2026
2026
Khotbah (3) Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026
Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026 - Opsi 3
TERANG DI HATI DAN JANJI KEMULIAAN (2Kor. 4:3-6)
"Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2Kor. 4:6b)
Hari ini adalah Minggu Epifani terakhir dalam kalender gereja dan juga disebut Minggu Transfigurasi, yang berarti perubahan muka/bentuk. Ini berdasar kisah Yesus naik ke gunung, berdoa bersama tiga murid-Nya. Tiba-tiba Yesus berubah rupa, sedang berbicara dengan Elia dan Musa, pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Kisah ini dapat dibaca pada Mrk 9:2-9 dan menjadi renungan paralel minggu ini.
Hari Rabu nanti, kita akan masuk Rabu Abu, pintu masuk ke masa Pra-Paskah. Jika Minggu Transfigurasi adalah mengenang penggenapan ke-Ilahian Yesus, maka Rabu Abu adalah awal mengenang penyelamatan Allah bagi manusia yang dari debu/abu, namun melalui penderitaan Tuhan Yesus yang sampai disiksa, dicerca dan mati disalibkan di bukit Golgota, kita ditebus, hidup dan diselamatkan.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah 2Kor. 4:3-6. Nas ini menegaskan bahwa Injil Yesus harus terus diberitakan, baik melalui firman-Nya, perbuatan kasih, maupun dengan keteladanan kesiapan berkorban dan setia sampai akhir hayat. Hidup di dunia ini adalah pertandingan, dan harus diakhiri dengan kemenangan (2Tim. 4:7). Nas minggu ini juga mengingatkan, dalam memberitakan Injil, jangan fokus pada diri sendiri (ay. 5), sebagaimana kita kadang mendengar khotbah yang bercerita lebih banyak tentang dirinya daripada Tuhan Yesus.
Kita bersyukur sebagai pengikut Kristus, sudah di jalan yang benar dan terbaik. Namun masih banyak orang lain yang tidak mengenal Tuhan Yesus, dan mungkin ada sebagian yang malah membenci-Nya. Namun nas minggu ini menegaskan, bila Injil Tuhan Yesus yang diberitakan masih tertutup bagi mereka, tetap tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, maka mereka akan binasa (ay. 3-4). Meski tentu saja, bukan kita hakimnya, melainkan Tuhan Yesus kelak sebagai satu-satunya Hakim Agung yang berkuasa dan Mahaadil (1Kor. 4:1-5).
Jadi tugas kita adalah memberitakan Yesus melalui cara dan hikmat yang terbaik, dengan kasih dan senjata terang (Rm. 13:10-14). Perihal orang lain percaya dan berhasil menjadi pengikut, itu otoritas Tuhan Yesus pemberi iman (1Kor. 12:9). Tantangan selalu ada dan setiap usaha pasti memerlukan pengorbanan. Namun percayalah, setiap firman-Nya dan upaya tidak akan pernah sia-sia (Yes. 55:11; 1Kor. 15:58). Kegelapan yang masih meliputi orang lain, akan terbit terang melalui kesaksian hidup dan langkah kita. "Kamu adalah terang dunia.... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat. 5:14-16). Kita pengikut Kristus, jelas dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:8-14).
Hal lain yang diingatkan pada Minggu Transfigurasi ini, yakni kita perlu terus melakukan perubahan. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Rm. 12:2).
Setiap pribadi pengikut Kristus, terutama gereja sebagai organisme dan organisasi yang penuh sumber daya, perlu terus melakukan pembaharuan diri. Perlu pengenalan Pribadi dan misi Tuhan Yesus, agar kita memperoleh terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, dan selanjutnya, "Ia membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita" (ay. 5-6). Setiap pribadi dan gereja, perlu menampakkan dua wajah: semakin memancarkan cahaya kemuliaan Kristus, dan semakin berbuah lebat membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus (2Pet. 1:3-13; Mat. 28:19-20).
Yesus yang kita percayai dan imani serta beritakan adalah Terang di tengah kegelapan (Yes. 60). "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? (Mzm. 27:1). Mari terus berkarya bagi Kristus dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (Flp. 2:15; Rm.5:2; 8:30).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 8 Februari 2026
Kabar dari Bukit Minggu 8 Februari 2026
KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (Mzm. 112:1-10)
”Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya” (Mzm. 112:1)
Darrow L. Miller dalam bukunya Membangun Bangsa dengan Pikiran Allah menjelaskan tentang pentingnya cara pandang (worldview) seseorang, yang didefinisikannya sebagai “seperangkat asumsi-asumsi yang dipegang dengan sadar atau tidak sadar dalam iman mengenai dasar tatanan dunia ini dan bagaimana dunia ini bekerja.” Cara pandang, layaknya sebuah peta jalan, mengarahkan tujuan kita dan membimbing kita menjalani hidup ini.
Menurutnya ada tiga macam cara pandang yang bersambungan, yakni animisme (yang berpegang semua benda mati dan hidup memiliki roh atau jiwa) memandang realitas paling tinggi adalah yang bersifat ROHANI. Sementara sekulerisme (yang mengutamakan pikiran dan ilmu pengetahuan) memandang realitas paling tinggi adalah yang bersifat FISIK; Theisme (yang percaya adanya Tuhan pencipta dan pengatur kehidupan) memandang realitas paling tinggi adalah PRIBADI. Ada banyak contoh yang diberikan dampak perbedaan cara pandang ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, penguasa semesta ini adalah alam itu sendiri (animisme), manusialah penguasanya (sekulerisme), dan theisme memandang Allah adalah penguasanya. Hal lainnya, animisme berpandangan manusia bekerja untuk bertahan hidup, sekulerisme memandang bekerja untuk menikmati makan, dan theisme memandang bekerja untuk memuliakan Allah.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 112:1-10. Judul perikopnya: Bahagia orang benar. Ayat 1 di atas sebenarnya lanjutan dari Mzm. 111:10a yang menuliskan, "Permulaan hikmat ialah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya mendapat pengertian yang baik" (bdk. Ams. 9:10).
Ada empat pesan nas Mazmur ini kepada kita. Pertama, tentang cara pandang menjalani hidup ini. Pemazmur mengatakan, “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya” (ay. 1). Seseorang yang mengenal dan mengasihi Allah pastilah rajin berdoa dan membaca firman-Nya, takut akan Dia, dalam pengertian selalu ada rasa hormat. Sama seperti ayah kita yang mengasihi sepenuh hati dan teguh dalam prinsip, pastilah kita hormati dan ada rasa takut penuh keseganan.
Bagian kedua disampaikan bahwa bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil. Kita percaya Allah adalah kasih maka perlu ditunjukkan buah kasih dalam keseharian hidup. Iman tanpa perbuatan mati (Yak. 2:26). “Dengan murah hati ia membagi-bagi kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya (ay. 9). John Wesley penginjil dan teolog besar mengatakan: bekerjalah sekeras mungkin, menabunglah sebanyak mungkin, dan berilah semampu mungkin.
Apabila kedua hal tersebut dijalankan dengan baik, maka pesan ketiga pemazmur, buahnya sangatlah dahsyat, yakni:
1. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunannya diberkati (ay. 2);
2. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya (ay. 3);
3. Ia takkan goyah, penuh kepercayaan kepada TUHAN, tanduk kekuatannya ditinggikan dalam kemuliaan, akan diingat untuk selama-lamanya (ay. 6-7, 9).
Untuk hal ini contoh klasik adalah keluarga Jonathan Edwards yang diberkati Tuhan, anak dan keturunannya penuh keberhasilan. Sama seperti John Wesley di atas, anak Susanna Wesley seorang ibu yang memperlihatkan iman dan ketaatan dalam hidupnya. Sebaliknya keluarga Max Jukes yang jauh dari Tuhan, akhirnya anak-cucunya menjadi penjahat, bagian dari penjara dan narkoba.
Bagian akhir mazmur ini mengingatkan agar memilih apa yang baik. Pilihan sebaliknya dalam memandang dan menjalani hidup, akan menjadi orang fasik yang keinginannya menuju kebinasaan (ay. 10; Mzm. 1:5-6; Ul. 30:19).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 2)
IBADAH PALSU DAN SEJATI (Yes. 58:1–9)
Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (Yes. 58:8)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yes. 58:1–9. Judul perikopnya: "Kesalehan yang palsu dan yang sejati". Nas ini bercerita tentang umat Israel yang rindu mencari Tuhan dan ingin mengenal segala jalan-Nya (ay. 2). Mereka menjalankan ibadah dan ritualnya, salah satunya berpuasa, tetapi ternyata kesalehannya palsu (ay. 3–4).
Umat Yahudi yang berpuasa, selain tidak makan dan tidak minum selama 24 jam mulai senja, akan memakai pakaian yang robek-robek, kain kabung murah, menangis, menyendiri, atau duduk dan berbaring di tanah atau debu, berjalan lambat, serta menaruh debu di atas kepala (Im. 16:29–34; 23:26–29; Bil. 29:7; band. ay. 5). Tujuan semua ini adalah memperlihatkan keprihatinan, sikap berkabung, dan menaikkan doa permintaan serta keinginan, pergumulan, atau pengampunan.
Umat Israel diceritakan bingung. Mereka telah berpuasa, tetapi merasa Tuhan tidak memperhatikan. “Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (ay. 3a).
Allah menjawab melalui Nabi Yesaya: “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini, suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (ay. 3b–4).
Dalam PB hal ini juga terjadi. Tuhan Yesus menegur orang yang berpuasa dengan mengubah air mukanya, dibuat muram supaya orang lain melihat mereka berpuasa (Mat. 6:16–18), atau orang Farisi yang membanggakan puasanya (Luk. 18:10–14). Mereka adalah orang munafik. Orang yang beribadah seharusnya bertujuan membuat dirinya lebih berkenan bagi Allah dan siap menjadi berkat bagi orang lain (band. ay. 6–7, 10).
Oleh karena itu, jika kita beribadah kepada Tuhan, hal pertama yang kita periksa adalah rasa takut dan hormat akan Tuhan. Jangan berpikiran menggampangkan, seolah kita sudah melakukan hal benar seperti orang Israel, tetapi sebenarnya perilaku kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Allah mengharapkan ibadah puasa umat Israel dan ibadah kita orang percaya disertai dengan hilangnya perbuatan jahat terhadap orang lain. Jangan, misalnya, kita mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi masih memusuhi dan membenci orang lain, suka berbantah, berkelahi, dan bertengkar.
Firman Tuhan menegaskan, “... jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu” (Mat. 5:23–24). “Oleh karena itu aku ingin supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan” (1Tim. 2:8).
Janganlah kita menjadi “manusia yang mencintai dirinya sendiri..., tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya” (2Tim. 3:2–5).
Kita beribadah untuk berjumpa dan menyembah Tuhan agar Dia berkenan menerima. “... engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!” (ay. 8–9). Itulah ibadah yang sejati.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026
HIKMAT YANG BENAR (1Kor. 2:1-12, 13-16)
Bacaan lainnya: Mat 5:13-20; Yes 58:1-9a, 9b-12; Mzm 112:1-9,10
Pendahuluan
Nas minggu ini kembali menekankan hikmat Allah yang sangat berharga dibanding dengan hikmat manusia. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang hal yang berharga, seperti jangan berikan mutiara kepada babi (Mat. 7:6). Seekor babi jantan tidak akan semakin tertarik kepada babi betina apabila ia berkalungkan mutiara. Babi jantan tidak akan pernah bisa menghargai mutiara itu yang bagi manusia sangat berharga. Perumpamaan ini yang terjadi pada jemaat Korintus yang tidak menghargai hikmat Allah. Namun Paulus mengasihi mereka agar iman mereka semakin bertumbuh dan berhasil sebagai orang-orang yang dipanggil dan dikuduskan. Melalui nas minggu ini, kita diberi pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Iman yang tergantung pada kekuatan Allah (ayat 1-5)
Allah mengaruniakan akal pikiran dan intelektualitas di dalam diri manusia untuk dipakai memahami dunia ini beserta isinya, serta dipergunakan untuk mengelola sebagaimana mandat budaya yang telah diberikan oleh Allah kepada kita (Kej. 1:28). Akan tetapi kita juga harus menyadari bahwa kemampuan kita dalam memahami dan mengelola ciptaan Allah itu tetap terbatas, seperti misalnya pertanyaan sederhana: mengapa beberapa jenis binatang yang sama-sama hanya makan rumput, tetapi menghasilkan bentuk kotoran yang berbeda? Kekeliruan dalam penggunaan akal pikiran dan keterbatasan manusia dalam memahami makna "dunia" membuat akal pikiran bisa menjadi melenceng dari kehendak Allah, seturut dengan tipu daya dan godaan iblis yang memang berkuasa atas dunia ini.
Akal pikiran dan intelektualitas manusia juga sangat terbatas dalam memahami Pribadi Allah dengan segala hikmat dan keberadaan-Nya. Keberadaan Allah dalam penciptaan manusia beserta semua warna dan nuansa mozaik kehidupannya, tidaklah mudah dipahami dengan akal pikiran saja. Teori-teori psikologi dan psikologi analisis hanya dapat membantu untuk mencoba memahaminya, dan itupun banyak dengan generalisasi dan pengecualian. Kesaksian Allah atau penyataan Allah inilah yang menjadi titik utama yang Rasul Paulus tekankan, tentang pemahaman jemaat Korintus yang salah, yakni dengan akal pikiran mereka saja. Rasul Paulus tidak ingin berdebat dan diskusi intelektual dengan para jemaat yang dikasihinya itu. Ia sadar bila menggunakan filsafat dan perdebatan, akan gagal (Band. Kis. 17:32-34). Ia juga tidak mau menonjolkan keintelektualannya atau kepintarannya dalam menulis atau berpidato, tetapi ia lebih menekankan pesan Injil dari Kristus yang disampaikan dan mengatakan: biarlah Roh Kudus yang bekerja dengan pesan firman itu.
Hal ini merupakan teladan yang kita ambil dalam melakukan penginjilan atau memberi kesaksian, yakni sampaikan saja firman dari Kristus secara sederhana, dan biarlah Roh Kudus yang bekerja di dalam hati setiap pendengar. Rasul Paulus lebih menekankan pengalamannya dan pengenalannya bahwa Roh Kudus yang menolong dan membantunya dalam penyampaian firman itu. Ia juga tidak mau memperpanjang perbedaan di antara mereka, tapi fokus pada pesan Kristus. Kesaksian Allah adalah pewartaan Kristus. Ia sangat sadar akan keterbatasan dan kelemahan manusia dan juga pribadinya, serta adanya rasa takut dan hormat pada Kristus (Ef. 6:5; Flp. 2:12). Ia tidak bersandar pada dirinya, melainkan pada pimpinan Roh, sebagaimana firman Tuhan berkata, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Penting juga dilihat, Paulus bukan berarti menihilkan pentingnya belajar atau studi pendalaman sebagaimana ia juga pernah belajar tentang Injil setelah pertobatannya. Karunia pikiran manusia ada baiknya sepanjang dipakai dengan benar. Semua persiapan dan keindahan pesan penyampaian firman adalah baik dan efektif. Akan tetapi Roh Kudus yang akan memberi pimpinan dan kuasa pada firman itu sehingga bekerja dan bisa mengubah diri seseorang dan akhirnya nama Tuhan dimuliakan.
Kedua: Hikmat yang benar (ayat 6-9)
Mereka yang merendahkan hatinya dan merasa tidak mampu menghadapi kehidupan ini hanya dengan kekuatan akal pikiran, mereka inilah yang dewasa rohani. Mereka inilah yang dikatakan Rasul Paulus orang-orang yang berpikir matang. Mereka tidak mengambil hikmat dunia sebagai pijakan utama, yang cenderung mendewakan materi, kenikmatan badani dan kekuasaan. Mereka juga tidak seperti penguasa-penguasa dunia, pemerintah yang sudah dikuasai iblis yang melihat kepentingan jangka pendek, merasa bahwa semua hal dan persoalan diselesaikan demi kepentingan dan kelanggengan pribadi, yang oleh Rasul Paulus dikatakan akan binasa dan berakhir. Cara berpikir itulah yang juga membuat Yesus tidak dapat dimengerti oleh mereka yang dianggap orang-orang berhikmat di dunia, seperti ahli Taurat, para Imam, Pilatus, Raja Herod dan lainnya, sehingga mereka menghukum Yesus mati dengan cara disalibkan. Bagi mereka, dengan Yesus mati, maka semua persoalan mereka selesai.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rahasia hikmat yang tersembunyi itu seperti misteri, yang sudah sejak lama menjadi ketakutan bagi manusia yang belum matang tadi. Misteri itu adalah bahwa manusia tidak dapat mengalahkan kematian. Manusia seolah-olah takut dan menyerah pada kematian, dan tidak tahu hal di balik kematian, yang bagi mereka bagaikan tembok maut gelap yang menakutkan. Akan tetapi, melalui hikmat Allah, rahasia kematian itu dibuka dan dibuktikan bahwa kematian dapat dikalahkan melalui iman percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari kematian-Nya dan kemudian naik ke sorga. Yesus terbukti bangkit mengalahkan kematian dan Ia dapat melakukan itu sebab Ia tidak berdosa, maka kita juga harus tidak berdosa agar memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengalahkan kematian. Oleh karena sementara ini kita berdosa, maka dosa kita harus ditebus, dibayar lunas, dan Yesus bersedia menerima penebusan itu dengan mati di kayu salib. Itulah rahasia yang sudah diungkapkan kepada orang percaya (band. Rm. 16:25-27; 1Pet. 1:10-12).
Kita tidak bisa membayangkan bahwa Yesus yang bangkit itu telah menyediakan sebuah tempat sorga bagi kita, di dunia ini dan di akhirat nanti. Ia akan menciptakan bumi yang baru dan langit baru dan kita akan hidup bersama-Nya selamanya (Yes. 65:17; Why. 21:1). Inilah yang dikatakan ayat 9 sebagai "hal yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Selama dalam proses itu Roh Kudus akan terus menyertai dan menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini. Pengharapan yang indah itu memberi kita keberanian dalam menjalani hidup, meski tidak harus diartikan kita dengan sengaja masuk ke dalam pencobaan. Dunia ini bukanlah yang sebenarnya kita harapkan. Yang terbaik akan tiba saatnya bagi kita. Rahasia ini tetap tersembunyi bagi mereka yang menutup hatinya atau bagi mereka yang belum pernah mendengar kabar baik itu.
Ketiga: Mengenal Roh Allah dan roh manusia (ayat 10-12)
Hikmat Allah beserta sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dan diukur oleh manusia. Demikian juga rencana Allah dalam setiap orang percaya kadang tidak terjangkau akal pikiran kita, meski kita tahu itu adalah rencana yang indah dari-Nya. Semua rencana itu sebenarnya dikerjakan oleh Roh Allah yang bekerja sama dengan roh orang percaya, sehingga tercipta suatu sinergi dalam melaksanakan tujuan Allah, dan nama Allah lebih ditinggikan. Terjadinya sinergi itu hanyalah mungkin apabila manusia memahami hikmat Allah yang disebutkan di atas, proses pencerahan oleh Roh yang diberikan terus menerus yang berpusat pada penebusan dan keselamatan bagi setiap orang. Kesatuan Roh Allah dan roh manusia itu sekaligus dapat mengalahkan roh iblis yang berusaha membelokkan rencana Allah dengan memanfaatkan kelemahan manusia.
Kematian Yesus, kebangkitan dan kenaikan ke sorga diberikan sebagai jalan keselamatan bagi yang percaya pada penebusan-Nya. Mereka yang percaya akan menerimanya. Mereka yang tidak percaya akan terus berjuang dengan akal pikiran dan perbuatan baiknya, dengan hikmat manusia, akan tetapi keselamatan kekal itu sulit diperolehnya. Kadang-kadang kita mungkin berpikir biarlah mereka terus berjuang dengan cara itu, dan kita yang sudah diselamatkan melalui percaya kepada Yesus menikmati secara penuh sukacita yang diberikan. Akan tetapi harus tetap ingat bahwa kita diselamatkan karena kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya. Kita dipanggil untuk bersaksi dan memberitakan kabar baik melalui Injil, yang semua itu berasal dari Allah bagi penyelamatan dan perdamaian dengan manusia.
Semua orang pada dasarnya harus bijak dan berhikmat. Akan tetapi berhikmat menurut akal pikiran manusia itu tidak akan sebaik dengan berhikmat dengan pimpinan Roh Kudus. Iblis dengan kuasanya yang jahat sangat mudah untuk menggoda dan menipu, sehingga kita mengikut hikmat manusia dan bukan memakai hikmat Allah. Kearifan rohani melalui pimpinan Roh Kudus akan membimbing kita dalam mengambil kesimpulan dan jalan yang benar pada pilihan atau situasi yang sulit. Hikmat itu didapatkan dengan memakai firman dan menyerahkan pada pencerahan Roh Kudus, sehingga kita bisa tahu jalan yang terbaik dan kekal. Semakin besar keinginan kita untuk mengetahui hikmat Allah, maka Roh Kudus semakin membukakan rahasia hikmat itu (Yoh. 16:13; Ef. 1:17). Setiap orang percaya teruslah meminta hikmat ini agar dalam setiap langkah yang akan diambil, hikmat-Nya yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat: Memiliki pikiran Kristus (ayat 13-16)
Pertanyaan yang paling utama, sejauh mana manusia mengenal Allahnya? Sejauh mana kita bisa memahami pikiran Allah? Kesaksian tentang Allah dan penyataan-Nya tetap memiliki keterbatasan. Injil Yohanes mengatakan kalau pikiran Allah yang dikerjakan oleh Yesus semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis (Yoh. 21:25). Alkitab mengatakan, tidak seorang pun (orang Yahudi dan yang tidak percaya) mengenal Allah dengan benar (Rm. 11:34). Namun mereka yang percaya dan menerima Yesus akan mengenal Allah dengan benar dan menangkap bagaimana Roh Allah sebenarnya diam dan bekerja di dalam hati seseorang. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal Yesus tidak akan mengenal Allah yang utuh dan benar, Allah yang penuh kasih dan bersedia berkorban bagi anak-anak-Nya. Oleh karena itu, sering kita orang percaya tidak dimengerti oleh orang lain dengan kita membuat Yesus sebagai Tuhan. Itu merupakan hal yang bodoh bagi mereka. Tapi pikiran hikmat dunia itu sama seperti seorang yang tuli nada: tidak akan mengerti dan menghayati musik. Seseorang yang menolak Yesus tidak akan memahami keindahan pesan-pesan-Nya. Dengan komunikasi yang sudah terputus, seseorang tidak mungkin mampu mendengar apa kata Tuhan kepada mereka.
Dengan pimpinan Roh Kudus, melalui firman yang sudah dinyatakan dalam Alkitab, orang percaya dapat melihat pikiran, rencana dan tindakan Allah, yang semuanya ini adalah pikiran Kristus. Melalui Roh Kudus, kita dapat mulai mengenal pikiran Allah, berbicara dengan Allah, dan berharap mendapatkan jawaban atas doa yang kita panjatkan. Memang untuk itu kita perlu menghabiskan cukup waktu untuk mengenal pikiran Kristus yakni di dalam Injil, sebagaimana Rasul Paulus alami dalam hidupnya. Hubungan yang intim dengan Kristus hanya terjalin bila kita cukup menghabiskan waktu dengan-Nya dan dengan firman-Nya. Mereka yang bersedia memberi waktunya inilah disebut sebagai manusia rohani. Manusia rohani tidak mengejar kepuasan duniawi dan tidak membuat ukuran dan nilai keberhasilan berdasarkan ukuran-ukuran duniawi. Akan tetapi ukurannya adalah agar kita dapat menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5).
Kita juga tidak baik berdiam diri membiarkan kelemahan orang lain sebagai alasan untuk pasif. Kita tetap merupakan saluran komunikasi yang dipilih Allah bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Memang kita perlu cerdas dalam menggunakan setiap kesempatan untuk dapat menceritakan dan memberi kesaksian atas rahasia itu, rahasia hikmat yang merupakan pikiran Kristus sebagaimana tertulis dalam Alkitab. Seseorang yang ragu atau bertanya-tanya mungkin adalah tahapan Roh Kudus bekerja di dalam hatinya, untuk mengenal Allah yang benar dan mengambil keputusan untuk mengikut Kristus. Sejatinya, kuncinya terlebih dahulu adalah: bagaimana kita merespon ketika seseorang bertanya tentang imanmu, apakah kira-kira kita dapat menjelaskan dengan benar dan baik?
Penutup
Nas minggu ini menginginkan kita orang percaya menjadi manusia rohani yang penuh. Manusia rohani adalah mereka yang memahami rahasia hikmat Allah yakni kematian dan kebangkitan Yesus untuk penebusan dan bersedia mengikuti-Nya. Manusia rohani juga menerapkan hikmat Allah itu dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam perkataan maupun perbuatan yang dasarnya adalah kasih dan pengorbanan. Ia bekerja sama dengan Roh Allah dalam menjalankan hikmat Allah itu. Imannya tergantung pada hal itu dan bukan pada akal pikirannya. Ia tidak mengikuti manusia duniawi, melainkan memakai ukuran-ukuran rohani yang terdapat dalam pikiran Kristus. Itulah rahasia yang diungkapkan dalam nas minggu ini, sehingga melalui kehidupan kita, kita semakin baik menjalani kehidupan ini dan semakin banyak orang yang mengenal dan mengetahui hilmat itu, dan tidak lagi menjadi misteri bagi mereka.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu V Setelah Epifani, 8 Februari 2026
Khotbah Minggu V Setelah Epifani – 8 Februari 2026 (Opsi 3)
GARAM DAN TERANG (Mat. 5:13-20)
Firman Tuhan bagi kita Mat. 5:13-20. Ini masih bagian dari Khotbah di Bukit, terdiri dari dua topik: pertama, identifikasi atau pengenalan diri para pengikut Kristus sebagai garam dan terang dunia (ayat 13-16). Kenal diri ini penting dan harus menjadi syarat dan ciri utama orang percaya. Kedua, tentang status Hukum Taurat dalam Perjanjian Baru (ayat 17-20) yang tidak hilang lenyap dengan datangnya Hukum Kristus.
Menjadi garam bagi orang percaya berarti hidupnya bermanfaat, menjadi berkat bagi orang lain. Garam memiliki fungsi sebagai pemberi rasa. Tanpa garam, semua makanan akan hambar. Seorang penulis berkata jika tidak ada garam, kehidupan tidak bisa bertahan lama. Garam juga memiliki fungsi sebagai pengawet, membuat bahan makanan bisa bertahan lama tidak cepat busuk. Garam juga merupakan pengikat, yang bagi jenis-jenis makanan tertentu keberadaan garam menyatukan adonan. Dan yang paling penting, garam yang berbentuk putih bersih, kecil, tidak tampak ketika fungsinya dipakai. Lumer menyatu. Artinya, kehidupan orang Kristen menjadi berkat harus tersembunyi, bukan penonjolan diri. Pengikut Kristus yang tidak berfungsi sebagai berkat, tidak berguna dan layak dibuang dan diinjak orang saja (ayat 13).
Menjadi terang bagi orang Kristen berarti berfungsi sebagai penghalau kegelapan. Dunia ini penuh kegelapan, baik oleh kuasa iblis maupun oleh keinginan daging dan ego manusia. Tawaran nikmat dunia serta ego dengan pengaruh iblis, membuat pikiran manusia menjadi gelap, cenderung merusak, dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kegelapan yang timbul karena kebodohan dan kemiskinan, mendorong manusia tidak bertumbuh secara rohani dan jasmani, sehingga membuat orang-orang semakin terpuruk. Terang bisa mengubah semua itu, membuka hati dan pikiran, bahwa Tuhan berkehendak yang terbaik pada manusia ciptaan-Nya. Tuhan menyediakannya, sepanjang kita mau terus berupaya meminta, mencari, dan mengetok (Mat. 7:7).
Sebagai garam, orang percaya tidak perlu tampak wujudnya tetapi berfungsi. Sebaliknya sebagai terang, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (ayat 16). Kita menampakkan terang agar sumber terangnya tampak, yakni bukan diri kita, tetapi sumber terang abadi Kristus Yesus (Yoh. 8:12). Kita adalah anak-anak terang di dalam Tuhan dan terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran (Ef. 5:8-9). Sebagai pembawa terang, maka melalui diri kita orang lain akan melihat perbuatan yang baik, dan diyakinkan tentang kebenaran dan keutamaan Kristus Yesus.
Sesuatu yang baru tidak selalu menghapus yang lama. Ikatan janji Tuhan dengan umat-Nya melalui Abraham dan petunjuk hidup yakni Hukum Taurat yang diberikan lewat nabi Musa, tidak terhapus dengan ajaran Kristus. Para ahli Taurat dan kaum Farisi saja yang sudah terlalu jauh menafsirkan, sehingga makna hukum Taurat yakni mengasihi Allah dan sesama itu telah bergeser. Ahli-ahli Taurat lebih menekankan legalisme, aturan-aturan berdasarkan tafsir untuk kepentingan mereka sendiri. Tuhan Yesus menekankan agar kembali kepada hakekatnya, kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu (Ul. 6:5; Mat. 22:37-40). Dan, yang penting buahnya. "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (ayat 20). Tidak rumit, dan tidak terlalu sulit. Hanya saja perlu komitmen untuk setia menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 KETEKUNAN, TAHAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 – Opsi 2 LADANG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026Khotbah Minggu III Prapaskah 8 Maret 2026 - Opsi 3 MENCOBAI...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 35 guests and no members online
