2025
2025
Khotbah Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
Khotbah Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
YANG PALING BESAR ADALAH KASIH (1Kor 13:1-13)
Bacaan lainnya menurut Leksionari: Yer 1:4-10; Mzm 71:1-6; Luk 4:21-30
Pendahuluan
Dalam 1Kor 12 Rasul Paulus banyak mempersoalkan jemaat Korintus yang lebih mempertentangkan karunia-karunia Roh sehingga seolah-olah seorang lebih berharga di mata Tuhan dari seorang lain berdasarkan karunia rohani yang dimilikinya. Rasul Paulus mengatakan janganlah seorang merasa dirinya hebat dan memandang lainnya lebih rendah karena ia memiliki berkat atau karunia-karunia khusus tersebut. Tokh sebagaimana dijelaskan dalam nats tersebut, sumber karunia Roh adalah adalah dari Allah dan kita harus mempertanggungjawabkan kepada-Nya dalam penggunaannya. Dalam pasal 13 yang merupakan nats minggu ini - dan nats yang cukup terkenal ini, merupakan lanjutan dari penjelasan karunia rohani tersebut, yang kemudian Rasul Paulus menutup penjelasannya dalam 1Kor 14: 1 dengan berkata: “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat” (1Kor 14:1). Oleh karena itu dari bacaan minggu ini kita mencoba mengambil beberapa pelajaran hidup untuk kita pakai sehari-hari.
Pertama: Kasih dasar dari segala pelayanan karunia (ayat 1-3)
Seperti dijelaskan dalam nats sebelumnya, semua karunia rohani yang diberikan Allah kepada orang percaya atau jemaat adalah untuk membangun gereja Tuhan. Dengan demikian motivasi yang menjadi dasar untuk pelayanan karunia Roh tersebut haruslah kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama yang belum diselamatkan, maupun mereka yang imannya perlu dikuatkan untuk bertumbuh. Kalau seandainya karunia rohani atau berkat-berkat yang menyertainya dipakai jemaat atau hamba Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri dan kemegahannya, maka hal itu sudah lari dari hakekat sejati penggunaan karunia Roh tersebut.
Oleh karena itu firman Tuhan dalam nats ini mengatakan, sia-sialah karunia Roh tersebut kalau itu tidak didasari dan bertujuan kasih, ibaratnya seperti gong yang berkumandang atau canang yang bergemerincing. Artinya, penggunaan karunia itu hanya menghasilkan gaung atau gaya artikulasi, tidak kepada ketulusan hati dalam memberi manfaat sejati bagi kemuliaan Tuhan. Maka sekalipun kita memiliki karunia iman yang hebat atau pintar bernubuat, tetapi kalau tidak didasari kasih, maka itu akan sia-sia dan tidak berguna. Maksud dari sia-sia dan tidak berguna di sini tentu dalam kaitannya dengan pelayanan karunia Roh tersebut bagi pelayanan gereja Tuhan. Bahkan, dapat dikatakan apabila itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, maka sumber “karunia” tersebut bukanlah dari Roh Allah, melainkan dari roh jahat.
Kasih harus menjadi prinsip dalam mengendalikan semua wujud rohani, merupakan sumber motivasi bagi kita dalam membagikan karunia Roh dan berkat-berkat yamg menyertainya. Kalau, misalnya, seseorang diberi “karunia memberi” berkat jasmani yang tentu didahului oleh kepintaran mencari harta atau uang, maka dasar memberi atau membagi-bagikan uang tersebut adalah karena kasih dari Allah dan kasih kepada manusia. Kita tidak diperbolehkan menonjolkan kehebatan dan kelebihan kita serta mengakui bahwa saat kita memberi karena merasa terpaksa, bermegah, atau dipuji untuk kemegahan kita.
Kalaupun kita melakukan sesuatu yang hebat menurut dunia, seperti “membakar diri” tetapi kalau dasarnya bukan kasih kepada Allah dan kepada manusia, maka itu semua tidak akan diperhitungkan dalam kerajaan-Nya. Segala kegiatan dan pelayanan hidup kekristenan kita haruslah berlandaskan kasih yang dari Kristus. Mungkin karunia yang diberikan kepada kita berbeda-beda, atau menerima karunia dalam jumlah dan kapasitas terbatas, tetapi kasih itu selalu ada dan tersedia bagi setiap orang untuk kita bagikan.
Kedua: Sifat-sifat kasih yang sejati (ayat 4-7)
Kasih sangat berkaitan dan mencerminkan sifat Kristus: Sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu (dalam arti tidak mudah curiga), mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Jadi, ada tiga belas sifat-sifat kasih digambarkan dalam nats ini.
Kita tahu bahwa mewujudkannya semua itu tidak mudah dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi kalau kita menyadari bahwa memperjuangkan segala sifat-sifat kasih itu dalam kehidupan sehari-hari berbuahkan kemenangan, maka kita tidak akan mudah terjatuh seperti jemaat Korintus yang kehilangan kasih itu. Kesabaran, misalnya, tidak kita lihat sebagai sebuah kelemahan dan sikap menyerah, melainkan kita lihat sebagai kekuatan dan kemenangan. Seseorang yang dapat memberikan kesabaran berarti itu merupakan tanda kehadiran Roh Kudus dalam dirinya. Ada yang mengatakan, kesabaran kepada orang lain adalah kasih, kesabaran kepada diri sendiri adalah pengharapan, dan kesabaran kepada Allah adalah iman. Kesabaran bersaudara dengan hikmat.
Gambaran sifat-sifat kasih yang diberikan dalam nats ini tidak kita uraikan satu persatu. Buku William Barclay tentang Pemahaman Alkitab Setiap Hari memberikan uraian yang lengkap dari setiap sifat-sifat tersebut. Namun, yang perlu kita fahami dan utama dari “kasih” itu adalah dari arti harafiahnya sendiri yakni “kasih = memberi”. Memberi dalam arti kata bahwa diri kita tidak lagi menjadi tujuan dan yang utama, melainkan orang lainlah yang lebih utama dari kita. Kasih berarti memberi. Kasih berarti berkorban bagi diri sendiri untuk kebahagiaan orang lain. Bahkan kita harus ingat firman Tuhan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kis 20:35).
Sifat-sifat kasih itulah yang diharapkan menjadi ciri khas orang Kristen, menjadi jatidiri orang percaya sebagai jalan untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus menyampaikan firman Allah ini kepada jemaat di Korintus karena dilihatnya jemaat ini sudah menyimpang dari ketulusan kasih dalam pelayanan karunia yang mereka terima.
Ketiga: Karunia lain bisa berhenti atau berubah (ayat 8-10)
Ayat 4-8 ini dapat ditafsirkan dalam dua makna. Makna pertama adalah bahwa karunia rohani yang diberikan kepada seseorang atau jemaat dapat ditarik kembali, apabila Tuhan memandang karunia tersebut tidak lagi efektip bagi pelayanannya. Seseorang yang memiliki satu atau dua karunia rohani dari Allah, seperti gabungan kemampuan mengajar dan melayani, atau bernubuat, membuat mujizat, menyembuhkan, dan lainnya, pada prinsipnya dapat Tuhan ambil kembali dari seseorang, karena sumber karunia tersebut adalah dari Allah sendiri. Demikian juga halnya, kita dapat menafsirkan bahwa karunia rohani itu dapat diberikan dalam sekejap atau waktu yang pendek saja dengan tujuan tertentu dan khusus dalam situasi yang khusus, dan kemudian Allah menariknya kembali. Hal ini sering menimbulkan kesalahan pengertian karunia dalam hidup orang-orang percaya, bahwa karunia itu sifatnya tidak kekal. Penafsiran ini wajar agar orang yang diberikan karunia khusus tersebut tidak menjadi sombong.
Karunia diberikan kepada orang percaya dan hamba Tuhan untuk memperlengkapi dan menunjang pelayanan, agar mereka melayani lebih efektif. Itu juga dasarnya mengapa karunia tidak diberikan seluruhnya kepada seseorang dan menjadi manusia super hebat, melainkan umumnya beberapa karunia saja diberikan kepada orang tertentu untuk pelayanan tertentu. Bila pelayanan tertentu tersebut sudah selesai, maka karunia yang diberikan dapat ditarik kembali. Dengan dasar itu karakter orang percaya dan hamba Tuhan yang harus dikembangkan adalah karakter yang berselubungkan kasih dan melekat dalam hidupnya. Orang percaya harus melihat karunia adalah alat dan sarana, sementara kasih adalah dasar motivasi dan tujuan karunia diberikan.
Makna kedua dari ayat-ayat tersebut adalah pada saat penghakiman nanti, segala karunia tersebut tidak lagi memiliki arti. Kita mungkin memerlukan karunia pengetahuan dalam mengenal Allah, tetapi ketika sudah dipanggil menghadap Dia, maka pengetahuan tidak diperlukan lagi. Demikian juga dengan nubuat semua akan berakhir dan bahasa roh akan berhenti (ayat 8). Semua itu tidak sempurna. Seperti disebutkan, kalau yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (ayat 10).
Keempat: Yang terbesar adalah kasih (ayat 11-13)
Rasul Paulus menekankan dalam ayat 11-12 tentang kemungkinan keraguan akan datangnya pertanggungjawaban atas penggunaan karunia rohani tersebut. Jemaat Korintus telah tercemar dengan pemikiran semua itu mereka dapatkan untuk kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu ia menyebutkan jangan berfikir seperti anak-anak seolah-olah semua itu diberi dengan kemudahan dan pemberian tanpa timbal balik. Semua anggota jemaat diminta agar berfikir dewasa bahwa karunia tersebut harus dipertanggungjawabkan kelak. Kalaupun saat ini mereka melihatnya masih samar-samar dalam arti kata belum belum sempurna, maka nanti akan muka dengan muka dan sempurna tanpa ada yang terselubung tersembunyi.
Tiga hal yang diungkapkan dalam ayat 13 yakni iman, pengharapan dan kasih, maka menurut firman Tuhan yang terbesar adalah kasih. Kita tidak bisa mengandalkan iman saja tanpa berbuat kasih. Iman kita mungkin besar dan bisa memindahkan gunung (persoalan hidup), tetapi iman seperti itu adalah kosong dan mati. Pengharapan tanpa kasih kepada Allah dan kepada manusia, maka itu adalah sauh yang tidak kuat dan gampang hanyut ditelan gelombang. Kasih meminta pengorbanan kepada orang lain, dan iman yang menjadi fondasinya. Pengharapan adalah fokus dan ekspresi, tetapi buah tindakannya tetap adalah kasih.
Kita bisa memperbesar iman kita menjadi sebesar “biji sesawi”, atau pengharapan akan kehidupan kekal bersama Allah, tetapi kalau jiwa kita dan tindakan kita tidak selalu dalam kasih, maka semua itu akan hampa. Kasih adalah sesuatu yang mutlak dalam kehidupan orang Kristen.. Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8), oleh karenanya seluruh eksistensi hidup dan pelayanan kita haruslah berwujud kasih. Pada saat kerajaan-Nya kelak dinyatakan, yang tinggal adalah kasih dan yang abadi adalah kasih. Maka yang terbesar adalah kasih (ayat 13).
Kesimpulan
Setiap orang percaya didorong untuk memiliki karunia rohani dan agar pelayanan lebih efektip. Karunia rohani yang dipakai untuk menolong, mendorong, menguatkan mereka yang membutuhkan yang seluruhnya didasari kasih. Kita harus mengenal 13 sifat-sifat kasih yang diberikan dalam nats ini dan memahami harus berjuang untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menyadari semua berbuahkan kemenangan maka hal itu akan lebih mudah. Hal yang penting lainnya bahwa karunia rohani sendiri itu sifatnya tidak kekal, semua bisa berakhir dan hilang, baik dalam masa pelalayanan di dunia ini, maupun saat nanti kerajaan-Nya dinyatakan. Oleh karena itu, yang utama dan terbesar adalah kasih, bukan iman, dan bukan pengharapan. Mari kita wujudkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari, karena kasih dari Allah itu selalu tersedia melimpah bagi setiap orang dan siap untuk berbagi dengan sesama.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
Khotbah (2) Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
PERCAYA DAN BERSERAH (Luk. 4:21-30)
Firman Tuhan bagi kita pada Minggu IV setelah Epifani ini diambil dari Luk. 4:21-30. Nas ini berbicara tentang Yesus ditolak di Nazaret, kampung halaman-Nya, tempat Ia dibesarkan. Dalam kisah itu Yesus disebutkan masuk ke rumah ibadat, membaca nubuatan Yes. 61:1-2 lalu menutup ayat tersebut dengan berkata: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (ayat 21). Artinya, Yesus menyatakan Ia adalah Mesias yang dinubuatkan, yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan, membebaskan, dan menghadirkan tahun rahmat Tuhan (lihat ayat 18-19).
Mereka semula kagum dengan pengajaran Tuhan Yesus. Tetapi kemudian mereka berbalik menolak setelah menyadari, Yesus adalah anak Yusuf tukang kayu. Dalam pandangan mereka, tidak mungkin Ia adalah Mesias yang dinubuatkan nabi Yesaya. Mereka pun sinis merendahkan Yesus. Ini didasari dua hal: kecongkakan diri, dan iri hati melihat hikmat pengajaran Yesus. Tuhan Yesus lantas berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya (ayat 24). Ia menguatkan pernyataan-Nya dengan mengambil contoh dua nabi besar Israel yakni Elia dan Elisa, yang tidak dihormati nenek moyang mereka.
Kedua nabi itu membawa peringatan untuk mereka dengar, tapi mereka mengabaikannya. Akhirnya berkat diberikan kepada janda di Sarfat dan Naaman orang Siria (ayat 24-27). Keduanya bukanlah umat Yahudi. Mereka pun sangat marah mendengar respon Tuhan Yesus. Mereka ingin melempar-Nya dari tebing. Ajaib, tapi Tuhan Yesus berlalu, menghilang.
Dalam keseharian kadang-kadang kita juga dapat bersikap demikian. Tidak sepenuhnya percaya pada Tuhan Yesus dan firman-Nya, dan kepada hamba-hamba-Nya. Itu membuat kuasa Allah sulit untuk bekerja dalam hidup kita. Teguran atau nasihat bagus - yang mungkin diberikan Tuhan melalui hamba-Nya atau orang lain - kepada kita, sering kita anggap remeh, seperti angin lalu. Yang mendasari sikap kita itu: kesombongan dan merasa lebih pintar.
Sikap sombong dan meninggikan diri serta menganggap hikmat dunia lebih hebat, sangatlah berbahaya. Hikmat dunia tentu bermanfaat dan bernilai, tetapi terbatas. Hikmat dari sorga melalui firman-Nya atau hamba-Nya yang rendah hati, mestinya di atas segalanya. Iman percaya ini penting, dan harus kita jadikan dasar berpijak dan melakoni hidup. Selalulah rendah hati dan berada dalam kasih. Dalam kehidupan, kadang-kadang kita tidak mengerti, mengapa sebuah peristiwa atau persoalan (berat) datang. Mengeluh dan kecewa berkepanjangan, tentu tidak menyelesaikan masalah. Dengan kerendahan hati, kita dapat memahami adanya rencana Tuhan yang indah.
Solusi tentu mesti dicari. Nasihat diperlukan. Berangkat dengan doa, mutlak dilakukan, meski hikmat dunia yang kita ambil sebagai jalan tambahan. Jika sakit berobatlah ke dokter, jika nilai ujian buruk belajarlah lebih keras, jika tidak naik jabatan bekerjalah lebih keras dan cerdas, jika sering sakit rajinlah berolah raga. Ini penting. Jika mengambil jalan pintas dengan langsung menuntut mukjizat Tuhan, dapat berarti menguji-Nya dan tidak berhikmat. Perlu dipahami, sering ada maksud dan rencana Allah yang perlu kita cari dan pahami maknanya dengan iman. Kadang-kadang tidak masuk akal, tetapi itulah iman. Itulah penyerahan diri. Itulah bukti kita mengasihi Allah. Dan, Allah tidak pernah memberikan hal buruk kepada kita anak-anak-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Kabar dari Bukit, Minggu 26 Januari 2025
Kabar dari Bukit
BANGKIT DARI KEGAGALAN (Yun. 3:1-5, 10)
”Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu" (Yun. 3:2)
Mengubah sifat dasar seseorang tidaklah semudah diucapkan; apalagi karakter yang sudah berkarat. Misalnya pribadi berpandangan pesimis atau cenderung berpikiran negatif, mengubahnya menjadi selalu optimis dan berpikiran positif - melihat dibalik yang buruk pasti ada hal baiknya, itu tidak mudah. Namun sebagai orang percaya, Allah kita hidup dan berkuasa, maka segala sesuatu bukanlah mustahil (Mrk. 9:23; Luk. 1:37).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yun. 3:1-5, 10. Kisah ini sejak di sekolah minggu sangatlah populer. Yunus tidak taat mengikuti perintah Allah untuk pergi ke Niniwe, kota yang jahat, menyampaikan amanat agar bertobat. Bila tidak bertobat, maka kota itu akan ditunggangbalikkan dalam 40 hari. Yunus takut, lari menjauh menuju Tarsis, Spanyol. Namun ada badai, Yunus ketahuan dan kemudian dilempar awak kapal ke laut. Allah menyiapkan ikan besar memakannya. Yunus pun hidup selama tiga hari di perut ikan. Atas doanya dan berjanji taat, ikan kemudian memuntahkannya kembali ke darat (Pasal 1-2).
Nabi Yunus merasa gagal. Alkitab juga menceritakan banyak tokoh yang pernah gagal, seperti Musa, Daud, Elia, Paulus dan bahkan Petrus menyangkal Yesus. Pemicu kegagalan bisa banyak faktor termasuk ketakutan, namun sebaliknya kegagalan juga menimbulkan ketakutan baru.
Dari semua tokoh tersebut, terlihat Allah memberi kesempatan kedua. Panggilan-Nya tidak pernah berhenti untuk kita kembali ke jalan-Nya. Dasar semua adalah kasih-Nya yang besar. Sukacita besar di sorga apabila seseorang bertobat, seperti kisah seekor domba yang hilang dicari dari 100 domba (Luk. 15:1-7).
Pertobatan memang bukan sesuatu yang sederhana. Para ahli teologia sepakat, ada banyak tahapan yang diperlukan agar seseorang benar-benar bertobat. Titik awalnya bisa dari panggilan Tuhan atau pemahaman sendiri tentang penebusan dosa dan keselamatan. Lantas tahapan berikutnya yakni perlunya berpaling, lahir baru, dan berdamai dengan Allah. Dari titik ini kita akan dibenarkan, diangkat menjadi anak-anak-Nya, menyatu dengan Kristus dan mulainya proses pengudusan.
Yunus dengan jelas melihat sumber penyebabnya, ia gagal, tidak taat bahkan bersembunyi di dek kapal. Lantas ketika tertangkap, Yunus tahu resikonya dan meminta ia dibuang ke laut. Ia merasa layak menerimanya dan siap mati. Namun, Allah penuh kasih, memberi kesempatan kedua kepada Yunus.
Maka ketika kita gagal, merasa takut, tidak perlu meratapinya. Sadari sudah bersalah, berdosa dan gagal. Kenali dan akui meski rasa kecewa timbul. Tidak perlu mencari kambing hitam, justru kita harus memaafkan diri sendiri. Berdoa dan berserah. Evaluasi, cari titik lemahnya. Segera bangun rencana untuk bangkit, singkirkan hal yang dianggap menghambat untuk mencapai titik balik. Ikuti langkah dengan percaya diri, berpikir positif, semuanya akan baik-baik saja sepanjang setia dan melakukan yang terbaik. Tuhan menolong kita bangkit.
Pengampunan terjadi jika kita siap menerima ganjarannya, berserah, meninggalkan kesalahan serupa dan perbuatan lain yang tidak disukai-Nya. Berjanji setia dan memberi yang terbaik, seperti doa Yunus: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku" (2:1). Tuhan memakai Yunus, menyampaikan pesan-Nya. Orang Niniwe percaya termasuk rajanya, mereka puasa mengenakan kain kabung, bertobat. Allah pun tidak jadi menghukum mereka (ay. 10). Haleluya.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
Khotbah (3) Minggu 2 Februari 2025 - Minggu IV Setelah Epifani
DARI RAHIM IBU (Yer. 1:4-10)
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau….” (Yer. 1:5)
Tentu ini pertanyaan menggelitik: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang jahat dan kejahatan? Mengapa ada setan dan iblis? Paul Enns menjelaskan dalam bukunya The Moody Handbook of Theology bahwa setan dan iblis adalah malaikat yang murtad. Padahal, malaikat diciptakan Allah untuk kebaikan, melayani-Nya dan melayani manusia. Tetapi kuasa yang diberikan kepada setan dan iblis, disalahgunakan untuk melawan. Allah merasa tidak perlu membinasakannya, tetapi kelak semua akan masuk dalam penghakiman.
Alkitab berkata bahwa manusia juga diciptakan Allah untuk kebaikan, mengelola alam semesta, sebagai tugas mandat budaya (Kej. 1:28). Kemudian ada mandat Injil dari Tuhan Yesus, yakni memberitakan Injil melalui perbuatan kasih dan penyampaian berita keselamatan (Mat. 28:19). Kedua mandat itulah misi keberadaan kita di dunia ini. Lantas, ada yang menyimpang bahkan lari dari misi itu, mengikuti hasrat diri, setan dan iblis. Dan ironisnya, yang mengikutinya kemudian beranak cucu turun-temurun: Dosa melahirkan dosa, kutuk berbuahkan kutuk; tetapi, tentu ada yang bertobat kembali ke jalan Tuhan.
Nas firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita adalah Yer. 1:4-10. Nas ini menjelaskan panggilan Tuhan kepada Yeremia menjadi nabi dan diutus. Yeremia mulanya menolak, beralasan tidak pandai berbicara dan masih muda (ay. 6). TUHAN pun berkata: janganlah takut, Ia menyertai. Kemudian Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulut Yeremia dan berfirman: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (ay. 8-9).
Pada ayat 5 pembuka di atas, jelas bahwa Allah telah menetapkan dan membentuk Yeremia sejak dalam rahim ibunya. Sejak awal Allah dapat menetapkan jalan hidup seseorang. Tetapi kita juga tahu kisah Rasul Paulus, seorang “penjahat” penyiksa orang percaya, tetapi kemudian dipanggil menjadi rasul-Nya yang besar. Kita juga lihat Nabi Eli yang dipakai Tuhan, tetapi anak-anaknya mengikuti setan dan iblis.
Bagaimana dengan kita? Ada dua kemungkinan itu: kita telah ditetapkan sejak semula dari keturunan yang diberkati. Tetapi kemungkinan lainnya, kita bisa datang dari garis keturunan yang tidak setia kepada Tuhan. Mungkin pernah kita membaca perbandingan dua keluarga: yang tidak setia, anak-cucunya menjadi pencuri, pemabuk, penjudi dan banyak masuk penjara; sementara keluarga yang setia kepada Tuhan dan hidup dalam penyerahan diri, anak-cucunya diberkati, menjadi pengusaha, profesional maju, dan pejabat negara. Ya, hidup memang demikian, semua tergantung jalan yang dipilih, meski Tuhan kadang perlu campur tangan.
Oleh karena itu, mari kita bereskan hal pokok tersebut melalui doa pengakuan dan janji keteguhan iman percaya. Tidak ada gunanya menyesali dan menyalahkan masa lalu, orangtua atau kakek moyang. Tetaplah bersyukur karena diberi Tuhan kehidupan, yang siap dipakai dan diberkati. Berserah, meminta Tuhan menggenapi rencana-Nya di dalam diri kita. Rancangan Tuhan adalah damai sejahtera (Yer. 29:11). Terlebih di era PB, semua kita dipanggil untuk melayani, sesuai dengan kapasitas, bakat dan talenta serta karunia rohani yang diberikan-Nya.
Pemanggilan Yeremia mengajar kita bahwa Allah memiliki rancangan serta panggilan yang unik bagi setiap kita dan sekaligus memampukannya. Maka, semua kembali kepada respon niat, motivasi, dan upaya kita. Jangan khawatir, sebab upaya tidak selamanya diukur dari buah yang dihasilkan. Keberhasilan bukanlah karena kemampuan manusia, tetapi campur tangan Allah menutupi kelemahan manusia seperti Yeremia (ay. 7-9). Tidak perlu spesial, hebat, tapi tetap setia dan berupaya yang terbaik.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu 26 Januari 2025 - Minggu III Setelah Epifani
Khotbah Minggu 26 Januari 2025 - Minggu III Setelah Epifani
DIA DATANG UNTUK MEREKA YANG MENDERITA (Luk 4:14-21)
(Bacaan lainnya menurut Leksionari: Neh 8:1-3, 5-6, 8-10;
Mzm 19; 1 Kor 12:12-31a) ---lihat di bagian bawah
Pendahuluan
Mungkin dalam hati kita pernah bertanya: Mengapa Tuhan Yesus singkat sekali "hidup" di dunia ini? Hidup dalam pengertian Ia sebagai manusia yakni sekitar 33 tahun, bahkan hanya tiga tahun dalam pelayanan-Nya. Mungkin jawaban rasional satu-satunya adalah: Ia telah memberikan mandat dan kuasa pelayanan itu kepada kita orang percaya dan tugas itulah yang kini harus kita emban.
Tujuan Tuhan Yesus turun ke bumi adalah untuk menyelamatkan manusia yang dikasihi-Nya dari maut dan membawa kepada kehidupan kekal. Kalau kita urutkan pesan-pesan Tuhan Yesus yang disampaikan dalam Alkitab, maka pesan pertama adalah agar manusia bertobat karena kerajaan Sorga sudah dekat (Mat 3:17; Mrk 1:14-15). Pesan kedua adalah nats yang kita baca untuk minggu ini yang lebih fokus pada pembebasan mereka yang menderita. Maka dari bacaan minggu ini ada beberapa hal yang bisa kita tarik sebagai pelajaran dan pegangan.
Pertama: Hidup Yesus selalu penuh Roh (ayat 14, 18)
Setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes, maka tampaklah Roh Kudus dalam rupa burung merpati yang meneguhkan Yesus adalah Anak yang dikasihi Bapa-Nya dan berkenan kepada-Nya (Luk 3:21-22). Kemudian dalam pasal 4 ayat 1 dab dijelaskan bahwa Yesus yang penuh Roh dapat mengalahkan godaan iblis atas berbagai tawaran yang menarik. Ini merupakan bukti lagi bahwa Yesus adalah Anak Allah dan tidak berdosa. Dalam kuasa Roh juga Yesus kembali ke Galilea dan sejak itu tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu (ayat 14).
Hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini adalah bahwa hanya dengan kuasa Roh saja kita dapat mengalahkan iblis yang jahat itu. Kemampuan manusia sangat lemah dan terbatas sementara kuasa iblis juga tidak sembarangan, bahkan Allah telah "memberikan" dunia ini kepadanya. Oleh karena itulah iblis selalu menawarkan godaan dan kenikmatan dunia ini kepada manusia agar mau mengikuti kemauannya dan meninggalkan Allah. Tanpa Roh Allah maka manusia akan mengikuti iblis ini sebab tawarannya memang seringkali begitu menarik meski dalam sudut pandang sempit dan terbatas.
Bagaimana dengan kita? Apakah dunia ini atau iblis yang licik itu terus menerus menawarkan sesuatu sehingga menjual iman dan mengalahkan kita? Kekalahan iman dapat saja terjadi dari tawaran keinginan daging, ketakutan, masalah keuangan, sakit-penyakit atau hal lainnya. Hal yang perlu kita sadari adalah blis akan terus menyerang orang percaya atau paling tidak mencoba dengan menetralisir munculnya perasaan berdosa, perasaan malu atau perasaan bersalah.
Maka satu-satunya jalan melawan godaan iblis dan dunia itu adalah memohon pertolongan Roh Kudus agar Ia mau diam dan menguasai diri kita sehingga kita penuh dengan Roh dan hasilnya dapat mengalahkan iblis yang jahat itu, sebagaimana Tuhan Yesus menang karena penuh Roh. Cara yang terbaik dalam membuat Roh itu yang menguasai kita adalah dengan terus mengingat dan berkomitmen kepada firman-Nya serta hidup yang berserah sepenuhnya kepada-Nya.
Kedua: Tugas utama yang efektif adalah mengajar (ayat 15, 21)
Sinagoga merupakan tempat berkumpul dan pusat peribadatan umat Yahudi setelah bait suci diruntuhkan tahun 586 SM. Oleh karena itulah ibadah hari Sabat dan proses belajar-mengajar umumnya dilakukan di sinagoge ini, serta ini pula yang merupakan kesukaan dan kebiasaan Yesus rajin ikut dalam proses belajar-mengajar tersebut (ayat 16). Bahkan karena “kepintarannya”, semua orang memuji Dia (ayat 15 dan 21).
Yesus mengambil pilihan belajar pada masa kecil dan masa mudanya tentang firman Allah dan itu yang membawa Yesus juga rajin mengajar orang lain dan kepada murid-murid-Nya. Yesus tentu memiliki alasan yang kuat memilih jalan mengajar tersebut, bukan dengan memimpin pemberontakan, yakni agar apa yang diajar dan dimaksudkan-Nya itu berbuah menjadi “kesadaran” dan pemahaman ke dalam hati nurani sendiri (band. Ibr 10:15). Seseorang yang sudah memiliki kesadaran dan meresap ke dalam hati nuraninya akan memberikan dampak dan hasil yang lebih maksimal dan panjang dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau hukuman.
Mengajar atau belajar berarti membuat orang menjadi mengerti atas ajar-an yang diberikan. Ajaran itu termaktub dalam dua pola yang penting, yakni “Hendaklah” dan “Janganlah”. Kesadaran dan pemahaman inilah yang menjadi tujuan Yesus, sebagaimana kita sebaiknya memiliki keinginan dan kerinduan yang sama akan hal itu. Proses belajar dan mencintai firman Tuhan dapat menumbuhkan kebiasaan yang baik bagi setiap orang, dan sekaligus menumbuhkan motivasi agar dapat menjadi anak-anak yang berkenan kepada-Nya. Proses belajar juga secara otomatis akan menambah pengetahuan dan bahkan dapat menjadi ketrampilan, dan ini akan memberikan hal yang positip bagi diri kita sendiri dan orang lain. Hal yang diperlukan dalam membangun kerinduan belajar ini adalah dengan komitmen baik dari sisi penyediaan waktu maupun membangun rasa haus akan pengenalan Allah yang lebih sempurna dan tujuan akhir menyenangkan hati-Nya.
Neh 8 dalam bacaan leksinari kita menggambarkan bagaimana Nehemia sebagai pejabat bersama-sama dengan Ezra ahli kitab itu mulai mengajar kembali hukum Taurat kepada umat setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel. Disini ditekankan bahwa belajar firman Tuhan itu merupakan dasar dari pengenalan kepada Allah. Kitab Mazmur 19 juga yang merupakan bagian dari bacaan kita minggu ini memberikan gambaran betapa firman Allah itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya (Mzm 19:8-9).
Ketiga: Tujuan akhir adalah pembebasan (ayat 18, 19)
Pesan Yesus yang paling utama dalam minggu ini ada pada ayat 17 dan 18 ini, yakni nats yang dibaca Yesus dari Yes 61:1-2. Pesan ini sebenarnya penggambaran nabi Yesaya akan tahun Sabat dan tahun Yobel (Im 25), ketika bangsa Israel dibebaskan dan kembali dari pembuangan Babel, yakni pembebasan kepada mereka yang tertawan dan menderita begitu lama. Pesan utama dari nats tersebut adalah:
- Datangnya kabar baik baik kepada orang miskin
- Pembebasan kepada orang-orang tawanan
- Penglihatan kepada orang buta
- Pembebasan orang-orang tertindas
- Pemberitaan tahun rahmat sudah tiba
Tetapi apa yang terjadi setelah kembalinya umat Israel dari Babel tetap tidak menyenangkan hati Tuhan dan bangsa Israel seringkali melupakan Allah mereka yang sudah menolong dan membimbing mereka demikian lama. Pesan inilah yang disampaikan kembali oleh Tuhan Yesus dan menutupnya dengan perkataan: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Semua orang yang mendengar tentu saja terkejut dan bahkan marah kepada-Nya. Tetapi Yesus memahami situasi yang tidak kondusif tersebut dan kemudian memilih Ia pergi.
Inti pesan yang dimaksudkan oleh Yesus pada saat itu adalah tibanya tahun rahmat tersebut yakni berita atau Injil keselamatan kepada mereka yang menderita dan pembebasan dari segala kuk dan beban yang menghimpit hati dan pikiran umat Israel pada saat itu. Mereka sudah begitu lama terjajah oleh bangsa Romawi dan terbelenggu dengan legalitas hukum Taurat serta kedudukan para imam dan ahli Taurat yang seharusnya melayani tetapi justru lebih mementingkan diri sendiri dan memberatkan umat pada saat itu.
Keempat: Tugas itu diserahkan kepada kita (ayat 20)
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa salah satu alasan masa hidup Tuhan Yesus di dunia ini yang begitu "pendek" dan pelayanan-Nya yang singkat hanya 3 tahun adalah bahwa kuasa dan amanat tugas itu telah diberikan kepada kita orang percaya. Pesan bahwa penginjilan dan pemberitaan kabar baik itu memang yang utama, sehingga semakin banyak orang diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan-Nya.
Akan tetapi pesan Tuhan Yesus dalam ayat 18-19 ini sebaiknya tidak ditafsirkan secara simbolis saja. Orang percaya dan gereja-gereja seyogianya terus menerus melakukan usaha-usaha yang sistimatis dan terprogram untuk melihat kenyataan di sekeliling dan di masyarakat, yakni ikut menolong orang miskin keluar dari dunia kepedihan fisik mereka, membantu orang sakit yang tidak mampu untuk disembuhkan, menolong dan menghibur mereka yang tertindas dan tertawan karena ketidakmampuan dan ketidakadilan. Pesan itu tidak dapat hanya ditafsirkan secara simbolis saja, melainkan tetap dalam pengertian harafiahnya, yakni kalau masih ada orang miskin disekitar kita, orang sakit yang tidak mampu di lingkungan kita, orang tertindas, maka tugas orang percaya dan gereja untuk menolong mereka.
Dalam bacaan 1Kor 12 untuk minggu ini dinyatakan bahwa Tuhan memberikan karunia-karunia rohani kepada hamba-hamba Tuhan dan orang percaya. Tentu pemberian karunia itu mempunyai maksud dan tujuan yakni semuanya adalah untuk pelayanan gereja-Nya. Oleh karena itu, karunia-karunia rohani yang ada disebutkan dalam nats ini, demikian juga dalam ayat-ayat lainnya, seharusnya semua dipakai untuk pesan kedua maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini yakni sebagaimana tertulis dalam ayat Luk 4:18-19 tersebut (untuk penjelasan karunia-karunia rohani yang tertulis dalam Alkitab silahkan melihat artikel di website ini dalam kolom pembinaan teologia).
Orang percaya dan khususnya gereja-gereja seyogianya semakin menyadari tanggungjawab dan pendelegasian dari Tuhan Yesus tersebut, sehingga gereja-gereja tidak "asyik" dengan dirinya sendiri dan mengutamakan aspek-aspek lahiriah dari kegiatan-kegiatannya, melupakan amanat ini sebagai tugas yang melekat pada penginjilan dan berita keselamatan tersebut.
Kesimpulan
Nats minggu ini memberi kita banyak sekali kesadaran dan pemahaman akan tanggungjawab orang percaya dan gereja dalam panggilannya untuk dunia ini. Dimulai dengan pentingnya setiap orang percaya dipenuhi Roh untuk setia dan taat dalam melakukan firman-Nya serta mampu mengalahkan iblis yang jahat itu, terus belajar (dan mengajar) firman Allah sehingga kesadaran dan pemahaman semakin baik, serta menyadari akan banyaknya masalah sosial yang masih nyata di sekitar kita, yakni berupa kemiskinan, sakit penyakit yang tidak mampu disembuhkan karena keterbatasan dana, orang-orang tertawan dan tertindas yang memerlukan pertolongan dan penghiburan. Karunia-karunia Roh yang diberikan kepada kita dimaksudkan dipergunakan dan ditujukan untuk tugas tersebut.
Itulah tanggungjawab yang telah diserahkan Tuhan Yesus dalam pesan-Nya yang kedua ini agar kita terus menerus berusaha keras mewujudkannya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 31 Agustus 2025Khotbah Minggu 31 Agustus 2025 – Minggu XII Setelah Pentakosta...Read More...
-
Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 31 Agustus 2025 (Opsi 2)Khotbah Minggu 31 Agustus 2025 – Minggu XII Setelah Pentakosta...Read More...
-
Kabar dari Bukit, Minggu 24 Agustus 2025Kabar dari Bukit BERSENANG-SENANG KARENA TUHAN ”Maka...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 41 guests and no members online