Wednesday, January 21, 2026

2026

Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus

Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026

 

Baptisan Tuhan Yesus – Opsi 3

 

 AKU SELAMAT, TANDANYA? (Mat 3:13–17)

 

Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Mat. 3:17)

 

Salam dalam kasih Kristus.

Kekristenan menyukai tanda. Dalam Perjanjian Lama, banyak tanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, seperti pelangi sebagai tanda perjanjian Allah bahwa manusia tidak akan dihukum lagi dengan air bah. Pada umumnya, tanda adalah sesuatu yang menakjubkan, mengherankan, atau bersifat mukjizat, yang kadang sulit dicerna oleh pikiran manusia.

 

Hari ini Minggu peringatan pembaptisan Tuhan Yesus. Firman Tuhan sesuai leksionari adalah Mat 3:13–17, yaitu pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Sesudah dibaptis, “Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 15–17).

 

Jelas itu sebuah tanda. Namun, baptisan bukanlah tanda keselamatan. Satu orang yang tersalib di sebelah Tuhan Yesus tidak disunat atau dibaptis, tetapi tetap diselamatkan masuk ke Firdaus (Luk. 23:43). Jika kita baca lebih awal, baptisan memiliki kesejajaran dengan sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya (Kej. 17:10–11; bdk. Mat 28:19). Baptisan air juga merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11), dalam arti kita mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Allah (Rm. 6:3–5; Kol. 2:11–12).

 

Maka muncul pertanyaan pokok: apakah kita membutuhkan tanda bahwa kita sudah diselamatkan? Bagaimana bentuknya? Jangan sampai suatu saat ada yang bertanya, misalnya, apakah kita pasti selamat masuk dalam kekekalan. Lalu kita tidak bisa menjawab, atau hanya menjawab dengan pernyataan kosong seperti, “Saya pasti selamat karena beriman kepada Tuhan Yesus,” atau “Keselamatan itu anugerah.” Jelas, iblis juga percaya, tetapi sudah pasti tidak selamat.

 

Karena itu tidak ada salahnya kita memikirkan tentang tanda, meskipun terlalu menekankan tanda juga dicela sebagaimana Tuhan Yesus menegur orang Farisi, ahli Taurat, dan orang Saduki (Matius 12:38–42; 16:1–4). Bila pun kita tidak menyebutnya sebagai tanda, bolehlah menyebutnya sebagai parameter yang dapat diukur dan dicermati: apakah kita sudah diselamatkan dan diterima oleh Tuhan Yesus?

 

Robert Schuller menulis dalam buku Pola Hidup Kristen tentang bukti penerimaan Yesus, yaitu tiga hal yang perlu kita lihat. Pertama, pengakuan adanya kontrak atau perjanjian kita dengan Allah. Alkitab merupakan perjanjian itu, sehingga menjadi pegangan kontrak perjanjian kita dengan-Nya.

 

Kedua, kita tahu dan merasakan bahwa Allah telah menerima kita bila Dia berbicara dalam hati kita. Ini menjadi tanda kedekatan dan hubungan yang hidup antara Bapa dan kita sebagai anak–anak-Nya, antara Tuhan dan kita sebagai umat-Nya. Ada persekutuan yang erat, ada rasa damai sejahtera dan ketenteraman saat kita berjumpa dengan Dia (Roma 5:1). Tidak muncul rasa takut atau kekhawatiran yang melanda hidup.

 Ketiga, memeriksa dan melihat kehidupan kita: apakah kita terus berubah dan semakin berperilaku terpuji? Pribadi yang diterima Allah adalah mereka yang terus berubah dan menghasilkan buah yang baik (Matius 7:16–18).

 

Jika ketiga hal itu tidak tampak atau tidak terbukti nyata dalam hidup kita, maka selayaknya kita memeriksa kembali komitmen kita. Apakah kita sungguh memiliki iman yang diperlukan untuk diselamatkan seperti dalam Yohanes 3:16 (bnd. Roma 10:9–13)? Apakah kita benar–benar meminta Yesus masuk dan memimpin hidup kita?

 

Jangan terjebak pada perasaan, sebab keselamatan tidak didasarkan pada perasaan, melainkan pada iman dan buahnya, yaitu hidup yang tunduk, berserah, dan mengandalkan Tuhan. Benar, kita tidak mungkin sempurna, tetapi kita harus terus berusaha menuju kesempurnaan, sama seperti Bapa di surga adalah sempurna (Matius 5:48; bnd. 19:21). Hendaklah kita semua berkata dan berupaya, “Selamatlah jiwaku” (NKB 195).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 4 Januari 2026

Kabar dari Bukit

 

 IMAN YANG RESPONSIF DAN REFLEKTIF (Luk. 2:15-21)

 

 ”Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk. 2:17, TB2)

 

Hari Minggu ini masih disebut Minggu II setelah Natal, sebab belum masuk Minggu Epifani yang biasanya jatuh tanggal 6 Januari. Epifani yang berarti penampakan, diambil dari peristiwa para gembala menjumpai bayi Yesus. Dekatnya hari Natal dengan tahun baru juga memiliki sejarah yang panjang, terkait musim dan perubahan kalender dari sistem Julian ke sistem Gregorian oleh Paus Gregorius XIII di tahun 1582. Hal ini juga dipengaruhi tradisi Yahudi, yakni pada hari kedelapan (dari natal ke tahun baru) ada ritual rohani Brit Milah, yakni bayi laki-laki disunat dan diberi nama. Sesuai pesan malaikat sebelum dikandung ibu-Nya, Ia dinamai Yesus  (Luk. 1:31; 2:21).

 

 

 

Firman Tuhan di Minggu II setelah Natal yang berbahagia ini adalah Luk. 2:15-21. Nas ini kelanjutan dari warta malaikat tentang kelahiran Yesus kepada para gembala (ayat 8-14), dan nas minggu ini merupakan respons terhadap berita tersebut.

 

 

 

Ada dua respon yang kita lihat. Pertama, para gembala langsung berkata: "Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana.... Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi yang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu...." (ay. 15-18). Tampak, para gembala langsung responsif, bertindak.

 

 

 

Berbeda dengan gembala, "Maria menyimpan semua hal itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (ay. 19). Ia lebih reflektip, mencari makna, memberi ruang bagi Allah bekerja dalam proses waktu. Maria menghidupi misteri itu, menjaga dan merenungkan karya Allah dalam dirinya. Memang iman yang matang seringnya lebih bersikap tenang, dalam, dan berserah diri.

 

 

 

Nas minggu ini mengajar kita untuk mengenali diri kita, dengan melihat dan mengamati respons yang timbul terhadap situasi tertentu. Kita belajar memahami emosi, pikiran, dan nilai diri kita, seperti cepat marah, selalu tenang dan senang, sering timbul rasa takut, dan lainnya. Ini memberi wawasan tentang iman, jati diri, kepribadian, kekuatan, dan kelemahan yang dimiliki, selanjutnya membuat kita lebih baik dalam menjalani kehidupan.

 

Sikap responsif atau reflektip memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Keduanya refleksi iman yang saling melengkapi. Terlalu cepat responsif tanpa berefleksi memberi kesan dangkal. Terlalu reflektip tanpa responsif membawa kita lebih tertutup dan apatis, kehilangan gairah. Kemampuan membangun respons keduanya akan menambah kedalaman dan keluasan iman, tahu waktu bertindak dan berdiam.

 

Natal adalah bukti kasih Allah (Yoh. 3:16), dan tahun baru bukti penyertaan-Nya selama tahun 2025. Ini tidak hanya kita rayakan dengan gairah emosi sesaat, tetapi memberi kita kesempatan untuk meresponsnya. Ucapan syukur atas karya Allah tersebut mestilah berwujud buah nyata, memuliakan-Nya dengan lebih mengasihi-Nya dan sesama, khususnya keluarga dan orang di sekitar kehidupan kita. Hidup bukanlah untuk diri sendiri tetapi milik Allah, dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya (Gal. 2:20).

Demikian juga setiap hari minggu kita selesai beribadah, alangkah baiknya  kita merespons firman dan lagu-lagu dengan berefleksi, hal yang dapat kita perbarui serta komitmen tindakannya. Tanpa itu maka natal, pergantian tahun atau ibadah minggu, tidak mempunyai makna rohani. Tetaplah teguh dan berbuah.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu II Setelah Natal - 4 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Natal – 4 Januari 2026 – Opsi 2

 

 SPESIAL DI HADAPAN ALLAH (Mzm. 147:12-20)

 

 Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya! (Mzm. 147:20)

 

 

 

Firman Tuhan di Minggu kedua setelah Natal atau Minggu pertama di tahun baru, diambil dari Mzm. 147:12-20. Judul perikopnya: Kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Ayat 1-11 sebelumnya menekankan kekuasaan dan kemurahan Tuhan, dengan karya-Nya yang besar dan ajaib bagi umat-Nya Israel. Tuhan baik dengan memulihkan mereka dari pembuangan di Babel, menyembuhkan yang patah hati, dan membalut luka-luka mereka (ayat 1-3). Kebaikan tersebut meneguhkan pengakuan Allah Mahakuasa, yang menciptakan bintang-bintang dan membuat awan-awan penutup langit. Ia membuat gunung-gunung dan menumbuhkan rumput (ayat 4, 8). Maka untuk itu Allah sungguh layak dimegahkan, disembah, serta dinaikkan puji-pujian bagi-Nya (ayat, 6-7).

 

 

 

Kita pun sebagai jemaat Israel baru, pengikut Kristus, tentu sudah merasakan kuasa dan kemurahan Tuhan sepanjang tahun lalu. Kita merayakan Yesus Kristus yang turun ke dunia, menebus dosa-dosa manusia, dan menjadikan Ia sebagai Juruselamat dan Raja yang memerintah hidup sehari-hari. Kita dapat menghitung hari-hari kemurahan Tuhan, membuat daftar besarnya, termasuk kemurahan-Nya, sehingga kita sehat selamat masuk ke tahun yang baru ini.

 

 

 

Tetapi, mungkin ada yang tidak dapat merasakan kebaikan Tuhan selama tahun lalu, atau sebelumnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pertama, kita perlu menyadari bahwa kebaikan Tuhan tidak tergantung kepada keadaan kita atau seseorang. Dia Allah yang Mahabaik; itu karakter Allah. Tidak ada yang dapat mengubah itu. Mungkin kita merasa sudah meminta, bahkan mengklaim memintanya dengan iman, namun belum ada jawaban. Tentu hal yang perlu ditanyakan adalah: apakah kita memintanya dengan motivasi yang baik? Allah tidak mungkin memberikan ular jika anak-anak-Nya meminta ikan (Mat. 7:9-10, Flp 4:19).

 

 

 

Nah, kalau kita merasa Allah belum baik (kepada kita), justru pertanyaannya: Mengapa? Mazmur minggu ini mengajarkan: Pertama, kita belum sungguh-sungguh menjalankan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kurang taat, itu istilah tepatnya. Jika kita merasa Allah berkuasa memberikan yang kita minta, maka taatlah pada aturan dan perintah-Nya. Bersekutu tiap pagi, berserah dalam menjalani kehidupan, produktif dan bekerja dengan baik, dan berbuah bagi sesama. “Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel,” kata Mazmur ini dalam ayat 19.

 

 

 

Kedua, kita mungkin tidak mensyukuri pemberian Allah yang sudah ada. Istilahnya, sering kurang puas. Allah Mahatahu akan kebutuhan dan keperluan kita. Tidak pernah ada yang mati karena kelaparan di negeri ini. Maka bila ada yang ingin ditambahkan, berusahalah dalam jalan Tuhan untuk meraihnya. Membuat rencana itu mutlak, sebab Allah lebih senang melihat rencana yang kita buat dan diberkati-Nya (Luk. 14:28; Yak. 4:15). Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.... (Mat. 7:7). Tetapi janganlah meminta hanya kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu (Yak. 4:3).

 

 

 

Kita juga harus belajar bersyukur, meski ada pergumulan dan ujian iman yang datang menerpa. Sepanjang itu bukan karena kebodohan atau hilangnya hikmat, maka Tuhan pasti memberikan jalan keluarnya (1Kor. 10:13; Flp 4:13). Tetaplah semangat dan bersyukur. Tuhan menginginkan kita bertumbuh dalam keyakinan akan penyertaan-Nya, dan semua itu terjadi jika ada penghayatan firman yang dalam dan benar (lih. Rm 8:28). Ketahui firman-Nya dan refleksikan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan semakin mengenal Allah yang Mahabaik itu. Jadi, jangan hanya manis di mulut saja (Mat. 2:1-12).

 

 

 

Allah berkuasa dengan karakter Mahabaik-Nya, maka tidak sulit merasakan kita telah diberkati. “Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik” kata ayat 14. Ia menyampaikan perintah-Nya, firman-Nya, maka semua terjadi, bahkan membalikkan (ayat 15, 18).

 

 

 

Merasa diri hebat bahwa kita tidak membutuhkan Allah, sebab pintu-pintu gerbang berkat telah ada, itu sikap yang salah. Matthew Henry mengatakan, “palang pintu” tetap Allah yang pegang (ayat 13). Palang itu bisa menutup semua, kemudian orang congkak menjadi sengsara. “Allah senang kepada orang-orang yang takut akan Dia,” kata nas di ayat 11.

 

 

 

Poin penting dalam nas Mazmur minggu ini adalah: jadikan diri kita spesial, istimewa di hadapan Allah. Jangan merasa kita seperti “orang kebanyakan”, biasa-biasa saja. Kita merupakan pilihan Allah dalam bagian rencana-Nya. Membuat “perjanjian dengan Allah” menjadikan kita spesial, dan Allah akan menyertai dengan janji tersebut (ayat 19). Dan ayat 20 nas mengatakan, “Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.” Jadikan resolusi kita di tahun yang baru ini: aku istimewa di hadapan Tuhanku. Haleluya!

  

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.). Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu II Setelah Natal - 4 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Natal – 4 Januari 2026

 

 SUKACITA MENANTI (Yer. 31:7-14)

 

 “Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana” (Yer. 31:12)

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di Tahun Baru hari ini adalah Yer. 31:7-14. Judul perikopnya: Perjanjian baru. Surat Yeremia ini ditulis saat bangsa Israel di masa pembuangan. Berbagai kesusahan mereka alami: tidak ada lagi lahan bertani dan panen hilang, kejahatan meningkat, umat terserak tidak dapat berkumpul, beribadah sulit sehingga pengajaran hilang, rumah Tuhan kosong, hubungan dengan Allah semakin menjauh (ay. 4-9). Tetapi, Allah berjanji memulihkan hal itu semua. Keselamatan akan diberikan, kesedihan menjadi sukacita dan sorak-sorai.

 

 

 

Kita sudah merasakan beratnya perjalanan hidup tahun lalu. Pandemi Covid-19 melantakkan seluruh bumi. Jutaan orang Indonesia semakin miskin, pekerjaaan hilang, pendapatan turun bahkan lenyap, berkumpul untuk melepas rindu pun dilarang. Keluar rumah harus bertutup mulut dan hidung, tidak boleh lagi merangkul, dan harus mengikuti prokes 5M supaya selamat dari virus jahat. Dalam hal ini, mungkin ada yang bertanya: Dimana Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?

 

 

 

Nas minggu ini menjelaskan bahwa di atas semua kesusahan umat Israel itu, tujuan Allah adalah terjadinya pemulihan rohani. Bangsa Israel dihukum dengan dibuang ke negeri orang; oleh karena dosa-dosa umat dan pemimpinnya. Tidak ada ketaatan dan tidak ada lagi hubungan kasih sesama yang erat di antara umat. Para imam tidak lagi peka terhadap pesan Allah; umat telah meninggalkan Allah dan para pemimpin pun tidak peduli atas situasi yang ada yakni berkat Tuhan tidak lagi tercurah bagi mereka.

 

 

 

Perayaan Natal yang baru lalu selayaknya mengingatkan, jika ingin kita dipulihkan maka umat perlu semakin mendekat kepada Tuhan. Pemimpin juga harus semakin menyadari tujuan Yesus datang ke dunia, yakni bukan hanya untuk menebus dosa dan memberitahukan tahun rahmat, tetapi juga "untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; ... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:18-19). Sangat jelas, selain rohani dipulihkan, semua kemiskinan dan dampaknya, mesti dikembalikan kepada gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26).

 

 

 

Pemulihan seperti apa yang kita harapkan setelah pandemi ini berlalu? Pemulihan apa yang kita mimpikan di tahun yang baru ini? Semua tergantung kita. Allah bekerja dengan perkasa dengan mudah membalikkan semua keadaan. Justru kita yang perlu banyak berkorban, perlu lebih banyak bersekutu dengan Tuhan dengan membaca firman dan berdoa; berdoa tidak hanya untuk diri sendiri.

 

 

 

Gereja-gereja kita sebaiknya  tidak hanya fokus dan sibuk dengan dirinya, mengurus organisasi dan denominasi untuk kepentingan anggotanya saja. Sebab, hal ini akan membuat umat lainnya yang berada di kawasan jauh dan pinggiran menjadi terus terabaikan. Serigala mengintai dan gereja tidak peduli. Jika kita ingin kesusahan pandemi ini segera berlalu, mohonkan kita dipulihkan dari "pembuangan" peradaban normal. Saatnya semua pihak bertobat, berbalik ke maksud Tuhan demi menebus dan menyelamatkan, yakni untuk menjadi alat Tuhan dalam menyelamatkan orang lain. Yesus diutus untuk mengutus kita. Ia memberkati agar kita menjadi berkat. Ia memberi teladan supaya kita menjadi teladan.

 

 

 

Marilah, memasuki tahun yang baru ini, kita nyatakan dengan bersyukur, juga semakin memberi hati dan talenta kita kepada Tuhan dan sesama. Kita bersukacita karena Tuhan telah menebus dan menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Kita melewati tahun lalu dan kini kita berpengharapan sebab Tuhan memberi janji baru kepada kita. Saatnya akan tiba: "Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka. Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku” (ay. 13b-14).

 

 

 

SELAMAT MENJALANI TAHUN BARU 2026 untuk kita semua. Semoga iman yang teguh dan sukacita dari Tuhan telah bersemayam dalam hati kita semua memasuki tahun yang baru ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.). Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu II Setelah Natal - 4 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Natal – 4 Januari 2026 - Opsi 3

PERJALANAN IMAN DAN STATUS (Ef. 1:3-14)

 ”Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Ef. 1:9)

 

Bagaimana perjalanan iman seseorang? Selain definisi iman pada Ibr. 11:1, iman adalah kepercayaan dan ketergantungan kepada kuasa yang Mahatinggi, dan bagi kita dikenal dalam nama Yesus Kristus. Iman juga sebuah anugerah, pemberian Allah (1Kor. 12:9), lantas sebuah proses yang bisa bertumbuh (selain mengecil). Dalam hal ini peran manusia dalam menapak perjalanan dan membangun imannya sangatlah penting.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Ef. 1:3-14. Perikop ini dalam versi aslinya merupakan satu kesatuan kalimat panjang, padat ajaran. Isinya saling berhubungan, diawali status seseorang saat beriman pada Kristus, kemudian perubahan status dan perjalanan imannya. Semua status dilimpahkan kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian (ay. 7), sesuai dengan rencana kerelaan-Nya (ay. 9).

 

Jika kita mengurut ayat-ayat perikop ini, maka berikut tahapannya:

 

1. Kita dipilih Tuhan (ay. 4a)

2. Dikuduskan dan menjadi tidak bercacat (ay. 4b)

3. Diangkat menjadi anak-anak-Nya (ay. 5)

4. Memperoleh penebusan dan pengampunan (ay. 7)

5. Dipersatukan di dalam Kristus (ay. 10)

6. Dimeteraikan dengan Roh Kudus sebagai jaminan memperoleh seluruh janji-Nya (ay. 13-14).

 

Sungguh paparan yang indah menakjubkan. Kita dipilih bahkan sebelum dunia dibentuk (ay. 4), dengan maksud dipisahkan dari keduniaan meski kita hidup di dunia. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Kita perlu dikuduskan menjadi tidak bercacat agar dapat menjadi bagian keluarga Allah yang Mahakudus.

 

Setelah itu kita diangkat sebagai anak-anak-Nya (ay. 5). Proses ini dalam hukum Romawi adalah proses adopsi, bukan dilahirkan. Status adopsi meneguhkan kita ikut memiliki segala warisan dari Allah Bapa (Rm. 8:17; Gal. 4:7), dengan segala kekayaan kasih dan kemuliaan-Nya (Ef. 1:7; Flp. 4:19). Namun dalam hal ini kita lebih mengutamakan kekayaan rohani, yang tujuannya adalah damai sejahtera dan keselamatan; bukan kekayaan materi untuk kesenangan diri.

 

Dengan pengangkatan itu maka status kita telah ditebus, yang tadinya milik nafsu diri dan iblis, kini menjadi anak-anak Allah. Penebusan sesuatu yang lumrah pada era Romawi, yang tadinya budak dan terikat kini statusnya dimerdekakan. Perlu juga dipahami, kita dimerdekakan bukan dalam arti agar bebas melakukan sesuai kehendak hati, melainkan bebas dari kuk perhambaan dan dosa/maut serta mengetahui kebenaran (Gal. 5:1; Yoh. 8:32).

 

Kita dipilih bukan menjadi manusia terasing, melainkan bagian dari umat Allah yang dipersatukan dalam jemaat dengan Kristus sebagai Kepala (ay. 10). Dipersatukan dalam gereja di dunia dan dipersatukan dalam gereja yang kudus dan am/universal kelak di sorga, sebagaimana dinyatakan dalam Pengakuan Iman Rasuli.

 

Inilah janji Allah kepada kita, dan tidak layak mempertanyakan apalagi meragukannya. Roh Kudus telah diberikan untuk menuntun kita dalam keseharian di dunia ini, melewati semua proses perubahan status tersebut berikut perjalanan iman agar terus bertumbuh dan berbuahkan sesui tujuan dan kehendak-Nya. Kita telah menjadi bagian rencana Allah ketika menciptakan dunia ini, yang semuanya akan menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya (ay. 12,14). “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36). Terpujilah Allah, dan teruslah bersyukur.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.). Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 20 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13320064
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2145
2910
11309
13283684
78863
141921
13320064

IP Anda: 216.73.216.149
2026-01-21 14:10

Login Form