Tuesday, January 20, 2026

2026

Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

  SALIB ADALAH KEKUATAN ALLAH (1Kor. 1: 10-18)

 Bacaan lainnya: Mat. 4:12-23; Yes. 9:1-4; Mzm. 27:1, 4-9;

 

 Pendahuluan

 

Bacaan di atas merupakan respon Rasul Paulus setelah mendapat laporan dari utusan keluarga Kloë yang mungkin adalah anggota jemaat di Korintus tentang terjadinya perpecahan di antara jemaat. Sebagai orang yang pernah tinggal di sana dan membimbing banyak jemaat, Paulus memberikan nasihat dan ini menjadi pelajaran dan teladan kepada kita, bagaimana potensi-potensi perpecahan dalam gereja perlu dikenali, diungkapkan, dan kemudian diarahkan agar gereja tidak menghabiskan energi hanya untuk mengurusi hal seperti itu. Pusat perhatian gereja hanyalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kita dipanggil untuk menjadi kekuatan Allah. Melalui nas bacaan ini, kita diberikan pelajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Jangan ada perpecahan di jemaat (ayat 10-12)

 

Ungkapan “Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh” merupakan pepatah atau adagium yang bisa diterima semua orang. Contoh sapu lidi sangat umum untuk menggambarkan hal ini. Barisan yang teratur dan saling terkait dan menopang, pasti menjadi pertahanan atau benteng yang kuat dan bagus. Kesatuan tembok batu bata atau simpul tali/kawat yang dipilin pasti akan lebih kuat. Demikian pula ungkapan kalau menggapai mimpi lebih baik dilakukan berdua/bersama dibandingkan dengan dilakukan sendiri-sendiri. Istilah sinergi adalah istilah generik yang memang manfaatnya tidak bisa terbantahkan. Namun, kalaupun ada yang berpikir bahwa sebuah lidi juga bisa bermanfaat, atau bermimpi juga bisa dilakukan sendirian, atau sinergi juga membawa efek samping, ya semua sah-sah saja. Namun dengan kesatuan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan, dipastikan lebih efektif dan hasilnya jauh lebih baik.

 

 

 

Tetapi mengapa orang tidak mudah bersatu? Mengapa orang mau berselisih dan tidak melihat contoh di atas dan lebih memilih berpisah, bercerai atau perpecahan (schisma)? Orang lebih suka berpisah dan membangun sesuatu yang baru dengan kembali ke titik nol, dibandingkan dengan tetap bersinergi bersama-sama membangun yang sudah ada dan saling mendukung. Sepertinya semua hanya karena EGO atau EGOISME. Ini sifat yang lebih mementingkan diri sendiri, atau dorongan untuk menguntungkan diri sendiri dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Fokus utamanya adalah kepuasan diri sendiri dan bukan menyenangkan orang lain, yang dalam hal ini menyenangkan hati Tuhan juga (Band. Gal. 5:20). Mereka melihat dirinya lebih utama dan penting sehingga bertindak lebih baik sendiri, dengan kadang berprinsip lebih baik jadi raja kecil daripada serdadu raja besar. Merasa diri penting sangat berbahaya, seperti kata T.S. Eliot, “Separuh rasa sakit yang terjadi di dunia ini hanya karena seseorang merasa dirinya penting.”

 

 

 

Itulah yang terjadi di jemaat Korintus. Keragaman anggota jemaat membuat adanya kelompok-kelompok, dan masing-masing kelompok ini berpendapat bahwa kelompoknyalah adalah yang terbaik, termasuk adanya kelompok Yahudi dan non-Yahudi. Mereka juga mendasarkan kelompoknya pada siapa yang membaptis, karunia yang mereka miliki, kaya miskin, sekelompok orang yang masih terlibat dengan masalah moralitas lama, dan sebagainya sehingga menimbulkan perpecahan dalam jemaat. Semua merasa dirinya utama dan penting. Padahal, perpecahan mendatangkan ketidaknyamanan bagi seluruh anggota lainnya, menjadi kelemahan, celaan (Mat. 12:26) dan batu sandungan, membawa kepahitan (Ibr. 12:15), dan kehancuran (Mat. 12:35). Mereka ikut dalam pertempuran di lapangan tetapi sebenarnya mereka tidak bertujuan memenangkan peperangan. Seseorang yang mengutamakan dirinya sendiri sebaiknya melihat dulu dosa-dosa yang sudah dilakukannya, dan bagaimana Yesus telah mati bagi dirinya dengan merendahkan diri dan menerima siksaan yang berat. Bagi Paulus, sikap perpecahan ini menyedihkan dan itulah dasar dari suratnya.

 

 

 

Kedua: Baptisan dan keutamaan denominasi (ayat 13-16)

 

Pada waktu surat ini ditulis, memang belum ada kitab Perjanjian Baru sebagai sebuah kitab suci referensi bersama. Jadi semua orang sangat tergantung kepada pengajar masing-masing. Ada yang merasa kalau murid Kefas (nama Petrus dalam bahasa Aram) adalah rasul yang paling berwibawa saat itu, ada yang merasa murid Paulus (sebab ia pernah tinggal disana), ada yang merasa murid Apolos dari Aleksandria yang pandai berpidato dan mengeluarkan kata-kata “berhikmat” dan senang pada keanggunan sastra (band. Kis. 18:24; 19:1), dan ada pula yang merasa menjadi murid Kristus langsung. Kemungkinan juga mereka ini dibaptis oleh masing-masing gurunya tersebut sehingga membedakan baptisan-baptisan yang ada dan mereka memiliki karunia-karunia yang berbeda kualitasnya. Dengan demikian mereka menjadikan Kristus yang terbagi-bagi, tidak lagi dalam satu tubuh-Nya.

 

 

 

Bagaimana pun Kristus tidak dapat terbagi-bagi berdasarkan baptisan dan guru atau pengajar, bahkan rasul sekalipun. Namun bagi jemaat Korintus mereka berpikiran adanya hubungan khusus antara yang membaptis dan mereka yang dibaptis. Mereka merasa pembaptislah yang menjadi pemilik hidupnya (karena berlatar belakang pemikiran budak), seolah-olah kewibawaan atau “kebesaran” nama dan kepintaran berpidato oleh orang membaptis itu menjadi sebuah keistimewaan dalam baptisan, semacam memiliki kekuatan rohani yang berbeda. Jelas ini cara berpikir yang salah. Bahkan mereka juga menjelek-jelekkan baptisan orang lain, bahwa baptisan oleh pihak lain itu tidak sah, tidak berwibawa, kurang memiliki Roh yang kuat, dan sebagainya, sementara baptisan mereka adalah yang penuh wibawa, penuh Roh, dan berdasarkan hikmat yang lebih besar, dan sebagainya. Inilah yang membuat mereka menempatkan diri sebagai kelompok eksklusif dan menjadi biang keladi perpecahan jemaat. Padahal, tujuan dibaptis adalah sesuai dengan perintah Kristus dan mencirikan mereka bukan manusia lama, dan mereka yang sudah dibaptis ke dalam Kristus akan menjadi manusia baru (band. Rm. 6:1-11).

 

 

 

Hal ini juga yang menjadi pergumulan umat Kristen saat ini. Masih banyak gereja-gereja yang mengaku bahwa baptisannya (selam) sah dan baptisan yang lain (percik) tidak sah. Ada yang bahkan mengaitkan baptisan (selam) dengan syarat keselamatan sehingga mewajibkan baptisan ulang, yang berarti mengabaikan dan menihilkan baptisan sebelumnya. Mereka ini menyatakan bahwa baptisan kepada bayi dan anak-anak tidak sah. Sikap seperti ini jelas bukan meneladani Kristus dan para rasul yang merendahkan diri demi untuk pelayanan. Hal yang lebih mengkhawatirkan juga akibat dari pandangan ini, jemaat masa kini banyak yang menjadi lebih berpihak pada manusia (gembala, pendeta) yang menahbiskannya, bersedia bertengkar demi mengikuti pandangan yang “salah” tersebut, dan bukan berpihak pada Kristus, sumber kuasa Roh dalam baptisan. Ini bahayanya kalau orang hanya mendengar khotbah tanpa membaca ulang firman-Nya, akan ada fanatisme buta. Pesan pengkhotbah tidak lebih utama dan benar dari firman. Kekuatan bukan pada yang bercerita, tetapi pada ceritanya (get the story, not the storyteller). Kebanggan kita bukan pada pengkhotbah melainkan pada Tuhan Yesus. Inilah yang ditekankan oleh Firman-Nya melalui Rasul Paulus, agar kita tetap dalam kasih dan kesetiaan kita kepada Allah, berfokus pada Sumbernya yakni Tuhan Yesus, berfokus pada misi-Nya, dan bukan pada orang yang membaptis kita di dunia ini. Firman Tuhan berkata, membanggakan kelompok sesuai baptisan menunjukkan bahwa kamu adalah manusia duniawi yang bukan rohani (1Kor. 3:4).

 

 

 

Ketiga: Kita dibaptis untuk diutus (ayat 17)

 

Meski Paulus menyatakan bahwa dia dipanggil bukan untuk membaptis, baptisan bukan berarti tidak perlu. Tuhan Yesus memerintahkan baptisan (Mat. 28:19) dan juga dikhotbahkan oleh para rasul (Kis. 2:41). Baptisan sebagai “pengganti” dan sejajar dengan sunat merupakan pemersatu kita dengan Kristus. Pemersatuan itu disimbolkan dengan adanya air, baik itu dalam bentuk percikan maupun dalam bentuk diselamkan. Memang kata baptis berarti diselamkan, akan tetapi diselamkan dalam pengertian diselamkan secara rohani ke dalam Roh, bukan hakekatnya ke dalam air, sebab air itu hanyalah tindakan simbolis saja.  Pengertian dibaptis atau diselamkan dalam hal ini diutamakan dipersatukan ke dalam kematian Tuhan Yesus dan kebangkitan-Nya. Baptisan juga tidak ada hubungannya dengan pengudusan dan juga dengan keselamatan, sebab keselamatan itu hanya melalui pertobatan, iman, ketaatan, dan kasih karunia saja (band. Kis. 2:38). Itu hanya merupakan tanda dipersekutukan dan tidak ada salahnya bila dipakai sebagai persyaratan keanggotaan gereja tertentu, namun bukan pada keselamatan.

 

 

 

Rasul Paulus sendiri tidak terlalu berminat dalam membaptis sehingga ia katakan hanya membaptis beberapa orang saja. Tugas itu lebih ia berikan kepada pihak lain yang secara teologis memang siapa saja orang percaya dapat melakukannya, meski aturan gereja kadang menyebutkan harus dilakukan oleh hamba Tuhan yang ditahbiskan (Pendeta). Rasul Paulus lebih menekankan tugas dan pelayanannya dalam pemberitaan Iniil, sebab menurutnya untuk itulah dia dipanggil, bukan dipanggil untuk membaptis. Dalam pandangannya, sepanjang baptisan itu di dalam nama Tuhan Yesus (beserta Allah Bapa dan Roh Kudus), maka semua baptisan itu sudah sah dan mempersatukan kita dengan Dia. Dengan demikian, firman Tuhan yang disampaikannya lebih menempatkan kedudukan baptisan pada pengertian yang sebenarnya, bukan diartikan menjadi sesuatu yang membuat perbedaan baik dalam cara maupun dalam kualitas berkat dan karunia yang diterimanya. Oleh karena itu Rasul Paulus sebagai pembimbing mereka, dalam kekecewaannya dengan perpecahan karena baptisan ini sampai mengatakan: "Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut'?" (1Kor. 4:21).

 

 

 

Oleh karena itu seyogianya bagi kita yang diberi karunia berkata-kata dalam hikmat seperti Apolos dalam pengertian pandai berkhotbah, jangan melupakan bahwa fokus utama panggilan kita adalah untuk terus memberitakan Injil, bukan dengan membangun gereja yang baru, kelompok baru, menghimpun anggota untuk kepentingan diri sendiri, sehingga tujuan utama pemberitaan Injil menjadi terpinggirkan atau tidak fokus. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak mau terjebak dalam pidato atau khotbah yang menggebu-gebu, berkata-kata dengan bunga rampai hikmat duniawi, melainkan ia mengandalkan kekuatan Roh dalam pemberitaan Injil, agar semakin banyak orang yang bertobat, percaya, dan taat agar menerima kasih karunia itu (1Kor. 2:1, 4). Bagi dia, pemberitaan Injil dan Kristus yang disalib dan bangkit kembali merupakan hal yang utama, bukan mempersoalkan baptisan, bukan perbedaan karunia rohani, sebab hal demikian membuat salib Kristus menjadi sia-sia atau kosong kehilangan tujuannya.

 

 

 

Keempat: Pemberitaan salib itu kekuatan Allah (ayat 18)

 

Ada banyak makna salib bagi banyak orang. Ada yang membuat salib sebagai perhiasan di baju, digantungkan di leher; ada yang membuat sebagai hiasan di dinding rumah; ada yang membuat sebagai senjata atau bahkan menjadi tiang jemuran; tapi secara umum salib adalah simbol kekristenan, sebab Yesus mati di kayu salib dan curahan darah-Nya itulah yang menjadi penebusan dosa umat manusia. Alkitab berkata bukan lagi persembahan hewan dan percikan darahnya di bait Allah di Yerusalem yang dapat menghapuskan dosa manusia, melainkan hanya dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus menderita dan telah mati bagi dia, kita sudah ditebus oleh-Nya, darah-Nya yang kudus telah menguduskan kita, dan bertobat serta taat akan firman-Nya, maka salib itu memiliki makna khusus dalam hidup kita.

 

 

 

Bagi mereka yang mengutamakan penggunaan akal pikiran dalam mencerna penebusan Yesus di salib, itu tampak seperti hal yang tidak masuk akal. Kesannya, bagaimana mungkin seseorang mati di kayu salib bisa menggantikan segala dosa-dosa yang kita lakukan. Bagi mereka, yang terus mengutamakan penggunaan akal dan mengandalkan semua logika duniawi, ini dipandang sebagai kebodohan. Kesombongan intelektual mereka membuat mereka menolak, tetapi ketidakpercayaan itulah yang membuat mereka menjadi binasa. Nas minggu ini mengatakan, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka. Mereka tidak sadar bahwa justru itulah keunikan dan kekhususan kekristenan, dengan kebenaran pengampunan dan keselamatan hanyalah kasih karunia dan anugerah.

 

 

 

Tetapi sebaliknya bagi kita yang percaya pada penebusan Yesus, mengakui salib itu adalah kekuatan Allah. Salib itu adalah tempat Allah memperlihatkan kasih-Nya dengan bersedia menderita dan menerima siksaan hingga mati demi untuk menebus dosa-dosa yang percaya kepada-Nya. Salib bagi kita bukan (hanya) ornamen, hiasan, atau simbol, namun salib sudah menjadi hakekat penebusan. Dengan demikian, pemberitaan salib menjadi kekuatan Allah, sebab apabila kita memberitakan penderitaan Tuhan Yesus, yang mati di kayu salib, dan kuasa-Nya berupa kebangkitan dan naik ke sorga, maka itu menjadi kekuatan bagi mereka yang belum mengenal Dia. Pemberitaan salib memberi hikmat dan kebenaran dengan kuasa yang menyertaiNya, menjadi pintu penerimaan bagi mereka yang belum merasa pasti selamat.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini, kita diminta untuk terus bersatu dan saling membahu dalam mengabarkan Injil dan salib. Pemberitaan salib adalah kekuatan Allah. Kita tidak perlu berpisah dan menjadi terpecah, berdebat soal baptisan atau karunia-karunia rohani yang terbesar di hadapan Allah. Kita harus sepenuh hati memberikan kontribusi sesuai dengan yang diberikan Allah dalam hidup kita, yakni karunia-karunia tersebut. Rasul Paulus menekankan bukan indahnya kata-kata dalam khotbah, ajaran yang glamor, tetapi kembali ke tugas pokok dengan pertanyaan: Apakah diri kita dan gereja kita terus menginjili ke luar? Berjuanglah mendapatkan keharmonisan, jauhkan perdebatan yang tidak perlu dalam kelompok. Kristus yang utama dan nama ini yang ditekankan berulang-ulang pada surat Paulus ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026 (Opsi 2)

 MENGIKUT YESUS (Mat. 4:12-23)

Firman Tuhan bacaan kita Mat. 4:12-23, berbicara tentang awal mula pelayanan Tuhan Yesus, setelah Ia lolos dicobai Iblis di padang gurun. Dalam rencana Tuhan yang indah, Yohanes Pembaptis yang diutus membuka jalan untuk pelayanan Tuhan Yesus, telah ditangkap. Yesus yang ditolak di kampung halamannya di Nazaret (Luk. 4:29), kemudian memutuskan memulai pelayanan-Nya di Kapernaum, Galilea. Ini menggenapi nubuatan PL: "bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang” (ayat 16, Yes. 9:1).

Kesinambungan sebuah pelayanan sangatlah penting. Ucapan Yohanes, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” kini diserukan kembali oleh Tuhan Yesus (ayat 17, band. Mat. 3:2; Yoh. 3:30). Misi Allah tidak boleh vakum atau terputus. Yesus sendiri masih sangat muda saat memutuskan memulai pelayanan-Nya, yakni sekitar tiga puluh tahun (Luk. 3:23). Pemilihan Galilea sebagai tempat pelayanan pertama juga sangat tepat, karena penduduk Galilea sangat beragam, bukan mayoritas Yahudi. Penduduk Galilea lebih terbuka menerima pemikiran dan pengajaran baru.

 

Dalam Yudaisme, mereka yang ingin belajar keagamaan bebas memilih gurunya. Tuhan Yesus melakukan hal yang berbeda, yakni justru Dia yang memilih murid-murid-Nya. Itulah yang dilakukan dengan meminta Simon Petrus dan Andreas, kemudian Yakobus dan Yohanes. Mereka ini memiliki pekerjaan tetap, seperti Simon sebagai nelayan penjala ikan, kini diminta Tuhan Yesus ikut sebagai penjala manusia (ayat 19).

 

Keputusan cepat keempat murid dalam nas ini untuk mengikut Tuhan Yesus sangat mengesankan. Tidak banyak diskusi tanya jawab. Keempat murid berani mengambil resiko memasuki kehidupan yang penuh perjuangan, tanpa ada kejelasan dan kepastian akan upah dan hasil kerja. Semua itu atas pimpinan Roh meski iblis tidak menyukainya.

 

Kita yang telah mengikut Yesus, perlu bersikap sama. Tetap peduli dengan pelayanan dan jadikan itu panggilan utama hidup kita. Hidup tidak selalu memperhitungkan untung rugi atau resiko. Dan, bersama Tuhan kita pasti aman dan menjadi pemenang. Salib adalah kekuatan kita dalam membawa terang Yesus. Wilayah pelayanan begitu luas yang belum tertanam firman Tuhan Yesus. Ladang yang menguning sangat besar tetapi tidak ada penuai. Semua itu membutuhkan keterlibatan dari sebagian sisi kehidupan kita, kecuali yang terpanggil untuk melayani penuh waktu seumur hidupnya. Itu akan menyenagkan hati Tuhan. Selamat masuk dalam pelayanan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 18 Januari 2026

Kabar dari Bukit

 

 IMAN INSTAN ATAU IMAN SEJATI? (Mzm. 40:1-11)

 

 ”Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menoleh dan mendengar teriakku minta tolong” (Mzm. 40:2)

 

 

Iman memang dasar dari segala sesuatu (Ibr. 11:1a) dan tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Di dalam pengharapan atau pergumulan penderitaan, kita orang percaya memang kadang menuntut instan buah dari iman; ingin melihat hasil langsung kepercayaan kita terhadap Dia. Tetapi Alkitab mengajarkan: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Rm. 11:33). "Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN" (Yes. 55:8).

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 40:1-11. Ini ungkapan hati Raja Daud yang tetap setia dan bersyukur meski melewati tantangan dan penderitaan yang berat. Oleh karena itu judul perikop nas ini adalah: Syukur dan doa. Daud percaya meski di saat tidak berdaya, tetap "sangat menanti-nantikan TUHAN" (ay. 2a).

 

 

 

Nas minggu ini mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, agar tetap percaya dan berpegang pada kuasa dan pertolongan Tuhan. Raja Daud bersaksi: “Ia mengangkat aku dari lubang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita" (ay. 3-4a). Seberat apa pun ujian dan cobaan yang datang, Tuhan tidak membiarkan dan justru memampukan kita. "Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13) 

 

 

 

Kedua, atas dasar pertolongan Tuhan, kita layak memuji rencana dan karya-Nya dalam hidup kita; tidak mempersoalkan berupa sukacita atau pergumulan penderitaan, kita tetap percaya dan mengandalkan-Nya. "Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan" (ay. 5-6). Perlu pengakuan bahwa Tuhan baik dengan memberi kehidupan dan kesempatan. "Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan rencana-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung" (ay. 6).

 

 

 

Ketiga, iman memang kadang diuji untuk membuktikan kesejatiannya. Dalam hal ini iman tidak hanya ungkapan syukur berupa persembahan, melainkan juga ketaatan penuh hingga menang. "Engkau telah membuka telingaku; .... aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam lubuk hatiku” (ay. 7, 9). Iman dan ibadah sejati memerlukan ketaatan dari hati, dan iman sejati tidak menuntut “jalan pintas", melainkan ketekunan menanti Tuhan dengan setia di tengah ketidakpastian. Iman yang sejati melahirkan ketekunan yang teruji melalui waktu, menghasilkan buah yang matang dan menjadi sempurna serta utuh (Yak. 1:3-4; Rm. 8:25).

 

 

 

Terakhir, segala karya dan kasih setia Tuhan perlu dinyatakan terbuka sehingga semakin banyak yang diselamatkan. "Aku mengabarkan keadilan... bahkan tidak kutahan bibirku.... Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan karya keselamatan-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar" (ay. 10–11). Kemenangan iman membuat "Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN" (ay. 4b). Nas minggu ini mengajar kita bahwa Tuhan hanya menyelamatkan orang yang sabar menanti-Nya,  menuntun kepada ketaatan sejati serta kesaksian yang hidup bahwa Tuhan itu setia dan Mahabaik.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026 (Opsi 3)

 MENCARI WAJAH TUHAN (Mzm. 27:1, 4–9)

 Hatiku mengikuti firman–Mu: "Carilah wajah–Ku"; maka wajah–Mu kucari, ya TUHAN (Mzm. 27:8)

Salam dalam kasih Kristus.

Firman Tuhan pada hari Minggu ini adalah Mzm. 27:1, 4–9. Judul perikopnya adalah “Aman dalam Perlindungan Allah”. Ini merupakan nyanyian iman Raja Daud dengan penegasannya pada ayat 1, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

 

Menurut sejarah agama, manusia membutuhkan rasa aman dan ingin menghilangkan rasa takut. Untuk itu manusia mencari kekuatan di luar dirinya, lalu menaruh rasa hormat dan menyembahnya. Pengenalan akan kekuatan ini berkembang seiring kemajuan peradaban manusia. Menurut Prof. Alan Menzies dalam bukunya History of Religion, pada peradaban awal kekuatan itu dipahami sebagai bagian dari alam seperti gunung atau pohon, kemudian berkembang menjadi roh leluhur dan roh lainnya, jimat atau objek yang dianggap dihuni roh, dan terakhir dipahami sebagai Makhluk Mahatinggi.

 

Perubahan terus terjadi seiring kemajuan ilmu dan peradaban. Kekuatan di luar diri manusia itu kemudian disebut Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, Yang Mahatinggi, dan sebutan lainnya. Namun manusia kadang belum sepenuhnya mengenal-Nya dan masih mencari wujud serta wajah-Nya agar dapat mengenal-Nya dengan lebih dekat.

 

Raja Daud bersyukur karena mengenal Tuhannya dengan baik. Melalui nas minggu ini Daud mengungkapkannya dengan indah, “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya, Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu” (ayat 4–5).

 

Pada ayat berikutnya Daud mengungkapkan kerinduannya. “Dengarlah, Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku. Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka” (ayat 7–9a). Daud dalam prosesnya memohon belas kasihan Tuhan hingga berhasil menemukannya.

 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mengenal Tuhan Yesus Kristus atau Dia masih menyembunyikan wajah-Nya sehingga kita belum mengenal-Nya dengan baik? Pengertian wajah dalam ayat ini bukan berupa gambar, potret, atau patung seperti yang sering kita lihat, melainkan kehadiran-Nya. Oleh karena itu, merasakan kehadiran Allah adalah tanda bahwa kita telah melihat wajah Tuhan.

 

Ada empat cara untuk melihat wajah Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya. Pertama, melalui doa dan pembacaan serta perenungan Alkitab secara rutin (ayat 7; bdk. 2 Tawarikh 7:14). Roh Allah pasti berbicara. Kedua, mengetahui dan menguji rencana serta kehendak Allah dalam hidup kita. Ini menjadi pengalaman rohani yang penting. Ketika kita merencanakan sesuatu, mintalah pertolongan Tuhan. Kuasa dan kasih Tuhan yang hidup akan menyertai dan menolong sehingga rencana tersebut hanya akan berhasil jika seturut dengan kehendak-Nya (Amsal 16:9; 19:21; bdk. Mazmur 105:4).

 

Cara ketiga adalah mengupayakan hidup seturut firman-Nya (ayat 8; Mazmur 24:3–6). Jadikan Tuhan sebagai Raja. Melalui kebenaran firman yang diterapkan, kita akan merasakan bahwa kuasa-Nya hadir dan Roh Allah bekerja. Cara keempat adalah melihat dan merasakan bahwa kehadiran-Nya pasti membawa kasih dan damai sejahtera.

 

Jika langkah yang kita pilih dan jalani telah menghasilkan kasih dan damai sejahtera, maka kita sudah mengenal wajah Tuhan Yesus. Perasaan aman dalam perlindungan Tuhan akan selalu hadir bersama-Nya.

 

“Kucari wajah-Mu, temukan kasih-Mu, Kau bukan Tuhan yang jauh dariku....” (dari lirik lagu Sungguh Indah Kau Tuhan, oleh Jonathan Prawira).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu II Setelah Epifani, 18 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Epifani – 18 Januari 2026

  YESUS KRISTUS, TUHAN KITA, ADALAH SETIA (1Kor. 1:1-9)

 Bacaan lainnya: Yoh. 1:29-42; Yes. 49:1-7; Mzm. 40:1-11

 

Pendahuluan

 

Surat 1 dan 2 Korintus ini merupakan penjelasan Tuhan kepada jemaat di Korintus melalui Rasul Paulus tentang masalah gereja yang muncul, yakni terjadinya perpecahan, ketidakdisiplinan, iri hati, masalah moral - mengingat Korintus adalah kota pelabuhan yang maju dan berkembang pesat. Rasul Paulus sendiri pernah tinggal di Korintus selama 18 bulan (Kis 18:1-18). Mengacu pada perkembangan kontekstual, gereja-gereja pada masa kini juga dipanggil untuk melihat dirinya: apakah selalu di jalan Tuhan? Dan, apakah selalu dalam panggilan tugas dan misi-Nya, yakni menjalankan persekutuan, kesaksian dan pelayanan sosial secara berimbang, dengan tidak hanya fokus ibadah minggu saja? Melalui bacaan kita minggu ini, kita orang percaya dan semua gereja kembali diingatkan beberapa hal sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Tuhan kita yang memanggil dan terus menyertai (ayat 1-3)

 

Nas ini juga menegaskan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat Allah. Maksud intinya, sekumpulan orang percaya yang bersekutu adalah jemaat Allah, sekaligus jemaat Kristus (band. 2Kor. 1:1; Rm 16:16). Ini lebih penting ditekankan daripada menyebut jemaat sebuah denominasi, atau memperdebatkannya. Surat Paulus ini juga dibuka dengan kata yang indah, yakni "dipanggil menjadi kudus", yang merupakan contoh pengantar atau introduksi yang layak kita tiru dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Allah memanggil kita untuk kudus dan terpisah menjadi anggota kerajaan sorgawi. Hanya Dia yang bisa mengesahkan kita sebagai warga sorgawi sebab Dia telah menghapus dosa-dosa kita. Kita menerima kewargaan itu hanya apabila kita menerima Dia, percaya, berseru dan penuh pengharapan kepada-Nya.

 

 

 

Sebagaimana bacaan minggu lalu yang mengingatkan bahwa setiap orang sama seperti Paulus, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Misi Agung Yesus, sesuai dengan peran dan bentuk kontribusi yang dapat diberikan, yang semuanya atas kehendak Allah. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan nyata, baik masalah sosial ekonomi, kemiskinan dan penderitaan, hukum keadilan, sakit penyakit, penyebaran narkoba yang sedemikian menakutkan, dan masalah sosial lainnya. Dalam panggilan berpartisipasi itu, kita tidak perlu mempersoalkan besar-kecilnya peran yang diambil, juga tidak perlu sombong atau rendah diri dalam peran itu, sepanjang semua dilakukan dengan ketulusan dan sukacita, serta sudah merasa yang terbaik diberikan, dan semua bertujuan untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Keterlibatan dalam peran itu juga bukan untuk meninggikan diri atau mencari upah sorgawi yang lebih besar. Dasarnya hanyalah Ia telah mati bagi dosa-dosa kita, maka sewajarnya kita memberi yang terbaik bagi Dia.

 

 

 

Bagi warga Korintus yang demikian majemuk dalam pengertian penduduknya yang beragam suku bangsa, aneka budaya, bermacam profesi pekerjaan, perbedaan tingkat kesejahteraan sosial, dan lainnya, membuat kota Korintus memiliki daya tarik yang kuat. Oleh kekaisaran Romawi kota ini juga ditetapkan menjadi ibukota Akhaya (saat ini menjadi Negara Yunani). Korintus sebagai kota pelabuhan yang modern menjadi lalu lintas perdagangan dan transaksi bisnis, merupakan pusat kegiatan sosial ekonomi dengan segala permasalahan yang muncul, seperti penggelapan dan korupsi, kekerasan dan pemerasan, kebiasaan bermabuk-mabukan, banyaknya penyembahan berhala, bahkan prostitusi masuk di kuil-kuil yang ada, termasuk di kuil besar Afrodite, sang dewi cinta. Semua ini merupakan ladang dan tantangan bagi orang percaya di Korintus untuk menjadi saksi dan teladan sesuai dengan panggilan yang diterimanya.

 

 

 

Kedua: Bersyukur atas anugerah kepada orang lain (ayat 4)

 

Damai sejahtera dan rasa syukur ibarat dua sisi mata uang. Damai sejahtera itu bukan karena kecukupan materi, keamanan, sering berolah raga, pengendalian makanan dan kesehatan, dan lainnya, yang lebih banyak menjadi ukuran dunia. Damai sejahtera dari Allah yang diam dan menetap di dalam hati orang percaya, itulah yang diminta dan lebih diutamakan, sebab memiliki kekhususan yakni bersumber dari Yang Mahakuasa (Yoh 14:27). Damai sejahtera yang demikian ini yang menghasilkan rasa syukur dan diekspresikan setiap hari. Bahkan, rasanya tidak cukup hanya dengan mengatakan syukur dan terima kasih sebagai balasan kebaikan yang diberikan oleh Tuhan, orangtua, para sahabat, rekan kerja. Ucapan dari mulut saja rasanya sebagai balasan kebaikan dalam perbuatan tidak akan berimbang. Oleh karena itu kita perlu memberikan yang terbaik dalam tindakan dan kesaksian (band. 2Tes. 2:13-15).

 

 

 

Melalui nas ini Paulus juga memberikan keteladanan dengan menyebut nama Sostenes (band. Kis. 18:17) yang diduga adalah jurutulisnya dan pernah bersama-sama tinggal dengannya di Korintus. Kerendahan hati dan lebih menonjolkan orang lain adalah sikap yang harus kita teladani darinya, yang juga merupakan ekspresi rasa syukur. Ia juga bersyukur bukan untuk dirinya sendiri, melainkan ia bersyukur atas anugerah dan berkat yang diterima orang lain. Ini hebat. Seringkali kita fokus bersyukur bahkan kadang mengadakan acara khusus pengucapan syukur untuk berkat-berkat yang kita terima, dan memang itu tidak salah. Pertanyaannya, sebagai ucapan syukur yang menjadi hal wajib dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah terpikirkan kepada siapa kita ingin mengatakan syukur dan terima kasih pada hari ini? Lakukankanlah, jangan menunda.

 

 

 

Rasul Paulus bersyukur atas semakin banyaknya orang percaya, mengenal Tuhan Yesus dan memperoleh kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepada jemaat yang ada. Bersyukur atas anugerah yang diterima orang lain merupakan sikap berpikir positif yang jelas buah dari ketaatan pada Kristus. Bersyukur dan iri atau rasa tidak puas sebaliknya dua sisi yang bertentangan.  Berkat yang diterima orang lain harus kita ikut mensyukuri, bukan malah menimbulkan iri hati, cemburu atau sinis terhadap anugerah yang diperoleh orang lain. Jangan hanya melihat dan berpusat pada diri sendiri atau membanding-bandingkan berkat yang diterima dengan orang lain, tapi syukurilah semua yang sudah diperoleh. Ketika sikap bersyukur itu menjadi pola hidup dan bersatu dalam hati dan pikiran, maka buahnya akan tampak yakni perubahan dalam bersikap setiap hari. Kita akan lebih bersikap dan berpikir positif, jauh dari pikiran negatif, murah hati, penuh belas kasihan dan rendah hati. Kita n diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, dan itu semua membangkitkan syukur kepada Allah (2Kor. 9:11).

 

 

 

Ketiga: Menjadi kaya dalam segala hal (ayat 5-7)

 

Sikap selalu bersyukur sebagaimana dijelaskan di atas juga membawa kita ke dalam pola pikir kecukupan. Kecenderungan manusia yang selalu merasa tidak puas atas yang diterimanya, akan terpinggirkan dengan sendirinya. Sikap merasa cukup yang membuat perasaan tidak ada yang kurang, membuat sedemian rupa mudah diatur sehingga apapun keperluannya sudah didasari cukup tadi. Pola pikir demikian itu membuat seseorang tidak merasa berkekurangan, dan ini jelas menjadi sikap kaya dan berkecukupan, sebab merasa masih ada dari dalam dirinya yang bisa dipakai untuk keperluan lain, apakah itu menolong orang lain dan untuk menyenangkan hati Tuhan. Keprihatinan yang diwujudkan ke dalam bentuk pertolongan bagi orang lain, semakin menguatkan pengharapan yang mereka miliki.

 

 

 

Warga Korintus yang dihadapkan pada tantangan paganisme dan masalah moralitas yang begitu hebat saat itu, diminta harus berdiri kuat agar tidak ikut terimbas dan melakukan hal yang tidak berkanan kepada Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah memberikan dan membekali setiap orang dengan karunia-karunia, khususnya karunia rohani. Jemaat harus saling mendukung dalam menggunakan karunia-karunia itu. Tetapi jemaat di Korintus bukannya menggunakan karunia rohani yang ada, malah mereka berdebat tentang karunia-karunia itu, mana yang lebih hebat dan mana yang lebih baik di mata Tuhan. Menurut firman Allah, hal itu tidak perlu mempersoalkan benar-tidaknya jenis pelayanan sebagaimana diperdebatkan mereka, termasuk jenis pelayanan yang terbesar di mata Tuhan, yang akibatnya malah menimbulkan irihati dan pertentangan di antara jemaat sendiri (band. 1Kor. 12-14).

 

 

 

Demikian juga halnya dengan kita. Berbagai bekal, alat, dan senjata diberikan Tuhan, dalam wujud bakat, talenta, kelebihan dan keunggulan, dan berkat-berkat lainnya, semua itu adalah karunia rohani dan karunia khusus agar kita mampu menangkal semua hal yang jahat dan memberi yang terbaik. Tuhan memberi segala hal kemampuan untuk menjadi kaya dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih (band. 2Kor. 8:7). Sebagai jemaat yang saling mendukung, persekutuan menjadi bagian dari Kristus, yang tidak akan kekurangan suatu karunia pun dalam melayani (ayat 7). Salam damai sejahtera yang disampaikan oleh Paulus akan menopang kekayaan rohani yang tersedia. Itu harus menjadi kerinduan semua orang saat itu dan bahkan menjadi kerinduan jemaat saat ini. Pertentangan hanya membuat orang kehilangan rasa damai dan semua orang pada dasarnya tidak menginginkannya. Mari kita pakai karunia-karunia yang sangat berharga itu bagi pelayanan di jemaat/gereja dalam perasaan damai sejahtera. Damai itu diperoleh bila melihat Tuhan Yesus, Raja Damai bagi semua orang, yang kesaksiannya telah diteguhkan banyak orang dalam Injil. Itulah maksud dan rencana Allah yang terus menyertai kita dalam melaksanakan panggilan itu.

 

 

 

Keempat: Ia setia sampai kesudahannya (ayat 8-9)

 

Semua ada kesudahannya. Ada awal dan ada akhir, alfa dan omega. Bumi dan segala isinya ini di antara galaksi alam semesta adalah sebuah "proyek" Tuhan. Sebuah proyek didefinisikan sebagai kegiatan atau proses yang ada awalnya dan ada akhirnya. Penciptaan bumi semesta alam dan isinya adalah sebuah proses, kemudian manusia memperoleh mandat budaya untuk mengeksplorasinya. Tapi bumi ini akan berakhir dan Allah membentuk bumi baru dengan langit yang baru dan kita menjadi bagian dari padanya. Kita memang tidak perlu terlalu pusing dengan planet antariksa jauh di luar sana, ada Dia yang memiliki dan mengurusi hal itu. Lebih baik kita fokus pada hal yang terbaik dilakukan dan diberikan pada bumi ini dengan segala isinya, sesuai dengan mandat dari Allah. 

 

 

 

Ini juga yang Paulus tekankan yakni pengharapan, dan pengharapan itu diletakkan pada jemaat. Pengharapan itu juga disertai adanya jaminan bahwa kita sudah disucikan hingga Kristus Yesus kembali datang kedua kalinya. Semua itu terjadi bukan karena usaha yang kita lakukan atau karena kehebatan diri kita, namun karena Kristus Yesus telah mati bagi kita dan kita percaya itu adalah penebusan bagi semua dosa-dosa kita. Kita harus terus berpikir sebagai orang yang berhutang kepada Yesus Kristus, atas berkat dan keselamatan yang sudah diberi dengan setia menjadi murid-Nya, taat dan terus setia berkarya bagi-Nya.

 

 

 

Kita memang perlu takut akan dosa dan orang Kristen juga tidak mungkin tidak berbuat dosa lagi. Akan tetapi jaminan adanya kasih karunia (1Pet. 1:2), hubungan dan kedudukan anak-bapak yang terus terjalin (Yoh. 1:12), penyertaan Roh Kudus dan kekuatan firman-Nya (Kis. 20:32), membuat kita tidak ragu akan janji-Nya (band 1Tes. 3:13). Pergumulan dan kesulitan yang kita hadapi pada masa ini, kegagalan yang kita alami pada masa lalu, itu bukanlah kisah yang sebenarnya. Tapi kita diajak agar tetap fokus pada kisah utama bahwa kita sudah diselamatkan dan menjadi warga sorgawi. Jangan semua rintangan dan hambatan membuat kita kehilangan rasa syukur dan sukacita. Ini juga seperti yang dikatakan William Barclay, “ketika hari penghakiman tiba, orang percaya tidak perlu takut menghadapinya. Kita datang menghadap Dia bukan dengan kebaikan yang kita lakukan, melainkan dibungkus oleh kebaikan-kebaikan yang Tuhan Yesus sudah lakukan, sehingga tidak ada yang bisa mendakwa, dan juga tidak ada tuduhan, kecuali hanya pembebasan. Sebab Ia yang memanggil kita, adalah Allah yang setia” (band. Ibr 10:23; 11:11).

 

 

 

Penutup

 

Nas minggu ini merupakan surat terbuka kepada jemaat di Korintus dan juga bagi kita jemaat masa kini, untuk menyegarkan panggilan-Nya melalui berkat dan karunia-karunia rohani yang kita miliki masing-masing. Kita diingatkan sebagai orang yang berutang kepada Yesus Kristus atas anugerah keselamatan dari-Nya, sehingga perasaan damai sejahtera, ucapan dan sikap bersyukur menjadi hal yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada gunanya mempertentangkan berkat dan karunia-karunia yang kita miliki, sepanjang semua bagi pelayanan-Nya dan semua akan menjadi kaya apabila bersatu. Ini akan membuat jemaat semakin kokoh dan berkarya dalam sinergi melaksanakan amanat Tuhan. Maka sebagai anggota persekutuan jemaat, pertanyaannya adalah: apakah sumbangan yang akan kita beri agar jemaat kita semakin berkarya bagi Tuhan? Yesus Kristus telah setia dan Ia tetap akan setia, maka kita pun marilah setia.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 28 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13318262
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
343
2910
9507
13283684
77061
141921
13318262

IP Anda: 216.73.216.149
2026-01-21 04:31

Login Form