2026
2026
Khotbah (3) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
KHOTBAH HARI RAYA PASKAH – KEBANGKITAN TUHAN YESUS - Opsi 3
UMAT-NYA DIPULIHKAN (Yer. 31:1-6)
“Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria” (Yer. 31:4)
Menurut sistem leksionari, ada beberapa nas yang dapat dipakai untuk topik khotbah di Minggu Paskah ini, yakni:
Yer. 31:1-6; Mzm. 118:1-2, 14-24; Kol. 3:1-4 atau Kis. 10:34-43; Yoh. 20:1-18 atau Mat. 28:1-10 (https://lectionary.library.vanderbilt.edu/texts.php?id=38).
Renungan dua nas dari Injil Yoh. 20; Mzm. 118: Kis. 10 dan lainnya dapat dilihat pada link website ini dengan mengetik search, yang saya tulis beberapa tahun lalu. Maka nas kita saat ini saya ambil dari Yer. 31:1-6 yang berbicara tentang Perjanjian Baru. Nabi Yeremia menyampaikan janji Allah yang akan membangun kembali Israel, dan memulihkan umat-Nya dari keruntuhan kerajaan Israel dan Yehuda, dua kerajaan warisan Raja Daud yang jaya.
Nabi Yeremia menggambarkan dengan puitis janji indah Allah bagi umat-Nya: “.... Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria” (ayat 3-4, 20). Sebuah pengharapan dan sukacita setelah masa kelam umat-Nya termasuk dibuang ke Babilonia selama 70 tahun.
Allah mengingatkan perjalanan umat Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir, melewatkan hukuman dengan darah anak domba yang dioles di tiang pintu dan ambang atas rumah mereka (Kel. 12:6-7). Pengharapan diberikan bagi umat-Nya akan Kanaan yang baru: “Engkau akan membuat kebun anggur kembali di gunung-gunung Samaria; ya, orang-orang yang membuatnya akan memetik hasilnya pula. Sungguh, akan datang harinya bahwa para penjaga akan berseru di gunung Efraim: Ayo, marilah kita naik ke Sion, kepada TUHAN, Allah kita!" (ayat 5-6). Itulah peristiwa Paskah pertama bagi umat Allah. Samaria adalah gambaran kerajaan Israel Utara yang akan penuh dengan hasil ladang sumber makanan. Penjaga (menara) yang dahulu dipakai melihat musuh, kini akan menyerukan umat-Nya ke Sion Yerusalem untuk datang beribadah.
Demikian jugalah di pagi sebelum fajar menyingsing, Maria Magdalena datang ke kubur Tuhan Yesus. Ia membawa rempah-rempah dan minyak mur, sebuah ungkapan kasih. Tetapi Maria melihat kubur itu telah terbuka, terguling batu penutupnya. Ia berteriak dan para murid pun berlari dan melihat ke dalam. Ternyata kubur itu kosong dan hanya meninggalkan kain kafan. Malaikat muncul meneguhkannya dan Yesus kemudian hadir menemui Maria, dan berkata: “Salam bagimu... Jangan takut" (Mat. 28:9-10). Tuhan Yesus yang mati di hari Jumat, kini telah bangkit. Ini sesuai dengan nubuatan-Nya bahwa Ia akan dibunuh di Yerusalem tetapi akan bangkit pada hari ketiga (Mat. 21:16, tiga hari: Jumat, Sabtu dan Minggu sesuai kalender Yahudi waktu itu).
Para murid Tuhan Yesus yang sudah putus asa, kini semangatnya kembali bangkit. Puncak kasih Allah kepada manusia melalui kematian Kristus, kini semakin dibuktikan: Allah berkuasa penuh, hadir dan ingin memulihkan hubungan dengan kita orang berdosa. Kebangkitan Tuhan Yesus meneguhkan iman kita (Yoh. 20:1-18) dan sekaligus menjadi kemenangan kita (1Kor. 15:1-11). Kita telah dipersatukan kembali dan menjadi anak-anak-Nya. Segala pergumulan dan derita pasti ada saatnya pulih, menjadi sebuah sukacita bagi kita yang setia dan taat kepada-Nya. Mari terus berdoa untuk melawan wabah Covid-19, dan terus berkarya bagi-Nya dengan ikut serta memberitakan Dia yang bangkit, berbuat yang terbaik semampu kita bagi mereka-mereka yang menderita terdampak akibat wabah ini. Selamat berkarya untuk menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026
DARI PERJAMUAN MALAM HINGGA GOLGOTA - VIA DOLOROSA
(Yoh. 18:1-19:42)
Bacaan lainnya: Yes. 52:13-53:12; Mzm. 22; Ibr. 10:16-25 atau I 4:br.14-16; 5:7-9
Pendahuluan
Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus menuju bukit Golgota merupakan rangkaian beberapa peristiwa yang sangat mengharukan dimulai sejak perjamuan pada hari Kamis malam hingga kematian-Nya di Jumat senja hari. Jumat Agung memang mengingatkan kita tentang sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan kematian-Nya merupakan bagian penting dalam sejarah orang percaya. Oleh karena itu, bacaan kita pada hari peringatan kematian ini sangat panjang dan kita bebas memilih tema yang lebih spesifik untuk masing-masing jemaat kita.
Kisah pendahuluan menjelang malam terakhir di Yerusalem, yaitu Yesus sudah menyadari akan akhir pelayanan-Nya, ketika Ia berkata kepada murid-Nya: : "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku (Mat. 26:18; band. Yoh. 13:1;16). Ia kemudian bersama-sama murid-murid melakukan perjamuan paskah yakni makan roti yang tidak beragi dan minum anggur (Mat. 26:26-29; Luk. 22:14-20). Pada kesempatan inilah Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa perjamuan malam itu harus diingat oleh umat percaya selamanya, melalui perjamuan kudus yang kita lakukan pada hari Jumat Agung ini.
Pada perjamuan malam itu Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat. 26:26-28). Setelah perjamuan malam selesai, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya di kamar atas. Banyak sekali pesan-pesan akhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid kesayangan-Nya itu untuk menguatkan mereka, sebab Yesus sudah berulangkali mengatakan saat-Nya sudah akan tiba (Yoh. 13-17).
Yesus juga bergumul secara pribadi akan hal itu sehingga Ia memutuskan untuk naik ke Bukit Zaitun dan berdoa di taman Getsemani. Yesus berdoa bagi semua orang percaya yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh. 17:9). Hati-Nya terus ada pada kita sehingga meminta agar Bapa memelihara kita orang percaya (Yoh. 17:11). Ia juga berdoa agar kita dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:17), dan juga secara khusus berdoa bagi yang memberitakan Dia. Hal yang utama lainnya Yesus berdoa agar kita semua menjadi satu, sama seperti Yesus satu dengan Bapa (Yoh. 17:21). Ut omnes unum sint. Yesus membenci perpecahan, apalagi perpecahan karena pertikaian terhadap hal yang tidak benar.
Yesus menyadari beratnya penderitaan yang akan Dia tanggung, sehingga dalam doa terakhir-Nya, Ia sujud dan berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39). Bahkan untuk kedua kalinya Yesus berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat. 26:42).
Kisah yang diberikan di bawah ini merupakan tahapan dan poin penting dari rangkaian 18 jam perjalanan menuju bukit Golgota tersebut, dan dari situ kita mendapatkan hikmat dan pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Penghianatan yang Berakhir dengan Penyesalan
Kisah penangkapan Tuhan Yesus terjadi karena penghianatan Yudas, yakni salah satu murid-Nya. Sebenarnya Yesus sudah mengetahui hal tersebut, ketika pada perjamuan malam yang diceritakan di atas, Yesus memberi tanda bahwa dia yang bersama-sama dengan Yesus mencelupkan tangannya ke dalam pinggan saat itu, dialah yang akan menyerahkan Yesus (Mat. 26:21-23). Ternyata, itulah Yudas Iskariot yang telah menerima uang sogok sebanyak tiga puluh uang perak dari imam-imam kepala (Mat. 26:14-16). Sejak menerima uang perak itu, Yudas mencari-cari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Tatkala Yesus berdoa di taman Getsemani itu, Yudas mengetahui tempat itu karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas dengan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, lalu mereka menangkap Dia. Yesus dengan tegar memperkenalkan diri-Nya dan tidak melakukan perlawanan dengan kekerasan, meski Petrus sempat menarik pedangnya dan memotong kuping salah satu prajurit itu.
Yudas yang kemudian menyadari kesalahannya dan melihat akibat kejahatannya itu, bagaimana Yesus yang sebenarnya Ia kasihi juga, harus menderita sedemikian berat. Akhirnya Yudas berusaha mengembalikan tiga puluh uang perak itu kepada imam-imam kepala. Ia menyesal. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tidak membuahkan apa-apa, sebab tindak lanjut penyesalan Yudas itu ia akhiri dengan bunuh diri. Mengenaskan. Yudas berbeda dengan Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus tiga kali, tetapi Petrus bertobat dan mengabdikan dirinya bagi Tuhan Yesus. Yudas Iskaritot tidak bertobat, penyesalannya menerima uang suap tidak ditindaklanjuti dengan pertobatan dan berbuah, selain penghukuman terhadap diri sendiri. Ini sungguh suatu pelajaran penting bagi kita, ketika menyadari kesalahan yang kita perbuat, penyesalan harus diikuti oleh pertobatan dan permohonan ampun, kemudian memberikan yang terbaik dari hidup kita kepada Tuhan dan orang lain sebagai “persembahan” atas penyesalan yang sudah kita lakukan.
Kedua: Penderitaan Selama 18 Jam
Setelah Yesus ditangkap, pemimpin Yahudi sejak awal tidak berniat memberikan pengadilan yang layak kepada Yesus. Dalam pikiran mereka yang utama adalah: Yesus harus mati. Kebencian dan emosi seperti ini membuat hati nurani mereka buta dan tertutup. Mereka juga tidak memperdulikan proses yang layak dan adil bagi Yesus. Oleh karena itu, di tengah dingin dan pekatnya malam, mereka langsung membawa Yesus dari taman itu dan mengadili-Nya melalui tahapan-tahapan yang melelahkan, serta diselingi siksaan dan penderitaan pada tubuh-Nya.
Adapun tahapan-tahapan pengadilannya mulai dari tangah malam itu adalah sebagai berikut.
1. Mereka membawa Yesus kepada Hanas, mantan Imam Besar tetapi masih berkuasa dan dihormati oleh orang Yahudi (Yoh. 18:12-24). Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu telah menjadi Imam Besar, tetapi karena menurut ketentuan Imam Besar adalah jabatan seumur hidup, mereka menghormati dan tetap membawa kepada Hanas.
2. Hanas menolak untuk mengadilinya sehingga prajurit dan penjaga-penjaga itu kemudian membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan dan berkuasa sebagai Imam Besar. Dalam pengadilan di depan Hanas tengah malam itulah mulai didengarkan kesaksian-kesaksian palsu dari Sanhedrin (Yoh. 18:24; Mat. 26:57-68; Mrk. 14:53-65; Luk. 22:54, 63-65).
3. Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin yakni para pemimpin formal umat Yahudi. Ada sekitar 70 anggota Sanhedrin hadir menjelang fajar itu. Kelompok Sanhedrin ini terdiri dari para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Mereka ini sebenarnya sejak awal sudah memutuskan agar Yesus dihukum mati, sehingga pengadilan di subuh hari ini merupakan formalitas saja untuk justifikasi bahwa Yesus telah dihadapkan pada Mahkamah Agama. Dalam sidang formalitas ini kemudian Yesus ditetapkan dihukum mati (Mat. 27:1; Mrk. 14:15:1; Luk. 22:66-71).
4. Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Oleh karena itu Yesus dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea, penguasa Romawi. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah sehingga ia menolak untuk menyetujui hukuman mati, dan menawarkan hukuman cambuk saja. Tetapi pemimpin Yahudi ngotot dan akhirnya Pilatus berusaha untuk menghindar, dan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes, yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem, maka Pilatus mengatakan agar Yesus dihadapkan saja pada Herodes, (Yoh. 18:28-38; Mat. 27:2,11-14; Luk. 23:1-6).
5. Herodes pada mulanya sangat senang melihat Yesus, karena ia sering mendengar tentang Yesus, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. Tetapi dalam sidang dihadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus (Luk. 23:7-12)
6. Akhirnya Yesus dibawa kembali ke Pilatus (Yoh. 18:38-39;19:16), tetapi Pilatus cuci tangan dan tidak berkeinginan untuk menyatakan kebenaran. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38). Kesalahan Pilatus dalam hal ini ialah, menyerah pada permintaan orang banyak untuk kegunaan politiknya, tanpa memperdulikan keadilan dan kebenaran yang hakiki.
Pasukan dan penjaga Bait Allah serta orang Yahudi selama proses itu membelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul di kepala-Nya. Setelah selesai pengadilan, bahkan Yesus masih dipaksa memikul salib-Nya via dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Betapa tragis dan menyayat hati kita membayangkan hal itu.
Demikianlah drama rangkaian penangkapan dari tangah malam sampai pengadilan berlangsung hingga Jumat senja hari, sehingga diperkirakan berlangsung selama 18 jam. Proses yang panjang dan menyakitkan.
Ketiga: Pengadilan Yesus tidak sah dan adil
Dari catatan para murid dan rasul yang dituliskan di Alkitab, banyak pihak berkesimpulan bahwa pengadilan terhadap Yesus berlangsung secara tidak sah dan tidak memenuhi ketentuan "demi keadilan dan kebenaran" sebagaimana layaknya sebuah pengadilan. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa hal di bawah ini:
1. Yesus sudah dinyatakan harus mati sebelum diadili (Mrk. 14:1; Yoh. 11:50). Dengan demikiam tidak ada asas praduga tak bersalah, yakni tidak bersalah sebelum dibuktikan di depan hukum.
2. Banyaknya kesaksian palsu yang diberikan kepada Yesus (Mat. 26:59). Para pemimpin Yahudi memprovokasi dan menyaring saksi-saksi yang tampil dalam pengadilan itu. Oleh karena itu Pilatus melihatnya tidak bersalah.
3. Pemimpin Yahudi menjebak Yesus atas ucapan-ucapan-Nya, kemudian mengkriminalisasi apa yang dikatakan-Nya itu (Mat. 26:63-66).
4. Tidak ada pembelaan bagi Yesus selama proses pengadilan (Luk. 22:67-71).
5. Pengadilan berlangsung malam hari (Mrk. 14:53-65; 15:1) yang sebenarnya tidak diperbolehkan menurut hukum Yahudi.
6. Pengadilan berlangsung di tempat pertemuan Sanhedrin, bukan di tempat kaum Farisi sebagaimana biasanya (Mrk. 14:53-65).
Tetapi itu adalah proses yang harus dilalui dan dialami oleh Tuhan Yesus. Cawan penderitaan itu harus diminum-Nya untuk dapat menyelesaikan misi-Nya yang agung dari Bapa, demi untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita yang penuh dosa ini.
Keempat: Tujuh ucapan Yesus dari kayu salib
Yohanes menyatakan bahwa pengadilan Yesus berakhir "kira-kira jam dua belas" (band. Kitab Markus yang menyebutkan Yesus disalibkan pada "jam sembilan" – Mrk. 15:25). Perbedaan ini terjadi karena Yohanes menggunakan jam perhitungan Romawi sementara Markus menggunakan jam Palestina. Keputusan hukuman mati di siang hari itu membawa konsekuensi Yesus harus langsung dieksekusi, dan sebagaimana kebiasaan mereka dihukum mati dengan cara disalibkan. Ini adalah cara mati yang bagi pandangan umat Yahudi adalah sebuah kutukan.
Alkitab mencatat ada tujuh kalimat yang Tuhan Yesus ucapkan saat disalibkan. Urutannya adalah sebagai berikut.
1. Ketika menghadapi para pembenci dan penghukum-Nya, ucapan Yesus yang pertama: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).
2. Yesus berkata kepada penjahat disebelah-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43).
3. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" (Yoh. 19:26-27).
4. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).
5. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia: "Aku haus!" (Yoh. 19:28).
6. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai" (Yoh. 19:30).
7. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Luk. 23:46).
Bukankah semua itu pernyataan yang dahsyat? Betapa hebatnya Yesus, yakni pada saat Dia disalib setelah disiksa dan dianiaya, Ia bahkan berdoa agar Bapa-Nya di sorga mengampuni mereka! Dalam situasi yang lemah, Ia malah memberkati penjahat disebelah-Nya, memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya, dan puncaknya adalah, Ia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya. Sungguh mulia Tuhan kita, yang harus menjadi teladan dalam hidup kita.
Kelima: Arti dan Makna Kematian Yesus Bagi Kita
Kematian Kristus di kayu salib bagaikan korban anak domba sembelihan. Yesus tidak bersalah tetapi harus menanggung hukuman demikian berat. Kini, apa arti dan makna kematian Yesus Kristus itu bagi kita? Berikut diberikan gambaran artinya bagi kita:
1. Kematian Kristus merupakan penggenapan janji Tuhan (Kej. 3:15; Yes. 53:3, 7b; Za. 9:9; Mzm. 41:10; 22:7-dab).
2. Kematian Kristus membuka pintu perdamaian bagi kita dengan Allah (2Kor. 5:18-21). Kita seharusnya mendapat murka Allah karena dosa-dosa kita, tetapi Allah memperdamaikan (Rm. 1:18; band. Rm. 11:28).
3. Kematian Kristus membuat kita dibenarkan (Rm. 3:24; 4:2-3; 5:9-10).
4. Kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita orang-orang berdosa. Allah membuka jalan penebusan melalui Kristus yang seharusnya Dia tidak alami dan tidak lalui, tetapi demi untuk dosa-dosa kita, Ia rela berkorban (Rm. 5:5-8; 5:24; Kol. 1:14).
5. Kematian Kristus memberi kita keselamatan dan hidup yang kekal (Rm. 5:12-18). Upah dosa adalah maut (Rm. 6:23) dan kita pasti akan mengalaminya. Tetapi maut yang dimaksudkan disini adalah kematian sementara, sebab kebangkitan dan kehidupan kekal telah menanti sebagaimana Kristus telah bangkit, mengalahkan maut, maka kita pun orang percaya akan dibangkitkan dan menang atas maut kematian itu. Kita menerima rahmat itu di dalam kematian Kristus, untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan memiliki kehidupan yang baru bersama-Nya (Rm. 6:1-4).
6. Kematian Kristus membuka kesadaran kita, betapa besarnya kasih Allah untuk kita yang rindu selalu dekat dengan Dia. Allah ingin membangun hubungan yang baru (2Kor. 5:17), dan melalui kematian-Nya itu sekaligus menggerakkan dan menghidupkan kita (2Kor. 5:14; Gal. 2:20).
7. Kematian Kristus membuat kita lebih kuat dalam menanggung penderitaan, mendewasakan dan menjadikan kita lebih utuh dan sempurna (2Kor. 12:10).
8. Kini, bagaimana kita meresponi pengorbanan Kristus itu? Semua itu tidak lain tidak bukan, Allah menginginkan kita menyesali segala dosa dan kesalahan kita, bertobat, tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita perbuat, serta mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita bagi kerajaan dan kemuliaan-Nya.
Kesimpulan
Penderitaan dan kematian Yesus menunjukan kesetian-Nya pada Allah dan kasih-Nya pada manusia. Kesetiaan dengan meminum cawan penderitaan yang sungguh amat berat itu, dan menyerahkan sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. KasihNya kepada kita dengan menanggung jalan panjang via dolorosa yang seharusnya Dia tidak tanggung, tetapi rela berkorban bagi penebusan dosa-dosa kita. Tuhan Yesus menginginkan kita untuk memahami hal itu, bersedia mengingat pengorbanan tubuh-Nya dan tumpahnya darah-Nya melalui perjamuan kudus yang kita ikuti pada Jumat Agung itu.
Apakah kita sudah memahami arti dan makna kematian Tuhan kita itu bagi kita? Apakah kita sudah siap untuk berubah dan memberikan yang terbaik, sehingga kita justru tidak menyalibkan Dia lagi melalui dosa-dosa perbuatan kita.
Selamat beribadah dan selamat memperingati pengorbanan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Jumat Agung 3 April 2026
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 3
HAMBA TUHAN YANG MENDERITA (Yes. 52:13-53:12)
Firman Tuhan bagi kita pada Jumat Agung, hari besar umat Kristiani ini, diambil dari Yes. 52:13-53:12. Judul perikop ini: Hamba TUHAN yang menderita.
Nabi Yesaya sangat jelas dan tepat menuliskan nubuatan tentang turunnya Juruselamat untuk manusia. Namun gambaran hamba Tuhan yang diberikan, bukanlah seperti hal yang dipikirkan oleh umat Israel. Allah ingin membalik cari pikir mereka, yang beranggapan bahwa Raja dan Mesias yang datang tipikal Raja Daud atau pahlawan dalam mitos. Allah memiliki maksud tentang hal itu, menegaskan bahwa kadang-kadang yang dipikirkan manusia tidak selalu sama dengan pikiran Allah. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9).
Hamba Tuhan yang datang tidak tampan dan tidak ada semaraknya. Mungkin ini gambaran tentang kesederhanaan-Nya. Tetapi penderitaan-Nya dituliskan rinci dan begitu buruk: seperti bukan manusia lagi, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia (52:14; 53:2b, 3). Itu terjadi karena Ia tertikam, dihina, dianiaya, penuh kesengsaraan, tetapi Ia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (53:7). Sebuah sikap hidup berserah tanpa banyak keluhan yang layak kita teladani.
Ironisnya semua itu terjadi bukan karena kesalahan-Nya. “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. “Dia ditikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (53:5-6).
Sangat jelas bahwa hamba Tuhan yang digambarkan nabi Yesaya adalah Yesus Kristus. Proses peradilan yang panjang dan tidak adil dihadapi Tuhan Yesus, termasuk cuci tangan dan saling lempar tanggungjawab, yang membuat penderitaan Yesus semakin berat. Tetapi ini mengukuhkan tidak ada nabi lain bahkan pemimpin agama lain yang mati bagi pengikutnya dan bahkan mati disalib. Itulah hamba Tuhan Yesus yang kita peringati penyaliban-Nya pada Jumat Agung ini.
Alkitab dengan jelas menuliskan alasan Yesus harus mati, yakni agar kita hidup dan bahkan hidup kekal (Yoh. 3:16). Manusia terus berbuat dosa dan upah dosa adalah maut dan kematian. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsip penebusan, harus ada pengganti korban agar yang percaya konsep penebusan menjadi selamat (Rm. 6:23; Ef. 1:7). Allah mau turun dari sorga dan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7).
Seperti dalam Perjanjian Lama, penghapusan dosa dan kesalahan hanya dapat dilakukan bila ada korban pengganti, berupa korban bakaran (Ola) atau korban penghabis dosa/salah (Khatta’t atau Asyam), ada darah yang tercurah, dan tentu terutama didasari oleh penyesalan dan pertobatan (Im. 1-7; 2Taw. 29:23; 1Yoh. 2:2). Dengan penyesalan dan pertobatan, maka kita layak mendapat pengampunan atas dosa-dosa yang terjadi (Kol. 1:14).
Hal lainnya Yesus mati agar menjadi teladan bagi kita dengan kesetiaan-Nya (Flp. 2:8). Tuhan Yesus menyadari akan melewati penderitaan yang tidak tertahankan, sehingga Dia sampai mengatakan, “biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”, dan kemudian ditambahkan-Nya, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39).
Itulah yang kita peringati di Jumat Agung tentang kasih dan kebesaran Tuhan Yesus, yang menderita dan mati bagi kita agar kita selamat. Respons terbaik kita adalah, ikut melayani Dia melalui kesaksian tentang kasih dan kuasa-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. Dan Ia berpesan, agar kita memperingati, merayakan, dan menerima tugas tanggungjawab kita dengan mengikuti perjamuan kudus (1Kor. 11:23-26).
Selamat beribadah mengikuti perjamuan kudus dan memperingati pengorbanan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Jumat Agung 3 April 2026
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 2
DERITA 18 JAM (Mzm. 22:1-21)
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2)
Firman Tuhan bagi kita di Jumat Agung ini sebagai peringatan dan mengenang kematian Tuhan Yesus, diambil dari Mzm. 22. Mazmur ini merupakan gambaran penderitaan yang ditinggalkan Allah (ayat 2-3, 12, 20), ditolak manusia (ayat 7-8), rasa sakit yang tidak tertahankan (ayat 15-16) dan adanya musuh yang sangat kejam (ayat 17-19). Perasaan inilah yang terjadi pada Tuhan Yesus, saat Ia di kayu salib dan kemudian berkata dengan mendesah: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (bdk. Mat. 27:46b).
Penderitaan Tuhan Yesus dimulai saat Ia ditangkap di bukit Getsemani, setelah Yudas berkhianat. Pengadilan terhadap-Nya langsung dari tengah malam itu dengan rangkaian yang panjang. Itu terjadi karena yang membenci-Nya saling melempar tanggung jawab. Beginilah urutannya.
· Yesus dibawa kepada Hanas, mantan Imam Besar, mertua Kayafas;
· Hanas menolak mengadili, merasa sudah pensiun, sehingga mereka membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan sebagai Imam Besar. Ada banyak kesaksian palsu dari kaum Sanhedrin;
· Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin, yakni para tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Dalam sidang formalitas ini Yesus ditetapkan untuk dihukum mati;
· Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Tuhan Yesus kemudian dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah, sehingga ia menolak menyetujui hukuman mati. Pemimpin Yahudi berkeras dan akhirnya Pilatus menghindar dengan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem;
· Dalam sidang di hadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus;
· Pilatus cuci tangan dan menyetujui hukuman mati. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38).
Selama proses itu, Tuhan Yesus dibelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul kepala-Nya. Kemudian Yesus dipaksa memikul salib-Nya melewati Via Dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene, karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Di atas kayu salib, terpaku, Ia mengucapkan tujuh kalimat dengan yang terakhir: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk. 23:46). Sungguh sebuah tragedi derita yang menyayat hati dan berlangsung selama 18 jam.
Pemazmur nas ini menegaskan imannya bahwa Allah telah begitu baik kepadanya (ayat 4-6). Allah tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya, sehingga ia akan tetap memasyhurkan nama-Nya dan mengajak yang takut akan Tuhan agar tetap memuji Dia (ayat 23-24, 26). “Sebab segala kaum dan ujung bumi serta bangsa-bangsa akan sujud dan berbalik dan memberitakan keadilan-Nya” (ayat 28-32).
Melalui nas Mzm. 22 di Jumat Agung ini, kita orang percaya diminta untuk mengenang dan memperingati kematian Tuhan Yesus dan penderitaan-Nya, untuk menanggung dosa-dosa kita, meski Ia tidak berdosa. Enam pengadilan dijalani-Nya, hanya ada kesaksian palsu dan mereka yang ingin melepaskan tanggung jawab. Demikian pula kita yang mungkin saat ini ada dalam pergumulan dan penderitaan, termasuk karena dampak wabah Covid-19, tetaplah dalam iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, dan akan memberikan pertolongan yang tepat bagi kita yang berserah kepada-Nya.
Selamat beribadah dan memperingati pengorbanan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 29 Maret 2026
Kabar dari Bukit
ROTI DAN HANDUK MENJELANG JUMAT AGUNG (Yoh. 13:1-17, 31b-35)
"Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15)
Hari Jumat ini kita akan memperingati kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Biasanya tiap gereja akan mengadakan sakramen perjamuan kudus; jemaat pun akan lebih bersemangat untuk ikut beribadah. Kita menikmati dan menghayati pemecahan roti sebagai lambang tubuh Yesus dipecahkan, dan penuangan anggur sebagai lambang darah-Nya dicurahkan. Semua ini mengingatkan pengorbanan-Nya sekaligus tanda kita menjadi satu dengan Kristus, peneguhan penebusan dosa dan anugerah keselamatan yang kita terima di dalam iman.
Peristiwa ini diambil dari Injil Matius, Markus dan Lukas yang menjelaskannya dengan rinci; juga di 1 Korintus 11. Tetapi Injil Yohanes menulis dengan sisi lain, yang menjadi nas firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini, yakni Yoh. 13:1-17, 31b-35. Nas ini menceritakan tentang tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Dijelaskan di saat makan, Yesus bangun berdiri, menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan sehelai kain (handuk) lenan di pinggang-Nya, mengambil baskom, dan mulai membasuh kaki para murid (ay. 4-5), termasuk Yudas yang berkhianat.
Pembasuhan kaki ini hanya dituliskan pada Injil Yohanes. Ada beberapa gereja yang masih melakukan ritual ini, dan biasanya pada malam Kamis Putih sebelum Jumat Agung. Tetapi ada juga gereja yang tidak melakukannya dengan alasan tertentu. Tetapi kita perlu melihatnya bahwa pembasuhan kaki oleh Yesus merupakan keteladanan yang luar biasa. Peristiwa ini bersamaan dalam perjamuan terakhir, sebab Yesus telah mengetahui saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa (ay. 1); ... dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh (Mrk. 10:34).
Pembasuhan kaki memiliki makna yang dalam, sejajar dengan pemeriksaan diri (censura morum) tentang kelayakan kita menerima roti dan anggur, tubuh dan darah-Nya. Perjamuan Kudus memberi kesempatan kepada kita untuk menerima kasih Kristus, sementara pembasuhan kaki menuntut kesiapan kita untuk membagikan kasih itu kepada sesama.
Tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki memberi kita beberapa teladan konkrit. Pertama, keutamaan dalam melayani sesama adalah kerendahan hati. Lap handuk membersihkan yang kotor dalam arti kita melayani siap turun ke bawah, bahkan ke bagian tidak nyaman. Yesus sebagai Guru menjadi hamba, yang posisi tinggi siap menjadi yang terendah (ay. 14). Kedua, dalam mengasihi kita tidak boleh pandang muka, seperti Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan Petrus yang kemudian menyangkalnya. Ketiga, dalam mengasihi kita perlu tuntas, tidak sepotong-sepotong, terhenti, sebagaimana Yesus mengasihi hingga kesudahannya (ay. 1).
Nas ini juga mengingatkan melalui percakapan Yesus dengan Petrus yang meminta bukan hanya kakinya yang dibasuh, tetapi juga tangan dan kepalanya. Tetapi Yesus berkata kepada Petrus: “Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.” Artinya, keselamatan dengan iman berlaku untuk selamanya (ay. 10; Ibr. 10:10), tetapi membasuh kaki yakni pembersihan dosa sehari-hari tetaplah perlu dilakukan.
Nas minggu ini ditutup dengan ayat 31b-35. Ini penekanan kembali ayat 15 yang menegaskan, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.... Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.” (bdk. 1Kor. 11:26). Janganlah kita menyukai roti tapi melupakan lap handuk untuk melayani. Jangan kita suka ikut Perjamuan Kudus tetapi tidak mau melayani dan mengasihi sesama dengan kerendahan hati.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 DILAHIRKAN BUKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 2 HATI...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 3 MEMBALAS...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 21 guests and no members online
