Monday, November 02, 2026

Khotbah (3) Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026

Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 (Opsi 3)

 

 BERTUHAN ITU PILIHAN DAN BERKONSEKUENSI (Yos. 24:1–3a, 14–25)

 

 ”Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yos. 24:15b)

“Hidup adalah pilihan” merupakan ungkapan yang sudah sering kita dengar, meski ada bagian hidup yang tidak dapat kita pilih, seperti kelahiran, kondisi fisik, orang tua, suku bangsa, dan lainnya. Kadang hal ini disebut sebagai nasib atau takdir, yang pengertiannya bisa negatif atau positif, tergantung sudut pandang. Namun setelah pribadi berkembang dan akal pikiran bertumbuh, manusia selalu diarahkan untuk memilih, mulai dari hal kecil seperti jenis makanan atau minuman, sekolah, kerja keras atau santai, pernikahan dan jumlah anak, hingga keputusan lainnya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yos. 24:1–3a, 14–25. Nas ini merupakan amanat perpisahan Yosua setelah berhasil membawa umat Israel memasuki Tanah Kanaan. Ia mengumpulkan para tua–tua dan pemimpin untuk mendengar amanatnya. Tugasnya telah selesai, dan ia meminta umat Israel memilih: menyembah Allah yang memanggil Abraham untuk menjadi bangsa yang besar, atau tidak menyembah allah nenek moyang mereka maupun allah asing yang baru mereka kenal.

Kita juga bisa dihadapkan pada situasi serupa. Saat ini ada banyak pengertian Allah yang dikenal umat manusia. Sejarah agama memperlihatkan bahwa konsep dan pemahaman tentang Allah memang berkembang, mulai dari penyembahan terhadap “sesuatu” yang didasari ketakutan dan ketidaktahuan, hingga menjadi sumber pengharapan. Allah masa kini juga dikenal dalam berbagai versi, mulai dari Allah yang memberi “restu” untuk membunuh demi keyakinan, hingga pengertian Allah yang tidak dapat dikenal dan tidak terjangkau pikiran oleh kaum agnostik.

Selain itu, ada allah lain dalam bentuk filsafat, seperti humanisme dan eksistensialisme yang berpusat pada manusia semata. Ada doktrin lain seperti materialisme, rasionalisme, scientologi, paganisme modern, dan lainnya. Ekstrim dari semuanya adalah keyakinan tidak ada Allah oleh kaum ateis. Keberadaan Allah dengan pernyataan-Nya “Aku adalah Aku” (Kel. 3:14) sering diubah menjadi “I think, therefore I am” (aku berpikir maka aku ada) oleh Descartes, menekankan manusia sebagai otonom. Nietzsche menyatakan Allah telah mati, dan Voltaire memprediksi kekristenan akan punah dalam 100 tahun; kenyataannya pandangan mereka salah dan hidup mereka sia-sia.

Tidak dapat disangkal, pilihan seseorang banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Menurut D. A. Carson dan John D. Woodbridge dalam buku God and Culture, pandangan seseorang tentang Tuhan, dirinya, dan dunia dipengaruhi oleh waktu dan tempat hidup, masa kanak-kanak, kelas sosial, jenis kelamin, hingga biokimia tubuh. Faktor lainnya termasuk kepekaan rohani untuk terbuka melihat karya Tuhan dalam sejarah hidup dan alam semesta.

Allah kita dikenal dalam Pribadi Yesus Kristus. Riwayat hidup, pelayanan, mukjizat, hingga kematian dan kenaikan-Nya ke surga sangat jelas tertulis dalam Alkitab. Perjalanan hidup-Nya yang singkat justru memudahkan kita untuk memahami bahwa Allah adalah Roh Kudus dan Allah adalah Kasih, sebagaimana Tuhan Yesus mengajarkan dan meneladankan dalam hidup-Nya. Yesus sebagai Pribadi manusia memudahkan kita meneladani-Nya, meski menjadi serupa dan sempurna tetap merupakan hal yang mustahil.

Melalui nas minggu ini, Allah memberi hikmat melalui pribadi Yosua. Pembaruan komitmen, sebagaimana judul perikop nas, menjadi tantangan bagi kita. Pernyataan Yosua sebelum meninggal dan dikuburkan (ay. 29–30), “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (ay. 15b), menjadi sangat penting. Ayat sebelumnya juga menjadi kunci kebenaran tekad pembaruan itu: “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus, ikhlas, dan setia” (ay. 14).

Sudahkah kita takut akan TUHAN, dan sudahkah kita beribadah bersama keluarga dengan tulus dan setia? Semoga kita bijaksana dan bukan bodoh (bdk. Mat. 25:1–13).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 21 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14796488
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
12159
8366
20525
14739022
20525
196256
14796488

IP Anda: 216.73.217.177
2026-11-02 21:11

Login Form