2026
2026
Kabar dari Bukit, Minggu 3 Mei 2026
Kabar dari Bukit
DOSA TIDAK DISENGAJA (Kis. 3:12-19)
"Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu.” (Kis. 3:17)
Kadangkala kita dapat melewati godaan. Tetapi kadang kita tidak sengaja melakukannya, seperti saat berkendara tidak melihat rambu larangan tapi kita sudah berada di tengahnya. Kita bisa berbalik atau meneruskan pura-pura tidak tahu. Demikian pula kita bekerja baik dan sesuai prosedur, tetapi seseorang memberikan “tip” besar. Mungkin ada maksud berkelanjutan. Kita harus memilih: mengembalikan, atau malah memakainya untuk pemuasan nafsu. Alkitab sudah mengingatkannya, "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan" (Rm. 7:19).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu V Paskah yang berbahagia ini adalah Kis. 3:12-19. Ini (masih) tentang khotbah Petrus pasca kenaikan Tuhan Yesus yang mengawali gerakan pekabaran Injil di Israel dan wilayah Romawi.
Ada beberapa poin yang disampaikan oleh Rasul Petrus, pertama: siapa Yesus? Petrus menjelaskan bahwa meski para murid melakukan mukjizat penyembuhan orang lumpuh, namun sebenarnya itu adalah karya Yesus, yang mereka (orang Israel) salibkan. Yesus, Yang Kudus dan Benar, Perintis Kehidupan, justru mereka tolak dan bunuh. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (ay. 14-15).
Petrus menjelaskan bahwa mereka berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpinnya. Meskipun itu penggenapan nubuat (ay. 18), dan ketidaktahuan, Petrus mengatakan itu adalah dosa, sesuatu yang harus dijauhi dan dihapuskan.
Jadi jelas, ketidaktahuan atau ketidaksengajaan yang kita lakukan dengan membuat pihak lain susah, tetaplah dosa. Ini sudah dijelaskan pada PL (Im. 4:2-27; 5:15-18; Ul. 19:4-6). Juga dalam PB (1Tim. 1:13). Hukuman atas dosa ketidaksengajaan memang lebih ringan, sebagaimana dijelaskan, "Namun, hamba yang tidak tahu, dan melakukan apa yang pantas mendatangkan pukulan, akan menerima sedikit pukulan" (Luk. 12:47-48; 23:34). Ada belas kasihan. Tetapi, dosa yang tadinya tidak disengaja dan tetap diteruskan bahkan dinikmati, atau dosa yang sejak awal disengaja, tingkat hukumannya akan lebih berat. Ini termasuk peringatan pada kitab Yak. 4:17: “Jadi, jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Pada ayat lain dituliskan, “Sebab, jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu” (Ibr. 10:26).
Tuhan tidak suka jika kita anak-anak-Nya masih berniat dan menikmati perbuatan dosa. Selain hilangnya relasi indah dengan-Nya, kita akan kehilangan damai sejahtera, sukacita dan kelegaan dalam keseharian serta pada kekekalan. Oleh karena itu, nas minggu ini memberi kita petunjuk, yakni: "sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (ay. 19).
Sadarlah, berarti kita perlu membekali diri dengan firman Tuhan dan menghayatinya. Lebih utuhnya, hidup dalam hikmat dan kewaspadaan, memperlengkapi diri dengan senjata-senjata Allah (Ef. 6:14-18). Terhadap dosa yang kita sudah lakukan, solusinya adalah pertobatan dan permohonan pengampunan. Langkah ini tidak mudah, memerlukan komitmen kuat dan tekad hati serta latihan. Sebab kita tahu, Allah kita di dalam Yesus adalah Mahapengampun. Hanya dengan demikian kita dapat melihat dan merasakan kuasa Allah, Pemimpin Kehidupan, semakin hadir nyata dalam hidup kita.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
BANGSA TERPILIH IMAMAT RAJANI (1Pet. 2:2-10)
Bacaan lainnya: Kis. 7:55-60; Yoh. 14:1-14; Mzm. 31:1-5, 15-16
Pendahuluan
Gereja bukanlah sekedar bangunan atau susunan batu-batu. Kata church dalam bahasa Inggris (yang berarti gereja atau jemaat dalam bahasa Indonesia) berasal dari kata kuriakon dari bahasa Yunani yang berarti: milik Allah. Alkitab menggunakan banyak metafora untuk kata gereja atau jemaat, yakni:
o “Tubuh Kristus” (Ef. 1:22-23; Rm. 12:5; 1Kor. 12:12; 1Pet. 4:10).
o “Kawanan” (Mzm. 23; Luk. 15:3-7; Yoh. 10:1-18; 1Pet. 5:1-2).
o “Ranting Pohon Anggur” (Mat. 13:1-43; Yoh. 15:1-17; Rm. 11:16-24),
o “Keluarga Allah” (Luk. 1:29-33; Gal. 3:28; 2Kor. 6:16-18; Ibr. 2:10-18; 3:1-6); dan
o “Mempelai Kristus” (Hos 3:1-3; Mat 9:14-15; 25:1-13; 2Kor 11:2-4; Ef 5:21-33; Why 19:7-9; 22:12-21).
Seluruh metafora itu dalam nas minggu ini menggambarkan gereja sebagai persekutuan hidup orang percaya yang akan menjadi bangsa terpilih dan imamat rajani. Untuk dapat mewujudkan hal itu, melalui nas minggu kita diberi petunjuk dan pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Jadilah seperti bayi yang rindu susu murni (ayat 2-3)
Dalam pasal sebelumnya telah dijelaskan bahwa kita telah dilahirkan kembali di dalam kehidupan yang baru bersama Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang diberikan oleh Bapa dalam menyelamatkan dan memelihara umat-Nya (1Pet. 1:23; band. 1Kor. 6:19; Gal. 4:6). Semua hal itu adalah bukti kasih dan kebaikan Allah pada kita manusia sehingga kita tidak menjadi orang sesat dan budak dosa dan masuk ke dalam penghukuman Allah. Semua kebaikan pemberian Allah itu telah kita kecap dan rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari (band. Mzm. 34:9; Ibr. 6:5). Sebagai manusia yang diberi akal pikiran dan hikmat, maka kita tentu bertanya: bagaimana agar kelahiran atau hidup baru itu tetap dalam kehidupan pribadi kita dan kita tetap selamat? Keberadaan Roh Kudus memang merupakan meterai dan jaminan yang diberikan bagi kita, tetapi hal itu memerlukan respon positif sebagai bukti komitmen kita akan hidup baru tersebut. Pada ayat 1 sebelum nas ini dikatakan respon positif dimulai dengan membuang segala bentuk kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Setelah itu nas minggu ini menekankan sikap kita lainnya yakni harus seperti bayi yang baru lahir yang selalu dahaga akan susu murni semisal air susu ibu (ASI). Kita tahu bahwa bayi sangat memerlukan ASI dan setiap bayi umumnya memperlihatkan ekspresi “ingin” yang besar dengan minum yang lahap dan tidak sabar. Kelaparan atau kekurangan susu sebentar saja langsung diungkapkan dengan menangis. Kebutuhan minum susu merupakan insting alamiah bayi, dan itu merupakan tanda yang membawa kepada pertumbuhan yang sehat. Sikap kehausan demikianlah yang diminta dari kita berupa kehausan makanan rohani, dalam bentuk kehausan hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, seperti hubungan antara anak bayi dan ibu, anak dengan bapak. Semua itu diwujudkan melalui doa dan ibadah, ketergantungan yang tinggi yang diwujudkan melalui sikap berserah dan bersyukur, hikmat yang semakin besar yang diwujudkan dalam sikap sabar dan bijaksana. Keinginan yang besar akan makanan rohani berupa “susu” juga memperlihatkan sikap kerendahan hati bahwa kita bukan memerlukan makanan yang keras apalagi seolah-olah ingin menguji Tuhan (band. “Doa Bapa Kami” Mat. 6:9-13; Luk. 11:2-4;1Kor. 3:2).
Kehidupan rohani perlu makanan rohani agar bisa bertumbuh. Pertumbuhan sangat penting sebab tantangan hidup semakin besar dan bervariasi. Pertumbuhan ekonomi dan informasi membuat setiap orang semakin rentan jatuh ke dalam dosa, sebab godaan kedagingan juga semakin besar, yang kemudian dimanfaatkan oleh iblis yang jahat. Makanan rohani yang utama dalam nas ini dikatakan adalah firman Allah sebagaimana dinyatakan pada ayat sebelumnya (1Pet. 1:23-25), yang dapat memberi kekuatan seperti halnya susu murni. Ketika lahir baru maka kita menjadi bayi yang baru lahir secara rohani. Jika kita cukup sehat maka kita merindukan pertumbuhan. Asupan firman Allah akan menghasilkan tanda pertumbuhan rohani yang sehat, seperti tampak dalam buah-buah rohani lainnya. Kehausan dan kerinduan makanan rohani diminta dan oleh kuasa firman kita dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan (band. Ef. 4:14-17). Sungguh alangkah menyedihkan apabila sesorang tidak bisa bertumbuh, baik badani maupun rohani. Kita harus berjaga-jaga agar kehausan firman Allah itu tidak hilang karena kesibukan dan pergumulan hidup keseharian yang terjadi. Sejatinya, tatkala kita merasakan kebutuhan firman Tuhan dan hubungan dengan Kristus semakin besar, maka nafsu makanan rohani kita juga semakin bertambah dan itu bukti kita menjadi dewasa secara rohani. Kini, seberapa kuat keinginan kita terhadap firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari?
Kedua: Dipergunakan sebagai batu hidup (ayat 4-5)
Penggunaan kata batu dalam nas ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang mungkin berbeda tapi berkaitan. Pertama, kata “batu” dari ingatan Rasul Petrus terhadap perkataan Tuhan Yesus kepadanya bahwa ia adalah batu karang. Tidak ada keraguan bahwa Petrus sering memikirkan kata-kata Yesus kepadanya, ketika dia mengaku bahwa, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Untuk itu Yesus berkata kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:16-18). Hal kedua, kata “batu” dilatarbelakangi oleh gunung batu tempat Allah bersemayam di dalam Perjanjian Lama, yakni gunung Sinai tempat umat Israel berdiri berkeliling sebagai batas bagi bangsa itu untuk tidak boleh mendaki atau mengenai pada kaki, sebab di atas gunung itu Dia bersemayam, dan apabila kena kaki orang pada gunung itu pastilah ia dihukum mati (Kel. 19:1-12).
Hal ketiga, kata “batu” dalam kalimat itu merupakan kutipan dari Mzm. 118:22 yang berkata, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Dalam Yes. 28:16 juga dikatakan, “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!" Memang dari kitab Mazmur dan Yesaya, yang dimaksudkan dengan batu adalah Israel (Kel. 19:6; Ul. 7:6), akan tetapi oleh Rasul Petrus kini gambaran “batu” itu sebagai Yesus Kristus. Rasul Petrus mengulangi yang dikatakan Yesus sendiri pada Mat. 21:42, yakni menarik istilah “batu” di Perjanjian Lama menjadi “gereja” sebagai bangunan rohani Allah, memotret gereja sebagai batu yang hidup dengan Kristus sebagai dasar dan batu penjuru (1 Kor. 3:11). Dalam hal ini ada kesejajaran dalam penggunaan kata batu bagi Yesus Kristus dan juga batu bagi setiap orang percaya, dan jemaat adalah kumpulan batu-batu yang hidup. Hal yang sama juga digambarkan oleh Rasul Paulus yakni gereja sebagai tubuh dengan Kristus sebagai kepala dan setiap orang percaya adalah anggota-anggota tubuh (Ef. 4:15-16; band. Yoh. 2:21). Hal yang penting adalah kedua gambaran itu menekankan umat percaya sebagai komunitas dalam kebersamaan membangun gereja. Kristus dalam hal ini menjadi batu penjuru dasar persekutuan, menjadi pengikat orang percaya menjadi satu. Sebuah batu bukanlah sebuah dinding apalagi sebuah gereja; bagian anggota tubuh jelas tidak berguna tanpa adanya keutuhan bagian tubuh yang lain. Allah Mahatahu susunan batu orang percaya dan semua diletakkan dalam rencana-Nya sesuai dengan tugas dan talenta masing-masing.
Kini pertanyaannya: sebagai batu-batu yang hidup membangun gereja, apa yang kita tawarkan sebagai "persembahan rohani" kepada Allah? Ketika umat Yahudi mempersembahkan korban hewan sesuai dengan hukum Musa, maka imam akan membunuh dan memotong hewan itu, dan menempatkannya di altar. Persembahan memang perlu, tetapi di dalam Perjanjian Lama dinyatakan sangat jelas: ketaatan hati jauh lebih penting (band. 1Sam. 15:22; Mzm. 40:6; Am. 5:21-24). Allah menginginkan kita, menyerahkan diri kita sebagai persembahan batu yang hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus - menjauhkan keinginan nafsu dan kejahatan, setia mengikut Dia, menggunakan seluruh energi dan kemampuan bagi Dia, dan percaya Dia yang membimbing kita setiap hari. Di dalam kehidupan sosial modern yang individualistik saat ini, tidak dapat dipungkiri sangat mudah melupakan ketergantungan kita pada sesama umat Kristen lainnya, seolah semua bisa kita lakukan sendiri. Tetapi jangan lupa, ketika Allah memanggil kita untuk sebuah tugas dan dipergunakan sebagai batu hidup, Dia juga memanggil yang lain dalam mendukung tugas kita itu sebagai anggota keluarga Allah (Ef. 2:19-22). Bersama pribadi-pribadi yang lain itulah usaha kita menjadi sinergi yang berlipat ganda. Oleh karena itu, lihat dan carilah orang-orang seperti ini, dan bergabunglah dengan jemaat untuk memberi persembahan rohani yang indah bagi Allah.
Ketiga: Menjadi batu penjuru yang mahal (ayat 6-8)
Apa kira-kira batu yang diperhitungkan dalam "bangunan" gereja? Tidak lain tidak bukan adalah batu penjuru, yang dipakai sebagai dasar, ukuran, benchmark, paramater dalam menempatkan batu-batu yang lain. Batu penjuru adalah Kristus sendiri yang menjadi bagian utama dari bangunan Allah, yakni gereja-Nya. Yesus Kristus yang telah dibuang oleh umat Yahudi, tukang-tukang bangunan yang adalah kaum Sanhedrin (Kis. 4:11), telah menjadi batu penjuru yang mahal. Kini pertanyaannya, apa yang menjadi karakteristik sehingga Kristus sebagai batu penjuru yang mahal, dan bukan lagi Israel sebagaimana digambarkan oleh kitab Mazmur dan Yesaya? Katakteristik Kristus sebagai batu penjuru dapat dilihat dari riwayatnya, yakni: (1) Yesus sebagai Batu Penjuru yang hidup sesungguhnya dapat dipercaya; (2) Yesus sangat berharga bagi orang percaya karena penebusan-Nya. Batu penjuru itu kini telah diletakkan di Sion, tempat bersemayam Allah. Dengan demikian, tidak salah perintah nas minggu ini agar kita datang kepada batu yang hidup itu, yaitu Yesus Kristus.
Kematian Tuhan Yesus merupakan pengganti korban penebusan dosa dan penghapus kesalahan dalam imamat Yahudi. Oleh karena itu bagi kita yang percaya, Ia sangat berharga dan mahal sebab melalui kematian-Nya kita bebas dari segala dosa dan konsekuensi dosa. Kita orang percaya pun tidak akan dipermalukannya. Meski kita diejek dan dihina sebagai orang-orang atau batu-batu yang terbuang, atau diejek sebagai orang yang tidak masuk akal karena percaya kalau Allah menjadi manusia, itu tidak perlu kita khawatirkan atau pikirkan. Yesus Kristus adalah Allah Pembela yang setia (Rm. 9:32-33; 10:11). Ia yang tidak dihargai dan dibuang oleh manusia (duniawi), namun kita dipilih dan dihormati dalam kerajaan sorga. Sekali kita percaya bahwa Allah adalah Allah Maha Pengampun, dosa-dosa kita telah kita akui dan ditebus oleh kematian Yesus, dan Dia kita jadikan sebagai Juruselamat hidup kita, dan menerima Roh Kudus sebagai Allah yang memimpin hidup kita sehari-hari, maka kita tidak akan dipermalukan.
Akan tetapi diingatkan dalam nas ini bahwa batu penjuru itu dapat menjadi batu sandungan, dalam arti menjadi batu yang mengganjal hidup seseorang sehingga terjatuh dan terjerembab. Hal ini juga diingatkan dalam Yes. 8:14 yang mengatakan, “Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem." Bagi mereka yang tidak percaya Yesus, ini menjadi batu sandungan sebab mereka menolak Dia dan tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan-Nya. Mereka melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, tersandung oleh Pribadi Agung yang dapat menyelamatkan dan memberi arti dalam hidup mereka, tapi karena pikiran buta dan penolakan akhirnya jatuh tersandung masuk ke dalam tangan penghukuman Allah. Penolakan kasih karunia Allah kini dapat membawa kepada penghukuman yang telah disediakan (band. Mat. 21:42-44; Rm. 9:22). Akan tetapi diingatkan nas minggu ini bahwa batu sandungan juga akan muncul bukan karena penolakan saja, tetapi juga ketika mereka yang percaya tidak taat pada Firman (Yoh. 12:48). Percaya saja tidak cukup tetapi juga taat dan setia; kita tidak hanya menjadi pendengar tetapi hendaklah juga pelaku firman (Yak. 1:22).
Keempat: Bangsa yang terpilih, imamat yang rajani (ayat 9-10)
Orang Kristen perlu memahami keimanan orang percaya. Pada masa Perjanjian Lama, umat Yahudi memiliki para imam yang berasal dari suku Lewi, salah satu dari dua belas suku keturunan Yakub. Mereka inilah yang ditunjuk sebagai imam yang mengurus Bait Allah, dan tidak bekerja mencari makan melainkan memperoleh persembahan persepuluhan dari umat. Sebagai pihak yang mengurus Bait Allah adalah tugas imam untuk mewakili umat dalam memberi persembahan kepada Allah, dan umat sendiri dilarang langsung menghampiri Allah, sebab mereka adalah umat yang berdosa (Kel. 28:1; 2Taw. 29:11). Ketika Kristus menang di kayu salib, Ia terbukti menang sebagai Raja dan pola hubungan berubah. Keimaman suku Lewi dibatalkan dengan kemenangan Kristus (Ibr. 7:11-17) dan orang percaya menjadi imam yang sebenarnya di hadapan Allah (Yoh. 14:6; 16:23-27; Ef. 2:18; 1Pet 3:18). Kini kita dapat langsung ke hadirat-Nya tanpa rasa takut (Ibr. 4:16), dalam arti posisi setiap orang percaya adalah imam bagi dirinya sendiri dan juga bagi sesama orang percaya (Why. 1:6; 5:10; 20:6). Inilah yang dimaksud dalam nas ini bahwa kita melalui Kristus telah menjadi imamat yang rajani, sebab Dia adalah Raja kita.
Kedudukan keimaman orang percaya tersebut juga membawa konsekuensi berkewajiban untuk hidup kudus (Tit. 2:14; 1Pet. 2:5, 9; 1:14-17). Sebagai umat yang kudus dalam pengertian dipilih dan dipisahkan dari orang lain yang belum/tidak percaya, berarti kita menjadi kepunyaan Allah sendiri sepenuhnya (Tit. 2:14; band. Kis. 20:28), jauh dari segala kehidupan kejahatan, dan kita dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar sebagai persembahan rohani kepada-Nya. Kita telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan terang itu kita sebarkan melalui pemberitaan firman-Nya (Kis. 4:31; 1Kor. 14:26; 2Tes. 3:1; 1Pet. 2:9; 3:15). Kita ditugaskan untuk membawa orang lain kepada-Nya (2Kor. 5:18-21), mendoakan agar semua orang saling mendukung dan dapat diselamatkan (Kol. 4:12; 1Tim. 2:1; Why. 8:3). Maka ketika kita menjadi satu dengan Kristus sebagai bagian dari tubuh-Nya, maka kita telah bergabung dengan pekerjaan keimaman-Nya sebagai wujud rekonsiliasi Allah dengan manusia.
Manusia sering sekali mendasarkan konsep dirinya sesuai dengan pencapaiannya. Akan tetapi hubungan pribadi kita dengan Kristus jauh lebih penting dari semua keberhasilan kita, pekerjaan, kekayaan, dan bahkan pengetahuan dan kedudukan kita. Kristus telah membuka jalan ke tempat Yang Maha Kudus bagi kita semua orang percaya, dan kita telah dipilih oleh Allah menurut kehendak-Nya, dan kita juga dipanggil untuk menjadi utusan-Nya bagi orang lain. Ingatlah bahwa nilai diri kita datang dari posisi kita sebagai anak-anak Allah, dan itu bukan hal yang kita capai. Kita berharga oleh karena Allah membuat demikian, bukan karena atas hal yang kita lakukan. Dengan demikian, kita yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan (band Hos. 1:6, 9; 2:23). Inilah semua yang membawa kita kepada bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.
Penutup
Melalui bacaan minggu ini kita diminta membuang segala kejahatan dan bersikap seperti bayi yang rindu akan susu yang murni dan tidak tercemar. Sikap hasrat itu harus diungkapkan dalam kerinduan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai makanan/susu rohani keseharian kita. Semua itu bertujuan agar hidup kita terus dikuduskan dan dipergunakan sebagai batu yang hidup oleh Allah, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan jemaat, agar semua dapat memberikan persembahan rohani yang berkenan kepada-Nya. Allah Bapa telah membuat Yesus sebagai batu penjuru yang mahal dengan menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan kematian, tetapi sekaligus Yesus juga dapat menjadi batu sandungan bagi mereka yang menolak dan tidak taat pada firman-Nya. Ketaatan itu penting dalam membangun bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, yakni kita jemaat-Nya. Pembangunan suatu rumah rohani bagi Allah hanya dapat dibangun oleh jemaat kudus, secara pribadi maupun sebagai komunitas. Untuk itu kita perlu saling mengingatkan gereja-Nya untuk selalu setia pada tugas panggilan pelayanan yang telah diberikan, sebab gereja adalah pelayanan sekaligus sebagai alat pelayanan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 3)
YESUS BERDIRI MENYAMBUT (Kis. 7:55-60)
Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (Kis. 7:55-56)
Pernahkah kita membayangkan saat-saat ajal kelak datang menyambut hidup kita? Terlepas dari situasi saat mengakhiri hidup ini dengan kesadaran penuh, tanpa rasa sakit atau mungkin mengerang menahan rasa sakit yang hebat, atau keadaan koma tidak sadar secara medis, tetapi roh kita selalu pasti terhubung dengan Allah pemberi kehidupan. Bagaimana kira-kira gambarannya? Takut, atau tidak mau dipikirkan?
Gambaran indahnya dijelaskan melalui Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini, dari Kis. 7:55-60. Sebenarnya nas ini diambil dari leksionasi Tahun A untuk renungan Minggu kelima Paskah. Kita saat ini masih di tahun C dan nas pilihannya adalah Kis. 11:1-18; Mzm. 148; Why. 21:1-6 atau Yoh. 13:31-35. Namun, keempat nas tersebut telah saya tulis di tahun-tahun lalu, dan semua dapat diakses melalui website www.kabardaribukit.org atau pada buku-buku yang telah diterbitkan.
Nas minggu ini menceritakan tentang Stefanus, martir pertama, yang dibunuh para anggota Mahkamah Agama, saat mereka mendengar kesaksian Stefanus tentang Tuhan Yesus. Para pendengarnya menghasut dan menuduhnya telah mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (Kis. 6:8-7:54). Ia kemudian dibawa dan tetap dengan penjelasannya, bahwa Yesus orang Nazaret itu, akan merobohkan Bait Allah mereka dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa (Kis. 6:14).
Stefanus, bukan rasul, hanya diaken, tetap teguh dengan imannya. Para anggota Mahkamah Agama pun merasa geram, marah, sangat tertusuk hati mereka. Mereka berteriak-teriak dan sambil menutup telinga (tanda tidak ingin mendengar suara Allah), serentak menyerbu Stefanus, menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu hingga mati - hukuman sesuai Im. 24:16. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus, yang saat itu belum bertobat berganti nama menjadi Paulus (ay. 57-58).
Stefanus, saat menjelang ajalnya, dalam nas ini disebutkan menatap ke langit, lalu ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Ia berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku" (ay. 54-55). Ia bahkan meminta Tuhan tidak menghukum perbuatan mereka (59-60). Stefanus meninggalkan dunia ini dengan penuh cinta kasih dan damai, tidak ada berbeban penyesalan dan rasa takut dan sakit hati. Dan itulah yang diterimanya: melihat Tuhan Yesus menyambutnya dengan berdiri, penuh kemuliaan Allah.
Yesus berdiri setelah kenaikan-Nya, hanya disebut pada nas ini satu kali dalam Alkitab. Pengakuan Iman Rasuli kita mengatakan, Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang diambil dari Mzm. 101:1 (bdk. Dan. 7:9-14); sebagai simbol kepercayaan dan kuasa. Stefanus saat kembali ke Bapa, pulang, Tuhan Yesus berdiri menyambutnya; tentu diiringi oleh para malaikat sorga. Sungguh keindahan yang tak terkirakan. Walau menderita, ia tetap setia. “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15); itulah gambaran kasih Allah yang luar biasa bagi kita anak-anak-Nya yang setia. “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini” (Why. 14:13). Ya, sungguh membahagiakan.
Inginkah kita disambut oleh Tuhan Yesus yang berdiri saat ajal nanti menjemput? Mari, tetaplah setia mengasihi Allah, teruslah bersaksi dengan kebaikan, jangan menghujat dan menyakiti orang lain. Itulah yang diminta dari kita, meneladani Stefanus. Semoga kita semakin dimampukan untuk melakukannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 2)
TERSEDIA DI SORGA (Yoh. 14:1-14)
Firman Tuhan bagi kita Yoh. 14:1-14, berbicara tentang penegasan Tuhan Yesus bahwa Ia naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita yang percaya kepada-Nya. Untuk itu Ia berkata, kita tidak perlu gelisah dan khawatir bila kesusahan dan kematian datang (ayat 1, lih. Yoh. 13 sebelumnya). Tuhan Yesus juga menegaskan, melalui Dia-lah kita akan berkumpul di rumah Bapa di sorga: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (ayat 6). Rumah Bapa adalah tempat Allah bertakhta (ayat 2; Yes. 6:1–2).
Kita pasti pernah melihat ketidakadilan di dunia ini. Misalnya, sudah jelas orangnya jahat dalam arti sering menyusahkan orang/pihak lain, tetapi hidupnya sangat senang, matinya pun senang di rumah sakit bagus, acara penguburan yang mewah, dan lainnya. Atau, kita melihat orang baik yang tidak mau menyusahkan orang lain, tetapi hidupnya di dunia ini susah, matinya pun susah, sepi, tanpa kerabat banyak hadir. Atau kita sedang dikecewakan orang lain, merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi, percayalah, kehidupan di dunia tidak akan berhenti begitu saja saat kita mati. Kehidupan bentuk lain akan berlanjut, sebagai bagian pertanggungjawaban semua manusia atas segala perbuatan yang dilakukannya selama hidup di dunia.
Ada beberapa alasan kuat kita percaya Tuhan Yesus kembali ke sorga, menyediakan tempat bagi kita. Pertama, Ia berasal dari sorga. Benih-Nya benih sorgawi, bukan benih manusia seperti kita. Agama Kristen dan agama besar lain mengakuinya, sehingga benar Dia berasal dari sorga, dan tentu logis kembali ke sorga. Tubuh daging kita berasal dari tanah dan kembali ke tanah (Kej. 3:19). Nafas (nefesi, ruakh) yang berasal dari Allah dan milik-Nya, akan kembali kepada-Nya. Tubuh dan daging fana; Jiwa dan roh kekal, abadi. Ketika nafas dihembuskan oleh Allah, ada rencana dan tujuan-Nya dalam hidup manusia. Tuhan tidak iseng menciptakan kita.
Ia Allah yang Mahaadil, Mahabenar. Meski kini tampak samar-samar, tapi semua nanti dinyatakan jelas. Ia akan datang kembali, membawa kita ke tempat-Nya, supaya kita selamanya bersama-Nya (ayat 3). Akan ada penghakiman bagi yang baik dan jahat (2Kor 5: 10; Ibr. 10:30), orang hidup dan mati (1Pet. 4:5). Oleh karena itu, kita perlu jalan, pembimbing ke sorga, dan hanya yang datang dari sorga tahu jalan ke sorga, yakni Tuhan Yesus. Kita juga ditolong untuk percaya, karena pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan Yesus telah lakukan di dunia (ayat 12b). Ia berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26). Ia membangkitkan orang mati, Allah yang bangkit dari kematian. Allah yang hidup dan sumber hidup.
Pesan terakhir Tuhan Yesus melalui nas minggu ini, kita diminta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar (band. 1Pet. 2:9). Ia telah pergi kepada Bapa, tetapi janji-Nya, apa juga yang kita minta dalam nama-Nya, akan dikabulkan sepanjang bertujuan Bapa dipermuliakan di dalam Anak (ayat 12-13, band. Kis. 2:43). Tentu, pekerjaan besar bukan oleh kita orang-seorang, melainkan karya seluruh anak-anak-Nya. Tetaplah hidup di dalam Yesus, di jalan dan kebenaran. Jangan tidak peduli atau pura-pura tidak tahu, seperti Tomas dan Filipus (ayat 5, 8). Tetaplah di dalam Dia dan peduli akan Dia. Itu sangat menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 26 April 2026
Kabar dari Bukit
HIDUP YANG BERKELIMPAHAN (Yoh. 10:1-10)
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh. 10:10b)
Firman Tuhan di Minggu IV Paskah hari ini bagi kita adalah Yoh. 10:1-10. Nas ini menjelaskan Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik. Perumpamaan Yesus sebagai Gembala, berangkat dari peran gembala yang semestinya dilakukan oleh raja-raja Israel terhadap rakyatnya, tetapi tidak berjalan dengan baik. Kekecewaan tersebut dituliskan oleh para nabi besar dalam PL (Yer. 23:1–2; Yes. 56:11; Yeh. 34:1–8; Za. 11:4–5). Jadi, identitas Gembala merupakan kritik sekaligus metafora pemulihannya.
Gambaran datangnya gembala yang baik yang tidak sama dengan para raja-raja Israel, diberikan oleh nabi Yehezkiel yang menuliskan: "Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya” (Yeh. 34:23-24; band. Yes. 40:10-11).
Sebagai Gembala yang baik, Tuhan Yesus mengenal semua domba-domba-Nya; memanggil dengan nama-namanya (ayat 1-3). Ia tidak seperti pencuri yang masuk dari pagar atau memanjat tembok. Gembala yang baik masuk dari pintu depan. Ia berjalan di depan, menuntun domba-Nya membawa ke luar, dan domba-domba itu mengikuti karena mereka mengenal suara-Nya (ayat 4). Dalam Mzm. 23 sebagai padanan leksionari minggu ini disebutkan, gembala memakai gada dan tongkat yang menghibur dan memberi rasa aman bagi dombanya (ayat 4).
Gembala Yesus menuntun di jalan yang benar, dan memberi urapan minyak di kepala (Mzm. 23:3, 5). Ia adalah pintu yang sesungguhnya bagi domba-domba. Barangsiapa masuk melalui Tuhan Yesus, ia akan selamat, dan akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput yang hijau dan air yang tenang (ayat 7, 9; Mzm. 23:2). Ini meneguhkan prinsip Kristiani bahwa iman dan keselamatan adalah anugerah-Nya, dan Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan menuju ke tempat Bapa sorgawi. Jika dahulu kita domba sesat, tetapi sekarang telah kembali kepada Gembala sebagai pemelihara jiwa kita (1Pet. 2:25).
Bagian terakhir nas minggu ini menegaskan, jika nabi-nabi palsu dan allah-allah datang untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan, Tuhan Yesus datang supaya semua yang menerima-Nya mempunyai hidup, dan tidak sekedar hidup, melainkan mempunyainya dalam segala kelimpahan (ayat 10). Hidup yang berkelimpahan bukan berarti ukuran dunia dengan memiliki harta dan kuasa, tetapi hidup dalam gembalaan-Nya yang membuat kita senantiasa memiliki damai sejahtera di batin, relasi dengan Allah yang baik, sukacita, penuh kasih dan mengasihi, serta tidak khawatir menjalani arah hidup yang jelas yakni pengharapan kekal. Tetaplah setia menjadi domba-Nya, dan terus lebih mengenal dan mengasihi-Nya sebagai Gembala yang baik.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026 SERAHKANLAH SEGALA...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026 – Opsi 2 DOA IMAM...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026 – Opsi 3 MEMULIHKAN...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 29 guests and no members online
