Khotbah (3) Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026
Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 3
KARMA DAN TABUR TUAI (Kej. 29:15–28)
”Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?" (Kej. 29:25b)
Alam semesta memperlihatkan hukum kausalitas sebab akibat, aksi reaksi, dan dampak interaksi serta tindakan; bukan hanya pada kebendaan, tetapi juga dalam interaksi sosial dan psikis manusia. Ada mekanisme yang menjaga keseimbangan, keadilan, dan keharmonisan.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kej. 29:15–28. Ini kisah Yakub yang melarikan diri ke rumah pamannya, Laban, terkait tipuannya terhadap abang dan ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan. Sebagai paman, Laban memberi kesempatan Yakub tinggal bersamanya.
Laban memiliki dua anak perempuan, Lea dan Rahel. Yakub ternyata tertarik kepada Rahel yang cantik parasnya (ay. 17) dan ingin menikahinya. Sebagai mahar, Yakub sepakat bekerja selama tujuh tahun bagi Laban. Ternyata di malam pernikahan, Laban menipu Yakub dengan menyerahkan Lea (ay. 23). Yakub pun protes. Setelah perundingan, akhirnya Yakub setuju bekerja tujuh tahun lagi. Ini merupakan usaha panjang untuk mendapatkan Rahel, pujaannya (ay. 27).
Apakah Yakub tertipu merupakan hukuman dari Allah? Apakah itu karma? Istilah karma cukup populer. Kata ini berasal dari ajaran agama Hindu dan Buddha yang dalam KBBI disebutkan sebagai (1) perbuatan manusia ketika hidup di dunia; dan (2) hukum sebab-akibat.
Alkitab tidak mengatakan bahwa Yakub yang menipu, kemudian tertipu sebagai hukuman. Namun Perjanjian Lama menjelaskan keadilan Allah untuk menghukum orang yang salah sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya (Ul. 19:15–21). "Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki" (ay. 21; bdk. Kel. 21:23–25; Im. 24:19–21).
Jika didalami, nas ini dapat diartikan sebagai hukum balas dendam (retributive justice). Kitab Perjanjian Lama memang memberi peluang sebagaimana dituliskan, "Hak-Kulah dendam dan pembalasan" (Ul. 32:35a). Hukuman dan pembalasan dapat diberikan di dunia dengan melibatkan subjektivitas manusia dalam penerapannya.
Dalam Perjanjian Baru ada perintah serupa, tetapi tidak sama. "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Rm. 12:19b; Ibr. 10:30). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menentang tafsiran lama tentang pembalasan oleh manusia (Mat. 5:38–42). Yesus malah meminta pengikut-Nya mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka (Mat. 5:44). Jadi pembalasan tidak boleh dilakukan manusia. Soal penerapan hukum positif negara dan kemasyarakatan, itu adalah hal lain.
Melalui Perjanjian Baru kita juga bisa melihat konsep karma dari hukum tabur-tuai yang Tuhan Yesus ajarkan. "Jangan sesat! .... Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Gal. 6:7). Meski demikian, baik yang ditabur hal baik maupun buruk, tidak spesifik dijelaskan apakah tuaiannya diterima di dunia atau kelak dalam penghakiman saat pembagian upah dan mahkota. Semua kemutlakan hak Allah, dengan dua pertimbangan: keadilan dan anugerah.
Ada perbedaan lainnya. Karma terkait dengan kehidupan berulang yang mungkin dalam bentuk spesies yang lebih tinggi atau rendah, disebut samsara atau reinkarnasi. Ajaran Alkitab tidak mengenal hal itu, dengan menekankan, "manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibr. 9:27). Tidak ada kehidupan yang berulang. Justru ada pintu pengampunan melalui pertobatan untuk hidup kekal selamanya melalui anugerah.
Namun ada kesamaannya. Sebuah hukuman pada dasarnya tidak hanya demi keadilan, tetapi juga memiliki aspek pengajaran. Perjanjian Lama menjelaskan, "Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu" (Ul. 19:20–21).
Melalui nas ini kita belajar beberapa hal. Pertama, perbuatan dosa akan menjadi pintu masuk dosa lainnya. Perbuatan tipu dan kecurangan membuahkan hal jahat lainnya. Kedua, Yakub telah bertobat, tetapi ia siap menerima konsekuensi dengan bersedia bekerja tambahan tujuh tahun, meski Rahel diberikan kepadanya tujuh hari setelah pernikahannya dengan Lea (ay. 20). Tidak ada lagi tipu-menipu. Patuh dan taat adalah jalan lurus menuju kehidupan damai sejahtera dan diberkati, sebagaimana Yakub kemudian menjadi bapak bangsa Israel. Semoga kita belajar dan siap untuk hal tersebut.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 TAK TERPISAHKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 2 YANG...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026Khotbah Minggu IX Setelah Pentakosta - 26 Juli 2026 – Opsi 3 KARMA...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 27 guests and no members online
