Monday, August 24, 2026

Khotbah (3) Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026

Khotbah Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026 – Pilihan 3

  KESEMPATAN DIPANGGIL MELAYANI (Kel. 3:1–15)

 ”Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Kel. 3:3)

Jika ditanya, apakah kita ingin bertemu dengan Tuhan, yang terbayang pertama biasanya adalah kematian. Padahal, bertemu Tuhan saat Ia ingin menampakkan diri-Nya untuk tujuan tertentu dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti melalui mimpi, malaikat, urim dan tumim, undi, teofani kasat mata, nubuat, maupun mukjizat; semua itu merupakan wahyu umum. Namun, Allah juga menampakkan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus dan Alkitab sebagai wahyu khusus bagi kita, orang percaya. (Selengkapnya dapat dibaca di buku saya Mengenal Alkitab Kita yang tersedia di Tokopedia.)

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Keluaran 3:1–15. Ini kisah Musa yang dipanggil untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Saat itu Musa sedang dalam pelarian karena membunuh seorang Mesir. Ia lalu bertemu jodohnya dan menjadi gembala kambing-domba mertuanya (ay. 1).

 

Musa pernah hidup di istana sebagai anak angkat putri Firaun, kini merasakan hidup sebagai orang biasa. Namun, rencana Tuhan baginya tetap berjalan. Musa tetap memiliki rasa kepedulian yang tinggi, tampak saat membela orang Israel yang dianiaya serta para wanita yang diganggu ketika memberi minum kambing-domba gembalaannya (Kel. 2:11–14, 17). Ia juga memiliki rasa ingin tahu, rendah hati, setia, dan pekerja keras, bertahan 40 tahun sebagai gembala. Semua ini menjadi teladan bagi kita.

 

Allah memanggil Musa dengan menampakkan diri-Nya melalui semak duri yang menyala, meski tidak dimakan api (ay. 2). Musa diminta mendekat dan menanggalkan kasutnya. Ini menandakan hadirat Tuhan penuh kekudusan, yang mesti kita jaga dalam menjalani hidup untuk bertemu dengan Allah.

 

Respons Musa sangatlah manusiawi, sama seperti kita ketika diberi tugas. Ia merasa tidak percaya diri (3:11), berdalih bangsa Israel tidak akan percaya padanya (4:1), merasa tidak pandai bicara (4:10), dan akhirnya meminta agar orang lain saja yang diutus (4:13).

 

Namun Tuhan mengenal Musa, sama seperti Dia mengenal kita. Tuhan tidak berdebat, melainkan memberi dukungan dan jalan keluar. Pertama, Allah mengenalkan diri sebagai “Aku adalah Aku”, yang berarti tidak ada batasan atas diri-Nya (ay. 14). Ia Maha Kuasa dan peduli pada penderitaan manusia (ay. 7), terutama mereka yang telah diikat-Nya dengan janji (ay. 15).

 

Kedua, Allah memberi jaminan dalam melaksanakan tugas. Firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Akulah yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (ay. 12). Musa juga diberdayakan dengan tongkat sebagai alat untuk memperlihatkan kuasa Tuhan menyertainya (Kel. 4:1–3).

 

Ketiga, Allah membangun rasa saling percaya dan ketaatan. Tunduk dan setia bukan kelemahan, melainkan sikap hormat. Janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub tetap dipenuhi; Musa membawa umat-Nya yang tertindas ke negeri yang berlimpah susu dan madu (ay. 8). Dengan demikian, Musa siap memasuki pelayanan dan berhasil.

 

Dr. J. Robert Clinton dalam bukunya Pembentukan Pemimpin Sejati menyatakan bahwa tugas pelayanan adalah tugas dari Allah yang menguji kesetiaan dan ketaatan seseorang untuk menggunakan talenta dalam sebuah tugas yang memiliki awal, akhir, pertanggungjawaban, dan evaluasi. Ini berbeda dengan pengalaman pelayanan yang sifatnya bukan ujian. Terdapat 19 karunia rohani yang merupakan kapasitas unik untuk menyalurkan kuasa Roh Kudus ke dalam pelayanan, dan semuanya dapat ditemukan melalui pengalaman praktis.

 

Hidup adalah kesempatan yang, selain dijalani dengan bersyukur, perlu diisi dengan melayani Tuhan dan sesama. Bila saat ini diri kita belum merasa dipanggil, bangunlah rasa ingin tahu seperti Musa. Allah akan menampakkan diri-Nya dengan cara unik bagi setiap orang. Buka hati yang siap dipakai-Nya. Dalam tugas pelayanan, kita tidak perlu takut, meski jalannya mungkin sulit, sebab Allah menyertai kita dan tidak membiarkan kita sendirian apalagi jatuh tergeletak (Mzm. 37:24). Semua akan indah pada waktunya. Musa dimuliakan saat berbicara dengan Tuhan Yesus tentang tujuan kepergiannya yang akan digenapi di Yerusalem (Luk. 9:30–31).

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 167 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14374871
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
5915
7371
13286
14284354
173746
136921
14374871

IP Anda: 216.73.217.23
2026-08-24 20:31

Login Form