Saturday, October 31, 2026

2026

Khotbah (3) Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026

Khotbah (3) Minggu XXI Setelah Pentakosta – 18 Oktober 2026

  KERAGUAN YANG MENUMBUHKAN IMAN (Kel. 33:12–23) - Opsi 3

  ”Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu" (Kel. 33:14)

Merasa ragu sangat manusiawi. Namun, jangan terus diam dengan keraguan itu sampai membuat kita tidak bergerak: takut salah, takut gagal, malu, dan sebagainya. “Yakinlah dalam keyakinanmu, dan ragukanlah keraguanmu.” Itu semboyan yang bagus agar hidup dapat lebih berbuah dan penuh dinamika.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kel. 33:12–23. Nas ini merupakan kelanjutan pasal sebelumnya, mengenai amarah Tuhan kepada bangsa Israel. Mereka tidak sabar menunggu Musa yang naik ke gunung bertemu Tuhan, lalu membuat patung lembu emas sebagai sembahannya, dan berharap patung itu memimpin perjalanan mereka.

Tuhan pun marah dan ingin membinasakan mereka. Kita tahu Tuhan itu pencemburu dan tidak mau diduakan. Musa, yang memimpin perjalanan, juga merasa ragu tentang kasih dan penyertaan-Nya, sebab kini hanya malaikat yang diutus (ay. 2). Musa menjelaskan bahwa ia tidak mengetahui sifat bangsa itu yang tegar tengkuk, dan Tuhan juga tidak memberi arahan siapa saja yang boleh ikut keluar dari Mesir (ay. 5, 12).

Di tengah rasa putus asa, Musa memohon kepada Tuhan: “...beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu” (ay. 13). Permintaan kedua, Musa ingin bertemu muka dengan Tuhan dan berkata, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ay. 18).

Jelas, hubungan yang dekat membuat Musa lebih mudah meminta dan mengekspresikan diri. TUHAN berbicara kepada Musa berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya (ay. 11a). Amarah Tuhan pun sirna setelah Musa memohon dengan alasan yang kuat. Tuhan penuh kasih. Ia memahami situasi bangsa Israel, terutama Musa yang telah dipilih-Nya. Permohonan pertama Musa dikabulkan: “…engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau” (ay. 17).

Permohonan kedua Musa tidak dikabulkan. Tuhan berkata: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup" (ay. 20). Namun Tuhan memberi tanda kehadiran dan penyertaan-Nya melalui malaikat dan tiang awan (ay. 2, 10), serta memberikan kesempatan kepada Musa untuk melihat belakang-Nya, meskipun wajah-Nya tidak kelihatan (ay. 23).

Menjalani kehidupan, selain memiliki tujuan, perlu nilai-nilai dasar sebagai pegangan, yaitu kebenaran dasar yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku dalam berbagai aspek kehidupan. Nilai-nilai dan prinsip ini sangat penting, sebab kita tidak hidup seorang diri; ada keluarga dan masyarakat yang berinteraksi dan memberi dampak pada kehidupan pribadi kita. Bila nilai-nilai dasar tidak jelas dan tidak dipegang teguh, maka godaan dunia, kedagingan, dan iblis akan lebih mudah menguasai.

Kini, mungkin kita pernah melakukan kesalahan yang membuat Tuhan marah. Namun dengan menjalin hubungan dekat dengan-Nya, kita dapat menyampaikan permintaan tentang pengharapan maupun pergumulan kita. Percaya hanya kepada Allah dalam Yesus adalah salah satu nilai dasar yang perlu kita pegang. Nilai lain, seperti mencintai keluarga, tidak menyakiti orang lain, dan jujur, juga perlu diteguhkan. Jika kita memegangnya dengan kuat, tantangan apapun yang datang akan kita hadapi dengan teguh dan menang.

Sebuah nasihat mengatakan: “If you don’t stand for something, you fall for everything.” Jika kita tidak berpegang pada sesuatu, kita akan mudah jatuh pada segalanya. Bila ragu akan kasih setia Tuhan, jalinlah terlebih dahulu hubungan melalui bersekutu dengan-Nya. Mohonkan belas kasihan atas sikap ragu-ragu (Yud. 1:22). Katakan: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk. 9:24). Ubah keraguan menjadi iman, maka kita akan menerima bimbingan dan ketenteraman hidup dari-Nya (ay. 14).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 11 Oktober 2026

Kabar dari Bukit

  PUJIAN ATAS KEBAIKAN TUHAN (Mzm. 106: 1-6, 19-23)

 ”Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan Tuhan, memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?" (Mzm. 106:2, TB2)

 

Selamat pagi dan salam kasih.

Saya penggemar Facebook (FB). Bukan untuk tebar pesona. Selain banyak tahu teman, ada beberapa pemikir dan forum yang saya ikutin, khususnya yang banyak berdiskusi tentang politik, bisnis dan tentunya agama/keyakinan. Postingan mereka banyak yang bagus, jernih. Tentu kita tidak harus selalu setuju dengan mereka.

Salah satu diskusi di FB yang menarik adalah pemikiran tentang evolusi dan kaitannya dengan iman. Tema ini banyak membawa manusia menjadi agnostik, antara percaya Tuhan dan tidak terselami keberadaan-Nya. Beda dengan atheis yang tidak percaya Tuhan sama sekali. Dan kita tahu juga ada denominasi besar gereja yang sudah mengakui teori evolusi. Tubuh manusia boleh saja evolusi dari makhluk lain, tetapi menurut pandangan gereja ini, khusus untuk jiwa, Tuhan-lah yang menciptakannya.

Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Mzm. 106:1-6, 19-23. Judul Mazmur 106 ini: Kasih setia Allah dan ketegaran hati Israel. Kita diajak melihat cermin respons manusia terhadap kebaikan-Nya. Pasal dibuka dengan pernyataan, "Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Dilanjutkan dengan pertanyaan: "Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan Tuhan, memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?" (ay. 1-2).

Ya kebesaran Tuhan dan pujian kepada-Nya tidak tetandingi. PB juga menuliskan, "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh (Tuhan) Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang ditulis itu" (Yoh. 21:25).

Penghiburan dan pengharapan juga diberikan kepada kita yang terus berupaya berpegang pada hukum dan perintah-Nya (ay. 3). Jika ada yang belum dapat melihat kebaikan Tuhan karena perjalanan hidupnya, misalnya, belum bangkit, Mazmur ini mengajarkan agar memohon, "supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, dan bersukacita dalam sukacita umat-Mu, serta bermegah bersama milik-Mu sendiri (ay. 5).

Kita memang perlu bersaksi dan membuka mata rohani bahwa Tuhan bekerja bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Semua demi keselamatan dari pada-Nya baik hidup di dunia maupun kelak di surga. Ayat 6 menuliskan pengakuan jujur tentang nenek moyang bangsa Israel telah berbuat dosa; mereka bersalah dan berbuat fasik. Kisah Harun di Horeb yang mengikuti permintaan massa, setuju membuat anak lembu, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar kemuliaan Tuhan dengan sapi jantan yang makan rumput. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari Mesir (ay. 19-22).

Tuhan kita itu setia, tidak berubah meski manusia tidak setia. Melalui permohonan Musa kepada Allah, amarah-Nya surut dan bangsa Israel tidak dimusnahkan (ay. 23). Melalui Mazmur ini, kita diajak mengingat bukan hanya kebaikan Tuhan, tetapi juga kegagalan manusia agar kita belajar untuk hidup dalam kerendahan hati, pertobatan dan rasa syukur.

Tuhan Mahamulia dan Mahakasih. Keburukan manusia membuat kebaikan-Nya semakin bersinar, dan kebaikan-Nya membuat keburukan manusia semakin tampak menyedihkan dan memalukan. Untuk itu kita hanya perlu mengakui dosa dan kelemahan kita seperti Musa, serta berdoa bagi sesama agar semakin banyak yang dipulihkan (ay. 4, 23). Tetaplah memuji dan bersyukur Tuhan itu baik. Janganlah melupakannya, terlebih mencari penggantinya apalagi mentuhankan pikiran. Dia selalu ada dan perkasa.

Selamat beribadah dan bersekutu.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah (2) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026

Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 2)

  TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Kel. 32:1–14)

  ”Dan menyesallah  TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (Kel. 32:14)

Seseorang kadang dapat kehilangan pengharapan, dan hal itu wajar. Pengharapan memiliki dua bentuk: yang direncanakan dan sengaja, serta yang muncul dari watak, yang mudah rapuh dan berubah. Karena itu, pengharapan memerlukan motivasi yang kuat. Menurut Moltmann dalam bukunya Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian Eschatology, pengharapan perlu diletakkan pada perspektif eskatologis, yaitu hal-hal yang bersifat surgawi.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Kel. 32:1–14. Ini kisah umat Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan. Mereka tidak sabar menanti Musa yang naik ke gunung bertemu dengan Allah dan tidak mengetahui kabar dari beliau. Karena itu, mereka mendesak Harun agar membuat allah dari anak lembu emas yang akan memimpin perjalanan selanjutnya. Harun terpengaruh, setuju, dan meminta umat mengumpulkan anting-anting emas untuk dijadikan tuangan anak lembu emas (ay. 1–4).

Umat Israel kemudian menyembah patung emas itu, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, makan, dan minum bersukaria. Allah mengetahui hal ini, lalu meminta Musa segera turun dan berpesan akan menghukum serta membinasakan mereka, menyatakan murka-Nya (ay. 6, 10).

Namun Musa mencoba melunakkan hati Tuhan, beralasan bahwa Tuhan telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, mengapa kini menimpakan malapetaka dengan membunuh mereka? Musa juga mengingatkan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, serta janji kepada dirinya sendiri. Lalu Tuhan menyesal atas malapetaka yang direncanakan bagi umat-Nya (ay. 11–14).

Dari nas ini, kita memperoleh beberapa pengajaran penting. Pertama, manusia memiliki daya tahan terbatas dalam menghadapi permasalahan dan pergumulannya. Namun solusi tetap harus dihadapi dan tidak lari. Ketika menurut akal pikiran tidak mampu, kembali kepada iman. Hidup kita tidak berjalan sendiri, sebab ada Allah yang Mahabaik menyertai. Kepada-Nya kita berserah dengan berlandaskan iman dan pengharapan. Jangan berpaling kepada allah lain, karena hal itu sia-sia.

Ahli psikologi menyatakan bahwa seseorang dapat mengatasi kesulitan jika mengubah pola pikir, misalnya dengan memecah persoalan menjadi bagian kecil atau belajar dari pengalaman orang lain. Kesabaran dunia ada batasnya dan bisa hilang. Kesabaran dalam pengharapan tidak terbatas, sebab seperti kata Moltmann, “segala sesuatu bukanlah akhir.” Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa (Ibr. 6:19).

Kedua, Allah tidak memandang sepele jika diduakan. Ini poin penting dalam Sepuluh Perintah Allah yang menghukum keras orang yang menyembah illah lain hingga keturunan ketiga dan keempat. Allah kita cemburu; tidak boleh ada Allah lain, termasuk mengagungkan pikiran, uang, kuasa, harga diri, keinginan daging, atau bentuk lainnya.

Ketiga, melalui hamba-Nya Musa, Allah bersikap kasih dan Mahaadil; ada ruang dialog dan penjelasan, intinya memohon pengampunan. Tuhan bisa marah dan berniat menghukum, tetapi ketika ada permohonan ampun dan penjelasan yang kuat, seperti menunjukkan pertobatan, siap menjadi manusia baru, dan melayani, Allah dapat mengubah keputusan-Nya (ay. 14). Kita juga mengingat Raja Hizkia yang meminta umurnya diperpanjang, dan Tuhan mengabulkannya (2Raj. 20:1–7).

Terakhir, ada janji Allah bagi mereka yang setia. Janji pemeliharaan dan berkat-Nya berlaku juga bagi anak cucu kita. Musa menyampaikan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, bahkan kepada dirinya sendiri. Janji inilah yang menjadi pertimbangan Allah untuk tidak menghukum, sepanjang ada pertobatan dan hidup sebagai manusia baru.

Nah, bagaimana dengan kita? Mari belajar dari keempat pengajaran tersebut. Tetaplah setia, sebab pengharapan surgawi tersedia bagi kita dan anak cucu kita. Inilah indahnya buah ketekunan dalam pergumulan, tahan uji, dan pengharapan yang tidak mengecewakan (Rm. 5:3–5). Haleluya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026

Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026

  DI DALAM TUHAN KITA SENANTIASA BERSUKACITA (Flp. 4:1-9)

 Bacaan lainnya: Mat. 22:1-14; Kel. 32:1-14 atau Yes. 25:1-9; Mzm. 106:1-6, 19-23 atau Mzm. 23

Pendahuluan

Bagian terakhir kitab Filipi ini memberikan nasihat kepada jemaat Filipi tentang cara mereka hidup di dalam perdamaian dan kasih. Adanya perbedaan di antara para pelayan Tuhan diminta diselesaikan. Memang identitas yang disebut teman setia dalam nas ini masih belum terlalu jelas. Mungkin saja orangnya adalah Epafroditus yang membawa surat surat, atau seorang rekan Paulus yang lain di penjara. Orang itu bisa juga yang bernama Sunsugos (yang berarti penerima kuk bersama). Keprihatinan pada jemaat Filipi membuat Rasul Paulus sampai mengulang enam kali sebutan kasih kepada mereka. Ia menekankan sebagai pemimpin di dalam jemaat seyogianyalah memberikan teladan sebagaimana Kristus. Banyak hal positif yang dapat dilakukan dan terutama menjadikan jemaat sebagai mahkota. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut:

Pertama: Berdiri teguh dan sehati sepikir (ayat 1-3)

Bagaimana caranya kita dapat berdiri teguh di hadapan Allah? Ini mengacu kepada ayat sebelumnya (Flp. 3:20-21), yakni dengan mengarahkan mata kita terus tertuju kepada Kristus, terus menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat kita yang abadi, dan fokus pada kenyataan bahwa Kristus yang mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita dan juga alam semesta. Dengan demikian, kita tahu segala hal yang terjadi dalam hidup kita ada dalam sepengatahuan Allah. Berdiri teguh juga berarti sabar dan tabah dalam menahan pengaruh negatif dari segala ujian dan pencobaan, pengajaran sesat, atau penderitaan. Ya betul, itu memerlukan ketekunan ketika kita diuji atau dihadapkan pada situasi perlawanan dan dimusuhi. Oleh karenanya, jangan kehilangan kekuatan hati dan mudah menyerah. Allah berjanji memberi kita kekuatan karakter. Dengan pertolongan Roh Kudus dan rekan-rekan orang percaya lainnya, kita akan dapat bertahan dan benar di hadapan Allah. Nasihat itulah yang diberikan kepada jemaat (band. 1Kor. 16:13).

Rasul Paulus tidak memaksudkan suratnya ini untuk menasihati jemaat Filipi tentang doktrin atau pengajaran yang salah, melainkan lebih kepada hubungan antar manusia. Hubungan buruk yang terjadi di antara para pelayan bukanlah masalah kecil. Ia mengambil contoh dengan nasihat kepada dua wanita (Euodia dan Sintikhe, mungkin tokoh-tokoh penting dalam jemaat) yang disebutnya telah bekerja di jemaat bagi Kristus. Melalui usaha dan kerja keras mereka berdua telah banyak orang percaya dibawa kepada Kristus. Adalah tidak mungkin seseorang yang percaya kepada Kristus –terlebih seorang pelayan – bekerja keras bagi kerajaan-Nya tapi memiliki hubungan yang buruk dengan sesama orang percaya lainnya, apalagi juga memiliki tujuan dan komitmen yang sama. Sehati sepikir perlu diutamakan agar bisa bekerjasama dan bersinergi (band. Flp. 2:2). Sungguh menyedihkan dan bahkan memalukan apabila di antara pelayan Tuhan atau pekerja Injil sendiri terjadi pertentangan. Firman Tuhan memberikan nasihat agar masing-masing pihak harus bersedia merendahkan hati dan memberi pengorbanan, tidak memaksakan keinginan sendiri. Egoisme yang memicu perbedaan harus disingkirkan, sebab Allah menciptakan manusia yang berbeda sudut pandang dan keperluan. Nas ini secara otomatis juga mengingatkan bahwa tidak ada ruang pemaafan dan pembenaran jika yang terjadi adalah perpecahan dan tidak terjadi rekonsiliasi. Bila ada perpecahan, pasti ada yang salah dan itu perlu diperbaiki di dalam pribadi mereka dan untuk itulah perlu introspeksi dan membuka diri.

Pertanyaan bagi kita: apakah kita saat ini sedang bermasalah dengan orang lain dalam persekutuan atau organisasi? Apakah kita sampai pada perpecahan dalam langkah dan bahkan mendendam sakit hati? Apakah kita memerlukan rekonsiliasi dengan seseorang saat ini? Jika kita menghadapi konflik yang kita tidak bisa selesaikan, jangan membiarkan ketegangan kecil yang dapat menjadi ledakan yang besar. Jangan kita mundur atau berhenti bahkan mengarahkan pada perkelahian dengan kekerasan. Jangan juga berpangku tangan dan menunggu bahwa masalah itu hilang dengan sendirinya. Prinsip waktu menghilangkannya tidak selalu benar. Waktu dapat menghilangkannya bila kita mengubah cara pandang dan kepentingan. Waktu memang dapat menurunkan amarah. Tetapi tanpa mengubah cara pandang, maka waktu tidak akan mengubah apapun yang menghilangkan perbedaan. Yang penting bagi kita, ketika masalah perbedaan dan pertentangan melanda, maka dengan iman dan kasih mintalah pertolongan Tuhan dan carilah orang yang bisa mendamaikan sehingga masalah dapat diselesaikan. Jangan sampai masalah berlarut-larut dan akhirnya menjadi dosa dan keselamatan kita dikorbankan. Ini yang ditekankan Rasul Paulus sehingga dikatakannya, keselamatan yang sudah kita terima dengan nama kita sudah tercatat dalam buku kehidupan, jangan sampai terhapus. Buku kehidupan adalah daftar semua nama-nama yang yang diselamatkan dalam hidup kekekalan melalui iman kepada Yesus Kristus dan ketaatan dalam melakukan firman-Nya (Luk. 10:17-20; Why. 20:11-15).

Kedua: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan (ayat 4-5)

Adalah aneh untuk seorang narapidana mengatakan kepada jemaat: “Bersukacitalah!” Akan tetapi pernyataan Rasul Paulus itu memberikan kita pelajaran penting: sikap di dalam hati seharusnya bukanlah merupakan refleksi dari keadaan di luar tubuh. Respon kita terhadap yang terjadi di sekeliling, tidak harus membawa dampak buruk terhadap hati kita. Kebahagiaan bukan datang dari luar diri yang ada di sekeliling, atau hal peristiwa tertentu, tetapi sikap dari dalam hati yakni hati yang telah dipenuhi Roh Yesus. Rasul Paulus tetap hatinya penuh sukacita karena tahu bahwa tidak masalah yang terjadi padanya, sebab Tuhan Yesus ada selalu bersamanya. Firman Tuhan menekankan kata “senantiasa” jelas menunjukkan sumber sukacita bukan tergantung situasi, tetapi sumber yang abadi yakni dari Tuhan Yesus. Beberapa kali dalam suratnya, Paulus mendesak jemaat Filipi agar bersukacita, mungkin hal itu yang dibutuhkan jemaat saat itu akibat masalah perbedaan yang ada. Bukanlah hal yang terlalu sulit untuk menghilangkan kejengkelan hati atau kehilangan semangat dari situasi yang tidak menyenangkan; atau membuang hal-hal yang tidak penting untuk dipikirkan terlalu serius. Mereka hanya perlu fokus menyelesaikan dalam kasih. Kita harus bisa menilai hal yang penting dan utama dalam hidup ini. Jika kita saat ini tidak bersukacita, maka pasti ada yang salah dalam perspektif melihat kehidupan ini, terutama yang Tuhan telah berikan.

Demikian juga tentang permasalahan yang dihadapi jemaat Filipi dalam kesatuan hati untuk bisa sehati sepikir. Mereka tidak mungkin dapat bersukacita apabila mereka tidak bersatu dan ada kesehatian. Mereka tidak bisa merasakan sukacita apabila terjadi pertentangan yang bisa membawa perpecahan. Kita harus bersikap lembut, logis, pikiran terbuka, dan menyambut positif atas hal-hal yang terjadi di sekitar jemaat, dan bukan hanya sebagai orang percaya yang pasif tidak peduli. Dengan demikian, kita juga diminta agar tidak mudah menaruh sakit hati dan dendam pada mereka yang berbeda pendapat atau menyakiti hati kita, serta tidak berbangga dan omong besar atas kelebihan yang kita miliki dan menuntut hak-hak yang sepertinya menjadi milik kita. Sebaliknya, kita harus mengambil peran juru damai yang aktif apabila ada perselisihan yang terjadi di lingkungan kita. Sebagaimana dinyatakan Paulus, nas ini meminta warga jemaat lainnya (Sunsugos berarti sesama pekerja atau pemikul kuk) untuk ikut mendamaikan hamba-hamba Tuhan yang belum sehati itu. Tanpa kesejatian para hamba pelayan-Nya, jemaat pun akan kehilangan sukacita.

Hamba Tuhan dan dan para pelayan perlu melihat jemaat sebagai mahkota, dalam arti  yang paling utama dan dimenangkan dan bukan ego masing-masing pribadi. Bilamana ini dilihat sebagai sumber sukacita yakni jemaat bersatu padu, bertumbuh dan berbuah, maka sukacita akan datang pada semua. Sukacita mestinya mudah datang dari Yesus yang diam di dalam hati setiap hati orang percaya. Pelayan seharusnya menjadi panutan bagi jemaat. Untuk itu perlu ditonjolkan kebaikan-kebaikan hati (epieikes) berupa kesabaran, kesediaan mengalah apalagi keinginan menyenangkan orang lain dengan kasih. Dasar semuanya adalah kesiapan orang percaya dalam menyongsong kedatangan Kristus yang sudah dekat. Tuhan sudah dekat adalah prinsip Kristiani sehingga setiap masalah yang membawa dosa, harus diselesaikan dengan kasih (Mat. 24:36; Rm. 13:12-14; Ibr. 10:37; Yak. 5:8, 9). Hati yang bersuka cita dan bersyukur adalah prinsip Kekristenan. Tuhan sudah dekat juga berarti Ia tetap dekat yakni sedekat doa kita (band. Flp. 1:4). Maka pada kedatangan-Nya kedua kali, sukacita dan syukur serta janji-janji-Nya akan digenapi penuh (Mzm. 85:7; Hab. 3: 18). Yesus yang hidup di dalam diri kita akan memenuhi rencana-Nya yang indah dan kita pun akan menerima mahkota kemenangan.

Ketiga: Janganlah khawatir dan nyatakan keinginanmu dalam doa (ayat 6-7)

Salah satu sumber kehilangan sukacita adalah adanya kekhawatiran. Ini juga yang dilihat Rasul Paulus sehingga ia mengatakan janganlah khawatir tentang apapun juga. Meski tidak dijelaskan kekhawatiran yang terjadi pada jemaat Filipi, tapi ini diduga bukan dari faktor-faktor materi, tetapi lebih kepada gengsi, status, kesombongan, dan harga diri yang menyebabkan pertentangan. Banyak pihak yang bersengketa atau bertengkar tidak mau memulai perdamaian sebab ada pandangan bahwa mereka yang menawarkan perdamaian terlebih dahulu adalah yang bersalah. Mereka yang mengalah dianggap sebagai pihak yang salah. Padahal, jelas berbeda: mengalah dan salah. Orang yang mengalah memang sedikit harus kalah dalam arti tidak mau menang melulu. Akan tetapi mereka yang mengalah justru sering menjadi pemenang, sebab langkahnya adalah mundur selangkah untuk maju dua langkah. Alkitab juga memberikan contoh bagi mereka yang mengalah justru yang diberkati, sebagaimana Abraham mengalah terhadap Lot dan Daud mengalah pada Saul. Kekhawatiran itu yang harus diganti menjadi mendapatkan damai sejahtera. Alkitab mengatakan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (Mat. 6:27; Luk. 12:25). Artinya, kekhawatiran tidak menambah apapun juga.

Jelas kita tidak bisa membayangkan situasi hidup kita untuk tidak khawatir tentang apapun. Itu tidak mungkin. Kita bisa khawatir tentang pekerjaan di kantor, tentang keadaan di rumah, di sekolah atau di lain persoalan. Akan tetapi Rasul Paulus menasihati agar mengubah kekhawatiran kita menjadi doa. Apakah kita ingin kekhawatirankita berkurang? Maka menurut firman minggu ini: tambahlah waktu kita untuk berdoa. Ketika kita mulai khawatir, hentikanlah kekhawatiran itu dengan mulai berdoa kepada Tuhan Yesus. Doa merupakan jalan keluar dengan dasar sebagai berikut:

1.       Persekutuan kita dengan Tuhan Yesus akan mengisi hati dan pikiran kita dengan damai sejahtera. Doa mendorong agar kita memiliki suasana berpikir damai sejahtera. Kita akan menerima kasih karunia dan berkat dari-Nya (Kol. 3:15; Yes. 26:3; Ibr. 4:16).

 

2.      Melalui doa kita secara otomatis menyerahkan segala kecemasan dan persoalan kita kepada Dia. Kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (Rm. 8:28).

 

3.      Melalui doa kita memperlihatkan kesetiaan sekaligus memperbaharui kepercayaan pada Tuhan yang memelihara kita (Mat. 6:25-34; 1Pet. 5:7).

 

4.      Melalui doa kita meminta kekuatan dan pertolongan Allah untuk membekali dan menguatkan dalam persoalan yang kita hadapi (ayat Flp. 4:13; Ef. 3:16 Flp. 3:20).

 

5.      Alkitab memerintahkan, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu" (Ef. 6:18).

 

Dalam bagian lain dinyatakan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Damai sejahtera Allah di dalam Tuhan Yesus, yang dinyatakan dalam nas minggu ini melampaui segala akal, itu berarti melampaui ketidakmampuan segala pikiran, gagasan dan perencanaan manusia untuk memahami kedalaman dan kebesaran damai dari Allah. Istilah damai sejahtera akan memelihara, itu berarti menjaga atau membentengi kita dari segala kekhawatiran. Istilah phoureo yang berarti memelihara diambil dari istilah militer yakni benteng, yang menjaga damai sejahtera yang kita miliki. Damai sejahtera yang sebenarnya tidak kita peroleh dari berpikir positif, atau tiadanya konflik, atau dalam keadaan hati yang tenang. Damai sejahtera datang ketika kita berprinsip semua ada dalam kendali Yesus yang pasti memelihara jiwa kita. Kewargaan sorgawi kita adalah pasti, perjalanan hidup kita sudah ditentukan pada jalan yang dipimpin-Nya, dan kita pasti akan menang atas segala rintangan dan pencobaan. Biarkanlah damai sejahtera dari Allah yang memimpin hati kita terhadap kekhawatirandan kecemasan. 

Keempat: Pikirkan dan lakukanlah semua hal itu (ayat 8-9)

Apa yang kita taruh di dalam pikiran akan menentukan hasil di dalam perkataan dan perbuatan. Rasul Paulus juga menyadari bahwa pikiran para pengikut Kristus perlu diberi “makanan” dengan mengatakan agar kita memprogram pikiran dengan hal-hal yang benar dan berguna. Makanan yang dimaksudnya adalah hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Kumpulan makanan pikiran ini sering disebut sebagai pemikiran positif Kristiani. Para pengikut Kristus perlu mendisiplinkan diri memikirkan hal itu, maka Allah akan memelihara perasaan mereka dengan damai-Nya. Tak hanya itu, mereka juga sekaligus semakin dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Itu berarti, kuncinya adalah ketaatan untuk memikirkan hal-hal yang Tuhan kehendaki. Selanjutnya Tuhan sendirilah yang akan turun tangan untuk menolongnya. Apakah kita ada kesulitan mendapatkan pikiran yang bersih? Atau pikiran kita hanya sering melamun? Periksalah yang ada di dalam pikiran kita yang "rusak", mungkin itu berasal dari televisi, internet, buku, film, atau majalah. Buang dan gantikanlah hal-hal yang mengganggu dan buruk itu dengan hal-hal yang membuat sukacita.

Isilah pikiran kita setiap hari dengan Firman Tuhan terlebih dahulu sebelum kita mengisinya dengan berbagai berita dan rencana harian kita. Bacalah firman Tuhan di pagi hari dan tekunlah berdoa. Betapa indahnya hidup jika kita dapat memberi makan pikiran dan perasaan kita dengan pikiran dan perasaan Kristus. Isi pikiran kita dengan meneleksi informasi yang berguna dan menambah hikmat dan sukacita. Mintalah kepada Tuhan agar pikiran kita tetap fokus pada hal-hal yang baik dan murni saja. Dengan demikian, kemenangan akan berada di pihak kita, yaitu damai Kristus dan hati yang bersyukur. Tidak cukup hanya mendengar firman Tuhan sekali seminggu di gereja. Atau hanya menghafalnya; justru yang terpenting adalah mempraktekkannya. Jadilah pelaku firman dan bukan pendengar (Yak. 1:22). Memang enak dan mudah mendengarkan khotbah, akan tetapi itu juga mudah hilang ditelan waktu. Memang tidak sulit untuk membaca Alkitab jika tidak harus berpikir keras, tetapi berpikir untuk bisa menjadi pelaku firman. Semua itu harus dipraktekkan dan untuk itu semua perlu dilatih. Jangan terjebak dalam dikusi-diskusi yang membuang energi tapi tidak berdampak pada perubahan cara pandang dan sikap hidup. Carilah makna firman, dan berusahalah untuk dapat memahami dan membuatnya menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu terjadi hanya dengan disiplin dan ketaatan.

Disliplin dan ketaatan memerlukan latihan. Itu yang membuatnya jadi berhasil. Dalam 2Tim. 2:5 dikatakan, "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." Artinya, ada aturan dan latihan. Ada beberapa metafora yang dipakai di dalam Alkitab tentang latihan bagi kehidupan rohani orang percaya. Metafora pertama adalah berlari, sebagaimana dalam nas minggu lalu (Flp. 3:13-14) yakni mengerahkan dan memfokuskan seluruh tenaga untuk memenangkan pertandingan, dengan melupakan masa lalu dan memandang ke depan ke arah kekekalan. Berlari dipakai juga dalam 1Kor. 9:24-27 dengan latihan yang ketat agar memperoleh hadiah, dengan mengarahkan pandangan kita kepada Kristus sebagai tujuan akhir kita. Dalam hal ini kita jangan sampai keluar dari jalur atau patah semangat. Dalam 1Tim. 4:7-10 dituliskan perlunya latihan rohani untuk membantu pertumbuhan iman dan karakter. Sama seperti latihan fisik yang perlu berulang-ulang, maka latihan rohani juga demikian agar kita semakin baik di hadapan Allah. Kita akan mendapatkan buahnya tidak hanya pada saat ini, tetapi juga kelak di akhir zaman. Metafora terakhir adalah petinju dalam 2Tim. 4:7-8, sebab kita melawan kekuatan-kekuatan iblis dan si jahat. Jika kita melakukan dengan taat dan benar kepada Allah serta tabah hingga akhir, maka dikatakan, "Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu" (band. Rm. 15:33).

 Penutup

Jemaat Filipi menghadapi persoalan hubungan para pelayannya yang tidak sehati sepikir sehingga mengganggu pelayanan yang diberikan. Gangguan ini tidak terbatas di situ saja, tetapi juga dalam keyakinan dan keteguhan mereka di dalam Kristus. Firman Tuhan menasihatkan agar mereka berdiri teguh dan mengarahkan pikiran pada Tuhan Yesus yang kedatangan-Nya sudah dekat. Dunia ini bukanlah tujuan akhir melainkan mempertahankan keselamatan yang sudah dijamin dalam buku kehidupan. Untuk itu mereka harus sehati sepikir dan senantiasa bersukacita. Apapun yang membuat sukacita terganggu, lebih baik disingkirkan. Kekhawatiran yang lebih kepada faktor gengsi, harga diri, kehormatan dan lainnya, harus dibuang jauh-jauh untuk terciptanya damai sejahtera. Segala kekhawatiran yang non fisik maupun hal fisik lebih baik dibawa dalam doa, menyerahkan semuanya pada Allah yang mengendalikan hidup kita dan alam semesta ini. Pikiran kekhawatiran yang dibuang sebaliknya diisi dengan pikiran postif Kristiani yakni semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar. Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji itulah yang diisi dan dilakukan. Bertekadlah belajar melatihnya sehingga “Allah sumber damai sejahtera akan menyertai,” sehingga kita menjadi pemenang yang berhak akan janji Allah yang sudah disediakan bagi kita.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

Khotbah (3) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026

Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 3)

 KERAJAAN YANG HILANG (Mat. 22:1-14)

  "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (Mat. 22:14)

Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 22:1-14, kembali berbicara tentang Kerajaan Sorga. Bila nas minggu lalu menceritakan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur, yang tidak mau membayar kewajiban berbaginya (Mat. 21:33-46), minggu ini Kerajaan Sorga seumpama raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.

Tradisi di Israel saat itu, para tamu yang diundang dipanggil untuk makan saat hidangan telah tersedia. Umumnya undangan hanyalah kerabat dekat setempat saja. Tanggal dan jam telah ditetapkan, tetapi biasanya tidak seformal saat ini yang tercetak pada kertas/media. Dan ternyata saat hidangan raja telah tersedia, banyak yang tidak mau datang: ada yang pergi ke ladang, ada yang pergi mengurus usahanya; semua sibuk tidak mengindahkannya. Mereka berpikir itu jamuan biasa. Maka sang raja pun murka, membinasakan mereka yang ternyata pembunuh dan juga membakar kota mereka (ayat 4-5).

Seperti minggu lalu nas ini jelas ditujukan kepada orang Yahudi. Pesta perjamuan adalah ungkapan sukacita dari Bapa di Sorga atas pendamaian dan penebusan yang telah dilakukan melalui Anak-Nya Yesus Kristus, yang datang ke dunia bagaikan mempelai pria bagi umat sebagai mempelai wanita (Mat. 25:1-10; Luk. 5:34). Ternyata orang Israel tidak menyambut-Nya, dan hal itulah menjadi sumber amarah Allah Bapa kepada mereka.

Injil Matius lebih sering menggunakan kata Kerajaan Sorga, sementara Injil Lukas menuliskan Kerajaan Allah. Keduanya sama. Menurut Prof. G.E. Ladd dari Pasadena University dalam bukunya Injil Kerajaan, “Kerajaan Allah pada dasarnya adalah pemerintahan Allah; kekuasaan Allah, kedaulatan Ilahi yang sedang bekerja.” Ia merupakan kenyataan rohani yang dapat kita nikmati sekarang ini, bukan hanya nanti! Firman-Nya: “Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman tetapi damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17). “Ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab, sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20).

Tetapi Alkitab juga menjelaskan bahwa Kerajaan Allah akan digenapi di masa mendatang, puncak ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya (K4). Ini menjadi sebuah warisan bagi kita orang percaya, tulis Prof. Ladd dalam buku tersebut. “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat. 25:34).

Mereka yang sudah masuk ke dalam Kerajaan Allah dan terus hidup dalam pengharapan kegenapan janji Tuhan, hidupnya ditandai dengan kepenuhan sukacita dan damai sejahtera. Mereka juga telah lepas dari kuasa kegelapan (Kol. 1:13). Oleh karena itu, bila saat ini hidup kita belum penuh dengan sukacita dan damai sejahtera, masih tinggal dalam kegelapan dengan menyukai perbuatan dosa, kita perlu merenungkan nas minggu ini. Kehidupan yang menyukai amarah, penuh takut dan kekhawatiran, kehilangan sukacita, suka mendendam, bersikap kasar, tidak berbuah, dan tidak terus dibarui, itu merupakan tanda-tanda Kerajaan Allah belum berkuasa pada dirinya. Kita mengaku orang percaya, tetapi sebenarnya hidup di luar Kerajaan itu.

Hidup kita hanya bisa dibarui oleh Roh Kudus, dan sangat efektip jika kita menyukai membaca firman Tuhan dan renungan (2Tim. 3:15-16). Renungan pagi atau doa/mazmur malam ibarat hidangan yang disediakan, undangan menikmati perjamuan dengan Tuhan. Jika kita mengabaikan renungan tersebut, atau tidak membaca firman Tuhan sendiri, bagaimana hidup kita dapat diubahkan? Janganlah hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri dan sombong. “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (ayat 24), dapat menjadi kenyataan.

Mereka yang tidak rindu atau mengabaikan firman Tuhan setiap hari dalam hidupnya, maka sebetulnya Kerajaan Allah belum ada dalam dirinya. Bila kita belum merasakan Kerajaan Allah saat ini, maka tidak mungkin kita dapat menikmati Kerajaan Allah kelak bersama Tuhan Yesus. Janganlah sampai ayat ini terjadi pada diri kita, “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi" (ayat 23). Waduh, ngeri bah!

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 42 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14776837
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
874
5164
874
14739022
874
189383
14776837

IP Anda: 216.73.217.177
2026-11-01 03:52

Login Form