2026
2026
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
SIAP SEDIALAH MEMBERI PERTANGGUNGJAWABAN (1Pet. 3:13-22)
Bacaan lainnya: Kis. 17:22-31; Mzm. 66:8-20; Yoh. 14:15-21
Pendahuluan
Rasul Petrus melalui nas minggu ini menekankan kembali kerelaan Kristus untuk menderita bagi kita yang berdosa, dan kemenangan-Nya menjadi dasar dan kekuatan bagi orang Kristen yang menderita bagi-Nya. Kita diselamatkan untuk menerima panggilan tugas dengan meninggalkan semua keinginan nafsu jahat dan melakukan perbuatan baik. Ada banyak dasar yang membuat manusia berdosa, akan tetapi penderitaan karena Kristus dan kebenaran-Nya sangat menyenangkan bagi Allah, terlebih melalui hati nurani yang murni. Melalui nas minggu ini kita juga diberikan pengajaran tentang kesiapan dalam memberi pertanggungjawaban baik kepada Allah maupun sesama manusia. Pokok pemikiran dan teladannya sebagai berikut.
Pertama: Menderita karena kebenaran (ayat 12-15a)
Ada peribahasa Indonesia yang cukup dikenal mengatakan, “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.” Makna dari peribahasa ini adalah: nasib buruk tidak dapat dihindari, akan tetapi nasib baik juga tak dapat dicari-cari. Kehidupan yang ada di depan kita semua adalah rahasia Tuhan; kemalangan atau keuntungan bisa datang secara tidak terduga tanpa disangka-sangka. Istilah kemalangan dan penderitaan bisa sama, tetapi juga bisa berbeda, yakni kemalangan sering diasosiasikan dengan penderitaan yang tidak seharusnya dia tanggung. Kita tahu bahwa penderitaan dalam hal ini bisa berasal dari tiga sumber: Pertama, memang itu sudah menjadi bagian dari kemanusiaan kita (human nature), bahwa kita bisa lelah, ngantuk, lapar dan haus, sakit bahkan renta karena faktor usia. Kedua, penderitaan oleh karena perbuatan atau ulah kita sendiri. Seseorang yang boros, pengaturan keuangan lebih besar pasak dari tiang, maka suatu saat ia pasti menderita karena hutang. Seseorang yang tidak banyak beraktivitas fisik atau berolah-raga tetapi makan banyak dengan cara tidak sehat, maka janganlah heran suatu saat ia akan sakit jantung atau stroke. Semua itu ada sebab akibat, ada kausalitasnya, bahkan kadang muncul casus belli atau pemicu sehingga proses penderitaan itu terjadi lebih cepat.
Orang percaya diminta berbuat kebaikan dan hal itu jangan dianggap sebagai beban. Nas minggu ini mengatakan kalau kita berbuat baik maka sangat jauh kemungkinan ada yang mau berbuat jahat kepada kita. Kebaikan biasanya berbuah kebaikan. Pohon yang baik akan berbuah yang baik. Tetapi faktor ketiga yang menjadi kemungkinan lain dari dua hal di atas, bisa saja penderitaan itu datang karena niat baik yang dijalankan secara salah, sehingga timbul salah pengertian, akibatnya muncul pertentangan dan bahkan kekerasan yang berakhir dengan penderitaan. Dari tiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa penyebab semua itu adalah manusia sendiri, bukan karena kehendak Allah. Adapun faktor keempat yang dinyatakan dalam nas ini adalah ketika kita menjalankan perintah Kristus dalam kehidupan kekristenan kita, dan ternyata datang penderitaan, maka itu adalah kehendak Allah (1Pet. 2:19, 20; 4:16). Hal demikian bisa datang ketika kita memberitakan Injil dengan cara yang bijak, mempertahankan iman dan prinsip kebenaran kita sehingga mendapat pengucilan karena tidak mau berkomplot berbuat kejahatan, atau adanya kejadian yang tidak terduga tanpa sebab-musabab yang jelas timbul penderitaan. Itu semua adalah misteri dan hikmat Allah. Allah berkehendak. Firman dalam nas ini mengatakan, yang penting janganlah kita menjadi takut dan gentar, sebab semua dalam kendali Allah dan Ia tidak akan membiarkan kita menjalaninya sendirian dan berputus asa. Kita ingat saja perkataan Kristus, "Janganlah kamu khawatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh Kudus" (Mrk. 13:11). Oleh karena itu, dalam menghadapi penderitaan itu, tetaplah bersandar pada-Nya.
Hal yang utama ditekankan adalah kita harus tetap menguduskan diri dalam pengertian berusaha hidup dalam kebenaran dan jauh dari niat dan perbuatan jahat. Pengudusan itu dimulai dari hati sebab dari hatilah semua bermula. Dengan hidup kudus maka kita memberi apresiasi dan sikap hormat pada Kristus Yesus sebagai Tuhan, “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Kita memelihara kehadiran Roh Kudus dalam hati, menjaga hati tidak tercemar. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa iman adalah hal personal dan merupakan urusan pribadi masing-masing. Kenyataannya tidak seperti itu. Kita dipanggil untuk memberitakan iman dan pengharapan kita dalam hidup ini. Pertanyaannya: apakah orang lain dapat melihat pengharapan kita dalam Kristus? Bagaimana kita memperlihatkan iman, kasih dan pengharapan itu? Apakah kita siap dalam menceritakan yang dilakukan oleh Kristus dalam kehidupan kita? Kita adalah saksi nyata bagi Kristus dan yang menuntun orang lain kepada-Nya. Orang lain menaruh pengharapan pada kita, melihat diri kita sebagai cermin atau Alkitab yang terbuka bagi mereka.
Kedua: Karya dan teladan Kristus (ayat 15b-18a)
Sebagai duta Kristus dan buku yang terbuka, kita harus siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kita tentang pengharapan pada Kristus. Semua itu dalam sikap atas anugerah yang telah diberikan dan panggilan yang dipercayakan pada kita untuk memberitakan Injil dan memuliakan nama-Nya (2Ti. 4:17). Memang benar bahwa dalam membagikan iman dan kasih, kita tidak perlu secara heboh bombastis pencitraan atau ingin dipuji, atau bahkan dengan cara menjengkelkan, atau bersikap sombong. Akan tetapi, kita harus selalu siap dalam memberi jawaban dengan lembut dan penuh kasih, ketika orang lain melihat dan bertanya tentang iman kita, pengharapan dan kehidupan kita, atau visi kehidupan kristiani kita. Jadi, pertanggungjawaban dalam hal ini bukan hanya kepada Allah saja, tetapi juga kepada sesama kita di dunia, sehingga jangan sampai hal yang kita imani dan katakan ternyata tidak sama dengan sikap dan perbuatan kita (band. Kol. 4:6). Artinya, kita NATO (No Action Talk Only), tidak memiliki integritas, yakni satunya perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu yang harus kita perlihatkan adalah sikap hormat dengan hati yang tulus murni. Sikap itu membuat orang lebih mudah percaya pada Kristus. Jangan sampai orang mencemoh apalagi membenci kita yang seharusnya menjadi teladan bagi mereka.
Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak dapat menghindari ketika orang lain memfitnah diri kita. Akan tetapi setidaknya kita dapat menghentikan memberi orang lain kesempatan dan amunisi-amunisi peluru untuk menyerang diri kita, melalui tindakan kita yang konyol dan tidak layak. Kita harus memegang prinsip, sepanjang kita melakukan hal dan cara yang benar, tuduhan-tuduhan mereka akan kosong tidak berguna. Kita ingat ketika Tuhan Yesus melalui hidupnya yang saleh, tetap mendapatkan penderitaan. Akan tetapi semua itu akhirnya mempermalukan diri mereka sendiri sebagaimana nas minggu ini menjelaskan. Oleh karena itulah, jauhkan diri kita dari sikap yang mengundang kritik atau cela. Kalau pun kita menderita karena Kristus dan kebenaran, penderitaan itu pasti atas seizin Allah untuk maksud dan rencana yang baik, dan itu lebih baik, sebab bukan karena buah perbuatan jahat atau tindakan yang memalukan Kristus dalam hidup kita.
Dengan mengikut teladan Kristus dan menjadikan Dia sebagai idola (role model), maka kita memberi jalan masuk bagi orang lain menuju Allah Bapa. Kita nyatakan dengan perbuatan bahwa Ia telah menebus kita dengan tersalib di Golgota dan itu menjadi pengganti diri kita yang layak mati karena dosa dan kejahatan kita. Kita juga dapat memperlihatkan Kristus yang memperoleh anugerah Allah Bapa dengan dibangkitkan. Allah Bapa menjanjikan kemenangan pada Kristus sama seperti janji-Nya kepada kita yang ikut menang kalau setia mengikut Dia. Kita lihat teladan Stafanus yang mati dilempari batu oleh orang-orang yang membenci Kristus, tetapi ketika ia hendak mati, rohnya melihat Yesus Kristus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa, menyambutnya. Sungguh merupakan kebanggan bagi kita orang percaya agar bisa sama dengan Stefanus (Kis. 7:54-60). Stefanus membuat Tuhan Yesus sebagai teladan dan sumber kekuatannya. Ia sadar dan ingat Yesus telah menderita baginya. Dalam kerangka itulah, penderitaan yang demikian bukanlah hukuman dari Allah, melainkan sebuah kesempatan pengorbanan yang diperkenankan oleh Allah untuk memurnikan iman umat yang dikasihi-Nya (band. 1Pet. 1:7-9; Kis. 23:1).
Ketiga: Pemberitaan Injil ke dunia orang mati (ayat 18b-20)
Kita tahu bahwa Yesus mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Akan tetapi ayat 19 pada nas ini menyebutkan kalau Yesus "di dalam Roh Ia memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara." Ini kalimat yang susah dipahami. Ahli-ahli teologi sendiri memiliki pendapat yang beragam tentang hal ini. Penafsiran tradisional mengatakan bahwa pemberitaan Injil dilakukan Yesus setelah mati disalibkan, yakni pada masa antara tiga hari sebelum kebangkitan-Nya, Ia turun ke dunia orang mati dan memberitakan kasih karunia kepada roh-roh yang dipenjara di dunia orang mati. Hal ini dimungkinkan sebab meski tubuh-Nya mati, Roh Kristus itu tetap hidup dan berkuasa dalam melakukan pemberitaan penebusan bagi mereka yang terlebih dahulu mati (band. Mat. 27:52, Ibr. 11:39 dst.; Ib.r 12:23). Ini sejalan juga dengan 1Pet. 4:6 yang menyatakan Injil diberitakan kepada orang-orang mati. Memang dalam hal ini ada beberapa pertanyaan: kepada siapa Kristus memberitakan keselamatan di dunia orang mati itu? Apakah mereka yang belum selamat dan mendapatkan kasih anugerah Allah? Atau kepada mereka yang setia pada Allah yang mati pada zaman Perjanjian Lama, yakni orang-orang benar yang menanti-nantikan keselamatan melalui Mesias yaitu Yesus sendiri.
Penafsiran lain khususnya ayat 20 mengatakan bahwa Roh Yesus khusus pergi memberitakan kepada mereka yang tertawan dalam dosa (atau ada di neraka) pada zaman Nuh. Pada saat itu yang diselamatkan hanya delapan orang saja (Kej. 8:1-dab), untuk itu Allah tetap menanti dengan sabar. Tafsiran lainnya ialah bahwa Kristus oleh Roh Kudus memberitakan suatu peringatan melalui mulut Nuh (band. 2Pet. 2:5) kepada angkatan Nuh yang tidak taat, dan kini berada di Hades menantikan penghakiman terakhir. Penafsiran ini lebih sesuai dengan pernyataan Rasul Petrus bahwa Roh Kristus berbicara di masa lalu melalui para nabi termasuk Nuh (2Pet. 1:20-21). Sementara yang lain mengatakan bahwa Kristus pergi ke dunia alam maut (Hades) untuk menyatakan kemenangan-Nya sebagai sebuah proklamasi secara umum, pemberitaan dan pengumuman, dan menyatakan penghukuman final kepada para malaikat-malaikat yang jatuh dihukum sejak masa Nuh (2Pet. 2:4). Jadi bisa dikatakan bahwa semua pemberitaan itu merupakan kesempatan kedua yang belum sempat mendengar penebusan Kristus sebagai anugerah khusus Allah, di mana Yesus memberitakan kepada mereka kemenangan-Nya atas kematian dan Iblis (ayat 1Pet. 3:22). Namun, beberapa penafsir mengatakan bahwa nas ini lebih baik ditafsirkan sesuai dengan konteks kebenaran yang ada pada seluruh Alkitab saja.
Mengingat rumitnya penafsiran itu dan sesuai anjuran terakhir, ada baiknya nas ini ditafsirkan sebagai bukti yang memperlihatkan bahwa Kabar Baik keselamatan dan kemenangan Kristus itu tidak terbatas. Kabar baik itu melampaui dunia orang hidup dan dunia orang mati. Melalui nas ini kita menemukan poin penting, yakni:
(1) Allah berbicara. Kita tidak perlu berteka-teki atas apa, di mana, dan bagaimana, namun kita dapat melihat bahwa Allah berbicara kepada dunia orang hidup dan dunia orang mati (band. 1Pet. 4:6).
(2) Allah menang. Kemenangan Kristus diwartakan, memperlihatkan kuasa-Nya, pengendalian-Nya, dan penguasaan-Nya atas seluruh ciptaan.
(3) Allah menyelamatkan. Allah berusaha untuk menyelamatkan mereka yang berharap kepada-Nya.
Misteri firman ini menceritakan kepada kita, dan itu lebih dari cukup sebagai bagian dari keyakinan (syahadat) iman, yang menjadi isi pengakuan iman Rasuli dengan kalimat, "yang turun ke dalam kerajaan maut", dan saat ini duduk di sebelah kanan Allah Bapa (1Pet. 3:22) untuk menantikan penghakiman bagi orang yang hidup dan yang mati ( 1Pet. 4:5; Ibr. 9:27).
Keempat: Diselamatkan oleh hati nurani yang baik (ayat 21-22)
Rasul Petrus menuliskan bahwa penyelamatan Nuh oleh air (bah) adalah simbol dari pembaptisan. Maka bagi kita orang percaya, pengertiannya adalah bahwa melalui baptisan air kita ungkapan pertobatan dan komitmen hidup baru, sekaligus iman kita bersandar kepada Kristus yang kita jadikan sebagai Juruselamat dan gembala hidup kita. Baptisan sebagai kiasan atau simbol, di dalamnya kita mengidentifikasi Yesus Kristus yang menarik kita dari kondisi sesat dan terhilang dan memberi kita hidup dan hubungan baru. Kesaksian iman pada saat kita dibaptis itulah yang mendatangkan keselamatan dari Kristus, jadi bukan ritualnya atau airnya yang menyelamatkan. Kehadiran air sesungguhnya hanya simbol dari iman kita bahwa Kristus telah mati dan bangkit dan ritualnya sama: dicelupkan dan diangkat. Dengan demikian, baptisan adalah sebagai simbol pembersihan hati orang-orang percaya dan jelas bukan pembersihan tubuh jasmani (Rm. 6:3-5; Gal. 3:27; Kol. 2:12).
Melalui pengakuan dan baptisan, kita juga memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah, yang secara pribadi kita sudah ditahirkan oleh kebangkitan Yesus Kristus (zaman dahulu baptisan sering dilayankan pada masa Paskah), untuk menyerahkan hidup kita seluruhnya dalam kendali-Nya. Penyerahan diri dalam hal ini adalah kerjasama ikhlas sukarela satu sama lain: pertama, kasih dan rasa hormat bagi Allah; dan kedua, kasih dan rasa hormat kepada sesama. Penyerahan diri atau rasa takluk dalam hal ini memiliki empat dimensi: (1) Bersifat fungsional, yakni membedakan peran dan panggilan tugas. (2) Bersifat hubungan, yakni pengakuan kasih terhadap yang lain sebagai pribadi (3) Bersifat timbal balik, yakni memperlihatkan saling menguntungkan dan kerjasama dengan kerendahan hati satu sama lain. (4) Bersifat universal, yakni pengakuan oleh gereja atas ketuhanan dari Yesus Kristus. Inilah hal utama yang membawa orang percaya kepada Kristus, dan karena itu pula penyerahan diri bagi orang yang tidak percaya menjadi hal yang sulit.
Dalam hal penyerahan diri, kita tidak dipanggil untuk mengkompromikan hubungan dengan orang yang tidak percaya, yang membuat kita berkompromi atas hubungan kita dengan Kristus. Melalui kebangkitan-Nya yang saat ini duduk bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa, setelah Tuhan Yesus naik ke sorga dan segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan-Nya (Mat. 28:18; Mrk. 16:19). Ia melewati kemenangan atas penderitaan dan kematian, dan itu merupakan sumber kekuatan bagi keselamatan kita, sekaligus menjadi teladan yang harus kita ikuti. Oleh karena itu, kita perlu membuka segala kesempatan untuk melayani-Nya dengan rendah hati atas pertolongan kuasa Roh Kudus. Kerelaan berkorban bagi orang-orang yang tidak benar, meski harus menerima penderitaan, itu adalah sikap yang menyenangkan Allah. Kesediaan berkorban dan menderita adalah ciri dan karakteristik orang percaya. Kita tidak perlu takut sebab tidak ada yang bisa mengubah kemenangan dan memisahkan kita dari Kristus (Rm. 8:38-39). Dengan mengidentifikasikan diri kita dengan Kristus (termasuk melalui baptisan), ini menjaga diri kita dari pencobaan untuk meninggalkan iman, dan kita yang menerima firman Allah melalui surat Rasul Petrus, semakin dikuatkan dan tidak murtad meski dalam tekanan penderitaan. Inilah tujuan yang semuanya berdasar pada hati nurani yang baik.
Penutup
Melalui bacaan minggu ini kembali kita sebagai orang percaya ditegaskan bahwa ada kalanya kita menderita karena kebenaran Kristus, meski kita juga harus waspada atas penderitaan yang disebabkan oleh kebodohan kita sendiri. Prinsip utamanya, berkelakuan baik akan berbuah baik dan jangan menganggap itu sebagai beban. Untuk itu kita harus melihat dan bersandar pada karya dan teladan Kristus yang bersedia mati untuk membela orang-orang yang tidak benar. Penderitaan demi kebenaran Kristus adalah jalan kemenangan. Yesus dengan segala kuasa-Nya terbukti mengasihi semua orang, baik yang hidup dan yang mati. Pada saat kematian-Nya, Ia turun ke dalam kerajaan maut untuk memberitaan Injil ke dunia orang mati agar tidak seorang pun yang binasa. Inilah gunanya kita memandang kepada Kristus. Dengan baptisan sebagai peneguhan dan komitmen, kita diselamatkan oleh hati nurani yang baik dari Yesus Kristus melalui Roh Kudus, untuk siap setiap saat mempertanggungjawabkan iman kita kepada-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 2)
PENOLONG DAN PENGHIBUR (Yoh. 14:15-21)
Firman Tuhan bagi kita di Minggu VI Paskah ini, Yoh. 14:15-21, menceritakan janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke sorga. Para murid masih dalam situasi khawatir pasca kematian dan kebangkitan-Nya, serta ucapan-Nya bahwa Ia akan pergi kembali kepada Bapa di sorga (ayat 19, 7:33; 8:21). Tetapi para murid dan kita orang percaya, tidak dibiarkan sebagai anak yatim piatu. Tuhan Yesus menjanjikan adanya seorang Penolong bagi kita semua (ayat 16). Dalam ayat 26 ditegaskan, bahwa Ia juga Penghibur yakni Roh Kudus, yang diutus Bapa dalam nama Yesus. Kasih Tuhan, sungguh tidak pernah hilang dan terputus bagi kita.
Pengertian Penolong dalam nas ini berasal dari kata Yunani parakletos yang berarti: Pembela. Istilah ini sering dipakai dalam pengadilan Romawi saat itu. Parakletos adalah pihak yang dapat mewakili seseorang di hadapan hakim. Alkitab KJV/NIV menerjemahkan parakletos sebagai Advocate dan versi RSV menerjemahkannya sebagai Counselor. Istilah Penolong dan Penghibur memang hanya ada pada kitab Yohannes (juga 1 ayat di 1Yoh.), tidak terdapat pada Injil lainnya dan surat-surat rasuli.
Ayat 16 nas ini menegaskan Roh itu “Pribadi” dalam wujud lain. Nah, urusan Tuhan Yesus dan Bapa adalah SATU belum selesai saat itu, terus muncul Pribadi lain. Tetapi bagi kita, kehadiran Tuhan Yesus dan Roh Kudus sebagai Tritunggal bersama Allah Bapa, SATU hakekat dalam tiga Pribadi, tiga peran, semakin meneguhkan dan melengkapi kasih Allah kepada kita umat-Nya. Oleh karenanya dituliskan, dunia tidak melihat dan mengenal-Nya, tetapi kita yang mengasihi-Nya, akan mengenal Dia. "Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (ayat 17a, 20). Ini menjelaskan ayat yang mengatakan, mengapa dunia tidak (semua) mengenal dan menerima-Nya.
Sukacita kita, Roh Kebenaran itu tinggal menyertai dan diam di dalam (hati) kita (ayat 17b). Para murid memang tidak lagi melihat Yesus dengan mata duniawi. Tetapi Roh mengajar mereka melihat dengan mata rohani, Allah tetap hadir dan hidup di dalam diri mereka. Ini yang membuat mereka terus berkarya, melanjutkan pekerjaan Tuhan Yesus bersama Penolong yang menyertai. "Aku hidup dan kamupun akan hidup" (ayat 19b). Janji penyertaan-Nya itu terus berlangsung hingga kini. Ia Penolong, Pelindung, Penghibur, dan Pemberi kebenaran bagi kita semua.
Firman minggu ini semakin menegaskan, Roh Penolong dan Penghibur hanya akan diberikan kepada kita yang mengasihi Dia. Ini tentu sangat wajar. Ketika kita mengasihi seseorang, maka biasanya yang datang menghibur kita adalah yang kita kasihi. "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.... Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (ayat 15, 21). Ada ketaatan. Ada kesetiaan untuk mengasihi Dia, dan pelaku Firman-Nya. Ia pun akan semakin menyatakan diri-Nya kepada kita (ayat 21).
Kasih-Nya tidak berubah, tetapi mewujudkan kasih kepada-Nya, bisa berubah sesuai konteks situasinya. Saat pandemi Covid ini kita tidak dapat berkunjung ke gereja, bersekutu bersama di Bait-Nya. Tetapi mari kita tetap setia, ikut beribadah dari rumah, mengirim atau menyalurkan persembahan. Itulah yang diminta, dan Ia juga berkata dengan hati senang: "Aku akan datang kembali kepadamu" (ayat 18b).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 3 Mei 2026
Kabar dari Bukit
DOSA TIDAK DISENGAJA (Kis. 3:12-19)
"Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu.” (Kis. 3:17)
Kadangkala kita dapat melewati godaan. Tetapi kadang kita tidak sengaja melakukannya, seperti saat berkendara tidak melihat rambu larangan tapi kita sudah berada di tengahnya. Kita bisa berbalik atau meneruskan pura-pura tidak tahu. Demikian pula kita bekerja baik dan sesuai prosedur, tetapi seseorang memberikan “tip” besar. Mungkin ada maksud berkelanjutan. Kita harus memilih: mengembalikan, atau malah memakainya untuk pemuasan nafsu. Alkitab sudah mengingatkannya, "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan" (Rm. 7:19).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu V Paskah yang berbahagia ini adalah Kis. 3:12-19. Ini (masih) tentang khotbah Petrus pasca kenaikan Tuhan Yesus yang mengawali gerakan pekabaran Injil di Israel dan wilayah Romawi.
Ada beberapa poin yang disampaikan oleh Rasul Petrus, pertama: siapa Yesus? Petrus menjelaskan bahwa meski para murid melakukan mukjizat penyembuhan orang lumpuh, namun sebenarnya itu adalah karya Yesus, yang mereka (orang Israel) salibkan. Yesus, Yang Kudus dan Benar, Perintis Kehidupan, justru mereka tolak dan bunuh. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (ay. 14-15).
Petrus menjelaskan bahwa mereka berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpinnya. Meskipun itu penggenapan nubuat (ay. 18), dan ketidaktahuan, Petrus mengatakan itu adalah dosa, sesuatu yang harus dijauhi dan dihapuskan.
Jadi jelas, ketidaktahuan atau ketidaksengajaan yang kita lakukan dengan membuat pihak lain susah, tetaplah dosa. Ini sudah dijelaskan pada PL (Im. 4:2-27; 5:15-18; Ul. 19:4-6). Juga dalam PB (1Tim. 1:13). Hukuman atas dosa ketidaksengajaan memang lebih ringan, sebagaimana dijelaskan, "Namun, hamba yang tidak tahu, dan melakukan apa yang pantas mendatangkan pukulan, akan menerima sedikit pukulan" (Luk. 12:47-48; 23:34). Ada belas kasihan. Tetapi, dosa yang tadinya tidak disengaja dan tetap diteruskan bahkan dinikmati, atau dosa yang sejak awal disengaja, tingkat hukumannya akan lebih berat. Ini termasuk peringatan pada kitab Yak. 4:17: “Jadi, jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Pada ayat lain dituliskan, “Sebab, jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu” (Ibr. 10:26).
Tuhan tidak suka jika kita anak-anak-Nya masih berniat dan menikmati perbuatan dosa. Selain hilangnya relasi indah dengan-Nya, kita akan kehilangan damai sejahtera, sukacita dan kelegaan dalam keseharian serta pada kekekalan. Oleh karena itu, nas minggu ini memberi kita petunjuk, yakni: "sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (ay. 19).
Sadarlah, berarti kita perlu membekali diri dengan firman Tuhan dan menghayatinya. Lebih utuhnya, hidup dalam hikmat dan kewaspadaan, memperlengkapi diri dengan senjata-senjata Allah (Ef. 6:14-18). Terhadap dosa yang kita sudah lakukan, solusinya adalah pertobatan dan permohonan pengampunan. Langkah ini tidak mudah, memerlukan komitmen kuat dan tekad hati serta latihan. Sebab kita tahu, Allah kita di dalam Yesus adalah Mahapengampun. Hanya dengan demikian kita dapat melihat dan merasakan kuasa Allah, Pemimpin Kehidupan, semakin hadir nyata dalam hidup kita.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 3)
UJIAN MEMURNIKAN (Mzm. 66:8–20)
"Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku" (Mzm. 66:16)
Salam dalam kasih Kristus.
Setiap orang menjalani kehidupan dengan lika–likunya masing–masing. Ada yang merasa semuanya datar saja. Kalau kata orang Batak, madosdos. Ada pula yang merasakannya seperti pasang surut, naik turun seperti roller coaster; sampai jantung serasa mau copot. Namun hidup tetap melaju, yang telah berlalu menjadi bayangan serta kenangan.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Mzm. 66:8–20. Nas ini terbagi dalam dua bagian: pertama, pergumulan hidup yang dialami (ay. 8–12); kedua, ucapan syukur kepada Tuhan atas pergumulan yang telah dilewati, dengan membawa korban persembahan dan bersaksi memuji Tuhan atas kasih setia-Nya, baik pada masa kini maupun masa lalu (ay. 13–20).
Pergumulan umat digambarkan seperti masuk ke dalam jaring, kemudian diberi beban di pinggang hingga serasa mau tenggelam. Tidak kalah menyakitkan, mereka juga dihina dan dilecehkan, digambarkan seolah orang–orang “melintasi kepala mereka” (ay. 11–12). Masuk ke dalam jaring adalah gambaran kejutan, seperti ikan yang tiba–tiba terseret jerat; penderitaan yang tidak disangka. Hidup memang kadang membawa kejutan yang tidak menyenangkan. Karena itu Richard W. Bowie dalam bukunya Light for the Nations mengatakan, alasan orang memerlukan Tuhan (Yesus) sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang mereka sadari.
Cara pandang pemazmur yang melihat Tuhan sebagai Pribadi yang “mempertahankan jiwa mereka dalam hidup” patut kita teladani. Tuhan “tidak membiarkan kaki mereka goyah.” Mereka memandang dengan iman bahwa Tuhan sedang menguji untuk memurnikan, seperti memurnikan perak (ay. 9–10). Matthew Henry menafsirkan hal ini sebagai sikap syukur kepada Tuhan yang memberikan kesempatan untuk diuji, lalu berhasil menang dan bersukacita. “Bukan keberadaan, melainkan kebahagiaanlah yang patut disebut sebagai hidup,” tulisnya.
Oleh karena itu, ketika sebuah cobaan atau ujian datang, baik karena ulah sendiri (walau tak disengaja), maupun ulah orang lain yang tak terduga, jangan terburu–buru mengeluh. Tuhan memberi semua itu karena Ia ingin kita naik tingkat, lebih mengenal dan bergantung kepada-Nya. Allah tidak hanya baik ketika jalan hidup berjalan mulus dan sesuai keinginan; kadang Ia mengizinkan kesulitan agar kita naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik. Respons terbaik kita adalah sesuai firman-Nya: bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28; Flp. 4:13), dan, “mengucap syukurlah dalam segala hal” (1Tes. 5:18).
Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa hidup penuh syukur membawa kebahagiaan dari aspek psikologis, hubungan dengan sesama, dan kesehatan fisik. Ada pula yang menambahkan bahwa sikap bersyukur membuat kita semakin dekat kepada Tuhan, jauh dari kecemasan dan tekanan, lebih tangguh, meningkatkan harga diri, lebih diberkati, serta bertumbuh dalam kerendahan hati dan kerelaan berbagi.
Menariknya, mengapa ada orang yang sulit bersyukur? Studi lain dari Berkeley menunjukkan tiga faktor penyebab: genetik (bawaan orangtua), struktur dan aktivitas otak, yakni bagaimana otak memberikan respons selama ini, dan terakhir, adanya “pencuri rasa syukur” seperti iri hati, materialisme, narsisme, dan sinisme. Hal ini hanya dapat dibereskan melalui latihan dan pertolongan Roh Kudus.
Sebagaimana pemazmur, mari kita jalani hidup dengan bersyukur dan bersaksi: “Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian” (ay. 17). Kiranya kita menjadi umat yang imamat rajani, dan kelak tempat kita tersedia di surga, seperti nas paralel minggu ini.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
BANGSA TERPILIH IMAMAT RAJANI (1Pet. 2:2-10)
Bacaan lainnya: Kis. 7:55-60; Yoh. 14:1-14; Mzm. 31:1-5, 15-16
Pendahuluan
Gereja bukanlah sekedar bangunan atau susunan batu-batu. Kata church dalam bahasa Inggris (yang berarti gereja atau jemaat dalam bahasa Indonesia) berasal dari kata kuriakon dari bahasa Yunani yang berarti: milik Allah. Alkitab menggunakan banyak metafora untuk kata gereja atau jemaat, yakni:
o “Tubuh Kristus” (Ef. 1:22-23; Rm. 12:5; 1Kor. 12:12; 1Pet. 4:10).
o “Kawanan” (Mzm. 23; Luk. 15:3-7; Yoh. 10:1-18; 1Pet. 5:1-2).
o “Ranting Pohon Anggur” (Mat. 13:1-43; Yoh. 15:1-17; Rm. 11:16-24),
o “Keluarga Allah” (Luk. 1:29-33; Gal. 3:28; 2Kor. 6:16-18; Ibr. 2:10-18; 3:1-6); dan
o “Mempelai Kristus” (Hos 3:1-3; Mat 9:14-15; 25:1-13; 2Kor 11:2-4; Ef 5:21-33; Why 19:7-9; 22:12-21).
Seluruh metafora itu dalam nas minggu ini menggambarkan gereja sebagai persekutuan hidup orang percaya yang akan menjadi bangsa terpilih dan imamat rajani. Untuk dapat mewujudkan hal itu, melalui nas minggu kita diberi petunjuk dan pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Jadilah seperti bayi yang rindu susu murni (ayat 2-3)
Dalam pasal sebelumnya telah dijelaskan bahwa kita telah dilahirkan kembali di dalam kehidupan yang baru bersama Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang diberikan oleh Bapa dalam menyelamatkan dan memelihara umat-Nya (1Pet. 1:23; band. 1Kor. 6:19; Gal. 4:6). Semua hal itu adalah bukti kasih dan kebaikan Allah pada kita manusia sehingga kita tidak menjadi orang sesat dan budak dosa dan masuk ke dalam penghukuman Allah. Semua kebaikan pemberian Allah itu telah kita kecap dan rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari (band. Mzm. 34:9; Ibr. 6:5). Sebagai manusia yang diberi akal pikiran dan hikmat, maka kita tentu bertanya: bagaimana agar kelahiran atau hidup baru itu tetap dalam kehidupan pribadi kita dan kita tetap selamat? Keberadaan Roh Kudus memang merupakan meterai dan jaminan yang diberikan bagi kita, tetapi hal itu memerlukan respon positif sebagai bukti komitmen kita akan hidup baru tersebut. Pada ayat 1 sebelum nas ini dikatakan respon positif dimulai dengan membuang segala bentuk kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Setelah itu nas minggu ini menekankan sikap kita lainnya yakni harus seperti bayi yang baru lahir yang selalu dahaga akan susu murni semisal air susu ibu (ASI). Kita tahu bahwa bayi sangat memerlukan ASI dan setiap bayi umumnya memperlihatkan ekspresi “ingin” yang besar dengan minum yang lahap dan tidak sabar. Kelaparan atau kekurangan susu sebentar saja langsung diungkapkan dengan menangis. Kebutuhan minum susu merupakan insting alamiah bayi, dan itu merupakan tanda yang membawa kepada pertumbuhan yang sehat. Sikap kehausan demikianlah yang diminta dari kita berupa kehausan makanan rohani, dalam bentuk kehausan hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, seperti hubungan antara anak bayi dan ibu, anak dengan bapak. Semua itu diwujudkan melalui doa dan ibadah, ketergantungan yang tinggi yang diwujudkan melalui sikap berserah dan bersyukur, hikmat yang semakin besar yang diwujudkan dalam sikap sabar dan bijaksana. Keinginan yang besar akan makanan rohani berupa “susu” juga memperlihatkan sikap kerendahan hati bahwa kita bukan memerlukan makanan yang keras apalagi seolah-olah ingin menguji Tuhan (band. “Doa Bapa Kami” Mat. 6:9-13; Luk. 11:2-4;1Kor. 3:2).
Kehidupan rohani perlu makanan rohani agar bisa bertumbuh. Pertumbuhan sangat penting sebab tantangan hidup semakin besar dan bervariasi. Pertumbuhan ekonomi dan informasi membuat setiap orang semakin rentan jatuh ke dalam dosa, sebab godaan kedagingan juga semakin besar, yang kemudian dimanfaatkan oleh iblis yang jahat. Makanan rohani yang utama dalam nas ini dikatakan adalah firman Allah sebagaimana dinyatakan pada ayat sebelumnya (1Pet. 1:23-25), yang dapat memberi kekuatan seperti halnya susu murni. Ketika lahir baru maka kita menjadi bayi yang baru lahir secara rohani. Jika kita cukup sehat maka kita merindukan pertumbuhan. Asupan firman Allah akan menghasilkan tanda pertumbuhan rohani yang sehat, seperti tampak dalam buah-buah rohani lainnya. Kehausan dan kerinduan makanan rohani diminta dan oleh kuasa firman kita dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan (band. Ef. 4:14-17). Sungguh alangkah menyedihkan apabila sesorang tidak bisa bertumbuh, baik badani maupun rohani. Kita harus berjaga-jaga agar kehausan firman Allah itu tidak hilang karena kesibukan dan pergumulan hidup keseharian yang terjadi. Sejatinya, tatkala kita merasakan kebutuhan firman Tuhan dan hubungan dengan Kristus semakin besar, maka nafsu makanan rohani kita juga semakin bertambah dan itu bukti kita menjadi dewasa secara rohani. Kini, seberapa kuat keinginan kita terhadap firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari?
Kedua: Dipergunakan sebagai batu hidup (ayat 4-5)
Penggunaan kata batu dalam nas ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang mungkin berbeda tapi berkaitan. Pertama, kata “batu” dari ingatan Rasul Petrus terhadap perkataan Tuhan Yesus kepadanya bahwa ia adalah batu karang. Tidak ada keraguan bahwa Petrus sering memikirkan kata-kata Yesus kepadanya, ketika dia mengaku bahwa, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Untuk itu Yesus berkata kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:16-18). Hal kedua, kata “batu” dilatarbelakangi oleh gunung batu tempat Allah bersemayam di dalam Perjanjian Lama, yakni gunung Sinai tempat umat Israel berdiri berkeliling sebagai batas bagi bangsa itu untuk tidak boleh mendaki atau mengenai pada kaki, sebab di atas gunung itu Dia bersemayam, dan apabila kena kaki orang pada gunung itu pastilah ia dihukum mati (Kel. 19:1-12).
Hal ketiga, kata “batu” dalam kalimat itu merupakan kutipan dari Mzm. 118:22 yang berkata, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Dalam Yes. 28:16 juga dikatakan, “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!" Memang dari kitab Mazmur dan Yesaya, yang dimaksudkan dengan batu adalah Israel (Kel. 19:6; Ul. 7:6), akan tetapi oleh Rasul Petrus kini gambaran “batu” itu sebagai Yesus Kristus. Rasul Petrus mengulangi yang dikatakan Yesus sendiri pada Mat. 21:42, yakni menarik istilah “batu” di Perjanjian Lama menjadi “gereja” sebagai bangunan rohani Allah, memotret gereja sebagai batu yang hidup dengan Kristus sebagai dasar dan batu penjuru (1 Kor. 3:11). Dalam hal ini ada kesejajaran dalam penggunaan kata batu bagi Yesus Kristus dan juga batu bagi setiap orang percaya, dan jemaat adalah kumpulan batu-batu yang hidup. Hal yang sama juga digambarkan oleh Rasul Paulus yakni gereja sebagai tubuh dengan Kristus sebagai kepala dan setiap orang percaya adalah anggota-anggota tubuh (Ef. 4:15-16; band. Yoh. 2:21). Hal yang penting adalah kedua gambaran itu menekankan umat percaya sebagai komunitas dalam kebersamaan membangun gereja. Kristus dalam hal ini menjadi batu penjuru dasar persekutuan, menjadi pengikat orang percaya menjadi satu. Sebuah batu bukanlah sebuah dinding apalagi sebuah gereja; bagian anggota tubuh jelas tidak berguna tanpa adanya keutuhan bagian tubuh yang lain. Allah Mahatahu susunan batu orang percaya dan semua diletakkan dalam rencana-Nya sesuai dengan tugas dan talenta masing-masing.
Kini pertanyaannya: sebagai batu-batu yang hidup membangun gereja, apa yang kita tawarkan sebagai "persembahan rohani" kepada Allah? Ketika umat Yahudi mempersembahkan korban hewan sesuai dengan hukum Musa, maka imam akan membunuh dan memotong hewan itu, dan menempatkannya di altar. Persembahan memang perlu, tetapi di dalam Perjanjian Lama dinyatakan sangat jelas: ketaatan hati jauh lebih penting (band. 1Sam. 15:22; Mzm. 40:6; Am. 5:21-24). Allah menginginkan kita, menyerahkan diri kita sebagai persembahan batu yang hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus - menjauhkan keinginan nafsu dan kejahatan, setia mengikut Dia, menggunakan seluruh energi dan kemampuan bagi Dia, dan percaya Dia yang membimbing kita setiap hari. Di dalam kehidupan sosial modern yang individualistik saat ini, tidak dapat dipungkiri sangat mudah melupakan ketergantungan kita pada sesama umat Kristen lainnya, seolah semua bisa kita lakukan sendiri. Tetapi jangan lupa, ketika Allah memanggil kita untuk sebuah tugas dan dipergunakan sebagai batu hidup, Dia juga memanggil yang lain dalam mendukung tugas kita itu sebagai anggota keluarga Allah (Ef. 2:19-22). Bersama pribadi-pribadi yang lain itulah usaha kita menjadi sinergi yang berlipat ganda. Oleh karena itu, lihat dan carilah orang-orang seperti ini, dan bergabunglah dengan jemaat untuk memberi persembahan rohani yang indah bagi Allah.
Ketiga: Menjadi batu penjuru yang mahal (ayat 6-8)
Apa kira-kira batu yang diperhitungkan dalam "bangunan" gereja? Tidak lain tidak bukan adalah batu penjuru, yang dipakai sebagai dasar, ukuran, benchmark, paramater dalam menempatkan batu-batu yang lain. Batu penjuru adalah Kristus sendiri yang menjadi bagian utama dari bangunan Allah, yakni gereja-Nya. Yesus Kristus yang telah dibuang oleh umat Yahudi, tukang-tukang bangunan yang adalah kaum Sanhedrin (Kis. 4:11), telah menjadi batu penjuru yang mahal. Kini pertanyaannya, apa yang menjadi karakteristik sehingga Kristus sebagai batu penjuru yang mahal, dan bukan lagi Israel sebagaimana digambarkan oleh kitab Mazmur dan Yesaya? Katakteristik Kristus sebagai batu penjuru dapat dilihat dari riwayatnya, yakni: (1) Yesus sebagai Batu Penjuru yang hidup sesungguhnya dapat dipercaya; (2) Yesus sangat berharga bagi orang percaya karena penebusan-Nya. Batu penjuru itu kini telah diletakkan di Sion, tempat bersemayam Allah. Dengan demikian, tidak salah perintah nas minggu ini agar kita datang kepada batu yang hidup itu, yaitu Yesus Kristus.
Kematian Tuhan Yesus merupakan pengganti korban penebusan dosa dan penghapus kesalahan dalam imamat Yahudi. Oleh karena itu bagi kita yang percaya, Ia sangat berharga dan mahal sebab melalui kematian-Nya kita bebas dari segala dosa dan konsekuensi dosa. Kita orang percaya pun tidak akan dipermalukannya. Meski kita diejek dan dihina sebagai orang-orang atau batu-batu yang terbuang, atau diejek sebagai orang yang tidak masuk akal karena percaya kalau Allah menjadi manusia, itu tidak perlu kita khawatirkan atau pikirkan. Yesus Kristus adalah Allah Pembela yang setia (Rm. 9:32-33; 10:11). Ia yang tidak dihargai dan dibuang oleh manusia (duniawi), namun kita dipilih dan dihormati dalam kerajaan sorga. Sekali kita percaya bahwa Allah adalah Allah Maha Pengampun, dosa-dosa kita telah kita akui dan ditebus oleh kematian Yesus, dan Dia kita jadikan sebagai Juruselamat hidup kita, dan menerima Roh Kudus sebagai Allah yang memimpin hidup kita sehari-hari, maka kita tidak akan dipermalukan.
Akan tetapi diingatkan dalam nas ini bahwa batu penjuru itu dapat menjadi batu sandungan, dalam arti menjadi batu yang mengganjal hidup seseorang sehingga terjatuh dan terjerembab. Hal ini juga diingatkan dalam Yes. 8:14 yang mengatakan, “Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem." Bagi mereka yang tidak percaya Yesus, ini menjadi batu sandungan sebab mereka menolak Dia dan tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan-Nya. Mereka melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, tersandung oleh Pribadi Agung yang dapat menyelamatkan dan memberi arti dalam hidup mereka, tapi karena pikiran buta dan penolakan akhirnya jatuh tersandung masuk ke dalam tangan penghukuman Allah. Penolakan kasih karunia Allah kini dapat membawa kepada penghukuman yang telah disediakan (band. Mat. 21:42-44; Rm. 9:22). Akan tetapi diingatkan nas minggu ini bahwa batu sandungan juga akan muncul bukan karena penolakan saja, tetapi juga ketika mereka yang percaya tidak taat pada Firman (Yoh. 12:48). Percaya saja tidak cukup tetapi juga taat dan setia; kita tidak hanya menjadi pendengar tetapi hendaklah juga pelaku firman (Yak. 1:22).
Keempat: Bangsa yang terpilih, imamat yang rajani (ayat 9-10)
Orang Kristen perlu memahami keimanan orang percaya. Pada masa Perjanjian Lama, umat Yahudi memiliki para imam yang berasal dari suku Lewi, salah satu dari dua belas suku keturunan Yakub. Mereka inilah yang ditunjuk sebagai imam yang mengurus Bait Allah, dan tidak bekerja mencari makan melainkan memperoleh persembahan persepuluhan dari umat. Sebagai pihak yang mengurus Bait Allah adalah tugas imam untuk mewakili umat dalam memberi persembahan kepada Allah, dan umat sendiri dilarang langsung menghampiri Allah, sebab mereka adalah umat yang berdosa (Kel. 28:1; 2Taw. 29:11). Ketika Kristus menang di kayu salib, Ia terbukti menang sebagai Raja dan pola hubungan berubah. Keimaman suku Lewi dibatalkan dengan kemenangan Kristus (Ibr. 7:11-17) dan orang percaya menjadi imam yang sebenarnya di hadapan Allah (Yoh. 14:6; 16:23-27; Ef. 2:18; 1Pet 3:18). Kini kita dapat langsung ke hadirat-Nya tanpa rasa takut (Ibr. 4:16), dalam arti posisi setiap orang percaya adalah imam bagi dirinya sendiri dan juga bagi sesama orang percaya (Why. 1:6; 5:10; 20:6). Inilah yang dimaksud dalam nas ini bahwa kita melalui Kristus telah menjadi imamat yang rajani, sebab Dia adalah Raja kita.
Kedudukan keimaman orang percaya tersebut juga membawa konsekuensi berkewajiban untuk hidup kudus (Tit. 2:14; 1Pet. 2:5, 9; 1:14-17). Sebagai umat yang kudus dalam pengertian dipilih dan dipisahkan dari orang lain yang belum/tidak percaya, berarti kita menjadi kepunyaan Allah sendiri sepenuhnya (Tit. 2:14; band. Kis. 20:28), jauh dari segala kehidupan kejahatan, dan kita dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar sebagai persembahan rohani kepada-Nya. Kita telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan terang itu kita sebarkan melalui pemberitaan firman-Nya (Kis. 4:31; 1Kor. 14:26; 2Tes. 3:1; 1Pet. 2:9; 3:15). Kita ditugaskan untuk membawa orang lain kepada-Nya (2Kor. 5:18-21), mendoakan agar semua orang saling mendukung dan dapat diselamatkan (Kol. 4:12; 1Tim. 2:1; Why. 8:3). Maka ketika kita menjadi satu dengan Kristus sebagai bagian dari tubuh-Nya, maka kita telah bergabung dengan pekerjaan keimaman-Nya sebagai wujud rekonsiliasi Allah dengan manusia.
Manusia sering sekali mendasarkan konsep dirinya sesuai dengan pencapaiannya. Akan tetapi hubungan pribadi kita dengan Kristus jauh lebih penting dari semua keberhasilan kita, pekerjaan, kekayaan, dan bahkan pengetahuan dan kedudukan kita. Kristus telah membuka jalan ke tempat Yang Maha Kudus bagi kita semua orang percaya, dan kita telah dipilih oleh Allah menurut kehendak-Nya, dan kita juga dipanggil untuk menjadi utusan-Nya bagi orang lain. Ingatlah bahwa nilai diri kita datang dari posisi kita sebagai anak-anak Allah, dan itu bukan hal yang kita capai. Kita berharga oleh karena Allah membuat demikian, bukan karena atas hal yang kita lakukan. Dengan demikian, kita yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan (band Hos. 1:6, 9; 2:23). Inilah semua yang membawa kita kepada bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.
Penutup
Melalui bacaan minggu ini kita diminta membuang segala kejahatan dan bersikap seperti bayi yang rindu akan susu yang murni dan tidak tercemar. Sikap hasrat itu harus diungkapkan dalam kerinduan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai makanan/susu rohani keseharian kita. Semua itu bertujuan agar hidup kita terus dikuduskan dan dipergunakan sebagai batu yang hidup oleh Allah, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan jemaat, agar semua dapat memberikan persembahan rohani yang berkenan kepada-Nya. Allah Bapa telah membuat Yesus sebagai batu penjuru yang mahal dengan menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan kematian, tetapi sekaligus Yesus juga dapat menjadi batu sandungan bagi mereka yang menolak dan tidak taat pada firman-Nya. Ketaatan itu penting dalam membangun bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, yakni kita jemaat-Nya. Pembangunan suatu rumah rohani bagi Allah hanya dapat dibangun oleh jemaat kudus, secara pribadi maupun sebagai komunitas. Untuk itu kita perlu saling mengingatkan gereja-Nya untuk selalu setia pada tugas panggilan pelayanan yang telah diberikan, sebab gereja adalah pelayanan sekaligus sebagai alat pelayanan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 SIAP SEDIALAH...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 2) PENOLONG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026 (Opsi 3) UJIAN...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 85 guests and no members online
