2026
2026
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026
Baptisan Tuhan Yesus
YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN DARI SEMUA ORANG (Kis. 10:34-43)
Bacaan lainnya: Yes. 42:1-9; Mzm. 29; Mat. 3:13-17
Pendahuluan
Kisah yang ditulis Lukas ini menceritakan permulaan perluasan gereja ke wilayah Yudea dan Samaria, yang pemicunya oleh penganiayaan yang muncul termasuk Stefanus dibunuh. Perluasan ini terjadi bukan karena visi dan rencana gereja, tetapi karena pengaturan Allah dalam memperluas orang-orang percaya. Nas minggu ini berupa pelayanan Petrus dalam bersaksi tentang Tuhan Yesus. Ia berkhotbah kepada orang-orang percaya yang sudah tersebar, termasuk hal pertama pemberitaan Injil kepada orang bukan Yahudi. Khotbah Petrus merupakan respon atas pertanyaan Kornelius, seorang kafir yang merasa perlu menjadi orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan, padahal keselamatan ada di dalam Yesus Kristus. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Allah tidak membedakan orang (ayat 34-35)
Hal yang paling menyulitkan pada masa awal gereja untuk pekabaran Injil adalah adanya konflik antara orang Yahudi dengan orang non-Yahudi. Pengikut awal Yesus umumnya orang Yahudi yang dalam pemikiran mereka kabar baik itu hanyalah bagi orang Yahudi saja. Bagi mereka, hal yang akan mengecilkan bilamana mengajak bangsa-bangsa lain menerima kabar baik itu. Bagi mereka, bangsa lain adalah najis di hadapan Allah. Mereka tetap berpikir bangsa Yahudi memiliki hak istimewa dan hanya mereka saja umat pilihan Allah. Oleh karena itu, para murid dan rasul tidak menunjukkan tanda-tanda adanya maksud untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia sebagaimana perintah Agung sebelum Yesus naik ke sorga (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8), sehingga mereka lebih tetap tinggal di Yerusalem sambil bersaksi kepada orang-orang Yahudi saja. Meski dikisahkan dalam Alkitab bahwa Allah menunjuk Petrus untuk mengabarkan kepada orang Romawi, namun akhirnya ia juga berpikir ulang tentang hal itu (band. Gal. 2:11-14). Petrus melakukan penginjilan, tapi perasaannya lebih kepada Yahudi saja.
Namun Allah menetapkan bahwa kabar baik itu bagi seluruh bangsa. Allah menciptakan semua suku bangsa sebagai manusia yang setara dan tidak membedakan status dan warna kulit, kelahiran, atau status (band. Yak 2:1). Semua manusia telah berdosa sehingga semua harus diselamatkan. Kita harus menghilangkan seluruh hambatan yang mungkin terjadi, seperti bahasa, budaya, wilayah geografis, tingkat pendidikan dan kekayaan, hambatan fisik dan lainnya untuk maksud Tuhan itu. Diskriminasi ras adalah dosa yang jahat, dosa yang menghina gambaran Allah, dosa yang menegakkan kesombongan dan meninggikan diri sendiri. Pandangan atau tradisi yang bertentangan dengan prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dengan kebenaran firman Tuhan. Kita telah melihat kejahatan perbudakan, perlakuan rasis terhadap umat Yahudi di zaman Hitler, bahkan kita sudah merasakan kejahatan apartheid di Afrika. Perjuangan Mandela adalah perjuangan Tuhan Yesus. Allah tidak membedakan kasih-Nya kepada siapa pun bagi seluruh umat ciptaan-Nya.
Kita tidak dapat menghakimi mereka yang mempercayai sesuatu yang berbeda. Akan tetapi jelas kita tidak percaya pada penyembahan berhala (1Pet. 4:3), baik dalam bentuk tradisional maupun bentuk yang modern, seperti berhala pada pikiran manusia, berhala pada energi, harta kekayaan dan pendidikan, dan lainnya. Allah adalah Pengatur segala ciptaan dan berkenan kepada mereka yang rindu mencari-Nya dan bertobat, berbalik dari jalan yang jahat dan takut kepada-Nya dan berusaha hidup dengan benar di hadapan Allah (band. Rm. 2:6-11; Yoh. 15:10). Setiap bangsa yang rindu dan mencari Allah yang benar pada dasarnya siap menerima kabar baik tentang Yesus. Untuk itu perlu seseorang melakukan hal itu, sebab mencari Tuhan tidaklah cukup, tapi harus menemukannya. Bagaimana mungkin seseorang menemukan Tuhan kalau tidak ada yang menunjukkan jalannya? Allah meminta kita semua untuk menunjukkan jalan itu kepada mereka (Rm 10:14-15). Untuk itulah kita dipanggil-Nya menjadi umat dan utusan-Nya.
Kedua: Damai sejahtera dan berkeliling berbuat baik (ayat 36-38)
Pokok yang disampaikan Petrus dalam nas ini merupakan khotbah yang penuh kuasa dan mengandung pernyataan yang jelas tentang Injil. Kehidupan sempurna Yesus dan pelayanan-Nya, kematian-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya, yang seluruhnya itu disaksikan secara pribadi oleh Petrus. Petrus mengkhotbahkan perbuatan kasih-Nya, tindakan damai sejahtera-Nya. Ia melihat Yesus menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang dari kematian. Yesus baginya adalah penggenapan Taurat. Ia menyadari kuasa yang mengutus Yesus adalah kuasa dari Allah yang demikian besar. Kuasa itu tidak akan mengalahkan segala halangan, ancaman, penderitaan dan bahkan kematian sekalipun. Yesus melakukan penyembuhan bagi penyakit sebab tujuannya adalah menghilangkan rasa sakit dan penderitaan dari dunia ini. Yesus bertindak nyata dengan mengamalkan kebenaran yang dikatakan-Nya.
Adalah salah kalau kita berpikir Allah kita adalah Allah yang pemarah atau pendendam. Itu cara pandang umat Yahudi yang ketika datang kepada Allah harus dengan perantara dan penuh perasaan takut, dan mencoba "menebus" kesalahannya dengan berbagai hewan atau korban persembahan lainnya. Ia adalah Allah yang Mahakasih. Allah berkenan kepada semua orang ciptaan-Nya yang mengamalkan kebenaran. Kasih Allah telah dinyatakan melalui Yesus yang sudah menjadi manusia. Yesus telah menyampaikan seluruh pesan dari Allah dan pesan itu dalam firman yang memberitakan damai sejahtera di dalam Tuhan Yesus, Tuhan dari semua orang. Meski firman itu disampaikan kepada orang-orang Israel terlebih dahulu, tetapi firman itu adalah untuk semua, sebab Yesus datang untuk semua orang.
Manusia memang selalu lebih mudah merasakan pada akibat yang terjadi, dan agak sulit mencerna sebab-sebabnya. Manusia dengan cepat merasakan sakit ketika terjatuh kecelakaan, tanpa mau berpikir susah tentang mengapa ia terjatuh dan apa yang harus dilakukannya setelah terjatuh sehingga tidak masuk lobang kedua kalinya. Mengetahui sebab-sebabnya sangat membantu kita memahami hal yang terjadi dan makna dari semua kejadian yang kita alami. Demikian juga dengan Allah menjadi manusia. Kita mendengar kisah Yesus dan hal yang dilakukan-Nya. Yesus harus disalibkan padahal tidak bersalah dan tidak layak untuk itu. Tapi itulah kekejaman manusia. Hanya dengan memahami mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati tersalib, maka kita dapat memahami bagaimana kita dapat ditebus oleh-Nya. Dengan mengakui kasih-Nya, damai sejahtera-Nya, maka kita juga perlu untuk berbagi kasih dan damai sejahtera itu kepada semua orang, yakni dengan berbuat kebaikan.
Ketiga: Menjadi saksi dan kesaksian (ayat 39-41)
Agama Kristen adalah agama yang berdasarkan sejarah yang jelas. Injil dan Kitab Suci bukan dongeng atau mistik, dan bukan pula dimaksudkan sebagai Yesus Sejarah dalam arti demithologisasi (menghilangkan hal-hal yang tidak rasional seperti mukjizat). Injil berisikan fakta-fakta tentang perjalanan hidup Yesus, kematian dan kebangkitannya. Para murid yang merupakan orang-orang pilihan Allah mengalami berbagai peristiwa nyata selama empat puluh hari bersama Yesus setelah kebangkitan-Nya, makan dan minum bersama, dan melihat dengan mata Ia naik ke sorga. Injil memberitakan karya Kristus, yang bukan pemikiran manusia, bukan gagasan-gagasan filosofis, meskipun hal yang diucapkan Yesus sebagian pemikiran filosofis.
Allah menetapkan para murid dan rasul melihat peristiwa kebangkitan-Nya dan Allah juga melalui Roh Kudus menetapkan mereka dapat bersaksi dengan menulis Injil dan surat-surat, agar kita menjadi percaya. Kesaksian dan khotbah Petrus dalam nas minggu ini menguatkan para pendengarnya dan inilah yang dituliskan oleh Lukas melalui Kisah Para Rasul ini. Kita pun yang membacanya, merenungkannya, merasakannya, dan mengalami pertemuan pribadi dengan Yesus melalui pertolongan Roh Kudus, mendapatkan inspirasi dari kisah itu, menghayati, dan kemudian percaya, menjadikan kita saksi yang bisa dipercaya. Semua itu menguatkan iman orang-orang yang mendengar dari kita. Kita yang dipanggil untuk menjadi saksi bagi-Nya adalah yang sudah menerima kasih karunia itu dan merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yesus bukan hanya seorang tokoh fiksi bagi kita, tokoh sebuah dongeng atau cerita. Bagi kita yang dipanggil, Yesus adalah Tokoh yang selalu hidup, guru, teladan, dan Pribadi yang terus menyertai. Para pendeta, pengkhotbah dan guru-guru sekolah minggu adalah mereka yang sudah merasakan itu dan mengalami perjumpaan hati dengan-Nya. Mereka yang bersaksi adalah yang dapat membayangkan penderitaan Yesus, dan mengakui bahwa Yesus mati untuk dia, dan telah memberi jalan hidup yang baru. Oleh karena itu, kita perlu untuk bersaksi sebagaimana murid-murid sudah bersaksi dan menuliskan kisah-Nya.
Iman timbul dari pendengaran (Rm. 10:14, 17) maupun dari penglihatan (Yoh. 20:27-29; band. 1Pet. 1:8). Iman yang sama dimiliki oleh para murid dan para rasul diharapkan dari kita, sehingga kita dapat bersaksi sama seperti mereka, dan semua itu hanya melalui pembacaan dan perenungan Injil dan perjumpaan hati kita dengan Yesus. Kita menjadi saksi melalui para rasul tentang Tuhan Yesus yang alami di bukit Golgota. Kita menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya. Memang kita tidak menyaksikan Ia bangkit dan makan minum bersama para murid, akan tetapi melalui kesaksian mereka itu dan kuasa Roh Kudus, kita dapat menyatakan yang sama dengan kesaksian mereka. Mereka telah dipilih Allah untuk bersaksi dan kita juga dipilih Allah untuk bersaksi bagi-Nya. Allah telah mengutus Yesus untuk menebus dosa semua orang yang hidup dan mati dan semua rasul menyatakannya demikian. Maka kita pun hendaklah mengatakan yang sama, bahwa mereka yang percaya pada-Nya akan menerima pengampunan.
Keempat: Hakim atas segala bangsa dan mendapat pengampunan (ayat 42-43)
Semua orang akan dihakimi dengan adil oleh Allah yang Mahakasih, tidak ada pengecualian. Pengadilan itu dilakukan dengan Yesus sebagai Hakim, sebab Ia telah menerima kuasa dari Allah Bapa (Yoh. 5:22). Agama lain juga mengakui peran sentral Yesus dalam penghakiman akhir zaman. Semua kecongkakan dan kesombongan akan dimusnahkan. Pada penghakiman, sebagian orang akan dihukum dan sebagian orang akan diberi upah, mereka yang ada dalam Kristus dan taat serta berkarya bagi-Nya. Penghakiman itu nyata dan pasti mendebarkan, sebab itu gambaran pengadilan dalam Why. 6:14-17 cukup mengerikan. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus Kristus ditinggikan dan sebagaimana disebutkan dalam ayat 36, Yesus adalah Tuhan dari semua orang. Ia berkuasa atas orang percaya dan orang yang tidak percaya atau tidak pernah mendengar akan Dia.
Injil berisi pemberitaan tentang penghakiman pada masa mendatang atas orang yang hidup dan yang mati. Pada akhir zaman pasti ada orang yang masih hidup dan banyak yang sudah mati. Alkitab berkata yang mati akan dibangkitkan untuk sama-sama menerima penghakiman (1Tes. 4:13-14). Akan tetapi oleh Yesus yang telah bangkit, pengampunan dosa diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia adalah Mesias atau Yang Diurapi yang sebenarnya dinantikan bangsa Israel, dan yang menjadi pembuka tabir bagi semua keselamatan bagi bangsa-bangsa. Dari Alkitab kita tahu bahwa Ia dapat mengalahkan iblis oleh karena itu Ia adalah Tuhan, Kurios atau Yehova. Manusia tidak dapat mengalahkan iblis dan tidak dapat pula menghapus dosa-dosanya, baik melalui usaha kebaikan atau persembahan. Nyawa Yesus itu mulia sehingga kita tidak hanya menghargai kematian-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya dengan perbuatan baik, melainkan juga ketaatan dan menyerahkan seluruh hidup kita bagi-Nya.
Penyerahan seluruh hidup inilah yang membangun hubungan spesial antara orang percaya dengan Yesus dan melahirkan sebuah persahabatan. Hubungan spesial ini jelas menjadi dasar pemulihan atas segala kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh seorang sahabat. Dalam kehidupan manusia, seorang sahabat pasti membela sahabatnya, apalagi Yesus adalah Sahabat Sejati. Ia juga Penasihat Ajaib sehingga mampu untuk membebaskan kita dari segala tuduhan. Ia tidak akan mempermalukan kita. Ini yang menjadi dasar dari pengampunan dan pembebasan kita dari segala penghukuman.
Penutup
Khotbah Petrus yang menjadi nas kita minggu ini merupakan undangan bagi semua orang untuk percaya kepada Yesus agar memperoleh pengampunan dosa. Allah tidak membeda-bedakan dan mengasihi semua orang bagi yang takut kepada-Nya dan melakukan hal yang benar. Mereka yang percaya kepada-Nya akan dipanggil untuk membawa damai sejahtera dari-Nya dan berkeliling membagikan kebaikan sebagaimana dilakukan Yesus. Dalam melakukan kebaikan itu kita juga bersaksi bahwa Ia adalah Juruselamat bagi semua orang. Kesaksian para rasul sama kuatnya dengan kesaksian kita, dan semua itu dimampukan karena pertolongan Roh Kudus yang menyertai kesaksian kita. Maka persoalannya kembali kepada kita, bagaimana kita meresponnya? Semoga kita siap dan ketika akhirnya tiba waktunya, semua orang akan dihakimi-Nya dan kita adalah umat yang dibebaskan-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026
Baptisan Tuhan Yesus – Opsi 2
SUARA TUHAN (Mzm. 29:1-11)
Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan! (Mzm. 29:1-2)
Firman Tuhan di Minggu pertama setelah Epifani, Mzm. 29, terdiri dari 11 ayat, dengan judul perikop: Kebesaran Allah dalam badai. Mazmur yang ditulis Raja Daud ini sangat khusus, yakni mengajak penghuni surga untuk memuliakan dan sujud kepada Tuhan.
Ada tujuh kali “Suara Tuhan” dituliskan dalam nas ini, dengan berbagai ekspresi gambaran betapa besarnya kuasa dan kemuliaan Tuhan (ayat 3-9). Ia berkuasa mengatur alam semesta, agar umat-Nya terlindungi dari badai dan musuh-musuh yang ada.
· Suara TUHAN di atas air;
· Suara TUHAN penuh kekuatan;
· Suara TUHAN penuh semarak;
· Suara TUHAN mematahkan pohon aras, ... membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon (Hermon, Ul. 3:9) seperti anak banteng;
· Suara TUHAN menyemburkan nyala api;
· Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar;
· Suara TUHAN membuat beranak rusa betina yang mengandung, bahkan, hutan digundulinya.... TUHAN bersemayam di atas air bah;
Melalui tujuh ungkapan suara itu, menjadi mudah bagi kita mengerti, bahwa Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya benar adalah Roh. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Yoh. 1:1). Roh Allah berfirman, bersabda, dan titah-Nya tidak ada yang bisa membantah (Rm. 9:20; Ay. 9:13-15).
Umat Israel percaya, mereka adalah anak-anak Allah, warga pilihan surgawi (Kej. 6:2; Ul. 14:1, 32:8; Kis 17:28; Rm. 9:4). Kita pun yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang dipersatukan melalui baptisan, dipanggil dan dipilih, kewargaan kita adalah di dalam surga (Flp. 3:20a). Maka kita pun diingatkan oleh pemazmur ini, keberadaan kita diciptakan agar tetap tergantung kepada-Nya, dan tetap memuji dan memuliakan Dia.
Saat ini, kita dalam badai pandemi Covid-19. Kiranya “Suara Tuhan” terus datang ke dalam hati kita, mengingatkan kuasa dan kebesaran-Nya, serta rencana perlindungan-Nya.
Hal kedua yang diminta nas minggu ini, agar kita sujud kepada TUHAN, dengan berhiaskan kekudusan (ayat 2b). Kekudusan hidup terus dijaga dengan rasa hormat, melalui proses yang berkesinambungan, dengan tekad pada pembaruan dan pengakuan, bahwa Allah di dalam TUHAN Yesus itu Mahakuasa, Raja yang bersemayam selama-lamanya, dan hidup kita diberi semata-mata untuk dipakai bagi kemuliaan nama-Nya (ayat 2a, 10).
Jika kita tanggap terhadap suara-Nya, pesan ketiga nas ini adalah: Tuhan akan menjauhkan badai Covid-19 dan “air bah dan padang gurun” dari hidup kita dalam menjalani tahun demi tahun ini. Ada jaminan pemeliharaan dalam janji-Nya di ayat 11: “TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!” Terpujilah TUHAN. Dan, tetaplah setia.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 4 Januari 2026
Kabar dari Bukit
IMAN YANG RESPONSIF DAN REFLEKTIF (Luk. 2:15-21)
”Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk. 2:17, TB2)
Hari Minggu ini masih disebut Minggu II setelah Natal, sebab belum masuk Minggu Epifani yang biasanya jatuh tanggal 6 Januari. Epifani yang berarti penampakan, diambil dari peristiwa para gembala menjumpai bayi Yesus. Dekatnya hari Natal dengan tahun baru juga memiliki sejarah yang panjang, terkait musim dan perubahan kalender dari sistem Julian ke sistem Gregorian oleh Paus Gregorius XIII di tahun 1582. Hal ini juga dipengaruhi tradisi Yahudi, yakni pada hari kedelapan (dari natal ke tahun baru) ada ritual rohani Brit Milah, yakni bayi laki-laki disunat dan diberi nama. Sesuai pesan malaikat sebelum dikandung ibu-Nya, Ia dinamai Yesus (Luk. 1:31; 2:21).
Firman Tuhan di Minggu II setelah Natal yang berbahagia ini adalah Luk. 2:15-21. Nas ini kelanjutan dari warta malaikat tentang kelahiran Yesus kepada para gembala (ayat 8-14), dan nas minggu ini merupakan respons terhadap berita tersebut.
Ada dua respon yang kita lihat. Pertama, para gembala langsung berkata: "Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana.... Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi yang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu...." (ay. 15-18). Tampak, para gembala langsung responsif, bertindak.
Berbeda dengan gembala, "Maria menyimpan semua hal itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (ay. 19). Ia lebih reflektip, mencari makna, memberi ruang bagi Allah bekerja dalam proses waktu. Maria menghidupi misteri itu, menjaga dan merenungkan karya Allah dalam dirinya. Memang iman yang matang seringnya lebih bersikap tenang, dalam, dan berserah diri.
Nas minggu ini mengajar kita untuk mengenali diri kita, dengan melihat dan mengamati respons yang timbul terhadap situasi tertentu. Kita belajar memahami emosi, pikiran, dan nilai diri kita, seperti cepat marah, selalu tenang dan senang, sering timbul rasa takut, dan lainnya. Ini memberi wawasan tentang iman, jati diri, kepribadian, kekuatan, dan kelemahan yang dimiliki, selanjutnya membuat kita lebih baik dalam menjalani kehidupan.
Sikap responsif atau reflektip memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Keduanya refleksi iman yang saling melengkapi. Terlalu cepat responsif tanpa berefleksi memberi kesan dangkal. Terlalu reflektip tanpa responsif membawa kita lebih tertutup dan apatis, kehilangan gairah. Kemampuan membangun respons keduanya akan menambah kedalaman dan keluasan iman, tahu waktu bertindak dan berdiam.
Natal adalah bukti kasih Allah (Yoh. 3:16), dan tahun baru bukti penyertaan-Nya selama tahun 2025. Ini tidak hanya kita rayakan dengan gairah emosi sesaat, tetapi memberi kita kesempatan untuk meresponsnya. Ucapan syukur atas karya Allah tersebut mestilah berwujud buah nyata, memuliakan-Nya dengan lebih mengasihi-Nya dan sesama, khususnya keluarga dan orang di sekitar kehidupan kita. Hidup bukanlah untuk diri sendiri tetapi milik Allah, dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya (Gal. 2:20).
Demikian juga setiap hari minggu kita selesai beribadah, alangkah baiknya kita merespons firman dan lagu-lagu dengan berefleksi, hal yang dapat kita perbarui serta komitmen tindakannya. Tanpa itu maka natal, pergantian tahun atau ibadah minggu, tidak mempunyai makna rohani. Tetaplah teguh dan berbuah.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026
Baptisan Tuhan Yesus – Opsi 3
AKU SELAMAT, TANDANYA? (Mat 3:13–17)
Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Mat. 3:17)
Salam dalam kasih Kristus.
Kekristenan menyukai tanda. Dalam Perjanjian Lama, banyak tanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, seperti pelangi sebagai tanda perjanjian Allah bahwa manusia tidak akan dihukum lagi dengan air bah. Pada umumnya, tanda adalah sesuatu yang menakjubkan, mengherankan, atau bersifat mukjizat, yang kadang sulit dicerna oleh pikiran manusia.
Hari ini Minggu peringatan pembaptisan Tuhan Yesus. Firman Tuhan sesuai leksionari adalah Mat 3:13–17, yaitu pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Sesudah dibaptis, “Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 15–17).
Jelas itu sebuah tanda. Namun, baptisan bukanlah tanda keselamatan. Satu orang yang tersalib di sebelah Tuhan Yesus tidak disunat atau dibaptis, tetapi tetap diselamatkan masuk ke Firdaus (Luk. 23:43). Jika kita baca lebih awal, baptisan memiliki kesejajaran dengan sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya (Kej. 17:10–11; bdk. Mat 28:19). Baptisan air juga merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11), dalam arti kita mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Allah (Rm. 6:3–5; Kol. 2:11–12).
Maka muncul pertanyaan pokok: apakah kita membutuhkan tanda bahwa kita sudah diselamatkan? Bagaimana bentuknya? Jangan sampai suatu saat ada yang bertanya, misalnya, apakah kita pasti selamat masuk dalam kekekalan. Lalu kita tidak bisa menjawab, atau hanya menjawab dengan pernyataan kosong seperti, “Saya pasti selamat karena beriman kepada Tuhan Yesus,” atau “Keselamatan itu anugerah.” Jelas, iblis juga percaya, tetapi sudah pasti tidak selamat.
Karena itu tidak ada salahnya kita memikirkan tentang tanda, meskipun terlalu menekankan tanda juga dicela sebagaimana Tuhan Yesus menegur orang Farisi, ahli Taurat, dan orang Saduki (Matius 12:38–42; 16:1–4). Bila pun kita tidak menyebutnya sebagai tanda, bolehlah menyebutnya sebagai parameter yang dapat diukur dan dicermati: apakah kita sudah diselamatkan dan diterima oleh Tuhan Yesus?
Robert Schuller menulis dalam buku Pola Hidup Kristen tentang bukti penerimaan Yesus, yaitu tiga hal yang perlu kita lihat. Pertama, pengakuan adanya kontrak atau perjanjian kita dengan Allah. Alkitab merupakan perjanjian itu, sehingga menjadi pegangan kontrak perjanjian kita dengan-Nya.
Kedua, kita tahu dan merasakan bahwa Allah telah menerima kita bila Dia berbicara dalam hati kita. Ini menjadi tanda kedekatan dan hubungan yang hidup antara Bapa dan kita sebagai anak–anak-Nya, antara Tuhan dan kita sebagai umat-Nya. Ada persekutuan yang erat, ada rasa damai sejahtera dan ketenteraman saat kita berjumpa dengan Dia (Roma 5:1). Tidak muncul rasa takut atau kekhawatiran yang melanda hidup.
Ketiga, memeriksa dan melihat kehidupan kita: apakah kita terus berubah dan semakin berperilaku terpuji? Pribadi yang diterima Allah adalah mereka yang terus berubah dan menghasilkan buah yang baik (Matius 7:16–18).
Jika ketiga hal itu tidak tampak atau tidak terbukti nyata dalam hidup kita, maka selayaknya kita memeriksa kembali komitmen kita. Apakah kita sungguh memiliki iman yang diperlukan untuk diselamatkan seperti dalam Yohanes 3:16 (bnd. Roma 10:9–13)? Apakah kita benar–benar meminta Yesus masuk dan memimpin hidup kita?
Jangan terjebak pada perasaan, sebab keselamatan tidak didasarkan pada perasaan, melainkan pada iman dan buahnya, yaitu hidup yang tunduk, berserah, dan mengandalkan Tuhan. Benar, kita tidak mungkin sempurna, tetapi kita harus terus berusaha menuju kesempurnaan, sama seperti Bapa di surga adalah sempurna (Matius 5:48; bnd. 19:21). Hendaklah kita semua berkata dan berupaya, “Selamatlah jiwaku” (NKB 195).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu II Setelah Natal - 4 Januari 2026
Khotbah Minggu II Setelah Natal – 4 Januari 2026
SUKACITA MENANTI (Yer. 31:7-14)
“Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana” (Yer. 31:12)
Firman Tuhan bagi kita di Tahun Baru hari ini adalah Yer. 31:7-14. Judul perikopnya: Perjanjian baru. Surat Yeremia ini ditulis saat bangsa Israel di masa pembuangan. Berbagai kesusahan mereka alami: tidak ada lagi lahan bertani dan panen hilang, kejahatan meningkat, umat terserak tidak dapat berkumpul, beribadah sulit sehingga pengajaran hilang, rumah Tuhan kosong, hubungan dengan Allah semakin menjauh (ay. 4-9). Tetapi, Allah berjanji memulihkan hal itu semua. Keselamatan akan diberikan, kesedihan menjadi sukacita dan sorak-sorai.
Kita sudah merasakan beratnya perjalanan hidup tahun lalu. Pandemi Covid-19 melantakkan seluruh bumi. Jutaan orang Indonesia semakin miskin, pekerjaaan hilang, pendapatan turun bahkan lenyap, berkumpul untuk melepas rindu pun dilarang. Keluar rumah harus bertutup mulut dan hidung, tidak boleh lagi merangkul, dan harus mengikuti prokes 5M supaya selamat dari virus jahat. Dalam hal ini, mungkin ada yang bertanya: Dimana Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?
Nas minggu ini menjelaskan bahwa di atas semua kesusahan umat Israel itu, tujuan Allah adalah terjadinya pemulihan rohani. Bangsa Israel dihukum dengan dibuang ke negeri orang; oleh karena dosa-dosa umat dan pemimpinnya. Tidak ada ketaatan dan tidak ada lagi hubungan kasih sesama yang erat di antara umat. Para imam tidak lagi peka terhadap pesan Allah; umat telah meninggalkan Allah dan para pemimpin pun tidak peduli atas situasi yang ada yakni berkat Tuhan tidak lagi tercurah bagi mereka.
Perayaan Natal yang baru lalu selayaknya mengingatkan, jika ingin kita dipulihkan maka umat perlu semakin mendekat kepada Tuhan. Pemimpin juga harus semakin menyadari tujuan Yesus datang ke dunia, yakni bukan hanya untuk menebus dosa dan memberitahukan tahun rahmat, tetapi juga "untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; ... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:18-19). Sangat jelas, selain rohani dipulihkan, semua kemiskinan dan dampaknya, mesti dikembalikan kepada gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26).
Pemulihan seperti apa yang kita harapkan setelah pandemi ini berlalu? Pemulihan apa yang kita mimpikan di tahun yang baru ini? Semua tergantung kita. Allah bekerja dengan perkasa dengan mudah membalikkan semua keadaan. Justru kita yang perlu banyak berkorban, perlu lebih banyak bersekutu dengan Tuhan dengan membaca firman dan berdoa; berdoa tidak hanya untuk diri sendiri.
Gereja-gereja kita sebaiknya tidak hanya fokus dan sibuk dengan dirinya, mengurus organisasi dan denominasi untuk kepentingan anggotanya saja. Sebab, hal ini akan membuat umat lainnya yang berada di kawasan jauh dan pinggiran menjadi terus terabaikan. Serigala mengintai dan gereja tidak peduli. Jika kita ingin kesusahan pandemi ini segera berlalu, mohonkan kita dipulihkan dari "pembuangan" peradaban normal. Saatnya semua pihak bertobat, berbalik ke maksud Tuhan demi menebus dan menyelamatkan, yakni untuk menjadi alat Tuhan dalam menyelamatkan orang lain. Yesus diutus untuk mengutus kita. Ia memberkati agar kita menjadi berkat. Ia memberi teladan supaya kita menjadi teladan.
Marilah, memasuki tahun yang baru ini, kita nyatakan dengan bersyukur, juga semakin memberi hati dan talenta kita kepada Tuhan dan sesama. Kita bersukacita karena Tuhan telah menebus dan menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Kita melewati tahun lalu dan kini kita berpengharapan sebab Tuhan memberi janji baru kepada kita. Saatnya akan tiba: "Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka. Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku” (ay. 13b-14).
SELAMAT MENJALANI TAHUN BARU 2026 untuk kita semua. Semoga iman yang teguh dan sukacita dari Tuhan telah bersemayam dalam hati kita semua memasuki tahun yang baru ini.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.). Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 19 guests and no members online
