Monday, August 31, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026 – Pilihan 2

  JALAN SALIB (Mat. 16:21-28)

  Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).

Saya menyukai memilih tema khotbah Minggu sesuai leksionari, sebab ada metode dan urutan sesuai kalender gereja. Denominasi gereja-gereja besar umumnya mempunyai acuan global, seperti Lutheran, Methodist, Calvin dan bahkan Katholik. Saya dan Pdt. Charles Sitorus di Perkumpulan Gaja Toba tiap hari memakai referensi leksionari dari Vanderbilt, yang juga dipakai GKI, sehingga saya tidak kesulitan memilih lagu di malam hari sebelum renungan pagi diposting.

Nas minggu ini bagi kita sesuai leksionari dari Mat. 16:21-28, mengungkapkan “Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia.” Kita tahu nubuatan-Nya benar, Yesus menderita dan mati di kayu salib. Dan entah mengapa nas tiga minggu ini cocok dengan urutan bab dalam buku John Stott, Why I am a Christian. Dalam bab 3 buku tersebut ia menuliskan tentang Salib Kristus, setelah bab 1 tentang Anjing Pemburu dan bab 2 tentang Penyataan Yesus Kristus yang dibahas minggu-minggu lalu.

Selain ajaran dan teladan-Nya yang unggul dan istimewa penuh kasih, sepanjang sejarah, Yesus memang satu-satunya pemimpin agama yang mati untuk orang lain dan di kayu salib. Kita tahu Sang Buddha meninggal di usia 80 tahun dan Nabi Muhammad di usia 62 tahun dan keduanya meninggal karena sakit. Musa meninggal di usia 120 tahun dan Konfusius di usia 72 tahun karena usia tua. Hanya Yesus yang mati atas kehendak-Nya sendiri dan di usia muda dengan pelayanan 3,5 tahun saja, tetapi memiliki pengikut terbesar di dunia.

Menurut John Stott, jalan salib dipilih Yesus dengan tiga penjelasan dari Alkitab. Pertama, Dia mati untuk menebus dosa-dosa kita. Mulai kitab Kejadian pasal 2:17 sampai ke kitab Wahyu pasal 21:8, dosa dan kematian sering dipertukarkan dan disatukan. Perjanjian Lama penuh dengan konsep penebusan melalui pengganti kematian melalui korban persembahan. Secara alami dosa dan kematian adalah bagian manusia, dan “upah dosa adalah maut” (Rm. 6:23). Adam dan Hawa berdosa, maka mereka diusir dan mati. Kita berdosa, maka kita mati. Dan puncaknya adalah Kristus mati di kayu salib, sebagai pengganti dan penebusan dosa-dosa kita.

Kedua, Kristus mati untuk menunjukkan karakter Allah. Melalui kematian Kristus, Allah menyatakan keadilan dan kasih-Nya kepada semua. Yesus tidak berdosa tapi Ia mati. Ayub mempertanyakan (kadang kita juga), mengapa orang jahat lebih maju dan mengapa yang tidak bersalah selalu menderita? Jawabannya adalah pembuktian theodicy, yaitu pembelaan atas keadilan Allah, pembenaran bagi umat manusia yang kelihatannya seperti ketidakadilan Allah. Alkitab menjawab hal ini dengan mengatakan adanya penghakiman terakhir di masa mendatang, tatkala semua yang tidak benar akan dibenarkan. Hal lainnya, ketiadaan tindakan Allah di hadapan kejahatan bukanlah karena perbedaan moralnya, namun karena kesabaran yang ditahan-Nya sampai Kristus datang kedua kali. Maka tetaplah percaya dan bersabarlah.

Ketiga, Kristus mati untuk menaklukkan kuasa kejahatan. Kristus mati di kayu salib lalu dikuburkan, tetapi bangkit di hari ketiga. Salib kini bukan lagi sebagai simbol kutuk melainkan simbol kebangkitan dan kemenangan. Melalui jalan salib, Kristus menjadi “Allah yang disalib” sesuai pernyataan filsuf Nietzsche, tetapi hal itu justru menyatakan kredibilitas-Nya. “Kemenangan, penaklukan, sukacita besar, kekuatan besar menjadi kosa kata pengikut Kristus”, tulis John Stott. Kita bangga dan hormat serta tidak pernah malu atas kematian Yesus di kayu salib. Alkitab menuliskan, ”Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu?” (1Kor. 15:54b-55; Yes. 25:8).

Jalan salib telah dipilih Yesus. Salib dipilih gereja sebagai simbol Kekristenan: bukan palungan, tahta, atau burung merpati. Maka diingatkan John Stott yang mengutip Gustav Aulen, kita orang Kristen jangan terlalu menekankan tema kemenangan dan melupakan tema penebusan dan penyataan-Nya. Jalan pengorbanan adalah pilihan kita untuk menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Marilah kita tidak seperti Petrus yang dicela Yesus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ayat 23).

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (ayat 24). Perlu kita ketahui, nilai dari pemberian kasih diukur dari pengorbanan sang pemberi, dan tingkatan penerima memang layak menerimanya. Bagaimana, apakah kita sudah layak menerima kasih-Nya? Apakah kita sudah sepenuh hati mengikut Dia dan ikut memikul salib-Nya dengan memberi yang terbaik dari hidup kita untuk menyenangkan-Nya? “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (ayat 27). Bersiaplah.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Khotbah (3) Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026 – Pilihan 3

  KESEMPATAN DIPANGGIL MELAYANI (Kel. 3:1–15)

 ”Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Kel. 3:3)

Jika ditanya, apakah kita ingin bertemu dengan Tuhan, yang terbayang pertama biasanya adalah kematian. Padahal, bertemu Tuhan saat Ia ingin menampakkan diri-Nya untuk tujuan tertentu dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti melalui mimpi, malaikat, urim dan tumim, undi, teofani kasat mata, nubuat, maupun mukjizat; semua itu merupakan wahyu umum. Namun, Allah juga menampakkan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus dan Alkitab sebagai wahyu khusus bagi kita, orang percaya. (Selengkapnya dapat dibaca di buku saya Mengenal Alkitab Kita yang tersedia di Tokopedia.)

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Keluaran 3:1–15. Ini kisah Musa yang dipanggil untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Saat itu Musa sedang dalam pelarian karena membunuh seorang Mesir. Ia lalu bertemu jodohnya dan menjadi gembala kambing-domba mertuanya (ay. 1).

 

Musa pernah hidup di istana sebagai anak angkat putri Firaun, kini merasakan hidup sebagai orang biasa. Namun, rencana Tuhan baginya tetap berjalan. Musa tetap memiliki rasa kepedulian yang tinggi, tampak saat membela orang Israel yang dianiaya serta para wanita yang diganggu ketika memberi minum kambing-domba gembalaannya (Kel. 2:11–14, 17). Ia juga memiliki rasa ingin tahu, rendah hati, setia, dan pekerja keras, bertahan 40 tahun sebagai gembala. Semua ini menjadi teladan bagi kita.

 

Allah memanggil Musa dengan menampakkan diri-Nya melalui semak duri yang menyala, meski tidak dimakan api (ay. 2). Musa diminta mendekat dan menanggalkan kasutnya. Ini menandakan hadirat Tuhan penuh kekudusan, yang mesti kita jaga dalam menjalani hidup untuk bertemu dengan Allah.

 

Respons Musa sangatlah manusiawi, sama seperti kita ketika diberi tugas. Ia merasa tidak percaya diri (3:11), berdalih bangsa Israel tidak akan percaya padanya (4:1), merasa tidak pandai bicara (4:10), dan akhirnya meminta agar orang lain saja yang diutus (4:13).

 

Namun Tuhan mengenal Musa, sama seperti Dia mengenal kita. Tuhan tidak berdebat, melainkan memberi dukungan dan jalan keluar. Pertama, Allah mengenalkan diri sebagai “Aku adalah Aku”, yang berarti tidak ada batasan atas diri-Nya (ay. 14). Ia Maha Kuasa dan peduli pada penderitaan manusia (ay. 7), terutama mereka yang telah diikat-Nya dengan janji (ay. 15).

 

Kedua, Allah memberi jaminan dalam melaksanakan tugas. Firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Akulah yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (ay. 12). Musa juga diberdayakan dengan tongkat sebagai alat untuk memperlihatkan kuasa Tuhan menyertainya (Kel. 4:1–3).

 

Ketiga, Allah membangun rasa saling percaya dan ketaatan. Tunduk dan setia bukan kelemahan, melainkan sikap hormat. Janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub tetap dipenuhi; Musa membawa umat-Nya yang tertindas ke negeri yang berlimpah susu dan madu (ay. 8). Dengan demikian, Musa siap memasuki pelayanan dan berhasil.

 

Dr. J. Robert Clinton dalam bukunya Pembentukan Pemimpin Sejati menyatakan bahwa tugas pelayanan adalah tugas dari Allah yang menguji kesetiaan dan ketaatan seseorang untuk menggunakan talenta dalam sebuah tugas yang memiliki awal, akhir, pertanggungjawaban, dan evaluasi. Ini berbeda dengan pengalaman pelayanan yang sifatnya bukan ujian. Terdapat 19 karunia rohani yang merupakan kapasitas unik untuk menyalurkan kuasa Roh Kudus ke dalam pelayanan, dan semuanya dapat ditemukan melalui pengalaman praktis.

 

Hidup adalah kesempatan yang, selain dijalani dengan bersyukur, perlu diisi dengan melayani Tuhan dan sesama. Bila saat ini diri kita belum merasa dipanggil, bangunlah rasa ingin tahu seperti Musa. Allah akan menampakkan diri-Nya dengan cara unik bagi setiap orang. Buka hati yang siap dipakai-Nya. Dalam tugas pelayanan, kita tidak perlu takut, meski jalannya mungkin sulit, sebab Allah menyertai kita dan tidak membiarkan kita sendirian apalagi jatuh tergeletak (Mzm. 37:24). Semua akan indah pada waktunya. Musa dimuliakan saat berbicara dengan Tuhan Yesus tentang tujuan kepergiannya yang akan digenapi di Yerusalem (Luk. 9:30–31).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026

 PERSEMBAHAN YANG HIDUP DAN YANG BENAR (Rm. 12:1-8)

Bacaan lainnya: Kel. 1:8-2:10 atau Yes. 51:1-6; Mzm. 124 atau Mzm. 138; Mat. 16:13-20

Pendahuluan

Banyak orang memahami ibadah dalam arti yang terbatas, seperti berdoa, menghadiri kebaktian di gereja, bersaksi dan menyanyikan pujian, atau memberikan uang persembahan. Umat Yahudi juga demikian halnya, mereka lebih menekankan penyerahan korban persembahan sebagai ritual yang rutin saja dan melupakan makna dari ibadah itu, yakni adanya penyesalan dan perubahan melalui pertobatan hati. Oleh karena itu melalui nas minggu ini, firman Tuhan menekankan arti sebenarnya dari persembahan.  Pesan Ilahi ini memberi kita perspektif yang lebih luas tentang makna ibadah yang benar dan sejati serta berkenan kepada Allah. Hal ini didasari bahwa semua hidup kita adalah kemurahan Allah semata dan meski kita diberi karunia rohani, semua itu adalah untuk kemuliaan-Nya. Nas minggu ini memberi kita pengajaran sebagai berikut.

 

Pertama: Ibadah sejati dan persembahan tubuh (ayat 1)

Ketika di hari Minggu berjalan ke gereja, kalau ada yang bertanya kepada kita: "Mau kemana?" Biasanya kita akan menjawab: “Mau ke gereja” atau “Mau beribadah.” Maka jawaban itu dianggap benar dan logis. Tapi ketika di hari kerja pagi-pagi kita berjalan mau ke kantor, ada yang bertanya: mau kemana? Kemudian kita menjawab: “Mau beribadah”, maka orang yang bertanya itu akan mengira kita sedang teler, miring. Atau seorang istri ditanya suaminya: “Ke pasar mau ngapain?” Lalu istrinya menjawab: “Mau beribadah”, maka pasti istrinya dikira salah makan obat atau kemasukan roh jahat. Demikianlah kiranya pengertian umum ibadah dibuat sedemikian sempit hanya ketika mengikuti prosesi keagaamaan saja. Memang kata ibadah atau ibadat yang berasal dari bahasa Arab menurut KBBI adalah upacara keagamaan atau segala usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta. Sementara di dalam bahasa asli Alkitab (Yunani), kata latreia (kata benda) yang diterjemahkan ibadah atau latreuein, memiliki arti bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji. Pengertian latreuein ini kemudian berkembang, dan bisa juga berarti sikap tunduk dan hormat seorang hamba kepada tuannya. Ini didasari kasih dan diungkapkan dengan sikap membungkukkan badan atau ciuman tangan (bahasa Ibrani mengunakan kata abodah yang berarti sama yakni sikap tanda hormat dengan membungkukan badan seorang hamba). Hal inilah yang dijelaskan Rasul Paulus bahwa ibadah sejati sebenarnya adalah lebih luas, tidak hanya kehadiran dan sikap hormat dalam prosesi saja, melainkan penyerahan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Sikap ini dikaitkan dengan pelayanan sepenuh hati dan mengabdikan hidupnya kepada pekerjaan itu, dengan pengertian pekerjaan itu disadari sebagai penugasan dari Allah, dan disyukuri kepada Allah, maka pekerjaan itu berarti beribadah.

 

 

Bagi umat Israel, memberi persembahan sangat penting dan menjadi kewajiban mutlak pada saat upacara korban syukur, korban nazar atau penebusan karena berbuat dosa dan kesalahan. Umat Israel ketika mempersembahkan korban persembahan berupa hewan sesuai dengan ketentuan hukum Taurat, maka imam akan menyembelih dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian dan menempatkan daging korban itu di atas mezbah. Namun umat Israel menganggap persembahan korban itu sebagai sesuatu yang ritual saja, seolah-olah menaati hukum legalistik semata. Padahal Perjanjian Lama menuliskan dengan jelas bahwa ketaatan hati adalah lebih penting (1Sam. 15:22; Mzm. 40:7; Hos. 6:6; Amos. 5:22-24). Melalui ketaatan dan ketekunan hati sebenarnya Allah menginginkan persembahan hidup kita, bukan korban hewan semata sebagai persembahan ritual. Ketaatan hati ini dilakukan dengan menjauhkan diri dari keinginan daging, setia mengikut Dia, dan mempersembahkan seluruh sumber daya dan energi kita bagi kemuliaan-Nya (1Kor. 6:20; 1Pet. 2:5, 11), serta percaya kepada-Nya yang memimpin hidup setiap hari.

 

Oleh karenanya umat Kristen tidak perlu lagi mempersembahkan korban hewan sebagai penebus atau penghapus dosa dan kesalahan, sebab Yesus Kristus telah menjadi korban persembahan penebus segala dosa dan kesalahan kita. Kita diminta mempersembahkan seluruh kehidupan sehari-hari kita kepada Allah, itulah yang sebenarnya ibadah sejati. Pengertian ini sejalan dengan firman Tuhan yang disampaikan dalam Kol. 3:23, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Maka apabila kita bekerja di kantor, melayani di gereja, bekerja di rumah, bahkan menyapu rumah, memasak, memandikan anak, dan lainnya, semua merupakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Yang penting, dalam melakukan semua itu kita tetap dalam rasa syukur, menjaga kekudusan hidup dengan menjauh dari perbuatan jahat, mengikuti nafsu dan kedagingan. Hidup orang Kristen harus diisi dengan tindakan tulus ikhlas yang berkenan kepada Allah sebagai pelayanan, seperti membantu mereka yang dalam kesusahan, sebagaimana dituliskan: "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia" (Yak. 1:27).

 

Kedua: Jangan serupa dengan dunia (ayat 2-3)

Allah itu baik, menyenangkan hati dan mempunyai rencana yang indah bagi anak-anak-Nya. Firman Tuhan mengatakan untuk bisa seperti itu maka kita harus berubah melalui pembaharuan budi, tidak serupa dengan dunia ini. Firman Tuhan mengatakan kita harus berubah (yang berasal dari kata morfe) dalam proses yang terus-menerus, menekankan kepada bentuk, hakekat, dan kedalaman. Allah menginginkan kita sebagai pribadi yang berubah dengan roh dan pikiran yang baru, hidup dengan penuh hikmat dan mematuhi-Nya. Semuanya diperlukan karena Dia ingin memberikan yang terbaik kepada kita, sebagaimana Dia telah menyerahkan Anak-Nya untuk membuat hidup kita penuh terbuka bagi berkat, dan menyerahkan dengan penuh sukacita hidup kita sebagai persembahan yang hidup untuk dipakai melayani-Nya. Dalam perubahan itu kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini. Kata "serupa" diambil dari schema yang berarti tidak konsisten, atau mengikuti arus dunia, lingkungan, seperti bunglon, tidak teguh. Orang Kristen jelas dipanggil agar teguh konsisten dan tidak menjadi serupa dengan pola kehidupan dunia ini, yang umumnya perilaku dan kebiasaannya mementingkan diri sendiri dan sering mengambil keuntungan dari orang lain meski itu tidak haknya.

 

Melalui perubahan yang terus menerus, kita semakin baik dalam membedakan hal yang sesuai dengan kehendak Allah dan berkenan kepada Allah. Tanpa pembaharuan budi, maka kehendak Allah tidak mudah kita kenali. Kita perlu mendalami dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip utama Kekristenan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Banyak orang Kristen dengan bijaksana memutuskan perilaku duniawi kebanyakan yang jelas bertentangan dengan firman Allah. Penolakan mereka terhadap ikut arus nilai-nilai dunia ini, dengan menjauh keluar dari perilaku dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan pembaharuan budi. Contoh, kalau kita di lingkungan yang banyak suka minum-minum sampai mabuk, atau orang-orang yang suka memakai narkoba, lingkungan penjahat, tanpa keinginan dan tujuan yang pasti dan kuat, maka nilai-nilai kita pun akan terpengaruh dan tergerus yang akibatnya kita akan terikut dan menjadi jauh dari Tuhan. Oleh karena itu pengertian kudus dalam ayat 1 di atas adalah sesuatu yang tepat, yakni "diasingkan", khusus, berbeda, tidak sama, atau spesifik; Meski kudus juga dapat diartikan sebagai tidak bercela, tidak penuh dosa, dan menjaga tahir. Oleh karenanya, sangat mungkin bagi kita untuk menghindar dari kebiasaan umum dunia ini, seperti mementingkan diri sendiri, keras kepala, membanggakan diri sendiri, tamak, bahkan sombong. Kita hanya perlu meminta Roh Kudus membaharui, mendidik kembali, dan mengarahkan kembali akal dan berpikir kita dengan sunguh-sungguh sehingga dapat membedakan hal baik dan sempurna (Ef. 4:23; Ef. 5:17).

 

Harga diri yang sehat memang sangat penting, sebab banyak di antara kita berpikir kerdil tentang diri sendiri, meski di lain pihak kita juga jangan melebih-lebihkan (overestimate) terhadap kemampuan kita. Di sini yang ditekankan adalah jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kita pikirkan. Kita harus menguasai diri menurut iman. Kuncinya kita perlu bersifat jujur dan melakukan evaluasi yang tepat akurat tentang kemampuan dan kelebihan dasar kita, sekaligus melihat kelemahan dan kekurangan, dengan mengacu tetap di dalam Kristus. Sebab apabila terpisah dari Kristus, kita tidak mampu dan bisa terjebak dengan banyaknya standar dunia yang dapat diikuti, dan standar dunia ini adalah jahat (Kis. 2:40; Gal. 1:4; 1Yoh. 5:19). Mengevaluasi diri sendiri dengan cara standar dunia atau kesuksesan dan pencapaian dapat menyebabkan kita berpikir terlalu besar dan terlalu berharga di mata orang lain, akan tetapi justru mengabaikan nilai yang sebenarnya di mata Tuhan. Padahal, di dalam Kristus kita tetap mempunyai nilai dan kemampuan yang berharga dalam melayani Dia. Hal lainnya adalah menerima diri sendiri dengan rasa syukur serta berpendirian, semua berasal dari Allah. Ini yang dimaksudkan dengan ukuran iman sesuai pengenalan diri sendiri. Flp. 2:13 berkata, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya". Jangan iri terhadap orang lain, sebab bertukar posisi itu belum tentu lebih baik dan membahagiakan. Mungkin kita pernah mendengar tentang kisah suami istri yang naik mobil mewah saling berdiam diri, dibanding sepasang suami istri berjalan kaki dan bergandengan tangan di tengah derasnya hujan.

 

Ketiga: Banyak anggota dengan tugas berbeda (ayat 4-6a)

Rasul Paulus menggunakan konsep tubuh manusia untuk mengajar orang Kristen untuk hidup dan bekerja bersama-sama. Sama seperti seluruh bagian tubuh berfungsi karena diperintah otak, demikian juga orang Kristen harus bekerja bersama di bawah kendali dan perintah Yesus Kristus (1Kor. 12:12-31: Ef. 4:1-16). Allah membekali kita karunia rohani untuk membangun gereja-Nya. Untuk menggunakan dengan efektif, maka kita memerlukan hal sebagai berikut:

  1. Menyadari bahwa semua karunia rohani berasal dari Allah;
  2. Memahami bahwa tidak semua orang memiliki karunia rohani yang sama;
  3. Mengenal siapa diri kita dan apa yang terbaik untuk diberikan;
  4. Mempersembahkan karunia itu bagi Tuhan dan bukan untuk kepentingan dan keberhasilan diri sendiri;
  5. Bersedia memakai karunia rohani itu dengan sepenuh hati untuk pelayanan kepada Tuhan, bukan menahan atau menyia-nyiakannya.

 

Karunia rohani berbeda di dalam sifat, kekuatan, dan efektifitasnya sesuai dengan hikmat dan keluwesan, dan itu bukan semuanya berdasarkan iman. Peran kita adalah tetap setia dan mencari cara dan jalan melayani-Nya melalui apa yang telah diberikan-Nya. Karunia rohani yang ada semua dalam satu tubuh gereja dan rinciannya merupakan anggota-anggota saja. Dalam Roma 12 ini disebutkan tujuh karunia rohani dan yang lebih lengkap ada di beberapa surat Rasul Paulus lainnya (Kis 21; 1Kor 11-14; Ef 4; dan lainnya). Dalam khotbah Minggu Pentakosta tentang Ada Rupa-Rupa Karunia, Tetapi Satu Roh (1Kor. 12:3b-13) disebutkan adanya 18 karunia rohani yang dibagi dalam tiga katagori, yakni:

  • Karunia rohani melalui perkataan atau berbicara, terdiri dari 7 karunia;
  • Karunia rohani melayani dan memberi, terdiri dari 6 karunia;
  • Karunia rohani untuk membuat mukjizat, terdiri dari 5 karunia.

 

Semua karunia dilengkapi oleh Roh Kudus dalam jemaat untuk membangun keluarga Allah dan menyatakan kasih Allah kepada orang lain (1Kor; 12:4-7; 1Kor; 14:12; 1Pet; 4:10).

 

Allah memberi karunia dan talenta kepada kita bukan untuk disalahgunakan. Ingatlah firman Tuhan yang berkata tentang talenta (Mat. 25:14 dab) yang kemudian pada ayat 30 ditutup Tuhan Yesus dengan berkata, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Karunia rohani dipakai sebagai berkat dan terang sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya, "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu” (Mat. 5:15). Hal yang penting dalam memakai karunia rohani yang diberikan, kita jangan sombong. Kita tidak boleh seperti jemaat di Korintus yang mengutamakan karunia-karunia yang paling dirasakan hebat dan penuh tanda-tanda. Mereka lebih menonjolkan kehebatan karunia yang mereka punyai, tanpa ingin mengetahui rencana Allah memberi karunia-karunia itu. Mereka meniru upacara-upacara kafir yang penuh dengan ritual “keanehan” demi untuk mendapatkan perhatian dan keistimewaan. Oleh karena itu, perlu pengendalian diri yang berdasar pada pengenalan diri dan pengenalan tujuan pemakaian karunia rohani tersebut. Mari kita kenali diri kita dan karunia yang Tuhan berikan, kemudian kita pakai, dan lihat yang belum dikembangkan dan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

 

Keempat: Prinsip penerapan karunia-karunia rohani (ayat 6b-8)

Apabila kita memeriksa daftar karunia rohani yang diberikan dalam nas ini yakni tujuh karunia rohani, dan kita dapat membayangkan beragam manusia yang memilikinya dengan sifat yang berbeda-beda, misalnya:

- Seorang nabi yang bernubuat seringkali berbicara dengan berani dan mengalir bersambung;

·       - Hamba Tuhan yang terlibat dalam pelayanan lebih memperlihatkan keteguhan dan kesetiaannya;

·      -  Guru lebih memperlihatkan kemampuan berpikir dengan jernih dan netral;

·      - Konselor memperlihatkan kemampuan dalam memotivasi orang lain;

·     -  Pemberi yang suka membagi-bagikan melakukannya dengan murah hati dan penuh kepercayaan;

·      - Pemimpin mempertunjukkan cara mengorganisasi kelompok dan mengelola dengan baik;

·     Mereka yang memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian kepada orang lain adalah mereka yang bisa memberi waktunya dengan sukacita.

 

Jadi jelas, dari tujuh daftar karunia rohani itu, sangat sulit membayangkan semua itu ada pada satu orang! Nabi atau pengkhotbah (1Kor. 14:1-3) yang tegas dan retorik umumnya bukanlah konselor atau gembala yang baik; orang yang bermurah hati biasanya mudah gagal menjadi pemimpin yang baik.

 

Ketika kita mengenal dan mengidentifikasi karunia rohani yang ada di dalam diri kita dari delapan belas yang ada dalam daftar khotbah Minggu Pentakosta tersebut, maka bertanyalah kepada Tuhan dan diri sendiri: bagaimana agar kita dapat menggunakannya dengan baik bagi kemaslahatan gereja dan keluarga Allah? Pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa karunia rohani yang kita miliki tidak dapat bekerja sendiri, melainkan memerlukan dukungan karunia rohani yang lain. Untuk itu kita pantas berterima kasih kepada mereka yang memiliki karunia rohani yang berbeda, sebab dapat melengkapi pelayanan yang kita miliki. Biarkanlah kekuatan kita menutupi kelemahan orang lain, dan kekuatan orang lain menutupi kelemahan dan kekurangan kita, dan sekaligus kita bersyukur atas hal itu.  Karunia rohani jangan dibuat menjadi kuasa rohani, menyebabkan persaingan, berpikir mereka merasa "lebih rohani" atau bahkan memiliki hak otoritas tertentu yang lebih tinggi. Sikap kita tetap sebagai orang yang tidak layak memperoleh karunia itu, namun Allah membuat kita demikian berharga.

 

Prinsip dalam mempersembahkan hidup melalui karunia rohani adalah selalu dalam kebersamaan dengan orang lain yang membuat melayani Tuhan lebih baik. Semua dilakukan dengan sepenuh hati dalam semangat pelayanan pengabdian. Bernubuat melalui berkhotbah atau menceritakan tentang Tuhan Yesus semua dilakukan dengan iman yang teguh, bukan mengutarakan ramalan-ramalan apalagi tentang waktu pasti kedatangan Yesus kedua kali. Itu sangat spekulatif dan tidak didasari iman yang benar. Jika kita hendak membagi-bagikan sesuatu, maka lakukan dengan ikhlas; Jika memimpin kelompok atau organisasi, maka lakukan dengan rajin; dan apabila memberi kemurahan dan berkat, maka dijalankan dengan sukacita. Pelayanan karunia rohani orang percaya tidak dibatasi lagi oleh tempat seperti pelayanan atau ibadah umat Yahudi yang dijalankan hanya di Bait Allah, tetapi kita orang percaya menjalankan ibadah kita di setiap tempat dan di setiap waktu. Dalam ibadah umat Israel, binatang hidup yang dimatikan namun dalam ibadah orang percaya, tubuh yang sudah mati karena dosa justru dihidupkan sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Tubuh orang percaya kini adalah bait Allah (1Kor. 3:16-17; 2Kor. 6:16; Ef. 2:22).

 

Penutup

Melalui nas minggu ini kita disegarkan kembali tentang pemahaman ibadah sejati melalui persembahan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Kita tidak disempitkan lagi dengan pengertian bahwa persembahan hanyalah di tempat-tempat prosesi saja, tetapi justru seluruh kegiatan kehidupan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan mempertahankan tubuh kita sebagai tubuh yang kudus sebagai Bait Allah, dengan cara tidak serupa dengan dunia ini. Hal itu hanya dapat dicapai dengan berubah oleh pembaharuan budi, sehingga kita terus dimampukan untuk membedakan yang baik dan sempurna. Dunia ini dan iblis sering menggoda untuk menawarkan seolah-olah lebih tinggi dari kemampuan dan batasan karunia yang diberikan Allah, sehingga perlu untuk mengenal diri sendiri dan menguasai diri menurut ukuran iman. Setiap orang diberi sejumlah karunia rohani sebagai dasar persembahan, namun itu memerlukan karunia lain bagi gereja dan keluarga Allah, sehingga perlu kesadaran akan pentingnya orang lain dengan karunia berbeda untuk mensinergikan kemampuan dalam mencapai tujuan Kerajaan Allah. Kita masing-masing anggota tubuh Kristus diberi tugas yang berbeda dan saling melengkapi. Semua karunia itu dipakai dan bukan disembunyikan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, melainkan dipakai dan dikembangkan dengan prinsip ikhlas, rajin, sungguh-sungguh, dan penuh sukacita. Dengan demikian tubuh dan hidup kita menjadi persembahan yang sempurna dan ibadah kita menjadi ibadah sejati yang kudus dan berkenan kepada Allah. Mari kita renungkan, apakah hidup kita telah kita persembahkan seluruhnya kepada-Nya?

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 23 Agustus 2026

Kabar dari Bukit

  DENGARKANLAH DAN PANDANGLAH (Yes. 51:1-6)

  ”Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah ke bumi di bawah” (Yes. 51:6a, TB2)

 

Selamat pagi, salam kasih.

Tentu banyak orang pernah mengalami kesedihan atau pergumulan yang berat, baik karena penyakit, persoalan keluarga, kehilangan orang terkasih, kegagalan, ketidakadilan, atau derita panjang lainnya. Mereka merasa putus asa menghadapi situasi yang terjadi, terlebih bila datangnya mendadak tidak terpikirkan sebelumnya. Persoalan lebih runyam jika jalan hidupnya sejak kecil atau beruntun terus dalam kesulitan. Mungkin timbul pertanyaan: Di mana Tuhan? Atau berkata: adakah saya pernah merasakan kebaikan Tuhan?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini diambil dari Yes. 51:1-6. Nas ini berbicara tentang situasi umat Israel berada di pembuangan ke Babel. Mereka kehilangan harta/tanah, identitas, Bait Allah lenyap; mereka lemah dan ketakutan, masa depan tidak pasti, pengharapan pupus. Kebanggaan sebagai umat pilihan tidak bermakna dalam realitas yang dihadapi.

Tetapi Nabi Yesaya datang membawa pesan Allah, mengingatkan bahwa umat Israel perlu berhenti memandang keadaan diri semata-mata dan diminta kembali memandang kepada Allah. Mereka perlu mengingat kembali siapa dan dari mana mereka berasal. Allah tidak menjanjikan situasi langsung berubah menjadi baik, tetapi berpandangan semua akan baik-baik sepanjang berjalan dan berpegang pada tuntunan Allah. Itu yang perlu dilakukan.

 

Bagi yang bertanya kebenaran dan mencari Tuhan, perlu mendengar-Nya (ay. 1a). Suara Tuhan ada dalam firman-Nya yang tertulis di Alkitab. Kenalilah Dia dan kuasa-Nya. Tuhan melalui sejarah telah membuktikan Abraham dituntun dan diberkati. Ia mampu membuat padang gurun seperti Eden dan padang belantara seperti kebun TUHAN – membuat kegembiraan dan sukacita (ay. 2-3).

 

Maka mereka yang merasa Allah jauh atau belum ikut bekerja dalam hidupnya, perlu melihat dirinya sebagai ciptaan Allah yang sangat berharga di mata-Nya, dengan catatan perlu dikasihi-Nya (Yes. 43:4; Mzm. 165). Oleh karena itu ditambahkan juga, “Perhatikanlah suara-Ku, hai umat-Ku, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai bangsa-Ku. Sebab pengajaran akan keluar dari-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa” (ay. 4).

Dengan berpegang pada pengajaran dan hukum-Nya, kita akan menjadi anak-anak-Nya. Jika kita setia mengikuti-Nya, Ia juga setia akan janji-Nya, dan kita akan menjadi bagian “gunung batu yang darinya kamu dipahat, dan kepada lubang penggalian batu yang darinya kamu digali” (ay. 1b).

 

Jika kita berada pada situasi yang lemah, menderita atau takut, jangan fokus kepada kesulitan tersebut; dan tentu kita berupaya bisa. Jangan mengukur masa depan kita berdasarkan keadaan sekarang. Pandanglah Allah, berjalanlah dengan iman yang ujungnya adalah keselamatan jiwa kita (Rm. 1:17; 1Pet. 1:9). Sebab bukankah jiwa lebih utama dari tubuh? Penghiburan Allah kepada umat Israel membuktikan Allah tidak membiarkan kita sendirian. Dengan iman bahwa Allah itu baik dan peduli, jalanilah kehidupan dengan sikap berserah dan penuh optimisme. Jangan berkecil hati sebab (kuasa) Allah kita besar. Sejarah ada di dalam tangan-Nya dan masa depan bukanlah rahasia yang gelap, perubahan terjadi bila berjalan bersama-Nya.

Kita hanya perlu mengarahkan mata ke langit dan melihat ke bumi di bawah; “Sebab langit akan lenyap seperti asap, bumi seperti pakaian yang sudah usang..., tetapi keselamatan dari-Ku akan tetap untuk selama-lamanya, dan keadilan-Ku tidak akan berakhir” (ay. 6). Jangan takut kepada sesuatu yang akan berlalu dan lenyap. Mulailah dengan mendengar dan teguh percaya, pandanglah Allah, semua akan berakhir dengan damai sejahtera.

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIII Setelah Pentakosta - 23 Agustus 2026 – Opsi 2

  PENGAKUAN BAHWA YESUS ADALAH MESIAS (Mat. 16:13-20)

  Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:19b)

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini sesuai leksionari dari Mat. 16:13-20, bercerita tentang pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup”. Ini menjawab pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Murid yang lain menjawab berbeda, ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi. Jawaban Petrus dianggap memuaskan hati Yesus dan Yesus pun berkata kepadanya: “... bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” (ayat 17b-19a).

Kembali saya mengutip pendapat John Stott, dalam bukunya tentang mengapa ia menjadi seorang Kristen, Why I am a Christian. Bila alasan pertama karena ia diburu oleh Anjing Pemburu dari Surga yakni Tuhan Yesus (lihat minggu lalu), maka alasan kedua adalah: ia tidak hanya melihat hal itu baik, tetapi juga “diyakinkan bahwa Kekristenan adalah benar, atau lebih tepat lagi, pernyataan Yesus adalah benar.”

John Stott berpendapat bahwa pengajaran Yesus luar biasa, dan pantas dicatat karena berpusat pada diri-Nya. Yesus adalah pusat dan inti Kekristenan. Ia menyatakan diri-Nya sebagai “roti hidup”, “terang dunia”, “jalan, kebenaran dan hidup”, tetapi Yesus juga menempatkan diri-Nya sebagai tujuan dari iman orang percaya. “Datanglah pada-Ku”, “Ikutlah Aku”, pernyataan yang berulang kali disampaikan-Nya. Ia berjanji mengangkat beban kita, memuaskan rasa haus (Mat. 11:28; Yoh. 7:37), dan menegaskan rujukannya tentang kasih sebagai hal yang utama.

Ada tiga alasan menurutnya yang membuat hal itu. Pertama, Yesus adalah penggenapan Perjanjian Lama (PL). Yesus mengokohkan diri-Nya saat membaca kitab Yesaya 61:1-2 yang kemudian ditulis dalam Luk. 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku....” Selanjutnya Rasul Lukas menuliskan, “Pada hari itu genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya (Luk. 4:21). Yesus juga melihat diri-Nya dalam dua gambaran dalam PL sebagai Anak Manusia, yakni pribadi berwujud manusia dalam penglihatan Nabi Daniel yang diberi kekuasaan dan kemuliaan (Dan. 7:14). Tetapi dalam diri-Nya juga ada gambaran Yesaya, hamba yang penuh kesengsaraan, dihina, ditolak dan menanggung dosa banyak orang (Yes. 53:3, 12). Anak Manusia Yesus sebagaimana nas minggu ini, menggambarkan sebutan kehormatan dalam kitab Daniel, sekaligus hamba yang menderita dan sebutan yang memalukan dalam kitab Yesaya.

Faktor kedua, menurut John Stot, adanya kedekatan, hubungan yang unik dan spesial dengan Allah yakni sebagai “Anak”. Sebutan anak-anak Allah berlaku bagi malaikat, Adam, Salomo, raja-raja Yudea yang diurapi, dan Israel. Kedekatan-Nya sejak berusia 12 tahun membuat Ia berkata: “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak” (Mat. 11:27).

Faktor ketiga, adanya otoritas. Ia menyebut diri-Nya sebagai Juruselamat dan sekaligus Hakim bagi manusia. “Pernyataan yang sangat sombong, namun rendah hati.” Tampak ada paradoks dalam diri-Nya; Ia menyatakan diri sebagai Tuhan, Guru dan Hakim, tetapi Ia juga mengambil handuk, berlutut dan membasuh kaki murid-murid-Nya seperti budak biasa.

Anak Manusia yakni Yesus, telah menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai Kristus atau Mesias yang terdapat dalam Kitab Suci, Sang Anak Allah, dan juga Juruselamat serta Hakim atas seluruh dunia. Sudahkan kita mengenal dan mengakui sepenuhnya seperti Petrus, serta menempatkannya sesuai pengakuan kita? “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (ayat 20). Jika belum sepenuhnya, mari kita melakukannya untuk menyenangkan hati-Nya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 41 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14428140
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
5574
6610
12184
14361585
227015
136921
14428140

IP Anda: 216.73.217.126
2026-08-31 14:14

Login Form