2026
2026
Khotbah (3) Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026
Khotbah Minggu III Setelah Pentakosta - Minggu 14 Juni 2026 - Opsi 3
JANJI, KEBAIKAN DAN MUKJIZAT (Kej. 18:1–15)
”Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” (Kej. 18:14)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 18:1–15. Judul perikopnya: "Allah mengulangi menjanjikan seorang anak laki-laki kepada Abraham." Mengulangi berarti kedua kalinya, karena Tuhan telah memberikannya sebelumnya di Kej. 13:16: “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya” (bdk. Kej. 22:17, keturunanmu seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut).
Bagi kita, apakah sudah merasa memiliki janji Tuhan? Atau hanya sebatas janji-Nya memberi hidup kekal untuk masuk surga dengan percaya dan taat kepada-Nya? Bagaimana dengan mukjizat, apakah ada janji Tuhan tentang pengharapan dan pergumulan dalam kehidupan sehari-hari? Memang diperlukan iman yang kuat untuk mempercayai bahwa Tuhan mau, mampu, dan berkuasa memenuhi janji-Nya kepada orang percaya.
Kegagalan memiliki janji biasanya terjadi karena kita tidak dapat melihat dan merasakan bahwa Tuhan itu ADA, Mahakuasa, Mahahadir, dan ingin campur tangan dalam kehidupan semua orang. Jika seseorang tidak percaya Tuhan ada, ya disayangkan; kalau cuek, tidak peduli pun, ya begitu adanya. Namun IA tetap berkuasa dalam kehidupan semua orang, termasuk yang tidak percaya. Bagi orang yang berpikir jernih, ada banyak hal dalam hidup yang tidak mampu kita mengerti. Tidak mungkin juga kita memahami seluruh jalan kehidupan. Karena itu benar, Tuhan adalah jawaban bagi hal-hal yang tidak dapat kita pahami.
Melalui nas minggu ini, kita diajar bahwa Tuhan berkuasa memberi janji dan mukjizat, sebagaimana yang terjadi pada Abraham. Kita tahu ceritanya, meski Sarah sudah tua, ia melahirkan Ishak, anak laki-laki bagi Abraham. Sarah semula tertawa, menyepelekan janji tersebut (ayat 15), tetapi Tuhan tetap setia pada janji-Nya.
Secara umum, janji atau perjanjian terjadi antara dua pihak, bukan sepihak. Dalam hal ini Tuhan dapat berinisiatif, tetapi kadang inisiatif dapat muncul dari kita. Janji-janji Tuhan ada dalam Alkitab. Maka, perlu rajin membaca, bersekutu, dan berdoa. Interaksi dengan Tuhan melalui firman akan menghasilkan janji bagi kehidupan kita.
Selanjutnya, apa bagian kita? Setia dan terus berbuat kebaikan. Dalam nas ini diceritakan bahwa Abraham menjamu tiga orang yang tidak ia kenal. Abraham berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujud sampai ke tanah. Ia mengambil air, membasuh kaki mereka, dan memberikan sepotong roti. Ternyata mereka adalah malaikat (ay. 2–5).
Kebaikan Abraham juga terlihat ketika ia mengalah kepada Lot, keponakannya. Peristiwa ini terjadi ketika para gembala mereka bertengkar karena lahan yang sempit. Lot tidak menghargai pamannya dan langsung memilih bagian terbaik, yaitu Lembah Yordan. Kita tahu akhirnya: Tuhan memusnahkan daerah itu dalam peristiwa Sodom dan Gomora (Kej. 13:1–16).
Kebaikan ketiga yang ditunjukkan Abraham sekaligus menjadi ujian iman, yaitu ketika ia mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran. Sulit membayangkan hati Abraham ketika Ishak, anak tunggalnya, dinaikkan ke pelana keledai, kayu untuk korban telah dibelah, dan Ishak diletakkan di atasnya. Namun dengan iman, Abraham tetap melakukannya meski hatinya menangis. Kita tahu Tuhan itu baik, Ia hanya menguji, dan akhirnya menyediakan domba jantan sebagai persembahan pengganti (Kej. 22:1–18).
Karena itu, bagi kita yang berharap mukjizat, perlu mengikat perjanjian dengan Tuhan, dan IA pasti berkuasa melakukannya. Kita perlu memperbanyak kebaikan bagi sesama dan bagi-Nya. Teruslah taat, setia, dan berbuah. “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” (ay. 14).
Pegang dan percayalah, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 7 Juni 2026
Kabar dari Bukit
ANUGERAH DAN BELAS KASIHAN (Mat. 9:9-13, 18-26)
”Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Sebab, Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Mat. 9:13)
Selamat hari Minggu.
Saya teringat saat liburan ke Bali bersama keluarga. Anak bungsu saya masih berusia enam tahun. Dia biasa bermain berenang di kolam dangkal. Tetapi ketika melihat kolam renang hotel yang besar tapi dalam, dia langsung lompat ke kolam. Saya yang pas di dekatnya dengan pakaian lengkap, tanpa berpikir panjang langsung lompat juga ke kolam. Puji Tuhan, si bungsu bisa saya raih dan gendong ke tepi kolam. Dan begitulah hati seorang ayah kepada anak-anaknya.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mat. 9:9-13, 18-26. Nas ini melompati ayat 14-17 (tentang berpuasa), karena ketiga kisahnya hampir sama temanya yakni tentang belas kasihan dan kuasa yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus: kepada Matius (ay. 9-13), perempuan yang sakit pendarahan (ay. 20-22) dan kepala rumah ibadat yang anak perempuannya baru meninggal (ay. 18-19, 23-26).
Matius adalah pemungut cukai, mewakili penjajah Romawi sehingga tidak disukai orang Yahudi; dianggap pemeras rakyat dan pendosa. Matius yang sedang duduk bekerja di rumah cukai, ketika Yesus lewat langsung melihatnya dan berkata: “Ikutlah Aku.” Seketika itu juga Matius bangkit berdiri dan mengikuti-Nya (ay. 9). Memang Matius tidak memperlihatkan imannya, tetapi Yesus tahu bahwa Matius sedang bergolak hatinya setelah melihat kuasa-kuasa Yesus dinyatakan kepada orang-orang lemah yang membutuhkan belas kasihan. Ada dilema dan kerinduan di dalam hati Matius dan Yesus melihatnya (1Sam. 16:7).
Ini berbeda dengan kisah lainnya. Seorang kepala rumah ibadat yang sudah tahu kuasa Yesus, datang menyembah Dia; memohon agar Yesus datang ke rumahnya. Imannya sungguh besar dengan berkata, jika Yesus meletakkan tangan atas putrinya yang baru saja meninggal, maka ia akan hidup (ay. 18-19). Benar, ketika sampai di rumah, upacara orang meninggal telah dimulai dengan peniup-peniup seruling dan keramaian. Tetapi Yesus meminta semua orang keluar. Yesus memegang tangan anak itu, lalu ia bangkit (ay. 24-25).
Sebuah kisah selipan, selagi dalam perjalanan ke rumah yang berduka, seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan (bayangkan!), berusaha mendekati Yesus, berharap dengan iman: "Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Iman yang luar biasa. Yesus melihatnya dan dengan rasa belas kasihan lalu berkata kepadanya: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.” Lalu sembuhlah perempuan itu” (ay. 20-22).
Ada beberapa hal yang kita lihat dari ketiga kisah ini. Pertama, seperti menyelamatkan anak bungsu saya, kita membayangkan kasih Tuhan juga sama besarnya kepada kita anak-anak-Nya. Kedua, selain melihat iman, Yesus juga melihat (pergumulan) hati kita. Apakah ada kerinduan untuk Yesus campur tangan dalam masalah yang kita hadapi? Ketiga, Yesus menyukai orang-orang yang aktif dan responsif menerima anugerah-Nya, bukan orang yang pasif, malas, tidak bersemangat dan berpengharapan. Matius, perempuan najis yang sakit 12 tahun, dan ayah yang anak perempuannya meninggal, melihat selalu ada jalan. Keempat, Yesus membuktikan diri-Nya selain penuh belas kasihan, juga penuh kuasa bahkan menghidupkan yang mati; sebab Dialah sumber hidup.
Kini kembali kepada kita. Setiap kita pasti punya pengharapan dan pergumulan. Sudahkah kita memperlihatkan empati dan belas kasihan terhadap sesama (Hos. 6:6)? Adakah kita memberi tempat, Tuhan Yesus ikut menolong dan menjadi andalan kita? Semoga.
Selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026
Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 2)
TOPENG BURUK MANUSIA (Hos. 5:15–6:6)
”Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh–sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi” (Hos. 6:3)
Salam dalam kasih Kristus.
Masalah berpura-pura banyak dibahas dalam Alkitab. Karena itu, topik ini beberapa kali muncul dalam sistem khotbah leksionari. KBBI menyebutkan berpura-pura berarti berlagak, tidak sesungguhnya, dan merupakan kemunafikan; pada hakikatnya merupakan kebohongan dan sandiwara. Merriam-Webster mendefinisikan kemunafikan sebagai seseorang yang mengenakan penampilan palsu dan bertindak bertentangan dengan keyakinan atau perasaan yang dinyatakan.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Hos. 5:15–6:6. Judul perikopnya: "Pertobatan yang pura–pura dari pihak orang Israel". Dituliskan, “Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi–pagi benar” (ay. 4). Jelas, Allah membenci kepura–puraan yang dipertunjukkan oleh umat Israel.
Dalam nas ini dan berikutnya diberikan contoh perbuatan umat yang tidak disukai Tuhan: ibadah aspek lahiriah saja, membawa persembahan yang bagus–enak, tetapi hatinya tidak tulus (ay. 4–6). Lebih mengerikan lagi, para imam merampok dan melakukan perbuatan bersundal yang menjijikkan (ay. 7–10; 7:1–7).
Kita pasti pernah jatuh ke dalam dosa. Itu wajar. Namun bila perbuatan itu diulang–ulang, apalagi dengan sadar dan tanpa penyesalan, apa artinya pertobatan? Allah sangat tegas dalam hal itu. Dikatakan-Nya, bila matamu yang sering menyesatkan, cungkillah; bila tanganmu menyesatkan, potonglah (Mat. 5:29–30). Artinya, dosa sangat serius di hadapan Allah.
Jangan kita hanya menekankan besarnya kasih Allah. Betul, Allah kita setia, kasih-Nya tidak berkesudahan (Rat. 3:23; Mzm. 89:2; 100:5, dan sebagainya). Namun jangan menyepelekan perbuatan dosa yang dilakukan, apalagi bila tidak disertai penyesalan yang dalam, rasa bersalah, tanggung jawab, kesediaan dihukum, serta janji dan komitmen untuk berhenti melakukan hal yang sama. Pengampunan hanya diberikan bagi mereka yang benar–benar menyadari dampak dosa bagi Allah dan orang lain, serta menunjukkan bukti pertobatan sejati.
Alkitab berkata, “Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh. 4:20); “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5); “Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk. 12:2).
Allah membuka hati-Nya bagi mereka yang datang untuk pemulihan. Nas minggu ini menggambarkannya. “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari; pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya” (ay. 6:1–2).
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa berpura–pura lebih banyak buruknya daripada baiknya. Baiknya, mungkin berbuah sesaat; orang melihat topeng kita yang tampak cantik berseri. Namun kenyataannya, wajah kita penuh goresan dosa berupa rasa benci, tipu daya, suka menghakimi, dan perbedaan antara yang di bibir serta di hati. Maka, buanglah topeng kita. Tidak ada gunanya lagi kita berpura–pura di hadapan Allah dan manusia.
Allah rindu kita kembali, sama seperti Dia yang akan kembali. “Aku akan pergi pulang ke tempat–Ku sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah–Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku ... Sebab Aku menyukai kasih setia dan menyukai pengenalan akan Allah” (ay. 5:15; 6:6).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - Minggu 7 Juni 2026
Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026
ALLAH BERKUASA MELAKSANAKAN JANJI-NYA (Rm. 4:13-25)
Bacaan lainnya: Kej. 12:1-9 atau Hos. 5:15-6:6; Mzm. 33:1-12 atau Mzm. 50:7-15; Mat. 9:9-13, 18-26
Pendahuluan
Pada nas minggu lalu kita membaca dan merenungkan tentang Abraham dibenarkan oleh karena iman dan orang percaya hidup oleh karena iman. Orang Yahudi berkata hukum Taurat yang menjadi pegangan dan ketaatan kepada aturan dan hukum. Akan tetapi minggu lalu kita buktikan bahwa ketika Abraham menerima janji tanah Kanaan bagi dia dan keturunannya, hukum Taurat belum ada dan tidak seorangpun yang dapat melakukan hukum Taurat. Sementara bagi mereka yang berdosa maka murka Allah layak turun atas dirinya. Nas minggu ini menekankan kembali kebenaran Allah yakni adanya kasih karunia yang diberikan melalui jalan perdamaian yakni keselamatan melalui Yesus Kristus. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Janji diberikan karena kebenaran (ayat 13-15)
Kita semua tahu bahwa setiap tindakan pasti membawa konsekuensi. Hal yang kita lakukan dalam mengisi rangkaian kehidupan ini juga terbawa pada saat pasca kematian. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari dampak dari setiap keputusan yang diambil, hanya berpikir pendek saat mau mengambil keputusan, yang seringkali salah arah dengan tidak menyadari hidup kita sebenarnya pendek, sehingga perlu diisi dengan benar. Oleh karena itu tetaplah berusaha mencari tahu hasil jangka panjang setiap keputusan, dan berpikir cermat dengan mencari petunjuk Tuhan tentang keputusan yang kita ambil saat ini. Abraham memiliki pilihan tatkala Allah memanggilnya. Dia dapat memilih tetap tinggal dan hidup senang serta aman tanpa risiko dengan keluarga besarnya, atau dia bersedia berjalan dengan ketidakpastian ke arah yang dia sendiri tidak tahu, kecuali dengan keyakinan Allah akan memimpinnya. Ia hanya memiliki pegangan janji bahwa Allah akan menuntunnya dan memberkatinya. Ia mungkin semula berpikir keras tentang rencana Allah baginya, namun tidak bisa membayangkan bahwa keputusannya itu sangat penting dan ketaatannya akan mengubah jalannya sejarah manusia. Keputusannya untuk mengikuti jalan Allah membuat perkembangan sebuah bangsa dijadikan bangsa pilihan dan tempat Allah turun ke dunia menjadi manusia.
Allah berkenan dan memberkati manusia bukan karena kepatuhannya pada hukum Taurat, sebab hukum Taurat diturunkan pada masa Musa ratusan tahun setelah Abraham diberkati. Hukum Taurat ada hanya untuk mengetahui keberdosaan dan membangkitkan murka saja, sebab di mana ada hukum Taurat, di situ ada juga pelanggaran (Rm. 7:7; 1Kor. 15:56). Rasul Paulus menjelaskan bahwa Abraham menyenangkan hati Allah sebelum dia mendengar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ritual dan aturan hukum Taurat, yang menjadi sangat penting bagi umat Yahudi. Abraham hanya diberi perintah: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Perintah ini kemudian diikuti dengan sebuah janji, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat" (Kej. 12:2). Memiliki dunia dalam nas ini sama dengan memiliki keturunan yang besar, sebab dunia mengenalnya yakni sekitar 4,5 milyar manusia atau dua pertiga dari penduduk bumi mengaku diberkati karena Abraham. Itu adalah penggenapan janji Allah yakni keturunannya bagaikan bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut (Kej. 22:17). Abraham menerima perintah itu dengan percaya pada janji dengan iman. Dalam hal ini sesungguhnya Abraham hanya mengandalkan iman dalam melaksanakan perintah itu, dan oleh karena itulah berkenan kepada Allah, kemudian menerima bagian yang dijanjikan-Nya.
Kita juga diselamatkan oleh iman dan tidak ada hal lainnya; bukan karena sekedar mengasihi Allah atau melakukan perbuatan baik kita diselamatkan; bukan juga karena iman ditambah kasih atau iman ditambah perbuatan baik. Kita diselamatkan hanya karena iman kepada Yesus Kristus, percaya kepada-Nya yang mengampuni semua dosa-dosa kita. Sumber janji adalah iman dan penggenapan janji adalah kasih karunia. Ketika Yesus datang ke dunia, janji Allah tergenapi dan melalui keturunan Abraham seluruh dunia pun diberkati. Oleh karena itu, dikatakan iman akan sia-sia apabila Allah memperhitungkan seseorang melakukan hukum Taurat untuk dapat diselamatkan. Dan ternyata iman Abraham tidak sia-sia serta janji yang diberikan Allah itu tidak menjadi batal. Abraham hanya mengandalkan iman percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Gal. 3:6). Jadi janji diberikan karena kebenaran. Pembenaran ada hanya karena adanya kasih karunia, dan itu berlaku sepanjang hidup selama kita dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu (Gal. 3:9, 18).
Kedua: Janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham (ayat 16-17)
Iman dan ketaatan Abraham menyenangkan hati Allah dan itu menjadi kebenaran. Maka tatkala bangsa Israel keturunan Yakub menderita di bawah perbudakan bangsa Mesir, Alkitab menuliskan, “Allah mendengar tangisan dan penderitaan umat Israel karena janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub” (Kel. 2:24). Allah membebaskan bangsa Israel dan terus memimpin keluar dari tanah Mesir dan mereka menjadi bangsa yang besar di Kanaan. Keturunannya menerima janji dan Abraham menjadi bapak bangsa Yahudi. Dalam kehidupan kesehariannya pun, Abraham berani melindungi keluarganya dari setiap ancaman. Ia peduli terhadap orang lain dan menjadi seorang yang kaya dalam bidang usaha peternakan. Kepribadiannya teguh dan selalu berusaha menghindari konflik, namun ketika sudah tak terhindarkan ia akan meminta pihak lawan untuk menentukan penyelesaiannya (ingat pertentangan dengan Lot). Inilah yang membuat Abraham selalu dihormati setiap orang. Kelemahannya memang ada, yakni ia suka memelintir kebenaran kalau dalam keadaan terdesak, dalam kasus memperkenalkan Sarah, namun itu tidak mengurangi kasih Allah kepadanya.
Orang Yahudi memahami sebagai keturunan Abraham hanya dari sisi lahiriah saja. Dalam hal ini Rasul Paulus menyatakan bahwa keturunan Abraham yang menerima berkat bukan hanya mereka dari keturunan daging melalui Ishak dan Yakub, akan tetapi juga keturunan Abraham secara rohani, yakni mereka-mereka yang mengandalkan iman dalam kehidupannya dengan percaya berjalan bersama Allah. Keturunan Abraham, “bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar” (Rm. 9:7-8). Rasul Paulus mengatakan bahwa Abraham adalah bapa dari semua orang percaya bukan Yahudi - "semua orang percaya yang tidak bersunat" (Rm. 4:11). Keturunan rohani Abraham melalui iman digenapkan dan mencapai puncaknya di dalam Tuhan Yesus, sebab Yesus dari garis keturunan Abraham dan sesungguhnya seluruh dunia telah diberkati melalui Dia. Dengan demikian Allah membenarkan mereka yang percaya oleh karena Yesus Kristus.
Allah yang memberi janji kepada Abraham menjadi bapa banyak bangsa adalah Allah yang menghidupkan orang mati, dalam pengertian kehidupan Abraham dan Sara yang sudah tidak berpengharapan, menjadi hidup penuh sukacita ketika Ishak lahir, sebuah kehidupan baru. Demikian juga tatkala Ishak siap dikorbankan yang dalam iman Abraham anak tersebut telah "mati", menjadi hidup berkat kasih Allah melebihi pikiran manusia (band. Ibr, 11:12, 19; Yoh, 5:21). Jalan yang dipakai Allah dalam pikiran manusia sebagai hukuman, sebenarnya hanyalah cara Allah untuk menguji iman dan ketaatan seseorang kepada-Nya. Ini juga yang dialami oleh Ayub dengan segala ujian yang dialaminya. Dalam pemahaman itu pula Allah yang memberkati hidup Abraham adalah Allah yang menjadikan dengan firman-Nya hal yang tidak ada menjadi ada. Allah yang hanya bersabda dari tidak ada menjadi ada, yang hanya ada pada Allah sebagai pencipta, yang semuanya dikukuhkan kembali di dalam Yesus Kristus, yang dibangkitkan Allah Bapa dari kematian-Nya. Demikianlah berkat yang diterima oleh Abraham juga tersedia juga bagi kita keturunannya sepanjang memiliki iman seperti Abraham.
Ketiga: Abraham tidak bimbang terhadap janji Allah (ayat 18-20)
Setiap orang punya pengharapan. Pengharapan itu bisa disandarkan pada kekuatan sendiri saja atau pertolongan dari Allah. Biasanya, bila berpengharapan pada Allah, kita mempunyai tiga respon. Pertama, kita hanya menunggu, tidak berusaha sedikit pun kecuali berdoa; Kedua, kita ikut mengambil bagian dalam persiapan menyongsong rencana Allah tersebut dalam porsi kita. Seseorang yang belum memiliki anak mungkin lebih bertekun berdoa, di samping berusaha secara alamiah atau berobat ala kadarnya untuk mendukung upaya memperoleh anak. Tetapi ada juga yang melakukan dengan berdoa sepenuh hati dan bercucur air mata, dan terus berupaya keras berupa latihan fisik, minum herbal, konsultasi dokter, bahkan hingga upaya bayi tabung. Betul, Allah melihat semua itu dan berhasil tidaknya hanya dari Allah saja. Tetapi hal yang paling Allah tidak inginkan adalah cara ketiga, yakni manusia mengambil jalan pintas dengan pikirannya sendiri, dan itulah Sarah yang lakukan yakni menawarkan hambanya wanita lain untuk diperistri Abraham agar memperoleh anak. Memang dalam hal ini Abraham dengan kelemahannya, memelintir keinginan Sarah tersebut dengan ia menyetujuinya yang mungkin pertimbangan kedagingan (kelemahan lain Abraham juga terlihat ketika ia berbohong pada Raja Firaun tentang Sarah istrinya). Sikap ketiga ini sama buruknya dengan sudut pandang Sarah yang tidak percaya lagi pada pengharapan dari Allah, dengan alasan merasa sudah terlalu tua dan bahkan menertawakan janji Allah tersebut. Meski ketika ditanya, apakah ia menertawakan rencana Allah tersebut, Sarah berbohong tidak mengakuinya (Kej. 18:11-15).
Namun sangat jelas bahwa Abraham telah memperlihatkan imannya, yakni iman kepada Tuhan yang membuatnya benar di hadapan Tuhan. Pelajaran hidup yang dapat diambil dari Abraham adalah bahwa Allah menginginkan ketergantungan, kepercayaan, dan iman kepada-Nya, bukan iman kepada kemampuan kita untuk dapat menyenangkan hati-Nya. Kita juga memiliki hubungan yang benar Allah dengan percaya kepada-Nya. Segala yang kita lakukan yang kasat mata, seperti berdoa, pergi ke gereja, memberi persembahan, melakukan perbuatan baik, tidak membuat kita dibenarkan oleh Allah. Dibenarkan karena iman dan bukti iman itu adalah perbuatan. Hubungan yang benar dan baik itu didasarkan pada iman, pada kepercayaan, pada keyakinan hati yang tulus bahwa hal yang dikatakan tentang diri-Nya adalah benar, dan hal yang dikatakan-Nya akan digenapi. Jadi tindakan kita yang benar sebenarnya merupakan buah dari iman, sebab "iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak. 2:22).
Allah tidak terikat dengan cara dan peristiwa yang biasa terjadi. Ia dapat melakukan berbagai jalan-Nya dan merentangkan semua hambatan yang ada agar segalanya menjadi indah. Rencana Allah sejak awal bagi yang dikasihi-Nya adalah hal yang indah. Allah juga merespon iman ketika kita mungkin di tengah-tengah kegagalan. Iman Abraham tidak menjadi lemah meski tubuhnya sudah tua dan lemah, meski ia menyetujui cara-cara Sarah, cara-cara manusia karena ketidaksabarannya. Rahim Sarah yang tua pun sudah tertutup untuk bisa mengandung. Akan tetapi terhadap janji Allah, Abraham sama sekali tidak bimbang atau goyah meragukan, malah sebaliknya melalui peristiwa itu ia diperkuat dalam imannya dan ia terus memuliakan Allah dalam hidupnya. Memuliakan Allah dalam hal ini berarti tetap mengakui bahwa Allah mengendalikan hidupnya dan bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Sikap demikianlah yang diharapkan ketika kita dalam pergumulan dan pengharapan, jangan kendur atau lemah tetapi terus berpegang pada iman sambil melakukan kegiatan dan hati yang memuliakan Allah. Inilah yang membuat kita terus diberkati, sama seperti Abraham yang membuat hidupnya dikenal sebagai bapak bangsa-bangsa.
Keempat: Allah berkuasa melaksanakan yang Dia janjikan (ayat 21-25)
Abraham tidak pernah ragu terhadap pemenuhan janji Tuhan. Hidup Abraham juga diisi dengan kesalahan, kegagalan, dan dosa, sama halnya hidupnya juga penuh dengan hikmat dan perbuatan baik. Namun yang utama adalah bahwa secara konsisten ia percaya kepada Allah. Iman yang dimilikinya diperkuat melalui hambatan dan kesukaran yang dialaminya, dan hidupnya merupakan contoh dari tindakan iman (faith in action). Sebab kalau hanya melihat dirinya yang tua dan yang dimilikinya untuk menduduki tanah Kanaan dan membangun sebuah bangsa yang besar, ia akan sampai kepada keputusasaan. Tetapi ia melihat Allah, mematuhi Dia, dan menunggu janji Allah yang pernah diterimanya. Abraham percaya bahwa Allah yang mengikat perjanjian dengannya adalah Allah yang berkuasa untuk memenuhi janji-Nya. Dalam arti lain, Abraham percaya pada janji itu dan percaya juga pada Allah yang berkuasa memenuhi janji itu.
Maka ketika kita mengimani bahwa Allah akan dan pasti memenuhi semua janji-janji-Nya sebagaimana apa yang tertulis di dalam Alkitab, yang melekat dan terpahat kuat di dalam hati kita, maka Allah akan memperhitungkan itu sebagai kebenaran. Allah melihat hati kita yang berserah dan percaya kepada-Nya dan Allah membuat itu sebagai kebenaran. Ketika kita percaya, sebuah perubahan pasti terjadi. Dalam hal ini kebenaran Allah diberikan kepada orang yang percaya melalui Yesus Kristus. Kita memberikan dosa-dosa kita ditebus Kristus, dan Dia memberi kita kebenaran dan pengampunan (2Kor. 5:21). Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hal ini kecuali iman yang berserah. Hanya melalui Kristus kita dapatkan kebenaran Allah. Semua yang luar biasa dan cuma-cuma ini disediakan bagi kita. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri, kita tidak mampu untuk layak masuk ke hadirat Allah. Tetapi sedihnya, masih banyak orang yang melewatkan kesempatan anugerah ini dan memilih "menikmati" perbuatan dosa-dosa mereka.
Pertanyaannya, apa yang menjadi pengharapan kita saat ini pada Allah? Atau, adakah sebuah proses yang "terhenti" atau terganjal dalam kehidupan kita yang membuat pengharapan tentang janji Allah kepada kita belum terwujud? Percayalah, bahwa itu merupakan bagian dari rencana Allah dalam kehidupan kita. Ada banyak cara dan jalan yang berkenan kepada Tuhan untuk kita terus sibuk berkarya sambil menanti janji dan pengharapan itu menjadi nyata dalam hidup kita. Jangan memandang diri kita dengan segala kelemahannya, yang mungkin menjadi penghalang bagi kita untuk berkarya kepada-Nya. Jangan juga berpikir bahwa kita masih terus ditutupi dosa-dosa, sebab kita sudah diampuni melalui darah-Nya yang tercurah. Jangan kita berpikir masih dalam kefanaan duniawi, bahwa kita akan dihukum, semua itu adalah fatamorgana yang bisa mengecilkan iman kita akan kasih karunia dari Allah yang Mahabaik. Iman berarti memegang teguh adanya janji Allah dan keyakinan segala sesuatu tiada yang mustahil bagi Allah. Meneguhkan janji dan kebenaran-Nya dalam iman kita, merupakan suatu sikap rasa hormat dan memuliakan Allah.
Penutup
Melalui nas bacaan kita minggu ini semakin jelas dinyatakan bahwa pembenaran Abraham adalah melalui iman dan bukan karena kesempurnaannya melakukan hukum Taurat. Allah memberikan janji kepada Abraham karena kebenaran, bukan karena adanya kemampuan manusia melakukan Taurat. Abraham diberkati dan digenapi janji-Nya dengan segala kelemahannya, digenapi melalui Ishak, akan tetapi janji itu juga berlaku bagi keturunan Abraham secara rohani, yakni mereka yang beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus. Sama halnya terhadap janji Allah yang Abraham tidak bimbang, demikian jugalah kiranya kita dalam meletakkan iman percaya kita kepada Kristus untuk tidak goyah atau meragukan. Memang pergumulan dan tantangan kadang hadir namun semua itu adalah ujian, sebagaimana Abraham diuji melalui penyerahan Ishak sebagai persembahan. Namun, Allah yang berkuasa menghidupkan orang mati, berkuasa menggenapi janji-Nya kepada Abraham; Ia juga adalah Allah yang berkuasa menggenapi yang Ia janjikan kepada kita. Tetaplah berdoa agar kita setia memegang janji-Nya, dan bertekun dalam menunaikan panggilan-Nya dalam menjalani kehidupan ini.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026
Khotbah Minggu II Setelah Pentakosta - 7 Juni 2026 (Opsi 3)
IBADAH YANG SEJATI (Mzm. 50:1-23)
”Perhatikanlah ini, hai Kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan” (Mzm. 50:22)
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan; Bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan; Bila tiada hati tulus dan syukur?
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan; Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan; Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan (PKJ 264)
Lirik PKJ 264 “Apalah Arti Ibadahmu” merupakan padanan firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini, dari Mazmur 50:1-23; Judul perikopnya: Ibadah yang sejati. Mazmur 50 (dan 49) merupakan khotbah pengajaran tentang perilaku dan sikap umat Israel dan kita orang percaya dalam beribadah dan memperlihatkan kasih kepada-Nya.
Sebelumnya, Mazmur 49 mengajarkan agar kita tidak tergiur oleh harta dan dunia ini. Kita ingin disadarkan dari ilusi rasa aman kekayaan, dan peduli masa depan di kekekalan. Selanjutnya Mzm. 50 ini menggambarkan Mesias Tuhan Yesus yang akan datang kembali untuk menghakimi. Kedatangan-Nya dari Sion, puncak keindahan, tampil bersinar. Ia tidak akan berdiam diri, "di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat. Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya" (ay. 2-4). Tuhan akan bertindak sebagai Hakim dan menegakkan keadilan-Nya (ay. 6).
Tuhan Yesus akan mengumpulkan orang-orang yang mengasihi-Nya, yang dipanggil melalui Perjanjian Baptisan (dan Sidi), yang setia dan berusaha menjaga kekudusan hidup (ay. 5). Ia tidak mempedulikan persembahan kita, melainkan melihat cara kita beribadah yang sejati kepada-Nya.
Hal pertama yang ditekankan adalah sikap bersyukur; membawa persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas kasih karunia dan pemeliharaan-Nya. Persembahan bukan atas rumus aturan yang dibuat manusia agar semakin besar kita memberi untuk memperoleh keselamatan, apalagi untuk menuai lebih banyak. Tuhan adalah pemilik alam semesta sehingga tidak memerlukan korban hewan atau materi (ay. 9-13). Tetapi rasa syukur dari hati yang penuh berterima kasih adalah ibadah yang sejati. Itulah yang berkenan kepada-Nya (ay. 14, 23a).
Hal kedua diingatkan tentang nazar, pengakuan iman percaya kita, pernyataan Allah adalah pemilik kehidupan; Pengakuan bahwa Dia adalah andalan kekuatan kita dalam mengatasi segala pergumulan dan juga mewujudkan pengharapan yang kita naikkan. “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku" (ay. 15). Hal ketiga, diingatkan kita harus menjauhi orang fasik yang mengandalkan dan menyombongkan diri. Mereka akan mengajarkan hal buruk, mengucapkan yang jahat dan lidah yang melekat tipu daya. Janganlah berkawan dengan mereka (ay. 16-20).
Hal keempat, nazar pengakuan iman bahwa kita tidak khawatir akan hari esok. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Mat. 6:11). "Kekhawatiran sehari cukuplah untuk sehari" (Mat. 6:34). Oleh karena itu, ketika ada saudara kita yang membutuhkan baik makanan dan minuman atau orang yang berkeluh, marilah ikut melayani agar iman mereka tetap kuat serta teguh (PKJ 264). Wujudkan keadilan-Nya dengan kasih terhadap sesama.
Hal terakhir, kita diperingatkan tentang penghukuman bila tidak taat dan setia menjaga ibadah yang sejati. “Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan” (ay. 22). "Orang yang benar jalannya, akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari Allah” (ay. 23). Haleluya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 TETAP...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 – Opsi...Read More...
-
Kabar dari Bukit, Minggu 14 Juni 2026Kabar dari Bukit MENJADI HARTA KESAYANGAN TUHAN (Kel. 19:2-8a) ”Jadi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 57 guests and no members online
