2026
2026
Khotbah (2) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 2
KETIDAKPASTIAN DAN BERKAT (Kej. 12:1–4a)
”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan di hari Minggu berbahagia ini adalah Kej. 12:1–4a. Judul perikopnya: "Abram dipanggil Allah". Abram yang kemudian oleh Tuhan diganti namanya menjadi Abraham akan dijadikan bapa sejumlah besar bangsa (ay. 2; Kej. 17:5). Abram berarti “bapa yang terpuji”, sedangkan Abraham berarti “bapa banyak orang”.
Allah memilih Abraham tentu dengan pertimbangan setelah melihat hubungan pribadi dan karakternya. Ia diminta pergi dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan dan berhenti beberapa waktu di Haran (Kis. 7:2; Kej. 11:31). Meski dalam iman kita tahu Abraham adalah pilihan mutlak Allah, sifat dan karakternya memang layak dipilih dan perlu kita teladani, yakni:
1. Memiliki hubungan dekat dengan Allah sehingga Allah berbicara langsung dengannya (ay. 1). Ia juga membangun mezbah (ay. 7);
2. Memiliki iman yang kuat, tampak ketika Allah memintanya pergi meski tujuannya belum jelas dan pasti (ay. 1; Gal. 3:6,9);
3. Taat dan setia (ay. 4), tatkala ia diminta mempersembahkan Ishak, anaknya sendiri (Kej. 22:2);
4. Rendah hati, ketika ia mengalah kepada keponakannya Lot dalam memilih lokasi penggembalaan (Kej. 13:8–9).
Pesan pertama nas ini bagi kita adalah agar selalu bersiap untuk dipakai, dipanggil, dan diberkati-Nya. Meski dalam Alkitab ada pribadi yang sebelumnya membenci Allah kemudian dipanggil, seperti Rasul Paulus, secara mental, rohani, dan fisik kita harus bersiap diri sebab hanya orang yang tangguh dan siap yang dipakai Tuhan.
Pesan kedua, percaya dan menggantungkan sepenuhnya hidup kita kepada Allah. Jalan yang ditempuh kadang tidak mudah, tersembunyi, tidak jelas, bahkan melewati rasa sakit dan penderitaan. Namun percayalah, semua itu terjadi dalam pengetahuan Allah. Tetaplah teguh seperti pujian KJ 416: “Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh, ‘ku dibimbing tangan Tuhan, ke neg'ri yang tak 'ku tahu.”
Pesan ketiga agar kita berani mengambil risiko menjalani kehidupan, tetapi risiko yang diperhitungkan, bukan yang membabi buta. Ketidakpastian adalah peluang. Hanya orang yang berani keluar dari situasi yang dianggap nyaman yang akan memperoleh kehidupan lebih baik. Hidup mendaki penuh tantangan dan peluang, tetapi perlu dijalani bila ingin sesuatu yang baru dan lebih indah dengan tetap mengandalkan Tuhan. Abraham mengambil risiko tersebut dengan meninggalkan sahabat dan lingkungannya meski ia memiliki banyak ternak.
Pesan keempat, percayalah kepada janji Allah (ay. 2; Gal. 3:29; Rm. 4:13). Ia pasti menjaga anak-anak-Nya, termasuk dari perbuatan jahat orang lain, bahkan menghukum mereka yang mengutuk dan berbuat jahat kepada anak-anak pilihan-Nya (ay. 3). Allah akan memberkati orang yang siap menjadi berkat (ay. 2).
Pesan terakhir, agar kita tidak melupakan keluarga dan saling mendukung. Sara, istri Abraham, meski mandul dan sudah tua, tetap dibawa dalam perjalanan bersama Lot, keponakannya. Ini cermin keluarga yang saling mengasihi dan mendukung. Memang dalam keluarga kadang ada saat harus memilih, seperti ketika Abraham berpisah dengan Lot yang kemudian kurang diberkati (Kej. 19:1–38; Luk. 17:28–32).
Berjalan dalam iman bersama Tuhan kadang berada dalam ketidakpastian, tetapi semuanya akan menjadi pasti dan membawa sukacita sebab Tuhan menjadikannya jalan berkat. Iman yang kuat memberi keberanian untuk patuh dan setia meski jalannya sulit. Yang diperlukan dari kita hanyalah keberanian, ketekunan, daya tahan, dan kesabaran.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026
Khotbah Minggu II Prapaskah 1 Maret 2026 – Opsi 3
NYANYIAN ZIARAH (Mzm. 121)
Firman Tuhan bagi kita di Minggu II Prapaskah merupakan nyanyian ziarah, Mzm. 121, satu dari seri 15 mazmur ziarah 120-134. Penamaan nyanyian ziarah karena dari tradisi, mazmur-mazmur ini dinyanyikan saat umat Israel datang dari berbagai tempat, berziarah dan beribadah mendaki ke Bukit Sion Yerusalem, tiga kali dalam setahun (Ul. 16:16). Mereka mendaki membawa persembahan hasil panen dan ternak. Berat dan tidak mudah. Bagaikan barisan tentara, nyanyian akan menambah semangat pendakian.
Ayat 1 bertanya tentang sumber pertolongan. Bukit atau gunung-gunung sering dianggap sebagai tempat bersemayam para roh-roh atau dewa dan berhala. Ada manusia yang mencoba menatap dan datang, tetapi itu semua adalah tipu daya (Yer. 3:23). Jawabannya tetap dan pasti, pertolongan kita hanya datang dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (ayat 2).
Umat datang ke bait-Nya dengan pergumulan dan pengharapan, taat dan membawa persembahan, sebuah keyakinan untuk membuat hati Tuhan senang. Pergumulan hidup dan beratnya jalan berbatu ke bukit, semua dikalahkan oleh pengharapan pada Pencipta langit dan bumi. Tentu, tiada lagi yang lebih berkuasa tempat menaikkan pengharapan selain Dia yang menciptakan bumi dan alam semesta ini.
Mazmur 121 ini juga menegaskan Allah kita adalah ROH yang hidup, Allah yang setia penuh kasih, terus terjaga yang tidak terlelap dan tertidur, menjadi pelindung bagi kita, naungan di sebelah kanan dalam perjalanan hidup (ayat 3-5). Oleh karena itu, dalam tradisi Yahudi, Mzm. 121 ini sering disalin dan ditempel di kamar bersalin, kereta dan kamar bayi, untuk pengajaran dan meminta berkat serta perlindungan Tuhan dalam kehidupannya kelak.
Beratnya perjalanan ke Bukit Sion dan juga hidup keseharian membuat kadang kita terjatuh, tetapi tidak akan tergeletak (Mzm. 37:24). Ia takkan membiarkan kaki kita goyah (ayat 3), atau membuat terik matahari menyakiti kita, bahkan jauh dari segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawa kita, menjaga keluar masuk, dari sekarang sampai selama-lamanya (ayat 7-8). Sungguh, terpujilah Tuhan Yesus yang layak ditinggikan dan diagungkan, tempat kita menaikkan pujian dan segala pengharapan. Hanya, tetaplah taat dan percaya dan membuat hati-Nya berduka.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026
Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026
YESUS DAN KEMENANGAN (Mat. 4:1-9)
Pada Minggu I Pra Paskah, umat Katholik telah mulai berpuasa dan sebagian umat Protestan mengikutinya. Firman Tuhan hari Minggu ini juga menceritakan tentang puasa Tuhan Yesus selama 40 hari, sesuai nas bacaan kita, Mat. 4:1-9. Iblis ingin mencobai Yesus setelah Ia dibaptis oleh Yohanes, yang ketika itu ada suara dari langit berkata: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."
Ada tiga pencobaan yang dilakukan iblis. Pencobaan pertama tentang rasa lapar. Tuhan Yesus setelah berpuasa 40 hari, diminta oleh iblis mengubah batu menjadi roti. Tentu Tuhan Yesus mampu, tetapi Ia menjawab iblis: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (ayat 4; Ul. 8:3). Maka kita diingatkan, jangan setiap hari hanya memberi makanan untuk tubuh fisik kita semata, tetapi juga makanan rohani, penguatan jiwa, agar tetap sehat tubuh, roh dan jiwa kita.
Pencobaan kedua dengan sensasi iblis memanipulasi firman Allah, sebagaimana iblis memanipulasi Hawa di Taman Eden. Iblis menantang Tuhan Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan atap tinggi. Menurut iblis, Allah Bapa akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk menatang Yesus, supaya kaki-Nya jangan terantuk kepada batu (ayat 6; Mzm. 91:11-12). Tetapi Tuhan Yesus menjawab: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ayat 7; Ul. 6:16). Iblis pun keok.
Cobaan ketiga iblis kepada Yesus yakni tawaran menyerahkan kerajaan dunia berikut segala kuasa serta kemuliaannya. Woow..., tetapi dengan satu syarat: Dia harus menyembah iblis. Alasan iblis sangat masuk akal, sebab “kerajaan dunia” telah diserahkan kepadanya, dan iblis berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Jelas itu tawaran yang sangat menggoda, dan tidak “susah” mewujudkannya yakni cukup dengan menyembah iblis. Tetapi sekali lagi Yesus menjawab dengan firman Tuhan dari Ul. 6:13: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ayat 8). Dan, iblis pun mati kutu.
Iblis dengan kepintarannya, menawarkan kepada kita dengan berbagai cara, bahkan dengan tipu sensasi, khususnya saat kita merasa membutuhkan, terdesak tanpa pilihan, sehingga kita mudah jatuh dan terikat. Tetapi kita perlu belajar dari Tuhan Yesus. Pertama, Ia menyadari mengikuti permintaan iblis akan masuk dalam jebakannya. Kedua, Yesus tidak mementingkan dirinya sendiri, sebab hal yang perlu dan terbaik bagi diri-Nya adalah sesuai dengan kehendak Bapa.
Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam melawan godaan dan tawaran iblis. Firman-Nya dapat kita pakai sebagai benteng perisai dalam melawan serangan tersebut, sebagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis di padang gurun. Firman Tuhan bukan sekedar kata-kata, melainkan firman yang memiliki kuasa dengan urapan Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Jadi tatkala kita lemah, tatkala kita rentan mudah jatuh, maka ingatlah firman Tuhan yang menjadi kekuatan kita. Tetaplah terhubung dengan-Nya, dan tetaplah penuh Roh, dan kita pun akan menang seperti Tuhan Yesus yang akan senang.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 22 Februari 2026
Kabar dari Bukit
DI DALAM ADAM ATAU DI DALAM KRISTUS (Rm. 5:12-19)
”Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm. 5:19)
Kekristenan dianggap paling rasional dibandingkan dengan agama-agama lain. Selain tidak banyak doktrin yang dianggap irrasional, pendekatan apologetika (pembelaan iman), kekristenan banyak menggunakan logika, filsafat, dan bukti sejarah; bukan kepercayaan buta. Kekristenan juga menekankan bahwa iman dan akal budi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan alat yang diberikan Tuhan untuk memahami kebenaran Alkitab.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 5:12-19. Judul perikopnya: Adam dan Kristus. Adam (dan Hawa) jatuh ke dalam dosa yang membuat mereka diusir dari Taman Eden, jauh dari Allah. Dosa membuat manusia tidak kudus, sementara Allah adalah kudus sehingga tidak dapat dipersatukan. Dosa masuk ke dunia melalui Adam, tetapi anugerah Allah masuk ke dunia melalui Kristus. Dan, nas minggu ini menekankan bahwa karya keselamatan Kristus, jauh lebih besar dari dampak dosa yang dijalarkan Adam kepada kita.
Ketidaktaatan Adam (dan Hawa) pada Kej. 3 memberi dampak, manusia memiliki dosa asal, baik dalam pengertian dosa yang diturunkan dari orangtua dan leluhur (Kel. 20:5), maupun dosa asal dalam pengertian kecendrungan (natur) manusia untuk berbuat dosa yang dipicu hasrat daging, dunia dan iblis yang jahat.
Oleh karena “dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (ay. 12; Rm. 3:23), maka melalui Adam manusia menghadapi kematian. Hukuman ini bahkan sudah ada sebelum Taurat diturunkan yang memperlihatkan bahwa natur atau kecendrungan berbuat dosa sudah ada dan berkuasa dalam diri manusia setelah Adam berdosa (ay. 13-14).
Terpujilah Allah, melalui Kristus kematian telah dikalahkan oleh kasih-Nya (Yoh. 3:16; 1Kor. 15:54-57). “Tetapi, karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (ay. 15). Ini berarti kasih karunia yang ditawarkan Yesus Kristus jauh lebih berlimpah, sebab kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang (ay. 16).
Adam membawa kita kepada penghukuman, "tetapi pemberian karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran" (ay. 16). Ini yang mebawa kita kepada penebusan dan dikuduskan sehingga layak hidup dalam hadirat Allah. Paulus menuliskan nas ini dengan pendekatan paralel, sebuah tipologi. “Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (ay. 18). "Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam persekutuan dengan Kristus (1Kor. 15:22). Di dalam Adam ada dosa dan maut, di dalam Kristus ada pembenaran dan hidup.
Namun semua itu tentu memerlukan respons dan disiplin, agar kita dapat menikmati kehidupan yang diberikan Kristus, yaitu ketaatan seperti ayat pembuka di atas (ay. 19). Anugerah memerlukan iman, tekad, komitmen dan latihan perubahan. Orang percaya tidak lagi hidup “di dalam Adam”, tetapi “di dalam Kristus”. Dan itu harus dimulai dari hari ini, bukan besok atau nanti. "Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" (Flp. 2:12). Yohanes Calvin menyebutnya "ketekunan orang percaya". Di situlah Tuhan melihat hati.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026
Khotbah Minggu I Prapaskah 22 Februari 2026 – Opsi 2
RAHASIA DOSA DIAMPUNI (Mzm. 32)
”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan” (Mzm. 32:1-2a)
Pernah melakukan kesalahan kepada orang lain dan kemudian dimaafkan? Lega bangat, tentunya. Begitu jugalah perasaan kita bila Tuhan mengampuni semua kesalahan yang kita lakukan. Semua kita pastilah pernah berbuat salah - baik sengaja atau tidak sengaja, direncanakan atau respon spontan, yang menyakiti hati sesama dan Tuhan; dan itu adalah dosa, melanggar perintah Allah. Oleh karena itu Alkitab berkata, semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 32, ada 11 ayat. Ini merupakan nyanyian pengajaran Daud setelah ia mengakui dosanya kepada Tuhan (ay. 5-6). Tadinya ia menyembunyikannya, dan dampaknya ia merasakan beban yang berat: “tulang-tulangku menjadi lesu / karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas” (ay. 3-4, 10a).
Memang kadang orang mau menyembunyikan dosanya kepada Tuhan dan sesama, dengan alasan rasa malu, takut dihukum, merasa jatuh harga diri yang dilandasi rasa sombong. Padahal, menyimpan semua itu ibarat menggendong beban sampah atau kotoran dalam menjalani hidup, yang mestinya bisa dilepas dan dibuang. Apalagi sampai merasa bangga melakukan dosa, misalnya berhasil mencuri uang kantor yang besar, atau memukuli seseorang yang sebenarnya tidak bersalah padahal bisa diselesaikan dengan baik atau jalur hukum. Itu bukanlah sifat kristiani yang menonjolkan ego dan kehebatan diri, penggunaan kekuasaan yang menyimpang, bahkan penyaluran sakit hati dan dendam yang salah. Ini sebenarnya memperlihatkan kelemahan moral, dampak kurangnya hubungan erat dengan Tuhan yang penuh kasih. Kadang ada juga alasan lain, seseorang tidak mau mengaku dosanya karena pengaruh orang lain, oleh karenanya hati-hatilah dalam bergaul dan berteman.
Mengaku dosa adalah sesuatu yang baik dan positif; kita berarti melepaskan beban yang tidak perlu. Untuk itu kita hanya perlu mengakui secara jujur dan tidak menyangkal (1Yoh. 1:8-10). Kedua, kita juga mengungkapkan penyesalan dalam dan mengakui kelemahan diri. Ketiga, berusahalah menyelesaikannya dengan orang yang kita sakiti atau rugikan (Mat. 6:14-15). Bila tidak direspon, maka tugas kita adalah berdoa dan bersabar, pasti akhirnya indah pada waktunya.
Semua ini tentunya dibungkus dengan iman dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang telah menebus dosa-dosa kita dengan darah-Nya (Rm. 10:9-10, Ef. 2:8-9). Selanjutnya, kita perlu berjanji akan berubah dan terkendali mengikuti firman-Nya sebagaimana nas miimggu ini mengingatkan, “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang (ay. 9; Kis. 3:19; Luk. 24:47).
Ketika mengaku dosa dan berjanji, maka kita akan merasakan aman dan damai sukacita (ay. 7; Rm. 5:1), ada kelegaan di hati (ay. 1-2, 10; 1Pet. 5:7), dosa kita telah ditebus di dalam iman (1Yoh. 1:9, Rm. 4:6-8), serta Roh Kudus semakin menguasai hidup kita yang tampak pada perubahan sikap dan cara pandang (ay. 8; 2Kor. 5:17, Ef. 4:22-24).
Kita lihat Raja Daud setelah mengaku dosanya, mengatakan: “Bersukacitalah dalam Tuhan / dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” (ay. 11). Itulah rahasia indahnya hidup yang diampuni dosanya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 2 GADA DAN...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026 – Opsi 3 PERGUMULAN...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 31 guests and no members online
