Kabar dari Bukit, Minggu 17 Agustus 2025

Kabar dari Bukit

 

 FIRMAN JERAMI TANPA GIZI (Yer. 23:23-29)

 

 ”Nabi yang mendapat mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang mendapat firman-Ku, biarlah menyampaikan firman-Ku itu dengan benar! Apakah hubungannya antara jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN” (Yer. 23:28)

 

 Ada banyak alasan orang percaya datang beribadah di hari Minggu. Selain untuk memuji dan memuliakan Tuhan serta merayakan hari yang kudus, umumnya mereka ingin mendapatkan berkat dari pemberitaan firman Tuhan. Jemaat membutuhkan pengajaran, tuntunan dan kekuatan rohani yang baru. Namun tidak jarang jemaat pulang dengan perasaan bingung dan bimbang, apakah firman yang disampaikan itu merupakan kebenaran dari Allah?

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yer. 23:23-29. Ada tiga hal yang disampaikan: pertama, Allah Omnipresen atau Mahahadir, dekat dengan kita sehingga tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. “Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN” (ay. 23-24b). Hal kedua, adanya nabi-nabi atau pemberita firman palsu; dan ketiga, perlunya menguji firman yang disampaikan.

 

 

 

Menurut latar belakang nas ini, saat itu banyak nabi-nabi yang bernubuat palsu demi nama-Nya dengan mengatakan: aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! (ay. 25). Mereka sebenarnya “menubuatkan tipu muslihat hatinya sendiri, yang merancang untuk membuat umat-Ku melupakan nama-Ku” (ay. 26-27). Dengan tipuan, mereka bertujuan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri.

 

 

 

Demikian juga saat ini, tidak jarang pemberita firman atau pendeta senang mengkhotbahkan perbedaan doktrin yang sebenarnya perbedaan tafsiran semata. Kita ambil contoh tentang baptisan percik atau selam. Ada yang memberi tafsiran bahwa tanpa baptisan selam maka itu tidak sah dan tidak memenuhi syarat untuk masuk sorga. Demikian juga ibadah yang mengumbar mukjizat dan janji muluk.

 

 

 

Penafsiran tertentu boleh-boleh saja sepanjang dalam konteks gereja lokal, aturan gereja tersebut, bukan dalam pengertian kebenaran mutlak. Firman baiknya disampaikan untuk menguatkan, membawa jemaat lebih dekat dan taat kepada-Nya. Penafsiran yang baik bersumber dari Alkitab sebagai kesatuan kebenaran yang utuh. Satu dua ayat dalam Alkitab perlu dipadankan dengan ayat-ayat lain dan bila terdapat seolah “perbedaan”, maka selayaknya hikmat yang menentukan dan itu diterjemahkan sebagai beda sudut pandang. Penafsiran mutlak menyalahkan yang lain dapat membawa jemaat bingung tersesat.

 

 

 

Untuk itu pemberita firman perlu diuji melalui perbuatan, motivadi dan hatinya. Ini mutlak seiring sejalan berintegritas, diukur dengan beberapa hal yang disampaikan di mimbar: Apakah gaya hidupnya selaras dengan pemberitaannya? Misalnya, gereja adalah milik Tuhan, namun kenyataannya, penerimaan gereja lebih dipakai untuk gaya hidup mewah dan untuk anak serta keturunannya. Hal lainnya adalah kepedulian sosial. Teologi kemakmuran yang berkata semakin besar persembahan uang akan memperoleh berkat melimpah, jelas palsu. Gereja yang baik adalah berbuah kasih dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Hal ketiga, pribadinya arogan, dalam arti penguasa tunggal, tidak mencerminkan gereja sebagai persekutuan jemaat bersifat pelayanan, kasih dan kerendahan hati.

 

 

 

Nas minggu ini menekankan, “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?” (ay. 29). Firman Tuhan hendaknya memiliki kuasa untuk mengubah jemaat dari kebiasaan buruk menjadi seturut dengan kehendak-Nya. Firman Tuhan yang penuh lelucon, misalnya, ibarat Jerami yang tidak bergizi, bukan gandum yang menyehatkan dan memperkuat rohani kita (ay. 28). Dalam hal inilah jemaat sendiri yang perlu bijak memilih pemberita firman dan tentu gerejanya.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.