2026
2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
BANGSA TERPILIH IMAMAT RAJANI (1Pet. 2:2-10)
Bacaan lainnya: Kis. 7:55-60; Yoh. 14:1-14; Mzm. 31:1-5, 15-16
Pendahuluan
Gereja bukanlah sekedar bangunan atau susunan batu-batu. Kata church dalam bahasa Inggris (yang berarti gereja atau jemaat dalam bahasa Indonesia) berasal dari kata kuriakon dari bahasa Yunani yang berarti: milik Allah. Alkitab menggunakan banyak metafora untuk kata gereja atau jemaat, yakni:
o “Tubuh Kristus” (Ef. 1:22-23; Rm. 12:5; 1Kor. 12:12; 1Pet. 4:10).
o “Kawanan” (Mzm. 23; Luk. 15:3-7; Yoh. 10:1-18; 1Pet. 5:1-2).
o “Ranting Pohon Anggur” (Mat. 13:1-43; Yoh. 15:1-17; Rm. 11:16-24),
o “Keluarga Allah” (Luk. 1:29-33; Gal. 3:28; 2Kor. 6:16-18; Ibr. 2:10-18; 3:1-6); dan
o “Mempelai Kristus” (Hos 3:1-3; Mat 9:14-15; 25:1-13; 2Kor 11:2-4; Ef 5:21-33; Why 19:7-9; 22:12-21).
Seluruh metafora itu dalam nas minggu ini menggambarkan gereja sebagai persekutuan hidup orang percaya yang akan menjadi bangsa terpilih dan imamat rajani. Untuk dapat mewujudkan hal itu, melalui nas minggu kita diberi petunjuk dan pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Jadilah seperti bayi yang rindu susu murni (ayat 2-3)
Dalam pasal sebelumnya telah dijelaskan bahwa kita telah dilahirkan kembali di dalam kehidupan yang baru bersama Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang diberikan oleh Bapa dalam menyelamatkan dan memelihara umat-Nya (1Pet. 1:23; band. 1Kor. 6:19; Gal. 4:6). Semua hal itu adalah bukti kasih dan kebaikan Allah pada kita manusia sehingga kita tidak menjadi orang sesat dan budak dosa dan masuk ke dalam penghukuman Allah. Semua kebaikan pemberian Allah itu telah kita kecap dan rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari (band. Mzm. 34:9; Ibr. 6:5). Sebagai manusia yang diberi akal pikiran dan hikmat, maka kita tentu bertanya: bagaimana agar kelahiran atau hidup baru itu tetap dalam kehidupan pribadi kita dan kita tetap selamat? Keberadaan Roh Kudus memang merupakan meterai dan jaminan yang diberikan bagi kita, tetapi hal itu memerlukan respon positif sebagai bukti komitmen kita akan hidup baru tersebut. Pada ayat 1 sebelum nas ini dikatakan respon positif dimulai dengan membuang segala bentuk kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Setelah itu nas minggu ini menekankan sikap kita lainnya yakni harus seperti bayi yang baru lahir yang selalu dahaga akan susu murni semisal air susu ibu (ASI). Kita tahu bahwa bayi sangat memerlukan ASI dan setiap bayi umumnya memperlihatkan ekspresi “ingin” yang besar dengan minum yang lahap dan tidak sabar. Kelaparan atau kekurangan susu sebentar saja langsung diungkapkan dengan menangis. Kebutuhan minum susu merupakan insting alamiah bayi, dan itu merupakan tanda yang membawa kepada pertumbuhan yang sehat. Sikap kehausan demikianlah yang diminta dari kita berupa kehausan makanan rohani, dalam bentuk kehausan hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, seperti hubungan antara anak bayi dan ibu, anak dengan bapak. Semua itu diwujudkan melalui doa dan ibadah, ketergantungan yang tinggi yang diwujudkan melalui sikap berserah dan bersyukur, hikmat yang semakin besar yang diwujudkan dalam sikap sabar dan bijaksana. Keinginan yang besar akan makanan rohani berupa “susu” juga memperlihatkan sikap kerendahan hati bahwa kita bukan memerlukan makanan yang keras apalagi seolah-olah ingin menguji Tuhan (band. “Doa Bapa Kami” Mat. 6:9-13; Luk. 11:2-4;1Kor. 3:2).
Kehidupan rohani perlu makanan rohani agar bisa bertumbuh. Pertumbuhan sangat penting sebab tantangan hidup semakin besar dan bervariasi. Pertumbuhan ekonomi dan informasi membuat setiap orang semakin rentan jatuh ke dalam dosa, sebab godaan kedagingan juga semakin besar, yang kemudian dimanfaatkan oleh iblis yang jahat. Makanan rohani yang utama dalam nas ini dikatakan adalah firman Allah sebagaimana dinyatakan pada ayat sebelumnya (1Pet. 1:23-25), yang dapat memberi kekuatan seperti halnya susu murni. Ketika lahir baru maka kita menjadi bayi yang baru lahir secara rohani. Jika kita cukup sehat maka kita merindukan pertumbuhan. Asupan firman Allah akan menghasilkan tanda pertumbuhan rohani yang sehat, seperti tampak dalam buah-buah rohani lainnya. Kehausan dan kerinduan makanan rohani diminta dan oleh kuasa firman kita dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan (band. Ef. 4:14-17). Sungguh alangkah menyedihkan apabila sesorang tidak bisa bertumbuh, baik badani maupun rohani. Kita harus berjaga-jaga agar kehausan firman Allah itu tidak hilang karena kesibukan dan pergumulan hidup keseharian yang terjadi. Sejatinya, tatkala kita merasakan kebutuhan firman Tuhan dan hubungan dengan Kristus semakin besar, maka nafsu makanan rohani kita juga semakin bertambah dan itu bukti kita menjadi dewasa secara rohani. Kini, seberapa kuat keinginan kita terhadap firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari?
Kedua: Dipergunakan sebagai batu hidup (ayat 4-5)
Penggunaan kata batu dalam nas ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang mungkin berbeda tapi berkaitan. Pertama, kata “batu” dari ingatan Rasul Petrus terhadap perkataan Tuhan Yesus kepadanya bahwa ia adalah batu karang. Tidak ada keraguan bahwa Petrus sering memikirkan kata-kata Yesus kepadanya, ketika dia mengaku bahwa, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Untuk itu Yesus berkata kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:16-18). Hal kedua, kata “batu” dilatarbelakangi oleh gunung batu tempat Allah bersemayam di dalam Perjanjian Lama, yakni gunung Sinai tempat umat Israel berdiri berkeliling sebagai batas bagi bangsa itu untuk tidak boleh mendaki atau mengenai pada kaki, sebab di atas gunung itu Dia bersemayam, dan apabila kena kaki orang pada gunung itu pastilah ia dihukum mati (Kel. 19:1-12).
Hal ketiga, kata “batu” dalam kalimat itu merupakan kutipan dari Mzm. 118:22 yang berkata, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Dalam Yes. 28:16 juga dikatakan, “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!" Memang dari kitab Mazmur dan Yesaya, yang dimaksudkan dengan batu adalah Israel (Kel. 19:6; Ul. 7:6), akan tetapi oleh Rasul Petrus kini gambaran “batu” itu sebagai Yesus Kristus. Rasul Petrus mengulangi yang dikatakan Yesus sendiri pada Mat. 21:42, yakni menarik istilah “batu” di Perjanjian Lama menjadi “gereja” sebagai bangunan rohani Allah, memotret gereja sebagai batu yang hidup dengan Kristus sebagai dasar dan batu penjuru (1 Kor. 3:11). Dalam hal ini ada kesejajaran dalam penggunaan kata batu bagi Yesus Kristus dan juga batu bagi setiap orang percaya, dan jemaat adalah kumpulan batu-batu yang hidup. Hal yang sama juga digambarkan oleh Rasul Paulus yakni gereja sebagai tubuh dengan Kristus sebagai kepala dan setiap orang percaya adalah anggota-anggota tubuh (Ef. 4:15-16; band. Yoh. 2:21). Hal yang penting adalah kedua gambaran itu menekankan umat percaya sebagai komunitas dalam kebersamaan membangun gereja. Kristus dalam hal ini menjadi batu penjuru dasar persekutuan, menjadi pengikat orang percaya menjadi satu. Sebuah batu bukanlah sebuah dinding apalagi sebuah gereja; bagian anggota tubuh jelas tidak berguna tanpa adanya keutuhan bagian tubuh yang lain. Allah Mahatahu susunan batu orang percaya dan semua diletakkan dalam rencana-Nya sesuai dengan tugas dan talenta masing-masing.
Kini pertanyaannya: sebagai batu-batu yang hidup membangun gereja, apa yang kita tawarkan sebagai "persembahan rohani" kepada Allah? Ketika umat Yahudi mempersembahkan korban hewan sesuai dengan hukum Musa, maka imam akan membunuh dan memotong hewan itu, dan menempatkannya di altar. Persembahan memang perlu, tetapi di dalam Perjanjian Lama dinyatakan sangat jelas: ketaatan hati jauh lebih penting (band. 1Sam. 15:22; Mzm. 40:6; Am. 5:21-24). Allah menginginkan kita, menyerahkan diri kita sebagai persembahan batu yang hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus - menjauhkan keinginan nafsu dan kejahatan, setia mengikut Dia, menggunakan seluruh energi dan kemampuan bagi Dia, dan percaya Dia yang membimbing kita setiap hari. Di dalam kehidupan sosial modern yang individualistik saat ini, tidak dapat dipungkiri sangat mudah melupakan ketergantungan kita pada sesama umat Kristen lainnya, seolah semua bisa kita lakukan sendiri. Tetapi jangan lupa, ketika Allah memanggil kita untuk sebuah tugas dan dipergunakan sebagai batu hidup, Dia juga memanggil yang lain dalam mendukung tugas kita itu sebagai anggota keluarga Allah (Ef. 2:19-22). Bersama pribadi-pribadi yang lain itulah usaha kita menjadi sinergi yang berlipat ganda. Oleh karena itu, lihat dan carilah orang-orang seperti ini, dan bergabunglah dengan jemaat untuk memberi persembahan rohani yang indah bagi Allah.
Ketiga: Menjadi batu penjuru yang mahal (ayat 6-8)
Apa kira-kira batu yang diperhitungkan dalam "bangunan" gereja? Tidak lain tidak bukan adalah batu penjuru, yang dipakai sebagai dasar, ukuran, benchmark, paramater dalam menempatkan batu-batu yang lain. Batu penjuru adalah Kristus sendiri yang menjadi bagian utama dari bangunan Allah, yakni gereja-Nya. Yesus Kristus yang telah dibuang oleh umat Yahudi, tukang-tukang bangunan yang adalah kaum Sanhedrin (Kis. 4:11), telah menjadi batu penjuru yang mahal. Kini pertanyaannya, apa yang menjadi karakteristik sehingga Kristus sebagai batu penjuru yang mahal, dan bukan lagi Israel sebagaimana digambarkan oleh kitab Mazmur dan Yesaya? Katakteristik Kristus sebagai batu penjuru dapat dilihat dari riwayatnya, yakni: (1) Yesus sebagai Batu Penjuru yang hidup sesungguhnya dapat dipercaya; (2) Yesus sangat berharga bagi orang percaya karena penebusan-Nya. Batu penjuru itu kini telah diletakkan di Sion, tempat bersemayam Allah. Dengan demikian, tidak salah perintah nas minggu ini agar kita datang kepada batu yang hidup itu, yaitu Yesus Kristus.
Kematian Tuhan Yesus merupakan pengganti korban penebusan dosa dan penghapus kesalahan dalam imamat Yahudi. Oleh karena itu bagi kita yang percaya, Ia sangat berharga dan mahal sebab melalui kematian-Nya kita bebas dari segala dosa dan konsekuensi dosa. Kita orang percaya pun tidak akan dipermalukannya. Meski kita diejek dan dihina sebagai orang-orang atau batu-batu yang terbuang, atau diejek sebagai orang yang tidak masuk akal karena percaya kalau Allah menjadi manusia, itu tidak perlu kita khawatirkan atau pikirkan. Yesus Kristus adalah Allah Pembela yang setia (Rm. 9:32-33; 10:11). Ia yang tidak dihargai dan dibuang oleh manusia (duniawi), namun kita dipilih dan dihormati dalam kerajaan sorga. Sekali kita percaya bahwa Allah adalah Allah Maha Pengampun, dosa-dosa kita telah kita akui dan ditebus oleh kematian Yesus, dan Dia kita jadikan sebagai Juruselamat hidup kita, dan menerima Roh Kudus sebagai Allah yang memimpin hidup kita sehari-hari, maka kita tidak akan dipermalukan.
Akan tetapi diingatkan dalam nas ini bahwa batu penjuru itu dapat menjadi batu sandungan, dalam arti menjadi batu yang mengganjal hidup seseorang sehingga terjatuh dan terjerembab. Hal ini juga diingatkan dalam Yes. 8:14 yang mengatakan, “Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem." Bagi mereka yang tidak percaya Yesus, ini menjadi batu sandungan sebab mereka menolak Dia dan tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan-Nya. Mereka melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, tersandung oleh Pribadi Agung yang dapat menyelamatkan dan memberi arti dalam hidup mereka, tapi karena pikiran buta dan penolakan akhirnya jatuh tersandung masuk ke dalam tangan penghukuman Allah. Penolakan kasih karunia Allah kini dapat membawa kepada penghukuman yang telah disediakan (band. Mat. 21:42-44; Rm. 9:22). Akan tetapi diingatkan nas minggu ini bahwa batu sandungan juga akan muncul bukan karena penolakan saja, tetapi juga ketika mereka yang percaya tidak taat pada Firman (Yoh. 12:48). Percaya saja tidak cukup tetapi juga taat dan setia; kita tidak hanya menjadi pendengar tetapi hendaklah juga pelaku firman (Yak. 1:22).
Keempat: Bangsa yang terpilih, imamat yang rajani (ayat 9-10)
Orang Kristen perlu memahami keimanan orang percaya. Pada masa Perjanjian Lama, umat Yahudi memiliki para imam yang berasal dari suku Lewi, salah satu dari dua belas suku keturunan Yakub. Mereka inilah yang ditunjuk sebagai imam yang mengurus Bait Allah, dan tidak bekerja mencari makan melainkan memperoleh persembahan persepuluhan dari umat. Sebagai pihak yang mengurus Bait Allah adalah tugas imam untuk mewakili umat dalam memberi persembahan kepada Allah, dan umat sendiri dilarang langsung menghampiri Allah, sebab mereka adalah umat yang berdosa (Kel. 28:1; 2Taw. 29:11). Ketika Kristus menang di kayu salib, Ia terbukti menang sebagai Raja dan pola hubungan berubah. Keimaman suku Lewi dibatalkan dengan kemenangan Kristus (Ibr. 7:11-17) dan orang percaya menjadi imam yang sebenarnya di hadapan Allah (Yoh. 14:6; 16:23-27; Ef. 2:18; 1Pet 3:18). Kini kita dapat langsung ke hadirat-Nya tanpa rasa takut (Ibr. 4:16), dalam arti posisi setiap orang percaya adalah imam bagi dirinya sendiri dan juga bagi sesama orang percaya (Why. 1:6; 5:10; 20:6). Inilah yang dimaksud dalam nas ini bahwa kita melalui Kristus telah menjadi imamat yang rajani, sebab Dia adalah Raja kita.
Kedudukan keimaman orang percaya tersebut juga membawa konsekuensi berkewajiban untuk hidup kudus (Tit. 2:14; 1Pet. 2:5, 9; 1:14-17). Sebagai umat yang kudus dalam pengertian dipilih dan dipisahkan dari orang lain yang belum/tidak percaya, berarti kita menjadi kepunyaan Allah sendiri sepenuhnya (Tit. 2:14; band. Kis. 20:28), jauh dari segala kehidupan kejahatan, dan kita dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar sebagai persembahan rohani kepada-Nya. Kita telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan terang itu kita sebarkan melalui pemberitaan firman-Nya (Kis. 4:31; 1Kor. 14:26; 2Tes. 3:1; 1Pet. 2:9; 3:15). Kita ditugaskan untuk membawa orang lain kepada-Nya (2Kor. 5:18-21), mendoakan agar semua orang saling mendukung dan dapat diselamatkan (Kol. 4:12; 1Tim. 2:1; Why. 8:3). Maka ketika kita menjadi satu dengan Kristus sebagai bagian dari tubuh-Nya, maka kita telah bergabung dengan pekerjaan keimaman-Nya sebagai wujud rekonsiliasi Allah dengan manusia.
Manusia sering sekali mendasarkan konsep dirinya sesuai dengan pencapaiannya. Akan tetapi hubungan pribadi kita dengan Kristus jauh lebih penting dari semua keberhasilan kita, pekerjaan, kekayaan, dan bahkan pengetahuan dan kedudukan kita. Kristus telah membuka jalan ke tempat Yang Maha Kudus bagi kita semua orang percaya, dan kita telah dipilih oleh Allah menurut kehendak-Nya, dan kita juga dipanggil untuk menjadi utusan-Nya bagi orang lain. Ingatlah bahwa nilai diri kita datang dari posisi kita sebagai anak-anak Allah, dan itu bukan hal yang kita capai. Kita berharga oleh karena Allah membuat demikian, bukan karena atas hal yang kita lakukan. Dengan demikian, kita yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan (band Hos. 1:6, 9; 2:23). Inilah semua yang membawa kita kepada bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.
Penutup
Melalui bacaan minggu ini kita diminta membuang segala kejahatan dan bersikap seperti bayi yang rindu akan susu yang murni dan tidak tercemar. Sikap hasrat itu harus diungkapkan dalam kerinduan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai makanan/susu rohani keseharian kita. Semua itu bertujuan agar hidup kita terus dikuduskan dan dipergunakan sebagai batu yang hidup oleh Allah, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan jemaat, agar semua dapat memberikan persembahan rohani yang berkenan kepada-Nya. Allah Bapa telah membuat Yesus sebagai batu penjuru yang mahal dengan menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan kematian, tetapi sekaligus Yesus juga dapat menjadi batu sandungan bagi mereka yang menolak dan tidak taat pada firman-Nya. Ketaatan itu penting dalam membangun bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, yakni kita jemaat-Nya. Pembangunan suatu rumah rohani bagi Allah hanya dapat dibangun oleh jemaat kudus, secara pribadi maupun sebagai komunitas. Untuk itu kita perlu saling mengingatkan gereja-Nya untuk selalu setia pada tugas panggilan pelayanan yang telah diberikan, sebab gereja adalah pelayanan sekaligus sebagai alat pelayanan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 2)
TERSEDIA DI SORGA (Yoh. 14:1-14)
Firman Tuhan bagi kita Yoh. 14:1-14, berbicara tentang penegasan Tuhan Yesus bahwa Ia naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita yang percaya kepada-Nya. Untuk itu Ia berkata, kita tidak perlu gelisah dan khawatir bila kesusahan dan kematian datang (ayat 1, lih. Yoh. 13 sebelumnya). Tuhan Yesus juga menegaskan, melalui Dia-lah kita akan berkumpul di rumah Bapa di sorga: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (ayat 6). Rumah Bapa adalah tempat Allah bertakhta (ayat 2; Yes. 6:1–2).
Kita pasti pernah melihat ketidakadilan di dunia ini. Misalnya, sudah jelas orangnya jahat dalam arti sering menyusahkan orang/pihak lain, tetapi hidupnya sangat senang, matinya pun senang di rumah sakit bagus, acara penguburan yang mewah, dan lainnya. Atau, kita melihat orang baik yang tidak mau menyusahkan orang lain, tetapi hidupnya di dunia ini susah, matinya pun susah, sepi, tanpa kerabat banyak hadir. Atau kita sedang dikecewakan orang lain, merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi, percayalah, kehidupan di dunia tidak akan berhenti begitu saja saat kita mati. Kehidupan bentuk lain akan berlanjut, sebagai bagian pertanggungjawaban semua manusia atas segala perbuatan yang dilakukannya selama hidup di dunia.
Ada beberapa alasan kuat kita percaya Tuhan Yesus kembali ke sorga, menyediakan tempat bagi kita. Pertama, Ia berasal dari sorga. Benih-Nya benih sorgawi, bukan benih manusia seperti kita. Agama Kristen dan agama besar lain mengakuinya, sehingga benar Dia berasal dari sorga, dan tentu logis kembali ke sorga. Tubuh daging kita berasal dari tanah dan kembali ke tanah (Kej. 3:19). Nafas (nefesi, ruakh) yang berasal dari Allah dan milik-Nya, akan kembali kepada-Nya. Tubuh dan daging fana; Jiwa dan roh kekal, abadi. Ketika nafas dihembuskan oleh Allah, ada rencana dan tujuan-Nya dalam hidup manusia. Tuhan tidak iseng menciptakan kita.
Ia Allah yang Mahaadil, Mahabenar. Meski kini tampak samar-samar, tapi semua nanti dinyatakan jelas. Ia akan datang kembali, membawa kita ke tempat-Nya, supaya kita selamanya bersama-Nya (ayat 3). Akan ada penghakiman bagi yang baik dan jahat (2Kor 5: 10; Ibr. 10:30), orang hidup dan mati (1Pet. 4:5). Oleh karena itu, kita perlu jalan, pembimbing ke sorga, dan hanya yang datang dari sorga tahu jalan ke sorga, yakni Tuhan Yesus. Kita juga ditolong untuk percaya, karena pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan Yesus telah lakukan di dunia (ayat 12b). Ia berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26). Ia membangkitkan orang mati, Allah yang bangkit dari kematian. Allah yang hidup dan sumber hidup.
Pesan terakhir Tuhan Yesus melalui nas minggu ini, kita diminta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar (band. 1Pet. 2:9). Ia telah pergi kepada Bapa, tetapi janji-Nya, apa juga yang kita minta dalam nama-Nya, akan dikabulkan sepanjang bertujuan Bapa dipermuliakan di dalam Anak (ayat 12-13, band. Kis. 2:43). Tentu, pekerjaan besar bukan oleh kita orang-seorang, melainkan karya seluruh anak-anak-Nya. Tetaplah hidup di dalam Yesus, di jalan dan kebenaran. Jangan tidak peduli atau pura-pura tidak tahu, seperti Tomas dan Filipus (ayat 5, 8). Tetaplah di dalam Dia dan peduli akan Dia. Itu sangat menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 26 April 2026
Kabar dari Bukit
HIDUP YANG BERKELIMPAHAN (Yoh. 10:1-10)
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh. 10:10b)
Firman Tuhan di Minggu IV Paskah hari ini bagi kita adalah Yoh. 10:1-10. Nas ini menjelaskan Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik. Perumpamaan Yesus sebagai Gembala, berangkat dari peran gembala yang semestinya dilakukan oleh raja-raja Israel terhadap rakyatnya, tetapi tidak berjalan dengan baik. Kekecewaan tersebut dituliskan oleh para nabi besar dalam PL (Yer. 23:1–2; Yes. 56:11; Yeh. 34:1–8; Za. 11:4–5). Jadi, identitas Gembala merupakan kritik sekaligus metafora pemulihannya.
Gambaran datangnya gembala yang baik yang tidak sama dengan para raja-raja Israel, diberikan oleh nabi Yehezkiel yang menuliskan: "Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya” (Yeh. 34:23-24; band. Yes. 40:10-11).
Sebagai Gembala yang baik, Tuhan Yesus mengenal semua domba-domba-Nya; memanggil dengan nama-namanya (ayat 1-3). Ia tidak seperti pencuri yang masuk dari pagar atau memanjat tembok. Gembala yang baik masuk dari pintu depan. Ia berjalan di depan, menuntun domba-Nya membawa ke luar, dan domba-domba itu mengikuti karena mereka mengenal suara-Nya (ayat 4). Dalam Mzm. 23 sebagai padanan leksionari minggu ini disebutkan, gembala memakai gada dan tongkat yang menghibur dan memberi rasa aman bagi dombanya (ayat 4).
Gembala Yesus menuntun di jalan yang benar, dan memberi urapan minyak di kepala (Mzm. 23:3, 5). Ia adalah pintu yang sesungguhnya bagi domba-domba. Barangsiapa masuk melalui Tuhan Yesus, ia akan selamat, dan akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput yang hijau dan air yang tenang (ayat 7, 9; Mzm. 23:2). Ini meneguhkan prinsip Kristiani bahwa iman dan keselamatan adalah anugerah-Nya, dan Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan menuju ke tempat Bapa sorgawi. Jika dahulu kita domba sesat, tetapi sekarang telah kembali kepada Gembala sebagai pemelihara jiwa kita (1Pet. 2:25).
Bagian terakhir nas minggu ini menegaskan, jika nabi-nabi palsu dan allah-allah datang untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan, Tuhan Yesus datang supaya semua yang menerima-Nya mempunyai hidup, dan tidak sekedar hidup, melainkan mempunyainya dalam segala kelimpahan (ayat 10). Hidup yang berkelimpahan bukan berarti ukuran dunia dengan memiliki harta dan kuasa, tetapi hidup dalam gembalaan-Nya yang membuat kita senantiasa memiliki damai sejahtera di batin, relasi dengan Allah yang baik, sukacita, penuh kasih dan mengasihi, serta tidak khawatir menjalani arah hidup yang jelas yakni pengharapan kekal. Tetaplah setia menjadi domba-Nya, dan terus lebih mengenal dan mengasihi-Nya sebagai Gembala yang baik.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 3)
YESUS BERDIRI MENYAMBUT (Kis. 7:55-60)
Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (Kis. 7:55-56)
Pernahkah kita membayangkan saat-saat ajal kelak datang menyambut hidup kita? Terlepas dari situasi saat mengakhiri hidup ini dengan kesadaran penuh, tanpa rasa sakit atau mungkin mengerang menahan rasa sakit yang hebat, atau keadaan koma tidak sadar secara medis, tetapi roh kita selalu pasti terhubung dengan Allah pemberi kehidupan. Bagaimana kira-kira gambarannya? Takut, atau tidak mau dipikirkan?
Gambaran indahnya dijelaskan melalui Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini, dari Kis. 7:55-60. Sebenarnya nas ini diambil dari leksionasi Tahun A untuk renungan Minggu kelima Paskah. Kita saat ini masih di tahun C dan nas pilihannya adalah Kis. 11:1-18; Mzm. 148; Why. 21:1-6 atau Yoh. 13:31-35. Namun, keempat nas tersebut telah saya tulis di tahun-tahun lalu, dan semua dapat diakses melalui website www.kabardaribukit.org atau pada buku-buku yang telah diterbitkan.
Nas minggu ini menceritakan tentang Stefanus, martir pertama, yang dibunuh para anggota Mahkamah Agama, saat mereka mendengar kesaksian Stefanus tentang Tuhan Yesus. Para pendengarnya menghasut dan menuduhnya telah mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (Kis. 6:8-7:54). Ia kemudian dibawa dan tetap dengan penjelasannya, bahwa Yesus orang Nazaret itu, akan merobohkan Bait Allah mereka dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa (Kis. 6:14).
Stefanus, bukan rasul, hanya diaken, tetap teguh dengan imannya. Para anggota Mahkamah Agama pun merasa geram, marah, sangat tertusuk hati mereka. Mereka berteriak-teriak dan sambil menutup telinga (tanda tidak ingin mendengar suara Allah), serentak menyerbu Stefanus, menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu hingga mati - hukuman sesuai Im. 24:16. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus, yang saat itu belum bertobat berganti nama menjadi Paulus (ay. 57-58).
Stefanus, saat menjelang ajalnya, dalam nas ini disebutkan menatap ke langit, lalu ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Ia berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku" (ay. 54-55). Ia bahkan meminta Tuhan tidak menghukum perbuatan mereka (59-60). Stefanus meninggalkan dunia ini dengan penuh cinta kasih dan damai, tidak ada berbeban penyesalan dan rasa takut dan sakit hati. Dan itulah yang diterimanya: melihat Tuhan Yesus menyambutnya dengan berdiri, penuh kemuliaan Allah.
Yesus berdiri setelah kenaikan-Nya, hanya disebut pada nas ini satu kali dalam Alkitab. Pengakuan Iman Rasuli kita mengatakan, Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang diambil dari Mzm. 101:1 (bdk. Dan. 7:9-14); sebagai simbol kepercayaan dan kuasa. Stefanus saat kembali ke Bapa, pulang, Tuhan Yesus berdiri menyambutnya; tentu diiringi oleh para malaikat sorga. Sungguh keindahan yang tak terkirakan. Walau menderita, ia tetap setia. “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15); itulah gambaran kasih Allah yang luar biasa bagi kita anak-anak-Nya yang setia. “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini” (Why. 14:13). Ya, sungguh membahagiakan.
Inginkah kita disambut oleh Tuhan Yesus yang berdiri saat ajal nanti menjemput? Mari, tetaplah setia mengasihi Allah, teruslah bersaksi dengan kebaikan, jangan menghujat dan menyakiti orang lain. Itulah yang diminta dari kita, meneladani Stefanus. Semoga kita semakin dimampukan untuk melakukannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu IV Paskah 2026 - 26 April 2026
Khotbah Minggu IV Paskah 2026 - 26 April 2026
YESUS GEMBALA PEMELIHARA JIWAMU (1Pet. 2:19-25)
Bacaan lainnya: Kis. 2:42-47; Yoh. 10:1-10; Mzm. 23
Khotbah Mzm. 23 dapat dilihat diwebsite ini Minggu IV Paskah Tahun B/II
Pendahuluan
Surat Rasul Petrus di sekitar tahun 60-an Masehi ini ditujukan kepada umat Yahudi yang telah percaya dan mereka masih banyak hidup sebagai budak-budak yang tidak memperoleh haknya yang layak. Ayat 18 yang mengawali nas ini mengatakan: “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” Pengikut Kristus yang berlatar belakang Yahudi lainnya juga mengalami penindasan dari Nero, yang membuat mereka ketakutan dan menyebar keluar dari Yerusalem untuk menghindari penyiksaan dan pembunuhan karena iman Kristiani mereka yang tidak disukai oleh Nero. Menghadapi penderitaan itulah tema nas minggu ini yang memberi pengajaran kepada kita sebagai berikut.
Pertama: Penderitaan yang tidak seharusnya ditanggung (ayat 19-21)
Wilayah tempat tinggal kita di Indonesia pasti berbeda satu sama lain dalam kehidupan kekristenannya. Ada beberapa daerah yang umat kristennya sangat bebas dalam menjalankan ibadah dan membangun gedung gereja. Namun, ada beberapa daerah yang sangat sulit untuk membangun gedung gereja, karena penolakan beberapa kelompok beraliran keras. Ada juga kesulitan lain dalam melakukan ibadah di luar gedung gereja, apalagi bila melakukan kegiatan pekabaran injil, maka kemungkinan dianiaya dapat terjadi. Atas perlakuan seperti itu, ada yang diam dan menyembunyikan imannya, padahal semestinya panggilan kita justru harus berusaha masuk dalam tantangan untuk mengabarkan Yesus dengan menyebarkan kasih-Nya. Dalam hal ini pemerintah daerah seharusnya menjamin, melindungi, dan bersikap netral, namun kenyataannya sering tidak membantu dan malah memilih berpihak. Alkitab memang mengatakan bahwa kita perlu taat pada pemerintah dengan tetap mengacu pada akal sehat dan meneguhkan iman (Rm. 13:1). Ketaatan kita lakukan demi tujuannya yakni "hanya untuk kemuliaan-Nya” (Rm. 11:36), sehingga semua melihat Kabar Baik dan Kasih Yesus dinyatakan dan orang percaya mendapat respek dan nama Tuhan dimuliakan.
Di lain pihak orang percaya memiliki kekebasan di dalam Kristus, meski pengertiannya tidak melebar yang menjurus ke arah penyalahgunaan. Kebebasan digunakan sebagai alat atau jalan bagi kehidupan pelayanan yang penuh antuasias, dalam pengertian melalui profesi pekerjaan atau setiap usaha yang dilakukan. Kehendak Allah adalah kita dipanggil berbuat baik dan melayani, yang dilakukan dengan kesadaran Ilahi. Dalam pelayanan itulah bisa saja timbul tantangan seperti di atas yang membawa ke dalam penderitaan, atau sebab-sebab lain yang mungkin karena sikap orang lain yang berlebihan ekstrim tidak masuk akal. Sebagai bangsa yang mengaku dasar negara Pancasila, kita mestinya tidak perlu menanggung beban itu, tapi kenyataannya demikian, dan kita harus terima dan hadapi. Apabila penderitaan yang tidak kita harus tanggung datang, maka kita mengambil teladan dari Yesus. Adalah merupakan kehormatan apabila orang percaya menderita bagi Kristus dan pemberitaan Injil (2Tim. 2:3; 1Pet. 3:14; band. Mat. 5:10). Kalau penderitaan adalah konsekuensi dari pelayanan, maka firman Tuhan minggu ini mengatakan itu adalah kasih karunia (1Pet. 4:13). Kasih karunia berarti kita melakukan yang baik dan benar, menerima kasih karunia dari Allah dalam arti kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk kita melayani-Nya (Luk. 12:43; Flp. 1:29; 1Pet. 4:14).
Semua pengikut Kristus memang harus siap sedia masuk dalam penderitaan (Mrk. 8:34-35). Rasul Petrus menggambarkan mereka yang menderita sebagai buah dari perbuatan baik, sama seperti Yesus yang tidak berdosa harus menderita dan mati yang kemudian menghasilkan kemerdekaan kita. Kita mungkin menderita dengan berbagai latar belakang. Beberapa penderitaan bisa saja terjadi karena hasil dari dosa-dosa kita; beberapa mungkin terjadi karena kebodohan kita; beberapa hal lainnya karena kita hidup di tengah-tengah dunia yang sudah cenderung rusak. Yang penting jangan sampai kita menderita karena tidak mematuhi Allah atau karena pelanggaran hukum moral dan hukum sipil, atau mencari-cari penderitaan itu sendiri, seperti karena keinginan daging, karena kesombongan atau ingin menguji Allah, yang disebutkan sebagai dosa dalam nas ini dan tidak layak mendapat pujian dari Allah (1Pet. 3:17).
Kedua: Menderita tapi tidak membalas (ayat 22-23)
Penderitaan Yesus adalah bagian dari rencana Allah (Mat. 6:21-23; Luk. 24:25-27, 44-47) dengan maksud untuk menyelamatkan kita orang percaya (Mat. 20:28; 26:28). Kehidupan pribadi dan perjalanan hidup-Nya memberikan gambaran tentang hal itu yang penuh kuasa, penuh kasih, dan hidup-Nya dalam ketergantungan penuh kepada Allah Bapa. Alkitab mencatat Yesus selalu mengungkapkan kebenaran Ilahi dan tidak ada tipu daya dari mulut-Nya. Ia dipersiapkan dari sorga sebagai korban Anak Domba dan hidup-Nya di dunia tetap taat membuat Ia tidak bercacat (Ibr. 5:8). Namun fitnah dan kejahatan yang berangkat dari kecemburuan dan ketakutan para kaum Farisi dan para imam, membawa Dia pada pengadilan dunia. Proses yang dipaksakan demikian cepat dan sepihak menunjukkan proses pengadilan itu tidak benar. Ia dihukum dengan berat dan bahkan dengan cara terkutuk disalibkan dengan para penjahat.
Namun Yesus menghadapi semua itu dengan keteguhan yang kuat. Meski awalnya ada penolakan dari-Nya agar cawan penderitaan itu berlalu (Mat. 26:39), tetapi kemudian Ia dengan teguh mengatakan bahwa biarlah kehendak Bapa yang jadi. Kemanusiaan (sejati) Yesus membuat ada rasa takut, bahwa Allah Bapa yang mengutus-Nya akan meninggalkan Dia, tetapi kerendahan hati-Nya meneguhkan bahwa Ia harus melalui semua itu. Hal yang sama dikatakan-Nya di atas kayu salib dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46). Memang terbukti dari awal pengadilan dan perjalanan via dolorosa Ia tidak mengeluh, Ia tidak menghujat, melewati semua dengan sabar dan cerdas, bahkan tetap mengasihi mereka-mereka yang menghukum-Nya. Ia melalui dengan sabar, tenang, dan penuh keyakinan bahwa Allah mengendalikan hidup-Nya. Apa yang diajarkan-Nya sebelumnya kepada para murid dibuktikan yakni "Kasihilah musuhmu", "Janganlah membalas orang yang menampar pipi kirimu", membuktikan Roh Allah bekerja penuh pada-Nya. Ia mengatakan, “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.” Sungguh sebuah parameter dan cara pandang yang berbeda dan luar biasa.
Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menggapai tujuan hidup sesuai dengan kemampuan yang diberikan. Itu juga keyakinan kita. Allah memberi kebebasan dari aturan-aturan keagamaan dan rasa bersalah yang berekepanjangan, bahwa kita tidak mengikuti kesenangan-kesenangan kita, melainkan mencapai yang terbaik dari Tuhan bagi diri kita. Allah menghendaki agar kebebasan itu kita pakai untuk meninggikan kuasa, sukacita, dan kasih yang bertanggungjawab kepada Allah dan dipersembahkan kepada sesama. Kalau kita jujur, banyak orang Kristen masih menjadi budak rasa takut. Memang lebih mudah tunduk kepada tuan yang baik dan adil, tetapi Rasul Petrus meneguhkan kesetian dan ketekunan dalam situasi diperlakukan tidak adil, sebagaimana perlakuan yang diterima para budak. Kita juga harus taat kepada majikan kita, apakah mereka itu penuh perhatian atau bersikap keras (Ef. 6:5). Kita jangan sampai menghakimi orang lain sebab itu adalah hak Allah (Rm. 12:19; Mzm. 9:5). Kita juga jangan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, sebab kalau demikian itu tidak ada nilainya (Luk. 6:32). Dengan melakukan hal itu kita menang melalui keteladanan yang memperlihatkan kasih Kristus dan membawa mereka kepada Dia. Rasul Paulus juga menuliskan hal yang sama pada Ef. 6:5-9; Kol. 3:22-25, sebagaimana juga Yesus mengatakan-Nya dalam Mat. 5:46 dan Luk. 6:32-36.
Ketiga: Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh (ayat 24)
Perjalanan hidup Tuhan Yesus yang terhenti sejenak setelah mati di kayu salib bukanlah kematian yang sia-sia. Sebagaimana dijelaskan pada minggu lalu bahwa konsep penebusan melalui kematian Yesus sudah ada sebelum dunia diciptakan. Allah tidak cukup memakai utusan-Nya dan nabi-nabi sesuai dengan yang tertulis di Perjanjian Lama. Umat Yahudi tidak mampu lagi menghadapi tekanan penderitaan oleh bangsa-bangsa lain dan pengharapan mereka juga sudah lenyap. Penyataan Allah melalui umat perlu divitalisasi agar mereka tidak merasa bahwa Allah telah meninggalkan mereka. Mesias perlu datang ke dunia dengan inkarnasi. Ini sekaligus merombak perubahan konsep penebusan yang semula melalui korban persembahan dan perlu berulang-ulang (Ibr. 10:6), kini hanya melalui persembahan korban yang sempurna dan abadi yakni Tubuh Tuhan Yesus. Tubuh Anak-Nyalah yang perlu diberikan dan harus menanggung semua dosa-dosa kita agar dikuduskan melalui iman penebusan itu (Ibr. 10:10). Roh Kudus yang diberi di hati kita menjadi kuasa baru yang memampukan proses itu berlangsung terus menerus sehingga kita tetap menjadi anak-anak-Nya.
Persembahan korban Tuhan Yesus hanya sekali dan kita diminta untuk untuk tidak lagi hidup di dalam dosa (Ibr. 9:28). Bagi mereka yang sudah percaya namun murtad dan hidup kembali di dalam jeratan dosa, maka sebenarnya mereka kembali menyalibkan Yesus dalam hidup-Nya (Ibr. 6:6). Inilah yang dimaksud mati terhadap dosa dalam nas minggu ini yang berarti kita menghindari perbuatan-perbuatan dosa yang tidak berkenan kepada Tuhan (Rm. 6:2). Mati terhadap dosa berarti ada perasaan tidak suka dan bahkan jijik terhadap dosa. Allah kudus dan kita pun perlu menjaga hidup kudus. Firman Tuhan Yesus mengatakan, "Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran" (Yoh. 17:19). Alkitab berkata, "Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran" (Rm. 6:20). Arti kedua mati terhadap dosa adalah kita sudah dipisahkan dari dosa-dosa yang lalu. Kehidupan baru telah dimulai di dalam Yesus. Untuk itu dikatakan bahwa kita hidup untuk kebenaran dalam pengertian kita hidup dalam pedoman dan kuasa Firman serta menjaga anugerah itu dan berbuah. Kita diminta hidup sesuai dengan firman-Nya, seperti dikatakan-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:31-32).
Penderitaan Tuhan Yesus tidaklah ringan. Gambaran dalam film "The Passion" dengan pukulan bola berduri ke tubuh-Nya bukan kisah isapan jempol, sebab metode itu yang dipakai pada zaman itu. Kita bisa membayangkan luka yang terjadi akibat pukulan bola berduri itu: tubuh yang terkoyak, daging yang terkuak penuh darah menjadi bilur-bilur yang mengenaskan. Darah Yesus menjadi terpercik kemana-mana saat bola duri itu dihempaskan ke tubuh-Nya. Percikan darah Anak Domba Allah ibarat percikan darah domba di mezbah umat Yahudi. Inilah yang membuat prosesi itu menjadi sempurna: Ada korban yang tidak bercacat dan ada percikan darah melalui bilur-bilur-Nya (Yes. 53:3-5). Yesus tidak saja menjadi korban tetapi menjadi pengganti diri kita sebagai penerima hukuman atas dosa-dosa yang kita lakukan, dan sekaligus memisahkan kita dari kuasa dosa yang lama. Melalui semuanya itu kita disembuhkan dari segala penyakit dosa, dipulihkan dari penyakit ketakutan terhadap penghukuman dan masuk neraka (Mzm. 103:3), terutama sembuh dari penyakit ketakutan akan kematian. Orang yang percaya pada kebangkitan Yesus dan menjadikan Ia sebagai Juruselamatnya, akan memperoleh kesembuhan semua itu melalui bilur-bilur-Nya.
Keempat: Kembali kepada gembala dan pemelihara jiwa (ayat 25)
Perumpamaan domba memiliki dua arti. Pertama, domba secara umum yakni semua umat manusia sama di hadapan Tuhan, yang berarti lahir ibarat kertas putih bersih. Pengertian kedua, kita memang sudah ditetapkan sehingga pada dasarnya kita adalah anak-anak-Nya sejak awal (Ef. 1:4). Allah menciptakan manusia dengan maksud tujuan baik. Diskusi dan pembahasan soal (kecenderungan) dosa bisa berakibat tidak membangun iman. Jadi dalam nas ini pengertian domba tidak perlu dibedakan dengan istilah kambing dalam Mat. 25:31-46, yang bermakna mereka yang terkutuk yang dienyahlah dari hadapan-Nya dan dimasukkan ke dalam api yang kekal. Kedua pengertian itu dapat membawa konsekuensi yang sama, bahwa setiap orang tetap bisa sesat sampai ada pertobatan dan anugerah Allah bagi mereka yang diselamatkan. Kambing yang “tidak dipilih” bisa tetap sesat namun “domba yang dipilih” pun tetap bisa jatuh dan sesat. Inilah yang terjadi pada umat Yahudi yang saat itu menjadi sesat ketika mereka mengambil jalan sendiri-sendiri (Yes. 53:6) dengan tidak berpengharapan dan bersandar lagi kepada Allah yang memilih mereka.
Allah melalui kasih-Nya telah mengirim Kristus untuk memberi pengharapan baru bagi umat-Nya. Allah tidak menginginkan seorang pun sesat melainkan diselamatkan. Ia mengirimkan Anak-Nya untuk menjadi Gembala yang baik bagi umat-Nya. Yesus sendiri sudah mengindikasikan dengan mengatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Ia membuktikan hal itu dengan memberikan nyawa-Nya sebagai penebusan pengganti (substitution atonement) dengan mati dan bangkit bagi yang percaya dan menempatkan-Nya sebagai Gembala Agung. Kalau sebelumnya mereka budak tidak diperlakukan sebagai manusia, yang tidak memiliki jiwa dan hanya dianggap sebagai “barang”, maka dengan kedatangan Gembala Sang Penebus mereka menjadi pribadi-pribadi yang baru, yang berdiri tegak dengan perasaan penuh hak dan harga diri. Tujuan semuanya bukan untuk kesombongan dan membebaskan diri, atau melakukan pemberontakan terhadap majikan, melainkan agar mereka mampu menghadapi segala kemungkinan penderitaan dengan Gembala yang mengendalikan masa depannya.
Sebagai budak mereka tetap memperlihatkan sikap sebagai pekerja, tanpa perlu mengurangi kedisiplinan. Yang utama adalah sudah melihat diri mereka sebagai sebuah pribadi, sebuah jiwa dan menempatkan diri dengan benar. Di mata Tuhan setiap jiwa yang dikasihi-Nya berharga (band. Mzm. 116:15; Mat. 12:12). Di mata Tuhan tidak ada lagi status budak, pekerja, buruh atau pembantu. Setiap orang perlu memberikan yang terbaik dengan menganggap semua pekerjaan adalah bagi Kristus, sang Gembala yang kini menjadi Pemelihara jiwa kita (Kol. 3:17). Tidak masalah bagi Gembala apakah kita dahulunya adalah domba yang sesat, tetapi yang penting menerima dan mau masuk pintu keselamatan itu. Sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu (Yoh 10:7).
Penutup
Melalui nas minggu ini kita diajarkan tentang sikap seorang Kristen dalam menghadapi penderitaan yang tidak seharusnya ditanggungnya, sebagaimana dialami umat Kristen pada masa itu yang kebanyakan adalah para budak. Pada masa kini pun setiap orang bisa saja mendapat penderitaan yang bukan kehendaknya atau ia merasa tidak layak mendapatkannya, tetapi sikap seorang Kristen adalah menerima dan menghadapi tegar dengan berbekal dan beriman adanya pertolongan Tuhan Yesus. Kita diminta tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, mengurangi komitmen, dan tidak terpengaruh situasi,. Tapi kita harus memiliki disiplin dan kasih dengan memegang prinsip bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita sudah disembuhkan dan dipulihkan dari segala penyakit dan rasa takut. Kekhawatiran itu tidak perlu sebab kita sudah memiliki Gembala Agung yang menjadi Pemelihara jiwa kita, sehingga dalam situasi apapun kita diharapkan menjadi pemenang.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 BANGSA TERPILIH...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 2) TERSEDIA...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026Khotbah Minggu V Paskah 2026 – 3 Mei 2026 (Opsi 3) YESUS...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 20 guests and no members online
