Wednesday, January 07, 2026

Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus

Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026

 

Baptisan Tuhan Yesus – Opsi 3

 

 AKU SELAMAT, TANDANYA? (Mat 3:13–17)

 

Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Mat. 3:17)

 

Salam dalam kasih Kristus.

Kekristenan menyukai tanda. Dalam Perjanjian Lama, banyak tanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, seperti pelangi sebagai tanda perjanjian Allah bahwa manusia tidak akan dihukum lagi dengan air bah. Pada umumnya, tanda adalah sesuatu yang menakjubkan, mengherankan, atau bersifat mukjizat, yang kadang sulit dicerna oleh pikiran manusia.

 

Hari ini Minggu peringatan pembaptisan Tuhan Yesus. Firman Tuhan sesuai leksionari adalah Mat 3:13–17, yaitu pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Sesudah dibaptis, “Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: "Inilah Anak–Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 15–17).

 

Jelas itu sebuah tanda. Namun, baptisan bukanlah tanda keselamatan. Satu orang yang tersalib di sebelah Tuhan Yesus tidak disunat atau dibaptis, tetapi tetap diselamatkan masuk ke Firdaus (Luk. 23:43). Jika kita baca lebih awal, baptisan memiliki kesejajaran dengan sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya (Kej. 17:10–11; bdk. Mat 28:19). Baptisan air juga merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11), dalam arti kita mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Allah (Rm. 6:3–5; Kol. 2:11–12).

 

Maka muncul pertanyaan pokok: apakah kita membutuhkan tanda bahwa kita sudah diselamatkan? Bagaimana bentuknya? Jangan sampai suatu saat ada yang bertanya, misalnya, apakah kita pasti selamat masuk dalam kekekalan. Lalu kita tidak bisa menjawab, atau hanya menjawab dengan pernyataan kosong seperti, “Saya pasti selamat karena beriman kepada Tuhan Yesus,” atau “Keselamatan itu anugerah.” Jelas, iblis juga percaya, tetapi sudah pasti tidak selamat.

 

Karena itu tidak ada salahnya kita memikirkan tentang tanda, meskipun terlalu menekankan tanda juga dicela sebagaimana Tuhan Yesus menegur orang Farisi, ahli Taurat, dan orang Saduki (Matius 12:38–42; 16:1–4). Bila pun kita tidak menyebutnya sebagai tanda, bolehlah menyebutnya sebagai parameter yang dapat diukur dan dicermati: apakah kita sudah diselamatkan dan diterima oleh Tuhan Yesus?

 

Robert Schuller menulis dalam buku Pola Hidup Kristen tentang bukti penerimaan Yesus, yaitu tiga hal yang perlu kita lihat. Pertama, pengakuan adanya kontrak atau perjanjian kita dengan Allah. Alkitab merupakan perjanjian itu, sehingga menjadi pegangan kontrak perjanjian kita dengan-Nya.

 

Kedua, kita tahu dan merasakan bahwa Allah telah menerima kita bila Dia berbicara dalam hati kita. Ini menjadi tanda kedekatan dan hubungan yang hidup antara Bapa dan kita sebagai anak–anak-Nya, antara Tuhan dan kita sebagai umat-Nya. Ada persekutuan yang erat, ada rasa damai sejahtera dan ketenteraman saat kita berjumpa dengan Dia (Roma 5:1). Tidak muncul rasa takut atau kekhawatiran yang melanda hidup.

 Ketiga, memeriksa dan melihat kehidupan kita: apakah kita terus berubah dan semakin berperilaku terpuji? Pribadi yang diterima Allah adalah mereka yang terus berubah dan menghasilkan buah yang baik (Matius 7:16–18).

 

Jika ketiga hal itu tidak tampak atau tidak terbukti nyata dalam hidup kita, maka selayaknya kita memeriksa kembali komitmen kita. Apakah kita sungguh memiliki iman yang diperlukan untuk diselamatkan seperti dalam Yohanes 3:16 (bnd. Roma 10:9–13)? Apakah kita benar–benar meminta Yesus masuk dan memimpin hidup kita?

 

Jangan terjebak pada perasaan, sebab keselamatan tidak didasarkan pada perasaan, melainkan pada iman dan buahnya, yaitu hidup yang tunduk, berserah, dan mengandalkan Tuhan. Benar, kita tidak mungkin sempurna, tetapi kita harus terus berusaha menuju kesempurnaan, sama seperti Bapa di surga adalah sempurna (Matius 5:48; bnd. 19:21). Hendaklah kita semua berkata dan berupaya, “Selamatlah jiwaku” (NKB 195).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 37 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13272071
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1367
3083
12832
13221561
30870
141921
13272071

IP Anda: 216.73.216.109
2026-01-07 09:59

Login Form