yang salah sebagaimana dinyatakan pada pasal 2 yang menjauhkan kita dari Kristus dan kasih akan sesama, melainkan berupaya memberikan yang terbaik sesuai dengan talenta dan karunia untuk menyenangkan hati Allah. Orientasi kita tetaplah sorgawi, tempat Kristus Yesus duduk saat ini di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1; Mrk. 16:19; Ef. 1:20). Ia bertakhta sambil terus berdoa bagi kita orang percaya, agar kerohanian kita sama dengan wujud perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua: Cari dan pikirkanlah perkara di atas (ayat 1b-2)
Bagi kita yang sudah dibaptis dan mati di dalam Kristus, firman Tuhan sebelumnya mengatakan, "Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia” (Kol. 2:20). Sebagai manusia baru, kita orang percaya diminta mencari perkara-perkara di atas, maksudnya adalah hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan sorgawi. Kita tidak terjebak lagi dengan aturan-aturan legalistik dan menghilangkan hakekat yakni kasih termasuk belenggu ritual peribadatan. Firman Tuhan menegaskan, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat 6:33). Mencari dan memikirkan sesuai nas minggu ini berarti mengerahkan segala upaya roh dan jiwa kita untuk memberikan yang terbaik. Kita bisa lihat dan ukur hal itu dari kesukaan kita pada firman Allah, doa dan ibadah, dan keinginan menjadi pelaku-pelaku firman Allah.
Memikirkan hal-hal di atas berarti berjuang untuk menempatkan prioritas sorgawi dalam kehidupan praktis sehari-hari. Hal-hal di atas berarti sesuatu yang berlawanan dengan di bumi, dan cara berpikir kita akan mempengaruhi tindakan di bumi. Ini juga berarti kita berkonsentrasi pada hal-hal yang abadi dibandingkan dengan hal sementara di dunia ini, yang memperlihatkan kedewasaan dalam berpikir. Memikirkan tentang hal-hal di atas berarti melihat kehidupan ini dari sudut pandang Allah dan mencari tentang rencana-Nya dalam hidup kita. Beberapa hal tentang hidup yang berkenan kepada Allah diberikan pada ayat-ayat berikutnya hingga pasal 4. Dalam Kol 3:15 diberikan gambaran bagaimana Kristus menguasai hati dan pikiran orang-orang Kristen (band. Flp. 4:9). Hal ini bisa menghasilkan penangkal bagi kecenderungan materialisme, dan kita juga mendapatkan pemahaman yang benar tentang materi dan kekayaan ketika kita melihat dari sudut pandang sorgawi. Itu juga penangkal bagi sensualitas, dan akan melengkapi penangkal-penangkal yang menghambat perkembangan aspek kerohanian kita, serta menyadari mengikut Kristus berarti mengasihi dan melayani dunia. Dengan mencari yang Kristus inginkan, kita memiliki kekuatan untuk menahan kesenangan-kesenangan dan kegiatan tidak produktif lainnya.
Kewargaan kita adalah sorgawi (meski kita masih punya KTP di bumi). Dalam kitab Filipi dikatakan, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:20-21). Dengan demikian kita membuat penilaian dan pertimbangan segala aspek kehidupan ini dari sudut pandang sorga. Hidup di dunia bukan berarti kita harus membenci dunia dan menjadi terpisah dengannya. Kita hanya memperlakukan dunia di sekitar kita sebagaimana Allah menciptakan dengan maksud tujuan-Nya, dan kita hidup secara harmoni di dalamnya. Membenci dunia haruslah dalam pengertian sifat-sifat duniawinya, bukan membenci isi ciptaan-Nya, sebab tugas dan tanggungjawab kita ada juga di dalamnya yakni sebagai orang-orang yang mengelola demi kemuliaan-Nya.
Ketiga: Kamu telah mati dan tersembunyi dalam Dia (ayat 3)
Apa yang dimaksud dengan hidup orang percaya tersembunyi di dalam Kristus? Kita tahu orang mati dikuburkan dan menjadi tersembunyi di dalam tanah. Tetapi orang yang telah mati dosa-dosanya, tubuhya tetap ada terlihat namun hidupnya menjadi tersembunyi di dalam Kristus. Inilah perbedaan yang sangat penting. Dalam Perjanjian Lama kata tersembunyi berarti aman dan selamat (Mzm. 27:5–6; Yes. 49:2; 31:19–20). Pelayanan dan perbuatan kita tidak menghasilkan keselamatan, sebab keselamatan dari iman, tetapi semua pelayanan dan perbuatan baik itu adalah buah dari keselamatan. Ini bukan sekedar pengharapan terhadap masa depan, tetapi juga sebuah fakta yang sudah digenapi pada saat ini. Status dan kedudukan kita sudah pasti. Oleh karena itu, peganglah teguh keselamatan yang diberikan, dan hiduplah setiap hari untuk Kristus. Kebenaran ini melengkapi perspektif yang berbeda tentang hidup kita di dunia ini dan dunia ini bukan lagi yang terpenting dan utama.
Tersembunyi di dalam Kristus berarti yang terjadi bukan lagi penonjolan diri. Hal yang kita perbuat dan capai dalam hidup, pekerjaan dan pelayanan harus kita akui adalah kehendak dan pertolongan Allah, sehingga Dia-lah yang ditinggikan, bukan diri kita. Kita bermegah hanya dalam salib Tuhan (Gal. 6:14; Luk. 9:23). Hal yang kita lakukan memang bisa tersembunyi bagi mata dan pujian manusia, tetapi itu semua akan terbuka dan terungkap dalam buku kehidupan kita. Kita juga jangan terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang membawa kita seolah-olah rajin bersekutu, ikut beribadah, membaca firman Tuhan, bahkan melayani, namun kemudian kita merasa tidak bahagia. Pasti ada yang salah dalam hal ini. Jangan sampai dalam melakukan itu kita sebenarnya melupakan hakekat dan tujuan melakukan itu sehingga kita kecewa dan merasa tidak puas. Jangan sampai ibadah dan pelayanan kita berpusat pada diri sendiri, bukan pada Kristus. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi atas tujuan dan penyertaan Roh dalam melakukan semua itu, sebelum akhirnya kekecewaan kita membawa kita kepada dosa. Perlu dilihat dan diperhatikan bahwa komunitas kita saat bergaul sangat menentukan cara berpikir kita, di samping tentu saja kecenderungan bawaan dari bawah sadar yang merupakan hasil pendidikan dan masa kecil.
Kita yang telah mati dan tersembunyi berarti harus menekan serendah dan sesedikit mungkin keinginan-keinginan duniawi. Semua itu hanya terjadi bila proses identifikasi diri kita menjadi serupa dengan Kristus. Tujuan kita hanyalah untuk melakukan kehendak Allah yang bersifat kekal dan mulia. Namun jangan juga ditafsirkan bahwa kita harus lari dari dunia ini dengan mengasingkan diri dalam bentuk tapa, merenung-renung, semedi, atau larangan-larangan yang tidak berguna. Kalaupun kita melakukan hal itu, maka dasarnya harus dari hikmat akal pikiran atau tujuan pelatihan rohani. Seseorang yang tidak makan daging atau darah jangan berdasarkan bahwa itu dari firman Tuhan, tetapi boleh saja berdasarkan hal itu kurang sehat sebab mengandung kolesterol tinggi. Memang dalam sejarah kekristenan hal-hal ekstrim juga pernah ada dalam bentuk menjaga kekudusan, namun akhirnya semua kembali kepada firman Tuhan yang dipadu dengan hikmat akal pikiran yang diiluminasi oleh Roh Kudus.
Keempat: Kita pun menyatakan diri kelak dengan Dia (ayat 4)
Sebagaimana dikatakan di atas, mereka yang sudah percaya hidupnya tersembunyi di dalam Kristus, dalam pengertian yang dilakukannya adalah pekerjaan Kristus dalam dirinya (Gal. 2:20). Ia tidak menonjolkan diri sehingga manusia tidak dapat melihatnya dengan baik. Tetapi dalam semua perbuatan baiknya itu, Allah melihat dan mencatat dengan jelas semua hasil kerjanya termasuk dengan motivasinya. Satu pun tidak akan terlewat dan semua yang mengambil bagian dalam perluasan kerajaan-Nya menjadi jelas bagi semua orang. Kemuliaan Yesus pada masa kedatangan-Nya dan masa penghakiman bagi bangsa-bangsa, merupakan saat kemuliaan bagi kita. Semua janji-Nya pasti sebab Dia adalah Allah yang setia.
Kebangkitan Kristus adalah fakta yang sudah tidak dapat disangkal. Kebangkitan Kristus merupakan dasar iman kita yang membuat semua yang kita percayai dan kerjakan sebagai buah iman tidak sia-sia, dan semua yang kita lakukan akan penuh berarti. Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan kita juga, bukan saja saat ini tetapi juga kelak pada diri kita berupa kebangkitan tubuh kemuliaan. Kebangkitan kita saat ini memberi kita kuasa untuk hidup bagi Dia, dengan hidup berbuah dan terus berkarya. Kebangkitan kita kelak dengan tubuh kemuliaan memberi kita pengharapan tentang masa depan, yakni Dia akan datang kembali. Pada bagian akhir pasal 3, Rasul Paulus menjelaskan bahwa orang percaya harus bertindak saat ini dalam menyongsong saat kembali-Nya.
Saat ini Tuhan Yesus sudah duduk bertakhta di sorga (Mzm. 110:1; Ef. 1:20). Rumah kediaman orang Kristen adalah tempat Kristus hidup (Yoh. 14:2, 3). Semangat kita adalah semangat pengabdian dan rasa syukur dan bukan semangat mencari imbal jasa. Upah adalah suatu hak yang melekat dan bukan tujuannya. Kesempurnaan dalam panggilan dan pilihan Tuhan yang membuat kita sebagai orang yang merdeka, itu supaya kita semakin memberi buah, menjadi serupa dengan gambar Kristus (2Kor. 3:18, dan hidup semakin berbuahkan kebenaran (2Kor. 9:10). Bagi kita yang sudah memahami hal itu pasti rindu untuk berbakti, melayani Allah dengan segenap hati dan melayani sesama. Dan semua itu akan dibuka dan dinyatakan pada saat Parusia, janji kemuliaan yang datang bersama-sama dengan Dia (Yoh. 17:24).
Penutup
Melalui nas minggu ini diingatkan bahwa sebenarnya kita sudah dibangkitkan dari kematian akibat dosa-dosa kita. Kristus Yesus telah melakukan itu melalui penderitaan dan kematian-Nya sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Maka untuk itu kita tidak lagi memikirkan hal-hal yang “rendah” di bumi ini, melainkan berpikir dan mencari hal-hal di atas yang di sorga. Cara berpikir ini akan mempengaruhi kita untuk mengakui pertolongan Tuhan, dan itu membuat kita tidak menonjolkan diri. Diri kita menjadi tersembunyi di dalam Kristus yang sudah hidup di dalam diri kita. Kita tidak perlu kecewa atau kesal meski manusia tidak melihat dan menghargai hal itu. Seperti dikatakan ayat terakhir nas minggu ini, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 DILAHIRKAN BUKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 2 HATI...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 3 MEMBALAS...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 23 guests and no members online
