2026
2026
Kabar dari Bukit, Minggu 17 Mei 2026
Kabar dari Bukit
IMAN, SPEKULASI DAN UNDI (Kis. 1:15-17; 21-26)
Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu" (Kis. 1:26)
Kita baru saja memperingati dan merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Selama 40 hari Tuhan Yesus bangkit dari kubur, Ia melakukan banyak interaksi dengan para murid-Nya. Ada kisah perjalanan dua murid ke Emaus tapi kemudian mereka tidak dapat melihatnya lagi (Luk. 24:13-31). Ada kisah Si Peragu Tomas yang hanya percaya Yesus bangkit jika ia memasukkan jari tangannya ke bekas paku di kayu salib (Yoh. 20:25-28). Ada juga kisah Yesus kembali memperlihatkan mukjizat-Nya dengan meminta murid-murid-Nya menebar jala di sebelah kanan perahu dan banyaklah ikan ditangkap (Yoh. 21:6-13).
Menjelang hari raya Pentakosta, muncul permasalahan pada para rasul. Yudas Iskariot telah mati bunuh diri. Para rasul ingin mengganti posisi Yudas untuk menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya. Dan itulah firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini yakni Kis. 1:15-17; 21-26. Perikop ini berjudul: Matias dipilih menggantikan Yudas. Hal menarik dalam pemilihan dilakukan secara undi. Dari seleksi pendahuluan diperoleh dua nama, yakni Yusuf Barsabas dan Matias. Keputusan dari hasil undi terpilih Matias.
Rasul Petrus memimpin pertemuannya. Ini membuktikan bahwa Tuhan mampu memulihkan orang yang pernah gagal. Pemimpin rohani bukanlah orang yang sempurna, tetapi orang yang mau dipulihkan Tuhan. Metoda undi yang dimaksudkan disini bukanlah menggunakan dadu. Memang tradisi dan ajaran dalam Perjanjian Lama, ada beberapa cara Allah dan media yang dipakai untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia. Allah kerap menyampaikan pesannya melalui mimpi, teofani seperti nyala api di semak duri, urim dan tumim, undi, nabi-nabi, malaikat, dan peristiwa mukjizat.
Sebagai orang percaya tentu ada kerinduan bagi kita untuk mendapat kesempatan "bertemu" Tuhan saat Ia ingin menampakkan diri-Nya untuk tujuan tertentu. Ya itu tidak ada salahnya, apakah dalam bentuk mimpi, bertemu malaikat, teofani kasat mata, dan bentuk lainya. Memang firman Tuhan dalam kitab Ibrani, dituliskan “berulang kali dan dalam pelbagai cara” (ay. 1:1) dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada akhir zaman ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya yaitu Yesus Kristus.
Dalam kehidupan sehari-hari, jawaban atas doa dan pengharapan tidaklah selamanya langsung diberikan oleh Tuhan. Nasihat yang lazim: tunggu! Semua akan indah pada waktunya (Pkh. 3:11). Tetapi meminta tanda atau petunjuk tidaklah salah, masih Alkitabiah. Kemampuan kita manusia sangatlah terbatas.
Saya pernah mengalaminya. Namun bukan tuntutan, melainkan meminta tanda petunjuk dari Tuhan. Ceritanya, selepas kerja dari grup perusahaan Bukaka, saya dipinang oleh dua perusahaan. Saya bingung: mana yang akan saya pilih? Saya kemudian memberikan syarat dan kondisi yang sama. Namun, melalui doa, Tuhan memberikan hikmat, yakni agar saya meminta kepada mereka untuk mengirimkan email sebagai konfirmasi. Perusahaan yang duluan mengirimkan email konfirmasi itulah pilihan Tuhan.
Puji Tuhan, petunjuk-Nya benar. Perusahaan yang terlambat mengirim, kemudian ditutup; pimpinannya masuk penjara!
Kita dapat mencari keputusan Tuhan memilih yang terbaik. Namun, ini bukan berarti dorongan malas berpikir, menggantikan doa dan hikmat, apalagi menghindari tanggung jawab keputusan. Itu adalah spekulasi. Metoda undi boleh dipakai ketika: beberapa pilihan sama-sama layak, manusia tidak punya dasar kuat untuk menentukan sendiri. Dan semua didasari iman, doa, dan berserah kepada Tuhan.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026
Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026
SERAHKANLAH SEGALA KEKHAWATIRANMU KEPADA-NYA (1Pet. 4:12-14, 5:6-11)
Bacaan lainnya: Yoh. 17:1-11; Kis. 1:6-14; Mzm. 68:1-10, 32-35
Pendahuluan
Nas minggu ini dilatarbelakangi oleh tantangan berat yang dihadapi oleh jemaat di wilayah Asia Kecil oleh pihak kekaisaran Roma, khususnya bagi pemimpin-pemimpin baru seperti penatua dan diaken. Rasul Petrus mengingatkan agar dalam situasi tersebut mereka jangan terkejut apabila ada pelbagai penganiayaan dan penderitaan yang datang, mengingat sikap keras yang diperlihatkan panglimanya Nero dalam menganiaya orang-orang percaya. Penderitaan yang datang bukan merupakan ilusi, tetapi sudah merupakan rencana Allah untuk mereka ikut serta dalam penderitaan dan kesusahan itu. Ini sikap yang perlu dihadapi sebagai jalan untuk mengikut jejak Yesus yang mati demi kebenaran, sehingga mereka tidak perlu malu atau berputus asa dalam menghadapinya. Maka melalui bacaan peristiwa di masa awal gereja ini kita memperoleh pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Berbahagialah dalam penderitaan untuk Kristus (1Pet. 4:12-14)
Tidak dapat disangkal bahwa kelahiran agama umumnya berangkat dari penderitaan umat di tengah-tengah ketidakadilan. Ada kerinduan manusia agar perubahan dapat terjadi dan wajar saja memiliki pengharapan melalui Mesias atau tokoh nabi-nabi baru. Allah sendiri mungkin menempatkan skenarionya sedemikian rupa sehingga memudahkan pesan Allah sebagai Pencipta dan Yang Mahakuasa bagi mereka untuk berubah. Penderitaan manusia itu sendiri tentu berawal dari kebodohannya di samping akibat ketidaktaatannya. Oleh karena itu, pesan Allah yang pertama adalah: bertobatlah, atau berubahlah (band. Pesan Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus pada Mat. 3:2; 4:17). Dalam melakukan pertobatan atau perubahan itulah biasanya kita diminta untuk berkorban, menderita bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Mereka yang percaya terhadap perubahan tentu perlu berjuang untuk itu. Dan itulah yang terjadi pada para murid Tuhan Yesus. Riwayat awal pelayanan-Nya dan sejarah gereja mencatatnya dengan baik. Murid-murid dipilih-Nya untuk mengambil bagian dalam perjuangan perubahan itu dengan ikut menderita. Dengan perjuangan mereka dan penderitaan yang dialami, nama Tuhan Yesus ditinggikan dan semakin banyak yang percaya dan menjadi pengikut Yesus.
Namun dalam hal ini Yesus bukan sekedar nabi atau rasul. Ia juga Allah yang menjadi manusia, sehingga apa yang dikatakan-Nya pasti merupakan kebenaran dan sekaligus menjadi janji pasti-Nya kepada mereka yang percaya dan setia mengikuti firman-Nya. Rasul Petrus mengutip ucapan awal Tuhan Yesus pada Mat. 5:11 yang senada mengatakan, "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." Jadi ketika ada penderitaan, kita jangan terkaget-kaget. Apabila itu dalam rencana Allah, Roh Kudus diberikan untuk menguatkan mereka yang diuji imannya. Kita juga tidak perlu takut dan gentar. Lihat saja bagaimana Petrus dan Yohanes dianiaya ketika memberitakan Injil, mereka bersukacita sebab merasakan bahwa penganiayaan itu adalah tanda pembuktian dari Allah akan buah kerja mereka (Kis. 5:41; Kol. 1:24; Ibr. 10:34). Tentu tidak berarti bahwa kita mencari kesusahan, tapi jangan menghindarinya juga. Be ready. Fight for the best, be ready for the worst. Yang penting, tetap lakukan yang terbaik bagi Tuhan, tanpa terlalu mempedulikan risiko penderitaan yang mungkin datang sebagai konsekuensinya.
Dalam situasi sekeliling kita saat ini pun, masih banyak penderitaan dan ketidakadilan, sehingga setiap orang percaya pada hakikatnya dipanggil untuk menghilangkan penderitaan dan ketidakadilan itu. Kita orang percaya tidak bisa berpangku tangan apalagi memanfaatkan situasi untuk kepentingan diri sendiri. Kemauan kita mengambil bagian dalam penderitaan orang lain adalah bukti kesungguhan untuk melayani dan mengabdi pada Kristus (band. Kis. 14:22; Rm. 8:17-18; 1Pet. 1:6-9). Pengalaman mengambil bagian dalam perjuangan yang menimbulkan penderitaan akan memperkaya diri kita secara rohani. Perjuangan membuat kita hidup, dan bukan sekedar hidup adalah perjuangan. Kita harus melihat tugas itu sebagai peperangan melawan kebodohan, kemalasan dan bahkan melawan iblis sebagai sumber segala kejahatan dan keburukan (band. Ef 6:12). Allah memanggil dan membiarkan kita masuk dalam perjuangan itu. Meski tampaknya itu berupa siksaan, dinista, atau kita mungkin kalah secara fisik atau jasmani, tidak perlu takut dan gentar, sebab itu hanya ujian iman dan bukan akhir segalanya. Semua itu bukan sesuatu yang luar biasa. Roh Allah yaitu Roh kemuliaan bekerja dan diam di hati orang percaya dengan cara istimewa menguatkan kita dalam ujian itu. Dan pada akhirnya, kita tetap sebagai pemenang secara rohani, kita bergembira dan bersukacita, sebab ada jaminan yang tersedia bagi kita ketika Ia datang kembali menyatakan kemuliaan-Nya (Rm. 8:17; 2Kor. 4:17; 1Pet. 5:1). Maka, berbahagialah kita untuk itu.
Kedua: Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya (1Pet. 5:6-7)
Ketakutan dan kekhawatiran adalah manusiawi. Ketakutan merupakan bagian dari ketidaktahuan kita tentang apa yang akan terjadi di depan. Puncak ketakutan manusia mungkin kematian dan proses kematian yang menyakitkan. Tetapi sepanjang kita memahami bahwa kematian adalah pintu untuk kemuliaan dan proses kematian yang menyakitkan adalah jalan untuk menuju pintu kemuliaan itu, maka semua tidak perlu dikhawatirkan lagi. Ketakutan manusia terhadap penderitaan daging juga memperlihatkan bahwa ia belum lepas dari keinginan daging. Nas minggu ini juga ditujukan kepada mereka yang dipanggil di dalam pelayanan gereja, sebagai pendeta, penatua, diaken, guru sekolah minggu, dan lainnya. Semua panggilan itu merupakan kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan melalui orang-orang percaya. Jadi tidak ada alasan untuk takut dan khawatir. Tujuan panggilan itu bukan untuk mendapatkan kehormatan, memperoleh pujian, apalagi keuntungan diri sendiri. Jabatan diberikan sebagai jalan yang lebih mudah dalam pengabdian dan sekaligus menjadi tantangan penggunaan wewenang sebagai pemimpin, teladan dan gembala. Domba yang diserahkan bukan untuk disesatkan melainkan diasuh dan ditumbuh-kembangkan kerohaniannya sehingga semakin berkenan kepada Tuhan.
Mengambil bagian dalam penderitaan Kristus akan membentuk diri kita sesuai dengan karakter yang diinginkan-Nya (Rm. 5:3-5; 2Kor. 1:3-7; Yak. 1:2-4). Tapi perlu kita sadari bahwa panggilan itu adalah otoritas Allah, namun respon, intensitas dan kualitas pelayanan kita adalah semata-mata dari kesediaan dan kerelaan kita dan bukan karena paksaan. Kita tidak perlu merasa jengkel atas pengalaman penderitaan yang datang, dan juga tidak perlu merasa cemburu atau rendah diri apabila orang lain tidak mengalami hal yang sama atau lebih ringan, apalagi bersikap memberontak atas apa yang kita alami. Memang terkadang kita khawatir akan status dan kedudukan kita, atau berharap akan pengakuan manusia atas apa yang kita lakukan. Akan tetapi Rasul Paulus dalam hal ini menasihati bahwa pengakuan dari Tuhan jauh melebihi hal yang diberikan oleh manusia. Allah sanggup dan mau untuk memberkati kita seturut dengan waktu-Nya. Taatlah dengan sungguh-sungguh, berserah dalam kerendahan hati terhadap Allah. Tunduklah atas rencana-Nya yang penuh misteri tanpa memperhitungkan situasi saat ini, dan pada saatnya nanti – entah di masa hidup kita kini atau di masa kekekalan nanti, Dia pasti mengangkat dan meninggikan kita pada waktunya.
Maka bila kita terus menerus membawa-bawa segala kekhawatiran, tekanan, dan pergumulan hidup setiap hari, maka sebenarnya kita tidak percaya penuh pada Allah dalam hidup kita. Memang diperlukan kerendahan hati, sebab bagaimana pun, dengan mengakui bahwa Allah peduli dan mengakui kita mempunyai kebutuhan, kita membiarkan keluarga Allah lainnya terbuka untuk menolong. Kadang kita berpikir bahwa kesusahan terjadi, yang mungkin disebabkan oleh dosa dan kebodohan kita sendiri, membuat Allah tidak peduli. Itu jalan pikiran yang salah. Ketika kita datang kepada-Nya untuk bertobat, Dia akan mengangkat semua beban yang kita pikul. Ia tidak berencana menghancurkan kita, namun membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Biarkanlah Allah dengan tangan-Nya yang kuat menyelesaikan kekhawatirandan kecemasan kita, bukan bersikap pasif. Jangan menyerah kepada keadaan, tetapi membiarkan Allah mengendalikan situasi yang ada. Segala ketakutan, kekhawatiran, dan keprihatinan harus diserahkan sepenuhnya kepada-Nya (bd. Mzm. 37:5; 55:23; Mat. 6:25-34). Ia menjaga dan memelihara anak-anak-Nya, berharga di mata Tuhan mereka yang dikasihi-Nya (Mzm. 116:15; 1Kor. 7:32). Mereka yang rendah hati akan lebih tenang dan bijak sehingga lebih mudah dalam menyelesaikan masalah. Orang-orang yang demikian inilah yang sepenuhnya dipelihara Allah dalam hidupnya (Ayb. 5:11; Yak. 4:6, 10).
Ketiga: Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis (1Pet. 5:8-9)
Kewaspadaan adalah sikap hidup. Itu berangkat dari kesadaran terhadap hakekat diri sendiri dan adanya ancaman yang menanti. Orang yang tidak peduli dengan dirinya sangat mudah jatuh, baik secara fisik maupun secara rohani. Tubuh yang tidak sehat dan sigap akan mudah terjatuh dalam setiap gerakan, demikian pula jiwa dan roh yang tidak kuat akan mudah tergoda oleh si jahat. Seekor singa biasanya mengincar dan siap memangsa hewan yang lemah, masih muda, atau suka lepas keluyuran. Mereka memilih menerkam korban yang posisinya lemah, tidak waspada dan dianggap sebagai makanan empuk. Rasul Petrus melalui nas ini mengingatkan kita akan tipu muslihat setan ketika kita lemah dalam penderitaan atau dianiaya. Jika kita merasa sendiri, lemah, tanpa pertolongan, dan terputus dari orang percaya lainnya, atau kita terlalu fokus pada kesulitan diri kita sendiri dengan melupakan bahaya yang mengancam, maka pada saat itulah sebenarnya kita sangat rentan bagi serangan setan.
Ketika kita dalam penderitaan atau pergumulan sehari-hari, kewaspadaan akan melemah. Akibat kita merasa sendiri, terasing, dan tidak mungkin lagi mendapatkan pertolongan Allah maka kita kehilangan persekutuan dengan-Nya. Ini jelas sangat berbahaya. Terlebih lagi, bila kita juga semakin menjauhkan diri dari persekutuan-persekutuan dengan sesama, yang seharusnya berfungsi untuk saling menasihati dan menguatkan (Ef. 4:2; 1Tes. 5:11). Oleh karena itu pada saat terjadi penderitaan, berusahalah mencari teman orang percaya untuk mendapatkan dukungan. Iblis sebagai penguasa dunia dengan pasukan roh jahatnya selalu berjalan berkeliling bagaikan singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (band. Mzm. 22:14; Yeh. 22:25). Siapa yang lemah maka akan diterkam dan dijerat dalam belenggunya. Melalui persekutuan dengan orang percaya, kita akan dikuatkan dan Roh Allah akan bekerja memulihkan.
Iblis ingin kita meragukan janji Tuhan, menyangkal dan menjauh dari-Nya. Iblis sebagai pendakwa dan pembohong menyembunyikan kebenaran yang asli bahwa Allah sebenarnya tetap mengasihi kita. Tetapi mustahil untuk kita bisa melawan dengan kekuatan diri sendiri. Roh dan jiwa manusia tidak akan mampu melawan tipu daya iblis sebagai penguasa dunia (Yoh. 14:30; 1Yoh. 5:19), sehingga perlu kekuatan dan kuasa lain untuk melawannya. Untuk itulah kita tetap perlu memandang Kristus dalam menolak iblis. Di sini perlunya iman yang teguh, yang tidak mudah goyah oleh godaan dan cobaan seketika. Sebab dengan Roh Kudus "yang ada di dalam kamu lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia" (1Yoh. 4:4), maka Iblis akan dikalahkan. Sesuai dengan firman Tuhan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:11-12). Rasul Petrus sendiri membuktikan itu, meski pernah menyangkal Yesus tiga kali saat Yesus hendak diadili, namun akhirnya Petrus menjadi martir yang teguh dengan mati disalibkan posisi terbalik sesuai dengan keyakinan tradisi gereja. Dengan iman seperti itu, maka seperti kata Rasul Petrus, iblis akan lari darimu dan kita akan menjadi pemenang. Tunduk kepada Allah, sadar dan berjaga-jaga, karena iman teguh yang dilengkapi senjata Allah adalah kunci kepada kemenangan (band. Yak. 4:7).
Keempat: Ia melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan (ayat 10-11)
Tidak dapat disangkal bahwa keberadaan Allah itu nyata. Ia adalah Allah yang hidup dan bukan Allah yang diam berpangku tangan apalagi Allah yang sudah mati sesuai pandangan Nietzsche. Allah sebagai Roh Hidup merupakan sumber segala sesuatu. Dalam kitab Roma dikatakan bahwa Allah adalah sumber ketekunan dan penghiburan (Rm. 15:5), sumber pengharapan (Rm. 15:33), dan terutama Allah sebagai "sumber damai sejahtera, dan berkuasa menghancurkan Iblis di bawah kakimu” (Rm. 16:20). Maka, dalam nas ini dinyatakan bahwa Allah adalah sumber kasih karunia sebagai penguatan dari penyataan Rasul Paulus dalam kitab Roma tadi. Kita “yang dipanggil dalam kemuliaan-Nya yang kekal akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Artinya, ketika kita menderita sesaat, maka Allah akan memberikan dukungan kuat dari awal hingga kita menerima kemuliaan itu kelak dari-Nya.
William Barclay menjelaskan dalam bukunya tentang semua istilah itu, sebagai berikut:
- Melengkapi, dalam hal ini dimaksudkan sebagai memperbaiki, dalam arti ketika kita melewati penderitaan, ada perubahan sikap hidup dan paradigma terhadap penderitaan itu sendiri. Ketika penderitaan diterima dengan rendah hati, kepercayaan dan kasih, maka itu dapat memperbaiki kelemahan sifat seseorang dan menambahkan kepadanya suatu kebesaran hati yang tidak ditemui sebelumnya.
- Meneguhkan, yang artinya menjadikan keras seperti granit. Penderitaan tubuh dan kesedihan hati yang diterima terus menerus dengan dasar kepercayaan kepada Kristus, tidak membuatnya putus asa, melainkan seperti baja keras yang ditempa di dalam api.
- Menguatkan, artinya memenuhi dengan kekuatan. Arti iman yang sebenarnya sungguh-sungguh diketahui setelah seseorang mengalami ujian dalam berbagai penderitaan. Angin yang besar dapat memadamkan api yang kecil, tetapi itu akan membesarkan nyala api di dalam kobaran api yang lebih besar.
- Mengokohkan, artinya meletakkan pondasi-pondasi. Setelah kita melalui penderitaan hingga iman yang paling bawah, dari situ kita menemukan hal-hal yang tidak dapat digoyahkan. Ada perubahan drastis menjadi kestabilan dan kematangan jiwa dan rohani.
Memang ketika kita dalam penderitaan, mungkin merasa bahwa penderitaan itu tidak berakhir. Waktu sesaat seolah panjang, lama tidak berujung. Tetapi Rasul Petrus dalam hal ini memberikan kepada orang Kristen yang beriman teguh dalam perspektif yang lebih luas. Dalam perbandingan dengan kekekalan, penderitaan kita di dunia ini hanya sesaat, sebentar saja dibandingkan dengan kekekalan sepanjang masa. Beberapa pembaca surat Petrus akan dikuatkan dan hidup mereka dipakai Tuhan. Sebagian akan dibebaskan dari penderitaan melalui kematian. Tuhan mengetahui dan mengizinkan semuanya dalam perjalanan hidup anak-anak-Nya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Yang pasti, semua pengikut Tuhan Yesus yang setia dijamin memperoleh hidup yang kekal bersama Kristus dengan tidak ada lagi penderitaan (Why. 21:4). Semua itu terjadi sebab Ia yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
Penutup
Penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh umat percaya tidak seharusnya membuat iman orang Kristen jatuh sampai ke titik nadir dan terperosok ke penyangkalan pertolongan Tuhan. Penderitaan justru dilihat sebagai jalan untuk semakin dekat dan bergantung kepada-Nya, menguatkan komitmen, seperti dikatakan firman minggu ini: berbahagialah dalam penderitaan untuk Kristus. Kita tidak perlu takut dan khawatir perihal yang terjadi dalam kehidupan termasuk dalam pelayanan, justru serahkanlah segala kekhawatiranyang ada kepada-Nya, sebab Ia adalah Allah yang peduli dan setia memelihara anak-anak-Nya. Yang penting, kita tetap melayani dengan penuh kasih dan pengabdian, dan dalam menghadapi tantangan iman kita diminta selalu sadar, waspada dan berjaga-jaga. Iblis si jahat akan selalu berkeliling menggoda, mengaum, dan menipu untuk kita beralih dari Tuhan, yang membuat kita menjadi orang yang kalah dan mudah ditelan. Karena itu, lawanlah si Iblis dengan senjata-senjata rohani yang berdasarkan iman kepada Dia, sebab Ia akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita dalam setiap langkah kehidupan yang berkenan kepada-Nya
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati dan melindungi kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026
Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026 – Opsi 3
MEMULIHKAN KEADAAN (Kis. 1:6–14)
"Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6)
Salam dalam kasih Kristus.
Saat beribadah di gereja atau persekutuan, dalam doa syafaat kita sering memohon kepada Tuhan Yesus agar memulihkan keadaan bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang besar dan maju, kemiskinan lenyap, serta rakyat makmur dan sejahtera. Biasanya doa dilanjutkan dengan permohonan agar Presiden dan seluruh jajarannya diberikan hikmat. Ya, kita belum puas melihat kenyataan bahwa masih banyak yang harus dikerjakan.
Keinginan untuk memulihkan keadaan dan menantikan sebuah perubahan sering diharapkan oleh kita secara pribadi, kelompok, maupun bangsa. Tantangan dan masalah selalu ada, kadang tidak terperihkan sehingga memicu rasa khawatir, takut, bahkan menghilangkan semangat.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kis. 1:6–14, kisah terangkatnya Tuhan Yesus ke surga. Para murid masih berharap Tuhan Yesus melakukan hal besar lainnya, yaitu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Wajar, manusia akan mengadu kepada yang mampu memberi kuasa, seperti para murid yang telah melihat kuasa Yesus.
Alkitab menjelaskan ada empat tingkatan kuasa atau otoritas. Allah Bapa memiliki otoritas tertinggi, kemudian otoritas Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Otoritas Yesus lebih kepada unsur kerajaan dan penghakiman, sebagaimana Ia menyampaikan pesan langsung melalui murid dan para penulis kitab PB.
Menjawab pengharapan para murid tentang pemulihan, sebelum terangkat Tuhan Yesus berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (ay. 8). Artinya, Yesus tidak datang membangun kerajaan dunia, tetapi kerajaan rohani. Urusan kerajaan dunia dipercayakan kepada para murid, dengan berbekal kuasa Roh Kudus.
Maka kini kita memahami adanya otoritas rasuli yang diberikan kepada gereja (majelis) dan otoritas murid bagi orang percaya. Oleh karena itu, apabila kita mengharapkan pemulihan dan perubahan, semua itu mesti dimulai dari diri kita sendiri dan dari gereja sebagai mitra-Nya.
Kita mengingat pidato Kennedy tahun 1961: “And so, my fellow Americans: ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country.” Jika menginginkan perubahan atau pemulihan apa pun, jangan bertanya apa yang orang lain dapat lakukan untuk negeri ini, tetapi tanyakan terlebih dahulu apa yang dapat kita lakukan.
Jangan takut membuat perubahan. Paul Kix dalam bukunya You Have to be Prepared to Die Before You Can Begin to Live menuliskan lima hal yang perlu kita ketahui:
- Bersandarlah pada kerentananmu.
- Keberanian tidak wajib dalam hidup.
- Rencana besar tidak selalu menjadi rencana akhir.
- Penderitaan itu abadi, tetapi menjadi korban adalah pilihan.
- Kendalikan hal yang kita mampu dan perhatikanlah pengaruh yang bertumbuh.
Perjalanan panjang memulihkan keadaan dimulai dari langkah kecil. Setelah itu, pertolongan dan sinergi akan datang, jalan akan terbuka, dan kita tetap perlu berdoa. Kita hanya perlu meneladani para murid sepeninggal Tuhan Yesus: “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama...” (ay. 14). Sebuah penantian yang berbuah, ketika para murid bersaksi dan keluar dari Yerusalem. Melalui doa dan langkah bersama dalam kuasa Roh Kudus, Injil dan Tuhan Yesus diberitakan ke seluruh dunia.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026
Khotbah Minggu VII Paskah 2026 – 17 Mei 2026 – Opsi 2
DOA IMAM BESAR (Yoh. 17:1-11)
Sering kita membaca tulisan TGIF, singkatan dari Thank God it's Friday. Bersyukur, hari Jumat tiba, hari menjelang kelegaan, karena bagi pekerja, esoknya libur akhir pekan. Cuplikan puisi Ramadhan KH yang sangat menggetarkan, juga dituliskan:
Tiadalah kebahagiaan sebesar
Kebahagiaan selesai kerja
Betul, kebahagiaan yang paling nikmat adalah selesai kerja, terlebih tugas yang menjadi bagian kita, selesai tuntas. Sungguh mengesalkan, apabila tugas yang diberikan, tidak selesai.
Firman Tuhan yang diberikan kepada kita di hari Minggu ini, adalah Doa Tuhan Yesus, pada Yoh. 17:1-11. Ia berdoa sebelum ditangkap, diadili, dan dibunuh di kayu salib. Ia merasakan misi-Nya mendekati akhir, dan akan kembali ke Bapa yang mengutus-Nya (ayat 1). Ia menengadah ke langit dan berkata: “Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya” (ayat 7-8a).
Dalam doa Imam Besar kita di bagian pertama (ayat 1-5), Tuhan Yesus meminta kepada Bapa-Nya, agar semua rencana dalam diri-Nya digenapi. “Permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" (ayat 5). Yesus ingin pergi dengan cara yang tidak terbayangkan oleh para murid-Nya, kembali ke asal-Nya, terangkat naik ke sorga. Kuasa atas segala yang hidup, yang telah diberikan kepada Yesus, untuk memberikan hidup yang kekal. Itu semakin meneguhkan dan mengokohkan bagi para murid dan semua orang yang percaya kepada-Nya (ayat 2). Allah Bapa menggenapkannya. Kemanusiaan dan ke-Allah-an Yesus, tampak dalam doa ini. Demikian pula hubungan yang erat dan unik antara Putra dan Bapa.
Dalam doa bagian kedua (ayat 6-11), Tuhan Yesus meminta kepada Bapa bagi para murid-Nya. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu.... Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu....” (ayat 9-11a). Sebuah ekspresi kasih yang besar tidak terputus, dari Tuhan Yesus kepada kita, bagi yang setia mengikut DIA.
Roda kehidupan berputar. Selalu ada sebuah awal, perhentian, dan ada akhir. Kita pun seyogianya melihatnya demikian. Kita ada dan lahir bukanlah sebuah kebetulan, apalagi menganggapnya sebuah tragedi. Hidup adalah berkat, dan hidup adalah kesempatan. Hidup kekal ada dalam pengenalan sejati yang selalu berjalan bersama Allah (ayat 3).
Oleh karena itu, menghadapi situasi saat ini, atau terhadap apa pun juga, tidak perlu takut dan khawatir. Kita ada dalam doa dan genggaman kasih pemeliharaan Tuhan Yesus. Cari dan temukan rencana Allah dalam hidup kita, serta selesaikan tuntas: di dalam keluarga, gereja, kumpulan dan masyarakat. Dalam situasi apa pun, tetaplah fokus pada misi itu.
Kitab Wahyu menuliskan, "Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya" (Why. 3:21).
Ramadhan KH dalam lanjutan puisinya menuliskan:
Tiadalah kelapangan sebesar
Kelapangan kemenangan....
Marilah kita menjadi orang-orang yang menang, yang menyelesaikan misi Tuhan dalam diri kita. Upaya teruslah dilakukan, agar kita menjadi berkat dan pemenang. Berusahalah bukan menjadi rintangan, apalagi "pecundang", penonton, terlebih menjadi duri bagi sesama. Allah penuh kasih tetapi juga dapat murka.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati dan melindungi kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026
YESUS ADALAH PENGGENAPAN PERJANJIAN LAMA (Luk. 24:44-53)
Bacaan lainnya menurut Leksionari: Kis. 1:1-11; Mzm. 47; Ef. 1:15-23
Pendahuluan
Pada hari ini kita memperingati peristiwa besar dalam kehidupan orang Kristen, yakni naiknya Tuhan Yesus ke sorga. Alkitab menceritakan bahwa saat naiknya Tuhan kita itu, ada banyak orang yang melihat dengan kasat mata bagaimana Yesus terangkat ke sorga yang merupakan kejadian luar biasa. Kesaksian itulah yang mereka tuliskan dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan kita saat ini. Sebelum terangkat, Yesus memberi pesan-pesan penting yang sebagian kita baca sebagai nats renungan minggu ini. Dari bacaan itu kita mendapatkan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama: Penggenapan firman dalam perjanjian lama (ayat 44-45)
Tuhan Yesus mengatakan semua yang ada tertulis tentang Dia dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur harus digenapi. Artinya, apa yang ditulis dalam kitab Perjanjian Lama (PL) yang pada saat itu sudah dikanonkan (dibukukan) digenapi di dalam Tuhan Yesus Kristus. Yesus hadir dalam kitab-kitab PL itu. Hal itu terlihat dalam nubuatan di PL tentang Tuhan Yesus, seperti kedatangan-Nya sebagai nabi (Ul. 18:15-19), penderitaan-Nya (Mzm. 22; Yes. 53), dan tentang kebangkitan-Nya (Mzm. 16:9-11; Yes. 53:10,11). Oleh karena itu, ketika kita membaca kitab PL, sebenarnya kita harus membaca dan mengerti dengan mata dan pikiran yang tertuju kepada Tuhan Yesus.
Pernyataan yang ditulis dalam 44 ini (dan ayat 43 sebelumnya) diduga tidak berupa kejadian yang berlangsung dalam sesaat, melainkan dalam beberapa hari, sebab Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya terlebih dahulu pergi ke Galilea dan kembali lagi sebelum Ia naik ke sorga (Mat. 28:16; Yoh. 21). Dalam kebersamaan dan percakapan itulah para murid lebih memahami apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri Tuhan Yesus dan keberadaan-Nya dalam kaitannya dengan Perjanjian Lama, dan juga tentang maksud kedatangan-Nya ke dunia yang kemudian dituliskan dalam Perjanjian Baru (PB). Kitab PB ditulis oleh murid-murid yang rela memberikan nyawanya bagi kebenaran yang diajarkan oleh Yesus. Mereka tentu tidak akan mau mengambil resiko untuk menulis tentang Yesus jikalau mereka tidak yakin akan kebenaran dan ke-Allah-an Tuhan Yesus (band. 1Kor. 15:12-19).
Demikian juga dengan kita. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus akan membuat kita semakin memahami apa yang telah dilakukan-Nya dalam hidup kita dan kemudian tentang rencana Allah dalam hidup kita ke depan. Pembacaan firman dan kebersamaan dengan Tuhan Yesus melalui firman-Nya yang sepintas lalu dan terpotong-potong, akan menyulitkan dalam memahami maksud dan rencana kebaikan-Nya dalam hidup kita. Sebab, untuk memperoleh pikiran yang terbuka dan pengertian Kitab Suci, itu hanya terjadi kalau beroleh pertolongan dari Allah belaka. Itulah mengapa kita harus memohon pertolongan Roh Kudus bila ingin membaca dan mengerti Firman Tuhan. Roh Kudus bekerja bagi kita hanya bila kita bertekun dan berkesinambungan untuk membuka semua itu (2Kor. 3:14-16). Pertanyaannya adalah: apakah kita pernah mengalami kesulitan dalam memahami firman Tuhan dalam kaitannya dengan hidup kita? Bagaimana kerasnya usaha kita untuk bisa memahaminya, baik melalui bertanya kepada hamba Tuhan, membaca buku-buku, dan berdoa agar Roh Kudus membuka tabir pemahaman itu, sehingga kita dapat bersuka cita karena tersibaknya dan memahami rencana Allah yang indah dalam hidup kita.
Kedua: Penderitaan dan pengampunan harus diberitakan (ayat 46-48)
Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita sebagai murid dan pengikut-Nya haruslah menjadi saksi. Nubuatan dalam Perjanjian Lama dan tulisan para murid dalam Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang penderitaan Tuhan Yesus untuk penebusan dan pengampunan dosa-dosa kita. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa pengampunan dosa harus dilakukan dengan membawa korban penghapus dosa atau penghapus salah. Darah hewan yang dibawa oleh umat Yahudi sebagai persembahan korban penebusan dosa kemudian dipercikkan sebagai tanda dosa mereka telah diampuni. Tetapi kini kita tidak perlu melakukan hal itu, sebab melalui penderitaan-Nya yang berat darah Yesus telah tercurah dan terpercik sebagai jalan penebusan dan pengampunan atas dosa-dosa kita. Ia telah menggantikan kita dengan membayar lunas semua hutang-hutang dosa kita.
Ini adalah sebuah revolusi cara berpikir dan tindakan tentang pengampunan. Tuhan Yesus mengatakan semua itu melalui murid-Nya untuk mereka yang berbahasa Yunani. Yesus menginginkan bahwa pesan itu tidak dibawa kepada bangsa Yahudi saja, tetapi kepada seluruh dunia, bahwa penebusan dan pengampunan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu berlaku bagi semua orang. Tidak hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga otang Yunani dan semua bangsa. Allah menginginkan semua orang bertobat, berhenti dan berbalik dari jalan yang salah, dan menjadi murid-Nya sehingga dapat bersekutu dengan Dia dalam sukacita yang baru.
Para murid tidak boleh memberitakan pengampunan dosa tanpa tuntutan pertobatan. Ini sangat penting. Pengampunan hanya ada kalau didahului pertobatan dan meninggalkan cara hidup yang lama. Pengkhotbah yang menawarkan keselamatan atas dasar iman yang gampang, atau menawarkan keselamatan tanpa adanya suatu penyerahan diri untuk taat kepada Kristus dan Firman-Nya, itu adalah pemberitaan injil yang palsu. Pertobatan meminta agar kita meninggalkan dosa; ini selalu merupakan unsur yang penting.
Penebusan dan pengorbanan itu juga sekaligus membawa persekutuan dan damai sejahtera yang baru. Tidak ada lagi kecurigaan dan hasutan. Tidak perlu ada lagi kekerasan dan pemaksaan agar orang perlu bertobat. Beritakan saja penderitaan Tuhan Yesus itu dan tawarkan pengampunan yang diberikan-Nya. Terus dukung dalam doa. Biarlah Roh Kudus yang bekerja apakah mereka terpanggil atau mau membuka diri untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, dalam kehidupan kini dan kelak nanti. Semua orang hanya perlu tahu, tidak ada yang lebih besar di dunia ini dari anugerah diampuninya dosa-dosa kita dan diangkat menjadi anak-anak-Nya, serta akan hidup kekal bersama dengan Dia dalam berkat damai sejahtera sorgawi.
Ketiga: Menantikan Roh Kudus dengan setia (ayat 49, 53)
Tubuh Yesus telah terangkat dan para murid melihatnya dengan jelas. Ada dua sikap yang muncul saat itu, yakni ketidak jelasan akan apa yang terjadi dan pengharapan yang kuat akan janji Tuhan. Yesus mengatakan bahwa Penolong itu akan datang, tetapi tidak ada gambaran kapan, bagaimana, dan dimana akan datangnya. Tetapi akhinya para murid percaya janji Tuhan dan mengikuti perintah-Nya dengan memilih tinggal di kota itu untuk menantikan diperlengkapinya mereka dengan kuasa dari tempat tinggi (ayat 49; band. Yoel 2:28). Apa yang dijanjikan Bapa yakni agar "diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi", tentu menunjuk kepada pencurahan Roh Kudus yang dimulai pada hari Pentakosta. Para murid bertekun dalam doa sementara mereka menunggu penggenapan janji itu (Kis. 1:14).
Kepergian Tuhan Yesus ke sorga juga dapat dilihat merupakan perubahan cara berfikir orang Yunani, yang lebih mementingkan aspek spritual dan tidak memahami makna spiritual dari dunia realitas ini. Bagi mereka orang Yunani, hal spiritual lebih penting dan utama dari pada segala aspek fisik dan tubuh. Tetapi apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yakni menjadi manusia dengan tubuh sejati dan sekaligus Allah sejati, merupakan penjungkir balikan atas pemahaman itu.
Ia pergi dan pekerjaan penyelamatan Yesus telah selesai dan kini Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa dengan penuh kuasa atas bumi dan sorga untuk menjadi hakim bagi semua orang. Bagi kita yang utama adalah seberapa besar usaha kita dalam penantian kuasa pertolongan Tuhan Yesus dalam realitas keseharian kita. Sebagai manusia biasa, kita pasti ada pergumulan dan kerinduan. Di sinilah pentingnya penantian itu sebagai wujud kesetian kita kepada-Nya. Dalam penantian itu tentu kita tidak diam berpangku atau berlipat tangan, melainkan berupaya untuk terus menerus lebih baik dan lebih berkarya bagi Dia. Untuk bisa mengetahui apakah kita sudah maksimal dalam upaya penantian dan pencarian itu, maka hidup Yesus merupakan keteladanan yang layak untuk diikuti.
Keempat: Menyembah Dia dan terus bersukacita (ayat 50-52)
Ketika Yesus naik ke sorga, tubuh-Nya adalah tubuh immortal yakni tubuh kemuliaan. Tubuh itu bisa kelihatan dan bisa tidak kelihatan. Hal yang membuat kita bersuka cita adalah Tuhan Yesus mengatakan tubuh kita saat dibangkitkan nanti dari kematian akan sama dengan tubuh kemuliaan itu (1Kor. 15:42-50). Ini memberikan gambaran bahwa nantinya ada saat tubuh kita itu bisa tampak secara kasat mata, tetapi ada kalanya tubuh kita itu nantinya tidak perlu tampak nyata, sebagaimana tubuh Tuhan Yesus ketika berbicara dengan dua murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13-33).
Peristiwa kenaikan itu mungkin "mengherankan" dalam arti bagaimana tubuh Yesus itu terangkat naik ke sorga dan hilang dibalik awan. Janji Yesus, begitu jugalah Dia akan datang ketika saatnya nanti kita juga diangkat ke sorga bersama-sama dengan Dia. Yohanes Calvin pernah berkata, pengertian sorga janganlah diasosiasikan dengan sebuah tempat, melainkan lebih kepada suatu “keadaan”, yakni situasi yang penuh kedamaian, keindahan dan kesejahteraan. Tuhan Yesus tidak lagi bersama-sama dengan para murid dan juga kita dalam pengertian fisik, tetapi "keberadaan-Nya" dalam keadaan yang baru itu lebih memungkinkan kita semua untuk dapat bersama-sama dengan Dia. Yesus hadir dan berada "di sini dan di sana" dan dengan sabar dan setia menantikan seruan dan permohonan kita.
Hal yang penting saat ini adalah bagaimana kita mampu menjadi saksi yang baik bagi Kristus. Yesus telah menjawab dengan tidak tergoyahkan atas keraguan kita, bahwa Ia telah mengampuni dosa bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Waktu kita sangat terbatas, namun kalau memiliki keinginan dan motivasi, Roh Kudus akan memampukan kita untuk menjadi saksi dan memaksimalkan akar dan motivasi kita itu. Untuk itu kita layak untuk terus menyembah Dia dan terus ada dalam sukacita karena Ia akan memampukan perjuangan kita.
Kesimpulan
Dalam memperingati hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini, melalui pembacaan dan perenungan nats yang diberikan, kita mendapatkan gambaran bahwa Yesus adalah penggenapan dari kitab Perjanjian Lama. Kita harus membaca kitab PL itu dengan pikiran yang tertuju pada Yesus Kristus. Nubuatan akan Dia ada di sana dan itu digenapkan dengan penderitaan-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Ini yang harus diberitakan dan sekaligus kita dalam penantian akan kuasa pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita sebagai saksi dan berkat bagi orang lain. Dalam penantian itu kita terus memuji dan menyembah-Nya sambil tetap bersuka cita akan anugerah yang sudah diberikan-Nya.
Selamat beribadah dan merayakan kenaikan-Nya ke surga.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 HIDUP...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 - Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 - Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 47 guests and no members online
